Home Blog Page 313

Tidak ada keselamatan kecuali melalui Yesus

17

Pertanyaan:

kaum kristiani meyakini bahwa tidak ada keselamatan kecuali mengikuti yesus, tolong beritahu kami ketrangan al-kitab tentang ini – David

Jawaban:

Salam damai David,
Terima kasih atas pertanyaannya. Memang umat Kristiani meyakini bahwa tidak ada keselamatan kecuali melalui Yesus Kristus, yang diwujudkan dalam Sakramen Baptis dan menjadi anggota dari Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja Katolik. Namun hal tersebut di atas harus diterangkan secara lebih mendetil:

  1. Silakan membaca beberapa artikel tentang Kristologi di bahwa ini:
    Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia.
  2. Secara singkat, untuk menjawab hal ini, berikut ini adalah bukti-bukti dari Alkitab yang telah dipaparkan dalam beberapa artikel yang pernah ditulis.
    1. Semua pada awalnya diciptakan baik adanya, dimana hubungan antara manusia dan Tuhan adalah begitu baik. (lih Kej 2).
    2. Namun manusia (Adam dan Hawa) telah jatuh ke dalam dosa (lih Kej 3; Rom 5. Dan inilah yang disebut dosa asal.
    3. Dosa memisahkan manusia dari Tuhan, karena Tuhan adalah kudus dan kekudusan tidak dapat bercampur dengan dosa.
    4. Manusia tidak berdaya untuk melepaskan diri dari dosa, sehingga Tuhan dalam Kebijaksanaan dan Kasih-Nya memberikan Putera-Nya yang terkasih – Yesus Kristus – untuk menyelamatkan manusia (silakan membaca artikel ini, dan juga ini). Kedatangan-Nya telah dinubuatkan oleh para Nabi (klik artikel ini) dan telah dicatat dalam sejarah manusia (klik artikel ini).
    5. Sampai tahap ini, maka terlihat jelas, bahwa Yesus Kristus adalah merupakan satu-satunya penyelamat manusia, dimana tanpat Yesus, maka manusia masih tetap dalam belenggu dosa.
    6. Dan bagaimana kita memperoleh keselamatan? Yaitu dengan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Kristus sendiri. Bayangkan kalau kita tersesat, dan Yesus adalah petunjuk jalannya yang akan membawa kita kepada tujuan akhir – yaitu surga – , maka kita harus mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Kita tidak dapat mengikuti sebagian perintah-Nya, namun semua perintah-Nya, sama seperti orang yang tersesat harus mengikuti segala perintah penunjuk jalan. Dan perintah-perintah-Nya adalah termasuk:
      1. Mengikuti Kristus, karena Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6). “Jalan“, karena Dia yang membuka jalan, sehingga surga terbuka kembali dengan sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. “Kebenaran“, karena Dia adalah Tuhan, yang menjadi kebenaran mutlak. “Hidup“, karena Dia yang Tuhan yang memberikan kehidupan, dan yang mengikuti-Nya akan memperoleh hidup kekal.
      2. Menerima Sakramen-Sakramen, yang diberikan oleh Kristus. Lihat artikel-artikel tentang sakramen:Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama – Baptis, Ekaristi (1, 2, 3), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.
      3. Menjadi anggota dari Gereja yang didirikan oleh Kristus, yaitu Gereja Katolik. Silakan melihat artikel ini (silakan klik).
      4. Beriman kepada Kristus, yang dinyatakan dalam pengharapan dan kasih (lihat jawaban ini).
    7. Untuk konsep keselamatan dalam konteks yang lebih luas, silakan untuk melihat jawaban ini: (silakan klik)
    8. Namun pada akhirnya, pada saat seorang mengikuti Yesus, maka orang tersebut dimampukan untuk berbuat kasih, yaitu kasih terhadap Tuhan dan kasih kepada sesama(Lihat Artikel Kekudusan: Kekudusan itu sangat penting dalam kehidupan rohani kita, karena kekudusan adalah kehendak Tuhan untuk semua orang. Kekudusan menjadi tanda yang nyata bagi kita sebagai pengikut Kristus, dan kekudusan adalah sesuatu yang diperhitungkan pada saat akhir hidup kita (Apa itu Kekudusan?). Marilah kita memeriksa diri sendiri, sudahkah kita hidup kudus (Refleksi praktis tentang Kekudusan), dan mulai mempraktekkannya dengan belajar untuk lebih rendah hati (Kerendahan hati Dasar dan Jalan menuju Kekudusan).
    9. Keselamatan juga menjadi suatu perjuangan bagi seluruh umat beriman, karena keselamatan merupakan suatu yang lampau, sekarang, dan akan datang:
      • Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).
      • Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).
      • Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).

Semoga jawaban singkat tersebut dapat memberikan gambaran singkat tentang konsep keselamatan di dalam Kristus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Mengapa ada dosa asal?

95

Pertanyaan:

Yesus menebus dosa seluruh umat manusia ? Alkitab anda sendiri tidak menyatakan demikian. dalam Yehezkiel 18:20 kan sudah jelas, SETIAP MANUSIA MENANGGUNG DOSANYA MASING-MASING ! yang merubah ayat ini bukankah Palus yang aslinya bernama Saulus ? Yesus saja tidak merubah Hukum Agama Musa, [  ada di MATIUS 5:17-19 dan MATIUS 22:40  ],Paulus kan bukan murid Yesus, [  Yesus sudah tidak ada waktu Paulus ada  ], Paulus hanya mengaku bertemu Yesus, padahal yang dilihat adalah seberkas cahaya, mimpi kaleee si Paulus ini. Olala

Jawaban:

Shalom Olala, Terima kasih atas beberapa pesan yang diberikan. Dari beberapa pesan, saya melihat gaya bahasa Olala yang kurang santun (maaf, saya bicara apa adanya) dan Olala tidak menyatakan argumentasi secara langsung. Saya minta maaf, kalau beberapa pesan yang saya anggap kasar tidak dapat saya masukkan dalam website ini. Namun untuk komentar ini, mari kita berdiskusi dengan penuh hormat dan kelemahlembutan. Masing-masing kita tahu, bahwa memang ada perbedaan-perbedaan di antara kita dan adalah hal yang wajar untuk mempunyai perbedaaan pendapat. Mari kita bersama-sama belajar untuk menyampaikan kebenaran dengan baik tanpa menggunakan kata-kata yang kasar dan juga tanpa bermanis-manis yang mungkin hanya mengaburkan kebenaran itu sendiri. Saya akan postkan pesan Olala selanjutnya, dengan kondisi yang saya sebutkan di atas. Kalau Olala masih menggunakan kata-kata yang kasar, maka dengan sangat menyesal, saya tidak akan dapat mempostkan komentar Olala di website ini. Mari sekarang kita mulai dengan dialog tentang dosa asal.

Argumentasi Olala:

1) Olala tidak setuju bahwa Yesus menebus dosa seluruh umat manusia, yang bersumber dari pendapat bahwa tidak ada dosa asal, karena:

Yehezkiel 18:20 mengatakan “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.“.

2) Yesus tidak pernah merubah hukum Agama Musa, yang dapat dilihat di:

Mat 5:17-19 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga“.

Mat 22:40 “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Karena Yesus tidak pernah merubah hukum Musa (mungkin lebih baik hukum di dalam Perjanjian Lama), maka apa yang dikatakan oleh Yehezkiel 18:20 – tentang: seseorang harus bertanggung jawab akan dosa yang diperbuatnya sendiri – tetap berlaku.

3) Paulus dikatakan merubah konsep dosa asal, yang menurut Olala sebenarnya tidak ada di dalam Alkitab.

Olala meragukan kredibilitas Paulus, karena Paulus bukanlah termasuk murid Kristus dan Yesus telah meninggal pada saat Paulus mulai diceritakan di dalam Alkitab. Alkitab hanya menceritakan bahwa Paulus hanya melihat seberkas cahaya yang diragukan kebenarannya.

Dari argumentasi Olala di atas, maka inilah yang dapat saya sampaikan:

I. Konsep tentang dosa asal dari Kitab Suci dan Tradisi Suci.

1) Pada masa Gereja awal ada beberapa golongan yang menolak konsep “dosa asal“, seperti Pelagians, Gnostics dan Manichaeans, yang tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik. 2) Berikut ini adalah kutipan dari beberapa ayat di Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan tidak terbatas hanya pada Yehezkiel dan surat rasul Paulus.

a) Manusia pertama telah berbuat dosa:

Dalam kitab Kejadian dinyatakan bahwa Adam dan Hawa telah berdosa dan oleh karena itu, maka Adam dan Hawa dan seluruh keturunannya harus menanggung dosa. (lih Kej 2).

Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.” (Keb 2:24).

Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” (2 Kor 11:3; 1 Tim 2:14; Rm 5:12; Yoh 8:44).

Dosa manusia pertama adalah dosa kesombongan (lih. Rm 5:19; Tob 4:14; Sir 10:14-15).

b) Akibat dari dosa asal adalah: (untuk lebih lengkapnya, silakan melihat jawaban ini – silakan klik).

Manusia kehilangan rahmat kekudusan dan terpisah dari Allah. (Lih Kej 3).

Manusia kehilangan “the gift of integrity“, sehingga manusia dapat menderita dan meninggal (lih. Kej 3:16).

Manusia terbelenggu oleh dosa dan kejahatan (lih. Kej 3:15-16; Yoh 12:31; 14:30; 2 Kor 4:4; Ib 2:14; 2 Pet 2:19).

c) Dosa asal ini diturunkan kepada semua manusia:

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mz 51:7).

Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!” (Ay 14:4).

Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.“(Keb 2:24).

From the woman came the beginning of sin, and by her we all die.” (LXX/ Septuagint – Sir 25:33).

Dan kemudian rasul Paulus memberikan penegasan dengan memberikan perbandingan antara Adam, manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa kesombongan, dan Kristus yang membebaskan manusia dari dosa dengan ketaatan kepada Allah (Rom 5:12-21, lihat juga Rom 5:12-19, 1 Kor 15:21, dan Ef 2:1-3).

3) Dan konsep tentang dosa asal juga didukung oleh bapa Gereja, seperti Santo Agustinus (De Nupt. et concupt. II 12,25). St. Cyprian juga memperkuat doktrin dosa asal dengan memberikan alasan bahwa dosa asal merupakan doktrin yang memang telah ada sejak awal mula, yang dibuktikan dengan permandian bayi untuk penghapusan dosa (lih. St. Cyprian, Ep. 64, 5). Kemudian doktrin ini diperkuat dari pernyataan Konsili Trente (D.790).

4) Dari hal tersebut di atas, maka doktrin tentang dosa asal bersumber kepada dari Alkitab, juga dari Tradisi Suci, yang diperkuat oleh Bapa Gereja dan Konsili.

II. Yesus tidak pernah merubah hukum Musa?

1) Dalam hal ini mungkin lebih tepat bahwa Yesus memang tidak datang untuk merubah hukum Taurat (dalam Perjanjian Lama), seperti yang disebutkan oleh Olala dengan mengutip Mat 5:17-19. Dan oleh karena doktrin dosa asal bersumber pada Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru seperti yang saya telah sebutkan di atas, maka keduanya tidak saling bertentangan, dan dengan demikian semakin memperkuat bahwa Yesus tidak pernah menghapuskan doktrin dosa asal. Yesus adalah pemenuhan dari Perjanjian Lama dan hal yang baru yang diajarkan oleh Yesus adalah “Diri-Nya Sendiri“, bukan hanya hukum-hukum, namun Sang Pembuat Hukum; bukan hanya peraturan namun disposisi hati yang bersumber pada kasih kepada Tuhan. 2) Bagaimana dengan argumentasi dari Yeh 18:20?

a) Dari penjelasan di atas (point I), maka kita melihat bahwa ada dosa asal, dosa yang diturunkan oleh Adam kepada seluruh manusia, yang membuat manusia mempunyai “kecenderungan berbuat dosa atau “concupiscence” dan kehilangan “the gift of integrity” (silakan melihat jawaban ini – silakan klik). Ini adalah dosa yang tidak dapat dihindari, karena sejak lahir semua manusia mempunyai dosa asal.

b) Namun, karena manusia tidak seluruhnya rusak dan dengan keinginan bebas manusia – walaupun dia mempunyai dosa asal -, dia tetap dapat berkata “tidak” atau “ya” terhadap dosa. Dalam konteks inilah nabi Yehezkiel mengatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap dosanya masing-masing. Jadi misalnya, kalau ayahnya adalah penghianat dan dihukum mati, maka anaknya belum tentu penghianat dan tidak perlu dihukum mati.

c) Hal ini dapat diterangkan dalam kehidupan sehari-hari. Umat Katolik percaya bahwa dosa asal dapat hilang dengan Sakramen Baptis, sehingga manusia menjadi berkenan di hadapan Allah. Namun kecenderungan untuk berbuat dosa atau concupiscense tidak terhapuskan oleh Sakramen Baptis, sehingga membuat manusia harus berjuang dalam hidup kudus. Ini juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk membuktikan kasihnya kepada Allah. Nah, setiap orang yang telah dibaptis, yang telah hilang dosa asalnya, harus berjuang setiap hari untuk berkata ‘tidak’ terhadap dosa.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1264  Tetapi di dalam orang-orang yang dibaptis tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, “dapur dosa” [fomes peccati]. Karena keinginan tak teratur “tertinggal untuk perjuangan, maka ia tidak akan merugikan mereka, yang tidak menyerah kepadanya dan yang dengan bantuan rahmat Yesus Kristus menantangnya dengan perkasa. Malahan lebih dari itu, siapa yang berjuang dengan benar, akan menerima mahkota (2Tim 2:5)” (Konsili Trente: DS 1515).

III. Kredibilitas Paulus:

1) Kalau memang Olala meragukan kredibilitas Paulus, bagaimana Olala membuktikan bahwa Rasul Paulus perlu diragukan? Satu-satunya cara untuk membuktikan hal ini adalah kalau Olala dapat memberikan data-data bahwa Paulus menyelewengkan ajaran Kristus.

2) Kalau kita mempelajari secara lebih teliti, sebetulnya kita tidak perlu meragukan kredibilitas Paulus, karena:

a) Tidak ada ajaran Kristus yang diselewengkan oleh rasul Paulus, bahkan Tuhan memilih Paulus sendiri sebagai rasul non-Yahudi (Kis 22:14-21; Kis 26:16-18; Rom 1:1; 1 kor 1:1; 1 Kor 9:1-2; 1 Kor 15:9; Gal 1:1; Gal 1:15-16; Ef 1:1; Kol 1:1; 1Ti 1:1; 1Ti 2:7; 2Ti 1:1; 2Ti 1:11; Tit 1:1; Tit 1:3).

b) Rasul Paulus diterima dengan baik oleh para rasul, seperti yang ditunjukkan di konsili Yerusalem (Kis 9:26-29). Kalau apa yang diajarkan oleh rasul Paulus bertentangan dengan ajaran Kristus, pasti rasul-rasul yang lain akan menentang rasul Paulus. Namun hal ini tidaklah terjadi.

c) Jadi bagaimana dengan pertobatan rasul Paulus yang dianggap sebagai mimpi oleh Olala? Silakan membaca referensi berikut ini: Kis 9:3-22; Kis 22:4-19; Kis 26:9-15; 1 Kor 9:1; 1 Kor 15:8; Gal 1:13; 1Tim 1:12-13.

Kalau Tuhan sendiri menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia, apa sulitnya bagi Tuhan untuk memberikan vision kepada rasul Paulus, sehingga dia dapat mengerti begitu banyak akan pengetahuan Allah? Kalau vision ini tidak dapat diterima oleh Olala, bagaimana menceritakan rasul Paulus yang dahulu sebagai orang Yahudi yang taat, belajar di bawah Rabi Gamaliel, kemudian dapat menjadi pengikut Kristus dengan pengetahuan tentang Kristus yang luar biasa?

IV. Beberapa pertanyaan untuk Olala:

Kalau memang, Olala tidak menyetujui akan konsep dosa asal, saya ingin menanyakan tentang hal-hal berikut ini:

1) Apakah Olala mempercayai bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa secara sempurna?

2) Kalau memang demikian, mengapa manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa? Apakah dengan demikian maka Tuhan tidak menciptakan manusia baik adanya?

3) Darimanakah asalnya kematian? Apakah manusia diciptakan pada awalnya dengan sifat yang sementara? Mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia pada awalnya dengan sifat yang tetap dan tetap bersatu dengan pencipta-Nya untuk selama-lamanya? Semoga jawaban dan pertanyaan tersebut di atas dapat semakin membuat Olala dan saya sendiri untuk semakin merenungkan akan topik ini.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Perbedaan ayat-ayat: Yeh 34:16 dan Yoh 5:39

1

Pertanyaan:

Syalom kak Stef. II.
Menurut teman saya, ada terjemahan yang kurang tepat di Alkitab terbitan LAI dibawah ini :

LAI = Yeh 34:16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Yang benar :
Yeh 34:16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kubinasakan; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya

LAI = Yoh 5:39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,

Yang benar :
Yoh 5:39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa melalui hal tersebut kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,

Mengingat saya tidak mengerti bahasa aslinya, mohon pencerahan dari Bpk. Stef. II.

Terima kasih, Tuhan memberkati. – Julius

Jawaban:

Shalom Julius,
Terima kasih atas pertanyaannya.
A. Yeh 34:16

  1. Beberapa terjemahan Kitab Suci:
    1. LAI: Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.
    2. DRB (Douay Rheims – Terjemahan Inggris dari Vulgate Bible): I will seek that which was lost: and that which was driven away, I will bring again: and I will bind up that which was broken, and I will strengthen that which was weak, and that which was fat and strong I will preserve, and I will feed them in judgment.
    3. RSV: I will seek the lost, and I will bring back the strayed, and I will bind up the crippled, and I will strengthen the weak, and the fat and the strong I will watch over; I will feed them in justice.
    4. NASB: “I will seek the lost, bring back the scattered, bind up the broken and strengthen the sick; but the fat and the strong I will destroy. I will feed them with judgment.
    5. NIV: I will search for the lost and bring back the strays. I will bind up the injured and strengthen the weak, but the sleek and the strong I will destroy. I will shepherd the flock with justice.
    6. KJV+: I will seekH1245 (H853) that which was lost,H6 and bring againH7725 that which was driven away,H5080 and will bind upH2280 that which was broken,H7665 and will strengthenH2388 that which was sick:H2470 but I will destroyH8045 the fatH8082 and the strong;H2389 I will feedH7462 them with judgment.H4941
  2. Dari hal tersebut di atas, terlihat bahwa perbedaan terjemahan adalah dikarenakan terjemahan versi Ibrani berbeda dengan versi Yunani (=LXX). Saya berterima kasih kepada Romo Dr. H. Pidyarto, O’Carm, yang telah membantu dalam menjawab pertanyaan ini.
    Menurut versi Ibrani Tuhan akan menghancurkan  yang gemuk. Jika terjemahan ini yang diterima, maka maknanya adalah sbb: yang gemuk itu memang jahat, suka memeras yang lain; justru karena kejahatan dan ketamakan mereka, maka mereka bisa menjadi gemuk.
    Tetapi, menurut LXX, Tuhan akan memelihara yang gemuk. Jika terjemahan ini yang dipakai/benar, maka artinya: Tuhan akan menjaga semua domba, termasuk yang sudah gemuk.
  3. Para ahli menduga, dahulu si penyalin (copyist) kitab Yehezkiel  salah membaca teks Ibrani, yaitu salah membaca ’smr menjadi ’smd (huruf r r menjadi huruf d d) yang memang amat mirip dalam bahasa Ibrani. Perbedaannya hanya pada sudut ujung atas yang sedikit ada ekornya.

B. Yoh 5:39

  1. Beberapa terjemahan Kitab Suci:
    1. LAI: Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
    2. DRB (Douay Rheims – Terjemahan Inggris dari Vulgate Bible): Search the scriptures: for you think in them to have life everlasting. And the same are they that give testimony of me.
    3. RSV: You search the scriptures, because you think that in them you have eternal life; and it is they that bear witness to me;
    4. NASB: “You search the Scriptures because you think that in them you have eternal life; it is these that testify about Me;
    5. NIV: You diligently study the Scriptures because you think that by them you possess eternal life. These are the Scriptures that testify about me,
    6. KJV+: SearchG2045 theG3588 scriptures;G1124 forG3754 inG1722 themG846 yeG5210 thinkG1380 ye haveG2192 eternalG166 life:G2222 andG2532 theyG1565 areG1526 they which testifyG3140 ofG4012 me.G1700
  2. Dari beberapa terjemahan tersebut di atas, maka memang “oleh-Nya” dalam hal ini “Nya” mengacu kepada kitab-kitab Suci. Hal ini menjadi masuk diakal, karena Alkitab hanya dapat dimengerti secara penuh dalam terang Kristus. Dan Alkitab bersaksi tentang pribadi Kristus (Lih. Lk 24:27, Lk 24:45). Hanya membaca Alkitab tanpa menangkap pribadi Kristus dan tanpa menjadi murid-Nya, tidak akan membawa seseorang kepada keselamatan.

Semoga keterangan tersebut di atas dapat menjawab pertanyaan Julius.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Siapakah yang mengalahkan Goliat?

7

Pertanyaan:

Bu Inggrid di dalam kitab suci, terkadang ditemukan hal aneh sbb : 2 Tawarikh 22 : 2, dikatakan raja Ahazia jadi raja pada usia 42 tahun, sedangkan dalam 2 Raja 8: 26, pada saat jadi raja berusia 22 tahun. Yang membunuh Goliath juga dikenal Raja Daud, tapi dalam Tawarikh pembunuhnya bernama lain. Bagaimana jika hal ini oleh orang agama tertentu diajukan sebagai bukti bahwa kitab suci kita berisi kekeliruan2 alias palsu? Mohon penjelasannya. Thx. – Saulus

Jawaban:

Shalom Saulus,
Kita percaya bahwa Kitab Suci diwahyukan oleh Allah sendiri kepada manusia. Dan karena Allah yang menjadi ‘Pengarang’ Alkitab ini, maka kita percaya Alkitab berisi kebenaran. Namun dalam hal penulisan Alkitab, Allah menggunakan tangan-tangan manusia, dengan memberikan inspirasi Roh Kudus kepada para penulis kitab tersebut sehingga mereka menuliskan apa yang menjadi kehendak Allah. Selanjutnya, kitab-kitab ini diperbanyak (umumnya oleh para rahib/ pertapa) untuk maksud pengajaran umat.  Dalam hal penulisan kembali inilah dimungkinkan terjadi perbedaan-perbedaan, pada detail-detail tertentu  walaupun perbedaan tersebut relatif tidak banyak, dan tidak mengubah isi doktrin/ pengajaran dari Kitab Suci itu sendiri.
Perbedaan tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa Kitab Suci adalah Buku yang paling mengagumkan, karena meskipun dituliskan oleh tangan banyak orang dalam jangka waktu lebih dari seribu tahun, namun semua menunjuk kepada pesan Allah yang terpenting bagi manusia, yaitu, keselamatan yang dijanjikan oleh Allah melalui Kristus Yesus Putera-Nya. Justru karena ditulis oleh banyak orang (dengan inspirasi Roh Kudus) namun tidak menimbulkan pertentangan ajaran, maka kita dapat melihat bahwa sumber inspirasi Alkitab adalah Allah sendiri.
Dalam waktu mendatang ini, kami akan menuliskan artikel tentang Kitab Suci, bagaimana terbentuknya, dan bagaimana kita membaca dan memahaminya, dst., sehingga mungkin uraian hal Kitab Suci menjadi lebih jelas.

Sekarang mari kita lihat pertanyaan Saulus:

  1. Siapa yang mengalahkan Goliat, Daud atau orang lain, sebab terjadi perbedaan yang disebutkan dalam Kitab Samuel dan Tawarikh?
    Daud mengalahkan Goliat seorang pendekar tentara orang Filistin (1Sam 17:4), dengan umban dan batu, tanpa pedang, seperti tertera dalam 1 Sam 17:50. Pada kitab 1Tawarikh 20:5, disebutkan bahwa Elhanan bin Yair menewaskan Lahmi, saudara Goliat. Di sini, Lahmi adalah saudaranya Goliat/ the brother of Goliat, bukannya saudara Goliat, seperti kita menyapa seseorang dengan perkataan ’saudara’ (misalnya Saudara Saulus). Jadi Elhanan bin Yair bukannya pembunuh Goliat, tetapi saudara-nya Goliat yang namanya Lahmi. Jadi di sini tidak ada perbedaan Kitab Samuel dan Tawarikh tentang siapa yang mengalahkan Goliat.
  2. Mengenai perbedaan mengenai data Raja Ahazia pada saat ia menjadi raja Yehuda (2 Raj 8:26 dan 2 Tw 22:2), berikut ini adalah beberapa penjelasannya:
    1. Dalam Kitab Suci “The Jerusalem Bible” yaitu terjemahan yang diterima hampir oleh semua orang Kristen, tidak terdapat pertentangan antara kedua ayat tersebut, karena baik 2 Raj 8:26 dan 2 Tw 22:2 menyebutkan bahwa Raja Ahazia naik tahta pada usia 22 tahun. Namun pada catatan kaki dikatakan bahwa menurut salinan Kitab Suci berbahasa Ibrani, dikatakan bahwa usianya 42 tahun (seperti yang tertulis dalam Alkitab berbahasa Indonesia, 2Tw 22:2).
      Dengan melihat 2 Tw 21:20, yang menyebutkan bahwa ayah Ahazia (Raja Yoram) meninggal pada usia 40 tahun, maka lebih masuk akal jika Ahazia naik tahta pada usia 22 tahun. Usia 22 tahun inilah yang disebutkan dalam terjemahan Yunani (Septuagint).
      Jadi di sini memang terdapat perbedaan penulisan antara Alkitab versi Ibrani dan Yunani, walaupun perbedaan ini tidak mengubah kenyataan bahwa Ahazia naik tahta sebagai Raja Yehuda, menggantikan ayahnya Raja Yoram.
    2. Karena kita ketahui bahwa Kitab Raja-raja ditulis lebih dahulu (640- 550 BC) daripada kitab Tawarikh (400-350 BC) yang menjabarkan kembali kisah raja-raja, maka ada kemungkinan bahwa terjadi kesalahan penyalinan teks dalam hal ini. Hal perbedaan ini dan juga perbedaan yang lain yang diketemukan dalam Kitab Ibrani dan Septuagint masih diteliti oleh para ahli Kitab Suci.
    3. Ada pula tafsir yang mengatakan bahwa Ahazia naik tahta pada usia 42 tahun dihitung menurut tahun-tahun keluarga Ahab,  sedangkan secara biologis ia berumur 22 tahun pada saat naik tahta (2 Tw 22:2).
Adanya perbedaan tersebut tidak menjadikan Alkitab palsu. Karena secara keseluruhan, hal itu tidak mempengaruhi fakta yang ingin disampaikan, bahwa Raja Ahazia naik tahta menggantikan ayahnya Raja Yoram sebagai Raja Yehuda. Tidak ada pengajaran/ doktrin tertentu yang berubah oleh adanya perbedaan penulisan angka umur ini.

Akhirnya, perlu kita sadari bahwa Allah mewahyukan diri-Nya kepada  banyak orang pilihan-Nya (tidak hanya kepada satu orang saja) untuk menuliskan Kitab Suci. Justru karena Alkitab ditulis melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, dan perbedaan-perbedaan seperti di atas juga relatif sedikit, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Akan lebih praktis memang, jika pewahyuan tersebut hanya diberikan kepada satu orang saja (wahyu pribadi); namun bukan demikian yang menjadi rencana Allah. Allah mewahyukan diri-Nya dalam sejarah manusia, sesuai dengan yang kita ketahui dari sejarah terbentuknya Kitab Suci, yaitu wahyu Allah yang dinyatakan kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan yang akhirnya dipenuhi dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk/ membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Inkarnasi dan membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan

5

Pertanyaan:

1. Terima kasih atas penjelasannya, terminologi yang paling tepat untuk kasus Jesus purtra Maryam (keselamatan atas beliau) adalah inkarnasi dalam keimanan katolik. Mari lanjutkan ke point 2.

2. Keimanan akan inkarnasi, secara manusiawi dapat dikatakan kebutuhan mahluk untuk lebih mengenal Penciptanya (atau sebaliknya), sehingga menjelmakan Pencipta kedalam bentuk mahluk, dengan Sifat-sifat sebagaimana mahluk yang bukan hanya dalam ungkapan saja(”anthropomorphism”) sehingga menjadi nyata misalnya berjalan, makan, minum dan seterusnya.

3. Jika, misalnya ada seseorang yang mempunyai keimanan bahwa dahlu kala tuhan turun kebumi menjelma menjadi seseorang dengan segala macam “keajaiban” nya, dan tuhan yang menjadi mahluk tersebut bernama Yeshua ben shirach, apakah orang ini termasuk “katolik” ? tolong penjelasannya.

4. Jesus putra maryam tidak pernah meng-aku-kan sebagai tuhan (saya telah baca artikel mengenai ini dibawah dengan contoh bill gates). Tapi di tuhankan karena berdasarkan
a. Nubuat: hal ini bisa ditafsirkan dari berbagai sisi, sudah banyak tulisan yang saling membantah mengenai nubuat “mesiash”, jadi bukan nubuat ketuhanan.

b. Keajaiban: saya tidak banyak berkomentar mengenai “keajaiban” dengan kondisi dan tolak ukur yang berlaku pada saat itu. Bagaimana mungkin menimbang satu keajaiban lebih besar dari keajaiban lainnya. Apalagi dengan parameter masa kini. Tentunya umum dapat memikirkan dengan mudah.

c. saya tidak mengerti maksudnya, apakah paus yang sekarang, dan sebelum-sebelumnya masih keluarga / keturunan petrus? Ehmm… banyak diantara kita yang berlangganan koran dan punya TV saya kira…

Segala puji bagi Tuhan semesta alam – J1lan

Jawaban:

Salam damai J1lan,
Terima kasih atas balasannya.
Memang terminology yang digunakan oleh umat Kristen tentang Yesus, Tuhan yang menjadi manusia adalah “Inkarnasi”.
I. Inkarnasi:

1) Manusia diciptakan untuk mengetahui dan mengasihi penciptanya. Dan keberadaan Sang Pencipta yang Maha Esa dapat dibuktikan dengan akal budi (lihat artikel: Membuktikan bahwa Tuhan Itu Ada). Hal ini dikarenakan mengetahui dan mengasihi Sang Pencipta telah menjadi bagian dari kodrat manusia, karena manusia diciptakan menurut citra Allah, yaitu dengan mempunyai akal budi (reason and will).
Jadi untuk mengungkapkan akan keberadaan Sang Pencipta, manusia tidak perlu untuk membuat-Nya menjadi berjalan, makan dan minum. Namun manusia dapat membuat suatu persembahan kepada Sang Pencipta, seperti yang ditunjukkan oleh hampir semua agama didunia, baik “natural religion” maupun “revealed religion“. Dan persembahan ini adalah sebagai suatu cara untuk menebus dosa manusia. Persembahan yang bersifat exterior adalah merupakan sesuatu dari dalam hati manusia atau “interior“.
Dan dalam konteks Inkarnasi, Yesus menyediakan diri sebagai kurban yang paling sempurna, karena kurban ini dilakukan oleh Tuhan yang menjadi manusia (mempunyai dignity yang sempurna) dan dilakukan atas dasar kasih yang sempurna. Hal inilah yang menjadikan persembahan Kristus di kayu salib menjadi sempurna dan tak bercacat.
Kalau ingin berdiskusi tentang hal ini lebih lanjut, silakan membaca terlebih dahulu tentang artikel-artikel Kristologi.
Dan kalau J1lan ingin mengatakan bahwa Inkarnasi hanyalah merupakan suatu khayalan belaka dari kebutuhan manusia, maka kita sungguh mempunyai perbedaan pendapat. Jadi, menurut saya, untuk tahap awal, silakan J1lan membuktikan dahulu bahwa Inkarnasi adalah tidak mungkin.

2) Seseorang yang percaya (tergantung dari definisi percaya) bahwa Tuhan turun ke dunia dan menjadi manusia dalam diri Yesus tidak serta merta disebut Katolik, karena orang tersebut harus menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya dan kemudian diwujudkan dalam tindakannya, yaitu masuk dalam Gereja Katolik melalui Sakramen Baptis. Ini berarti, orang tersebut harus menjalankan semua yang disebutkan di dalam doa “Aku Percaya” atau doa syahadat. Dan juga mengikuti apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik.
Kalau mau melihat dokumen resmi dari Gereja Katolik silakan membaca Lumen Gentium, yang dapat dilihat disini (silakan klik).
mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan didalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabunggkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan.” (LG, 14).

3) Menurut saya, mendiskusikan point ini (point I) tidak akan memberikan kesimpulan apa-apa, karena kita masih berbeda pendapat tentang apakah Yesus itu Tuhan atau bukan. Pada intinya, J1lan ingin membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan, sehingga lebih baik kita berfokus pada point II, di bawah ini.

II. Tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Mari kita melihat sekarang, bahwa pada akhrinya J1lan ingin membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Dan disinilah memang kita berbeda pendapat dalam melihat sosok Yesus. Bagi umat Kristen, Yesus adalah Tuhan, sedangkan bagi agama yang dipercayai oleh J1lan, Yesus dilihat hanya sebagai nabi, walaupun mungkin J1lan juga percaya bahwa yang menghakimi pada pengadilan terakhir adalah Yesus.

1) Untuk mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah, silakan membaca beberapa artikel tentang Kristologi yang telah ditulis, karena saya melihat dari pertanyaan yang dikemukakan, J1lan belum membaca beberapa artikel di bawah ini:
Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia.
Di dalam beberapa artikel tersebut, kami mencoba menjelaskan mengapa kami percaya akan Yesus sebagai Tuhan.

2) J1lan mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengaku sebagai Tuhan. Saya telah mencoba untuk membuktikan dalam beberapa artikel di atas, bahwa Yesus sendiri menyatakan diri bahwa Dia adalah Tuhan. Silakan membaca artikel tentang”Kristus yang kita imani adalah Yesus menurut sejarah ( silakan klik).” Di dalamnya ada begitu banyak perkataan yang dikatakan oleh Yesus sendiri, yang membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Ini adalah sebagian isi dari artikel tersebut, yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan:

a) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.

b) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).

c) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.

d) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7] mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.

e) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.

f) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).

g) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.

h) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).

i) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.

j) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):

Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.

Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.

Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).

Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.

Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.

Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8]

Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)

Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)

k) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.

l) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.

m) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).

n) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

3) Mungkin J1lan akan mengatakan bahwa Yesus tidak memberikan perkataan “Akulah Tuhan dan sembahlah Aku”. Kembali dalam analogi yang saya berikan:

a) Jadi dalam kasus Bill Gates dengan bukti-bukti di bawah ini, apakah J1lan percaya bahwa Bill Gates adalah orang kaya walaupun dia tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah orang kaya?

“Tunjukkan kepada saya, bahwa Bill Gates adalah orang kaya. Kalau dia tidak pernah mengatakan bahwa dia orang kaya, saya tidak akan percaya bahwa dia orang kaya.” Pernyataan seperti ini tidak mendasar, karena kita dapat melihat buktinya bahwa Bill Gates mempunyai uang 58 milyar US$, yang kurang lebih sekitar 60% dari budget negara Indonesia tahun 2008. Organisasi amalnya mempunyai uang sekitar 32% dari total budget negara indonesia selama satu tahun. Kalau kita tetap bersikeras bahwa Bill Gates tidak kaya, karena Bill Gates tidak pernah mengatakan bahwa dia kaya walaupun bukti-bukti di atas sudah menunjukkan bahwa Bill Gates orang yang sangat kaya, rasanya keberatan seperti itu kurang dapat dipertanggungjawabkan.

b) Atau dalam kasus seorang istri, apakah J1lan percaya bahwa seorang wanita yang telah bersuami dan mempunyai anak, adalah seorang wanita, walaupun wanita tersebut tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah seorang wanita?

Contoh yang mungkin lebih gamblang adalah seseorang yang bertanya kepada seorang suami dan mengatakan “Saya tidak akan percaya bahwa istri kamu adalah seorang wanita, karena dia tidak pernah mengatakan bahwa dia seorang wanita.” Tentu saja sang suami tidak terpengaruh, karena sang suami tahu persis bahwa istrinya adalah seorang wanita, karena istrinya telah melahirkan beberapa anak, dll.

III. Yesus Tuhan ataukah Yesus dibuat manusia menjadi Tuhan?

Mari kita sekarang melihat argumentasi dari J1lan yang mencoba membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, namun dibuat oleh manusia sebagai Tuhan. Dalam empat artikel tentang Kristologi yang saya sebutkan di atas, saya merasa bahwa telah begitu banyak bukti-bukti yang kami coba paparkan bahwa Yesus menyatakan diri sebagai Tuhan. Mari kita sekarang melihat tentang tiga hal pembuktian bahwa Yesus adalah Tuhan dengan “motive of credibility”, yang terdiri dari nubuat, mukjijat, dan Gereja Katolik, dan kalau mau ditambahkan adalah ajaran Yesus yang terbukti melebihi pemikiran manusia.

I. NUBUAT:

1) J1lan mengatakan bahwa Yesus diTuhankan karena berdasarkan nubuat, mukjijat, dan Gereja Katolik. Mari kita melihat analogi berikut ini: kita tidak dapat mengatakan seorang “diperempuankan” atau “diwanitakan” karena dia mengandung, menjadi istri, dll. Namun sebaliknya, karena dia perempuan dan mempunyai kodrat sebagai perempuan, maka dia dapat mengandung, dapat menjadi seorang istri.
Demikian juga dengan Yesus, kita tidak dapat berfikir terbalik bahwa Yesus di-Tuhankan karena nubuat, mukjijat, dan Gereja Katolik. Namun, karena Yesus adalah Tuhan, maka Dia dinubuatkan, melakukan mukjijat yang tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa, dan menjadi Kepala dari Gereja Katolik, yang satu, Kudus, katolik, dan apostolik.

2) Dalam artikel tentang nubuat para nabi (Klik disini), saya mencoba mengemukan bukti-bukti dari nubuat para nabi. Kalau J1lan mengatakan bahwa banyak bantahan tentang hal tersebut, tolong sebutkan dari artikel yang saya buat, bagian mana yang menjadi bantahan dan bagaimana membuktikan bahwa nubuat tersebut tidaklah benar. Saya ingin bertanya hal berikut ini kepada J1lan:

a) Apakah J1lan percaya bahwa, akan kitab Yesaya yang ditulis sekitar tahun 740 SM? Kalau tidak percaya apa alasannya, karena ada bukti dokumen tersebut, baik bukti secara fisik maupun secara science (silakan klik).

b) Kalau memang percaya, Nabi Yesaya mengatakan hal ini:

Nabi Yesaya memberikan gambaran yang begitu jelas akan karakter dan penderitaan Sang Mesias (Yes 42; 49; 50; 53). Mesias harus menderita untuk menanggung dosa dunia; oleh bilur-bilur-Nya, kita disembuhkan (Yes 53:5). Yesaya mengatakan bahwa Mesias akan memberikan punggungnya bagi orang-orang yang memukulnya, dan memberikan pipinya bagi yang mencabut janggutnya. Dia dinodai dan diludahi, namun dia tidak menyembunyikan mukanya (Yes 50:6). Mesias akan lahir dari seorang perawan, seperti yang diberitakan kepada raja Ahab oleh nabi Yesaya (Yes 7:13-14).

3) Dan bagaimana menerangkan bahwa nubuat yang dibuat 8 abad SM terjadi secara persis 8 abad kemudian dalam diri Yesus?
Dan keberadaan Yesus juga diterangkan dalam sejarah, yang ditulis oleh Josephus, sejarahwan Yahudi, dimana dalam bukunya “Jewish Antiquity, book XVIII – ch.iii” dia mengatakan: (sumber: newadvent – silakan klik).
About this time lived Jesus, a man full of wisdom, if indeed one may call Him a man. For He was the doer of incredible things, and the teacher of such as gladly received the truth. He thus attracted to Himself many Jews and many of the Gentiles. He was the Christ. On the accusation of the leading men of our people, Pilate condemned Him to death upon the cross; nevertheless those who had previously loved Him still remained faithful to Him. For on the third day He again appeared to them living, just as, in addition to a thousand other marvellous things, prophets sent by God had foretold. And to the present day the race of those who call themselves Christians after Him has not ceased. “.

4) Nubuat begitu penting dalam membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Kenapa? Karena inilah yang dapat dilakukan oleh Tuhan, sehingga pada saatnya yang dijanjikan datang – dalam diri Yesus – maka manusia dapat mengenalinya. Tanpa nubuat, bagaimana seseorang tahu bahwa Yesus adalah yang dijanjikan? Jadi, kalau J1lan ingin membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, maka J1lan harus mencoba untuk membuktikan bahwa semua nubuat yang ada bukanlah menubuatkan Yesus. Nubuat adalah salah satu kredibilitas bahwa Yesus adalah Tuhan, yang tidak dialami oleh tokok-tokoh agama yang lain.

II. KEAJAIBAN:

Keajaiban adalah salah satu cara bagaimana Yesus membuktikan diri-Nya sebagai Tuhan. Dia melakukan begitu banyak mukjijat dimana membantu manusia untuk menyadari dan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan.

1) Jadi bagaimana kita mengartikan akan suatu mukjijat yang dilakukan oleh Yesus, baik yang terekam di Kitab Suci maupun yang terekam di dalam sejarah?

2) J1lan bertanya, bagaimana kita menimbang bahwa keajaiban yang satu lebih besar dari yang lain? Saya rasa ini adalah pertanyaan yang dapat dijawab dengan mudah. Semakin keajaiban tersebut melebihi hukum alam, maka mukjijat tersebut akan dianggap semakin besar. Namun besar kecil dalam hal ini tidak masalah, karena Yesus melakukan mukjijat dari yang kecil sampai mukjijat yang terbesar. Dan mukjijatnya yang terbesar adalah kebangkitan Kristus (Mat 28:1-10; Mrk 16:1-20; Luk 24:1-53; Yoh 20:1-29, 21:1-19; Kis 1:3; 1 Kor 15:17; 1 Kor 15:5-8).

III. GEREJA KATOLIK

Saya tidak tahu maksudnya dengan komentar J1lan yang ini “Paus yang sekarang, dan sebelum-sebelumnya masih keluarga / keturunan petrus? Ehmm… banyak diantara kita yang berlangganan koran dan punya TV saya kira…”  Silakan memberikan komentar secara langsung dan mudah dimengerti. Apakah hubungannya hal ini dengan koran dan TV?
Berikut ini adalah keterangan yang dapat saya sampaikan mengenai hal ini:

1) Kalau kita ingin menelusuri tentang sejarah suatu negara, maka salah satu yang dapat kita lakukan adalah menelusuri urutan presiden atau orang yang memegang kekuasaan tertinggi di negara tersebut. Dalam hal ini, Gereja Katolik percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja di atas Rasul Petrus, yang menjadi Paus pertama. Kalau ditelusuri, maka kita akan dapat menelusuri bahwa rasul Petrus adalah Paus yang pertama, sampai Paus Benediktus XVI adalah Paus yang ke-265.

2) Kita tidak dapat berdiskusi tentang hal ini, sebelum kita mempunyai pandangan yang sama tentang pokok diskusi yang pertama, yaitu apakah Yesus adalah Tuhan atau hanya seorang nabi biasa.

Saya telah mencoba memaparkan dari apa yang saya percayai sebagai seorang Katolik. Semoga jawaban saya minimal dapat memberikan alasan-alasan bahwa mempercayai Yesus sebagai Tuhan bukanlah suatu hal yang tidak masuk diakal, namun menjadi mungkin karena Tuhan sendiri yang turun ke dunia dengan begitu banyak bukti-bukti yang mendukung. Semoga keterangan ini dapat menjawab pertanyaan J1lan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Tidak cukup menerima Yesus di hati saja

0

Pertanyaan:

Hal ini meyakinkan saya bahwa tidak cukup kita hanya “menerima Kristus di hati kita”, tetapi kita juga harus mengikuti contoh Kristus dan mencintaiNya sedemikian rupa dalam pengorbanan hidup kita sehari-hari. Karena itulah Kristus mengajarkan, “Bukan mereka yang memanggil Tuhan, Tuhan, yang akan diselamatkan, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa di surga” (Mat 7:21). Saya setuju dengan hal ini sb hal perkataan ini tidak mengatakan bahwa gereja Katholik yang menyelamatkan .
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,

Berikut ini adalah jawaban saya untuk point M, atau point yang terakhir. Sebelumnya, Ingrid dan saya ingin minta maaf kalau dalam menjawab dari point A-M, ada kata-kata yang tidak berkenan dan menyinggung Samuel. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan Ingrid dan saya dalam menyampaikan point-point yang kami yakini sebagai suatu kebenaran.

Mari kita melihat point terakhir ini.

I. Tidak cukup menerima Kristus secara pribadi

  1. Pernyataan ini ada kaitannya dengan doktrin “sekali selamat tetap selamat”, yaitu menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadi, dan seolah-olah seseorang diberikan jaminan pasti masuk surga, walaupun hidupnya dipenuhi dengan dosa.Saya telah mencoba untuk menjabarkan bahwa ajaran ini tidaklah Alkitabiah. Silakan membaca lengkapnya di point F: Sekali selamat tetap selamat (silakan klik).
  2. Dan benarlah yang dikatakan oleh Samuel dengan mengutip Mt 7:21 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga“. Karena pada akhirnya kasih yang menjadi takaran dari semuanya. Namun kasih tidak dapat dilepaskan dari pencarian kebenaran dengan segala akal budi, hati, dan kekuatan kita, yang pada akhirnya kita harus memilih suatu agama, yang menjadi sarana yang melaluinya kita dihantar kepada keselamatan kekal.Gereja Katolik dalam dokumen Vatikan II mengajarkan prinsip keselamatan melalui Gereja-Nya (dikenal dengan prinsip EENS- Extram Ecclesiam Nulla Salus) sebagai berikut:
    • ” Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium, 16)Jadi bagi orang yang bukan kesalahannya sendiri dapat masuk surga sejauh keadaan tidak mengenal Kristus adalah sebagai akibat dari “invincible ignorance” (ketidak tahuan yang tak dapat dihindari) seperti yang telah dijelaskan di atas. (lihat keterangan di jawaban ini – silakan klik).
    • Hal ini tidaklah bertentangan dengan prinsip berikutnya, yaitu: “Andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” (Lumen Gentium 14)
      Hal ini dikarenakan bahwa orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran.
    • Dan juga tidak bertentangan dengan:”Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”. (Lumen Gentium 14)Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai “kepenuhan kebenaran” harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi orang Katolik tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena semua telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan seseorang untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.
  3. Dari keterangan di atas, maka kita semua dalam kondisi apapun mempunyai kesempatan untuk masuk surga, asal kita mencari Tuhan dengan segenap akal budi, pikiran dan kekuatan. Dan Tuhan sendiri berkata “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN..” (Yer 29:13-14).Namun tentu saja, bagi yang telah mengenal Kristus mempunyai keuntungan yang lebih (namun juga tanggung jawab yang lebih), karena kita telah dimampukan oleh rahmat Tuhan untuk dapat menjalankan perintah-Nya. Dan dengan rahmat Sakramen Baptis, kita dapat menjadi anak-anak Allah dan berkenan di hadapan Allah. itulah sebabnya, kita semua dituntut untuk melakukan evangelisasi sampai ke ujung dunia untuk mewartakan Kristus, sehingga keselamatan juga dapat ditawarkan kepada semua orang.
  4. Konsep keselamatan Allah adalah yang melibatkan semua, dan bukan hanya pribadi lepas pribadi. Pada akhirnya nanti, Allah akan “menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28). Maka kesatuan di dalam Kristus merupakan tujuan akhir kita, dimana Kristus akan menjadi yang ‘sulung’ dari segala yang telah diciptakan (Kol 1:15). Oleh karena itu iman kepada Kristus menurut Kitab Suci tidak hanya terdiri dari hubungan tiap-tiap pribadi dengan Kristus, melainkan juga mempunyai dimensi sosial, yaitu bersama-sama dengan umat beriman yang lain sebagai sesama anggota Tubuh Kristus, dengan Kristus sebagai Kepala (Kol 1: 18; Ef 5:23; 1 Kor 12:12).

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan. Mari kita bersama-sama mencari Tuhan dengan segenap kekuatan kita, sehingga pada akhirnya kita akan bertemu dengan Yesus, muka dengan muka di dalam pengadilan terakhir, dan kita dapat mengatakan

Yesus, aku sering berdosa, namun dalam segala keterbatasanku, aku telah berusaha mencari kebenaran dengan segenap akal budi, hati, dan pikiranku. Aku juga telah masuk dalam Gereja yang Engkau sendiri dirikan, dan aku berusaha dengan sekuat tenagaku untuk menjalankan semua perintah-Mu, walaupun kadang seringkali aku gagal. Dalam kemurahan-Mu, ya Yesus, janganlah mengadiliku berdasarkan apa yang telah aku perbuat, tapi adililah aku menurut belas kasih-Mu.”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab