Home Blog Page 29

Memaknai Liturgi Jumat Agung

0
Sumber gambar: http://www.breakingbelizenews.com/wp-content/uploads/2015/04/Kings-Story.jpg

[Jumat Agung: Yes 52:13-53:12; Mzm 31:2-25; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42]

Perayaan Trihari Suci, yaitu sejak Kamis Putih sampai dengan Minggu Paskah, menjadi puncak perayaan liturgi setiap tahunnya. Sungguh, meskipun kita merayakannya tahun demi tahun, tetap saja kedalaman maknanya tak akan terselami sampai tuntas, selama kita masih berziarah di dunia ini. Homili tentang Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Tuhan Yesus yang ada di sepanjang sejarah Gereja, juga begitu banyak, dan mungkin tidak terhitung. Berikut ini adalah salah satu cuplikannya, yaitu homili dari imam pengkhotbah kepausan, Fr. Raniero Cantalamessa, OFM Cap.: [1]

“Sejumlah Bapa Gereja di abad-abad awal menyertakan suatu gambaran tentang keseluruhan misteri penebusan. Bayangkanlah, kata mereka, bahwa sebuah pertarungan yang hebat terjadi di stadium. Seorang yang gagah berani melawan seorang penganiaya yang kecam yang telah membuat seluruh penduduk kota menjadi budak. Sang petarung mengalahkan sang penganiaya itu, dengan usaha dan penderitaan yang luar biasa. Kamu ada di teras penonton; kamu tidak bertarung, ataupun berbuat usaha apapun atau menjadi luka. Namun demikian, kalau kamu mengagumi orang yang berani itu, kalau kamu bersukacita dengan dia atas kemenangannya, kalau kamu menganyam mahkota, bangkit dan menggerakkan para penonton untuknya, kalau kamu berlutut dengan sukacita di hadapan sang pemenang, mencium kepalanya dan menjabat tangan kanannya; dengan kata lain, kalau kamu menyambut kemenangannya dengan amat hangat seperti halnya kemenanganmu sendiri, kukatakan kepadamu, bahwa tentu kamu akan memiliki sebagian dari hadiah si pemenang.

Namun demikian, lebih lagi: bayangkan, bahwa sang pemenang tidak memerlukan hadiah yang telah dimenangkannya untuk dirinya sendiri, tetapi menghendaki di atas segalanya, untuk melihat bahwa para pendukungnya dihormati dan menganggap sebagai hadiah pertarungannya, jika temannya itu diberi mahkota. Dalam kasus ini, mungkin, apakah orang itu tidak akan menerima mahkota meskipun ia tidak berusaha keras ataupun menjadi terluka? Ia pasti akan mendapatkannya!

Maka, kata para Bapa Gereja, itulah yang terjadi antara Kristus dan kita. Pada salib, Yesus mengalahkan musuh (iblis). “… kita tidak bersusah payah berjuang, kita tidak terluka, kita bahkan tidak melihat pertarungan itu, tetapi kita memperoleh kemenangan. Pertarungan itu adalah milik Kristus, tetapi mahkotanya adalah milik kita. Dan karena kita juga adalah pemenang, mari mengikuti apa yang dilakukan oleh para prajurit dalam kasus serupa: dengan suara sukacita, marilah kita mengagungkan kemenangan. Mari kita menyanyikan pujian kepada Tuhan”! Tak mungkinlah kita menjelaskan dengan lebih baik, arti liturgi yang kita sedang rayakan.

Namun demikian, apakah yang kita lakukan merupakan sebuah gambaran/  tanda dari kejadian masa lampau, atau apakah itu adalah kejadian itu sendiri? Itu adalah keduanya! “Kami—kata St. Agustinus kepada orang-orang—tahu dan percaya dengan iman yang pasti bahwa Kristus wafat hanya sekali untuk kita  […]. Kamu tahu secara sempurna bahwa segalanya telah terjadi hanya sekali. Dan tetapi  perayaan memperbaharuinya secara berkala […]. Kebenaran historis dan perayaan liturgis tidak bertentangan satu sama lain, seolah yang kedua adalah salah dan hanya yang pertama saja yang sesuai dengan kebenaran. Nyatanya, dari apa yang menurut sejarah terjadi hanya sekali,  upacara secara berulang-ulang memperbarui perayaan itu di dalam hati umat beriman.”

Liturgi “memperbarui” kejadian itu: betapa banyak diskusi telah terjadi selama lima abad terakhir, tentang arti kata ini, terutama ketika diterapkan pada kurban salib Kristus dan Misa! Paus Paulus VI menggunakan sebuah kata kerja yang dapat memuluskan jalan kepada persetujuan ekumenis terhadap argumen tersebut: kata “menggambarkan/ represent”,  yang dipahami dalam arti yang kuat dari re-presenting/ menghadirkan kembali, artinya adalah untuk menjadikan apa yang telah terjadi, hadir kembali dan berdayaguna.

Kita tidak hanya merayakan suatu peringatan tahunan, tetapi sebuah misteri. Lagi, St. Agustinus menjelaskan perbedaan antara keduanya. Dalam perayaan “dengan cara anniversary (kejadian yang diperingati setiap tahun)”, tak ada hal lain yang disyaratkan— katanya—daripada untuk menunjukkan dengan upacara religius suatu hari dalam tahun, yang didalamnya peringatan suatu kejadian dilakukan”. [Namun] dalam perayaan  “dengan cara misteri, dalam sakramen”, “tak hanya kejadiannya diperingati, tetapi itu dilakukan sedemikian dimana artinya dipahami dan diterima dengan penuh iman dan bakti.”

Ini mengubah segalanya. Maka itu tidak hanya masalah menghadiri sebuah penggambaran, tetapi masalah “penerimaan” maknanya, yaitu beralih dari para penonton menjadi para pelaku. Menjadi tergantung kita, peran apa yang mau kita lakukan dalam drama itu, siapa yang kita inginkan: Petrus, Yudas, Pilatus, orang banyak, Simon orang Kirene, Yohanes, Maria … tak seorangpun dapat tetap ‘netral’. Tak mengambil peran berarti menjadi seperti Pilatus yang mencuci tangannya, atau orang banyak “yang berdiri dan menonton” (Luk 23:35).

Jika ketika kamu pulang sore ini, dan seseorang bertanya kepada kita, “Dari mana kamu?”… Kita mesti menjawab, setidaknya di dalam hati: “di Kalvari!”

 

[1] Fr. Raniero Cantalamessa OFM. Cap, Homily on the Celebration ot the Passion of the Lord,  6 April 2012.

Tuhan mengasihi dengan menyerahkan hidup-Nya

0
Sumber gambar: http://maryboroughanglican.com/event/palm-sunday/

[Minggu Palma: Luk 19:28-40; Yes 50: 4-7; Mzm 22:8-24; Flp 2:6-11; Luk 22:14- 23: 56)]

“Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Raja-Mu!
Hosanna, terpujilah! Kristus Raja Maha Jaya….”

Demikianlah lagu pujian khas Minggu Palma, yang menandai permulaan Pekan Suci. Kita mengenangkan peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem, sebelum sengsara dan wafat-Nya. Yesus yang sebelumnya tak pernah mau dinyatakan sebagai Raja oleh orang banyak (lih. Yoh 6:15), kini membiarkan diri-Nya dikenal sebagai Raja, sebagai Mesias. Namun beberapa hari kemudian, Yesus juga menyatakan betapa berbedanya Ia dengan para raja di dunia. Sebab bukan kemegahan singgasana, tetapi salib-lah yang menjadi tahta-Nya, dan bahwa Ia mencapai kemenangan dan kemuliaan-Nya melalui wafat-Nya di kayu salib itu.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menunjukkan tentang penggenapan nubuat para nabi dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus. Kedatangan-Nya ke Yerusalem sebagai Raja dengan mengendarai keledai, menggenapi nubuat Nabi Zakaria (Zak 9:9). Kelemahlembutan-Nya sebagai Hamba Tuhan yang dinyatakan oleh nubuat Nabi Yesaya (lih. Yes 50:6-7) digenapi-Nya, ketika Ia tak memberontak ketika difitnah, dinodai, diludahi dan dihukum bersama kaum pemberontak. Mazmur hari ini juga menyampaikan nubuat tentang sengsara dan wafat-Nya. Yaitu bahwa Ia akan diolok-olok, tangan dan kaki-Nya ditusuk, pakaian-Nya akan dibagi-bagi, jubah-Nya diundi. Semua itu tergenapi dalam diri Yesus yang disalibkan, yang kisahnya kita dengar dalam alunan Passio di hari Minggu ini. Maka perkataan nubuat itu tidak lagi menjadi semacam potongan teka teki yang tanpa arti. Sebab akhirnya semua nubuat itu menjadi jelas, jika kita melihat hubungannya dengan Kristus. Bahkan  penggenapan nubuat di dalam Kristus ini dapat dibuktikan secara matematis, sebagaimana dikatakan oleh seorang pakar bernama Prof. Peter Stoner. Menurutnya, kemungkinan seseorang untuk dapat menggenapi 8 nubuat tentang Mesias sebagaimana dijabarkan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama sangatlah kecil. Nubuat yang dimaksud ialah bahwa Ia akan dilahirkan di Betlehem (lih. Mi 5:1); kedatangan-Nya didahului utusan Allah (lih. Mal 3:1); Ia akan memasuki kota Yerusalem dengan menunggangi keledai (lih. Zak 9:9); Ia akan menanggung luka di badannya oleh karena sahabat-sahabat-Nya (lih. Zak 13:6); Ia akan dijual dengan harga 30 keping perak (Zak 11:12); uang 30 keping perak itu akan diberikan kepada penuang logam di bait Allah (Zak 11:13); Ia akan dianiaya, namun tidak membuka mulut-Nya (lih. Yes 53:7); dan tangan dan kaki-Nya akan ditusuk (lih. Mzm 22:17). Menurut Stoner, kemungkinan orang yang dapat memenuhi 8 nubuat ini sekaligus ialah 1 berbanding 100,000,000,000,000,000.  Padahal nyatanya, terdapat sekitar 350-an nubuat tentang Kristus yang ditulis dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Dengan demikian, angka kemungkinan pemenuhannya menjadi semakin lebih kecil, dan akan mengerucut kepada satu orang. Maka masuk akal jika memang hanya Yesus Kristus yang dapat menggenapi seluruh nubuat tersebut, dan bukan seseorang yang lain. Meskipun demikian, entah karena ketidaktahuan atau kekerasan hati manusia, bahkan sampai sekarang ini masih banyak orang yang tidak menerima Yesus sebagai Mesias. Maka tangis Tuhan Yesus atas kota Yerusalem, yang waktu itu menyambut-Nya namun kemudian menolak-Nya, tetap relevan sampai saat ini. Tuhan Yesus datang kepada umat manusia yang dikasihi-Nya, namun mereka menolak-Nya. Betapa banyak manusia yang tidak mengenali-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat! Atau  orang-orang yang sudah mengenal Yesus, tetapi menjalani hidup seolah-olah mereka tidak mengenal-Nya. Atau orang-orang terdekat-Nya malah meninggalkan Dia karena jatuh ke dalam perbuatan dosa yang justru karena itu Ia menderita. Saat kita mengayunkan daun palma hari ini, baiklah kita tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita termasuk dalam bilangan murid-Nya yang setia, ataukah sebaliknya?

Di awal Pekan Suci ini, kita kembali diingatkan akan betapa tak terbatasnya kasih Tuhan Yesus. Ia rela menyerahkan hidup-Nya sendiri, agar dapat menjadi Kurban tebusan bagi dosa-dosa umat manusia. Termasuk dosa-dosa kita. Walau mungkin kita sudah sering mendengarnya, dan bahkan mendaraskannya, mari kita berhenti sejenak, dan meresapkan kembali sabda Tuhan ini: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:5-11). Jika terhadap orang-orang yang berbuat baik kepada kita saja, kita layak membalas budi baik mereka, apa yang harus kita lakukan jika yang begitu baik kepada kita adalah TUHAN? Tuhan, yang tidak saja “hanya” begitu baik, namun yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita? “O, Tuhan betapa aku berterima kasih kepada-Mu, untuk kasih-Mu yang tiada terukur itu!

Sungguh, karena kasih-Nya, Ia telah memberikan hidup-Nya untuk kita, supaya kita tidak binasa oleh karena dosa. Maka selayaknya, kita membalas kasih-Nya, dengan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Because He loves us, He gives up His life for us. Thus if we love Him, we, too, must give up our life for Him. Mari, dengan mata hati terarah kepada Tuhan Yesus, kita mengikuti jejak-Nya. Memanggul salib kita sendiri, dan menyatukannya dengan salib Tuhan kita. Sebab di dalam Kristus dan bersama Kristus, kita memperoleh pengharapan akan kebangkitan dan kemuliaan kekal.

Betapa berharganya seorang manusia di mata Sang Pencipta, ketika ia  ‘memperoleh Sang Penebus yang begitu mulia’ dan ketika Allah ‘mengutus Putra-Nya yang tunggal, supaya manusia tidak binasa tetapi beroleh hidup yang kekal.” (St. Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis, 10)

Belajarlah dari masa lalu, ubahlah masa depan

0
Sumber gambar: dari film Passion of the Christ

[Minggu Prapaskah V: Yes 43:16-21; Mzm 126:1-6; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11]

Ada pepatah yang mengatakan, “Kita tak kuasa mengubah masa lalu kita. Namun kita dapat belajar dari masa lalu kita, dan dengan demikian, mengubah masa depan kita.” Cara pandang sedemikian diajarkan oleh sabda Tuhan hari ini, seperti yang disampaikan oleh Nabi Yesaya. Nabi Yesaya menubuatkan bahwa bangsa Israel akan mengalami pembuangan di Babel (lih. Yes 43:14). Namun Nabi Yesaya tidak hanya menubuatkan tentang pembuangan tersebut, melainkan juga sesudahnya, yaitu bahwa Babel akan runtuh; mereka menerima penghakiman Allah atas apa yang telah mereka perbuat terhadap bangsa Israel (lih. Yes 47). Namun sebelum itu terjadi, memang Babel adalah bangsa yang besar dan berkuasa. Maka tak mengherankan jika umat Israel berkecil hati membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka dijadikan tawanan bangsa itu. Namun Allah memahami kekhawatiran umat-Nya. Allah mengingatkan mereka, bahwa sama seperti Allah telah melepaskan mereka dari penjajahan Mesir di masa lalu, demikianlah, Allah akan membebaskan umat-Nya dari penjajahan Babel dan mendatangkan penghukuman kepada bangsa itu. Segera setelah mengingatkan umat-Nya akan perbuatan tangan-Nya di masa lalu, ketika Ia membuka jalan di Laut Merah,  dan melepaskan umat-Nya dari pengejaran bangsa Mesir, Allah mengatakan agar mereka jangan mengingat-ingat hal-hal yang dahulu. Ada peralihan drastis di sini: dari disuruh mengingat pengalaman yang lalu, menjadi disuruh “melupakan hal-hal yang dahulu”. Nampaknya, Allah menghendaki umat-Nya selektif dalam mengingat masa lalu. Allah tak mau kita terpuruk dalam rasa bersalah atas segala dosa yang telah kita perbuat di waktu yang dulu. Sebab jika demikian, kita tidak mampu melihat bahwa Allah hendak membuat sesuatu yang baru (lih. Yes 43:18-19). Yaitu, bahwa Allah mempersiapkan rahmat keselamatan, bagi kita yang bertobat dan mau dilepaskan dari belenggu dosa kita.

Minggu lalu kita telah diajak untuk bertobat dan meninggalkan dosa-dosa kita. Kita menjadi seperti anak yang hilang yang kembali kepada bapanya. Kini tibalah saatnya kita bermazmur dan merenungkan karya keselamatan Allah bagi kita. Di hari Minggu Sengsara (Passion Sunday) ini, kita merenungkan karya Allah Bapa yang telah mengutus Yesus Putera-Nya. Yang melalui sengsara, wafat-Nya dan kebangkitan-Nya, Ia melepaskan kita dari dosa-dosa kita dan memulihkan jiwa kita. Saat itu kita seperti orang-orang yang bermimpi. Tuhan telah melakukan perkara besar pada kita, maka kita bersukacita (lih. Mzm 126:1-6).

Sungguh, kita diampuni dan dipulihkan bukan karena jasa kita sendiri, namun oleh jasa pengorbanan Kristus, yang sebentar lagi kita rayakan secara istimewa dalam Pekan Suci. Kita diselamatkan, bukan oleh kebenaran diri sendiri karena melakukan berbagai hukum dan aturan hukum Taurat, tetapi oleh “kebenaran karena iman kepada Yesus Kristus”. Itulah sebabnya Rasul Paulus menganggap rugi segala sesuatu, setelah ia mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya (lih. Flp 3:8-11). Ini juga suatu peringatan bagi kita untuk  memandang hukum-hukum Taurat dalam terang Kristus. Bukan berarti bahwa hukum Taurat dalam Perjanjian Lama semuanya tidak berguna. Tetapi bahwa semuanya itu adalah persiapan bagi penggenapannya di dalam Kristus. Maka layaklah misalnya, bahwa Gereja sejak abad pertama, beribadah pada hari Tuhan, yaitu hari Minggu, yang merupakan perayaan akan kuasa kebangkitan Kristus. Ini menggenapi makna perayaan Sabat, yang maknanya adalah hari yang dikuduskan bagi Tuhan (lih. Kel 16:23). Sebab Allah menyatakan kekudusan-Nya melalui kebangkitan Putera-Nya, Yesus Kristus (lih. Rm 1:4); dan menguduskan kita yang mendapat bagian dalam kebangkitan-Nya itu (lih. Why 20:6). Sayangnya, ajaran yang telah sedemikian jelas ini, tak serta merta diterima oleh semua umat Kristen. Sebab masih ada saudara-saudari kita, yang mengartikan hukum Taurat tanpa melihat kaitannya dengan penggenapannya di dalam Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Semoga saja sabda Tuhan hari ini memantapkan pemahaman kita akan cara pandang Gereja Katolik tentang hukum Taurat dalam kaitannya dengan penggenapannya di dalam Kristus, seperti yang diajarkan oleh para rasul, secara khusus oleh Rasul Paulus. Ia telah meninggalkan segalanya, setelah ia mengenal Kristus.

Bacaan Injil hari ini kembali menegaskan bahwa hal meninggalkan segalanya, paling jelas dinyatakan dengan pertobatan. Kisah wanita yang berdosa ini mengingatkan kita akan kasih Kristus yang tak terpisah dari keadilan-Nya. Ia mengampuni wanita itu, namun memperingatkan agar ia jangan berbuat dosa lagi (Yoh 8:11). St. Agustinus berkata, “Maka Tuhan kita mengecam dosa, tetapi tidak mengecam orang yang berdosa. Sebab seandainya Ia menyokong dosa, Ia akan berkata, ‘Pergilah, dan hiduplah sesuka hatimu: [hanya] bergantunglah pada penebusan-Ku. Betapapun besar dosamu, itu tidak masalah: Aku akan membebaskan kamu dari neraka dan para penyiksanya’. Tetapi Ia tidak berkata demikian. Biarlah mereka memperhatikan, yang mengasihi kerahiman Tuhan, dan takutilah kebenaran-Nya. Sungguh murah hati dan benar-lah Tuhan.” (St. Augustine, Catena Aurea, John 8:1-11)

Perkataan Yesus, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi….” hendaknya mengingatkan kita untuk senantiasa bertobat, setiap kali kita jatuh ke dalam dosa. Sebab ada kemungkinan, bahkan besar kemungkinannya, bahwa setelah diampuni Tuhan, kita tetap jatuh ke dalam dosa, entah dosa yang sama atau berbeda. Itulah sebabnya Rasul Paulus tidak menganggap dirinya sempurna. Namun untuk dapat bangkit, Rasul Paulus tidak mau mengingat-ingat jerat dosanya di masa lalu. Ia mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, yaitu “panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Marilah kita mengikuti teladan Rasul Paulus, untuk tidak mengikatkan diri pada masa lalu—entah karena terus menyalahkan diri sendiri atau keadaan. Masa lalu sudah tidak dapat kita ubah. Namun yang bisa kita ubah adalah masa depan, yang penuh harapan jika kita menjalani hari ini bersama Kristus. Yaitu, dalam tuntunan belas kasih-Nya, kita berjuang untuk mawas diri dan berjalan dalam kebenaran-Nya.

“Belas kasihan tidak bertentangan dengan keadilan. Sebaliknya, belas kasihan menunjukkan cara Allah menghampiri orang berdosa, sembari menawarkan kepadanya kesempatan baru untuk mawas diri, bertobat dan percaya.” (Paus Fransiskus, Misericordiae Vultus, 21).

Kerahiman Allah menjadi alasan kita bersukacita

0
Sumber gambar: http://ekironde.blogspot.co.id/2012/10/dissecting-prodigal-son-parable-luke.html

[Minggu Prapaskah IV, Hari Minggu Laetare: Yos 5:9-12; Mzm 34:2-7; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3,11-32]

“Ada berapa jumlah mata yang ada di gambar lambang Tahun Yubelium Kerahiman Allah yang kita rayakan tahun ini?” demikian tanya Bapa Uskup Ignatius Suharyo dalam homili di parokiku. Buru-buru kupandang gambar yang tergantung di dekat altar. Gambar Tuhan Yesus menopang seseorang di pundak-Nya. Sudah sering sebenarnya aku melihat gambar itu, tetapi aku tidak pernah menghitung jumlah matanya! Saat itu, baru kusadari bahwa jumlah matanya bukan empat tetapi hanya ada tiga. Rupanya itu memang ada maksudnya. Kata Bapa Uskup, yang mengutip Fr. Marko Rupnik sang pencipta logo, arti dari satu mata Yesus yang menjadi satu dengan satu mata orang tersebut menunjukkan betapa “Kristus melihat dengan mata manusia dan manusia melihat dengan mata Kristus.” Manusia itu adalah kita semua, pendosa yang bertobat. Kita yang bertobat digabungkan dengan Kristus, supaya memiliki setidaknya satu mata yang mempunyai cara pandang seperti mata Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat yang menopang kita. Dan kalau dirumuskan secara sederhana, cara pandang Yesus pada dasarnya adalah, memandang orang lain dengan belas kasih. Di hari Minggu Laetare (artinya Minggu Suka cita) ini, kita secara khusus dengan suka cita mensyukuri belas kasih, kerahiman Allah. 

Di Bacaan Pertama kita diingatkan akan penggenapan janji Allah kepada umat-Nya yang memegang perjanjian-Nya. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan tidak bersungut-sungut di padang gurun. Dipimpin oleh Yosua, mereka akhirnya dapat masuk ke Tanah Terjanji, yaitu tanah Kanaan. Yosua menjadi gambaran akan Yosua/ Yesua yang kemudian, yaitu Yesus, yang artinya adalah Allah yang menyelamatkan. Dalam diri Yesuslah, kita melihat wajah Allah yang maharahim, yang senantiasa menghendaki pertobatan dan keselamatan umat-Nya. Ia lah Allah yang menopang dan menggendong kita, sebagaimana yang kita lihat dalam logo Tahun Kerahiman tersebut.

Ya, meskipun manusia kerap kali berdosa, Allah tetap mau mengampuni kembali setiap kali ia bertobat. Pengampunan Allah ini terus berlangsung di sepanjang hidup manusia dan di sepanjang sejarah manusia.  Itulah sebabnya, Allah memercayakan pelayanan pengampunan ini—yang mendamaikan manusia dengan Allah—kepada para rasul dan para penerus mereka. Demikianlah yang dikatakan Rasul Paulus, “Kristus… telah memercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami…. Dalam nama Kristus, kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (Luk 15: 18,20). Inilah yang terjadi setiap kali kita menghampiri tahta kerahiman Allah dalam sakramen Pengakuan Dosa. Kita berdamai dengan Allah, jika kita dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah, yang hadir dalam diri para penerus rasul itu, yang kepada mereka Tuhan Yesus telah memercayakan pelayanan pendamaian itu.

Mari kita merobohkan tembok-tembok kesombongan kita, dan datang berlutut di hadapan Allah yang maharahim, untuk memohon ampun atas segala salah dan dosa kita, seperti anak yang hilang dalam kisah Injil hari ini. Melalui kisah tersebut, Tuhan Yesus menghadapkan kepada kita dua sifat manusia, yaitu sebagai si sulung, atau si bungsu. Anak yang sulung, cenderung merasa sudah benar dan tak merasa membutuhkan pertobatan, sedangkan anak yang bungsu adalah sebaliknya. Bukan kebetulan, bahwa Tuhan Yesus mengisahkan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang bersungut-sungut karena Ia  menerima para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Jadi walaupun kita sering mengingat perikop ini sebagai kisah pertobatan si bungsu, yang telah menyia-nyiakan warisan dari bapanya, namun sesungguhnya kisah ini juga bermaksud menegur orang-orang yang mempunyai sifat seperti si sulung, yang merasa sudah jadi orang benar.

Mungkin kita dengan mudah menghubungkan diri kita dengan si bungsu, jika kita teringat akan dosa berat yang kita lakukan. Namun adakalanya kita pun dapat bersikap seperti si sulung, mirip orang-orang Farisi, yang merasa sudah hidup benar, dan kurang berlapang hati menerima pertobatan sesama. Terhadap sikap seperti ini, St. Yohanes Krisostomus mengatakan, “Ada yang bertanya, apakah orang yang berduka karena kesejahteraan orang lain itu dipengaruhi oleh iri hati. Kami mesti menjawab, bahwa tak ada orang kudus yang berduka karena hal-hal seperti ini. Tetapi memandang kepada hal-hal yang baik pada orang lain sebagai miliknya sendiri…. Maka perikop ini ditulis sampai akhir supaya para pendosa tidak berputus asa agar kembali, dengan mengetahui bahwa mereka akan memeroleh hal-hal yang baik. Dengan demikian, mereka membimbing sesamanya yang resah akan hal-hal yang baik ini karena iri hati. Tetapi mereka yang kembali [bertobat], diperlakukan dengan hormat….” (St. John Chrysostom, Catena Aurea, Luk 15:25-32).

Di Minggu Laetare, mari kita memeriksa batin kita, apakah kita lebih mirip si bungsu, atau si sulung? Apapun keadaan kita, Gereja mengajak kita untuk bersuka cita pada hari ini, untuk mensyukuri kebaikan dan kerahiman Allah, yang selalu siap mengampuni dan menerima kita kembali. Sebab pertobatan itu bukan hanya milik anak yang bungsu, tetapi sebenarnya juga milik anak yang sulung. Pertobatan itu semestinya mengubah kita, untuk setidaknya mempunyai satu mata yang memandang dengan cara yang sama dengan cara pandang Allah. Yaitu menatap dengan belas kasih dan senantiasa bersuka cita oleh karena pertobatan, entah pertobatan diri kita sendiri atau pertobatan orang lain.

Hendaknya kita menjadi alat belas kasih karena kita telah lebih dahulu menerima belas kasih dari Allah. Hendaknya kita murah hati kepada sesama karena kita tahu bahwa Allah telah menaburkan kebaikan-Nya atas diri kita dengan kemurahan hati yang luar biasa…” (Paus Fransiskus, Bulla Pemakluman Yubelium Luar Biasa Kerahiman Ilahi, Misericordiae Vultus, 14).

Menjadi rekan katolisitas.org

0

Kami ingin mengirimkan MINIMAL 2 BUKU GRATIS kepada pastor paroki di 1,216 PAROKI DI SELURUH INDONESIA, atau total MINIMAL 2,432 BUKU. Untuk mewujudkan ini kami butuh bantuan Anda, yaitu dengan membeli buku bagi mereka. Pihak katolisitas akan memberikan harga Rp 76,000 + ongkos kirim.

Kalau Anda terpanggil untuk turut menyebarkan buku ini ke semua paroki, silakan menjadi rekan katolisitas.org untuk mewujudkan hal ini.

Anda dapat membeli bagi mereka minimal 2 buku Maria, O Maria edisi paroki dengan harga spesial ini di sini (silakan klik). Selanjutnya kami akan mengirimkannya untuk Anda. Kami akan memberikan laporan tentang hal ini di sini – silakan klik.

Mari mewujudkan niat baik ini bersama-sama.

 

[agroup first=”1″ connect=”65″]

[accordion title=”Apakah program: Rekan katolisitas.org? ” connect=”65″]

Program ini adalah program kerjasama antara katolisitas.org dan para pembaca katolisitas.org yang terpanggil untuk memberikan minimal 2 buah buku Maria, O Maria kepada pastor paroki di seluruh paroki di Indonesia.

[/accordion]

[accordion title=”Bagaimana program ini dilaksanakan?” connect=”65″]

  • Katolisitas akan memberikan diskon hampir 20% dari buku Maria, O Maria, dari Rp 95,000 menjadi Rp 76,000 ditambah ongkos kirim.
  • Pembaca katolisitas melihat daftar paroki yang belum mendapatkan buku ini. Catat nama paroki dan juga alamatnya di link ini: silakan klik.
  • Kemudian, silakan membeli buku Maria, O Maria (edisi paroki) di link ini – silakan klik. Anda bisa memberikan catatan ke paroki mana buku ini akan dikirim atau Anda menyerahkan kepada pihak katolisitas untuk mengaturnya. Untuk dikirim ke daerah-daerah yang mahal, kami akan mencoba untuk menyatukannya dengan order yang lain ke daerah yang sama.
  • Silakan transfer melalui bank BCA.
  • Pihak katolisitas akan mengirimkan secara langsung kepada paroki-paroki yang diinginkan. Katolisitas akan mengupdate pengiriman dengan nomor resi dari JNE / cara pengiriman yang lain.

[/accordion]

[accordion title=”Apakah Anda akan menerima buku ini?” connect=”65″]

Anda tidak menerima buku Maria, O Maria, karena buku ini akan dikirim langsung ke alamat pengiriman seperti yang Anda tuliskan pada saat memesan. Namun, Anda dapat memesan buku ini edisi retail, yang dapat dipesan di sini – silakan klik.

[/accordion]

[accordion title=”Bagaimana kalau saya masih kurang jelas tentang program ini?” connect=”65″]

Kalau Anda masih kurang jelas dengan program ini, silakan menghubungi bagian penjualan katolisitas:

  • Email: toko@katolisitas.org
  • Whatsapp no: 0882-1331-2959

[/accordion]

[accordion title=”YANG TELAH DIPESAN” connect=”65″]

maria-o-maria-3Silakan klik di logo Maria, O Maria di bawah ini untuk melihat daftar paroki-paroki di seluruh Indonesia, beserta dengan pemesan dan status dari pengiriman.

 

 

 

 

[/accordion]

[accordion title=”USULAN UNTUK MENSUKSESKAN PROGRAM INI:” connect=”65″]

Kami ingin mendengar pendapat Anda tentang program ini serta bagaimana untuk lebih mensukseskannya. Beberapa hal ini adalah yang dapat Anda lakukan:

  1. Turut mendoakan kesuksesan program ini.
  2. Melihat daftar paroki yang ada dan mungkin Anda mempunyai informasi yang lebih akurat. Silakan email ke: toko@katolisitas.org.
  3. Anda dapat berpartisipasi dalam membeli buku Maria, O Maria (edisi paroki) ini – silakan klik.
  4. Silakan memberikan usulan yang lain di kolom komentar.

[/accordion]

[/agroup]

Kisah tragis membawa hikmat pertobatan

0
Sumber gambar: http://www.gospelmag.com/images/articles/do-i-have-to-close-my-eyes-when-i-pray.jpg

[Minggu Prapaskah III: Kel 3:1-15; Mzm 103:1-11; 1Kor 10:1-12; Luk 13:1-9]

Sejumlah berita di TV belakangan ini mungkin membuat kita miris. Gedung konser dibom teroris, sehingga banyak orang menjadi korban. Seorang wanita muda tewas karena racun sianida yang dimasukkan ke dalam kopinya di mall. Orang yang sedang duduk di pinggir jalan, meninggal ditabrak mobil karena supirnya mabuk. Bukankah tragisnya peristiwa-peristiwa ini mengingatkan kita bahwa apa yang disebut dalam Injil hari ini—yaitu 18 orang yang wafat tertimpa menara, dan orang-orang yang dibunuh Pilatus— sesungguhnya pun relevan bagi kita. Kematian mendadak seolah mau menunjukkan begitu tipisnya batas antara hidup dan mati. Dan kita tidak pernah bisa mengetahui bagaimanakah nantinya kisah kematian kita sendiri. Hanya satu yang bisa kita ketahui, yaitu kematian itu bisa datang begitu tiba-tiba, dan bisa juga terjadi dengan begitu mengenaskan. Namun yang lebih penting daripada memikirkan bagaimana kelak kematian kita, adalah bagaimana sekarang hidup kita. Dan itulah salah satu pesan yang kita peroleh dari Bacaan Injil hari ini.

Menurut catatan St. Sirilus, orang-orang yang dibunuh Pilatus adalah para pengikut Yudas, seorang Galilea yang disebut dalam Kisah para Rasul (lih. Kis 5:37). Banyak pengikutnya menolak untuk mengakui Kaisar sebagai tuan mereka, dan karena itu dihukum oleh Pilatus. Mereka berkata bahwa orang tak boleh mempersembahkan kepada Allah kurban apa pun yang tidak sesuai dengan hukum Musa, dan karena itu mengharamkan persembahan kurban yang ditujukan bagi kesejahteraan kaisar dan orang-orang Romawi. Maka Pilatus memerintahkan agar orang-orang Galilea itu dibunuh bersama dengan kurban-kurban yang mereka persembahkan, dan mencampurkan darah mereka dengan darah kurban itu…. Lalu para penguasa memberitahukan hal ini kepada Yesus, untuk mengetahui tanggapan-Nya tentang hal itu. Tetapi Ia, yang membenarkan bahwa mereka adalah orang-orang berdosa, tidak serta merta menghakimi bahwa mereka mengalami hal tersebut, seolah-olah karena mereka berdosa lebih parah daripada orang-orang yang tidak mengalami kematian semacam itu….” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 13:1-). Sebab belum tentu kita lebih baik daripada orang-orang yang tertimpa kemalangan itu.

Maka, Tuhan Yesus menghendaki agar kita menilik kepada ada hidup kita sendiri, ketika kita mendengar kisah-kisah tragis semacam ini. Janganlah kita lekas menghakimi orang lain, dan menganggap diri “lebih baik” daripada orang yang wafat itu. Sebaliknya, lebih baik kita lekas bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah aku bertobat? Selagi hidup, bagaimana aku mengisi hidupku? Sudahkah aku berbuah? Masa Prapaska adalah kesempatan untuk merefleksikan kehidupan kita, sejauh mana kita telah mengikuti jalan Tuhan, terutama di tengah kesulitan dan pergumulan hidup.

Bacaan Pertama mengajak kita merenungkan sejak saat pertama Tuhan memanggil kita. Dikisahkan di sana ketika Allah pertama kalinya menyatakan diri-Nya kepada Musa dengan sebutan, “Aku adalah ‘Sang Aku’.” Atau yang dalam bahasa aslinya YHWH (Yahwe). Allah kemudian mengutus Musa untuk membawa umat Israel keluar dari penjajahan bangsa Mesir (lih. Kel 3:12-14). Demikian pula, sesungguhnya kita pun mengalami bagaimana Allah menyatakan diri kepada kita, yaitu di dalam diri Yesus, atau dalam bahasa aslinya Jeshua, yang artinya “Yahwe adalah keselamatan.” Maka sesungguhnya pernyataan diri Allah kepada kita telah lebih sempurna, daripada yang dinyatakanNya kepada bangsa Israel di zaman Perjanjian Lama. Di Bacaan Kedua, Rasul Paulus yang mengacu kepada pengalaman bangsa Israel, juga mengingatkan kita, betapa kita telah menerima makna sesungguhnya dari apa yang telah mereka alami. Mereka dibaptis dalam air laut dan awan; sedangkan kita, telah dibaptis dalam air dan Roh Kudus yang dilambangkan oleh awan itu. Dan kemudian mereka diberi makan dari manna yang datang dari langit dan minum dari air dari batu karang; sedangkan kita diberi makan dan minum dari Sang Roti yang datang dari Surga, yaitu sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Tuhan Yesus sendiri, dalam rupa roti dan anggur.

Namun pertanyaannya, apakah rahmat surgawi itu telah mengubah kita? Sebab di zaman Perjanjian Lama, rahmat surgawi yang telah tercurah dengan luar biasa itu, ternyata tidak disambut dengan semestinya. Sejumlah besar dari bangsa Israel malah bersungut-sungut, sehingga akhirnya satu generasi dari mereka tidak dapat masuk ke Tanah Terjanji. Sepertinya tragis, karena kesalahan yang satu ini, mereka tidak dapat menikmati penggenapan janji Tuhan. Demikianlah, Rasul Paulus menjadikan mereka sebagai contoh untuk mengingatkan agar kita tidak berlaku serupa (lih. 1Kor10:10-12). Sebab hal bersungut-sungut itu bukan hanya “penyakit” orang zaman dulu. Kita pun perlu memeriksa diri, apakah kita juga mudah bersungut-sungut atau mudah komplain? Misalnya: Misanya terlalu panjang lah, koornya kurang merdu, khotbahnya monoton, dekorasi bunga kurang serasi, dst. Karena perhatian kepada hal-hal yang begini, fokus sesungguhnya yaitu Kristus yang kita terima dalam Ekaristi, malah sepertinya kurang disyukuri. Itu baru soal Misa. Dalam kehidupan sehari-hari, sifat bersungut-sungut ini juga dapat membuat kita kurang peka dan kurang bersyukur atas berlimpahnya berkat penyertaan Tuhan yang telah kita alami. Bahkan dengan sifat bersungut-sungut, kita cenderung melihat kesalahan orang lain, daripada kesalahan diri sendiri. Padahal, melihat kesalahan sendiri adalah prasyarat pertobatan. Inilah yang diminta oleh Yesus, agar kita menarik hikmat dari berbagai peristiwa, bahkan tragedi di sekitar kita, sebagai ajakan untuk bertobat. Agar setelah bertobat, kita dapat mengisi hidup kita dengan kebaikan dan berbuah bagi Tuhan dan sesama.

Minggu depan adalah pertengahan Masa Prapaska. Gereja mengundang kita untuk bertobat dan mengaku dosa dalam sakramen Tobat. Gereja-gereja dibuka 24 jam, Jumat 4 Maret 2016, untuk melayani penerimaan sakramen ini. Dengan rasa syukur, marilah kita mempersiapkan batin untuk menerima rahmat pengampunan-Nya. Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan penebusan berlimpah….

Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang yang takwa kepada-Nya” (Mzm 103:8,11).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab