Home Blog Page 25

Allah peduli

0

[Hari Minggu Biasa X: 1Raj 17:17-24; Mzm 30:2-13; Gal 1:11-19; Luk 7:11-17]

Setelah sekian minggu kita merayakan perayaan khusus, kini liturgi menyebut hari Minggu ini sebagai “Minggu Biasa.” Meskipun demikian, hari Minggu bagi kita tidaklah menjadi hari yang biasa-biasa saja, meskipun disebut Minggu biasa. Pasalnya adalah, karena Tuhan kita adalah Allah yang luar biasa. Ia luar biasa dalam banyak hal, namun terutama dalam berbelas kasih. Ia melindungi, menyembuhkan dan bahkan membangkitkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Bacaan Pertama dan Injil mengisahkan bagaimana Allah membangkitkan orang yang sudah mati tubuhnya. Namun demikian, secara lebih luas Allah juga membangkitkan orang yang mati rohaninya, yaitu dari kehidupan lamanya untuk masuk dalam kehidupan yang baru di dalam Kristus Yesus Putra-Nya. Ini terjadi pada Rasul Paulus, yang kita dengar di Bacaan Kedua. Bacaan-bacaan ini mengajak kita melihat ke dalam kehidupan kita masing-masing, untuk melihat betapa Allah telah selalu menyertai dan selalu peduli dengan segala pergumulan hidup kita. Ia “menarik kita ke atas” (lih. Mzm 30:2) untuk meluputkan kita dari para “musuh” kita, entah itu ketakutan, kejahatan, kesedihan, keputusasaan, dan sejenisnya. Ia peduli dan murah hati kepada kita yang menaruh harap kepada-Nya.

Dalam Bacaan Injil, tertulis kisah bagaimana Tuhan Yesus membangkitkan seorang pemuda yang telah meninggal di Nain. Dikisahkan bahwa ketika Yesus masuk ke kota, ada iring-iringan orang banyak yang menyertai usungan jenazah pemuda itu. Ia adalah anak tunggal dari seorang janda. Melihat itu, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Yesus peduli pada kesusahan janda itu yang telah kehilangan anak satu-satunya yang menjadi tumpuan hidupnya. Yesus tidak menunggu rombongan itu untuk lewat di hadapan-Nya tetapi Ia yang menghampirinya. Di Injil tertulis, “Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya,” dan kemudian Yesus membangkitkan pemuda itu dengan berkata, “Bangkitlah” (Luk 7: 14). Cara ini tentu sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh Nabi Elia ketika membangkitkan anak janda di Sarfat. Nabi Elia “membujurkan badannya di atas anak itu tiga kali” dan berseru kepada Tuhan agar membangkitkan anak itu (lih. 1Raj 17:17-24). Namun Yesus hanya “menyentuh” usungan jenazah itu. Dan dengan otoritas-Nya sendiri, Yesus berkata “bangkitlah” kepada jenazah itu, dan jenazah itu hidup kembali. Ini adalah salah satu mukjizat besar yang membuka mata kita akan ke-Allah-an Yesus. Sebab tak pernah ada seorang pun yang dapat melakukan hal seperti ini, jika ia bukan sekaligus juga adalah Tuhan. Para nabi ataupun orang kudus yang melakukan mukjizat membangkitkan orang mati, melakukannya atas kuasa Allah, namun Kristus, atas kuasa-Nya sendiri. Melihat perbuatanNya yang ajaib ini,  “Semua orang itu ketakutan, dan mereka memuliakan Allah sambil berkata… Allah telah mengunjungi umat-Nya!” (Luk 7:16) Sesungguhnya, jika seseorang membaca Kitab Suci dengan hati yang jujur, tentunya ia akan melihat betapa melalui kejadian ini Tuhan Yesus telah menyatakan ke-Allahan-Nya, tanpa perlu berkata, “Aku ini Allah”. Permenungan  Injil hari ini  membuka mata hati kita  akan kemahakuasa-an Tuhan Yesus, namun juga kerahiman-Nya yang tak terbatas. Tuhan kita adalah Allah mahabesar yang mengatasi segalanya—namun juga  maha-menyertai—yang ada di tengah-tengah kita dan peduli akan kesusahan umat-Nya.  

Dalam kepedulian-Nya, sampai sekarang Yesus masih terus “menyentuh” kita untuk membangkitkan dan memulihkan kita, entah dari kematian rohani, yaitu dari dosa-dosa kita, ataupun dari segala penyakit dan luka-luka di batin kita. St. Sirilus mengatakan, “Ia [Yesus] melakukan mukjizat tersebut tidak hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan menyentuh usungan jenazah itu, untuk tujuan agar kamu dapat tahu bahwa Tubuh Kristus yang kudus itu berkuasa untuk menyelamatkan pemuda itu. Sebab Tubuh itu adalah Tubuh Kehidupan dan  Sabda  mahakuasa yang menjadi daging, yang menjadi Empunya kuasa tersebut. Sebab seperti besi yang dikenakan ke api menjadi panas seperti api, demikian juga daging, ketika disatukan dengan Sabda yang menghidupkan segalanya, ia [Tubuh itu] sendiri juga menghidupkan dan menghalau kematian” (St. Cyril,  in Catena Aurea, Luk 7:11-17). Mari kita mengingat akan perlindungan dan pertolongan Tuhan yang telah terus menerus kita terima di sepanjang hidup kita. Mari kita bersyukur dan memuji Tuhan untuk segala kebaikan dan kepedulian-Nya kepada kita. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang sama yang bersabda, “Jangan menangis!” (Luk 7:13), sebab Ia akan memberikan yang terbaik kepada kita. Di saat kita menerima Tubuh Kristus dalam perayaan Ekaristi hari ini, marilah kita rasakan dan alami, sentuhan tangan Sang Putra Allah itu, yang berkata, “Bangkitlah!” agar kitapun dapat bangkit mengikuti Dia, dan menjadi seorang yang juga peduli kepada kesusahan sesama kita.

Tuhanlah kekuatanku, pelindung dan pembebasku, Allah dan penolongku…. Engkau yang selalu peduli akan kesusahan umat-Mu, aku bersyukur dan memuliakan Engkau!

Kasih Allah yang terbesar nyata dalam kurban Tubuh dan Darah Kristus

0
Sumber gambar: http://www.stwalburge.org/2015/06/11/corpus-christi-procession-deanery-preston/

[Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Kej 14:18-20; Mzm 110:1-4; 1Kor 11:23-26; Luk 9:11-17]

Perayaan Hari Tubuh dan Darah Kristus atau yang umum disebut Hari Raya Corpus Christi tak terlepas dari kisah sejarah yang melatarbelakanginya. Kisahnya secara singkat demikian:

Sejak abad awal, Gereja tidak pernah meragukan kehadiran Tuhan Yesus dalam rupa roti dan anggur. Kita mengetahuinya tidak saja dari perkataan Yesus sendiri   yang dicatat dalam Injil, namun juga dari tulisan Rasul Paulus (lih. 1Kor 11:23-26) yang kita baca hari ini. Kebiasaan untuk menyimpan hosti yang sudah dikonsekrasi dalam tabernakel juga sudah dicatat dalam riwayat St. Basilius di abad ke-4. Ekaristi itu disimpan di gereja-gereja atau biara bagi keperluan orang-orang sakit dan yang menghadapi ajal. Namun menjelang akhir abad ke-11, Gereja mengalami “hantaman” dari Berengarius (999-1088) seorang pemimpin diakon di Angers, Prancis, yang secara terbuka menolak percaya bahwa Kristus secara nyata hadir dalam rupa roti dan anggur. Maka ada sejumlah orang yang percaya kepada ajarannya ini dan mulai menuliskan bahwa Kristus dalam Ekaristi tidaklah sama dengan Kristus dalam Injil, dan karena itu, Ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi.

Begitu seriusnya kasus ini, sehingga Paus Gregorius VII memerintahkan Berengarius untuk menarik kembali ajarannya. Ia diminta untuk mengucapkan pengakuan iman tentang kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi. Ini adalah pernyataan definitif pertama Gereja tentang apa yang selalu dipercaya oleh Gereja dan tak pernah ditentang. Dengan pengakuan iman ini, maka gereja-gereja di Eropa mengalami semacam “kebangkitan” dalam penghayatan akan Ekaristi. Saat itulah ditetapkan adanya prosesi-prosesi Sakramen Mahakudus, rumusan doa-doa adorasi, umat didorong untuk mengunjungi Sakramen Mahakudus, dan seterusnya. Sejak abad ke-11 ini, devosi kepada Sakramen Mahakudus dalam Tabernakel menjadi semakin dikenal.

Maka tak ada yang mengejutkan ketika Paus Urbanus IV di tahun 1264 kemudian menetapkan Hari Raya Tubuh Kristus—Corpus Christi. Saat menentukan perayaan itu, Paus menekankan akan kasih Kristus, yang ingin menyertai umat-Nya secara fisik sampai akhir zaman. Paus mengatakan, “Dalam Ekaristi, Kristus di dalam hakekat-Nya sendiri ada bersama kita.” Sebab “ketika mengatakan kepada para rasul-Nya bahwa Ia akan naik ke Surga, Ia berkata, “Lihatlah, Aku akan menyertaimu selamanya, bahkan sampai akhir zaman” dan dengan demikian menghibur mereka dengan janji yang besar bahwa Ia akan tetap ada dan bersama-sama dengan mereka bahkan dengan kehadiran secara jasmani” (Paus Urbanus IV, Transiturus de hoc mundo, 11 Agustus, 1264).

Demikianlah, Tuhan Yesus menggenapi janji-Nya untuk menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman. Namun bukan hanya itu. Kehadiran kurban Kristus dalam rupa roti dan anggur juga menggenapi nubuat para nabi, yang  kita baca juga dalam Bacaan Pertama dan Mazmur hari ini. Yaitu bahwa Yesus adalah “Imam untuk selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek” (Mzm  110:4). Dalam Kitab Kejadian, disebutkan bahwa Melkisedek, raja Salem adalah seorang imam Allah yang “membawa roti dan anggur” (Kej 14:18). Demikianlah kurban Tubuh dan Darah Yesus yang terjadi di Yerusalem dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus yang telah membangkitkan-Nya dari orang mati (lih. Rm 8:11) dalam rupa roti dan anggur. Dengan demikian, Kristus merupakan penggenapan nubuat Perjanjian Lama, dengan menjadi Imam dan sekaligus juga Kurban Perjanjian Baru dan kekal dalam Ekaristi.

Ajaran tentang Kehadiran Kristus dalam Ekaristi ini didukung juga oleh berbagai mukjizat Ekaristi di sepanjang sejarah Gereja—dan yang terakhir  diakui oleh CDF bulan April 2016 adalah mukjizat Ekaristi yang terjadi di Hari Raya Natal 2013 di Legnica, Polandia. Meskipun demikian, masih ada begitu banyak orang—bahkan orang-orang yang juga mengimani Kristus—yang tidak percaya akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Maka di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, nampaknya kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, tentang apakah yang dapat kita perbuat untuk semakin menghayati kebenaran ajaran iman ini? Bagaimana kita dapat turut menyebarkannya? “Kamu harus memberi mereka makan!”  kata Yesus kepada para murid-Nya (Luk 9:13). Kelaparan orang zaman sekarang, tidak saja terbatas pada makanan jasmani, tetapi juga makanan rohani. “Makanan rohani”-nya memang hanya Tuhan Yesus yang bisa memberi, yaitu Tubuh dan Darah-Nya. Namun sebagai murid-murid-Nya yang percaya penuh akan sabda-Nya, kita dipanggil oleh Kristus untuk berani menyatakan kepada dunia sekitar kita bahwa Tubuh dan Darah Kristus itulah yang kita sambut setiap kali kita merayakan Ekaristi.  Kristus itulah yang kita sembah dalam Adorasi Sakramen Mahakudus.  Kesungguhan kita dalam mempersiapkan diri menyambut Ekaristi dan menyambutnya dengan sikap batin dan penghormatan yang layak, dan juga kesediaan kita untuk semakin mau berkurban seperti Kristus, itulah yang menjadi kesaksian tanpa kata, bahwa kita semakin menghayati makna perayaan hari ini, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Di hari istimewa ini, marilah kita mengulangi perkataan doa dalam Adoro te devote, Dengan khidmat aku menyembah Engkau—doa yang disusun oleh St. Thomas Aquinas. Di hadapan Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. “Tuhanku, buatlah aku menjadi lebih percaya lagi di dalam Engkau. Bawalah aku lebih dalam kepada iman, ke dalam harap-Mu, ke dalam kasih-Mu… Amin.”

Tuhan Punya Cara

0

Bahagia atas cara Tuhan
Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Seorang ibu mensharingkan pengalamannya kepadaku bagaimana ia berusaha menyembuhkan anaknya yang menderita bipolar. Gangguan bipolar adalah salah satu masalah kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis. Misalnya dari yang murung, tiba-tiba bisa berubah menjadi sangat bahagia atau sebaliknya. Ia menahan perih hatinya melihat anaknya menutup diri, tidak mau bicara, tidak mau mandi, dan tidak mau makan. Ia rela dimarahi anaknya itu ketika ia sedang down. Ia rela menjual apa yang ia miliki dan menanggung banyak hutang demi pemulihan dan studi anaknya yang selalu bergonta-ganti sekolah. Berbagai pengobatan sudah ia usahakan bagi pemulihan anaknya. Akan tetapi, anaknya itu kini kambuh kembali setelah sehat untuk beberapa saat.

Ia sekarang ini harus menahan luka hatinya karena anaknya itu selalu menyalahkannya. Anaknya itu merasa bukan anak kandungnya karena ia ikut mertuanya selama sebelas tahun dari usia dua tahun sampai usia tiga belas tahun. Anaknya itu menuntutnya harus bertanggungjawab atas kegagalan hidupnya. Penyebabnya adalah ia belum bisa memenuhi keinginan anaknya itu untuk bekerja ke luar negeri. Ia ingin mewujudkan impian anaknya itu, tetapi kondisi keuangan belum memungkinkannya.

Keadaan anaknya itu tidak membuatnya lelah untuk berusaha memulihkannya. Ia mengatakan kepadaku: “Romo, aku tumpahkan keletihanku kepada Tuhan karena Ia mengerti kelelahanku. Tuhanku yang membuat aku masih mempunyai cahaya di tengah “kegelapan dan masih banyak cerita di tengah kebisuan”. Ia tidak putus asa atas anaknya yang sekarang keadaannya kembali seperti semula karena Ia percaya akan keajaiban Tuhan: “Tuhan lebih tahu cara memulihkan jiwa anakku dan keluargaku. Aku tetap menanti mukjizat-Nya dan saya yakin sebentar lagi anak kami akan sembuh, bisa bekerja, dan berumah tangga”.

Rupanya lagu “Tuhan Selalu Punya Cara” berikut ini telah menjadi kekuatan baginya untuk senantiasa berharap akan pertolongan Tuhan:

Kau selalu punya cara untuk menolongku

Kau selalu punya jalan keajaiban-Mu

Kau dahsyat dalam segala perbuatan-Mu

Dan ku tenang di dalam cara-Mu

Tak kan ku ragu Tuhan

Janji-Mu yang menghidupkanku

Hanya padaMu Tuhan ku berseru

Dan mataku tertuju padaMu

Ia meyakini bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang menaruh kepercayaan kepadanya: “Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepadaMu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN” (Mazmur 9:11). Ia tidak pernah berhenti berharap karena janji Tuhan pasti digenapi pada waktunya: “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah” ( Mazmur 12:7). Yang ia lakukan sekarang adalah kesabaran dan kesetiaan dalam menanti janji Tuhan itu karena percaya kepadaNya tidak akan pernah sia-sia: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Ia yakin Tuhan akan memperhitungkan kepercayaannya kepadaNya.

Kesimpulan sebagai pesan bagi kehidupan kita dari pengalaman ibu tersebut: Janganlah kecewa terhadap kejadian yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Tuhan menggunakan keadaan itu untuk menunjukkan bahwa Ia mempunyai sesuatu yang jauh lebih baik bagi kita.

Tuhan Memberkati

Kenanganku akan Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD

0

Engkaulah Lautan

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD,

Kepergianmu kepada Bapa pada tanggal 29 April 2016,
membuka kenangan indah perjalananmu
sebagai Uskup Keuskupan Pangkalpinang.

Kala ditahbiskan uskup pada tahun 1987,
engkau adalah imam muda.
Setelah pentahbisanmu sebagai uskup,
engkau menjelajahi wilayahmu nan luas, seluas Eropa.

Engkau seberangi ganasnya lautan demi mengunjungi umat sederhana,
yang tak terdeteksi oleh peta.
Teriknya matahari engkau tahan dengan jaket tua.

Engkau rela tidur di atas papan,
makan seadanya,
mandi di bawah pohon yang menampung air tawar.

Sakitnya pinggang karena terjangan ombak tidak engkau rasakan.
Engkau melakukan semuanya itu sebagai matiraga.
Karena kasihmu kepada Allah dan umat-Nya,
engkau sanggup menjalaninya dengan cinta.

Beratnya medan pelayananmu
telah membentukmu menjadi pribadi yang sangat sabar.
Kesabaranmu seluas lautan,
yang menampung curahan nestapa.

Kini engkau terbaring dalam lautan kasih Bapa,
seperti pemazmur katakan:
“Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang” (Mazmur 23:2).

Bapak Uskup Hilarius, selamat jalan dan doakan kami,
yang masih berziarah di dunia ini.
Amin

(Penulis pernah melayani di Keuskupan Pangkalpinang selama delapan tahun dan pernah menemani Bapak Uskup Hilarius mengarungi ganasnya Laut China Selatan pada tahun 1990)

Mukjizat Itu Nyata

0

Sharing Pelayanan Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Ketika mengajar KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi) Paroki Stella Maris – Pluit pada tanggal 15 Maret 2016, aku bertemu dengan pasutri, Indra dan Alicia, seorang warga Malaysia. Mereka menikah pada tahun 1999 dan menjadi Katolik pada bulan Desember 2009. Mereka mengalami kasih Allah secara pribadi. Walaupun banyak liku-liku kehidupan, mereka merasakan bahwa berkat-Nya melimpah tanpa pernah berakhir. Ketika mereka berpikir bahwa mukjizat-Nya tidak mungkin terjadi, Tuhan membuktikan bahwa mukjizat-Nya itu nyata.

Sejak pernikahan, Alicia sudah lima kali mengandung dan semuanya keguguran. Ia telah berusaha mempertahankan bayinya sampai ia rela bedrest selama berbulan-bulan demi keselamatan bayi-bayi dalam kandungannya. Ketika mengandung kelima kalinya, ia bahkan sampai dirawat di rumah sakit selama satu setengah bulan dan harus diinjeksi obat anti kontraksi setiap hari. Ia sempat kehilangan nafas dan pandangan. Keluarga dan teman-temannya mengira bahwa ia akan meninggal dunia. Akan tetapi, ia tidak meninggal dunia. Setelah mendapatkan transfusi darah, ia diperbolehkan pulang, namun tanpa bayi.

Keguguran yang bertubi-tubi itu telah membuatnya menjadi seorang pribadi yang berbeda. Ia mencoba menghilangkan kesedihannya dengan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Keadaannya ini juga mempengaruhi suaminya. Perkawinannya mulai tergoncang sehingga mereka memutuskan untuk bercerai.

Tuhan tidak diam terhadap persoalan mereka walaupun mereka bukan orang Katolik. Tuhan mengirimkan kepada mereka seorang anak perempuan yang ibunya tidak menginginkan kelahirannya. Kehadirannya menyembuhkan kesedihan mereka dan menyatukan mereka kembali. Mereka mengapdosinya dan memperlakukannya sebagai anaknya sendiri.

Setelah anak perempuannya itu berusia satu tahun, suaminya ingin pergi ke Gereja. Mereka kemudian mengikuti kelas katekumen untuk mempelajari iman Katolik. Mereka kemudian dibaptis pada tahun 2009. Setelah menjadi Katolik, hidup mereka semakin bersandar kepada Tuhan.

Setelah bertahun-tahun berlalu, mereka sudah dapat menerima kenyataan bahwa Alicia tidak akan bisa mengandung lagi. Jadi, anak mereka satu-satunya adalah putri mereka itu. Apa yang mereka pikirkan ternyata bukan apa yang Allah rencanakan. Kasih Allah begitu besar sehingga Ia mempunyai rencana yang indah bagi Alicia. Satu bulan setelah Paskah tahun 2014, ia mendapatkan dirinya mengandung ketika ia berusia empat puluh satu tahun. Ia sangat bahagia, sekaligus takut dan bingung. Ia bahagia karena ini adalah bayi pertama yang ia kandung setelah mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Ia takut karena mengandung dalam usia demikian adalah high risk/resiko tinggi. Ia takut menjalaninya, tetapi juga takut dosa kalau mengaborsinya. Mereka telah mencari nasihat dari seorang ahli dan ia menyarakan agar ia melupakan kandungannya. Akan tetapi, mereka tidak setuju. Pada akhirnya, Allah menuntunnya kepada seorang dokter. Ia tidak menyarankan untuk aborsi. Ia mengajak mereka bekerjasama sehinga kandungan Alicia dapat berjalan baik sampai pada kelahiran. Dokter tersebut mengatakan kepada Alicia untuk tidak usah khawatir.

Ketika kandungannya berusia empat bulan, ia mengalami kontraksi lebih awal. Ia dirawat di rumah sakit selama satu setengah minggu. Dokter mengijinkannya pulang dan menjalani bedrest selama dua bulan dengan tetap kontrol setiap minggunya. Seminggu kemudian, ia datang ke dokter. Ia mengatakan kepada dokter bahwa bayi di dalam kandungannya tidak bergerak banyak. Detak jantung bayi itu ternyata telah menurun. Ia diminta untuk berpuasa karena akan menjalani operasi darurat untuk melahirkan bayinya. Ia tidak mampu berbicara satu patah kata pun. Ia meminta seorang perawat untuk memanggil suaminya yang menjaga puterinya di rumah. Pada pukul 06.50, suaminya datang pada saat ia sedang dibawa ke kamar operasi. Ia meminta suaminya memberikan nama bagi bayinya dari Kitab Suci. Suaminya memberikan nama kepada bayinya itu Elnathan Ezekiel. Satu jam kemudian bayi Elnathan Ezekiel dilahirkan dengan berat 765 gram. Bayi Elnathan Ezekiel kecil sekali, sebesar botol aqua. Dokter yang menanganinya menggendong Elnathan Ezekiel itu. Alcia kemudian mencium bayinya itu dan memintanya untuk kuat. Ia bersyukur kepada Tuhan atas bayinya itu. Dokter itu mengatakan kepadanya: “Alicia, engkau harus bersyukur kepada Tuhan karena engkau telah berada dalam tahap yang sangat bahaya dan bisa meninggal dunia. Engkau selamat karena kasih Tuhan yang luar biasa kepadamu”.

Ia kemudian diperbolehkan pulang setelah mendapatkan transfusi darah. Namun, bayinya harus berada di inkubator. Dua minggu kemudian, bayinya mengalami muntah-muntah dan diare sehingga beratnya menjadi 650 gram. Setiap hari, suaminya membawa susu untuk bayinya. Kemudian, berat banyinya itu bertambah 2-10 gram setiap harinya. Setelah perawatan selama hampir tiga bulan, bayinya itu pulang dari rumah sakit dengan berat 2,35 kilogram. Sekarang usia Elnathan Ezekiel adalah 1 tahun enam bulan dengan berat 8 kilogram. Ia aktif dan sehat. “Puji Tuhan karena semuanya ini adalah mukjizat dari Tuhan”, serunya.

Pesan yang disampakan Alicia kepada kita semua: Jangan pernah berhenti berharap. Ketika Tuhan mengulurkan tangan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikanNya. Kita harus beriman kepadaNya dalam keadaan apapun. Tuhan kita jauh lebih besar dari apapun. Dia akan menolong kita tepat pada waktunya: “Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mazmur 34:4).

Tuhan Memberkati

Tekun Berdoa

0

Refleksi Tahun Kerahiman Allah Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Paus Fransiskus berniat secara terus menerus untuk menjadikan doa sebagai bagian dalam kehidupannya. Tuhan Yesus menjadi teladan bagaimana doa telah menyatu dalam kehidupan-Nya. Tuhan Yesus pagi-pagi berdoa di tempat yang sunyi: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Markus 1:35). Tuhan Yesus berdoa bagi para murid-Nya: “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yohanes 17:9). Di dalam doa-Nya, Tuhan Yesus memancarkan kerahiman Allah karena Dia mendoakan orang-orang yang menghina dan menyalibkanNya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Dengan demikian, tekun berdoa diartikan menjadikannya kebutuhan dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus meminta kita juga bertekun dalam doa karena doa merupakan jalan dalam menjalin relasi dengan Allah: “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 18:1). Tekun dalam doa ini juga diajarkan oleh Santo Paulus: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Tekun berdoa berarti pagi, siang, dan malam serta dalam keadaan susah atau senang kita bersujud di hadapan Tuhan Allah. Alsannya: doa menumbuhkan pengharapan dan pengharapan memberikan sukacita. Karena itu, berdoa seharusnya menjadi sebuah kebutuhan bagi kita dan bukannya sekedar sebagai kewajiban dan kebiasaan.

Untuk melihat apakah doa sudah merupakan sebuah kebutuhan dalam hidup kita, kita bisa mengajukan pertanyaan berikut ini. Apakah kita pernah berdoa? Jawabannya pasti begini: “Ya, tentu saja pernah”. Berapa kali kita berdoa dalam sehari? Jawabannya mungkin seperti ini: “Saya berdoa sebelum makan dan sebelum tidur”. Berapa lama kita berdoa? Pasti ada yang menjawab pertanyaan itu seperti ini: “Saya berdoa secepat mungkin dengan cukup membuat tanda salib dan berharap akan mendapatkan banyak berkat”. Bayangkan berdoa satu menit saja kita mungkin sudah berat dan mengantuk, tetapi kita bisa berjam-jam melihat layar smartphone untuk membaca dan membalas WhatsApp. Banyak di antara kita bisa berdoa agak lama jika sedang menghadapi pergumulan untuk memohon pertolongan dari Tuhan. Akan tetapi, ketika doa kita sudah terjawab, kita biasanya “back to the basic”, kembali seperti semula. Jawaban-jawaban tersebut menunjukkan bahwa berdoa belum menjadi kebutuhan bagi banyak di antara kita, tetapi masih pada taraf kebiasaan.

Bagaimana menjadikan doa sebagai sebuah kebutuhan? Ingat awal mula kita menggunakan smartphone. Pada awalnya kita akan merasa biasa-biasa ketika ketinggalan smartphone kita. Akan tetapi, ketika kita hampir setiap hari menggunakan smartphone kita, kita akan merasa gelisah dan cemas ketika ketinggalan smartphone itu. Dengan demikian, menggunakan smartphone sudah menjadi kebutuhan hidup kita. Demikian juga dengan doa. Kita harus berdoa setiap hari sehingga kita akan merasa bahwa hidup kita kurang lengkap ketika satu hari saja tanpa doa.

Apa ciri doa yang sudah menjadi sebuah kebutuhan? Ciri dari doa yang sudah menjadi kebutuhan adalah bersifat otentik. Sekarang ini banyak barang tiruan atau KW, banyak pula pria dan wanita tidak asli karena banya pria nampak sebagai wanita dan wanita nampak sebagai pria, dan banyak doa jiplakan. Doa yang otentik tidak dibuat-buat dengan bahasa yang puitis agar enak didengar orang. Doa yang otentik adalah doa apa adanya yang muncul dari hati kita. Doa dari seorang anak berikut ini merupakan contoh sebuah doa yang otentik:

“Ya Allah berkatilah mama, dan ya Allah berkatilah papa dan ya Allah berkatilah anjing saya. Dan ya Allah, jagalah diri-Mu baik-baik, karena jika sesuatu terjadi kepadaMu kami semua akan kacau”.

Apa dampak dari doa yang sudah menjadi kebutuhan? Dampak dari doa dapat dibandingkan dengan kebutuhan makan dan minum. Ketika kita dipaksa untuk makan dan minum, makan dan minum menjadi beban. Dampak dari keterpaksaan untuk makan dan minum adalah kita akan merasa mual dan muntah melihat makanan sehingga tubuh kita justru semakin kurus dan lemah. Sebaliknya, ketika makan dan minuman merupakan sebuah kebutuhan, makan dan minum merupakan kegiatan yang mendatangkan sukacita dan berdampak pada kesehatan tubuh kita. Dampak dari yang sudah menjadi kebutuhan dalam hidup kita:

1. Kita akan menjadi kuat.

Melalui doa, kita akan memperoleh kekuatan untuk menolak segala keinginan daging yang ingin menguasai hidup kita: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41).

2. Kemampuan untuk menjalani kehendak Allah.

Melalui doa, kita mendapatkan kekuatan luar biasa untuk menjalani pergumulan hidup karena percaya bahwa kehendak Allah pasti terbaik bagi kita: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,…. (Pengkotbah 3:11).

3. Hati kita damai

Hidup kita dipenuhi dengan kedamaian dalam segala situasi karena percaya bahwa di dalam Allah tidak akan pernah sia-sia: “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.” (Ibrani 10:23).

4. Peneguhan bagi orang lain

Melalui doa, kita mengalirkan Roh Kudus yang memberi peneguhan dan kekuatan bagi yang kita doakan.

Kesimpulan dari perbincangan tentang tekun berdoa dapat disimpulkan dalam doa permohonan berikut ini:

Bapa,

Berikanlah kepadaku kehendak untuk tekun berdoa,

sehingga doa sungguh–sungguh menjadi kebutuhan dalam hidupku.

Melalui doa yang tekun, aku mendapatan kekuatan

untuk mengalahkan segala godaan.

Hidupku pun akan senantiasa dilingkupi dengan kedamaian,

dan kekuatan bagi yang aku doakan.

Tuhan Memberkati

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab