Home Blog Page 308

Iman tanpa perbuatan adalah mati

6

Pertanyaan:

Ada pendapat bahwa perkataan dalam Injil Yakobus yang berbunyi bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati bukan berarti perbuatan baik dan benar yang secara kodrati dimiliki oleh semua orang yang baik. Perbuatan yang dimaksud dalam Injil tersebut adalah perbuatan mewujudkan iman seperti perbuatan Abraham yang tetap akan menyembelih Ishak putera kesayangannya karena beliau beriman kepada Allah sekalipun Abraham percaya bahwa perbuatan menyembelih anaknya bukanlah perbuatan yang baik dan benar. Bagaimana pendapat Bu Inggrid?
Hal lain yang ingin saya tanyakan adalah tentang pandangan bahwa gereja non-Katolik seperti gereja Protestan pada hakekatnya bukan gereja karena penyelenggaraan ibadahnya tidak dipimpin oleh pastor yang sudah mendapatkan sakramen imamat. Istilah gereja lokal dianggap merujuk kepada masing-masing gereja Katolik di paroki yang berada di bawah keuskupan yang sama dan keuskupan Roma (Paus). Apakah pandangan ini benar karena setahu saya gereja Katolik bercirikan am, kudus, katolik dan apostolik sehingga saya sering mengatakan gereja Katolik itu gereja universal sedangkan gereja non-Katolik merupakan gereja lokal? – Andryhart

Jawaban:

Shalom Andry,
A. Mengenai perbuatan dan iman, dan secara khusus iman Abraham
Pertama-tama mari kita melihat bahwa sebaiknya memang iman tidak dipertentangkan dengan kasih, sehingga sebagai pengikut Kristus baik Katolik maupun Protestan dapat menerima bahwa kita diselamatkan oleh karena iman yang dengan sendirinya menghasilkan perbuatan-perbuatan kasih. Sebab dengan demikian kita dapat berdialog dengan memusatkan pada persamaan daripada dari perbedaan yang ada.
Memang kita mengetahui dari tulisan Luther, bahwa ia menganggap Surat Yakobus sebagai “the Epistle of Straw” (Surat Jerami), walaupun menurut komentator dari gereja Protestan, maksud Luther menuliskan istilah itu adalah dalam konteks membandingkan surat Yakobus dangan keempat Injil. Jika keempat injil disebut emas, maka surat Yakobus di sini merupakan ‘jerami’. Soal bijak atau tidaknya istilah ini dipakai oleh Luther, saya tidak ingin memberi komentar.
Namun sebenarnya, yang lebih penting adalah isinya ayat Yak 2:24, karena itu di situ disebutkan, “…. manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Hal ini nampak bertentangan dengan prinsip ajaran Luther, “Sola Fide/ salvation by faith alone”. Di ayat ini kata ‘alone’ dipakai, tetapi lengkapnya malah ‘not by faith alone’, yang mengacu pada iman dan perbuatan kasih, dan bukan hanya iman saja. Saya percaya, bahwa saudara/i kita yang beragama Kristen non-Katolik sesungguhnya juga setuju bahwa iman tak dapat dipisahkan dengan perbuatan kasih. Dan sesungguhnya ini tantangan bagi kita, baik yang Katolik dan Protestan, untuk semakin melihat hal ini secara objektif. Jangan hanya menekankan iman saja, tanpa perbuatan, atau sebaliknya perbuatan saja tanpa iman, karena keduanya tidak sesuai dengan kitab Suci.
Mengenai iman yang mati tanpa perbuatan, saya pikir sesungguhnya sudah sangat jelas. Iman yang tak diikuti perbuatan sama saja dengan hanya iman di mulut, tapi tidak ada bukti dan perwujudannya. Terus terang saya malah baru pernah mendengar bahwa ayat itu diartikan sebagai perbuatan Abraham dalam iman pada Allah “tetap mau mengorbankan anaknya Ishak, walaupun dia percaya bahwa perbuatan menyembelih anaknya bukanlah perbuatan yang baik dan benar”- seperti yang Andry tuliskan. Setahu saya bukan demikian yang kita ketahui dalam interpretasi penjelasan Alkitab menurut Gereja Katolik.
Berikut ini adalah interpretasi Gereja Katolik tentang iman Abraham, yang saya ketahui dari beberapa sumber:

  1. Iman Abraham yang menyelamatkan seperti dituliskan dalam Roma 4; dipisahkan dari ‘perbuatan’, yang dalam hal ini diartikan sebagai perbuatan yang disyaratkan dalam hukum Taurat, yaitu sunat/ circumcision. Abraham dipilih/ dibenarkan Allah sebelum Allah memberikan hukum sunat, sehingga di sini jelas bahwa ia diselamatkan oleh iman kepada Allah dan bukan karena melakukan perbuatan menurut hukum Taurat yaitu sunat. Maka Abraham disebut sebagai bapa kaum beriman (bapa bangsa- bangsa), baik bagi bangsa yang bersunat maupun yang tak bersunat, agar olehnya seluruh bangsa diberkati (Gen 17:5;lih. KGK 59).
  2. Abraham juga dibenarkan Allah dengan iman dan pengharapannya, pada saat “tidak ada dasar untuk berharap” (Rom 4:18). Kita ketahui pada waktu janji Allah pertama diberikan kepadanya bahwa ia akan menjadi bapa bangsa, ia telah berumur 75 tahun (Kej 12: 1-4), dan istrinya Sarah telah mati haid, dan mereka belum mempunyai keturunan. Tetapi Abraham tetap percaya dan beriman kepada Tuhan.
  3. Iman Abraham mencapai puncaknya ketika ia taat pada perintah Allah untuk mempersembahkan anak kandungnya, Ishak. Para ahli Kitab Suci bahkan mengambil ayat ini sebagai dasar bahwa Abraham tentunya memiliki iman tentang kebangkitan orang mati, sebab ia yakin bahwa Allah yang telah menyebabkan kelahiran Ishak yang ajaib, dapat pula menyebabkan kebangkitan anaknya itu dari kematian.
  4. Allah memerintahkan Abraham mempersembahkan Ishak (Kej 22: 1-19) dengan dua maksud utama: 1) untuk menguji iman Abraham, agar terbukti bahwa ia layak disebut sebagai bapa orang beriman; 2) untuk memberikan pengajaran kepada umat beriman, bagaimana pengorbanan Ishak merupakan proto-tipe pengorbanan Yesus di kayu salib. Kisah Abraham yang rela mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran- dipakai untuk mengajarkan pada kita, bahwa Allah Bapa suatu saat nanti akan mengorbankan Putera-Nya sendiri yaitu Yesus sebagai korban penebus dosa kita manusia. Di sinilah pentingnya untuk membaca kitab Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru (lihat KGK 129) agar kita dapat lebih memahami kedalaman makna ayat dalam Kitab Suci.
    Kita percaya bahwa Allah tidak pernah menyuruh atau merencanakan sesuatu yang buruk, dan memang contoh tentang kisah Abraham ini hanya terjadi satu kali saja dalam seluruh Alkitab. Maka makna proto-tipe Ini menunjukkan betapa pentingnya maksud Allah memakai pengalaman pengorbanan Ishak pada Perjanjian Lama untuk dikaitkan dengan pemenuhannya di Perjanjian Baru, dalam diri Yesus Kristus. Jadi untuk maksud inilah (proto-tipe pengorbanan Yesus), Allah menyuruh Abraham mempersembahkan Ishak, dan bukan karena semata-mata memerintahkan Abraham untuk membunuh anak sendiri.
  5. Melalui kisah Abraham yang dengan taat merelakan anaknya ini, kita dapat juga melihat besarnya ketaatan Maria pada Perjanjian Baru. “Seperti Abraham yang menaruh harapan di saat tidak ada dasar untuk berharap bahwa ia akan menjadi Bapa banyak bangsa, maka Maria dengan kaul keperawanannya (silakan klik), percaya melalui kuasa Allah yang Maha Tinggi dan naungan Roh Kudus, ia akan menjadi ibu dari Allah Putera” (Redemptoris Mater / RM14)  Maka PL dimulai dari iman Abraham, dan PB dimulai dari iman Maria. Pengosongan diri Maria sebagai hamba Tuhan bahkan melebihi Abraham, karena tidak seperti pada PL, Ishak tidak jadi dikorbankan, tetapi di PB, Yesus tetap dikorbankan. Maria melihat sendiri kesengsaraan Putera-Nya Yesus Kristus yang melampaui segala ungkapan, dengan pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia. Inilah yang mungkin disebut sebagai pengosongan diri yang paling dalam yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia, yang disebut oleh Bapa Paus Yohanes II, bahwa pengosongan diri Maria ini sebagai “the deepest kenosis (self-emptying) in human history.” ( lihat RM 18-19). Para ibu yang pernah menyaksikan anaknya meninggal dunia di depan matanya akan lebih dapat memahami perasaan Bunda Maria. Apalagi dalam hal ini, Yesus disiksa sampai mati karena difitnah, dan Ia tidak melakukan kesalahan apapun.

B. Mengenai arti kata gereja lokal

Setahu saya di dalam dokumen Vatikan II tidak disebutkan bahwa gereja lokal itu mengacu kepada gereja Kristen non-Katolik. Dalam teks Vatikan II dipergunakan istilah particular churches (gereja khusus/ setempat) untuk menggambarkan gereja lokal yang dikepalai oleh uskup,

sedangkan digunakan universal Church (Gereja secara universal) untuk menggambarkan keseluruhan Gereja Katolik di bawah kepemimpinan Bapa Paus. Hal ini jelas disebutkan dalam Lumen Gentium 23.

Dalam Dekrit tentang Ecumenism (Unitatis Redintegratio), Gereja Katolik mengakui keberadaan gereja-gereja dan jemaat- jemaat Kristen non-Katolik, yang disebut dalam bahasa Inggris sebagai “Separated Churches and Ecclesial Communities” (lihat UR 19):

“Gereja-Gereja dan Jemaat-jemaat gerejawi, yang ….. atau sesudah itu [krisis Abad Pertengahan], telah terpisahkan dari Takhta Apostolik di Roma, masih tetap mempunyai ikatan dengan Gereja katolik karena kekerabatan yang istimewa serta hubungan-hubungan berkat kehidupan umat kristen dalam satu persekutuan gerejawi selama abad-abad sebelumnya.

Akan tetapi Gereja-Gereja serta Jemaat-Jemaat gerejawi itu karena beragamnya asal-usul, ajaran dan hidup rohani tidak sedikit pula berbeda bukan hanya dari kita, melainkan juga antara mereka sendiri. Maka sukar sekali memberi gambaran semestinya tentang mereka. Dan itu memang tidak kami maksudkan di sini.
Sungguhpun gerakan ekumenis dan kerinduan untuk berdamai dengan Gereja katolik belum dimana-mana merupakan arus yang kuat, kami berharap, supaya dalam hati segenap umat kristen semangat ekumenis dan sikap saling menghargai lambat-laun makin berkembang.
Akan tetapi harus diakui, bahwa antara Gereja-Gereja serta Jemaat-Jemaat itu dan Gereja katolik masih terdapat perbedaan-perbedaan cukup penting, bukan hanya yang bersifat historis, sosiologis, psikologis dan budaya, melainkan terutama menyangkut cara menafsirkan kebenaran yang diwahyukan. Supaya kendati perbedaan-perbedaan itu dialog ekumenis dapat lebih mudah diadakan, dalam artikel-artikel berikut kami bermaksud mengutarakan apa yang dapat dan harus merupakan dasar maupun dorongan bagi dialog itu.”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati  – https://katolisitas.org

Gerakan karismatik: sisi positif dan sisi negatif

131

Pertanyaan:

Salam dalam kasih Kristus,
Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak teman2 saya dari berbagai lingkungan dan usia yang terlibat aktif dalam Persekutuan Doa Kharismatik Katolik (PDKK), karena PDKK ini merupakan bagian dari kegiatan yg dianggap resmi oleh Gereja maka awalnya saya anggap biasa saja. Namun setelah beberapa tahun terakhir saya mulai “merasakan ada perbedaan” dalam gaya bicara,teriakan2, gaya berdoa, termasuk dalam penekanan2 pembicaraan tentang konsep anugerah/karunia2, tentang bahasa Roh, saya secara naluri mulai merasakan ada doktrin2 yg “asing” yang tidak cocok di pemahaman doktrin iman Katolik saya. Saat orang2 lain berteriak2 berbahasa roh saya malah jadi takut, saya merasa asing dan tidak nyaman. Gejala apa ini? apakah justru sayanya yang salah??
Saya merasa terganggu saat misa2 lingkungan ada kesaksian2 yang agak bombastis, dengan gaya2 berdoa yang mirip denominasi gereja lain, dengan gaya2 bahasa roh yang kadang2 menyiratkan adanya “kesombongan rohani” bagi mereka yang telah menjalankannya, ..(maaf kalau justru saya yang salah perasaan/persepsi), saya malah bertanya sendiri : mungkin lama2 ikut PDKK dengan ikut kebaktian gereja protestan Karismatik akan sama saja? Memang tetap ada bedanya, tapi itupun kelihatannya hanya kosmetik luar saja supaya identitas Katoliknya tetap terjaga, namun esensi ibadah dan doanya sudah amat mirip. Saya mencoba menghibur diri dengan berpikir : Ah, mungkin ini cuma “oknum” saja yang kebablasan. Namun diluar itu (dan ini merupakan pertanyaan saya) :
1. Bagaimana peran kontrol pemimpin2 gereja Katolik thp praktek2 gerakan ini, tidak cuma dalam bentuk dokumen (buku pedoman) tapi yang saya maksud adalah dalam hal kontrol “pagar2? di level pelaksanaan di tiap Paroki?
2. Saya mengimajinasikan sebuah skenario terburuk : Jika seorg Katolik yang aktivis di gerakan Karismatik dan sangat menikmati dan mendalaminya, pada suatu titik ia telah “kebablasan” mendapat teguran/koreksi dari otoritas gereja, bisa jadi ia akan memilih mencari wadah baru (gereja lain) yang lebih mengakomodasi preferensinya? bukankan secara tidak langsung Gereja telah melakukan “pembiaran” atas gejala ini?
3. Belajar dari sejarah Gereja Katolik berabad2 lalu mengenai ajaran2 yang menyimpang, mulai dari Montanisme di abad ke 3, dan seterusnya,.apakah Gereja sudah memperhitungkan resiko2 yang dapat muncul dari gerakan Karismatik ini sendiri? Saya membaca buku karangan Romo Deshi “apakah Karismatik dapat sungguh Katolik?”, menurut saya buku tersebut cukup baik dan memberi pencerahan. Sekian persen umat Katolik mungkin beruntung jika membaca buku tersebut, namun bagaimana dengan mereka yang tidak membaca atau tidak mengerti sama sekali (karena tidak berkesempatan mendapat pencerahan)? apa sejauh ini keuskupan sudah cukup bertindak memasang pagar2/rambu2 agar umat dalam skala luas tidak terperosok ?
4. Saya beberapa kali mendengar ada umat yang berucap “Oh, itu romo karismatik”, dan sebaliknya “Oh, romo anu anti Karismatik”. Ini sinyal2 gejala apa?
Mohon pencerahan dan bimbingan.Maaf jika ada kata2 atau ungkapan2 saya yang kurang tepat. Terima Kasih.
Shalom. – Antonius

Jawaban:

Shalom Antonius,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang gerakan karismatik. Memang ada dua kubu yang berbeda dalam melihat gerakan ini, dimana yang satu berpendapat bahwa gerakan karismatik adalah sesat dan yang satu berpendapat bahwa gerakan ini adalah untuk membangun gereja dan diakui oleh Gereja Katolik. Atau yang lebih ekstrem lagi, mereka yang berpendapat bahwa gerakan karismatik ini adalah yang paling utama, yang mampu menyelamatkan Gereja.
Dalam jawaban saya berikut ini, saya tidak membahas secara detil tentang gerakan ini, namun lebih kepada menyikapi gerakan ini. Mungkin suatu saat, saya akan menulis artikel tersendiri tentang hal ini, sehingga dapat diulas dengan lebih jauh dan detil.
Beberapa fakta tentang gerakan karismatik dan spiritualitas Katolik.

  1. Beberapa Paus memberikan sambutan dalam konferensi gerakan karismatik Katolik, seperti Paus Paulus VI, dan Paus Yohanes Paulus II kepada para pemimpin gerakan karismatik Katolik, yang dapat dilihat disini (silakan klik, klik ini juga), dimana di salah satu sambutan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 4 April 1998, paragraf 2, dikatakan “You are an ecclesial movement. Therefore, all those criteria of ecclesiality of which I wrote in Christifideles laici (cf. n. 30) must be expressed in your lives, especially faithful adherence to the Church’s Magisterium, filial obedience to the Bishops and a spirit of service towards local Churches and parishes.
  2. Kita melihat ada beberapa efek negatif dari gerakan ini, dimana menimbulkan perpecahan Gereja, juga ada yang mempunyai kesombongan rohani menganggap bahwa yang tidak ikut gerakan karismatik adalah tertutup dan tidak terbuka akan gerakan Roh Kudus.
  3. Namun ada juga efek-efek positif, dimana banyak dari anggota gerakan ini yang mempunyai kerinduan untuk melayani Tuhan, rindu untuk bertekun dalam Sabda Tuhan, dll.
  4. Dalam sejarah perkembangan Gereja, kita melihat ada begitu banyak jenis spiritualitas di Gereja Katolik.

Bagaimana menyikapi gerakan Karismatik?

Dari beberapa kenyataan tersebut di atas, maka saya mempunyai pendapat sebagai berikut: (dalam hal ini, perlu saya sampaikan, bahwa ini adalah pendapat saya pribadi, yang tentu saja mungkin ada yang tidak setuju dan memang dapat didiskusikan lebih lanjut).

  1. Karena gerakan ini masih termasuk baru, namun masuk dalam “ecclesial movement“, seperti yang ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II, maka alangkah baiknya kalau kita terbuka dengan gerakan ini, namun dari pihak hirarki dapat memberikan pengarahan yang baik, sehingga gerakan ini tidak membawa perpecahan, namun turut membangun Gereja Katolik dari dalam. Di satu sisi, kita juga tidak dapat memaksakan semua orang untuk menyukai dan mempraktekkan spiritualitas dari gerakan karismatik, sama seperti spiritualitas Carmelite atau Jesuit tidak dapat dipaksakan kepada semua umat Katolik. Oleh karena itu, kita juga tidak dapat memaksakan semua pastor harus menyukai spiritualitas dari gerakan karismatik. Jadi kalau ada orang yang bilang “oh, itu romo karismatik, atau oh itu romo anti karismatik”, mungkin mengacu kepada hal ini. Namun alangkah bijaksananya kalau kita tidak mengecap romo berdasarkan suka atau tidaknya dia dengan gerakan karismatik, sama seperti kita tidak mengecap seorang romo kalau dia suka atau tidak dengan spiritualitas dari Benediktus.
  2. Namun karena gerakan ini termasuk baru, maka Gereja perlu untuk membimbing gerakan ini, sehingga gerakan ini dapat turut berpartisipasi dalam membangun Gereja Katolik bersama dengan unsur-unsur yang lain. Diharapkan bahwa semua dapat bersatu untuk mewartakan Kristus yang hidup dengan kekuatan Roh Kudus.
    1. Perlu diadakan suatu pendekatan pastoral yang tepat serta training yang baik bagi orang-orang yang terlibat aktif di dalam gerakan karismatik. Termasuk di dalamnya adalah para pewarta perlu diberikan suatu dasar teologi dengan ekklesiologi yang baik. Kembali saya tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Mungkin sudah dilaksanakan, mungkin juga perlu ditingkatkan lagi.
    2. Badan Pelayanan Nasional Pembaharuan Karismatik Katolik Indonesia (BPNPKKI) dapat menjadi sarana untuk membimbing gerakan ini di Indonesia agar mempunyai arah yang benar dan turut serta dalam membangun Gereja Katolik dari dalam, sesuai dengan visi dan misinya (silakan klik), dimana di point ke-5 dikatakan “Untuk memupuk pertumbuhan yang terus menerus dalam kesucian melalui integrasi yang tepat antara penekanan segi karismatik ini dengan kehidupan yang utuh dari Gereja. Hal ini terlaksana melalui partisipasi dalam suatu kehidupan sakramental dan liturgis yang kaya, penghargaan terhadap tradisi doa-doa dan spiritualitas katolik dan pembinaan terus menerus dalam ajaran-ajaran Katolik dibawah bimbingan Magisterium Gereja dan peran serta dalam rencana pastoral Gereja.
      Perlu pemikiran bagaimana menjabarkan lebih detail prinsip di atas dalam skala yang luas maupun dalam skala paroki.
    3. Mungkin BPNPKKI dapat mengadakan suatu program training untuk para pengajar dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, sehingga mereka tidak terlalu menekankan pada karunia-karunia Roh Kudus, namun lebih kepada inti dari pengajaran Kristus dan Gereja Katolik, yaitu kekudusan (holiness). Karunia-karunia Roh Kudus yang tidak mengarah kepada kekudusan dapat membahayakan kehidupan spiritual. Dan tentu saja pengajaran tentang ekklesiologi dapat membantu agar semua pihak dapat membangun Gereja Katolik dengan satu visi. Saya tidak tahu secara persis pelaksanaan tentang hal ini, mungkin saja BPNPKKI telah melakukan pelatihan ini.
    4. Yang jelas, gerakan karismatik tidak dapat terlalu menekankan karunia-karunia Roh Kudus, namun selayaknya memahami bahwa karunia-karunia Roh Kudus secara penuh dicurahkan kepada Gereja Katolik, lewat sakramen-sakramen dan juga lewat hirarki. Bahkan dipertegas di Lumen Gentium, bahwa segala karunia karismatik harus tunduk kepada hirarki Gereja. Karunia karismatik tidak boleh sampai membawa perpecahan. Lumen Gentium, 12 mengatakan ““Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengalamannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).
  3. Karena gerakan ini dapat membuat orang benar-benar mempunyai keinginan untuk mengasihi Kristus dan mempunyai devosi kepada Roh Kudus, dan disatu sisi yang lain Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus dan Roh Kudus adalah Roh penggerak dari Gereja Katolik, maka perlu diberikan suatu penjelasan tentang hubungan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik.
    1. Jika seseorang yang ikut gerakan karismatik mempunyai semangat yang berkobar-kobar, namun  tidak disertai pengajaran yang baik, maka itu dapat membuatnya kehilangan arah. Oleh karena itu, setelah atau dalam LISS (Life in the Spirit Seminar) atau SHBDR (Seminar Hidup Baru Dalam Roh), harus ada pengajaran tentang buah-buah Roh, dan bukan hanya karunia Roh Kudus, serta pengajaran tentang Gereja, sehingga diperoleh pengertian hubungan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik.
    2. Pendapat tentang, “Hanya Yesus dan saya” atau “hanya Roh Kudus dan saya” dapat menjadikan seseorang sombong rohani dan dapat salah langkah.
    3. Pengikut gerakan karismatik harus tahu bahwa ada hubungan yang tak perpisahkan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik. Oleh karena itu mereka yang tergabung dalam gerakan ini harus mempunyai dasar yang benar tentang ekklesiologi. Tanpa dasar ekklesiologi yang benar, maka seseorang atau suatu gerakan akan dengan mudah memisahkan diri dari Gereja Katolik.
    4. Seperti yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II, gerakan ini harus mempunyai ketaatan Magisterium Gereja, kepada uskup setempat, juga semangat melayani di dalam gereja lokal atau paroki. Karena setiap keuskupan dan paroki mempunyai adaptasi dan cara pandang yang berbeda, maka gerakan ini harus tunduk kepada hirarki setempat.
  4. Kita dapat melihat juga buah-buah yang terjadi gerakan ini. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada efek negatif, namun juga ada efek positif. Adalah peran hirarki untuk meminimalisasi efek negatif dan semakin mengembangkan efek-efek yang positif.
  5. Pada saat yang bersamaan, Gereja juga harus semakin aktif untuk memberikan pelatihan kepada kaum awam tentang spiritualitas Katolik yang berakar pada tradisi Katolik (doa meditasi, doa batin), yang terbukti mampu menghasilkan buah-buah yang baik, seperti yang dibuktikan oleh para kudus sepanjang sejarah Gereja. Dari semua cara berdoa yang ada: doa lisan, doa renung, doa batin (KGK 2721), maka doa batin adalah merupakan puncak doa (KGK, 2714). Oleh karena itu, seluruh umat, termasuk yang mengikuti gerakan karismatik juga harus diberikan suatu pengajaran tentang doa meditasi dan doa batin.
  6. Seperti kita ketahui, bahwa banyak spiritualitas Katolik yang ada di dalam sejarah perkembangan Gereja, namun semuanya mempunyai satu tujuan, yaitu mewartakan Kristus dan membangun Gereja Katolik dengan cara hidup kudus. Perlu suatu pemikiran tersendiri, apakah mungkin gerakan karismatik ini dapat menjadi “salah satu dari spiritualitas Katolik” – mungkin waktu yang akan membuktikannya.
  7. Dan mari kita semua kembali kepada prinsip dasar, bahwa semua spiritualitas Katolik – apapun bentuknya – mengarah kepada hidup kudus (holiness), dan juga sakramen-sakramen, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dan terutama semua spiritualitas Katolik harus belajar dari Bunda Maria, sehingga Bunda Maria dapat mengantar setiap orang dari spiritualitas yang berbeda-beda kepada Kristus. Akhirnya semua spiritualitas Katolik harus taat kepada Magisterium Gereja, Uskup setempat, sehingga dalam perbedaan, setiap orang dapat membangun Gereja dalam ikatan kasih Kristus. Spiritualitas yang terlepas dari hal-hal di atas tidaklah dapat dipertanggungjawabkan dan perlu dipertanyakan keberadaannya.
    1. Mengikuti gerakan karismatik namun terpisah dari sakramen atau menganggap pertemuan doa karismatik lebih utama/ tinggi dibandingkan dengan Sakramen Ekaristi, adalah sikap yang pasti salah arah. Hal ini disebabkan karena Perayaan Ekaristi adalah sumber dan puncak dari kehidupan kristen (KGK, 1324, 1407). Anggota gerakan karismatik yang merasa tidak perlu mengaku dosa setelah mengikuti gerakan ini adalah salah jalan, karena semakin dekat dengan Tuhan, maka akan semakin kita sadar akan dosa-dosa kita, dan semakin kita harus rendah hati di hadapan Allah.
    2. Mengikuti gerakan karismatik namun terlepas dari devosi kepada Bunda Maria juga adalah sikap yang salah, karena Bunda Maria adalah manusia yang mempunyai hubungan paling erat dengan Yesus dan Roh Kudus, sehingga kita semua harus mempunyai kerendahan hati untuk belajar dari teladan Bunda Maria. Bunda Maria juga yang mempunyai karunia dan memanifestasikan buah-buah Roh secara sempurna. Oleh karena itu, ia dapat mengantar kita kepada Yesus dan Roh Kudus.
    3. Mengikuti gerakan karismatik, namun memisahkan diri dari Gereja Katolik adalah sikap yang membahayakan keselamatan sendiri, karena ini menunjukkan suatu kesombongan rohani.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Mungkin tidak semua uraian di atas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat detail. Kembali saya ingin menegaskan bahwa hal-hal di atas adalah pemikiran saya pribadi, dan mungkin dari umat Katolik sendiri ada yang tidak setuju dengan apa yang saya paparkan.
Semoga keterangan di atas dapat berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Paus Benediktus XVI dan Sola Fide

26

Pertanyaan:

tolong bantu saya mengklarifikasi atau mengerti maksud pesan ini, pesan yang tertulis berikut merupakan kiriman saudara seiman beda gereja

(FWD MESSAGE)
After Nearly 500 Years Pope Admits Luther was Right: Salvation is by Faith Alone

by Jeff Fountain (Protestant leader within the International Prayer Movement ), Christian Today Australia/Internati onal Prayer Council

ROME ITALY – Luther would have been amazed at the efforts of the Vatican today to put the Bible back into the heart of the Roman Catholic Church. In October last, bishops from around the world were called to Rome for a three-week synod to discuss how to promote prayerful reading, understanding and proclamation of God’s Word. Pope Benedict XVI himself kicked off the synod with a round-the-clock Bible reading marathon lasting a whole week, by reading the opening verses of Genesis. Twelve hundred readers took part, including Orthodox and Evangelical leaders.

Last week, briefly passing through Rome, my wife and I stood in an empty Saint Peter’s Square, where the chairs were still laid out for the 20,000 who had attended the pope’s weekly public audience on the Wednesday before. On our return to Holland, we read in the newspaper what the faithful had been told that day. The headline read: Pope quotes Luther: Sola Fide. Luther, the pope had told his audience, had been right to insist in sola fide, that a believer was justified by faith alone!

Disagreement over this doctrine had been at the heart of the Reformation in the 16th century, splitting Christianity in western Europe. Yet, said the pope, it was indeed biblical to say, as did Luther, that it was the faith of a Christian, not his works, that saved him. Such faith however could not be separated from love for God and for neighbour, he qualified. Paul wrote about this balance in his letters, especially the letter to the Philippians, he added.

The pope defined faith as ‘identification with Christ expressed in love for God and neighbour’. Such love fulfilled the law. Being justified meant simply being with Christ and in Christ. Christ alone was sufficient. Living by faith had radical consequences for the Apostle Paul after his conversion on the road to Damascus, explained the pope. Prior to that, his life had been regulated by all sorts of Jewish rules and commandments. Paul’s new lifestyle, based on faith in Christ alone, surfaced in his various letters, especially his letter to the Romans.

Luther had correctly translated Paul’s words as ‘justified by faith alone’, the well-known sola fide, Benedict affirmed, as reported in the newspaper. Some have blamed the widespread lack of biblical knowledge among Italians, on the Catholic Church due to its monopoly on the teaching of the Bible. The Italian newspaper, La Stampa, responded to a recent survey showing that only 14% of Italians questioned were able to answer questions about the Bible correctly, with the headline: ‘In the beginning was the Word – but the Italians don’t read it’.

Only one in four Italians had read a passage from the Bible in the past year, the survey revealed, compared to three out of four in the USA. Few even knew whether or not the Gospels were part of the Bible. Philosophy graduates confused Paul with Moses and thought that Jesus wrote Genesis, according to the survey. This despite the encouragement of the Second Vatican Council (1962-65) for the faithful to rediscover Scripture as the primary source of spiritual life.

So now Benedict is personally leading the way to encourage Catholics to engage with Scripture. The theme of the synod was The Word of God in the Life and Mission of the Church. The pope told the gathered bishops that true reality was to be found in the Word of God. Many had put their trust in money as the true reality, observed the pope, but this was evaporating in the current global financial crisis.

The Bible Society of the UK has been assisting the Vatican to promote the reading of Scripture through the Lectio Divina Project. This new resource for Catholics provides notes and prayers to go with weekly lectionary readings of the Sunday Mass. I flew to Switzerland last week for an interconfessional gathering of Together for Europe. Talk of the synod there prompted someone to quote Cardinal Kaspers’ recent statement: ‘The Word divided us; the Word must unite us’.

We began to dream about how Christians in Europe could celebrate the 500th anniversary of the Reformation in 2017 – less than nine years away – as a prophetic statement by Catholics and Protestants together that the Word that once divided us is now uniting us again. That would be a giant step toward the fulfilment of Luther’s original dream of a Bible-centered Church!

(THE END OF THE MESSAGE)

Pesan ini benar atau tidak? Jika benar, bukankah agak kontradiktif dengan yang selama ini diajarkan Gereja Katholik?
Jika tidak maupun si penulis pesan salah menangkap maksud Paus, harap memberi tahu semua saudara Katholik agar jangan mudah percaya atau tidak salah mengerti. Terima kasih. Tuhan memberkati. Agatha

Jawaban:

Shalom Agatha,

Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI dalam khotbah umum tgl 19 Nov 2008, tentang “Be Just Means Simply to Be With Christ and in Christ” itu bukan hal baru yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik selama ini. (Khotbah itu selengkapnya ada di link ini, silakan klik). Memang di khotbah itu disinggung pengertian ‘Sola Fide’ (Faith alone) yang lebih sering kita dengar sebagai prinsip pengajaran gereja Protestan, namun kali ini Bapa Paus menjelaskan istilah tersebut dalam pandangan Gereja Katolik:

  1. Sola Fide itu benar, jika ‘faith’/ iman yang dimaksud di sini tidak dipisahkan dengan hukum kasih (charity/ holiness), yaitu kasih kepada Tuhan dan sesama. Paus mengatakan demikian,”That is why Luther’s expression “sola fide” is true if faith is not opposed to charity, to love. Faith is to look at Christ, to entrust oneself to Christ, to be united to Christ, to be conformed to Christ, to his life. And the form, the life of Christ, is love; hence, to believe is to be conformed to Christ and to enter into his love. That is why, in the Letter to the Galatians, St. Paul develops above all his doctrine on justification; he speaks of faith that operates through charity (cf. Galatians 5:14).
  2. Maka dalam hal ini benar jika dikatakan bahwa oleh iman saja kita diselamatkan, asal kita juga percaya bahwa iman itu tidak terlepas dari perbuatan kasih seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi, dan Galatia. Hal inilah yang diajarkan oleh Bapa Paus. Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan perbuatan kasih adalah satu kesatuan, karena kasih berasal dari iman kita kepada Kristus. Bapa Paus mengatakan:”Paul knows that in the double love of God and neighbor the whole law is fulfilled. Thus the whole law is observed in communion with Christ, in faith that creates charity. We are just when we enter into communion with Christ, who is love. “
  3. Dengan menekankan bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari perbuatan, Bapa Paus merujuk pada Bacaan Injil pada hari raya Kristus Raja yang menceritakan Pengadilan Terakhir, dalam Mat 25, yang mendasari pengajaran Gereja Katolik bahwa perbuatan kasihlah yang terpenting yang menghantar kita pada keselamatan, “….sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. ” (Mat 25:40). Bapa Paus berkata,”We are just when we enter into communion with Christ, who is love. We will see the same in next Sunday’s Gospel for the solemnity of Christ the King. It is the Gospel of the judge whose sole criterion is love. What I ask is only this: Did you visit me when I was sick? When I was in prison? Did you feed me when I was hungry, clothe me when I was naked? So justice is decided in charity. Thus, at the end of this Gospel, we can say: love alone, charity alone. However, there is no contradiction between this Gospel and St. Paul. It is the same vision, the one according to which communion with Christ, faith in Christ, creates charity. And charity is the realization of communion with Christ. Thus, being united to him we are just, and in no other way.”Maka di sini kita ketahui bahwa kita dimampukan berbuat kasih seperti yang tertulis dalam Mat 25, jika kita beriman di dalam Kristus, ada dalam persekutuan dengan Kristus. Perbuatan kasih merupakan akibat nyata persatuan kita dengan Kristus. Dalam artian inilah kita dapat berkata, bahwa kita dibenarkan oleh iman saja, atau tepatnya, ‘hanya oleh iman yang hidup’ kita diselamatkan, yaitu iman yang disertai dengan kasih. Jadi ini tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik selama ini yang mengatakan bahwa tanpa perbuatan kasih, iman adalah mati (Yak 2:17). Dan bahwa manusia dibenarkan oleh perbuatan kasih, bukan hanya karena iman (Yak 2:24).

Nah, memang dalam khotbahnya Bapa Paus tidak membahas apa yang menjadi perbedaan pengertian Gereja Katolik dengan pengertian “Sola Fide” menurut Luther.  Bapa Paus hanya menekankan kesatuan antara iman dan kasih, dan bahwa keduanya tak terpisahkan dan tak dapat dipertentangkan, dan keduanya mengantar kita pada keselamatan kekal. Namun, ada baiknya jika kita melihat perbedaan pengertian Luther dan Gereja Katolik dalam istilah “Sola Fide” yang berkaitan dengan pengertian “justification”/ diselamatkan/ dibenarkan oleh Allah, agar kita dapat memahami lebih lanjut ajaran Gereja Katolik dalam hal ini:

  1. Konsep keselamatan menurut Luther adalah meskipun kita berdosa berat, kita tetap “diselimuti oleh jubah keselamatan Kristus”, sehingga dibenarkan Tuhan. Jadi dalam hal ini pengertian “Sola Fide/ Faith alone” menurut Luther adalah benar-benar iman saja, tidak termasuk perbuatan baik, atau perbuatan baik tidak dianggap sebagai kesatuan dengan iman. Maka “Justification” menurut Luther adalah kita dibenarkan karena kita diselubungi Kristus, sehingga Allah tidak melihat dosa kita, tetapi melihat Kristus yang menyelubungi kita. Jadi di sini tidak ada perubahan kondisi sebelum atau sesudah dibenarkan oleh Tuhan: kita tetap berdosa. Biarpun berdosa, tetapi dibenarkan. Sekali dibenarkan, tetap dibenarkan, dan diselamatkan, atau “once saved, always saved“. Meskipun sehabis menerima Kristus sebagai Juru Selamat, kita jatuh di dalam dosa, maka kita tak perlu kuatir dan bertobat, sebab asalkan kita tetap percaya pada Kristus, kita pasti tetap diselamatkan oleh Tuhan. Dalam suratnya kepada Melancthon tanggal August 1, 1521, (translated by Erika Bullmann Flores for Project Wittenberg); online at http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/letsinsbe.txt , lihat nomor 13, Luther mengatakan, “…Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust in Christ be stronger…. No sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousands of times each day…”Pernyataan ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik yang mensyaratkan iman dan pertobatan, hidup dalam Kristus, dan melaksanakan kasih, baru manusia dapat diselamatkan.
  2. Gereja Katolik mengatakan bahwa Justification harus melibatkan pertobatan yang mengubah kita menjadi sepenuhnya baru. Artinya kita harus meninggalkan manusia lama dan segala dosa-dosa kita, untuk hidup sebagai manusia baru yang hidup dalam persekutuan dengan Kristus (lihat Ef 4:17). Manusia baru di dalam Kristus ini adalah manusia yang berbuat kasih, karena Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8), dan Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang sempurna, sehingga hidup dalam Kristus = hidup dalam kasih. Dengan demikian kita dibenarkan, karena rahmat Tuhan sungguh- sungguh mengubah kita menjadi kudus. Efek inilah yang sesungguhnya kita peroleh setelah Pembaptisan kita. Kita bukan hanya diselubungi, tetapi sungguh-sungguh diubah menjadi kudus oleh Tuhan sendiri, dan selanjutnya sesudah pembaptisan, kita harus terus berjuang untuk hidup kudus, memenuhi hukum kasih, agar kita dapat diselamatkan. Maka konsekuensinya, jika setelah dibaptis kita kembali hidup dalam dosa, maka kita tidak dapat diselamatkan. Dengan demikian,  Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa kita boleh berdosa terus. Sebab dosa bertentangan dengan hukum kasih dan dosa-lah yang memisahkan kita dari Allah. Maka iman, menurut Gereja Katolik, tidak pernah dipertentangkan dengan hukum kasih, melainkan harus menjadi kesatuan. Jika kita tidak mengasihi, sesungguhnya kita tidak beriman, dan karenanya kita tidak dapat diselamatkan. Namun jika kita mengasihi Allah dan sesama, atas dasar iman kita kepada Kristus, maka kita diselamatkan.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan sehubungan dengan pengajaran Bapa Paus yang berkaitan dengan ‘Sola Fide’ menurut Gereja Katolik. Marilah kita juga jangan terlalu memusatkan perhatian pada perbedaan antara Gereja Katolik dan Protestan namun lebih melihat apa yang mempersatukan kita sebagai pengikut Kristus. Iman kepada Kristus memang harus kita pandang sebagai hal yang sangat penting, supaya jangan sampai kita berpendapat, “asal hidup baik dan mengasihi, maka kita tak perlu beriman, sebab jika kita hidup baik, pasti masuk surga”. Anggapan ini keliru, karena sesungguhnya kita tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi (kasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan kasih yang rela berkorban) tanpa iman. Dalam hal ini Gereja Katolik setuju dengan Luther, bahwa imanlah yang menyelamatkan kita. Dengan catatan: Ya, memang karena iman kita kepada Yesus-lah kita diselamatkan, namun iman ini harus selalu disertai kasih, sebab jika tidak, iman kita adalah iman yang mati. Maka agar dapat diselamatkan/ dibenarkan Allah, kita harus beriman dan mengasihi, hidup dalam persekutuan/ komuni dengan Yesus Kristus. Ini adalah pengajaran Gereja Katolik dari dulu sampai sekarang yang tidak berubah. Dan karena itulah Perjamuan Ekaristi/ Komuni Kudus menjadi sangat penting dalam kehidupan rohani kita, karena melalui Ekaristi, kita bersatu dengan Kristus, sehingga kita dikuatkan dalam iman, dan kita dimampukan untuk berbuat kasih dan bertumbuh dalam kekudusan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Yesus bukan Tuhan dan Yesus hanya di utus ke Israel?

27

Pertanyaan:

taukah anda??
bahwa sebenarnya Yesus bukan Tuhan!
Beliau adalah Nabi sekaligus Rasul(Rasul adalah orang yang mendapat wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia) yang diturunkan oleh Allah SWT untuk membimbing bangsa Israel. Dalam Islam ia dipanggil Isa as atau Isa putra Maryam. Bukankah anda pernah membaca dalam Injil bahwa Yesus marah ketika ajarannya di sebarkan keluar Israel oleh pengikutnya?(Maaf, saya tidak tahu itu surat yang mana karena saya tidak pernah membaca Injil).
Jadi sesungguhnya yang merupakan TUHAN BUKANLAH YESUS MELAINKAN ALLAH SUBHANNAHU WA TA’ALA. Selain itu, pernahkah anda membaca bahwa Yesus berkata bahwa suatu hari nanti, akan datang seseorang yang menyebarkan semua kebenaran kepada umat manusia?? Ya, dialah Nabi Muhammad SWT. Dialah Nabi Muhammad yang mengajarkan kebenaran Islam. Islam yang merupakan agama terakhir, yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya termasuk Kristen.
Selain itu, saya yakin pernyataannya bahwa ia adalah Tuhan adalah tidak benar sebab seperti yang telah diketahui selama ini, Injil banyak mengalami revisi atau perubahan yang sebagian besar adalah imajinasi penambahnya. Jadi Injil yang anda baca sekarang adalah tidak murni. Berbeda dengan Al-Qur’an yang selalu terjaga kesucian dan kemurniannya hingga akhir jaman.

Untuk itu, cobalah anda melihat sekali lagi tentang Islam yang selama ini sering dianggap hina dan terbelakang oleh umat Kristen. Setelah itu, saya yakin anda akan tahu segala kebenaran sejati di kehidupan dunia maupun akhirat. Terima kasih. – Nabila

Jawaban:

Salam damai Nabila,
Terima kasih telah mengunjungi situs ini dan terima kasih atas komentar dan pertanyaannya. Mari kita sama-sama berdialog dengan penuh hormat dan lemah lembut tanpa mengaburkan kebenaran. Kami dari Gereja Katolik tidak pernah menganggap bahwa Islam adalah hina, bahkan kami menghormati akan ketekunan umat Islam yang berdoa lima waktu, berpuasa, dan mengamalkan kebaikan. Bahkan kita mempunyai bapa yang sama, yaitu bapa Abraham. Tentu saja, karena iman kita berbeda, kita juga berbeda dalam menyikapi beberapa pertanyaan fundamental, seperti tentang keTuhanan Yesus Kristus. Namun melalui dialog ini, saya berharap minimal Nabila dapat melihat bahwa umat Kristen mempunyai alasan yang kuat bahwa Yesus adalah Tuhan. Berikut ini adalah tanggapan saya atas pertanyaan Nabila.

I. Yesus bukan Tuhan?

  1. Untuk membahas topik ini lebih lanjut, silakan untuk membaca beberapa artikel Kristologi yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan:
    Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia.
  2. Jadi secara prinsip, mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Tuhan adalah melalui “motive of credibility“:
    1. Kedatangan Yesus telah dinubuatkan oleh para nabi. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali dalam kurun waktu 20 generasi. Hal ini membuktikan bahwa Allah mempersiapkan kedatangan-Nya sehingga kalau Dia datang, maka manusia akan mengenalinya. Untuk lengkapnya, silakan membaca artikel: Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Tuhan, dan juga  Yesus yang dinubuatkan oleh para nabi.
    2. Yesus melakukan banyak sekali Mukjijat, yang hanya Tuhan sendiri yang mampu melakukannya.
      Semasa hidup Kristus di dunia, kuasa Allah ditunjukkan di dalamNya dengan Ia melakukan banyak mukjizat-mukjizat, dari meredakan angin ribut, mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, sampai membangkitkan orang mati, termasuk juga kebangkitanNya sendiri dari kematian-Nya (Silakan membaca: Kristus yang kita imani= Yesus yang menurut sejarah).
    3. Yesus mempercayakan umat-Nya kepada Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik.
      Selanjutnya, kami meyakini bahwa Kristus datang untuk mendirikan Gereja yang dibentukNya sendiri untuk terus bertahan sampai akhir jaman, dan itu berada di dalam Gereja Katolik. Paus pemimpin Gereja ini dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Petrus, Rasul Yesus Kristus. Hal ini juga merupakan sesuatu mukjizat tersendiri, sebab jika Gereja hanya ‘organisasi’ manusia, maka sudah sejak lama ia bubar/ tak bertahan. Untuk lengkapnya, silakan membaca: mengapa kita memilih Gereja Katolik.

II. Yesus sebenarnya hanya diutus untuk bangsa Israel?

Nabila mengatakan bahwa Yesus melarang para murid untuk pergi mewartakan Injil di luar bangsa Israel, yang dapat dilihat dari bukti-bukti berikut ini, dimana Yesus berkata:

  • Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Mt 10:5-6).
  • Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Mt 15:24).

Berikut ini adalah alasan-alasan yang membuktikan bahwa Yesus sebenarnya mengutus para murid untuk mewartakan ajaran-Nya ke seluruh bangsa:
St. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theology, III, q.42, a.1, mengatakan bahwa sudah selayaknya bahwa Yesus pada awalnya melakukan karya publik-Nya (public ministry) kepada orang Yahudi, dengan alasan keadilan (justice) dan perantara (mediation).

  1. Konsep keadilan: Adalah adil, kalau Yesus mewartakan kepada orang Yahudi, karena Tuhan sendiri telah menjanjikan kepada orang Yahudi seorang Mesias yang akan menjadi Raja bagi seluruh bangsa dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir. Dengan cara ini, sebetulnya tidak ada alasan bagi bangsa Yahudi untuk memprotes Tuhan, karena Tuhan sendiri telah memenuhi janji-Nya kepada bangsa Yahudi, yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus.
    Untuk itu, silakan melihat artikel ini (silakan klik).
  2. Konsep Mediation: Menjadi layak bahwa Yesus datang terlebih dahulu untuk bangsa yang telah dipersiapkan 2000 tahun sebelumnya, dan kemudian kepada orang-orang di luar bangsa Yahudi. Dan hal ini menjadi benar, karena keselamatan dari seluruh bangsa disebabkan oleh penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Oleh karena itu, setelah Yesus bangkit, Dia mengutus para rasul dan murid untuk mewartakan Kristus ke seluruh dunia, dimana Yesus berkata:
    Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:18-20).  Lihat juga Mk 16:15-18).

III. Yesus akan mengutus seorang nabi?

Nabila mengatakan bahwa di dalam Alkitab dikatakan bahwa akan ada seseorang yang menyebarkan semua kebenaran kepada umat manusia, yang diartikan sebagai Nabi Muhammad SWT.

Sebenarnya tidak ada di dalam Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa Yesus akan mengutus nabi. Yang ada adalah Yesus akan mengutus Roh Kebenaran, Roh Penghibur, Roh Kudus seperti yang tertulis berikut ini:

  1. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”(Yoh 14:16-17).
  2. Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:26).

Jadi, saya tidak tahu dasar apa yang dipakai mengapa Roh Kebenaran, Penghibur, dan Roh Kudus, dapat diartikan sebagai Nabi Muhammad SWT. Pemenuhan janji Kristus telah terjadi pada hari Pentekosta, dimana Roh Kudus turun atas para Rasul, sehingga mereka dapat menjadi saksi Kristus yang hidup, dan mereka dapat membaptis banyak orang sebagai pemenuhan akan perintah Kristus (Lih. Kis 2:1-40). Dan Roh Kudus ini terus berkarya di dalam diri setiap umat Kristen, karena melalui Sakramen Baptis, maka seseorang dikaruniai Roh Kudus. Dan dengan terpenuhinya Alkitab, maka wahyu Tuhanpun telah terpenuhi dan tidak dapat ditambahkan lagi. Oleh karena itu, saya tidak dapat menerima bahwa agama Islam adalah penyempurnaan dari agama-agama lain, termasuk Kristen.

IV. Alkitab banyak mengalami perubahan dan Al-Qur’an adalah terjaga kesuciannya:

Saya pernah menjawab pertanyaan ini disini di point-III (silakan klik), dimana saya mengatakan:

  1. Saya minta maaf terlebih dahulu bahwa, karena saya beragama Katolik, tentu saja kepercayaan saya berdasarkan Kristus, seperti yang diajarkan oleh Alkitab, Tradisi Suci, dan Kewenangan mengajar dari Gereja. Oleh karena hal ini, tentu saja pemahaman saya tentang Al Qur’an berbeda dengan pemahaman kaum Muslim pada umumnya.
  2. Saya terus terang tidak ahli dalam Agama Islam. Namun dari sumber di wikipedia (klik disinicatatan: saya tidak tahu sampai berapa persen artikel tentang topik ini dapat dipercaya), maka kita melihat ada suatu proses untuk menyeragamkan tulisan-tulisan Nabi Muhammad dari beberapa sumber, sehingga pada jaman Utsman Bin Affan terjadi keseragaman Al Qur’an seperti yang kita kenal saat ini. Hal ini memungkinkan, karena pengumpulan naskah secara relatif terjadi pada masa yang hampir sama. Bayangkan kalau pengumpulan naskah terjadi dalam kurun waktu 2,000 tahun. Mungkin yang terjadi akan sama, karena kemungkinan terjadinya variasi teks.
  3. Kalau dikatakan bahwa Allah pernah berfirman bahwa Allah sendiri yang akan menjaga kesucian Al Quran, yang menjadi masalah adalah bukti tentang keabsahan Al Qur’an adalah Al Qur’an sendiri yang ditulis pada generasi yang hampir sama. Inilah perbedaannya dengan Alkitab. Pada saat umat Kristen berkata bahwa Alkitab adalah benar, ini dapat ditelusuri dari beberapa buku di dalam Alkitab yang ditulis pada jaman yang berbeda-beda (lebih dari 20 generasi). Dan keterangan yang saling mendukung walaupun terpisah ratusan tahun membuat Alkitab menjadi sumber kebenaran, seperti nubuat tentang kedatangan Sang Penebus, yang terpenuhi dalam diri Yesus, baik kelahiran-Nya, karya publik-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya.
  4. Dalam pembahasan point-point ini, saya tidak mempunyai tujuan untuk mengkritisi Al Qur’an karena memang jawaban ini bukanlah untuk menjawab atau mengkritik Kitab Suci agama lain. Namun ada beberapa hal yang menjadi tugas bagi seluruh umat beriman untuk senantiasa belajar lebih dalam lagi terhadap agamanya masing-masing. Jadi mungkin perlu dipelajari lagi apa yang diajarkan oleh Al Qur’an terhadap topik-topik seperti: keselamatan (baik untuk umat Muslim, Kristiani, dan agama lain), ajaran moral, hubungan antara iman dan akal budi, pengadilan terakhir, dll. Hal ini juga berlaku untuk saya sendiri, dimana saya berterima kasih terhadap pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke website ini, yang memungkinkan saya untuk semakin mendalami iman Kekatolikan saya.

Demikianlah jawaban yang dapat saya sampaikan. Saya hanya berharap bahwa Nabila dapat melihat bahwa ada alasan yang kuat mengapa agama Katolik dan Kristen pada umumnya percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juga percaya akan Alkitab sebagai wahyu Tuhan yang dapat dipercaya. Dan sekali lagi, saya ingin mempertegas, bahwa kami dari umat Katolik tidak menganggap umat Islam adalah hina, bahkan kami menghormati kaum Muslim. Namun kita harus menerima bahwa kita mempunyai perbedaan iman. Mari kita bersama-sama mencari kebenaran dengan segala pikiran, hati, dan kekuatan kita, sehingga kita dapat sampai kepada Kebenaran itu sendiri. Dan kami umat Katolik percaya bahwa kebenaran ini adalah Yesus Kristus, dimana Yesus inilah yang akan mengadili seluruh umat manusia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Perbedaan doktrin-dogma dan iman terhadap Tuhan dan iman Katolik

15

Pertanyaan:

waduh… akhirnya saya temukan juga situs untuk bahan referensi pertanyaan2 saya. saya tahu situs ini dari Rm Dodit (Paroki Pugeran Jogja). mau tanya nih,
1. Apa beda Doktrin Gereja dan Dogma Gereja?
2. Saya sering dengar kata2 Iman Katolik, kan seharusnya Iman kepada Tuhan?
3. Ada situs yang bisa dijadikan referensi bagi Kaum Muda Katolik?

itu saja dulu, selamat berkarya, semoga selalu menjadi berkat. Berkah Dalem. – Christ

Jawaban:

Shalom Christ,
Terima kasih atas pertanyaan dan dukungannnya untuk situs ini. Dan sampaikan terima kasih dari https://katolisitas.org kepada Romo Dodit yang telah merekomendasikan situs ini. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan Christ.

I. Beda antara doktrin gereja dan dogma gereja.

  1. Doktrin di dalam pemakaiannnya adalah merupakan suatu pengajaran dari Gereja Katolik mengenai iman dan moral yang dipercayakan oleh Kristus melalui para rasul, dan diteruskan oleh Gereja Katolik untuk keselamatan umat. Semua dogma adalah termasuk dalam doktrin, namun tidak semua doktrin termasuk dalam dogma.
  2. Dalam Katekismus Gereja Katolik 88-89 didefinisikan tentang dogma:
    • Wewenang Mengajar Gereja menggunakan secara penuh otoritas yang diterimanya dari Kristus, apabila ia mendefinisikan dogma-dogma, artinya apabila dalam satu bentuk yang mewajibkan umat Kristen dalam iman dan yang tidak dapat ditarik kembali, ia mengajukan kebenaran-kebenaran yang tercantum di dalam wahyu ilahi atau secara mutlak berhubungan dengan kebenaran-kebenaran demikian. (KGK, 88)
    • Kehidupan rohani kita dan dogma-dogma itu mempunyai hubungan organis. Dogma-dogma adalah cahaya di jalan kepercayaan kita, mereka menerangi dan mengamankannya. Sebaliknya melalui cara hidup yang tepat, pikiran dan hati kita dibuka, untuk menerima cahaya dogma iman itu (KGK, 89).
  3. Jadi pada saat Gereja Katolik mendefinisikan suatu dogma, maka
    umat Katolik harus percaya dengan sikap iman Ilahi dan Katolik (with divine and catholic faith), seperti yang tercantum dalam
    Kan. 750 – § 1. Dengan sikap iman ilahi dan katolik harus diimani semuanya yang terkandung dalam sabda Allah, yang ditulis atau yang ditradisikan, yaitu dalam khazanah iman yang satu yang dipercayakan kepada Gereja, dan sekaligus sebagai yang diwahyukan Allah dikemukakan entah oleh Magisterium Gereja secara meriah, entah oleh Magisterium Gereja secara biasa dan umum; adapun khazanah iman itu menjadi nyata dari kesepakatan orang-orang beriman kristiani di bawah bimbingan Magisterium yang suci; maka semua harus menghindari ajaran apapun yang bertentangan dengan itu.

II. Iman Katolik dan Iman kepada Tuhan:

Iman kepada Tuhan adalah lebih bersifat umum, karena semua orang yang percaya kepada Tuhan akan dapat mengatakan bahwa dia mempunyai iman kepada Tuhan. Namun tidak semua orang yang percaya kepada Tuhan dapat mengatakan bahwa dia mempunyai iman Katolik.

Pada saat seseorang menjadi seorang Katolik, maka dia dituntut untuk mempunyai iman Katolik yang bersumber pada iman kepada Tuhan, Tuhan yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, yang mendirikan Gereja Katolik sebagai tubuh mistik Kristus, yang mempercayai artikel iman seperti yang disebutkan di dalam doa “aku percaya”. Dan yang paling penting adalah mempunyai Roh Kristus, sehingga dia mempunyai kekuatan untuk menjalankan semua perintah Kristus. Vatikan II, dalam dokumen Lumen Gentium mengatakan yang menjadi anggota Gereja Katolik adalah “mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan didalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan.” (LG, 14).

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan. Untuk situs katolik yang dapat dijadikan referensi bagi Kaum Muda Katolik saya terus terang tidak tahu. Mungkin ada dari pembaca katolisitas yang tahu?

Dosa menghujat Roh Kudus dan dosa berat

3

Pertanyaan:

Shalom Stef,Inggrid dan team katolisitas

Saya mau bertanya kepada bapak Stef sbb :
1. Dosa yang tidak terampuni ialah menghujat Roh Kudus dan kategori yang mana yang termasuk didalamnya ?
2. Begitu juga dengan dosa berat.-
Memang kita harus menghidari dosa, baik dosa ringan maupun dosa berat, akan tetapi kita ini manusia biasa yang mempunyai kelemahan dan kecendrungan untuk berbuat dosa.-
Saya pernah membaca disalah satu milis yang menyebutkan bahwa dosa berat yaitu kalau kita melanggar kesepuluh perintah Allah dan kelima perintah Gereja, namun ada beberapa dimana dalam perintah ketiga : Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat/hari Tuhan. Bagaimana dengan orang yang bekerja misnya : sebagai pelaut yang kadang2 sampai sebulan baru kembali ? dan begitu juga dengan perintah keenam : Jangan berzinah dimana didalam PB, Mat 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu : Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya,sudah berzinah dengan dia didalam hatinya.-
Didunia modern sekarang ini, kita kadang2 bisa terkesima/terangsang kalau (maaf) melihat begitu banyaknya wanita2 zaman sekarang yang memakai busana yang bisa memancing nafsu birahi laki2.-
3. Apakah dosa kalau kita investasi saham ?
4. Dan ada teman saya yang bekerja disalah satu perusahaan dan kadang-kadang majikannya menyuruh dia memberikan amplop kepada aparat aparatur pemerintah dan aparat tsb juga ada memberikan sedikit persen kepadanya.-
Bagaimana dengan hal tsb ? memang teman saya ada merasakan hal tsb adalah tidak benar, dan akan tetapi apakah dia mesti berhenti kerja dan kalaupun pindah kerja ketempat lain hal tersebutpun tetap terjadi.-

Demikianlah beberapa pertanyaan saya, mohon pencerahaannya

Salam Kasih – Paulus

Jawaban:

Shalom Paulus,
Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya sampaikan:

I. Dosa menghujat Roh Kudus:

  1. Di dalam Katekismus Gereja Katolik 1864 dikatakan “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus”, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk 3:29). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.
  2. Jadi secara prinsip dosa adalah suatu kesalahan yang membuat manusia membelok dari tujuan akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan. Semakin parah suatu dosa, maka pembelokannya terhadap tujuan akhir akan semakin besar. Dan dosa menghujat Roh Kudus, adalah suatu pembelokan yang benar-benar bertentangan dengan tujuan akhir. Hal ini dapat juga dimanifestasikan dengan keputusasaan dan tidak mempunyai sikap untuk sampai pada tujuan akhir.
  3. Perwujudan dari dosa ini adalah keputusasaan (despair) dan juga anggapan yang salah (presumption). Dua hal ini adalah akibat dari kesalahan menilai hakekat Allah. Keputusasaan melawan kebijaksanaan ilahi harapan (hope), dimana harapan ini diperlukan untuk percaya akan janji Allah tentang kehidupan kekal di surga. Keputusasaan sebenarnya memberikan tuduhan yang tidak benar akan Allah yang sebenarnya maha pengampun dan maha kasih. Dengan demikian seseorang yang berputus asa akan menganggap dosanya lebih besar dari kasih Allah. Oleh karena itu, orang ini dapat melakukan apa saja yang melawan Allah, dengan anggapan bahwa dia tidak mungkin mendapatkan kasih Allah.
    Di sisi yang lain, anggapan yang salah/asumsi (presumption) adalah dosa yang melawan Roh Kudus, yang berlawanan dengan dosa keputusasaan. Presumption percaya akan janji Allah tentang Surga, namun menyalahi Allah yang sebenarnya Maha Adil, sehingga orang ini berfikir dapat mencapai surga dengan caranya sendiri. Oleh karena itu, orang ini menempatkan anggapan sendiri lebih tinggi dari pada hukum Tuhan. Dia juga berfikir bahwa dia dapat terlepas dari hukuman Tuhan walaupun dia berdosa. Oleh karena itu, pertobatan yang membawa kepada kebahagian kekal, menjadi suatu yang sulit sekali dilakukan. Dan akhirnya orang ini juga dapat terjebak untuk tidak mengakui adanya hukum moral dan kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu orang ini sulit diselamatkan, karena menolak kebenaran berarti menolak Tuhan, sumber dari kebenaran atau kebenaran itu sendiri.

II. Dosa berat

  1. Dosa berat dan dosa ringan memang harus dibedakan, karena memang keduanya berbeda. Perbedaannya adalah:
    1. Secara nalar dosa berat dan dosa ringan berbeda, misalkan: mencubit lengan seseorang lebih ringan dosanya dibanding dengan memukul kepala seseorang dengan kayu.
    2. Dari efeknya ke tujuan akhir: dosa berat membuat seseorang berbelok dari tujuan akhir, sedang dosa ringan hanya membuat seseorang tidak terfokus pada tujuan akhir namun tidak sampai berbelok dari tujuan akhir. Atau dengan kata lain, dosa berat menghancurkan tatanan dan menghancurkan kasih, sedang dosa ringan memperlemah kasih.
    3. Keseriusan (gravity) dari dosa yang membawa konsekuensi yang berbeda, dimana orang berdosa berat tanpa bertobat dapat masuk neraka, sedang dosa ringan membawa hukuman sementara, baik di dunia atau di Api Penyucian.
    4. Cara pertobatan yang berbeda. Karena dosa berat menghancurkan tatanan untuk sampai ke tujuan akhir, maka hanya kekuatan Tuhan saja yang dapat membawa kembali orang ini ke tatanan yang baik, contohnya: bagi yang belum dibaptis melalui Sakramen Baptis, dan bagi yang telah dibaptis dapat melalui Sakramen Tobat. Sedang dosa ringan, karena tidak berbelok dari tujuan akhir, maka dapat diperbaiki dengan lebih mudah.
    5. Obyek (object) dan kategori (genus) antara dosa berat dan dosa ringan berbeda. Dosa berat dimanifestasikan sebagi perlawanan terhadap Tuhan, seperti: hujatan, sumpah palsu, penyembahan berhala, kemurtadan, dan juga melawan hukum kasih terhadap sesama, seperti: membunuh, berjinah, dll. Sedang dosa ringan tidak secara langsung melawan kasih terhadap Tuhan dan sesama, yang mungkin dapat diwujudkan dalam: perkataan yang sia-sia, dll.
  2. Katekismus Gereja Katolik 1859 mengatakan: “Dosa berat menuntut pengertian penuh dan persetujuan penuh. Ia mengandaikan pengetahuan mengenai kedosaan dari suatu perbuatan, mengenai kenyataan bahwa ia bertentangan dengan hukum Allah. Dosa berat juga mencakup persetujuan yang dipertimbangkan secukupnya, supaya menjadi keputusan kehendak secara pribadi. Ketidaktahuan yang disebabkan oleh kesalahan dan ketegaran hati tidak mengurangi kesukarelaan dosa, tetapi meningkatkannya“.
    Dalam Apostolic Exhortation “Reconciliatio et Paenitentia / Reconciliation and Penance“, 17, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa yang masuk dalam kategori dosa berat adalah dosa yang “obyek“-nya adalah termasuk berat, orang tersebut benar-benar tahu (full knowledge) bahwa itu adalah melawan perintah Allah, dan dengan kesadaran penuh orang tersebut memilih untuk melakukannya juga (consent of the will).
  3. Jadi dari definisi di atas, maka kita dapat menerapkannya dalam beberapa kondisi seperti yang dipertanyakan oleh Paulus:
    1. Jadi kalau seseorang melanggar 10 perintah Allah atau 5 perintah Gereja, tidak serta merta orang itu melakukan dosa berat, karena tergantung apakah orang tersebut memenuhi kriteria di atas: a)obyek dosa yang berat, b) tahu bahwa itu berdosa, c) memutuskan untuk melakukanya walaupun tahu itu berdosa.
    2. Pelaut yang bekerja berbulan-bulan dan tidak dapat mengikuti Misa tidak termasuk dosa berat, karena: 1) obyek: Misa adalah memberikan apa yang menjadi hak Tuhan, karena itu adalah bentuk penyembahan kepada Tuhan, b) tahu: orang tersebut tahu, bahwa dia harus ke Gereja, c) consent of the will: dia tidak memberikan consent of the will, karena walaupun dia tahu itu berdosa, namun keinginan hatinya menolak. Kalau ada perayaan Misa di kapal orang tersebut akan menghadirinya. Namun, sang pelaut tersebut juga harus meluangkan waktu untuk berdoa, dan pada hari Minggu, menyambut komuni secara spiritual, dimana hati, pikiran dan jiwanya merindukan untuk bersatu dengan Yesus di dalam Sakramen Ekaristi, dan pada akhirnya menerima Yesus di dalam hatinya secara spiritual.
    3. Menginginkan wanita di dalam pikiran: obyek: perjinahan, tahu: tahu bahwa itu berdosa, consent of the will: kalau orang tersebut terus menerus memandang dan membiarkan dirinya terseret ke dalam dosa, maka secara perlahan-lahan orang tersebut dapat terjerumus ke dalam dosa berat, sebagai contoh adalah: dosa pornografi. Namun kalau orang tersebut tergoda, dan dengan segenap kekuatannya menghindari kesempatan untuk berbuat dosa (occasion of sin), maka orang tersebut dapat tumbuh di dalam kekudusan. Tentu saja rahmat Tuhan berperan penting dalam hal ini.
    4. Investasi saham: tidak berdosa kalau dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun yang berbahaya adalah terjebak dalam dosa keserakahan.
    5. Teman anda yang memberikan amplop dan menerima persen: memang situasi di Indonesia begitu sulit untuk menghindari hal ini. Teman anda tidak akan pernah merasa tenang dengan terus-menerus melakukan hal ini. Dalam tahap awal, mungkin dia dapat melakukan apa yang diminta oleh atasannya, namun dia tidak perlu menerima persen. Ini adalah topik yang sungguh sulit dan kompleks, dan memerlukan permenungan lebih lanjut. Namun kalau memungkinkan bagi teman anda, cobalah untuk mencari pekerjaan yang lain, sehingga teman anda terhindar dari situasi ini.

Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Paulus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab