Home Blog Page 265

Gereja Katolik dan demokrasi

3

Pertanyaan:

Mohon penjelasan juga;

Kalau kita melihat sejarah keselamatan, mulai dari bangsa Israel adalah contoh negara Teokrasi murni, dimana nabi Musa, Daud , Salomo, dll memerintah rakyatnya atas nama Allah. Dan mereka berperang dgn pemerintah-pemerintah kafir di zamannya yang rajanya bukan atas nama Allah.
Demikian juga cita-cita akhir / eskatologi Kristiani : Yerusalem baru , Kerajaan Allah / Surga ,dll yang semua itu menggambarkan wakil Allah yang berkuasa atas bumi … sekali lagi model Teokrasi.
Jadi apakah dasar ajaran GK untuk mendukung Demokrasi?

Terima kasih. Fxe

Jawaban:

Shalom Fxe,

Sejarah keselamatan Allah memang dimulai dari sejak kejatuhan Adam dan Hawa di masa awal penciptaan. Maka perjanjian Allah dimulai dari Allah dan pasangan manusia (Adam dan Hawa) pada saat Allah menjanjikan akan mengutus seorang yang akan lahir dari keturunan seorang wanita yang akan mengalahkan kuasa Iblis (meremukkan kepala Iblis). Perjanjian ini kemudian diteruskan kepada keluarga Nabi Nuh, para Patriarkh (Abraham, Ishak, Yakub), kedua belas suku bangsa Israel yang berasal dari anak- anak Yakub, kemudian kepada bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya yang dipimpin oleh Musa. Bangsa Israel ini kemudian dipimpin oleh para hakim dan raja (Saul, Daud, Salomo, dll), beratus- ratus tahun sampai kedatangan Kristus. Kristus kemudian memilih keduabelas rasul, dan mendirikan Gereja-Nya atas Rasul Petrus (Mat 16:18). Sebelum kenaikkan-Nya ke surga, Ia memerintahkan mereka untuk menyebarkan Kabar Gembira ke segala bangsa, membaptis mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan mengajarkan semua perintah-Nya (Mat 28:19-20). Gereja-Nya inilah yang merupakan bangsa pilihan-Nya yang baru, yang merupakan Tubuh Mistik-Nya sendiri, dengan Kristus sebagai Sang Kepala; yang memberikan kuasa kepada Rasul Petrus dan para penerusnya untuk memimpin Gereja-Nya di dunia ini atas nama-Nya. Dengan pengertian ini memang secara ilahi dan eskatologis, gambaran Kerajaan Allah adalah Kerajaan yang dipimpin oleh Allah sendiri di dalam Kristus, karena dikatakan, “Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.” (1 Kor 15:28)

Dalam bukunya the City of God, St. Agustinus membedakan adanya negara, yaitu City of God (yang dibangun atas kasih kepada Tuhan) dan city of men (yang dibangun atas kasih kepada diri sendiri). Sebenarnya prinsip kasih kepada Tuhan yang dinyatakan melalui kasih kepada sesama, atas dasar persamaanpersamaan hak dan martabat, menghargai kebebasan/ kemerdekaan setiap orang- inilah yang menjadi prinsip dasar demokrasi. Hal ini sesungguhnya secara jelas diajarkan oleh Kristus dan para rasul, sebab di dalam Dia memang tidak ada lagi pembedaan. Rasul Paulus mengajarkan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1 Kor 12:13, lih. Kol 3 :11). Prinsip persamaan martabat sebagai anak-anak angkat Allah dalam Kristus ini yang mendasari para murid hidup dalam persekutuan, yang kaya/ kuat menolong yang miskin/ lemah. Inilah selalu yang menjadi pesan ajaran sosial Gereja Katolik, mulai dari surat ensiklik Rerum Novarum oleh Paus Leo XIII, 1891, sampai kepada surat ensiklik Caritas in Veritate oleh Paus Benediktus XVI, 2009.

Kita ketahui bahwa pengertian “demokrasi” mengacu kepada pemerintahan oleh rakyat/ wakil rakyat, atas dasar persamaan hak dan kemerdekaan individu, dan cirinya adalah kepemimpinan mayoritas/ rule of majority (jika kita melihat kepada definisi menurut Wikipedia dan Webster). Gereja Katolik tentu tidak anti demokrasi, terutama jika para wakil rakyat itu sungguh-sungguh menyuarakan suara rakyat, terutama rakyat kecil. Sebab ajaran Kristus yang utama adalah perintah kasih kepada Allah dan sesama, terutama sesama yang terkecil dan terhina (lih. Mat 25: 40, 45). Perintah “preferential for the poor” ini memang menempatkan Gereja untuk membela pihak yang lemah/ miskin, tanpa mengesampingkan peran Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun demikian, walaupun Gereja Katolik mendukung prinsip demokrasi, ia tidak dapat menerapkan “rule of majority”, dalam hal iman dan moral, sebab kedua hal tersebut adalah hak Allah, dan manusia tidak dapat mengubahnya sesuai dengan kehendak hatinya berdasarkan keinginan mayoritas. Sebab jika demikian ajaran iman dan moral disesuaikan dengan kehendak manusia dan bukan dengan kehendak Allah. Untuk maksud inilah Kristus memberikan wewenang mengajar kepada Rasul Petrus dan para penerus mereka yang diteruskan dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik. Dengan demikian, kita dapat melihat doktrin iman dan moral yang tidak berubah, sebab Magisterium memang tidak berhak mengubahnya. Sebagai contoh: di Amerika terdapat pendapat mayoritas yang melegalisasi aborsi, namun Gereja Katolik tidak pernah mendukung hal tersebut, dan melarang tindakan aborsi di rumah-rumah sakit Katolik.

Semoga keterangan singkat ini dapat memberi gambaran tentang hubungan Gereja Katolik dengan prinsip-prinsip demokrasi.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Maria Tabut Perjanjian Baru, dan benarkah Yesus menyangkal Maria 3 kali?

46

[Dari Katolisitas: Berikut ini adalah kelanjutan dari tanya jawab yang ada di sini, silakan klik. Kami memisahkannya menjadi artikel tersendiri karena adanya topik pembahasan yang baru, yang kami pandang baik untuk dipisahkan tersendiri dari tanya jawab sebelumnya. Pertanyaan ditulis oleh Kevin, yang menanggapi komentar Valen pada tanya jawab sebelumnya. Ingrid menanggapi beberapa point pernyataan Kevin, yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. ]

Pertanyaan:

Saudara Valentinus…

Sayangnya disini saya tidak bisa mengcopy paste dengan memberi warna tertentu atau mencetak miring huruf, sehingga penekanannya kurang jelas.

1) Valen: Apakah saudara Kevin sudah mengetahui PASTI tentang TUHAN atau hanya berdasarkan perasaan saudara Kevin…berasa bahwa saudara Kevin adalah benar?

Kevin: TUHAN tidak bisa diketahui secara pasti 100% kecuali kita memahaminya dari Alkitab. Kalo anda menanyakan perasaan saya tentang TUHAN, saya menjawab ya. Saya bukan hanya memahami TUHAN yang saya pelajari dari Alkitab, namun saya juga merasakan kehadiranNYA dalam hidup saya. Mengenai saya berasa benar atau tidak, itu anda salah mengajukan pertanyaan, KEBENARAN atau KETIDAKBENARAN itu bukan dari PERASAAN, tapi dari Firman Allah yang hidup, yaitu ALKITAB. Dan dari Alkitab yang saya pelajari, saya YAKIN (bukan merasa) bahwa pemahaman saya tentang TUHAN adalah BENAR.

2) Valen: KALAU MANUSIA MAMPU MENGERTI TUHAN SECARA PASTI….BUKAN TUHAN NAMANYA…

Kevin: Saya sudah jawab diatas. Alkitab sudah menjelaskan begitu gamblang tentang hakekat dan pribadi TUHAN, jadi pengenalan kita akan TUHAN hanya SEBATAS yang telah tertulis di ALKITAB.

3) Valen : Percayakah saudara Kevin bahwa hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan karena adanya PERJANJIAN?

Kevin : Jelas sekali percaya, kenapa tidak??? Kalo saya mau menuliskan semua yang saya pahami tentang perjanjian yang anda sebutkan itu, tulisan saya bisa ribuan kata dan tidak cukup dibaca sehari. Justru bila anda paham akan PERJANJIAN ini, maka seharusnya anda bisa mengetahui kebenaran sejati tentang hakekat penyembahan sejati yang HANYA kepada ALLAH saja.

4) Valen: Percayakah saudara Kevin bahwa Perjanjian Baru adalah penggenapan dari Perjanjian Lama?
Percayakah saudara Kevin akan ALKITAB (PL dan PB)?

Kevin: Pertanyaan / pernyataan anda diatas seharusnya ditujukan kepada orang yang belum mengenal YESUS atau kepada orang Kristen / Katolik KTP. Saya 100% percaya Alkitab (PL+PB), karena dari situlah saya memahami kebenaran. Saya justru meragukan kepercayaan anda pada Alkitab, karena anda meyakini sesuatu yang diluar Alkitab. Tahukah bahwa PL adalah TYPE dari PB, dan Taurat adalah TYPE pengorbanan YESUS disalib yang merupakan ANTITYPE? Apakah hidup anda masih berada di bawah hukum Taurat atau sudah dibawah kasih karunia?

5) Valen: Bila saudara Kevin sudah membaca ALKITAB secara sungguh2 dan dibimbing Roh Kudus….akan menemukan adanya benang merah antara PL dan PB….

Kevin: Saya sudah baca Alkitab habis ketika kelas 5 SD. Saya mulai membaca Alkitab dari kelas 2 SD. Benang merah PL dan PB itu sudah saya temukan ketika kelas 4 SD. Ngomong2 soal benang merah, tahukah anda siapa 2 saksi yang akan datang itu? (yg tertulis di kitab Wahyu)? kalo anda tidak tahu tanyakanlah pada orang yang tahu, supaya anda bisa belajar tentang salah satu benang merah.
Dan apakah anda juga sudah dibimbing Roh Kudus? atau cuma dibimbing doktrin yg anda sendiri tidak tahu tapi pura-pura tahu?

6) Valen : Tahukan saudara Kevin tentang Tabut Perjanjian MUSA….gimana membuatnya? Tuhan telah secara terperinci berapa ukurannya dll….berisi apakah Tabut Perjanjian MUSA…berisi loh batu/ sepuluh perintah Tuhan…Tongkat Harun dan Roti Manna…
Tuhan telah memerinci semuanya….secara detail….itu baru 10 perintah ALLAH…baru FIRMAN ALLAH

Kevin: hahahaha…saya sudah bilang itu bacaan saya ketika kelas 2 sd 3 SD… kalo saya tulis korelasi dan uraiannya disini makan waktu dan space, dan anda akan terkejut dng uraian saya. Tahukah anda kenapa Loh Batu yang di dalam tabut itu adalah buatan tangan Musa? Tahukah anda apa yang tertulis sebagai hukum 1 (pertama) di loh batu tersebut? Tahukah anda hukum yang ke 2 (kedua) yang sering anda langgar itu?

7) Valen : Bagaimana dengan FIRMAN ALLAH yang menjadi daging…atau YESUS?

Kevin: Silakan baca Yoh 1: 1-14. Tahukah anda kenapa FIRMAN itu harus menjadi MANUSIA? Kalo anda bisa jawab ini saja, seharusnya anda mengamini tulisan2 saya di blog ini.

8) Valen: Apakah hanya secara kebetulan MARIA dipakai sebagai perantara Yesus ke dunia?….[edit]

Kevin: hahaha… anda rupanya tidak paham pada tulisan saya yg ditanggapi Sdri Inggrid. TUHAN merencanakan karya penebusan dari sejak semula, dan TUHAN memilih menjadi manusia, dan kebetulan yang dipilih TUHAN adalah Maria. Kenapa saya bilang kebetulan? Karena TUHAN bisa pilih siapa saja semua DIA. Siapakah manusia sehingga dia bisa mengajari TUHAN tentang pilih memilih? Kalo waktu itu TUHAN tidak pilih Maria, tapi memilih Sdri Inggrid, boleh khan? dng hak apa anda bisa melarang maunya TUHAN? Jangan TUHAN yang memilih, anda saja mau pilih apa saja terserah anda kok? siapa yang bisa mengatur anda agar memilih ini atau itu? bukan anda sendiri yang punya WILL (kehendak)? kalo segala pilihan anda ditentukan oleh orang lain, itu artinya anda hanya robot. Jangan terbolak-balik bro… nanti anda bingung sendiri… dan jangan ngatur2 TUHAN soal pilih memilih. DIA memilih siapa yang DIA mau, bukan siapa yang DIA pandang layak!!! anda + saya pun tidak layak untuk masuk surga, tapi karena TUHAN memilih untuk mati bagi saya dan anda (kalo anda percaya), maka kita pasti masuk surga. Itu namanya DILAYAKKAN, artinya yang tidak LAYAK dibuat TUHAN menjadi LAYAK, jangan terbalik bro…. Kalo anda berpikir yang sebaliknya, maka anda sedang menghina TUHAN.

9) Valen: Yang PASTI TIDAK MUNGKIN saudara Kevin yang DIPILiH…

Kevin: Anda mengatakan ini berdasarkan fakta dalam posisi PRESENT. Ini seperti judi togel / SDSB, setelah angka 77 keluar lalu orang berkata, “tuh khan apa saya bilang, gak mungkin 66 yang keluar?”.
Saya sudah bilang sebelumnya, ALLAH bisa memilih siapa saja, termasuk saya, termasuk anda, siapapun!!! Jangan membuat kerangka yang membatasi hakekat ALLAH dan kehendakNYA.

10) Valen : Maria ibarat Tabut Perjanjian Musa…berisi FIRMAN yang HIDUP, Manna yang HIDUP, dan Tongat Harun yang menandakan Kepemimpinan YESUS sepanjang JAMAN.

Kevin: Anda bilang Maria ibarat Tabut Perjanjian Musa…. Anda baca darimana bro? bagaimana anda bisa menafsirkan seperti itu? buku yang anda baca salah cetak atau pengarangnya yang lagi mabok? Bacalah kembali kembali pentateuch bro, dan bacalah hati-hati, pelan-pelan, dan mintalah bimbingan ROH KUDUS, agar benang merah yang anda temukan tidak berubah jadi hitam.

11) Valen : Bagaimana Maria apakah yg mengandung Yesus tidak dikuduskan atau sudah selesai begitu Yesus LAHIR….???

Kevin : Maria dikuduskan pada waktu mengandung YESUS, tapi selesai setelah YESUS lahir… apakah anda pernah baca Roma 3:23, Roma 3:10, Yes 64:6. Yang kudus itu YESUS, keberadaannya di dalam kandungan menyebabkan Maria ikut “tertular” kekudusan YESUS, namun setelah YESUS keluar, jaminan apa yang bisa anda berikan bahwa Maria kudus? Kalo anda yakin bahwa Maria kudus setelah melahirkan YESUS, tolong sebutkan ayatnya… jangan asal ngomong, karena kalo asal ngomong dengan tafsir ini tafsir itu, itu berarti anda tidak berpijak kepada kebenaran Alkitab. Tafsir 1001 mimpi sudah tidak jamannya lagi dipake saat ini bro? Dari tulisan awal, anda yang mengajak saya untuk berpegang kepada Alkitab, jadi apa yang anda sarankan, sebaiknya juga anda pakai, agar orang tidak berkata bahwa anda lempar batu sembunyi tangan.

12) Valen: Tahukah siapa yg mendampingi Yesus selama Hidupnya …mulai dari LAHIR, REMAJA, DEWASA, BERNUBUAT…sampai dengan KEMATIAN dan KEBANGKITANNYA….dan menyerahkan Maria kepada Yohanes saat terakhirnya…siapa klo bukan MARIA…

Kevin: tidak perlu anda tulis ini, keponakan saya yang masih sekolah minggu juga tahu ini bro…

13) Valen: Tetapi mengapa Maria tidak secara khusus ditulis dalam ALKIKITAB….sebab ALKITAB merupakan KABAR GEMBIRA YESUS KRISTUS…

Kevin: hahahaha… anda salah lagi bro… Maria jelas ditulis khusus di Alkitab, bgm anda bisa bilang Maria
tidak ditulis khusus di Alkitab? Tahukah anda, berapa banyak nama tokoh2 Alkitab disebut di seluruh Kitab? nama YESUS disebut sebanyak 1.362 kali, belum lagi MESIAS = 47 kali, ALLAH= 3.601 kali, TUHAN= 6.526, jadi kalo ditotal, sebutan untuk TUHAN saja minimal sudah disebut lebih dari 10.000 kali, itu belum dengan gelar2 ALLAH. Lalu Daud disebut 972 kali, Musa disebut 804 kali, Abraham/Abram 291 kali, Yesaya disebut 62 kali, Daniel disebut 72 kali, dst…dst…. namun Maria hanya disebut 26 kali (kalo anda search di alkitab elektronik sabda, akan muncul 54 kali, tapi itu termasuk 28 sebutan untuk Maria yang lain, spt Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus, Maria saudaranya Marta). Anda bisa bayangkan, Nuh yang kisahnya singkat saja disebut 49 kali. Salomo yang berzinah saja disebut 274 kali. Yohanes pembabtis setidaknya disebut lebih dari 50 kali. Yohanes murid Yesus juga disebut lebih dari 50 kali. Filipus yg kiprahnya sangat singkat disebut 36 kali. Saya bukan semata berkalkulasi dengan angka, namun perlu anda ketahui, bila Maria adalah lebih sentral dibanding tokoh2 PL+PB yang lain, tentu akan dikupas habis dan dijelaskan panjang lebar, bukan hanya peran sebagai ibu, namun juga pesan2 moral yg dibawanya, pewahyuan ALLAH dalam hidupnya dsb… Semua nabi, rasul, imam dan tokoh PL membawa pesan langsung dari ALLAH. Dalam PB, murid2 YESUS juga mengabarkan pesan ALLAH, apa yang Maria kabarkan bro?
Maria dipilih ALLAH sebagai sarana untuk melahirkan YESUS, mengasuh dan merawatNYA. Kita menghargai dan menghormatinya sebagai manusia yang telah mengemban misi besar dari TUHAN, namun kita tidak boleh memandangnya lebih dari itu.
Alkitab memang kabar gembira tentang datangnya SANG JURUSLAMAT AGUNG satu-satunya yaitu YESUS KRISTUS, namun semua hal yang penting terkait denganNYA dan misiNYA pasti dijelaskan dengan lengkap dan gamblang. Tahukah anda bahwa 4 Injil itu isinya banyak mengulang satu sama lain? Apakah TUHAN kurang kerjaan ngulang-ngulang tulisan seperti itu? tentu tidak bro! Itu diulang2 karena memang hal yang sangat penting. Bila kisah tentang Maria hanya sepotong, dan tidak ada penekanan khusus tentang peran apalagi pesannya, tentu saja itu memang tidak dipandang penting oleh TUHAN. Tahukah anda bro, bahwa TUHAN YESUS pernah menyangkal Maria sebagai ibunya sebanyak 3 kali? silakan pelajari Injil bro…

14) Valen: MARIA menyimpan semua perkara dalam HATI NYA…

Kevin: apa yang anda maksud dengan tulisan itu bro? darimana anda dapatkan tulisan itu? hati2 bro dng NYA yg terakhir itu… Tahukah anda bro kenapa ketika bangkit dari kubur yang dijumpai YESUS justru bukan Maria ibuNYA, namun Maria Magdalena? Tahukah bro, saat YESUS menangis yang tercatat di Alkitab adalah ketika bersama Maria saudara Lazarus? bukan Maria ibuNYA.
Bila anda berfilosofi dengan Alkitab, itu artinya anda menggunakan hermeneutik yang eisegeses… hati2 bro, filsafat sekuler bisa menghantar anda kepada formulasi circular yang membuat anda sakit kepala dan mengalami radang rohani.

15) Valen: MAMPUKAH saudara Kevin seperti MARIA?

Kevin: Saya tidak mampu. Anda tidak bisa membanding dua orang di dunia ini. Kalo saya tanya, mampukah anda seperti saya? kalo anda jawab mampu, saya dengan enteng akan bilang bahwa anda sedang membual, karena anda pasti tidak mampu seperti saya. Demikian pula sebaliknya, sayapun tidak mampu seperti anda. Anda harus belajar untuk mengungkapkan permasalahan secara jelas, kalo bilang mampu, harus dijelaskan dalam hal apakah yang dimaksud, topiknya harus spesifik. Kalo anda bicara soal topik prestasi rohani, sebaiknya sebelum anda menilai kiprah seseorang dalam dunia rohani, anda belajar dulu perjuangan tokoh2 PL seperti Abraham, Daud, Musa, Daniel, Esther, resapi sepak terjang mereka dan relation mereka dengan Tuhan, lalu bandingkan dengan tokoh yang anda maksud. Itu bicara soal prestasi bro… kalo bicara soal dosa dan penebusan dosa, yang perlu anda ingat ialah “semua manusia berdosa bro..!!!” Hanya ALLAH yang suci, hanya ALLAH yang kudus.

16) Valen: Apakah salah menghormati Maria?

Kevin: Tidak salah. Siapa yang bilang salah? Yang salah ialah apabila menghormatinya berlebihan, sampai berdoa kepadanya. Sebab perantara kita kepada ALLAH BAPA hanyalah satu yaitu TUHAN YESUS KRISTUS, tidak ada yang lain bro. Jangan menciptakan allah baru atau perantara baru versi doktrin tafsir 1001 mimpi bro….

17) Valen : KATOLIK TIDAK MENYEMBAH MARIA!!!!! TETAPI MENGHORMATI MARIA….
Itulah esensi penghormatan kepada MARIA…
Klo Protestan…bilang menghormati…..tapi mana menghormatinya????? [edit]
((( ini ada pertanyaan di awal yg ketinggalan saya sambung )))
APAKAH saudara Kevin menghormati MARIA? Dimana letak penghormatannya? Pernahkah menghormati Maria?
Gimana cara menghormati Maria?

Kevin: Kalo anda tidak menyembah Maria, tapi hanya menghormatinya saja, tentu anda tidak berdoa kepadanya bukan? Kita semua tahu, bahwa yang namanya berdoa itu ya kepada TUHAN. Jangan ada padamu ALLAH lain di hadapanKU, firman TUHAN. Kalo anda merasa menghormati Maria, seharusnya anda juga menghormati orangtua yang melahirkan Maria, seharusnya anda juga menghormati kakek nenek yang melahirkan orangtua Maria, karena tanpa kakek nenek dan ortunya tentu Maria tidak lahir bukan? (ini saya pakai logika anda, biar anda bisa merenungkannya bahwa YESUS bisa lahir darimana saja sesuai yang DIA mau)

Kalo protestan bukan hanya menghormati Maria saja, tapi juga menghormati semua tokoh2 Alkitab, bahkan lebih menghormati dibandingkan anda, karena saya pribadi juga menghormati semua garis moyang Maria ke atas dari Yusuf, Eli sd Raja Daud (kakek kakek kakek buyut moyangnya Maria), bahkan sampai Nuh, Henokh, Adam. Bagaimana cara saya menghormatinya? Cara yang terbaik untuk menghormati orang ialah dengan tidak menyakiti hatinya bilamana saya tidak bisa menyenangkannya. Dan yang pasti cara saya tidaklah berdoa kepada mereka.

Silakan anda baca Imamat 19:31, Imamat 20:6, Ulangan 18:10-11, Mazmur 88:10, Yesaya 8:19, Yesaya 26:14.

Kalo anda malas membuka Alkitab, mari saya bantu disini:

Imamat 19:31
Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.

Imamat 20:6
Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya.

Ulangan 18:10-11
Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.

Mazmur 88:10
Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu?

Yesaya 8:19
Dan apabila orang berkata kepada kamu: “Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit,” maka jawablah: “Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada allahnya? Atau haruskah mereka meminta petunjuk kepada orang-orang mati bagi orang-orang hidup?”

Yesaya 26:14.
Mereka sudah mati, tidak akan hidup pula, sudah menjadi arwah, tidak akan bangkit pula; sesungguhnya, Engkau telah menghukum dan memunahkan mereka, dan meniadakan segala ingatan kepada mereka.

Saya berdoa bagi anda Valen, semoga ROH KUDUS menjamah hati dan pikiran anda agar diterangi oleh kasih karunia dan kebenaran ALLAH.

Salam kasih. Kevin.

Jawaban:

Shalom Kevin dan Valen,

Dari tulisan Kevin di atas, memang terlihat jelas bahwa terdapat pandangan yang berbeda antara pandangan Kevin dengan ajaran Gereja Katolik. Mungkin karena gaya menulisnya saja yang sedemikian, sehingga terdengar ‘keras’ di telinga kami, namun akhirnya saya dan Stef tetap memutuskan untuk menayangkan tulisan Kevin ini, semoga Valen juga dapat membacanya dengan tidak berprasangka negatif.

Saya hanya akan membantu menjawab beberapa point. Selebihnya, silakan jika Valen ingin menanggapi, sebab surat ini ditujukan untuk anda. Namun sekali lagi harapan saya baik Valen dan Kevin bisa berdialog dengan semangat kasih.

Di sini saya hanya akan menjawab point-point yang ada hubungannya dengan pengajaran iman Katolik, sehingga point yang menyangkut ke pribadi, tidak saya beri tanggapan (no. 1-5, 7).

6. Mengenai tanggapan akan pandangan bahwa orang Katolik menyembah patung, sudah pernah dibahas dalam artikel ini, silakan klik

8 & 9. Mengenai apakah Bunda Maria secara khusus dipilih Allah menjadi Bunda Allah, sudah dibahas di sini, silakan klik

10. Valen : Maria ibarat Tabut Perjanjian Musa…berisi FIRMAN yang HIDUP, Manna yang HIDUP, dan Tongkat Harun yang menandakan Kepemimpinan YESUS sepanjang JAMAN.

Kevin: Anda bilang Maria ibarat Tabut Perjanjian Musa…. Anda baca darimana bro? bagaimana anda bisa menafsirkan seperti itu? buku yang anda baca salah cetak atau pengarangnya yang lagi mabok? Bacalah kembali kembali pentateuch bro, dan bacalah hati-hati, pelan-pelan, dan mintalah bimbingan ROH KUDUS, agar benang merah yang anda temukan tidak berubah jadi hitam.

Tanggapan Katolisitas: Yang mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru adalah para Bapa Gereja yang membaca kitab Perjanjian Lama dengan terang Perjanjian Baru dan sebaliknya. Cara membaca Alkitab seperti ini diajarkan sendiri oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, dan ini dapat dibaca pada saat setelah kebangkitan-Nya Ia menampakkan diri kepada murid-muridNya di perjalanan ke Emaus (lih. Luk 24:13-35). Yesus pertama- tama menjelaskan kitab- kitab pata nabi (kitab- kitab PL), dan kemudian menghubungkannya dengan penggenapannya di dalam Diri-Nya (dalam PB). Maka, membaca Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru dan sebaliknya, merupakan cara menginterpetasikan Alkitab yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Rasul Paulus juga mengajarkan hal ini, misalnya saat ia membandingkan antara Adam dan Yesus: Yesus adalah Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21); dan Rasul Petrus pada saat membandingkan Baptisan dengan air bah Nabi Nuh (lih. 1 Pet 3:210-21). Tentang beberapa nubuat PL dan penggenapannya dalam PB, pernah dibahas di sini, silakan klik.

Nah, tentang Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru, diajarkan oleh para Bapa Gereja, yang adalah para penerus para rasul, sebagai berikut:

Athanasius of Alexandria (c. 296-373) was the main defender of the deity of Christ against the second-century heretics. He wrote: “O noble Virgin, truly you are greater than any other greatness. For who is your equal in greatness, O dwelling place of God the Word? To whom among all creatures shall I compare you, O Virgin? You are greater than them all O [Ark of the] Covenant, clothed with purity instead of gold! You are the ark in which is found the golden vessel containing the true manna, that is, the flesh in which divinity resides” (Homily of the Papyrus of Turin).

Gregory the Wonder Worker (c. 213-c. 270) wrote: “Let us chant the melody that has been taught us by the inspired harp of David, and say, ‘Arise, O Lord, into thy rest; thou, and the ark of thy sanctuary.’ For the Holy Virgin is in truth an ark, wrought with gold both within and without, that has received the whole treasury of the sanctuary” (Homily on the Annunciation to the Holy Virgin Mary).

The Catechism of the Catholic Church echoes the words from the earliest centuries: “Mary, in whom the Lord himself has just made his dwelling, is the daughter of Zion in person, the Ark of the Covenant, the place where the glory of the Lord dwells. She is ‘the dwelling of God . . . with men”‘ (CCC 2676).

Beberapa perbandingan antara teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sehubungan dengan hal Tabut Perjanjian ini adalah sebagai berikut:

Diterjemahkan dari tulisan Stephen K. Ray, di link ini, silakan klik

Isi Tabut Perjanjian

Di dalam Tabut Perjanjian Lama Di dalam Maria, Tabut Perjanjian Baru
Dual loh batu berisi hukum Allah: Sabda Allah yang tertulis di batu Tubuh Kristus: Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia.
Kendi berisi roti manna dari padang gurun— mukjizat roti yang turun dari surga Rahim Maria mengandung Kristus, Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6: 41)
Tongkat Harun yang membuktikan dan mempertahankan Imamat  Agung. Kristus Sang Imam Agung tertinggi, yang sungguh nyata dan kekal.

Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru terlihat dari kunjungannya kepada Elisabet

Kotak emas: Tabut Perjanjian Lama Maria: Tabut Perjanjian Baru
Tabut perjanjian menempuh perjalanan ke rumah Obed- edom di pegunungan Yudea (2 Sam 6:1-11) Maria menempuh perjalanan ke rumah Elisabet dan Zakaria di pegunungan Yudea ( Luk 1:39)
Berpakaian sebagai imam, Raja Daud menari dan melonjak di depan Tabut perjanjian (2 Sam 6:14) Yohanes Pembaptis – yang berada dalam garis turunan imam- melonjak di dalam rahim ibunya saat Maria dating (Luk 1:41)
Daud bertanya, “Bagaimana Tabut Tuhan dapat sampai kepadaku?” (2 Sam. 6:9). Elisabet bertanya, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhan-ku datang mengunjungi aku?” (Luk 1: 43)
Daud bersorak di hadapan Tabut Perjanjian  (2 Sam. 6:15). Elisabet pun “berseru dengan suara nyaring” di hadapan Maria (Luk 1:42).
Tabut Perjanjian tinggal di rumah Obed- edom selama tiga bulan  (2 Sam. 6:11). Maria tinggal di rumah Elisabet saudaranya selama tiga bulan  (Luk 1:56).
Tabut Perjanjian kembali ke tumahnya dan akhirnya menetap di Yerusalem, di mana Hadirat Tuhan dan kemuliaan-Nya dinyatakan di bait Allah. (2 Sam. 6:12; 1 Raj 8:9-11). Maria kembali ke rumahnya dan akhirnya ke Yerusalem, ketika ia mempersembahkan  Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia, di bait Allah. (Luk 1:56; 2:21-22).

Maka, tidak ada yang sedang “mabok” di sini seperti perkiraan Kevin, sebab memang terdapat hubungan antara teks PL dan PB dalam hal Tabut Perjanjian ini, yang tentunya bukan kebetulan semata. PB merupakan menggenapan PL, saya pernah menuliskan contohnya di sini, silakan klik.

11. Tanggapan Kevin bahwa Bunda Maria hanya “tertular” kekudusan Yesus semasa mengandung Yesus, namun tidak lagi kudus setalah melahirkan Yesus, itu bertentangan dengan pengajaran para Bapa Gereja dan para bapa pendiri Gereja Protestan, yaitu Martin Luther, John Calvin dan Zwingli, yang sudah pernah dituliskan Stef di jawaban terhadap surat anda terdahulu, silakan klik.

Tentu anda tidak bermaksud mengatakan Luther, Calvin dan Zwingli sebagai “asal omong“, sebab penafsiran ini tidak ada kaitannya dengan tafsir mimpi atau sejenisnya. Untuk selanjutnya, saya mohon tidak anda gunakan kata-kata yang demikian, karena malah melemahkan argumen anda sendiri. Silakan membaca kembali perkataan anda:

Kalo anda yakin bahwa Maria kudus setelah melahirkan YESUS, tolong sebutkan ayatnya… jangan asal ngomong, karena kalo asal ngomong dengan tafsir ini tafsir itu, itu berarti anda tidak berpijak kepada kebenaran Alkitab. Tafsir 1001 mimpi sudah tidak jamannya lagi dipake saat ini bro? Dari tulisan awal, anda yang mengajak saya untuk berpegang kepada Alkitab, jadi apa yang anda sarankan, sebaiknya juga anda pakai, agar orang tidak berkata bahwa anda lempar batu sembunyi tangan.

Mengenai argumen Roma 3:23/ Rom 6:23, sudah pernah saya jelaskan konteksnya pada jawaban saya terdahulu, silakan klik, yaitu point 3.

13. Anda mengatakan, Maria dipilih ALLAH sebagai sarana untuk melahirkan YESUS, mengasuh dan merawatNYA. Kita menghargai dan menghormatinya sebagai manusia yang telah mengemban misi besar dari TUHAN, namun kita tidak boleh memandangnya lebih dari itu. Ya, Gereja Katolik juga menganggap demikian, bahwa Maria adalah manusia yang mengemban tugas besar dari Tuhan. Namun tugas ini tidak hanya besar, namun sangat besar, bahkan paling besar, yaitu menjadi Ibu bagi Putera-Nya Yesus yang menjelma menjadi manusia. Kita memang memandang Maria sebagai manusia, namun tentu sebagai manusia yang istimewa, karena perannya yang sangat istimewa tersebut.

Anda mengatakan demikian, “Tahukah anda bahwa 4 Injil itu isinya banyak mengulang satu sama lain? Apakah TUHAN kurang kerjaan ngulang-ngulang tulisan seperti itu? tentu tidak bro! Itu diulang2 karena memang hal yang sangat penting. Bila kisah tentang Maria hanya sepotong, dan tidak ada penekanan khusus tentang peran apalagi pesannya, tentu saja itu memang tidak dipandang penting oleh TUHAN. Tahukah anda bro, bahwa TUHAN YESUS pernah menyangkal Maria sebagai ibunya sebanyak 3 kali? silakan pelajari Injil bro…

Menurut hemat saya, memang sesuatu yang diulang dalam Injil dapat merupakan tanda bahwa itu adalah yang sesuatu yang penting; namun kita tidak dapat mengatakan bahwa jika hanya disebut sekali dalam Injil lantas itu menjadi tidak penting. Sebagai contoh: kisah pembicaraan antara Yesus dan Nikodemus juga hanya disebut sekali dalam Injil Yohanes, namun itu bukannya tidak penting, sebab di sana Yesus malah memberikan pengajaran tentang “kelahiran yang baru” dalam air dan Roh (Yoh 3:5) yang menghantar seseorang kepada Kerajaan Allah/ keselamatan kekal. Demikian juga kisah perumpamaan Anak yang hilang, hanya disebut sekali dalam Injil Lukas (Luk 15: 11-32), dan Injil lain tidak menuliskannya, namun itu merupakan kisah belas kasihan Allah yang tak terselami; dan ini sungguh kisah yang sangat penting. Maka jika di Kitab Suci tidak tertulis banyak tentang Maria, adalah karena memang fokus utama Injil adalah Kristus. Namun itu tidak mengubah kenyataan bahwa peran Maria adalah sangat penting untuk melahirkan Kristus ke dunia ini.

Jika anda berpegang pada pengertian bahwa yang disebut paling banyak adalah yang terpenting, seharusnya anda juga menerima peran penting Rasul Petrus, sebab selain Yesus, nama Petrus atau Simon atau Kefas, merupakan nama yang paling sering muncul di Alkitab Perjanjian Baru, yaitu sebanyak 191 kali, jauh di atas rasul-rasul yang lain.

Lalu, saya juga mempertanyakan tentang pengertian anda yang mengatakan bahwa “Tuhan Yesus pernah menyangkal Maria sebagai ibunya sebanyak 3 kali.” Kita saja mengetahui bahwa perbuatan menyangkal orang tua adalah perbuatan yang tidak baik, dan pasti Tuhan Yesus tidak mungkin melakukannya. Jika yang ada maksud adalah kejadian- kejadian berikut ini, silakan anda merenungkan kembali kesimpulan anda.

1. Pada saat berumur 12 tahun Yesus diketemukan di bait Allah, setelah tiga hari orang tuanya (Maria dan Yusuf) mencari-cari. Pada saat mereka menemukan Yesus, Ia menjawab, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49)

Ini adalah perkataan Yesus yang pertama yang direkam di dalam Injil, yang menyatakan identitas Diri-Nya sebagai Putera Allah, dan keinginan-Nya untuk selalu memenuhi kehendak Allah Bapa. Maka “Ia tidak sedang mencela/ memarahi Maria dan Yusuf karena mereka mencari-Nya, tetapi Yesus hendak membuka mata hati mereka bahwa Ia sesungguhnya adalah Putera Allah.” (St. Bede, dalam Lucae Evangelium expositio, in loc.). Maka Yesus mengajarkan kepada kita bahwa di atas segala otoritas manusia, bahkan di atas orang tua kita, kita mempunyai tugas utama untuk mengikuti kehendak Tuhan. Dengan demikian bukannya Tuhan Yesus mempertentangkan perintah mengasihi Tuhan dengan mengasihi orang tua kita. Ia hanya menunjukkan aturan prioritasnya, bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan kita (Mat 22:37), dan kasih kepada orang tua tidak dapat diletakkan di atas kasih kepada Tuhan. Maka Yesus mengajar kepada para orang tua bahwa anak-anak mereka pertama-tama adalah milik Tuhan. Karena itu, sudah menjadi hak Tuhan jika Ia memanggil mereka untuk bekerja di ladang-Nya yang melibatkan pengorbanan/ pemberian diri yang total untuk pekerjaan Tuhan.

2. Pada saat mukjizat di Kana, saat Bunda Maria berkata kepada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur, maka Yesus menjawab, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” (Yoh 2:4).

Tuhan Yesus memanggil Bunda Maria dengan sebutan Ibu/ “woman“, bukan dengan maksud menyangkal ibu-Nya, namun untuk menunjukkan bahwa Maria adalah wanita yang kepadanya Ia menyerahkan murid-murid yang dikasihi-Nya (Yoh 19:26-27) dan Maria juga adalah wanita/ “woman” yang dijanjikan Allah pada Kej 3:15 yang olehnya akan lahir Juru Selamat yang akan mengalahkan kuasa Iblis.

Lalu ungkapan, “Mau apakah engkau dari padaku, ibu?” sebenarnya dari kata yang juga dapat diterjemahkan menjadi “Apa hubungannya dengan aku dan engkau?” (What has it to do with you and me?) Dan ungkapan ini memang dapat mempunyai arti lebih dari satu, namun di sini konteksnya bukan kemarahan. Jawaban Yesus ini mengindikasikan bahwa pada prinsipnya bukan menjadi rencana Allah untuk melakukan mukjizat yang pertama untuk mengubah air menjadi anggur di pesta perkawinan ini, namun atas permohonan Bunda Maria Ia melakukannya juga.

3. Bunda Maria dan para saudara Yesus mencari-Nya pada saat Ia mengajar, dan inilah jawaban Yesus, “Ibu-Ku dan saudara- saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19, lih. Mat 12:49-50, Mrk 3: 31-35)

Di sini Yesus juga tidak bermaksud menghina ataupun menyangkal ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Sebaliknya Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah anggota keluarga-Nya dalam kerajaan Allah. Maka yang Yesus ajarkan adalah keutamaan agar seseorang melakukan kehendak Allah. Dengan demikian ungkapan ini bahkan dapat bermaksud sebagai pujian kepada Bunda Maria, sebab Yesus mengakui bahwa Bunda Maria pertama-tama adalah seseorang yang melakukan kehendak Allah Bapa. Ketaatan Maria kepada kehendak Bapa inilah yang menyatukannya dengan Kristus melebihi dari hubungan darah. Maka ayat di atas tidak untuk diartikan bahwa Yesus menyangkal ibu-Nya, melainkan untuk mengatakan bahwa Maria layak untuk dihormati bukan saja karena ia telah melahirkan Yesus tetapi karena ia pertama-tama menaati kehendak Allah.

14. Maria “menyimpan segala perkara di dalam hatinya”, itu disebutkan di Luk 2:19; dan Luk 2:51. Maka Valen tidak menggunakan filsafat sekuler, ia hanya mengutip ayat- ayat dalam Kitab suci.

16 dan 17. Kelihatannya di sini terdapat perbedaan pengertian tentang penghormatan kepada Bunda Maria. Gereja Katolik menghormati Maria, namun tidak pernah mensejajarkannya dengan Yesus. Perbedaannya terletak di sini, bahwa umat Protestan menganggap bahwa nyanyian dan doa yang melibatkan Maria, dianggap sebagai ‘penyembahan’, sedangkan bagi umat Katolik, hal ini bukanlah penyembahan, tetapi penghormatan. Seperti jika kita menyanyikan lagu kebangsaan, itu juga tak berarti kita menyembah negara/ bangsa, tapi hanya menghormatinya. Penghormatan dan penyembahan kepada Tuhan disebut sebagai Latria; sedangkan penghormatan kepada Maria dan orang- orang kudus itu disebut sebagai Dulia. Contohnya dalam Alkitab adalah: Perintah Tuhan yang pertama pada kesepuluh Perintah Allah adalah perintah untuk menyembah Allah saja, ini adalah ‘latria‘ (Kel 20: 1-6). Sedangkan penghormatan Yusuf sampai sujud ke tanah kepada ayahnya Yakub (Kej 48:12), adalah ‘dulia‘.

Maka dengan penghormatan kita kepada orang-orang kudus ini tidak akan menggantikan ataupun melemahkan penghormatan kita kepada Allah. Gereja Katolik tetap menganggap bahwa Kristus adalah satu-satunya Pengantara kepada Allah Bapa (1 Tim 2:4) namun Pengantaraan ini melibatkan juga anggota-anggota Tubuh-Nya, secara khusus mereka yang telah dibenarkan Allah di surga. Permasalahannya, umat Protestan menganggap bahwa mereka yang sudah meninggal dunia tidak bisa mendoakan kita/ berdoa syafaat bagi kita. Sedangkan bagi umat Katolik, mereka yang telah mendahului kita dan bersatu dengan Tuhan di surga adalah orang-orang yang ‘hidup’, dan bahkan lebih ‘dekat bersatu dengan Tuhan’ daripada kita yang masih berziarah di dunia ini. Sangatlah berbeda konteksnya dengan pengajaran pada kitab Perjanjian Lama dalam Ul 18:9-12, Im 19:31, Im 20:6, Yes 8:19-20, dimana Tuhan memang melarang umat Israel memanggil arwah/ meminta petunjuk arwah. (Sedangkan konteks Yes 26:14 adalah untuk “tuan-tuan lain” yang menindas bangsa Israel, dan ini tidak cocok diterapkan pada orang-orang kudus yang malah menjadi teladan dalam beriman kepada Allah. Demikian juga dengan Mzm 88:11, sebab kenyataannya pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor, di sana nampak arwah nabi Musa dan Elia yang bercakap-cakap dengan Yesus (lih. Mat 17:3, Luk 9:30).

Jika kita umat Katolik memohon para kudus untuk medoakan kita, kita tidak memanggil arwah orang mati, tidak juga mengadakan kurban persembahan kepada mereka. Maka tidak seperti dalam kisah PL, kita tidak menjadikan mereka ‘saingan’ Tuhan. Sebaliknya, kita mengetahui bahwa para kudus itu tidak ‘mati’ dalam arti binasa, karena mereka sudah memasuki kehidupan kekal di surga, maka mereka sebenarnya dalam arti keilahian lebih ‘hidup’ dari pada kita. Karena itu, maka kita dapat memohon kepada mereka untuk turut mendoakan kita, walaupun tetap kita yakini bahwa yang akhirnya mengabulkan doa kita hanyalah Tuhan saja. Prinsipnya, jika kita mengaku bahwa kita ini sahabat Kristus, maka“friends of Christ are also friends of mine.” Mereka yang telah berada di surga telah diangkat menjadi sahabat/ saudara/i Kristus dalam arti yang lebih penuh, karena mereka telah memasuki keabadian bersama Kristus. Dan dengan pengertian inilah maka kita menghormati mereka, tanpa mengurangi hormat yang kita berikan kepada Kristus.

Demikianlah Kevin, yang dapat saya tuliskan untuk menanggapi tulisan anda kepada Valen. Mari di dalam perbedaan pemahaman kita, kita tetap menuliskannya “dengan lemah lembut dan hormat” (1 Pet 3:15), karena kita menyadari bahwa yang mempersatukan kita, yaitu Kristus, lebih besar daripada yang apapun yang memisahkan kita.

Bagaimana mengatasi sifat pemarah?

17

Pertanyaan:

Salam Damai,
Saya seorang yang cepat marah(panas baran),ada ketikanya saya tidak perlu marah (khasnya dengan isteri) apabila kami diskusi berkenaan dengan sesuatu-tetapi akhirnya marah.Pertanyaan saya adalah:

a) bagaimanakah pengajaran gereja melihat perasaan marah(cepat marah/panas baran) ini? adakah ia satu dosa?dan bila marah saya suka mengeluarkan kata-kata negatif(seperti menghina)

b) bagaimana untuk kawal perasaan marah ini berdasarkan kepada pengalaman dan pengajaran gereja Katolik dan berdasarkan kepada pengalaman peribadi anda berdua?

saya sebenarnya kasihan dengan isteri saya-apabila saya dalam keadaan marah-dia sepatutnya tidak menerima rasa marah saya-dia terlalu baik bagi saya.

Terima Kasih, Semang

Jawaban:

Shalom Semang,

1. Kemarahan termasuk sebagai salah satu dari kecenderungan-kecenderungan (passion) yang ada dalam diri manusia. Jenis kecenderungan tersebut menurut St. Thomas Aquinas adalah cinta, keinginan/ kerinduan, kegembiraan, kebencian, keengganan, kesedihan, harapan, keputus-asaan, ketakutan, keberanian, dan kemarahan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1765     Kecenderungan itu banyak jumlahnya. Kecenderungan yang paling mendasar adalah cinta, diakibatkan oleh daya tarik dari yang baik. Cinta menyebabkan kerinduan kepada kebaikan yang sekarang belum ada dengan harapan akan memperolehnya. Perasaan itu berakhir dalam kepuasan dan kegembiraan terhadap kebaikan yang dimiliki. Melihat sesuatu yang buruk menimbulkan kebencian, keengganan, dan ketakutan terhadap kejahatan yang mengancam. Emosi itu berakhir dengan kesedihan akan kejahatan yang dihadapi atau dengan kemarahan yang memberontak terhadapnya.

KGK 1767    Kecenderungan-kecenderungan itu dengan sendirinya bukan baik, bukan juga buruk. Mereka hanya ditentukan secara moral sejauh dikendalikan oleh akal budi dan kehendak. Dikatakan, kecenderungan itu dikehendaki “sebab ia digerakkan oleh kehendak atau tidak dihalang-halangi oleh kehendak” (Tomas Aqu., Summa Theology. 1-2, 24,1). Termasuk dalam kesempurnaan dari sesuatu yang baik secara moral atau manusiawi, bahwa kecenderungan itu diatur oleh akal budi (Bdk. Tomas Aqu., Summa Theology. 1-2,24,3)

KGK 1768     …. Kecenderungan itu baik secara moral, kalau ia menyumbang kepada sesuatu yang baik; buruk” kalau terjadi sebaliknya, Kehendak yang baik mengarahkan dorongan-dorongan inderawi, yang diangkatnya itu, kepada kebaikan dan kebahagiaan; kehendak yang buruk mengalah terhadap kecenderungan yang tidak teratur dan meningkatkannya. Emosi dan perasaan dapat diangkat ke dalam kebajikan atau dapat dirusakkan oleh kebiasaan buruk.

Dengan demikian, kemarahan sebenarnya tidak dapat langsung dikatakan sebagai dosa, namun jika itu tidak dikendalikan oleh akal budi dan menjadi kebiasaan buruk, itu dapat dikatakan dosa/ buruk secara moral. Contoh kemarahan yang masih dapat diterima secara moral adalah kemarahan orang tua dalam mendidik anaknya, jika anak berbuat kesalahan yang disengaja. Dalam hal ini, orang tua berhak marah, namun tidak boleh sampai kehilangan kendali, sebab jika demikian maka orang tua juga melakukan kesalahan/ dosa.

Namun jika kemarahan diikuti dengan kata-kata yang menghina, maka ini sudah melanggar perintah ke- sepuluh perintah Allah, yaitu perintah ke 5, yaitu “Jangan membunuh”. Sebab dengan perkataan kita sesungguhnya “menusuk hati” orang yang sedang kita marahi. Yesus sendiri mengajarkan kepada kita demikian, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” (Mat 5:21-22)

2. Adalah sangat berguna untuk mengetahui jenis temperamen kita, sebab dengan demikian kita akan dapat berjuang untuk memperoleh/ menerapkan kebajikan-kebajikan yang berlawanan dengan temperamen kita tersebut.

Hippocrates (460-377 BC) telah membagi manusia dalam 4 katagori temperamen utama, yaitu: choleric, sanguine, melancholic dan phlegmatic. Tipe choleric adalah orang yang mudah marah, energetik dan emosional, mempunyai jiwa kepemimpinan, namun mempunyai kecenderungan sombong. Lawannya, phlegmatic, tidak emosi, easy-going, sabar, rational dan peng-analisa, namun cenderung malas. Type sanguine adalah yang cenderung gembira, antusias, optimis, namun cenderung jatuh ke dosa sensualitas, dan type melancholic, cenderung murung, merenung, perfeksionis, kurang percaya diri dan cenderung skrupel (scrupulous).  Memang ada kemungkinan seseorang mempunyai gabungan dari dua atau tiga temperamen di atas, namun umumnya ada satu yang lebih dominan. Melihat dari ciri- ciri yang anda sebutkan maka tipe yang dominan dalam diri anda adalah tipe choleric.

Kita tidak dapat dikatakan bertanggungjawab atas temperamen kita, tetapi kita bertanggungjawab untuk segala karakter kita. Berkaitan dengan karakter ini adalah pengetahuan kita akan temperamen kita dan bagaimana kita mengendalikannya dengan kebajikan atau sebaliknya bagaimana kita “menyerah”-kannya kepada kecenderungan buruk. Maka, adalah sangat berguna untuk mengetahui jenis temperamen kita, sebab dengan demikian kita akan dapat berjuang untuk memperoleh/ menerapkan kebajikan-kebajikan yang berlawanan dengan temperamen kita tersebut. Dengan kata lain, temperamen itu tidak dapat diubah, namun kita mempunyai tanggungjawab moral untuk memperbaiki karakter kita; dengan usaha kita bersama dengan pertolongan rahmat Tuhan yang kita peroleh lewat doa-doa. Dengan demikian temperamen kita diarahkan kepada karakter yang baik.

Salah satu cara yang penting untuk mengatasi kelemahan karena temperamen kita, adalah praktek pemeriksaan batin (examination of conscience) sebanyak sekali atau dua kali sehari, dengan memusatkan perhatian kepada usaha memperbaiki kelemahan akibat temperamen, dan usaha untuk memperoleh kebajikan yang melawan kelemahan tersebut. Jika kita mempunyai kecenderungan tidak sabar, malas, dan pesimistis, maka setiap hari kita dapat memeriksa batin sejauh mana kita telah melakukan dosa ketidaksabaran, kemalasan, dan pesimistik yang berlebihan tersebut.

Sebagai contoh nyata, St. Francis de Sales (1567- 1622) yang mempunyai temperamen choleric, namun setelah rajin melakukan examination of conscience ini, dengan berkat rahmat Tuhan, ia malah dikenal sebagai seorang santo yang merupakan teladan kelemahlembutan. Temperamen choleric-nya tetap ada, namun di atasnya telah dibangun bangunan rohani kelemahlembutan, kesabaran dan kasih. Artinya, walaupun dalam diri St. Francis tetap ada kecenderungan natural akan sifat-sifat choleric tersebut, namun dia dapat bekerjasama dengan rahmat Allah untuk bertindak sebaliknya, yaitu dengan kelemahlembutan, kesabaran dan kasih. Untuk ini memang kita harus memohon pertolongan Tuhan, sebab kita tidak dapat mengandalkan diri sendiri untuk melakukan hal ini.

Maka, kembali kepada masalah anda, mungkin anda dapat meniru teladan St. Francis de Sales:

1. Dengan melakukan pemeriksaan batin sekurang-kurangnya sekali sehari, atau jika anda inginkan kemajuan yang lebih baik, adakan lebih sering, yaitu sebanyak dua atau tiga kali sehari. Pemeriksaan batin ini akan meningkatkan kesadaran anda, sehingga anda dapat “berhenti sejenak” secara refleks sebelum anda marah, dan umumnya jika anda sempat “berhenti sejenak” dalam pikiran anda sebelum anda marah, maka anda dapat berdoa secara singkat, memohon pertolongan Tuhan, agar jangan sampai anda mengatakan kata-kata yang kasar; ataupun anda dapat mengendalikan diri anda dan dapat bersikap sebaliknya:  tidak jadi marah.

2. Renungkanlah beberapa ayat Kitab Suci tentang kemarahan dan kelemahlembutan, misalnya:

“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mzm 37:8)
“Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” (Pkh 7:9)
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef 4:26)

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5)
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Mat 11:29)
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)

3. Lekas-lekaslah memohon maaf kepada istri atau kepada orang yang anda marahi, apalagi jika anda telah sempat mengatakan kata-kata kasar kepadanya.

4. Mengaku dosa dalam Sakramen Tobat secara teratur, sedikitnya sebulan sekali. Atau jika anda baru saja marah, maka silakan menerima sakramen Tobat ini lebih sering. Dengan demikian, Tuhan sendiri akan membantu anda untuk mengatasi kecenderungan marah ini dengan melakukan hal-hal yang sebaliknya, dengan kebajikan kelemahlembutan yang dari Tuhan.

5. Bertekunlah dalam doa, baik doa pribadi, maupun doa bersama dengan istri anda. Semoga istri andapun dapat mendukung anda dalam pergumulan anda mengendalikan temperamen anda, dengan bantuan rahmat Allah.

6. Anda dapat pula membiasakan diri untuk berpantang atau berpuasa, untuk membiasakan diri menahan diri, misalnya seminggu sekali, atau dapat dibuat lebih sering, sesuai dengan kemampuan anda. Mengenai pantang dan puasa sudah pernah ditulis di sini, silakan klik.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan untuk pertanyaan anda, semoga berguna, ya. Semoga St. Francis de Sales dapat mendoakan kita semua dan oleh dukungan doa-doanya, kitapun dapat diubah Tuhan menjadi seperti St. Francis, menjadi lemah lembut, sabar dan penuh kasih.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Operasi payudara: bolehkah?

3

Pertanyaan:

shalom ibu inggrid
menyambung pertanyaan di atas..
bolehkan melakukan operasi penyesuain bentuk tubuh agar sesuai proporsi yang kita inginkan, misalnya liposuction, breast augmentation, dan operasi sejenisnya.
terimakasih jawabannya. Maria.

Jawaban:

Shalom Maria,

Dewasa ini, ada banyak wanita menghabiskan uang untuk hal-hal kecantikan, termasuk di antaranya breast augmentation (operasi memperbesar payudara) atau liposuction (sedot lemak) dan operasi-operasi kecantikan lainnya. Tanggapan dari Gereja Katolik adalah demikian: sebagai aturan umumnya adalah, jika operasi dilakukan untuk alasan “therapeutic“/ pengobatan maka langkah operasi ini dapat diperbolehkan secara moral. Namun demikian, karena operasi yang melibatkan pembiusan selalu melibatkan resiko, maka perlu dipertimbangkan masak-masak. [Lain halnya jika operasi kecantikan tersebut karena maksud pengobatan, seperti operasi plastik untuk terapi setelah luka bakar, atau cacat bawaan seperti bibir sumbing/ kelainan yang mengganggu fungsi tubuh. Jika ini yang dimaksud,  tentu secara moral diperbolehkan].

Namun yang dibicarakan di sini adalah breast augmentation (operasi memperbesar payudara), yang memiliki resiko-resiko yang cukup serius, seperti: 1) silikon yang dimasukkan dapat pecah, 2) mengakibatkan kontraksi kapsular 3) kantong silikon tersebut dapat bocor dan jika ini terjadi akan mempengaruhi kesehatan badan. Selanjutnya, “implant” ini juga bukan solusi yang permanen, sebab setelah beberapa waktu harus diganti, maka jika dilakukan pada usia muda, berarti akan ada lagi operasi-operasi selanjutnya. “Implant” ini juga dapat mempengaruhi fungsi payudara, menyebabkan kurangnya kemampuan menyusui anak, dan komplikasi lainnya sehubungan dengan hal menyusui.

Demikian pula dengan operasi-operasi lainnya seperti operasi “sedot lemak”, “memperindah bokong”, atau sejenisnya, juga memiliki resikonya tersendiri. Tindakan operasinya sendiri bukan merupakan dosa, namun intensi/ maksudnya dapat menjadikannya secara moral dapat dipertanyakan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 2289     Memang ajaran susila menuntut menghormati kehidupan jasmani, tetapi ia tidak mengangkatnya menjadi nilai absolut. Ia melawan satu pendapat kafir baru, yang condong kepada pendewaan badan, mengurbankan segala sesuatu untuknya dan mendewakan kesempurnaan badan dan sukses di bidang olahraga. Melalui pemilihan orang-orang kuat secara berat sebelah, pendapat ini dapat menggerogoti hubungan antar manusia.

KGK 2290     Kebajikan penguasaan diri menjauhkan segala bentuk keterlaluan: tiap penggunaan makanan, minuman, rokok, dan obat-obatan yang berlebihan. Siapa yang dalam keadaan mabuk atau dengan kecepatan tinggi membahayakan keamanan orang lain dan keamanannya sendiri di jalan, di air, atau di udara, membuat dosa besar.

Maka yang perlu dipertanyakan di sini adalah apa maksudnya melakukan operasi tersebut (misalnya breast augmentation)? Sebab ada kecenderungan bahwa operasi kosmetika ini tidak dilakukan pada seorang yang sakit ataupun untuk mengobatinya. Dalam keadaan sehat, para wanita ini menggunakan obat-obatan secara berlebihan, dalam hal ini obat bius, yang sesungguhnya tidak diperlukan jika operasi tidak dilakukan. Selanjutnya,  kita mengetahui biaya untuk melakukan operasi ini tidaklah murah. Di Amerika, biaya operasinya konon mencapai 8000- 9000 US $. Tentu uang sejumlah ini dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna, terutama jika motivasi pelaku adalah sekedar untuk menambah percaya diri, mengagungkan kecantikan badan, atau ingin dikagumi orang atau ingin mengagumi bentuk tubuh sendiri. Sikap yang memusatkan perhatian pada diri sendiri secara berlebihan ini menggantikan posisi Tuhan di dalam hati, dan ini adalah bentuk yang baru dari berhala. Jika seorang wanita kesal karena diolok-olok oleh teman-teman, bahwa payudaranya “rata”, ia membutuhkan teman- teman yang baru dan bukannya payudara yang baru.

Seandainya operasinya berhasilpun, tidak menjadi jaminan bahwa hal itu tidak berpengaruh buruk pada kesehatan pada masa yang akan datang. Jadi dapat dikatakan kebahagiaan yang diperoleh sifatnya sementara dan semu, dan bahkan dapat berakhir tragis, jika untuk satu dan lain hal resiko/ efek negatif tersebut terjadi. Maksud mula-mula adalah supaya bahagia, namun yang terjadi kemudian adalah mengundang celaka. Awalnya tidak bermaksud negatif terhadap tubuh, namun jika terjadi kasus yang tidak diinginkan,  dapat berakhir dengan maut.

Akhirnya, mungkin perlu disadari bersama bahwa kecantikan seorang wanita tidak melulu ditunjukkan dari kecantikan fisik, namun terutama dari kecantikan hati; yang menyadari bahwa dirinya dikasihi oleh Allah dan diciptakan sesuai dengan gambaran Allah. Maka pandangan yang mengurangi kecantikan wanita hanya sebatas pada bentuk luar tubuh, sesungguhnya merupakan kegagalan untuk menangkap esensi ini. Bahwa yang terpenting bagi kita adalah hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak-anak Allah di dunia ini, dengan tidak memusatkan hati dan pikiran kita kepada hal-hal duniawi, tetapi kepada “perkara-perkara yang di atas” (Kol 3:2). Maka seharusnya yang menjadi pusat perhatian kita adalah bagaimana supaya kita dapat memelihara kecantikan rohani, yaitu dengan hidup kudus di dunia ini? Sebab kekudusan inilah yang menghantar kita kepada kebahagiaan kita yang sesungguhnya, pada kehidupan kekal di surga kelak.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Kerjasama antara rahmat dan kehendak bebas dalam diri Bunda Maria

21

Diskusi ini bermula dari diskusi antara Kevin dan Ingrid di sini (silakan klik). Karena ada begitu banyak topik, maka diskusi ini saya pisahkan dalam tanya jawab tersendiri. Agar pembaca dapat melihat alur diskusi, maka berikut ini adalah diskusi yang terjadi sebelumnya:

Kevin:

Saudaraku umat Katolik…

Anda menjelaskan panjang lebar tentang ini itu sebenarnya tidak banyak manfaatnya karena itu hanyalah dalih / pembenaran yang (sebagian besar) tidak Alkitabiah… Mari saya tunjukkan satu hal saja tentang Maria yang anda sebut Ratu Sorga atau Bunda Allah itu…

– Maria itu adalah manusia biasa, sama seperti kita. Maria HANYALAH seorang manusia di bumi yang DIPILIH ALLAH sebagai SARANA untuk melahirkan YESUS KRISTUS

Ingrid:

Maria memang manusia biasa, sama seperti kita tetapi perannya di dalam rencana keselamatan Allah adalah sungguh unik dan istimewa. Tidak ada manusia lain yang melahirkan Yesus Sang Juru selamat, hanya Bunda Maria saja. Justru karena perannya yang khusus ini yaitu yang melahirkan Kristus Sang Allah Putera, maka ia disebut sebagai Bunda Allah. Hal ini jelas disebutkan di Alkitab:

1. Lukas 1: 43 : Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.

2. Matius 1:23: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.” Bunda Maria adalah :anak dara itu, maka kesimpulannya, Bunda Maria adalah ibu dari Allah yang beserta kita.

3. Luk 1:35: Kata malaikat itu, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Karena anak yang dilahirkan Maria adalah Anak Allah, maka Maria disebut Bunda Allah.

4. Gal 4:4 “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”

Maka memang, walaupun Maria adalah “sarana” namun sarana ini sungguh istimewa, bukan sebagai sarana tempat yang “asal untuk lewat” saja. Sebab jika tidak demikian, Allah tidak akan berkata demikian kepada Bunda Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!” (Luk 1:28) Jika kita membaca seluruh Alkitab, kita akan mengetahui bahwa tidak ada satupun orang/ nabi yang disapa Allah dengan salam hormat seperti ini.

Kevin:

Tuhan Allah yang Maha Mulia, yang Maha Bijaksana, yang Maha Baik, yang Maha Adil, yang Maha segalanya itulah satu-satunya pribadi istimewa. Manusia yang hanya ciptaanNya, tidak ada yang pantas disebut istimewa. Bila kita mengukur ketetapan Tuhan berdasarkan standar moral manusia, maka anda tidak dapat menyebutnya sebagai Karunia / Rahmat (Grace). Grace itu terjadi karena kemurahan satu pihak, dan tidak berdasarkan pertimbangan atau bahkan standar pihak yang menerima grace. Bila ada seorang dermawan yang memberi hadiah sebuah rumah kepada seorang pengemis di jalan, umumnya / normalnya orang lain akan memuji sang dermawannya, bukan memuji pengemisnya. Adalah aneh kalo kita memuji sang pengemisnya dengan mengatakan kepadanya “anda istimewa” karena anda dipilih sang dermawan.
Mengenai Lukas 1:28 itu Sdri Inggrid salah baca… karena di Alkitab Terjemahan Baru tertulis:

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

di Alkitab Authorized Version (AV):
And the angel came in unto her, and said, Hail, [thou that art] highly favoured, the Lord [is] with thee: blessed [art] thou among women.

New King James Version (NKJV):
And having come in, the angel said to her, “Rejoice, highly favored [one], the Lord [is] with you; blessed [are] you among women!”

Tidak tepat bila malaikat diganti menjadi Allah / Tuhan. Jadi yang menyapa adalah malaikat Gabriel, bukan Tuhan. Bila Tuhan yang berkata, tentu kalimatnya akan begini, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Aku menyertai engkau.”, atau “Salam, hai engkau yang Aku karuniai, Aku Tuhanmu menyertai engkau.”. Jadi saya mohon kepada Sdri Inggrid agar tidak merubah-rubah ayat, karena dng ayat yang otentik saja belum tentu bisa mencapai konklusi ideal, apalagi kalo ayatnya dirubah, akan lebih rumit lagi karena acuannya makin simpang siur.
Sebaiknya Sdri Inggrid tidak membandingkan statement Tuhan atas setiap orang, karena itu bukan perbandingan yang adil / seimbang. Dengan analogi yang sama, saya juga bisa mengatakan bahwa Tuhan hanya memberikan karunia membelah laut kepada Musa, dan tak seorangpun di dunia ini (termasuk Maria) yang diberi karunia special itu. Apakah karena itu lalu kita bisa menyebut Musa istimewa? Hal yang sama bisa diterapkan kepada Abraham sbg bapak perjanjian, Salomo yg membangun bait Allah, dsb. Bahkan Alkitab mencatat ada 2 orang yang diangkat Allah ke sorga selagi hidup beserta tubuh fisiknya, yaitu Henokh dan Elia. Apakah peran mereka istimewa? Ataukah memang Allah mau memilih mereka tanpa ditambahi unsur peranan manusia? Siapakah manusia di bumi ini yang bisa membandingkan mana yang lebih solid, ketaatan Henokh, Elia, Musa, Maria, Abraham, Nuh, Yesaya, Paulus, Petrus, dll…. Bila ada manusia yang bisa menyebut salah satu dari sekian tokoh diatas ketaatannya (kepada Tuhan) lebih solid dibandingkan yang lain, maka manusia itu sungguh sangat sombong dengan memasuki area yang tidak dia pahami, karena yang mengetahui soliditas ketaatan / kelayakan manusia hanyalah Tuhan seorang.
Untuk mengatasi manusia-manusia serong yang sok tahu bicara soal ketaatan dan rahmat inilah Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakannya di Markus 10:18 dan Lukas 18:19, Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.”

Tuhan harus jadi manusia, datang ke dunia, untuk menebus dosa manusia, semua itu DIA lakukan untuk melayakkan yang tidak layak, bukan menerima yang sudah layak. Dia menebus dosa manusia, artinya semua mahluk yg disebut manusia itu berdosa, sehingga perlu campur tangan Tuhan untuk penebusannya. Ketika Tuhan menebus, sesungguhnya kita manusia itu TIDAK LAYAK ditebus, tapi KASIHNYA yang luarbiasa menyebabkanNYA melakukan hal yang spektakuler, MENEBUS yang TIDAK LAYAK untuk ditebus.
Akhirnya itu disebut Grace / Karunia / Rahmat, karena memang diberikan kepada orang yang tidak layak menerimanya. Kalo sesuatu itu diberikan kepada yang layak menerima, namanya bukan Anugerah / Rahmat / Karunia, tapi namanya UPAH. Manusia tidak berjasa kepada ALLAH sehingga manusia layak menerima pengampunan dariNYA, namun ALLAH sendirilah (dng keputusan pribadiNYA) MEMILIH untuk menebus dosa manusia. Siapakah manusia sehingga dia bisa memiliki superioritas terhadap yang lain? apalagi dapat dipandang layak untuk suatu karunia?

Intinya, menganggap rahmat / karunia yang diberikan Allah harus didasarkan pada kriteria tertentu dari si penerima rahmat justru bertolak belakang dengan keinginan Allah karena sudah masuk ke area memuliakan “allah” lain dan itu adalah pemberhalaan.

Demikian Sdri Inggrid ulasan saya untuk bagian pertama, yang berikutnya ….

Tanggapan dari Stefanus Tay

Shalom Kevin,

Terima kasih atas tanggapannya atas jawaban Kevin kepada Ingrid. Saya akan mencoba melanjutkan diskusi ini. Karena ada begitu banyak pertanyaan yang masuk, saya mengusulkan agar kita batasi topik diskusi yang hendak dibahas. Setelah jawaban saya ini, kita dapat lakukan satu putaran tanya-jawab, yaitu Kevin dapat memberikan jawaban atas komentar saya ini dan kemudian saya akan memberikan komentar terakhir. Saya pikir setelah tiga kali tanya-jawab, maka masing-masing pihak telah menyampaikan prinsip ajaran iman kita masing-masing. Semoga keputusan ini dapat diterima oleh Kevin. Mari sekarang kita masuk dalam diskusi:

1) Kevin mengatakan “Tuhan Allah yang Maha Mulia, yang Maha Bijaksana, yang Maha Baik, yang Maha Adil, yang Maha segalanya itulah satu-satunya pribadi istimewa. Manusia yang hanya ciptaanNya, tidak ada yang pantas disebut istimewa.

a) Memang hanya Tuhan sajalah yang Maha Mulia, Maha Bijaksana, Maha Baik  dan Maha dalam segala yang baik, indah, dan benar. Dan umat Katolik mengetahui hal ini dan tidak dibingungkan dengan identitas Allah yang sempurna.

b) Namun, di satu sisi, umat Katolik menghargai dan memandang secara istimewa putera-puteri Gereja yang telah berjasa dalam membangun Gereja di sepanjang sejarah Gereja Katolik. Penghargaan umat Katolik kepada individu-individu istimewa tersebut bukanlah berhenti pada individu tersebut, melainkan kepada Allah yang menciptakan mereka sedemikian, sehingga memampukan mereka bekerjasama dengan rahmat Allah dengan baik. Dengan kerjasama ini,  mereka benar-benar dapat menampakkan buah-buah Roh secara berlimpah dan konsisten di dalam kehidupan mereka.

1) Kalau banyak orang mengagumi pieta, patung Bunda Maria memangku Yesus pada waktu diturunkan dari salib, maka saya yakin sang pemahat tidak akan berkeberatan. Saya yakin sang pemahat tidak akan mengatakan, “Hai, kamu semua jangan hanya mengagumi pieta, tapi kagumilah aku, yang memahatnya.” Sang pemahat tahu, orang-orang mengaguminya dengan mengagumi karya-karyanya. Sebaliknya, para pengagum juga tahu, bahwa patung tersebut hanyalah karya seni yang tidak dapat membuat dirinya sendiri, namun dipahat oleh seseorang seniman yang terkenal. Dan inilah esensi dari kekaguman umat Katolik kepada para Santa-Santo, terutama Bunda Maria. Umat Katolik tahu bahwa Bunda Maria adalah mahluk ciptaan, namun mahluk ciptaan yang istimewa.

2) Dalam natural order, kita melihat prinsip yang sama di mana-mana, misalkan: suatu negara memberikan penghargaan kepada para pahlawannya, suatu universitas memberikan penghargaan bagi murid-murid yang berprestasi. Dengan prinsip yang sama, maka Gereja Katolik juga memberikan penghargaan bagi putera-puteri Gereja yang telah menyelesaikan perjalanan hidup mereka di dunia ini dengan baik. Gereja Katolik tahu, bahwa kalau mereka menyelesaikan perjalanan hidup mereka dengan baik, itu bukan karena semata-mata usaha mereka sendiri, namun yang lebih penting adalah karena Tuhan yang memberikan rahmat kepada mereka. Namun di satu sisi, Gereja Katolik juga melihat bahwa mereka juga turut bekerjasama dengan Allah, sehingga rahmat Allah dapat dimanifestasikan dalam kehidupannya secara istimewa.

3) Kita melihat contoh Bunda Teresa dari Kalkuta, yang diberikan rahmat Allah secara istimewa, sehingga dia dapat berkarya dengan luar biasa di Kalkuta dan melihat Yesus pada setiap orang miskin yang dibantunya. Dia yang sebelumnya menjadi seorang guru di India, kemudian bekerjasama dengan rahmat Allah untuk keluar dari ordonya dan kemudian memberikan dirinya untuk melayani orang yang termiskin dan tertindas di Kalkuta. Karena rahmat Allah dan kerjasamanya, maka Tuhan memberkati ordo ini secara berlimpah dan menampakkan buah-buah yang berlimpah. Salahkah kalau dalam pengertian ini, Gereja Katolik menyebutnya sebagai pribadi yang istimewa, sehingga sekarang dia mendapatkan gelar “yang terberkati” dan suatu saat mungkin akan menjadi Santa Teresa dari Kalkuta?

c) Dengan keterangan di atas, maka kalau kita menyebut para santa-santo, juga Bunda Maria adalah pribadi yang istimewa, maka tidaklah menjadi masalah, karena memang mereka adalah pribadi-pribadi yang istimewa. Umat Katolik tahu, bahwa keistimewaan mereka terletak pada rahmat Allah yang dicurahkan kepada mereka, namun juga bagaimana mereka bekerjasama dengan rahmat Allah tersebut.

2) Kevin mengatakan “Bila kita mengukur ketetapan Tuhan berdasarkan standar moral manusia, maka anda tidak dapat menyebutnya sebagai Karunia / Rahmat (Grace). Grace itu terjadi karena kemurahan satu pihak, dan tidak berdasarkan pertimbangan atau bahkan standar pihak yang menerima grace.

a) Menurut Kevin, apakah definisi dari grace atau rahmat? Apakah grace menghancurkan tatanan kodrat (natural order)? Apakah Tuhan memberikan rahmat kepada setiap manusia dalam kadar yang sama? Kita dapat mendefinisikan grace secara umum maupun khusus, seperti beberapa definisi yang spesifik, seperti: actual grace, antecedent grace, efficacious grace, external grace, fullness of grace, habitual grace, sufficient grace, dll. Kita tahu bahwa rahmat adalah pemberian Allah secara cuma-cuma, yang mengalir dari kebaikan Allah, sehingga dapat membawa orang yang diberikan rahmat kepada kehidupan abadi di Sorga. Mungkin sampai tahap ini, kita berdua setuju akan hal ini.

b) Yang mungkin membedakan pengertian grace di antara kita adalah Gereja Katolik melihat bahwa karena pemberian rahmat adalah tergantung dari kebaikan dan kebijaksanaan Allah semata, maka Allah dapat memberikan rahmat yang tidak sama kepada setiap orang. Dan ini berarti, Allah dapat memberikan rahmat kepada para santa-santo lebih besar dari kita, maupun rahmat kepada Bunda Maria lebih besar dari para santa-santo yang lain. Besarnya rahmat yang diberikan tergantung dari rencana Allah di dalam kehidupan mereka. Sebagian dari kita menjadi saksi Kristus yang baik, sebagian dari kita menjadi martir, sebagian menjadi pewarta, sebagian menjadi rasul, menjadi nabi, dan satu orang menjadi Bunda Allah. Kita dapat melihat hal ini dalam perumpamaan talenta, di mana Allah memberikan rahmat dalam takaran yang berbeda-beda pada setiap orang, sesuai dengan kemampuannya (lih. Mat 25: 15)

c) Justru karena Allah memberikan rahmat yang tidak sama kepada setiap orang dan Allah memberikan rahmat yang luar biasa kepada Bunda Maria untuk mengemban misinya sebagai Bunda Allah, maka Gereja Katolik melihat sosok Bunda Maria sebagai manusia yang istimewa. Gereja Katolik melihat bahwa Bunda Maria sebagai mahluk ciptaan yang begitu istimewa, karena rahmat Allah dicurahkan kepadanya secara penuh, sehingga ia disebut sebagai “penuh rahmat”/ full of grace (Luk 1: 28, terjemahan dari Vulgate, RSV).

d) Karena “grace perfects nature” atau rahmat menyempurnakan kodrat dan bukan merusak kodrat, maka rahmat Allah yang berlimpah tidak mengambil kodrat Maria yang mempunyai keinginan bebas, yang berarti Maria dapat menjawab “ya” atau “tidak” terhadap tawaran Allah untuk menjadi Bunda Allah. Jadi, dengan demikian, walaupun rahmat Allah adalah semata-mata karena kebaikan dan kebijaksanaan Allah semata, namun tetap tidak menghilangkan dimensi kodrat Bunda Maria yang menjawab “ya” terhadap rahmat Allah selama kehidupannya di dunia ini. Inilah sebabnya, Gereja Katolik melihat sosok Maria secara istimewa, karena dia menunjukkan bahwa dalam keadaan yang sulit, dia senantiasa mengatakan “fiat / ya” akan kehendak Allah, yang dibuktikan terakhir dengan “silent fiat” di bawah kayu salib.

e) Dan Kevin memberikan contoh “Bila ada seorang dermawan yang memberi hadiah sebuah rumah kepada seorang pengemis di jalan, umumnya / normalnya orang lain akan memuji sang dermawannya, bukan memuji pengemisnya. Adalah aneh kalo kita memuji sang pengemisnya dengan mengatakan kepadanya “anda istimewa” karena anda dipilih sang dermawan.

Tentu saja orang akan memuji kedermawanan si pemberi, karena dialah sang pemberi. Namun, adalah yang jamak, kalau kita juga bertanya “Apakah yang dilakukan oleh sang pengemis, sehingga si derwaman memberikan rumah kepadanya?” Apakah sang dermawan tersebut hanya secara random memilih pengemis yang akan diberi rumah, atau apakah ada kriteria tertentu? Dan kita percaya bahwa derwaman tersebut dapat mempunyai kriteria tertentu, yang kita tidak tahu dasarnya.

Demikian juga dalam pemilihan Maria sebagai Bunda Allah. Kita sebagai manusia tidak dapat memilih ibu kita, namun Allah mempunyai kuasa untuk memilih seorang wanita yang akan menjadi BundaNya, saat Ia menjelma menjadi manusia. Dalam kebijaksanaannya, Yesus memilih untuk dilahirkan oleh satu wanita Yahudi, yang hidup di tahun 5-3 BC, yang hidup di Nazaret di daerah Galilea. Ini berarti, dalam kebijaksanaan-Nya, ada sesuatu yang spesial dari wanita ini, sehingga Tuhan memilihnya. Kalau kita tidak melihat ini sebagai sesuatu yang spesial, maka kita seolah-olah meragukan kebijaksanaan Tuhan, dan seolah-olah Tuhan hanya membuang undi, sehingga hasilnya adalah bukan karena kebijaksanaan-Nya namun merupakan kebetulan semata. Namun, karena Tuhan adalah maha tahu (omniscience), maka tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Mungkin sesuatu yang spesial dari wanita ini adalah apa yang disenandungkannya dalam magnificat, yaitu “47. dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48.  sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49.  karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Lk 1:47-49)

Dan kerendahan hati inilah yang ditunjukkan oleh Maria sepanjang hidupnya. Kerendahan hati (humility) adalah dasar dari semua kebajikan, yang memungkinan rahmat Allah mengalir secara bebas dalam kehidupan seseorang. Kerendahan hati inilah yang ditunjukkan oleh Maria, yang senantiasa menyadari akan rahmat Allah yang bekerja secara istimewa di dalam kehidupannya, sehingga Maria senantiasa menjawab “ya” akan kehendak Allah.

Kalau kita mau menghubungkan dengan contoh yang Kevin berikan, maka kita dapat mengatakan bahwa si pengemis telah menerima pemberian tersebut dengan kerendahan hati dan dia sendiri memuji kebaikan dari sang derwaman tersebut. Mungkin dia juga bertanggungjawab terhadap rumah yang diberikan, dengan cara merawat rumah yang diberikan, membersihkannya, sehingga rumah yang diberikan dapat semakin indah. Dalam kebijaksanaanya, si derwaman dapat memberikan pemberian yang lain, yaitu halaman yang luas. Kemudian pengemis tadi kembali mengatakan ya kepada di derwaman, menerima pemberian tersebut, dan tanpa takut lelah bercocok tanam, dari biji sampai kemudian menghasilkan sayur-sayuran dam buah-buahan yang segar dan berlimpah. Dan begitu seterusnya, sampai suatu saat si derwaman tersebut membawa sang pengemis untuk tinggal bersama dengannya di dalam kerajaannya.

Rahmat Allah bukanlah satu kali pemberian, namun mengalir setiap saat dalam kehidupan kita. Kita sering menolak rahmat Allah, sehingga kehendak Allah dalam kehidupan kita tidak dapat terlaksana secara maksimal. Namun, kita melihat hal yang istimewa dalam kehidupan santo- santa, dan terutama Bunda Maria. Kita melihat bagaimana mereka bekerjasama terhadap rahmat Allah, sehingga kehidupan mereka menjadi pantulan kasih, kebaikan, dan kebijaksanaan Allah.

Kalau kita percaya bahwa rahmat Allah mengalir dari kebijaksanaan dan kebaikan Allah, maka di dalam kebijaksanaan-Nya, Allah memilih secara khusus Bunda Maria untuk menjadi Bunda Allah. Tentu saja beberapa nabi yang lain, dan santa-santo adalah pribadi-pribadi yang istimewa. Namun, tidak ada yang lebih istimewa dari Bunda Allah, yang membawa Sang Penebus datang ke dunia ini. Dan dari begitu banyak orang, Tuhan di dalam kebijaksanaan-Nya memilih Bunda Maria. Kalau Tuhan melihat bahwa Bunda Maria adalah seseorang yang istimewa, sehingga dipilih oleh Allah sendiri, maka sudah semestinya kalau kita melihat Maria sebagai pribadi yang istimewa, kecuali kalau kita mengatakan bahwa Bunda Maria dipilih oleh Alah berdasarkan suatu undian atau secara kebetulan.

Di atas semua itu, janganlah kita lupa bahwa analogi si dermawan dan si pengemis itu tidak sepenuhnya cocok untuk menggambarkan Allah dan Maria dalam hal ini. Sebab baik si dermawan dan si pengemis yang dikisahkan di sini keduanya adalah manusia, maka si dermawan mempunyai keterbatasan pengetahuan akan keadaan si pengemis. Sedangkan Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu dan Ia mengetahui segalanya; termasuk tentang segala ciptaannya. Maka, Allah sudah tahu sejak awal mula akan peran khusus Bunda Maria dalam rencana keselamatan-Nya: yaitu bahwa Maria, yang diberi rahmat-Nya secara istimewa akan selalu bekerjasama dengan rahmat-Nya itu sampai pada akhirnya.

3) Kevin mengatakan “Mengenai Lukas 1:28 itu Sdri Inggrid salah baca… karena di Alkitab Terjemahan Baru tertulis: Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. … Tidak tepat bila malaikat diganti menjadi Allah / Tuhan. Jadi yang menyapa adalah malaikat Gabriel, bukan Tuhan. Bila Tuhan yang berkata, tentu kalimatnya akan begini, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Aku menyertai engkau.”, atau “Salam, hai engkau yang Aku karuniai, Aku Tuhanmu menyertai engkau.”. Jadi saya mohon kepada Sdri Inggrid agar tidak merubah-rubah ayat, karena dng ayat yang otentik saja belum tentu bisa mencapai konklusi ideal, apalagi kalo ayatnya dirubah, akan lebih rumit lagi karena acuannya makin simpang siur.””

a) Tentu saja semua orang yang membaca Alkitab tahu bahwa pada ayat Lk 1:28, malaikat Gabriel-lah yang menyampaikan kabar kepada Maria. Pada waktu Ingrid mengatakan “Sebab jika tidak demikian, Allah tidak akan berkata demikian kepada Bunda Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!” (Luk 1:28)“, maka kami melihat esensi dari ayat tersebut. Kita tahu bahwa malaikat (anggelos) adalah pembawa berita. Dan pembawa berita hanya menyampaikan pesan dari sang pengirim berita. Dengan demikian, pesan tersebut adalah pesan Allah dan bukan pesan si pembawa berita.

b) Kalau kita menganalisa, orang yang membawa berita dari seorang raja dianggap sebagai orang yang mewakili raja tersebut, sehingga kita sering melihat pada waktu dibacakan berita tersebut, semua orang bertekuk lutut, karena menganggap bahwa raja tersebut hadir pada saat pesan tersebut dibacakan. Jadi, tidaklah salah kalau kita mengatakan bahwa Allah-lah yang mengatakan kepada Maria. Malaikat Allah tidak akan mengatakan “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau,” (Luk 1:28) jika seandainya Tuhan sendiri tidak mempunyai maksud untuk memberi salam kepada Maria secara istimewa, dan mengatakan bahwa Tuhan menyertai Maria.

c) Dengan demikian, tidak maksud dari ayat tersebut yang diubah. Akan menjadi berubah kalau Kevin dapat menemukan ada pesan dari malaikat yang bukan merupakan pesan Allah, sehingga kita perlu menganalisa, apakah pesan tersebut dari Allah atau bukan. Apalagi kalau malaikat yang diutus bukan hanya sekedar malaikat, namun penghulu malaikat, yaitu Malaikat Gabriel. Kita sering melihat di dalam Perjanjian Lama, bagaimana malaikat sering digunakan bergantian dengan kata Tuhan sendiri. Kita melihat di Kej 22:11 “Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”” Silakan melihat pembahasan tentang hal ini secara lebih mendalam di sini (silakan klik). Contoh yang lain: (1) Setelah malaikat Tuhan berbicara kepada Hagar tentang Ismael (lih. Kej 16:7-12), maka Hagar menjawab “Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?“” (Kej 16:13), (2) Setelah Yakob bergumul melawan malaikat Allah, di ayat Kej 32:28 dikatakan “Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”” (3) Lihat juga kisah Gideon (Hak 6:20-23) yang dikunjungi oleh malaikat Tuhan, dan kemudian di ayat 24 dikatakan “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.

4) Kevin mengatakan “Sebaiknya Sdri Inggrid tidak membandingkan statement Tuhan atas setiap orang, karena itu bukan perbandingan yang adil / seimbang. Dengan analogi yang sama, saya juga bisa mengatakan bahwa Tuhan hanya memberikan karunia membelah laut kepada Musa, dan tak seorangpun di dunia ini (termasuk Maria) yang diberi karunia special itu. Apakah karena itu lalu kita bisa menyebut Musa istimewa? Hal yang sama bisa diterapkan kepada Abraham sbg bapak perjanjian, Salomo yg membangun bait Allah, dsb. Bahkan Alkitab mencatat ada 2 orang yang diangkat Allah ke sorga selagi hidup beserta tubuh fisiknya, yaitu Henokh dan Elia. Apakah peran mereka istimewa? Ataukah memang Allah mau memilih mereka tanpa ditambahi unsur peranan manusia?

a) Seperti pada point-point sebelumnya, tidak menjadi masalah bahwa kita menyebut para nabi adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah secara istimewa, karena mereka berperan dalam karya keselamatan Allah. Dan kita dapat juga menyebut santa-santo adalah orang-orang yang istimewa yang diberikan rahmat Allah secara istimewa, sehingga mereka dapat menghasilkan buah-buah Roh yang berlimpah dalam kehidupan mereka. Mereka semua adalah orang-orang istimewa dalam kapasitasnya masing-masing.

b) Namun, kita semua mengakui bahwa di dunia ini, tidak ada peristiwa yang lebih istimewa daripada kedatangan Kristus ke dunia, karena inilah pemenuhan dari segala sesuatu yang dijanjikan oleh Tuhan melalui para nabi beribu-ribu tahun sebelumnya. Kedatangan Kristus telah dinubuatkan sebelumnya dan kelahiran-Nya melalui seorang perawan juga telah dinubuatkan sebelumnya (lih. Yes 7:13-14). Dan perawan ini, yang telah dinubuatkan sebelumnya – yang berarti telah dipilih Tuhan sejak awal mula – terpenuhi dalam diri Maria. Justru karena Maria telah dipilih oleh Allah, maka kita tahu bahwa Maria adalah istimewa dan mempunyai peran istimewa dalam rencana keselamatan Allah. Tuhan dapat memilih banyak nabi, banyak santa- santo, banyak Paus, banyak pendeta, banyak pastor, namun Tuhan hanya dapat memilih satu orang untuk menjadi Bunda Allah. Kalau Tuhan memilihnya secara istimewa, siapakah kita yang tidak mau mengatakan bahwa Maria adalah pribadi yang istimewa?

c) Kevin mengatakan lebih lanjut “Siapakah manusia di bumi ini yang bisa membandingkan mana yang lebih solid, ketaatan Henokh, Elia, Musa, Maria, Abraham, Nuh, Yesaya, Paulus, Petrus, dll…. Bila ada manusia yang bisa menyebut salah satu dari sekian tokoh diatas ketaatannya (kepada Tuhan) lebih solid dibandingkan yang lain, maka manusia itu sungguh sangat sombong dengan memasuki area yang tidak dia pahami, karena yang mengetahui soliditas ketaatan / kelayakan manusia hanyalah Tuhan seorang.

1) Kita tidak dapat membandingkan antara nabi yang satu dengan nabi yang lain tentang derajat ketaatan mereka, karena masing-masing dari mereka juga menunjukkan beberapa kelemahan. Namun, kita dapat mengatakan bahwa Maria adalah yang paling taat dan menjadi masterpiece dari segala mahluk, justru karena dia telah dipilih terlebih dahulu, untuk menjadi Bunda Allah, sehingga dia dipersiapkan secara khusus untuk mengemban tugas yang begitu mulia ini. Kalau Tuhan sendiri memberikan diri-Nya untuk mengambil kodrat manusia melalui Maria, maka di dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan telah mempersiapkan Maria untuk mengemban tugas ini.

Tuhan sendiri mempersiapkan nabi Yeremia menjadi nabi dengan menguduskannya, dengan mengatakan “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer 1:5). Kalau Tuhan telah mempersiapkan nabi Yeremia, maka, apakah yang menghalangi Tuhan untuk mempersiapkan Maria untuk mengemban tugas yang lebih besar, dengan memberikan rahmat pengudusan (sanctifying grace) dan rahmat-rahmat yang lain, yang lebih besar dari semua orang? Justru karena tugasnya yang lebih besar inilah, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan memberikan kepada Maria rahmat secara istimewa – lebih istimewa dari segala rahmat pernah diberikan kepada manusia. Dan oleh karena itu, tidaklah berlebihan, kalau para Bapa Gereja mengatakan bahwa Maria telah dijaga sebelumnya, sehingga dia tidak mempunyai dosa asal. Silakan membaca artikel tentang hal ini di sini (silakan klik).

Dan kalau banyak Bapa Gereja melihat Maria sebagai pribadi yang istimewa, maka hal itu tidak dapat disimpulkan sebagai suatu kesombongan. Hal ini disebabkan karena mereka melihat bagaimana rahmat Allah dan keinginan bebas manusia bekerjasama dengan sempurna di dalam diri Maria. Ada banyak kutipan dari Bapa Gereja tentang hal ini. Namun, mungkin Kevin tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakan oleh para Bapa Gereja dari Gereja Katolik. Mari sekarang kita melihat apa yang dikatakan oleh beberapa pendiri Protestan:

Martin Luther:

[She is the] highest woman and the noblest gem in Christianity after Christ . . . She is nobility, wisdom, and holiness personified. We can never honor her enough. Still honor and praise must be given to her in such a way as to injure neither Christ nor the Scriptures. (Sermon, Christmas, 1531).

No woman is like you. You are more than Eve or Sarah, blessed above all nobility, wisdom, and sanctity. (Sermon, Feast of the Visitation, 1537).

It is a sweet and pious belief that the infusion of Mary’s soul was effected without original sin; so that in the very infusion of her soul she was also purified from original sin and adorned with God’s gifts, receiving a pure soul infused by God; thus from the first moment she began to live she was free from all sin” (Sermon: “On the Day of the Conception of the Mother of God,” 1527).

She is full of grace, proclaimed to be entirely without sin- something exceedingly great. For God’s grace fills her with everything good and makes her devoid of all evil. (Personal {“Little”} Prayer Book, 1522).

“. . . she is full of grace, proclaimed to be entirely without sin. . . . God’s grace fills her with everything good and makes her devoid of all evil. . . . God is with her, meaning that all she did or left undone is divine and the action of God in her. Moreover, God guarded and protected her from all that might be hurtful to her.” (Ref: Luther’s Works, American edition, vol. 43, p. 40, ed. H. Lehmann, Fortress, 1968)

“. . . she is rightly called not only the mother of the man, but also the Mother of God. . . . it is certain that Mary is the Mother of the real and true God.”
Ref: Sermon on John 14. 16: Luther’s Works (St. Louis, ed. Jaroslav, Pelican, Concordia. vol. 24. p. 107)

John Calvin:

“It cannot be denied that God in choosing and destining Mary to be the Mother of his Son, granted her the highest honor.” (John Calvin, Calvini Opera [Braunshweig-Berlin, 1863-1900], Volume 45, 348.)

“To this day we cannot enjoy the blessing brought to us in Christ without thinking at the same time of that which God gave as adornment and honour to Mary, in willing her to be the mother of his only-begotten Son.“(John Calvin, A Harmony of Matthew, Mark and Luke (St. Andrew’s Press, Edinburgh, 1972), p.32.)

Ulrich Zwingli:

It was fitting that such a holy Son should have a holy Mother.”(E. Stakemeier, De Mariologia et Oecumenismo, K. Balic, ed., (Rome, 1962), 456.)

The more the honor and love of Christ increases among men, so much the esteem and honor given to Mary should grow.” (E. Stakemeier, De Mariologia et Oecumenismo, K. Balic, ed., (Rome, 1962), 456.)

d) Kemudian Kevin mengatakan “Untuk mengatasi manusia-manusia serong yang sok tahu bicara soal ketaatan dan rahmat inilah Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakannya di Markus 10:18 dan Lukas 18:19, Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.

1) Silakan melihat apa yang dikatakan oleh Martin Luther, John Calvin, Ulrich Zwingli di atas. Apakah dengan demikian maka para pendiri Protestan di atas adalah manusia yang serong dan sok tahu bicara soal ketaatan Maria? Walaupun dalam banyak hal mereka mempunyai perbedaan doktrin dengan Gereja Katolik, namun para pendiri Protestan menghormati Maria secara khusus, seperti yang terlihat dari tulisan-tulisan mereka. Silakan membandingkan tulisan-tulisan mereka tentang Maria dan tentang nabi-nabi yang lain. Mengapa mereka memuji kemurnian, keagungan Maria, yang hanya berada di bawah Kristus? Hal ini dikarenakan mereka melihat bahwa Tuhan telah menganugrahkan rahmat secara istimewa kepada Maria, sehingga dia dapat menjadi pribadi yang istimewa, yang terus bertumbuh dalam rahmat selama hidupnya, yang senantiasa murni dan tak tercela, karena dia tidak mengecap dosa, sehingga terberkatilah dia di antara semua perempuan (lih. Lk 1:42).

2) Ayat yang diberikan oleh Kevin, yaitu Mk 10:18 dan Lk 18:19, mengatakan “Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Sebenarnya ayat ini digunakan oleh Yesus untuk mempertegas kodrat Ilahi-Nya. Di ayat 17 dikatakan “..Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dengan demikian, Yesus ingin mengatakan “Engkau menyebut bahwa Aku adalah Guru yang baik. Aku mengatakan bahwa yang baik hanyalah Allah saja. Oleh karena itu, apa yang kau katakan bahwa aku adalah Guru yang baik adalah benar, karena Aku adalah Allah.”

Tidak berarti bahwa ayat ini melarang untuk seseorang mengatakan bahwa “seseorang baik”. Kita melihat, Alkitab yang sama mengatakan “Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.” (Lk 23:50) dan “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Mt 12:35) dan “karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.” (Kis 11:24).

Kita melihat bahwa kata yang “baik” yang sama (agathos) digunakan di ayat-ayat tersebut. Kita dapat mengatakan seseorang baik, dengan suatu konsep bahwa semua kebaikan berpartisipasi dalam kebaikan Allah, karena hanya Allah sajalah kebaikan itu sendiri, sama seperti kita berpartisipasi dalam kasih Allah, karena Allah adalah kasih itu sendiri. Dengan demikian ayat (Mk 10:18 dan Lk 18:19) yang digunakan Kevin untuk menegur orang-orang yang mengatakan bahwa Bunda Maria istimewa dan baik, tidaklah relevan.

5) Kevin mengatakan “Tuhan harus jadi manusia, datang ke dunia, untuk menebus dosa manusia, semua itu DIA lakukan untuk melayakkan yang tidak layak, bukan menerima yang sudah layak. Dia menebus dosa manusia, artinya semua mahluk yg disebut manusia itu berdosa, sehingga perlu campur tangan Tuhan untuk penebusannya. Ketika Tuhan menebus, sesungguhnya kita manusia itu TIDAK LAYAK ditebus, tapi KASIHNYA yang luarbiasa menyebabkanNYA melakukan hal yang spektakuler, MENEBUS yang TIDAK LAYAK untuk ditebus.

a) Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa Bunda Maria tidak memerlukan penebusan Puteranya sehingga dia terlepas dari dosa asal dan dosa-dosa pribadi selama hidupnya di dunia ini. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria telah ditebus oleh Puteranya sebelum ia dilahirkan ke dunia, sehingga pada waktu ia lahir, ia terlepas dari dosa asal. Dengan demikian, Bunda Maria tetap memerlukan penebusan Puteranya. Karena Tuhan tidak terikat oleh dimensi waktu, maka Yesus dapat menebus ibu-Nya sebelum terjadi misteri Paskah-Nya, yang merupakan sumber rahmat.

Kalau Allah adalah kudus, dan tidak dapat bercampur dengan dosa, maka sungguh fitting, kalau Bunda Maria juga tanpa dosa, karena kemanusiaan Yesus mengalir dari Maria. Inilah sebabnya Martin Luther mengatakan hal yang sama “It is a sweet and pious belief that the infusion of Mary’s soul was effected without original sin; so that in the very infusion of her soul she was also purified from original sin and adorned with God’s gifts, receiving a pure soul infused by God; thus from the first moment she began to live she was free from all sin” (Sermon: “On the Day of the Conception of the Mother of God,” 1527).

Pertanyaan saya, apakah Martin Luther yang mempercayai “sola scriptura” salah dalam mengartikan kekudusan Maria, yang lahir tanpa dosa asal dan tidak berbuat dosa selama hidupnya? Kalau sampai salah, dimanakah kesalahannya? Dan apakah parameter yang digunakan oleh Kevin untuk menilai kesalahan tersebut? Kalau Martin Luther benar, maka mengapa Kevin dan sebagian orang Protestan tidak dapat menerima bahwa Bunda Maria adalah terlahir tanpa noda dan suci seumur hidupnya, sehingga membuatnya menjadi pribadi yang melebihi siapapun di dunia ini (selain Kristus)?

b) Pernyataan Kevin bahwa Kristus datang untuk menebus dosa manusia adalah benar. Namun, seseorang dapat ditebus dengan: 1) cara diperbaiki dari sesuatu yang telah rusak 2) atau dengan menjaga sesuatu dari kerusakan. Cara kedua inilah yang dipakai oleh Tuhan untuk membebaskan Maria dari dosa asal dan dosa pribadi. Dan rahmat ini diberikan secara khusus kepada Maria, karena justru perannya yang begitu vital dalam rencana keselamatan Allah.

6) Kevin menyimpulkan “Akhirnya itu disebut Grace / Karunia / Rahmat, karena memang diberikan kepada orang yang tidak layak menerimanya. Kalo sesuatu itu diberikan kepada yang layak menerima, namanya bukan Anugerah / Rahmat / Karunia, tapi namanya UPAH. Manusia tidak berjasa kepada ALLAH sehingga manusia layak menerima pengampunan dariNYA, namun ALLAH sendirilah (dng keputusan pribadiNYA) MEMILIH untuk menebus dosa manusia. Siapakah manusia sehingga dia bisa memiliki superioritas terhadap yang lain? apalagi dapat dipandang layak untuk suatu karunia?

a) Memang benar bahwa rahmat diberikan secara cuma-cuma kepada manusia, juga termasuk kepada Bunda Maria. Namun, karena itu adalah cuma-cuma, maka juga terserah kepada Allah untuk memberikan rahmat yang terbesar kepada Maria, karena perannya untuk mendatangkan Kristus ke dunia ini. Kemudian, rahmat bukanlah sesuatu yang terjadi hanya satu kali dan tidak terjadi terus-menerus. Keistimewaan Maria justru pada besarnya rahmat yang diberikan Allah kepada Maria dan bagaimana Maria senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah secara terus-menerus selama hidupnya, sehingga rahmat Allah dapat terus tercurah secara penuh. Dan karena Tuhan Maha Tahu, maka sejak dari awal penciptaan, Tuhan telah mengetahui hal ini.

b) Rahmat Allah dicurahkan kepada manusia dan bukan kepada robot, sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk menerima atau menolak rahmat Allah. Dengan demikian, ada kerjasama antara rahmat Allah dan keinginan bebas manusia. Memberikan penekanan pada rahmat (grace) tanpa melihat aspek keinginan bebas manusia (free will) menjadikan manusia seperti robot. Sebaliknya, mengedepankan keinginan bebas tanpa rahmat Allah membuat seolah-olah manusia dapat menyelamatkan dirinya tanpa Allah. Maka, penekanan hanya grace saja tanpa free will atau free will saja tanpa grace, keduanya keliru.  Grace (rahmat) dan free will (kehendak bebas) harus bekerja sama dalam menuntun seseorang kepada keselamatan.

Maria tidak membanggakan dirinya sendiri, bahkan dia justru mengakui akan rahmat Allah yang tercurah kepadanya secara luar biasa kepadanya. Namun, karena Allah sendiri yang memilih Bunda Maria sebagai Bunda Allah, maka kita semua seharusnya setuju bahwa Bunda Maria dipilih secara istimewa oleh Allah, berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Jadi, kalau Gereja Katolik dan beberapa pendiri gereja Protestan mengatakan bahwa Bunda Maria adalah figur yang istimewa, yang tertinggi dari seluruh umat manusia setelah Kristus, itu justru karena menghormati keputusan Allah yang memilih yang terbaik. Terbaik di sini jangan dilepaskan dari rahmat Allah, karena Gereja Katolik juga tidak mengajarkan bahwa seseorang dapat mencapai kekudusan tanpa rahmat Allah.

c) Kevin menutup dengan “Intinya, menganggap rahmat / karunia yang diberikan Allah harus didasarkan pada kriteria tertentu dari si penerima rahmat justru bertolak belakang dengan keinginan Allah karena sudah masuk ke area memuliakan “allah” lain dan itu adalah pemberhalaan.

1) Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa Bunda Maria dipilih oleh Allah karena dia suci dengan kemampuannya sendiri terlebih dahulu. Namun, Gereja Katolik justru percaya bahwa Maria dipilih, dipersiapkan secara istimewa oleh Tuhan. Dan pemilihan ini dilakukan berdasarkan kebijaksanaan Tuhan. Pemilihan ini dilakukan secara sadar (deliberation) oleh Tuhan, dengan memilih yang terbaik dari seluruh umat manusia untuk menjadi Bunda Allah.

Secara sadar kita tahu bahwa dalam kebijaksanaan Tuhan, Dia mempunyai kriteria tersendiri dalam memilih Bunda Maria. Kalau pemilihan Bunda Maria dilakukan tanpa kriteria dari Allah, maka pemilihan tersebut menjadi seperti kebetulan atau hanya membuang undi.

2) Dan di dalam kemahatahuan-Nya, Allah telah melihat bahwa Maria akan terus bekerjasama dengan rahmat Allah, sehingga rahmat Allah terus mengalir secara penuh di dalam hidupnya, lebih penuh daripada pada manusia yang lain yang pernah ada (selain Kristus). Dengan demikian, kalau Gereja Katolik dan beberapa pendiri Protestan mengatakan bahwa Bunda Maria adalah sosok yang paling istimewa, itu disebabkan karena rahmat Allah dan keinginan bebas manusia bekerjasama secara harmonis dalam diri Maria. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh St. Agustinus “God who created you without you, will not save you without you” (St Augustine, Sermo 169, 13)

Dan kalau kita menyadari bahwa keistimewaan Bunda Maria tidak terlepas dari Allah, maka kita tidak bertolak belakang dengan keinginan Allah, apalagi menjadikannya sebagai allah lain. Justru melalui sosok Bunda Maria, seluruh umat manusia dapat melihat karya terbesar Allah, yang dapat memberikan inspirasi kepada seluruh umat manusia. Dan kebesaran Bunda Maria justru karena kerendahan hatinya dan terus bekerjasama dengan rahmat Allah secara terus-menerus.

Semoga dengan jawaban ini, Kevin dapat melihat dasar yang kuat mengapa Gereja Katolik menempatkan Bunda Maria sebagai sosok yang istimewa, yang lebih daripada manusia yang lain yang pernah ada (selain Kristus).

Posisi Tabernakel

13

Pertanyaan:

Sdr Stef dan Inggrid,

Mengapa sesudah Konsili Vatikan II, posisi Tabernakel tempat Sakramen Maha kudus ditahtakan menjadi bergeser ke kanan altar dr posisi di tengah2 altar (dari gereja2 yang dibangun sesudah konsili Vatikan II yang saya bandingkan dengan gereja2 yang dibangun sebelum Konsili ) Sepertinya bagi saya pribadi saya lebih menyetujui kalau Tabernakel berada di tengah2 (pusat) gereja seperti gereja2 sebelum Konsili. Kalau di tengah bukankah fokus utama kita adalah Tabernakel dimana ada Sang Roti Hidup yaitu Kristus sendiri bertahta dalam tempat yang paling utama dalam gereja.
Mengapa sampai terjadi perubahan posisi? Apakah pergeseran ini karena alasan tekhnis?, atau alasan iman? atau alasan alkitab?. Mohon penjelasannya dan terima kasih.

Johanes

Jawaban:

Shalom Johanes,

Sebenarnya, tidak benar jika dikatakan bahwa setelah konsili Vatikan ke II maka posisi Tabernakel (tempat Sakramen Maha Kudus) digeser ke samping. Tidak semua gereja yang dibangun setelah Konsili Vatikan ke II mempunyai tipologi yang demikian. Setidak-tidaknya, saya melihat masih banyak gereja yang baru dibangun meletakkan tabernakelnya di tengah- tengah, dan di tempat yang mudah terlihat dari segala arah. Sebab demikianlah ketentuannya, dan saya rasa jika di gereja anda tidak demikian, silakan anda mengusulkannya kepada Dewan Paroki.

Ketentuan mengenai hal ini ada dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, sebagai berikut:

Kan. 938 § 2 Tabernakel, tempat Ekaristi mahakudus di simpan, hendaknya terletak pada suatu bagian gereja atau ruang doa yang mencolok, tampak, dihias pantas, layak untuk doa.

Kan. 938 § 3 Tabernakel tempat Ekaristi mahakudus disimpan secara terus- menerus, hendaknya bersifat tetap, terbuat dari bahan yang keras yang tak tembus pandang dan terkunci sedemikian sehingga sedapat mungkin terhindarkan dari bahaya profanasi.

Saya kurang tahu apakah di Indonesia sudah ditetapkan peraturan bangunan untuk gereja Katolik, namun kalau di Amerika, USCCB (Kongregasi para Uskup Amerika) sudah menetapkannya, dan berikut ini, saya sertakan linknya selengkapnya, silakan klik, dan ini adalah sedikit kutipannya:

§ 72 § The general law of the Church provides norms concerning the tabernacle and the place for the reservation of the Eucharist that express the importance Christians place on the presence of the Blessed Sacrament. The Code of Canon Law directs that the Eucharist be reserved “in a part of the church that is prominent, conspicuous, beautifully decorated and suitable for prayer.”94 It directs that regularly there be “only one tabernacle” in the church.95 It should be worthy of the Blessed Sacrament—beautifully designed and in harmony with the overall decor of the rest of the church. To provide for the security of the Blessed Sacrament the tabernacle should be “solid,” “immovable,” “opaque,” and “locked.”96 The tabernacle may be situated on a fixed pillar or stand, or it may be attached to or embedded in one of the walls. A special oil lamp or a lamp with a wax candle burns continuously near the tabernacle as an indication of Christ’s presence.97

§ 73 § The place of reservation should be a space that is dedicated to Christ present in the Eucharist and that is designed so that the attention of one praying there is drawn to the tabernacle that houses the presence of the Lord. Iconography can be chosen from the rich treasury of symbolism that is associated with the Eucharist.

Jadi dari ketentuan di atas, dapat disimpulkan bahwa syarat posisi Tabernakel disyaratkan adalah: harus menempati tempat utama, menyolok, dihias dengan indah, dan layak/ cocok untuk menghantar kepada suasana doa. Walaupun tidak dikatakan tempatnya harus di tengah- tengah, namun sangat wajar jika dipilih tempat yang di tengah- tengah, agar mudah/ dapat dilihat oleh umat dari berbagai sudut pandang umat. Saya pribadi juga berpendapat, seharusnya Tabernakel sedapat mungkin diletakkan di tengah- tengah, karena memang dengan demikian dapat dikatakan bahwa Tabernakel terletak di tempat yang “prominent”/ utama. Harap juga diketahui bahwa selain menempati tempat utama tersebut, Tabernakel juga harus dibuat dari material tertentu yang solid, tidak dapat digeser/ dipindah-pindah, tidak tembus pandang, dan dapat dikunci. Tabernakel juga disertai dengan lampu yang tetap menyala sebagai tanda kehadiran Yesus dalam Sakramen Maha Kudus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab