Home Blog Page 301

Apa saja yang termasuk Gereja Timur Katolik?

20

Pertanyaan:

Saya kira, yang tertulis di CCC ttg apa saja yg termasuk Gereja Timur itu kurang lengkap. Kalau kita lihat lebih dekat, ada Gereja Assiria Timur, Gereja Apostolik Armenia, Gereja Orthodox Oriental, dan Gereja Orthodox. Semuanya mempunyai Misteri Suci (Sakramen) yang sama dgn Katolik Roma, dan mereka juga mempunyai Apostolik Succession. Sehingga, Ekaristi mereka juga sah.
[dari admin: komentar berikut ini digabungkan]
Saya kira, walau intinya sama, tapi lebih tepat kalau dikatakan bahwa Gereja Timur mempunyai ekspresi teologi yang berbeda dengan Gereja Barat. Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik tidak dilihat sebagaimana umat Katolik Roma melihat Paus (yang langsung berada di bawah yurisdiksinya). Patriachal Church melihat Patriarch sebagai pemimpin Gerejanya dan Paus diakui sebagai the “first among the equal” dan sebagai tanda kesatuan dari ke-22 Gereja-gereja Katolik. =)

Jawaban:

Shalom Agios,

Ya, memang di CCC tidak disebutkan list yang lengkap tentang gereja-gereja Timur yang ada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik Roma. Berikut ini adalah list ke-23 Gereja-gereja Timur yang ada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik (menurut Annuario Pontificio dengan episcopal ecclesiastical jurisdiction (date of union or foundation in parenthesis):

  1. Alexandrian liturgical tradition
    1. Coptic Catholic Church (patriarchate): Egypt (1741)
    2. Ethiopian Catholic Church (metropolia): Ethiopia (1846)
    3. Eritrean Catholic Church (metropolia): Eritrea (2015)
  2. Antiochian (Antiochene or West-Syrian) liturgical tradition
    1. Maronite Church (patriarchate): Lebanon, Cyprus, Jordan, Israel, Palestinian Authority, Egypt, Syria, Argentina, Brazil, United States, Australia, Canada, Mexico (union re-affirmed 1182)
    2. Syriac Catholic Church (patriarchate): Lebanon, Iraq, Jordan, Kuwait, Palestinian Authority, Egypt, Sudan, Syria, Turkey, United States and Canada, Venezuela (1781)
    3. Syro-Malankara Catholic Church (major archiepiscopate): India, United States (1930)
  3. Armenian liturgical tradition:
    1. Armenian Catholic Church (patriarchate): Lebanon, Iran, Iraq, Egypt, Syria, Turkey, Jordan, Palestinian Authority, Ukraine, France, Greece, Latin America, Argentina, Romania, United States, Canada, Eastern Europe (1742)
  4. Chaldean or East Syrian liturgical tradition:
    1. Chaldean Catholic Church (patriarchate): Iraq, Iran, Lebanon, Egypt, Syria, Turkey, United States (1692)
    2. Syro-Malabar Church (major archiepiscopate): India, Middle East, Europe and America (date disputed)
  5. Byzantine (Constantinopolitan) liturgical tradition:
    1. Albanian Greek Catholic Church (apostolic administration): Albania (1628)
    2. Belarusian Greek Catholic Church (no established hierarchy at present): Belarus (1596)
    3. Bulgarian Greek Catholic Church (apostolic exarchate): Bulgaria (1861)
    4. Byzantine Church of the Eparchy of Križevci (an eparchy and an apostolic exarchate): Croatia, Serbia and Montenegro (1611)
    5. Greek Byzantine Catholic Church (two apostolic exarchates): Greece, Turkey (1829)
    6. Hungarian Greek Catholic Church (an eparchy and an apostolic exarchate): Hungary (1646)
    7. Italo-Albanian Catholic Church (two eparchies and a territorial abbacy): Italy (Never separated)
    8. Macedonian Greek Catholic Church (an apostolic exarchate): Republic of Macedonia (1918)
    9. Melkite Greek Catholic Church (patriarchate): Syria, Lebanon, Jordan, Israel, Brazil, United States, Canada, Mexico, Iraq, Egypt and Sudan, Kuwait, Australia, Venezuela, Argentina (1726)
    10. Romanian Church United with Rome, Greek-Catholic (major archiepiscopate): Romania, United States (1697)
    11. Russian Catholic Church: (two apostolic exarchates, at present with no published hierarchs): Russia, China (1905); currently about 20 parishes and communities scattered around the world, including five in Russia itself, answering to bishops of other jurisdictions
    12. Ruthenian Catholic Church (a sui juris metropolia, an eparchy, and an apostolic exarchate): United States, Ukraine, Czech Republic (1646)
    13. Slovak Greek Catholic Church (metropolia): Slovak Republic, Canada (1646)
    14. Ukrainian Greek Catholic Church (major archiepiscopate): Ukraine, Poland, United States, Canada, Great Britain, Australia, Germany and Scandinavia, France, Brazil, Argentina (1595)

Note: Georgian Byzantine-Rite Catholics are not recognized as a particular Church (cf. canon 27 of the Code of Canons of the Eastern Churches). The majority of Eastern Catholic Christians in the Georgian Republic worship under the form of the Armenian liturgical rite.

Memang gereja-gereja Timur tersebut memiliki akar dari para Rasul, sehingga memiliki juga Sakramen Ekaristi yang sah. Mereka dapat atau bahkan harus mempertahankan tradisi apostolik yang mereka terima dari para Patriarkh pendahulunya (lihat Vatikan II, Orientalium Ecclesiarum, 2, “Gereja Katolik memang menghendaki, agar tradisi-tradisi masing-masing Gereja khusus atau Ritus tetap utuh dan lestari.”) Memang Gereja-gereja Timur itu masing-masing dipimpin oleh Patriarkh yang mempunyai otonomi memimpin gereja khusus dalam yuridiksi-nya, dan tiap-tiap Patriarkh berada dalam kesejajaran. Namun otonomi mereka juga dapat dikatakan terbatas, sebab mereka tetap ada dalam koordinasi Gereja Katolik Roma, yaitu seperti yang dinyatakan dalam CCEO (The Code of Canons of the Eastern Churches/ Codex Canonum Ecclesiarum Orientalium) yang dipromulgasikan oleh Bapa Paus Yohanes Paulus II tanggal 1 Oktober 1990.

Penyebab kematian 10 anak Ayub?

14

Pertanyaan:

Saya orang awam tentang Alkitab, mohon tanya :

Apa penyebab kematian 10 orang anak2 Ayub yang berlangsung dalam satu hari ? Ini kesalahan siapa ? Kesalahan ke sepuluh anak2 Ayub atau kesalahan Ayub / istrinya ?

Terima kasih
Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Berikut ini adalah yang dapat saya sampaikan tentang Kitab Ayub dari berbagai sumber *:
Kitab Ayub memang merupakan kisah tragis tentang seorang pagan (non-Yahudi) yang saleh yang hidup di tanah Us. Kitab ini kemungkinan ditulis di jaman Patriarkh, yaitu pada jaman persembahan korban kepada Tuhan dilakukan oleh kepala keluarga, dan bukan oleh para imam. Maka kisah Ayub ini kemungkinan sudah dikenal sejak jaman Raja Salomo (sekitar 1000 BC). Walaupun kitab ini tidak dimaksudkan sebagai kitab yang menceritakan sejarah, namun tradisi Gereja selalu mengenal Ayub sebagai tokoh historikal (bukan tokoh fiktif).

Alur cerita kitab Ayub dimulai dari dialog antara Tuhan dan Iblis yang berakhir dengan izin yang diberikan oleh Allah kepada Iblis untuk menguji iman Ayub. Ujian inilah yang mendatangkan ‘malapetaka’ dalam kehidupan Ayub, sampai ia kehilangan segala miliknya, termasuk meninggalnya kesepuluh anaknya (lihat Ayb 1). Selanjutnya, Ayub jatuh sakit yang menyebabkan dia dijauhi oleh semua orang. Bahkan istrinya mencelanya. (lihat Ayb 2). Para sahabatnya mengunjungi Ayub, namun mereka bukannya memberi penghiburan, malah mereka menyalahkan Ayub (Ayb 4-31). Dalam pergumulannya, Ayub tetap percaya kepada Allah ( lihat Ayb 12, 19, 23, 26) Dalam kesengsaraannya, Ayub memeriksa batinnya, dan tidak menemukan kesalahan di dalamnya (Ayb 31). Ayub bertanya kepada Allah, namun yang ada hanya keheningan (Ayb 30). Dalam kesedihannya, Ayub kemudian berteriak, memberontak, sehingga akhirnya Allah menjawab, bukan dengan penjelasan atau penghiburan, namun dengan pertanyaan kembali (lihat Ayb 38-42): “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau memiliki pengertian (Ayb 38:4).” Selanjutnya Allah menjabarkan kebesaran kuasa-Nya dan keadilan-Nya yang telah menciptakan dan mengatur segala alam semesta. Dengan menyesal Ayub mencabut perkataannya dan setelah itu keadaan Ayub dipulihkan (Ayb 42).

Maka dari kisah Ayub ini terdapat pengajaran moral yang dapat diambil:
1) Drama kehidupan Ayub ini diceritakan untuk mengajarkan kepada umat beriman, bahwa ada kalanya manusia menderita tanpa sebab, atau dikenal dengan “the suffering of the just“. Sehingga kematian kesepuluh anak Ayub tersebut bukan menjadi akibat dari dosa Ayub atau istrinya, atau anak-anaknya. Tuhan mengizinkan kemalangan itu terjadi untuk menguji iman Ayub, dan setelah Ayub bertahan dalam iman, dan menyesal dari segala perkataannya ‘mempertanyakan’ keadilan Tuhan, maka Tuhan mengembalikan dan memulihkan keadaan Ayub.
2) Kisah Ayub mennyatakan sifat-sifat keilahian Allah,  yaitu, keadilan, ke-Mahakuasa-an-Nya (God’s power and absolute control), kebijaksanaannya, dan juga belas kasihan-Nya yang memperhatikan penderitaan manusia (Ayb 35) dan kesediaan-Nya untuk mengampuni manusia yang bertobat.
3) Manusia berkewajiban untuk menghindari segala bentuk kejahatan [meskipun dalam keadaan yang paling sulit sekalipun], dan manusia harus tunduk pada penyelenggaraan Allah dengan kerendahan hati menerima kehendak Allah, walaupun belum sepenuhnya dapat dimengerti. Dari kitab Ayub ini, kita juga diajarkan untuk memberi perhatian kepada mereka yang lemah, sakit, yatim piatu, dsb.
4) Tidak ada manusia yang sepenuhnya tidak berdosa / innocent (Ayb 4:17; 15:14; 25:4). Pada diri manusia, secara fundamental ada sebuah kenyataan bahwa ia menanggung dosa akibat pelanggaran dari manusia pertama (Adam dan Hawa). [Kekecualian tentu ada pada diri Yesus dan Bunda Maria yang dibebaskan dari akibat dosa asal].
5) Tujuan kesengsaraan adalah pertobatan (Ayb 36); agar manusia menyadari bahwa Tuhan mengatasi segalanya, dan manusia tidak mungkin dapat ‘mengatur’ Allah.
6) Segala yang ada pada manusia adalah sementara, seperti bunga, berkembang dalam sesaat lalu mati.
7) Pada akhirnya, Tuhan akan membawa segala ciptaan-Nya di hadapan tahta keadilan-Nya. Tuhan tidak mengizinkan manusia wafat dengan ilusi bahwa ia telah hidup dengan sepenuhnya melakukan segala sesuatu yang seharusnya [dengan segala keberhasilan]. Sebaliknya, menjelang ajal, manusia wafat dengan perasaan bahwa hidupnya sepertinya lewat begitu saja, dan ia sepertinya menyia-nyiakannya. Maka seseorang harus mempertanyakan mengapa hal ini terjadi, mengapa, manusia tidak dapat memandang Allah dengan percaya diri. Dan manusia akan menemukan jawabannya, bahwa itu diakibatkan oleh dosa asal [yang diturunkan oleh Adam dan Hawa], yang meninggalkan pada diri manusia selama hidupnya di dunia, kecenderungan berbuat dosa.

Jika kemudian kita mengkaitkannya dengan Perjanjian Baru inilah, kita semakin memahami pentingnya Pengantaraan Yesus Kristus. Bahwa pada akhirnya, bagi kita semua yang percaya kepada Kristus, dan hidup seturut perintah-Nya, maka pada saat kita dihadapkan pada hari penghakiman Tuhan, Kristus akan berdiri sebagai Pembela kita (lih. Rom 8:34).

Demikian yang dapat saya tuliskan secara singkat mengenai Kitab Ayub. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Sumber *:
1) Dom Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture, (Thomas Nelson and Sons Ltd, London, 1953), p. 419-420.
2) Etienne Charpentier, How to read the Old Testament (Crossroad, New York, 1985) p. 82.
3) Dominique Barthelemy, OP, God and His Image, An Outline of Biblical Theology, (Sheed and Ward, New York, 1966), p. 5, 15.

Baptisan rindu menurut St. Thomas

11

Pertanyaan:

berkah dalem bu,….
saya mau tanya nich, tentang istilah “babtis rindunya” Thomas Aquinas…
itu latar belakang sejarahnya gmn ya…dan maksudnya apa…trus kalau saya mau baca untuk memperdalam itu referensinya apa…

thanks and gbu, – Andreas

Jawaban:

Shalom Andreas,
Baptis Rindu/ “Baptism of desire” memang diajarkan oleh St.Thomas Aquinas, namun bukan berarti St Thomas-lah yang ‘menciptakan’ ajaran tentang baptis rindu tersebut.  St. Thomas hanya melanjutkan apa yang telah diajarkan oleh para Bapa Gereja sebelumnya, terutama yang diajarkan oleh St. Ambrosius dan St. Agustinus. Dalam Summa Theologica, III, q.68, a.2, St. Thomas Aquinas membahas tentang Baptis Rindu/ Baptism of desire ini. Berikut ini saya terjemahkan, dan silakan melihat teksnya dalam bahasa Inggris pada link ini, dan melihat pada point artikel #2 (silakan klik).

Keberatan 1. Kelihatannya, tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan. Sebab Tuhan kita berkata (Yoh 3:5), “…sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah.” Tetapi mereka yang masuk dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang diselamatkan. Maka, tak seorangpun dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan, yang olehnya seseorang dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus.
Keberatan 2. Lebih lanjut, dalam buku De Eccl. Dogm. xli, ada tertulis, “Kita percaya bahwa tidak ada seorang katekumen-pun yang akan memperoleh kehidupan kekal, kecuali apabila ia menjadi martir, yang mengandung nilai-nilai kebajikan sakramental dari Pembaptisan.” Namun, jika mungkin seseorang dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan, ini secara istimewa terjadi pada para katekumen yang melakukan banyak perbuatan-perbuatan baik, sebab kepada mereka berlaku “iman yang bekerja melalui kasih” (Gal 5:6) Maka, kelihatannya tak seorangpun dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan.
Keberatan 3: Selanjutnya, seperti disebutkan di atas (I; 65, 4) Sakramen Baptis adalah perlu untuk keselamatan. Pembaptisan adalah sesuatu yang penting, yang ‘tanpanya sesuatu tidak dapat terjadi’ (Metaph. v) Maka, kelihatannya tak seorangpun dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan.

Sebaliknya, St. Agustinus berkata (Super Levit. lxxxiv), bahwa “beberapa orang menerima pengudusan yang tak kelihatan tanpa sakramen yang kelihatan, dan itu mendatangkan kebaikan; namun meskipun mungkin [juga] untuk memperoleh pengudusan yang kelihatan, tanpa pengudusan yang tak kelihatan, yang [dalam hal ini] tidak mendatangkan kebaikan/ profit. Sebab, oleh karena sakramen Pembaptisan berkaitan dengan hal pengudusan yang kelihatan, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat memperoleh keselamatan tanpa sakramen Pembaptisan, [namun] dengan cara pengudusan yang tidak kelihatan.

Saya menjawab, bahwa Sakramen Pembaptisan tidak terdapat dalam seseorang dengan dua cara. Pertama, keduanya dalam kenyataan dan keinginan, seperti pada kasus mereka yang tidak dibaptis, ataupun tidak ingin dibaptis: yang dengan tegas membenci sakramen ini, berkaitan dengan mereka yang dengan menggunakan kehendak bebasnya [menolak sakramen ini]. Maka, pada mereka ini tidak ada Sakramen Pembaptisan, dan mereka tidak dapat memproleh keselamatan, karena mereka baik secara sakramental maupun mental tidak tergabung di dalam Kristus, yang hanya melalui-Nya keselamatan dapat diperoleh.
Kedua, Sakramen Pembaptisan dapat saja tidak dialami secara real/ nyata, tetapi dapat dialami dalam keinginan: contohnya, ketika seseorang berkeinginan untuk dibaptis, tetapi oleh suatu keadaan yang tak menguntungkan, ia sudah meninggal dunia, sebelum ia menerima Pembaptisan. Dan orang seperti ini dapat menerima keselamatan tanpa menerima Pembaptisan, karena ia berkeinginan untuk dibaptis; dan keinginan ini adalah hasil dari “iman yang bekerja melalui kasih” , dimana Tuhan yang kuasa-Nya tidak terbatas pada sakramen yang kelihatan, menguduskan orang tersebut dari dalam. Maka, St. Ambrosius berkata tentang Valentinian, yang wafat pada saat masih menjadi katekumen, “Aku kehilangan dia yang akan saya baptis: namun ia tidak kehilangan rahmat yang dimohonkan olehnya.”

Jawaban atas Keberatan 1. Seperti telah tertulis (1 Samuel 16:7), “…Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Sekarang seseorang yang berkeinginan/ rindu agar “dilahirkan oleh air dan Roh Kudus” dengan Pembaptisan, dilahirkan kembali di dalam hati, meskipun tidak di dalam badan. Maka Rasul [Paulus] berkata, (Rom 2:29), “…sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.”
Jawaban atas Keberatan 2. Tak seorang-pun memperoleh kehidupan kekal tanpa ia dibebaskan dari segala rasa bersalah dan hukuman. Sekarang, absolusi total ini diberikan pada saat seseorang menerima Pembaptisan, atau menjadi martir: yang dengan alasan dikatakan bahwa kemartiran “mengandung semua kebajikan sakramental dari Pembaptisan”, yaitu pembebasan total dari segala rasa bersalah dan hukuman. Maka seandainya, seorang katekumen memiliki keinginan untuk dibaptis (jika tidak, ia tidak dapat dikatakan meninggal dalam keadaan melakukan/ di dalam perbuatan baik, dan tidak dapat tanpa “iman yang bekerja melalui kasih”) ia itu, seandainya ia meninggal, tidak akan dengan segera memasuki kehidupan kekal, namun akan menerima hukuman atas dosa-dosanya di waktu yang lalu, “tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15)
Jawaban atas Keberatan 3. Sakramen Pembaptisan dikatakan sebagai mutlak untuk keselamatan, bahwa seseorang tidak dapat diselamatkan tanpa, minimal, memiliki keinginan untuk dibaptis; “yang, dengan Tuhan, memperhitungkan segala perbuatan/ which, with God, counts for the deed” (Augustine, Enarr.  Mzm 57).

Atas dasar pengajaran para Bapa Gereja yang juga didasari dari Alkitab inilah, maka dalam Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
KGK 1259 Bagi para katekumen yang mati sebelum Pembaptisan, kerinduan yang jelas untuk menerima Pembaptisan, penyesalan atas dosa-dosanya, dan cinta kasih sudah menjamin keselamatan yang tidak dapat mereka terima melalui Sakramen itu.
KGK 1260 “Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska itu” (GS 22) Bdk. LG 16; AG 7. Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.

Demikiam penjelasan yang dapat saya sampaikan tentang Baptis Rindu/ “Baptism of desire“.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lk 1 : 37)

18

Keponakan saya yang bernama Jojo, di usianya yang ke-empat dengan logat bicara yang masih cadel, sering mengatakan kalimat / frasa yang dia sendiri tidak tahu artinya, yaitu “ndak matuk akal”(tidak masuk akal). Mungkin karena ia sering mendengar ayahnya (alias kakak saya) mengatakan hal yang sama, maka ia gemar sekali mengucapkannya. Anak-anak memang suka meniru.  Apapun pembicaraan yang kebetulan didengar oleh Jojo, akan ditanggapinya dengan kalimat favoritnya itu. Kadang ia akan mengatakannya dengan mimik serius, seolah dia mengerti apa yang sedang dia katakan. Namun kadang dia mengucapkannya sambil berlari ke halaman dengan senyum yang lebar menggoda, membuat saya menjadi gemas, ingin menangkapnya untuk mengacak-acak rambutnya yang halus dan mencubit pipinya yang membal seperti kue bapau. Saya sendiri tidak tahu mengapa kakak saya sering mengatakan kata-kata itu sehingga Jojo menirukannya atau mengapa kata-kata itu yang paling menarik untuk Jojo sehingga menjadi frasa favoritnya. Biasanya saya tidak mampu berbuat lain selain tertawa tergeli-geli sampai lupa sendiri pada apa yang hendak saya katakan.

Saya tidak sering berada di dekat keponakan saya tersayang itu karena saya selalu merantau.  Jauh di dalam hati saya selalu merasa rindu kepada Jojo dan ingin terus mengikuti perkembangannya. Seringkali bila saya mengalami situasi yang menjengkelkan atau berhadapan dg orang yang sulit, secara iseng saya bilang saja dalam hati ‘ndak matuk akal ini” dg logat Jojo, untuk menghilangkan kekesalan dan menghibur diri sendiri. Sering kekesalan saya jadi berkurang membayangkan wajah Jojo mengatakan kalimat favoritnya itu. Hati saya menjadi lebih tenang dan kepala menjadi lebih dingin. Kalimat itu sendiri pada saat saya mengingatnya tidak ada artinya. Namun kepolosan dan keceriaan Jojo serta kerinduan saya kepadanya membuat kata-kata itu seperti obat mujarab untuk mengusir keresahan.

Pagi ini di gereja, kepolosan dan ketidak mengertian Jojo sekali lagi menghiasi hati saya saat mendengarkan bacaan Injil mengenai kabar sukacita yang dibawa oleh Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria. Kabar itu berisikan pemberitahuan bahwa Bunda akan mengandung seorang Putera dari Roh Kudus.  Bunda belum bersuami saat itu. Saya membayangkan betapa bingung dan tidak paham nya Bunda saat mencoba mencerna pemberitahuan ini dengan akal budinya. Betapa mungkin secara manusiawi, Bunda akan berkata kepada malaikat Gabriel bahwa semua yang dikatakan kepadanya itu ‘tidak masuk akal’.

Saya sesekali berdiskusi dengan saudara seiman mengenai Allah, mengenai Tuhan, mengenai  Kitab Suci, mengenai rencana Tuhan bagi manusia, dan kata-kata ‘tidak masuk akal’ sering mendominasi perdebatan dan diskusi kami. Mungkin terlalu banyak mengandalkan logika dan pikiran manusia yang terbatas membuat diskusi kami seringkali mentok dan buntu. Saya yakin bila Bunda Maria hanya mengandalkan logika manusianya maka beliau hanya akan berkutat pada ‘tidak masuk akal” dan rencana agung penebusan tidak bisa dilanjutkan. Tetapi apakah akal itu ? darimana akal itu berasal ? Seperti Jojo yang tidak paham apa artinya ‘tidak masuk akal’, berkutat dengan akal tidak membawa kita kemana-mana, mungkin hanya jalan di tempat saja.

Tetapi saya merasa bahwa Bunda berani melangkah lebih jauh daripada sekedar berhenti pada akal. Bunda menyadari ada yang jauh lebih tinggi nilai dan fungsinya daripada akal. Bunda memutuskan untuk berjalan selangkah lebih jauh dengan kacamata iman. Dan saya merasa bahwa di atas segalanya, Bunda Maria yang tetap tidak mengerti keseluruhan rencana Allah, menyediakan diri untuk menjadi mitra Allah untuk bekerja sama dengan Sang Pencipta yang Bunda imani dan kasihi, untuk membuat dunia dan kehidupan menjadi tempat yang lebih baik bagi manusia dan semua mahluk ciptaan.

Neraka: kondisi dan penguasa

20

Pertanyaan:

Terima kasih atas penjelasannya bu Ingrid. Saya memerlukan juga penjelasan mengenai neraka (minggu lalu kelompok kami berkumpul, dan ada yang memfotokopikan kesaksian mengenai perjalanan ke neraka). Dalam foto kopian tersebut gambaran neraka di situ, orang-orang berdosa di siksa dengan macam-macam kondisi yang mengerikan, seram, tetapi yang menyiksa itu iblis atau setan. Saya tiba-tiba terpikir begini bu, setan dan iblispun harusnya disiksa di neraka juga kan Bu? Tapi sepertinya malah jadi ‘penguasa neraka’. Sepertinya jadi tidak logis. Dan juga kalau kita baca dalam Mat 25 : 31-46, saya memiliki kesan bahwa penghakiman terakhir terjadi saat Yesus datang untuk kedua kali, menghakimi ‘domba’ dan ‘kambing’. Artinya neraka belum ada ya bu? Atau sudah ada, tetapi pemiliknya atau penguasanya setan? Atau bukan hal-hal yang saya sebutkan. Bagaimana ajaran resmi gereja katolik mengenai ini? Terima kasih sebelumnya.
Salam – Saulus

Jawaban:

Shalom Saulus,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang neraka. Berikut ini adalah jawaban singkat tentang neraka.

1) Memang neraka sering digambarkan sebagai suatu tempat penyiksaan yang berlangsung selamanya. Para Teolog membedakan antara dua hukuman di neraka, yaitu: 1) Penderitaan karena kehilangan (the poena damni) dan 2) Penderitaan fisik (the poena sensus). Karena pada penghakiman terakhir manusia mempunyai badan dan jiwa, maka manusia yang masuk ke neraka akan mengalami dua jenis penderitaan, yaitu penderitaan badan dan penderitaan karena kehilangan/jiwa. Penderitaan badan mungkin yang sering digambarkan oleh banyak cerita dengan berbagai macam versi, seperti setan yang menyiksa manusia dengan api, dll. Namun sebetulnya penderitaan karena kehilangan adalah yang paling berat, karena mereka tahu bahwa untuk selamanya mereka telah kehilangan kebahagiaan abadi di Surga. (lih. KGK 1035).
Karena iblis tidak mempunyai badan – iblis adalah “pure spirit” – maka mereka tidak mengalami penderitaan badan, namun hanya penderitaan jiwa. Dan karena siksa abadi di neraka mempunyai derajat yang berbeda sesuai dengan dosa yang dilakukan, maka penderitaan yang dialami oleh iblis seharusnya menjadi lebih berat daripada apa yang dialami oleh manusia berdosa. Hal ini menjadi “fitting” atau sudah seharusnya, karena orang yang mempunyai pengetahuan lebih tinggi akan sesuatu yang baik namun tidak mungkin diperoleh, maka kehilangannya akan semakin dalam.

Sebagai gambaran, menurut para Bapa Gereja, penderitaan Yesus di taman Getsemani lebih berat dibandingkan dengan penderitaan-Nya didera, memikul salib dan kemudian mati di kayu salib. Hal ini disebabkan, penderitaan di Getsemani adalah penderitaan jiwa yang begitu berat sampai keringatNya meneteskan darah (Lk 22:42).

2)   Karena neraka adalah siksa abadi dan terpisah untuk selamanya dari Allah, maka neraka ada pada saat malaikat yang jahat memutuskan untuk melawan Tuhan. Gereja Katolik mengenal dua pengadilan, yaitu pengadilan khusus dan pengadilan umum.

KGK 1022 Pengadilan khusus adalah “Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian Bdk. Konsili Lyon: DS 857-858; Konsili Firense: DS 1304-1306; Konsili Trente: DS 1820., atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan surgawi Bdk. Benediktus XII: DS 1000-1001; Yohanes XXII: DS 990. ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya Bdk. Benediktus XII: DS 1002.”
Sedangkan pengadilan umum adalah pengadilan setelah kedatangan Kristus yang kedua.

KGK 1042 mengatakan “Pada akhir zaman Kerajaan Allah akan diselesaikan. Sesudah pengadilan umum, semua orang yang benar, yang dimuliakan dengan jiwa dan badannya, akan memerintah bersama Kristus sampai selama-lamanya, dan semesta alam akan dibaharui.
Pembahasan lebih lengkap tentang hal ini, silakan membaca artikel tentang api penyucian (silakan klik).

Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, katolisitas.org akan membuat artikel tentang empat hal terakhir, yaitu: kematian, pengadilan terakhir, surga, dan neraka.
Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Tips mengajak seorang jadi Katolik?

22

Pertanyaan:

saya mo tanya lagi nieh. bagaimana sih tips mengajak seseorang untuk menjadi katolik? terima kasih sebelumnya tuhan memberkati
Agust

Jawaban:

Shalom Agust,
Wah, pertanyaan anda cukup unik ya: apa tips untuk mengajak seseorang untuk menjadi Katolik. Ada banyak yang dapat kita lakukan, sebenarnya, namun kita perlu juga mengingat bahwa pada akhirnya, soal mengubah hati adalah pekerjaan Tuhan.
Namun tetap ada, bagian yang dapat kita lakukan dalam hal ini, misalnya:
1) Jadilah teman yang baik bagi orang itu. Semoga dengan kesaksian hidup anda yang tulus mengasihi, maka orang itu akan dapat tertarik pada apa yang menjadi iman anda, dan kepada Siapa anda beriman.
2) Jangan ragu untuk membagikan kisah pertobatan anda; dan bagaimana anda mengalami kasih Allah dalam hidup anda. Silakan anda berdoa terlebih dahulu, sebelum anda membagikan kisah pengalaman rohani ini, supaya Tuhan membantu anda dalam membagikan kesaksian ini, dan agar hati teman anda itu dapat terbuka menerimanya.
3) Dengarkanlah tanggapan dari teman anda. Jika ia tertarik mendengarkan lebih lanjut, anda dapat terus membagikan pengalaman anda, jika tidak, jangan memaksa. Setidaknya anda telah menanamkan ‘benih’ iman itu dalam hatinya. Semoga suatu saat nanti ia dapat mengingatnya, atau bahkan pada saat yang lain ia dapat tergerak untuk kembali mencari tahu akan apa yang anda sampaikan.
4) Jika pas kesempatannya, silakan mengajak teman  anda itu ke gereja, untuk mengikuti Misa Kudus, atau kegiatan komunitas di gereja. Alangkah baiknya jika anda mengetahui minat dari teman anda itu, misalnya jika senang menyanyi, ajaklah ia mengikuti koor atau ke persekutuan doa; jika ia berminat doa hening, carilah komunitas doa meditasi, dst. Atau dapat juga anda ajak ke komunitas teman-teman gereja, misalnya teman se-lingkungan atau teman-teman mudika, atau keluarga muda, dst, kelompok yang mungkin dapat menjadi ‘keluarga’ bagi teman anda itu.
5) Jika ia senang membaca atau mencari tahu akan kebenaran sehubungan dengan iman, silakan memberikan informasi atas buku-buku rohani yang cukup baik untuk dibaca, atau informasi situs- situs Katolik yang baik.
6) Berdoalah bagi pertobatan orang itu, terutama pada saat anda mengikuti Misa Kudus. Persatukanlah intensi doa anda dengan kurban Kristus, dan serahkanlah segala sesuatunya ke dalam tangan Dia. Jika itu sudah menjadi kehendak Kristus, maka percayalah, Tuhan Yesus akan turut berkarya dalam membawa teman anda itu ke dalam pangkuan Gereja Katolik. Anda dapat membawa permohonan anda ini dalam doa-doa devosi anda, misalnya dalam doa rosario, doa kerahiman Ilahi atau novena kepada Hati Kudus Yesus, dst. Atau bahkan menyertai doa-doa anda dengan berpuasa. Tentang pantang dan puasa pernah ditulis dalam artikel: Mengapa kita berpantang dan berpuasa? dan juga dalam jawaban ini (silakan klik).
7) Jika anda melihat, bahwa terdapat kerinduan yang tulus pada teman anda itu untuk mengenal lebih dalam tentang agama Katolik, silakan mengajak teman anda itu mengikuti proses katekumen. Jika anda bisa, dampingilah teman anda itu dalam proses katekumen, dan jawablah jika ia memiliki pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan iman. Jika anda kurang yakin bagaimana menjawabnya, silakan bertanya kepada pastor, atau kepada pengajar katekumen (atau juga kepada kami di katolisitas, kami akan berusaha menjawabnya). Selanjutnya, biarlah Roh Kudus bekerja dalam hatinya, dan semoga Allah memberikan kemantapan hati kepadanya untuk menjadi Katolik.

Di atas semua itu, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang paling mengetahui kedalaman hati seseorang dan segala yang terbaik bagi jiwa orang itu. Jika sampai orang tersebut menjadi Katolik, itu semua karena rahmat Tuhan, dan bukan semata karena usaha anda. Namun bersyukurlah anda, karena dalam mewujudkan rencana-Nya, Tuhan melibatkan anda untuk sedikit mengambil bagian dalam karya penyelamatan Tuhan ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga berguna. Selamat berjuang untuk menjadi saksi Kristus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab