Home Blog Page 278

Benjol (Alias Benjut)

2

Ketika masih duduk di awal bangku sekolah dasar, saya pernah memainkan orang buta-orang butaan dengan kakak perempuan saya. Kakak saya menutup matanya, pura-pura seperti orang yang tidak dapat melihat, dan saya menuntunnya berjalan ke sekitar. Setelah puas berjalan beberapa waktu berdua, kami akan saling berganti peran. Tentunya permainan ini meminta kami untuk saling percaya bahwa dalam keadaan tidak dapat melihat,  salah seorang dari kami yang sedang tidak menjadi orang buta akan selalu membawa kami ke tempat yang aman dan tidak mencelakakan kami.  Di situlah salah satu letak keasyikan permainan ini bagi kami, selain mengalami bagaimana rasanya kalau tidak bisa melihat. Kalau diingat-ingat lagi rasanya geli. Memang anak-anak senang bermain yang aneh-aneh dan mencoba segala kemungkinan yang menarik perhatiannya. Bagi orang dewasa kadang permainan mereka terasa lucu dan konyol. Tetapi begitulah, anak-anak memang mempunyai dunianya sendiri, yang tidak selalu bisa dipahami oleh orang dewasa.

Namun pada suatu hari, permainan kepercayaan ini ternyata harus saya nodai karena keisengan yang kemudian saya sesali hingga hari ini. Hari itu kami bermain di sebuah lapangan rumput sebuah universitas dekat rumah kami ,di mana di tengah-tengahnya terpasang sebuah tiang bendera untuk upacara bendera. Saat itu sedang giliran saya menuntun kakak yang sedang berperan sebagai orang buta dan memejamkan mata. Saat kami hendak melewati tiang bendera itu, tiba-tiba timbul pikiran jahil di kepala saya. Sambil memegang lengan kakak saya yang sedang saya tuntun, saya memandangi dahinya dan berpikir apa yang terjadi  bila saya mengadu dahi kakak dengan tiang bendera yang sudah dekat di hadapan kami. Saya mengarahkan kakak saya ke tiang bendera itu dan….dukk, dahinya membentur tiang dengan pelan. Saat itu saya merasa yakin kakak tidak akan kenapa-kenapa karena saya memegangi lengannya supaya tidak terlau keras membentur tiang. Kontan kakak saya membuka matanya dengan terkejut, ia melotot memandangi saya dengan marah, “Lho, hei..! Piye sih kowe ini, kok kamu benturkan aku ke tiang, huuh…kaget aku” serunya sambil mengusap-usap dahinya.

Semula saya sibuk menahan tawa saya yang hampir meledak, tetapi menyadari kakak marah dan kemungkinan hukuman yang akan diberikan orangtua kami, saya menjadi gentar. Saya lantas berbohong untuk menghindari kemarahan kakak dan orangtua, dengan mengatakan, “Aduh, sori ya, tadi waktu aku menuntun kamu, aku juga sedang mencoba ikut merem (memejamkan mata). Sehingga aku tidak melihat tiang ini” Memang sebuah jawaban yang nyaris tidak masuk akal, tetapi saat itu kakak saya bisa menerima dan hanya menyesali kekonyolan saya tanpa kemarahan yang berlanjut. Yang tidak saya duga adalah akibat dari perbuatan saya itu. Ternyata dahi kakak memar sedikit. Saya makin merasa bersalah dan sedih, serta  sedikit takut. “Aduh, dahi kakakku benjol”, pikir saya galau. Ibu kami menaruh beras tumbuk di dahi kakak sebagai pengobatan tradisional yang dikenal ibu saat itu untuk mengurangi memar.

Kebetulan hari itu adalah hari menjelang kakak saya berulangtahun. Sampai sekarang kami masih menyimpan foto ulang tahun kakak dimana kami sekeluarga makan malam bersama dengan dahi kakak berwarna putih karena beras tumbuk yang dibubuhkan ibu untuk mengobati dahinya yang memar.  Foto itu sangat lucu dan kami sekeluarga selalu tertawa melihatnya. Semua tertawa gembira termasuk kakak. Hanya saya yang menyimpan kesedihan di hati karena menyadari akibat perbuatan saya dan kebohongan saya.  Hati saya berat menyimpan kesedihan dan rasa bersalah yang cukup dalam. Apalagi rahasia kebohongan saya, bahwa saya turut memejamkan mata saat menuntun kakak di hari itu di lapangan bendera, baru saya akui dengan terus terang kepada kakak bertahun-tahun kemudian setelah kami beranjak dewasa.  Kakak saya tidak merasa marah atau jengkel lagi, karena peristiwanya telah lama sekali berlalu.  Saya pun berterimakasih kepada kakak karena telah memaafkan saya dan mengampuni sikap saya yang pengecut.

Benjol di dahi kakak itu memang hanya terjadi sebentar saja, namun benjol di hati saya tidak hilang begitu saja, bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu. Saya sedih menyadari sisi gelap dari diri saya. Kecenderungan untuk berbuat sesuatu yang saya tahu dapat melukai sesama yang kadang-kadang membuat  saya takut kepada diri saya sendiri.

Kecenderungan-kecenderungan negatif yang tidak dikendalikan, kesalahan-kesalahan yang tidak diakui serta dianggap tidak pernah ada, ternyata membuat jiwa kita benjol-benjol, dan memori kenangan yang seharusnya manis menjadi ternoda. Sekarang saya paham mengapa  Gereja menyediakan Sakramen Pengampunan Dosa.  Sakramen itu tidak hanya memperbaiki relasi kita dengan Tuhan, tetapi juga dengan diri sendiri, yang seringkali menjadi pihak yang paling akhir dan paling sulit untuk diajak berdamai.  Sakramen itu juga menyadarkan saya bahwa kita memang setiap saat dapat jatuh, tetapi Tuhan selalu siap untuk mengampuni, seperti sikap yang ditunjukkan kakak saya.

Bila penyebab penderitaan di dunia ini didata secara statistik, mungkin lebih banyak penderitaan yang disebabkan oleh hubungan antar manusia daripada yang disebabkan oleh bencana alam. Alam tidak pernah secara sengaja menyakiti manusia. Kalaupun ia bereaksi, itu karena keseimbangannya diganggu. Tetapi manusia bisa dengan sangat mudah menyakiti manusia lainnya. Kadang konflik semacam itu wajar karena sifat relasi antar manusia dengan perbedaan kepribadian dan latar belakang adalah sangat dinamis. Tetapi sikap yang didasari pengabaian, iri hati, kesombongan, mementingkan diri sendiri, menjadi sumber-sumber yang berpotensi besar menimbulkan luka pada pribadi dan relasi antar manusia.

Kesediaan Tuhan Yesus untuk melupakan diri sendiri dan menderita bagi sahabat-sahabatNya telah banyak sekali memulihkan luka-luka yang ditimbulkan oleh keegoisan manusia. Itulah sebabnya, mengikuti Dia selalu menjanjikan akhir yang manis dan kenangan yang membahagiakan.  Namun mengikuti jalan Yesus dan ajaran-ajaranNya yang kudus seringkali sangat sulit, kadang terasa menyusahkan dan makan hati. Bahkan teladan memberikan nyawa menurut kebanyakan orang adalah nyaris mustahil.  Sungguh benar, mungkin tidak banyak orang bisa membantahnya. Jalan menuju kehidupan tidak pernah mudah. Jalannya sempit, dan pintunya sesak. Berkorban, mengalah, mengampuni,  jujur, menepikan ego demi kebaikan orang lain, merendahkan diri, setia pada komitmen, menjaga kemurnian, semua itu cenderung tidak enak, dan umumnya sangat sukar. Tetapi bukan tidak mungkin, apalagi bila Dia sendiri yang memberi kekuatan dan menginspirasi sepanjang jalan.

Memilih jalan saya sendiri dan menuruti apa yang sekedar menyenangkan saya, ternyata seringkali berujung kepada kesedihan dan penyesalan. Bukan hanya untuk saya sendiri, tetapi juga orang lain, bahkan bagi orang yang saya sayangi. Jauh lebih baik saya memilih yang tidak enak demi kasih, untuk kemudian mengalami akhir yang manis bersama Tuhan, daripada senang-senang mengikuti keinginan dan nafsu pribadi, tetapi lalu belakangan  tersisa kepedihan dan penyesalan.

Yesus sudah benjol-benjol  dan luka habis-habisan untuk saya, Dia yang Maha Tinggi sudah merendahkan diri sedemikian rendahnya, supaya, pada saat situasi memerlukan, saya pun belajar benjol-benjol mengikuti  Dia dalam kerendahan hati, untuk kemudian menikmati akhir perjalanan dalam sukacita dan damai sejahtera. Kalau dipikir-pikir, kedua pilihan itu memang sama-sama benjol dan benjut. Bedanya adalah kalau pilih jalan sendiri, hasilnya mungkin bisa benjut plus bonus luka dan penyesalan. Kalau memilih berjalan bersama Yesus, benjut plus damai sejahtera dan membahagiakan banyak pihak, termasuk diri sendiri dan Tuhan.

Kerelaan Tuhan Yesus untuk selalu bersama manusia dan ketulusan cintaNya yang tanpa pamrih setiap saat kepada kita, menyembuhkan semua benjut dan benjol jiwa kita. Sesungguhnya manusia telah diciptakan sedemikian sehingga hanya bersama Tuhan jiwa kita menemukan kebahagiaan yg sejati.

Your life in Christ makes you strong, and his love comforts you. You have fellowship with the Spirit, and you have kindness and compassion for one another (Phil 2:1)

Uti, Houston, 24 Oktober 2009

Untuk kakakku tercinta Helena Nursanti “Mbanti” Djiwandono

Tentang Mat 6:33-34: Hal Kekuatiran

10

Pertanyaan:

Syalom, Katolisitas
Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih dan saya ingin menanyakan, apa maksud ayat-ayat di Perikop Hal Kekuatiran, sebab sering sekali kita mendengar seperti yang tertulis pada ayat Matius 6:34. kemudian makna rohani dari ayat 6:33 (carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan di tambahkan kepasamu).
Mohon penjelasan mengenai sikap kita menghadapi kekuatiran dalam kehidupan sehari2 dan memang banyak masalah yang kita hadapi, sehingga dapat menjalani hidup dengan berharap kepada-Nya dan mengimplementasikan sesuai dengan kehendak Tuhan

Salam kasih
Felix Soegiharto

Jawaban:

Shalom Felix,

Mat 6:33-34 mengatakan:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Memang ayat-ayat ini lebih mudah diucapkan, ketimbang dilaksanakan, terutama jika kita sedang mengalami suatu masalah besar. Namun, apapun yang sedang kita hadapi, selayaknya kita sadar bahwa dalam menjalani kehidupan ini, kita harus selalu mempunyai prioritas yang benar. Maka, “mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya” ini harus kita tempatkan di tempat pertama, yang harus kita artikan sebagai kita harus mengejar kekudusan/ hidup kudus, nomor satu di dalam hidup ini. Tentang apa itu kekudusan, silakan klik di sini, dan bahwa kita semua dipanggil untuk hidup kudus, klik di sini.

Dalam menghadapi segala hal, kita harus bertanya kepada diri sendiri:

“Apa kira-kira yang Yesus lakukan kalau Ia ada di dalam keadaan saya sekarang?”
“Apakah yang dapat kulakukan untuk menyenangkan hati Tuhan?”
“Keputusan apa yang harus kuambil supaya aku dapat lebih memuliakan Tuhan?”

Sehingga dalam keadaan apapun kita harus selalu menomorsatukan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita.

Memang, untuk dapat mengetahui kehendak Tuhan ini, kita harus memiliki hubungan yang pribadi dengan Tuhan, artinya kita berakar di dalam doa, Sabda Tuhan dan sakramen-sakramen-Nya. Sebab dengan ketiga hal ini, hati kita dimampukan untuk mengalami hadirat Tuhan dalam hidup sehari-hari. Dengan menomorsatukan Tuhan, kita dapat dikatakan ‘miskin’ di hadapan Allah, sebab kita melepaskan segala keterikatan kita dengan kesenangan duniawi, dan datang kepada-Nya dengan hati yang hanya tertuju kepada-Nya. Dalam hal inilah kita dapat melihat teladan Yesus. Ia yang adalah empunya segala sesuatu, memilih untuk dilahirkan sebagai orang yang miskin, sebagai tukang kayu, taat kepada Allah Bapa sampai mati di salib (lih. Flp 2: 5-8). Kitapun dipanggil untuk mengikuti teladan Kristus, melepaskan segala keterikatan kita dengan kesenangan duniawi, untuk taat kepada Allah Bapa, dan menempatkan Tuhan di puncak segala cita-cita kita. Ya, itu dapat berakibat kita menyalibkan keinginan jasmani kita, dan kita belajar berkorban demi kasih kita kepada Allah dan sesama; karena Allah telah lebih dahulu berkorban untuk kita. Jika kita sudah hidup mengikuti teladan Kristus ini, maka percayalah bahwa Tuhan akan memelihara kita hari demi hari.

Maka, seperti pada ayat ke 34, Tuhan mengajarkan agar kita menjalani hidup ini dengan tenang hari demi hari, tidak perlu khawatir memikirkan apa yang sudah lewat/ terjadi maupun apa yang masih belum terjadi pada masa yang jauh di depan kita. Alkitab mengatakan kekuatiran kita tidaklah berguna karena “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” (Pkh 11:4). Betapa seringnya kita kuatir untuk sesuatu yang tidak pernah terjadi. Atau mempunyai rencana yang tinggi- tinggi ataupun yang kelihatannya ideal bagi kita, namun akhirnya Tuhan menentukan sesuatu yang lain.

Jadi yang terpenting adalah, melaksanakan sesuatu yang ada di dalam jangkauan kita, yaitu untuk hidup di dalam hadirat Tuhan tiap-tiap hari, dan menggunakan waktu yang Tuhan berikan kepada kita sekarang dengan bijaksana. St. Josemaria Escriva, mengajarkan, “Do your duty ‘now’, without looking back on ‘yesterday’, which has already passed, or worrying over ‘tomorrow’ which may never come to you.” /Kerjakan tugasmu hari ini, tanpa melihat kepada hari kemarin karena sudah berlalu, ataupun kuatir tentang esok yang mungkin tak pernah datang kepadamu. (St. Josemaria Escriva, The Way, 253)

Saya pribadi selalu terhibur dengan pengajaran St. Francis de Sales, yang mengatakan, “Jangan kuatir akan hari esok, sebab Allah yang telah memelihara kamu di hari kemarin, tetap memelihara kamu hari ini, dan akan terus memelihara kamu di hari esok.” Maka sepanjang kita telah melakukan semua bagian kita, berusaha, bekerja dan berdoa, maka selanjutnya, kita serahkan kepada Tuhan segala yang akan terjadi di dalam kehidupan kita. Kita percaya, bahwa jika kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan kekuatan kita, maka segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan kita akan mendatangkan kebaikan bagi kita (lih. Rom 8:28).

Mari, kita meresapkan ajaran Rasul Paulus ini, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Flp 4:6-7) Ya, sebab Allah yang Maha Pengasih pasti akan memberikan yang terbaik kepada kita, anak- anak yang dikasihi-Nya.

Semoga damai sejahtera dan suka cita yang berasal dari Allah menyertai kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Bagaimana pandangan Vatikan tentang pesan Bunda Maria di Fatima 1917?

25

Selengkapnya tentang tanggapan Vatikan terhadap pesan Bunda Maria di Fatima 1917 yang disampaikan oleh Sr. Maria Lucia, terdapat di link ini, silakan klik. Pada penampakan itu, dikatakan bahwa Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak-anak yaitu Jacinta, Francesco dan Lucia. Dan Lucia (Sr. Lucia) adalah saksi yang menyampaikan pesan-pesan itu secara tertulis karena kedua saksi lainnya telah meninggal dunia pada usia muda/ anak-anak.

Melihat pertanyaan anda, kelihatannya ada dua hal yang anda tanyakan, yaitu tentang apa pesan penampakan, dan apa tanggapan Vatikan mengenai hal ini. Maka berikut ini saya sampaikan ringkasannya:

1) Garis besar pesan penampakan Bunda Maria di Fatima 1917

Pesannya di sini terbagi menjadi tiga bagian. Pesan pertama dan kedua menggambarkan penglihatan tentang neraka, devosi kepada Hati Maria yang tak bernoda, tentang Perang Dunia kedua, dan prediksi tentang kerusakan yang dapat diperbuat oleh Rusia kepada umat manusia dengan penolakan terhadap iman Kristiani dan penerapan totalitarianisme- komunisme.

Pesan pertama dan kedua ini telah dituliskan terlebih dahulu 31 Agustus 1941, dan dipublikasikan terlebih dahulu sebelum pesan yang ketiga. Sedangkan pesan ketiga yang dituliskan oleh Sr. Lucia tanggal 3 Januari 1944 atas perintah Uskup Leiria. Pesan/ rahasia ketiga ini dibawa ke hadapan Paus Yohanes XXIII pada tahun 1959, namun beliau memutuskan untuk tidak menyatakan secara publik, demikian juga Paus Paulus VI.

Namun Paus Yohanes Paulus II,setelah percobaan pembunuhan dirinya pada tanggal 13 Mei 1981 gagal, kemudian memutuskan untuk memberitahukan pesan itu secara publik, yang dikenal sebagai “The third secret of Fatima“. Teks pesan ketiga Fatima baru dipublikasikan tgl 26 Juni 2000, (setelah diumumkan oleh Kardinal Angelo Sedano atas nama Bapa Paus, bahwa pesan ketiga tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat. Pengumuman ini diadakan tanggal 13 Mei 2000, pada hari beatifikasi Francisco dan Jacinta Marto).

Tanggal 7 Juni 1981, Paus Yohanes Paulus, pada perayaan Pentakosta, mendoakan dan meng-konsekrasikan dunia kepada hati Bunda Maria yang tak bernoda, yang disebutkan sebagai “Act of Entrustment“, memohon agar Bunda Maria menjaga dan mendoakan para umat beriman dan dunia.

Maka pesan/ rahasia ketiga yang disampaikan di sini berkaitan dengan perkataan Bunda Maria, yang memperingatkan akan apa yang terjadi jika manusia tidak bertobat dan mengindahkan pesan Bunda Maria, maka Rusia akan menyebarkan faham sesatnya tentang Komunisme. Sr. Lucia mengatakan bahwa akan terjadi penghukuman yang disebabkan oleh manusia sendiri yang terus hidup dalam dosa, kebencian, balas dendam, ketidak- adilan, pelanggaran hak-hak manusia, pemerosotan moral dan kekerasan, dst.

Maka Paus Yohanes Paulus II memutuskan untuk mempublikasikan pesan ketiga ini. Ia sendiri meng-konsekrasikan/ menyerahkan Rusia dan dunia kepada doa-doa Bunda Maria pada tahun 1981. Selanjutnya, kita ketahui pada tahun 1989 tembok Berlin dirubuhkan dan tumbanglah komunisme di Rusia.

2. Isi pesan Penampakan Bunda Maria di Fatima 1917

Pesan pertama:

“Bunda Maria menunjukkan kepada kami sebuah lautan api yang besar yang sepertinya berada di bawah bumi. Yang terbenam di dalam api adalah setan-setan dan jiwa-jiwa di dalam rupa manusia, seperti bara api yang transparan, semua kehitaman atau gosong seperti tembaga, mengambang di atas lautan api, sekarang naik ke udara dengan lidah-lidah api yang keluar dari dalam diri mereka sendiri bersama dengan awan-awan api yang besar, sekarang jatuh kembali pada setiap sisi seperti percikan di dalam api yang besar sekali, tanpa berat atau keseimbangan, di tengah-tengah tawa dan erangan kesakitan dan keputusasaan, yang menakutkan kami dan membuat kami gemetar ketakutan. Setan-setan dapat dibedakan dengan kemiripan mereka yang menakutkan dan menjijikkan dengan binatang-binatang yang menakutkan dan tidak dikenal, semua hitam dan transparan. Penglihatan ini berakhir dalam sekejap. Bagaimana kami dapat bersyukur kepada Bunda Surgawi yang baik, yang telah mempersiapkan kami dengan menjanjikan di dalam Penampakan yang pertama, untuk membawa kami ke surga. Jika tidak, saya rasa kami akan sudah mati ketakutan….”

Pesan kedua:

Kami lalu melihat kepada Bunda Maria yang berkata:

“Kamu telah melihat kemana jiwa-jiwa yang berdosa pergi. Untuk menyelamatkan mereka Tuhan berkehendak untuk mengadakan di dunia devosi kepada Hatiku yang tidak bernoda (Immaculate Heart). Jika apa yang aku katakan kepadamu dilakukan, banyak jiwa akan diselamatkan dan akan ada damai. Perang [Perang Dunia I] akan berakhir, tetapi kalau orang-orang tidak berhenti menentang Allah, sebuah perang yang lebih parah akan pecah pada saat pontifikat Paus Pius XI. Ketika kamu melihat malam yang diterangi oleh sebuah terang yang tak dikenal, ketahuilah bahwa ini adalah tanda yang besar yang diberikan kepadamu dari Tuhan bahwa Ia akan menghukum dunia karena kejahatannya, dengan cara perang, kelaparan, penganiayaan terhadap Gereja dan terhadap Bapa Suci. Untuk menghindari ini, saya datang untuk memohon konsekrasi Rusia kepada hatiku yang tidak bernoda, dan Komuni untuk silih dosa pada setiap Sabtu pertama. Jika permohonanku dipenuhi, Rusia akan bertobat dan akan ada damai, jika tidak, ia akan menyebarkan kesesatannya kepada seluruh dunia, menyebabkan perang dan penganiayaan terhadap Gereja. Orang-orang baik akan dibunuh; dan Bapa Suci akan mengalami penderitaan berat, bangsa- bangsa akan dilenyapkan. Pada akhirnya Hatiku yang tak bernoda akan menang. Bapa Suci akan meng-kosekrasikan Rusia kepadaku dan Rusia akan bertobat, dan sebuah periode damai akan diberikan kepada dunia.”

Pesan ketiga:

Saya [Sr. Lucia] menulis dalam ketaatan kepada Engkau, Tuhanku, yang memerintahkan kepadaku melalui Uskup Leiria dan melalui Bunda-Mu yang tersuci dan Bundaku.

Setelah dua bagian yang telah kujelaskan, di sebelah kiri Bunda Maria dan sedikit ke atas, kami melihat seorang Malaikat dengan sebuah pedang yang berapi di tangan kirinya, mengkilat, mengeluarkan lidah-lidah api yang terlihat seperti seolah-olah akan menyalakan dunia dengan api, tetapi lidah-lidah api itu mati bersentuhan dengan kemuliaan yang Bunda Maria pancarkan kepadanya [malaikat itu], dari tangan kanannya. Menunjuk ke bumi dengan tangan kanannya, Malaikat itu berteriak dengan suara keras: ‘Bertobatlah, bertobatlah, bertobatlah!” Dan kami melihat di dalam sebuah terang yang besar yang adalah Tuhan: ‘sesuatu yang mirip dengan bagaimana orang orang muncul di cermin ketika mereka melewatinya’, seorang Uskup berpakaian putih ‘kami mempunyai kesan bahwa itu adalah Bapa suci’. Uskup-uskup yang lain, para imam, kaum religius laki-laki dan perempuan menanjak sebuah gunung yang terjal, pada puncaknya terdapat sebuah Salib yang besar dari batang pohon yang secara kasar ditebang seperti dari pohon perop ..; sebelum sampai ke sana Bapa suci melewati sebuah kota yang besar yang separuhnya hancur dan separuhnya gemetar, dengan langkah terhenti, terpukul dengan kesakitan dan penderitaan, ia berdoa bagi para jiwa dan jenazah yang ditemuinya di jalan; setelah sampai di puncak bukit, dengan berlutut pada kaki Salib yang besar, ia dibunuh oleh sebuah kelompok parjurit yang menghujaninya dengan peluru- peluru dan panah terarah kepadanya, dan dengan cara yang sama di sana satu persatu wafatlah para Uskup, imam dan kaum religius laki-laki dan perempuan dan bermacam orang awam dari berbagai tingkatan dan posisi. Di bawah kedua lengan Salib, terdapat dua Malaikat, masing-masing dengan wadah kristal di tangannya, yang dipakai untuk mengumpulkan darah para martir dan dengan itu memerciki para jiwa yang sedang mengambil jalan menuju Allah.”

3. Interpretasi pesan ke-3:

a) Berikut ini adalah ringkasan pembicaraan Archbishop Tarcisio Bertone, sekretaris dari Congregation for the Doctrine of Faith yang diutus oleh Paus Yohanes Paulus II untuk bertemu dengan Sr. Lucia (27 April 2000):

Sr. Lucia mengulangi keyakinannya bahwa penglihatan di Fatima tersebut terutama adalah mengenai pergolakan antara komunisme atheis melawan Gereja dan umat Kristiani dan menjabarkan penderitaan para korban demi iman ini di abad ke-20. Figur sentral dari pesan terakhir ini menurut Sr. Lucia adalah Bapa Paus, meskipun pada penglihatan itu tidak disebutkan siapa nama Paus yang dibunuh tersebut. Maka ketika ia melihat Paus Yohanes Paulus II ditembak di tahun 1981, ia segera teringat akan penglihatannya tersebut yang dituliskannya pada tahun 1944. Sr. Lucia percaya, sama seperti yang dipercayai oleh Bapa Paus sendiri, bahwa “it was a mother’s hand that guided the bullet’s path and in his throes the Pope halted at the threshold of death” (Pope John Paul II, Meditation from the Policlinico Gemelli to the Italian Bishops, 13 May 1994).

Di akhir pertemuan itu Sr. Lucia menyatakan ketaatannya kepada Bapa suci, dan berharap agar tulisannya dapat membantu memimpin semua orang yang bermaksud baik ke jalan menuju Tuhan.

b) Dari hasil pertemuan di atas, pengumuman dibuat oleh Kardinal Angelo Sodano, Sekretaris negara (Secretary of State), ringkasannya adalah sebagai berikut:

Nubuatan yang terdapat dalam pesan Fatima ini harus diinterpretasikan secara simbolis (in a symbolic key). Penglihatan Fatima adalah perang yang diadakan oleh sistem atheis melawan Gereja dan umat Kristiani, dan itu menggambarkan penderitaan yang dialami oleh para saksi iman pada abad terakhir di milenium kedua, sebagai Jalan Salib yang dipimpin oleh para Paus di abad ke 20.

Sesuai dengan interpretasi para visioner, seperti yang ditegaskan oleh Sr. Lucia,”Uskup dengan pakaian putih” yang berdoa bagi umat beriman adalah Bapa Suci. Setelah ia mendaki menuju Salib melewati jenazah-jenazah para martir (para uskup, imam, kaum religius, dan kau awam), ia sendiri jatuh ke tanah, wafat karena dihujani peluru.

Sesudah percobaan pembunuhan tanggal 13 Mei 1981, maka begitu nyata bahwa “tangan seorang ibu yang mengarahkan jalur peluru sehingga Bapa Paus dapat terluput dari kematian.” (Perlindungan ini diyakini oleh Sr. Lucia dan Bapa Paus sendiri sebagai campur tangan dari Bunda Maria). Pada kejadian tahun 1989 baik Rusia maupun negara-negara Eropa Timur mengalami kejatuhan sehubungan dengan runtuhnya Komunisme. Untuk ini Bapa Paus mengucapkan syukur kepada Bunda Maria. Meskipun seolah kejadian tentang pesan/ rahasia ketiga dari Fatima ini merupakan hal yang lampau/sudah terjadi, namun pesan Bunda Maria untuk pertobatan tetaplah sangat penting sekarang. “Undangan Bunda Maria kepada pertobatan adalah pertama-tama perwujudan perhatian keibuannya kepada keluarga besar umat manusia, yang memerlukan pertobatan dan permohonan maaf.” (Pope John Paul II, Message for the 1997 World Day of the Sick, No. 1, Insegnamenti, XIX, 2 [1996], 561)

4. Komentar Teologis oleh Joseph Cardinal Ratzinger, Prefect of the CDF (Congregation for the Doctrine of the Faith) sekarang Paus Benediktus XVI, berikut ini ringkasannya:

Perlu diketahui bahwa pesan Fatima ini termasuk dalam kategori wahyu pribadi yang statusnya berbeda dengan wahyu publik (yaitu Kitab Suci, yaitu dalam PL dan PB). Wahyu publik sudah selesai dengan berkahirnya kitab Perjanjian Baru. Namun meskipun Wahyu telah selesai, hal itu belum dibuat sepenuhnya secara eksplisit, maka tetaplah tertinggal pada iman Kristiani untuk berangsur-angsur menangkap makna pentingnya secara penuh di sepanjang abad” (KGK 66). Ini sesuai dengan perkataan Yesus, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.” (Yoh 16:12-14)

Katekismus 67 mengajarkan, “….wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka [wahyu-wahyu pribadi] untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu….”. Jadi:

a) Otoritas wahyu pribadi secara prinsip berbeda dengan Wahyu publik. Wahyu Publik menuntut iman [dari seluruh umat], sebab di dalamnya Tuhan sendiri berbicara melalui perkataan manusia dan melalui perantaraan komunitas yang hidup dalam Gereja, sedangkan wahyu pribadi tidak demikian. Iman terhadap Wahyu publik ini berbeda dengan bentuk kepercayaan kepada manusia atau pendapat. Iman kepada Allah ini adalah keyakinan yang di atasnya kita membangun hidup kita dan kepadanya kita memasrahkan diri kita pada saat kita mati.

b) Wahyu pribadi adalah sebuah bantuan terhadap iman ini, dan menunjukkan kredibilitasnya justru dengan memimpin kita kembali kepada Wahyu publik yang definitif tersebut. Oleh karena itu, kriteria untuk kebenaran dan nilai dari sebuah wahyu pribadi adalah orientasi kepada Kristus. Maka ketika wahyu pribadi itu memimpin orang menjauh dari Kristus, menjadi berdiri sendiri atau bahkan menampilkan diri sebagai rencana keselamatan yang ‘lebih baik’/ lebih penting daripada Injil, maka dipastikan wahyu itu bukan berasal dari Roh Kudus. Ini bukan berarti bahwa wahyu pribadi tidak akan menyatakan penekanan-penekanan baru, atau bentuk devosi baru, atau memperdalam dan menyebarkan bentuk devosi yang sudah ada. Tetapi di dalam semua ini, harus ada pembinaan iman, harapan dan kasih.

Pentingnya wahyu pribadi disampaikan oleh Rasul Paulus (1Tes 5:19-21). Sepanjang sejarah Gereja terdapat nubuat- nubuat yang harus diteliti kebenarannya, bukan dicemooh. Nubuat adalah sebuah peringatan dan penghiburan, atau keduanya sekaligus. Untuk menginterpretasikan/ “menilai zaman ini” (Luk 12:56) dalam terang iman berarti mengenali kehadiran Yesus pada setiap zaman.

Struktur anthropologis dari wahyu pribadi: silakan membaca lebih lanjut di link di atas. Intinya adalah “interior vision”/ penglihatan ini bukan merupakan fantasi yang merupakan ekspresi dari imajinasi yang subyektif. Penglihatan ini melibatkan “obyek” yang benar-benar ada yang menyentuh jiwa, meskipun tidak terdapat di dalam dunia sensorik. Maka ini memerlukan sikap berjaga-jaga secara rohani…. Namun penglihatan juga mempunyai keterbatasan, sebab obyek yang dilihat juga bukan yang murni/ sebenarnya, tetapi melalui filter dari alat sensorik yang melihat, maka terpengaruh oleh keterbatasan dari subyek yang melihat. Maksud dari nubuatan Kristiani terlihat apabila penglihatan itu menjadi sebuah perintah dan bimbingan atas kehendak Allah.

Usaha untuk menginterpretasikan pesan/ ‘rahasia’ Fatima

Secara singkat pesan pertama dan kedua adalah anak-anak itu diberi penglihatan tentang neraka. Mereka melihat di sana ‘jiwa-jiwa yang malang’. Lalu mereka diberi pesan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa- yang artinya untuk menunjukkan kepada mereka jalan menuju keselamatan. Untuk ini kita mengingat pengajaran Rasul Petrus: “karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” (1 Pet 1:9). Untuk mencapai ini, jalan yang diberikan adalah devosi kepada hati Maria yang tak bercela. Dalam bahasa Alkitabiah, “hati” mengacu pada pusat hidup manusia, di mana akal budi, keinginan, temperamen dan sensitivitas berasal, di mana seseorang menemukan kesatuan dan orientasi sikap hati. Menurut Mat 5:8, “hati yang suci/ tak bernoda” adalah sebuah hati yang, dengan rahmat Tuhan, yang telah mencapai kesempurnaan kesatuan sikap hati dan karena itu dapat “melihat Tuhan.” Maka untuk mempunyai devosi terhadap hati Maria yang tak bernoda, adalah untuk mempunyai sikap hati yang demikian, yang bersikap taat “Ya”, terjadilah kehendak-Mu- sebagai pusat dari keseluruhan hidup seseorang. Mungkin ada orang yang berkata, kita jangan meletakkan seorang manusiapun antara kita dengan Kristus. Tetapi Rasul Paulus sendiri berkata agar kita meniru dia (lih. 1 Kor 4:16, Fil 3:17; 1 Tes 1:6; 2 Tes 3:7,9). Pada Rasul Paulus kita melihat bagaimana kita mengikuti Kristus. Tetapi dari siapa kita dapat lebih belajar pada setiap masa, selain dari Ibu Tuhan Yesus sendiri?

Sr. Lucia sendiri mengakui bahwa yang diberikan kepadanya adalah penglihatan, tetapi bukan interpretasinya. Interpretasi ini menurut Sr. Lucia, bukan menjadi miliknya tetapi milik Gereja. “Untuk menyelamatkan jiwa-jiwa” adalah kata kunci dari pesan pertama dan kedua Fatima. Sedangkan, kata kunci pada pesan yang ketiga adalah, “Bertobatlah, bertobatlah, bertobatlah!” Ini sesuai dengan Injil dalam Mrk 1:15. Untuk mengetahui tanda jaman adalah untuk menerima pentingnya pertobatan, dan iman. Maka maksud dari penampakan-penampakan Bunda Maria ini adalah untuk memimpin orang-orang untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih.

Sekarang tentang penglihatan mengenai malaikat dengan pedang yang menyala, seperti dalam gambaran di kitab Wahyu. Ini adalah untuk menunjukkan ancaman penghakiman. Jaman sekarang manusia sendiri dapat menghancurkan dunia menjadi abu, dengan penemuan-penemuannya, manusia sendiri menempa pedang yang menyala. Penglihatan kemudian memperlihatkan bahwa kekuatan yang merusak itu dikalahkan oleh kemuliaan Bunda Allah, dengan ajakan pertobatan. Maka di sini terdapat pentingnya kehendak bebas manusia: masa depan bukan sesuatu fakta yang tidak bisa diubah. Maka penglihatan itu adalah untuk mengarahkan kekuatan untuk mengadakan perubahan ke arah yang benar.

Selanjutnya adalah karakter sinbolis dari penglihatan itu: Tuhan adalah yang tak terukur, sebagai terang yang tak terukur. Para manusia kelihatan seperti di dalam cermin. Karena kita sekarang melihat dalam cernin suatu gambaran yang samar- samar (1 Kor 13:12).

Sekarang tentang gunung yang terjal dengan Salib dipuncaknya. Gunung dan kota besar yang menjadikan reruntuhan, melambangkan arena sejarah manusia: arena kreativitas dan harmoni sosial maupun juga arena penghancuran, di mana manusia menghancurkan hasil pekerjaannya sendiri. Salib merupakan lambang tujuan dan bimbingan sejarah manusia. Salib mengubah kerusakan menjadi keselamatan; salib merupakan tanda kemalangan sejarah tetapi juga sebuah janji bagi sejarah. Lalu tentang penderitaan Uskup (Bapa suci) dan para uskup, imam dan kaum religius. Jalan Gereja dikatakan sebagai perjalanan Via Crucis, melalui waktu kekerasan, penghancuran, dan penganiayaan. Seluruh sejarah abad ini diwakili oleh gambar ini. Abad ini merupakan abad para martir, penganiayaan Gereja, abad perang dunia dan perang lokal lainnya. Maka diperingatkan oleh Bunda Maria, “Jika tidak [bertobat], Rusia akan menyebarkan kesesatannya ke seluruh dunia….”

Di tengah perjalanan ini dari seluruh abad, gambaran Paus yang mendaki adalah gambaran generasi para Paus dari Paus X sampai Paus yang sekarang, mereka semua menderita mendaki menuju ke Salib. Di penglihatan itu Paus itu dibunuh bersama para martir. Bukankah itu yang hampir terjadi pada percobaan pembunuhan Paus Yohanes Paulus II tanggal 13 Mei 1981? Namun tangan Bunda Maria menolongnya; kekuatan iman dan doa-doa dapat mempengaruhi sejarah; dan kekuatan doa lebih kuat daripada peluru.

Ahkirnya, darah Kristus dan darah para martir merupakan satu kesatuan. Darah para martir turun dari kedua lengan Salib itu. Para martir wafat dalam persekutuan dengan Kristus. Demi Tubuh Kristus, para martir menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus (Kol 1: 24). Darah para martir adalah biji umat Kristiani. Seperti melalui kematian Kristus, Gereja lahir; maka kematian para martir menjadi kan kehidupan Gereja semakin berkembang. Maka tak ada penderitaan yang sia- sia. Dari penderitaan para saksi iman, lahirlah kekuatan yang memurnikan dan memperbaharui, sebab penderitaan mereka adalah aktualisasi dari penderitaan Kristus sendiri dan pernyampaian efeknya yang menyelamatkan di sini dan sekarang.

Maka, arti pesan/ rahasia Fatima sebagai satu kesatuan adalah ajakan/ desakan bagi para umat beriman untuk berdoa, sebagai jalan untuk keselamatan jiwa-jiwa dan juga perintah untuk bertobat (penance and conversion).

Saya ingin menyebutkan lagi ekspresi kuci dari pesan Fatima, “Hatiku yang tak bernoda akan menang” Apa maksudnya? Hati yang terbuka terhadap Tuhan, dimurnikan oleh kontemplasi akan Tuhan, adalah lebih kuat daripada senjata apapun. Ketaatan Bunda Maria telah mengubah dunia, sebab dengan ketaatannya ia telah membawa Kristus ke dunia. Syukurlah atas “Ya” dari Bunda Maria, Tuhan dapat menjadi manusia di dunia dan tetap hadir di dunia sepanjang jaman. Walaupun ada kuasa jahat di bumi, seperti yang kita lihat; namun karena Tuhan sendiri menjadi manusia dan mempunyai hati manusia, maka karenanya dapat menggiring kehendak bebas manusia menuju apa yang baik, maka kebebasan memilih yang jahat tidak lagi menjadi keputusan akhir. Maka ayat yang akhirnya merangkum semua adalah, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33)

————-

Demikianlah yang dapat saya sampaikan tentang pesan Penampakan Bunda Maria di Fatima 1917, dan tanggapan dari Vatikan tentang hal itu. Dari sini memang kita melihat wahyu pribadi yang diterima oleh Sr. Lucia tersebut tidak merupakan nubuat khusus tentang akhir jaman. Penglihatan yang demikian mengenaskan tentang banyaknya korban martir dan bahkan Bapa Paus sendiri, merupakan peringatan bagi dunia untuk segera bertobat, sebab jika tidak, kejadian itulah yang dapat terjadi. Maka pesan Fatima tetap sangat penting bagi kita semua saat ini, yaitu agar kita bertobat, berdoa dan mempunyai hati yang terbuka seperti hati Bunda Maria. Sebab, apapun yang terjadi, jika kita mempunyai sikap hati yang demikian dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, maka kita akan mengalahkan dunia dan melangkah menuju Surga, seperti Bunda Maria.

Perlukah kita mengetahui kapan terjadinya akhir zaman?

33

Pertanyaan:

Yang tidak kalah pentingnya informasi tentang waktu. Minimal kapan solusi dari krisis itu harus mulai dikerjakan. Bila solusinya membutuhkan, berapa lama krisis akan berlangsung. Dalam hal wahyu akhir zaman, tentu saja harus dapat disingkapkan minimal waktu kedatangan si Pendurhaka, dan rentang waktu krisis yang akan di alami oleh umat Tuhan. Banyak yang berdalih bahwa mengenai waktu ini tidak ada yang akan tahu. Mereka melandaskan pada beberapa ayat sebagai dasar yang menguatkan mereka. Sebaliknya melalui ayat-ayat itu saya disingkapkan hal sebaliknya. Yaitu justru kita akan tahu waktu-waktu itu. Baik waktu kedatangan Antikris, maupun waktu kedatangan Tuhan Yesus (waktu pengangkatan kita). Jangan terburu mencap sesat, kalau ada yang mengatakan akan tahu waktunya. Yang sesat adalah yang tidak tahu apa-apa, bukan yang tahu apa-apa. Bukankah Tuhan Yesus berkata: “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat memahami waktu ini?” (Luk 12:56 KJV) Memang banyak orang memprediksi waktu kedatangan Tuhan menurut hikmat mereka sendiri. Tapi penyingkapan yang sempurna bukan berupa prediksi. Tetapi mengalami penyingkapan dari naskah-naskah Alkitab secara jelas. Orang menggunakan Matius 24:36 untuk menyimpulkan bahwa tidak ada yang bakal tahu waktu kedatangan Tuhan. “Tetapi tentang hari dan jam itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, tetapi Bapaku sendiri.” (KJV). Namun sekarang perhatikan baik-baik. Baca kembali sebagai seorang yang mengasihi dan percaya bahwa kita juga dikasihi oleh Bapa. Ayat ini justru seharusnya memberi kepada kita suatu harapan. Bukan malah memutus harapan tidak akan pernah mendapat informasi penting itu. Ketika membaca ayat ini dalam penyingkapan, saya tiba-tiba mempunyai keyakinan Bapa ingin kita mengetahui waktunya. Ayat ini seperti berkata “jangan kuatir, walaupun malaikat-malaikat tidak tahu, tetapi Bapa tahu”. Lalu saya menemukan kebenaran itu dalam sederet ayat yang menjelaskan, bahwa Bapa selalu ingin memberitahu rahasia-rahasia-Nya kepada kita yaitu anak-anak-Nya. Berikut ayat-ayat yang dimaksud. “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan?… Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN…” (Kejadian 18:17-19) “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” (Amos 3:7) “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu…” (Yohanes 14:26a) “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” (I Korintus 2:10) Orang-orang juga secara ceroboh menggunakan perikop 1Tes 5 “Kedatangan Tuhan seperti pencuri” dan memahaminya secara sangat-sangat keliru. Dan mengajar kepada jemaat bahwa, Kedatangan Tuhan itu bagi kita seperti pencuri. Padahal yang dimaksud adalah bagi orang lain kedatangan Tuhan itu seperti pencuri. Memang Kedatangan Tuhan seperti kedatangan pencuri pada malam hari, untuk orang lain. Tetapi tidak untuk kita! Itulah sebabnya ayat 4 dan 5 berkata, “Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” Lalu ada juga yang terjebak menyimpulkan Luk 12:40 untuk memperkuat pendapat bahwa kita memang tidak akan menyangka saat kapan Tuhan akan datang. “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” Namun perhatikan ayat 40 ini jangan diambil sepotong, sebab merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, ayat 39 yang berkata: “Tetapi ketahuilah ini: Jika ‘orang bijaksana dalam rumah’ (the goodman of the house – KJV), telah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia akan berjaga-jaga, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.” Lebih jelasnya ayat 39 dan 40 bermaksud memberitahu. “Ketahui ini: Jika ‘orang bijaksana dalam rumah’ telah tahu kapan waktunya, ia akan berjaga-jaga, Hendaklah kamu juga, karena kamu tidak tahu waktunya.” Bagi mereka yang tidak tahu kapan waktunya, Tuhan memberi petunjuk: ikuti ‘orang bijaksana dalam rumah’. Kalau ia berjaga-jaga, itulah waktunya. Siapakah ‘orang bijaksana dalam rumah’ ini yang tahu kapan waktu kedatangan itu? Petrus juga bertanya hal yang sama pada ayat berikutnya, ayat 41. “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan?” Lalu Tuhan Yesus menyingkapkan dalam ayat-ayat berikutnya, ayat 42-44, bahwa ‘orang bijaksana dalam rumah’ adalah ‘Pengurus Rumah yang Setia dan Bijaksana’. Orang-orang seperti inilah yang tahu kapan kedatangan Tuhan. Merekalah orang yang akan tahu kapan waktu kedatangan Tuannya. Mengenai ‘Pengurus Rumah Yang Setia dan Bijaksana’. Jadi penyingkapan waktu merupakan hal yang akan muncul dalam penyingkapan yang sempurna. Baik waktu kedatangan Antikris, rentang waktu krisis, maupun waktu pengangkatan. Salam – Young Man in The Last Generation

Jawaban:

Shalom Young Man (YM), Terima kasih atas komentarnya tentang akhir dunia, dimana Young Man berpendapat bahwa kita perlu mengetahui akan waktu dari akhir jaman dan juga kapan anti-Kristus akan datang. Dalam hal ini, memang kita mempunyai pendapat yang berbeda, karena saya berpendapat bahwa kita tidak perlu mengetahui waktu (tanggal, bulan dan tahun) kedatangan Kristus yang ke-dua, karena itulah yang difirmankan oleh Kristus. Berikut ini adalah tanggapan saya tentang hal ini: 1) YM mengatakan “Yang tidak kalah pentingnya informasi tentang waktu. Minimal kapan solusi dari krisis itu harus mulai dikerjakan. Bila solusinya membutuhkan, berapa lama krisis akan berlangsung. Dalam hal wahyu akhir zaman, tentu saja harus dapat disingkapkan minimal waktu kedatangan si Pendurhaka, dan rentang waktu krisis yang akan di alami oleh umat Tuhan.” Saya ingin menanggapi pernyataan ini dengan beberapa pertanyaan:

a) Mengapa informasi waktu (hari, bulan, dan tahun) kedatangan Kristus begitu penting? Apa yang membedakan antara kita tahu kapan waktunya dengan kita tidak tahu waktu kedatangan Kristus? Bagaimana kalau seseorang meramalkan bahwa akhir jaman akan terjadi 200 tahun lagi atau 1 tahun lagi dari sekarang? Apakah dampaknya terhadap spiritualitas seseorang? Mengapa kita perlu menyingkapkan kapan kedatangan anti-Kristus beserta waktu krisis yang dialami oleh umat Tuhan? Apakah agar kita bersiap diri untuk dapat diangkat? Jika jawaban pertanyaan terakhir ini adalah ya, maka kita telah mempunyai perbedaan fundamental tentang eskatologi. Apakah yang dipercaya oleh YM – post-tribulational Pre-millennialism, Pre-tribulational (dispensational) Premillennialism, Postmillennialism, Amillennialism? Dan kemudian, kapankah persisnya kedatangan Kristus yang ke-dua (di luar akhir jaman)? Kapankah orang-orang diangkat (rapture)? kapankah dimulainya masa millennium? Kalau teori tentang ini begitu banyak, dan semua mendasarkan teorinya pada Alkitab, dari manakah kita tahu mana yang benar? Bagi orang awam yang mungkin kurang mendalami Alkitab, teori manakah yang harus diikuti oleh mereka? Dan apakah pengaruhnya teori-teori ini dalam kehidupan spiritual mereka?

b) Bukankah ada begitu banyak ramalan tentang akhir dunia yang telah terbukti gagal, walaupun mereka mendasarkan ramalannya dari Alkitab? Bagaimana kita tahu ramalan yang memang diilhami oleh Allah dan yang bukan?

2) YM mengatakan “Banyak yang berdalih bahwa mengenai waktu ini tidak ada yang akan tahu. Mereka melandaskan pada beberapa ayat sebagai dasar yang menguatkan mereka. Sebaliknya melalui ayat-ayat itu saya disingkapkan hal sebaliknya. Yaitu justru kita akan tahu waktu-waktu itu. Baik waktu kedatangan Antikris, maupun waktu kedatangan Tuhan Yesus (waktu pengangkatan kita).

a) Ya, memang saya mempunyai pendapat bahwa tidak ada yang tahu kapan (tanggal, bulan, dan tahun) waktu kedatangan Kristus yang ke-dua, karena itulah yang dikatakan oleh Kristus sendiri, yaitu: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mt 24:36; Mk 13:32). Lebih lanjut, ketika para murid bertanya kepada Yesus kapankah saatnya Yesus memulihkan kerajaan bagi Israel, maka Yesus menjawab “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” (Kis 1:7). Bukankah rasul Paulus menegaskan bahwa kedatangan Kristus adalah seperti pencuri dan tidak ada yang tahu kedatangannya (1 Tes 5:2; 2 Pet 3:10)? Akhirnya, kitab Wahyu menegaskan bahwa tidak ada yang tahu kedatangan Kristus yang ke-dua (lih. Why 3:3).

b) Bagaimana untuk menyikapi kedatangan Kristus yang tidak diketahui saatnya? Cara yang paling baik adalah berjaga-jaga dan siap sedia menantikan kedatangan Kristus (lih. Mt 24:44; Mt 25:13; Mk 13:35-37; Lk 12:37-40, 46; 1 Tes 5:6; Why 3:3, 16:15). Rasul Yakobus mengatakan, agar kita bersabar untuk menantikan kedatangan Kristus (Yak 5:7). Dan cara yang paling baik untuk mempersiapkan kedatangan Kristus adalah dengan hidup kudus.

c) Itulah beberapa ayat yang mendasari pemikiran, mengapa kita tidak tahu kapan kedatangan Kristus yang kedua. Berikutnya saya akan membahas tentang ayat-ayat yang diajukan oleh YM. Dari kalimat yang YM tuliskan “Baik waktu kedatangan Antikris, maupun waktu kedatangan Tuhan Yesus (waktu pengangkatan kita),” maka saya mengambil kesimpulan bahwa YM percaya akan teori rapture. Dan kalau rapture diartikan secara terpisah dari kedatangan Kristus yang ke-dua, maka kita mempunyai perbedaan pendapat. Silakan untuk membaca artikel tentang rapture (silakan klik).

3) YM mengatakan “Jangan terburu mencap sesat, kalau ada yang mengatakan akan tahu waktunya. Yang sesat adalah yang tidak tahu apa-apa, bukan yang tahu apa-apa. Bukankah Tuhan Yesus berkata: “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat memahami waktu ini?” (Luk 12:56 KJV)

a) Bukankah dari ayat-ayat di atas sebenarnya begitu jelas, bahwa manusia tidak perlu tahu kedatangan Kristus, karena kedatangan Kristus yang ke-dua adalah seperti pencuri? Bukankah kalau kita tahu secara persis, maka kedatangan-Nya bukan lagi seperti pencuri? Orang yang tidak tahu apa-apa memang harus belajar, namun orang yang tidak tahu kedatangan Kristus yang ke-dua memang sudah semestinya, karena Kristus sendiri di dalam kebijaksanaan-Nya, tidak menyatakannya kepada manusia. Dan kalau orang berusaha untuk mencari tanggal, bulan, dan tahun kedatangan Kristus yang ke-dua malah berfokus pada hal yang salah, yaitu mencari secara persis kapan Kristus datang, bukan berfokus pada persiapannya. Kristus telah menegaskan bahwa tidak ada yang tahu kedatangan-Nya dan sikap yang terpenting adalah berjaga-jaga. Oleh karena itu, mempersiapkan kedatangan Kristus yang ke-dua lebih penting daripada mencari tahu kapan tanggal, bulan, dan tahun kedatangan-Nya.

b) Lk 12:56 mengatakan “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” Kalau kita melihat konteks dari ayat ini, maka kita dapat menilai bahwa Yesus sedang menceritakan kepada orang banyak untuk waspada kepada kemunafikan orang farisi (Lk 12:1). Dan pada waktu Kristus menceritakan tentang kerajaan Sorga, maka Kristus sendiri menekankan agar manusia terus berjaga-jaga (lih. Lk 12:35-37, 40). Lalu, apakah ayat 56 mengatakan bahwa seharusnya kita tahu hari kiamat? Sama sekali tidak, karena ayat tersebut mengacu kepada kedatangan Kristus, pada zaman itu. Yesus mengatakan, bahwa orang farisi adalah munafik, karena mereka tahu begitu banyak hal (yang dapat meramalkan cuaca, dll), namun Kristus yang datang di “zaman itu“, yang telah dinubuatkan begitu banyak oleh para nabi, yang telah dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis, yang telah membuat begitu banyak mukjijat, namun tidak dapat mereka kenali. “Zaman ini” adalah mengacu kepada zaman pada waktu itu, yaitu zaman Kristus.

4) YM mengatakan “Memang banyak orang memprediksi waktu kedatangan Tuhan menurut hikmat mereka sendiri. Tapi penyingkapan yang sempurna bukan berupa prediksi. Tetapi mengalami penyingkapan dari naskah-naskah Alkitab secara jelas.” Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana orang dapat membedakan apakah prediksi tersebut menurut hikmat mereka sendiri atau prediksi yang sempurna. Yang membingungkan lagi, kalau mengklaim bahwa prediksi mereka berdasarkan Roh Kudus dan Alkitab. Untuk dapat melihat hal ini secara jelas, saya ingin mengutip beberapa prediksi yang sebagian telah dikumpulkan dalam site ini (silakan klik).

a) 1635 – Lutheran Church: Adam Nachenmoser dalam bukunya Prognoosticum Theologicum, memprediksi tahun 1635 kemungkinan besar adalah hari kiamat.

b) 1948 – Baptist Church: Dr. Isaac M. Haldeman, seorang pastor dari First Baptist Church di kota New York memprediksi bahwa pada tahun 1948, anti Kristus akan datang. Dia mengatakan “The Scriptures teach that this man (the Antichrist) will be the prime factor in bringing the Jews back, as a body into their own land; that he will be the power that shall make Zionism a success; that through him the nationalism of the Jews shall be accomplished.

c) 1533 – Anabaptis Church: Millenium akan terjadi tahun 1533.

d) 1650-1695 – Presbyterian Church: Thomas Brightman memprediksi bahwa pada tahun 1650-1695 akan terjadi pertobatan kaum Yahudi dan kebangkitan kembali negara mereka di Palestina… kehancuran kepausan … pernikahan antara Anak Domba dan istrinya. Dan lebih lanjut Christopher Love memprediksi bahwa Babilonia akan jatuh di tahun 1758, kemarahan Tuhan kepada yang jahat akan ditunjukkan di tahun 1759, dan akan terjadi gempa bumi besar di seluruh dunia di tahun 1763.

e) 1934-1935 – Assemblies of God Church: The Weekly Evangel, publikasi resmi dari Assemblies of God menuliskan bahwa akhir dunia diprediksikan tidak akan lebih lama dari tahun 1934 atau 1935.

f) 8 Maret 1889 – Mennonites: Kristus akan kembali pada tanggal 8 Maret 1889 sampai 1891.

g) 1981 – Calvary Chapel: Chuck Smith dalam bukunya entitled End Times, mengatakan bahwa Kristus akan datang kembali sebelum masa sengsara dimulai, yang akan terjadi sebelum tahun 1981 (1948 [dipercaya sebagai generasi terakhir] + 40 [a generation of judgment]+ 7 [masa sengsara] = 1981). Lebih lanjut, dia mengatakan kemungkinan bahwa generasi terakhir dimulai tahun 1967.

h) 1890 – Mormonism: Joseph Smith memprediksikan bahwa kedatangan Kristus yang ke-dua akan terjadi sebelum dia berumur 85 tahun, atau tahun 1890.

i) 1874, 1914, 1925 – Jehovah’s Witnesses: Charles Taze Russell dan Joseph Franklin Rutherford memprediksi tahun 1874, 1914, 1925 sebagai tahun-tahun sebagai berikut: kedatangan Kristus yang ke-dua, hari penghukuman, masa millennium.

j) 15 September 1829 – Harmony Society.

k) 21 Maret 1843 – 21 Maret 1844, 22 Oktober 1844 – William Miller – American baptist preacher. William Miller menggunakan kitab Daniel untuk memprediksi kedatangan Kristus yang ke-dua.

Dan masih begitu banyak prediksi yang lain. Pertanyaannya, bagaimana seorang yang hidup pada masa tersebut dapat tahu apakah prediksi tersebut benar atau tidak? Pertanyaan ini sama seperti bagaimana orang yang hidup di zaman ini tahu apakah prediksi seseorang (yang mengklaim mendapatkan hikmat dari Roh Kudus dan Alkitab) benar atau tidak? Beberapa contoh di atas adalah mereka telah mencoba menyingkapkan kedatangan Kristus yang ke-dua berdasarkan Alkitab, namun tidak pernah terbukti kebenarannya. Ribuan, mungkin jutaan orang telah mempercayai beberapa prediksi akhir dunia pada waktu itu, namun tidak pernah terjadi. Apakah setelah terbukti gagal, maka kita baru dapat mengatakan bahwa ramalan tersebut hanyalah berdasarkan pemikiran pribadi?

5) YM mengatakan “Orang menggunakan Matius 24:36 untuk menyimpulkan bahwa tidak ada yang bakal tahu waktu kedatangan Tuhan. “Tetapi tentang hari dan jam itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, tetapi Bapaku sendiri.” (KJV). Namun sekarang perhatikan baik-baik. Baca kembali sebagai seorang yang mengasihi dan percaya bahwa kita juga dikasihi oleh Bapa. Ayat ini justru seharusnya memberi kepada kita suatu harapan. Bukan malah memutus harapan tidak akan pernah mendapat informasi penting itu.

a) Saya telah membaca ayat tersebut beberapa kali dan tetap mempunyai kesimpulan bahwa tidak seharusnya manusia tahu kedatangan Kristus yang ke-dua, karena kedatangan-Nya adalah seperti pencuri. Dan terlebih, Yesus menegaskan kembali hal ini, dengan mengatakan “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” (Kis 1:7) Menurut hemat saya, kalau memang Yesus, di dalam kebijaksanaan-Nya, ingin menyatakan kepada manusia, maka Dia akan menyatakan-Nya. Namun, di beberapa kesempatan, Dia senantiasa menegaskan bahwa kedatangan-Nya adalah seperti pencuri dan tidak ada yang tahu. Dari ayat-ayat tersebut, yang menurut saya telah begitu jelas apa yang dimaksud Yesus, maka harapan seperti apakah yang diinginkan? Apakah kita harus terus berharap bahwa seseorang akan mengatakan kepada kita tentang hari, tanggal, dan tahun kedatangan Kristus yang ke-dua? Contoh-contoh di atas, adalah bukti bahwa telah begitu banyak orang yang mencoba untuk meramalkan kedatangan Kristus yang ke-dua, namun selalu gagal.

6) YM mengatakan “Ketika membaca ayat ini dalam penyingkapan, saya tiba-tiba mempunyai keyakinan Bapa ingin kita mengetahui waktunya. Ayat ini seperti berkata “jangan kuatir, walaupun malaikat-malaikat tidak tahu, tetapi Bapa tahu”. Lalu saya menemukan kebenaran itu dalam sederet ayat yang menjelaskan, bahwa Bapa selalu ingin memberitahu rahasia-rahasia-Nya kepada kita yaitu anak-anak-Nya. Berikut ayat-ayat yang dimaksud.

a) Saya tidak terlalu jelas dengan kalimat pertama. Apakah setelah membaca ayat tersebut (Mt 24:36), maka YM tiba-tiba mempunyai keyakinan bahwa Bapa ingin kita mengetahui waktunya? Darimanakah keyakinan yang tiba-tiba datang? Dan dengan keyakinan ini, YM menarik kesimpulan bahwa Bapa senantiasa ingin memberitahu rahasia-rahasia-Nya kepada kita, yaitu anak-anak-Nya. Tuhan memang membagikan pengetahuan kepada manusia lewat Yesus, dimana Yesus mengatakan “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15:15). Namun, bukankah pengetahuan bahwa Yesus pasti akan datang ke-dua kali adalah sudah cukup? Dan bukankah sikap untuk menghadapi kedatangan Yesus yang ke-dua adalah berjaga-jaga lebih bijaksana dibandingkan dengan terus mencoba mencari hari, tanggal, dan tahun kedatangan Kristus yang ke-dua?

b) YM mengutip ayat-ayat: Kej 18:17-19; Amos 3:7; Yoh 14:26a; 1 Kor 2:10, untuk menunjukkan bahwa Tuhan pasti akan menyingkapkan segala sesuatu (termasuk kapan hari kiamat) kepada manusia. Mari kita bersama-sama mengupas ayat-ayat tersebut:

Kej 18:17-19: “Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? 18  Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19  Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” Tuhan mempunyai kebebasan dan kebijaksanaan, apakah sesuatu dipandang baik untuk dinyatakan atau tidak kepada manusia. Dan kepada Abraham, Tuhan menyatakan kehancuran kota Sodom dan Gomorah tanpa menyebutkan waktunya.

Amos 3:7: “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” Bukankah Tuhan telah menyatakan keputusan-Nya agar Kristus datang ke-dua kalinya? Namun keputusan-Nya tidak disertai oleh tanggal, bulan, dan tahun kedatangan-Nya.

Yoh 14:26a: “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Semua yang dikatakan oleh Roh Kudus adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Yesus. Dia tidak menyatakan segala sesuatu yang baru, yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus. Inilah sebabnya, di ayat yang sama, dikatakan bahwa Roh Kudus akan mengingat kita akan semua yang telah Yesus katakan. Dan kalau Yesus mengatakan bahwa kedatangan-Nya yang ke-dua tidak ada yang tahu, dan terjadi secara tiba-tiba (Mt 24:36; Mk 13:32) seperti pencuri (lih. Mt 24:43), dan kita tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang telah ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya (lih. Kis 1:7), maka Roh Kudus juga akan mengatakan demikian. Kalau orang yang mengatakan atas nama Roh Kudus tahu hari, bulan, dan tahun hari kiamat, maka itu berarti bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Kristus sendiri. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa itu bukan dari Roh Kudus.

1 Kor 2:10: “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” Roh Allah memang tahu segala sesuatu, karena Roh Allah / Roh Kudus adalah satu dengan Allah Bapa dan Allah Putera. Oleh karena itu, kalau Allah Putera (Yesus) memilih untuk tidak menyatakan kapan kedatangan-Nya yang ke-dua, maka Roh Allah-pun akan berkata sama. Kalau Roh Allah mengatakan yang berbeda, maka terjadi kontradiksi, dimana Allah Roh Kudus dan Allah Putera tidak menyatakan hal yang sama. Namun, di dalam Allah tidak ada kontradiksi, karena kalau terjadi kontradiksi, Dia bukan lagi Allah. Di katakan di ayat 11 “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” Dari sini jelas, bahwa tidak semua pengetahuan Allah dinyatakan kepada manusia, namun Roh Allah tentu saja tahu segala sesuatu di dalam diri Allah, karena Roh Kudus adalah Allah.

7) YM mengatakan “Orang-orang juga secara ceroboh menggunakan perikop 1Tes 5 “Kedatangan Tuhan seperti pencuri” dan memahaminya secara sangat-sangat keliru. Dan mengajar kepada jemaat bahwa, Kedatangan Tuhan itu bagi kita seperti pencuri. Padahal yang dimaksud adalah bagi orang lain kedatangan Tuhan itu seperti pencuri.

a) Mari kita lihat apa yang dikatakan rasul Paulus di dalam 1 Tes 5:1-2 “1 Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 2  karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” Menurut saya, text tersebut telah begitu jelas menyatakan bahwa Tuhan tidak menyatakan kapan kedatangan Kristus ke-dua, karena kedatangan-Nya adalah tiba-tiba, seperti pencuri.

b) Saya tidak tahu bagaimana YM sampai pada kesimpulan bahwa text itu ditujukan kepada orang lain dan bukan kepada kita semua. Lebih lanjut YM mengatakan “Memang Kedatangan Tuhan seperti kedatangan pencuri pada malam hari, untuk orang lain. Tetapi tidak untuk kita! Itulah sebabnya ayat 4 dan 5 berkata, “Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” Ayat 4 dan 5 bukanlah dasar bahwa ayat 1-2 dikatakan untuk orang lain, namun tidak termasuk kita semua. Surat rasul Paulus dituliskan kepada jemaat di Tesalonika untuk menyatakan kepada mereka bahwa mereka tidak perlu tahu kedatangan Kristus yang ke-dua, dan oleh karena itu mereka harus terus menjalankan kehidupan mereka, namun harus senantiasa berjaga-jaga. Ini adalah kesalahan dari jemaat Tesalonika pada waktu itu, yang tidak melakukan apapun, karena mengira bahwa kedatangan Kristus telah begitu dekat. Oleh karena itulah, rasul Paulus mengatakan sikap yang seharusnya dipunyai oleh anak-anak terang (ay 5), yaitu “…baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.” (ayat 6). Bagi anak-anak terang, walaupun kedatangan Kristus adalah tiba-tiba, namun bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena Kristus sendiri telah mengatakannya demikian – yaitu Dia pasti datang. Kalau kita terus berjaga-jaga, dengan hidup kudus, kedatangan Kristus yang ke-dua adalah suatu kejadian yang kita rindukan.

c) Text di atas ditujukan kepada jemaat di Tesalonika, yang telah menjadi pengikut Kristus, sama seperti kita. Oleh karena itu pernyataan bahwa text tersebut ditujukan kepada orang lain bukan kepada kita adalah tidak tepat. Apa yang membedakan kita dengan jemaat di Tesalonika? Apakah jemaat di Tesalonikan bukan anak-anak terang dan hanya kita saja yang menjadi anak-anak terang?

8) YM mengatakan “Lalu ada juga yang terjebak menyimpulkan Luk 12:40 untuk memperkuat pendapat bahwa kita memang tidak akan menyangka saat kapan Tuhan akan datang. “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” Namun perhatikan ayat 40 ini jangan diambil sepotong, sebab merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, ayat 39 yang berkata: “Tetapi ketahuilah ini: Jika ‘orang bijaksana dalam rumah’ (the goodman of the house – KJV), telah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia akan berjaga-jaga, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

a) Menurut saya, orang yang mengatakan bahwa tidak ada yang tahu waktu kedatangan Kristus yang ke-dua adalah setia terhadap Alkitab, karena Alkitab mengatakannya demikian, dan juga banyak ayat lain yang mendukungnya.

b) Mari kita membahas ayat Lk 12:39 yang mengatakan “Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.” YM menafsirkannya demikian “Lebih jelasnya ayat 39 dan 40 bermaksud memberitahu. “Ketahui ini: Jika ‘orang bijaksana dalam rumah’ telah tahu kapan waktunya, ia akan berjaga-jaga, Hendaklah kamu juga, karena kamu tidak tahu waktunya.” Bagi mereka yang tidak tahu kapan waktunya, Tuhan memberi petunjuk: ikuti ‘orang bijaksana dalam rumah’. Kalau ia berjaga-jaga, itulah waktunya.” Ayat 39 yang mengatakan “the goodman of the house (KJV)” adalah sama dengan the head of the house (NASV), “the householder (RSV, DRB), the master of the house (ASV), yang intinya adalah pemilik rumah. Kalaupun kita menganggap bahwa yang benar adalah orang bijaksana dalam rumah, namun ayat 39 tidak menyebutkan bahwa tuan rumah (the goodman of the house) adalah tahu akan saatnya pencuri datang, dimana dinyatakan dalam kata “IF / JIKA”.

c) Oleh karena itu, kesimpulan YM yang mengatakan “Siapakah ‘orang bijaksana dalam rumah’ ini yang tahu kapan waktu kedatangan itu?” adalah salah, karena Yesus hanya menyebutkan “JIKA tuan rumah itu telah tahu” dan bukan “Tuan rumah itu telah tahu”. Sebaliknya, kalimat tersebut, menyiratkan bahwa tuan rumah tersebut tidak tahu kapan pencuri datang atau dalam hal ini adalah menggambarkan kita juga tidak tahu kapan kedatangan Kristus yang ke-dua. Oleh karena itu, Yesus mengatakan di ayat 40 “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” Kemudian Petrus bertanya “…Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” (Lk 12:41). Kita dapat menghubungkan jawaban Yesus yang dikatakan di Mk 13:37 “Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” Di Lukas 12, Yesus tidak menjawab secara langsung, namun dari ayat-ayat berikutnya (42-48), maka pengurus rumah yang setia dan bijaksana adalah bukan yang tahu kapan kedatangan Kristus yang ke-dua, namun yang “melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.” (ay. 43). Apakah tugasnya? melakukan semua perintah Kristus dan melakukan persiapan – yaitu dengan berjaga-jaga (lih. ayat 47). Oleh karena itu, kesimpulan YM yang mengatakan “Lalu Tuhan Yesus menyingkapkan dalam ayat-ayat berikutnya, ayat 42-44, bahwa ‘orang bijaksana dalam rumah’ adalah ‘Pengurus Rumah yang Setia dan Bijaksana’. Orang-orang seperti inilah yang tahu kapan kedatangan Tuhan. Merekalah orang yang akan tahu kapan waktu kedatangan Tuannya. Mengenai ‘Pengurus Rumah Yang Setia dan Bijaksana’.” adalah tidak benar. Seperti yang telah dipaparkan di atas, pengurus rumah yang setia dan bijaksana bukanlah yang tahu kapan kedatangan Kristus yang ke-dua, namun yang menjalankan perintah tuanya dan selalu siap sedia.

9) Dan karena itu, kesimpulan YM “Jadi penyingkapan waktu merupakan hal yang akan muncul dalam penyingkapan yang sempurna. Baik waktu kedatangan Antikris, rentang waktu krisis, maupun waktu pengangkatan.” adalah tidak tepat, karena: 1) Kristus telah mengatakan tidak ada yang tahu kedatangannya, 2) teori pengangkatan yang terpisah dari kedatangan Kristus yang ke-dua, juga tidak mempunyai dasar yang kuat. Oleh karena itu, mengapa kita tidak kembali kepada apa yang diajarkan oleh Alkitab, dan ditulis secara jelas – yang tidak mempunyai penafsiran ganda, yang juga didukung oleh ayat-ayat yang lain? Waktu kedatangan Kristus yang ke-dua tidak ada yang tahu, malaikat-malaikat di Sorga tidak, dan Anakpun tidak (Mt 24:36; Mk 13:32; Why 3:3), karena kedatangan-Nya adalah seperti pencuri (1 Tes 5:2; 2 Pet 3:10). Kita tidak perlu tahu kedatangan-Nya (Kis 1:7), namun yang terpenting adalah berjaga-jaga dan siap sedia, serta dengan sabar menantikan kedatangan-Nya (lih. Mt 24:44; Mt 25:13; Mk 13:35-37; Lk 12:37-40, 46; 1 Tes 5:6; Why 3:3, 16:15; Yak 5:7). Oleh karena itu, kita harus berfokus bukan pada mencari tahu kapan kedatangan-Nya, namun kepada bagaimana mempersiapkan kedatangan-Nya sebaik mungkin – dengan menjalankan semua perintah-Nya dan senantias siap sedia menyambut-Nya. Kita akan bertemu Yesus muka dengan muka, baik dalam akhir jaman (kalau kita mengalaminya) atau kalau kita telah dipanggil Tuhan sebelum akhir jaman terjadi. Oleh karena itu, bersiap-siaplah dan berjaga-jagalah. Semoga diskusi ini dapat membawa bermanfaat. Terpujilah Kristus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Sesudah selamat lalu apa?

3

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Dear pengasuh Katolisitas.org
Untuk apa kita percaya ? ——— >Supaya selamat
Tetapi sesudah itu apa ?

Salam
mac

Jawaban:

Shalom Machmud,

Umat Kristiani percaya bahwa karena kasih karunia Allah kita diselamatkan oleh iman (Ef 2:8). Keselamatan yang dimaksud di sini adalah keselamatan kekal, di mana kita beroleh kehidupan abadi di surga. Maka keselamatan itu berkaitan erat dengan arti surga. Seperti apakah kehidupan kita di surga, inilah yang berkaitan dengan pertanyaan anda.

Saya ingin mengutip jawaban yang diberikan oleh Paus Benediktus XVI yang pada waktu itu masih sebagai Kardinal Joseph Ratzinger, yang menulis tentang kehidupan surgawi dalam bukunya, Eschatology, Washington DC: The Catholic University of America Press, 1988, p. 234-238:

“Oleh karena itu surga harus pertama-tama dan terutama diartikan dalam kaitannya dengan Kristus. Surga bukan suatu tempat ekstra-historis yang kepadanya seseorang menuju. Keberadaan surga tergantung dari kenyataan bahwa Yesus Kristus yang adalah Tuhan, menjadi manusia, dan membuat ruang bagi keberadaan manusia di dalam keberadaan Tuhan sendiri. Seseorang berada di surga ketika dan pada tingkat bahwa seseorang itu berada di dalam Kristus. Dengan berada di dalam Kristus-lah kita menemukan tempat yang sejati dari keberadaan kita sebagai manusia di dalam Tuhan. Maka pada dasarnya Surga adalah realitas pribadi, yang tetap selalu dibentuk oleh asal usul historisnya di dalam misteri Paskah dari wafat dan kebangkitan Kristus…. Kristus yang bangkit tetap menjadi sebuah postur yang memberikan diri kepada Allah Bapa. Memang Ia adalah Ia Yang memberikan Diri-Nya. Maka kurban Paskah selalu ada di dalam diri-Nya sebagai kehadiran yang tetap selamanya… Pergerakan kita sebagai manusia naik [menuju Allah] di dalam kesatuannya dengan Kristus dijawab Allah dengan pergerakan Tuhan yang turun dan memberikan Diri-Nya kepada kita… inilah yang dikatakan sebagai penglihatan akan Tuhan (vision of God) atau kasih Tuhan (love of God)…. Tuhan yang “menjadi semua di dalam semua” [1 Kor 15:28] dan oleh karena itu manusia memasuki kepenuhan Allah yang tak terbatas….

….. Jika surga tergantung dari keberadaan seseorang di dalam Kristus, maka surga harus juga melibatkan keberadaan orang- orang lain yang juga ada di dalam Kristus, yang membentuk Tubuh Kristus. Surga bukan tempat yang terisolasi. Surga adalah kesatuan masyarakat yang terbuka dari persekutuan para orang kudus, dan dengan demikian merupakan pemenuhan dari semua persekutuan manusia…. [sebagai] persekutuan yang tak terputuskan dari keseluruhan Tubuh Kristus- dan keutuhan kasih yang tidak mengenal batas dan pasti mencapai Tuhan di dalam sesama dan sesama di dalam Tuhan…..

…..Penggabungan “saya” ke dalam Tubuh Kristus adalah demi Tuhan dan sesama, adalah bukan peleburan diri, tetapi sebuah pemurnian yang pada saat yang satu dan sama, juga merupakan perwujudan potensi dari setiap manusia. Inilah sebabnya maka surga merupakan sesuatu yang bersifat individual bagi setiap orang, di mana ia dapat melihat Tuhan dengan caranya yang seharusnya [keadaan yang sebenarnya -1 Yoh 3:2]. Setiap orang menerima kasih yang ditawarkan dengan seutuhnya dengan cara yang sesuai dengan keunikannya masing-masing yang tidak dapat digantikan oleh yang lain.

…. Kesempurnaan Tubuh Tuhan sebagai “keseluruhan Kristus” membuat surga sebagai kesempurnaan kosmik. Keselamatan seseorang menjadi utuh dan penuh hanya ketika keselamatan kosmik dan semua orang pilihan telah memberikan hasilnya. Maka orang-orang yang diselamatkan tidak hanya berdiri berdampingan satu sama lain di surga. Tetapi, di dalam kebersamaan mereka, sebagai satu Kristus [karena semua tergabung di dalam Tubuh-Nya], mereka adalah surga…..”

Maka pada prinsipnya surga merupakan persekutuan antara setiap orang beriman dengan Allah dan persekutuan antara sesama orang beriman itu sendiri karena mereka tergabung sebagai Tubuh Kristus. Persekutuan ini sebenarnya adalah hakekat dari Gereja. Maka dapat dikatakan bahwa tujuan akhir manusia adalah Gereja, di mana semua umat beriman dipersatukan dengan Allah di dalam Kristus, dan dalam persekutuan inilah Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28). Silakan anda klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang arti ayat 1 Kor 15:28 tersebut.

Namun demikian perlu diketahui juga bahwa persekutuan kita dengan Allah ini tidak menjadikan kita Allah/ dilebur menjadi Allah. Pandangan peleburan manusia menjadi Allah ini adalah salah satu ajaran New Age Movement yang tidak sesuai dengan ajaran Kristiani. Kita tetaplah manusia ciptaan Allah, namun kita diangkat dan dipersatukan dengan Allah sendiri di dalam Kristus, dijadikan serupa dengan-Nya, memandang Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, karena kita memandang Allah di dalam Kristus Sang Sabda. Gereja Katolik mengajarkan bahwa persatuan dengan Kristus ini telah mulai dialami di dunia pada saat umat Katolik menerima Ekaristi yang adalah Tubuh Tuhan Yesus sendiri. Penggabungan umat beriman dengan Kristus ini memberikan kehidupan ilahi kepada umat yang menerima, yang akhirnya menghantarkan umat kepada kesempurnaan komuni/ persekutuan ini di surga.

Agaknya realitas persatuan/ persekutuan antara kita dengan Allah ini hanya dapat kita pahami sepenuhnya jika kita sampai di surga kelak. Ini memang merupakan sesuatu yang nampaknya dimaksudkan oleh Rasul Paulus, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

ASG: untuk mengkaji pelayanan sosial Katolik

15

Pertanyaan:

Dear, aku mau nanya sedikit:

Ajaran Sosial Gereja mana yang cocok untuk mengkaji pelayanan sosial para religius, sehingga tidak terjebak pada tindakan belas kasih semata dan tidak menjadi sama dengan LSM?

Thanks ‘n GBU, Ce

Jawaban:

Shalom Ce,

Wah, pertanyaan anda cukup unik, dan tidak mudah untuk menjawabnya, karena selain memang luas cakupannya, namun juga penerapannya memerlukan kreativitas dari yang terlibat. Saya menganjurkan, anda untuk membaca ringkasan beberapa dokumen resmi tentang ajaran sosial Gereja, jika anda mempunyai keterbatasan waktu untuk membaca semua dokumen ajaran sosial Gereja ini. Bukunya berjudul Precis of Official Catholic Teaching on the Social Teaching of the Church yang dikeluarkan oleh CCSP, berisi ringkasan beberapa surat ensiklik dari para Paus, seperti Rerum Novarum, Quadragesimo Anno, Mater et Magistra, Populorum Progressio, Laborem Excercens, Centesimus Annus, Sollicitudo Rei Socialis, Gaudium et Spes, dst.

Saya bukan seorang ahli dalam hal ini, maka yang dapat saya sampaikan di sini adalah prinsip-prinsip secara umum, yang dapat kita ketahui tentang prinsip ajaran sosial Gereja, yang mungkin dapat dipegang dalam pelayanan sosial Katolik, entah yang dilakukan oleh kaum religius ataupun oleh kaum awam, sehingga harapannya dapat membedakannya dengan LSM yang non-Katolik:

1. Prinsip dasar:
– Ajaran sosial Gereja selalu mempunyai prinsip dasar menjunjung tinggi martabat manusia sehingga hubungan timbal balik antar manusia dapat terwujud (Mater et Magistra, 220). Dasar martabat manusia ini adalah karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej 1:26; Keb 2:23, Gaudium et Spes 12, 29)

– Para pelayan sosial religius selayaknya mengusahakan hubungan timbal balik/ dialog antara kedua kelompok (yang menolong dan ditolong), dengan menyatakan kepada kedua pihak pengajaran Injil (lih. Rerum Novarum 41, Populorum Progressio 54)

– Semua kegiatan harus sesuai dengan prinsip moralitas praktis, di mana semua kebutuhan pribadi maupun masyarakat harus diharmonisasikan dengan persyaratan untuk mencapai kebaikan bersama/ “common good” (lih Mater et Magistra, 37).

– Setiap orang harus melihat sesamanya sebagai dirinya sendiri, dengan memikirkan hidupnya dan jalan yang diperlukan untuk hidup dengan cara yang layak: makanan, pakaian, perumahan, hak untuk memilih status hidup dan membentuk keluarga, hak untuk mengecap pendidikan, bekerja, nama baik, penghormatan, pengetahuan sepantasnya, hak untuk bertindak sesuai dengan hati nuraninya dan untuk melindungi keleluasaan pribadi (privacy) dan kebebasan beragama. (lih Gaudium et Spes, 26, 27).

– Solidaritas membantu kita melihat orang lain tidak sebagai alat tetapi sebagai sesama, seorang penolong (lih. Kej 2:18-20), sama-sama mengambil bagian di perjamuan kehidupan yang kepadanya kita semua dipanggil oleh Tuhan (Sollicitudo Rei Socialis, 39).

– Pihak yang lemah/ miskin harus dibantu untuk dapat memperoleh keahlian, agar dapat bersaing, dan dapat memperoleh kemampuan untuk menggunakan kapasitas dan sumber daya yang ada pada diri mereka (Centesimus Annus, 34)

– Kasih harus melampaui keadilan, dan bahwa segala kegiatan sosial ditujukan untuk memberikan kasih (dan keadilan) demi kebaikan bersama (Caritas in Veritate, 6)

Penerapannya mungkin adalah sebagai berikut:
a) mendorong agar pihak yang ditolong dapat berkembang, dan bukan hanya sekedar menerima bantuan.
b) Maka pihak lembaga pelayanan sosial Katolik tersebut juga harus mengusahakan berbagai pelatihan ataupun pendidikan agar dapat meningkatkan kemampuan mereka.
c) lembaga pelayanan sosial Katolik tersebut sedapat mungkin membuka kemungkinan dialog antara para donatur (pihak yang menolong) dan pihak yang ditolong.
d) jika pelatihan sudah diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah untuk mencari kemungkinan penyaluran jasa ataupun barang-barang yang dihasilkan dari orang-orang yang ditolong agar mereka dapat berkembang sebagai pribadi yang mandiri.

2. Penekanan kepada perkembangan manusia seutuhnya:

– Gereja dipercaya dengan tugas untuk membuka pemikiran manusia terhadap misteri Allah dan dengan demikian manusia dapat memahami arti dari keberadaannya, suatu kebenaran yang terdalam tentang dirinya sendiri (lih Gaudium et Spes, 41).

– Perkembangan otentik harus lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi, namun harus lengkap: harus memajukan kebaikan setiap manusia dan keseluruhan manusia (Populorum Progressio, 14, lihat juga prinsip-prinsip yang diajarkan dalam ensiklik Paus Benediktus XVI yang terbaru, Caritas in Veritate)

– Perkembangan otentik manusia mensyaratkan pemahaman akan makna seksualitas manusia seperti yang dituliskan dalam Humane Vitae, dan pemahaman akan penerapan nilai-nilai Injil di dalam perbuatan, seperti yang tertulis dalam Evangelii Nuntiandi (lih. Caritas in Veritate, 15)

Penerapannya mungkin adalah:
a) sedapat mungkin melibatkan/ mendorong pembinaan iman keluarga yang ditolong.
b) mengajarkan nilai-nilai/ makna perkawinan di dalam ajaran Kristiani, terutama jika yang ditolong adalah keluarga-keluarga Katolik. Jika perlu mengadakan edukasi tentang KB alamiah.
c) menekankan pentingnya diadakan pelatihan/ edukasi, baik kepada pihak kepala keluarga dan jika mungkin program bea siswa anak-anak mereka.

3. Hal religius diutamakan:

– Segala organisasi sosial harus diatur dan diarahkan untuk melaksanakan cara-cara yang tepat untuk membantu setiap anggota untuk “meningkatkan kondisinya sedapat mungkin dalam hal jasmani, rohani dan kepemilikan.” (Rerum Novarum 42, Quadragesimo Anno 32).

– Lembaga pelayanan sosial Katolik harus melihat kepada Tuhan sebagai acuannya, maka instruksi religius harus mendapatkan tempat. Semua orang yang terlibat di dalamnya harus diingatkan akan kewajibannya kepada Tuhan, untuk menyembah Tuhan dan untuk mempraktekkan ajaran agamanya. Yang beragama Katolik harus diarahkan untuk menghormati Gereja Katolik, mematuhi peraturan Gereja dan mengikuti sakramen-sakramen Gereja, untuk menghantar mereka kepada pertobatan dan hidup yang suci (lih. Rerum Novarum 42)

Penerapannya mungkin adalah:
a) selain mengusahakan terpenuhinya kebutuhan hidup dasar dan perbaikan taraf hidup, segi rohani juga diperlukan, misalnya jika memungkinkan diadakan Misa Kudus bersama atau acara bersama yang bersifat rohani, jika mungkin diadakan rutin, bagi pengurus maupun bagi umat yang ditolong.
b) sebelum diadakan dan sesudah diadakannya kegiatan diawali dan ditutup dengan doa bersama, terutama para pengurusnya.

4. Keberpihakan Gereja adalah kepada yang miskin/ termiskin (Laborem Exercens, 8, Sollicitudo Rei Socialis, 42, Centesimus Annus, 11) maka prioritas utama harus diberikan kepada yang paling membutuhkan.

Penerapannya :
a) memberi prioritas utama untuk membantu mereka yang benar-benar miskin/ membutuhkan bantuan.
b) untuk ini diperlukan sistem dan kriteria yang jelas dan transparan.

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk menjawab pertanyaan anda. Untuk melakukan hal ini tidaklah mudah, sebab diperlukan orang-orang yang berkomitmen, jujur, dan di atas semua itu, digerakkan oleh semangat kasih yang besar kepada Kristus untuk melakukan karya kerasulan ini. Karya pelayanan yang demikian juga selayaknya dapat menyebarkan nilai-nilai Injil di dalamnya, agar dapat menerapkan apa yang diajarkan oleh Kristus dan Gereja-Nya, demi mencapai perkembangan manusia yang seutuhnya: jasmani, rohani, baik pada orang yang ditolong, maupun yang menolong.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab