Home Blog Page 37

Bahu Tuhan

0

Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Kebangunan Rohani Katolik (KRK), pada tanggal 16 Juni 2015, diadakan di aula Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dalam rangka ulang tahun PDPKK di sana. Banyak umat, bahkan umat dari paroki-paroki sekitar dan Bekasi yang jauh, menghadiri KRK tersebut. Umat haus akan jamahan Tuhan. Jamahan Tuhan sangat berarti bagi mereka. Mereka percaya bahwa jamahan Tuhan dapat memulihkan mereka: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk” (Yesaya 57:15). Jamahan Tuhan penuh kuasa bagi orang yang percaya.

Setelah Firman Tuhan kusampaikan dan doa mohon kesembuhan serta pemulihan kudaraskan, seorang nenek mendekatiku. Ia berkata: “Romo, terimakasih, Tuhan telah menyembuhkan aku”. Aku langsung berkata: “Puji Tuhan, Tuhan memang luar biasa. Kuasa-Nya dahsyat. Jangan lupa bersaksi ya, Bu”. Aku pikir ibu itu pasti mengalami kesembuhan fisik yang menakjubkan. Aku pun bertanya kepadanya: “Ibu disembuhkan dari penyakit apa?” Jawabannya ternyata di luar perkiraanku: “Aku tidak disembuhkan dari penyakit jasmani. Akan tetapi, Tuhan telah memulihkan makna kehidupanku. Semakin tua, semakin aku bertanya apakah masih ada bagian dalam tubuhku yang bernilai. Mataku semakin hari semakin kabur. Tanganku, yang dahulu kuat bisa bekerja untuk keluargaku, kini semakin lemah dan bahkan gemetar. Tanganku sudah sulit untuk memegang gelas sekalipun. Telingaku kini juga semakin sulit untuk mendengar sehingga banyak orang berpikir bahwa aku tidak nyambung dengan perkataan orang. Kakiku kini juga sulit berjalan karena reumatik. Semakin aku memikirkannya, aku semakin sedih karena merasa diriku tidak ada artinya. Akan tetapi, ketika aku meneteskan air mata pada saat ‘doa dikumandangkan’, aku merasakan tangan Tuhan Yesus menyentuh bahuku sambil berkata ‘Anakku, bahumu sangat bernilai dan nilainya tidak akan pernah berakhir. Bahumu bukan sekedar untuk menyangga kepalamu, tetapi bahumu adalah tempat yang selalu sedia menopang kepala orang-orang yang engkau cintai yang sedang meneteskan air mata. Bahumu adalah bahu-Ku. Dari bahumu mengalirlah belas kasihan dan peneguhan-Ku”. Setelah mengatakan demikian, ia diam sejenak. Setelah itu, ia melanjutkan ceritanya dengan senyuman yang renyah: “Apa yang telah aku katakan dan lakukan pasti terlupakan. Satu-satunya yang tak terlupakan adalah bagaimana aku telah membuat hidup banyak orang, terutama keluargaku, bermakna melalui bahuku. Ternyata hidupku terus bermakna melalui bahuku. Aku kini sangat bersukacita di masa senjaku dengan senantiasa menyediakan bahuku untuk memberikan kekuatan bagi yang membutuhkannya”.

Kesimpulan sebagai sebuah pesan: Belas kasihan tidak timbul dari bibir atau pikiran, tetapi dari dalam jiwa. Ia mampu mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak dijelaskan, dan memahami apa yang dialami. Sebagai murid Tuhan Yesus Kristus, belas kasihan sudah selayaknya senantiasa ada dalam hati kita sebab di dalam Dia ada belas kasihan: “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan” (Filipi 2:1).

Tuhan memberkati

Mengatasi kesulitan: kasih, bukan perceraian

0
Sumber gambar: https://hmunro.files.wordpress.com/2011/07/i-do.jpg

[Hari Minggu Biasa ke XXVII: Kej 2:18-24; Mzm 128:1-6; Ibr 2:9-11; Mrk 10:2-16]

Belum lama ini Paus Fransiskus mengadakan kunjungan pastoral ke Amerika Serikat. Salah satu acara yang dihadiri Paus adalah the World Meeting of Families di Philadelphia, tanggal 26 September 2015 yang lalu.  Di tengah-tengah khotbahnya, Paus mengesampingkan teks yang sudah disiapkan, dan ia berbicara secara spontan tentang peran kasih dalam keluarga.

“Keluarga mempunyai kewarganegaraan yang ilahi. KTP-nya diberikan kepada mereka dari Tuhan supaya dari dalam jantung hati keluarga, dapat sungguh-sungguh bertumbuh lah kebenaran, kebaikan dan keindahan…. Beberapa dari kalian mungkin berkata, Bapa, Anda berbicara seperti itu, sebab Anda tidak menikah…” kata Paus. Ia melanjutkan, “Ya, keluarga-keluarga mempunyai kesulitan-kesulitan…. Dalam keluarga… kita bertengkar…, kadang piring-piring bisa terbang, dan anak-anak membuat sakit kepala. Saya tidak mau bicara tentang ibu mertua…,” perkataan ini langsung disambut tawa ribuan pendengarnya. “Namun demikian,” kata Paus, “dalam keluarga, selalu ada terang, oleh karena kasih dari Sang Putera Allah. Sebab dalam terang Kristus, kita melihat bahwa sebagaimana ada masalah-masalah dalam keluarga, demikianlah ada terang kebangkitan. Keluarga adalah pabrik harapan. Dalam keluarga memang ada kesulitan-kesulitan dan anak-anak membawa tantangan. Tetapi semua kesulitan itu dapat diatasi dengan kasih. Kebencian tidak dapat mengatasi kesulitan. Perpecahan hati tidak dapat mengatasi kesulitan. Hanya kasih yang dapat mengatasinya….” demikian kata Paus.

Khotbah Paus Fransiskus itu meneguhkan kembali ajaran iman Kristiani tentang keluarga, yang dibangun atas dasar kasih yang tak terceraikan antara suami dan istri. “Sebab pada awal mula dunia Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia” (Mrk 10:6-9). Demikianlah, sejak awal mula, Allah yang telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, juga menghendaki manusia hidup mencerminkan gambar dan rupa-Nya itu. Hal ini nampak jelas dalam kehidupan kasih suami istri yang dengan kasih pemberian diri yang total, menjadi gambaran akan kasih Allah sendiri kepada umat-Nya; dan kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Itulah sebabnya, Kristus memerintahkan agar kasih suami istri dalam perkawinan tidak diceraikan, karena perceraian  tidak sesuai dengan hakikat kasih. Selain bertentangan dengan hakikat kasih yang menyatukan suami istri, perceraian juga memberi akibat yang buruk yang sangat melukai hati anak-anak mereka. Bukankah hal itu demikian nyata dalam keseharian kita, saat kita melihat betapa besar dan dalamnya luka batin dari anak-anak yang orangtuanya bercerai.

Sungguh, salah satu tantangan besar dalam dunia sekarang ini adalah, mengusahakan dan mempertahankan kesatuan dalam perkawinan. Bukan rahasia lagi bahwa di negara-negara maju,  angka perceraian begitu tinggi sampai hampir 50%. Hal ini jelas membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Lama-kelamaan mereka tidak lagi menghargai nilai-nilai luhur perkawinan dan kehidupan berkeluarga, dan menjadikan perkawinan semacam kontrak kerja, yang kalau cocok diteruskan dan kalau tidak cocok diakhiri. Gereja Katolik telah dengan setia mengajarkan pentingnya kasih setia antara pasangan suami istri, yang menjadi fondasi bagi kehidupan keluarga yang dibangun di atasnya, demi kebaikan anak-anak mereka. St. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Berakar dari pemberian diri yang total dan personal antara pasangan suami istri, dan menjadi syarat bagi kebaikan anak-anak, perkawinan yang tak terceraikan menemukan kebenaran pokok dalam rencana yang Tuhan nyatakan dalam wahyu-Nya: Ia menghendaki dan menyatakan perkawinan yang tak terceraikan sebagai buah, tanda dan persyaratan dari kasih setia yang absolut yang Allah miliki bagi manusia dan yang Tuhan Yesus miliki bagi Gereja” (Familiaris Consortio, 22). Seruan Paus ini mengingatkan kita yang memutuskan untuk hidup berkeluarga, untuk menemukan dalam panggilan hidup kita, suatu kesempatan memberikan diri secara total kepada pasangan hidup kita. Sebab dengan demikian, kita mengambil bagian dalam kasih setia Tuhan, yang menghendaki kita menampakkan ciri-ciri kasih-Nya itu kepada dunia. Di tengah pandangan dunia, di mana kesetiaan kepada satu orang istri atau satu orang suami, dipandang sulit; Injil mengajarkan kita untuk setia kepada pasangan kita. Di tengah pandangan dunia, bahwa perceraian dan perkawinan lagi dengan orang lain dianggap biasa, Injil mengajarkan bahwa hal itu adalah zinah. Dunia mengajarkan jalan pintas, tetapi sabda Tuhan mengajarkan kita untuk memperbaiki akar permasalahannya. Yaitu agar kita belajar mengasihi, seperti Allah telah mengasihi kita. Sebab jika mengasihi sedemikian, tidak akan ada lagi perceraian dan perpecahan dalam keluarga, yang membawa permasalahan baru lagi, entah bagi anak-anak maupun bagi pasangan suami istri yang berpisah itu.

Maka, hari ini kita diingatkan untuk tidak mengikuti arus dunia. Sebab Allah yang menciptakan kita serupa dengan-Nya juga menghendaki kita mencinta serupa dengan-Nya. Yaitu terus setia mengasihi sampai akhir, sebab hanya kasih-lah yang mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dalam kehidupan. Dengan mengasihi tanpa kenal lelah itulah, kita dibentuk Allah untuk menjadi semakin menyerupai Dia yang adalah Kasih (1Yoh 4:8). Dan dengan kasih itulah kita memiliki pengharapan, bahwa kita akan digabungkan dengan Dia dalam Kerajaan-Nya.

Tuhan Yesus, pengorbanan-Mu di kayu salib telah menyatakan betapa besar kasih-Mu kepada kami. Biarlah salib-Mu itu menjadi kekuatan bagiku, untuk belajar mengasihi dan untuk bertekun di dalamnya. Semoga dengan demikian, kasih-Mu senantiasa hadir dalam kehidupan perkawinan kami dan dalam keluarga kami, untuk selalu mempersatukan dan meemulihkan. Amin.

Kenalilah kebaikan, usahakanlah kesatuan

0
Sumber gambar: http://i1.wp.com/www.artbible.info/images/dewit_mozes_70oudsten_grt.jpg

[Hari Minggu Biasa ke XXVI: Bil 11:25-29; Mzm 19:8-14; Yak 5:1-6; Mrk 9:38-48]

Selasa jam 6 sore biasanya adalah waktuku duduk di depan televisi. Channel 29, EWTN, program Journey Home. Sejak program itu dimulai tahun 1997, hampir setiap minggu ada saja orang yang membagikan kisah perjalanan imannya sampai ia menjadi Katolik. Banyak dari mereka, sebelum menjadi Katolik adalah pendeta. Buatku, hal ini sangatlah menarik. Sebab dari kesaksian mereka, aku semakin menghargai kekayaan rohani dan kepenuhan kebenaran yang telah Tuhan Yesus karuniakan kepada Gereja-Nya, Gereja Katolik. Namun pada saat yang sama, acara tersebut membuka mata hatiku, bahwa ada banyak kebaikan dan karya Roh Kudus yang juga terjadi dalam gereja-gereja non-Katolik. Mereka begitu mencintai sabda Tuhan dan begitu bersemangat dalam mewartakan Kristus. Tentunya hal ini hanya mungkin karena mereka pun didorong oleh Roh Kudus. Roh Kudus berhembus ke mana pun seturut kebijaksanaan-Nya. Nyata juga bagiku, bahwa seseorang yang sungguh-sungguh mengikuti dorongan Roh Kudus dalam pencariannya akan kepenuhan kebenaran dan rahmat Tuhan, akan akhirnya  menemukannya di dalam Gereja Katolik.

Bacaan-bacaan Kitab Suci Minggu ini, mengingatkan kita untuk mempunyai keterbukaan hati untuk mengakui adanya kebaikan yang dapat terjadi di luar komunitas kita. Tuhan pun dapat berkarya dalam diri orang-orang yang tidak atau belum sepenuhnya tergabung dengan Gereja-Nya. Kita diingatkan untuk mempunyai sikap seperti Nabi Musa dan Tuhan Yesus sendiri, yang mau mengakui bahwa Roh Kudus dapat berkarya melalui siapa saja, untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang sungguh mengasihi Dia. Jika Roh Kudus dapat mendorong Bileam dari bani Ammon untuk bernubuat yang baik tentang bangsa Israel (lih. Bil 23 dan 24), dan melembutkan hati para raja Persia untuk mengizinkan bangsa Israel membangun kembali bait Allah di Yerusalem (lih. Ezr 1-6), maka tak ada yang aneh bahwa Roh Kudus dapat tercurah atas Eldad dan Medad—yang sudah termasuk dalam kaum Israel—meski keduanya tidak hadir saat Nabi Musa mengumpulkan para tua-tua bangsa itu. Nabi Musa dengan rendah hati mengakui karya Roh Kudus atas kedua orang itu juga.

Di bacaan Injil, Yesus-pun bersikap demikian. Ketika Rasul Yohanes berkata bahwa ada orang yang bukan dari kalangan mereka mengusir setan, Yesus tidak mencegah orang itu. Kata Yesus, “tak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku” (Mrk 9:39). Penjelasan St. Agustinus tentang ayat ini mencakup dua keadaan: 1) Jika yang menyembuhkan dalam nama Yesus itu bukan pengikut Yesus. Atau, 2) jika yang menyembuhkan dalam nama Yesus itu adalah pengikut Yesus, tetapi tidak dalam kesatuan dengan para murid-Nya. Untuk keadaan yang pertama, St. Agustinus berkata, “Kita tak usah terganggu karena sejumlah orang yang tidak atau belum tergabung dalam Gereja… melakukan sejumlah karya mukjizat, seperti yang terjadi pada seseorang yang mengusir setan dalam nama Kristus (lih. Mrk 9:38; Luk 9:49). Meskipun ia bukan pengikut Kristus, Kristus memerintahkan agar ia diperbolehkan untuk terus melakukannya sebab hal itu memberikan kesaksian berharga tentang nama-Nya bagi banyak orang. Kornelius juga melihat malaikat yang diutus kepadanya mengatakan bahwa doa-doanya telah didengarkan dan perbuatan amalnya diterima (lih. Kis 10:3-4) bahkan sebelum ia bergabung sepenuhnya ke dalam Gereja melalui Baptisan (St. Augustine, Letter 187, to Dardanus 36). Sedangkan, terhadap keadaan kedua, St. Agustinus juga mengaitkannya dengan ayat-ayat lainnya. Yaitu bahwa barangsiapa yang menerima para murid, ia juga menerima Yesus (lih. Mat 10:40). Atau, barangsiapa yang menolak para murid-Nya, ia menolak Yesus (lih. Luk 10:16). Maka, kata St. Agustinus, “Tentulah apa yang dimaksud adalah: bahwa seseorang tidak bersama Dia sejauh ia melawan Dia, dan ia tidak melawan Dia sejauh ia bersama Dia. Contohnya, pada orang yang melakukan mukjizat dalam nama Kristus, tetapi tidak menggabungkan diri dalam kumpulan para rasul-Nya: [1] sejauh ia melakukan mukjizat dalam nama-Nya, ia ada bersama para rasul dan tidak menentang mereka, [2] sejauh ia tidak bergabung dalam kelompok mereka, ia tidak bersama mereka dan menentang mereka. Jadi, karena para murid melarang perbuatan orang itu yang melaluinya ia ada bersama mereka, Tuhan berkata, “Jangan melarangnya.” Namun mereka harus melarang dia karena tidak tergabung dalam kumpulan mereka, dan karena itu, harus mengajaknya untuk bergabung dalam kesatuan Gereja. Tetapi mereka tidak seharusnya melarang apa yang melaluinya ia ada bersama mereka, yaitu pujian kepada nama Tuhan dengan pengusiran setan. Oleh karena itu, Gereja Katolik tidak menolak sakramen-sakramen yang dilakukan oleh para heretik…, tapi Gereja menyalahkan perpecahan mereka, atau sejumlah pendapat mereka yang tidak sesuai dengan perdamaian dan kebenaran; sebab dalam hal ini, mereka menentang kita.” (St. Augustine, De Con. Evang. 4,5)

Sejalan dengan ajaran St. Agustinus ini, Konsili Vatikan II dan Katekismus menjabarkan tentang kedua keadaan tersebut, demikian: Pertama, pada berbagai agama bukan Kristen: “Gereja mengakui bahwa agama-agama lain pun mencari Allah, walaupun baru ‘dalam bayang-bayang dan gambaran’. Ia memang belum dikenal oleh mereka, namun toh sudah dekat, karena Ia memberi kepada semua orang kehidupan, napas, dan segala sesuatu, dan Ia menghendaki agar semua manusia diselamatkan. Dengan demikian Gereja memandang segala sesuatu yang baik dan benar yang terdapat pada mereka sebagai ‘persiapan Injil dan sebagai karunia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan’ ” (KGK 843, Lumen Gentium 16). Kedua,  “… karena mereka [saudara-saudari yang Kristen non-Katolik] dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan…. Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan di luar kawasan Gereja Katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya… Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya termasuk Gereja Kristus yang tunggal. Tidak sedikit pula upacara-upacara agama Kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu … sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan. Oleh karena itu Gereja-Gereja dan  komunitas komunitas jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja Katolik…” (Unitatis Redintegratio 3).

Menyadari hal ini, apa yang dapat kita lakukan sebagai umat Katolik? Pertama, kita bersyukur atas karunia Gereja Katolik sebagai Gereja Kristus; dan atas Roh Kudus yang terus berkarya dalam diri semua orang. Kedua, kita turut berdoa bagi kesatuan Gereja. Ketiga, kita turut mengambil bagian dalam pewartaan Injil dan kepenuhan kebenaran di dalam Kristus dan Gereja yang didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik.

Tuhan Yesus, kubersyukur karena aku boleh menjadi anggota Gereja-Mu, dan karena Engkau selalu menyertai Gereja-Mu. Sungguh besarlah kuasa Roh Kudus-Mu yang terus berkarya dalam Gereja maupun dalam diri semua orang. Bantulah aku mengenali karya-Mu dalam segala kebaikan yang terjadi di sekelilingku. Mampukanlah aku mengambil bagian dalam karya Roh Kudus-Mu untuk memperkenalkan Engkau dan Gereja-Mu. Agar tergenapilah kehendak-Mu, ‘… supaya mereka semua menjadi satu’, pada kami semua yang mengimani Engkau. Amin.”

Pemimpin yang melayani

0
Sumber gambar: http://www.mozzarellamamma.com/2014/an-extraordinary-meeting/

[Hari Minggu Biasa ke XXV: Keb 2: 12,17-20; Mzm 54:3-8; Yak 3:16-4:3; Mrk 9:30-37]

Di salah satu blog di internet, dikisahkan tentang Paus Fransiskus yang konon membuatkan sandwich isi selai untuk seorang Swiss Guard yang bertugas menjaga keamanan di depan apartemennya di Casa Santa Marta. Keluar dari pintu, Paus melihat sang Swiss Guard [mungkin bagi kita, istilahnya satpam] berdiri berjaga. Lalu Paus bertanya:
“Apakah kamu telah berjaga semalaman?
“Ya”, jawab si petugas.
“Berdiri?” tanya Paus.
“Yang Mulia, itu tugasku sejak aku bergantian jaga dengan temanku.”
“Kamu tidak capek?”
“Itu tugas saya Yang Mulia; saya harus berjaga demi keamanan Anda.”
Paus memandangnya dengan kasih, dan kembali ke kamarnya. Setelah semenit ia kembali dan membawa sebuah kursi: “Paling tidak, duduklah dan beristirahatlah.”
Sang petugas menjawab, “Bapa Suci, maafkanlah saya, tapi saya tidak dapat! Peraturannya tidak memperbolehkan itu.”
“Peraturan?”
“Perintah dari kapten saya, Yang Mulia.”
“O, begitu? Baiklah. Saya Paus dan saya memerintahkan kamu untuk duduk.”
Terbelah antara peraturan dan Paus, sang petugas akhirnya memilih kursi itu. Paus kembali ke apartemennya. Setelah beberapa menit, Paus keluar lagi menemui sang Swiss Guard yang masih duduk di kursi. Paus membawa “panino con marmellata” (setangkap roti selai) yang telah dibuatnya. Sebelum sang petugas mengucapkan apapun, Paus tersenyum dan berkata kepadanya, “Dengan berjam-jam berdiri sambil berjaga, mestinya kamu sedikit lapar.” Sang Swiss Guard tak punya waktu untuk menolak, sebab Paus langsung berkata: “Selamat makan, saudaraku.”

Terharu hatiku membacanya. Dengan pembawaannya yang khas, Paus Fransiskus memberikan contoh kepada kita, bagaimana menjadi seorang pemimpin yang melayani. Ini adalah salah satu pesan bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Setelah Yesus dimuliakan di atas gunung, Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang apa yang akan dihadapi-Nya. Yaitu bahwa Ia akan dianiaya dan dibunuh, namun tiga hari setelahnya, Ia akan bangkit (lih. Mrk 9:31). Ini adalah nubuat Yesus yang sangat jelas akan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, yang menggenapi nubuat para nabi. Salah satunya adalah nubuat yang tertulis dalam Kitab Kebijaksanaan yang dibacakan sebagai Bacaan Pertama Minggu ini. Kitab Kebijaksanaan adalah salah satu kitab dalam kitab-kitab Deuterokanonika; yang di dalamnya memuat perikop yang sangat jelas menggambarkan Kristus (lih. Keb 2:10-20). Oleh karena itu, para rabi Yahudi tidak memasukkan kitab Kebijaksanaan dalam kanon kitab suci mereka, sebab mereka sampai sekarang menolak Kristus dan tidak percaya kepada-Nya.

Kembali kepada nubuat Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Saat mendengar perkatan Yesus itu, para murid tidak mengerti, namun mereka segan menanyakannya kepada-Nya. Mungkin mereka masih belum memahami tentang apa yang Yesus bicarakan, tetapi  mungkin juga, karena mereka sedang sibuk membicarakan hal lain. Rupanya mereka sedang membicarakan tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Yesus yang mampu membaca kedalaman pikiran hati setiap manusia, mengetahui apa yang ada dalam pikiran para murid-Nya saat itu. Sejumlah dari mereka mungkin masih terbayang-bayang pengalaman melihat Yesus yang  dimuliakan di atas gunung, lalu menghubungkan kemuliaan tersebut dengan kejayaan kerajaan-Nya di bumi. Dengan demikian, mereka seolah-olah ingin berlomba menjadi yang terdekat dengan Yesus atau menjadi pemimpin bagi sesama rasul lainnya. Namun Yesus memberi persyaratannya: bahwa siapa yang mau menjadi pemimpin harus mau menjadi pelayan bagi semuanya (lih. Mrk 9:35). Walau mungkin pada saat itu perkataan ini belum dipahami sepenuhnya oleh para murid, namun setelah Yesus wafat, bangkit, naik ke Surga dan mengutus Roh Kudus-Nya, perkataan ini jelas tertanam di hati para rasul. Ini nampak juga dari tulisan Rasul Petrus (1Ptr 5:1-3) dan Rasul Paulus (1Kor 9:19-; 2Kor 4:5). Paus sebagai penerus Rasul Petrus, juga melestarikan ajaran Yesus ini, dengan mengambilnya sebagai salah satu gelarnya, yaitu “Pelayan dari semua pelayan Tuhan,” Servus servorum Dei.

Di Tahun Syukur—tema yang diangkat di Keuskupan Agung Jakarta tahun 2015—di saat banyak diadakan banyak program kepemimpinan dan Leadership di paroki-paroki, kita diingatkan untuk kembali ke satu prinsip dasar bagi seorang pemimpin sejati menurut Injil. Yaitu seorang pemimpin adalah seseorang yang mau menjadi pelayan. Yesus mengajarkannya demikian, dan telah melaksanakannya sendiri, sebagaimana kita lihat selama hidup-Nya di dunia sampai wafat-Nya di kayu salib. Kini mari kita memeriksa batin kita, terutama jika kita memegang suatu peran kepemimpinan di keluarga, lingkungan, paroki, maupun masyarakat. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang rendah hati dan mau memperhatikan kesejahteraan mereka yang kita pimpin? Sudahkah kita mau melayani mereka? Mari belajar dari Paus Fransiskus, yang tidak canggung dan bahkan dengan sukacita, melayani petugas satpam dan menganggapnya sebagai saudaranya sendiri.

Adakah saudara atau saudari kita hari ini, yang mungkin perlu kita bawakan kursi dan kita buatkan roti?

Hidup sesuai dengan pengakuan iman kita

0
Sumber gambar: http://allinonelyrics.blogspot.co.id/2012/03/who-is-jesus-christ.html

[Hari Minggu Biasa ke XXIV: Yes 50:5-9; Mzm 116:1-9; Yak 2:14-18; Mrk 8:27-35]

St. Ignatius dari Loyola mengajarkan salah satu cara untuk merenungkan Kitab Suci. Yaitu, dengan menempatkan diri kita sebagai salah satu tokoh dalam kisah Kitab Suci yang sedang kita baca dan renungkan. Untuk Injil hari ini, kita dapat merenungkan, seandainya kita ada di antara bilangan para murid itu. Apa jawabku, ketika aku mendengar sendiri Tuhan Yesus bertanya kepadaku, “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Mrk 8:29). Aku membayangkan tatapan mata-Nya yang penuh kasih menembus kedalaman jiwaku, “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?” Dalam keheningan, jiwaku memandang-Nya, “O Tuhan, Engkaulah Tuhanku …

Mungkin mudah bagi kita yang telah percaya kepada-Nya untuk menjawab, “Yesus, Engkau adalah Tuhanku!” Tetapi mungkin tidak semudah itu, pada saat pertanyaan itu dilontarkan pertama kalinya oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Sebab saat itu, Misteri Paska-Nya—sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga—belum terjadi. Para murid belum diyakinkan oleh kebangkitan Yesus dari mati yang menunjukkan ke-Allahan-Nya. Oleh karena itu, pengakuan Rasul Petrus, “Engkau adalah Mesias”, adalah pengakuan iman yang luar biasa. Sebab dengan pernyataannya itu, Rasul Petrus telah mengakui imannya akan Yesus sebagai Yang diurapi Allah, Sang Raja Penyelamat yang telah dinubuatkan oleh para nabi (lih. Dan 9:25-26; Mzm 2:2), dan sebagai Anak Allah sendiri… Di atas Rasul Petrus dan pengakuan iman Petrus inilah, Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18-19). Kita pantas berterima kasih kepada Rasul Petrus, karena ia telah menunjukkan kepada kita pengakuan iman yang benar akan Kristus.

Namun Kristus tidak menghendaki pengakuan iman ini hanya sekedar ucapan yang keluar dari mulut. Sebab iman yang sejati tidak hanya menyangkut penghayatan dalam hati, tetapi juga perwujudannya dalam perbuatan (lih. Yak 2:14,18). Karena itu, Yesus mengundang para murid-Nya untuk menerima kenyataan yang lain sehubungan dengan diri-Nya sebagai Mesias; yaitu sebagai Mesias, Tuhan Yesus memilih jalan penderitaan dan salib, untuk mencapai kemuliaan-Nya (lih. Mrk 8:31). Dan Ia mengundang para murid-Nya untuk menempuh jalan yang sama. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34). Sudahkah kita menyangkal diri dan memikul salib kehidupan kita dengan hati yang lapang? Sebab menjadi murid Kristus tidak identik dengan bebasnya kita dari permasalahan hidup dan tanggung jawab sesuai dengan panggilan hidup kita masing-masing. Dalam menjalani panggilan hidup kita, Tuhan menghendaki agar kita belajar menyangkal diri atau berkurban demi kasih. Kita pun dipanggil agar rela menanggung penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita. Sebab melalui semuanya itu, Tuhan memurnikan kita dari rasa cinta diri yang berlebihan, dan dari dosa-dosa kita di masa lalu. Oleh karena itu, pergumulan dalam hidup justru adalah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam doa dan penyangkalan diri. Orang yang tak mau belajar berkurban dan menyangkal diri, malah sebenarnya menjauh dari Tuhan Yesus. Ia pun semakin menjauh dari kebahagiaan, karena kebahagiaan sejati selalu berhubungan dengan kasih yang rela berkurban.

Kalau kita sering merasa lelah di akhir hari, dan lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur, mungkin sudah saatnya kita jujur kepada diri sendiri. Sebab itu suatu pertanda kita belum hidup sesuai dengan pengakuan iman kita akan Yesus sebagai Mesias, Tuhan kita. Sebab semua kesulitan itu sesungguhnya adalah kesempatan untuk menguduskan kita, sehingga kita pantas bersyukur karenanya. Yesus sendiri telah memilih jalan yang sungguh sulit untuk menguduskan kita, dan kitapun diundang untuk mengambil bagian di dalam jalan kekudusan itu. Yaitu dengan mengikuti teladan-Nya, untuk memberikan diri sampai akhir dengan sukacita. Artinya, mengasihi Tuhan dan sesama, tidak saja dengan perkataan, tetapi terlebih dengan perbuatan, walaupun itu melibatkan perjuangan dan pengorbanan. Melalui teladan Kristus, kita ketahui bahwa kesempurnaan kasih tidak diperoleh dengan cara yang mudah, namun dengan cara yang cukup melelahkan. Seringkali juga melibatkan keringat dan air mata. Tetapi melalui semuanya itu, Tuhan menghantar kita untuk menemukan arti hidup yang sesungguhnya dan mengalami kebahagiaan yang sejati.

Tuhan Yesus, aku mau mengikuti Engkau. Bantulah aku memikul salib kehidupanku dengan hati yang murni. Terimalah diriku apa adanya, dengan segala kekuranganku dan kelemahanku. Tetapi buatlah aku menjadi seperti yang Kau kehendaki, seperti yang Kau lakukan terhadap Santo Petrus, Rasul-Mu. Bantulah aku hidup seturut pengakuan imanku, bahwa Engkaulah Allah Penyelamatku yang telah menyerahkan nyawa-Mu bagiku! Supaya dengan demikian, tiap-tiap hari aku pun belajar mengasihi seperti Engkau telah mengasihi aku. Amin.

Tuhan Yesus Tersenyum

0

Sharing Pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Dalam Misa Peringatan Santa Monika, Pater Superior General Tarekat SS.CC mempersembahkan Misa Kudus pada saat visitasi di Komunitas Paroki Santa Odilia-Citra Raya Tangerang, tanggal 27 Agustus 2015. Dalam homilinya, ia menekankan tentang perlunya terus bertambah-tambah dan berkelimpahan di dalam kasih: “Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu (1 Tesalonika 3:12).

Aku merenungkan Sabda Tuhan yang indah itu. “Bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih” merupakan dasar dalam kehidupan bersama dan pelayanan. Bertambah dan berkelimpahan di dalam kasih akan membuat Tuhan Yesus tersenyum. Bagaimana mewujudkannya? Aku ingat suatu peristiwa bagaimana membuat Tuhan Yesus tersenyum ketika aku melayani di Paroki Santo Damian Batam beberapa tahun silam.

Ketika Gereja Katolik Santo Damian-Batam selesai dibangun, kami mendirikan Gua “Hati Tersuci Santa Maria”. Gua Maria itu terletak di antara gereja dan pastoran. Gua Maria tersebut semakin lama semakin nyaman untuk berdoa karena dikelilingi dengan banyak pohon yang rindang.

Seorang ibu, berusia kira-kira lima puluh lima tahun, dengan sapu lidi dan satu tas platik besar di tangannya, senantiasa berdoa di depan patung Bunda Maria di gua itu, tepat jam sebelas siang. Setelah berdoa selama seperempat jam, ia langsung menuju pohon-pohon yang rindang di gua itu. Ia menyapu daun-daun yang berserakan dan mengumpulkannya menjadi satu. Ia kemudian memungut satu persatu daun itu dan memasukkannya secara perlahan-lahan ke kantong plastik. Ia melakukannya sampai jam enam sore, saat dimulainya doa Angelus (Malaikat Tuhan). Udara di Batam sangat panas sehingga keringat ibu itu bercucuran.

Karena tidak tega dengan ibu itu, aku menyuruh kosterku (pegawaiku), namanya Pak Yohanes, untuk membersihkan daun-daun di sekitar Gua Maria sebelum ibu tersebut datang. Tepat pukul sebelas, ibu itu berdoa sebentar seperti biasanya dan menuju ke pohon yang rindang. Ibu itu menangis. Aku mendatangi ibu tersebut dan bertanya: “Mengapa ibu sangat sedih?” Ibu itu menjawab dengan suara terisak-isak: “Romo, aku sangat sedih karena sudah ada orang yang membersihkan Gua Maria ini”. Aku menjawabnya: “Bu, aku yang menyuruh kosterku membersihkannya karena kasihan dengan ibu. Biar ibu tidak repot-repot membersihkannya di tengah teriknya matahari”. Jawaban ibu itu sangat mengagetkan aku: “Romo, kalau Romo kasihan dengan aku, biarlah membersihkan Gua Maria menjadi hakku. Dengan membersihkan Gua Maria ini, hidupku terasa berarti bagi Tuhan dan sesama”. Aku ingin tahu lebih dalam mengapa ibu itu sangat antusias ingin membersihkan Gua Maria itu: “Bu, apa yang mendasari ibu ingin membersihkan Gua Maria ini?” Jawaban ibu itu sungguh menyentuh hatiku: “Romo, Tuhan sangat sangat baik. Walaupun ekonomiku pas-pasan karena kerjaku adalah penjual gorengan, kelima anakku bisa menyelesaikan sekolah di universitas. Kanker yang sudah bertahun-tahun aku idap tidak pernah membuatku terasa sakit. Aku tidak akan pernah cukup bisa membalas kebaikan Tuhan itu. Yang dapat aku lakukan bagi Tuhan hanya berdoa setiap hari di gua ini dan membersihkannya. Setiap lembar daun yang aku pungut dan masukkan ke dalam plastik ini, aku sertai dengan sebuah doa “Salam Maria”. Dengan memungut daun-daun yang berserakan dari jam sebelas seperempat sampai dengan jam enam sore, aku telah mendaraskan ratusan doa “Salam Maria” setiap hari. Dengan melakukan hal ini, aku telah membuat Tuhan Yesus tersenyum. Senyuman Tuhan Yesus mengalahkan kepahitan, kesulitan, dan penderitaanku”.

Setahun kemudian ibu itu meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, ibu itu rupanya menulis sebuah pesan singkat pada sebuah kertas kecil. Surat itu dibawa oleh anak sulungnya dan diberikannya kepadaku. Isi suratnya sangat menyentuh hatiku: “Romo, sebelum memberkati jenasahku, tolong bawakan selembar daun yang jatuh di halaman Gua Maria dan masukkan ke dalam peti jenasahku. Daun itu telah menjadi jembatan yang mengantarku ke surga”.

Kita pun dapat membuat Tuhan Yesus tersenyum dengan melakukan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh: Ketika selesai makan bersama keluarga, ibu-ibu kebanyakan mencuci piring-piring yang kotor. Ketika satu piring selesai dicuci, doakanlah satu kali “Salam Maria”. Bayangkan berapa kali doa “Salam Maria” yang telah ibu-ibu itu doakan setiap hari kalau piring yang mereka cuci lima buah sekali makan dan belum termasuk gelas, sendok, serta garpu. Nanti sebelum meninggal dunia, ibu-ibu tersebut juga bisa berpesan untuk memasukkan piring ke dalam peti matinya karena piring itulah yang membawa mereka ke surga.

Kesimpulannya: Kita akan mempunyai banyak alasan untuk menolak berbuat baik terhadap seseorang jika hati kita tidak ada cinta. Namun, berbagai hambatan dapat kita atasi ketika ada cinta di dalam jiwa kita. Hanya terang yang dapat mengusir gelap. Demikian juga hanya cinta yang dapat mengalahkan kebencian. Cinta hanya mau menebarkan kebaikan. Karena itu, jangan pernah jemu melakukan kebaikan: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9).

Tuhan Memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab