Home Blog Page 290

Tentang “the Lost Gospel”

2

Beredarnya buku “The Lost Gospel” tidak perlu mengguncangkan iman kita. Sebab sebenarnya, jika kita perhatikan terdapat kejanggalan- kejanggalan terhadap injil Yudas tersebut:

1) Pertama dikatakan bahwa teks papyrus yang ditemukan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke 2 AD. Kita mengetahui bahwa Yudas sendiri wafat pada sekitar tahun 33AD, dengan bunuh diri dengan menggantungkan diri (Mat 27: 5) setelah menyerahkan Yesus kepada kaum Yahudi. Maka dapat diperkirakan [atau bahkan besar kemungkinan] bahwa tulisan di papyrus itu bukan karangan Yudas sendiri.
Sedangkan ke-4 Injil lainnya dituliskan sendiri oleh para rasul Yesus, yaitu Matius (38-45) dan Yohanes (90-100), dan para murid dari para rasul, yaitu Markus (murid Rasul Petrus) dan Lukas (murid Rasul Paulus), kedua Injil ini dituliskan sekitar 64-67. Kita ketahui memang rasul Yohanes adalah rasul yang wafat paling akhir dari antara para rasul, sehingga tak mengherankan bahwa Injilnya dituliskan paling akhir.

2) Isi dari Injil Yudas ini kental mengajarkan aliran Gnosticism, yaitu yang mengajarkan kematian sebagai ‘pembebasan jiwa dari tubuh’. Aliran ini memang marak berkembang di abad-abad pertama, sehingga Rasul Paulus juga telah memberikan peringatan keras kepada umat tentang bahaya ajaran sesat ini dalam Injilnya:

“Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.” (Gal 1:6-9)

3) St. Irenaeus (180) juga mengingatkan umat akan bahaya ajaran sesat Gnosticism ini. Kesaksiannya terhadap ke-empat Injil yang mempunyai hubungan langsung dengan para rasul memberikan alasan penting untuk otoritas ke-empat Injil.

4) Yesus sendiri dalam Injil Matius dan Markus mengecam Yudas, dengan mengatakan demikian:

“Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Mat 26:24)

“Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Mrk 14:21)

Tidak mungkin Yesus yang telah mengatakan demikian, dan direkam oleh Matius dan Petrus (yang kemudian diajarkan kepada Markus), ternyata mengatakan hal yang sebaliknya kepada Yudas. Yesus yang mengecam Yudas karena  pengkhianatannya, tidak mungkin kemudian memujinya dan mengatakan bahwa sesungguhnya Yudas telah melakukan sesuatu yang benar. Yesus yang adalah kebenaran (Yoh 14:6), tidak mungkin mengatakan dua hal yang bertentangan sebagai kebenaran.  Maka, jika ada pernyataan yang berlawanan demikian, kita mengetahui bahwa salah satu pernyataan pasti salah/ bukan perkataan Yesus. Dan jika kita meyakini apa yang tertulis dalam Injil Matius dan Markus sebagai kebenaran, karena otoritas Gereja Kristus yang menentukannya, maka konsekuensinya, apa yang disebutkan dalam injil Yudas (pseudo- Yudas- karena kemungkinan besar tidak ditulis oleh Yudas) tersebut adalah salah. Injil Yudas ini tidak memiliki otoritas apapun, karena ajarannya berlawanan dengan pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja, dan bahkan sulit membuktikan bahwa injil ini adalah karangan rasul Yudas sendiri. Ini seperti tulisan seseorang yang memakai nama Yudas, dan ingin menentang keseluruhan Tradisi Suci, semacam Da Vinci Code, yang mengutip fakta sejarah yang fiktif pada jaman ini, untuk menyerang kebenaran Injil. Maka, dengan akal sehat dan iman, kita sesungguhnya dapat mengetahui bahwa yang tertera dalam injil Yudas tersebut adalah ajaran yang salah, seperti juga kita melihat tulisan tulisan anti- Gereja yang lain.

Pada akhirnya kita percaya bahwa Gereja Katolik telah dipercaya oleh Kristus untuk menjaga keaslian pengajaran-Nya. Maka kita ketahui bahwa Kitab Suci yang ada sekarang berasal dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Maka, jika injil Yudas tidak ada di dalamnya, itu bukan karena injil itu ‘hilang’ dan tidak ditemukan, namun karena ajaran yang tertera di dalamnya ‘asing’ dan bertentangan dengan ajaran Kitab-kitab yang lain. Jika kita dapat melihat bahwa yang disampaikan dalam injil Yudas tersebut adalah sesuatu yang salah, maka iman kita tidak perlu terguncang oleh ajaran yang tertulis di dalamnya. Karya tulis itu tidak diilhami oleh Roh Kudus, karena tidak mengandung kesatuan pengajaran dengan kitab-kitab yang lain dalam Alkitab.

Mat. 26:24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”
Mrk. 14:21 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

Apakah kematian seseorang sudah ditentukan Allah?

11

Pertanyaan:

Dear katolisitas,

Saya ingin bertanya, manusia pada akhirnya akan meninggal. Apakah kematian setiap orang itu memang sudah waktunya atau adakah orang yg bisa dikatakan meninggal sebelum waktunya? Bagaimana pendapat Gereja mengenai hal ini? Mohon penjelasannya. Trims, Thomas.

Jawaban:

Shalom Thomas,

Kematian adalah berakhirnya kehidupan kita di dunia ini. Rasul Paulus menggambarkan kematian sebagai peralihan hidup manusia: “kemah tempat kediaman kita di bumi” dibongkar, untuk menuju “suatu tempat kediaman di sorga” yang kekal (2 Kor 5:1).Maka, melalui kematian, memang tubuh kita akan binasa, namun jiwa kita akan tetap hidup selamanya. Pertanyaannya apakah berakhirnya kehidupan seseorang di dunia ini sudah waktunya atau adakah kematian sebelum waktunya?

Pertanyaan ini mensyaratkan kita mengetahui secara prinsip pengetahuan ilahi Tuhan (the divine foreknowledge of God) yang tiada terbatas (Sumber: Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 41):

1. Tuhan mengetahui semua kejadian yang nyata, baik di masa lalu, sekarang maupun yang akan datang (scientia visionis). – De fide.
Dalam hal ini, Tuhan melihat semuanya itu sebagai ‘saat ini’, sebab Ia tidak terbatas oleh waktu.

2. Dengan pengetahuan akan penglihatan (scientia visionis), Tuhan telah melihat terlebih dahulu dengan kepastian yang tidak mungkin salah,  segala tindakan di masa yang akan datang yang ditimbulkan dari kehendak bebas manusia. – De fide.
Dalam pengertian inilah Yesus telah lebih dahulu mengetahui bahwa Yudas Iskariot akan mengkhianati-Nya, namun Ia tidak men-takdirkan Yudas untuk mengkhianati-Nya. Yudas menggunakan kehendak bebasnya untuk mengkhianati Yesus, dan Yesus mengizinkan hal itu terjadi, untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar dari kejahatan Yudas. [Oleh pengkhianatan Yudas, Yesus wafat dan bangkit dari mati, untuk mendatangkan keselamatan bagi manusia dengan mengalahkan kuasa dosa dan maut].

Maka dengan kedua prinsip ini, kita mengetahui bahwa Allah telah mengetahui dari sejak awal mula, akan segala yang akan terjadi dalam kehidupan tiap-tiap orang, termasuk kapan dan bagaimana kita akan meninggal dunia. Namun Ia tidak mentakdirkannya demikian, karena sedikit banyak ada faktor kehendak bebas manusia yang terlibat, ataupun ada faktor penderitaan yang diizinkan oleh Tuhan untuk terjadi dalam kehidupan seseorang dengan tujuan untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar. Karena Tuhan Maha tahu, Ia sudah terlebih dahulu mengetahui semuanya ini.

Manusia dapat meninggal dunia karena sesuatu yang kelihatannya tiba-tiba dan tak terduga, seperti kecelakaan lalu lintas atau bencana, tetapi juga dapat terjadi karena akumulasi kebiasaan hidup yang kurang baik, misalnya bekerja tanpa istirahat, makan tidak teratur atau tidak seimbang, kurang berolah raga, terkena polusi, dst. Hal-hal ini kemudian menjadikan seseorang jatuh sakit, dan kemudian meninggal. Allah sudah mengetahui sejak awal, akan apa yang menjadi pilihan kita dalam hidup ini yang dapat menghantar kepada kematian kita. Maka tidak ada yang menjadi “surprise” bagi Tuhan; dan dengan demikian, kita tidak dapat berkata bahwa seseorang meninggal sebelum waktunya, seolah-olah Tuhan sudah menentukan suatu waktu, tapi kemudian terjadi sesuatu yang di luar rencana/ pengetahuan Tuhan. Maka yang benar adalah Tuhan mengizinkan kematian seseorang terjadi, yang jika diperhatikan merupakan akibat dari sesuatu yang telah lebih dahulu terjadi, entah itu penyakit, kecelakaan, kejadian tragis, dst., namun semua kejadian yang negatif tersebut bukan rancangan Allah. Allah hanya mengizinkan semua itu terjadi, untuk membongkar ‘kemah manusia di bumi’ untuk  memberikan kehidupan abadi.

Memang pada akhirnya kita harus menerima hal penderitaan dan kematian sebagai suatu misteri yang tak sepenuhnya dapat kita pahami pada saat kita masih hidup di dunia ini. Namun sebagai orang beriman, mari berpegang pada ajaran Kristus, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, …..takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat 10: 28)

Sebab kehidupan kita yang sesungguhnya bukan yang di dunia ini, tetapi kehidupan yang kekal bersama Tuhan di surga. Dan memang yang menentukan apakah kita bisa masuk dalam surga atau tidak adalah Tuhan. Maka “takut kepada Tuhan”/ fear of the Lord, ini harusnya membawa kita kepada kebijaksanaan yang mengakui bahwa hidup kita ini ada di tangan Tuhan, dan kita harus mengisinya dengan sebaik-baiknya dengan menjalankan kehendak dan perintah-perintah-Nya, agar pada saatnya nanti Tuhan menerima kita sebagai milik-Nya dan mengizinkan kita memasuki kehidupan ilahi bersama-Nya di surga.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Bolehkah memohon leluhur mendoakan kita?

31

Pertanyaan:

Shallom bu inggrid dan pak stef,

Berkaitan dengan api penyucian ini, apakah berlaku sebaliknya orang yang sudah meninggal (bukan santo/santa) dan dlm api penyucian bisa mendoakan kita yang masih hidup? terus terang saya bingung karena ada yang bilang leluhur kita menyertai kita. Lebih bingung lagi dengan kebiasaan keluarga suami pada waktu berdoa untuk pindah rumah. Mamanya membuat makanan dan minuman yang ditaruh dengan harapan leluhur atau orang tua atau keluarga yang sudah meninggal datang dan mendoakan/memberkati keluarga saya. Bahkan sepertinya mereka percaya bahwa leluhur dan keluarga yang sudah meninggal itu bisa “membantu” atau ikut campur tangan dalam kehidupan kita yang masih di dunia. Mohon penjelasannya. Terimakasih. Tuhan memberkati, Ririn

Jawaban:

Shalom Ririn,

Sebenarnya, tidak ada pengajaran definitif dari Magisterium Gereja Katolik yang menyebutkan boleh atau tidaknya kita memohon agar jiwa-jiwa yang masih ada di dalam Api Penyucian untuk mendoakan kita. Yang ada, memang adalah kita diperkenankan memohon agar para jiwa orang beriman yang ada di surga untuk mendoakan kita (KGK 956). Gereja memang mengumumkan Para Santa/ Santo sebagai para beriman yang sudah pasti berada di surga setelah melalui proses kanonisasi Gereja. Sedangkan walaupun kita dapat mempunyai pengharapan bahwa kerabat kita yang telah mendahului kita dapat masuk surga, namun sesungguhnya kita tidak dapat mengetahui secara pasti apakah mereka saat ini sudah berada di surga, atau masih berada dalam Api Penyucian.

Namun demikian, jika kita melihat prinsip adanya kesatuan Gereja yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu Gereja yang 1) masih berziarah di dunia, 2)yang sudah jaya di surga, maupun 3) yang masih harus dimurnikan di Api Penyucian, maka, sesungguhnya, kita diikat oleh satu kesatuan (lih. KGK 954, Lumen Gentium 49). Dengan pengertian ini, maka, sebetulnya kita dapat mendoakan para jiwa yang masih dimurnikan di Api Penyucian, dan dapat juga memohon agar mereka mendoakan kita yang masih berziarah di dunia. Praktek mendoakan jiwa para beriman yang masih berada dalam Api Penyucian ini dan memohon agar mereka mendoakan kita, diajarkan oleh beberapa Orang Kudus, diantaranya adalah St. Alfonsus Liguori, St. Katharina dari Siena, dan Padre Pio.

Teks doa devosi kepada jiwa-jiwa yang dalam Api Penyucian,  seperti yang diajarkan oleh St. Alfonsus adalah sebagai berikut:

O most sweet Jesus,
through the bloody sweat which Thou didst suffer in the Garden of Gethsemane,
have mercy on these Blessed Souls.
Have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer during Thy most cruel scourging,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer in Thy most painful crowning with thorns,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer in carrying Thy cross to Calvary,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer during Thy most cruel Crucifixion,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

O most sweet Jesus,
through the pains which Thou didst suffer in Thy most bitter agony on the Cross,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

O most sweet Jesus,
through the immense pain which Thou didst suffer in breathing forth Thy Blessed Soul,
have mercy on them.
R. Have mercy on them, O Lord.

(State your intention(s) here while recommending yourself to the souls in Purgatory.)
Blessed Souls, I have prayed for thee;
I entreat thee, who are so dear to God,
and who are secure of never losing Him,
to pray for me a miserable sinner,
who is in danger of being damned,
and of losing God forever.

Amen.

Maka dengan prinsip bahwa 1) kita sebagai sesama umat beriman dapat dan bahkan dianjurkan untuk saling mendoakan (1 Tim 2: 1), dan 2) tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita umat beriman (baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal) dari kasih Kristus (Rom 8:38). Maka sangatlah masuk akal bahwa kita dapat saling mendoakan dengan sesama umat beriman, tidak hanya antar sesama umat yang masih hidup, namun juga dengan sesama umat beriman yang telah meninggal dunia dalam kondisi rahmat. Memang, mereka yang sudah berada di surga tidak membutuhkan doa-doa kita, namun kita dapat memohon pertolongan mereka untuk mendoakan kita, justru karena persatuan mereka dengan Tuhan. Mereka yang masih di Api Penyucian membutuhkan doa-doa kita, sebab mereka masih dalam proses pemurnian atas cinta diri, sehingga tidak dapat mendoakan diri mereka sendiri. Namun, mereka dapat mendoakan kita yang masih berziarah di dunia ini, terutama jika intensinya adalah untuk pertobatan. Selanjutnya, jika mereka sampai di surga, merekalah yang nantinya akan mendoakan kita, agar kitapun dapat sampai ke surga.

Maka, meskipun kita dapat memohon para beriman yang telah meninggal dunia untuk mendoakan kita, namun yang mengabulkan doa tetap Tuhan saja, dan bukan mereka. Maka menurut saya, sudah terjadi ‘salah kaprah’  jika diadakan persembahan makanan dalam acara sembahyangan kepada arwah leluhur, dan mohon intensi doa yang nadanya seolah-olah mereka itulah yang bisa mengabulkan doa kita. Sebab, persembahan kita hanya ditujukan kepada Tuhan saja, dan yang boleh kita lakukan hanya memohon agar mereka mendoakan kita (itupun dengan catatan kita tahu bahwa leluhur kita adalah orang yang sungguh beriman dan wafat dalam keadaan rahmat). Jadi prinsipnya, sama seperti jika kita mohon kepada sesama umat beriman yang masih hidup untuk mendoakan kita. Jika pihak keluarga ingin mengenang leluhur dengan membuat makanan kesukaan mereka, boleh-boleh saja, tetapi tidak untuk dipersembahkan dalam upacara sembahyangan. Setelah meninggal, mereka baik yang di surga maupun di Api Penyucian tidak lagi mempunyai tubuh yang dapat menikmati makanan.

Semoga ini dapat menjadi masukan bagi Ririn. Ya, memang terdapat tantangan tersendiri jika anda berasal dari keluarga yang masih berpegang pada tradisi leluhur yang demikian. Tetapi jika kita sudah mengikut Kristus, mari kita dengan rela hati mengikuti aturan Kristus. Kita boleh, bahkan harus menghormati dan mendoakan jiwa-jiwa leluhur kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus, khususnya pada tgl 1- 8 November, dan kita dapat pula mendoakan doa yang diajarkan oleh St. Alfonsus Liguori, seperti tertulis di atas. Namun selebihnya, mari jangan kita mencampur-adukkan dengan cara penghormatan leluhur yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Berkarya bagi Tuhan melalui hal-hal sederhana

26

Berikut ini adalah kesaksian saudari kita, Teresa Sigrit Rahayu Kusumawati, yang akrab dipanggil Sigrit. Sigrit berasal dari keluarga Protestan, dan dari sanalah timbul kerinduan untuk melayani Tuhan. Seiring dengan waktu dan pengalaman bersekolah di sekolah Katolik, Sigrit mengisahkan perjalanan imannya sampai akhirnya ia menjadi seorang Katolik. Berawal dari ketertarikannya pada ketenangan ibadah dalam gereja Katolik, Sigrit kemudian tertarik untuk lebih mempelajari tentang iman Katolik. Ternyata, semakin dipelajari, semakin hatinya menemukan kedamaian dan keutuhan ajaran tentang iman dan kasih yang tak terpisahkan.

Sigrit sekarang menjalani panggilan hidupnya sebagai ibu yang bekerja dari dua orang anak, dan ia melakukan juga tugas-tugas kerasulan dengan keterlibatannya dalam perkumpulan Katolik di tempatnya bekerja. Terima kasih, Sigrit, atas kesaksianmu. Semoga penghayatan imanmu yang tak terpisahkan dari perbuatan kasih mengilhami banyak orang. Sebab benar, sebagai murid Kristus, kita harus mengingat ayat ini:

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17)

Semoga iman yang kita miliki dapat menjadi pedoman yang menuntun hidup dan perbuatan kita, yang tak terpisahkan dari pergaulan, pembicaraan dan kehendak kita, baik di dalam keluarga di rumah, maupun juga di tempat kerja, dan di manapun juga.

Shalom, nama saya Sigrit. Lengkapnya Sigrit Rahayu Kusumawati (banyak yang bilang semakin ke belakang namanya semakin jawa, padahal saya bukan orang Jawa loh). Saya dilahirkan di Denpasar 10 Juni, 28 tahun yang lalu. Papi saya orang Bali asli seorang pekerja keras, dan sangat disiplin. Mami saya orang Finlandia, seorang ibu rumah tangga, seorang pelayan Tuhan yang sejati. Keluarga besar saya di Bali adalah keluarga Kristen Protestan yang giat melayani, bahkan rumah kami di kampung dijadikan gereja. Dari merekalah saya mengenal Kristus, sebagai seorang Protestan. Saya hanya mengetahui sedikit sekali tentang kampung halaman saya, karena setelah saya berumur lima tahun, kami sekeluarga pindah ke Jakarta, awal-awal di Jakarta pun kami harus berpindah-pindah tempat untuk kontrak rumah atau numpang dirumah saudara, sebelum akhirnya setelah saya duduk dikelas 3 SD saya benar-benar merasakan punya rumah sendiri. Tidak banyak kenangan yang saya dapat ingat mengenai masa kecil saya, mungkin karena terlalu sering pindah rumah.

Boleh dikatakan keadaan keluarga saya adalah broken home, karena komunikasi antar keluarga terutama suami istri tidak berjalan sebagaimana mestinya. Broken home bukan karena orang tua bercerai. Saya anak ke dua dari tiga bersaudara. Saya memiliki kakak perempuan dan adik laki-laki. Saya dan Kakak saya berjarak tiga tahun, sedangkan dengan adik saya, emapat tahun. Ada yang khusus dengan adik saya, dia penderita Down Syndrome (mungkin disinilah awal kekecewaan papi terhadap anak harapannya). Mungkin anda beranggapan saya pastilah memiliki panutan seorang kakak perempuan. Namun anda salah besar, karena kakakku adalah seorang pemberontak. Ya, karena pergaulan yang tidak benar dan kurangnya control dari orangtua, dia hamil di luar nikah waktu SMA (saya masih SMP waktu itu). Saking kecewanya, Papi akhirnya memborbardir saya dengan pernyataan yang diulang-ulang seperti ini: “Lihat, kakakmu sudah begitu, dan adikmu sudah tidak mungkin diandalkan, maka kamu harus jadi orang yang berhasil supaya ada yang bisa dibanggakan dari keluarga ini.” Bayangkan, anak ABG 14 tahun sudah didoktrinasi semacam ini. Saya pun tumbuh menjadi orang yang sangat penurut karena takut, seorang yang tidak dapat mengambil keputusan sendiri, seorang pencemas dan pemikir, seorang yang selalu penuh dengan kekhawatiran. Jadilah saya seperti orang yang merasa tidak mempunyai pegangan, tidak memiliki seseorang yang dapat saya andalkan, selain teman-teman saya.

Namun, saya adalah anak yang pintar dan di balik kecemasan saya, saya berpura-pura menjadi seseorang yang sangat ramah, agar orang-orang tidak tahu saya sedang sedih. Ya, seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Sejak SMP, setiap selesai sekolah saya tidak pernah langsung pulang ke rumah. Saya pasti ke rumah teman sampai sore, dan baru pulang rumah setelah jam enam sore. Saya paling malas ke sekolah minggu karena saya berpikir dari Senin sampai Sabtu saya sudah sekolah, masak hari Minggu saya harus sekolah lagi, kapan liburnya…..? Dengan berbagai alasan saya selalu menolak.

Sampai pada suatu hari saya berkenalan dengan seorang teman baru di SMP saya. Dia yang akhirnya memperkenalkan kembali konsep keTuhanan dan Gereja kepada saya. Saya diajak ke gereja tempat dia biasa kebaktian, sebuah Gereja Pantekosta. Hasilnya luar biasa, saya lama-lama menjadi aktif sekali di sana, malah lebih aktif dari teman saya itu, entah itu merupakan suatu panggilan atau hanya pelarian. Saya menjadi singer, menjadi Guru Sekolah Minggu dan mengajar menari. Hal tersebut berlanjut samapai saya di SMA. Saya aktif di organisasi Kristen di sekolah, termasuk anak yang paling berpengaruh di lingkungan organisasi tersebut, tapi anehnya, cara hidup dan tingkah laku saya sama sekali tidak memcerminkan anak Tuhan. Tetapi toh menurut saya waktu itu, melayani Tuhan dan pergaulan saya adalah dua hal yang sangat berbeda dan keduanya tidak dapat dicampuradukkan.

Menjelang kelas 3 SMA Papi saya bertanya, karena beliau merasa ‘aneh’ melihat saya sangat santai, tidak pernah ikut bimbingan belajar untuk UMPTN. “Sigrit, kamu mau kuliah di mana nanti?” Dengan enteng saya menjawab, “Mau di Tarakanita saja Pi, jurusan sekretaris, biar kuliah tiga tahun saja bisa langsung kerja, jadi Papi ga repot”. Ya, saya sudah menyiapkan semuanya, saya sudah tau saya akan kuliah di Tarakanita. Karena jarak antara kampus dan rumah sangat jauh, maka saya minta masuk asrama. Alasannya,  supaya tidak terlambat kuliah. Padahal ini hanya merupakan salah satu alasan untuk “melarikan diri dari rumah”. Dengan tekad bulat saya tidak ikut UMPTN, saya tidak ikut test masuk perguruan tinggi manapun, kecuali test masuk Tarakanita. Malamnya sesudah selesai test saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Sepertinya hanya doa ini yang pernah saya doakan dengan paling sungguh-sungguh masa itu! Tuhan menjawab doa saya, saya lulus dan berhasil masuk asrama.

Di asrama, saya terkaget-kaget dengan sistem pengajaran di sebuah akademi Katolik, luar biasa disiplin dan ketat. Kami semua satu angkatan terdiri dari 600 orang, jadi total di kampus itu ada 1800 orang calon sekretaris yang semuanya perempuan. Hanya segelintir orang yang masuk asrama, hanya 120 orang dari tiga angkatan. Di asrama sendiri tidak ketat, hubungan antar kami dekat sekali seperti kakak-beradik. Namun di sinilah iman Katolik saya bertumbuh. Karena menjadi anak Asrama Mediatrix, saya harus mengikuti semua kegiatan yang diprogramkan termasuk doa malam di kapel.

Saya termasuk anak yang rajin ke kapel. Pertama-tama, saya melihat dan berkata dalam hati, “Cara berdoa orang Katolik aneh sekali, membosankan, begitu hening, tidak ada tepuk-tepuk tangannya, tapi kok pada tahan ya?” Itu anggapan saya pertama kali ikut doa malam. Anehnya lagi ketika saya ikut doa rosario, batin saya berperang… apa saya sudah benar ikut-ikut doa begini, kan ngga boleh menyembah yang lain selain Tuhan, tapi kenapa kita berdoa dengan menyebut nama Maria? Kan dia juga manusia sama seperti kita… Berbulan-bulan hati saya berkecamuk.. tidak tenang, gelisah.

Tetapi pelan-pelan saya penasaran, saya belajar sendiri, saya bertanya dengan teman-teman, dengan pastur, dengan para biarawati yang tinggal di biara belakan kapel, lewat buku dan sebagainya. Saya belajar, bahwa orang-orang Katolik tidak menyembah Maria. Mereka menghormatinya karena Maria adalah Bunda Kristus yang sudah dipersiapkan Allah sejak awal untuk dikuduskan bagi Kristus. Orang Katolik juga menghormati Malaikat dan Orang Kudus karena mereka dekat kepada Allah dan mereka senantiasa berkomunikasi kepada Allah. Sebuah konsep yang sama sekali asing buat saya sebagai seorang Protestan, yang sama sekali tidak pernah mengenal konsep Maria dan orang Kudus, malaikat, dan sebagainya. Yang saya pelajari selama ini di gereja Protestan adalah bahwa Maria adalah manusia biasa yang dipakai Tuhan untuk melahirkan Kristus. “Kita tidak menyembah atau berdoa kepada yang lain selain kepada Kristus saja. Tidak juga berdoa kepada santo/santa karena mereka juga manusia yang pasti ada dosanya,” itu kata Pendeta saya waktu itu. Bagi gereja tempat saya beribadah, menjadi Katolik adalah sesuatu yang murtad dan “haram” karena sudah jelas-jelas menyembah patung. (Setelah saya menjadi Katolik, saya menyadari betapa kelirunya pandangan ini. Orang Katolik tidak berdoa kepada Maria dan orang Kudus, dan juga tidak menyembah patung. Orang Katolik hanya berdoa memohon agar Maria dan para orang kudus itu mendoakan mereka).

Tetapi anehnya, semakin diyakinkan oleh Pendeta saya, saya semakin merasa penasaran ingin tahu lebih banyak lagi tentang kebenaran Gereja Katolik. Saya tidak pernah ke gereja saya lagi sejak tahun kedua saya di Tarakanita. Saya jarang pulang karena situasi di rumah juga sangat tidak nyaman, karena banyak pertengkaran orang tua. Setiap minggu pagi saya selalu antusias untuk ke gereja St. Anna bersama teman-teman saya yang Katolik, walaupun tidak ikut komuni. Saya mendengarkan homili, saya merasakan tenangnya keheningan gereja, saya berdoa minta petunjuk pada Tuhan, saya harus bagaimana. Tuhan tidak langsung menjawab atau memberikan jalan. Menurut saya, Tuhan hanya ingin melihat kesungguhan saya untuk menjadi seorang Katolik.

Selepas kuliah saya belum juga menjadi Katolik, tapi saya dipertemukan Tuhan oleh seorang yang luar biasa yang menunjukkan jalannya kepada saya.  Dia seorang Katolik yang taat. Darinyalah saya belajar berdoa kembali setelah lama sekali tidak berani berdoa karena bingung dan takut salah. Dia meminjamkan buku doa kecil kepada saya, dan berkata, “Buku ini adalah hadiah krisma dari pastur parokiku waktu itu. Isinya banyak doa-doa. Kamu bisa belajar berdoa lagi dari buku ini.” Dia menyarankan kalau saya serius untuk menjadi Katolik lebih baik saya belajar dalam kursus katekumen di gereja.  Akhirnya saya mendaftar kursus di Gereja dekat rumahnya. Ternyata dia yang mengajakku itu akhirnya menjadi suami saya.

Tuhan menjawab doa saya, saat saya minta izin menjadi Katolik kepada Mami saya. Beliau senang sekali, katanya pada calon suami saya waktu itu: “Terimakasih, kamu sudah mengembalikan Sigrit ke jalan Tuhan.” Wow, saya tidak pernah mengira akan semulus ini jalannya. Lain cerita dengan reaksi Pendeta saya. Beliau hanya diam, tapi sejak saat itu, setiap kali bertemu, beliau selalu “menyempatkan diri” untuk mengajak saya kembali ke kebaktian di gerejanya dengan berbagai cara. Sampai-sampai saya merasa kok sepertinya dia berfikir saya dan suami saya adalah orang yang paling berdosa dan paling perlu diselamatkan dari Gereja Katolik.

Teman-teman kantor juga mulai bertanya, kenapa saya berpindah ke Gereja Katolik. Mereka pikir saya ikut-ikutan hanya karena ingin menikah dengan suami saya. Lalu saya bercerita tentang mengapa saya menjadi Katolik, mereka malah berkata, “Kamu kan tahu Gereja Katolik itu kayak apa bobroknya, masak dosa bisa dihapus pake surat?” (Setelah saya menjadi Katolik, saya mengetahui, yang dibicarakan adalah penyimpangan ajaran tentang Indulgensi, yang terjadi di abad ke-16). Saya hanya tersenyum dan berkata, “Memang di jaman dahulu terjadi penyimpangan dalam penerapan ajaran Gereja, walaupun sebenarnya, ajarannya tidak salah. Lagipula,  sekarang sudah tidak ada lagi penyimpangan itu. Dan Bapa Paus bahkan mengakui bahwa hal tersebut adalah kesalahan yang dilakukan oleh putera- puteri Gereja Katolik di masa lalu. Selanjutnya Gereja memperbaiki diri dan bertumbuh dari situ, untuk menjadi Gereja yang lebih baik. Sama seperti kita, Paus-paus terdahulu juga manusia biasa, yang bisa juga berdosa dan melakukan kesalahan, namun jangan lupa, mereka itu sudah dipilih Tuhan untuk menggantikan Rasul Petrus. Maka walaupun mereka dapat melakukan kesalahan sebagai manusia, namun pada waktu melaksanakan wewenang mengajar, mereka tidak dapat salah, karena kuasa Kristus sendiri yang menjamin demikian.” Pertanyaan seperti ini bukan hanya satu atau dua kali. Bahkan ada yang mengajak berdebat, namun saya menolak. Menurut saya percuma saja, maka saya katakan padanya, “Kalau mau cari info lebih lanjut, tanyalah kepada Pastur yang lebih tahu banyak atau baca buku, tapi jangan ajak saya debat, saya tidak mau”.

Saya diterima secara resmi di Gereja Katolik 31 Juli 2004 dengan mengambil nama baptis Theresa (St. Teresa dari Kanak-kanak Yesus) karena saya sebenarnya dibaptis di gereja protestan pada bulan Oktober, bulannya St. Teresa dan saya mau meneladani semangat St. Teresa berkarya bagi Tuhan melalui hal-hal yang kecil, untuk mengasihi Tuhan dan semua orang karena Tuhan mengasihiku.

Yang saya pelajari dari menjadi Katolik adalah menjadi pribadi yang lebih stabil, tidak melayani Tuhan hanya karena pelarian, tetapi karena Tuhan sendiri. Selanjutnya, saya belajar bahwa iman harus nyata dalam perbuatan, dan bukan hanya dalam perkataan saja, agar hidup kita dapat menjadi contoh dan teladan bagi orang lain. Saya menyanggupi panggilan hidup berkeluarga, menjadi istri dan ibu yang bekerja dari dua orang anak, Sebastian 3,5 thn dan Rafael 5 bulan. Saya melayani keluarga untuk Tuhan, dan aktif menjadi pengurus Perkumpulan Katolik di gedung Sentra Mulia tempat saya bekerja.

Saya, suami dan anak pertama kami Sebastian, biasanya mengikuti misa kedua di Gereja kami St. Matius Penginjil Bintaro. Anakku selalu berusaha untuk mengikuti dengan khidmat keseluruhan misa (dengan gaya kanak-kanaknya yang menggemaskan tentunya) dan selalu antusias untuk bersalaman dengan “Opa Pastur-nya” setiap kali habis misa. Pastur Paroki ingat sekali padanya, dan selalu berpesan…, “Jadi Uskup ya kalau sudah besar.” Sebastian tersenyum senang dan saya mengaminkannya. Semoga Tuhan mengijinkan…

Tentang Bunda Maria dan St. Yusuf

17

Pertanyaan:

Hi Mba Inggrid, Pak Stef dan semuanya,

mau nanya nih..soalnya sampe sekarang masih penasaran:

1 . setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, kemana Bunda Maria pergi. apakah Bunda Maria itu meninggal dulu baru kemudian di angkat ke surga?? dimana kuburnya? hidup sampai umur berapa??

2. Santo Yosef (suami Bunda Maria) perannya bersama Yesus berdasarkan KS PB hanya sampai pada saat mereka menemukan Yesus yang waktu itu umur 12 thn di dalam Bait Allah. setelah itu kemana st.Yosef pergi? apakah Dia tetap hidup membesarkan Yesus bersama Bunda Maria di nazareth?

thanks atas jawabannya.

Jawaban:

Shalom Bellarminus,

1. Memang tidak dapat diketahui dengan pasti di mana Bunda Maria hidup setelah hari Pentakosta. Dikatakan mungkin ia hidup di Yerusalem seterusnya sampai ia wafat, atau bisa juga, dia tinggal selama beberapa saat di Efesus, sehingga ada tradisi yang mengatakan Maria wafat dan dikubur di sana. Namun tradisi yang umum dipegang oleh para Bapa Gereja sampai abad ke-2 adalah bahwa Maria wafat di Yerusalem. Tradisi ini diperoleh dari tulisan St. Klemens dari Alexandria (136) dan Apollonius (137) yang mengisahkan perintah dari Tuhan Yesus kepada para rasul untuk mengajar di Yerusalem dan Palestina selama 12 tahun sebelum pergi seluruh dunia. Catatan ini menyimpulkan bahwa Bunda Maria wafat sekitar tahun 48, sebelum Rasul Yohanes pergi meninggalkan Yerusalem.

Memang tradisi mengatakan Bunda Maria wafat, sebelum ia diangkat ke surga oleh Tuhan. Walaupun demikian, wafatnya Bunda Maria bukan karena ia berdosa, namun kerena ingin mempersatukan dirinya dengan Kristus, yang juga mengalami kematian, meskipun Dia tidak berdosa. Kematian Bunda Maria adalah juga merupakan puncak yang melengkapi kehidupannya yang penuh dengan pengorbanan. Menurut Tradisi Gereja Katolik, setelah wafatnya, Bunda Maria segera diangkat ke surga tubuh dan jiwanya, sehingga memang tidak ditemukan secara pasti di mana kuburannya, ataupun jenazahnya. Jika anda ingin mengetahui dasarnya mengapa Gereja Katolik mengajarkan Bunda Maria diangkat ke surga, silakan klik di sini. Menurut tradisi, dikatakan bahwa kubur Bunda Maria ada di lembah Kidron, meskipun ada juga yang mengatakan kemungkinan kuburnya ada di Efesus. Tetapi di sini yang ada tentu hanya ‘kubur kosong’. Silakan membacanya lebih lanjut di link ini, silakan klik.

2. Tentang St. Yusuf. Memang di Kitab Suci ia tidak lagi dibicarakan setelah kisah Yesus diketemukan di Bait Allah pada usia 12 tahun. St. Yusuf sudah tidak disebutkan pada waktu Yesus mengajar, ataupun pada saat Ia wafat di salib. Maka tradisi mengatakan St. Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus mulai mengajar. Sebab tidak mungkin Yesus (pada saat terakhirnya di kayu salib) memasrahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid yang dikasihi-Nya, jika St. Yusuf masih hidup. Memang ada beberapa tradisi tentang St. Yusuf, ada yang menceritakan ia sudah tua saat mengambil Maria sebagai istrinya, namun ada juga yang tidak mengatakan demikian. Menurut kisah penglihatan seorang biarawati dari Agreda (Spanyol),  bernama Maria yang terberkati (1602-1665),  St. Yusuf mengambil Bunda Maria sebagai istrinya ketika ia berumur sekitar umur 33 tahun, sedangkan Bunda Maria umur sekitar 14 tahun.  Jika anda ingin membaca lebih lanjut mengenai hal ini, silakan klik di link ini, yang  juga menceritakan kematian St. Yusuf yang damai/ menyenangkan. St. Yusuf meninggal dunia di usia perkawinan ke 27 tahun, jadi sebelum Yesus mengajar.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listati, www.katolisitas.org

Apakah arti kutuk?

43

Pertanyaan:

Apa dan bagaimana sebenarnya ajaran Gereja Katolik tentang KUTUK seperti yang misalnya tersebut baik di Perjanjian Lama (mis. Ul.11: 26, 28) atau di Perjanjian Baru (mis. Yak.3: 9,10 dll).
Terima kasih banyak atas tanggapannya.
Soenardi Djiwandono

Jawaban:

Shalom Pak Soenardi,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang kutuk. Kutuk dapat kita definisikan sebagai “to call down evil on someone or something“. Dan hal ini dapat berupa suatu perintah, dan dapat juga dalam bentuk keinginan yang diekspresikan dalam kata-kata yang begitu kuat. “Evil” dapat bersifat spiritual atau fisik dan dapat berupa sementara atau selamanya.

Di dalam Perjanjian Lama kita sering menjumpai kutuk, seperti yang kita baca di “14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:” (Kej 3:14,17)
Namun kalau kita lihat motif dari semuanya itu adalah berkat, seperti yang kita baca “22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej 1:22,28)

Kita melihat bahwa berkat dan kutuk adalah dua hal yang memang terbentang di hadapan manusia, dua hal yang ditawarkan oleh Tuhan. Kutuk adalah jalan kematian, karena mengikuti dosa, yang berarti mengikuti jalan yang bertentangan dengan Tuhan. Dan berkat adalah merupakan konsekuensi untuk mengikuti jalan Tuhan, sehingga manusia memperoleh hidup. Tuhan mengatakan “26 Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: 27 berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 28 dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.”  (Deu 11:26-28). Oleh karena itu, kutuk merupakan satu paket dengan dosa, karena memang kodrat dari dosa yang membawa maut. (lih. Rm 6:23).

Kita melihat beberapa contoh di Perjanjian Lama bagaimana Tuhan mengutuk barang / orang-orang yang berdosa (lihat sumber ini – silakan klik), seperti Tuhan mengutuk: a) ular (Kej 3:14); b) bumi (Kej 3:17); Kain (Kej 4:11); c) orang yang tidak tidak menjalankan hukum Tuhan (Im 26:14-25; Ul 27:15). Lebih lanjut kita juga menjumpai a) Nabi Nuh mengutuk Kanaan (Kej 9:25); b) Yoshua mengutuk orang yang akan membangun kota Yerikho (Yos 6:26-27). Di dalam Perjanjian Baru, Yesus juga mengutuk pohon ara (Mk 11:13-14), mengutuk Khorazim, Betsaida (Mt 11:21), mengutuk orang kaya, farisi, juga mengutuk orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam api neraka (Mt 25:41).

Namun demikian, Yesus memerintahkan para murid untuk memberkati orang yang mengutuk mereka (Lk 6:28), yang juga dipertegas oleh rasul Paulus untuk memberkati siapa yang menganiaya mereka (Rm 12:14). Namun demikian rasul Paulus juga mengutuk mereka yang berkotbah tentang Injil yang lain selain yang dikotbahkannya (Gal 1:8) dan juga orang yang tidak mengasihi Tuhan (1 Kor 16:22) dan juga (Kis 23:3). Namun sekali lagi rasul Paulus juga mengatakan bahwa Kristus telah menebus manusia dari kutuk hukum taurat (Gal 3:13).

Dari beberapa contoh di atas tentang berkat dan kutuk, maka kita dapat menyimpulkan bahwa:

1) Ada kutuk yang ditujukan kepada manusia maupun kepada alam. Namun, kita tidak dapat mengartikan kutuk secara literal. Sebagai contoh, kalau Tuhan mengatakan terkutuklah tanah (Kej 3:17), maka kita harus melihat bahwa alam yang harus diolah terlebih dahulu untuk dapat menghasilkan adalah suatu hukuman bagi manusia karena dosa manusia. Atau kalau kita melihat Ayub yang mengutuk hari kelahirannya (Ay 3:1), maka kita harus mengartikannya sebagai suatu ungkapan yang merujuk kepada penderitaan yang harus ditanggungnya.

2) Kutuk (dalam arti yang lebih luas) dalam bentuk suatu perintah dari orang yang mempunyai kuasa atas kita, yang merupakan manifestasi keadilan adalah bukan suatu dosa. Hal ini dapat dilihat misalkan seorang hakim menjatuhkan hukuman kepada penjahat. Dan dalam supernatural order (adi-kodrati), Tuhan juga memanifestasikan keadilan dengan memberikan hukuman abadi kepada orang-orang yang melawan kasih dan kebenaran (Mt 25:41). Pada saat Tuhan memberikan kutuk, seperti yang tercatat di Alkitab, maka Tuhan pada saat yang bersamaan memberikan jalan kepada manusia untuk bertobat. Dalam konteks ini, sama seperti Gereja Katolik yang memberikan ekskomunikasi seseorang dengan harapan bahwa orang tersebut sadar dari kesalahannya dan kemudian kembali ke pangkuan Gereja, dan orang tersebut dapat menghindari kutuk abadi di neraka. Silakan klik di sini untuk mengetahui tentang ekskomunikasi. Atau contoh yang lain adalah seorang dokter dengan terpaksa memotong kaki pasien yang terkena suatu penyakit untuk menyelamatkan nyawanya.

3) Kutuk yang menginginkan seseorang mengalami kecelakaan, dll. adalah bertentangan dengan kasih dan keadilan. Rasul Paulus mengatakan “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” (Rm 12:1).
Kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kutuk. Kita harus meniru apa yang dicontohkan oleh martir pertama, Stefanus, dan juga yang dilakukan oleh martir-martir yang lain. Dan inilah yang ditunjukkan oleh Yesus, pada waktu Dia sendiri mengampuni segala kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang yang menyalibkan-Nya (lih. Lk 23:34). Ini adalah suatu tantangan bagi kita semua yang telah menerima Kristus melalui pembabtisan. Dan hal ini adalah merupakan perjuangan seumur hidup.

Rasul Yakobus mengingatkan kita semua bahwa sulit sekali untuk mengendalikan lidah. Dia berkata “9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, 10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yak3:9-10). Hal ini dikarenakan “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (Jm 3:6). Kalau kita menghitung mungkin ada begitu banyak “profanity” (kata-kata kotor dan tidak baik), yang tidak seharusnya diucapkan oleh anak-anak Tuhan. Kita sering mendengar, seperti di film-film yang mengeluarkan bahasa-bahasa yang tidak baik dan tidak santun, yang dianggap menjadi suatu bahasa yang normal. Walaupun orang tersebut tidak mempunyai maksud seperti apa yang diucapkan – misalkan “go to hell” -, maka orang tersebut tetap berdosa karena melakukan “vain speech” atau kata-kata yang sia-sia, yang tidak membangun.

4) Akhirnya, kita semua yang telah dibaptis tidak usah takut akan kutuk dari turunan sebelumnya, atau hal-hal lain, karena Sakramen Baptis telah memurnikan kita. Dengan menerima Sakramen Baptis, maka kita telah mengenakan Kristus, yang telah mengambil kutuk hukum Taurat (Gal 3:13). Oleh karena itu, retret pohon keluarga yang bertujuan untuk menghapus kutuk dari nenek moyang tidaklah sesuai dengan daya guna dari Sakramen Baptis. Untuk pembahasan tentang hal ini silakan untuk membaca link ini (silakan klik).

Semoga pembahasan singkat tentang kutuk dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab