Home Blog Page 317

Siapa saja yang dapat diselamatkan?

47

Pertanyaan:

Shalom,saya ingin menyampaikan beberapa pertanyaan dari seorang teman, dia bertanya pada saya tentang konsep keselamatan katolik dan saya menyadur dari website ini. berikut ini adalah tanggapan dari teman saya itu (kata2 dia dlm bahasa inggris), mohon bpk & ibu bersedia menanggapi. terimakasih sebelumnya, Salam kasih persaudaraan dalam Kristus.

>> Well… It’s the doctrine of salvation, It’s gonna take a while explaining it, but I have to say that if you say that the answer to that is: quote: “Gereja Katolik mengajarkan bahwa …, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]” It is going to create new problems.

1) First problems that came to mind is: Will a really good, loving ATHEIST be saved?? one that curses at the name of God, let alone Jesus but his attitude is good morally. “Hukum kasih” here needs more explanation, is it moral wise?

2) points 13 i dont understand, agak ambigu. how do you know “gerakan” itu came from God? and some not from God? how do you differentiate them? Some atheist are better than Christian morally. how do you explain that?

3) Now If a person who know nothing about Christ can be saved by good will, then WHAT IS THE MEANING OF EVANGELISM?? (apa gunanya penginjilan?)masuk ke pedalaman, etc. and risking they rejecting Christ and have 0% chance of salvation? leave them alone and let them be saved by their good will

quote: “[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.
[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.””

>> I think this is another contradiction, I found this weird but please explain though, so you’re saying that a person who NEVER even heard of Christ could be saved, but other Christ believing Christian who knew that catholic is built by Jesus Christ and still refuses to join inside the Catholic church can NOT be saved? regardless whatever?
If It’s true then I have to say that evangelism is pretty deadly… Let alone granting salvation, It’s a double edged sword.
It’s WAY better to teach them good acts than evangelizing and let them have a chance to reject, right?

Jadi:
1) orang yang ga kenal kristus sama sekali tapi perbuatannya bae seperti kebanyakan ilmuwan2 atheis yang percaya teori evolusi dan big bang jaman sekarang BISA masuk surga?

2) Orang yang kenal kristus tapi menolak untuk menerima sebagai juru selamat tapi perbuatannya saleh bisa masuk surga? (contoh: mahatma gandhi) aku ga tanya dia skrg ada di mana deh, aku tanya dia BISA (memiliki kemungkinan, lewat purgatory, etc) untuk MASUK ke surga atau ngga?)

gimana? Sesilia

Jawaban:

Shalom Sesilia,

Terimakasih atas pertanyaannya yang cukup sulit. Memang masalah keselamatan adalah masalah yang begitu sulit, namun begitu penting. Setiap agama mempunyai konsep tentang keselamatan sendiri-sendiri. Dan konsep keselamatan dari Gereja Katolik berbeda dengan gereja Protestan, dan antara denominasi Kristen kadang juga memberikan konsep yang berbeda. Mari kita melihat konsep keselamatan yang diberikan oleh Gereja Katolik, sebuah konsep keselamatan yang begitu baik dan menyeluruh. Keselamatan diberikan kepada manusia melalui Kristus dan Gereja-Nya, Gereja Katolik, inilah sebenarnya prinsip ajaran mengenai EENS (Extram Ecclesiam Nulla Salus):

I. Konsep dan Prinsip

  1. Keselamatan, baik sebelum, pada waktu, dan setelah kedatangan Kristus mengalir dari misteri Paska Kristus: penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke Sorga. Karena dengan misteri Paska Kristus, Kristus telah menyelamatkan seluruh umat manusia dan Kristus menjadi sumber dari semua berkat yang mengalir ke seluruh umat manusia. Jadi kalau orang yang tidak mengenal Kristus diselamatkan, itu karena jasa Kristus.
  2. Setiap orang, baik sebelum kedatangan Kristus, pada saat Kristus hidup, maupun setelah kedatangan Kristus diberikan berkat (grace) yang cukup untuk dapat menuju tujuan akhir atau Surga. Hal ini dikarenakan bahwa manusia secara kodrat mempunyai kemampuan untuk mengenal dan mengasihi penciptanya, yaitu Tuhan. Jadi dengan hanya mengandalkan akal budi, manusia dapat mengetahui akan keberadaan Tuhan yang satu, seperti yang saya tuliskan di artikel “Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada“. Jadi kalau sampai seseorang tidak masuk surga, itu adalah karena kesalahan sendiri dan bukan karena kesalahan Tuhan (Tuhan tidak mungkin salah).
  3. Allah adalah kasih dan adil. Dengan kasih-Nya dan belas kasih-Nya, Dia menginginkan semua orang untuk masuk dalam kerajaan surga. Inilah yang disebut dengan “predestination“. Harap dibedakan dengan konsep “double predestination“, dimana dikatakan bahwa Tuhan telah menakdirkan sebagian orang masuk surga dan sebagian masuk neraka.
    Kita percaya bahwa sejak dari awal mula, Tuhan menginginkan agar seluruh umat manusia memperoleh kebahagiaan abadi di Surga bersama dengan Tuhan. Namun Tuhan begitu mengasihi manusia, sehingga Dia menginginkan agar manusia dapat membalas kasih Tuhan dengan bebas. Dan Tuhan memberikan keinginan bebas “free will” kepada manusia. Namun dengan free will ini, manusia dapat berkata ya atau tidak terhadap tawaran Tuhan.
    Mungkin ada yang menanyakan, kenapa Tuhan memberikan keinginan bebas? Ini adalah suatu ekpresi kasih yang begitu dalam kepada umat manusia. Bayangkan, kalau kita mengasihi pacar kita, maka kita ingin agar pacar kita bukan sebagai robot yang menuruti segala keinginan kita. Namun kita menginginkan agar pacar kita secara bebas mengasihi kita.
    Keadilan Tuhan juga tercermin dari seseorang yang diberi banyak akan dituntut lebih banyak.
  4. Allah melihat hati kita yang terdalam. Jawaban terhadap Allah oleh manusia dilihat oleh Allah sebagai suatu pernyataan yang keluar dari dari dalam hatinya. Ini berarti bahwa Tuhan melihat sampai seberapa jauh manusia benar-benar mengasihi Allah. Apakah seseorang mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan? Atau dengan kata lain, apakah seseorang menempatkan kebenaran (Tuhan) diatas kepentingan pribadi (ciptaan). Inilah sebabnya dalam Sepuluh Perintah Allah, Tuhan memberikan dua loh batu, dimana batu pertama terdiri dari perintah 1-3, yaitu perintah untuk mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu. Dan batu loh yang ke-dua memuat perintah 4-10, dimana terkandung perintah untuk mengasihi sesama.
    Nah, yang mengetahui sampai seberapa jauh manusia berusaha adalah Tuhan, karena Tuhan melihat jauh ke dalam hati. Dan kita juga melihat bahwa ada tiga hal untuk melihat sesuatu dianggap sebagai sesuatu yang baik secara moral, yaitu: maksud (intention), situasi (circumstances), dan objek moral (moral object). Jadi dalam hal ini, maksud (intention) yang sebenarnya untuk melakukan sesuatu, hanya Tuhan yang tahu secara persis. Itulah sebabnya Gereja tidak pernah mengatakan bahwa seseorang pasti masuk neraka, karena hanya Tuhan saja yang tahu persis kedalaman hati seseorang sampai pada saat dia dipanggil oleh Tuhan.
  5. Gereja Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis adalah mutlak untuk keselamatan, bahkan dikatakan bahwa Gereja tidak tahu ada cara lain selain Baptisan yang membuat orang dapat masuk ke kehidupan kekal di surga (Katekismus Gereja Katolik/KGK, 1257), yaitu baptis air, baptis rindu dan baptis darah, seperti diuraikan di point II di bawah ini. Lebih lanjut dikatakan bahwa Tuhan telah mengikat keselamatan pada Sakramen Pembaptisan.

Sekarang kita coba menerapkan kepada bebebapa kondisi. Saya telah menjawab beberapa kondisi di jawaban ini (silakan klik).

II. Sebelum kedatangan Kristus.

  1. Bagi bangsa Yahudi sebelum kedatangan Kristus: Sebelum kedatangan Kristus, bangsa Yahudi dipilih Tuhan secara khusus dan menerima wahyu Tuhan, sehingga mereka beriman kepada Tuhan yang satu. Mereka mengetahui wahyu ini melalui perantaraan para nabi. Dan wahyu ini terus-menerus berlangsung sebagai persiapan akan kedatangan Sang Sabda, Yesus Kristus, ke dunia ini. Jadi keselamatan bangsa Yahudi sebelum kedatangan Kristus, terikat oleh Hukum Taurat, yang sebenarnya juga dapat disarikan sebagai mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:34-40). Hal ini disebabkan oleh 10 perintah Allah yang dapat dibagi menjadi dua: 1) Perintah 1-3: perintah untuk mengasihi Tuhan 2) 4-10, perintah untuk mengasihi sesama. Namun, keselamatan mereka tetap bersumber pada misteri Paskah Kristus.
  2. Bagi bangsa-bangsa lain sebelum kedatangan Kristus dan juga orang-orang yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus: Dua kategori orang-orang ini terikat oleh hukum yang dituliskan oleh Tuhan sendiri di dalam hati mereka masing-masing, atau yang disebut “natural law” atau hukum kodrat. 10 perintah Allah adalah manifestasi yang sempurna dari hukum kodrat sehingga dengan demikian mengikat seluruh manusia, dengan tidak memandang suku, bahasa, maupun kebudayaan, karena prinsip 10 Perintah Allah ini sebenarnya ada di dalam hati semua orang. Semua suku dan bangsa yang tidak mengenal Tuhan, melihat bahwa seorang anak yang tidak menghormati orangtuanya adalah berdosa, seorang yang membalas kebaikan dengan kejahatan adalah salah. hukum kodrat ini adalah sebagai akibat dari hakikat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah, yang mampu untuk menangkap konsep sesuatu yang “baik”, mampu untuk mencari kebenaran, mampu untuk menemukan Pencipta-Nya, mampu untuk bersosialisasi, dll. Dan hukum alam ini mengikat manusia, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di Rom 2:15 “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.“Bagaimana mereka dapat diselamatkan? Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]Sebagai contoh dari “bukan karena kesalahan mereka sendiri” adalah orang-orang yang hidup sebelum Kristus, dan juga orang-orang yang tidak terjangkau oleh pemberitaan tentang Kristus. Namun kita juga dapat memasukkan disini adalah orang-orang dari agama lain, yang walaupun telah dijangkau oleh pemberitaan Kristus namun pemberitaan ini tidak memberikan “motive of credibility” (penjelasan dasar yang meyakinkan) yang baik terhadap kekristenan, sehingga orang dari agama lain, bukan karena kesalahannya, tidak dapat percaya akan pesan Kristus.Namun saya ingin menegaskan disini, bahwa kuncinya adalah apakah orang tersebut tidak mau menjadi Kristen karena “invincible ignorance” (ketidaktahuan yang tidak dapat dihindari) ataukah karena memang kepentingan pribadi, misalkan untuk mendapatkan pangkat, sekolah yang baik, dll. Di sini perlu dipertanyakan apakah orang tersebut benar-benar mencari kebenaran di atas segalanya. Maksudnya adalah apakah orang tersebut di dalam kapasitasnya benar-benar mencari kebenaran atau Tuhan dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan. Dan dalam hal ini hanya Tuhan yang tahu secara persis apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Untuk itulah, maka Gereja tidak akan pernah berkata bahwa seseorang pasti masuk neraka, namun Gereja dapat berkata orang tersebut mempunyai risiko kehilangan keselamatannya. Di sinilah pentingnya bagi orang yang telah mengenal Kristus untuk hidup kudus, sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang tidak mengenal Kristus.
  3. Sekarang kita masuk ke kategori yang lain, yaitu: umat Kristen Non Katolik: Dokumen Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalkan memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup dengan kasih, dll. Bahkan gereja Katolik mengakui pembaptisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.”Dalam hal ini, Gereja Katolik menyatakan suatu kondisi bahwa orang dapat kehilangan keselamatan. Namun Gereja tidak pernah tahu secara persis apakah masing-masing pribadi “benar-benar tahu” bahwa Gereja Katolik adalah Sakramen Keselamatan. Kalau seseorang tahu tapi tidak melakukannya, berarti orang tersebut menempatkan kepentingan pribadi di atas Tuhan sendiri, dan ini adalah berdosa. Jawaban apakah ada keselamatan di luar Gereja Katolik, silakan klik di sini . Jika Sesilia ingin mengetahui lebih lanjut tentang konsep keselamatan menurut Gereja Katolik, silakan klik di artikel ini: Sudahkah kita diselamatkan?
  4. Bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Dalam Lumen Gentium 14 ditegaskan akan pentingnya untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekkan kasih kepada Tuhan dan sesama. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmaniah, namun bukan secara spiritual, tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini disebabkan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).Karena kepenuhan kebenaran ada di Gereja Katolik, umat Katolik seharusnya dapat hidup lebih kudus, karena berkat-berkat yang mengalir dari Sakramen-sakramen, seperti: Ekaristi, Pengampunan Dosa. Selanjutnya, tentang apakah hanya orang Katolik saja yang bisa diselamatkan?, silakan klik di sini.
  5. Jadi kesimpulannya, kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis air (secara sakramen) pasti masuk neraka, sebab ada kondisi-kondisi lain (yang telah disebutkan di atas) yang diperhitungkan. Namun, satu-satunya keselamatan hanya melalui Kristus dan melalui pembabtisan. Jadi bagi orang-orang seperti yang disebutkan di atas, yang dalam kondisi “bukan karena kesalahannya sendiri” tidak dapat mengenal Kristus dan Gereja-Nya, dan juga mereka berbuat kasih dan mengalami pertobatan, orang tersebut sebetulnya mengalami “baptism of desire” (lih KGK, 1258-1259). Dan bagi orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, mereka juga dapat diselamatkan karena mereka telah menerima “Baptisan darah” (KGK, 1258). Dengan penggabungan faktor-faktor tersebut di atas, maka kita juga dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis tidak dapat masuk surga atau dikatakan bahwa Gereja tidak mengenal cara lain selain pembaptisan untuk masuk surga (KGK, 1257). Dan bagi orang yang telah dibaptis namun tidak menjalankan kasih juga dapat kehilangan keselamatannya.
  6. Kalau begitu apakah kita harus membawa orang kepada Kristus? Tentu saja. Kristus adalah harta terbesar yang kita miliki. Adalah menjadi perbuatan kasih kalau kita membagikan harta terbesar ini kepada semua orang. Namun tentu saja kita harus melakukannya dengan bijasana dan penuh kasih.

III. Menjawab pertanyaan teman Sesilia.

  1. Apakah seorang atheis dapat diselamatkan? Jawabannya bisa ya dan tidak. Dapat diselamatkan kalau “orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi“.  Keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.
    • Bukan kesalahan mereka sendiri tidak mengenal Kristus dapat diartikan sebagai invincible ignorance, yaitu kesalahan yang dikarenakan oleh ignorance (ketidaktahuan) yang tidak terhindari, namun orang ini telah benar-benar berusaha untuk menemukan kebenaran dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatannya. Dan seandainya ada orang yang dapat menerangkan kepadanya dengan baik tentang kebenaran, maka orang tersebut sebenarnya dapat berubah dan menjadi percaya kepada Kristus. Ini berarti orang tersebut menempatkan kebenaran di atas kepentingannya pribadi. Oleh karena itu, orang tersebut dapat diselamatkan.
    • Kelompok yang lain adalah atheis atau orang yang tidak mengenal Kristus, namun karena culpable ignorance, yang disebabkan karena kelalaian sendiri, misalnya: orang tersebut mempunyai kesempatan untuk mencari kebenaran, namun dia  tidak menggunakannya dengan baik. Atau sebenarnya tidak ada alasan bagi orang tersebut untuk tidak mengenal Kristus. Ini dapat diumpamakan seseorang tetap salah dan dihukum kalau karena kelalaiannya tidak mempelajari peraturan lalu lintas, namun dia nekat untuk mengendarai mobil. Kelompok ini mempunyai resiko kehilangan keselamatan mereka.
    • Jadi bagaimana dengan Mahatma Gandhi? “Invincible ignorance” bukan berarti bahwa dia sama sekali tidak pernah mendengar tentang Kristus, namun walaupun dia pernah mendengar tentang Kristus, dan dia telah berusaha dengan segenap pikiran, hati, dan kekuatan, untuk mencoba namun tidak sampai untuk menjadi murid Kristus. Jangan lupa, bahwa orang-orang yang menjadi batu sandungan bagi Mahatma Gandhi turut berpartisipasi dalam dosa, karena menjadi batu sandungan bagi dia untuk menjadi murid Kristus. Beliau mengatakan bahwa kalau semua orang di India dapat menerapkan ajaran Kristus, maka tidak ada lagi orang Hindu di India. Jadi orang-orang saleh yang tidak mengenal Kristus, dapat masuk surga, namun hanya Tuhan yang tahu persis apakah “ignorance” yang mereka lakukan karena “invincible ignorance” atau “culpable ignorance“.
    • Kita jangan lupa, bahwa ada beberapa tingkatan atheist. Pada tingkatan yang paling parah, dimana benar-benar orang tersebut membenci Tuhan, maka orang ini dapat kehilangan keselamatannya. Namun pada tingkatan lain, orang yang “morally good” tidak dapat ‘membenci’ orang sedemikian rupa, atau membenci Tuhan, ia hanya tidak atau belum mengenali Tuhan.  Padahal keberadaan Tuhan dapat dibuktikan dengan akal budi, juga termasuk oleh seorang atheis – silakan melihat artikel “Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada” (silakan klik).
    • Tentu saja bagi yang tidak percaya akan Tuhan, tidak dapat menerapkan hukum kasih yang bersifat supernatural, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama untuk Tuhan. Maka akan jauh lebih sulit bagi orang yang tidak kenal Tuhan untuk menerapkan hukum kasih ini untuk masuk surga. Silakan melihat pembahasan tentang hal ini di jawaban ini (silakan klik).
    • Digerakkan oleh Rahmat Ilahi adalah suatu berkat yang membantu, atau dalam istilah teologi adalah “actual grace“. Actual grace ini merupakan gerakan dari Roh Kudus untuk membawa orang ini kepada pertobatan. Dan pada saat orang ini menanggapi dan kemudian menerima pembaptisan, maka orang tersebut menerima “sanctifying grace” atau rahmat kekudusan, yang membuat seseorang menjadi anak Allah.
      Karena Tuhan adalah maha adil, maka kita meyakini bahwa berkat dari Tuhan adalah cukup dan berlimpah bagi setiap orang. Jadi gerakan Roh Kudus ini adalah yang membawa orang pada pertobatan dan perbuatan kasih. Rasul Yohanes mengatakan “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yoh 4:16).
    • Secara prinsip, seorang yang benar-benar kristen dan menerapkan ajaran Kristus pasti akan lebih baik dari orang yang bukan Kristen. Dalam membandingkan, kita harus membandingkan apel dengan apel dan tidak bisa apel dengan jeruk. Kita harus bandingkan seorang Katolik yang baik dengan seorang atheis yang baik. Bandingkan atheis yang terbaik dengan para santa-santo, seperti yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta yang menolong orang karena kasihnya kepada Tuhan, atau St. Maximillian Kolbe yang rela menyerahkan dirinya untuk dibunuh menggantikan nyawa sesama tawanan NAZI.
  2. Jadi apakah evangelisasi percuma? Tentu saja tidak! Malah ditekankan bahwa Gereja pada dasarnya adalah misioner. Kita semua yang telah dibaptis harus berjuang untuk membawa semua orang kepada Kristus. Kenapa? Karena bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus lebih sulit untuk mencapai keselamatan. ibaratnya mereka tidak mempunyai peta yang baik dan sempurna. Dan berkat Baptisan adalah memberikan manusia kekuatan untuk dapat hidup kudus, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama. Jadi bagi yang telah dibaptis dan menerima rahmat Allah, maka tuntutannya lebih besar dibandingkan dengan yang belum mengenal Allah. Dikatakan “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk 12:48). Kita ingin membagikan harta terbesar kita, yaitu Kristus, sehingga mereka lebih mudah untuk mendapatkan keselamatan.

IV. Kontradiksi konsep keselamatan?

  1. Lumen Gentium, 14 mengatakan
    Orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.”
    Jadi bagi orang yang bukan kesalahannya sendiri dapat masuk surga sejauh keadaan tidak mengenal Kristus adalah sebagai akibat dari “invincible ignorance” (ketidak tahuan yang tak dapat dihindari) seperti yang telah dijelaskan di atas.
  2. Hal ini tidaklah bertentangan dengan “Andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.”
    Hal ini dikarenakan bahwa orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran.
  3. Dan juga tidak bertentangan dengan: “Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”.
    Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai “kepenuhan kebenaran” harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi orang Katolik tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena semua telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan seseorang untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.
  4. Kita kembali kepada prinsip di awal, bahwa Tuhan adalah maha adil dan kasih. Juga rahmat Tuhan adalah cukup bagi semua orang untuk bersatu dengan Tuhan. Oleh karena hal ini adalah sangat masuk akal, bahwa semuanya mempunyai resiko dan tugas masing-masing untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan adalah suatu proses yang berakhir pada saat kita meninggal. Orang yang tidak mengenal Kristus, yang mengenal Kristus di luar Gereja Katolik, dan anggota Gereja Katolik, semuanya mempunyai resiko kehilangan keselamatan. Yang menjadi perbedaan adalah Gereja Katolik mempunyai “kepenuhan kebenaran”, gereja yang lain tidak mempunyai kepenuhan kebenaran, dan agama-agama lain mempunyai beberapa unsur kebenaran, yang harus dilihat sebagai persiapan untuk menerima pesan Injil (lih. Lumen Gentium, 16).
  5. Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future):
    • Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).
    • Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).
    • Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).
  6. Baca juga tentang konsep keselamatan di sini: klik ini, dan juga ini, serta artikel ini.

V. Ok. Sekarang ceritakan bagaimana konsep keselamatan dari teman Sesilia.

  1. Kalau kita berkata bahwa semua yang tidak mengenal Kristus masuk neraka, coba terangkan hal berikut ini: Bagaimana kita begitu yakin bahwa seseorang setelah kedatangan Kristus, yang tinggal di pedalaman Irian Jaya, Kalimantan, dan sampai akhir hayatnya orang tersebut masih tidak mengenal Kristus, pasti masuk neraka. Pertanyaannya, dimanakan keadilan Tuhan? Bukan kesalahan mereka bahwa mereka tidak mengenal Kristus. Kalau saja orang tersebut mendengar tentang Kristus, ada sebagian dari mereka juga akan percaya.
  2. Kalau kita berkata bahwa semua yang tidak mengenal Kristus masuk neraka, coba terangkan hal berikut ini: Bagaimana kita begitu yakin bahwa orang-orang seperti Mahatma Gandhi masuk neraka? Apakah dasarnya? Atau ada yang lebih ekstrim lagi mengatakan bahwa  Bunda Teresa yang terberkati dari Kalkuta masuk neraka, karena beliau tidak maju di dalam “altar call” dan menerima Yesus di depan umum seperti yang terjadi di altar call.
  3. Kalau kita berkata bahwa semua yang telah menerima Kristus pasti masuk surga, coba terangkan hal berikut ini:Orang-orang Kristen atau Katolik yang hidupnya bergelimang dengan dosa sampai akhir hayatnya. Bagaimana seseorang dengan yakin mengatakan “sekali selamat pasti selamat.”

Demikian apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan teman Sesilia. Maaf agak panjang, karena ada banyak yang bertanya tentang konsep keselamatan.

Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Sesilia dan juga bagi para pembaca yang lain.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Apakah agama membuat orang masuk Sorga?

9

Pertanyaan:

Saya pribadi tidak menentang sdri. Maria untuk kembali ke Katholik sb pada waktu kita menghadap BAPA, Dia tidak akan menanyakan apakah kamu masuk ke gereja Katholik atau Protestan atau Kharismatic atau yang lainnya melainkan mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan (Wahyu 20:15).

Jawaban:

Shalom Samuel,

Terima kasih telah memberikan tanggapan yang cukup komprehensif atas kesaksian Lia (Maria Brownell). Kami dapat melihat bahwa Samuel benar-benar mengasihi Kristus, sehingga mendorong Samuel untuk memberikan komentar ini. Adalah hal yang wajar kalau kita berbeda pendapat, namun mari kita bersama-sama mengikuti jejak murid Kristus, dimana pada waktu terjadi perbedaan pendapat, mereka mendiskusikannya dengan lemah lembut dan hormat (1 Pet 3:15), yang dicontohkan oleh konsili Gereja yang pertama, yaitu di Yerusalem (Kis 15:1-21).

Kami akan mencoba mencoba menjawab tanggapan Samuel point demi point yang telah kami bagi menjadi 13 (A-M). Kami tidak dapat menyelesaikannya sekaligus dalam satu hari, namun kami akan menjawabnya satu per satu. Mari kita sekarang masuk dalam dialog.

Berikut ini adalah tanggapan saya untuk Point A.

I. Agama tidak menyelamatkan tanpa adanya kasih.

 

  1. Saya setuju bahwa agama tidak secara otomatis menyelamatkan seseorang. Dan Gereja Katolik tidak mengajarkan hal tersebut. Memang pada saat penghakiman terakhir, kita tidak ditanya kamu agamanya apa. Namun yang ditanyakan adalah sampai seberapa jauh seseorang mengasihi Kristus dan sesama, atau yang melakukan kehendak Bapa di surga (Mat 7:21-23), atau yang menjadi tolak ukur adalah kekudusan seseorang (Mat 5:48; Yoh 17:23). Kita juga melihat bahwa pada penghakiman terakhir, Yesus akan memisahkan domba dari kambing, dimana dasar dari pemisahkan tersebut adalah perbuatan kasih (Mat 25:31-46).
  2. Dikatakan di dalam kitab Wahyu “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Why 20:15). Pertanyaan paling penting adalah bagaimana seseorang dapat tertulis di dalam kitab kehidupan atau memperoleh keselamatan abadi. Ini juga akan dibahas lebih detail di point F.
  3. Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future), dengan dasar ini:(hal ini akan dibahas lebih detail pada point F – tentang konsep keselamatan)
    • Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).
    • Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).
    • Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).
  4. Keselamatan adalah suatu berkat dan Rahmat Tuhan semata, bukan karena perbuatan kita, namun pada saat yang bersamaan Tuhan menuntut kerjasama dari umat-Nya untuk senantiasa bekerjasama dengan rahmat Tuhan. Hal ini membuat umat Katolik senantiasa berjuang dalam kekudusan, yang diwujudkan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Dan ini adalah perjuangan seumur hidup.
  5. Dan yang paling penting adalah Gereja Katolik percaya bahwa kita tidak dapat menjadi kudus, karena usaha kita sendiri, namun yang paling utama adalah dari berkat Tuhan, yang mengalir dari doa-doa dan juga sakramen-sakramen, terutama adalah Sakramen Ekaristi (artikel dapat dibaca di: 1, 2, 3) dan Sakramen Tobat (artikel dapat dibaca di: 1, 2, 3, 4). Jadi dengan seseorang menjadi Katolik, orang tersebut dikuatkan dan dimampukan untuk hidup kudus (Lihat Artikel Kekudusan: kekudusan adalah kehendak Tuhan untuk semua orang.; Apa itu Kekudusan?; Refleksi praktis tentang Kekudusan) yang nantinya akan menjadi tolak ukur apakah orang tersebut masuk Surga, disucikan di Api Penyucian (silakan melihat artikel tentang Api Penyucian), atau masuk neraka.

II. Perwujudan kasih adalah menjalankan semua perintah Kristus.

  1. Hal yang lain adalah takaran dari kasih kita kepada Allah adalah kalau kita menjalankan semua perintah-Nya (lih 1 Yoh 5:2; Mat 28:20). Ini berarti kita tidak dapat memilih-milih perintah yang mana, namun seluruh perintah-Nya. Dan perintah-perintah-Nya termasuk adalah untuk bersatu dalam kesatuan tubuh mistik Kristus, yaitu Gereja Katolik, dan juga sakramen-sakramen. Mungkin Samuel masih belum setuju sampai point ini, karena Samuel tidak mempercayai bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik.Untuk membuktikan hal tersebut, saya telah menuliskan artikel tentang Gereja Katolik (klik disini).Rangkaian tulisan tentang Gereja juga dapat dibaca disini: direncanakan oleh Allah sejak awal penciptaan dunia (Bagian 1). Gereja juga menjadi tujuan akhir manusia sekaligus sarana untuk mencapai tujuan itu (Bagian 2). Untuk itu Gereja menyampaikan keutuhan rencana Allah (Bagian 3), sebagai Tanda Kasih- Nya untuk semua manusia (Bagian 4). Kebenaran ini merupakan karunia, tetapi juga membawa tugas bagi kita sebagai orang Katolik (Bagian 5).
  2. Pertanyaannya, kalau setelah melalui proses pencarian dan Samuel menemukan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus, apakah yang akan Samuel lakukan? Kalau sampai seseorang dapat membuktikan kepada saya bahwa Gereja Katolik bukan didirikan oleh Kristus, maka saya mencoba dengan segala kekuatan saya untuk mencari gereja mana yang didirikan oleh Kristus. Ini adalah pertanyaan yang begitu serius, karena kita yang mengasihi Kristus ingin agar kita menjalankan semua perintah Kristus, termasuk masuk di dalam Gereja yang Kristus dirikan. Setelah melalui proses pencarian yang sungguh-sungguh dengan segala kekuatan kita, akal budi kita, dan kita tetap menjadi anggota gereja tertentu, Tuhan pasti akan memperhitungkannya. Dalam hal ini, kuncinya adalah menempatkan kebenaran di atas kepentingan diri kita. Namun kalau seseorang tahu benar-benar bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus dan orang tersebut tidak masuk di dalamnya, maka orang tersebut tidak dapat diselamatkan (Lumen Gentium, 14). Kenapa? Karena ini berarti orang tersebut menempatkan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kebenaran itu sendiri atau menempatkan kepentingan pribadi di atas apa yang diperintahkan oleh Tuhan sendiri.
  3. Kita masing-masing diberikan tugas untuk mencari kebenaran ini dengan sungguh-sungguh. Tantangan bagi saya adalah untuk semakin mendalami ajaran Gereja Katolik dan pengajaran-Nya, karena saya yakin bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus. Di artikel “Mengapa kita memilih Gereja Katolik” saya mencoba untuk memaparkan alasan mengapa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus.Tantangan bagi Samuel untuk mencari Gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus: satu gereja atau banyak gereja? Ini adalah tugas bagi kita berdua, dan juga bagi seluruh umat yang mengasihi Kristus. Bagi saya pribadi, saya tidak dapat mengasihi Kristus, sebagai kepala Gereja, kalau saya tidak mengasihi Tubuh-Nya, yang saya percayai ada di dalam Gereja Katolik.

III. Yesus memang tidak mendirikan agama, tetapi yang didirikan Yesus adalah Gereja, dan Gereja itu adalah Gereja yang dibangun di atas Rasul Petrus (Mat 16:18), yang sekarang tetap berlangsung di dalam Gereja Katolik.

  1. Kristus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:18) dan kemudian sesaat sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan berpesan agar para rasul-Nya untuk menyebarkan Injil, membaptis dan mengajarkan semua bangsa segala perintah-Nya, dan lanjut-Nya, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20)
  2. Dari kedua ayat di atas, kita ketahui bahwa janji yang diberikan kepada Petrus akan terus berlangsung sampai akhir jaman, bahwa Gereja yang sudah didirikan oleh Yesus di atas Rasul Petrus, akan terus disertai-Nya sampai akhir jaman. Kita mengetahui dari sejarah, walaupun banyak rintangan, Gereja Katolik tetap eksis. Ada kalanya terjadi penyimpangan karena faktor kesalahan-kesalahan manusia, namun dari segi pengajaran Gereja Katolik, tidak pernah ada pengajaranmengenai moral dan iman yang menyimpang dari ajaran Yesus. Di sinilah terlihat bukti penyertaan Yesus terhadap Gereja-Nya, seperti yang telah dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Timotius, bahwa Gereja, sebagai jemaat Allah yang hidup adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)

Dari beberapa point yang saya sebutkan di atas, maka sangat jelas bahwa pemilihan suatu agama tertentu, kalau dilakukan dengan benar, maka merupakan suatu perwujudan untuk menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Kalau seseorang mengatakan bahwa agama tidaklah penting, itu tidaklah tepat, karena untuk memilih suatu agama tertentu, seseorang harus mempertanyakan terhadap agama yang dianutnya, apakah benar-benar agama yang dianutnya adalah yang diinginkan oleh Tuhan; dan bagi kita umat Kristen, kita mencari Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Tanpa pencarian yang serius, apalagi kalau seseorang diberi kapasitas untuk mencari dengan benar, maka orang tersebut tidak benar-benar mencari kebenaran dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatan. Mari kita bersama-sama mencari kebenaran, yang pada akhirnya akan membawa kepada Sang Kebenaran itu sendiri, yaitu Kristus (Yoh 14:6).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Alkitab, Tradisi Suci, Magisterium, penafsiran

15

Pertanyaan:

Melihat 2 Tes 2:15,sesuai bpk Stef jelaskan,inilah yang mendasari Gereja Katolik mempunyai pilar kebenaran yang lain, yaitu Tradisi Suci dan teman saya yang kristen non katolik bertanya jadi coba anda baca Wahyu 22:18-19 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis didalam kitab ini, Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus,seperti yang tertulis didalam kitab ini.
Jadi saya bertanya kepada dia, jika terjadi penafsiran ayat yang berbeda, otoritas apa dan kitab apa sebagai pegangan untuk menklopkannya dan dia menunjukkan contoh diayat Kis 15:1-2 dan seterusnya dia berpesan lihat ayat Mat 24:45-47 dan Kis 20:29-30.-
mohon pencerahaannya

Salam kasih – Jeffmorg

Jawaban:

Shalom Jeffmorg,
Terimakasih atas pertanyaannya dan kesungguhan Jeffmorg untuk mewartakan kebenaran. Mari kita melihatnya satu persatu.

I. Mengurangi dan menambahkan ayat-ayat.
Jeffmorg mengemukakan dasar mengapa Gereja Katolik percaya Kitab Suci and Tradisi Suci, dimana dikatakan “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2 Tes 2:15).
Dan kemudian teman Jeffmorg mengambil ayat dari Wahyu 22:18-19, yang mengatakan “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Why 22:18-19).
Maka marilah kita menganalisanya:

  1. Teman Jeffmorg seolah-olah mau mengatakan bahwa Kitab Suci dan Tradisi Suci saling bertentangan atau Tradisi Suci seolah-olah menambahkan atau mengurangi apa yang dikatakan di dalam Kitab Suci. Namun pendapat seperti ini tidaklah benar, karena Alkitab dan Tradisi Suci tidak mungkin bertentangan, karena keduanya datang dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15). Dan Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15).
  2. Mungkin untuk membuktikan hal ini, silakan membaca beberapa artikel di katolisitas.org, yang semuanya bersumber pada Alkitab, juga Tradisi Suci, beserta dengan ajaran dari Magisterium Gereja. Dan ketiganya tidak dapat terpisahkan dan saling mendukung. Mungkin ada baiknya untuk menanyakan teman Jeffmorg, doktrin atau ajaran Katolik yang manakah yang mengurangi atau menambahkan Alkitab.
  3. Justru tanpa Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, Alkitab dapat disalahartikan, seperti yang dikatakan oleh St. Petrus (lih. 2 Pet 3:15-17; 2 Pet 1:20-21). Dan inilah yang sebenarnya yang menjadi salah satu sebab terjadinya perpecahan gereja-gereja sampai ada 28,000 denominasi, yang jika dilihat secara objektif sebabnya adalah karena berprinsip pada Sola Scriptura atau Alkitab saja. Padahal doktrin sola Scriptura sendiri tidak ada di Alkitab. Jadi prinsip “Alkitab saja” tidaklah alkitabiah.

II. Penafsiran yang berbeda-beda.

Pada waktu Jeffmorg menanyakan bagaimana jika terjadi penafsiran yang berbeda, maka teman Jeffmorg menambil ayat-ayat berikut ini:

  • Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu“(Kis 15:1-2).
  • Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya” (Mat 24:45-47).
  • Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka” (Kis 20:29-30).

Dari ayat-ayat di ambil di atas, kita dapat menganalisanya:

  1. Ayat yang diambil pada kis 15:1-2 adalah tepat, karena itulah yang terjadi pada waktu ada ketidaksetujuan atau untuk menetapkan doktrin, maka mereka datang kepada para rasul dan penatua-penatua di Yerusalem. Dan yang terjadi di sana adalah Petrus, yang merupakan Paus pertama (lih Mat 16:18), memberikan suatu pandangan yang diterima oleh para rasul dan para penatua (lih Kis 15:7-11).
    Dan inilah yang terjadi di dalam Gereja Katolik, dimana melalui konsili-konsili, Gereja Katolik mengambil keputusan yang diterangi oleh Roh Kudus, sehingga Gereja dapat melindungi ajaran Kristus dari penyimpangan-penyimpangan. Rasul Yakobus adalah uskup pertama Yerusalem, yang dalam kondisi sekarang adalah para uskup yang membawahi keuskupan.
    Inilah suatu bukti bahwa konsili pertama menjadi alat untuk menghindari perpecahan antara jemaat Kristen perdana dari kaum Yahudi dan non-Yahudi. Pada saat mereka mendasarkan pengajaran pada konsili yang berpegang pada pengajaran Kristus, maka perpecahan dapat dihindari. Dan inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik, sehingga Gereja Katolik tetap satu, kudus, katolik dan apostolik. Empat tanda Gereja Katolik inilah yang membuktikan bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus sendiri.
  2. Ayat dari Mat 24:45-47 : saya tidak terlalu mengerti maksudnya mengapa teman Jeffmorg mengutip ayat tersebut. Kalau maksudnya bahwa yang berpegang pada Firman Tuhan adalah hamba yang setia, maka semua pengajaran Gereja Katolik adalah berdasarkan Firman Tuhan.
  3. Kis 20:29-30 – Oleh karena itulah Gereja Katolik melalui Magisterium Gereja memberikan interpretasi terhadap Kitab Suci dan Tradisi Suci, sehingga Gereja dapat mewariskan pengajaran Kristus secara murni. Dan ini dapat dibuktikan dengan pengajaran yang senantiasa sama dari awal sampai saat ini, maupun sampai akhir jaman. Sebagai contoh, Kristus mengajarkan bahwa Dia sendiri hadir di dalam rupa roti dan anggur, para bapa Gereja mengajarkan hal tersebut dalam Ekaristi Kudus, dan Gereja Katolik saat ini juga mengajarkan hal yang sama. Kebenaran akan terus bertahan dan tidak tergantung oleh jaman dan opini publik.

Demikian uraian yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Jeffmorg. Perlu diingat, bahwa kita harus menyampaikan kebenaran dengan hormat dan lemah lembut (1 Pet 3:15). Bawalah diskusi seperti ini di dalam doa, sehingga Jeffmorg diberikan kebijaksanaan untuk menyampaikan kebenaran dengan kata-kata yang tepat, sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Bapa lebih besar daripada Aku (Yoh 14:28)

5

Pertanyaan:

shalom..
saya mau nanya neh kepada rekan-rekan seiman soalnya aq msh agak bingung tentan perkataan ini, pada injil yohanes 14:28 disitu tuhan yesus mengatakan “bapa lebih besar daripada aku” apa maksudnya ya, bukanya tuhan yesus itu satu dengan Allah kenapa ada firman seperti itu, mohon pencerahanya.thanks – Albertus

Jawaban:

Shalom Albertus,
Berikut ini adalah pengertian ayat Yoh 14:28, “….karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku,” menurut “A Catholic Commentary on Holy Scripture“, oleh Dom Bernard Orchard OSB, (general editor), 1953, hl. 1007;

The greatness of the Father over the Son was conceived by some early Fathers as the relation of the giver of the divine nature to him who receive it by generation. Though theologically justifiable in the sense of priority of relationship, this conception is not exegesis. Jesus is speaking as the Word Incarnate and as one going to the Father by the glorification of his humanity. The Word as Son was equal to the Father; the Word Incarnate as man was less than the Father.”

Jadi, menurut penjelasan di atas, ada dua hal dalam hal ini:

  1. ‘Bapa lebih besar dari pada Putera’, menurut para Bapa Gereja dapat diartikan dalam kaitannya bahwa Bapalah yang menjadi pemberi kodrat ilahi kepada Sang Putera, atau dengan kata lain, dari Bapalah Putera menjadi ada. Namun, memang kita tidak dapat membatasi hal ini sesuai dengan pemikiran kita yang menyangkut ruang dan waktu, yaitu bahwa ‘yang memberi selalu lebih besar daripada yang diberi’, atau ‘yang memberi ada lebih dahulu dari pada yang diberi’; karena untuk kehidupan Allah Tritunggal hal ‘memberi dan diberi’- nya itu terjadi sekaligus, karena Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Maka kita lihat di sini ungkapan ‘lebih besar’ itu lebih dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan asal-usul, bahwa Yesus (Sang Putera dan Sang Sabda) berasal dari Bapa, tetapi keduanya adalah setara di dalam kesatuan Tritunggal Allah Maha kudus. Yesus Allah Putera adalah sehakekat dengan Allah Bapa; demikian pula dengan Allah Roh Kudus.
    Kita dapat hal ini di dalam Kitab Suci sendiri, di mana Yesus yang adalah sang Sabda/ Firman, dikatakan sudah ada sejak awal mula, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”. (Yoh 1:1,3).
    Origen (185-254), salah seorang Bapa Gereja mengatakan bahwa, karena  Kristus Allah Putera adalah Sang Sabda, Sang Kebijaksanaan dan Kehidupan Allah Bapa, sehingga tidak mungkin Allah Bapa ada tanpa Allah Putera.
    St. Athanasius (296-373) adalah Bapa Gereja yang sangat berjasa dalam meluruskan doktrin kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa. Doktrin ini ditetapkan pada Konsili Nicea (325) untuk menolak ajaran sesat Arianisme yang mengatakan bahwa Yesus tidak setara dengan Bapa, melainkan setingkat lebih rendah (jadi semacam ‘super angel‘). Ajaran Arianism ini dapat mengarah kepada sejenis polytheism, yang mengakui tuhan lebih dari satu, di mana allah yang satu lebih rendah dari allah lainnya. Ini tentu tidak sesuai dengan ajaran Gereja! Kita percaya pada Allah yang satu, dalam Tiga Pribadi, namun yang ketiganya berhakekat sama. Ini adalah misteri Allah, yang memang hanya dapat kita tangkap jika kita mempunyai iman akan apa yang diwahyukan sendiri oleh Allah tentang Diri-Nya melalui Kristus.
  2. Jadi Sang Sabda adalah setara dengan Allah Bapa, sedangkan Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia adalah lebih rendah dari Allah Bapa, karena kodrat Yesus (Sang Sabda yang menjelma) yang selain sungguh-sungguh Allah, juga adalah sungguh-sungguh manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu.
    Yesus sendiri menyatakan kesetaraan-Nya dengan Bapa dalam banyak kesempatan, seperti yang dituliskan dalam artikel “Kristus yang kita imani= Yesus menurut sejarah“. Terutama bahwa Yesus mengatakan bahwa “Barangsiapa telah melihat Aku; ia telah melihat Bapa….Percayalah kepadaku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa  di dalam Aku…” (Yoh 14: 9-11). Dan segala pekerjaan dan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus membuktikan bahwa Ia adalah sungguh-sungguh Tuhan.
    Jadi Yesus mengatakan ‘Bapa lebih besar daripada Aku’, adalah dalam konteks bahwa Ia adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, sehingga dan dalam kapasitasnya sebagai manusia, Yesus mengatakan bahwa Ia akan kembali kepada Allah Bapa yang lebih besar dari padaNya, yaitu Allah yang mengutusNya untuk menjelma menjadi manusia.
    Masih berkaitan dengan hal ini adalah perkataan Yesus tentang akhir jaman, di mana Ia mengatakan, bahwa, hanya Allah Bapa yang tahu hari dan waktunya (lihat Mrk 13:32). Tentang hal ini sudah pernah saya jawab di sini, silakan klik.

Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai ayat Yoh 14:28. Semoga dapat berguna bagi kita semua. Pada akhirnya, dibutuhkan kerendahan hati dari kita, untuk menerima misteri Allah ini. Sebab, kita tidak dapat membatasi pengertian akan Allah dengan cara berpikir manusia. Jika kita seolah ‘menuntut’ bahwa Allah harus dapat dijelaskan sejelas-jelasnya dengan bahasa manusia, maka kita dapat terjebak untuk memaksakan pengertian kita sendiri tentang Allah yang tidak sesuai dengan apa yang diwahyukan oleh Allah sendiri tentang Diri-Nya. Jadi sebaiknya kita memiliki dua sikap ini, yaitu kerendahan hati dan keterbukaan hati, agar kita dapat dengan jujur melihat, bahwa meskipun dikatakan sebagai misteri Allah, namun betapa banyak yang dapat kita ketahui dari misteri Allah ini, melalui pengajaran dari Kitab Suci dan Gereja.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Mengapa rasul Petrus datang ke Roma?

12

Pertanyaan:

Stef & Inggrid ytk, maju terus untuk website katolisitas.org ini. Semoga katolisitas tetap exist dan dapat memberikan manfaat bagi kami semua. Saya ingin menanyakan tentang “mengapa St.Petrus datang ke Roma? Bukankah St.Petrus sebelumnya tinggal di Jerusalem. Dan Bukti apakah yang menunjukkan bahwa Petrus adalah Paus yang pertama?

Terimakasih sebelumnya, damai Tuhan beserta kita selalu.
Joseph.

Jawaban:

Shalom Joseph,
Terimakasih atas dukungannya untuk katolisitas.org. Saya juga berharap bahwa katolisitas.org dapat berguna bagi banyak orang. Mari kita melihat pertanyaan dari Joseph. Untuk saat ini, saya hanya dapat memberikan jawaban yang singkat, namun di kemudian hari, katolisitas.org akan membuat artikel tersendiri tentang topik infallibility dan Rasul Petrus sebagai Paus pertama.
A. Apakah bukti bahwa Petrus datang ke Roma?

I. Bukti dari Kitab Suci:

  1. Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku” (1 Pet 5:13).
    Dari surat 1 Petrus ini, kita tahu bahwa Petrus berada di Babilon pada waktu dia menulis surat.
  2. Babilon adalah nama lain dari Roma. Kita dapat melihat di kitab Wahyu, dimana para malaikat mengatakan “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.”(Why 17:5). Dan lebih lanjut dikatakan “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci” (Why 18:2).
  3. Bahwa Babilon yang digunakan dalam 1 Pet 5:13, merujuk kepada Roma diteguhkan oleh St. Clement dari Alexandria (150-215 AD, dalam bukunya H.E. 2.15), seperti yang ditulis oleh Eusebius “Dia juga mengatakan bahwa Petrus menyebut Markus dalam suratnya yang pertama dan bahwa dia menuliskannya di Roma, yang digambarkan sebagai Babilon di dalam perkataan ‘..dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku’.”

II. Bukti dari Bapa Gereja:

  1. St.Irenaeus, Against Heresies (190 AD) mengatakan bahwa Matius menulis Injil ketika Petrus dan Paulus mewartakan di Roma dan meletakkan pondasi Gereja. Kemudian lebih lanjut dikatakan bahwa Linus adalah penerus dari Petrus, atau sebagai Paus yang kedua, dilanjutkan oleh Anackletus (Cletus) dan kemudian Clement dari Roma.
  2. St. Clement of Alexandria (150-215) menuliskan “Ketika Petrus berkotbah tentang Firman Tuhan secara publik di Roma, dan menyatakan kabar gembira oleh kuasa Roh Kudus, dan banyak orang yang hadir meminta kepada Markus, yang telah begitu lama menjadi pengikutnya dan telah mengingat apa yang dikatakan oleh Petrus, harus menuliskan apa yang telah diwartakan.
  3. Eusebius (263-339 AD), History of the Church (Bk.2, Ch.25) mengatakan “Telah tercatat bahwa Paulus telah dihukum penggal di Roma, dan demikian juga Petrus, telah disalibkan dalam pemerintahan kaisar Nero…” (lih. The Faith of the Early Fathers – Vol.1, William A. Jurgens, p.44). Petrus disalibkan juga sesuai dengan apa yang dikatakan Yesus di Yoh 21:18.
  4. Dan masih begitu banyak lagi bukti-bukti dari tulisan Bapa Gereja yang menyatakan bahwa Petrus datang ke Roma, mewartakan Kristus, dan meninggal di Roma. Saya merasa bahwa akan sangat sulit untuk menyangkal hal ini, karena begitu banyak bukti-bukti sejarah yang mendukung bahwa Petrus meninggal di Roma.
  5. Dari bukti-bukti di atas kita dapat menyimpulkan bahwa St. Petrus memang datang ke Roma dan meninggal di Roma. Kalau ditanya mengapa Petrus datang ke Roma? Saya percaya bahwa St. Petrus sebagai rasul yang dipercayai oleh Kristus sebagai batu karang (Mat 16:18) dimana Gereja didirikan di atasnya, dan dinubuatkan oleh Yesus sendiri bahwa dia akan memuliakan Allah dengan kematiannya (Yoh 21:18-19), maka Roh Kudus sendiri yang menuntun Petrus untuk memberitakan kebenaran Kristus ke pusat dunia pada waktu itu, yaitu Roma. Dengan demikian, banyak orang dari segala bangsa dapat mendengarkan kebenaran Kristus, sehingga St. Petrus sendiri memenuhi apa yang difirmankan oleh Kristus untuk memberitakan kebenaran ke seluruh bangsa (Mat 28:19-20). Dan melalui karya Roh Kudus inilah, dunia menyaksikan bahwa janji Tuhan yang melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 16:18; Mat 28:20) terpenuhi dengan adanya Paus, yang menjadi uskup Roma sekaligus gembala seluruh umat Katolik seluruh dunia, yang dimulai dari Rasul Petrus, sampai saat ini, Paus Benediktus XVI – Paus ke 265, dan pengganti-penggantinya sampai akhir jaman.

B. Apakah buktinya bahwa St. Petrus adalah paus yang pertama.

I. Bukti dari Kitab Suci:

  1. Yesus mendirikan Gereja di atas batu Karang, yaitu Petrus (Mat 16:18), dimana Yesus juga mempercayakan penggembalaan kawanan umat beriman kepada Petrus (Yoh 21:15-17). Sebelum sengsara-Nya, Yesus yang sudah tahu bahwa Petrus akan menyangkal Dia; mendoakan Petrus secara khusus, agar nantinya setelah Petrus insyaf, ia dapat menguatkan iman para rasul yang lain (lihat Luk 22:32).
  2. Petrus senantiasa disebutkan yang pertama di beberapa ayat di Alkitab (Mat 10:2-5; Mk 3:16-20; Lk 6:14-16; kis 1:13).
    Petrus disebutkan 118 kali di Injil, dan Yohanes 38 kali. Dan penggabungan Injil dan Kisah Para Rasul menyebutkan Petrus 171 kali dan Yohanes 46 kali.
  3. Dan masih begitu banyak lagi yang menceritakan tentang keutamaan rasul Petrus dibandingkan yang lain. Nanti dalam tulisan tersendiri, saya akan mencoba untuk melengkapinya.

II. Bukti dari Bapa Gereja:

  1. St.Irenaeus, Against Heresies (190 AD) memberikan urutan dari uskup Roma, yaitu: Petrus, Linus, Anacketus (Cletus) dan kemudian Clement dari Roma.
  2. St. Ambrose dari Milan (379 AD dalam The Faith 4:5) mengatakan “Kristus telah mengatakan “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini, Aku akan membangun Gereja-Ku…” Apakah kemudian Dia tidak menguatkan iman dari orang itu, yang bertindak dengan kenggunakan otoritas-Nya, Dia telah memberikan kerajaan, Dia telah memanggil batu karang, dengan demikian menyatakan bahwa dia [Petrus] menjadi pondasi dari Gereja.
  3. St. Jerome (393 AD, dalam bukunya “Against Jovinian 1:26) mengatakan “Tetapi engkau [Jovinian] akan berkata ‘Gereja telah didirikan di atas Petrus [Mat 16:18]. Baik… satu dari dua belas rasul telah dipilih untuk menjadi pemimpin mereka sehingga mengambil semua kemungkinan perpecahan.”
  4. Dan masih begitu banyak Bapa Gereja yang memberikan kesaksian akan keutamaan Rasul Petrus di antara para murid yang lain. Keutamaan tersebut bukan karena Rasul Petrus lebih baik dari yang lain, namun karena Yesus sendiri yang memilihnya.

Itulah yang dapat saya sampaikan dan semoga dapat menjawab pertanyaan Joseph.

Mari kita bersama-sama bersyukur atas anugrah Bapa Paus, seseorang yang dipercayakan oleh Kristus untuk memimpin seluruh umat beriman dalam kesatuan sehingga seluruh umat beriman dapat sampai kepada tujuan akhir, yaitu Surga.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Tuhan Mengubahku Menjadi Manusia Baru

12

Dari Editor:

Berikut di bawah ini adalah sebuah kisah nyata dari seorang sahabat, yang sengaja tidak kami cantumkan namanya, demi menjaga privasinya dan keluarganya. Kami merasa, kesaksian ini sungguh indah, sebab ini adalah salah satu contoh cerita kehidupan, yang menunjukkan bahwa betapa Tuhan memakai segala cara untuk membawa anak-anak-Nya untuk kembali kepada-Nya. Diperlukan juga kerendahan hati untuk kembali kepada Tuhan, namun pada saat kita kembali kepadaNya, Ia yang adalah Allah Maha Pengampun dan berbelas kasih akan menerima kita kembali dan melimpahi kita dengan kasih dan rahmat….
Sahabat, terima kasih atas kesediaanmu untuk berbagi kesaksian iman dengan kami di
www.katolisitas.org. Semoga Tuhan selalu memberkati.

Semoga kesaksian hidupnya ini dapat memperkuat iman kita semua ….
Apakah anda mempunyai kesaksian iman tentang pertobatan anda kembali kepada Tuhan Yesus? Kirimkanlah kepada kami di: katolisitas [at] gmail.com
(Catatan: Katolisitas.org berhak untuk menampilkan, tidak menampilkan, maupun mengedit semua artikel yang masuk ke meja redaksi).

Tuhan mengubahku menjadi manusia baruHidupku yang dulu

Saya bukan berasal dari keluarga Katolik. Keluarga saya mulai dari orang tua, paman, dan tante saya hampir semuanya beragama Buddha. Maka saya pun dulu beragama Buddha, ikut agama orang tua. Saya menjadi Katolik sebelum saya menikah. Awalnya, saya hanya ikut-ikutan saja, karena ingin ikut calon istri saya saat itu, dan asal seiman dengan dia. Karena prinsip hidup saya waktu itu adalah, agama hanyalah suatu ajaran agar manusia itu beradab, karena kalau tanpa agama yang mengekang tingkah laku manusia, manusia itu bisa jauh lebih sadis dan lebih kejam dari binatang. Jadi saat itu saya tidak sungguh- sungguh mengenal Tuhan, sehingga saya tidak juga menghargai segala karunia kasih-Nya.

Sebenarnya, kasih Tuhan yang saya alami dalam hidup saya sudah sangat banyak tapi karena prinsip saya di atas, saya sama sekali tidak merasakannya. Segala keberhasilan saya itu saya anggap sebagai hasil kemampuan saya, bukan berkat dari Tuhan. Kesombongan saya membuat saya berpikir bahwa segala karunia dan berkat Tuhan yang saya terima adalah hasil jerih payah saya sendiri. Sampai suatu saat saya sadar dan bertobat, dan beginilah ceritanya.

Awalnya kehidupan perkawinan saya baik-baik saja: sayang istri, sayang anak-anak dan orangtua. Saya dikaruniai seorang istri yang sangat perhatian dan pengertian, dan sangat mengasihi saya. Seiring dengan kesuksesan usaha saya, mulailah saya masuk ke dunia malam dimana awalnya adalah untuk menjamu/ ‘entertaint’ para supplier dan para pelanggan. Bersama dengan teman bisnis saya, mulailah saya menjelajah dari satu karaoke ke karaoke lain. Saya merasa, dengan menjamu mereka maka saya bisa merasa akrab dengan mereka, sehingga bisa memperlancar usaha saya. Pada saat itu, istri saya tidak curiga. Ia sangat pengertian dan percaya pada saya; namun sayangnya, saya malah menyalah gunakan segala kebaikannya.

Dosa menghancurkan segalanya

Karena sering ikut teman-teman dalam kehidupan malam, suatu hari saya dipaksa mencoba ecstasi. Awalnya saya pura-pura terima kemudian saya buang, namun lama-lama hal ini diketahui oleh mereka. Suatu hari di ulang tahun teman saya itu, saya dipaksa menelan pil ekstasi. Sejak itu mulai rusaklah kehidupan saya, dan saya mendapati diri saya terjerumus ke lubang yang semakin dalam. Mungkin di antara para pembaca di sini juga sudah ada yang tahu bagaimana akibat dari pergaulan dengan kehidupan malam. Pada kesempatan ini, saya ingin menghimbau teman-teman sekalian, janganlah mau coba-coba sekali-kali masuk ke dalam dunia hiburan malam. Dunia malam dapat menyebabkan kehancuran hubungan kita dengan keluarga dan Tuhan.

Saya yang awalnya hanya pergi ke hiburan malam dua kali sebulan, terus menjadi satu kali seminggu, dan akhirnya saya menemukan diri saya terjerumus ke dunia malam hampir setiap hari. Teman-teman saya ada yang sampai tidak tahan melihat kelakuan saya, sehingga saya ditegur dan disuruh mengaku dosa pada istri saya. Saya begitu takut, karena saya tahu bahwa saya telah berbohong begitu banyak kepada istri saya yang begitu penuh pengertian dan mengasihi saya. Namun, akhirnya suatu hari saya memberanikan diri, mengaku kepadanya segala kesalahan saya… Dan betapa hebatnya akibat yang harus saya hadapi! Ya, akhirnya ketakutan saya menjadi kenyataan, karena keluarga saya menjadi … hancur… hancur… dan hancur semuanya……. Istri saya begitu terpukul, ia merasa dikhianati, dan ya, semua memang salah saya. Kalau bukan karena anak-anak saya, mungkin istri saya segera minta cerai pada saat itu. Sayapun sebenarnya sangat terpukul melihat istri saya. Saya sampai tidak dapat mengerti akan diri saya sendiri, kenapa saya sampai hati menyakiti istri saya yang sedemikian mengasihi saya. Sebenarnya, apa yang saya cari? Mengapa saya jadi demikian tega kepadanya? Rasa sesal saya menggunung, dan ujungnya adalah putus asa. Perasaan saya saat itu seperti dunia runtuh.. Kiamat… sampai terbersit mau bunuh diri saja, karena apa lah artinya hidup ini kalau keluarga sudah berantakan semuanya….

Hari itu saya kabur dari rumah, rencananya mau bunuh diri dengan obat tidur di salah satu hotel. Namun karena terlalu kalut, dompet dan semuanya ketinggalan di rumah, sehingga saya tidak dapat menginap di hotel. Akhirnya saya pergi ke rumah teman saya. Inilah cara Tuhan bekerja untuk mencegah saya dari kehancuran. Melalui teman saya, keinginan untuk bunuh diri dibatalkan. Akhirnya saya menginap di rumahnya malam itu… Pada malam itu.. saya merasa sangat menyesal dengan segala tindakan saya selama ini… dan saya sungguh-sungguh bertobat… Dengan cucuran air mata, saya meminta pengampunan dari Tuhan, karena telah berdosa dan telah menghancurkan hati istri dan anak-anak saya. “Tuhan, ampunilah aku….Tuhan, masih adakah maaf bagiku?

Tuhan mengampuniku dan menjadikan segalanya baru

Akhirnya, saya tidak jadi bunuh diri. Kenapa saya ‘terselamatkan’ malam hari itu? Ini saya yakini adalah berkat doa istri saya kepada Tuhan Yesus. Ternyata malam itu istri saya juga tidak bisa tidur, karena merasa menyesal telah mengakibatkan saya kabur dari rumah. Dengan tetesan air mata, istri saya juga berdoa semalaman kepada Tuhan agar melindungi saya supaya selamat dan kembali ke rumah. Saudara-saudaraku, lihatlah betapa manjurnya doa seorang istri. Betapa tidak, sebab sebagai jawabannya, saya merasakan jamahan Tuhan pada malam hari itu……

Tuhan, aku bersyukur Engkau memberikan kepadaku istri yang begitu menyayangiku….. Kumohon, berikanlah kepadaku kesempatan lagi untuk mengasihinya seumur hidupku… Ijinkan aku membuktikan kepadanya betapa aku mengasihinya….” Ah, seandainya setiap suami di dunia ini dapat selalu mengasihi istrinya… Seandainya jangan sampai mengalami pengalaman seperti ini dulu baru tahu artinya mengasihi….

Saya teringat, betapa tertutupnya mata saya selama itu. Di karaoke, maupun di diskotik dan memang ada cewek-cewek yang bisa sangat perhatian, sangat enak diajak curhat dan sebagainya, dan tidak seperti istri yang di rumah sibuk mengurus anak-anak, dan tidak punya waktu untuk mendengar suami. Namun, sesungguhnya itu bukan alasan bagi suami untuk menyeleweng. Sebab menurut saya, para wanita di karaoke/diskotik itu hanya ber-akting, karena ingin mendapatkan sesuatu alias uang. Sebenarnya menyalahkan istri karena terlalu sibuk mengurus anak-anak dan rumah tangga, hanyalah alasan saya saja… Betapa saya menyadari ke-egoisan saya selama ini, tanpa memikirkan istri dan anak-anak saya. “Tuhan, ampunilah aku…”

Walaupun tekad bertobat sudah bulat, namun ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sesuatu yang telah hitam tidaklah dapat saya ubah menjadi putih hanya dalam semalam. Semuanya perlu proses, dan setelah kejadian itu, masih banyak cobaan yang saya alami. Saya mengalami jatuh bangun dalam kehidupan iman saya. Iblis tidak menyukai, kalau saya berpaling darinya. Dia masih berusaha untuk selalu menarik saya kembali. Namun saya bersyukur kepada Tuhan, karena kasih-Nya lebih besar dari semua godaan yang saya alami. Kasih-Nya telah menjaga dan menyelamatkan saya dan keluarga saya. Ia memampukan saya untuk teguh berpegang pada iman dan tekad saya untuk bertobat.

Tuhan menunjukkan kepada saya untuk membuka hati dan menerima kehadiran Yesus. Setelah menerima sakramen Tobat, dan dengan doa, dan bertekun dalam Sabda Tuhan, hubungan saya dengan Tuhan menjadi lebih akrab. Bergabung dengan komunitas di Paroki meningkatkan hubungan saya dengan Tuhan dan sesama. Saya mengalami sendiri, bahwa komunitas membantu saya untuk terus kuat berjalan dalam iman. “Terima kasih, Tuhan, atas rahmat pengampunan-Mu….

Tuhan membimbingku

Hari demi hari saya jalani bersama Tuhan. Setiap pagi, saya berlutut di pojok doa di rumah saya, dan saya berdoa memohon kepada Tuhan Yesus untuk menjaga saya sepanjang hari, agar saya tidak terjerumus ke dalam dunia malam lagi. Memang, dengan memandang salib Yesus, saya menyadari akan besarnya kasih-Nya kepada para pendosa seperti saya. Ia rela menderita sedemikian hebatnya demi menebus dosa-dosa saya. Ya, dengan memandang Yesus yang tersalib, maka saya diteguhkan untuk tidak berbuat dosa lagi. Dan sungguh, Tuhan kita adalah sungguh Allah yang baik, setia dan penuh kasih. Setelah saya bertobat, Dia sungguh-sungguh memberikan rahmat dan berkat yang melimpah kepada saya dan keluarga saya. Sekarang, saya mengakui bahwa segala sesuatu yang ada pada saya adalah karunia. Semuanya adalah karena berkat kasih karunia Tuhan, dan bukan hasil jerih payah saya sendiri. Tuhan sungguh telah bermurah hati pada saya, dan saya tidak akan melupakan-Nya!

Satu hal yang paling saya syukuri adalah, Tuhan memulihkan keluarga saya. Bahtera rumah tangga saya yang retak karena dosa yang saya perbuat, Tuhan bentuk lagi menjadi indah. Saya tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan, karena Dia memberikan kepada saya istri yang mau menerima saya kembali dengan segala kekurangan dan masa lalu saya yang gelap. Saya bersyukur bahwa saya, seperti kisah anak yang hilang, telah kembali dan diterima oleh Allah Bapa. Saya hanya memohon kepada Tuhan, agar tidak pernah akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang Tuhan berikan pada saya: Ya, saya mau mengasihi Tuhan, mengasihi istri dan anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada saya. Saya bersyukur untuk rahmat sakramen Perkawinan yang telah mengikat kami, dan saya berjanji untuk mempertahankannya sampai akhir hidup saya. Saya tidak mau kembali hidup di dalam dosa, sebab hidup saya yang lama telah mati. Sekarang saya memiliki hidup yang baru bersama Tuhan. Terima kasih, Tuhan Yesus. Dimuliakanlah nama-Mu! Biarlah semakin banyak orang mengalami kasih-Mu dan memuji kebaikan-Mu.

“…kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama… supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef 4:22-24)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab