Home Blog Page 276

1-2-3: Manusia adalah sebuah misteri: Apa yang harus kulakukan?

3

Bacaan:  Luk 3:1-18

Renungan:

Di dalam bacaan ini, Yohanes Pembaptis ditanya sebanyak tiga kali: Apakah yang harus kami lakukan? Pertanyaan ini diajukan oleh mereka yang telah siap untuk menerima pesan dari pembawa kabar Tuhan. Kehadiran Yohanes Pembaptis dan pesannya adalah sebuah katalisator yang mengakibatkan interaksi antara Tuhan dan manusia. Orang -orang mencari Tuhan dan di dalam Dia mereka dapat merasakan bahwa Tuhan juga mencari mereka.

Adalah sesuatu yang menakjubkan bagaimana pertanyaan, Apakah yang harus saya lakukan? timbul dari hati manusia. Lukas menunjukkan bagaimana pertanyaan ini begitu umum dengan membuat pertanyaan ini diucapkan oleh seorang pengacara dalam Luk 10: 25-28, diucapkan oleh orang muda yang kaya dalam Luk 18:18-21, dan oleh mereka dalam kerumunan orang banyak pada hari Pentakosta pada Kis 2:37-39 dan oleh kepala penjara di Kis 16: 29-30. Ketika dalam hadirat Tuhan atau dalam kehadiran para nabi dan pembawa pesan-Nya, orang-orang [yang menerimanya] dapat merasakan bahwa kehidupan dan artinya sedang dipersembahkan, sehingga mereka bertanya, Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan untuk menanggapi panggilan-Mu?

Adalah karena pertanyaan, Apa yang harus kulakukan? keluar dari bagian yang terdalam dari manusia maka jawaban Tuhan bukanlah “dipaksakan dari luar.” Sebaliknya, bagi mereka yang dengan tulus menanyakan pertanyaan ini, jawaban-Nya datang sebagai sebuah pembebasan, sebagai penyegaran dari kehausan jiwa untuk mengetahui kebenaran. Tanggapan Tuhan terhadap pertanyaan ini menciptakan sebuah “resonansi yang terdalam” di dalam hati. Wahyu Tuhan adalah tanggapan ilahi terhadap pertanyaan manusia.  Ini adalah yang membuat iman menjadi dalam dan bersifat pribadi, dan apa yang memberikan keberanian untuk memberikan diri sebagai martir (martyrdom). Para martir memberikan hidup mereka tidak hanya untuk mempertahankan seperangkat kebenaran, tetapi untuk menyatakan bahwa tidak ada kehidupan tanpa kebenaran- kebenaran itu. Bagi umat Kristen, kehidupan tanpa Kristus adalah bukan kehidupan sama sekali, hidup kehilangan makna.

Oleh karena itu, wahyu mengambil bentuk sebagai dialog. Ini adalah pandangan Vatikan II, yang menekankan tentang aspek personal dari wahyu. Tuhan berbicara kepada kita, dan kita berbicara kepada-Nya, untuk mengadakan kembali persekutuan kasih dengan umat manusia. Tuhan dan manusia adalah rekan sekerja di dalam dialog keselamatan. Dengan mewahyukan Diri-Nya, Tuhan menyatakan manusia terhadap dirinya sendiri, dan mengundangnya untuk mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi. Melalui wahyu, Tuhan menanggapi pencarian manusia tentang makna kehidupan dengan memberikan Diri-Nya sendiri di dalam kasih.

Kehadiran Tuhan, entah melalui seorang Nabi, di dalam Yesus Kristus ataupun melalui para rasul, mendorong timbulnya pertanyaan: Apakah yang harus kulakukan? Di sinilah dimulai dialog keselamatan. Ini adalah tugas Gereja untuk melanjutkan misi keselamatan Kristus dan untuk membuat-Nya hadir. Gereja melakukan hal ini dengan meneruskan dengan setia wahyu Sabda Allah sehingga para pria dan wanita di sepanjang jaman mempunyai kesempatan untuk mengemukakan pertanyaan- pertanyaan yang mendasar dalam kehidupan dan maknanya kepada Tuhan dan untuk memasuki dialog keselamatan dengan Tuhan. Seperti Yohanes Pembaptis, Gereja merupakan sebuah katalisator yang mempunyai tugas untuk memampukan dialog keselamatan. Melalui Gereja, orang- orang dapat merasakan bahwa Tuhan mencari mereka.

Pertanyaan:

  1. Bayangkanlah anda sendiri di dalam salah satu perikop, di mana seseorang bertanya, Apakah yang harus kulakukan? Di dalam kejadian apa di dalam hidupmu, anda menanyakan pertanyaan ini?
  2. Mengapa penting untuk bertanya, Apakah yang harus kulakukan?
  3. Apakah orang-orang memerlukan bantuan sampai mereka bertanya tentang hal ini?
  4. Apakah beberapa hal yang mencegah orang-orang menanyakan hal ini?
  5. Kepada siapa pertanyaan ini dapat diajukan di dunia sekarang ini?
  6. Mengapa tanggapan Tuhan menemukan sebuah “resonansi yang mendalam” di dalam hati manusia?

Tambahan dari Katolisitas:

  1. Apakah anda mempunyai kerinduan untuk melakukan sesuatu buat Tuhan dan Gereja? Jika ya, dalam hal apa? Apakah motivasi anda melakukan hal itu?
  2. Siapakah tokoh/ orang kudus dalam Gereja Katolik yang menjadi inspirasi bagi anda untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan dan sesama?

1-2-2: Siapa yang akan membebaskan saya? Misteri Dosa

0

Bacaan:  Rom 7:14-25

Renungan:

Di dalam perikop ini Rasul Paulus menjabarkan keadaan manusia jika tanpa iman di dalam Yesus Kristus. Roma bab 8 menjelaskan kehidupan rahmat, sedangkan bab tujuh adalah sebaliknya. Kristus datang untuk mengubah keadaan yang tak tertolong, frustasi, dan putus asa dalam kehidupan tanpa rahmat. Pengalaman dosa mengakibatkan pertanyaan ataupun masalah-masalah yang menyedihkan. Dengan rahmat, masalah- masalah ini dapat menjadi jalan untuk membuka hati kepada Kristus sebagai jawaban Tuhan, bahkan seperti wanita pendosa yang bertobat dan anak yang hilang kembali ke rumah bapanya.

Konsili Vatikan II mengajarkan pesan yang sama dengan pesan Rasul Paulus.

Akan tetapi manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam kebenaran, sejak awal mula sejarah, atas bujukan si Jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Ia memberontak melawan Allah, dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan-Nya sebagai Allah; melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk dari pada Sang Pencipta[10]. Apa yang kita ketahui berkat Perwahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga, bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal-hal buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahannya yang sejati kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh hubungannya yang sesungguhnya dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan.

Oleh karena itu dalam batinnya manusia mengalami perpecahan. Itulah sebabnya, mengapa seluruh hidup manusia, ditinjau secara perorangan maupun secara kolektif, nampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan. Bahkan manusia mendapatkan dirinya tidak mampu untuk atas kuasanya sendiri memerangi serangan-serangan kejahatan secara efektif, sehingga setiap orang merasa diri ibarat terbelenggu dengan rantai. Akan tetapi datanglah Tuhan sendiri untuk membebaskan dan meneguhkan manusia, dengan membaharuinya dari dalam, dan dengan melemparkan keluar penguasa dunia ini (lih. Yoh 12:31), yang menahan manusia dalam perbudakan dosa[11]. Adapun dosa yang merongrong manusia sendiri dengan menghalang-halanginya untuk mencapai kepenuhannya. Dalam terang Perwahyuan itulah baik panggilan luhur maupun kemalangan mendalam, yang dialami oleh manusia, menemukan penjelasannya yang terdalam.”(Gaudium et Spes, The Church in the Modern World, 13).

Rasul Paulus tidak dapat memahami perangai-nya sendiri. Di samping meng-asingkan manusia dari Tuhan, dosa mengasingkan ia dari dirinya sendiri. Adalah keajaiban kecil bahwa hidup dialami sebagai sebuah misteri, bahwa manusia bertanya kepada Tuhan: Apakah yang harus kulakukan? Kita dapat terkagum akan pesan Injil yang secara literal menjawab inti masalah ini. Orang-orang tidak ingin dibohongi, mereka tidak ingin diberitahu bahwa segalanya baik-baik saja, ketika mereka sendiri mengetahui bahwa tidaklah demikian. Namun, mereka juga tidak ingin diberitahu bahwa hidup mereka tidak dapat dikendalikan tanpa pada saat yang sama diajarkan bagaimana untuk memperbaiki keadaan mereka. Yesus adalah jawaban Tuhan terhadap dosa dan kekacauan yang ditimbulkannya. Ia adalah pengharapan kita, untuk pemenuhan, untuk arti hidup dan untuk kedamaian.

Pertanyaan:

  1. Apakah manusia mengalami dosa dan pergumulan antara baik dan jahat karena Tuhan yang menyatakannya atau apakah Tuhan menyatakan hal itu karena hal itu benar-benar ada?
  2. Jika dosa adalah penyakit, Tuhan adalah dokternya dan Yesus Kristus adalah obat penawarnya, namun apakah resepnya?
  3. Apakah ada sebuah alasan untuk berharap ketika  orang-orang menanggapi penderitaan dengan mempertanyakan masalah- masalah yang paling hakiki, dengan mencari jabawannya? Dengan mata iman, sudahkan engkau melihat bagaimana Tuhan dapat mendatangkan sesuatu yang baik dari semua ini?
  4. Apakah hubungan antara pertanyaan- pertanyaan: Apakah yang harus kulakukan? Siapakah Yesus Kristus? dan Siapa yang akan menyelamatkan saya?

Tambahan dari Katolisitas:

  1. Pernahkah anda mengalami bahwa pengalaman anda yang kurang baik, entah akibat dosa sendiri atau dosa orang lain, ternyata diubah Tuhan menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi anda?
  2. Ceritakan pengalaman anda diselamatkan oleh Tuhan Yesus dari bahaya jatuh dalam dosa.

Perbedaan antara tumbuhan, binatang dan manusia

20

Pendahuluan

Ketika saya tinggal di Amerika, saya mempunyai kesempatan berkunjung ke Rocky Mountains, pegunungan yang menjulang sepanjang 4,800 km, dari British Columbia di Kanada sampai ke New Mexico di Amerika. Sungguh pemandangan yang begitu indah dan mengesankan. Tanah, sungai, bunga-bunga, rumput, pohon-pohon dari yang kecil sampai yang besar seolah-olah memuji Tuhan dan semuanya mencerminkan keagungan Pencipta mereka. Keriangan ini ditambah dengan keindahan begitu banyak binatang liar, seperti elk (sejenis rusa yang besar) yang berdiri dengan gagah, binatang menyusui yang lain berlari dengan leluasa dan burung-burung serta kupu-kupu yang terbang dengan bebas seolah-olah semuanya ingin memuji Tuhan. Dalam keindahan ini, saya memuji Tuhan akan kebesaran karya ciptaan-Nya, dan pada saat yang bersamaan menyadari keberadaan saya yang diciptakan oleh Tuhan untuk dapat memuliakan-Nya dengan cara yang berbeda. Semuanya, dari batu-batuan, bukit dan lembah, tumbuhan, binatang dan manusia diciptakan oleh Tuhan, dengan derajat kesempurnaan yang berbeda-beda, sehingga masing-masing dapat memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Namun, manusia menempati suatu tempat yang istimewa, yang membedakannya dengan tumbuhan dan binatang, sehingga pemazmur mengatakan “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm 8:4).

Manusia sebagai ‘hewan’ yang rasional (rational animal)

Mari kita mencoba menganalisanya dari definisi manusia. Bagi yang belum pernah mendengar tentang definisi manusia menurut filosofi, mungkin akan kaget kalau manusia didefinisikan sebagai “binatang yang rasional atau berakal budi”. Definisi ini adalah berdasarkan akan pembagian “genus” dan “specific difference“. Genus mengindikasikan hakekat dari sesuatu dalam lingkup yang cukup luas, sedangkan specific difference merujuk kepada pengkategorian yang lebih spesifik. Sebagai contoh, binatang adalah genus dan kemudian dibagi menjadi specific difference, seperti: binatang melata, binatang menyusui, dll. Dalam bukunya “An introduction to the Categories of Aristotle“, filsuf Yunani, Porphyry, menjabarkan pembagian berdasarkan genus dari hakekat (substansi), sehingga menghasilkan manusia sebagai binatang yang berakal budi. Berikut ini adalah pembagiannya:

substansi —> non-material (spiritual)

—> material —> mati (mineral)

—> hidup —> bukan hewan (non-sentient) / tumbuhan

—> hewan (sentient) —> tidak berakal budi

—> berakal budi (manusia)

Dari penjabaran di atas, maka kita dapat melihat bahwa manusia adalah termasuk dalam kategori material (karena mempunyai tubuh) yang hidup  dan termasuk dalam kategori sentient (hewan) yang berakal budi, yang merupakan satu spesies, yang lengkap dan tidak dapat dibagi lagi. Kita tidak perlu untuk merasa tersinggung dengan pembagian ini, yang seolah-olah manusia disejajarkan dengan binatang. Pada saat Alkitab mengatakan bahwa kita diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej 1:26), maka ini mengacu kepada akal budi yang dipunyai oleh manusia. Oleh karena itu, orang yang tidak menggunakan akal budi sebagaimana mestinya, maka orang tersebut berlaku sebagaimana layaknya hewan. Orang yang menggunakan seksualitas hanya berdasarkan nafsu semata tanpa adanya kasih, merendahkan dirinya sendiri pada tingkat hewan. Orang yang serakah, yang tidak mau  mengingat dan membagi pada sesama yang membutuhkan menjadi tidak berbeda dengan hewan. Orang yang hanya memikirkan kesenangan lahiriah belaka, tanpa memikirkan sesuatu yang bersifat spiritual, tidak mempunyai perbedaan dengan hewan yang tidak mempunyai rasio atau akal budi.

Rasionalitas inilah yang membedakan manusia dengan binatang, karena dengan rasionalitasnya, manusia mempunyai kemampuan 1) untuk membentuk konsep yang universal, 2) untuk membuat pertimbangan dengan menggabungkan (atau membagi) konsep, dan 3) menggabungkan beberapa pertimbangan dalam suatu logika yang berhubungan satu sama lain atau silogisme (syllogism), sehingga dapat menghasilkan pertimbangan yang baru, yang dinamakan kesimpulan. Kita melihat bagaimana anak kecil yang dapat mengatakan beberapa boneka yang menyerupai anjing sebagai boneka anjing, walaupun bentuk, warna, besar dari mainan tersebut berbeda, karena dia dapat menangkap esensi atau universality dari sesuatu, dalam hal ini, anjing. Kita juga melihat bahwa orang berkecimpung di dalam dunia bisnis dapat menganalisa, membuat sintesis dari beberapa kenyataan, sehingga dapat mengambil kesimpulan dengan baik. Dan kemampuan silogisme dari manusia ditunjukkan dalam setiap proses berfikir setiap hari, seperti: 1) Semua pengajaran Gereja Katolik adalah benar, 2) Baptisan penting untuk keselamatan adalah pengajaran Gereja Katolik, 3) kesimpulannya adalah Baptisan penting untuk keselamatan adalah benar. Hanya manusia yang mempunyai semua kemampuan ini, dan tentu saja, kita dapat menambahkan malaikat dengan derajat yang lebih sempurna dan Tuhan dalam derajat yang paling sempurna.

Tentang kodrat dari hidup

Kalau kita ingin membandingkan antara semua mahluk hidup: tumbuhan, binatang dan manusia, maka kita harus mulai dari definisi kata “hidup“. Secara prinsip, hidup (life) merupakan suatu kapasitas untuk dapat bergerak sendiri. St. Thomas mengikuti jejak dari Aristoteles mengatakan bahwa segala sesuatu dikatakan hidup karena mereka bergerak sendiri oleh semacam gerakan, ((St. Thomas Aquinas, ST, I, 1.18, a.1)) dan gerakan ini adalah dari dalam diri sendiri dan bukan dari faktor luar. Di dalam dunia materi, kehidupan ditandai oleh suatu gerakan dari dalam, yang menghasilkan suatu pertumbuhan. Dan pergerakan ini dimungkinkan karena adanya beberapa bagian atau organ yang saling berhubungan, sehingga terjadi suatu gerakan maupun pertumbuhan. Yang perlu ditekankan di sini adalah pergerakan (movement) tidak hanya diartikan secara sempit – perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain – namun juga dalam arti luas, yaitu suatu operasi yang datang dari dalam. Jadi dalam hal ini, sesuatu disebut hidup kalau mempunyai operasi yang disebabkan oleh sesuatu dari dalam. Mainan tidak dapat disebut benda hidup, karena pergerakannya dikarenakan faktor luar, seperti baterai. Sebaliknya, tumbuhan adalah mahluk hidup karena dapat bertumbuh sendiri karena suatu pergerakan dari dalam.

Prinsip dari operasi dalam kehidupan ini  dimanifestasikan sebagai 1) nutrisi (nutrition), 2) pertumbuhan (growth), 3) reproduksi (reproduction), 4) daya gerak (locomotive), 5) pengetahuan rasional (rational knowlege), 6) keinginan (desire) yang disebabkan oleh pengetahuan perasa (sense knowledge / sense appetite) atau pengetahuan rasional (rational knowledge) . Prinsip dari semua pergerakan (dari dalam) dan semua manifestasi di atas disebut jiwa. Oleh karena itu, jiwa adalah prinsip utama dari hidup, dimana tanpa jiwa tidak ada kehidupan.

Tingkatan kehidupan berdasarkan pergerakan

Mari sekarang kita melihat tingkatan dari hidup. Kita melihat di sekitar kita, bahwa ada suatu hirarki atau tingkatan kehidupan, dari tumbuhan, binatang, manusia, malaikat. Masing-masing mempunyai tingkat kesempurnaan, yang terletak pada derajat partisipasi dalam kesempurnaan Allah. Tingkat kesempurnaan ini dibagi tiga, yang terdiri dari tumbuhan, binatang dan binatang rasional, dan tentu saja ada malaikat dan Allah sendiri.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa hidup ditandai oleh pergerakan. Semakin pergerakan tersebut sempurna, maka tingkat hidup mereka akan semakin sempurna. Tingkat yang paling bawah berdasarkan kategori ini adalah tumbuhan. Mereka bergerak sendiri berdasarkan operasi tumbuhan (vegetative operation), seperti: mengambil makanan (nutritive), pertumbuhan, reproduksi. Namun, pergerakan mereka hanyalah mengikuti apa yang telah diberikan Tuhan di dalam kodrat mereka sebagai tanaman. Bunga mawar tidak dapat berlari untuk menghindari kucing yang akan merusak keindahan bunganya.

Tingkat yang lebih tinggi dari tumbuhan adalah binatang, karena mereka mempunyai semua yang dimiliki tumbuhan ditambah dengan sense knowledge atau mungkin dapat diterjemahkan sebagai pengetahuan perasa. Hal ini memungkinkan binatang mempunyai kemampuan bergerak untuk mendapatkan sesuatu yang baik maupun menghindari sesuatu yang buruk. Dengan demikian, aktivitas yang dilakukan oleh mereka, seperti: makan, berburu, lari, dll didasarkan pada pengetahuan yang didapatkan melalui operasi dari sense knowledge, yang dilakukan bersama dengan insting (instinct). Semakin sempurna indera (sense) dari binatang, maka semakin sempurna juga pergerakan mereka. Oleh karena itu, kapasitas sense knowledge dari binatang senantiasa berbarengan dengan kapasitas pergerakan, sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk mendapatkan yang baik dan menghindari yang jahat.

Oleh karena itu, pergerakan binatang lebih sempurna dibandingkan dengan pergerakan tumbuhan, karena didasarkan oleh tindakan mereka untuk merasakan sesuatu. Melalui sensasi, mereka mempunyai masukan yang sesungguhnya yang dimanifestasikan dalam tindakan mereka. Mereka juga mempunyai fungsi yang berhubungan dengan indera-indera, daya penggerak, dan juga pergerakan selera, sehingga mereka secara kodrat dapat menginginkan, takut, menyenangi atau membenci obyek yang mereka rasakan. Daya pergerakan (locomotive) dan pergerakan selera (appetite) dari binatang mengikuti pengetahuan perasa (sense knowledge) mereka. Kita melihat bahwa kalau kucing didatangi majikannya yang menyanyanginya dan senantiasa memberi dia makan, maka dia akan mendekat. Sebaliknya, kalau dia didatangi oleh anjing, dia akan tahu bahwa ada bahaya yang mendekat, sehingga dia lari atau berusaha untuk bertahan kalau tidak mungkin lari. Dan hal-hal ini tidak dipunyai oleh tanaman.

Namun, pergerakan dari binatang hanyalah didasarkan dari insting mereka, dan mereka tidak dapat menentukan tujuan akhir dari pergerakan mereka. ((St. Thomas Aquinas, ST, I, q.18, a.3)). Walaupun laba-laba dapat membuat jaring yang indah, namun, dia tidak menentukan secara sadar dan memberikan pertimbangan akan ukuran, besaran dari jaring-jaring tersebut dari awal, sehingga mencapai suatu ukuran yang telah dipikirkan sebelumnya. Semua yang dilakukannya bukanlah pada perencanaan berdasarkan suatu tujuan akhir, namun hanya berdasarkan instingnya untuk membuat sarang dan mendapatkan makanan.

Pada tingkat yang lebih tinggi dari binatang adalah binatang yang berakal budi, atau manusia. Manusia mempunyai pergerakan yang lebih sempurna dibandingkan dengan binatang, yang dimungkinkan karena manusia mempunyai akal budi, sehingga manusia dapat mengatur dan menyusun cara tertentu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Oleh karena itu, pergerakan yang dilakukan oleh manusia bukan berdasarkan pada insting seperti binatang, namun didasarkan pada suatu pertimbangan dan tindakan yang dipilihnya. ((cf. Ibid)) Hanya manusia yang dapat melakukan diet dan dengan sadar menghindari makanan tertentu, karena menginginkan turunnya berat badan. Hanya manusia yang tetap memilih hidup di negara bersuhu minus 25 derajac C, dengan cara membangun rumah yang mempunyai sistem pemanas yang baik, beserta dengan infra struktur yang menunjang kehidupan. Dan hanya manusia yang dapat menentukkan cara- cara hidup yang dipilihnya sehingga dia dapat mencapai kebahagiaan.

Tingkatan kehidupan berdasarkan interioritas.

Setelah kita melihat tingkatan hidup berdasarkan pergerakan, maka parameter kedua yang digunakan dalam menentukan tingkat hidup adalah berdasarkan interioritas. Secara prinsip, prinsip ini mengajarkan bahwa semakin tinggi tingkat kehidupan, maka efek dari pergerakan akan semakin bersifat interior atau spiritual. Untuk mengerti hal ini, kita harus membedakan antara tindakan yang bersifat transitive dan immanent. Tindakan transitive menghasilkan produk atau akibat di luar dari pelaku kegiatan tersebut, sedangkan tindakan immanent menghasilkan akibat yang bersifat interior. Contoh dari kegiatan transitive adalah sebuah palu atau gergaji yang dapat menghasilkan akibat – memaku maupun memotong -, dimana akibat tersebut tetap ada di luar dari palu tersebut. Sebaliknya, contoh dari aktivitas imminent adalah pengetahuan yang tetap ada di dalam diri kita ketika kita mengetahui sesuatu. Kalau kita mengetahui konsep penambahan atau pengurangan di dalam matematika, maka konsep tersebut tinggal di dalam pengertian kita, yang berarti efeknya ada di dalam diri kita dan bukan di luar, seperti contoh palu di atas.

Dalam hubungannya dengan tingkat hidup, maka kita melihat bahwa benda mati tidak mungkin menghasilkan sesuatu di mana efeknya tetap tinggal di dalam, sebaliknya benda hidup dapat menghasilkan efek di luar (transitive) maupun di dalam (immanent). Semakin tinggi tingkat kehidupan, maka semakin interior sesuatu yang dihasilkannya.

Tumbuhan dapat menghasilkan buah, yang dihasilkan dari pengambilan makanan, pertumbuhan, dan reproduksi. Selama menjadi bagian dari tumbuhan memang buah tersebut adalah interior. Namun buah ini tidak sepenuhnya interior, karena pada waktunya masak, maka buah ini memisahkan diri dan membentuk jenis yang sama, yang terpisah dari induknya, atau dengan kata lain menjadikan dirinya di luar dari induknya.

Di sisi lain, binatang mempunyai pengetahuan perasa (sense knowledge), sehingga memungkinkannya untuk mempunyai indera. Dan apa yang ditangkapnya dengan inderanya dapat disimpannya di dalam ingatannya. Seekor kucing yang pernah melihat, mencium, mendengar anjing atau binatang buas lainnya, akan berlari menjauh. Tidak menjadi masalah kalau anjing tersebut mempunyai warna berbeda, namun kucing tersebut akan tahu dan lari menjauhinya. Melalui inderanya, kucing dapat membayangkan sesuatu yang lezat ketika dia mencium ikan asin. Namun, kekurangan dari hal ini adalah binatang tidak dapat merefleksikan bahwa dia tahu kalau dia tahu sesuatu.

Sebaliknya, manusia mampu menghasilkan buah yang sepenuhnya bersifat interior dan spiritual. Apa yang dimengerti oleh manusia disimpan di dalam memori, dan lebih lagi pengertian dan keinginannya mempunyai kapasitas untuk memberikan refleksi dan pertimbangan terhadap dirinya sendiri. Sebagai contoh, manusia dapat menyadari bahwa dirinya tahu akan sesuatu. Pada saat kita mendalami konsep penambahan maupun pengurangan, maka kita tahu bahwa kita tahu, sehingga kalau ada yang bertanya kita tahu sebelumnya bahwa kita akan dapat menjawabnya. Kapasitas untuk merefleksikan operasi yang ada di dalam dirinya sendiri memungkinkan manusia mempunyai kehidupan interior. Hanya manusia yang mempunyai perasaan menyesal setelah dia melakukan kesalahan, menyesal karena tidak melakukan perbuatan yang baik, atau berterima kasih atas karunia pengetahuan yang dimilikinya, dll.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka kita dapat menyimpulkan ada perbedaan tingkatan antara tumbuhan, binatang dan manusia. Perbedaan tingkat kehidupan ini didasarkan pada tingkat pergerakan dan interioritas. Dengan dua parameter tersebut, kita tahu bahwa tumbuhan ada pada tingkat yang paling bawah karena mereka mempunyai keterbatasan pergerakan (penyerapan makanan, pertumbuhan, dan reproduksi) dan keterbatasan interioritas yang menghasilkan buah yang akibat/efeknya tidak sepenuhnya berada di dalam (immanent). Binatang mempunyai tingkat pergerakan yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman, karena binatang mempunyai semua yang dipunyai oleh tanaman ditambah dengan pengetahuan perasa (sense knowledge), yang memungkinkan binatang mempunyai insting untuk menghindari yang buruk dan mendapatkan yang baik. Hal ini ditambahkan dengan kemampuan binatang untuk dapat merasakan sehingga dapat mengingat sesuatu yang disimpannya di dalam ingatannya, atau menghasilkan efek yang tetap tinggal di dalam (immanent), walaupun tidak dapat merefleksikannya.

Hanya manusia yang benar-benar mempunyai tingkat pergerakan yang paling baik, karena pergerakannya disertai dengan pertimbangan. Dan hanya manusia yang benar-benar mempunyai buah atau efek yang tetap tinggap di dalam (immanent) dan pada saat yang bersamaan dapat merefleksikan apa yang dia tahu dan apa yang diinginkannya. Kemampuan ini dimungkinkan karena manusia mempunyai akal budi, yang memungkinkan manusia mempunyai kehidupan spiritual. Dan hal ini hanya mungkin, karena Tuhan sendiri yang memberikan kemampuan ini kepada manusia, dengan cara memberikan jiwa yang kekal dan bersifat spiritual, yaitu ketika Tuhan menghebuskan nafas-Nya kepada setiap manusia yang ada di dunia ini (lih. Kej 2:7), sehingga manusia menjadi gambaran Allah.

Mari kita bersama-sama mensyukuri rahmat akal budi dan kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan sendiri. Kristus sendiri telah memberikan teladan bagaimana menjadi manusia yang utuh, yang berbeda dengan tanaman dan hewan, yaitu dengan melakukan segala sesuatunya dengan pertimbangan akal budi dan kehendak bebas-Nya dan dengan senantiasa mengikuti kehendak Bapa (lih. Mk 14:36). Kristus juga telah memberikan kekuatan kepada manusia untuk dapat menjalankan semua perintah-Nya, dengan mengirimkan Roh Kudus-Nya, yang telah kita terima pada saat kita menerima Sakramen Baptis. Mari kita yang telah menerima Sakramen Baptis, yang telah menjadi anak-anak Allah, untuk benar-benar berfikir, berkata-kata, dan bertindak sebagaimana layaknya anak-anak Allah, yang derajatnya jauh lebih tinggi daripada tumbuhan dan binatang.

Tugas diakon

19

Pertanyaan:

Salam kasih untuk yang mengelolah situs ini. Saya mau bertanya apa saja tugas seorang diakon?
Terima kasih. Chrisant

Jawaban:

Shalom Chrisant,

Pertama-tama perlu diketahui dahulu ‘diakon’ yang anda maksudkan apakah diakon tetap (disebut permanent deacon) atau petugas prodiakon (yang sebenarnya lebih tepat disebut ‘extraordinary minister of the Holy Communion’). Para Diakon tetap adalah termasuk dalam katagori klerikus, artinya mereka termasuk dalam hirarki di bawah para imam, dan mereka diteguhkan secara sakramental (‘ordained‘) oleh Bapa Uskup. Sedangkan para petugas pro-diakon itu termasuk golongan kaum awam, bukan klerikus. Teladan para diakon adalah St. Stefanus (lih. Kis. 6 dan 7) seorang yang dipilih untuk membantu para rasul untuk melayani orang miskin. St. Stefanus ini juga adalah martir pertama di jaman para rasul.

1. Tugas- tugas diakon disebutkan dengan cukup jelas dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja, yaitu Lumen Gentium 29

29. (Para diakon)

Pada tingkat hirarki yang lebih rendah terdapat para Diakon, yang ditumpangi tangan “bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan”[111]. Sebab dengan diteguhkan rahmat sakramental mereka mengabdikan diri kepada Umat Allah dalam perayaan liturgi, sabda dan amal kasih, dalam persekutuan dengan Uskup dan para imamnya. Adapun tugas diakon, sejauh dipercayakan kepadanya oleh kewibawaan yang berwenang, yakni: menerimakan Baptis secara meriah, menyimpan dan membagikan Ekaristi, atas nama Gereja menjadi saksi perkawinan dan memberkatinya, mengantarkan Komuni suci terakhir kepada orang yang mendekati ajalnya, membacakan Kitab suci kepada kaum beriman, mengajar dan menasehati Umat, memimpin ibadat dan doa kaum beriman, menerimakan sakramen-sakramentali, memimpin upacara jenazah dan pemakaman. Sambil membaktikan diri kepada tugas-tugas cinta kasih dan administrasi, hendaklah para diakon mengingat nasehat Santo Polikarpus: “Hendaknya mereka selalu bertindak penuh belaskasihan dan rajin, sesuai dengan kebenaran Tuhan, yang telah menjadi hamba semua orang”[112].

Namun karena tugas-tugas yang bagi kehidupan Gereja sangat penting itu menurut tata-tertib yang sekarang berlaku di Gereja latin di pelbagai daerah sulit dapat dijalankan, maka dimasa mendatang Diakonat dapat diadakan lagi sebagai tingkat hirarki tersendiri dan tetap. Adalah tugas berbagai macam konferensi Uskup setempat yang berwewenang, untuk menetapkan dengan persetujuan Imam Agung Tertinggi sendiri, apakah dan dimanakah sebaiknya diangkat diakon-diakon seperti itu demi pemeliharaan jiwa-jiwa. Dengan ijin Imam Agung di Roma diakonat itu dapat diterimakan kepada pria yang sudah lebih masak usianya, juga yang berkeluarga; pun juga kepada pemuda yang cakap tetapi bagi mereka ini hukum selibat harus dipertahankan.

2. Tentang diakon dan prodiakon.

Ijinkan saya menambahkan point ini, karena saya sering melihat terjadinya ketidak sesuaian dalam pelaksanaannya pada saat pembagian Komuni.

Di Amerika memang peran diakon/ permanent deacon sudah cukup umum, tetapi di Indonesia mungkin belum. Yang lebih umum di Indonesia adalah petugas pro-diakon yang bertugas khususnya untuk membagikan Komuni suci kepada umat pada waktu misa, atau kepada umat yang sakit di rumah sakit. Karena peran mereka yang sebenarnya lebih kepada membantu pastor membagikan komuni, maka sebenarnya para pro-diakon ini tidak berhak memberi berkat kepada umat ataupun kepada anak-anak yang menyambut komuni. Karena kuasa untuk memberkati (lebih tepatnya, menyalurkan berkat Tuhan) itu diberikan kepada Uskup (yang adalah penerus para rasul) dan mereka yang telah mendapat ‘penumpangan tangan’ oleh Uskup, yaitu para imam yang tertahbis dan kepada para diakon pada kasus-kasus yang jelas diizinkan baginya sesuai dengan hukum Gereja (lihat kan. 1169, butir 3).

Jadi, walaupun sebenarnya yang memberikan berkat itu Tuhan, namun penyalurannya kepada umat-Nya memang ada aturannya. Orang tua berhak memberkati anak-anak mereka sebab Tuhan telah memberikan hak otoritas secara kodrati kepada orang tua terhadap anak-anak mereka. Namun di Gereja berkat rohani diberikan dalam nama Tuhan melalui mereka yang oleh-Nya telah diberikan otoritas rohani atas umat-Nya. Terutama di dalam perayaan Ekaristi, maka terdapat ketentuan yang seharusnya ditaati oleh kita semua, yaitu sbb:

Instruksi dari Vatikan tahun 1997 tentang “On Certain Questions Regarding the Collaboration of the Non-Ordained Faithful in the Sacred Ministry of the Priest” (”Mengenai pertanyaan-pertanyaan tertentu tentang Kolaborasi orang-orang beriman yang tidak ditahbiskan dalam Pelayanan Suci para imam),

“Artikel 6, tentang Perayaan Liturgi
§ 1. Kegiatan-kegiatan Liturgi harus menyatakan secara jelas kesatuan Umat Allah sebagai sebuah komuni yang terstruktur. Oleh karena itu, di sini terdapat hubungan yang dekat antara perwujudan kegiatan liturgi yang teratur dan refleksi di dalam hakekat struktural liturgi Gereja. Ini terjadi ketika semua yang terlibat, dengan iman dan devosi, melaksanakan peran masing-masing yang sesuai dengan seharusnya.
§ 2. Untuk mendukung identitas yang seharusnya dari peran yang berbeda-beda dalam hal ini, penyalahgunaan yang bertentangan dengan dengan ketentuan Kan. 907 harus diberantas. Di dalam perayaan Ekaristi, para diakon dan para awam yang tidak ditahbiskan tidak dapat mengucapkankan doa-doa –misalnya, doa syukur agung dengan doxologi penutup– atau di bagian-bagian lain dalam liturgi yang dikhususkan untuk diucapkan oleh para imam saja. Demikian juga para diakon atau para awam yang tidak ditahbiskan tidak dapat melakukan ‘gestures‘  atau tindakan apapun yang layaknya dilakukan oleh imam yang memimpin perayaan tersebut.

Kan 907 (KHK) sendiri mengatakan demikian:
Dalam perayaan Ekaristi diakon dan awam tidak boleh mengucapkan doa-doa, khususnya doa syukur agung, atau melakukan tugas-tugas yang khas bagi imam yang merayakan Ekaristi.

Maka dalam hal ini yang mempunyai hak untuk memberkati di dalam perayaan Ekaristi adalah para imam. Sedangkan para diakon dan orang awam (termasuk para petugas pembagi komuni/ prodiakon) tidak berhak memberikan berkat pada saat Misa Kudus.  Dengan demikian, jika sampai ada petugas pro- diakon memberkati, maka berkat yang diberikan olehnya ini sesungguhnya tidak berarti apa-apa secara rohani terhadap orang yang menerimanya. Kekecualian diberikan pada kasus- kasus tertentu, misalnya, petugas prodiakon/ awam diizinkan membantu pada saat pembagian abu (di hari Rabu Abu) atau obyek sakramental lainnya yang telah terlebih dahulu diberkati oleh mereka yang telah ditahbiskan.

Demikian jawaban saya atas pertanyaan anda, dan semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Mana yang benar: Allah adalah Kasih? Allah adalah Roh?

7

Pertanyaan:

Saya bingung menafsirkan ayat-ayat ini: “Allah adalah kasih” dan “Firman itu adalah Allah”. Karena yang saya tau Allah adalah Roh
2Kor 3:17 Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

1Yoh 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
1Yoh 4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Douay Rheims
1John 4:8 He that loveth not knoweth not God: for God is charity.
1John 4:16 And we have known and have believed the charity which God hath to us. God is charity: and he that abideth in charity abideth in God, and God in him.
New American Bible
1John 4:8 Whoever is without love does not know God, for God is love.
1John 4:16 We have come to know and to believe in the love God has for us. God is love, and whoever remains in love remains in God and God in him.

Apa maksudnya Allah adalah kasih? Apakah St Yohanes mau mengatakan bahwa Allah adalah sumber kasih atau penuh kasih? Apakah di mana ada kasih di situ ada Allah? Apakah kasih adalah bagian dari Roh Allah/Roh Kudus? Apakah kasih sama dengan Allah? Ada orang Protestan (Pendeta) berkata bahwa “Allah adalah kasih tetapi kasih bukanlah Allah”. Benarkah kata-kata pendeta tersebut? Karena malah ada pastor paroki saya mengatakan “Kasih itu adalah Allah sendiri”. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Pendeta tersebut atau pastor kami?

Yoh 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Douay Rheims
John 1:1 In the beginning was the Word: and the Word was with God: and the Word was God.
New American Bible
John 1:1 In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God.

Dapet penjelasan dari http://www.usccb.org/nab/bible/john/john1.htm begini:
“The Word (Greek logos): this term combines:
1. God’s dynamic, creative word (Genesis),
2. personified preexistent Wisdom as the instrument of God’s creative activity (Proverbs), and
3. the ultimate intelligibility of reality (Hellenistic philosophy).”

Apakah Yesus Kristus lahir karena Allah berfirman? Waktu Allah sedang diam bagaimana? Apakah Tuhan Yesus Kristus belum lahir karena Dia adalah Firman Allah?

Terakhir pertanyaan saya, mengapa Tuhan menciptakan langit dan bumi? Karena ingin disembah oleh para makhluk ciptaan? Apakah dahulu kala Tuhan sedang kesepian sehingga Dia menciptakan langit dan bumi supaya ramai? Sebelum menciptakan langit dan bumi ini, mungkinkah Tuhan pernah menciptakan langit dan bumi “yang lain” selain kita?

Terima kasih, Andreas

Jawaban:

Shalom Andreas,

Untuk menjawab pertanyaan anda, sebenarnya dibutuhkan pengertian tentang konsep Allah. Tanpa pengertian ini memang kita mudah menjadi bingung. Mari kita menilik kepada pengajaran dari St. Thomas Aquinas, yang menurut saya sangat baik dan sangat membantu. St. Thomas melihat kepada diri manusia (yang lebih mudah dipahami, karena realitasnya sangat nyata bagi kita) untuk menjelaskan tentang Allah. Hakekat (“essence“) manusia adalah mahluk yang terdiri dari kesatuan jiwa spiritual dan tubuh, yang mempunyai akal budi dan kehendak bebas. Hakekat ini sama pada setiap orang, namun jika kita melihat ada lagi yang bersifat spesifik pada tiap-tiap manusia yang membuat setiap orang berbeda-beda, yaitu yang disebut”accidents” misalnya, warna kulit, tinggi dan berat badan, warna rambut, bangsa, bagian-bagian tubuh (kepala, dan anggota badan) dst yang bisa berubah-ubah oleh dimensi waktu. Ini disebabkan karena manusia mempunyai tubuh yang terbatas oleh ruang dan waktu. Nah, hal ini tidak ada pada diri Allah. Allah adalah spiritual Being dan tidak mempunyai tubuh. Ia tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dan Ia tidak mempunyai “accidents” yang membuatnya berubah atau terbagi-bagi. Allah itu Satu (Kel 20:2-3; Mal 2:10; Rom 10:12; 1 Kor 8:6; 1 Kor 12:6; Gal 3:20; Ef 4:6) dan tetap selamanya (Rat 5:19; Ibr 7:24; 13:8).

Cara lain, menurut St. Thomas, adalah dengan melihat bahwa manusia adalah mahluk komposit yang mempunyai dua unsur, yaitu jiwa (rohani) dan tubuh (jasmani). Di antara mahluk ciptaan lainnya yang mempunyai unsur jasmani (yaitu tumbuhan dan hewan), maka manusia adalah mahluk yang paling tinggi dan kompleks, tetapi di antara mahluk rohani, yaitu jika dibandingkan dengan malaikat yang tidak mempunyai tubuh jasmani, maka manusia berada di bawah malaikat. Dan kita mengetahui bahwa semakin tinggi derajat kerohaniannya, maka mahluk itu menjadi semakin sederhana, “simple“, tidak terdiri dari bagian-bagian yang kompleks. Dengan kacamata ini kita memahami bahwa Allah, sebagai Roh, adalah suatu Pribadi yang paling sederhana, satu, dan tidak terdiri dari unsur-unsur, seperti pada manusia.

Maka, mari kita kembali kepada manusia, yang mempunyai kompleksitas yang tinggi dengan keaneka-ragaman sifat-sifat dan ‘accidents‘.  Tubuh kita terdiri dari beberapa bagian, dan kita dikatakan ‘mempunyai’ sifat-sifat, dan sifat-sifat itu bukan hakekat kita sebagai manusia. Namun tidak demikian halnya dengan Allah. Allah adalah Maha Sempurna, Sederhana, tidak terdiri dari bagian-bagian, karena Allah adalah satu dan tetap selamanya. Ia ada sebelum segala sesuatu diciptakan, Ia adalah awal dan akhir dari segala sesuatu. Allah adalah Sumber segala sesuatu, dan Kesempurnaan dari segala sesuatu. Apapun yang baik di dunia ini hanyalah contoh sebagian kecil yang menggambarkan sifat Allah. Dan karena tidak ada bagian-bagian dalam Diri Allah, maka hakekat Allah adalah satu dan sama dengan segala sifat-sifat-Nya. Maka kita dapat mengatakan Allah itu Roh, Allah itu Kasih, Allah itu Jalan, Allah itu Kebenaran, Allah itu Kehidupan, Allah itu Kebaikan, Allah itu Keadilan, Allah itu Kekudusan, dst. Tentu pada masing-masing sifat ini, artinya Allah adalah kesempurnaan sifat-sifat itu, sehingga jangan menyamakan kasih yang kita kenal di dunia ini dengan Kasih Allah, karena Kasih Allah jauh melampaui kasih manusia, demikian pula dengan sifat- sifat Tuhan lainnya, yaitu Kebaikan, Keindahan, Kemuliaan, dst, Allah adalah kesempurnaan absolut akan semua sifat-sifat itu. Dan walaupun ada banyak sifat Allah namun, Ia tetap Satu. Walaupun Dia mempunyai Tiga Pribadi (Bapa, Putera dan Roh Kudus), namun Ia tetap Satu (lebih lanjut tentang Trinitas ini, silakan klik disini.) Kesempurnaan Allah justru terlihat dalam kesederhanaan-Nya, di mana semuanya tergabung menjadi satu.

Untuk memahami konsep Allah ini dengan lebih baik, saya menganjurkan anda membaca artikel: Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu Ada?, silakan klik. Maka untuk menjawab pertanyaan anda:

1. Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8)? Atau Allah adalah Roh (2 Kor 3:17)? Atau Firman adalah Allah (Yoh 1:1)?

Jawabnya adalah semua benar, karena semua itu tertulis dalam Kitab Suci, dan dengan pemikiran filosofis yang disampaikan oleh St. Thomas Aquinas, maka kita dapat memahami makna dan kebenaran dari ayat-ayat itu.

Pengertian Allah adalah Roh mungkin sudah cukup jelas, ya, sehingga tidak perlu diuraikan kembali di sini.

Sedangkan untuk Allah adalah kasih, kita melihatnya demikian: Kasih dan kekudusan adalah sifat Allah yang paling penting. Kasihlah yang menjadikan Allah kita bukan Pribadi yang terisolasi sendirian, tetapi yang merupakan “Keluarga Allah” yang terdiri dari Tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Karena kasih pada hakekatnya adalah “memberi” yang terbaik kepada yang dikasihi.  Kasih yang sempurna dan timbal balik antara Allah Bapa dan Allah Putera ‘menghembuskan’ Roh Kudus, maka sifat Kasih pada Allah sering dihubungkan dengan Roh Kudus, walaupun dengan prinsip Kesatuan Allah, maka baik Bapa maupun Putera, tetaplah Kasih itu juga. Menghubungkan Kasih ini dengan Pribadi Roh Kudus adalah yang disebut sebagai “appropriation” dalam Teologi; seperti halnya menghubungkan Firman, yang adalah Kebijaksanaan Allah kepada Pribadi Kristus Sang Putera Allah. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa Roh Kudus, “menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1 Kor 2:10) sebagai “uncreated Love-Gift” ((Pope John Paul II, Encyclical Letter, Dominum et Vivificantem, The Holy Spirit in the Life of the Church, 10))  atau Kasih Karunia yang tidak diciptakan. Maksudnya Kasih Karunia ini (Roh Kudus), seperti halnya dengan Firman Allah (Kristus Putera Allah) telah ada bersama-sama dengan Allah sejak awal mula, dan ketiganya adalah Pribadi Allah yang satu.

Jadi Kasih yang sama dengan Allah itu adalah Kasih yang semacam ini, yaitu Kasih yang sempurna, Kasih yang tidak diciptakan, tetapi yang sudah ada bersama-sama dengan Allah sejak awal mula. Dengan pengertian ini maka kita dapat mengatakan bahwa Allah pada hakekatnya adalah Kasih. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Allah adalah Sumber kasih, dan Allah penuh Kasih, keduanya benar. Allah adalah sumber kasih karena kasih kita di dunia ini adalah partisipasi dari kasih Allah, dan mengambil sumbernya dari Kasih Allah. Allah dikatakan penuh kasih, karena Ia adalah Kesempurnaan Kasih itu sendiri.

Karena Allah itu sederhana/ simple, maka bukan Ia ‘mempunyai’ (seperti manusia mempunyai kasih) tetapi bahwa Kasih yang sempurna itu adalah hakekat Diri-Nya sendiri. Maka untuk menjawab pertanyaan anda apakah Allah itu Kasih dan apakah Kasih itu Allah, kita harus melihat dahulu, apa yang dimaksud di sini dengan kasih oleh orang yang mengatakannya.

a. Allah itu Kasih, itu sudah jelas. Pendeta dan pastor anda setuju akan hal ini.
b. Apakah Kasih itu Allah? Nah perlu didefinisikan dahulu di sini apakah kasih yang dimaksud. Kalau yang dimaksud adalah kasih manusia, maka jawabannya BUKAN. Sebab kasih manusia memang terbatas, dan karena itu bukan Allah. Tetapi kalau Kasih yang dimaksud di sini adalah Kasih yang Sempurna, yang sudah ada sebelum segala abad, dan kasih yang selalu ada bersama- sama dengan Allah dan adalah hakekat dari Allah sendiri, maka jawabnya adalah YA.
Maka kelihatannya di sini pendeta yang anda sebut mengacu pada kasih manusia maka memang benar kasih bukan Tuhan. Sedangkan kelihatannya pastor anda mengacu pada Kasih Allah yang tak terbatas, maka jawabnya bahwa Kasih yang Sempurna itu memang hakekat Allah sendiri.

Sedangkan arti bahwa pada mulanya adalah Firman; Firman itu ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1) adalah: bahwa sebelum segala alam semesta diciptakan, Allah itu ada dalam kesatuan dengan Firman-Nya (dan Kasih). Maka ‘kedudukan’ Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus itu sama, karena mereka itu satu. Yang membedakan hanya hubungan ‘asalnya’, yaitu bahwa Firman/ Sang Allah Putera berasal dari Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putera. Namun karena ke-Tiga Pribadi ini tidak terbatas oleh waktu, maka hubungan asal ini sudah terjadi sejak awal mula bersama-sama dalam kesatuan, tidak ada yang mendahului atau mengawali. Allah adalah alfa dan omega, awal dan akhir, mengatasi waktu dan jaman. [Ini adalah konsep yang cukup sulit kita bayangkan, karena manusia selalu terbatas oleh waktu. Tetapi begitu kita mencoba melepaskan konteks ‘batasan waktu’ ini bagi Allah, maka kita akan dapat membayangkannya, dan sedikit demi sedikit kita akan memahaminya].

2. Nah sekarang untuk menjawab pertanyaan anda: Apakah Tuhan Yesus lahir karena Allah berfirman? Dengan keterbatasan kata ‘lahir’, maka memang kita dapat mengatakan terdapat dua macam ‘nativity‘/ kelahiran Yesus. Yang pertama adalah ‘kelahiran’-Nya sebelum segala abad dari Allah Bapa, dan yang kedua adalah kelahiran-Nya sebagai manusia, melalui Bunda Maria. Mungkin “kelahiran” Yesus sebagai manusia dapat kita pahami, namun “kelahiran”-Nya sebagai Allah Putera ini yang memang harus diberi penjelasan lebih lanjut, karena di sini, “kelahiran-Nya” tidak terbatas oleh waktu, sehingga tidak terbatas oleh urutan ‘sebelum dan sesudah’. Ia berasal dari Bapa, namun Ia ada bersama-sama dengan dengan Bapa, bukan “sesudah” Bapa, seolah-olah sebelum Allah berfirman Yesus belum ada. Pandangan yang menganggap bahwa Allah Bapa ada sebelum Allah Putera, dan demikian Allah Putera tidak setara dengan Allah Bapa adalah heresi Arianisme di abad ke-3. Kita harus mencoba melepaskan konteks waktu pada Allah, pada waktu kita membayangkan tentang Allah. Ini memang suatu misteri, namun jika kita tidak mau melepaskan batasan ini, sebenarnya, kita mencoba menghilangkan misteri yang ada pada Allah, dengan mencoba membatasi Allah dengan kerangka pikir kita sebagai manusia, dan bukannya membuka cakrawala berpikir kita tentang Allah yang tidak terbatas. Maka misteri Allah ini salah satunya adalah: di awal mula dan kekekalan itu, Allah berfirman, dan Firman itu sendiri adalah Allah.

3. Mengenai mengapa Allah menciptakan langit dan bumi, sudah pernah dijawab di sini, silakan klik.

Allah tidak mencipta karena ingin disembah dan dipuji-puji. Sebab sebenarnya, Allah tidak membutuhkan manusia dan segala ciptaan-Nya, dalam arti bahwa tanpa pujian dari ciptaan-Nya, Allah sudah dan tetap sempurna, dan tidak kurang sesuatu apapun, karena Dia adalah Allah. Allah juga tidak kesepian, karena Allah kita dalam keTiga Pribadi-Nya sudah mempunyai kesempurnaan Kasih. Maka alasan utama Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya adalah karena Allah mau membagikan kasih dan kebaikan-Nya kepada semua ciptaan-Nya, terutama kepada manusia. Sehingga pada akhirnya seluruh bumi dan ciptaan-Nya dapat mengalami kebaikan-Nya dan memuliakan Dia. Melalui Sabda Allah yang diwahyukan-Nya kepada kita, kita mengetahui bahwa penciptaan langit dan bumi hanya terjadi sekali, dan itu adalah langit dan bumi yang ada di sekitar kita sekarang. Tentang ‘penciptaan langit dan bumi yang lain’ itu merupakan spekulasi yang tidak secara eksplisit kita ketahui dari Sabda Tuhan dalam Kitab Suci. Bagi saya, adalah lebih baik kita berpegang kepada apa yang jelas tertulis di Alkitab daripada mereka-reka akan kemungkinan yang merupakan ‘perkiraan’ pribadi, yang juga tidak dapat dibuktikan.

Semoga keterangan di atas dapat berguna bagi anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tentang ajaran sesat Albigenses

8

[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah kutipan tentang kelompok Albigenses, yang diambil dari sumber yang non- Katolik. Kusno menanyakan tanggapan Katolisitas, dan berikut ini adalah tanggapan dari Ingrid, yang menyertakan sumber yang lebih lengkap, dengan tujuan agar fakta sejarah tersebut dapat dicermati dengan lebih obyektif].

Pertanyaan:

Penganiayaan Kelompok Albigenses

Kelompok Albigenses adalah orang-orang yang menganut ajaran dualistis, yang tinggal di Prancis bagian se1atan pada abad ke-12 dan ke-13. Mereka mendapatkan nama itu dari kota Perancis, Albi, yang merupakan pusat gerakan mereka. Mereka tinggal dengan peraturan etika yang ketat dan banyak tokoh menonjol di antara anggota mereka, seperti The Count of Toulouse, The Count of Foix, The Count of Beziers, dan yang lain yang memiliki pendidikan serta tingkat yang setara. Untuk menekan mereka, Roma pertama-tama mengirim biarawan Cistercian dan Dominikan ke wilayah mereka untuk meneguhkan kembali ajaran paus, tetapi tidak berguna karena kelompok Albigenses tetap setia dengan doktrin reformed.

Bahkan ancaman Konsili Lateran yang kedua, ketiga, dan keempat (1139,1179, 1215) – yang memutuskan pemenjaraan dan penyitaan harta benda sebagai hukuman atas bidat dan untuk mengucilkan para pangeran yang gagal menghukum penganut bidat – tidak menyebabkan kelompok Albigenses kembali ke pangkuan Roma. Dalam Konsili Lateran III, pada 1179, mereka dikutuk sebagai bidat oleh perintah Paus Alexander III. Ini adalah paus yang sama yang mengucilkan Frederick I, Kaisar Romawi yang Kudus, Raja Jerman dan Italia, pada 1165. Kaisar selanjutnya gagal menaklukkan otoritas paus di Italia dan dengan demikian mengakui supremasi paus pada tahun 1177.

Pada tahun 1209, Paus Innocentius III menggunakan pembunuhan biarawan di wilayah Pangeran Raymond dari Toulouse sebagai pembenaran untuk memulai pengobaran penganiayaan terhadap pangeran dan kelompok Albigenses. Pada Konsili Lateran IV, tahun 1215, kutukan terhadap kelompok ini disertai dengan tindakan keras. Untuk melaksanakannya, ia mengirim agen di seluruh Eropa untuk membangkitkan pasukan untuk bertindak bersama-sama melawan Albigenses dan menjanjikan surga kepada semua yang mau bergabung serta berperang selama 40 hari dalam hal yang ia sebut Perang Kudus.

Selama perang yang paling tidak kudus ini, yang berlangsung antara 1209 sampai 1229, Pangeran Raymond membela kota Toulouse serta tempat-tempat lainnya di wilayahnya dengan keberanian yang besar dan kesuksesan melawan tentara Simon de Montfort, Pangeran Monfort dan bangsawan Gereja Roma yang fanatik. Ketika pasukan paus tidak mampu mengalahkan Pangeran Raymond secara terbuka, raja dan ratu Perancis serta tiga Uskup Agung mengerahkan tentara yang lebih besar, dan dengan kekuatan militer mereka, mereka membujuk pangeran itu untuk datang ke konferensi perdamaian serta menjanjikan jaminan keamanan kepadanya. Namun ketika ia tiba, ia ditangkap, dipenjara, dan dipaksa untuk muncul dengan kepala telanjang dan kaki telanjang di depan musuh-musuhnya untuk menghinanya, dan dengan berbagai siksaan yang dilakukan untuk menangkal sikap oposisinya terhadap doktrin Paus.

Pada awal penganiayaan tahun 1209, Simon de Montfort membantai penduduk Beziers. Ini merupakan contoh kecil kekejaman yang ditimbulkan tentara paus terhadap Albigenses selama 20 tahun. Selama pembantaian itu, seorang prajurit bertanya bagaimana ia bisa membedakan antara orang Kristen dengan bidat. Pemimpinnya dikatakan menjawab, “Bunuh mereka semua. Allah tahu siapa milik-Nya.”

Setelah penangkapan Pangeran Raymond, Paus menyatakan bahwa kaum awam tidak diperbolehkan untuk membaca Kitab Suci dan selama sisa abad ke-13 berikutnya, kelompok Albigenses bersama dengan Waldenses dan kelompok reformed lainnya, merupakan target utama Inkuisisi di seluruh Eropa.

So menurut bapak stefanus mana versi yang benar?

SUMBER:
http://www.sarapanpagi.org/inkuisisi-dalam-sejarah-gereja-vt1554.html

Kusno

Jawaban:

Shalom Kusno,

Pertama-tama, jika kita ingin mempelajari sejarah Gereja dengan sikap obyektif, sebaiknya memang membaca dari sumber yang berimbang, sehingga kita dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang kejadian pada masa lampau tersebut. Mengenai tulisan yang anda sampaikan di atas memang ada benarnya, tapi kurang lengkap, sehingga kita yang membacanya bisa menjadi bias, dan bertanya-tanya mengapa Gereja Katolik bisa bersikap demikian.

1. Jadi pertama- tama mari kita lihat dulu, apakah Albigenses itu, dan mengapa Gereja Katolik sangat menentangnya?

Albigenses adalah suatu sekte Kristen di abad 12-13 yang menganut ajaran Dualisme. Walaupun mereka menamakan dirinya sebagai Kristen, namun sebenarnya ajaran sekte ini sangatlah menyimpang dari ajaran Kristiani. Karena mereka tidak mempercayai adanya satu Tuhan Pencipta dan Pengatur segalanya, tetapi mereka mempercayai adanya dua tuhan, yang satu baik dan yang kedua, jahat. Maka Tuhan (allah yang baik) dan Iblis (allah yang jahat) sama-sama bertanggung jawab terhadap dunia ini. Dengan prinsip ini, maka mereka percaya bahwa segala yang berupa material di dunia, termasuk yang ada pada manusia (yaitu tubuh manusia) adalah hasil pekerjaan Iblis dan sepenuhnya adalah jahat. Maka manusia yang merupakan separuh ciptaan Tuhan, dan separuh ciptaan Iblis, perlu untuk diselamatkan. Sumber keselamatan ini bukanlah Penjelmaan Tuhan Yesus ke dunia dan kurban salib-Nya tetapi pembebasan jiwa dari tubuh. Maka bagi para Albigensian, Kristus bukan Tuhan dan juga bukan manusia, tetapi semacam malaikat yang mengambil tempat sementara dalam tubuh manusia, dan sengsara dan wafat-Nya hanyalah ilusi.

Konsekuensi dari ajaran sesat Albigensian ini adalah sangat merusak, karena: 1) konsep keselamatan bagi mereka adalah ‘pembebasan dari tubuh’, bukannya penghapusan dosa oleh jasa Kristus dan anugerah hidup ilahi di dalam-Nya; 2) mereka membenci perkawinan, karena perkawinan memungkinkan terciptanya ‘tubuh’ yang baru 3) mereka mendukung homoseksualitas/ perkawinan sesama jenis; 4) mereka membenci kehamilan; wanita yang mengandung dianggap sebagai seorang yang dirasuki Iblis. 5) mereka mendorong tindakan bunuh diri, karena menyebabkan seseorang terlepas dari ‘tubuh’. Di atas semua itu, dengan konsep ‘merendahkan tubuh, mereka tidak menghargai Inkarnasi (Penjelmaan Tuhan Yesus menjadi manusia, dan mengambil ‘tubuh’ manusia). Dan karena Penjelmaan Kristus merupakan salah satu inti Iman Kristiani, maka dapat dimengerti bahwa ajaran Albigensian/Kataris ini sungguh sangat menentang kebenaran iman Kristiani.

Para Albigensian ini beranggapan bahwa selama jiwa masih bersatu dengan tubuh maka masih ada kemungkinan ia jatuh dalam perangkap Iblis. Untuk mengatasi hal ini mereka mengadakan suatu ritus yang dinamakan Consolamentum, dan sesudah itu mereka disebut Perfect, dan terikat kewajiban-kewajiban yang sangat serius, dan tidak boleh diingkari, agar tidak lagi jatuh dalam bahaya perangkap Iblis.  Kewajiban ini misalnya, hidup selibat seumur hidup, puasa yang ketat (tidak boleh makan daging, telur, susu, mentega dan keju), tidak boleh terikat sumpah. Dari ketentuan ini mayoritas orang tidak dapat melaksanakannya. Mereka yang telah menerima Consolamentum ini banyak yang memilih untuk bunuh diri daripada menjalankan hidup seperti itu. Lagipula,  menurut mereka bunuh diri adalah tindakan yang sempurna bagi Albigensian yang sejati, yang merasa tidak mampu melaksanakan cara hidup yang disyaratkan.

Para Albigensian ini bertemu dalam ibadah secara teratur. Mereka membaca Alkitab, terutama Perjanjian Baru, yang telah mereka terjemahkan dalam bahasa vernakular/ setempat, dengan tafsiran-tafsirannya  yang sangat anti Katolik. Mungkin kita bertanya-tanya mengapa sampai ajaran yang menyimpang ini sampai meluas dan diterima banyak orang? Pertama, karena mereka mempunyai banyak pengkhotbah yang mengkhotbahkan pengajaran ini ke-mana-mana, sedangkan pada saat itu para imam Katolik rata-rata tidak pernah/ jarang berkhotbah. Maka mereka yang lahir dan dibesarkan secara Katolik lama-kelamaan berpikir bahwa itu memang ajaran Kristiani. Kedua, para Perfect itu memang hidup dengan sangat miskin, sedangkan pada saat itu para imam memang hidup dalam kelimpahan. Para Perfect banyak berderma, dan menggunakan uang sumbangan untuk mendukung industri bagi lapangan kerja para pemeluk sekte ini. Maka sedikit demi sedikit, sekte ini semakin berakar dalam kehidupan negara dan ekonomi.

2. Pengaruh yang ditimbulkan oleh sekte Albigenses

Konsili pertama yang membahas masalah heresi ini adalah Konsili Orleans tahun 1022, yang mengadili 13 orang imam/ clergy. Heresi/ bidat ini berkembang luas di Jerman, Italia utara, Perancis selatan, lalu juga ke Champagne, Languedoc (salah satu pusat Christendom yang penting) dan Milan, dan menyebar ke Burgundy, Picardy, Fladers, Perancis tengah, Tuscany, khususnya, Florence, dan juga ke Roma, Italia selatan, Sicily dan Sardinia.

Maka kemudian Albigenses ini (atau juga sering disebut Catharists) dikecam di banyak Konsili, yaitu di Tolouse (1119), Lateran II (1139), Rheims (1148), Tours (1163), dan Lateran III (1179). St. Bernardus dikirim untuk berkhotbah di daerah-daerah yang terpengaruh oleh heresi ini, namun baik kesucian maupun kefasihannya berkhotbah tidaklah membawa pengaruh yang besar. Di Perancis selatan, gereja-gereja sudah tidak dikunjungi, sakramen ditinggalkan. Di Toulouse sekte ini malah menjadi agama resmi. Utusan Paus Alexander III diusir dan dihina, kecaman dari Konsili 1179, tidak digubris. Hampir semua provinsi Christendom yang penting telah menjadi anti- Katolik. Beberapa uskup dan imam Katolik juga mulai banyak yang terpengaruh oleh ajaran mereka.

3. Paus Innocent III dan reaksi dari pihak Gereja Katolik

Setelah Paus Innocentius III dipilih, ia memusatkan perhatian untuk menangani masalah yang terjadi di Languedoc. Dia menunjuk dua pertapa dari ordo pertapa Cistercian sebagai pembawa pesannya. Misi mereka adalah untuk mempengaruhi para pangeran, untuk mengusir para bidat dan menyita harta milik mereka, berdasarkan hukum pada tahun 1184. Keberhasilan usaha mereka terhitung kecil, baik untuk menaggulangi heresi maupun untuk mengusahakan reformasi bagi kehidupan para imam/ clergy yang pada waktu itu banyak yang hidupnya tidak sesuai dengan panggilan hidup mereka. Maka pada tahun 1202, kedua pertapa ini digantikan oleh dua pertapa Cistercian lainnya, salah satunya bernama Peter de Castelnau dan Raoul. Castelnau ini seorang yang berani dan penuh semangat. Uskup Agung Languedoc diturunkan, karena menolak untuk bekerjasama, Uskup Toulouse diturunkan, karena kasus simoni, demikian juga dengan Uskup Beziers.

Pada tahun 1205 maka propaganda anti Catharist/ Albigensian mencapai puncaknya, melalui pengajaran, khotbah, pamflet, dsb, yang diarahkan oleh disiplin religius yang terbaik. Para utusan Paus juga mengajarkan tentang iman supaya umat Katolik tidak ragu tentang iman mereka dan kesungguhan Bapa Paus untuk mengkoreksi kehidupan para imam/ clergy. Namun demikian, misi inipun tidak berakibat banyak. Pangeran Touluose tetap menolak bekerja sama.

Kemudian Bapa Paus memperoleh bantuan dari Diego (uskup Osma) dan Dominic. Mereka membentuk tim  tujuhpuluh dua murid, yang seperti dalam Injil. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan berkhotbah dan terbagi-bagi dalam kelompok kecil, berdialog dengan para bidat. Pada tahun 1206-1207 mulailah terjadi pertobatan, dan sebagian dari para heretik itu kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Tahun 1207 seluruh Waldensian kembali, dan Paus Innocentius III mengizinkan mereka hidup sesuai dengan kaul kemiskinan  mereka dalam satu order religius yang bernama Poor Catholics (Kaum Katolik yang miskin).

Setelah 10 tahun misi ini, Castelnau kembali ke Toulouse untuk berdialog dengan Pangeran Raymond VI, agar ia mau bekerjasama. Sudah dua kali Pangeran Raymond berjanji mau bekerjasama, namun kemudian ia berubah pikiran dan menolak secara resmi. Maka Castelnau memberi sangsi ekskomunikasi dan memberi interdict/ pemotongan hak dan fungsi pada daerah kekuasaannya. Namun, tiga bulan kemudian, 15 Jan 1208, Peter de Castelnau dibunuh oleh salah seorang sersan kerajaan Toulouse. Pangeran Toulouse secara umum bertanggungjawab atas hal ini. Kematian Castelnau ini mengakhiri misi khotbah dari kaum Cistercian dan digantikan oleh perang. Pembunuh Castelnau di- ekskomunikasi, dan keputusan atas Pangeran Raymond diperbaharui. Hak-haknya sebagai pemimpin daerah dicabut, sekutu-sekutunya dibebaskan dari perjanjian. Paus Innocentius III menyatakan perang / crusade selama 40 hari untuk mengalahkan para heretik, memberikan indulgensi kepada para prajurit, seperti yang diberikan kepada prajurit di Holy Land. [Walaupun perang selalu pada dasarnya kejam dan tidak kudus, tetapi untuk alasan membela kebenaran iman ini, maka disebut perang kudus/ crusade]. Pada tahun 1209, pasukan dari 200,000 orang siap mengepung Toulouse.

Pangeran Raymond VI, akhirnya menyerah (18 Juni 1209), dan tunduk pada hukuman dera di hadapan publik di St. Gilles , berjanji untuk mengalahkan para heretik. Setelah itu pasukan sampai di Valence dan ia bergabung dengan mereka. Pada bulan Agustus kedua pusat heretik dikalahkan yaitu Beziers dan Carcassone. Sayangnya kemenangan di Beziers ditandai juga dengan pembunuhan massal, yang tidak hanya mencakup pasukan kota, tapi juga beribu penduduk sipil. Di sinilah terdengar seruan yang mengerikan di Beziers: “Bunuh saja semua, Tuhan akan mengetahui siapa milik-Nya.” Salah satu pemimpinnya yaitu Simon de Monfort, yang kemudian menjadi penguasa atas Bezier dan Carcassone. Selama tahun-tahun ke depan dia berjuang melawan Pangeran Raymond, mereka yang tergantung padanya, dan raja Aragon, Peter II yang mempunyai kuasa di atas Pangeran Raymond.

Sejak saat itu perang melawan Albigenses juga tercampur dengan motif-motif lainnya, termasuk persaingan politik. Pangeran Raymond sendiri tidak pernah memberikan sikap yang jelas, karena ia tidak mau menyerahkan para bidat. Maka utusan Paus kembali memberikan sangsi ekskomunikasi kepada Raymond, dan interdict. Pangeran Raymond naik banding kepada Paus Innocentius, yang kemudian mencabut interdict tersebut. Tiga bulan kemudian diadakan Konsili untuk membahas pelanggaran Raymond ini (1210) dan Raymond tidak mengindahkan apapun kewajiban yang sudah dijanjikannya di bawah sumpah. Dia tidak membubarkan pasukannya dan  terus mendukung para bidat/ heretik. Paus Innocentius kembali memberi peringatan, dan kembali mengingatkannya untuk bekerja sama. Kembali Konsili diadakan untuk membahas apa yang telah dilakukan Pengeran Raymond (Des 1210, Jan 1211, Feb 1211). Beberapa pelanggaran dilakukannya, dan akhirnya, diputuskan oleh Paus bahwa Pangeran Raymond di ekskomunikasi, dan dikatakan sebagai musuh Gereja.

Selanjutnya, Simon de Montfort sedikit demi sedikit menaklukkan tempat- tempat heretik tersebut. Lavaur jatuh ke tangan pasukan crusaders, yang menang atas daerah itu, dengan membunuh penduduk di sana, setelah mendengar bahwa pasukan merekapun sebanyak 6000 orang telah dibantai pihak heretik. Paus Innocent III berusaha melerai pertengkaran tersebut, namun tak berdaya karena terjepit oleh kesaksian- kesaksian kedua belah pihak yang saling menjatuhkan. Peter II Raja Aragon yang adalah ayah mertua Raymond berusaha memperoleh ampun bagi menantunya, namun tak berhasil. Sementara itu Paus Innocentius akhirnya menjadi yakin atas pelanggaran dan penipuan dari Pangeran Raymond, dan trik-trik dari Peter, Raja Aragon. Terjadilah pertempuran antara Raja Peter II dengan Simon de Montfort, yang berakhir dengan kematian Raja Peter II (1213). Maka, seluruh daerah kekuasaan Raymond jatuh ke tangan Simon de Montfort, kecuali Toulouse. Namun Paus Innocent III mengakui de Monfort hanya sebagai administrator daerah-daerah ini. Pada saat Konsili Montpelier 1215 diadakan, Simon de Montfort diakui sebagai Pangeran Toulouse, dengan catatan pemberian hak-hak yang khusus kepada Raymond dan keturunannya. Setelah diberitahukan kepada Paus Innocentius III bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menumpas heresi, akhirnya menyetujui pilihan itu. Setelah 7 tahun lamanya dari pertempuran, pembantaian yang tidak dapat dikatakan disebabkan karena kesalahan satu pihak saja, hambatan terbesar untuk menumpas heresi Albigensian (Neo- Manicheaeism) akhirnya teratasi, walaupun selanjutnya masih terdapat sisa- sisa pengaruhnya.

Setelah Simon de Montfort wafat, puteranya Amalric naik tahta, mewarisi hak-hak ayahnya. Namun kemudian terjadilah pertempuran-pertempuran di wilayahnya hingga akhirnya ia dan  Raymond VII menyerahkan daerah kekuasaan mereka kepada Raja Perancis. Sementara ini Konsili Toulouse (1229) mempercayakan kepada Inkuisisi (Inqusition) ke tangan para biarawan Dominikan, dengan tujuan untuk mengakhiri heresi Albigensianisme. Heresi ini akhirnya berakhir di akhir abad ke- 14.

4. St. Dominikus dan St. Fransiskus

Mari di sini kita melihat juga peran kedua orang kudus yang hidup pada jaman itu, yaitu St. Dominikus dan St. Fransiskus. Pertempuran itu tidak menghentikan kampanye khotbah dan diskusi. Uskup Diego pensiun, dan kini Dominikus Guzman mengambil peran aktif. Ia beserta timnya mulai diakui sebagai pengkhotbah resmi. Des 1216, ordo Dominikan diakui oleh Paus Honorius III dengan tugas khusus untuk berkhotbah. Ordo ini bertujuan untuk melatih para penerus rasul untuk memerangi heresi dengan pemikiran/ ajaran dan kehidupan asketik. Kehidupan biara diisi dengan proses mempelajari Kitab Suci dan membahas pertanyaan-pertanyaan Teologis. Dari ordo inilah muncul Peter Lombard dan St. Thomas Aquinas. Di sinilah kita mengetahui bagaimana Tuhan memakai kejadian yang kisruh di abad pertengahan tersebut, untuk kemudian melahirkan pengajaran Gereja Katolik yang lebih sistematis, dan berakar pada Alkitab, sehingga dapat lebih mudah diajarkan kepada umat. Dengan memahami ajaran ini, maka umat Katolik diharapkan untuk lebih memahami imannya tidak mudah terbawa oleh arus pemahaman heretik yang tidak mempunyai dasar yang kuat, sehingga kontradiktif di dalam banyak hal.

Demikian pula, St. Fransiskus adalah seorang kudus yang lahir pada jaman itu (1182) untuk memberi teladan kehidupan membiara yang memegang kaul kemiskinan, berlawanan dengan kehidupan berlebihan para klerus pada saat itu. Dengan demikian teladan hidupnya menjadi contoh hidup para religius, dan dengan caranya sendiri ia berperan untuk memurnikan makna panggilan hidup membiara. St. Fransiskus berasal dari keluarga yang kaya dan ternama, namun ia meninggalkan segalanya demi maksud membangun Gereja. Ia mendirikan ordo para bruder yang hidup dalam kaul kemiskinan dan mengkhotbahkan pertobatan. Ordo ini berkembang pesat, dan membangkitkan kembali Gereja Katolik dari dalam.

Melalui kedua orang kudus ini, St. Dominikus dan dan St. Fransiskus dari Asisi, Tuhan memenuhi janjinya,  “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” (Rom 5:20) Artinya, biar bagaimanapun kuasa Tuhan lebih besar daripada kuasa Iblis; dan Tuhan dapat memakai kejadian seburuk apapun untuk mendatangkan kebaikan kepada mereka yang mengasihi Dia (lih. Rom 8:28), dan janji ini digenapi-Nya di dalam Gereja-Nya.

5. Kesimpulan

Sebenarnya Albigensianisme bukanlah heresi Kristiani tetapi sebuah agama yang di luar Kristen. Setelah upaya persuasif gagal, pihak otoritas Gereja menerapkan represi dengan kekerasan, yang seringnya menjurus ke arah berlebihan dan ini sangat disayangkan. Simon de Montfort bermaksud baik pada mulanya, namun akhirnya menggunakan nama agama untuk merebut wilayah kekuasaan Pangeran Toulouse. Memang harus diakui bahwa hukuman mati terlalu banyak diberikan kepada para pengikut sekte Albigensianisme ini, namun harus pula kita pahami bahwa hukuman sangsi pada jaman itu memang lebih keras diberikan daripada pada jaman sekarang, dan seringkali dipicu oleh suatu pelanggaran yang berlebihan. Pangeran Raymond VI dan VII seringnya menjanjikan akan bekerjasama menumpas heresi, tetapi tidak pernah benar- benar melaksanakannya. Paus Innocent III benar ketika mengatakan bahwa ajaran sesat Albigensianisme merupakan sesuatu heresi yang lebih buruk daripada kaum Saracens. Paus selalu mengusahakan jalan tengah, walau sering tak berhasil, dan iapun sebenarnya tak pernah menyetujui kebijaksanaan yang egois dari Simon de Montfort. Yang diperangi oleh Gereja pada saat itu, bukan saja keruntuhan agama Kristen, tetapi juga kepunahan umat manusia, karena ajaran Albigensianisme yang mendorong ‘culture of death‘/ budaya kematian, dengan membenci tubuh, membenci perkawinan dan mendorong bunuh diri dari para anggotanya.

Bahwa sesudah saat itu diadakan Konsili di Toulouse 1229 yang melarang orang Katolik membaca Alkitab, itu adalah suatu larangan yang bersifat sementara, karena pada saat itu banyak beredar terjemahan Kitab Suci dengan tafsiran- tafsiran yang menyimpang sesuai dengan ajaran Albigensian. Hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

Maka jelaslah sudah duduk masalahnya. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya. Sebab pengalaman telah menunjukkan bahwa tanpa bimbingan Gereja maka penafsiran Alkitab dapat berakhir dengan interpretasi yang malah bertentangan dengan iman Kristen.

Selanjutnya, terutama melalui Konsili Vatikan ke II, Dei Verbum 25,  kita mengetahui bahwa kita sebagai umat beriman dianjurkan untuk membaca Alkitab, terutama para imam dan pengajar iman seperti para katekis. Namun demikian, pembacaannya harus didahului dengan doa sehingga kita dapat mendengar Dia (Tuhan) sendiri lewat ayat-ayat ilahi yang kita baca.

Demikianlah Kusno, yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Mari kita melihat fakta sejarah dengan sikap obyektif. Bahwa memang terdapat kesalahan- kesalahan dari kedua belah pihak, namun selalu ada alasannya, mengapa sampai demikian. Albigenses atau Catharist adalah ajaran Neo- Manichaeism (versi baru dari Manichaeism yang adalah aliran sesat pada jaman St. Agustinus sekitar abad ke-4) yang sangat tidak Kristiani, maka mereka bukannya menawarkan ‘doktrin reformed’, karena prinsip ajaran mereka malah sungguh menyimpang.  Saya sebagai umat Katolik, sepenuhnya bisa memahami keputusan pihak otoritas Gereja Katolik saat itu, dalam rangka mempertahankan kemurnian pengajaran iman Kristiani yang sesuai dengan pengajaran para rasul, walaupun juga menyesalkan adanya keadaan kekerasan yang melewati batas. Agaknya memang keadaan pada saat itu sangatlah rumit, dan Paus Innocentius III sungguh menghadapi pilihan yang sangat sulit. Tetapi, tanpa kegigihannya mengakhiri heresi Albigensian, mungkin tak banyak bangsa yang bertahan hidup sampai sekarang, bukan karena perang, tetapi karena dengan sendirinya membenci kehidupan dan mengakhiri kehidupan mereka sendiri dengan bunuh diri. Dengan mempelajari sejarah Gereja kita akan semakin disadarkan akan kelemahan kita sebagai manusia, namun juga kita mengagumi akan campur tangan Tuhan yang menjaga keberadaan Gereja-Nya yang diterpa badai tak hanya dari luar tetapi dari dalam tubuhnya sendiri. Namun janji Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus selalu digenapinya, dan Kristus tak akan membiarkan Gereja-Nya runtuh, sebab Ia berjanji, “alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Sumber:
-Philip Hughes, A History of the Church, volume III (New York: Sheed and Ward, 1949), p. 340-361
-New Advent Encyclopedia, silakan klik

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab