Home Blog Page 300

Berapa kali orang Katolik menerima Baptisan?

13

Pertanyaan:

Dear Ingrid,
Ingrid menulis : Pada saat seseorang dibaptis, maka ia menerima Roh Kudus.
Pada waktu Yesus naik ke Surga Ia memesan pada murid2Nya untuk tetap tinggal di Yerusalem sampai mereka dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dari tempat yang maha tinggi. Jadi menurut pengertian saya orang awam, selama kurun waktu itu murid2 hanya menerima baptisan Yohanes saja dan belum menerima Roh Kudus. Mereka baru menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta , dimana mereka berbicara dalam ber-bagai2 bahasa atau yang menurut orang2 dinamakan bahasa roh.
Kalau pengertian saya ini benar, maka berarti setiap orang Kristiani mengalami tiga kali baptisan yaitu :
1. Baptisan air
2. Baptisan Roh Kudus dan
3, Baptisan Api

Bagaimana menurut Ingrid

Salam
Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Gereja Katolik mengajarkan bahwa pada seseorang dibaptis, maka ia ‘dikuburkan dalam kematian Kristus, untuk kemudian dibangkitkan bersama Dia menjadi ciptaan baru’ (lihat KGK 1214). Maka melalui Pembaptisan ini, secara prinsip ada dua hal yang terjadi:
1) Pemurnian dari dosa-dosa (baik dosa asal yang diturunkan dari Adam dan Hawa, maupun dosa pribadi)
2) Kelahiran menjadi manusia baru bersama Kristus, yang menjadikan kita anak-anak angkat Allah dan mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya.
Pengajaran ini yang berdasarkan dari Alkitab,  disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik:
KGK 1214 Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani “baptizein”] berarti “mencelup”. Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia (Bdk. Rm. 6:3-4; Kol 2:12) sebagai “ciptaan baru” (2 Kor 5:17; Gal 6:15).
KGK 1215 Sakramen ini juga dinamakan “permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5), karena menandakan dan melaksanakan kelahiran dari air dan dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk “dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3: 5).
KGK 1265 Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Bdk. Gal 4:5-7.; ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (Bdk. 1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:19).
Maka, Roh Kudus yang mengangkat kodrat manusia ke dalam lingkup ilahi, telah diberikan pada saat Pembaptisan. Sesudahnya, pada Sakramen Penguatan, kita yang telah menerima Roh Kudus melalui Pembaptisan ini dikuatkan dan diperkaya dalam karunia-karunia Roh Kudus. Jadi fungsinya, jika dibandingkan dengan kehidupan kodrat manusia adalah: Pembaptisan adalah kelahiran, Penguatan adalah pertumbuhan menjadi dewasa. Jadi Sakramen Penguatan ini bukan Baptisan Roh Kudus, karena Roh Kudus sudah diberikan pada saat Pembaptisan. Seperti halnya orang yang lahir ke dunia menerima karunia hidup hanya satu kali, dan selanjutnya hanya bertumbuh menjadi dewasa, demikian pula, Pembaptisan yang menandai permulaan kehidupan supernatural seseorang, hanya diterima satu kali. Dalam Sakramen Penguatan, yang diberikan adalah rahmat agar kita yang sudah dibaptis diberi kekuatan untuk bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dengan karunia-karunia Roh Kudus agar kita dapat menjadi saksi Kristus.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa terdapat tiga sakramen yang merupakan sakramen inisiasi, yang menandai permulaan seseorang menjadi anggota Gereja, yaitu Baptisan, Ekaristi dan Penguatan.
KGK 1285 Bersama dengan Pembaptisan dan Ekaristi, Sakramen Penguatan membentuk “Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen”, yang kesatuannya harus dipertahankan. Jadi, perlu dijelaskan kepada umat beriman bahwa penerimaan Penguatan itu perlu untuk melengkapi rahmat Pembaptisan (Bdk. Ocf praenotanda 1). “Berkat Sakramen Penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan” (LG 11) Bdk. Ocf praenotanda 2.

Bahwa di dalam Alkitab seolah dibedakan adanya Baptisan air dan Baptisan Roh Kudus, itu disebabkan karena makna Pembaptisan baru sempurna setelah kebangkitan Yesus. Sebelum Yesus bangkit dan naik ke surga,  Pembaptisan Yohanes baru memberikan satu arti yaitu penyucian dari dosa-dosa, maka kita membaca dalam Alkitab, pembaptisan itu disebut sebagai Baptisan pengampunan dosa (lihat Mrk 1:4); dan pesan utama St, Yohanes Pembaptis adalah: “Bertobatlah.” (lihat juga Mat 3:1-6, Luk 3:3-6, 15-17, Yoh 1:19-28).
Namun walaupun tidak dikatakan di dalam Alkitab, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa para Rasul telah menerima Pembaptisan dalam air dan Roh Kudus sebelum Kristus wafat [yang diberikan oleh Kristus]; karena pada Perjamuan Terakhir, Kristus mengordinasikan/ mentahbiskan mereka menjadi imam dan memberikan mereka Ekaristi yang pertama. Setelah Yesus bangkit, naik ke surga dan kemudian mengutus Roh Kudus pada hari Pentakosta, maka para murid memperoleh rahmat kekuatan dari Roh Kudus, sehingga kemudian mereka-pun dapat membaptis orang-orang lain dengan makna yang penuh, yaitu: pengampunan dosa, dan kehidupan baru bersama Kristus oleh kuasa Roh Kudus, dan dengan berani menjadi saksi Kristus. Maka untuk para Rasul, Pentakosta mempunyai makna sbb: mereka dikuatkan dalam iman dan dilengkapi dengan karunia-karunia Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus (makna sakramen Penguatan), dan mereka diberi semangat yang berkobar-kobar untuk mengabarkan Injil. Dengan ini mereka dapat memenuhi apa yang dipesankan oleh Kristus sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu tang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat 28: 19-20).
Maka dalam hal ini Gereja Katolik tidak memakai istilah Baptisan Roh Kudus dan juga Baptisan Api. Walaupun memang,  dalam acara-acara Persekutuan doa Karismatik Katolik ada yang disebutkan sebagai ‘pencurahan Roh Kudus’. Pada dasarnya ibadat tersebut merupakan doa memohon agar Tuhan mencurahkan karunia Roh Kudus, agar Roh Kudus yang sudah diterima dapat sungguh berkarya dalam kehidupan umat beriman yang hadir. Karena berkaryanya Roh Kudus dalam hidup seseorang itu mensyaratkan juga kerjasama orang tersebut dengan pimpinan Roh Kudus. Selanjutnya, karunia-karunia Roh Kudus yang diberikan dimaksudkan untuk membangun iman umat/ Gereja.

Lebih lanjut tentang Pembaptisan ini, silakan membaca artikel: Sudahkah Kita diselamatkan? (silakan klik).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati.

Komuni: hosti saja, mengambil hosti lalu celup di anggur, bolehkah?

50

Pertanyaan:

Salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus
Kenapa dalam ekaristi, yang dibagikan hanya tubuh Kristus (hosti) sedangkan darah Kristus (anggur) tidak?
Dulu pernah saya ikut Ekaristi dan saat komuni, hostinya kita celupkan ke anggur, sebenarnya menurut ajaran gereja Katolik harusnya bagaimana ?
Terima kasih

Rudolfus

Jawaban:

Shalom Rudolfus,
1) Umumnya dalam perayaan Ekaristi, yang dibagikan kepada umat hanya Tubuh Kristus dalam rupa hosti, tanpa anggur, tetapi hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa kita menerima keseluruhan Kristus, “Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allah-an-Nya” KGK 1374, 1413, bdk. Konsili Trente, DS 1640; 1651).
Selanjutnya ini dijelaskan lebih lanjut:
KGK 1390     Karena Kristus hadir secara sakramental dalam setiap rupa itu [dalam rupa roti dan dalam rupa anggur], maka seluruh buah rahmat Ekaristi dapat diterima, walaupun komuni hanya diterima dalam rupa Roti saja. Karena alasan-alasan pastoral, maka cara menerima komuni inilah yang paling biasa di dalam ritus Latin. Tetapi “arti perlambangan komuni dinyatakan secara lebih penuh, apabila ia diberikan dalam dua rupa. Dalam bentuk ini lambang perjamuan Ekaristi dinyatakan atas cara yang lebih sempurna” (General Instruction of the Roman Missal/ GIRM 240). Di dalam ritus Gereja-gereja Timur cara menerima komuni macam inilah yang biasa dipergunakan.  Maka karena Kristus hadir secara penuh secara sakramental dalam kedua rupa, yaitu rupa Roti saja atau Anggur saja, maka sesungguhnya seseorang dapat menerima keseluruhan rahmat hanya dengan menerima salah satu rupa. Memang, untuk alasan kepraktisan, maka dalam perayaan misa di Indonesia yang dibagikan adalah hosti saja, namun itu tidak mengurangi maknanya dan rahmat yang diterima tetap sama.

2) Apakah boleh mencelupkan sendiri hosti yang sudah dikonsekrasi ke dalam anggur yang dikonsekrasi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dahulu maksud dari perayaan Ekaristi, yang selain untuk turut mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah-Nya, kita juga merayakan persatuan dengan seluruh umat beriman yang hadir. Jika diputuskan bahwa komuni dalam dua rupa, maka simbolisasi makna ‘mengambil bagian dari Hosti yang sama dan minum dari piala yang sama’ (bdk 1Kor 10:17 dan 1 Kor 11:26) menjadi lebih jelas terwujud, dengan menerima Tubuh Yesus dalam rupa Hosti dan meminum [bukan mencelupkan hosti] dari piala yang berisi Darah Yesus, dalam rupa anggur.
Selanjutnya,  menerima komuni bukan hanya sekedar ‘makan dan minum’ Tubuh dan Darah Yesus, namun juga mewujudkan ikatan sacramental antara pelayan yang membagikan komuni dengan yang menerima komuni, di mana yang menerima menjawab “Amin” terhadap Tubuh dan Darah Yesus tersebut. Maka sesungguhnya apapun bentuk ‘self service’/ ‘melayani sendiri’,  tidak dapat dibenarkan (lihat General Instruction of the Roman Missal/ GIRM (Pedoman Umum Misale Romawi 160).

PUMR 160…. Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut entah sambil berdiri, sesuai ketentuan Konferensi Uskup. Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh (dan Darah) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah-kaidah mengenai Komuni.

Lebih lanjut tentang hal ini, silakan melihat tulisan pastor Dennis C. Smolarski, SJ, di link ini (silakan klik).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Meditasi dan Kontemplasi

34

Pertanyaan:

Bu Ingrid,
Bagaimana ajaran katolik mengenai pemahaman meditasi dan kontemplasi, dan bagaimana pula perbedaannya karena akhir-akhir ini kita mengenal meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB, seorang rahib Benedictin? Menurut Guigo (the ladder of monk), meditasi merupakan upaya memahami atau merenungkan karunia Allah sedangkan kontemplasi merupakan upaya merasakan indahnya karunia tersebut. Definisi lain mengatakan bahwa meditasi yang berasal dari kata meditare (“stare in medio”) berarti “berada di pusat,” sedangkan kontemplasi berarti bersama Allah di dalam hati kita.
Saya juga ingin bertanya tentang posisi manusia terhadap Allah menurut ajaran Katolik. Apakah manusia berhadapan dengan Allah seperti seorang hamba yang bertelut di hadapan sang Raja ataukah manusia boleh menjadi satu dengan-Nya seperti ajaran Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”? Dalam Alkitab kita memang menemukan ayat-ayat yang mendukung kedua pandangan tersebut. Dalam Lukas 10:42, Yesus mengatakan Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya karena Maria telah duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Sementara di dalam Yohanes 14:20, Yesus mengatakan, “Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tuhan memberkati,

Andryhart

Jawaban:

Shalom Andryhart,
1) Jika kita melihat meditasi dan kontemplasi dalam tradisi doa Gereja Katolik, maka kita dapat melihat pengertian meditasi- kontemplasi yang anda sampaikan adalah benar. Dalam tradisi doa Karmelit, seperti yang diajarkan oleh St. Teresa dari Avila, dan diteruskan oleh Padre Tomas de Jesus (1587), maka terlihat meditasi dan kontemplasi merupakan dua metoda doa yang saling berkaitan. Ketujuh bagian dalam metoda doa Karmelit adalah: persiapan, pembacaan dari Alkitab/ bacaan rohani, meditasi, kontemplasi, ucapan syukur, permohonan, dan penutup.
Memang meditasi menurut St. Teresa dari Avila, sebaiknya diikuti oleh Prayer of recollection, yang artinya mengumpulkan semua usaha dari jiwa, yaitu, baik memori, imajinasi, intelek/ pemikiran, ataupun keinginan untuk dapat dipusatkan dan masuk dalam hadirat Allah. Langkah selanjutnya dari Prayer of recollection ini adalah Prayer of Quiet, yang menjadi awal dari kontemplasi. Di dalam bukunya “Puri Batin/ Interior Castle“, St. Teresa mengumpamakan sebuah ‘istana kristal’ yang berlapis-lapis yang ada dalam hati kita. Pada pusatnya hadirlah Yesus dengan terang-Nya yang memancar. Namun untuk sampai ke sana kita harus melalui lapisan-lapisan ‘bilik/ mansion‘ tersebut, yang totalnya berjumlah 7 lapisan. Pada lapisan awal itu terdapat banyak ‘binatang melata’ yang mengganggu kita, yaitu pikiran-pikiran yang mengganggu konsentrasi kita sewaktu berdoa. Nah, untuk menepiskan gangguan ini, menurut St. Teresa, seseorang harus mengumpulkan segenap kemampuan jiwanya, agar ia dapat terus memusatkan diri kepada Yesus yang ada pada lapisan yang terakhir (bilik yang ketujuh). Pada lapisan terakhir inilah kita mengalami persatuan dengan Allah yang menjadi tujuan kontemplasi. Maka terlihat di sini bahwa meditasi dan prayer of recollection tersebut merupakan langkah/ jalan menuju kontemplasi. Mungkin suatu saat nanti Katolisitas akan menuliskan apa saja ketujuh tahapan menurut St. Teresa tersebut, sehingga bersama kita akan dapat semakin memahami perjalanan doa menuju kontemplasi.

Nah, melihat pola tingkatan ini, maka ajaran Fr. John Main OSB dengan memperkenalkan cara meditasi dengan mantra Kristiani, ataupun ajaran Romo Yohanes O Carm tentang doa Yesus dengan ritme tarikan/ hembusan nafas, dapat dikatakan tidak bertentangan dengan tradisi doa meditasi Katolik. Dengan catatan, jika mau menggunakan ‘mantra’ untuk membantu, kata itu haruslah yang umum kita kenal dan kita ketahui artinya dalam tradisi Kristiani. Jika demikian, tentu hal ini dapat saja dilakukan, karena itu hanya merupakan cara memusatkan hati dan pikiran. Jika kita sudah terbiasa dengan ritme tersebut, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menggunakan imajinasi atau pikiran kita untuk merenungkan tentang Allah. Jadi prinsipnya mirip dengan yang diajarkan oleh St. Teresa, bahwa kita perlu memusatkan segenap hati dan pikiran kepada Tuhan di dalam doa-doa kita. Ini sungguh merupakan perjuangan, karena memang tak jarang, begitu kita mulai berdoa, ada banyak pikiran yang dapat mengganggu konsentrasi kita. St. Teresa mengandaikan tahap pemula ini sebagai seorang petani yang harus bersusah payah menimba air sumur untuk mengairi sawahnya, sedangkan lama kelamaan jika tidak terlalu banyak usaha yang diperlukan, itu seumpama petani yang mengairi sawahnya dengan mengarahkan air dari sungai/ mata air.
Jika kita dengan disiplin melatih rohani kita dengan meditasi/ prayer of recollection, maka ada saatnya dimana doa bukan menjadi sesuatu yang sangat sulit/ merupakan perjuangan keras [untuk mengalahkan pikiran yang berkecamuk] namun hati yang terarah kepada Tuhan akan lebih mudah tercapai. Di sini, perlu kita ketahui bahwa ada dua jenis kontemplasi, yang pertama disebut acquired contemplation yaitu kontemplasi yang diperoleh dengan ‘usaha’ dari pihak kita, dan kedua, disebut sebagai infused contemplation, yaitu kontemplasi yang sungguh diberikan dari Allah sendiri.  Tentu kedua tahap ini mensyaratkan disposisi hati yang baik di dalam doa dan kehidupan rohani kita. Menurut St. Teresa, pure contemplation adalah infused contemplation, yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri.Di akhir kontemplasi ini adalah pengalaman persatuan dengan Tuhan, dimana hanya kasih Allah yang begitu besar yang mengatasi segalanya, sehingga tidak dapat lagi diuraikan dengan kata-kata. St. Teresa mengandaikan hal ini sebagai seorang petani yang tidak perlu lagi mengairi sawahnya, karena hujan yang begitu deras telah turun dari surga dengan limpahnya, dan sang petani hanya menikmati siraman air kehidupan tersebut dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Perlu juga diketahui, bahwa St. Teresa tidak merendahkan makna doa vokal/ dengan kata-kata. Sebab jika didoakan dengan sepenuh hati, maka doa vokal ini dapat pula menghatar seseorang kepada kontemplasi.

2) Melihat pengertian di atas, maka hubungan kita dengan Tuhan di dunia ini sesungguhnya meliputi kedua sisi yang anda sampaikan. Yaitu kita harus belajar bertumbuh dalam kerendahan hati untuk duduk di kaki Tuhan seperti Maria (Luk 10:42), dan mempunyai hati sebagai seorang hamba, yang mau dengan segenap jiwa dan tenaga berusaha melaksanakan kehendak-Allah. Namun, kita juga percaya, bahwa di tengah-tengah perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan menyertai kita dan tinggal di tengah kita. Inilah yang secara khusus kita rayakan dan kita alami dalam Ekaristi Kudus. Walaupun, kita juga menyadari bahwa persatuan kita dengan Allah secara sempurna hanya terjadi di Surga, namun sementara hidup kita di dunia, Tuhan telah mengizinkan kita untuk mulai mengalami rahmat persatuan itu, melalui dan di dalam Gereja Katolik. Lumen Gentium 1 dan KGK 776 mengatakan, Gereja adalah sarana keselamatan bagi semua orang, “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.”
Memang pada akhirnya, jika kita sampai di surga nanti, yang ada tinggal persatuan kita yang sempurna dengan Tuhan, atau disebut juga dengan kontemplasi yang sempurna (beatific vision), di mana kita memandang Allah di dalam Dia dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:3), karena kita telah dipersatukan dengan Kristus. Dalam hal ini, tepatlah apa yang disampaikan oleh Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”. Namun perlu kita ingat dalam persatuan antara kita dengan Allah ini tidak menjadikan kita manusia sebagai Allah. Setiap manusia akan tetap mempunyai identitasnya sendiri-sendiri, namun semuanya tergabung dalam kesatuan yang sempurna dalam kesatuan Umat Allah, sebagai satu Tubuh Kristus, yang dibangun sebagai Bait Roh Kudus, di mana Allah meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28). Inilah tujuan akhir dari Gereja yang jaya di surga kelak.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah bahasa roh materai Kristus, dan mamon materai anti-Kristus?

26

Pertanyaan

Pak Stefanus, Apakah Bahasa Roh itu meterai dari Kristus , sehingga mereka yang berbahasa Roh itu menjadi umat kepunyaan Kristus sedangkan Mammon itu meterai dari Antikris ?
Machmud

Jawaban

Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakah Bahasa Roh adalah materai dari Kristus dan apakah mammon adalah materai dari anti Krisus.

1) Bahasa Roh bukanlah materai bagi umat Kristus. Penertian materai disini adalah  “imprint character“, yang memberikan karakter yang baru dan tak terhapuskan oleh kuasa apapun juga. Di dalam Gereja Katolik, salah satu yang memberikan karakter yang baru adalah Sakramen Baptis. Rasul Paulus mengatakan “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” (Gal 6:17). Dan tanda ini dijelaskan lebih lanjut oleh rasul Paulus “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2 Cor 4:10).
Pada waktu rasul Paulus mengatakan bahwa dia senantiasa membawa kematian Yesus, dia berbicara tentang Sakramen Baptis, karena dengan Sakramen Baptis, maka seseorang telah dibaptis dalam kematian Kristus dan diberi kekuatan untuk hidup menurut perintah Kristus.

Inilah yang didiskusikan oleh rasul Paulus. “3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. 6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. 7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. 8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. 9 Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. 10 Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. 11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.“(Rm 6:3-11)

Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1274 mengatakan “Meterai Tuhan (“Dominicus character”: Agustinus, ep. 98,5) adalah meterai yang dengannya Roh Kudus telah memeteraikan kita “untuk hari penyelamatan” (Ef 4:30) Bdk. Ef 1:13-14; 2 Kor 1:21-22.. “Pembaptisan adalah meterai kehidupan abadi” (Ireneus, dem. 3). Orang beriman, yang mempertahankan “meterai” sampai akhir, artinya setia kepada tuntutan yang diberikan bersama Pembaptisannya, dapat mati “ditandai dengan meterai iman” (MR, Doa Syukur Agung Romawi 97), dalam iman Pembaptisannya, dalam harapan akan memandang Allah yang membahagiakan – penyempurnaan iman – dan dalam harapan akan kebangkitan.

Untuk artikel yang membahas lebih lanjut tentang baptisan, silakan untuk melihatnya di artikel tentang Sakramen Baptis (silakan klik).

2) Mamon bukanlah materai dari anti Kristus. Rasul Yohanes mengatakan bahwa anti Kristus adalah orang-orang yang tidak mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Bapa adalah Tuhan.

1 Yoh 2:22-23: “22. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. 23 Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.

1 Yoh 4:3: “dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.

Dari sini kita dapat melihat bukan mammon yang merupakan materai dari anti Kristus, namun semua hal yang menyangkal bahwa Kristus adalah Allah. Dan karena Yesus mengatakan bahwa “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup“, maka siapa yang tidak mencari kebenaran dengan segenap hati dan segenap jiwa dan segenap pikiran tidak dapat mencapai Sang Kebenaran. Dan kebenaran mempunyai nama, yaitu Yesus Kristus, dimana kebenaran Allah dinyatakan secara nyata. Dan pada waktu orang menempatkan hal-hal lain yang bertentangan dengan kebenaran, maka dia bertentangan dengan Kristus. Hal-hal lain yang bertentangan Roh Kebenaran adalah Roh dari dunia ini, yaitu keinginan daging (mengutamakan seks), keinginan mata (mengutamakan kekayaan), dan keangkuhan hidup (mengutamakan kesombongan) (lih. 1 Yoh 2:15-16).

Namun kalau mamon dilihat dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya terbatas pada pengertian kekayaan, namun sebagai allah-allah yang lain, maka kita dapat mengatakan bahwa mamon dapat menjadi roh anti Kristus. Pada saat seseorang menempatkan tiga hal di atas (keinginan daging, mata, dan keangkuhan) lebih penting dari hidup menurut perintah Tuhan, maka orang tersebut terjebak dalam roh anti Kristus.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2113 mengatakan “Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah, apakah itu dewa-dewa atau setan-setan (umpamanya satanisme) atau kekuasaan kenikmatan, bangsa, nenek moyang, negara, uang, atau hal-hal semacam itu. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” demikian kata Yesus (Mat 6:24). Banyak martir yang meninggal karena mereka tidak menyembah “binatang” (Bdk Whyl3-l4).; malahan mereka juga menolak menyembahnya, walaupun hanya dengan berpura-pura saja. Pemujaan berhala tidak menghargai Allah sebagai Tuhan yang satu-satunya; dengan demikian ia mengeluarkan orang dari persekutuan dengan Allah (Bdk Gal 5:20; Ef 5:5).”

Demikian jawaban singkat yang dapat saya berikan. Mari kita bersama-sama senantiasa menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi kita, sehingga kita semua dapat sampai kepada Sang Kebenaran itu sendiri.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Roh Penghibur? Umat Katolik selalu dibimbing Roh Kudus?

17

Pertanyaan:

Bagaimana Penghibur, yaitu Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu dan akan mengingatkan pada setiap orang Katholik ? (Yoh 14:26). Apakah setiap orang Katholik itu selalu diajarkan dan diingatkan oleh Roh Kudus dalam setiap usaha dan persoalannya ? Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Bapa Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Dominum et Vivificantem/ DeV 27 (Roh Kudus di dalam hidup Gereja dan dunia) mengajarkan bahwa peran Roh Kudus yang terutama, menurut Alkitab adalah, “menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.” (Yoh 16:8). Sebenarnya, inilah yang terjadi sebelum seseorang dibaptis dan menerima Kristus: ia menyadari bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah, dan hanya dengan demikian, ia dapat dipimpin oleh Allah menuju kebenaran yaitu dengan menerima Kristus, Sang Kebenaran itu sendiri (lihat Yoh 14:6). Roh Kudus-lah yang memampukan seseorang untuk dengan jujur melihat ke dalam hati nuraninya sendiri, untuk melihat apakah ia dalam posisi yang benar/ salah di hadapan Allah. Sebab di dalam hati nurani setiap orang, sesungguhnya Allah telah menanamkan suatu hukum yang tidak dibuat oleh orang itu sendiri, dan hukum ini mendorong orang tersebut untuk mentaatinya (DeV 43). Jadi sesungguhnya hati nurani manusia tidak sepenuhnya berdiri sendiri dalam menentukan hal yang baik dan buruk. Di sinilah peran Roh Kudus untuk membentuk hati nurani seseorang. Jika orang itu membuka dirinya terhadap dorongan Roh Kudus, maka orang tersebut akan dapat dipimpin kepada integritas hati nurani yang dapat membedakan hal yang baik dan buruk yang sesuai dengan kehendak Tuhan (dan bukan atas kehendak sendiri). Dalam hal inilah Tuhan Yesus mengatakan, bahwa Roh Kudus, Sang Penghibur, “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:26)

Pada saat seseorang dibaptis, maka ia menerima Roh Kudus, dan dikatakan bahwa tubuhnya menjadi bait Allah Roh Kudus (lihat 1 Kor 3:16; KGK 1265). Melalui Pembaptisan, Allah Tritunggal memberikan rahmat pengudusan, 1) yang memampukan mereka untuk percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, mengasihi-Nya dengan melakukan kebajikan-kebajikan ilahi, 2 ) yang memberikan kuasa untuk hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus melalui karunia-karunia Roh Kudus, 3) yang menjadikan mereka bertumbuh di dalam kebaikan melalui kebajikan moral (lihat KGK 1266).

Namun demikian, walaupun mereka yang telah dibaptis dan menerima Roh Kudus, seharusnya dapat mempunyai hati nurani yang baik, tetapi kenyataannya, tidak dapat dikatakan bahwa semua orang yang telah dibaptis pasti tidak pernah berbuat salah. Walaupun Roh Kudus berkarya di dalam hatinya, namun dalam memutuskan segala sesuatu, ada faktor kehendak bebas dari orang itu untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus atau menolak-Nya. Dalam hal ini Gereja mengajarkan agar para umat beriman menimba kekuatan dari Tuhan Yesus sendiri melalui doa dan sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi, agar mereka dapat dikuatkan dan menjadi lebih peka dan lebih terbuka kepada pimpinan Roh Kudus untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, terutama adalah, perintah untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Lazarus & org kaya, Pengadilan Khusus vs umum, Roh di En-Dor?

14

Pertanyaan:

Ibu Ingrid

Setelah kematian bukankah setiap manusia memasuki alam berzakh yang berbeda seperti Lazarus yang duduk dipangkuan Ibrahim dan orang kaya yang menderita dalam penderitaannya (Luk 16:16-31), walaupun itu bukan Surga atau Neraka yang sesungguhnya. Sehingga antara keduanya tidak bersatu sebab dipisahkan oleh suatu batas yang tak terseberangi ?

Tentang Pengadilan Khusus, yaitu pengadilan khusus pribadi orang tersebut oleh Yesus, kok saya belum pernah membacanya yah ?

Tentang Roh-roh yang berkeliaran yang dapat dilihat oleh orang-orang tertentu itu adalah roh setan/iblis. Seperti yang dilihat oleh dukun perempuan yang di Endor sewaktu didatangi oleh Raja Saul yang ingin berbicara dengan Nabi Samuel.

Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
1) Pada kisah orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31) maka kita ketahui orang kaya tersebut ada di neraka (ay. 23). Neraka yang digambarkan di sana adalah neraka yang sesungguhnya, karena, neraka telah ada sejak sebagian dari para malaikat memisahkan diri dari Allah. Sedangkan ‘pangkuan Abraham/ bosom of Abraham” itu adalah tempat penantian (bukan surga), atau dikatakan sebagai “the limbo of the just“, atau ada yang menyebutnya sebagai ‘hell‘ dalam Credo, yang menjadi tempat penantian jiwa-jiwa orang benar yang meninggal sebelum Kristus. Stef pernah menjelaskannya di jawaban ini (silakan klik). “The bosom of Abraham” itu bukan surga, karena menurut Alkitab, Kristus adalah yang Sulung, yang pertama bangkit dari alam maut, maka Ia-lah yang menjadi paling utama dari segala sesuatu, yang pertama kali dapat memimpin manusia ciptaan-Nya [yaitu orang-orang benar] untuk masuk surga, oleh karena korban salib-Nya yang mendamaikan umat manusia dengan Allah (lihat Kol 1:15-20). Jadi pada saat perikop itu diceritakan, neraka dan surga sudah ada, neraka yang dikisahkan itu memang neraka, namun surga, di mana Tuhan Allah bertahta bersama dengan para malaikat-Nya tidak dikisahkan. Yang dijabarkan di sana adalah tempat penantian/ “the bosom of Abraham“, sebab pada saat itu Yesus belum turun ke sana untuk membebaskan jiwa-jiwa orang yang meninggal sebelum kebangkitan-Nya, untuk membawa mereka ke surga. Namun demikian, sudah ada jurang yang tak terseberangi antara tempat penantian/ the bosom of Abraham tersebut dengan neraka, karena memang jiwa-jiwa yang ada di tempat penantian tersebut akan beralih ke surga.
2) Kata “Pengadilan Khusus memang tidak secara eksplisit tertulis dalam Alkitab (seperti halnya kata ‘Trinitas, inkarnasi’ juga tak tertulis dalam Alkitab), tetapi pengertian prinsipnya diajarkan dengan jelas. Saya pernah menjawabnya di sini (silakan klik). Pada prinsipnya, Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah manusia wafat, memang ia akan diadili secara pribadi oleh Kristus, dan langsung menerima akibatnya, entah jiwanya masuk surga, neraka atau api penyucian. Pada akhir zaman, setelah kebangkitan badan, akan ada Penghakiman Umum/ Terakhir, yang diadakan di hadapan segala mahluk (jadi bukan antara seorang pribadi dengan Allah saja), dan ini merupakan pengulangan dari pengadilan khusus itu. Namun setelah itu, bukan hanya jiwa saja yang menerima akibatnya, tetapi badan juga, karena semua badan/ tubuh manusia akan dibangkitkan dan bersatu dengan jiwanya. Hal ini diajarkan dalam Alkitab, pengajaran Bapa Gereja dan Katekismus, seperti yang pernah dijawab oleh saya dan Stef pada link-link di atas.Silakan pula membaca kembali artikel di atas: Bersyukurlah ada Api Penyucian.
3) Roh-roh yang berkeliaran adalah roh setan [seperti yang disebutkan dalam 1 Sam 28]?
Pada perikop 1 Sam 28:7 dikatakan bahwa ada seorang perempuan di En-Dor yang dapat memanggil arwah. Wanita ini akhirnya dipakai Allah untuk memanggil arwah Samuel yang kemudian menampakkan diri kepada Saul. Namun Allah mengecam perbuatan ini, dan menghukum Saul karena perbuatannya memanggil arwah ini (lihat 1 Twrkh 10:13).
Jadi yang disebutkan ‘berkeliaran’ di sini adalah para arwah orang yang sudah meninggal, yang berada di tempat penantian [karena waktu itu jiwa orang-orang benar sebelum Kristus belum dapat masuk ke surga]. Jika kita membaca riwayat para orang kudus, maka ada dari mereka yang mempunyai pengalaman mistik, yang dapat melihat/ dikunjungi oleh jiwa-jiwa orang yang masih dimurnikan dalam Api Penyucian, atau bahkan bergulat dengan roh jahat, seperti yang dialami oleh St. Anthonius Agung, dan St. Padre Pio. Maka ya, mungkin saja jika seseorang mempunyai pengalaman mistik, ia dapat ‘melihat’ jiwa-jiwa tersebut, atau roh-roh jahat.
Demikian jawaban saya, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab