Home Blog Page 318

Apakah di surga manusia dan malaikat dapat berbuat dosa?

14

Pertanyaan:

Bu Ingrid,
menurut penjelasan ibu, Adam dan Hawa kehilangan Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts sebagai akibat dari dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/concupiscence. Jika concupiscentia/concupiscence adalah akibat dari dosa berarti mereka melakukan dosa terlebih dahulu baru akibatnya mempunyai concupiscentia/concupiscence? Pada saat mereka belum berdosa berarti tidak mempunyai concupiscentia/concupiscence, mengapa mereka bisa berbuat dosa padahal belum mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa?

Mengenai malaikat yang melawan Allah, bukankah mereka sebelumnya juga tinggal di surga sebelum mereka melawan Allah. Ataukah malaikat pada saat itu juga belum tinggal di surga (di taman eden atau di bumi atau …) sehingga bisa berbuat dosa atau lucifer melawan Allah pada saat dia ada di luar surga?

Ataukah semuanya ini karena baik manusia maupun malaikat diberi kehendak bebas sehingga bisa memilih sendiri untuk bersatu dengan Allah atau melawan Allah dan itu bisa terjadi baik di dalam maupun di luar surga?
Terima kasih, Chandra

Jawaban:

Shalom Chandra,

  1. Pertama-tama, kita perlu ketahui bahwa Taman Eden tidak sama dengan surga. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Jadi bahwa Adam dan Hawa dapat jatuh di dalam dosa, bukan berarti ada dosa di surga, dan bukan pula berarti nanti jika manusia masuk surga, ada kemungkinan manusia dapat jatuh ke dalam dosa seperti Adam dan Hawa.
    Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa pada saat mereka diciptakan adalah rahmat pengudusan/ “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.
    Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts ini yang hilang akibat dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/ concupiscence. Concupiscence/ kecenderungan berbuat dosa ini adalah mencakup keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). Maka pada saat Pembaptisan, kita dikaruniai rahmat pengudusan (yang hilang akibat dosa Adam dan Hawa) sebagai pintu gerbang yang akan menghantar kita kepada kebahagiaan ilahi yaitu “mengambil bagian di dalam kodrat ilahi” (2 Pet 1:4), walaupun concupiscentia tersebut masih ada pada kita (sebagai akibat dosa asal), agar dapat kita kalahkan untuk mencapai kekudusan (lihat KGK 1264).
    Kesempurnaan kebahagiaan surgawi inilah yang dijanjikan Allah pada jiwa-jiwa para kudus yang bersatu dengan-Nya di surga, sebab mereka akan memandang Allah muka dengan muka, atau disebut sebagai ‘beatific vision‘. Dalam kondisi memandang Allah muka dengan muka, kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1 Yoh 3:2) melihat Allah di dalam Allah; dan dalam keadaan ini seseorang tidak akan berbuat dosa lagi.
  2. Maka,  di surga hanya ada malaikat yang baik, sedangkan setan atau malaikat yang ‘jahat’ (fallen angel) tidak ada di surga, tapi di neraka.  Sebab pada saat Allah menciptakan malaikat, Ia memberi kesempatan kepada mereka untuk memilih untuk taat pada-Nya atau tidak, dan Lucifer yang diciptakan sebagai malaikat yang elok rupa, menjadi sombong dan menolak untuk taat pada Tuhan. Kisah kejatuhan Lucifer ada pada Yes 14:12-14, dan Yeh 28:14-17.
  3. Jadi Allah selalu menciptakan sesuatu yang baik, (malaikat dan manusia) namun sang ciptaan-Nya itu dapat menolak untuk taat kepada-Nya seperti yang terjadi pada Lucifer dan kawan-kawannya dan juga Adam dan Hawa. Penolakan manusia pertama terjadi di Eden sedangkan penolakan malaikat terjadi sesaat setelah ia diciptakan. St. Thomas Aquinas mengatakan malaikat terang dipisahkan dari malaikat gelap/ jahat (fallen angels): Malaikat terang di surga, malaikat jahat di neraka. Maka kesimpulannya, di surga tidak ada manusia maupun malaikat yang dapat berbuat dosa, sebab semua penghuni surga telah dipenuhi oleh rahmat Allah, karena telah bersatu dengan Allah.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai pertanyaan Chandra, semoga menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati, https://katolisitas.org

Mari, jadikan Advent ini bermakna

5

adven Sudah gratis, tapi masih saja kurang dihargai…

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya” (Yoh 1:11)

Hari Kamis yang lalu, tanggal 27 November, orang-orang di Amerika ini merayakan Thanksgiving Day. Mereka berkumpul bersama keluarga pada hari istimewa ini untuk bersyukur kepada Tuhan dan bersantap siang atau malam bersama. Menariknya, hari Jumat, sehari berikutnya adalah Hari Belanja Nasional…. Saya katakan demikian, karena hampir semua toko, mall dan supermarket mengadakan ‘sale’ besar-besar-an untuk menarik pembeli. Banyak orang berkata hari itu adalah hari yang paling baik untuk belanja, sebab barang-barang dapat dibeli dengan ‘diskon’ yang lumayan banyak. Walaupun saya tidak pergi belanja hari itu, tapi saya dapat melihatnya dari jalan raya, karena parkir mobil penuh di mana-mana. Hal ini rupanya juga menarik perhatian Pastor paroki kami di sini. Maka pada homili, tadi pagi, dia menyinggung soal ‘sale’ ini yang menarik pengunjung. Dia bertanya, jika orang ramai membanjiri mall karena ada ‘sale’, apakah ada yang dapat dilakukan di gereja supaya orang juga akan ramai datang membanjiri gereja? Ya, demikianlah kenyataannya, masa Adven dan Natal rupanya lebih menarik orang untuk belanja, daripada merenungkan dan mempersiapkan diri untuk menyambut Tuhan Yesus, yang menjadi inti masa Adven dan Natal.

Padahal jika kira renungkan, perayaan Misa di gereja tidak hanya merupakan ‘sale’, tapi jauh melebihi dari ‘cuci gudang’ sekalipun. Karena berkat Allah diberikan cuma-cuma. Yang diberikan bukan barang jasmani yang bisa rusak dan lapuk, tapi berkat surgawi yang tak bisa rusak. Yang ditawarkan tidak terbatas pada kehidupan dunia, tetapi pada kehidupan ilahi yang tak terbatas, sebab yang kita sambut adalah Kristus, Sang Putra Allah yang Maha Tinggi itu sendiri. Gratis!

Sikap kita: apatis, atau terlalu aktif?

Tapi sayangnya, masih saja ada di antara kita yang menganggap datang ke Misa itu rutin. Adven tahun ini adalah pengulangan dari Adven tahun lalu. Tak ada yang baru. Bosan. Atau sebaliknya, kita ikut terlalu banyak kegiatan, sampe puyeng sendiri. Sibuk ini itu, latihan di sana sini, rapat tentang ini itu, dan ya, belanja untuk keperluan ini itu, sampai tidak ada waktu untuk merenungkan makna Adven. Mari kita tilik ke dalam hati kita, termasuk golongan mana kita ini. Mereka yang bosan dan apatis, atau mereka yang terlalu aktif dan sibuk? Sebab, jika kita benar-benar mengasihi Yesus, tentu kita tidak ‘bosan’ untuk menerima Dia di dalam Ekaristi; dan kita juga tidak memenuhi hati kita dengan seabreg kesibukan, sampai tidak ada ‘ruang’ lagi buat Yesus untuk masuk. Ada baiknya jika kita berusaha menyediakan waktu khusus untuk Tuhan dalam masa Adven ini untuk merenungkan kasih dan berkat yang Tuhan sudah berikan selama setahun ini. Atau kita berdoa rosario bersama di dalam keluarga, sambil merenungkan Peristiwa Gembira, dan dengan demikian kita mengarahkan hati untuk menyambut kedatangan Kristus kembali di dalam hati kita. Di dalam doa, kita dapat mengarahkan pandangan kita ke surga, dengan pengharapan akan kedatangan Kristus kembali sebagai Raja, dan kelahiran-Nya kembali di hati kita. Atau, kita dapat membagikan berkat yang sudah kita terima dalam bentuk amal kasih kepada mereka yang membutuhkan…

Mari memeriksa batin kita

Namun, di samping itu kita juga perlu memeriksa batin kita, sudahkah kita siap menyambut kelahiran-Nya di dalam hati kita? Sebab bukannya tidak mungkin, ada banyak penghalang dan ‘bukit- bukit’ kesombongan dan dosa yang memisahkan kita dari Tuhan. Adven adalah saatnya kita merendahkan hati di hadapan Tuhan, mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, agar segala ‘kotoran’ di dalam rumah hati kita dibersihkan, supaya kita dapat menerima Kristus, Sang Raja Agung. Karena kita tidak dapat dikatakan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, jika kita tetap tinggal di dalam dosa, atau terlalu tinggi hati untuk mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan. Dosa inilah yang menghalangi kita untuk mengalami kepenuhan kasih Tuhan, sehingga jika tidak disingkirkan, Adven dan Natal menjadi biasa-biasa saja dan tidak ada artinya bagi kita.

Maka, mari memeriksa batin kita, apakah kita sudah sungguh-sungguh menghormatiNya sebagai Tuhan? Mari kita mohon kepada Tuhan Yesus agar kita menjadi lebih peka untuk mengalami kehadiran-Nya di dalam Misa Kudus. Dan juga agar Ia memampukan kita untuk melihat diri-Nya di dalam diri orang-orang yang ada di sekitar kita, anggota keluarga, terutama mereka yang sakit, miskin dan menderita, serta mereka yang sering kita acuhkan, misalnya pembantu di rumah, supir dan office-boy/ office-girl. Sudahkah kita menyapa mereka dengan kasih? Sudahkah kita mempedulikan mereka? Mereka adalah potret yang nyata akan kehadiran Kristus dalam kemiskinan-Nya di sekitar kita!

Mari belajar dari kandang Natal

Sebab, semakin kita merenungkan Natal, semakin kita menemukan kedalaman misteri kasih dan kerendahan hati-Nya: Kristus yang adalah Allah meninggalkan kemuliaan surgawi dan menjelma menjadi manusia. Ia datang kepada manusia yang dicipta dan dikasihiNya tapi sayangnya, manusia menolak-Nya. Yesus lahir di kandang karena tak ada yang menerima Dia di tempat penginapan. Yesus memilih untuk lahir di kota kecil Betlehem, kota Daud, selain untuk menyatakan diri-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan sebagai keturunan Raja Daud; namun juga untuk menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup, sebab kata Betlehem artinya adalah ‘Rumah Roti’. Maka Ia memilih palungan -tempat makanan ternak- sebagai tempat tidurnya. O, seandainya kita semua memahami betapa besar dan dalamnya kasih Tuhan yang menghampakan diri sampai sejauh ini… untuk menyelamatkan kita. Tidak saja di akhir hidup-Nya di salib, tapi sejak di awal hidup-Nya sebagai seorang bayi, Ia telah memilih tempat yang ter-rendah untuk menghapuskan jarak yang tak terseberangi antara Allah dan manusia. Ya, ini dilakukan oleh-Nya, demi kasih-Nya kepada kita, agar kita semua tak peduli dari golongan apa, dapat datang kepada-Nya. Para gembala dan para majus menjadi contoh bagi kita untuk datang dan menyembah-Nya dengan kerendahan hati. Dan betapa kerendahan hati ini nyata terlihat di dalam Kristus sendiri…

Yesus memilih untuk lahir sebagai orang miskin, untuk mengajarkan kita agar tidak terikat pada kekayaan dunia. Ia memilih untuk lahir di kandang hewan dan dibaringkan di palungan yang beralaskan jerami, untuk mengajarkan agar kita tidak teralu cepat komplain pada keadaan yang tidak nyaman. Ia memilih untuk lahir di tengah-tengah orang sederhana, agar kitapun dapat belajar hidup sederhana, dan beriman dengan sikap yang sederhana pula. Ia memilih untuk lahir di luar keramaian kota, agar kita menemui Dia juga di dalam keheningan dan sikap batin yang tenang. Ia memilih untuk lahir dalam keadaan sangat berkekurangan, agar kita belajar bersyukur dalam segala hal.

Sikap sederhana inilah yang kita perlukan di dalam masa Adven ini. Dalam kesederhanaan ini kita dapat semakin menghayati kebesaran dan kasih Tuhan yang tiada terbatas. Mari kita temukan Kristus di dalam kesederhanaan: di dalam doa, dan perayaan Ekaristi, yang kelihatannya sederhana, sebab Ia Sang ‘Roti Hidup’, memilih untuk hadir di sana. Sesungguhnya ‘kado’ yang paling baik untuk dipersembahkan pada Kristus di hari Natal adalah pertobatan dan kasih kita kepada-Nya. Maka mari kita memeriksa batin, dan dengan jujur mengakui kesalahan dan dosa-dosa kita di hadapan Tuhan. Adakah kita sombong? Terlalu mencari kesenangan dan kekayaan? Terlalu mencari penghargaan dan hormat dari orang lain? Terlalu cepat mengeluh? Suka menghakimi? Sukar mengampuni? ….Tuhan, nyatakanlah kepadaku segala dosakuJangan biarkan dosa ini memisahkan aku dengan Engkau

Mari, kenalilah Tuhan, rindukanlah dan sambutlah Dia!

Mari, saudara dan saudariku, kita berdoa, agar jangan sampai Adven ini berlalu tanpa mengubah kita menjadi lebih baik. Kita yang sudah mengenal Kristus, jangan sampai pura-pura tidak kenal dengan Dia, atau memperlakukan Dia sebagai orang asing di hati kita. Atau, jangan sampai kita tidak mengenali Kristus saat Dia datang kepada kita. Di dalam doa, melalui orang-orang sekitar kita, dan terlebih dalam sakramen Ekaristi, Ia datang pada kita. Mari kita mempersiapkan hati dengan pertobatan yang tulus untuk menyambut kedatangan-Nya. Dengan kerinduan dan hati bersyukur mari kita bermadah, “Datanglah, O Immanuel. Tinggallah di dalam hatiku….”

Persembahan Perpuluhan

60

Pertanyaan:

Kawan saya yang protestan sering menekankan pentingnya persembahan persepuluhan.. bahkan mereka menunjukan ayat yang mendukung itu misalnya “…ujilah Aku…Aku akan membuka tingkap tingkap langit..dst (wah lupa lengkapnya). Jadi mereka merelakan 10% dari penghasilannya untuk gereja karena bagian tersebut wajib dikembalikan kepada Tuhan.

Bagaimana prakteknya pada Katolik… seorang romo pada homili pernah menegaskan bahwa gereja Katolik tidak mengharuskan persembahan persepuluhan, yang terpenting adalah keikhlasan dari persembahan, karena nilai dari persembahan tersebut adalah relatif… bagi si kaya mungkin persepuluhan adalah sesuatu yang mudah.. tetapi bagaimana dengan umat yang hidup pas-pasan, 10%? …,mana tahan…. tetapi persepuluhan ini juga alkitabiah…

Bagaimana kita menyikapi hal ini… kami serahkan tanggapannya pada forum ini… terima kasih
Tormento.

Jawaban:

Shalom Tormento,

Terimakasih atas pertanyaannya yang mungkin sering menjadi pertanyaan umat Katolik. Memang saya juga sering mendengar tentang ayat yang dipakai untuk menekankan pentingnya persembahan persepuluhan. Maka marilah kita melihat bersama-sama meneliti tentang hal ini.

I. Definisi:

Persembahan yang diberikan kepada imam karena dedikasi mereka kepada urusan keagamaan dan juga pelayanan kasih mereka. Dan ini juga menunjuk kepada persembahan kepada Tuhan, sebagai penguasa atas manusia, yang biasanya persembahan ini diberikan kepada para pelayan Tuhan.

II. Dasar dari Kitab Suci di Perjanjian Lama tentang persepuluhan:

Ada beberapa ayat yang dapat kita lihat tentang persembahan persepuluhan, seperti: Abraham memberikan persembahan persepuluhan kepada imam agung Melkizedek (Kej 14:20). Juga menjadi dikatakan bahwa persembahan tersebut adalah sebanyak sepersepuluh (1 Sam 8:15; 1 Sam 8:17), yang menjadi suatu ekpresi akan pengakuan bahwa semua berkat berasal dari Tuhan (Kej 28:22). Dan peraturan ini juga ditegaskan di dalam kitab Imamat 27:30.
Sepersepuluh juga dapat berupa hasil bumi (Im 27:30), hasil ternak (Im 27:32); persembahan kepada Tuhan (2 Taw 31:6).
Dan akhirnya dipertegas di kitab Maleakhi 3:6-12, dimana di ayat 10 dikatakan “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

III. Bagaimana kita mengartikan Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru.

  1. St. Thomas Aquinas (ST, I-II, q. 98-108) mengatakan bahwa ada 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama, yaitu:
    • Moral Law: Moral Law atau hukum moral adalah menjadi bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah yang tertulis di 10 perintah Allah, dimana terdiri dari dua loh batu, yang mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan dipenuhi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.
    • Ceremonial law atau hukum seremonial: sebagai suatu ekpresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan, tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dll. Hukum ini tidak lagi berlaku dengan kedatangan Kristus, karena Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna, Kristus menjadi Anak Domba yang dikurbankan. Itulah sebabnya di Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar. Ulasan ini dapat melihat di jawaban ini (silakan klik ini, dan juga klik ini). Kalau kita mau terus menjalankan hukum seremonial secara konsisten, maka kita harus juga menjalankan peraturan tentang makanan yang lain, seperti larangan untuk makan babi hutan, jenis binatang di air yang tidak bersisik (ikan pari), katak, dll. (Lih Ima 11).
    • Judicial law: Ini adalah merupakan suatu peraturan yang menetapkan hukuman sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dll. Contoh dari judicial law: kalau mencuri domba harus dikembalikan empat kali lipat (Kel 22:1), hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3). Setelah kedatangan Kristus, maka judicial law ini tidak berlaku lagi. Kalau kita mau konsisten, kita juga harus menjalankan hukuman rajam, hukum cambuk, dll.  Judicial law ditetapkan oleh penguasa sebagai perwakilan dari Tuhan, sehingga hukum dapat ditegakkan untuk kepentingan bersama. Menarik bahwa Yesus tidak mengajarkan judicial law, karena judicial law diserahkan kepada kewenangan otoritas pada saat itu. Dan kewenangan disiplin di dalam kawanan Kristus diserahkan kepada Gereja, dimana disiplin ini dapat berubah sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan. Ini juga yang mendasari perubahan Kitab Hukum Gereja 1917 ke 1983.
  2. Dari pengertian di atas, maka perpuluhan dalam pengertian yang luas dapat masuk dalam ketiga kategori di atas. Perpuluhan dapat menjadi bagian dari judicial law kalau setiap orang harus memberikan kontribusi kepada penyembahan secara publik sesuai dengan cara yang dipilihnya. Namun di dalam hukum Musa, perpuluhan di atur dengan cara yang begitu khusus sebagai manifestasi dari penghormatan dan persembahan kepada Tuhan. Dalam pengertian yang luas, perpuluhan dapat menjadi moral law, karena mengatur persembahan kepada Tuhan. Namun, pengaturan tentang hari persembahan, dengan cara bagaimana persembahan tersebut diberikan, masuk dalam kategori ceremonial law. Dan pengaturan bagi pelanggaran perpuluhan masuk dalam kategori judicial law.

IV. Ajaran Gereja Katolik

  1. Dalam Perjanjian Baru:Rasul Paulus mengatakan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7)
    Rasul Paulus tidak mengatakan sepuluh persen, namun menekankan kerelaan hati dan sukacita.
    Yesus mengatakan “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23)
    Yesus menekankan akan hakekat dari pemberian, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Yesus tidak menekankan akan persepuluhan, namun apa yang menjadi dasar perpuluhan.
  2. Kitab Hukum Gereja: Kan. 222 – § 1. Kaum beriman kristiani terikat kewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan Gereja, agar tersedia baginya yang perlu untuk ibadat ilahi, karya kerasulan dan amal-kasih serta sustentasi yang wajar para pelayan.
    § 2. Mereka juga terikat kewajiban untuk memajukan keadilan sosial dan juga, mengingat perintah Tuhan, membantu orang-orang miskin dengan penghasilannya sendiri.
    Kan. 1262
    – Umat beriman hendaknya mendukung Gereja dengan bantuan-bantuan yang diminta dan menurut norma-norma yang dikeluarkan oleh Konferensi para Uskup.
    Kan. 1263
    – Adalah hak Uskup diosesan, sesudah mendengarkan dewan keuangan dan dewan imam, mewajibkan untuk membayar pajak yang tak berlebihan bagi kepentingan-kepentingan keuskupan, badan-badan hukum publik yang dibawahkan olehnya, sepadan dengan penghasilan mereka; bagi orang-perorangan dan badan-badan hukum lain ia dapat mewajibkan pungutan luar biasa dan tak berlebihan hanya dalam kebutuhan
    Jadi tidak ada yang mengatakan spesifik sepersepuluh bagian.

V. Kesimpulan

Dari dua dasar di atas, maka Gereja tidak perlu mendefinisikan seberapa besar sumbangan yang harus diberikan, namun lebih kepada pemberian sesuai dengan kemampuan dan juga dengan kerelaan hati dan sukacita. Namun itu tidak berarti bahwa bagi yang mampu untuk memberikan lebih dari sepuluh persen kemudian hanya memberikan bagian yang sedikit. Bagi yang mampu, seharusnya bukan hanya sepuluh persen, namun malah lebih pada itu, jika diperlukan. Bagi kaum miskin yang memang tidak mampu untuk memberikan sepuluh persen, mereka dapat memberikan sesuai dengan kemampuan mereka. Persembahan juga tidak hanya berupa uang, namun juga bakat dan waktu. Yang terpenting, semua persembahan harus dilakukan berdasarkan kasih kita kepada Tuhan sehingga kita dapat mengasihi sesama dengan lebih baik.

Itulah jawaban yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Tormento. Mari kita mengasihi Tuhan dengan mempersembahkan apa yang ada di dalam diri kita, baik uang, waktu dan talenta.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Bersyukurlah, ada Api Penyucian!

183

Percaya atau tidak, Api Penyucian itu ada

Sewaktu saya tinggal di Filipina, saya pernah menonton sebuah talk-show dari saluran EWTN (Eternal Word Television Network), yang topiknya adalah Api Penyucian. Saya masih ingat, waktu itu pembicaranya yang bernama Mother Angelica, menerima pertanyaan dari pemirsa, yang rupanya tidak percaya akan adanya Api Penyucian, karena tidak ada kata “Api Penyucian” disebut di dalam Alkitab. Mother Angelica menjawab bahwa, memang kata “Api Penyucian” tidak secara eksplisit tercantum di dalam Alkitab, seperti juga kata ‘Trinitas’, atau ‘Inkarnasi’, namun kita percaya akan maksud dari kata-kata tersebut. Yang terpenting adalah ajarannya, bukan istilahnya. Dengan senyumnya yang khas Mother Angelica berkata dengan bijak, “Although you do not believe it, dear, it does not mean that it does not exist.” (Meskipun kamu tidak percaya, itu tidak berarti Api Penyucian tidak ada).

Apa itu Api Penyucian

Api Penyucian atau ‘purgatorium’ adalah ‘tempat’/ proses kita disucikan. Catatan: ‘Disucikan’ bukan ‘dicuci’, oleh sebab itu disebut Api Penyucian (bukan Api Pencucian). Gereja Katolik mengajarkan hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

1) Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.

3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Api Penyucian ada karena keadilan Allah: Dosa selalu membawa konsekuensi

Ada orang-orang yang berpikir bahwa jika Allah mengampuni, maka tidak ada lagi yang harus dipikirkan mengenai ‘akibat dosa’ sebagai konsekuensinya. Namun kenyataannya, hampir seluruh bagian Kitab Suci menceriterakan sebaliknya. Selalu saja ada konsekuensi yang ditanggung oleh manusia, jika ia berdosa terhadap Allah, meskipun Allah telah memberikan pengampunan. Kita melihat hal demikian, misalnya, pada Adam dan Hawa, setelah diampuni dosanya, diusir dari taman Eden (Kej 3:23-24). Raja Daud yang diampuni oleh Allah atas dosanya berzinah dengan Betsheba dan membunuh Uria, tetap dihukum oleh Tuhan dengan kematian anaknya (lihat 2 Sam 12:13-14). Nabi Musa dan Harun yang berdosa karena tidak percaya dan tidak menghormati Tuhan di hadapan umat Israel akhirnya tidak dapat masuk ke tanah terjanji (Bil 20:12). Nabi Zakharia, yang tidak percaya akan berita malaikat Gabriel, menjadi bisu (Luk 1:20). Dan masih banyak contoh lain, yang menunjukkan bahwa, selalu ada konsekuensi dari perbuatan kita.

Keponakan saya yang berumur 4 1/2 tahun mempunyai ‘problem’ kebiasaan (maaf) ‘pipis dan pupu’ di celana, dan tampaknya sering dilakukannya dengan sengaja. Sampai akhirnya sepupu saya mendidiknya demikian: setelah celananya kotor, keponakan saya itu disuruh mencuci sendiri celananya. Dengan hukuman ini, maka ia belajar bertanggung jawab, agar kelak ia tidak mengulangi perbuatan itu. Jika kita yang manusia saja mendidik anak-anak dengan mengajarkan adanya ‘konsekuensi’ demi kebaikan mereka, maka Allah yang jauh lebih bijaksana, juga mendidik kita dengan cara demikian, namun tentu saja dengan derajat keadilan yang sempurna. Sebab pada akhirnya, yang diinginkan Allah adalah kita menjadi benar-benar kudus, sehingga siap untuk bersatu dengan Dia yang Kudus di surga. Kekudusan ini harus menjadi milik jiwa kita sendiri dan bukan seolah-olah kita hanya ‘diselubungi’ oleh kekudusan Kristus, padahal di balik selubung itu jiwa kita masih penuh dosa. Allah menginginkan kita agar kita menjadi kudus dan sempurna (lih. Im 19:2; Mat 5:48). Maka, jika kita belum sepenuhnya kudus, pada saat kita meninggal, kita masih harus disucikan terlebih dahulu di Api Penyucian, sebelum dapat bersatu dengan Tuhan di surga. Pengingkaran akan adanya Api Penyucian sama dengan pengingkaran akan keadilan Tuhan. Padahal Keadilan –sama seperti Kasih dan Kesetiaan- adalah hakekat Tuhan, yang tidak dapat disangkal oleh Tuhan sendiri (lih. 2 Tim 2:13).

Api Penyucian ada karena keadilan Allah: Ada perbedaan antara dosa berat dan dosa ringan

Selain masalah konsekuensi dosa, ada pula pengertian dasar mengenai dosa berat dan dosa ringan yang penting kita ketahui untuk memahami pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ada orang berpendapat bahwa semua dosa sama saja, namun Alkitab tidak mengatakan demikian. Pembedaan dosa berat dan dosa ringan disebutkan di dalam surat Rasul Yohanes. Dosa ringan dikatakan sebagai dosa yang tidak mendatangkan maut, sedangkan dosa berat, yang mendatangkan maut (1 Yoh 5: 16-17). Rasul Yakobus juga membedakan kedua jenis dosa; dengan membedakan dosa yang awal dan dosa yang matang (Yak 1:14-15). Untuk pembahasan lengkap tentang dosa berat dan dosa ringan, silakan membaca artikel ini (silakan klik).

Konsekuensi dari pengajaran ini adalah jika kita meninggal dalam keadaan sempurna dalam rahmat Allah, maka kita dapat langsung masuk surga. Namun, jika kita meninggal dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat, maka kita masuk neraka. Jika kita dalam keadaan di tengah-tengah: meninggal dalam rahmat, namun masih mempunyai dosa ringan atau masih menanggung konsekuensi dari dosa-dosa yang sudah diampuni, maka kita masuk ke ‘tempat’ yang lain, yaitu, Api Penyucian.

Api penyucian ada karena keadilan Allah: Kita diselamatkan bukan hanya karena iman saja, tetapi oleh kasih karunia Allah, yang harus diwujudkan dalam perbuatan kasih.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah oleh iman (lih. Ef 2:8, Tit 2:11; 3:7). Dan iman ini harus dinyatakan dan disertai dengan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka iman kita itu mati (lih. Yak 2:17, 24, 26). Perbuatan kasih yang didasari iman inilah yang menjadi ukuran pada hari Penghakiman, apakah kasih kita sudah sempurna sehingga kita dapat masuk surga atau sebaliknya, ke neraka. Ataukah karena kasih kita belum sempurna, maka kita perlu disempurnakan dahulu di dalam suatu tempat/ kondisi yang ketiga, yaitu yang kita kenal sebagai Api Penyucian.

Sedangkan pada saat kita masih hidup, perbuatan kasih ini dapat dinyatakan dalam bentuk tindakan langsung, kata-kata atau dengan doa. Doa syafaat yang dipanjatkan dapat dinyatakan dengan mendoakan sesama yang masih hidup di dunia, maupun mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Gereja Katolik mengajarkan akan adanya Api Penyucian, dan bahwa kita boleh, atau bahkan harus mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalamnya, agar mereka dapat segera masuk dalam kebahagiaan surgawi.

Dasar dari Kitab Suci

Keberadaaan Api Penyucian bersumber dari ajaran Kitab Suci, yaitu dalam beberapa ayat berikut ini:

1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus, dan kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16). Sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri, bahwa Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.

2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

3. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15) Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’. Sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

4. Rasul Petrus juga mengajarkan bahwa pada akhir hidup kita, iman kita akan diuji, “…untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan… pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet 1:7). Rasul Petrus juga mengajarkan,

“Kristus telah mati untuk kita … Ia, yang yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan oleh Roh, dan di dalam Roh itu pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, yaitu roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah…” (1 Pet 3: 18-20). Roh-roh yang ada di dalam penjara ini adalah jiwa-jiwa yang masih terbelenggu di dalam ‘tempat’ sementara, yang juga dikenal dengan nama ‘limbo of the fathers’ (‘limbo of the just‘). Selanjutnya Rasul Petrus juga mengatakan bahwa “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati supaya oleh roh, mereka dapat hidup menurut kehendak Allah” (1 Ptr 4:6). Di sini Rasul Petrus mengajarkan adanya tempat ketiga selain surga dan neraka, yaitu yang kini disebut sebagai Api Penyucian.

5. Kitab 2 Makabe 12: 38-45 adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ketika Yudas Makabe dan anak buahnya hendak menguburkan jenazah pasukan yang gugur di pertempuran, mereka menemukan adanya jimat dan berhala kota Yamnia pada tiap jenazah itu. Maka Yudas mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati. Korban penebus salah ini ditujukan agar mereka yang sudah mati itu dilepaskan dari dosa mereka (ay. 45).
Memang saudara-saudari kita yang Kristen non-Katolik tidak mengakui adanya Kitab Makabe ini, namun ini tidak mengubah tiga kenyataan penting: Pertama, bahwa penghapusan Kitab Makabe ini sejalan dengan doktrin Protestan yang mengatakan bahwa keselamatan hanya diperoleh dengan iman saja atau “Sola Fide, Salvation by faith alone”, walaupun Alkitab tidak menyatakan hal itu. Sebab kata ‘faith alone’/ ‘hanya iman’ yang ada di Alkitab malah menyebutkan sebaliknya, yaitu “…bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”/ not by faith alone (Yak 2:24). Maka, berdoa bagi orang meninggal yang termasuk sebagai perbuatan kasih, menurut Luther tidak mempengaruhi keselamatan, sedangkan menurut Gereja Katolik itu merupakan hal yang mulia, yang jika dilakukan di dalam iman, akan membawa kita dan orang-orang yang kita doakan kepada keselamatan oleh karena kasih karunia Tuhan Yesus.
Kedua, tradisi berdoa bagi jiwa orang-orang yang sudah meninggal merupakan tradisi Yahudi, yang dimulai pada abad ke-1 sebelum Masehi, sampai sekarang. Maka, tradisi ini juga bukan tradisi yang asing bagi Yesus. Ketiga, Kitab Makabe ini bukan rekayasa Gereja Katolik, sebab menurut sejarah, kitab ini sudah selesai ditulis antara tahun 104-63 sebelum masehi. Karena itu kita dapat meyakini keaslian isi ajarannya. Lebih lanjut tentang hal ini, silakan klik di sini.

6. Rasul Paulus mendoakan sahabatnya Onesiforus yang rajin mengunjunginya sewaktu ia dipenjara, agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada sahabatnya itu ‘pada hari penghakiman’ (lihat 2 Tim 1:16-18). Rasul Paulus berdoa agar Tuhan berbelas kasihan kepada jiwa sahabatnya itu pada saat kematiannya.[1] Hal ini tentu tidak masuk akal jika doa yang dipanjatkan untuk orang yang meninggal tidak ada gunanya. Sebaliknya, ini merupakan contoh bahwa doa-doa berguna bagi orang-orang yang hidup dan yang mati. Tradisi para rasul mengajarkan demikian. Selanjutnya tentang Onesiforus (bahwa ia sudah wafat) sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Selanjutnya, keberadaan Api Penyucian berkaitan dengan Gereja Katolik tentang dua macam ‘hari penghakiman’.[2] Yang pertama, ‘particular judgment’ (pengadilan khusus), yaitu sesaat setelah kita meninggal, saat kita masing-masing diadili secara pribadi oleh Yesus Kristus; dan kedua adalah ‘general/ last judgment’ (pengadilan umum/ terakhir), yaitu pada akhir zaman, saat kita diadili oleh Yesus Kristus di hadapan semua manusia:

1. Segera setelah kita meninggal, kita akan diadili, dan ini dikenal sebagai ‘pengadilan khusus’. “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9:27) Kisah orang kaya dan Lazarus juga menggambarkan akibat penghakiman yang diadakan segera setelah kematian (Luk 16:19-31). Setelah diadili secara pribadi, jiwa-jiwa ditentukan untuk masuk Surga, Api Penyucian atau Neraka sesuai dengan perbuatan manusia tersebut. Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan kudus, maka jiwa kita dapat segera masuk surga. Jika belum sepenuhnya kudus, karena masih ada faktor ‘cinta diri’ yang menghalangi persatuan sepenuhnya dengan Tuhan, maupun masih ada akibat dosa yang harus kita tanggung, maka jiwa kita disucikan dulu di Api Penyucian. Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat maka keadaan ini membawa jiwa kita ke neraka.

2. Pada akhir jaman, setelah kebangkitan badan, kita (jiwa dan badan) akan diadili dalam Pengadilan Umum/ Terakhir. Pada saat inilah segala perbuatan baik dan jahat dipermaklumkan di hadapan semua mahluk, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak diketahui dan diumumkan”(Luk 8: 17). Pada saat itu, seluruh bangsa akan dikumpulkan di hadapan tahta Kristus, dan Dia akan mengadili semua orang: yang baik akan dipisahkan dengan yang jahat seperti memisahkan domba dan kambing (lih. Mat 25: 32-33). Hasil Pengadilan itu akan membawa penghargaan ataupun penghukuman, bagi jiwa dan badan. Tubuh dan jiwa manusia bersatu di Surga, apabila ia memang layak menerima ‘penghargaan’ tersebut; inilah yang disebut sebagai kebahagiaan sempurna dan kekal di dalam Tuhan. Atau sebaliknya, tubuh dan jiwa manusia masuk ke neraka, jika keadilan Tuhan menentukan demikian, sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri; inilah yang disebut sebagai siksa kekal.

Setelah akhir jaman, yang ada tinggal Surga dan Neraka, tidak ada lagi Api Penyucian, sebab semua yang ada di dalam Api Penyucian akan beralih ke Surga.

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja dan Tradisi Suci Gereja

1. Tertullian (160-220), mengajarkan agar para istri mendoakan suaminya yang meninggal dan mendoakannya dengan Misa Kudus, setiap memperingati hari wafat suaminya.[3]

2. St. Cyril dari Yerusalem (315-386) mengajarkan agar kita mempersembahkan permohonan bagi orang-orang yang telah meninggal, dan mempersembahkan kurban Kristus [dalam Misa Kudus] yang menghapus dosa-dosa kita dan mohon belas kasihan Allah kepada mereka dan kita sendiri.[4]

3. St. Yohanes Krisostomus (347-407) mengajarkan agar kita rajin mendoakan jiwa sesama yang sudah meninggal.”Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh Bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.[5]

4. St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut.[6]

5. St. Gregorius Agung (540-604),“Kita harus percaya bahwa sebelum Pengadilan [Terakhir] masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, [sedangkan dosa] yang lain di dunia lain.”[7]

6. Konsili Firenze (1439) dan Trente (1563), menjabarkan doktrin tentang Api Penyucian ini.[8] Konsili Firenze menyebutkan, “Dan jika mereka bertobat dan meninggal dalam kasih Tuhan sebelum melunasi penitensi dosa mereka…, jiwa mereka dimurnikan setelah kematian dalam Api Penyucian. Untuk membebaskan mereka, tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman yang masih hidup dapat membantu mereka, yaitu: Kurban Misa, doa-doa, derma, dan perbuatan kudus lainnya yang diberikan untuk umat beriman yang lain, sesuai dengan praktek Gereja. Hal demikian dinyatakan kembali dalam Konsili Trente, yang menegaskan keberadaan Api Penyucian, perlunya tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman untuk mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalamnya, terutama dengan Misa Kudus.

Terlihat di sini bahwa pengajaran tentang Api Penyucian bukanlah ‘karangan’ manusia, melainkan berdasar pada Kitab Suci dan diturun temurunkan dengan setia oleh Gereja. Jika kita manusia harus memilih, tentu lebih ‘enak’ jika tidak ada konsekuensi yang harus kita bayar. Misalnya, pada anggapan: ‘Pokoknya sudah beriman pasti langsung masuk surga. Sekali selamat, pasti selamat.’ Gereja Katolik, yang setia pada pengajaran para rasul, tidak mengajarkan demikian. Walau kita telah menerima rahmat keselamatan melalui Pembaptisan, kita harus menjaga rahmat itu dengan setia menjalani segala perintah Tuhan sampai akhir hidup kita. Jika kenyataannya kita belum sempurna, namun kita sudah ‘keburu’ dipanggil Tuhan, maka ada kesempatan bagi kita untuk disucikan di Api Penyucian, sebelum kita dapat masuk ke surga. Bukankah kita perlu bersyukur untuk hal ini? Sebab jika tidak ada Api Penyucian, betapa sedikitnya orang yang dapat masuk surga!

Jadi, ingatlah ketiga hal ini tentang Api Penyucian

  1. Hanya orang yang belum sempurna dalam rahmat yang dapat masuk ke dalam Api Penyucian. Api Penyucian bukan merupakan kesempatan kedua bagi mereka yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat dari dosa berat.
  2. Api Penyucian ada untuk memurnikan dan memperbaiki. Akibat dari dosa dibersihkan, dan hukuman/ konsekuensi dosa ‘dilunasi’.
  3. Api Penyucian itu hanya sementara. Setelah disucikan di sini, jiwa-jiwa dapat masuk surga. Semua yang masuk Api Penyucian ini akan masuk surga. Api Penyucian tidak ada lagi pada akhir jaman, sebab setelah itu yang ada hanya tinggal Surga dan neraka.

Jangan ragu mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalam Api Penyucian

Ayah saya meninggal pada tahun 2003 yang lalu. Saya selalu mengenangnya, terutama akan segala teladan iman dan kasihnya semasa hidupnya. Saya bersyukur bahwa sebelum wafatnya, ia sempat menerima sakramen Pengurapan orang sakit dan menerima Komuni Suci. Sejak saat meninggalnya sampai sekarang, saya mengingatnya dalam doa-doa saya setiap hari, saat saya mengikuti Misa kudus, dan secara khusus saya mempersembahkan ujud Misa baginya, yaitu pada saat memperingati hari wafatnya, hari arwah, dan hari ulang tahunnya. Saya percaya, bahwa sebagai sesama anggota Tubuh Kristus,  tidak ada yang dapat memisahkan kami, sebab kami dipersatukan di dalam kasih Kristus. Tentu saya berharap agar jiwa ayah saya sudah dibebaskan dari Api Penyucian, dan dengan demikian, Tuhan dapat mengarahkan doa saya untuk menolong jiwa- jiwa yang lain.

Dengan mendoakan mereka yang sudah meninggal, saya diingatkan bahwa suatu saat akan tiba bagi saya sendiri untuk dipanggil Tuhan. Dan saat itu sayapun membutuhkan doa-doa dari saudara/i seiman. Semoga mereka yang telah saya doakan juga akan mendoakan jiwa saya, jika tiba saatnya nanti. Demikianlah, indahnya kesatuan kasih antara umat beriman. Kita saling mendoakan, bukan karena menganggap kuasa Tuhan kurang ‘ampuh’ untuk membawa kita kepada keselamatan. Melainkan karena kita menjalankan perintah-Nya, yaitu agar kita saling mendoakan dan saling menanggung beban, untuk memenuhi hukum Kristus (Gal 6:2); dan dengan demikian kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan. Sebab di dalam Kristus, kita semua memiliki pengharapan akan kasih Tuhan yang mengatasi segala sesuatu. Maka kita dapat berkata bersama Rasul Paulus, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:38-39).


[1] Dom Bernard Orchard MA, A Catholic Commentary on Holy Scripture, general editor, (Thomas Nelson and Sons, New York, 1953), p. 1148, ayat ini menunjuk kepada kematian Onesiforus.

[2] Spirago-Clarke, The Catechism Explained, an Exhaustive Explanation of the Catholic Religion, TAN Books and Publishers, Inc.,1921, reprint 1993, p. 256, 270.

[3] Tertullian, “On Monogamy”, Chap 10, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers (Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, original print by Herder and Herder, 1966) p. 457.

[4] Lihat St. Cyril dari Yerusalem, Catecheses, 23:10, seperti dikutip oleh John R. Willis, Ibid., p. 418.

[5] St. Yohanes Krisostomus, Homili 1 Kor 4:1,5, seperti dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik 1032.

[6] Lihat St. Agustinus, The City of God, Bk 21, Chap. 13, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, Ibid., p. 456-457.

[7] St. Gregorius Agung, Dial 4, 39, seperti dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik 1031.

[8] J. Neuner, SJ- J. Dupuis, SJ, The Christian Faith in the Doctrinal Documents of the Catholic Church, (Theological Publications in India, Bangalore, 7th revised and enlarged edition, 2001), p. 1020-1021.

 

Proses dan tantangan dalam katekese

8

Pertanyaan:

Pak Stef yang baik… Salam dalam Kristus
Mengapa menjadi Katolik kok susah ya.. khususnya bagi orang yang tidak terpelajar (illiterate)… di daerah asal istri saya (kepulauan) masih banyak orang dewasa yang buta huruf dan kebanyakan dari suku tionghoa yang totok sehingga bicara bahasa indonesia saja sepotong2 campur bahasa melayu lagi.. (herankan… hare gini masih ada yang buta huruf? tapi ini fakta lho), tetapi bukan berarti gereja tidak dapat bertumbuh di antara mereka, banyak sekali gereja (tentunya non Katolik) disana…

setelah saya selidiki … memang untuk urusan “menjaring jiwa” saya harus angkat 2 jempol kepada saudara kita dari Kristen non Katolik, mereka begitu agresif dalam pewartaan bagi semua orang termasuk yang tak terpelajar.. dan begitu mereka menyatakan mantap menjadi Kristen, maka langsung diBaptis selam… jadilah mereka seorang Kristen…

Coba bandingkan dengan menjadi Katolik… harus mengikuti katekumen dulu selama lebih kurang 1 tahun
harus menghafal doa2 wajib, menghayati hukum gereja, mengerti tata cara perayaan Ekaristi yang mungkin bagi mereka sangat rumit dan melelahkan (bagaimana tidak baca saja susah…)sehingga akibatnya gereja Katolik “tidak populer” diantara mereka, atau… apakah gereja Katolik hanya untuk mereka yang pernah mengecap bangku sekolah dan secara eksklusif berdiri di kota-kota besar saja… mohon tanggapannya terima kasih – Tormento

Jawaban:

Shalom Bapak Tormento yang dikasihi Tuhan,
Terimakasih atas pengamatan Pak Tormento terhadap Gereja Katolik dan penginjilan yang dilakukannya. Ini menunjukkan bahwa Pak Tormento mengasihi Gereja Katolik. Mari kita melihat pertanyaan-pertanyaan Pak Tormento.

I. Proses Katekese untuk menjadi seorang Katolik
.

  1. Untuk daerah-daerah yang mempunyai kendala dalam hal bahasa dan komunikasi, memang menjadi tantangan tersendiri bagi Gereja Katolik untuk mewartakan kabar gembira kepada mereka. kita bersama-sama harus berdoa agar muncul katekis-katekis baru yang dapat mengerti bahasa lokal, sehingga komunikasi tidak lagi menjadi kendala. Tidak dapat membaca, tidak menghalangi mereka untuk menjadi murid Kristus. Kita melihat bahwa sebelum abad ke-12, mayoritas bangsa-bangsa di Eropa tidak dapat membaca dan menulis. Namun pada abad-abad tersebut kekristenan dapat berkembang dengan baik. Jadi, tidak benar bahwa Gereja Katolik hanya untuk konsumsi orang-orang yang berpendidikan. Jangan lupa juga bahwa Paus kita yang pertama, St. Petrus, dan juga para rasul adalah orang-orang yang datang dari kalangan yang sederhana.
  2. Namun tentu saja menjadi tantangan bagaimana Pastor atau para katekis dapat menyampaikan pengajaran kepada mereka dengan baik. Mungkin mereka harus mempunyai bahan-bahan pengajaran yang banyak gambar, video, dll. Mengapa Gereja tidak dapat memperbolehkan seseorang langsung dibaptis (kecuali dalam kondisi darurat), walaupun mereka telah percaya? Gereja percaya bahwa seseorang tidak dapat mengasihi kalau tidak tahu. Bagaimana seseorang dapat merayakan dan mengasihi Ekaristi, kalau dia tidak tahu bahwa di dalam Ekaristi, Yesus sendiri yang menjadi Korban dan penderitaan Kristus yang sama dihadirkan kembali. Untuk itulah diperlukan waktu untuk belajar tentang iman Katolik dengan baik.
    Ini terjadi dalam komunitas-komunitas yang lain, seperti kalau kita masuk ke universitas, maka kita menjalani suatu proses inisiasi. Baptisan adalah suatu rahmat yang begitu besar, karena seseorang menerima rahmat kekudusan dan dengan demikian menjadi anak Allah melalui Kristus, dan pada saat yang bersamaan menjadi anggota Gereja. Dalam perkembangan proses katekese, dahulu orang harus belajar selama tiga tahun baru dapat dibaptis.
  3. Jadi sebenarnya, dalam proses katekese yang sekarang, yaitu sekitar satu tahun, merupakan suatu proses bagi katekumen (calon baptis) untuk semakin menghayati apakah yang benar-benar dipercayai oleh Gereja Katolik. Dan setelah mereka tahu tentang iman Katolik, percaya, dan mempunyai tekad yang teguh untuk menjalankannya, serta secara sadar ingin bersatu dengan Kristus dan Gereja-Nya, maka mereka dapat dibaptis. Secara prinsip, satu tahun (atau waktu yang ditentukan oleh keuskupan setempat) adalah waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan calon baptis, walaupun tentu saja ada beberapa pengecualian, misalkan: untuk orang-orang yang lanjut usia, atau dalam kondisi-kondisi khusus.
  4. Yang perlu diajarkan kepada katekumen sebelum dibaptis: Apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik dapat dilihat di dalam Katekismus Gereja Katolik, yang terdiri dari empat pilar yang semuanya bersumber pada Kristus, yaitu:
    • Aku Percaya (apakah yang dipercayai atau diimani oleh Gereja)
    • Sakramen (bagaimana untuk merayakan apa yang kita percayai)
    • Ajaran bagaimana untuk Hidup dalam Kristus atau Moral (bagaimana hidup sesuai dengan apa yang dipercayai)
    • Doa (bagaimana untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ajaran Allah serta bagaimana untuk mendapatkan relasi pribadi dengan Allah).
      Jadi dari empat pilar ini, kita melihat adanya dimensi vertikal dan horisontal, dimensi pribadi dan komunitas, fokus terhadap pribadi Kristus dan bagaimana untuk mengikuti Kristus dengan baik dengan bergantung pada rahmat Allah dan kerjasama dari kita masing-masing terhadap rahmat Allah.

II. Tantangan bagi proses katekese:

  1. Yang menjadi masalah adalah, seringkali, walaupun sudah dipersiapkan selama satu tahun, banyak dari antara mereka yang tidak benar-benar mengerti tentang iman Katolik yang benar, sehingga mudah sekali bagi mereka untuk berpindah agama. Sungguh suatu hal yang memprihatinkan. Kita bersama-sama dengan hirarki harus memikirkan bagaimana caranya agar Gereja melalui para katekis dan para Pastor dapat membuat katekumen benar-benar tahu dan mengasihi iman Katolik. Mungkin program yang dipakai sama, namun cara menyampaikannya yang berbeda, atau kalau memang diperlukan, programnya dapat diperbaiki. Dan semua ini tidak lepas dari pentingnya untuk melatih para katekis, sehingga mereka dapat menyampaikan kebenaran secara lebih efektif dan lebih baik.
  2. Semoga Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada para Pastor dan para katekis, agar mereka dapat benar-benar memberikan pengajaran yang baik bagi para calon baptis.
  3. KIta tentu saja dapat belajar dari gereja-gereja lain, bagaimana agar para calon baptis benar-benar dapat mencintai Sabda Allah, dan agar Sabda Allah ini juga dapat mewarnai kehidupan mereka setelah dibaptis.

III. Menjadi seorang Katolik yang baik lebih sulit daripada proses katekese untuk dibaptis.

  1. Kita bersama-sama harus mengambil bagian dalam karya evangelisasi ini. Kita dapat melakukannya dalam kapasitas kita masing-masing. Bagi Pak Tormento, dengan segala permasalahan kehidupan, namun Bapak terus bertahan di dalam Gereja Katolik, adalah suatu kesaksian yang baik. Kesetiaan ini tentu saja diperhitungkan oleh Tuhan, walaupun tentu saja semua orang berjuang untuk hidup lebih kudus setiap hari dan seringkali harus mengorbankan kesenangan diri kita.
  2. Kita juga tahu bahwa dalam kehidupan kita masing-masing bahwa tidak mudah untuk hidup kudus dan mengikuti semua perintah Tuhan. Kita sering jatuh bangun. Dan proses katekese selama satu tahun juga untuk mempersiapkan para calon baptis agar pada saat mengalami kesulitan dan penderitaan, mereka dapat terusbergantung kepada Tuhan.

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan. Mari kita bersama-sama berjuang untuk hidup kudus, sehingga kita dapat menjadi terang Kristus. Dan kita berdoa agar lebih banyak lagi katekis yang dapat mengajarkan iman Katolik yang begitu indah dengan baik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Semua agama tidak murni dan percuma saja

4

Pertanyaan:

Shalom Stef & Ingrid,

Terima kasih atas jawabannya atas pertanyaan mengapa doa Bapa Kami di Katholik sedikit berbeda dengan yang ada di Alkitab. Setelah saya membacanya, barulah saya menyadari bahwa alkitab yang saya miliki itu adalah terbitan LAI. Terima Kasih Stef & Ingrid. Pengalaman membaca tulisan2 di katolisitas.org ini sangat berkesan & mempertebal iman Katholik saya. Hal itu saya ceritakan kepada rekan2 saya yang se-iman. Mereka kemudian melihat situs ini dan menanggapinya secara positive. Namun ada juga rekan saya yang menanggapinya secara “dingin” dengan mengemukakan alasan2 yang diluar dugaan saya. Namun untuk menanggapinya, saya katakan saat ini saya belum bisa.

Saya copy & paste dari email rekan saya :

[Dari admin: saya hapus isi e-mail dari teman Adrianus, dan saya meringkasnya. Kami menganjurkan agar teman Adrianus sendiri yang mengajukan keberatan satu persatu ke katolisitas.org, sehingga kami dapat menjawabnya point demi point. Hal ini untuk menghindari dialog yang mungkin berkepanjangan. Berikut ini adalah point-point yang diajukan oleh teman Adrianus:

  1. Inti dari e-mail teman Adrianus, ingin mengatakan bahwa semua agama itu percuma saja, karena agama yang ada sekarang tidak murni lagi, namun telah tercemar dengan ritual dan birokrasi yang tidak perlu.
  2. Setelah itu, dia mengajukan list yang panjang tentang penyelewengan dan pembuktian akan praktek-praktek agama yang dianggap salah. Yang akhirnya membuktikan bahwa semua agama lebih berfokus pada kosmetik luar tanpa melihat hakikat dari hubungan manusia dan Allah.
  3. Dan semua agama timbul untuk mengakomodasi upacara ritual, sehingga diperlukan institusi, seperti:  jabatan-jabatan seperti pastor, uskup, paus. Agama juga  saling terpecah dan mempunyai konflik.
  4. Jadi akhirnya dia tidak mau memilih agama apapun, karena agama hanyalah mengkotak-kotakan manusia. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil esensi, yaitu di kotak Allah.]

Untuk menjaga etika, sengaja saya tidak cantumkan nama rekan saya tsb.
Stef & Ingrid, saya tidak tahu bagaimana menanggapi tulisan ini. Bisakah Stef & Ingrid membantu saya untuk menjelaskan? Agar nanti saya bisa menjelaskan kepadanya?.
Semoga Tuhan memberkati karya-karya Stef & Ingrid.
Terima Kasih. Adrianus

Jawaban:

Shalom Adrianus,
Berikut ini adalah jawaban untuk teman anda yang ingin kembali ke ‘esensi pengajaran Allah’ namun tidak mau memeluk agama tertentu, karena menurutnya agama-agama adalah buatan manusia: 1) yang tidak murni, 2) yang berupa kosmetik luar 3) yang merupakan institusi semata yang mengakomodasi jabatan-jabatan (imam, pemuka agama).
Pertama-tama, harus kita akui bahwa mungkin dia berpendapat demikian justru karena semangatnya untuk mencari kebenaran yang sejati dan objektif yang bukan ditentukan oleh manusia. Sebenarnya keinginan mencari kebenaran yang objektif, jika terus dilakukan dengan tulus dan rerus menerus, maka akan mengarah kepada Kristus, yang kepenuhan ajaranNya berada dalam Gereja Katolik. Namun memang kita tidak dapat memaksakan hal ini kepadanya. Yang dapat kita lakukan adalah ‘menaburkan biji’ iman, dan selanjutnya, kita biarkan Tuhan yang melanjutkan karya-Nya di dalam hidup teman anda itu.

Sebenarnya, justru karena kita yakin akan adanya kebenaran yang objektif (yang dapat diterima semua orang), maka kita menjadi Katolik. Karena dasar iman kita didukung oleh ‘motives of credibility’ atau kredibilitas mendasar yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya; yaitu:

  1. Nubuat kedatangan Kristus Sang Mesias ke dunia sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia telah dinubuatkan sejak lama, sekitar 20 generasi. Ini adalah kebenaran objektif yang tak dapat dipungkiri, karena yang menyimpan bukti nubuatan dalam kitab suci yang pertama-tama adalah kaum Yahudi (bukan hanya penganut Kristen saja). Hanya saja bangsa Yahudi tidak percaya kepada Kristus sebagai Mesias, karena gambaran mesias yang mereka harapkan adalah seorang pemimpin politik seperti Raja Daud yang membangun kerajaan duniawi. Lebih lanjut tentang nubuatan ini silakan membaca (silakan klik)  Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi dan Mengapa kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan
  2. Hanya Yesus Kristus pemimpin agama yang dapat melakukan mukjizat-mukjizat yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa, dari menenangkan badai angin ribut, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dst. Mukjizat yang terbesar adalah kebangkitan-Nya sendiri dari kematian. Hal ini tidak pernah dipungkiri oleh orang-orang yang hidup pada jaman itu sebab saksi-saksi mata yang masih hidup dapat menjamin kebenaran ini. Pendapat yang menentang kebangkitan Yesus hanya muncul beberapa abad kemudian, pada saat saksi-saksi mata sudah tiada, sehingga justru keberatan ini yang mestinya dipertanyakan dasar faktanya. Lebih lanjut tentang uraian bukti ke-Allahan Yesus dapat dibaca di artikel, (silakan klik) Kristus yang kita imani= Yesus menurut sejarah
  3. Karya keselamatan Kristus masih berlangsung sampai sekarang, terlihat dari kesatuan Gereja-Nya yang bertahan selama 2000 tahun lebih ini, dengan 4 sifat khasnya, satu, kudus, katolik (universal) dan apostolik. Hal ini adalah mukjizat kedua terbesar setelah kebangkitan Kristus. Karena tidak ada organisasi di dunia ini yang bertahan sampai sekian lama, dalam kesatuan di bawah seorang pemimpin (yaitu Bapa Paus). Karena kesatuan dengan Bapa Paus ini, maka Gereja Katolik mempunyai satu suara dalam mengartikan pengajaran Tuhan, yang esensinya tidak dapat berubah sepanjang segala abad. Segala kebenaran yang telah dinyatakan oleh Kristus, tidak dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman atau atas kehendak seseorang. Dengan demikian, kita dapat yakin, bahwa pengajaran yang disampaikan oleh Gereja merupakan kebenaran objektif. Lebih lanjut, dapat dibaca rangkaian artikel ini, Mengapa kita memilih Gereja Katolik, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda kasih Tuhan, bagian 1,2,3,4,5) silakan klik.
    Kenyataan adanya banyak denominasi gereja sekarang ini tidak mengaburkan kenyataan bahwa Gereja Katolik tetap satu. Gereja-gereja yang lain adalah yang memisahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik, atau yang didirikan di luar dari kesatuan Gereja Katolik.

Jadi berdasarkan dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Gereja Katolik bukan ‘bikinan’ orang semata-mata, karena jika demikian, sudah sejak lama ‘bubar’. Kenyataannya, walaupun diterpa macam-macam halangan, ajaran sesat, bahkan faktor kelemahan manusia yang menjadi pemimpinnya di masa lampau, tidak dapat ‘menghapuskan’ keberadaan Gereja Katolik. Ini yang, menurut saya, menjadi tanda objektif bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang murni didirikan oleh Tuhan sendiri, sesuai dengan janji-Nya untuk mendampingi Gereja-Nya sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18, 28:19-20). Dan dengan keyakinan bahwa Gereja Katolik adakah yang didirikan oleh Kristus sendiri, kita memiliki dasar yang kuat untuk mempercayai kemurnian ajarannya, yang dipasrahkan secara turun temurun, apalagi jika kita tidak menemukan kontradiksi antara ajaran di abad dahulu sampai abad sekarang.

Mengenai apakah Gereja menjadi seolah ‘kosmetik luar’, saya rasa tidak demikian, walaupun secara objektif kita melihat ada semacam ‘aturan main’ yang harus dipenuhi di level pelaksanaannya, seperti mengisi formulir baptis, dst. Hal ini sebenarnya malah membuktikan ‘keseriusan’ dan ‘nilai penting’ akan peristiwa itu yang tidak saja berkaitan dengan orang tersebut secara pribadi, tetapi juga dalam kaitannya sebagai bagian dari keseluruhan umat Allah. Sebab, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita diciptakan bukan sebagai mahluk yang terisolasi tetapi sebagai mahluk sosial. Maka soal iman tidak dapat hanya dilihat ‘antara aku dengan Tuhan’ saja, tetapi bagaimana mewujudkan iman itu bersama-sama dan dalam keharmonisan dengan umat beriman yang lain.

Peraturan yang ada di dalam Gereja tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai ‘perangkat’ luar, tetapi selalu ada kaitannya dengan doktrin yang mendasarinya, demi menjaga keteraturan dan keharmonisan umat beragama. Hal ini sangat jelas jika kita membaca Kitab Hukum Kanonik Gereja 1983, yang jelas menjabarkan doktrin sebagai dasar dari penetapan peraturan yang lain.

Tentang Gereja hanya merupakan institusi, juga saya rasa keliru, sebab institusi hanya ada untuk mendukung esensi Gereja sebagai ‘Bangsa pilihan Allah’ yang baru, yang memang memerlukan para pemimpin yang dapat mengarahkan umat dalam kesatuan. Hal ini umum kita lihat prakteknya pada bangsa manapun di dunia. Dengan institusi, bukan berarti kita tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Allah, namun menggabungkan hubungan pribadi dengan Allah itu di dalam kesatuan umat beriman dengan Allah sendiri. Tanpa institusi, hubungan kita dengan Allah menjadi hubungan pribadi semata, dan dapat cenderung subjektif, dan tanpa disadari setiap pribadi bertindak sebagai ‘hakim’ atas apa yang ia pandang benar. Akhirnya, sikap ini malah bertentangan dengan maksud utama mencari kebenaran sejati. Sebab ujungnya berakhir pada diri pribadi yang menginterpretasikan ‘kotak’ Allah tersebut.

Memang harus diakui bahwa soal iman adalah karunia Allah, maka kita tidak dapat memaksa seorangpun untuk menerima apa yang kita imani. Kalau kita sungguh mencari kebenaran, maka jika akhirnya kita menemukan bukti-bukti yang kuat yang menunjukkan kebenaran itu; kita dihadapkan kepada dua pilihan, maukah kita percaya, ataukah kita tetap memegang pengertian kita sendiri. Tuhan tidak pernah memaksa seseorang untuk percaya, sebab Ia menghormati kehendak bebas kita. Namun berbahagialah mereka yang percaya dan hidup sesuai dengan perintah-perintahNya, sebab janji keselamatan Tuhan akan dipenuhkan di dalam mereka.

Semoga tulisan di atas berguna untuk menanggapi pendapat teman Adrianus. Di sini saya hanya menuliskan yang berkaitan dengan agama Katolik. Jika ingin mengetahui pandangan agama yang lain, silakan menghubungi mereka yang bersangkutan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati  – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab