Home Blog Page 300

Apakah bahasa roh materai Kristus, dan mamon materai anti-Kristus?

26

Pertanyaan

Pak Stefanus, Apakah Bahasa Roh itu meterai dari Kristus , sehingga mereka yang berbahasa Roh itu menjadi umat kepunyaan Kristus sedangkan Mammon itu meterai dari Antikris ?
Machmud

Jawaban

Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakah Bahasa Roh adalah materai dari Kristus dan apakah mammon adalah materai dari anti Krisus.

1) Bahasa Roh bukanlah materai bagi umat Kristus. Penertian materai disini adalah  “imprint character“, yang memberikan karakter yang baru dan tak terhapuskan oleh kuasa apapun juga. Di dalam Gereja Katolik, salah satu yang memberikan karakter yang baru adalah Sakramen Baptis. Rasul Paulus mengatakan “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” (Gal 6:17). Dan tanda ini dijelaskan lebih lanjut oleh rasul Paulus “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2 Cor 4:10).
Pada waktu rasul Paulus mengatakan bahwa dia senantiasa membawa kematian Yesus, dia berbicara tentang Sakramen Baptis, karena dengan Sakramen Baptis, maka seseorang telah dibaptis dalam kematian Kristus dan diberi kekuatan untuk hidup menurut perintah Kristus.

Inilah yang didiskusikan oleh rasul Paulus. “3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. 6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. 7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. 8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. 9 Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. 10 Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. 11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.“(Rm 6:3-11)

Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1274 mengatakan “Meterai Tuhan (“Dominicus character”: Agustinus, ep. 98,5) adalah meterai yang dengannya Roh Kudus telah memeteraikan kita “untuk hari penyelamatan” (Ef 4:30) Bdk. Ef 1:13-14; 2 Kor 1:21-22.. “Pembaptisan adalah meterai kehidupan abadi” (Ireneus, dem. 3). Orang beriman, yang mempertahankan “meterai” sampai akhir, artinya setia kepada tuntutan yang diberikan bersama Pembaptisannya, dapat mati “ditandai dengan meterai iman” (MR, Doa Syukur Agung Romawi 97), dalam iman Pembaptisannya, dalam harapan akan memandang Allah yang membahagiakan – penyempurnaan iman – dan dalam harapan akan kebangkitan.

Untuk artikel yang membahas lebih lanjut tentang baptisan, silakan untuk melihatnya di artikel tentang Sakramen Baptis (silakan klik).

2) Mamon bukanlah materai dari anti Kristus. Rasul Yohanes mengatakan bahwa anti Kristus adalah orang-orang yang tidak mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Bapa adalah Tuhan.

1 Yoh 2:22-23: “22. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. 23 Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.

1 Yoh 4:3: “dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.

Dari sini kita dapat melihat bukan mammon yang merupakan materai dari anti Kristus, namun semua hal yang menyangkal bahwa Kristus adalah Allah. Dan karena Yesus mengatakan bahwa “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup“, maka siapa yang tidak mencari kebenaran dengan segenap hati dan segenap jiwa dan segenap pikiran tidak dapat mencapai Sang Kebenaran. Dan kebenaran mempunyai nama, yaitu Yesus Kristus, dimana kebenaran Allah dinyatakan secara nyata. Dan pada waktu orang menempatkan hal-hal lain yang bertentangan dengan kebenaran, maka dia bertentangan dengan Kristus. Hal-hal lain yang bertentangan Roh Kebenaran adalah Roh dari dunia ini, yaitu keinginan daging (mengutamakan seks), keinginan mata (mengutamakan kekayaan), dan keangkuhan hidup (mengutamakan kesombongan) (lih. 1 Yoh 2:15-16).

Namun kalau mamon dilihat dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya terbatas pada pengertian kekayaan, namun sebagai allah-allah yang lain, maka kita dapat mengatakan bahwa mamon dapat menjadi roh anti Kristus. Pada saat seseorang menempatkan tiga hal di atas (keinginan daging, mata, dan keangkuhan) lebih penting dari hidup menurut perintah Tuhan, maka orang tersebut terjebak dalam roh anti Kristus.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2113 mengatakan “Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah, apakah itu dewa-dewa atau setan-setan (umpamanya satanisme) atau kekuasaan kenikmatan, bangsa, nenek moyang, negara, uang, atau hal-hal semacam itu. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” demikian kata Yesus (Mat 6:24). Banyak martir yang meninggal karena mereka tidak menyembah “binatang” (Bdk Whyl3-l4).; malahan mereka juga menolak menyembahnya, walaupun hanya dengan berpura-pura saja. Pemujaan berhala tidak menghargai Allah sebagai Tuhan yang satu-satunya; dengan demikian ia mengeluarkan orang dari persekutuan dengan Allah (Bdk Gal 5:20; Ef 5:5).”

Demikian jawaban singkat yang dapat saya berikan. Mari kita bersama-sama senantiasa menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi kita, sehingga kita semua dapat sampai kepada Sang Kebenaran itu sendiri.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Roh Penghibur? Umat Katolik selalu dibimbing Roh Kudus?

17

Pertanyaan:

Bagaimana Penghibur, yaitu Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu dan akan mengingatkan pada setiap orang Katholik ? (Yoh 14:26). Apakah setiap orang Katholik itu selalu diajarkan dan diingatkan oleh Roh Kudus dalam setiap usaha dan persoalannya ? Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Bapa Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Dominum et Vivificantem/ DeV 27 (Roh Kudus di dalam hidup Gereja dan dunia) mengajarkan bahwa peran Roh Kudus yang terutama, menurut Alkitab adalah, “menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.” (Yoh 16:8). Sebenarnya, inilah yang terjadi sebelum seseorang dibaptis dan menerima Kristus: ia menyadari bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah, dan hanya dengan demikian, ia dapat dipimpin oleh Allah menuju kebenaran yaitu dengan menerima Kristus, Sang Kebenaran itu sendiri (lihat Yoh 14:6). Roh Kudus-lah yang memampukan seseorang untuk dengan jujur melihat ke dalam hati nuraninya sendiri, untuk melihat apakah ia dalam posisi yang benar/ salah di hadapan Allah. Sebab di dalam hati nurani setiap orang, sesungguhnya Allah telah menanamkan suatu hukum yang tidak dibuat oleh orang itu sendiri, dan hukum ini mendorong orang tersebut untuk mentaatinya (DeV 43). Jadi sesungguhnya hati nurani manusia tidak sepenuhnya berdiri sendiri dalam menentukan hal yang baik dan buruk. Di sinilah peran Roh Kudus untuk membentuk hati nurani seseorang. Jika orang itu membuka dirinya terhadap dorongan Roh Kudus, maka orang tersebut akan dapat dipimpin kepada integritas hati nurani yang dapat membedakan hal yang baik dan buruk yang sesuai dengan kehendak Tuhan (dan bukan atas kehendak sendiri). Dalam hal inilah Tuhan Yesus mengatakan, bahwa Roh Kudus, Sang Penghibur, “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:26)

Pada saat seseorang dibaptis, maka ia menerima Roh Kudus, dan dikatakan bahwa tubuhnya menjadi bait Allah Roh Kudus (lihat 1 Kor 3:16; KGK 1265). Melalui Pembaptisan, Allah Tritunggal memberikan rahmat pengudusan, 1) yang memampukan mereka untuk percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, mengasihi-Nya dengan melakukan kebajikan-kebajikan ilahi, 2 ) yang memberikan kuasa untuk hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus melalui karunia-karunia Roh Kudus, 3) yang menjadikan mereka bertumbuh di dalam kebaikan melalui kebajikan moral (lihat KGK 1266).

Namun demikian, walaupun mereka yang telah dibaptis dan menerima Roh Kudus, seharusnya dapat mempunyai hati nurani yang baik, tetapi kenyataannya, tidak dapat dikatakan bahwa semua orang yang telah dibaptis pasti tidak pernah berbuat salah. Walaupun Roh Kudus berkarya di dalam hatinya, namun dalam memutuskan segala sesuatu, ada faktor kehendak bebas dari orang itu untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus atau menolak-Nya. Dalam hal ini Gereja mengajarkan agar para umat beriman menimba kekuatan dari Tuhan Yesus sendiri melalui doa dan sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi, agar mereka dapat dikuatkan dan menjadi lebih peka dan lebih terbuka kepada pimpinan Roh Kudus untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, terutama adalah, perintah untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Lazarus & org kaya, Pengadilan Khusus vs umum, Roh di En-Dor?

14

Pertanyaan:

Ibu Ingrid

Setelah kematian bukankah setiap manusia memasuki alam berzakh yang berbeda seperti Lazarus yang duduk dipangkuan Ibrahim dan orang kaya yang menderita dalam penderitaannya (Luk 16:16-31), walaupun itu bukan Surga atau Neraka yang sesungguhnya. Sehingga antara keduanya tidak bersatu sebab dipisahkan oleh suatu batas yang tak terseberangi ?

Tentang Pengadilan Khusus, yaitu pengadilan khusus pribadi orang tersebut oleh Yesus, kok saya belum pernah membacanya yah ?

Tentang Roh-roh yang berkeliaran yang dapat dilihat oleh orang-orang tertentu itu adalah roh setan/iblis. Seperti yang dilihat oleh dukun perempuan yang di Endor sewaktu didatangi oleh Raja Saul yang ingin berbicara dengan Nabi Samuel.

Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
1) Pada kisah orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31) maka kita ketahui orang kaya tersebut ada di neraka (ay. 23). Neraka yang digambarkan di sana adalah neraka yang sesungguhnya, karena, neraka telah ada sejak sebagian dari para malaikat memisahkan diri dari Allah. Sedangkan ‘pangkuan Abraham/ bosom of Abraham” itu adalah tempat penantian (bukan surga), atau dikatakan sebagai “the limbo of the just“, atau ada yang menyebutnya sebagai ‘hell‘ dalam Credo, yang menjadi tempat penantian jiwa-jiwa orang benar yang meninggal sebelum Kristus. Stef pernah menjelaskannya di jawaban ini (silakan klik). “The bosom of Abraham” itu bukan surga, karena menurut Alkitab, Kristus adalah yang Sulung, yang pertama bangkit dari alam maut, maka Ia-lah yang menjadi paling utama dari segala sesuatu, yang pertama kali dapat memimpin manusia ciptaan-Nya [yaitu orang-orang benar] untuk masuk surga, oleh karena korban salib-Nya yang mendamaikan umat manusia dengan Allah (lihat Kol 1:15-20). Jadi pada saat perikop itu diceritakan, neraka dan surga sudah ada, neraka yang dikisahkan itu memang neraka, namun surga, di mana Tuhan Allah bertahta bersama dengan para malaikat-Nya tidak dikisahkan. Yang dijabarkan di sana adalah tempat penantian/ “the bosom of Abraham“, sebab pada saat itu Yesus belum turun ke sana untuk membebaskan jiwa-jiwa orang yang meninggal sebelum kebangkitan-Nya, untuk membawa mereka ke surga. Namun demikian, sudah ada jurang yang tak terseberangi antara tempat penantian/ the bosom of Abraham tersebut dengan neraka, karena memang jiwa-jiwa yang ada di tempat penantian tersebut akan beralih ke surga.
2) Kata “Pengadilan Khusus memang tidak secara eksplisit tertulis dalam Alkitab (seperti halnya kata ‘Trinitas, inkarnasi’ juga tak tertulis dalam Alkitab), tetapi pengertian prinsipnya diajarkan dengan jelas. Saya pernah menjawabnya di sini (silakan klik). Pada prinsipnya, Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah manusia wafat, memang ia akan diadili secara pribadi oleh Kristus, dan langsung menerima akibatnya, entah jiwanya masuk surga, neraka atau api penyucian. Pada akhir zaman, setelah kebangkitan badan, akan ada Penghakiman Umum/ Terakhir, yang diadakan di hadapan segala mahluk (jadi bukan antara seorang pribadi dengan Allah saja), dan ini merupakan pengulangan dari pengadilan khusus itu. Namun setelah itu, bukan hanya jiwa saja yang menerima akibatnya, tetapi badan juga, karena semua badan/ tubuh manusia akan dibangkitkan dan bersatu dengan jiwanya. Hal ini diajarkan dalam Alkitab, pengajaran Bapa Gereja dan Katekismus, seperti yang pernah dijawab oleh saya dan Stef pada link-link di atas.Silakan pula membaca kembali artikel di atas: Bersyukurlah ada Api Penyucian.
3) Roh-roh yang berkeliaran adalah roh setan [seperti yang disebutkan dalam 1 Sam 28]?
Pada perikop 1 Sam 28:7 dikatakan bahwa ada seorang perempuan di En-Dor yang dapat memanggil arwah. Wanita ini akhirnya dipakai Allah untuk memanggil arwah Samuel yang kemudian menampakkan diri kepada Saul. Namun Allah mengecam perbuatan ini, dan menghukum Saul karena perbuatannya memanggil arwah ini (lihat 1 Twrkh 10:13).
Jadi yang disebutkan ‘berkeliaran’ di sini adalah para arwah orang yang sudah meninggal, yang berada di tempat penantian [karena waktu itu jiwa orang-orang benar sebelum Kristus belum dapat masuk ke surga]. Jika kita membaca riwayat para orang kudus, maka ada dari mereka yang mempunyai pengalaman mistik, yang dapat melihat/ dikunjungi oleh jiwa-jiwa orang yang masih dimurnikan dalam Api Penyucian, atau bahkan bergulat dengan roh jahat, seperti yang dialami oleh St. Anthonius Agung, dan St. Padre Pio. Maka ya, mungkin saja jika seseorang mempunyai pengalaman mistik, ia dapat ‘melihat’ jiwa-jiwa tersebut, atau roh-roh jahat.
Demikian jawaban saya, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org.

Apa saja yang termasuk Gereja Timur Katolik?

20

Pertanyaan:

Saya kira, yang tertulis di CCC ttg apa saja yg termasuk Gereja Timur itu kurang lengkap. Kalau kita lihat lebih dekat, ada Gereja Assiria Timur, Gereja Apostolik Armenia, Gereja Orthodox Oriental, dan Gereja Orthodox. Semuanya mempunyai Misteri Suci (Sakramen) yang sama dgn Katolik Roma, dan mereka juga mempunyai Apostolik Succession. Sehingga, Ekaristi mereka juga sah.
[dari admin: komentar berikut ini digabungkan]
Saya kira, walau intinya sama, tapi lebih tepat kalau dikatakan bahwa Gereja Timur mempunyai ekspresi teologi yang berbeda dengan Gereja Barat. Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik tidak dilihat sebagaimana umat Katolik Roma melihat Paus (yang langsung berada di bawah yurisdiksinya). Patriachal Church melihat Patriarch sebagai pemimpin Gerejanya dan Paus diakui sebagai the “first among the equal” dan sebagai tanda kesatuan dari ke-22 Gereja-gereja Katolik. =)

Jawaban:

Shalom Agios,

Ya, memang di CCC tidak disebutkan list yang lengkap tentang gereja-gereja Timur yang ada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik Roma. Berikut ini adalah list ke-23 Gereja-gereja Timur yang ada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik (menurut Annuario Pontificio dengan episcopal ecclesiastical jurisdiction (date of union or foundation in parenthesis):

  1. Alexandrian liturgical tradition
    1. Coptic Catholic Church (patriarchate): Egypt (1741)
    2. Ethiopian Catholic Church (metropolia): Ethiopia (1846)
    3. Eritrean Catholic Church (metropolia): Eritrea (2015)
  2. Antiochian (Antiochene or West-Syrian) liturgical tradition
    1. Maronite Church (patriarchate): Lebanon, Cyprus, Jordan, Israel, Palestinian Authority, Egypt, Syria, Argentina, Brazil, United States, Australia, Canada, Mexico (union re-affirmed 1182)
    2. Syriac Catholic Church (patriarchate): Lebanon, Iraq, Jordan, Kuwait, Palestinian Authority, Egypt, Sudan, Syria, Turkey, United States and Canada, Venezuela (1781)
    3. Syro-Malankara Catholic Church (major archiepiscopate): India, United States (1930)
  3. Armenian liturgical tradition:
    1. Armenian Catholic Church (patriarchate): Lebanon, Iran, Iraq, Egypt, Syria, Turkey, Jordan, Palestinian Authority, Ukraine, France, Greece, Latin America, Argentina, Romania, United States, Canada, Eastern Europe (1742)
  4. Chaldean or East Syrian liturgical tradition:
    1. Chaldean Catholic Church (patriarchate): Iraq, Iran, Lebanon, Egypt, Syria, Turkey, United States (1692)
    2. Syro-Malabar Church (major archiepiscopate): India, Middle East, Europe and America (date disputed)
  5. Byzantine (Constantinopolitan) liturgical tradition:
    1. Albanian Greek Catholic Church (apostolic administration): Albania (1628)
    2. Belarusian Greek Catholic Church (no established hierarchy at present): Belarus (1596)
    3. Bulgarian Greek Catholic Church (apostolic exarchate): Bulgaria (1861)
    4. Byzantine Church of the Eparchy of Križevci (an eparchy and an apostolic exarchate): Croatia, Serbia and Montenegro (1611)
    5. Greek Byzantine Catholic Church (two apostolic exarchates): Greece, Turkey (1829)
    6. Hungarian Greek Catholic Church (an eparchy and an apostolic exarchate): Hungary (1646)
    7. Italo-Albanian Catholic Church (two eparchies and a territorial abbacy): Italy (Never separated)
    8. Macedonian Greek Catholic Church (an apostolic exarchate): Republic of Macedonia (1918)
    9. Melkite Greek Catholic Church (patriarchate): Syria, Lebanon, Jordan, Israel, Brazil, United States, Canada, Mexico, Iraq, Egypt and Sudan, Kuwait, Australia, Venezuela, Argentina (1726)
    10. Romanian Church United with Rome, Greek-Catholic (major archiepiscopate): Romania, United States (1697)
    11. Russian Catholic Church: (two apostolic exarchates, at present with no published hierarchs): Russia, China (1905); currently about 20 parishes and communities scattered around the world, including five in Russia itself, answering to bishops of other jurisdictions
    12. Ruthenian Catholic Church (a sui juris metropolia, an eparchy, and an apostolic exarchate): United States, Ukraine, Czech Republic (1646)
    13. Slovak Greek Catholic Church (metropolia): Slovak Republic, Canada (1646)
    14. Ukrainian Greek Catholic Church (major archiepiscopate): Ukraine, Poland, United States, Canada, Great Britain, Australia, Germany and Scandinavia, France, Brazil, Argentina (1595)

Note: Georgian Byzantine-Rite Catholics are not recognized as a particular Church (cf. canon 27 of the Code of Canons of the Eastern Churches). The majority of Eastern Catholic Christians in the Georgian Republic worship under the form of the Armenian liturgical rite.

Memang gereja-gereja Timur tersebut memiliki akar dari para Rasul, sehingga memiliki juga Sakramen Ekaristi yang sah. Mereka dapat atau bahkan harus mempertahankan tradisi apostolik yang mereka terima dari para Patriarkh pendahulunya (lihat Vatikan II, Orientalium Ecclesiarum, 2, “Gereja Katolik memang menghendaki, agar tradisi-tradisi masing-masing Gereja khusus atau Ritus tetap utuh dan lestari.”) Memang Gereja-gereja Timur itu masing-masing dipimpin oleh Patriarkh yang mempunyai otonomi memimpin gereja khusus dalam yuridiksi-nya, dan tiap-tiap Patriarkh berada dalam kesejajaran. Namun otonomi mereka juga dapat dikatakan terbatas, sebab mereka tetap ada dalam koordinasi Gereja Katolik Roma, yaitu seperti yang dinyatakan dalam CCEO (The Code of Canons of the Eastern Churches/ Codex Canonum Ecclesiarum Orientalium) yang dipromulgasikan oleh Bapa Paus Yohanes Paulus II tanggal 1 Oktober 1990.

Penyebab kematian 10 anak Ayub?

14

Pertanyaan:

Saya orang awam tentang Alkitab, mohon tanya :

Apa penyebab kematian 10 orang anak2 Ayub yang berlangsung dalam satu hari ? Ini kesalahan siapa ? Kesalahan ke sepuluh anak2 Ayub atau kesalahan Ayub / istrinya ?

Terima kasih
Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Berikut ini adalah yang dapat saya sampaikan tentang Kitab Ayub dari berbagai sumber *:
Kitab Ayub memang merupakan kisah tragis tentang seorang pagan (non-Yahudi) yang saleh yang hidup di tanah Us. Kitab ini kemungkinan ditulis di jaman Patriarkh, yaitu pada jaman persembahan korban kepada Tuhan dilakukan oleh kepala keluarga, dan bukan oleh para imam. Maka kisah Ayub ini kemungkinan sudah dikenal sejak jaman Raja Salomo (sekitar 1000 BC). Walaupun kitab ini tidak dimaksudkan sebagai kitab yang menceritakan sejarah, namun tradisi Gereja selalu mengenal Ayub sebagai tokoh historikal (bukan tokoh fiktif).

Alur cerita kitab Ayub dimulai dari dialog antara Tuhan dan Iblis yang berakhir dengan izin yang diberikan oleh Allah kepada Iblis untuk menguji iman Ayub. Ujian inilah yang mendatangkan ‘malapetaka’ dalam kehidupan Ayub, sampai ia kehilangan segala miliknya, termasuk meninggalnya kesepuluh anaknya (lihat Ayb 1). Selanjutnya, Ayub jatuh sakit yang menyebabkan dia dijauhi oleh semua orang. Bahkan istrinya mencelanya. (lihat Ayb 2). Para sahabatnya mengunjungi Ayub, namun mereka bukannya memberi penghiburan, malah mereka menyalahkan Ayub (Ayb 4-31). Dalam pergumulannya, Ayub tetap percaya kepada Allah ( lihat Ayb 12, 19, 23, 26) Dalam kesengsaraannya, Ayub memeriksa batinnya, dan tidak menemukan kesalahan di dalamnya (Ayb 31). Ayub bertanya kepada Allah, namun yang ada hanya keheningan (Ayb 30). Dalam kesedihannya, Ayub kemudian berteriak, memberontak, sehingga akhirnya Allah menjawab, bukan dengan penjelasan atau penghiburan, namun dengan pertanyaan kembali (lihat Ayb 38-42): “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau memiliki pengertian (Ayb 38:4).” Selanjutnya Allah menjabarkan kebesaran kuasa-Nya dan keadilan-Nya yang telah menciptakan dan mengatur segala alam semesta. Dengan menyesal Ayub mencabut perkataannya dan setelah itu keadaan Ayub dipulihkan (Ayb 42).

Maka dari kisah Ayub ini terdapat pengajaran moral yang dapat diambil:
1) Drama kehidupan Ayub ini diceritakan untuk mengajarkan kepada umat beriman, bahwa ada kalanya manusia menderita tanpa sebab, atau dikenal dengan “the suffering of the just“. Sehingga kematian kesepuluh anak Ayub tersebut bukan menjadi akibat dari dosa Ayub atau istrinya, atau anak-anaknya. Tuhan mengizinkan kemalangan itu terjadi untuk menguji iman Ayub, dan setelah Ayub bertahan dalam iman, dan menyesal dari segala perkataannya ‘mempertanyakan’ keadilan Tuhan, maka Tuhan mengembalikan dan memulihkan keadaan Ayub.
2) Kisah Ayub mennyatakan sifat-sifat keilahian Allah,  yaitu, keadilan, ke-Mahakuasa-an-Nya (God’s power and absolute control), kebijaksanaannya, dan juga belas kasihan-Nya yang memperhatikan penderitaan manusia (Ayb 35) dan kesediaan-Nya untuk mengampuni manusia yang bertobat.
3) Manusia berkewajiban untuk menghindari segala bentuk kejahatan [meskipun dalam keadaan yang paling sulit sekalipun], dan manusia harus tunduk pada penyelenggaraan Allah dengan kerendahan hati menerima kehendak Allah, walaupun belum sepenuhnya dapat dimengerti. Dari kitab Ayub ini, kita juga diajarkan untuk memberi perhatian kepada mereka yang lemah, sakit, yatim piatu, dsb.
4) Tidak ada manusia yang sepenuhnya tidak berdosa / innocent (Ayb 4:17; 15:14; 25:4). Pada diri manusia, secara fundamental ada sebuah kenyataan bahwa ia menanggung dosa akibat pelanggaran dari manusia pertama (Adam dan Hawa). [Kekecualian tentu ada pada diri Yesus dan Bunda Maria yang dibebaskan dari akibat dosa asal].
5) Tujuan kesengsaraan adalah pertobatan (Ayb 36); agar manusia menyadari bahwa Tuhan mengatasi segalanya, dan manusia tidak mungkin dapat ‘mengatur’ Allah.
6) Segala yang ada pada manusia adalah sementara, seperti bunga, berkembang dalam sesaat lalu mati.
7) Pada akhirnya, Tuhan akan membawa segala ciptaan-Nya di hadapan tahta keadilan-Nya. Tuhan tidak mengizinkan manusia wafat dengan ilusi bahwa ia telah hidup dengan sepenuhnya melakukan segala sesuatu yang seharusnya [dengan segala keberhasilan]. Sebaliknya, menjelang ajal, manusia wafat dengan perasaan bahwa hidupnya sepertinya lewat begitu saja, dan ia sepertinya menyia-nyiakannya. Maka seseorang harus mempertanyakan mengapa hal ini terjadi, mengapa, manusia tidak dapat memandang Allah dengan percaya diri. Dan manusia akan menemukan jawabannya, bahwa itu diakibatkan oleh dosa asal [yang diturunkan oleh Adam dan Hawa], yang meninggalkan pada diri manusia selama hidupnya di dunia, kecenderungan berbuat dosa.

Jika kemudian kita mengkaitkannya dengan Perjanjian Baru inilah, kita semakin memahami pentingnya Pengantaraan Yesus Kristus. Bahwa pada akhirnya, bagi kita semua yang percaya kepada Kristus, dan hidup seturut perintah-Nya, maka pada saat kita dihadapkan pada hari penghakiman Tuhan, Kristus akan berdiri sebagai Pembela kita (lih. Rom 8:34).

Demikian yang dapat saya tuliskan secara singkat mengenai Kitab Ayub. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Sumber *:
1) Dom Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture, (Thomas Nelson and Sons Ltd, London, 1953), p. 419-420.
2) Etienne Charpentier, How to read the Old Testament (Crossroad, New York, 1985) p. 82.
3) Dominique Barthelemy, OP, God and His Image, An Outline of Biblical Theology, (Sheed and Ward, New York, 1966), p. 5, 15.

Baptisan rindu menurut St. Thomas

11

Pertanyaan:

berkah dalem bu,….
saya mau tanya nich, tentang istilah “babtis rindunya” Thomas Aquinas…
itu latar belakang sejarahnya gmn ya…dan maksudnya apa…trus kalau saya mau baca untuk memperdalam itu referensinya apa…

thanks and gbu, – Andreas

Jawaban:

Shalom Andreas,
Baptis Rindu/ “Baptism of desire” memang diajarkan oleh St.Thomas Aquinas, namun bukan berarti St Thomas-lah yang ‘menciptakan’ ajaran tentang baptis rindu tersebut.  St. Thomas hanya melanjutkan apa yang telah diajarkan oleh para Bapa Gereja sebelumnya, terutama yang diajarkan oleh St. Ambrosius dan St. Agustinus. Dalam Summa Theologica, III, q.68, a.2, St. Thomas Aquinas membahas tentang Baptis Rindu/ Baptism of desire ini. Berikut ini saya terjemahkan, dan silakan melihat teksnya dalam bahasa Inggris pada link ini, dan melihat pada point artikel #2 (silakan klik).

Keberatan 1. Kelihatannya, tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan. Sebab Tuhan kita berkata (Yoh 3:5), “…sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah.” Tetapi mereka yang masuk dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang diselamatkan. Maka, tak seorangpun dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan, yang olehnya seseorang dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus.
Keberatan 2. Lebih lanjut, dalam buku De Eccl. Dogm. xli, ada tertulis, “Kita percaya bahwa tidak ada seorang katekumen-pun yang akan memperoleh kehidupan kekal, kecuali apabila ia menjadi martir, yang mengandung nilai-nilai kebajikan sakramental dari Pembaptisan.” Namun, jika mungkin seseorang dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan, ini secara istimewa terjadi pada para katekumen yang melakukan banyak perbuatan-perbuatan baik, sebab kepada mereka berlaku “iman yang bekerja melalui kasih” (Gal 5:6) Maka, kelihatannya tak seorangpun dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan.
Keberatan 3: Selanjutnya, seperti disebutkan di atas (I; 65, 4) Sakramen Baptis adalah perlu untuk keselamatan. Pembaptisan adalah sesuatu yang penting, yang ‘tanpanya sesuatu tidak dapat terjadi’ (Metaph. v) Maka, kelihatannya tak seorangpun dapat diselamatkan tanpa Pembaptisan.

Sebaliknya, St. Agustinus berkata (Super Levit. lxxxiv), bahwa “beberapa orang menerima pengudusan yang tak kelihatan tanpa sakramen yang kelihatan, dan itu mendatangkan kebaikan; namun meskipun mungkin [juga] untuk memperoleh pengudusan yang kelihatan, tanpa pengudusan yang tak kelihatan, yang [dalam hal ini] tidak mendatangkan kebaikan/ profit. Sebab, oleh karena sakramen Pembaptisan berkaitan dengan hal pengudusan yang kelihatan, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat memperoleh keselamatan tanpa sakramen Pembaptisan, [namun] dengan cara pengudusan yang tidak kelihatan.

Saya menjawab, bahwa Sakramen Pembaptisan tidak terdapat dalam seseorang dengan dua cara. Pertama, keduanya dalam kenyataan dan keinginan, seperti pada kasus mereka yang tidak dibaptis, ataupun tidak ingin dibaptis: yang dengan tegas membenci sakramen ini, berkaitan dengan mereka yang dengan menggunakan kehendak bebasnya [menolak sakramen ini]. Maka, pada mereka ini tidak ada Sakramen Pembaptisan, dan mereka tidak dapat memproleh keselamatan, karena mereka baik secara sakramental maupun mental tidak tergabung di dalam Kristus, yang hanya melalui-Nya keselamatan dapat diperoleh.
Kedua, Sakramen Pembaptisan dapat saja tidak dialami secara real/ nyata, tetapi dapat dialami dalam keinginan: contohnya, ketika seseorang berkeinginan untuk dibaptis, tetapi oleh suatu keadaan yang tak menguntungkan, ia sudah meninggal dunia, sebelum ia menerima Pembaptisan. Dan orang seperti ini dapat menerima keselamatan tanpa menerima Pembaptisan, karena ia berkeinginan untuk dibaptis; dan keinginan ini adalah hasil dari “iman yang bekerja melalui kasih” , dimana Tuhan yang kuasa-Nya tidak terbatas pada sakramen yang kelihatan, menguduskan orang tersebut dari dalam. Maka, St. Ambrosius berkata tentang Valentinian, yang wafat pada saat masih menjadi katekumen, “Aku kehilangan dia yang akan saya baptis: namun ia tidak kehilangan rahmat yang dimohonkan olehnya.”

Jawaban atas Keberatan 1. Seperti telah tertulis (1 Samuel 16:7), “…Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Sekarang seseorang yang berkeinginan/ rindu agar “dilahirkan oleh air dan Roh Kudus” dengan Pembaptisan, dilahirkan kembali di dalam hati, meskipun tidak di dalam badan. Maka Rasul [Paulus] berkata, (Rom 2:29), “…sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.”
Jawaban atas Keberatan 2. Tak seorang-pun memperoleh kehidupan kekal tanpa ia dibebaskan dari segala rasa bersalah dan hukuman. Sekarang, absolusi total ini diberikan pada saat seseorang menerima Pembaptisan, atau menjadi martir: yang dengan alasan dikatakan bahwa kemartiran “mengandung semua kebajikan sakramental dari Pembaptisan”, yaitu pembebasan total dari segala rasa bersalah dan hukuman. Maka seandainya, seorang katekumen memiliki keinginan untuk dibaptis (jika tidak, ia tidak dapat dikatakan meninggal dalam keadaan melakukan/ di dalam perbuatan baik, dan tidak dapat tanpa “iman yang bekerja melalui kasih”) ia itu, seandainya ia meninggal, tidak akan dengan segera memasuki kehidupan kekal, namun akan menerima hukuman atas dosa-dosanya di waktu yang lalu, “tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15)
Jawaban atas Keberatan 3. Sakramen Pembaptisan dikatakan sebagai mutlak untuk keselamatan, bahwa seseorang tidak dapat diselamatkan tanpa, minimal, memiliki keinginan untuk dibaptis; “yang, dengan Tuhan, memperhitungkan segala perbuatan/ which, with God, counts for the deed” (Augustine, Enarr.  Mzm 57).

Atas dasar pengajaran para Bapa Gereja yang juga didasari dari Alkitab inilah, maka dalam Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
KGK 1259 Bagi para katekumen yang mati sebelum Pembaptisan, kerinduan yang jelas untuk menerima Pembaptisan, penyesalan atas dosa-dosanya, dan cinta kasih sudah menjamin keselamatan yang tidak dapat mereka terima melalui Sakramen itu.
KGK 1260 “Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska itu” (GS 22) Bdk. LG 16; AG 7. Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.

Demikiam penjelasan yang dapat saya sampaikan tentang Baptis Rindu/ “Baptism of desire“.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab