Home Blog Page 309

Menerima komuni dengan tangan atau lidah

19

Pertanyaan:

Shalom,
Pertanyaan pertama. Saya ingin bertanya lebih dalam lagi tentang cara menerima komuni dengan tangan karena adik saya pada penerimaan sakramen perkawinan puteranya pernah ditegur rama karena meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan saat hendak menerima komuni. Begitu juga ketika dia membuka mulutnya untuk menerima komuni. Jika kita menerima komuni dengan tangan kanan di atas tangan kiri, apakah boleh kita mengambil hosti tersebut dengan tangan kiri untuk dimasukkan ke dalam mulut? Ataukah kita dekatkan saja tangan kanan ke mulut sehingga hosti tersebut bisa langsung diambil oleh mulut kita?
Pertanyaan kedua. Apakah rotary dan lion club termasuk ke dalam gerakan fremason?
Terima kasih dan Tuhan memberkati. – Andryhart

Jawaban:

Shalom Andry,
Seperti sudah pernah dibahas sebelumnya, maka terdapat dua cara menerima komuni, yaitu dengan tangan atau langsung di mulut/ di lidah, dengan berlutut ataupun berdiri.

Dasarnya adalah dari Redemptionis Sacramentum, demikian:

RS 90    “Ketika menyambut Komuni, umat hendaknya berlutut atau berdiri, sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Konferensi Uskup” …. Tetapi jika Komuni disambut sambil berdiri, maka hendaklah umat memberi suatu tanda hormat sebelum menyambut Sakramen seturut ketetapan yang sama.

RS 91. …. Oleh karena itu setiap orang Katolik yang tidak terhalang oleh hukum, harus diperbolehkan menyambut Komuni. Maka tidak dapat dibenarkan jika Komuni ditolak kepada siapa pun di antara umat beriman hanya berdasarkan fakta misalnya bahwa orang yang bersangkutan mau menyambut Komuni sambil berlutut atau sambil berdiri.

RS 92    Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah  di mana Konferensi Uskup setempat dengan recognitio oleh Tahta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni, sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.”

Berikut ini adalah cara menerima komuni yang benar:

  1. Dengan Mulut/ lidah
    • Berjalanlah ke hadapan Pastor/ petugas Prodiakon dengan tangan terkatup.
    • Sesaat sebelum giliran anda menyambut Hosti, anda maju dan tundukkanlah kepala anda dengan hormat untuk menghormati Kristus yang hadir dalam rupa Hosti kudus.
    • Ketika Pastor/ Prodiakon mengangkat hosti dan mengatakan “Tubuh Kristus”, pandanglah Hosti itu katakanlah “Amin” (artinya, Saya percaya)
    • Bukalah mulut anda dengan posisi lidah yang pantas agar Pastor/ petugas Prodiakon dapat meletakkan Hosti pada lidah anda.
    • Sambil anda kembali ke tempat duduk anda, anda dapat mengunyah Hosti itu, ataupun membiarkan Hosti itu hancur di mulut anda.
  2. Dengan Tangan
    • Berjalanlah ke hadapan Pastor/ petugas Prodiakon dengan tangan terkatup.
    • Sesaat sebelum giliran anda menyambut Hosti, anda maju dan tundukkanlah kepala anda dengan hormat untuk menghormati Kristus yang hadir dalam rupa Hosti kudus.
    • Letakkan telapak tangan, satu di atas yang lain, dengan terbuka menghadap ke atas. Tangan yang dipakai untuk mengambil Hosti diletakkan di bawah telapak tangan yang lain.
    • Arahkan telapak tangan anda dengan jelas, sehingga Pastor/ Prodiakon dapat melihat bahwa anda akan menerima Hosti dengan tangan.
    • Ketika Pastor/ Prodiakon mengangkat hosti dan mengatakan “Tubuh Kristus”, pandanglah Hosti itu katakanlah “Amin” (artinya, Saya percaya)
    • Setalah Hosti diberikan di telapak tangan yang teratas, ambillah Hosti tersebut dengan telapak tangan yang di bawah, dan segera letakkan hosti tersebut di mulut anda. (Jangan membawa hosti tersebut ke bangku anda/ kemanapun)
    • Sekembalinya anda ke tempat duduk anda, anda dapat mengunyah Hosti itu, ataupun membiarkan Hosti itu hancur di mulut anda.
    • Pastikan anda memakan serpihan Hosti (jika ada) yang mungkin jatuh di telapak tangan anda.

Maka memang tidak ada ketentuan apakah tangan kiri atau tangan kanan yang di atas/ di bawah. Bagi kita orang Timur, memang jika kita menyambut dengan tangan, maka tangan yang mengambil Komuni ke dalam mulut adalah tangan kanan, tetapi ini tidak berarti bahwa harus demikian, karena orang yang kidal mungkin lebih dapat menggunakan tangan kiri.

Yang jelas jika sudah menyambut dengan tangan, jangan mengambil Hosti dengan lidah, karena resiko Hosti jatuh lebih besar. Kecuali jika anda melihat ada serpihan Hosti di tangan, maka anda harus mengambilnya dengan lidah anda, untuk anda makan. Sebab kita percaya serpihan Hosti itu juga adalah Kristus.

Jika ingin menyambut Hosti dengan mulut/lidah, silakan menyambutnya dengan cara yang benar, pada point 1.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Tidak patut memberi roti kepada anjing (Mt 15:26)

5

Pertanyaan:

Berkah Dalem, Semoga jumpa kita ini menjadi berkah bagi kita semua.
Pengasuh katolisitas, pertam kami sungguh bersyukur dengan adanya situs ini karena sungguh menghidupkan iman. Terkait dengan hal itu saya mempunyai pertanyaan dan kebingungan atas apa beberapa teks KS yang kesannya melukai persaan misalnya :
Matius 15:26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.
Salam kasih – gajah

Jawaban:

Shalom Gajah,
Berikut ini adalah penjelasan dari Mat 15: 26, yang saya peroleh dari berbagai sumber:
(“Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”)

  1. Yesus tidak bermaksud berkata kasar, namun melontarkan kata-kata untuk maksud agar ditanggapi secara spontan. “Anjing” di kalimat ini jika dilihat dari bahasa aslinya Yunani, berkonotasi pada anjing kecil, atau anjing piaraan, dan bukan berarti anjing secara umum (terdapat dua jenis konotasi anjing dalam bahasa Yunani). Sehingga maksud utama kalimat itu adalah untuk menunjukkan prioritas pada anak-anak dahulu, baru kemudian kepada anjing kecil/ piaraan tersebut. Jadi kalimat ini  tidak dimaksudkan untuk melecehkan, hanya menunjukkan urutan memberi makan.
  2. Perhatian Yesus yang pertama memang ditujukan kepada bangsa Israel (lihat juga Mat 10:6) untuk menyelamatkan mereka sebagai pemenuhan janji Allah yang telah disebutkan pada Perjanjian Lama, dan baru kemudian keselamatan tersebut ditujukan juga kepada bangsa-bangsa lain . Walaupun fokus utamanya bangsa Israel, namun Yesus tidak membatasi pelayanannya, dan Yesus juga mengarahkan perhatian dan karya keselamatan-Nya kepada bangsa-bangsa lain, contohnya pada mukjizat menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum (Luk 7:1-10); dan pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh 4) dan tentu, pesan-Nya terakhir sebelum naik ke surga kepada murid-murid-Nya adalah agar mereka menyebarkan Injil kepada semua bangsa (Mat 28:19-20).
  3. Jawaban tersebut ditujukan untuk menguji iman dan kerendahan hati ibu tersebut, mengingat ibu itu bukan dari kalangan bangsa Israel, agar iapun akhirnya mengakui Tuhan yang dinyatakan di dalam bangsa Israel. Dalam Perjanjian Lama, kisah serupa terjadi pada waktu Naaman, panglima raja Aram memohon kesembuhan pada Nabi Elisa (2 Raj 5). Nabi Elisa mensyaratkan Naaman untuk membasuh dirinya di sungai Yordan supaya dia dapat menjadi tahir. Syarat ini disambut oleh Naaman dengan gusar, sebab ia menganggap lebih banyak sungai di daerah Aram yang lebih baik daripada sungai Yordan, seperti sungai Abana dan Parpar. Namun setelah dinasehati oleh para pegawainya, akhirnya Naaman menurut juga. Karena itu ia sembuh, dan mengakui keberadaan Allah bangsa Israel (ay. 15). Dengan konteks inilah Yesus menguji iman perempuan dari Kanaan tersebut, yang ternyata dijawab dengan iman yang teguh, sehingga akhirnya Yesus menyembuhkan anaknya (Mat 15:28).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Kalau Yesus Tuhan, mengapa Dia marah?

5

Dalam perikop Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh 2:13-25) memang kita melihat bagaimana Kristus mengekspresikan kemarahan-Nya terhadap para penukar uang dan pedagang yang berjualan dalam halaman Bait Allah. Berikut ini adalah alasan mengapa Yesus marah, jika kita melihat dari penjelasan Kitab Suci (sumber: A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. by Dom B. Orchard, p. 984):

1. Yesus marah karena alasan kasihNya kepada Allah Bapa.
Dikatakan bahwa, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku (Yoh 2: 17). Kasih kepada Bapa ini yang menyebabkan Yesus marah melihat segala bentuk penipuan yang dilakukan di depan Bait Allah yang harusnya menjadi tempat yang suci. Sehari-harinya, di halaman Bait Allah penuh hiruk pikuk para pedagang berjualan hewan-hewan untuk persembahan, dan para penukar uang mengadakan bisnis pertukaran uang, di mana semua uang asing harus ditukar dalam bentuk setengah shekel (=Tyrian) untuk membeli hewan persembahan tersebut (lembu, kambing domba, merpati). Pada waktu itu orang-oarng Yahudi yang beribadat di Bait Allah datang dari segala penjuru, sehingga mereka perlu menukarkan uang mereka sebelum mereka dapat membeli hewan kurban. Dalam proses penukaran ini sudah terjadi kecurangan, karena si penukar uang mengambil untung, belum lagi pengambilan untung dari penjualan hewan-hewan yang juga melibatkan pihak pengelola Bait Allah. Maka melihat keadaan ini, Yesus marah. Karena Bait Allah yang harusnya menjadi tempat pemyembahan Allah, di mana orang-orang seharusnya mengarahkan hati kepada Allah, malahan diisi dengan orang-orang yang sibuk mencari uang- yaitu para pedagang dan penukar uang tersebut- yang bahkan mungkin tidak berpikir/ bermaksud untuk menyembah Allah.

2. Yesus ingin mengajarkan kita bahwa hanya Allah sajalah yang seharusnya kita kasihi lebih dari segala sesuatu.
Cinta akan uang tidak boleh menggantikan cinta akan Allah, apalagi dilakukan di Bait Allah! Maka kemarahan Yesus di sini menunjukkan ‘keadilan’ Tuhan/ Justice of God, di mana Ia menyatakan bahwa segala bentuk penipuan dst yang seolah demi persembahan di Bait Allah itu sesungguhnya perbuatan keji, tidak adil dan tidak layak di mata Tuhan. Jadi, motif dari kemarahan Yesus adalah kasih-Nya kepada Bapa, sehingga Ia tidak dapat menerima segala bentuk kecurangan/ penipuan yang dilakukan di dalam rumah Bapa. Namun dalam menyatakan kemarahanNya, Yesus tidak menyakiti/ mencelakai orang, namun mengusir para pedagang dan hewan-hewan tersebut, sebab Bait Allah tidak selayaknya menjadi tempat mereka berbisnis demikian. Maka  kemarahan Yesus ini disebut sebagai ‘righteous anger’, karena motifnya adalah kasih kepada Allah Bapa. Jadi kemarahan Yesus ini jangan kita jadikan alasan pembenaran bagi kita, jika kita marah. Karena umumnya, kemarahan kita manusia bersumber pada kegagalan mengendalikan diri atau demi kepentingan dan nama baik sendiri, dan bukannya bermotif kasih kepada Tuhan.

Jalan Berliku Menuju Roma

17

Dari editor:

Kami sungguh berterima kasih atas T.A. Herdian, yang telah bermurah hati membagikan kisah perjalanan imannya yang begitu indah, yang membawanya bergabung ke pangkuan Gereja Katolik. Kisah ini merupakan bukti yang nyata, bahwa bukan kita yang memilih Dia, tetapi Tuhanlah yang terlebih dahulu memilih dan mengasihi kita, agar kita dapat mengenal-Nya dan mengasihi-Nya. Herdian sungguh telah menjawab panggilan Tuhan yang telah bergema di hatinya sejak masa kecilnya, dan Tuhan Yesus dengan setia menuntun langkahnya hingga ia sampai kepada-Nya, Sang Kebenaran sejati yang terus berkarya dalam Gereja Katolik.

Terima kasih Herdian, atas kebaikanmu membagikan kesaksian ini. Semoga Tuhan Yesus selalu menyertaimu dalam perjalanan imanmu selanjutnya. Melalui kisah hidupmu kami melihat betapa firman Allah ini digenapi,

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…” (Yoh 15:16)

Semoga kesaksian hidupnya ini dapat memperkuat iman kita semua ….
Apakah anda mempunyai kesaksian perjalanan iman anda ke Gereja Katolik? Kirimkanlah kepada kami di: katolisitas [at] gmail.com
(Catatan: Katolisitas.org berhak untuk menampilkan, tidak menampilkan, maupun mengedit semua artikel yang masuk ke meja redaksi).

Sekilas mengenai saya

Pada 13 April 1978 aku dilahirkan di sebuah kota kecil, Indramayu, di Jawa Barat. Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Delapan belas tahun pertama kehidupanku kuhabiskan di kota kelahiranku, lalu aku pergi ke Bandung untuk melanjutkan studi.

Aku tumbuh dari keluarga non-Nasrani yang “biasa-biasa saja,” dalam arti bahwa, karena nenek moyang kami beragama non-Nasrani, maka, mau tidak mau, kami pun memeluk agama yang sama, tanpa harus mengetahui alasan-alasannya, atau mempermasalahkan benar-tidaknya kepercayaan yang kami anut. Perjalananku memeluk iman Kristiani adalah sebuah perjalanan iman yang panjang, dan tidak selalu kusadari, sebuah proses yang, sejauh ingatanku, sudah dimulai sejak aku berumur enam atau tujuh tahun.

Yesus, Bethlehem dan Salib menggema di hatiku

Pada waktu itu, aku sedang belajar untuk menghadapi ulangan di kelas 2 atau 3 SD. Aku membaca sebuah buku pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, yang di dalamnya dijelaskan lima agama yang diakui secara resmi di Indonesia. Ketika aku sampai pada bagian agama Kristen, tentu saja mataku, untuk pertama kalinya, menjumpai dua kata, yang dengan segera begitu senang kuucapkan. Kata yang pertama adalah Yesus Kristus, yang digambarkan sebagai pendiri agama tersebut, dan yang kedua adalah Betlehem, tempat kelahiran-Nya. Selama hari-hari berikutnya, aku begitu gemar mengucapkan kedua kata itu, hanya karena aku suka dengan bunyinya. Namun, orangtua dan kakak sulungku menyuruhku untuk tidak lagi melakukannya. Mereka pikir tidak ada gunanya aku menghapal kata-kata itu, karena pasti tidak akan keluar di ulangan – dan ternyata mereka benar! Jadi, aku pun tidak lagi mengucapkan kata-kata itu, sampai suatu peristiwa ketika aku remaja membangkitkan kembali kegemaranku untuk mengucapkan kedua kata itu, yang selama ini terabaikan, namun belum sepenuhnya terlupakan.

Suatu malam, ketika aku berumur sekitar 15 tahun, pada bulan Desember menjelang Natal, aku menonton sebuah acara musik di TV. Aku lupa persisnya apakah itu di awal, di tengah-tengah, atau di akhir acara, ada sebuah lagu rohani (Kristen), yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi dan pencipta lagu terkenal di era 80-an. Namun anehnya, lagu itu tidak bercerita tentang kisah Natal, melainkan tentang peristiwa penyaliban. Salah satu syair dalam lagu itu, yang sampai saat ini masih begitu lekat dalam ingatanku, berbunyi seperti ini: “Kau rela disalibkan untuk kita.” Syair ini menyentak pikiranku ketika itu, karena, sejauh yang kupahami, tidak ada unsur kerelaan dalam peristiwa penyaliban Yesus. Yang biasanya diajarkan (kepada anak-anak usia sekolah) dalam kepercayaanku dulu tentang penyaliban, adalah bahwa Yesus melarikan diri ketika orang-orang mencoba menyalibkan Dia. Lalu ketika Ia terpojok di suatu tempat, dan tidak bisa lari lagi, Allah mengangkat-Nya ke surga, dan orang-orang yang mengejar-Nya menangkap dan menyalibkan orang lain yang mereka kira, dan yang oleh Allah telah dibuat menyerupai, Yesus.

Seusai acara musik itu, aku tetap bertanya-tanya di dalam hati mengapa Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya di Betlehem sedang diperingati ini, rela disalibkan, apa untungnya itu bagi Dia, dan apa hubungannya dengan kita yang hidup pada masa sekarang. Pencarianku untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini menuntunku pada buku-buku yang mungkin saja menyediakan jawabannya, lalu pergi ke gereja-gereja, dan bertanya kepada orang-orang Kristen yang, sangkaku, dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Perjalananku untuk menemukan Yesus

Jadi, selama masa SMA, aku pun mulai memberanikan diri untuk pergi ke gereja, kendati dengan keraguan dan ketakutan yang kurasakan ketika pertama kali berniat untuk melakukannya. Di dekat tempat tinggalku, ada tiga gereja: Gereja Pentakosta, Gereja Protestan (Persatuan Gereja Indonesia), dan Gereja Katolik. Karena beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, aku memilih pergi ke Gereja Katolik, yang terletak paling jauh dari rumahku; mungkin salah satu alasannya adalah karena aku takut ketahuan keluarga kalau aku pergi ke gereja yang terlalu dekat dengan rumahku. Lalu setelah itu aku mulai membeli barang-barang “Kristiani,” seperti kalung salib, kaset-kaset rohani, dan bahkan meminjam Alkitab dari tetangga Katolik yang baru saja pindah ke lingkunganku. Namun tak lama kemudian, semua barang tersebut ketahuan oleh orangtuaku, dan mereka bertanya mengapa aku menyimpan benda-benda seperti itu. Sebagai remaja, aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu dengan tepat, dan pada akhirnya aku tidak membuka mulut sedikit pun untuk memberikan jawaban. Selain itu, aku memang tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu. Aku hanya tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan Yesus, tetapi aku tidak tahu kenapa.

Setelah “interogasi” ini, hal berikutnya yang kutahu adalah bahwa semua barang “Kristiani” yang telah kubeli, dan kupinjam, kini lenyap, dan aku pun tidak lagi pergi ke gereja selama beberapa waktu. Namun, ini tidak berlangsung lama, sebab beberapa bulan kemudian, berangkat dari keinginan untuk memuaskan kerinduan rohani, pada hari Minggu pagi aku pergi diam-diam untuk pergi ke gereja (Katolik) lagi, meskipun kali ini aku hanya melakukannya kadang-kadang. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai aku pergi ke Bandung untuk kuliah.

Untuk menyingkat cerita panjang, keputusanku menjadi Katolik tidaklah dibuat karena aku terburu-buru menentukan (karena dibutuhkan waktu sekitar 12 tahun bagiku untuk sampai pada keputusan itu), atau karena aku menganggap remeh perbedaan-perbedaan doktrin yang ada antara Gereja-gereja Protestan, dan Gereja Katolik. Atau, karena menganggap remeh perbedaan-perbedaan doktrin itu, maka aku mengambil jalan mudahnya saja, yaitu memilih gereja yang “tampak” bernilai historis, Gereja Katolik.

Sebagai seorang yang berlatar belakang non-Nasrani, yang tidak tahu apa-apa tentang perbedaan antara Gereja Protestan dan Gereja Katolik, (dan bahkan masih belum tahu meskipun kemudian aku menganut iman Kristen selama beberapa tahun), aku ingin menjadi bagian dari Gereja Katolik. Dan Gereja Katoliklah yang benar-benar kukunjungi untuk pertama kali. Tetapi karena waktu kuliah di Bandung aku kebetulan bertemu dengan banyak orang Protestan (Karismatik) yang semangatnya “menyala-nyala” untuk Allah, lalu berteman dengan mereka, dan tidak melihat alasan mengapa aku harus membedakan mereka dari orang-orang Katolik, maka aku pun pergi ke gereja-gereja mereka, dan juga banyak membahas masalah-masalah kekristenan dengan mereka.

Namun, ketika beberapa tahun kemudian aku kehilangan kontak dengan mereka, aku pun mulai mencari sebuah gereja internasional di Bandung, lalu menemukannya. Tak lama kemudian aku segera terlibat dalam satu dua pelayanan, dibaptis di gereja itu, dan bahkan akhirnya bekerja untuk beberapa yayasan asing (Protestan) di Bandung dan lalu di Jakarta.

Film Martin Luther membuka mata hatiku kepada Gereja Katolik

Tetapi situasi ini segera berubah ketika pada suatu malam (pada bulan Oktober 2005), dengan mengikuti ajakan dari bosku di tempat kerja, aku melihat film “Luther” di rumah seorang pendeta dari Australia; ia adalah pendeta dari salah satu gereja internasional di Jakarta Selatan yang rutin kukunjungi setiap minggu pada waktu itu. Ketika sedang melihat film itu, dan sesudahnya, tiba-tiba aku tersadar bahwa di dalam kekristenan ada dua pilihan utama, yaitu Katolikisme dan Protestantisme, dan bahwa aku harus menentukan pilihanku sendiri.
Istilah “kekristenan” yang kabur, yang kepercayaannya kusangka sudah kupeluk, tidaklah mengandung satu kesatuan ajaran yang utuh; banyak orang yang menyebut diri sebagai orang Kristen sering kali mempercayai banyak hal, yang kadang-kadang mendukung, namun sering juga menentang, satu sama lain. Dan untuk pertama kalinya aku tersadar bahwa di antara mereka terdapat “ketidaksepakatan yang serius,” yang tidak boleh kuanggap enteng.
Di dalam film itu, ada seorang uskup, aku lupa siapa tepatnya, yang berkata bahwa Alkitab itu terlalu dalam untuk dipahami oleh orang biasa. Ucapan ini, menurutku, mungkin sengaja dibuat oleh produser film, atau siapa pun yang terlibat di dalamnya, berdasarkan alasan-alasan tertentu, sebagai suatu serangan terhadap ajaran Katolik mengenai Alkitab. Tetapi ucapan itu terus menggema dalam pikiranku. Setelah film itu berakhir, si pendeta membuka diskusi tentang film yang baru saja kami saksikan, namun tidak seorang pun langsung menanggapinya – hanya kemudian ada orang Amerika yang memberikan komentar ringan bahwa semua orang yang hadir di situ bekerja di tempat yang sama – maka aku pun memutuskan untuk mengetengahkan apa yang diucapkan oleh uskup tadi.
Kukutip lagi kata-kata dari sang uskup itu – bahwa Alkitab terlalu dalam untuk dipahami oleh orang biasa – dan kutanyakan kepada mereka apakah itu sebabnya di dalam Protestantisme ada begitu banyak denominasi, yang masing-masing menganggap benar kelompok sendiri, sebagai akibat dari cara mereka menafsirkan Alkitab secara pribadi? Semua pun tersentak diam selama sekitar 30 detik, sampai akhirnya bosku, orang Jerman, yang mengajakku menonton film ini, berkata bahwa memang ada banyak ajaran yang berbeda di dalam Protestantisme, tetapi bahwa perbedaan-perbedaan itu hanya bersifat sekunder, dan sama sekali tidak mempengaruhi baik iman kepercayaan maupun keselamatan. Semua orang tampak lega dengan usulan ini, dan mereka pun mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda setuju. Namun, aku tetap tidak yakin, meskipun aku cukup puas dengan jawaban tersebut pada saat itu. Tetapi ini sama sekali tidak menghalang-halangiku untuk mencari jawabannya sendiri; dan selanjutnya aku mengerti bahwa perkataan bosku itu sesungguhnya lebih tepat diterapkan kepada Gereja Katolik daripada gereja-gereja Protestan.

Perjalananku menuju ke Roma

Aku pun mulai membaca profil agama Katolik di situs Wikipedia, dan dari situ aku mendapat banyak situs Katolik sebagai rujukan, salah satunya, yang paling sering kukunjungi waktu itu, adalah Catholic Answers. Selain itu, aku juga menggunakan Catholic Encyclopedia dari situs New Advent sebagai sumber utama untuk mengetahui sudut pandang Katolik tentang berbagai hal, dan, tentu saja, aku pun mengunduh The Catechism of the Catholic Church dari situs Vatikan. Di samping itu, aku juga mulai membaca beberapa tulisan dari para teolog Katolik, terutama John Henry (Kardinal) Newman dan G.K. Chesterton, dua orang berkebangsaan Inggris, yang banyak membantuku memahami ajaran-ajaran Katolik dalam hubungannya dengan Protestantisme, dan yang semakin meneguhkan niatku untuk diterima di dalam Gereja Katolik; Newman dengan Essay on the Development of Christian Doctrine, dan Chesterton dengan The Catholic Church and Conversion.

Akhirnya, aku diterima di dalam Gereja Katolik pada bulan Desember 2006 menjelang Natal, di Paroki Santo Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan. Aku menjadi Katolik karena alasan bahwa, setelah banyak berdoa dan mempelajari isu-isu mengenai Protestantisme dan Katolikisme, aku benar-benar tidak dapat (lagi) berpegang pada panji-panji utama Protestantisme, yaitu sola scriptura, sola fide, dan sola gratia. Dan, sebagai akibatnya, aku pun harus masuk sepenuhnya ke dalam persekutuan dengan Gereja Katolik, Gereja yang selama ini kuinginkan tanpa sepenuhnya kusadari, dan Gereja yang cara pewartaannya menggugah keinginan di dalam batinku dulu sewaktu aku masih kecil, dan masih sampai saat ini. Panggilan itu terus menggema di hatiku, yaitu untuk lebih mengenal Tuhan yang diwartakan oleh Gereja Katolik dengan lebih dalam lagi.

Harapanku adalah bahwa dengan adanya siapa saja yang masuk, atau kembali, kepada pangkuan Gereja Katolik, maka itu akan membangkitkan minat dan penghargaan terhadap Gereja Katolik. Semoga kesaksian perjalanan iman seperti yang kualami ini dapat memberikan ‘kesegaran’ bagi anggota-anggota Gereja yang sudah lama terlelap dan tenggelam dalam rutinitas ibadah, dan akan memberikan keyakinan serta penghiburan bagi umatNya yang setia, yang pada saat ini mungkin tengah mengalami godaan, baik dari pihak dalam maupun pihak luar, untuk meragukan kepercayaan mereka terhadap ajaran-ajaran Gereja. Sebab sungguh ajaran Gereja Katolik benar-benar diterima dari Yesus Tuhan, dan dengan setia diteruskan oleh para rasulNya, dan dengan hati-hati dijaga oleh para penganutNya. Gereja ini secara perkasa akan terus dilindungi sampai akhir zaman oleh Roh Kudus, yang dengan bimbinganNya, dan dengan menuruti perintah Tuhan, akan terus dengan penuh semangat dan kebijaksanaan mewartakan kebenaran sampai ke ujung-ujung bumi!

Aku bersyukur, bahwa Tuhan membawaku masuk dalam pangkuan Gereja Katolik, walaupun melalui perjalanan panjang dan berliku. Di sinilah ‘rumahku’, yang akan menghantarkanku kepada Tuhan yang telah lama dan senantiasa kurindukan. Betapa aku berdoa agar semakin banyak orang mengalami pengalaman kasih Tuhan, yang penuh dan melimpah dicurahkan dalam Gereja Katolik….

Penulis tinggal di Jakarta, bekerja sebagai penerjemah, dan sedang mengikuti program matrikulasi S2 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2)

52

Yesus tidak menulis Kitab Suci

Pernahkah anda bertanya dalam hati: “Mengapa Yesus sendiri tidak menulis Kitab Suci?” Bukankah hal ini lebih baik, sehingga tidak ada pertanyaan tentang asal usul Kitab Suci di kemudian hari? Demikianlah, mungkin hingga saat ini banyak orang mempertanyakannya, bahkan sampai pada titik menolak untuk percaya kepada Kitab Suci dan kepada pesan Keselamatan yang tertulis di dalamnya; bahwa Yesus, Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Mari merenungkan hal ini: Yesus adalah Sang Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Pribadi-Nya sendiri adalah Sabda Allah: Dia-lah “Kitab Suci” yang hidup. Maka dapat dimengerti jika Yesus tidak menulis Kitab Suci, karena Ia tidak ingin membatasi Diri-Nya hanya pada ajaran dan peraturan yang tertulis oleh huruf-huruf. Ia tidak menulis Kitab Suci karena Ia menghendaki semua orang untuk melihat dan membaca Pribadi-Nya yang tak terbatas. Di sanalah tertulis segala kesempurnaan ajaran, teladan, dan gambaran Allah sendiri. Bukankah bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa seorang pemimpin, seniman ataupun guru yang terbesar adalah ia yang berhasil membentuk murid-muridnya untuk menjadi pemimpin, seniman, ataupun guru yang besar juga? Demikianlah, dalam kebijaksanaan-Nya, Allah membentuk manusia, untuk mengikuti teladan-Nya untuk mencapai kehidupan kekal seperti yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Untuk mewujudkan rencana-Nya, Allah memilih orang-orang beriman tertentu yang dibimbing secara khusus oleh Roh Kudus-Nya, untuk menuliskan rencana Keselamatan-Nya ini.

Asal usul Kitab Suci

Maka umat Kristiani percaya bahwa Kitab Suci bukan merupakan kitab yang ‘jatuh’ dari surga, ataupun kitab yang dituliskan oleh Kristus, melainkan Kitab yang terdiri dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Allah yang diilhami Roh Kudus. Nah, pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa kitab-kitab tertentu diilhami oleh Roh Kudus, sedangkan ada banyak kitab lainnya ‘hanya’ merupakan karya manusia? Sejarah menunjukkan bahwa yang menentukan apakah suatu kitab tertentu diilhami Roh Kudus atau tidak adalah Gereja Katolik. Hal ini mungkin karena kita percaya bahwa Gereja Katolik dipimpin oleh para rasul dan para penerusnya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus ini adalah Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan kitab-kitab itu, maka peneguhan yang ditetapkan oleh Gereja tentang kitab-kitab tersebut tidak mungkin keliru, karena Roh Kudus tidak mungkin mempertentangkan Diri-Nya sendiri.

Jika kita tidak mempercayai hal ini, kita sama saja dengan mempertanyakan janji Kristus yang mengatakan akan menyertai para rasul-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Kita tahu, bahwa para rasul semuanya telah wafat, sehingga janji penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya mungkin diartikan bahwa Yesus akan menyertai para pengganti rasul- rasul tersebut, dan menjaga mereka dari kesesatan dalam kapasitasnya memimpin Gereja dan melestarikan ajaran Kristus. Maka, dengan mengimani janji Kristus itu, kita percaya bahwa para pengganti rasul diilhami oleh Roh Kudus untuk meneguhkan kitab-kitab mana yang diilhami Roh Kudus, yang kemudian membentuk Kitab Suci.

Wahyu Ilahi diberikan kepada beberapa orang pilihan-Nya untuk dituliskan

Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa, karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci, dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

Peran Gereja Katolik

Dari bukti sejarah kita melihat adanya banyak kitab yang menceritakan tentang Allah. Tentu orang berhak bertanya, mana kitab yang benar, mana yang tidak. Semua orang tentu dapat mempunyai penilaian sendiri-sendiri, namun berbahagialah kita yang percaya bahwa Allah menyertai Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya, sehingga Gereja yang bertindak atas nama Kristus itulah yang paling berwewenang untuk menentukan kitab mana yang otentik diilhami Roh Kudus, dan kitab mana yang tidak. Karena bimbingan Roh Kudus pada Gereja Katolik inilah, maka kita percaya bahwa kitab-kitab yang ditetapkan oleh Gereja adalah sungguh yang ditetapkan oleh Allah sendiri.

Bukti sejarah ini sungguh membuka mata kita bahwa sesungguhnya Kitab Suci yang kita kenal sekarang ada karena Gereja Katolik, yang menetapkan kanon Kitab Suci. Kata ‘kanon’ sendiri berarti ‘batang pengukur’ atau ‘standar’. Jadi kanon Kitab Suci adalah daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus yang membentuk Kitab Suci, yang ditentukan oleh tradisi apostolik Gereja Katolik.[1]

Kitab Suci saja (‘Bible alone’) tidak cukup

Ada kelompok orang-orang yang mengatakan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber satu-satunya iman Kristen. Namun, pendapat ini tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat tahu dengan pasti bahwa kitab-kitab tertentu termasuk dalam Kitab suci sedangkan kitab yang lainnya tidak. Sebab, kanon Kitab Suci tidak diketahui dari Kitab Suci itu sendiri. Di dalam Kitab Suci (dari Kejadian sampai Wahyu) tidak disebutkan bahwa kitab ini dan itu termasuk Kitab Suci, sedang kitab yang lain tidak. Maka, secara objektif sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa berpegang pada Kitab Suci saja tidaklah cukup. Peran Gereja menjadi sangat penting, karena Gereja lahir terlebih dahulu dari Kitab Suci. Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus-lah yang menjadi saksi otoritatif yang dapat menentukan apakah kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus atau tidak. Peran Gereja Katolik ini diakui juga oleh pendiri gereja Protestan, Martin Luther, yang mengatakan, “Kita diwajibkan untuk bersandar pada Gereja Katolik- bahwa mereka memiliki Sabda Tuhan yang kita terima dari mereka, jika tidak, kita tidak dapat mengetahui apapun tentang itu.”[2]

Kanon Kitab Suci menurut Gereja Katolik

Kanon Kitab Suci yang ditetapkan menurut tradisi apostolik Gereja adalah Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.[3] Mungkin kita pernah mendengar bahwa Gereja Katolik dikatakan ‘menambahkan’ 7 kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2 Makabe (beserta tambahan Kitab Daniel dan Esther), yang dikenal dengan Kitab Deuterokanonika.[4] Tetapi sesungguhnya, ketujuh kitab tersebut sudah ada sejak jemaat awal. Baru sekitar 1500 tahun kemudian, Martin Luther memisahkan ketujuh kitab ini dari kanon Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini digabungkan dengan kitab-kitab lain yang umum disebut sebagai kitab Apokrif/ “Apocrypha” oleh Gereja Protestan.

Berikut ini adalah daftar kanon Kitab Suci sejak pertama kali ditetapkan oleh Paus Damasus I (382), yang sudah memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika:

Keseluruhan teks dekrit Paus Damasus I itu adalah [kitab-kitab PL dicetak tebal]:

“It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun. The list of the Old Testament begins: Genesis, one book; Exodus, one book: Leviticus, one book; Numbers, one book; Deuteronomy, one book; Jesus Nave [Joshua], one book; of Judges, one book; Ruth, one book; of Kings, four books [1&2 Samuel; 1&2 Kings] Paralipomenon [1&2 Chronicles], two books; One Hundred and Fifty Psalms, one book; of Solomon, three books: Proverbs, one book; Ecclesiastes, one book; Canticle of Canticles, one book; likewise, Wisdom, one book; Ecclesiasticus (Sirach), one book;
Likewise, the list of the Prophets: Isaiah, one book; Jeremias, one book [Barukh considered part of Jeremiah]; along with Cinoth, that is, his Lamentations; Ezechiel, one book; Daniel, one book; Osee, one book; Amos, one book; Micheas, one book; Joel, one book; Abdias, one book; Jonas, one book; Nahum, one book; Habacuc, one book; Sophonias, one book; Aggeus, one book; Zacharias, one book; Malachias, one book.
Likewise, the list of histories: Job, one book; Tobias, one book; Esdras, two books [Ezra & Nehemiah]; Esther, one book; Judith, one book; of Maccabees, two books [1&2 Maccabees].

Likewise, the list of the Scriptures of the New and Eternal Testament, which the holy and Catholic Church receives: of the Gospels, one book according to Matthew, one book according to Mark, one book according to Luke, one book according to John. The Epistles of the Apostle Paul, fourteen in number: one to the Romans, one to the Corinthians [2 Corinthians is not mentioned], one to the Ephesians, two to the Thessalonians, one to the Galatians, one to the Philippians, one to the Colossians, two to Timothy, one to Titus one to Philemon, one to the Hebrews.
Likewise, one book of the Apocalypse of John. And the Acts of the Apostles, one book.
Likewise, the canonical Epistles, seven in number: of the Apostle Peter, two Epistles; of the Apostle James, one Epistle; of the Apostle John, one Epistle; of the other John, a Presbyter, two Epistles; of the Apostle Jude the Zealot, one Epistle. Thus concludes the canon of the New Testament.

Likewise it is decreed: After the announcement of all of these prophetic and evangelic or as well as apostolic writings which we have listed above as Scriptures, on which, by the grace of God, the Catholic Church is founded, we have considered that it ought to be announced that although all the Catholic Churches spread abroad through the world comprise but one bridal chamber of Christ, nevertheless, the holy Roman Church has been placed at the forefront not by the conciliar decisions of other Churches, but has received the primacy by the evangelic voice of our Lord and Savior, who says: “You are Peter, and upon this rock I will build My Church, and the gates of hell will not prevail against it; and I will give to you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you shall have bound on earth will be bound in heaven, and whatever you shall have loosed on earth shall be loosed in heaven.”

Dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa Gereja Katolik menambah-nambahi Kitab Suci. Sebaliknya, kitab-kitab selengkapnya, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, itu sudah ditetapkan sejak awalnya di tahun 382.

Kanon Perjanjian Lama (PL)[5]

Kanon Perjanjian Lama gereja Protestan diambil berdasarkan kanon kaum Yahudi yang berbahasa Ibrani di Palestina. Sedangkan kanon Perjanjian Lama Gereja Katolik berdasarkan atas kanon kaum Yahudi yang berbahasa Yunani (Alexandria) di seluruh Mediterania, termasuk di Palestina. Alexandria adalah kota di Mesir yang mempunyai perpustakaan terbesar pada jaman itu, di bawah kepemimpinan Raja Ptolemy II Philadelphus (285-246 BC). Maka keseluruhan Kitab Suci Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh 70 atau 72 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan ini selesai pada tahun 250-125 BC, dan dari sanalah kita mengenal kata “Septuagint” yaitu kata Latin dari 70 (LXX), sesuai dengan jumlah para penerjemah itu.

Pada jaman Yesus hidup, bahasa Ibrani adalah bahasa yang mati/ tidak digunakan. Orang-orang Yahudi di Palestina pada saat itu umumnya bicara dengan bahasa Aramaic. Sedangkan pada waktu itu, bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di seluruh dunia Mediteranian. Maka tak mengherankan bahwa yang Alkitab yang dipergunakan oleh Yesus adalah terjemahan Septuagint/ Yunani, dan terjemahan Septuagint ini pula yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali.[6] Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Mengapa PL menurut Septuagint berisi 46 kitab sedangkan kanon Ibrani 39 kitab

Kanon Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi di Javneh/Jamnia, Palestina, pada sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh kitab ini ke dalam kanon mereka adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7 kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Namun Gereja Katolik tidak mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani maupun Perjanjian Baru yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa mereka dipimpin oleh Roh Kudus, padahal mereka malah telah menolak Kristus?

Memang harus diakui bahwa karena wahyu ilahi diberikan pertama-tama melalui bangsa Yahudi, maka tak mengherankan jika Alkitab kita mengandung kitab-kitab suci yang diakui juga oleh kaum agama Yahudi. Menurut The Pontifical Biblical Commision, on The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible, (I, E, 3.Formation of the Christian Canon), disebutkan:

“Di Gereja- gereja Timur pada jaman Origen (185-253) ada usaha untuk menyesuaikan dengan kanon Ibrani…. [Namun] usaha untuk menyesuaikan teks Ibrani dalam kanon Ibrani tidak menghalangi para pengarang Kristen di gereja-gereja Timur untuk menggunakan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam kanon Ibrani, atau yang mengikuti teks Septuagint. Maka pendapat bahwa – kanon Ibrani yang seharusnya dipilih oleh umat Kristiani- tidak dipilih oleh gereja-gereja Timur, atau setidak-tidaknya tidak ada kesan yang mendukung ke arah itu. Di gereja-gereja Barat, penggunaan Septuagint adalah umum dan dipertahankan oleh St. Agustinus (354-430). Ia melandaskan pandangannya pada praktek yang telah berlangsung lama dalam Gereja.”

Maka berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja Katolik menetapkan kanon Kitab Suci pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397 (meneguhkan kembali apa yang telah ditentukan oleh Paus Damasus I dalam dekritnya di tahun 382), yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan 27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang kemudian disebut sebagai kitab-kitab Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka[7], sebab mereka menganggap kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus, sama dengan kitab-kitab PL lainnya. Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun 1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik. Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

PL menurut Martin Luther dan gereja Protestan

Dengan berpegang pada kanon Ibrani berdasarkan Konsili Jamnia dan pendapat St. Jerome, gereja Protestan menganggap ke- 39 kitab sebagai kanon Perjanjian Lama. Namun demikian sebenarnya alasan ini tidak cukup kuat, karena walaupun St. Jerome pernah menyatakan pendapatnya yang menolak status kanonik kitab Yudit, Tobit, Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan, ia pada akhirnya dengan rendah hati tunduk pada keputusan Gereja, dengan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam terjemahan Kitab Suci berbahasa Latin, “the Vulgate”. Juga penelitian terakhir dari the Dead Sea Scroll di Qumran menunjukkan ditemukannya copy naskah berbahasa Ibrani dari beberapa kitab yang dipermasalahkan (Sirakh, Yudit dan 1 Makabe- yang tadinya dianggap tidak termasuk kanon Ibrani).[8] Penemuan naskah Ibrani pada sebagian besar kitab Sirakh/ Ecclesiaticus di Mesir memperkuat anggapan para ahli kitab suci bahwa kitab Sirakh tersebut diterjemahkan ke bahasa Yunani dari bahasa Ibrani.[9]

Bukti-bukti ini sesungguhnya memperkuat bahwa Septuagint adalah terjemahan awal yang lengkap dan otentik, hanya saja dengan berselangnya waktu, naskah Ibrani dari beberapa kitab ini tidak dapat ditemukan seluruhnya. Jika suatu saat nanti ditemukan semua naskah Ibraninya, barangkali semua menjadi lebih jelas. Namun dengan ditemukannya sebagian saja dari naskah Ibrani kitab tersebut, itu sudah menunjukkan bahwa alasan mencoret keberadaan kitab Deuterokanonika dari kanon hanya karena tidak dapat ditemukan naskah Ibrani-nya, sesungguhnya bukan merupakan alasan yang kuat. Sebab, jika suatu saat dapat ditemukan semua naskah Ibrani-nya, bagaimana mempertanggungjawabkan pendapat ini?

Juga perlu direnungkan, mengapa gereja Protestan mengambil dasar konsili Jamnia sebagai dasar penentuan kanon PL, sebab konsili itu tidak umum diketahui oleh kaum Yahudi dan hasil konsili tersebut tidak diterima oleh segenap kaum Yahudi. Kaum Saduki dan Samaria tidak menerimanya, bahkan kaum Yahudi di Ethiophia sampai sekarang mempunyai kitab PL yang sama dengan yang kanon PL Gereja Katolik.

Sekarang mari kita melihat fakta sejarah.[10] Walaupun Luther mempertanyakan penetapan 46 kitab dalam kanon Perjanjian Lama (PL), namun ia sendiri tetap menyertakan kitab-kitab Deuterokanonika tersebut dalam terjemahan Kitab Suci pertamanya dalam bahasa Jerman pada tahun 1534, di bagian akhir PL, dengan menyebutnya sebagai Apokrifa. Kitab-kitab Deuterokanonika juga ditemukan dalam edisi pertama King James Version pada tahun 1611, yang diletakkan di antara PL dan PB. Maka kitab-kitab Deuterokanonika memang sudah termasuk dalam semua Alkitab (setidak-tidaknya sebagai appendix dalam Alkitab Protestan) sampai pada tahun 1827, yaitu ketika the British Foreign Bible Society benar-benar ‘memotongnya’. Maka terlihat bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan Kitab Deuterokanonika, melainkan gereja Protestan yang menguranginya dari keseluruhan Kitab Suci.

Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone”. Pandangan inilah yang sering dianggap sebagai alasan mengapa Luther memisahkan kitab Deuterokanonika sebagai “Apokrif ‘Apocrypha’, yaitu kitab-kitab yang tidak dianggap sama seperti Kitab Suci lainnya namun sebagai kitab yang berguna dan baik untuk dibaca.”[11] Sayangnya, setelah jaman Reformasi, arti ‘apocrypha’ –yang terjemahan bebasnya adalah ‘tersebunyi’ ini memperoleh konotasi negatif, sehingga diartikan sebagai ‘salah/ sesat’.

Kanon PL mana yang kita pilih?

Jika kita memilih untuk berpegang pada Kitab Suci yang mengandung ketujuh kitab tersebut, artinya, kita mengikuti tradisi para rasul, para penulis kitab Perjanjian Baru dan para jemaat awal. Namun jika kita berpegang pada Kitab Suci yang tidak mencantumkan ketujuh kitab itu, artinya kita mengikuti tradisi para rabi Yahudi non-Kristen yang kemudian diikuti oleh gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Baru (PB)

Mengenai hal kanon PB, baik Gereja Katolik maupun Protestan setuju, bahwa terdapat 27 kitab di dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab pertama PB dituliskan sekitar tahun 50, yaitu Injil Matius dan Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika (1 Tesalonika), dan yang terakhir, Wahyu, pada tahun 90-100. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sampai diperoleh Kitab Perjanjian Baru tersebut, jika pada waktu yang sama dituliskan kitab-kitab lain, yang mengundang perbedaan pendapat dalam kelompok jemaat mengenai hal ke-otentikan kitab sebagai yang diilhami Roh Kudus. Misalnya ada yang berpendapat bahwa kitab Ibrani, Yudas, Wahyu dan 2 Petrus itu tidak diilhami Roh Kudus, sedangkan sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kitab Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat Barnabas dan Klemens adalah tulisan yang diilhami Roh Kudus. Gereja memahami situasi ‘kebingungan’ ini maka pada akhir abad ke- 4 dimulailah suatu konsili dan dekrit yang memutuskan Kanon seluruh Kitab Suci, sebagai berikut:

  1. Tahun 382, Paus Damasus I, didorong oleh Konsili Roma, menulis dekrit yang menentukan ke 73 kitab, PL dan PB.
  2. Tahun 393, Konsili Hippo di Afrika Utara menyetujui adanya ke-73 kitab tersebut dalam kanon Kitab Suci, PL dan PB.
  3. Tahun 397, Konsili Carthage/ Karthago, Afrika Utara, kembali menyetujui kanon PL dan PB tersebut. Banyak gereja Protestan yang menganggap konsili ini sebagai yang menentukan secara otoritatif kanon Perjanjian Baru.
  4. Tahun 405, Paus St. Innocentius I (401-417) menulis surat kepada Uskup Exsuperius dari Toulouse, menetapkan ke 73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili Hippo dan Carthage.
  5. Tahun 419, Konsili kedua Karthago kembali meneguhkan ke 73 kitab tersebut.
  6. Tahun 1441, Konsili ekumenikal di Florence secara resmi mendefinisikan daftar ke-73 kitab yang sama tersebut dalam kanon Kitab Suci.
  7. Tahun 1546, Konsili ekumenikal di Trente meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang terdiri dari ke-73 kitab tersebut.
  8. Tahun 1869, Konsili ekumenikal Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang disebutkan dalam Konsili Trente.

Maka kita ketahui dalam waktu 40 tahun dari tahun 382 sampai 419 diadakan beberapa konsili dan keputusan Bapa Paus tentang Kanon Kitab Suci sampai akhirnya ke-73 kitab tersebut diterima secara umum oleh Gereja pada sekitar tahun 450.

Gereja Katolik menggunakan wewenang mengajarnya untuk meneguhkan kanon Kitab Suci tersebut, dan kita patut bersyukur atas campur tangan Roh Kudus yang memimpin Gereja Katolik dalam hal ini. St. Agustinus berkata, “Saya tidak akan percaya pada Injil seandainya otoritas Gereja Katolik tidak mengarahkan saya untuk itu”.[12] Maka St. Agustinus mengakui bahwa kepastian akan keaslian kitab tertentu sebagai yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus adalah dengan menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja Katolik, dan dengan demikian mengakui juga otoritas Gereja Katolik. Suatu permenungan adalah: jika kita meragukan otoritas Gereja Katolik, maka kita sesungguhnya juga menentang Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus. Adakah kita lebih pandai dan lebih diilhami Roh Kudus daripada mereka?

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Kitab Suci berkaitan erat dengan Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Lama ditetapkan berdasarkan terjemahan yang diakui oleh Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Baru ditulis, diperbanyak, dikumpulkan dan dilestarikan oleh Gereja Katolik. Dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik inilah semua gereja yang lain memperoleh Kitab Suci. Namun bukan berarti bahwa otoritas Gereja Katolik-lah yang menciptakan Kitab Suci, sebab Roh Kuduslah yang memberi inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Yang benar adalah, Gereja Katolik diberi kuasa ilahi oleh Yesus Kristus sendiri untuk secara resmi meneguhkan dan menentukan secara dogmatis daftar kitab-kitab tertentu sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Penentuan ini tidak mungkin salah, sebab Gereja dipimpin oleh Roh Kudus yang tidak mungkin salah. Mari bersama, kita dengan rendah hati mensyukuri rahmat bimbingan Roh Kudus terhadap Gereja Katolik yang olehnya kita memperoleh Kitab Suci. Mari kita tunjukkan ketaatan iman kita kepada Kristus dengan mempercayai ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja yang didirikan-Nya. Dan akhirnya, mari bersama-sama kita belajar lebih tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja Katolik.


[1]Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci.

[2] Martin Luther, Commentary on St. John, chapter 16, “We are obliged to yield many things to the Papists [Catholics]- that they possess the Word of God which we received from them, otherwise we should have known nothing at all about it.”

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.

Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.

Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.

[4] Daniel 3:24-90 dan 13, 14; Ester 10:4- 16:24 (atau A-F)

[5] Disarikan dari tulisan Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, How to Read the Bible, (Farmington, NM, San Juan Catholic Seminars, 2003), p.11- 15.

[6] Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii.

[7] Kitab Kebijaksanaan dikutip dalam 1 Clement dan Barnabas …. Polycarpus mengutip Tobit, Didache mengutip Sirakh. Irenaeus mengutip Kebijaksanaan, Sejarah Susanna, Bel dan Naga (dalam Tambahan Kitab Daniel) dan Barukh. Bahkan Tertullian, Hippolytus, Cyprian dan Clement dari Alexandria sangat sering mengutip kitab Deuterokanonika tersebut, sehingga tidak perlu dicantumkan di sini (Early Christian Doctrines, 53-54).

[8] New Catholic Commentary on Holy Scripture, (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1975), p.22.

[9] Menurut NewAdvent Catholic Encyclopedia, http://www.newadvent.org/cathen/09627a.htm “Here mention should be made of the non-Massoretic Hebrew manuscripts of the Book of Ecclesiasticus. These fragments, obtained from a Cairo genizah (a box for wornout or cast-off manuscripts), belong to the tenth or eleventh century of our era. They provide us with more than a half of Ecclesiasticus and duplicate certain portions of the book. Many scholars deem that the Cairo fragments prove Hebrew to have been the original language of Ecclesiasticus (see “Facsimiles of the Fragments hitherto recovered of the Book of Ecclesiasticus in Hebrew”, Oxford and Cambridge, 1901).

[10]Lih. The New Catholic University of America, The New Catholic Encyclopedia, vol.II, 1967, p. 391, dan  di http://www.catholic.com/thisrock/2000/0009sbs.asp

[11] Hartmann Grisar, Martin Luther: His Life and Work (Maryland: Newman Press, 1950),p. 264.

[12] St. Augustine, Against the Epistle of Manichaeus Called Fundamental, 5,6, “I would put no faith in the Gospels unless the authority of the Catholic Church directed me to do so.”

Mengapa Yesus memberikan perumpamaan?

1

Pertanyaan:

Mohon penjelasan pada ayat bacaan Injil tgl 28 lalu,
Markus 4: 12 “..kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam bentuk perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menangkap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, biar mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”
Mengapa menurut Markus, Yesus menyampaikan dalam perumpamaan adalah karena tidak ingin orang diluar mendapatkan keselamatan? Apakah ini kata2 Yesus sendiri, ataukah hanya pendapat Markus saja? Saya merasa sangat tidak nyaman membaca ayat ini.
Salam – Gabrielle

Jawaban:

Shalom Gabrielle,
Terima kasih atas pertanyaannya. Untuk Markus 4:11-12 “Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun“, maka kita dapat menginterpretasikannya sebagai berikut:

  1. Hal ini tidak berarti bahwa Kristus menginginkan agar mereka yang berada di luar Kristus tidak boleh mengerti akan kebijaksanaan Allah. Namun apa yang dapat diterima oleh seseorang adalah tergantung dari disposisi hati dari orang yang menerima (mode of the receiver). Sebagai contoh, bagi orang yang punya disposisi hati yang dibentuk oleh agama Katolik, maka orang tersebut akan menghormati dan mendengarkan pengajaran tentang Ekaristi. Namun bagi orang yang tidak percaya, maka pengajaran tentang Ekaristi mungkin tidak terlalu diperhatikannya.
  2. Ini juga ingin menunjukkan bahwa untuk mengerti misteri Kristus secara lebih mendalam, kita harus masuk dalam intimasi dengan Kristus. Hal ini dimanifestasikan dengan menjadi anggota Gereja Katolik, sehingga seseorang dapat mengerti kepenuhan kebenaran Kristus yang disampaikan dari generasi ke generasi secara murni. Berapa banyak orang dari agama lain, yang mempunyai kehidupan yang baik, namun mereka tidak mengerti akan misteri Sakramen Ekaristi, Sakramen Pengampunan Dosa, dan sakramen-sakramen yang lain.

Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Gabrielle. Mari kita bersama-sama mensyukuri bahwa kita telah berada di dalam Gereja Katolik, sehingga kita dapat mengerti secara lebih mendalam tentang pesan Kristus. Tantangannya adalah kita harus berjuang untuk hidup kudus, mengikuti teladan Kristus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab