Home Blog Page 31

Refleksi awal tahun baru: Bergaya

0

“Relakah aku memberikan liburan tahun baruku untuk menghibur yang berduka?” Itulah pergulatan batinku di saat seorang ibu memohon dengan sangat agar aku memimpin Misa Requiem untuk ayahnya pada tanggal 01 Januari 2016. Ia bukan umat parokiku sehingga aku bisa membenarkan diri untuk menolaknya. Untunglah suara hatiku masih peka terhadap kelelahannya. Ia pasti telah menghubungi banyak pihak dan jawabannya pasti sama “aku tidak bisa”. Aku pun mengatakan “siap”. Kata “siap” dariku ternyata membuatnya lega karena ia hampir putus asa. Kelegaannya nampak jelas dari air matanya yang deras.

Misaku hanya dihadiri oleh segelintir umat. Keadaan ini dapat dimaklumi karena banyak orang menyambut pergantian tahun baru di luar kota atau masih pulas setelah merayakan detik-detik perubahan tahun.

Aku tidak menghakimi keadaan itu. Keadaan itu menyadarkan aku bagaimana menjadi seorang Katolik yang bermutu. Seorang Katolik yang bermutu terangkum dalam puisi ini. Semoga tidak ada yang tersinggung karena ini hanyalah refleksiku.

Katolik bukanlah sekedar sebuah “aksi”.

Salib tergantung di leher biar nampak keren.

Kemaki dan penuh gaya dengan membawa Kitab Suci ke sana ke mari.

Semua kursus Kitab Suci diikuti biar nampak sebagai ahli.

Ayat Kitab Suci dihafal dan digunakan kapan saja

agar semua orang tahu bahwa ia adalah sumber kebijaksanaan.

Nyanyian dengan keras digemakan,

dan kata “Yesus” yang diserukan berkali-kali agar nampak suci.

Katolik adalah perbuatan cinta yang nyata.

Yang haus diberi minum.

Yang lapar diberi makan.

Yang berduka dihibur.

Yang lemah dilindungi.

Yang takut ditemani.

Semuanya perlu pengorbanan diri agar cinta itu terjadi.

Jawaban atas refleksiku kudapat dari anjing pittbullku yang nampak lelah tertidur di samping gereja. Ia lelah karena berjaga semalam suntuk ketika kebanyakan orang larut dalam kegembiraan dan semaraknya kembang api sehingga mungkin lupa untuk peduli. Ia peka terhadap ketakutan satpam atas hal buruk yang mungkin terjadi sehingga ia rela duduk di samping pos satpam di tengah hujan rintik-rintik. Aku belai kepalanya sambil mengucapkan terimakasih: “Bourbon, jangan-jangan kamu itu Katolik ya… karena kamu telah memberi teladan kesetiaan, kepekaan, dan pengorbanan. Trim ya Bon. Selamat tahun baru Bon. Hebat kamu Bon, sudah berkorban dan tak perlu balasan. Memang kamu adalah teladan cinta yang nyata bagiku”.

Tuhan Memberkati

Sharing refleksi akhir tahun: Tak Kandas

0

Sharing refleksi rohani oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

“Manusia boleh menentukan jalan hidupnya, tetapi Tuhanlah yang menentukannya. Jalan Tuhan pasti terbaik bagi anak-anak-Nya”. Itulah pesan rohani yang aku peroleh dalam perjalanan rohaniku. Perjalanan rohani ini merupakan retret pribadiku sebagai ucapan syukur atas tahun 2015, seperti yang biasa aku lakukan pada akhir tahun.

Awalnya aku merencanakan untuk bermeditasi di gua-gua Maria di sekitar Yogyakarta. Macetnya kota Yogyakarta dalam liburan Natal ini tanpa kusadari menuntun perjalananku ke arah Solo. Aku sampai di kota itu pada tengah malam tanggal 27 Desember. Aku tak tahu mau ke mana. Ketika aku diam dalam keadaan hampir putus asa, Tuhan terasa berbicara dalam hatiku: “Pergilah ke Tawangmangu, di sana engkau akan bertemu denganKu”.

Aku bertekad berjiarah ke Gua Maria Sendang Pawitra di Tawangmangu. Berjalan ke sana tidaklah mudah. Selain jalannya jauh, aku harus melewati jalan-jalan berliku-liku di tengah hutan. Suasana gelap dan sepi membuat perjalananku agak mencekam. Ketika terang tiba, pemandangan menjadi indah. Pegunungan yang dipenuhi dengan pepohonan hijau dan sungai-sungai yang mengalirkan air bersih mengingatkan akan Tuhan, Sang Sumber kehidupan, bagi yang mengandalkanNya: “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yeremia 17:8). Mereka yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan akan diberkati. Mereka tidak akan takut atau kuatir kehidupannya karena akar mereka tertanam sangat dalam di dalam Tuhan.​

Setelah menginap semalam di tengah hutan, tanggal 28 Desember, aku melanjutkan perjalanan ke gua Maria itu. Nama gua Maria itu melambangkan Tuhanlah Sumber Berkat. Sendang berarti sumber air dan Prawita adalah tempat penyucian. Tuhan akan mengalirkan berkat-Nya bagi orang yang suci hatinya. Orang yang suci hatinya adalah orang yang mengandalkan Tuhan.​

Teladan hidup yang mengandalkan Tuhan ini aku dapatkan dari seorang bapak yang menjaga dan membersihkan Gua Maria itu. Bapak itu bukan bergama Katolik. Nama bapak tersebut adalah Bapak Sutarno dan usianya enam puluh lima tahun. Ia bekerja di situ sejak Gua Maria tersebut dibangun pada tahun 1985, berarti sudah tiga puluh tahun. Aku bertanya kepadanya: “Pak, mengapa bapak rela begitu lama menjaga dan membersihkan Gua Maria itu”. Jawabannya: “Dengan membersihkan dan menjaga gua Maria itu, saya menjadi dekat dengan Tuhan. Dekat dengan Tuhan membuat saya tidak kuatir dengan rejeki dari Tuhan. Tuhan sudah mengatur rejeki bagi setiap ciptaan-Nya. Ketiga anakku sudah selesai sekolahnya dan kini sudah bekerja tanpa aku tahu darimana uang untuk biayanya itu”. Aku melanjutkan pertanyaan kepadanya: “Pak, mengapa bapak tidak kuatir dengan rejeki, kan hidup sekarang itu susah”. Jawabannya sangat mengagumkan: “Jangankan manusia yang hidup di atas tanah, makhluk yang ada di dalam tanah saja sudah disediakan rejekinya oleh Allah. Pohon pun yang tidak berpindah pun sudah disiapkan pula rejekinya oleh Yang Mahakuasa. Karena itu, mengapa kita yang berakal dan berpindah-pindah tidak percaya bahwa Allah sudah menyediakan rejeki bagi kita ? Yang penting aku senantiasa bersyukur kepadaNya. Dengan bersyukur kepadaNya, hati ini terasa tentram dan hidup menjadi tenang bersama dengan pohon-pohon dan binatang-binatang di sini karena mendapatkan rejeki yang sama dari bumi yang sama”. Luar biasa, bapak yang tidak Katolik ini melaksanakan tema Natal kita, yaitu Membangun Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah.​

Sebelum pulang, aku membasuh mukaku dengan air yang keluar dari sendang di samping gua Maria itu. Semoga kekudusan Tuhan tetap mengiringi hidupku dan umatku dipenuhi dengan berkat karena mengandalkan dan menaruh harapan kepadaNya.​

Setelah selesai melakukan meditasi di Gua Maria Prawita, aku meluncur ke Pertapaan Gedono di Salatiga. Di tempat pertapaan itu, aku merenungan seluruh kehidupanku dan kehidupan umatku selama tahun 2015 dan menghaturkan syukur atas perlindungan-Nya serta mohon berkat-Nya untuk tahun yang akan datang.

Aku tiba ke Pastoran Citra Raya tanggal 30 Desember pagi. Yang aku sapa pertama kali adalah anjing pittbull, yang sebelumnya aku benci dan takuti. Aku belai kepalanya dan aku beri minum sambil berkata kepadanya: “Bonbon, maafkan aku selama ini aku membencimu. Pasti kamu sedih dengan sikapku. Kita berdamai ya karena kita mendapatkan sumber kehidupan yang sama”. Setelah aku mengatakan hal itu, pittbul ini begitu manis dan menjadi sahabatku. Benarlah kata Pak Sutarno bahwa dengan bersyukur, hati menjadi tentram dan dapat berdamai dengan siapa saja.​

Kesimpulan dalam perjalanan rohaniku terungkap di dalam doaku, yaitu doa penutup tahun yang lalu dan menyambut tahun yang akan datang :

Tuhan,
Jalan hidupku rumit.
Tapi aku terus berjalan melaluinya.
Aku senantiasa mencoba melangkah
walau sulitnya luar biasa.

Tuhan,
aku sering menangis dan mengeluh.
Kakiku capai untuk melangkah,
tetapi aku mencoba
agar semua harapanku tak pernah kandas.

Engkaulah sumber berkat kehidupan,
yang membuat hati tenang dan tentram,
karena hidup berdamai dengan semua ciptaan.

Tuhan memberkati

Disatukan dengan Kristus melalui Baptisan, dijadikan serupa dengan-Nya dalam kehidupan

0

[Pesta Pembaptisan Tuhan: Yes 40:1-11; Mzm 104:1-1,4, 24-30; Ti 2:11-14;3:4-7; Luk 3:15-16, 21-22]

Walaupun keluargaku tidak mendukung, aku tetap memutuskan untuk dibaptis… Aku sudah lelah hidup tanpa pegangan, dan aku tahu, telah lama Tuhan Yesus menantikan aku agar menjadi murid-Nya…,” demikian ujar seorang teman kami. Ia kemudian membagikan kisah perjuangannya untuk mengikuti kelas katekumenat, dan bagaimana ia harus selalu mencari akal untuk membaca kembali di rumah, bahan yang baru diajarkan di kelas. Suatu perjuangan yang tidak mudah, dan tentunya mensyaratkan ketekunan. Di hari Baptisannya, kami hadir. Gereja penuh sesak turut merayakan peristiwa Baptisan baru yang mencapai lebih dari seratus orang itu. Di akhir perayaan Misa, kami menghampiri teman kami. Ada tetes air mata haru, dan senyum bahagia tak terkira. Hari ini, Gereja bersukacita menyambut kelahiran anak-anaknya, yaitu mereka yang telah menjadi percaya akan Allah Tritunggal Mahakudus—Bapa, Putera dan Roh Kudus serta mereka yang mau bertobat dan memperoleh kehidupan baru di dalam Kristus.

Setiap dari kita memiliki ceritanya sendiri-sendiri, bagaimana sampai kita dibaptis. Ada yang dibaptis sejak bayi, namun ada pula yang dibaptis setelah remaja ataupun dewasa. Ada yang dibaptis tanpa “tantangan yang berarti”, namun ada pula yang harus bersusah payah dalam masa persiapan sebelum Baptisan, entah karena tidak didukung keluarga ataupun karena tantangan lainnya. Tetapi, setelah kita semua dibaptis, hal yang perlu kita renungkan adalah, apakah kita sungguh-sungguh telah menghayati makna Baptisan itu? Sudahkah kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas rahmat Baptisan itu? Apakah kita sudah hidup sesuai teladan Kristus Penyelamat kita?

Rasul Paulus mengatakan, bahwa melalui Baptisan atau permandian kelahiran kembali, kita menerima rahmat Allah yang menyelamatkan (lih. Ti 3:4). Kita dilepaskan dari perhambaan dosa, dan kesalahan kita diampuni (lih. Yes 40:2). Kita dibebaskan dari segala kejahatan dan dikuduskan untuk menjadi umat milik Tuhan sendiri (Ti 2:14). Dan sebagai orang yang dibenarkan oleh Tuhan, kita dapat “menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita” (Ti 3:7). Itu semua karena melalui Baptisan kita disatukan dengan Kristus, yang telah wafat dan bangkit bagi kita. Di awal pelayanan publik-Nya, Yesus telah menggambarkan peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya dengan Baptisan-Nya oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan. Tuhan Yesus yang tidak berdosa, rela merendahkan diri-Nya dan menghendaki agar Ia dibaptis, agar menunjukkan kepada kita pentingnya Baptisan. Sebab melalui Baptisan kita dilahirkan kembali dalam air dan Roh (lih. Yoh 3:5), agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Saat kita dibaptis, sesungguhnya, kita menerima rahmat Allah yang menyelamatkan itu. Dalam Baptisan, perkataan sabda-Nya yang dahulu dinyatakan kepada Yesus Putera-Nya, kini ditujukan kepada kita. Allah yang sama menyatakan kepada kita,  “Engkaulah anak-Ku yang Kukasihi, kepadamulah, Aku berkenan.” Dan Roh Kudus-Nya turun atas kita, dan kita diangkat menjadi anak-anak-Nya. Betapa kita perlu berhenti sejenak merenungkan hal ini: kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Betapa tak terbayangkan! Allah yang demikian kudus, merangkul kita semua. Ia mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, dan mengaruniakan Roh Kudus-Nya agar kita boleh mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Supaya kita dapat dibentuk-Nya menjadi semakin mirip dengan Putera-Nya, Yesus Kristus.

Saat kita mensyukuri rahmat Baptisan yang kita terima, mari kita daraskan doa yang disusun oleh Beato Kardinal John Henry Newman, doa mohon keserupaan dengan Kristus:

Tuhan Yesus yang terkasih,
bantulah aku menyebarkan keharuman-Mu ke mana pun,
penuhilah jiwaku dengan semangat dan hidup-Mu.
Resapilah dan milikilah keseluruhan diriku sepenuhnya,
sehingga seluruh hidupku semata-mata
menjadi pantulan cahaya-Mu.
Bersinarlah melalui aku dan jadilah demikian dalam diriku,
supaya setiap jiwa yang kutemui,
dapat merasakan kehadiran-Mu dalam jiwaku.
Biarlah mereka melihat, tidak lagi diriku,
tetapi hanya Engkau, ya Yesus.
Amin.

Refleksi Kerahiman Allah: Pembawa Berkat

0

Banyak manusia sekarang ini dikenal “cuek” terhadap sesamanya. Kata-kata “terserah kita lah, suka-suka gua lah…, itu bukan urusan loe ….” sering terdengar di telinga kita. Kecuekan manusia ini membuat Paus Fransiskus mempunyai niat. Niat Bapa Suci itu adalah memiliki waktu bagi sesama. Niat Paus Fransiskus ini dapat kita terjemahkan sebagai pembawa berkat bagi sesama. Menjadi berkat bagi sesama merupakan salah satu pancaran wajah Kerahiman Allah.

Menjadi berkat bagi sesama terwujud dalam perbuatan baik. Perbuatan baik satu terhadap yang lain akan membuat dunia kita menjadi indah. Rumah, sekolah, dan tempat kerja kita akan menjadi tempat yang nyaman.

Perbuatan baik itu diajarkan oleh Kitab Suci: “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”, (Galatia 6:10). Untuk dapat berbuat baik, kita tidak hanya menunggu orang datang kepada kita untuk meminta bantuan. Banyak orang yang perlu bantuan kita sering malu datang kepada kita. Mereka ini berprinsip lebih baik mati daripada menanggung malu. Untuk dapat berbuat baik, kita harus proaktif. Artinya adalah kita setiap hari harus bertanya: “Siapa yang dapat saya “berkati” hari ini?” Untuk dapat proaktif dalam perbuatan baik, kita harus peka dengan keadaan sesama kita. Orang yang menerima pertolongan kita secara tak terduga ini pasti sangat bahagia. Kebahagiaan mereka ini akan menjadi kebahagiaan kita juga karena hidup kita terasa lebih bermakna.

Kepekaan terhadap keadaan sesama ini semakin lama semakin berkurang karena manusia sekarang terjebak dalam kesibukannya sendiri. Banyak di antara kita sibuk pada kebutuhannya sendiri. Kita terperangkap dalam dunia kita sendiri: “Maaf saya tidak bisa membantu Anda karena sudah terlanjur ada acara lain”. Kita mempunyai banyak alasan untuk tidak membantu orang lain.

Kehendak untuk berbuat baik bagi sesama ini dapat dibangun kembali dengan kesadaran bahwa kita diciptakan bukan untuk hidup egois. John Bunyan mengatakan: “Anda belum hidup hari ini sampai Anda telah melakukan sesuatu untuk seseorang yang ia tidak dapat membayar kembali”. Artinya, kita belum hidup kalau kita belum berbuat baik kepada sesama. Dengan berbuat baik kepada sesama, kita disadarkan bahwa kita diciptakan bukan untuk hidup yang memikirkan diri kita sendiri.

Ketika kita memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan, kita sesungguhnya melakukannya bagi Tuhan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Tuhan akan membalas kebaikan kita itu: “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu” (Amsal 19:17).

Kita tidak harus melakukan hal-hal yang besar untuk dapat menjadi berkat bagi sesama. Perbuatan baik seperti berikut ini bisa menjadi insprasi bagi kita. Ketika kita membayar karcis parkir, jangan terima kembalinya dengan mengatakan: “Untuk Anda ya”. Demikian juga, dengan pelayan restoran yang membawa uang kembalinya kepada kita. Kita memberi waktu satu hari “off” dalam seminggu untuk pembantu kita dan mengerjakan pekerjaan mereka. Kita sekali-kali memberi nasi kotak kepada para penjaga karcis di gardu tol. Mereka pasti sangat gembira menerimanya. Kalau tidak ada uang atau barang lain sebagai ungkapan kebaikan kita, kita bisa mengucapkan terimakasih atas pelayanan mereka. Kasih terlihat dalam tindakan kita. Tindakan kasih adalah kotbah yang sejati dan dapat dimengerti oleh setiap orang.

Ketika kita menunjukkan kasih, kita menunjukkan Allah kepada dunia. Tindakan kasih merupakan kesaksian yang terbaik. Mereka tidak akan tahu bahwa kita ini adalah Katolik hanya dengan menenteng Kitab Suci ke sana ke mari. Mereka tidak akan paham bahwa kita ini adalah Katolik dengan sekedar memakai kalung salib di leher. Mereka tidak akan mengenal kita sebagai orang Katolik dengan sekedar rosario yang dipasang di mobil. Tanpa tindakan kasih, perbuatan-perbuatan itu hanya sebagai sebuah gaya/aksi, dan bukannya Katolik sejati. Orang-orang akan benar-benar tahu bahwa kita adalah murid Tuhan Yesus ketika kita menjadi pembawa berkat: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35). Orang akan tahu kita adalah Katolik sejati dengan melihat buah kita: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?” ( Matius 7:16).

Ketika kita setiap hari berpikir bagaimana menjadi berkat dan tidak hanya berpikir bagaimana mendapatkan berkat, Tuhan pasti akan memenuhi hidup kita dengan banyak berkat pula. Tuhan memenuhi kita dengan banyak berkat karena Ia ingin berkat-Nya itu terus mengalir kepada banyak orang melalui kita.

Kesimpulan dari pembahasan ini terangkum dalam doa di bawah ini. Doa ini merupakan tawaran inspirasi:

Tuhan,

Engkau telah mengajarkan kepada kami tentang kasih.

Kasih yang bukan sekedar kata,

tetapi pengorbanan.

Maafkan kami, ya Tuhan,

karena wajah-Mu kami sayat dengan kecuekan.

Rasa peduli dikebiri dengan sikap egois.

Persaudaran ditikam dengan arogansi.

Tiada teman dan saudara lagi.

Hidup sebatang kara dijalani sendiri.

Derita kehidupan menjadi sekedar cerita,

yang mengundang air mata.

Tobatkan kami sebelum terlambat,

dengan mengingat surga,

yang disediakan bagi pembawa berkat.

Dengan menjadi pembawa berkat, Allah dihadirkan.

Itulah kesaksian yang terindah bagi dunia

Tuhan Memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Kekuatan Cinta di Tengah Keletihan Jiwa

0

Metode Pelayanan Bagi Penderita Sakit Terminal (Pelayanan/Perawatan Palliative)

Selama menjadi pastor di Keuskupan Agung Jakarta, saya mempunyai banyak pengalaman dalam mendampingi umat yang sakit terminal dan para kerabat yang merawatnya. Baik orang yang sakit dan kerabatnya itu sama-sama mengalami keletihan jiwa. Banyak orang sakit itu mengalami kegelisahan, kemarahan, dan ketakutan menjelang ajalnya. Keadaan itu membuat kelelahan di jiwanya. Banyak di antara mereka akhirnya sulit meninggal dan meninggal tidak dalam keadaan damai. Kegelisahan itu bisa disebabkan oleh dosa-dosa di masa lampau. Dosa-dosa itu membuat mereka merasa bahwa penyakitnya itu merupakan hukuman atau kutukan. Kemarahan mereka bisa disebabkan oleh kebencian dan kekecewaan, terutama terhadap pasangannya. Saya mempunyai pengalaman ketika mengunjungi seorang ibu yang sakit. Ketika suaminya datang, ia menunjuk muka suaminya itu sambil berteriak “Aku benci loe“. Setelah mengatakan hal itu, ibu itu meninggal dengan bibir menahan marah. Ketakutan bisa disebabkan oleh kekuatiran terhadap kehidupan orang-orang yang dicintainya setelah kepergiannya. Ketakutan itu bisa juga disebabkan oleh kekuatiran akan kehilangan cinta dari orang-orang yang dikasihinya, terutama terhadap pasangannya. Pada suatu hari saya mendampingi seorang bapak yang sudah terbaring selama tiga tahun. Menurut perhitungan medis, ia seharusnya sudah meninggal dunia. Jiwa istrinya itu mengalami kelelahan karena terus disalahkan dalam merawatnya. Dengan lembut saya berbisik kepada bapak itu: “Pak, apa yang bapak takuti?” Jawabannya di luar dugaan saya: “Saya takut istriku menikah lagi”. Ketakutannya itu diungkapkan di hadapan istrinya. Istrinya itu langsung memeluk lehernya sambil menangis: “Ko, aku tidak akan menikah lagi. Aku akan membesarkan anak-anak kita sendirian”. Mendengar kata-kata istrinya itu, bapak itu mengangguk dan meninggal dengan tenang dalam pelukan istrinya.

Dari pengalaman tersebut, saya yakin bahwa kekuatan cinta memulihkan keletihan jiwa si sakit dan kerabatnya. Karena besarnya kekuatan cinta dalam derita jiwa, saya berusaha menghadirkan Allah yang Maharahim. Di sini saya menyadari betapa pentingnya pengakuan dosa. Pengakuan dosa yang bukan hanya formalitas, tetapi sungguh-sungguh menjadi pendampingan sampai si sakit merasakan kasih Allah, yang mengampuninya, yang menerima dia seburuk apapun kehidupannya, dan yang menjaga orang-orang yang dicintainya. Setelah pengakuan dosa, saya meminta orang-orang yang berada di sekitarnya untuk membuat tanda salib di dahinya sambil mengucapkan kata-kata “Maafkan aku. Aku mencintaimu….”. Saya mengiringinya dengan menyanyikan lagu-lagu syahdu. Si sakit dan orang-orang di sekitarnya menangis. Tangisan haru itu terjadi karena hatiya dipenuhi dengan cinta. Si sakit pun mengalami ketenangan jiwa dan meninggal dengan damai karena diiringi dengan cinta. Cinta yang ada dalam dirinya dengan sendirinya juga memulihkan jiwa kerabatnya dari keletihan. Semua pengorbanan terasa tidak sia-sia. Cinta telah mengalahkan kekecewaan. Ada sebuah pengalaman. Setelah memberikan Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Perminyakan Suci kepada seorang ibu yang menderita sakit terminal, ia ingin bertemu dengan suaminya. Suaminya itu telah meninggalkan keluarganya sejak anak-anaknya masih kecil dan hidup dengan perempuan lain. Ketika suaminya itu datang, saya pikir ibu itu akan memakinya. Dugaan saya salah. Ibu itu justru mencium tangan suaminya: “Engkau mempunyai perempuan lain karena kesalahan saya sebagai istri. Maafkan aku”. Mereka pun menangis haru.

Cinta yang memulihkan itu terus dialami oleh anggota keluarga yang dtinggalkannya. Pengalaman dukacita terolah menjadi kenangan manis yang meneguhkan keluarga. Pengalaman itu memberikan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan sepeninggal orang yang dicintainya. Pendamping si sakit itu pun pasti dianggap sebagai bagian keluarganya yang menguatkan seperti yang saya alami: “Romo, terimakasih sudah menjadi kekuatan bagi keluarga kami”.

Kekuatan cinta sungguh luar biasa bagi jiwa. Cinta membuat hidup menjadi lebih hidup. Cinta membuat si lemah menjadi kuat. Kekuatan cinta menggungah harapan dan menguatkan jiwa. Ketika cinta telah membelenggu jiwa, hidup terasa indah.

Kekuatan cinta dalam pemulihan bagi jiwa yang letih ini ternyata terangkum dalam metode pelayanan/perawatan Palliativ. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa pelayanan paliatif berpijak pada pola dasar berikut ini:

1. Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang normal.

2. Tidak mempercepat atau menunda kematian.

3. Menghilangan nyeri dan keluhan yang menganggu.

4. Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual.

5. Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya.

6. Berusaha membantu dalam mengatasi dukacita pada keluarga.

Dari keenam pola itu, terangkumlan tujuan dari pelayanan paliatif, yaitu mengurangi penderitaan pasien, meningkatkan kualitas hidupnya, tidak stress menghadapi penyakit yang dideritanya, dan memberikan dukungan kepada keluarganya.

Metode pelayanan paliatif ini sangat baik kalau dijalankan oleh para pelayan Gereja, seperti para imam, para suster, para prodiakon, legioner, komunitas peregrinus (Komunitas Para Penderita Kanker), karismatik, dan siapa saja, terutama yang sedang merawat anggota keluarganya dan teman-temannya yang sakit. PDPKK Santo Lukas (Para Medis) Jakarta menawarkan metode pelayanan paliatif ini dalam Kebangunan Rohani Katolik (KRK) pada tanggal 14 Mei 2016. Semoga dengan pelayanan paliatif ini, sukacita Injili, yaitu membangun Kerajaan Allah yang Maharahim (Ardas KAJ 2016-2020), terlaksana: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Tuhan Memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Mengenali kehadiran Tuhan

0
Sumber gambar: http://dioknox.org/688/the-triple-meaning-of-the-epiphany/

[Hari Raya Penampakan Tuhan: Yes 60:1-6; Mzm 72:1-13; Ef 3:2-6; Mat 2:1-12]

Hari Raya Natal belum lama berlalu. Perayaan kelahiran Kristus membawa semangat untuk memperbaiki diri: kita ingin ikut “lahir baru” bersama Kristus yang lahir secara baru dalam hati kita. Di tahun yang baru ini, mungkin kita membuat sejumlah niat dan rencana yang akan kita lakukan untuk tahun ini, untuk memperbaiki hal-hal yang kurang baik yang telah kita lakukan di tahun yang lalu. Untuk maksud inilah, makna perayaan Epifani—Penampakan Tuhan—dapat membantu kita.  Sebab jika kita ingin melakukan kebaikan, pertama-tama kita perlu mengenali kehadiran Tuhan dalam hidup kita, dan lalu mengatur kehidupan kita sesuai dengan iman kita itu.

Bacaan Injil mengisahkan setidaknya ada tiga jenis tanggapan akan kelahiran Kristus Sang Putera Allah yang sungguh hadir dan tinggal di tengah umat manusia. Yang pertama, tanggapan yang positif, seperti yang diwakili oleh para orang majus dari Timur. Mereka datang dari jauh, untuk mencari dan menyembah Kristus yang mereka kenali sebagai Raja orang Yahudi (lih. Mat 2:2). Kedatangan mereka juga menjadi suatu gambaran akan bergabungnya bangsa-bangsa lain—yang bukan Yahudi—ke dalam  kumpulan umat Allah. Gabungan semua bangsa yang menjadi umat Allah ini adalah Gereja. Termasuk dalam kelompok yang menyambut gembira kedatangan Kristus adalah para gembala, dan tentu, St. Yusuf dan Bunda Maria, yang mewakili kaum sisa Israel. Tanggapan yang kedua, adalah sikap yang sebaliknya, sebagaimana nampak pada raja Herodes. Setelah memanggil semua imam kepala dan menerima keterangan dari mereka tentang Mesias, Herodes hanya percaya akan kelahiran Mesias namun tidak mau percaya kepada Sang Mesias itu. Herodes bahkan menjadi paranoid, dan takut tersaingi. Setelah tahu bahwa para majus itu pulang ke negerinya tanpa memberitahukan kepadanya di mana Sang Mesias itu berada, Herodes menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah. Ini adalah kekejaman yang luar biasa dari seorang yang juga tega membunuh dua orang anaknya sendiri dan ibu mertuanya. Semuanya demi kekuasaan, sebab Herodes berkeinginan untuk terus mempertahankan kedudukannya sebagai raja. Karena itu,  Mesias dianggapnya sebagai ancaman yang perlu disingkirkan. Namun selain tanggapan dari orang majus dan Herodes, ada jenis tanggapan ketiga, yang tidak secara eksplisit disebut di Injil. Yaitu tanggapan kebanyakan orang yang lain, yang tidak peduli akan kedatangan dan kehadiran Yesus di dunia. Itulah sebabnya,  St. Yusuf dan Bunda Maria tidak mendapat tempat penginapan, tak ada yang mau memberi tempat kepada mereka berdua, yang sesungguhnya membawa Seorang Juruselamat yang dibutuhkan seluruh dunia! Kebanyakan orang disibukkan dengan urusannya sendiri, sampai tidak menyadari ada peristiwa mahabesar yang telah terjadi di kandang Betlehem itu. Kelahiran-Nya dan penampakan-Nya yang begitu sederhana dan tersembunyi tidak menarik perhatian orang.

Maka, di perayaan Epifani kita menilik ke dalam diri kita sendiri, termasuk golongan manakah kita ini. Apakah kita mengenali kehadiran-Nya dalam hidup kita? Di tengah dunia ini, dimana banyak orang yang tidak peduli akan kedatangan Kristus, atau bahkan menolak Dia, apakah kita tetap mau datang kepada-Nya dan menyembah Dia? Apakah kita mau mempersembahkan yang terbaik dari diri kita—seperti para majus itu—bagi Yesus?

Mari kita mendaraskan doa di hari Epiphani ini:

Kristus, Engkau telah menampakkan diri di tengah kami.
Kami menyembah Engkau.
Tiga persembahan yang dibawa oleh para majus itu
adalah tanda bagi misteri ilahi:
Emas menandai kuasa-Mu sebagai Raja
kemenyan menandai imamat-Mu yang agung
mur menandai penguburan-Mu.

Para majus menyembah Engkau,
Sang Putera Allah Penyelamat yang terbaring di palungan,
dan membawa bagi-Mu persembahan mereka.

Ya, Allah Bapa,
dengan bintang yang bersinar,
Engkau menyatakan Putera-Mu yang Tunggal,
kepada para bangsa.
Oleh belas kasih-Mu,
berilah kepada kami yang mengenal dan mengimani Engkau,
agar kami dapat memandang kebesaran-Mu
melalui Yesus Kristus Putera-Mu.
Alleluia!

Kemuliaan kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus
Seperti pada permulaan, sekarang, selalu
dan sepanjang segala abad. Amin.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab