Home Blog Page 319

Apakah orang yang tidak dibaptis masuk neraka?

5

Pertanyaan:

Hi.
Saya baptis Katolik sejak lahir dan skrg sedang studi di Australia. Di sini saya sering ke gereja Protestan dan ikut pelayanan gereja mereka, bahkan mereka sekarang sudah membujuk saya untuk dibaptis secara Protestan, tapi saya tetap bersikeras tetap menjadi Katolik.
Bacaan2 di website ini sangat meneguhkan iman Katolik saya. Tetapi ada beberapa pertanyaan yang masih menjadi kebingungan dlm hati saya:

-apakah orang yang tidak dibaptis pasti masuk neraka? jadi kita harus membujuk mereka untuk masuk katolik untuk dapat masuk surga?

-apakah Tuhan setuju dengan pembentukan gereja2 Kristen? tetapi knp Tuhan tetap membuat banyak tanda di gereja2 tersebut yang membuat orang2 percaya dan menjadi Kristen? apakah bagi Tuhan agama tidak penting asalkan bersumber pada Yesus?

Saya sudah research ke banyak websites dll tetapi tetap tidak puas dengan jawaban2nya. Orang Kristen berpandangan orang2 agama lain yang tidak mengenal Kristus harus diselamatkan. Apakah berdosa jika tidak merekrut orang agama lain untuk mengenal Kristus?

Thank you. – Maria

Jawaban:

Shalom Maria,

Terima kasih atas sharing dan pertanyaannya yang bagus. Syukur juga kepada Tuhan yang memberikan Maria kekuatan, sehingga Maria dapat bertahan di Gereja Katolik. Mari kita melihat beberapa pertanyaan Maria:
I. Apakah orang yang tidak dibaptis pasti masuk neraka?

Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis adalah mutlak untuk keselamatan, bahkan dikatakan bahwa Gereja tidak tahu ada cara lain selain Baptisan yang membuat orang dapat masuk ke kehidupan kekal di surga (Katekismus Gereja Katolik/KGK, 1257). Namun lebih lanjut dikatakan bahwa Tuhan telah mengikat keselamatan pada Sakramen Pembaptisan… Mari kita melihat beberapa aplikasi dari pernyataan tersebut:

  1. Bagi bangsa Yahudi sebelum kedatangan Kristus: Sebelum kedatangan Kristus, bangsa Yahudi dipilih Tuhan secara khusus dan menerima wahyu Tuhan, sehingga mereka beriman kepada Tuhan yang satu. Mereka mengetahui wahyu ini melalui perantaraan para nabi. Dan wahyu ini terus-menerus berlangsung sebagai persiapan akan kedatangan Sang Sabda, Yesus Kristus, ke dunia ini. Jadi keselamatan bangsa Yahudi sebelum kedatangan Kristus, terikat oleh Hukum Taurat, yang sebenarnya juga dapat disarikan sebagai mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:34-40). Hal ini disebabkan oleh 10 perintah Allah yang dapat dibagi menjadi dua: 1) Perintah 1-3: perintah untuk mengasihi Tuhan 2) 4-10, perintah untuk mengasihi sesama.
  2. Bagi bangsa-bangsa lain sebelum kedatangan Kristus dan juga orang-orang yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus: Dua kategori orang-orang ini terikat oleh hukum yang dituliskan oleh Tuhan sendiri di dalam hati mereka masing-masing, atau yang disebut “natural law” atau hukum kodrat. Bahkan menarik sekali, bahwa 10 perintah Allah, adalah juga termasuk hukum kodrat, sehingga dengan demikian mengikat manusia di kategori ini, dengan tidak memandang suku, bahasa, maupun kebudayaan, karena prinsip 10 Perintah Allah ini sebenarnya ada di dalam hati semua orang. Semua suku dan bangsa yang tidak mengenal Tuhan, melihat bahwa seorang anak yang tidak menghormati orangtuanya adalah berdosa, seorang yang membalas kebaikan dengan kejahatan adalah salah. hukum kodrat ini adalah sebagai akibat dari hakikat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah, yang mampu untuk menangkap konsep sesuatu yang “baik”, mampu untuk mencari kebenaran, mampu untuk menemukan Pencipta-Nya, mampu untuk bersosialisasi, dll. Dan hukum alam ini mengikat manusia, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di Rom 2:15 “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.“Bagaimana mereka dapat diselamatkan? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]Sebagai contoh dari “bukan karena kesalahan mereka sendiri” adalah orang-orang yang hidup sebelum Kristus, dan juga orang-orang yang tidak terjangkau oleh pemberitaan tentang Kristus. Namun kita juga dapat memasukkan disini adalah orang-orang dari agama lain, yang walaupun telah dijangkau oleh pemberitaan Kristus namun pemberitaan ini tidak memberikan “motive of credibility” yang baik terhadap kekristenan, sehingga orang dari agama lain, bukan karena kesalahannya, tidak dapat percaya akan pesan Kristus.
    Namun kami ingin menegaskan disini, bahwa kuncinya adalah apakah orang tersebut tidak mau menjadi Kristen karena “invincible ignorance” ataukah karena memang kepentingan pribadi, misalkan untuk mendapatkan pangkat, sekolah yang baik, dll. Di sini perlu dipertanyakan apakah orang tersebut benar-benar mencari kebenaran di atas segalanya. Maksudnya adalah apakah orang tersebut di dalam kapasitasnya benar-benar mencari kebenaran atau Tuhan dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan. Dan dalam hal ini hanya Tuhan yang tahu secara persis apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Untuk itulah, maka Gereja tidak akan pernah berkata bahwa seseorang pasti masuk neraka, namun Gereja dapat berkata orang tersebut mempunyai risiko kehilangan keselamatannya. Disinilah pentingnya bagi orang yang telah mengenal Kristus untuk hidup kudus, sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang tidak mengenal Kristus.
  3. Sekarang kita masuk ke kategori yang lain, yaitu: umat Kristen Non Katolik: Dokumen Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalkan memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup dengan kasih, dll. Bahkan gereja Katolik mengakui pembaptisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.
    Dalam hal ini, Gereja Katolik menyatakan suatu kondisi bahwa orang dapat kehilangan keselamatan. Namun Gereja tidak pernah tahu secara persis apakah masing-masing pribadi “benar-benar tahu” bahwa Gereja Katolik adalah Sakramen Keselamatan. Kalau seseorang tahu tapi tidak melakukannya, berarti orang tersebut menempatkan kepentingan pribadi di atas Tuhan sendiri, dan ini adalah berdosa. Jawaban apakah ada keselamatan di luar Gereja Katolik, dapat dilihat di sini (silakan klik). Jika Maria ingin mengetahui lebih lanjut tentang konsep keselamatan menurut Gereja Katolik, silakan klik di artikel ini: Sudahkah kita diselamatkan?
  4. Bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Dalam Lumen Gentium 14 ditegaskan akan pentingnya untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekkan kasih kepada Tuhan dan sesama. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmaniah, namun bukan secara spiritual, tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini disebabkan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).
    Karena kepenuhan kebenaran ada di Gereja Katolik, umat Katolik seharusnya dapat hidup lebih kudus, karena berkat-berkat yang mengalir dari Sakramen-sakramen, seperti: Ekaristi, Pengampunan Dosa.
  5. Jadi kesimpulannya, kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis air (secara sakramen) pasti masuk neraka, sebab ada kondisi-kondisi lain (yang telah disebutkan di atas) yang diperhitungkan. Namun, satu-satunya keselamatan hanya melalui Kristus dan melalui pembabtisan. Jadi bagi orang-orang seperti yang disebutkan di atas, yang dalam kondisi “bukan karena kesalahannya sendiri” tidak dapat mengenal Kristus dan Gereja-Nya, dan juga mereka berbuat kasih dan mengalami pertobatan, orang tersebut sebetulnya mengalami “baptism of desire” (lih KGK, 1258-1259). Dan bagi orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, mereka juga dapat diselamatkan karena mereka telah menerima “Baptisan darah” (KGK, 1258). Dengan penggabungan faktor-faktor tersebut di atas, maka kita juga dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis tidak dapat masuk surga atau dikatakan bahwa Gereja tidak mengenal cara lain selain pembaptisan untuk masuk surga (KGK, 1257). Dan bagi orang yang telah dibaptis namun tidak menjalankan kasih juga dapat kehilangan keselamatannya.
  6. Kalau begitu apakah kita harus membawa orang kepada Kristus? Tentu saja. Kristus adalah harta terbesar yang kita miliki. Adalah menjadi perbuatan kasih kalau kita membagikan harta terbesar ini kepada semua orang. Namun tentu saja kita harus melakukannya dengan bijasana dan penuh kasih.

II. Tuhan setuju dengan pembentukan-pembentukan puluhan ribu denominasi gereja Protestan yang terpecah-pecah?

  1. Jawabannya adalah tidak. Karena perpecahan gereja melawan pesan Yesus yang terakhir sebelum Yesus mengalami penderitaan di kayu salib. Setelah perjamuan terakhir, Yesus berdoa agar para murid-Nya bersatu, sehingga seluruh dunia tahu bahwa mereka semua adalah murid Kristus (lih. Yoh 17). Lihat juga jawaban yang pernah kami berikan di sini (silakan klik). Berapa banyak umat dari agama lain yang berkata “Lihat saja, yang sama-sama percaya Kristus, juga bertengkar dan mempunyai pengajaran yang berbeda-beda?” Dan ini menjadi salah satu batu sandungan untuk mengenal Kristus.
  2. Karunia karismata (gratiae gratis datae), yang disebutkan di 1 Kor 12:8-9, tidaklah membawa orang kepada kekudusan, namun diperlukan untuk pelayanan baik di dalam Gereja maupun dalam perkembangan Gereja. Namun Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus yang terjebak dengan kesombongan rohani, agar mereka lebih mengutamakan kasih. Itulah sebabnya Rasul Paulus, setelah memberikan pengajaran tentang karunia karismata, dia memberikan supremasi kasih di 1 Kor 13. Untuk lebih lengkapnya, silakan melihat link disini (silakan klik). Inilah sebabnya Yesus mengatakan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!“(Mat 7:21-23). Namun hal ini juga berlaku bagi umat Katolik juga, karena tanpa kekudusan kita tidak dapat masuk surga. Kekudusan adalah partisipasi dalam kehidupan Tuhan, yang terwujud dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Mukjijat yang bersifat fisik juga dapat ditemukan di Gereja Katolik, seperti Lourdes, dll. Namun yang paling penting adalah kesembuhan rohani. Kesembuhan fisik akan berakhir, karena setelah disembuhkan kita semua akan meninggal, namun kesembuhan rohani adalah kekal,  asalkan kita menjaga rahmat ini terus menerus sampai kita dipanggil Tuhan.
  3. Apakah bagi Tuhan agama tidak penting? Kalau dari konsep keselamatan yang kami uraikan di point I, maka agama memegang peranan yang penting. Kalau kita mempercayai bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus, maka kita harus masuk di dalamnya. Kenapa? Karena itulah yang dikehendaki oleh Kristus. Kristus tidak mendirikan gereja-gereja, namun satu Gereja, dalam satu kawanan domba di bawah Bapa Paus yang menjadi penerus Kristus (Mat 16:18), sehingga Gereja dapat menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim 3:15) dan persatuan umat Allah dapat tercapai. Selama kita tidak menyadari bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik, maka kita akan beranggapan gereja manapun sama saja, dan dengan demikian ke gereja manapun sama saja.

III. Apakah berdosa jika tidak merekrut orang dari agama lain untuk mengenal Kristus?

  1. Semua orang yang menjadi murid Kristus dan telah dibaptis, harus menjalankan amanat agung yang diberikan oleh Kristus sendiri,  “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.“(Mat 28:19-20).
  2. Lalu, apakah kita berdosa kalau tidak merekrut seseorang untuk mengenal Kristus? Kita tahu bahwa dosa adalah karena tidak melakukan perintah Allah dan menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya (St. Bonaventura). Jadi aplikasinya sehubungan dengan perintah di atas adalah kita harus melakukannya tahap demi tahap. Tahap pertama adalah menjadikan semua bangsa murid Kristus. Kalau kita tahu bahwa Kristus adalah harta terbesar kita, dan kita mengasihi sesama, maka kita harus membagikan-Nya kepada sesama. Namun kita tidak dapat membagi kalau kita mempunyai. Jadi sebelum step pertama tersebut, maka kita harus mendalami terlebih dahulu iman Katolik kita. Masalah dipermandikan atau tidak adalah keputusan orang yang bersangkutan. Tahap kedua: Setelah orang tersebut yakin akan iman ke-Kristenan, maka orang tersebut dapat memutuskan untuk dibaptis. Tahap ketiga: adalah tahap yang harus dijalankan oleh kita juga, sebagai umat beriman untuk menjalankan semua perintah Kristus, dengan terus berpegang akan janji Kristus, yaitu: Dia akan menyertai kita sampai akhir jaman.
  3. Jadi kita berdosa kalau kita menjadi batu sandungan bagi seseorang untuk mengenal Kristus. Sebagai contoh, kalau kita beragama Katolik namun perbuatan kita tidak mencerminkan kasih Kristus, sehingga orang yang mau mengenal Kristus menjadi tidak mau lagi. Kita juga berdosa kalau kita tidak secara aktif menggali iman Katolik kita, dan hanya percaya tanpa ada dasarnya, artinya kita tidak benar-benar mengasihi Kristus dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita. Dan karena kita tidak tahu iman keKatolikan kita, kita tidak dapat memberitakan kebenaran Kristus kepada orang lain. Yesus tahu kapasitas kita masing-masing. Yang dituntut adalah bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengasihi Allah. Jangan lupa, bahwa kita dapat juga menjadikan seseorang murid Kristus bukan dengan kata-kata namun juga dengan perbuatan kasih. Namun kita harus senantiasa bersiap-siap untuk mempertanggungjawabkan iman kita jika ada yang mempertanyakannya dengan hormat dan penuh kasih (1 Pet 3:15). Jadi pewartaan harus dilakukan dengan cara bijaksana dan penuh kasih. Namun pewartaan yang paling efektif adalah dengan hidup kudus, seperti yang kami sebutkan sebelumnya.

Demikian jawaban yang dapat kami berikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Maria. Kalau masih ada bagian yang mau ditanyakan, silakan untuk menanyakannya lagi. Kami turut berdoa, agar Maria juga dituntun oleh Bunda Maria, sehingga Maria dapat lebih mengasihi Yesus. Dan semoga kita tidak saja mengasihi Yesus, yang adalah Sang Kepala Gereja, namun juga mengasihi Tubuh-Nya, yang berada di Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus
stef – https://katolisitas.org

Pandangan Gereja Katolik terhadap agama lain?

20

Pertanyaan:

Saya sudah dikatakan teman evangelisasi Katolik saya sebagai domba yang tersesat, saya dikatakan “jajan’ ke gereja lain dsb.tapi saya tidak gentar. karena saya lebih memilih TAKUT AKAN TUHAN, daripada takut sama manusia.
Jadi sekarang, saya berpindah-pindah Gereja, untuk mencari Gereja yang sungguh2 melakukan perintah2 Allah, bukan yang hanya menjalankan aturan2 yang dibuat oleh manusia. Saya rindu melihat anak-anak Tuhan, kita semua baik Katolik maupun Protestan (denominasi apapun) untuk BERSATU sebagai umat pilihan Allah.

N/B. Saya tidak bermaksud untuk berdebat, tapi cuma ingin meluruskan saja. Marilah kita kembali ke kesederhanaan dan kebenaran Alkitab yang sesungguhnya.
Tuhan Memberkati. – Anna.

Jawaban:

Shalom Anna,

Berikut ini adalah jawaban dari saya untuk point terakhir, yaitu point J, tentang bagaimana sikap orang Katolik terhadap saudara-saudara non Katolik.

  1. Sikap Gereja Katolik dan juga setiap anggota Gereja terhadap orang lain adalah sama seperti sikap Kristus terhadap orang lain, yaitu kasih. Sikap kasih inilah yang dituntut dari setiap anggota Gereja, sehingga masing-masing dari kita akan menjadi saksi yang hidup. Tanpa kesaksian yang baik, maka semua kebenaran hanyalah menjadi teori belaka tanpa ada realitasnya. Setiap anggota Gereja dipanggil untuk menjadi kudus. Namun sikap kasih ini tidak berarti mengorbankan kebenaran. Jadi Gereja tetap mewartakan kebenaran yang sama, seperti yang diwartakan oleh Kristus, walaupun berbeda dengan apa yang dipercayai oleh agama atau kepercayaan yang lain. Mewartakan kebenaran adalah salah satu bentuk dari kasih.
  2. Mari kita melihat pernyataan bahwa Anna adalah domba yang tersesat dan jajan ke gereja lain. Untuk lebih jelasnya mengenai pandangan Gereja Katolik terhadap saudara-saudara yang terpisah dari Gereja Katolik, silakan membaca : Unitatis Redintegratio, terutama no:19 dan seterusnya. Secara prinsip gereja non-Katolik bersatu dalam Gereja Katolik karena Sakramen Baptis, namun tidak menjadi anggota penuh dari Gereja Katolik, dan kehilangan berkat-berkat Sakramen, seperti Ekaristi, Sakramen Tobat, Sakramen Imamat. Jadi apakah Anna domba yang tersesat? Dan perlukah Anna gentar? Mari kita melihatnya.
  3. Adalah suatu fakta bahwa Anna memisahkan diri dari kawanan domba di Gereja Katolik. Pertanyaannya adalah, apakah Anna telah berusaha dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatan untuk tahu terlebih dahulu tentang iman Katolik sebelum memutuskan untuk pindah gereja? Kalau jawabannya Anna belum benar-benar mencari tahu, maka ada sesuatu yang salah dalam proses ini. Jangan lupa, bahwa hal ini adalah urusan yang paling penting, karena ini menyangkut keselamatan abadi kita. Jadi silakan Anna merefleksikannya sendiri di dalam doa. Apakah Anna benar-benar mempelajari bahwa aturan, ajaran, dan doktrin dari Gereja Katolik benar-benar hanya karangan manusia belaka? Bagaimana Anna dapat menyimpulkan hal ini? Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjawab keberatan-keberatan Anna di point-point di atas. Apakah Anna masih mempunyai kesimpulan yang sama bahwa Gereja Katolik mengajarkan doktrin yang berasal dari manusia dan bukan dari Allah?
  4. Kalau Anna melihat bahwa pernyataan “domba yang tersesat” terlalu keras, coba bandingkan dengan pernyataan gereja non-Katolik terhadap Gereja Katolik. Sebagian dari mereka melihat dan berpandangan bahwa Katolik bukanlah Kristen, yang tidak mungkin diselamatkan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta tidak selamat, karena tidak pernah mengaku di depan umum bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, seperti yang biasanya dilakukan dalam altar call kebaktian gereja Protestan. Atau tuduhan yang lain bahwa Bapa Paus adalah Anti-Kristus. Banyak orang non-Katolik beranggapan bahwa umat Katolik perlu diselamatkan, karena umat Katolik tidak tahu Alkitab dan ajarannya adalah sesat. Apapun alasannya, sesungguhnya dalam perbedaan pendapat, kita dapat mendiskusikannya dengan hormat dan penuh kasih.
  5. Masalahnya bukanlah tidak gentar, dan memilih takut akan Tuhan daripada takut akan manusia. Semua orang Kristen, termasuk Katolik dituntut untuk menjadi martir jika diperlukan (lih Lumen Gentium, nomor 42-50). Namun ketidakgentaran kita dapat ditunjukkan terlebih dahulu dengan benar-benar mendalami iman kita, sehingga pada saatnya nanti kita bertemu dengan Yesus, kita dapat mengatakan “Yesus, saya telah berusaha dalam keterbatasanku namun dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatanku, telah berusaha mendalami dan menjalankan apa yang Engkau firmankan. Aku telah berusaha menemukan kebenaran bukan berdasarkan perasaan pribadi, komunitas yang akrab, kotbah yang berkobar-kobar, namun benar-benar dengan tujuan untuk menemukan Engkau sendiri. Aku juga menyembah Engkau dengan cara yang Engkau kehendaki. Aku bergabung dalam Gereja yang Engkau dirikan. Dan aku tidak memilih-milih perintah tertentu, tapi aku berusaha untuk menjalankan semua perintah-Mu” Pernyataan di atas bukan hanya untuk Anna, namun juga berlaku untuk saya sendiri. Apakah kita dapat melihat kepada Yesus, mata dengan mata, dan mengatakan hal tersebut di atas?
  6. Terimakasih untuk mengingatkan kita semua untuk kembali kepada kesederhanaan dan kebenaran Alkitab. Namun, masalahnya adalah bagaimana untuk mengerti (baik sederhana atau sulit) dan menjalankan semua perintah yang dinyatakan oleh Tuhan di dalam Alkitab. Kesederhanaan adalah baik, namun tanpa menjalankan semua perintah Tuhan di dalam Alkitab, kita dapat tersesat. Kebenaran akan terus bertahan, baik itu sederhana atau sulit. Bagi umat Katolik, untuk menjalankan semua yang diperintahkan Tuhan diperlukan tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja.

Kalau sekarang Anna berpindah-pindah gereja, kapan Anna dapat berhenti dan mengatakan kepada diri sendiri “Inilah Gereja yang Yesus dirikan“, dan kemudian Anna beristirahat di dalamnya. Pencarian tanpa henti tidak akan mendatangkan kebahagiaan, karena kebahagiaan hanya tercapai kalau kita menemukannya. Jadi tantangan bagi Anna untuk memutuskan hal ini sebelum Tuhan memanggil Anna. Pertanyaan yang lain adalah bagaimana Anna tahu bahwa gereja tertentu melakukan semua yang diperintahkan Allah? Apakah yang sebenarnya Anna cari? Mungkin jawaban dan banyak pertanyaan di dalam uraian dari point A-J dapat menjadi bahan permenungan bagi Anna. Saya mengusulkan untuk membawa hal ini di dalam doa, atau Anna juga dapat mendiskusikannya dengan orang lain.

Ingrid, Lia, dan saya turut berdoa agar Anna dapat menemukan Gereja yang Yesus dirikan, dalam Gereja Katolik.

Dan mari kita bersama-sama mengasihi Kristus dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatan kita. Kita tidak dapat mengasihi Kristus, kepala dari Gereja, secara penuh kalau kita tidak mengasihi Gereja-Nya, tubuh mistis Kristus. Dan Gereja-Nya hanya satu, karena tubuh mistis Kristus hanya satu dan tidak terpecah-pecah.

Kalau ada kata-kata di dalam jawaban dari point A-J yang menyinggung Anna, kami mohon maaf. Hal ini dikarenakan keterbatasan kami dalam memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan kebenaran. Kami telah mencoba untuk menyampaikan argumentasi berdasarkan kasih. Dan kami juga tahu bahwa Anna juga mempunyai niatan diskusi ini karena terdorong oleh kasih Anna terhadap Kristus. Kita mempunyai kerinduan yang sama untuk melihat Gereja Tuhan bersatu. Terpujilah Kristus….

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Doktrin Katolik tidak Alkitabiah?

0

Pertanyaan:

Beberapa Doktrin Gereja Katolik yang saya uraikan di atas, sudah tidak Alkitabiah. Saya jadi bertanya-tanya sekarang, berapa % dari isi buku Doktrin Gereja Katolik yang tebal itu, yang tidak Alkitabiah sebenarnya?
Salam – Anna.

Jawaban:

Shalom Anna,

Berikut ini adalah jawaban saya untuk point I, dimana Anna mengatakan bahwa doktrin di Gereja Katolik tidak Alkitabiah. Ini adalah hal yang yang sering dikatakan oleh orang Kristen non-Katolik tentang Gereja Katolik. Archbishop Fulton Sheen pernah mengatakan “There are not more than 100 people in the world who truly hate the Catholic Church, but there are millions who hate what they perceive to be the Catholic Church.” atau “Ada kurang dari 100 orang di dunia yang benar-benar membenci Gereja Katolik, namun ada jutaan orang yang membenci apa yang mereka mengerti sebagai Katolik“. Ungkapan ini adalah suatu gambaran banyak sekali kesalahpahaman dari gereja Kristen – Non Katolik tentang ajaran Gereja Katolik yang sebenarnya sungguh-sungguh bersumber pada Alkitab, Tradisi, dan Magisterium Gereja, seperti yang sudah saya uraikan di Point B.

I. Semua ajaran Katolik dapat dipertanggungjawabkan dan Alkitabiah.

  1. Kami sudah mencoba membuktikan dari point A-H, bahwa ajaran Katolik bersumber pada Firman Tuhan. Taruhlah Anna tidak percaya akan Tradisi atau Magisterium Gereja, namun semua ajaran Gereja Katolik dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah.
  2. Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa “hanya percaya Alkitab saja sebagai satu-satunya pegangan” adalah tidak Alkitabiah. Saya juga berharap dapat semudah itu kejadiannya, namun hal ini tidak terjadi dalam kenyataan, karena:
    • Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa hanya Alkitablah satu-satunya pegangan kebenaran. Memang 2 Tim 3:16 mengatakan “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Namun tidak berarti bahwa hanya Alkitab saja sudah cukup. Namun Gereja Katolik memandang Kitab Suci sebagai salah satu pilar kebenaran.
    • Namun sebaliknya Rasul Paulus juga mengatakan “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15). Inilah yang mendasari Gereja Katolik mempunyai pilar kebenaran yang lain, yaitu Tradisi Suci.
    • Dan seperti yang telah diterangkan di Point B, Alkitab saja akan membawa kepada perpecahan tanpa ada otoritas yang menafsirkannya. 1 Tim 3:15 mengatakan “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (LAI). Di dalam terjemahan RSV, dikatakan “if I am delayed, you may know how one ought to behave in the household of God, which is the church of the living God, the pillar and bulwark of the truth.” Jadi Rasul Paulus mengatakan bahwa tiang dasar kebenaran adalah Gereja. Inilah sebabnya Gereja Katolik mempunyai Magisterium Suci, sehingga kebenaran dapat ditegakkan di dalam Gereja. Kebenaran yang mengikuti perintah Yesus secara murni dan total.

II. Gereja menjadi pilar kebenaran.

  1. Kalau Anna perhatikan, lebih sulit manakah untuk menjadi seorang Kristen-non Katolik yang baik atau menjadi seorang Katolik yang baik? Mungkin kedua-duanya juga sulit, karena memang untuk menjadi murid Kristus yang baik tidaklah mudah. Bagi saya pribadi, tuntutan untuk menjadi seorang Katolik yang baik adalah sungguh sulit, namun Tuhan sendiri yang akan memampukan umat Katolik, kalau umat-Nya mau bekerjasama dengan rahmat Tuhan, dan juga menerima berkat-berkat Tuhan yang mengalir melalui sakramen-sakramen yang Yesus berikan. Ya, memang tidak gampang untuk menjadi kudus, yang dimanifestasikan dalam mengikuti seluruh perintah Tuhan (lih. 1 Yoh 5:2).
  2. Lihatlah salah satu ajaran moral dari Gereja Katolik, yang memang sulit dijalankan, seperti kontrasepsi adalah berdosa. Ingrid telah mencoba mengupasnya secara singkat di artikel “Humanie Vitae itu benar“. Semua Gereja, termasuk Gereja Non-Katolik setuju dengan ajaran moral bahwa kontrasepsi adalah berdosa. Namun tahun 1930, tidak ada lagi gereja yang mengajarkan bahwa kontrasepsi itu berdosa, kecuali Gereja Katolik.
    • Pertanyaannya, sebelum tahun 1930 mengapa semua gereja setuju bahwa itu salah? Apakah kebenaran ini dapat ditemukan di Alkitab? Bagaimana setelah tahun 1930 tiba-tiba kontrasepsi jadi benar? Apakah Alkitabnya berubah? Tentu saja tidak. Yang berubah adalah orang yang mencoba menafsirkannya. Nah dalam kondisi pro dan kontra seperti ini, siapakah yang memutuskan mana yang benar dan mana yang tidak? Bayangkan kalau sampai terjadi ketidaksetujuan tentang hal ini di gereja Anna. Siapa yang dapat memutuskan hal ini? Mungkin penatua gereja atau jemaat? Bagaimana kita tahu bahwa keputusan yang diambil adalah sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan? Di dalam Gereja Katolik, Magisterium Suci mempunyai wewenang tertinggi untuk memberikan ajaran dan doktrin yang diyakini berasal dari Tuhan, seperti ajaran: Yesus mepunyai dua “nature” dalam satu “person”. Roh Kudus adalah hasil pertukaran kasih Allah Bapa dan Allah Putera, ajaran tentang Tritunggal Maha Kudus, Maria tetap perawan, Maria diangkat ke Surga, dll. Tanpa keyakinan bahwa ajaran tersebut adalah sungguh-sungguh benar, maka akan sulit sekali kita beriman, karena beriman adalah “Firm assent of the mind to the things unseen“. Tanpa suatu keyakinan yang kokoh, maka kita tidak dapat beriman secara benar, apalagi karena sesuatu yang benar yang kita yakini adalah tidak terlihat. Keyakinan umat Katolik diperkokoh dengan adanya Magisterium Suci. Mereka dalam persatuan dengan Bapa Paus diberi kuasa oleh Yesus sebagai penerus Rasul Petrus, untuk menjaga kemurnian ajaran Gereja; dan mereka tidak berkuasa mengubahnya atau menyesuaikannya dengan kehendak pribadi ataupun perkembangan jaman.
  3. Atau misalkan lagi Martin Luther dan John Calvin percaya bahwa Maria adalah perawan. Bagaimana mungkin sekarang para pengikut mereka tidak percaya bahwa Maria tetap perawan? Manakah yang benar? Tidak mungkin kedua-duanya benar. Saya yakin tiap pihak mempunyai alasan masing-masing. Namun bagi Gereja Katolik, kebenaran tidaklah berubah, apa yang dinyatakan kebenaran 2000 tahun, 500 tahun yang lalu akan tetap sebagai suatu kebenaran saat ini, juga di masa depan. Inilah yang membuat orang dapat beriman dengan baik, karena yakin bahwa kebenaran yang kita percayai saat ini tidak akan berubah ratusan tahun ke depan dan sampai selama-lamanya. Kebenaran tidak tergantung dengan situasi jaman atau suara mayoritas, karena kebenaran akan tetap ada walaupun tidak ada yang percaya. Disinilah Magisterium Suci menjadi pilar kebenaran yang menyatakan kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh pengikutnya.Lihatlah tulisan Martin Luther dan John Calvin di bawah ini:
    • Martin Luther
      (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’)”[13]
    • John Calvin (1509-1564):
      “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk  menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)…Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[14]
  4. Jadi dari doktrin tentang perawan Maria, kita melihat bahwa doktrin seperti ini tidaklah hanya karangan dari Gereja Katolik saja, namun sungguh-sungguh bersumber pada Alkitab, dan dipercayai oleh jemaat perdana, dan juga termasuk Martin Luther dan John Calvin, pendiri gereja Protestan.

III. Kesimpulan: Semua doktrin Katolik adalah benar, dapat dipertanggungjawabkan dan Alkitabiah.

  1. Dari tulisan-tulisan dan jawaban-jawaban yang coba kami paparkan, kami ingin agar Anna juga dapat melihat bahwa semua doktrin Katolik dapat dipertanggungjawabkan dan Alkitabiah. Mungkin kita berbeda dalam cara menafsirkannya. Karena Anna tidak percaya akan Magisterium Gereja, maka Anna tidak percaya akan penafsiran Gereja Katolik tentang beberapa ayat yang mendasari beberapa pengajaran Gereja Katolik. Perbedaan cara menafsirkan juga dialami oleh gereja-gereja non-Katolik. Bandingkan beberapa doktrin yang dipercayai oleh 38,000 denominasi. Apakah semua gereja tersebut mengajarkan hal yang sama? Kalau kita perhatikan dan amati, jawabannya adalah mereka tidak mengajarkan doktrin yang sama. Kalau begitu mana yang benar? Karena kita tidak dapat memilih-milih kebenaran. Kebenaran yang kita ambil berdasarkan pilihan kita adalah bukan lagi suatu tindakan iman yang Ilahi, karena kebenaran yang kita ambil tidak berdasarkan akan apa yang diwahyukan Tuhan secara total, namun berdasarkan akan apa yang kita suka. Ini juga tantangan bagi umat Katolik, karena umat Katolik tidak dapat memilih-milih doktrin, namun percaya akan semua doktrin yang menuntut umatnya untuk penyerahan akal budi dan keinginan sesuai dengan wahyu Tuhan yang diberitakan oleh Gereja-Nya.
  2. Mengenai buku yang tebal yang dituliskan dalam kesaksian Maria Brownell/Lia, itu adalah Katekismus Gereja Katolik (KGK). Kalau kami telah membuktikan semua point-point keberatan akan pengajaran Katolik yang dikemukakan oleh Anna adalah Alkitabiah, maka ini juga berlaku untuk semua doktrin yang disebutkan di dalam KGK. Cobalah Anna membeli KGK, dan melihat lembar demi lembar. Anna akan menemukan referensi Kitab Suci dalam setiap lembarnya. Bagaimana ini bisa dikatakan tidak Alkitabiah? KGK adalah persembahan dari Gereja untuk umatnya, agar seluruh umat tahu akan apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Saya tidak tahu, apakah pegangan buku doktrin yang dipakai oleh gereja-gereja non-Katolik, atau gereja Anna. Yang saya maksudkan pegangan di sini adalah, kalau sampai tidak ada persetujuan mengenai ayat tertentu atau ajaran tertentu yang disebutkan di Alkitab, maka Anna atau anggota gereja lain harus mereferensikan ke buku pegangan apa? Bagi umat Katolik, KGK adalah salah satu buku pegangan yang menjelaskan iman Katolik secara sistematik, karena buku ini adalah synthesis dari Alkitab, tulisan dari Bapa Gereja, konsili-konsili, Kitab Hukum Gereja.
  3. Kalau Anna membaca KGK dan menemukan ada pengajaran yang tidak Alkitabiah, maka kita dapat mendiskusikannya lagi.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab keberatan Anna point I. Harapan saya, minimal Anna dapat melihat bahwa ajaran Katolik adalah Alkitabiah, hanya kita berbeda dalam hal menafsirkan ayat-ayat tersebut. Oleh karena itu, saya ingin mengajak Anna untuk meneliti doktrin Gereja Katolik satu persatu dengan lebih mendalam, agar dapat menemukan di sana, bahwa setiap doktrin tersebut berdasarkan Alkitab. Jika Anna masih mempunyai pertanyaan, silakan bertanya kembali. Kami akan berusaha menjawabnya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Apakah Tuhan sama dengan Allah?

22

Pertama-tama kita perlu meluruskan dahulu pengertian Tuhan dan Allah. Dalam bahasa Indonesia kedua kata ini berarti sama, dan demikian juga sesungguhnya di dalam bahasa aslinya.  Dalam hal ini, “Lord” bukan berarti lebih tidak ilahi jika dibandingkan dengan “God”, sebab “Lord” (Kyrios) adalah terjemahan bahasa Yunani (dalam Alkitab Septuagint) dari kata YHWH, yang dikenal juga sebagai ‘Tetragrammaton’. YHWH atau Yahwe adalah nama Allah/ “God” yang kita ketahui dalam Perjanjian Lama. Orang-orang Yahudi memakai kata “Adonai” untuk menyebutkan nama YHWH ini; karena menurut tradisi oral Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama yang Mahakudus itu. Kata “Adonai” yang berarti “Lord” dipergunakan dalam Kitab Suci, doa, dan liturgi. Jadi sebenarnya God dan Lord adalah kata sinonim, seperti kata “Elohim” dan “Adonai” digunakan sebagai sinonim. Kesamaan arti di antara kedua kata ini sangat dipahami oleh jemaat pada abad-abad awal, yang pengertiannya tidak terlepas dari tradisi Yahudi. Bahwa kemudian pada bahasa Inggris kuno misalnya, ada pembedaan tertentu antara Lord dan God, itu tidak mengubah kenyataan bahwa dalam konteks Kristus dalam Kitab Suci, “Lord” dan “God” itu sinonim, sesuai dengan penjelasan di atas.

Beberapa ayat yang membuktikan hal ini antara lain:

1. Yesus dikatakan sebagai Tuhan dikatakan beberapa kali di dalam Kitab Perjanjian Baru. Memang untuk itu, kita harus lebih teliti melihatnya. Pada Yohanes 1:1, dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman: Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Di sini kita tahu Firman yang dimaksud adalah Yesus Kristus yang adalah Anak Tunggal Bapa, sebab Dia adalah “Firman yang telah menjadi manusia dan dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Sedangkan ‘Allah’ yang disebut pada Yoh 1:1 tersebut adalah “God”.

2. Pengakuan Rasul Thomas, pada saat ia melihat Yesus sesudah kebangkitan-Nya. Yesus menunjukkan bekas luka-luka-Nya dan mempersilahkan Thomas memasukkan jarinya ke dalam luka-luka Yesus. Sesudah melihat Yesus, ia berkata, “Ya Tuhanku, dan Allahku.” (Yoh 20:28). Hal ini tidak disangkal oleh Yesus, sehingga kita tahu bahwa Yesus adalah sungguh Allah.  Selanjutnya, Yesus mengatakan, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat Dia, namun percaya[bahwa Yesus adalah Allah]. (lihat Yoh 20:29)

3. Rasul Paulus juga menyebutkan Yesus sebagai Allah dalam Roma 9:5. Rasul Paulus menyebutkan bahwa Yesus adalah Allah dalam kaitannya dengan peran Yesus sebagai Mesias yang diturunkan dari bangsa Yahudi. Ayatnya berbunyi demikian, “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”

4. Di dalam suratnya kepada Titus, Rasul Paulus juga mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang Mahabesar. Ayatnya berbunyi demikian, “Ia [Allah] mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini, dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.” (Tit 2:12-13)

5. Kata “Lord/ Tuhan” yang sama artinya dengan Allah, secara khusus dapat kita lihat dalam Flp 2:5-11:
“Hendaklah kamu…menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dengan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah Bapa.”

Maka kita mengetahui bahwa penulisan Yesus sebagai Tuhan “Lord” dan Bapa sebagai Allah “God”, lebih disebabkan karena untuk membedakan Pribadi mereka di dalam Trinitas. Hal ini yang sering kita jumpai di dalam surat Rasul Paulus dalam pujian kepada Tritunggal Maha Kudus. Namun hal ini tidak berarti bahwa Yesus bukan Allah, ataupun Allah Bapa bukan Tuhan. Sebab Yesus adalah Tuhan dan Allah, demikian juga Bapa adalah Allah dan Tuhan, sebab mereka setara di dalam kesatuan Trinitas.

Katekismus Gereja Katolik menuliskan sebagai berikut:

KGK 448 “Dalam berita-berita Injil, orang-orang yang datang kepada Yesus sering menamakan-Nya “Tuhan”. Dalam penggelaran ini dinyatakan penghormatan dan kepercayaan mereka yang mendekati Yesus dengan mengharapkan bantuan dan penyembuhan dari Dia. Kalau diilhami oleh Roh Kudus, kelihatanlah dalam sapaan ini pengakuan akan misteri ilahi Yesus… Di sini “Tuhan” mendapat warna cinta dan simpati, yang selalu bergema dalam tradisi Kristen: “Itu Tuhan” (Yoh 21:7)

KGK 449 mengatakan, “Pengakuan-pengakuan Gereja yang pertama menggunakan sejak awal gelar kehormatan “Tuhan” ini untuk Yesus. Dan dengan ini mereka mengatakan bahwa kekuasaan, kehormatan, dan kemuliaan, yang pantas diberikan kepada Allah, juga harus diberikan kepada Yesus, karena Ia “setara dengan Allah” (Flp 2:6). Bapa mengumumkan martabat Yesus sebagai penguasa ini, ketika Ia membangkitkan-Nya dari antara orang mati dan meninggikan-Nya ke dalam kemuliaan-Nya.

Dalam dokumen yang dikeluarkan oleh the Roman Curia, ” The Congregation for Divine Worship” 29 Juni 2008,  dikatakan, ” Penyebutan gelar Kyrios kepada Tuhan yang bangkit merupakan pernyataan akan ke-Allah-an-Nya.” Dokumen ini memberikan kesimpulan bagi penggunaan kata Kyrios untuk kata YHWH (Tetragrammaton) yang artinya adalah Allah.

Apakah Umat Katolik tidak langsung berdoa kepada Bapa di Sorga?

0

Pertanyaan:

Hal ke-3 yang mengganjal,
Dulu saya rajin doa Rosario setiap malam, doa kaplet Roh Kudus juga, Kaplet Malaikat dsb yang pada akhirnya saya pusing sendiri. “Kepada siapa sebenarnya saya harus berdoa ?” sampai akhirnya saya ingat ketika Murid2 Yesus bertanya kepada Yesus tentang cara berdoa yang baik, apa yang diajarkan Yesus? DOA BAPA KAMI. Yaitu DOA langsung kepada BAPA di Surga. Yesus sendiri memberi contoh seringkali Dia dalam berbagai keadaan selalu berdoa kepada Bapa.
Salam – Anna.

Jawaban:

Shalom Anna

Berikut ini adalah jawaban tentang doa dan devosi, kenapa ada banyak macam doa dalam agama Katolik, seperti doa rosario, dan kaplet-kaplet, seperti kaplet Roh Kudus, Malaikat, dst. Bukankah Yesus mengajar doa BAPA KAMI, yang ditujukan langsung kepada Bapa di surga? Berikut ini adalah dasar-dasarnya:

  1. Memang benar kita dapat berdoa ‘langsung’ kepada Bapa di surga, dan Gereja Katolik mengakui bahwa doa Bapa Kami adalah doa yang paling sempurna. Itulah sebabnya, doa Bapa Kami selalu diucapkan di dalam Misa kudus setiap hari di seluruh dunia, sedangkan doa-doa yang lain, seperti rosario, atau doa kaplet yang lain tidak menjadi bagian dari Misa Kudus yang menjadi puncak perayaan ibadat Katolik. Jadi, orang Katolik berdoa kepada Bapa di surga, dan doa ini diucapkan di dalam dan bersama Yesus, sehingga kita menyebutnya sebagai Bapa Kami, dan bukan Bapa saya. Kita selalu mengingat bahwa kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa hanya karena Kristus yang telah mengangkat kita semua menjadi saudara/i angkat-Nya. Maka, jika kita perhatikan, Doa Bapa Kami dijelaskan secara mendetail sekali di dalam Katekismus Gereja Katolik, dari #2759-2865; yang sarat dengan dasar-dasar Alkitab.
  2. Doa-doa lain, seperti doa rosario, dan kaplet-kaplet merupakan doa tambahan, namun sangat bermanfaat untuk meningkatkan devosi/ kasih kita kepada Yesus. Bunda Maria, para malaikat dan para Orang Kudus, adalah ‘sahabat-sahabat Yesus’ yang hanya akan membawa kita kepada Yesus.Kalau kita perhatikan, doa-doa tersebut sesungguhnya mengarahkan kita kepada Allah, bukannya berhenti kepada doa itu sendiri. Doa Rosario yang benar, sesungguhnya disertai dengan permenungan misteri kehidupan Yesus, yaitu: Peristiwa Gembira, Peristiwa Sedih, Peristiwa Terang dan Peristiwa Mulia. Jadi dalam peristiwa Gembira, misalnya, kita merenungkan betapa besar kasih Allah akan dunia ini sehingga mengutus Yesus untuk menyelamatkan kita (Yoh 3:16). Dan kita mensyukurinya bersama Bunda Maria. Dalam Peristiwa Terang, kita mensyukuri kedatangan Kristus di dunia dan mengarahkan hati agar kita dapat melaksanakan ajaran-ajaran-Nya. Dalam Peristiwa Sedih kita merenungkan sengsara Kristus, dan mempersatukan juga permasalahan yang sedang kita hadapi di dunia ini, agar kita dapat menghadapinya dengan tabah bersama Yesus dan Bunda Maria. Dalam Peristiwa mulia, kita mensyukuri rahmat kebangkitan Kristus, sehingga kita dipenuhi pengharapan dan iman akan pertolongan Tuhan dan akan keselamatan kita sebagai umat beriman. Kita melihat kepada Bunda Maria sebagai teladan, yang telah lebih dulu sampai kepada pemenuhan janji keselamatan itu. Jadi doa rosario ini tidak pernah berhenti pada Bunda Maria; melainkan kita berdoa bersama Bunda Maria sambil merenungkan rencana Keselamatan Allah di dalam hidup kita. Di dalam doa rosario kita dibentuk oleh Allah menjadi seperti Bunda Maria yang dapat memuliakan Allah dalam kidung Magnificat, dan dengan iman kita dapat berkata bersama Bunda Maria, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Ini sesuai dengan doa Bapa Kami, “…Dimuliakanlah nama-Mu…., jadilah kehendakMu…”Lalu pada kaplet malaikat itu kita mohon perlindungan, agar dijauhkan dari segala yang jahat. Bukankah mohon agar dijauhkan dari segala yang jahat adalah bagian dari doa Bapa Kami? (….bebaskanlah kami dari yang jahat… amin).

    Pada kaplet Roh Kudus, kita memohon agar hati kita diperbaharui dan dinyalakan dengan kasih, agar bersama Allah kita dapat memperbaharui muka bumi. Bukankah ini adalah permohonan kita dalam doa Bapa Kami, “Datanglah KerajaanMu…”?

    Dan saya percaya, pada kaplet atau doa-doa yang lain semua bersumber pada doa Yesus itu, yang sungguh ditujukan untuk kemuliaan Allah.

    Saya pribadi mengetahui, baik dari pengalaman sendiri, maupun dari pengalaman kerabat dan teman-teman  saya, betapa mereka dibawa lebih dekat kepada Kristus melalui doa rosario, doa kerahiman ilahi, maupun doa-doa devosional lainnya. Jadi sungguh, jika doa-doa ini didasari dengan pengertian yang benar, dan dengan iman, maka doa-doa ini akan mendatangkan buah yang limpah: tidak saja bagi pertumbuhan spiritual kita, tapi bahkan dapat mendatangkan berkat bagi orang-orang sekitar kita yang kita doakan di dalam doa tersebut.

  3. Dalam iman Katolik, kita melihat Allah Bapa sebagai Allah yang ‘merangkul dan melibatkan semua’ dalam rencana keselamatan-Nya. Tentu ‘semua’ di sini maksudnya adalah orang yang bersedia bekerjasama dengan Dia. Maka kita mengenal adanya “persekutuan orang kudus” yang saling mendoakan, baik yang masih berziarah di dunia, maupun yang sudah mendahului kita. Saudara-saudari kita yang Protestan tidak mengajarkan hal ini. Biasanya, alasan mereka adalah karena ayat ini, “…Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus”(lih. 1 Tim 2:5). Kita sebagai orang Katolik tetap mengimani ayat ini, sebab memang esa-lah pengantaraan Yesus. Tidak ada seorangpun yang lain yang dapat menjalankan peran yang sama seperti Yesus dalam membawa kita kepada Allah Bapa. Tetapi, dalam menjalankan tugas ini Yesus melibatkan orang-orang terdekatNya, seperti Bunda Maria dan para rasul. Lihatlah bahwa Bunda Maria menyertai para rasul (Kis 1:14); bagaimana para rasul dijadikan ‘penjala manusia’, mereka diberi kuasa melakukan mukjizat dst.  Semua itu ditujukan untuk melanjutkan karya Kristus untuk membawa banyak orang kepada Tuhan. Nah, inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik, para orang kudus tidak ‘bersaing’ dengan Yesus dalam menjadi pengantara kita kepada Tuhan, tetapi mereka mendukung pengantaraan Yesus. Para orang kudus adalah seumpama murid-murid yang telah lebih dahulu lulus ujian, dan mereka diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membantu adik-adik kelas mereka agar dapat lulus ujian seperti mereka. Tentu, kita dapat berjuang sendiri untuk lulus (hanya dengan Yesus), tetapi tentu saja lebih mudah jika kita belajar dari mereka yang sudah lulus dan mohon dukungan mereka juga- apalagi jika ini menjadi kehendak Tuhan, agar kita saling tolong menolong dalam memikul beban kita sebagai orang beriman (Gal 6:2). Kita-pun dapat belajar bertumbuh dalam kerendahan hati, dengan mengakui bahwa bagaimanapun kita masih ‘belum sampai’ ke surga, dan karena itu masih harus berjuang dan belajar banyak, sedangkan mereka ‘sudah sampai’, dan karenanya kita mau belajar dari iman mereka. Walaupun demikian, bukan berarti kita tidak perlu berjuang sendiri.  Sebab, agar lulus ujian, setiap kita harus tekun belajar (tentu dengan bantuan Yesus), dalam hal ini adalah mempelajari sabda Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Lebih lanjut tentang Persekutuan para kudus, silakan klik di sini. Pada dasarnya, persekutuan orang kudus yang dimaksud dalam ajaran Katolik adalah persekutuan orang beriman (yang tak terpisahkan oleh maut) yang dipersatukan oleh Kristus sendiri untuk maksud saling mendoakan dan saling mendukung dalam rencana Keselamatan Allah . Seperti kita dapat meminta orang lain (pastor, pendeta, orang tua, sahabat, dst) untuk mendoakan kita, maka kita dapat juga meminta doa para sahabat Yesus ini (yaitu para orang kudus) untuk mendoakan kita. Demikian, maka doa kita memohon dukungan doa dari para orang kudus, tidak pernah sama artinya dengan doa langsung memohon kepada Allah Bapa; namun kita percaya bahwa para kudus akan mendukung kita dengan doa-doa mereka. Dan alangkah besar kuasa doa mereka (para kudus) sebab mereka telah dibenarkan oleh Tuhan! (lih. Yak 5:16)

Demikian jawaban saya tentang doa dan devosi. Mari kita bersama-sama menyadari bahwa orang-orang kudus adalah anggota keluarga Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Katolik menyalahgunakan indulgensi atau surat pengampunan dosa?

26

Pertanyaan:

Kita harus akui dengan segala kerendahan hati, bahwa setiap manusia bisa saja melakukan kesalahan(kecuali “Anak Manusia/Yesus”), tapi setelah tahu bahwa ada yang salah apakah kita harus tetap kekeh mempertahankan yang salah demi ego kita? termasuk pada tahun 1090 Katolik pernah Jual Surat Pengampunan Dosa ? Puji Tuhan, yang satu ini sudah Katolik perbaiki. Mudah-mudahan juga Doktrin2 yang lain yang tidak Alkitabiah dan menentang perintah Allah bisa sama2 kita perjuangkan bersama. agar tidak sampai tetap dalam keadaan salah sampai Tuhan Yesus datang untuk ke-2 kalinya. karena penghakiman di mulai dari rumah Tuhan.
Salam – Anna

Jawaban:

Shalom Anna,

Ini adalah jawaban untuk point F, dimana dikatakan bahwa Gereja Katolik telah melakukan kesalahan karena pernah menjual surat pengampunan dosa (indulgence). Mari kita melihatnya satu-persatu:

I. Apakah indulgensi (penghapusan siksa dosa).

  1. Pertama-tama saya akan memberikan arti apa sebenarnya arti indulgensi. Hal ini disebutkan di dalam Katekismus Gereja Katolik 1471 “Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengampunan. Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif.”
  2. Untuk mengenai pernyataan di atas, kita harus mengetahui akan akibat ganda dari dosa, yaitu: 1) dosa berat membawa kita kepada siksa dosa abadi di neraka, 2) dosa ringan membawa kita kepada siksa dosa sementara. Silakan membaca Sakramen Pengampunan Dosa (bagian 1, 2, 3, 4) . Setelah dibaptis, seorang Katolik dapat mengakukan dosanya dan terlepas dari siksa dosa abadi di neraka, namun siksa dosa sementara tinggal yang pada akhirnya akan membawa pendosa kepada api penyucian (topik ini akan ditulis tersendiri di kemudian hari).
  3. Kenapa Gereja mempunyai otoritas untuk mengampuni dosa? Karena otoritas ini diberikan oleh Kristus sendiri yang mengatakannya kepada Petrus “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19). Dan kepada para rasul, Ia memberikan kuasa untuk mengampuni dosa, dan apa yang terikat di dunia akan terikat di surga, dan yang dilepaskan di dunia akan terlepas juga di surga (lih Mat 18:18). Dan Yesus yang mengunjungi para rasul, setelah kebangkitan-Nya, memberikan kuasa kepada mereka untuk mengampuni dosa (lih. Yoh 20:23).
  4. Dengan indulgensi, maka Gereja memberikan suatu tanda kasih kepada umat-Nya, yaitu suatu “spiritual goods”, agar umatnya dapat terlepas dari siksa dosa sementara. Ini sama saja kalau di dalam keluarga, kalau orang tua mempunyai kekayaan duniawi, maka mereka akan berusaha membagikannya kepada anak-anaknya. Dalam hal ini, Gereja mempunyai kekayaan rohani, yang dititipkan sendiri oleh Kristus. Yang menjadi masalah adalah kalau Gereja tidak mendapatkan mandat dari Kristus, namun memberikan indulgensi. Namun dalam kenyataannya, Kristus sendiri yang memberikan mandat kepada Gereja. Dan setia kepada mandat ini, Gereja memberikan indulgensi kepada umatnya.
  5. Saya harap sampai tahap ini, Anna setuju bahwa Gereja diberi kuasa oleh Yesus untuk memberikan indulgensi. Dan Martin Luther sendiri tidak terlalu menentang doktrin ini, yang paling ditentangnya adalah praktek dari indulgensi di masa itu.

II. Bagaimana seseorang mendapatkan indulgensi dan penerapannya di abad pertengahan:

Telah kita bahas bersama bahwa Indulgensi adalah:

1. penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah
2. untuk dosa-dosa yang sudah diampuni.
3. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya,
4. di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas
5. memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif.

Ada  sejumlah orang yang berpandangan bahwa dulu di sekitar abad 14-16 terjadi jual beli surat indulgensi agar memperoleh pengampunan dosa, sehingga Martin Luther memprotesnya. Namun pandangan ini tidak benar, justru karena dari definisinya saja, tidak cocok. Sebab indulgensi tidak diberikan agar dosa-dosa diampuni, tetapi sebaliknya, dosa-dosa itu harus diakui terlebih dahulu dalam sakramen Tobat; dan baru ketika dosa-dosa itu sudah diampuni, orang yang bersangkutan dapat memperoleh indulgensi, jika syarat-syarat lainnya dipenuhi.

Mari kita lihat prakteknya di Abad Pertengahan sampai sekitar abad-16. Pada waktu itu Gereja sedang membangun gereja St. Petrus. Harus diakui, bahwa mungkin saja memang ada penyalahgunaan penerapan ajaran indulgensi dalam prakteknya, namun ini tidak menghapus akan kebenaran bahwa Gereja mempunyai kuasa untuk memberikan indulgensi. Jika kita membaca catatan sejarah, kemungkinan inilah yang terjadi:

  1. Paus Leo X (1513-1521), memberikan indulgensi kepada orang-orang yang memberikan sumbangan untuk pembangunan gereja St. Petrus, namun pertama-tama bukan karena mereka memberi uang, melainkan karena mereka melakukan perbuatan amal kasih, yaitu untuk mendukung seluruh jemaat agar memiliki rumah ibadah untuk menyembah dan memuliakan Tuhan. Namun untuk memperoleh indulgensi tersebut, seseorang juga harus memenuhi syarat lainnya, contohnya seperti mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, menerima Komuni, mendaraskan doa tertentu, berpuasa, matigara dan memberi sedekah, dst. yang semuanya harus dilakukan dengan sikap hati yang benar.
  2. Seorang pengkhotbah Dominikan, bernama Johann Tetzel diutus berkhotbah ke Juterbog, Jerman. Amal/ derma (almsgiving) yang selalu menjadi salah satu ungkapan perbuatan kasih (lih. Mat 6:2), menjadi temanya, demi menggalang dana untuk pembangunan basilika, dan ini dikaitkan dengan indulgensi. Sayangnya, memang Tetzel ini  membuat suatu pantun yang memang dapat disalah artikan, karena berbunyi seperti ini, “Begitu terdengar bunyi koin emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju Surga.” Maka kesannya, seolah-olah orang didorong untuk menyumbang supaya dapat masuk surga, atau jiwa-jiwa orang yang telah meninggal yang mereka doakan langsung akan dapat masuk Surga. Padahal, jika kita membaca tentang ajaran indulgensi, terlihat bahwa yang dihapuskan dengan indulgensi itu adalah siksa dosa temporal dari dosa-dosa yang sudah diampuni (melalui Sakramen Tobat) dan bukan membebaskan seseorang dari siksa dosa dari dosa yang belum diperbuat oleh orang yang bersangkutan. Atau, jika doa ditujukan bagi jiwa orang yang sudah meninggal, tetaplah pada akhirnya Tuhan yang memutuskan apakah jiwa itu sudah siap beralih ke Surga atau belum, dan bukan atas jasa perbuatan orang yang memasukkan sumbangan ke dalam kotak. Sebab, yang berkuasa mengampuni dosa dan membawa jiwa-jiwa ke Surga tetaplah Kristus. Hanya Tuhanlah yang  mengetahui apakah syarat perolehan Indulgensi Penuh itu sungguh terpenuhi. Sebab Indulgensi Penuh–yang mengakibatkan jiwa di Purgatorium dapat dibawa ke Surga–mensyaratkan bahwa orang yang mendoakannya tidak mempunyai ketidakerikatan terhadap dosa apapun. Maka kita sendiri tidak dapat tahu dengan persis, apakah kita dapat memperoleh Indulgensi Penuh; hanya Tuhanlah yang mengetahuinya.  Jadi, perbuatan apapun yang kita lakukan tidak dapat menggantikan peran Kristus untuk mengampuni dan menyelamatkan seseorang.
    Doktrin Indulgensi ini terkait dengan ajaran tentang Sakramen Tobat, Api Penyucian, dan mendoakan jiwa orang-orang beriman yang sudah meninggal. Doktrin-doktrin ini memang adalah ajaran-ajaran yang kemudian ditolak oleh gereja-gereja Protestan.
  3. Penyimpangan yang terjadi sehubungan dengan pelaksanaan ajaran indulgensi inilah yang mengundang protes Martin Luther. Dalam 95 thesis yang diletakkan di pintu gereja tersebut tak lama setelah Tetzel datang, di thesis no.27 Luther memprotes pantun Tetzel, dan thesis no. 50 dan 86 memprotes pembangunan basilika St. Petrus. Namun Luther sendiri sebenarnya tidak menolak prinsip pengajaran tentang indulgensi; ia hanya menentang penerapannya. Thesis no. 49 membuktikan hal ini di mana Luther mengatakan bahwa indulgensi sebenarnya “berguna”. (Sumber: Martin Luther, Disputation of Doctor Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, 1517, Project Wittenberg, 2 July 2008).
  4. Kemungkinan karena adanya resiko penyimpangan sehubungan dengan pelaksanaan ajaran tentang indulgensi yang melibatkan sumbangan dana kepada Gereja, maka dalam Konsili Trente (1545-1563), Paus Pius V membatalkan segala peraturan indulgensi yang melibatkan transaksi keuangan. Maka sampai sekarang, sumbangan kepada Gereja tidak termasuk dalam perbuatan yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi. Namun demikian, hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa Gereja tetap mempunyai kuasa untuk melepaskan umat dari siksa dosa temporal akibat dari dosa-dosa yang sudah diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa.

Jadi indulgensi tidak pernah diperjualbelikan/ “for sale” seperti yang dituduhkan. Meskipun indulgensi pada abad ke-16 itu dapat diperoleh dengan menyumbang, namun  hati yang bertobat, mengaku dosa dalam sakramen Tobat, dan segala persyaratan religius lainnya harus ditepati agar indulgensi tersebut dapat sah diberikan. Jadi bukan semacam membeli surat dan setelah itu dosa diampuni. Indulgensi bukan untuk menggantikan peran sakramen Pengakuan Dosa. Indulgensi berkaitan dengan penghapusan siksa dosa sementara untuk dosa-dosa yang sudah diampuni tersebut, yang dapat dimohonkan untuk diri kita sendiri maupun untuk jiwa-jiwa orang-orang yang sudah meninggal itu.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan kepada Anna tentang doktrin indulgensi. Gereja Katolik, oleh kuasa yang diberikan oleh Kristus,  memberikan indulgensi, agar umat-Nya dapat bertumbuh di dalam kekudusan dan dapat mencapai kebahagiaan abadi di surga. Semoga keterangan di atas dapat menjawab keberatan Anna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef dan ingrid – www.katolisitas.org

Tambahan: Artikel lengkap tentang indulgensi, dapat dibaca di sini (silakan klik)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab