Home Blog Page 262

Tanggapan terhadap tuduhan penyembahan Maria

24

[Berikut ini adalah komentar dari saudara/i kita yang dari Protestan tentang beberapa teks doa yang ditujukan kepada Bunda Maria, yang dianggap mereka sebagai ‘penyembahan’ kepada Bunda Maria. Ingrid akan menjawabnya dari sisi ajaran Gereja Katolik]

Pertanyaan:

PENYEMBAHAN BERBUNGKUS PENGHORMATAN TERHADAP MARIA

berikut fenomena yang dapat menunjukan bahwa penghormatan itu sudah menjelma kepada penyembahan;

sem•bah n 1 pernyataan hormat dan khidmat (dinyatakan dng cara menangkupkan kedua belah tangan atau menyusun jari sepuluh, lalu mengangkatnya hingga ke bawah dagu atau dng menyentuhkan ibu jari ke hidung) mengangkat — , menghormat dng sembah; 2 kl kata atau perkataan yg ditujukan kpd orang yg dimuliakan: demikianlah — Hang Tuah; berdatang — , datang seraya berkata dng hormatnya;

pe•nyem•bah•an n 1 proses, cara, perbuatan menyembah; 2 pemujaan

me•mu•ja v 1 menghormati dewa-dewa dsb dng membakar dupa, membaca mantra, dsb; 2 memuja-muja; 3 menjadikan sesuatu dng mantra: ia ~ anak yg tidak tahu budi itu hingga menjadi batu;
sedang

hor•mat 1 a menghargai (takzim, khidmat, sopan): sepatutnyalah kita — kpd orang tua kita; 2 n perbuatan yg menandakan rasa khidmat atau takzim (spt menyembah, menunduk): hadirin serentak berdiri memberi — kpd tamu yg datang;

peng•hor•mat•an n proses, cara, perbuatan menghormati; pemberian hormat: ~ yg berlebih-lebihan dapat berubah sifatnya menjadi pemujaan;

sederhananya begini, penghormatan tertinggi sebenarnya bisa diwujudkan kepada orang tua kita masing2 atau orang yang kita anggap berjasa dalam hidup kita

tentu kita tidak diajarkan berdoa kepada orang tua kita bukan? Kita diajari untuk mendoakan orang tua kita
penghormatan yang menjadi berlebih-lebihan dapat menjadi pemujaan yang sama dengan penyembahan

lalu mengapa berdoa kepada Maria?

http://www.ekaristi.org/doa/dokumen.php?subaction=showfull&id=1150465575&archive=&start_from=&ucat=1&

ini definisi doa ;

doa n permohonan (harapan, permintaan, pujian) kpd Tuhan;

ber•doa v mengucapkan (memanjatkan) doa kpd Tuhan: ia selalu ~ sebelum dan sesudah melakukan sesuatu;

dari definisi tersebut doa itu hanya ditujukan kepada Tuhan saja

apakah Bunda Maria adalah Tuhan atau sama dengan Tuhan?

apakah doa kepada Bunda Maria bukan suatu penghormatan yang berlebihan dan pemujaan?

Apakah dibenarkan untuk berdoa kepada yang bukan Tuhan?

Sedangkan Tuhan YESUS hanya mengajarakan Doa Bapa Kami, tidak pernah diajarkan-Nya Doa Maria Kami

Mat 6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

DIA mengajarkan juga Doa dalam Nama-Nya (TUHAN YESUS),

Joh 14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

dan berdoa bersama Roh Kudus

Rom 8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.
Kemudian apakah dibutuhkan perantara untuk berdoa kepada Bapa? Atau menerima janji KRISTUS?

———
Malaikat Tuhan
Puji syukur, 1992, No. 15
Maria diberi kabar oleh Malaikat Tuhan,
bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.
Salam Maria …
Aku ini hamba Tuhan,
terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Salam Maria …

Sabda sudah menjadi daging,
dan tinggal di antara kita.

Salam Maria …

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah,
supaya kami dapat menikmati janji KRISTUS.

Doa:
Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa YESUS KRISTUS Putra-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin
———

Bukankah ketika KRISTUS mati tirai bait Allah terkoyak? Artinya apa? Dengan demikian tidak ada lagi perwakilan oleh siapapun juga

Heb 4:14 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu YESUS, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Heb 4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Heb 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Apakah dengan perwakilan tersebut, kembali “menjahit” tirai bait suci kembali? Lantas apakah sia-sia
kematian KRISTUS diatas salib?

Kemudian :
——-
Litani Jiwa Maria
Jiwa Maria, sucikanlah aku.
Hati Maria, nyalakanlah aku.
Tangan Maria, sanggahlah aku.
Kaki Maria, pimpinlah aku.
Bibir Maria, berkatalah padaku.
Duka cita Maria, kuatkanlah aku.
O Maria yang manis, dengarkanlah aku.
Janganlah mengizinkan aku terpisah darimu.
Terhadap musuh-musuhku, belalah aku.
Tuntunlah aku kepada YESUS yang manis. Semoga bersama dikau, aku dapat mencintai dan mengasihi sesamaku, dan memujimu untuk selama-lamanya. Amin
————–

Kembali Maria diposisikan sebagai “mediator agung”, sehingga jiwa Maria bisa menyucikan? Sehingga hati Maria, bisa menyalakan? Sehingga Tangan Maria bisa menopang? Sehingga kaki Maria bisa memimpin? Sehinga dukacita Maria bisa menguatkan? Dan begitu perlu untuk Maria mendengarkan kita manusia?

Lalu apa peran dan karya Roh Kudus? Bukankah semuanya itu fungsi dan karya Roh Kudus?

Jadi Maria yang mengantikan Roh Kudus?

Apa bisa sesama manusia menyucikan?

Heb 9:14 betapa lebihnya darah KRISTUS, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Hanya darah KRISTUS yang bisa menyucikan manusia

Inilah mengapa saya nyatakan penghormatan itu terlalu berlebihan, sehingga menjadi penyembahan

Dan apakah kepada Maria manusia menyerahkan dirinya?
——
Doa Penyerahan Kepada Maria
Madah Bakti, 1991, No. 52
Santa Maria, Bunda Tuhan kami YESUS KRISTUS, engkaulah Ratu dunia termulia. sudilah engkau menjadi ratu kami semua. Tunjukanlah kepada kami jalan menuju kesucian dan bimbinglah kami supaya jangan tersesat.
Kuasailah budi kami, supaya kami hanya mencari yang benar.
Kuasailah kehendak kami, supaya kami hanya menginginkan yang baik.
Kuasailah hati kami, supaya kami saling mengasihi sebagi saudara.
Kuasailah diri kami masing-masing dan segenap anggota keluarga.
Kuasailah segenap warga masyarakat, segala bangsa dan pembesar-pembesar dunia.
Sudilah engkau menjadi tali pengikat mereka semua dalam persatuan yang teguh.
Kuasailah seluruh umat manusia.
Bukakanlah jalan iman bagi mereka yang belum mengenal Putramu, YESUS.
Bantulah agar segala bangsa bersatu padu, hidup rukun dan damai.
Naungilah seluruh umat manusia, lebih-lebih yang dianiaya dan dikejar-kejar.
Tabahkanlah mereka di dalam penindasan dan terangilah mereka di dalam kegelapan, agar tetap setia kepada YESUS, Puteramu.
Hantarlah semua permohonan kami kepada Putramu, sang Maharaja kerajaan damai, tempat setiap doa permohonan dikabulkan, setiap beban hati diringankan dan segala kelemahan disembuhkan.
semoga orang yang mengenal kekuasaan-Nya dan menaruh harapan pada-Nya. sekali waktu melihat kemegahan kerajaan Putramu, yang bersama Bapa dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin
——-

Tunjukanlah kepada kami jalan? Bukankah YESUS KRISTUS sendiri yang sudah menunjukan siapa IA?

Joh 14:6 Kata YESUS kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Jadi Maria adalah “penunjuk jalan” kepada “Akulah Jalan”? sedangkan yang ingin “ditunjukan” sudah menunjukan diri sebagai “Jalan”?

Apakah penghormatan kepada Maria sudah menjadi berlebihan? Sehingga menjadi pemujaan dan penyembahan?

Saya teringat “kejadian” Rasul Yohanes ketika Malaikat menghampirinya, namun Malaikatpun menolak untuk disembah, saya percaya bila Maria “masih” hidup ia akan bersedih melihat dirinya dijadikan figur penyembahan

Rev 22:9 Tetapi ia berkata kepadaku: “Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!”

Semoga memberikan pencerahan

GBU, Shalom Lisa

Jawaban:

Shalom Lisa,

Pertama- tama saya mohon maaf atas keterlambatan jawaban saya.

1. Doa, menurut ajaran Gereja Katolik adalah:

KGK 2558     ….. “Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan” (Teresia dari Anak Yesus, ms. autob. 25r).

KGK 2559     “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik” (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24). …… Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis (Bdk.Agustinus,serm. 56,6,9.. 2613, 2736)

Maka di dalam doa kita mengangkat hati kepada Tuhan dengan sikap kerendahan hati. Dalam kerendahan hati inilah kita mengarahkan pandangan kita ke surga, untuk memandang Allah yang disertai dengan para malaikat dan para kudus-Nya. Melalui doa inilah, kita dipersatukan dengan Kristus oleh kuasa Roh Kudus, dan kuasa Roh Kudus ini pulalah yang mempersatukan kita dengan Allah dan para kudus-Nya, terutama Bunda Maria sebagai Bunda yang melahirkan/ membawa Kristus kepada kita. Maria adalah Bunda Gereja yang berdoa bagi kita dan bersama kita. Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 2673    Di dalam doa, Roh Kudus mempersatukan kita dengan pribadi Putera yang tunggal dalam kodrat manusia-Nya yang dimuliakan. Melalui Dia dan di dalam Dia doa kita, sebagai putera-puteri Allah di dalam Gereja, disatukan dengan Bunda Yesus.

KGK 2675    Bertitik tolak dari peran serta Maria yang unik dalam karya Roh Kudus, Gereja-gereja telah mengembangkan doa kepada Bunda Allah yang kudus. Mereka mengarahkan doa ini seluruhnya kepada Kristus, sebagaimana Ia menyatakan diri dalam misteri-misteri-Nya. Dalam himne dan antifon yang tidak terhitung jumlahnya, yang menyatakan doa ini, biasanya dua gerakan berganti-ganti: yang satu memuja Tuhan untuk “hal-hal besar” yang Ia lakukan kepada abdi-Nya yang rendah hati, dan melalui dia untuk semua manusia (Bdk. Luk 1:46-55); yang lain mempercayakan kepada Bunda Yesus, segala permohonan dan pujian anak-anak Allah, karena ia mengetahui kodrat manusia, yang dengannya Putera Allah telah bersatu di dalam dia.

KGK 2682    Berdasarkan peran serta yang unik dari Perawan Maria dalam karya Roh Kudus, Gereja suka berdoa dalam persatuan dengannya, supaya bersama dia memuji hal-hal besar yang telah dikerjakan Allah baginya, dan untuk mempercayakan kepada Maria permohonan dan pujian.

Dengan demikian memang doa bagi umat Katolik pertama-tama ditujukan kepada Allah Bapa; atau juga kepada Kristus Allah Putera (lih. KGK 2680), oleh kuasa Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus iniah, yang telah membangkitkan Yesus dari kematian (Rom 8:11), dan yang sekarang diam di dalam kita, yang menghidupkan kita, dan menghidupkan juga orang-orang kudus-Nya, termasuk Bunda Maria. Oleh karena itu di dalam doa, selain kita dipersatukan dengan Allah, kita dipersatukan dengan mereka juga.

2. Maka persekutuan para kudus di dalam Tuhan ini tidak mengacaukan permohonan dan pemujaan kita kepada Tuhan. Doa umat Katolik tetap ditujukan kepada Tuhan, namun jika diucapkan permohonan kepada Bunda Maria, itu selalu dalam konteks pemahaman sebagai berikut: 1) bahwa Maria selalu bekerjasama dengan Tuhan dalam rencana keselamatan Allah (sebagai Co- Redemptrix); dan 2) bahwa oleh ketaatannya ia dipilih untuk membawa Kristus ke dunia dan dengan demikian ia menjadi saluran  bagi rahmat Allah yang tercurah kepada manusia (sebagai Mediatrix).

Kitab Suci memang hanya mengajarkan doa Bapa kami (Mat 6:9-13), namun Kitab Suci juga mengajarkan tentang kuasa permohonan/ perantaraan Bunda Maria melalui kisah perkawinan di Kana (Yoh 2: 1-11). Gereja Katolik melestarikan keduanya, sesuai dengan pengajaran para rasul dan Bapa Gereja (yang disebut Tradisi Suci) dan karenanya mengajarkan bahwa doa memang pertama-tama ditujukan kepada Tuhan, namun Tuhan melibatkan Bunda Maria untuk berperan serta mendoakan dan membagikan rahmat-Nya kepada manusia. Ini selaras dengan kehendak Tuhan sendiri, yang walaupun dapat datang ke dunia langsung tanpa perantaraan manusia yang lain, namun kenyataannya Ia memilih manusia yang lain, yaitu Bunda Maria, sebagai ibu untuk melahirkan-Nya. Maka Maria digunakan Allah sebagai “sarana” untuk menyampaikan rahmat-Nya kepada manusia.

3. Tirai Bait Allah yang terkoyak pada saat Kristus wafat artinya adalah berakhirnya Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam Perjanjian Baru, yang ditandai oleh darah Kristus. Kita mengetahui bahwa tirai itu adalah yang membatasi dua ruangan terkudus pada Bait Allah, yaitu ruang kudus dan ruang Maha Kudus (lih. 1 Raj 6:15-), yaitu tempat diletakkannya tabut perjanjian lama. Hanya satu kali dalam setahun imam agung memasuki tempat Maha Kudus ini untuk melakukan ritus penebusan dosa bagi bangsa Israel. Tirai inilah yang terkoyak pada saat Kristus wafat, yang berarti berakhirlah penyembahan seperti yang ditetapkan dalam PL. Di PB, penyembahan yang berkenan kepada Allah adalah yang dilakukan di dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:23), yang diberikan melalui Kristus yang adalah Sang Imam Agung dan Sang Kurban itu sendiri. Bagi umat Katolik, penyembahan dalam Roh dan kebenaran kepada Allah di dalam Kristus dan melalui Kristus ini dilakukan pada saat perayaan Ekaristi.

Maka tirai itu tidak untuk dihubungkan dengan Bunda Maria, apalagi mengatakan dengan adanya Bunda Maria artinya tirai itu “dijahit kembali”. Gereja Katolik mengakui bahwa Kristus adalah satu-satunya Pengantara kepada Allah Bapa (1 Tim 2:4), namun Pengantaraan satu-satunya ini melibatkan juga anggota-anggota Tubuh-Nya yang lain, yaitu secara khusus Bunda Maria, yang kerap kali dianalogikan sebagai ‘leher’ oleh para Bapa Gereja. Maka karena persatuannya dengan Kristus, Maria ini tidak menjadi “tirai” yang menghalangi, ataupun menjadi perantara “saingan” Kristus. Maria bekerja sama dan mendukung Kristus, sehingga keberadaannya tidak menjadikan kematian Kristus “sia- sia”. Perantaaan Bunda Maria selalu berada di bawah Pengantaraan Kristus, dan tergantung padanya, sehingga keberadaannya bukan mengurangi kemuliaan-Nya tetapi malahan menyatakan kemuliaan-Nya.

3. Mengenai teks doa tersebut, mari kita melihatnya satu persatu.

a. Doa Malaikat Tuhan (atau juga dikenal sebagai doa Angelus). Doa ini bertujuan untuk mengingatkan kita akan misteri Inkarnasi  yaitu penjelmaan Putera Allah menjadi manusia dalam diri Kristus. Maka isi doanya bersumber dari ayat- ayat Kitab Suci. Demikian teks-nya, dan ayat KS yang mendukungnya saya cetak warna ungu:

Maria diberi kabar oleh Malaikat Tuhan,
bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. (lih. Luk 1:35)
Salam Maria …
Aku ini hamba Tuhan,
terjadilah padaku menurut perkataanmu. (lih. Luk 1:38)

Salam Maria …

Sabda sudah menjadi daging,
dan tinggal di antara kita.  (lih. Yoh 1:14)

Salam Maria …

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah,
supaya kami dapat menikmati janji KRISTUS (hidup dalam Kristus (2 Tim 1:1), sebagai ahli waris Kerajaan Allah, Ef 3:6; Yak 2:5).

Doa:
Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa YESUS KRISTUS Putra-Mu menjadi manusia (lih. Luk 1:26-38); curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia (lih. Rom 6:5). Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin.

b. Doa Litani Jiwa Maria

Jiwa Maria, sucikanlah aku.
Hati Maria, nyalakanlah aku.
Tangan Maria, sanggahlah aku.
Kaki Maria, pimpinlah aku.
Bibir Maria, berkatalah padaku.
Duka cita Maria, kuatkanlah aku.
O Maria yang manis, dengarkanlah aku.
Janganlah mengizinkan aku terpisah darimu.
Terhadap musuh-musuhku, belalah aku.
Tuntunlah aku kepada YESUS yang manis.

Semoga bersama dikau, aku dapat mencintai dan mengasihi sesamaku, dan memujimu untuk selama-lamanya. Amin

Dengan pengertian doa seperti yang disebutkan di atas, maka ketika kita berdoa agar Bunda Maria “menyucikan” kita, itu karena kita percaya bahwa rahmat Allah yang menyucikan diberikan kepada kita melalui Maria (karena perannya sebagai Mediatrix dan Co- Redemptrix). Namun, sebenarnya Allah Tritunggal-lah yang menyucikan kita. Maria hanya menyalurkan rahmat tersebut kepada kita karena kuasa doanya.

Saya pribadi memang memilih untuk tidak menggunakan kata- kata ini (Maria, sucikanlah aku) karena saya mengetahui bahwa rahmat pengudusan itu berasal dari Allah. Terus terang saya tidak mengetahui dari mana asalnya doa ini, sebab menurut tradisi para kudus yang saya ketahui adalah doa yang disusun oleh St. Ignatius Loyola, yaitu, “Jiwa Kristus, sucikanlah aku” (Soul of Christ, sanctify me)

Dengan pengertian ini, maka benar pernyataan anda bahwa yang menyucikan adalah Allah sendiri, melalui darah Kristus, oleh kuasa Roh Kudus. Namun jika sampai dikatakan Maria ‘menguduskan’ itu adalah karena perannya sebagai mediatrix yang menghantarkan kita kepada kekudusan, dengan beberapa cara: 1) dengan teladan hidupnya; 2) dengan doa syafaatnya dan dengan membagikan rahmat pengudusan yang berasal dari Allah; 3) dengan mendorong kita untuk lebih mengasihi Allah dan meningkatkan kehidupan doa kita, yang melaluinya jiwa kita dikuduskan. Dengan konteks yang sama, kita melihat bagaimana Maria dapat ‘menyalakan’ hati kita untuk mengasihi Allah, menyanggah kita, menguatkan, dst.

Maka jika kita menghormati Maria, adalah karena kita mau dengan rendah hati mengakui perannya yang istimewa dalam rencana Keselamatan Allah, dan karena teladan hidup-nya yang sungguh menjadi contoh kekudusan bagi semua umat beriman. Penghormatan ini tidak akan menjadi penyembahan, karena kita mengetahui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala yang ada pada Maria adalah pemberian Allah.  Kita memuji Allah atas segala perbuatan-Nya yang ajaib yang dinyatakan dalam diri Maria, dan kita memuji Maria (tentu dengan derajat yang tidak sama dengan pujian kita kepada Allah) atas teladan iman dan ketaatannya kepada Allah. Jadi jika kita ‘memuji’ Maria itu tidak berarti kita menyembah Maria. Kita hanya mengatakan pujian kepadanya, seperti halnya kita memuji seseorang yang memang telah melakukan sesuatu dengan baik (seperti kepada seorang juara atau pahlawan), atau seorang yangdiberkati secara khusus oleh Allah (seperti kepada seseorang yang cakap atau pandai).

c. Doa Penyerahan Kepada Maria Madah Bakti, 1991, No. 52

Santa Maria, Bunda Tuhan kami YESUS KRISTUS, engkaulah Ratu dunia termulia. Sudilah engkau menjadi ratu kami semua. Tunjukanlah kepada kami jalan menuju kesucian dan bimbinglah kami supaya jangan tersesat.
Kuasailah budi kami, supaya kami hanya mencari yang benar.
Kuasailah kehendak kami, supaya kami hanya menginginkan yang baik.
Kuasailah hati kami, supaya kami saling mengasihi sebagi saudara.
Kuasailah diri kami masing-masing dan segenap anggota keluarga.
Kuasailah segenap warga masyarakat, segala bangsa dan pembesar-pembesar dunia.
Sudilah engkau menjadi tali pengikat mereka semua dalam persatuan yang teguh.
Kuasailah seluruh umat manusia.
Bukakanlah jalan iman bagi mereka yang belum mengenal Putramu, YESUS.
Bantulah agar segala bangsa bersatu padu, hidup rukun dan damai.
Naungilah seluruh umat manusia, lebih-lebih yang dianiaya dan dikejar-kejar.
Tabahkanlah mereka di dalam penindasan dan terangilah mereka di dalam kegelapan, agar tetap setia kepada YESUS, Puteramu.
Hantarlah semua permohonan kami kepada Putramu, sang Maharaja kerajaan damai, tempat setiap doa permohonan dikabulkan, setiap beban hati diringankan dan segala kelemahan disembuhkan.
Semoga orang yang mengenal kekuasaan-Nya dan menaruh harapan pada-Nya. Sekali waktu melihat kemegahan kerajaan Putramu, yang bersama Bapa dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin

Dengan pengertian yang sudah dituliskan di atas, maka doa penyerahan di sini maksudnya adalah bahwa kita menyerahkan diri kepada pertolongan doa-doa Bunda Maria. Ini adalah bentuk penyerahan kita sebagai seorang yang kecil di hadapan Allah, seperti seorang anak kecil yang memohon bantuan ibunya untuk menuntunnya berjalan agar dapat sampai ke tujuan. Dalam hal ini, tujuannya adalah Yesus yang adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh 14:6). Ibaratnya Yesus adalah jalan tol, maka Maria adalah jalan untuk menuju jalan tol tersebut. Sebab Kristus dalam ke-Allahannya memang telah menunjukkan jalan kekudusan kepada kita, tetapi dengan teladan-nya Maria telah menunjukkan bagaimana ia telah menerapkan jalan kekudusan Kristus dalam hidupnya sendiri, sehingga kita dapat belajar daripadanya.

Demikian pula perkataan ‘kuasailah’ di sini adalah untuk diartikan agar Maria sebagai Bunda Gereja membimbing/ membentuk hati umat beriman ke arah yang baik, seperti halnya orang tua ‘menguasai’ anak- anaknya, dalam artian mendidik/ berperan dalam pembentukan karakter anaknya. Sama seperti ibu di dunia dihormati oleh anak- anaknya, maka Bunda Maria di surga sebagai Bunda umat beriman juga layak dihormati. Ia tidak akan sedih dengan penghormatan ini, malah ia akan bersyukur kepada Tuhan seperti yang dikatakannya sendiri dalam kidung Magnificat,

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk 1:46-49)

Dengan kerendahan hatinya, Maria sepenuhnya menyadari bahwa segala penghormatan ataupun pujian yang diberikan kepadanya semata- mata adalah milik Allah.

Saya percaya dengan caranya sendiri Bunda Maria akan membantu kita anak-anaknya yang menghormatinya untuk sampai kepada pengertian ini: bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah dan dimuliakan; dan ia akan terus menyertai dan menghantar kita agarsampai kepada persatuan dengan Allah, seperti yang telah dialaminya, atas kemurahan kasih Allah.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan sebagai tanggapan saya atas pernyataan anda. Semoga tulisan ini dapat menjadi masukan yang berguna juga buat anda, dan anda dapat memahami bahwa umat Katolik tidak menyembah Maria dengan berbungkus penghormatan kepadanya.

Doa Rosario, doa yang sungguh Alkitabiah

39

Pertanyaan:

hai
jika kita sering berdoa rosario, sehingga proporsi doa kita menjadi jauh lebih banyak untuk bunda Maria daripada yang langsung kepada Tuhan Yesus, dan dalam doa2 kita pun lebih banyak berbincang kepada Bunda Maria, apakah ini tidak apa apa?

Terima kasih – aaa

Jawaban:

Shaloom aaa,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang doa kepada Bunda Maria dalam doa rosario. Sebenarnya kalau kita melakukan doa rosario dan menghayatinya dengan benar-benar, maka kita berdoa sesuai dengan Kitab Suci. Kita berdoa “Aku Percaya”, yang mengingatkan kita akan iman yang kita percayai. Kita berdoa 6x Bapa Kami, doa yang diajarkan oleh Yesus, dan kita juga berdoa 53x doa Salam Maria. Dan doa Salam Maria sendiri adalah doa yang berdasarkan Alkitab. Mari kita melihat satu-persatu kalimat dari doa ini:

Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu: “Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lk 1:28)
Dalam doa Maria bahasa Inggris: Hail Mary, full of grace, the Lord is with you. Bandingkan dengan RSV “And he came to her and said, “Hail full of Grace, the Lord is with you!

Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus: “lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” (Lk 1:42).

Santa Maria Bunda Allah: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lk 1:43).

Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16). “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Ef 4:16). Jadi, kalau semua umat Alllah adalah hidup, walaupun tidak berada di dunia ini dan kita harus saling mendoakan, maka adalah sudah seharusnya kita memohon agar Bunda Maria (yang telah dibenarkan oleh Allah dan pasti telah berada di Sorga) mendoakan kita semua yang masih mengembara di dunia ini.

Dan penjabaran yang sangat indah dijabarkan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2676-2677).

KGK, 2676. Gerakan ganda dari doa kepada Maria, terungkap secara bagus di dalam “Salam Maria“: Salam Maria. Secara harfiah: “Bergembiralah, Maria”. Salam malaikat Gabriel membuka doa Ave. Allah sendiri memberi salam kepada Maria melalui malaikat-Nya. Doa kita berani mengambil alih salam kepada Maria, dengan memandang hamba yang hina, seakan-akan dengan mata Allah Bdk. Luk 1:48. dan mengambil bagian dalam kegembiraan, yang Allah alami karena Maria Bdk. Zef 3:17b.. Penuh rahmat, Tuhan sertamu. Kedua bagian dari salam malaikat saling menjelaskan. Maria penuh rahmat, karena Tuhan ada sertanya. Rahmat yang memenuhi dia seluruhnya adalah kehadiran Dia yang merupakan sumber segala rahmat. “Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!… Tuhan Allahmu ada di antaramu” (Zef 3:14.17a). Maria, yang didalamnya Tuhan sendiri tinggal, adalah puteri Sion secara pribadi, Tabut Perjanjian dan tempat di mana kemuliaan Tuhan bertakhta. Ia adalah “kemah Allah di tengah-tengah manusia” (Why 21:3). “Penuh rahmat“, Maria menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia yang mengambil tempat tinggal di dalamnya dan hendak ia berikan kepada dunia. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Sesudah salam malaikat kita menggunakan sapaan Elisabet. “Dipenuhi oleh Roh Kudus” (Luk 1:41) Elisabet adalah orang pertama dari sederetan panjang angkatan-angkatan yang menyebut Maria bahagia Bdk. Luk 1:48.: “Berbahagialah ia yang telah percaya” (Luk 1:45). Maria “diberkati di antara semua perempuan” (1:42), karena ia telah percaya bahwa Sabda Allah akan dipenuhi. Atas dasar iman, “semua bangsa [telah) mendapat berkat” melalui Abraham (Kej 12:2-3). Atas dasar iman, Maria telah menjadi Bunda kaum beriman. Karena jasa Maria, semua bangsa di dunia dapat menerima Dia, yang adalah berkat Allah sendiri: “Yesus, buah tubuhmu yang terpuji”.

KGK, 2677. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami… Bersama Elisabet kita merasa heran, “Siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43). Karena Maria hendak memberi kita Puteranya Yesus, maka ia yang adalah Bunda Allah, juga menjadi Bunda kita. Kita dapat menyampaikan kepadanya segala kesusahan dan permohonan kita. Ia berdoa bagi kita, sebagaimana ia berdoa untuk dirinya sendiri: “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Kalau kita mempercayakan diri kepada doanya, kita menyerahkan diri bersama dia kepada kehendak Allah: “Jadilah kehendak-Mu”. Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Kalau kita memohon kepada Maria supaya mendoakan kita, kita mengakui diri sebagai orang berdosa dan berpaling kepada “Bunda kerahiman”, yang kudus seutuhnya. Kita mempercayakan diri kepadanya “sekarang”, dalam kehidupan kita hari ini. Dan kepercayaan kita itu meluas lagi, sehingga kita sekarang ini sudah mempercayakan “waktu kematian kita” kepadanya. Semoga ia sungguh hadir, seperti pada waktu kematian Puteranya di salib, dan semoga ia menerima kita pada waktu kematian kita sebagai ibu Bdk. Yoh 19:27., agar mengiringi kita menuju Puteranya Yesus, masuk ke dalam Firdaus.

Hal penting yang lain adalah dalam berdoa rosario, kita merenungkan peristiwa-peristiwa (gembira, sedih, mulia, terang), yang kalau direnungkan dengan baik akan mengantar kita masuk ke dalam misteri kehidupan Kristus. Dengan demikian peristiwa-peristiwa kehidupan Kristus juga mewarnai apa yang terjadi di dalam kehidupan kita, sehingga kita akan mendapatkan inspirasi dan kekuatan dari Kristus sendiri. Jangan kuatir bahwa doa rosario akan menyesatkan kita, bahkan kalau kita mau belajar dari santa-santo, seperti St. Padre Pio, yang terberkati Ibu Teresa dari Kalkuta, mereka berdoa rosario setiap hari. Kalau mau dibilang “resiko“, maka resiko berdoa rosario dengan sungguh-sungguh adalah mengantar kita menjadi santa-santo. Jadi, bersiap-siaplah untuk menanggung resiko ini.

Akhirnya, mari kita merenungkan apa yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II tentang doa rosario:

“Sebagai doa damai, rosario selalu dan akan selalu menjadi doa keluarga dan doa untuk keluarga. Ada saatnya dulu, bahwa doa ini menjadi doa kesayangan keluarga, dan doa ini yang membawa setiap anggota keluarga menjadi sekat satu sama lain…. Kita perlu kembali kepada kebiasaan doa keluarga bersama berdoa untuk keluarga-keluarga…. Keluarga yang berdoa bersama, akan tetap tinggal bersama. … Para anggota keluarga, dengan mengarahkan pandangan pada Yesus juga akan mampu memandang satu sama lain dengan mata kasih, siap untuk berbagi, untuk saling mendukung, saling mengampuni dan melihat perjanjian kasih mereka diperbaharui oleh Roh Allah sendiri.” (Rosarium Virginis Mariae, 41, Paus Yohanes Paulus II)

Stipendium adalah suatu bentuk keadilan dan kasih

8

Pertanyaan:

Malam Bu Inggrid & Pa Stef,
Mau tanya ni sedikit ni:
1. Dalam perayaan ekaristi, umat yang meminta didoakan biasanya menuliskan ujudnya tersebut pada sebuah amplop yang telah diisi dengan sejumlah uang. Bagaimana pendapatnya tentang hal ini? Saya kuatir surat pengampunan dosa (aflat) berubah wujud menjadi surat pengabulan dosa.

Terima kasih atas penjelasnnya!! – Piony

Jawaban:

Shalom Piony,

Terima kasih atas pertanyaannya. Pertanyaan tentang ujud Misa yang dibarengi dengan amplop adalah tidak menjadi masalah, karena ini adalah bentuk untuk membagi dengan para imam, memberi apa yang menjadi hak imam. Kita tahu bahwa di dalam Perjanjian Lama, para imam mendapatkan bagian yang layak untuk semua pelayanannya. Perjanjian Lama memuat begitu banyak ayat yang menjelaskan hak para imam, seperti:

Num 18:21 Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan. (lih juga Im 27:30)

Deu 18:1 “Imam-imam orang Lewi, seluruh suku Lewi, janganlah mendapat bagian milik pusaka bersama-sama orang Israel; dari korban api-apian kepada TUHAN dan apa yang menjadi milik-Nya harus mereka mendapat rezeki.

Dari ayat-ayat tersebut, kita melihat bahwa para imam Perjanjian Lama menerima bagian yang menjadi haknya, karena memang mereka terikat dalam pelayanan untuk mempersembahkan kurban, sehingga waktu yang mereka punyai diperuntukkan oleh Tuhan sepenuhnya. Pada awalnya, di dalam Perjanjian Baru belum ada aturan khusus untuk mengatur bagaimana mendukung para imam. Hal ini terlihat dari rasul Paulus yang tetap bekerja sebagai pembuat tenda, meskipun dia tahu bahwa dia mempunyai hal (lih. 1 Kor 4:12; Kis 18:3; Kis 20:34). Dan kita juga melihat bagaimana kaum religius mencukupi kebutuhan mereka dengan bercocok tanam, beternak, membuat kerajinan, dll.

Namun dengan semakin kompleksnya pelayanan dan juga tuntutan para imam untuk melayani umat, maka adalah adil untuk mencukupi kebutuhan jasmani para imam yang telah melayani kebutuhan rohani para umat. Dan ini juga ditekankan dalam Perjanjian Baru, yang mengatakan:

1 Kor 9:13: Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?

1Tim 5:17-18: 17 Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. 18 Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.”

Dan disiplin ini diajarkan oleh St. Augustinus, St. Ambrose, dan santa-santo yang lain, yang juga ditetapkan dalam Synods of Tours (56), Macon (586), yang semuanya mengajarkan untuk mendukung kehidupan para imam. Dan kemudin, Kitab Hukum Kanonik (KHK) juga mengatur hal ini dalam:

Kan. 946 – Umat beriman kristiani, dengan menghaturkan stips agar Misa diaplikasikan bagi intensinya, membantu kesejahteraan Gereja dan dengan persembahan itu berpartisipasi dalam usaha Gereja mendukung para pelayan dan karyanya.

Kan. 947 – Hendaknya dijauhkan sama sekali segala kesan perdagangan atau jual-beli stips Misa.

Kan. 951 – § 1. Imam yang pada hari yang sama merayakan beberapa Misa, dapat mengaplikasikan setiap Misa bagi intensi untuknya stips dipersembahkan, tetapi dengan ketentuan bahwa kecuali pada hari raya Natal, hanya satu stips Misa boleh menjadi miliknya, sedangkan yang lain diperuntukkan bagi tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh Ordinaris, dengan tetap diizinkan sekadar retribusi atas dasar ekstrinsik.

§ 2. Imam yang pada hari yang sama berkonselebrasi Misa kedua, tidak boleh menerima stips untuk itu atas dasar apapun.

Dengan dasar-dasar di atas, maka Gereja sebenarnya telah memberikan peraturan yang jelas tentang stipendium. Besarnya stipendium ditetapkan oleh ordinaris di tiap-tiap keuskupan. Dengan demikian, tidak perlu takut bahwa stipendium dapat menjadi hal-hal yang disalahgunakan, karena Gereja telah mempunyai peraturan yang jelas tentang hal ini. Kalaupun ada pelanggaran, maka tugas dari masing-masing ordinaris untuk dapat mengaturnya secara lebih baik. Kalau kita pikirkan, seorang imam tidak akan kaya dengan menerima stipendium. Semoga jawaban ini dapat membantu, dan mari kita semua lebih memperhatikan kebutuhan para imam yang telah diberikan oleh Tuhan untuk mendukung kita semua dalam kehidupan spiritual kita, terutama melalui Sakramen-sakramen.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

1 Kor 14:22-24

0

Pertanyaan:

Untuk P Stev tolong penjelasan 1 Kor 14 : 22 – 24, terima kasih

Damai dan Kasih Kristus Beserta kita.. Budijanto Maslim

Jawaban:

Shalom Budijanto,

1 Kor 14:22-24 mengatakan,

22. “Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.

23. Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?

24. Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua…”

Karunia bahasa roh yang dikatakan ditujukan untuk orang yang tidak beriman, maksudnya di sini adalah karunia berdoa di dalam bahasa roh, yang memang terlihat spektakular, sehingga dapat menarik bagi mereka yang tidak/ belum percaya. Namun Rasul Paulus juga mengingatkan, bahwa karunia ‘berdoa dalam roh’ ini juga dapat disalah artikan terutama jika mereka yang belum/ tidak percaya itu belum diberi penjelasan tentang bahasa Roh, karena mereka dapat menyangka bahwa orang yang berdoa dalam Roh dengan bahasa yang asing tersebut sebagai orang yang aneh/ ‘gila’.

Dengan demikian, memang Rasul Paulus mengatakan bahwa karunia nubuat menjadi sesuatu yang lebih baik, dalam artian lebih dapat dimengerti baik oleh mereka yang belum percaya maupun mereka yang sudah percaya. Karunia nubuat dapat menyampaikan pesan-pesan Kristiani untuk membangun iman umat, ataupun untuk membawa orang-orang yang belum percaya kepada pertobatan.

Maka, karunia berdoa dalam bahasa Roh, sering dikenal juga sebagai karunia ‘senandung dalam Roh’, Ini berbeda dengan karunia berkata-kata dalam Roh, yang dapat ditafsirkan dan memberikan pesan rohani kepada umat (lih. 1 Kor 14:27). Hal ini telah disampaikan oleh Sr. Skolastika di sini, silakan klik.

Selanjutnya tentang apa itu bahasa Roh, silakan anda klik di sini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Manna dan Sabat

5

Pertanyaan:

Mengapa manna dan Sabat saling berhubungan dalam kitab Keluaran?

Jawaban:

Shalom Wans,

1. Manna

Di PL, kita ketahui bahwa manna adalah semacam roti yang diturunkan Allah dari langit kepada umat Israel saat mereka berada di padang gurun (Kel 16; Bil 11:6-9). Bentuknya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti kue madu (Kel 16:31). Manna ini diberikan oleh Allah setelah enam minggu di gurun Sin, setelah bangsa Israel bersungut-sungut terhadap kehidupan yang serba kekurangan di gurun. Sejak saat itu Allah menurunkan manna setiap hari, kecuali pada hari Sabat (di mana semua orang Israel harus beristirahat dan menguduskan hari Tuhan). Maka sehari sebelum hari Sabat Allah memberikan manna untuk keperluan dua hari. Roti manna ini dapat dimakan langsung, namun umumnya dibakar dan dijadikan kue. Allah menurunkan manna ini selama sekitar empat puluh tahun, sampai bangsa Israel sampai di Gilgal di tanah Yerikho (Yos 5:12).

Di PB, Kristus menggunakan manna sebagai simbol Ekaristi (yaitu Diri-Nya sendiri), yang adalah “Roti yang turun dari Surga”, “Roti hidup” yaitu roti yang menghidupkan yang maknanya jauh melebihi roti manna di padang gurun (Yoh 6). Rasul Paulus menyebut manna sebagai “makanan rohani” (1 Kor 10:3), yang menggambarkan Ekaristi.

2. Sabat

Di PL, Hari Sabat merupakan hari istirahat untuk dikuduskan bagi Tuhan (Kel 16:23, 31:15; Ul 5:14). Hari Sabat ini adalah untuk memperingati pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir (Ul 5:14-15). Maka semua pekerjaan dilarang untuk dilakukan pada hari itu (Kel 20: 8-10; 31:13-17; Ul 5:12-14). Pekerjaan yang dilarang antara lain adalah memasak (Kel 16:23), mengumpulkan manna (Kel 16:26), menyalakan api (untuk memasak 35:3), membajak dan menabur (34:21), mengumpulkan kayu (Bil 15:32), membawa beban (Yer 17:21-22), dst. Larangan ini mengharuskan orang Israel untuk mempersiapkan makanan sehari sebelum hari Sabat. Pada hari Sabat ini, 1) kurban dilakukan dua kali lebih banyak dari hari biasa (Bil 27:3-10),2) diadakan penggantian roti manna yang ditempatkan di kemah suci (Im 24:5; 1 Taw 9:32), 3) umat berkumpul untuk menyembah Tuhan (Im 23:2-3)

Hari Sabat pertama dilaksanakan dalam kaitannya dengan pemberian manna/ hari ke-enam (Kel 16: 22). Musa mengingatkan bahwa pada hari itu orang-orang Israel harus mengumpulkan manna untuk 2 hari, sebab esoknya adalah hari Sabat bagi Tuhan. Para nabi menekankan pentingnya penerapan hari Sabat ini (Am 8:5; Yes 1:13; 57:13-14, Yeh 20:12-) Seiring dengan waktu, karena pengaruh kaum Farisi, maka diciptakan sistem yang rumit dan membebani dalam hal Sabat ini, sampai maksud utamanya, yaitu menguduskan hari Tuhan, menjadi kabur.

Di PB, Yesus menentang sistem yang terlalu membebankan pada hari Sabat ini yang sampai membuat manusia menjadi seperti ‘budak’ pada hari itu. Ia mengatakan “Sabat dibuat untuk manusia dan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). Maka Ia menyembuhkan pada hari Sabat, dan menyatakan bahwa hal menguduskan hari Sabat tidak dilanggar jika yang dilakukan adalah tindakan kasih yang sangat diperlukan (Mat 12:3-; Mrk 2:25-;Luk 6:3; 14:5). Setelah kebangkitan Kristus, murid-murid Kristus kemudian merayakan ibadah pada hari Minggu/ hari pertama dalam pekan (Kis 20:7; 1 Kor 16:2).

Jadi kita melihat di PL, bahwa manna dan Sabat merupakan tanda penyertaan Allah kepada bangsa Israel. Manna menunjukkan bagaimana Allah telah memelihara dan memberi makan bangsa Israel selama di padang gurun. Demikian pula hari Sabat merupakan peringatan akan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, yang harus dirayakan dengan gembira (Yes 57:13). Manna dan Sabat dapat lebih dipahami hubungannya, jika kita melihatnya dalam terang Perjanjian Baru. Sebab sebagai tanda kasih pemeliharaanTuhan, baik manna maupun Sabat mengacu kepada penggenapannya dalam diri Kristus, sehingga tak heran keduanya (manna dan Sabat) dijelaskan dalam satu perikop Kel 16.

Kristus adalah Roti Hidup yang turun dari Surga, yang nilainya jauh lebih tinggi dari manna di padang gurun (lih. Yoh 6). Kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya dinyatakan dengan wafat dan kebangkitan-Nya untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa. Misteri Paska ini kita rayakan setiap hari Minggu, yaitu pada hari peringatan kebangkitan-Nya dari mati. Hari Minggu ini kemudian menjadi ‘hari Tuhan’ bagi kita umat beriman.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Gereja lambat dalam merespon permasalahan?

1

Pertanyaan:

Apakah benar Gereja lambat dalam merespon isu mengenai doktrin iman dan permasalahan perihal penggembalaan?

Dear Katolisitas.org

Dalam kesempatan ini aku hendak bertanya, “Apakah benar Gereja lambat dalam merespon isu mengenai doktrin iman dan permasalahan perihal penggembalaan?”

Pertanyaan ini muncul ketika belajar tentang Sejarah Gereja dan juga kejadian akhir-akhir ini. Aku ambil contoh, Konsili Trente dalam menanggapi gerakan protestanisme. Artikel dalam Wikipedia tentang Konsili Trente mengisahkan bahwa Konsili ini diadakan hampir sesaat setelah Luther akan menemui ajalnya. Kita sama-sama mengetahui kalau Konsili diadakan dari tahun 1545-1563, sebagai salah satu konsili terpanjang. Sebagai gambaran, Luther mengumumkan 95 tesisnya yang terkenal ini pada tahun 1517, tepatnya tanggal 31 Oktober di Wittenberg, 27 tahun berselang hingga Konsili Trente diadakan. Suatu waktu yang cukup lama sehingga Protestanisme berkembang dan tumbuh subur, hingga saat ini kita rasakan, terlebih di Indonesia yang dalam sejarahnya dijajah oleh Belanda yang notabene penganut ajaran Calvin, jadi Protestanisme sedikit banyak tumbuh di tengah mayoritas Islam.

Contoh yang lain lagi tentang isu rasionalisme yang berkembang di awal abad 20 sebagai manifestasi dari Aufklarung (berawal dari Rennaisance) atau The Enlightment, atau “Terang Budi”, suatu periode filsafat yang mengutamakan akal budi, kemajuan teknologi dan gerbang menuju dunia Modern, begitu pula kekuatan pemikiran modern mulai memasuki ranah filsafat teologi, dan akhirnya Gereja merespon dengan Konsili Vatikan I.

Memang kita mengetahui kalau Gereja sangat berhati-hati sekali dalam menanggapi suatu isu yang berkembang di dalam Gereja. Juga seringkali bertahap, dari diterbitkannya Motu Proprio, lalu Ensiklik, juga terkadang melalui sidang Gereja lokal setempat seperti Sinode para Uskup, barulah menyusul Konsili baik yang bersifat pastoral maupun dogmatis. Tetapi seringkali isu tersebut justru telah menyebar luas dan menyebabkan perpecahan di dalam Gereja itu, juga konsili sekalipun walau menegaskan ajaran iman, tak jarang pula perpecahan tetap ada dan menjadi problem yang berkepanjangan.

Bagaimana menjawab fenomena ini?

Julius Paulo

Jawaban:

Shalom Julius Paulo,

Dalam menyikapi adanya fakta sejarah dan kejadian di sekitar kita, yang tak selamanya baik, dan inipun terjadi juga di dalam sejarah Gereja Katolik, kita perlu mempunyai keyakinan, bahwa apapun yang terjadi Tuhan tidak pernah “kalah set”, sebab God is in control, sebab Ia “turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28). Jadi walaupun terjadi hal- hal yang negatif sekalipun, walaupun menurut pandangan manusiawi sepertinya Gereja “terlambat menyikapi”, namun kita harus percaya bahwa Allah tetap dapat bertindak untuk mendatangkan kebaikan, bahkan melalui keadaan- keadaan semacam ini. Sebab jika sampai Gereja memberi waktu/ tidak langsung memberi ultimatum terhadap seseorang/ suatu gerakan yang menyimpang, sebenarnya antara lain untuk memberi kesempatan kepada orang yang bersangkutan untuk bertobat dan kembali ke persekutuan dengan Gereja Katolik. Baru setelah upaya- upaya dialog tidak berhasil, maka Gereja melakukan Konsili untuk meluruskan pengajarannya.

Yakin akan campur tangan Allah, bukannya berarti kita tidak perlu bertindak apa-apa untuk membangun Gereja. Tetapi jika kita sudah melakukan bagian kita, kita tidak perlu terlalu “dipusingkan” dengan keadaan yang sudah lewat. Misalnya, bahwa melalui Reformasi, terbentuk gereja Protestan yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, atau melalui kemajuan teknologi dan gerakan rationalisme, maka dunia dewasa ini banyak diwarnai prinsip relativisme dan sekularisme. Ini adalah sesuatu yang sudah terjadi, dan memang sekarang adalah tantangan bagi kita kaum beriman untuk hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid Kristus, di tengah keadaan dunia yang sedemikian. Adanya bermacam denominasi gereja juga dapat memberi motivasi kepadakita umat Katolik untuk semakin mengenal dan mendalami iman kita, menyebarkannya, dan berdoa bagi persatuan Gereja.

Maka jika kita membaca dokumen Konsili Vatikan II, kita melihat semangat Gereja untuk menanggapi keadaan dunia yang berkembang di dunia masa kini, tidak selalu dengan konotasi yang negatif, sebab kita percaya Tuhan tetap masih dan akan tetap dapat berkarya dapam keadaan apapun juga. Tuhan tetap dapat memakai setiap anggota Gereja-Nya untuk membangun Gereja dari dalam, dan panggilan ini adalah untuk anda dan saya juga. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu, sekarang yang terpenting adalah saat ini dan bagaimana ke depannya. Itu yang menjadi tanggung jawab kita semua, untuk menyebarkan Terang Kristus ke seluruh dunia, mulai dari lingkungan di sekitar kita sendiri: keluarga, kerabat dan lingkungan kerja dan komunitas kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab