Home Blog Page 320

Apakah Gereja Katolik menyembah Patung dan merubah 10 perintah Allah?

19

Pertanyaan:

Ini hal pertama yang jadi ganjalan hati saya di dalam Katolik.
Yang ke-2 adalah soal patung-patung.
Selama puluhan tahun saya di Katolik, memang tidak dianjurkan baca Alkitab, karena setiap misa pun sudah disediakan kertas tuntunan misa. tapi itu salah saya sendiri, kalau saya tidak baca Alkitab. tapi 7 tahun terakhir ini saya mulai mencari kebenaran Firman Tuhan. Dan saya menemukan banyak sekali Doktrin Gereja Katolik yang TIDAK ALKITABIAH. Salah satunya adalah tentang patung-patung.
Baca : Keluaran 20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
Ini adalah Hukum yang ke-2 dari 10 Perintah Allah.
Dalih Katolik tentang patung adalah bukan menyembah patungnya tapi image dari patung tsb atau hanya menghormati.dan untuk membantu kita membayangkan oknum dari image patung (diwakilkan). seperti melihat foto orgtua dsb.Apakah tanpa foto, kita lupa orangtua kita? Apakah tanpa patung kita susah berdoa kepada Tuhan? Bukankah iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan? Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Lalu kenapa 10 perintah Allah-nya Katolik, Hukum yang ke-2 ini dihilangkan??? Saya bertanya2 tentang hal ini, mengapa Katolik melakukan itu? sampai akhirnya saya baca tentang sejarah Katolik dan doktrin2nya, baru saya temukan, banyak sekali penyimpangan yang terjadi. Apakah saya harus tetap mengikuti tradisi gereja Katolik yang menyimpang sekalipun sudah tahu bahwa itu menentang perintah Tuhan? YOHANES 4:24 “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Menurut Pak Tay, dasar tentang patung di Alkitab adalah ketika Tuhan suruh bikin 2 Kerub dari emas? dan tongkat Musa? Menurut saya itu khusus untuk umat Allah ketika itu. Hukum Taurat sudah digenapi Tuhan Yesus di atas kayu salib, dan sudah ditulis dalam loh daging/hati kita.Kalau kita masih mengikuti cara beribadah Perjanjian Lama, sia-sialah Yesus mati dikayu salib sebagai Anak Domba Allah yang menebus dosa seluruh umat manusia dan mengadakan Perjanjian Baru. Berarti, setiap tahun, Imam/Pastor kita masih harus menyembelih kambing/domba Paskah? Yang jelas2 berlaku untuk selamanya adalah 10 Perintah Allah. itu saja, sudah diubah Katolik.
Salam – Anna.

Jawaban:

Dear Anna,

Jawaban di bawah ini adalah untuk menanggapi keberatan Anna tentang adanya patung-patung di gereja Katolik, yang menurut Anna tidak Alkitabiah, karena melanggar perintah Allah, yaitu di Keluaran 20:4, yang Anna sebutkan sebagai perintah kedua dari ke sepuluh perintah Allah. Lalu Anna bertanya kenapa Gereja Katolik menghilangkan perintah yang kedua ini, dan mempertanyakan dasar sikap Gereja Katolik dalam hal pembuatan patung-patung ini. Sebenarnya di situs ini sudah pernah  dituliskan artikel tentang patung, (lihat Orang Katolik tidak menyembah patung), dan pada kesempatan ini saya menambahkan beberapa point berikut untuk menjawab pertanyaan Anna.

Sebelum memulai pembahasan, kita harus menerima secara objektif, bahwa

  • Perintah-perintah Allah yang ada di Kitab Keluaran 20 tersebut tidak diberi nomor secara khusus di dalam Alkitab. Allah tidak memberikan secara eksplisit bagaimana cara memberi nomor pada perintah-perintah itu (Pembagian ayat pada seluruh Alkitab baru dimulai pada jaman abad pertengahan). Jika setiap perintah diberi nomor, maka bisa diperoleh sekitar 15 perintah. Oleh karena itu Gereja Katolik mengelompokkannya tanpa menghilangkan satu ayatpun dari perintah Tuhan itu
  • Dua Bapa Gereja yang memainkan peran terbesar dalam hal ini adalah St. Agustinus dan Origen. St. Agustinus adalah orang kudus yang diberi gelar “Doctor of the Church”/ Pujangga Gereja, sedangkan Origen, meskipun dihormati untuk banyak hal, beliau juga dikenal pernah mengajarkan doktrin yang tidak sesuai dengan Alkitab, seperti jiwa-jiwa di neraka akhirnya dapat masuk surga. Gereja Katolik dan Lutheran secara umum mengikuti pengelompokan yang diajarkan oleh St. Agustinus, sedangkan Gereja-gereja Timur dan Protestan umumnya mengikuti Origen.

Jadi perbedaannya pengelompokan 10 perintah Allah menurut gereja-gereja Timur dan Protestan (mengikuti Origen):

  1. Akulah Tuhan, Allahmu yang membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan (ay. 2,3)
  2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit, di bumi dan di dalam bumi. (ay. 4)
  3. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan (ay.7)
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat/ hari Tuhan (ay.8)
  5. Hormatilah ayahmu dan ibumu (ay.12)
  6. Jangan membunuh (ay.13)
  7. Jangan berzinah (ay.14)
  8. Jangan mencuri (ay.15)
  9. Jangan mengungkapkan saksi dusta tentang sesamamu (ay.16)
  10. Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini isterinya, atau apapun yang menjadi milik sesamamu (ay. 17)

Sedangkan pengelompokan 10 perintah Allah menurut Gereja Katolik dan Lutheran (mengikuti St. Agustinus) adalah:

  1. Akulah Tuhan, Allahmu: Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit dan di bumi, dan jangan sujud menyembah kepadanya (ay. 2, 3, 4, 5)
  2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat (ay.7)
  3. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat/ hari Tuhan (ay.8)
  4. Hormatilah ayahmu dan ibumu (ay.12)
  5. Jangan membunuh (ay.13)
  6. Jangan berzinah (ay.14)
  7. Jangan mencuri (ay.15)
  8. Jangan mengungkapkan saksi dusta tentang sesamamu (ay.16)
  9. Jangan mengingini isteri sesamamu (ay.17 a)
  10. Jangan mengingini hak milik sesamamu (ay. 17 b)

Jadi apa yang dapat disimpulkan dari hal tersebut di atas:

  1. Di sini terlihat, Gereja Katolik tidak menghapuskan ayat Kel 20:4, namun mengelompokkannya dengan ayat yang ke-3 dan ke 5 dalam perintah pertama. Katekismus Gereja Katolik #2084 menuliskan versi lengkap perintah pertama dari 10 Perintah Allah sebagai berikut:

    “Akulah Tuhan Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya” (Kel 20:2-5).
    [Perintah ini dikaitkan dengan sabda Yesus dalam Perjanjian Baru], “Ada tertulis, engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Mat 4:10)

  2. Jadi Gereja Katolik melihat ayat 4 tersebut tidak dapat dipisahkan dengan ayat 3 dan 5 yaitu untuk menyembah Allah yang satu dan berbakti hanya kepada-Nya. Sebab jika berdiri sendiri, penerapan ayat yang ke-4 ini sesungguhnya tidak mungkin diterapkan dalam kehidupan manusia. Manusia tidak henti-hentinya membuat image/ ‘gambaran’/ patung (terjemahan dari ‘image’ tidak terbatas pada patung tetapi juga gambar) yang menyerupai sesuatu di langit dan bumi. Jika diterapkan secara harafiah maka semua seniman pelukis atau pematung adalah pendosa berat; semua museum yang menyimpan lukisan dan patung bersejarah adalah tempat yang penuh dosa; semua orang Kristen tidak boleh menonton film/ TV, karena di situ ada gambar yang menyerupai manusia/ hewan/ tumbuhan; tidak boleh memotret dan memasang foto, tidak boleh melukis/ menggambar, tidak boleh mengajari anak-anak dengan bantuan gambar-gambar, tidak boleh saling mengirim kartu Natal karena di situ ada gambar Yesus dan kandang Natal dst. Padahal gambar-gambar sebenarnya juga berguna untuk pengajaran iman, terbukti bahwa di sekolah minggu/bina iman, guru-guru menggunakan gambar untuk mengajarkan tentang Yesus. Atau, sebelum orang dapat membaca/ buta huruf (12 abad di Eropa, dan 19 abad rata-rata di Asia dan Afrika), gambar dan patung adalah jalan yang dipakai untuk mengantar orang pada Tuhan. Mungkin ini sulit dibayangkan oleh kita yang hidup jaman ini karena kita semua dapat membaca. Tetapi jika kita hidup di jaman bahela itu, tentu kita akan mengerti bahwa gambar-gambar, sepanjang tidak kita sembah sebagai Allah, maka tidaklah merupakan berhala.
  3. Jadi yang dilarang disini adalah patung berhala yang disembah sebagai Tuhan, bukannya semua jenis patung/ gambar. Inilah yang menjadi sikap Gereja Katolik; bahwa sepanjang gambar dan patung itu tidak disembah sebagai Allah, tidak ada salahnya membuat gambar dan patung. Jangan lupa bahwa gambar dan patung adalah karya seni seperti halnya musik. Jika di gereja-gereja Protestan musik dipakai untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan, demikian pula di gereja Katolik. Pasti musik itu hanya dianggap sebagai ‘alat’ saja bukan? Kita ke gereja bukan untuk mendengar musik, tetapi Firman Allah yang terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan patung/ gambar yang ada di gereja Katolik, hanya merupakan alat saja yang membantu mengarahkan kita pada Tuhan. Tanpa patung dan tanpa musik kita sesungguhnya bisa saja berdoa, tetapi tentu tidak ada salahnya kita memakai keduanya jika itu lebih membantu kita memusatkan hati pada Tuhan.
  4. Ya, dalam Gereja Katolik, kitapun menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24), namun juga dengan seluruh panca indera kita. Maka ada musik (indera pendengar), patung, gambar (indera penglihatan dan peraba), wewangian/ incense (penciuman); semuanya ini hanya ‘pelengkap/ alat’ saja, sedangkan di atas semua itu, kita menyambut Ekaristi (yang kita sambut melalui indera perasa, menjadi makanan rohani).

Dasar Alkitab:

  1. Sekarang tentang dasar Alkitab. Dalam Perjanjian Lama disebutkan banyak ayat yang menunjukkan bahwa Allah sendiri memerintahkan untuk membuat patung kerub/ malaikat (Kel 25:1, 18-20; 1 Taw 28:18-19) dan juga patung ular tembaga yang ditinggikan di atas tiang untuk mendatangkan kesembuhan jasmani (Bil 21:8; Ul 21:9), yang merupakan gambaran Kristus yang ditinggikan di kayu salib (Yoh 3:14) untuk mendatangkan kesembuhan/ keselamatan rohani. Memang perintah untuk membuat patung pada Perjanjian Lama itu berlaku pada saat itu, namun secara objektif kita mengetahui bahwa Allah tidak melarang pembuatan patung, malah menganjurkannya jika itu membantu kita mendekatkan diri pada Tuhan.

    Jadi jika Gereja Katolik mengizinkan adanya patung Yesus, bukan berarti kita kembali ke Perjanjian Lama, malah sebaliknya: Kita mengikuti Perjanjian Baru karena Perjanjian Lama telah diperbaharui dengan Perjanjian Baru oleh Kristus. Dalam Perjanjian Baru, Allah sendiri memperbaharui cara pewahyuan Diri-Nya, tidak lagi melalui perantaraan nabi-nabi, namun langsung melalui Kristus PuteraNya. Pada waktu Perjanjian Lama, Ia tidak mengizinkan orang membuat sesuatupun yang menyerupai DiriNya (yang di langit/ di surga). Namun di dalam Perjanjian Baru, hukum ini diperbaharui oleh Kristus. Sebab Allah menjelma menjadi manusia di dalam diri Kristus.

  2. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15)  dan “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9).

    Di sini kita melihat bahwa Yesus adalah gambaran Allah sendiri, dan sejak saat itu misteri Allah yang tak terlihat menjadi terlihat di dalam diri Kristus. Penggambaran DiriNya yang dalam Perjanjian Lama dilarang, dalam Perjanjian Baru malah dinyatakan di dalam Kristus, yang menjadi gambaran kepenuhan misteri Allah.

Maka alasan Gereja memperbolehkan gambar/ patung Yesus adalah karena Allah-lah yang terlebih dahulu menggambarkan Diri-Nya di dalam Yesus! Maka Katekismus Gereja Katolik #2131 (berdasarkan Konsili Nicea 787 AD) mengatakan, “…Dengan penjelmaan menjadi manusia, Putera Allah membuka satu ‘tata gambar’ yang baru”.

Atas dasar ini Gereja memperbolehkan penggunaan patung, tentu saja tidak untuk disembah sebagai tuhan. Jadi di sini dibedakan 2 jenis penghormatan. Penyembahan, yang hanya kepada Tuhan disebut sebagai “latria”/ adoration, sedangkan penghormatan kepada gambar/ patung Yesus/ Maria/ Orang Kudus, hanyalah sebagai “dulia”/ veneration, seperti halnya kita menghormati bendera kebangsaan.

Semoga tambahan keterangan ini dapat memperjelas pertanyaan Anna tentang sikap Gereja Katolik mengenai hal patung, dan perihal ayat Kel 20:4.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Penjualan surat pengampunan dosa di abad pertengahan?

10

Pertanyaan

Kita harus akui dengan segala kerendahan hati, bahwa setiap manusia bisa saja melakukan kesalahan(kecuali “Anak Manusia/Yesus”), tapi setelah tahu bahwa ada yang salah apakah kita harus tetap kekeh mempertahankan yang salah demi ego kita? termasuk pada tahun 1090 Katolik pernah Jual Surat Pengampunan Dosa ? Puji Tuhan, yang satu ini sudah Katolik perbaiki. Mudah-mudahan juga Doktrin2 yang lain yang tidak Alkitabiah dan menentang perintah Allah bisa sama2 kita perjuangkan bersama. agar tidak sampai tetap dalam keadaan salah sampai Tuhan Yesus datang untuk ke-2 kalinya. karena penghakiman di mulai dari rumah Tuhan.
Salam – Anna

Jawaban:

Shalom Anna,

Anda menyangka bahwa Gereja Katolik telah melakukan kesalahan karena pernah menjual surat pengampunan dosa (indulgence). Benarkah demikian? Mari kita melihatnya satu-persatu:

I. Apakah indulgensi (penghapusan siksa dosa).

1) Pertama-tama saya akan memberikan arti apa sebenarnya arti indulgensi. Hal ini disebutkan di dalam Katekismus Gereja Katolik 1471 “Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengampunan. Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif.”
2) Untuk mengenai pernyataan di atas, kita harus mengetahui akan akibat ganda dari dosa, yaitu: 1) dosa berat membawa kita kepada siksa dosa abadi di neraka, 2) dosa ringan membawa kita kepada siksa dosa sementara. Silakan membaca Sakramen Pengampunan Dosa (bagian 1, 2, 3, 4) . Setelah dibaptis, seorang Katolik dapat mengakukan dosanya dan terlepas dari siksa dosa abadi di neraka, namun siksa dosa sementara tinggal yang pada akhirnya akan membawa pendosa kepada api penyucian (topik ini akan ditulis tersendiri di kemudian hari).
3) Kenapa Gereja mempunyai otoritas untuk mengampuni dosa? Karena otoritas ini diberikan oleh Kristus sendiri yang mengatakannya kepada Petrus “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19). Dan kepada para rasul, Ia memberikan kuasa untuk mengampuni dosa, dan apa yang terikat di dunia akan terikat di surga, dan yang dilepaskan di dunia akan terlepas juga di surga (lih Mat 18:18). Dan Yesus yang mengunjungi para rasul, setelah kebangkitan-Nya, memberikan kuasa kepada mereka untuk mengampuni dosa (lih. Yoh 20:23).
4) Dengan indulgensi, maka Gereja memberikan suatu tanda kasih kepada umat-Nya, yaitu suatu “spiritual goods”, agar umatnya dapat terlepas dari siksa dosa sementara. Ini sama saja kalau di dalam keluarga, kalau orang tua mempunyai kekayaan duniawi, maka mereka akan berusaha membagikannya kepada anak-anaknya. Dalam hal ini, Gereja mempunyai kekayaan rohani, yang dititipkan sendiri oleh Kristus. Yang menjadi masalah adalah kalau Gereja tidak mendapatkan mandat dari Kristus, namun memberikan indulgensi. Namun dalam kenyataannya, Kristus sendiri yang memberikan mandat kepada Gereja. Dan setia kepada mandat ini, Gereja memberikan indulgensi kepada umatnya.
5) Saya harap sampai tahap ini, Anna setuju bahwa Gereja diberi kuasa oleh Yesus untuk memberikan indulgensi. Dan Martin Luther sendiri tidak terlalu menentang doktrin ini, yang paling ditentangnya adalah praktek dari indulgensi di masa itu.

II. Bagaimana seseorang mendapatkan indulgensi dan penerapannya di abad pertengahan:

1) Sekarang mari kita melihat, bagaimana sebetulnya seseorang mendapatkan indulgesi. Tidak pernah Gereja mengajarkan bahwa indulgensi dapat diperoleh dengan uang. Gereja senantiasa mengajarkan bahwa indulgensi tidak dapat dibeli. Gereja mengajarkan bahwa seseorang mendapatkan indulgensi dengan: 1) perbuatan kasih, 2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah. dan semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar. Memberikan uang tidak dapat membeli indulgensi, memberi uang dengan dasar kasih membuat seseorang mendapatkan indulgensi. Kita melihat contoh bagaimana Yesus sendiri memuji persembahan janda miskin (Mk 12:41-44; Lk 21:1-4). Yesus memujinya bukan karena janda miskin memberikan uang, namun karena disposisi hatinya. Sebaliknya Gereja juga tidak memberikan indulgensi kalau seseorang memberikan uang, namun sebagai ungkapan kasih. Semuanya tergantung dari disposisi hati. Kalau diperhatikan, semua indulgensi selalu mencantumkan “disposisi hati yang benar“.
2) Mari kita lihat prakteknya di abad pertengahan, yang pada waktu itu Gereja sedang membangun Gereja St. Petrus. Memang ada penyalahgunaan penerapan indulgensi dalam prakteknya, namun ini tidak menghapus akan kebenaran bahwa Gereja mempunyai kuasa untuk memberikan indulgensi.
3) Paus Leo X (1513-1521), memberikan indulgensi kepada orang-orang yang memberikan sumbangan untuk pembangunan Gereja St. Petrus, namun bukan karena mereka memberi uang, tetapi karena sebagai ungkapan perbuatan baik. Dan bukan itu saja, yang ingin mendapatkan indulgensi harus memenuhi kondisi yang disebutkan diatas, seperti: doa, berpuasa, dan sedekah, yang semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar.
4) Dan kemudian beberapa konsili, the Councils of Fourth Lateran [1215], Lyons [1245 and 1274] and Vienne [1311-1312], The Council of Trent [1545-1563] melarang dan mengecam akan praktek-praktek indulgensi yang menyalahi ajaran Gereja.
5) Jadi memang ada yang melakukan penyelewengan dalam praktek memberikan indulgensi, namun adalah tidak benar dengan menyalahkan seluruh Gereja Katolik, dan juga ajaran Gereja Katolik tentang hal ini, yang sebenarnya bersumber kepada Alkitab.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan kepada Anna tentang doktrin indulgensi. Gereja Katolik, oleh kuasa yang diberikan oleh Kristus,  memberikan indulgensi, agar umat-Nya dapat bertumbuh di dalam kekudusan dan dapat mencapai kebahagiaan abadi di surga. Semoga keterangan di atas dapat menjawab keberatan Anna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Mengapa komuni satu rupa maknanya sama dengan dua rupa?

29

Pertanyaan:

Salah satu yang paling jelas adalah tentang Perjamuan Kudus. Saya pernah tanya ke Romo, “kenapa sih, cuma terima Tubuh aja? Darah-Nya tidak?” ada 2 versi jawaban Romo, satunya bilang karena mahal, sebab anggurnya dari Vatikan langsung. satunya lagi karena nanti umat yang paling belakang komuni, liat piala anggurnya udah banyak hosti yang hancur karena dicelup oleh ratusan umat. padahal Yesus jelas2 berpesan:

[MATIUS 26:26-28 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.]

Jelas disini, yang Dia curahkan untuk pengampunan dosa adalah Darah-Nya! Kenapa sejak saya Katolik dari kecil, yang saya terima setiap Misa hanya Tubuh-Nya saja? (sampai umur 31 saya baru 2X terima anggur, itupun di Katolik Kharismatik). Jadi menurut saya bukan masalah cara Katolik ataupun cara Protestan yang benar. Yang saya tahu adalah ketika kita makan Roti dan Minum Anggur berarti kita akan senantiasa bersyukur dan diingatkan betapa besarnya pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan kita semua.Jadi, ketika kita terima Tubuh dan Darah-NYA berarti kita tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita.

[Yohanes 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Yohanes 6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.]

Salam – Anna.

Jawaban:

Shalom Anna,

Saya berusaha menjawab pertanyaan Anna, point C. Perjamuan Kudus, dalam kaitannya di sini adalah mengapa pada waktu Komuni tidak dibagikan anggur melainkan hanya roti saja? Bukankah oleh Darah-Nya kita memperoleh pengampunan dosa?

Pertama-tama, Perjamuan Kudus bagi orang Katolik lebih dikenal sebagai Sakramen Ekaristi/ Misa Kudus. Secara lebih detail tentang Ekaristi, silakan membaca artikel ini: Sudahkah Kita Pahami Ekaristi dan Ekaristi Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani.
Pada kedua artikel di atas dijabarkan tentang makna Ekaristi dan peran Ekaristi dalam kehidupan iman kita sebagai umat beriman.
Nah, sekarang lebih jauh tentang roti dan anggur, dasarnya adalah demikian:

1. Kita mengetahui bahwa Yesus sendiri mengatakan diriNya sebagai Roti hidup yang turun dari surga.

“Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan ini adalah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia (Yoh 6:51). Jadi ayat ini menjadi satu kesatuan dengan ayat ke 53, 54, 56, yang menyebutkan, ‘makan daging-Nya dan minum darahNya’ sebagai syarat kehidupan kekal. Demikian juga pada ayat 57, Yesus berkata, “…barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Nah, hal ini sejalan dengan Rom 5:9-10 yang mengatakan, “…kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan… oleh hidup-Nya!”. Jadi penebusan dosa oleh darah Yesus itu sejalan dengan keselamatan yang kita peroleh dari Yesus, sang Roti Hidup, yang memberikan hidup-Nya kepada kita. Maka Tubuh dan Darah Yesus merupakan satu kesatuan. Penumpahan darah-Nya yang terjadi di kayu salib, bukan merupakan ‘pemisahan’ antara Tubuh dan Darah yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan untuk menunjukkan bahwa darah itu adalah darah Perjanjian Baru yang menjadi pemenuhan Perjanjian Lama, di mana segala sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa darah tidak ada pengampunan (Ibr 9: 22).

2. Kristus menetapkankan Ekaristi pada saat Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya, dan Ia hadir secara penuh dalam rupa roti ataupun anggur yang telah dikonsekrasikan

Orang Katolik percaya bahwa Kristus menetapkankan Ekaristi pada saat Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya, agar para murid-Nya mengenangkan Dia (Luk 22: 19) dan menerima rahmat keselamatan itu sebagai bukti penyertaan-Nya pada Gereja-Nya sampai akhir zaman (lihat Mat 28:20). Nah, maka melalui perayaan Ekaristi, Gereja Katolik tidak hanya  ‘mengenang’/ mengingat akan Kristus, tetapi juga merayakan kehadiran-Nya yang sungguh nyata dalam Gereja-Nya.

Oleh kuasa SabdaNya dan Roh KudusNya, kurban Salib dan Kebangkitan Kristus dihadirkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, walaupun tidak dengan cara yang sama, yaitu tidak secara literal sebagai Kurban yang mencucurkan darah sebagaimana terjadi dalam penyaliban Kristus 2000 tahun yang lalu (lih. KGK 1373-1381), sebab Kristus telah bangkit mulia. Oleh kuasa Sabda-Nya dalam kosekrasi tersebut,  roti diubah menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus. Perubahan ini disebut sebagai ‘Transubstansiasi‘. Doktrin ini ditegaskan kembali di Konsili Trente (1545-1563). Artinya, ini tidak berarti bahwa baru pada tahun itu doktrin ini diajarkan; karena doktrin tentang kehadiran Kristus dalam Komuni kudus telah diajarkan sejak Gereja awal.  Ajaran dari Bapa Gereja tentang kehadiran Yesus di dalam Ekaristi Kudus, yang berdasarkan Sabda Yesus sendiri (Mat 26:26-28; Mk 14:22-25; Lk 22:15-20), dapat dibaca di artikel ini, silakan klik.

Maka, apa yang Anda katakan  yaitu bahwa dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, itu benar (lih. Yoh 6:56, Yoh 15:4). Dalam Tubuh Kristus, hadir Kristus dan demikian juga dalam Darah-Nya hadir Kristus, sebab Kristus tidak terbagi seolah-olah hanya ada separuh Kristus pada Tubuh-Nya dan separuh lagi pada Darah-Nya. Rasul Paulus berkata, “Barangsipa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” (1Kor 11:27). Dengan demikian,  menerima Ekaristi hanya dalam satu rupa saja (menerima hosti saja atau meminum cawan Tuhan saja) itu artinya sama saja, sehingga jika dilakukan dengan tidak layak, orang itu berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan, dan bukan hanya terhadap tubuh-Nya saja atau darah-Nya saja, tergantung dari rupa apa yang disambutnya.

3. Tubuh dan darah Kristus merupakan kesatuan

Dengan demikian, roti yang pada saat konsekrasi telah diubah menjadi Tubuh Kristus dan anggur diubah menjadi oleh kuasa Roh Kudus, merupakan satu kesatuan. Tubuh merupakan satu kesatuan dengan darah-Nya; demikian juga darah-Nya menjadi kesatuan dengan TubuhNya. Seperti halnya kita: tubuh kita juga mengadung darah, dan darah kita hanya bisa terbentuk karena kesatuan dengan tubuh, maka hal yang sama terjadi juga pada Kristus. Darah Yesus yang tertumpah untuk pengampunan dosa kita adalah Darah yang terbentuk dari Tubuh-Nya yang mulia, sehingga kita tidak dapat membicarakan darah Yesus tanpa melihat kaitannya dengan Tubuh Kristus. Oleh karena itu, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, bahwa Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (lih. KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.

4. Pemberian Komuni dalam bentuk hosti saja sudah cukup, karena hosti yang sudah diubah menjadi Tubuh Kristus sudah merupakan kepenuhan Kristus

Jadi alasan yang diberikan oleh Romo pada Anna waktu itu bahwa anggur itu mahal, atau pencelupan hosti membuat keruh piala anggur dst, merupakan alasan kepraktisan saja. Alasan utamanya sebenarnya adalah: Pemberian Komuni dalam bentuk hosti saja sudah cukup, karena hosti yang sudah diubah menjadi Tubuh Kristus sudah merupakan kepenuhan Kristus: tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya sudah terkandung di dalam Hosti kudus itu. Hal ini dinyatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik, 1413.

Di Amerika, pada Misa hari Minggu umumnya diberikan komuni dalam dua rupa, roti dan anggur; dalam misa harian hanya dalam roti saja. Hal ini tentu tidak menjadi masalah jika kita memahami makna pemberian komuni dalam rupa roti dan anggur seperti yang diuraikan di atas.

Demikian penjelasan dari saya semoga Anna dapat semakin memahami makna Perjamuan Kudus atau Ekaristi menurut ajaran Gereja Katolik. Tuhan memberkati.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja

23

Pertanyaan:

Saya dari keluarga Katolik, maka saya mau berbagi dulu hal2 dari sudut pandang saya sebagai seorang Katolik yang sudah tidak ke Gereja Katolik lagi, yang dikarenakan saya juga banyak pertanyaan2 yang tidak terjawab ketika saya masih rajin Misa di Gereja Katolik. Dan saya mencari jawabannya di dalam Alkitab (satu-satunya sumber dari segala KEBENARAN FIRMAN. karena, kalau saya mencari jawaban ke manusia, semuanya akan menjawab dengan jawaban2 yang berbeda2).
Salam – Anna.

Jawaban:

Shalom Anna,

Kita sekarang melihat point B, dimana dikatakan bahwa waktu dulu Anna beragama katolik, Anna tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Anna. Saya tidak tahu pertanyaan-pertanyaan apa yang dulu diajukan oleh Anna, sehingga Anna melihat bahwa Katolik tidak mempunyai jawaban sehingga akhirnya Anna memutuskan untuk pindah agama. Saya sungguh bersyukur bahwa Anna mencari jawabannya di dalam Kitab Suci, karena memang Kitab Suci adalah Firman Allah yang hidup. Dan menjadi tantangan bagi umat Katolik untuk juga belajar dari umat Kristen dalam hal kerinduan untuk mengenal dan mengasihi Allah lewat Alkitab.

Namun, ada beberapa berbedaan antara Katolik dan non-Katolik dalam melihat Alkitab.

I. Alkitab tidak dapat menafsirkan sendiri:

  1. Pernyataan saya di atas sama sekali bukan untuk memandang rendah Alkitab, namun justru untuk menjaga agar kita dapat menghargai Alkitab sebagai sumber kepercayaan iman Kristen. Pernyataan Gereja Katolik tentang Alkitab sebagai sumber dari pengajaran dan doktrin dari Gereja Katolik dinyatakan secara jelas dalam beberapa ensiklik, seperti: Divino Afflante Spiritu, Providentissimus Deus, dan juga dalam salah satu dokumen Vatican II, yaitu: Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis Tentang Wahyu Ilahi. Kalau kita melihat dari dokumen-dokumen tersebut maka sungguh sangat jelas bahwa Gereja Katolik sungguh menempatkan Alkitab sebagai salah satu pilar kebenaran.
  2. Seperti yang saya bahas di point A, maka kita melihat bahwa Rasul Petrus mengingatkan akan jemaat Kristen bahwa ada
    perkataan-perkataan dari Rasul Paulus yang sulit dimengerti dan dapat dibelokkan oleh orang-orang (lih. 2 Pet 3:15-17; 2 Pet 1:20-21). Kalau kita melihat ada banyak hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian akan penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, Yesus adalah Tuhan. Contoh-contoh yang lain, misalkan: bagaimana kita tahu bahwa Yesus mempunyai dua keinginan dan bukan satu? Apakah original sin atau dosa asal benar-benar merusak manusia secara total atau tidak? Konsep tentang predestination: apakah double predestination ataukah predestination?, berapa sakramen yang Yesus berikan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang membutuhkan permenungan dan analisa yang mendalam.

II. Gereja ada terlebih dahulu sebelum Alkitab terbentuk.

  1. Pernahkan kita merenungkan bahwa sebetulnya Gereja ada terlebih dahulu sebelum terbentuknya Alkitab seperti yang kita kenal saat ini? Setelah Pentekosta, jemaat perdana hanya mempunyai Perjanjian Lama, namun Perjanjian Baru belum ada. Ingrid pernah menjabarkannya di salah satu jawabannya tentang asal mula terbentuknya Alkitab, sebagai berikut:  Konsili Roma (382)
    Konsili Hippo (393), Konsili Carthage (397, 419 AD) pada jaman kepemimpinan Paus Siricius (397) dan Paus Boniface (418) menghasilkan 138 kanon dan salah satunya yaitu kanon 24 menetapkan Kitab Kanonik yang merupakan Kitab Suci yang kita kenal di dalam Gereja Katolik, yaitu Kitab Perjanjian Lama termasuk Kitab Deuterokanonika, dan Perjanjian Baru. Pada saat jemaat awal terdapat banyak kitab yang tersebar yang tidak sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, seperti contohnya Injil Thomas, dst, sehingga Gereja mengambil keputusan untuk menetapkan kitab-kitab yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus dan dapat dipakai sebagai acuan. Tentu untuk menentukan hal ini para pemimpin Gereja tersebut berdoa dan berada dalam bimbingan Roh Kudus. Hasilnya memang dapat kita lihat, sebagai Kitab Suci kanonik yang berisikan ajaran yang ’solid’ dan tidak bertentangan satu sama lain. Kitab Kanonik ini tidak sama dengan Injil. Injil yang ditetapkan hanya ada empat, yaitu Matius (yang ditulis sebelum 50 AD), Lukas dan Markus (keduanya sebelum 68 AD, Lukas sebelum 62 AD), dan Yohanes (90 AD).
    Konsili Carthage umum dikenal sebagai ‘The Code of Canons of the African Church‘, yang merupakan penggabungan dari kanon yang pernah dibuat dalam 16 konsili di Carthage, Milevis dan Hippo. Koleksi Code ini merupakan yang terbesar kedua setelah Code Gereja Universal. Pada waktu itu, adalah umum bahwa Gereja Universal menerima dan menerapkan hasil penetapan dari konsili particular Church karena mereka toh masih termasuk satu kesatuan dengan universal Church, yang kita kenal sebagai Gereja Katolik. Jadi pada konsili Gereja Katolik di Chalcedon (451), hasil konsili Carthage ini dimasukkan ke dalam kanon, baik dalam Gereja Timur maupun Barat yang berpusat di Roma. Sejak saat itu semua gereja memakai Kitab Suci seperti yang telah ditetapkan Konsili ini. Untuk selengkapnya silakan baca di http://www.newadvent.org/fathers/3816.htm
  2. Jadi, kalau hanya Alkitab saja sebagai pegangan satu-satunya, bagaimana para rasul dan para murid dapat menyebarkan kebenaran Kristus sebelum terbentuknya Alkitab, dari periode antara Pentekosta sampai tahun 382 AD (tahun terbentuknya kanon Kitab Suci)? Bagaimana jemaat perdana memilih buku-buku mana yang harus dimasukkan dalam Alkitab sebagai wahyu Ilahi? Nah, point II.1 menjelaskan bahwa Gerejalah yang menetapkan buku-buku mana yang termasuk di dalam kanon Alkitab. Jadi sini kita dapat melihat bahwa: Gereja Katolik yang melahirkan Alkitab, bukan Alkitab yang melahirkan Gereja. Karena Alkitab dilahirkan oleh Gereja, Gereja pulalah, melalui Magisterium Suci, yang dilindungi oleh Roh Kudus dan janji Kristus, mempunyai otoritas untuk menafsirkannya, sehingga kebenaran Alkitab tidak disalahartikan. Itulah sebabnya 1 Tim 3:15 mengatakan bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja.

III. Hanya Alkitab sebagai satu-satunya pilar kebenaran menyebabkan perpecahan gereja.

  1. Dan sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther dan John Calvin mempunyai banyak perbedaan dalam hal Ekaristi Kudus, Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari dua orang pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab?
  2. Kalau memang “hanya Alkitab” dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, yang dapat dilihat dari dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio). Mungkin Anna tidak setuju akan seluruh pernyataan di dalam dekrit ini, namun ini adalah suatu bukti bahwa Gereja Katolik juga mempunyai kerinduan yang sama dengan gereja Kristen yang lain untuk melihat seluruh umat Allah berkumpul menjadi satu, dan dengan demikian memenuhi pesan Yesus. Keinginannya sama, yang menjadi perbedaaan kita adalah caranya.

IV. Tiga Pilar Kebenaran: Sacred Scripture (Alkitab), Sacred Tradition (Tradisi Suci), dan Sacred Magisterium (Wewenang Mengajar Gereja).

Berikut ini saya sertakan bagian dari artikel yang dibuat oleh Ingrid dalam artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan Bagian ke-3.

  1. Tradisi Suci (KGK 75-83)
    Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.[5] Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8). Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).
    Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat,
    ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.
  2. Kitab Suci (KGK 101-141) Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.”[6] Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.[7]Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan merekadiperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kitaakan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itusendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab adakemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya KitabSuci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti daripengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kitateliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci.Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.
  3. Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja (KGK 85-87, 888-892)
    Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.”[8] Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Paus dan para uskup pembantunya menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah. Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut. Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).Kesimpulan: Gereja sebagai Tonggak Kebenaran terdiri dari tiga unsur, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan MagisteriumUntuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Di dalam Gereja, wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Karena Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama.[9] Jika kita membaca Kitab Suci, terutama di dalam hal iman dan moral, kita harus menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan Kristus” (Fil

    3:8). St. Jerome mengatakan, bahwa jika kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita juga tidak mengenal Kristus.[10] Ini adalah suatu tantangan buat kita semua yang mengatakan bahwa kita mengenal dan mengasihi Yesus.

    Jadi, sebagai Tonggak Kebenaran, Gereja memiliki tiga unsur, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiganya merupakan pemenuhan janji Allah yang selalu mendampingi GerejaNya sampai kepada ’seluruh kebenaran’ (Yoh 16:12-13), yang senantiasa bertahan sampai akhir jaman. Mari kita bersyukur untuk pemenuhan janji Tuhan ini.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab point B. Mari kita bersama-sama mengasihi Kristus dengan mengasihi Sabda-Nya. Bagi umat Katolik, untuk mengasihi Sabda-Nya, dimanifestasikan dalam bentuk tertulis (Kitab Suci), maupun secara lisan (Tradisi Suci), dan mengartikannya sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef & ingrid – www.katolisitas.org

Pencarian kebenaran, toleransi dan kesatuan Gereja

11

Pertanyaan

Saya percaya kita semua sangat mengasihi dan dikasihi Tuhan. Namun,marilah kita dengan hati nurani yang jujur dan tulus dalam menanggapi setiap perbedaan yang ada. berhentilah untuk saling menyalahkan atau membenarkan salah satu denominasi yang ada. Harusnya kita semua bersatu, tanpa membeda-bedakan kita dari denominasi/agama/aliran apapun. Bukankah Paulus juga sudah mengingatkan kita untuk tidak membeda-bedakan?

[1 KORINTUS 1:10-13 Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloë tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu.Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.Adakah kristus terbagi-bagi?Adakah Paulus disalibkan karena kamu?atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?.]

[FILIPI 2:1-5 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus]

Apakah nanti kalau mau masuk surga, akan ditanya “Kamu dari Gereja mana? dari golongan apa? imannya “Iman Katolik” atau “Iman Protestan” ? Bukankah kita semua beriman hanya kepada Yesus ? Iman kepada Yesus-lah yang menyelamatkan, bukan iman kepada agama tertentu!! Kalau kita masih terus saja “mengotak2kan” diri, dan terus merasa bahwa agama kita yang paling benar, tidak akan ada habisnya. Katolik merasa paling benar, Protestan merasa diri paling benar…. kapan selesainya? Yang bukan agama Kristen /Katolik bisa tertawa melihat kita semua.

Marilah kita sama-sama introspeksi diri kita masing2….
Masing-masing (Katolik & Protestan) ada kekurangan dan kelebihan,ada kelemahan dan kekuatan.

Salam – Anna.

Jawaban:

Shalom Anna,
Terimakasih telah berkunjung ke katolisitas.org. Kami juga berterimakasih kepada Anna yang telah meluangkan waktu untuk menulis pesan yang panjang sekali, karena didorong oleh kasih Anna kepada Yesus. Saya mencoba membagi menjadi 10 point dari tulisan Anna, sehingga kita dapat berdiskusi dengan lebih fokus. Ini adalah jawaban untuk point A. Mari kita bersama-sama berdialog dengan hormat dan penuh kasih, sehingga kita dapat mengikuti apa yang dikatakan oleh Rasul Petrus (1 Pet 3:15).

Seperti yang Anna katakan, bahwa mari kita bersama-sama untuk mencari kebenaran dengan hati nurani yang jujur. Mari kita melihatnya satu-persatu:

I. Pencarian akan kebenaran:

  1. Dalam pencarian akan kebenaran, maka kita harus lepas dari semua kepentingan pribadi, perasaan, dan hal-hal yang bersifat personal/pribadi, karena kebenaran akan terus bertahan terlepas dari bagaimana perasaan pribadi kita, bagaimana keadaan kita. Pencarian akan kebenaran yang dilakukan dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatan kita akan membawa kita semua kepada kebenaran sendiri, yaitu Tuhan. Dan Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia akan membiarkan diri-Nya ditemukan oleh orang yang benar-benar mencari-Nya (Lih. Yer 29:13-14). Kita dapat melihat orang-orang seperti Scott Hahn, yang benar-benar mengorbankan segalanya untuk mencari kebenaran, yang akhirnya menemukannya di Gereja katolik. Kalau Anna ada waktu, dapat membaca bukunya yang sudah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, judulnya “Rome Sweet Home”.
  2. Jadi bagi orang yang mencari-Nya dengan sepenuh hati, sebagai contoh Aristoteles, seorang filsuf Yunani – pengikut Plato, dimana dengan menggunakan logika berfikir dan “natural law” atau hukum kodrat, dia dapat menyimpulkan akan keberadaan Tuhan yang satu (Pembuktian dapat dilihat dari tulisan: Kebenaran akan Tuhan). Namun dia tidak dapat sampai kepada kebenaran yang hakiki, yaitu Yesus, Tuhan yang menjadi manusia. Kenapa? Karena diperlukan wahyu Tuhan untuk mengetahui bahwa Yesus adalah Tuhan (dapat dibaca di artikel: kebenaran akan Yesus adalah Tuhan). Anna dan saya percaya akan dua kebenaran yang hakiki ini, walaupun ada beberapa pengikut gereja saksi Yehowah tidak mempercayainya.

II. Kepenuhan kebenaran ada di Gereja Katolik

  1. Setelah dua kebenaran hakiki tersebut, maka pertanyaan-Nya adalah bagaimana kita mengikuti Yesus? Bagaimana kita menentukan Gereja mana yang didirikan oleh Yesus? Apakah Yesus mendirikan Gereja atau banyak gereja? pertanyaan ini begitu esensial dalam mencari kebenaran, karena kalau Yesus mendirikan satu Gereja, dan kita tidak mengikuti perintah-Nya, maka kita tidak mencari kebenaran diatas perasaan kita pribadi. Menjadi pengikut sebuah gereja tanpa melihat dan menganalisanya dengan benar-benar adalah dapat dikatakan salah. Kenapa? Bandingkan dengan orang yang memilih suatu pekerjaan. Tentu saja orang ingin mencari yang terbaik, melihat sejarah dari perusahaan tersebut, dll. Nah, Gereja Katolik percaya bahwa Yesus mendirikan Satu Gereja, yang buktinya dapat dibaca di artikel: Mengapa memilih Gereja Katolik. Hanya Gereja Katolik yang mempunyai empat tanda Gereja Kristus, yaitu: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Kalau seseorang benar-benar telah menyelidiki dan mencari dengan benar-benar (seluruh hati, pikiran, dan kekuatan) sesuai dengan kapasitas masing-masing dan menempatkan kebenaran di atas perasaan pribadi, maka mungkin saja seseorang tetap memeluk agama Kristen yang lain bukan Katolik. Pertanyaannya adalah, apakah orang tersebut benar-benar mencari kebenaran dengan segenap hati. Dan hanya Yesus yang tahu kedalaman dan maksud hati seseorang. Juga ini adalah tantangan bagi orang Katolik, yang mungkin memeluk agama Katolik tanpa tahu iman Katolik dengan benar dan tidak dengan sungguh-sungguh mencari alasan dibalik semua pengajaran dan doktrin Katolik. Jadi, baik umat Katolik maupun umat Kristen yang lain harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Yesus pada Penghakiman Terakhir. Menjadi harapan kita semua bahwa kita dapat mengatakan kepada Yesus: “Yesus, aku telah mencari dan mengasihi Engkau dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatanku. Dan dengan segala kekuatanku, aku mencoba untuk menjalankan semua perintah-Mu.”
  2. Keyakinan akan kebenaran bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik, karena Yesus sendiri yang mendirikan-Nya, tidak membuat umat Katolik menjadi sombong. Ini malah menjadi tantangan bagi umat Katolik untuk berusaha hidup kudus, yaitu dengan mengasihi Tuhan dan sesama. Di dalam dokumen Gereja (Lumen Gentium 14) ditegaskan bagi orang Katolik yang menjadi anggota Gereja namun tidak menerapkan hukum kasih, maka dia hanya menjadi anggota secara jasmani namun tidak secara rohani. Dan orang seperti ini mengambil resiko untuk kehilangan keselamatan.
  3. Namun di satu sisi, kita tidak dapat juga mengatakan bahwa semua agama sama saja, atau semua agama Kristen sama saja. Hal ini bukan karena umat Katolik tidak toleran, namun lebih dikarenakan bahwa Gereja Katolik mendasarkan kepercayaannya pada kebenaran yang dinyatakan di dalam Alkitab (Mat 16:18; Yoh 21:17) dan juga di dalam Tradisi suci Gereja, yang terbukti di dalam sejarah gereja, melalui tulisan Para Bapa Gereja. Kalau Anna mempunyai waktu mungkin dapat membaca artikel mengapa memilih Gereja Katolik. Sebetulnya kita sering salah dengan menerapkan kata toleransi, yang konotasinya adalah dapat mengaburkan kebenaran. Terhadap kebenaran kita tidak dapat memberikan toleransi, namun penerapannya harus dengan hukum kasih, seperti yang Yesus ajarkan. Kalau atas nama toleran, terus kita mengaburkan kebenaran, sebenarnya tindakan itu malah bukan tindakan kasih.

III. Saling belajar dan menghormati tidak berarti mengaburkan kebenaran.

  1. Tentu saja ada banyak hal yang dapat dipelajari dan ditiru dari gereja-gereja non-Katolik, seperti kerinduan mereka untuk mewartakan Kristus, dan bagaimana mereka bertekun di dalam Firman Tuhan. Namun kebenaran bahwa Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus tidaklah berubah. Bahwa ada umat Katolik yang suam-suam kuku, ini adalah tantangan bagi para pastor dan umat Katolik yang lain untuk membantu mereka. Saya yakin bahwa di gereja-gereja yang lain juga ada anggotanya yang suam-suam kuku. Dan menjadi tugas Anna juga untuk membantu mereka untuk lebih mengasihi Yesus.
  2. Dan gereja-gereja yang lain juga dapat belajar dari Gereja Katolik dengan empat tanda-Nya, yaitu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Menjadi tantangan juga bagi gereja-gereja lain, apakah mereka mempunyai empat tanda ini, karena gereja-gereja terpecah-pecah, sehingga ada sekitar 28,000 denominasi.

IV. Gereja Katolik rindu akan kesatuan pengikut Kristus

  1. Gereja Katolik melihat gereja-gereja non Katolik sebagai saudara dalam Kristus, namun tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik (Lumen Gentium 15). Namun, kalau Anna perhatikan, kalau seseorang pindah dari gereja Kristen ke Gereja Katolik, maka Gereja Katolik tidak mengulangi pembaptisan jika dilakukan di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus; karena Geraja Katolik mengikuti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus di Efesus 4:5, yang mengatakan “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.” Di sini, saya hanya mau menunjukkan bahwa Gereja Katolik menjalankan apa yang diperintahkan oleh Kristus berdasarkan Firman Allah dan secara tidak langsung menunjukkan bahwa ini adalah suatu sikap yang terbuka dari Gereja Katolik untuk mengakui pembaptisan yang dilakukan oleh gereja lain, asal sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus (lih. Mat 28:19). Karena memang, hubungan antara Gereja Katolik dan gereja-gereja non Katolik adalah diikat oleh Sakramen Baptis yang satu. Namun sebaliknya, ada beberapa gereja tidak mengakui pembaptisan yang dilakukan oleh Gereja Katolik, dengan alasan bahwa Baptisan yang dilakukan oleh Gereja Katolik tidak sah, sehingga perlu dibaptis ulang.
  2. Terimakasih juga bahwa Anna telah mengingatkan kita semua untuk senantiasa bersatu dalam ‘satu kawanan domba’ Kristus. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus akan beberapa masalah yang mereka hadapi, seperti: 1) fraction/perpecahan, 2) spiritual pride/ kesombongan rohani, 3) hidup yang bergelimang dosa, karena kota tersebut adalah kota pelabuhan. Jadi di dalam 1 Kor 1:10-13, Rasul Paulus mengingatkan untuk tidak tercerai berai, karena pengajaran dari Apolos, Paulus, Kefas, yang semuanya mempunyai dasar pondasi yang sama, yaitu Kristus. Namun pada saat yang bersamaan, Rasul Paulus juga mengingatkan kepada jemaat di Galatia untuk tidak menerima Injil selain daripada pesan Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus (lih. Gal 1:8). Ini berarti ada orang yang mencoba memberitakan Injil yang tidak sesuai dengan pesan Injil yang diberitakan oleh Paulus. Nah kalau kita lihat dalam sejarah Gereja, maka Gereja Katolik secara setia mencoba untuk terus meneruskan kemurnian ajaran Kristus dengan cara menentang orang-orang yang mengajarkan doktrin-doktrin yang berbeda.
  3. Ini membawa kita kepada sejarah perkembangan Gereja. Apakah di dalam sejarah Gereja ada kesalahan yang dilakukan oleh Gereja Katolik? Tentu saja ada, namun kesalahan ini bukan merupakan kesalahan doktrin/ pengajarannya melainkan karena faktor manusia; dan ini tidak mengaburkan kebenaran bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus. Gereja Katolik berjuang terus untuk memelihara kesatuan Gereja sesuai dengan amanat Yesus, sebelum Yesus mengalami penderitaan (Lih Yoh 17). Dalam artikel di atas (Mengapa memilih Gereja Katolik), saya mencoba memaparkan bahwa perpecahan telah terjadi pada jemaat awal dari: Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Ini terus berkembang dengan perpecahan gereja: Gereja Timur Orthodox (1054),Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII,Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin,Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley,Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams, Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork, Presbyterian di Skotlandia (1560), Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith, Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell,Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon, dll.
  4. Perpecahan-perpecahan gereja-gereja kalau ditelusuri akan adalah karena menginterpretasikan ayat-ayat Kitab Suci, tanpa ada otoritas yang menentukan bagaimana sebenarnya arti dari ayat-ayat tersebut. Kita mengingat akan apa yang dikatakan oleh Rasul Petrus yang mengingatkan akan jemaat Kristen bahwa ada perkataan-perkataan dari Rasul Paulus yang sulit dimengerti dan dapat dibelokkan oleh orang-orang (lih. 2 Pet 3:15-17; 2 Pet 1:20-21). Menjadi bahan permenungan bagi kita semua, mengapa hanya berdasarkan Alkitab saja dapat membawa perpecahan? Saya akan membahasanya secara lebih detail di point B. Apakah Gereja Katolik tidak bersalah terhadap perpecahan-perpecahan tersebut? Tentu saja ada kesalahan yang dilakukan pihak Gereja, yang pada abad-abad tertentu kurang dapat memantulkan kasih Allah. Namun hal ini tidak mengaburkan akan kebenaran bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus sendiri, dimana Kristus berjanji untuk melindungi Gereja-Nya. Tanpa Kristus, seharusnya Gereja Katolik telah punah ditengah-tengah penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja. Namun Yesus setia terhadap janji-Nya, dan terbukti sampai saat ini, Gereja Katolik tetap satu, kudus, katolik, dan apostolik, dengan pengikutnya 1.13 milyard lebih. Ini dimungkinkan hanya karena perlindungan Tuhan dan kesatuan di bawah kepemimpinan Bapa Paus.

V. Penghakiman Terakhir

  1. Memang pada saat penghakiman terakhir, kita tidak ditanya kamu agamanya apa. Namun yang ditanyakan adalah sampai seberapa jauh seseorang mengasihi Kristus dan sesama, atau yang menjadi tolak ukur adalah kekudusan seseorang.
  2. Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future), dengan dasar ini:
    • Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).
    • Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).
    • Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).
  3. Keselamatan adalah suatu berkat dan Rahmat Tuhan semata, bukan karena perbuatan kita, namun pada saat yang bersamaan Tuhan menuntut kerjasama dari umat-Nya untuk senantiasa bekerjasama dengan rahmat Tuhan. Hal ini membuat umat Katolik senantiasa berjuang dalam kekudusan, yang diwujudkan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Dan ini adalah perjuangan seumur hidup.
  4. Dan yang paling penting adalah Gereja Katolik percaya bahwa kita tidak dapat menjadi kudus, karena usaha kita sendiri, namun yang paling utama adalah dari berkat Tuhan, yang mengalir dari doa-doa dan juga sakramen-sakramen, terutama adalah Sakramen Ekaristi (artikel dapat dibaca di: 1, 2, 3) dan Sakramen Tobat (artikel dapat dibaca di: 1, 2, 3, 4). Jadi dengan seseorang menjadi Katolik, orang tersebut dikuatkan dan dimampukan untuk hidup kudus (Lihat Artikel Kekudusan: kekudusan adalah kehendak Tuhan untuk semua orang.; Apa itu Kekudusan?; Refleksi praktis tentang Kekudusan) yang nantinya akan menjadi tolak ukur apakah orang tersebut masuk Surga, disucikan di Api Penyucian, atau di hukum di neraka.
  5. Hal yang lain adalah takaran dari kasih kita kepada Allah adalah kalau kita menjalankan semua perintah-Nya (lih 1 Yoh 5:2; Mat 28:20). Ini berarti kita tidak dapat memilih-milih perintah yang mana, namun seluruh perintah-Nya. Dan perintah-perintah-Nya termasuk adalah untuk bersatu dalam kesatuan tubuh mistik Kristus, yaitu Gereja Katolik, dan juga sakramen-sakramen. Mungkin Anna masih belum setuju sampai tahap ini, namun kita masing-masing diberikan tugas untuk mencari kebenaran ini dengan sungguh-sungguh. Tantangan bagi saya adalah untuk semakin mendalami ajaran Gereja Katolik dan pengajaran-Nya, dan juga tantangan bagi Anna untuk mencari Gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus: satu gereja atau banyak gereja? Ini adalah PR bagi kita berdua, dan juga bagi seluruh umat yang mengasihi Kristus. Bagi saya pribadi, saya tidak dapat mengasihi Kristus, sebagai kepala Gereja, kalau saya tidak mengasihi Tubuh-Nya, yang saya percayai ada di dalam Gereja katolik.

Demikian jawaban yang dapat saya kemukakan untuk pertanyaan Anna Point A. Nanti saya akan menjawab point-point yang lain. Semoga Tuhan memberikan rahmat-Nya kepada kita semua, agar kita menemukan kebenaran yang sejati.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Deuterokanonika, kitab kanonik, dan terjemahan Alkitab

11

Pertanyaan:

Shalom Pak Tay,

Saya ingin bertanya lewat rubrik ini tentang sejarah Alkitab kita:
(1) Apakah benar bahwa Injil deuterokanonika seperti Yudas Makabe ditulis pada sekitar tahun 500 sehingga Kristen Reformasi tidak mengakuinya sebagai bagian dari Injil karena Kristen Reformasi hanya mengakui kitab-kitab yang ditulis sekitar 100 tahun sesudah penyaliban Yesus? Ataukah karena Injil Deuterokanonika ditulis dalam Bahasa Yunani sementara Kristen Reformasi hanya mengakui Injil yang ditulis dalam Bahasa Ibrani?
(2) Mohon penjelasan lebih lanjut tentang penetapan Kitab Kanonik sebagai bentuk Injil yang sekarang? Kapan Kitab Kanonik itu ditetapkan sebagai Injil dan apakah benar penetapannya dilakukan lewat Konsili Carthago? Siapa saja yang menetapkannya? Jika yang menetapkannya para uskup gereja Katolik, bukankah denominasi mana pun harus mengakui bahwa ajaran tertulis maupun lisan (yang disampaikan oleh Uskup lewat gereja) sama-sama mengandung kebenaran?
Sebelumnya terima kasih atas jawabannya.
(3) Saya adalah mantan penerjemah yang pernah belajar teori penerjemahan. Saya tahu bahwa dalam penerjemahan sering dihasilkan terjemahan yang pesannya tidak selalu tepat sama seperti pesan dalam tulisan aslinya apalagi jika bahasa sasarannya memiliki akar yang berbeda dengan bahasa aslinya. Karena itu, dalam dunia penerjemahan dikenal ungkapan “tradutore traditore (penerjemah itu pembohong)”. Bagaimana para penerjemah Kitab Suci dapat menghindari terjemahan yang kurang tepat sehingga (maaf) dapat menyesatkan penafsiran pembacanya?

Tuhan memberkati. – Andryhart

Jawaban:

Shalom Andry,
Terima kasih untuk pertanyaan yang sangat bagus. Saya mencoba untuk menjawabnya:

  1. Menurut sejarah, Kitab Yudas Makabe mulai ditulis setelah kematian Simon Makabe (saudara kandung Yudas Makabe) pada tahun 134 BC, atau setelah kematian pengganti Simon Makabe, yaitu Yohanes Hyrkanus pada tahun 104 BC. Hal ini didasari bahwa kitab Makabe menceriterakan hal-hal yang baik tentang bangsa Romawi (lihat 1 Mak 8:1-32 yang membicarakan persahabatan Yudas Makabe dengan orang-orang Roma), sehingga diperkirakan kitab Makabe selesai ditulis sebelum tahun 63 BC, yaitu sebelum Pompey the Great, seorang pemimpin militer Romawi menimbulkan kemarahan bangsa Yahudi karena ia  menaklukkan Yerusalem dengan mengobrak-abrik Bait Allah dan memasuki ruangan Maha Kudus yang sesungguhnya hanya dapat dimasuki oleh imam agung. Dengan demikian, kitab Makabe diperkirakan selesai di pertengahan abad ke-2 sebelum Masehi, mengingat bahwa Kitab ini sudah termasuk dalam Septuaginta (terjemahan kitab-kitab PL dalam bahasa Yunani) yang disusun antara abad 3 sampai 2 sebelum Masehi. Para ahli sejarah memandang tidak masuk akal jika kitab ini ditulis sesudahnya, karena jika demikian, bangsa Roma pasti akan digambarkan sebagai musuh bangsa Yahudi dan bukannya sahabat, seperti yang tertulis dalam 1 Mak 8:1-16.
    Kitab Makabe ditulis dalam bahasa asli Ibrani, dan teks Ibrani kitab ini masih dikenal oleh Origen (abad 2) dan St. Jerome (abad 4), namun hanya terjemahan Yunani-nya saja yang “survive”. Hal ini tidak mengherankan, karena di abad-abad pertama terjadi banyak pergolakan yang menekan bangsa Yahudi, sehingga mereka terpencar ke negara tetangga dan seluruh dunia. Oleh karena itu, kitab suci mereka juga kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing tempat di mana orang-orang Yahudi bermukim.
    Jika kita melihat data dari sejarawan ternama berkebangsaan Yahudi, Josephus (AD 37–100) yang dikenal juga sebagai Yosef Ben Matityahu, kita mengetahui bahwa kitab Makabe merupakan bagian yang cukup penting dalam sejarah perkembangan kaum Yahudi di abad pertama. Ensiklopedia Wikipedia menuliskan Kitab Makabe selesai ditulis sekitar tahun 100 sebelum Masehi. Dari sini kita mengetahui kebenaran sejarah yang objektif, sebab yang menuliskan hal itu bukanlah pihak Gereja Katolik sendiri, sehingga kita tahu tidak mungkin merupakan hasil rekayasa. Jadi tidak benar jika Kitab Makabe baru selesai ditulis tahun 500 sesudah kelahiran Yesus, seperti yang merupakan anggapan kaum Reformasi.
  2. Konsili Carthage (397, 419 AD) pada jaman kepemimpinan Paus Siricius (397) dan Paus Boniface (418) menghasilkan 138 kanon dan salah satunya yaitu kanon 24 menetapkan Kitab Kanonik yang merupakan Kitab Suci yang kita kenal di dalam Gereja Katolik, yaitu Kitab Perjanjian Lama termasuk Kitab Deuterokanonika dan Perjanjian Baru. Pada saat jemaat awal terdapat banyak kitab yang tersebar yang tidak sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, seperti contohnya Injil Thomas, dst, sehingga Gereja mengambil keputusan untuk menetapkan kitab-kitab yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus dan dapat dipakai sebagai acuan. Tentu untuk menentukan hal ini para pemimpin Gereja tersebut berdoa dan berada dalam bimbingan Roh Kudus. Hasilnya memang dapat kita lihat, sebagai Kitab Suci kanonik yang berisikan ajaran yang ’solid’ dan tidak bertentangan satu sama lain. Kitab Kanonik ini tidak sama dengan Injil. Injil yang ditetapkan hanya ada empat, yaitu Matius (yang ditulis sebelum 50 AD), Lukas dan Markus (keduanya sebelum 68 AD, Lukas sebelum 62 AD), dan Yohanes (90 AD).
    Konsili Carthage umum dikenal sebagai ‘The Code of Canons of the African Church‘, yang merupakan penggabungan dari kanon yang pernah dibuat dalam 16 konsili di Carthage, Milevis dan Hippo. Koleksi Code ini merupakan yang terbesar kedua setelah Code Gereja Universal. Pada waktu itu, adalah umum bahwa Gereja Universal menerima dan menerapkan hasil penetapan dari konsili particular Church karena mereka toh masih termasuk satu kesatuan dengan universal Church, yang kita kenal sebagai Gereja Katolik. Jadi pada konsili Gereja Katolik di Chalcedon (451), hasil konsili Carthage ini dimasukkan ke dalam kanon, baik dalam Gereja Timur maupun Barat yang berpusat di Roma. Sejak saat itu semua gereja memakai Kitab Suci seperti yang telah ditetapkan Konsili ini. Untuk selengkapnya silakan baca di http://www.newadvent.org/fathers/3816.htm
  3. Mengenai terjemahan Kitab Suci, Kitab Hukun Kanonik Gereja Katolik 1983 menetapkan:
    Kan. 825 – § 1. Buku-buku Kitab Suci hanya boleh diterbitkan dengan aprobasi Takhta Apostolik atau Konferensi para Uskup; demikian pula untuk dapat diterbitkan terjemahan-terjemahannya dalam bahasa setempat dituntut agar mendapat aprobasi dari otoritas yang sama dan sekaligus dilengkapi dengan keterangan-keterangan yang perlu dan mencukupi.
    Dengan demikian, terjemahan tersebut diperiksa dahulu oleh pihak Magisterium Gereja Katolik, sehingga sedapat mungkin dihindari terjemahan yang ‘menyesatkan’ apalagi yang bertentangan dengan bahasa aslinya. Di sinilah peran Magisterium Gereja Katolik dalam mengusahakan penyampaian Wahyu Allah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan yang mereka terima dari para Rasul.

Semoga uraian di atas menjawab pertanyaan Andry. Semoga Tuhan memberkati.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab