Home Blog Page 225

All about Jesus

4

Pertanyaan:

All about JESUS
Bahasa latin yesus adalah IESUS yang kemudian salah lafal menjadi Yesus, pada kitab-kitab hasil translate dari bahasa latin ke bahasa masing-masing negara.

sedangkan bahasa yunaninya adalah IESOUS yang tulisannya Ιησους (dibaca Iēsous)

Sedangkan Yeshua berasal dari bahasa Hebrew atau Hebron tulisannya יֵשׁוּעַ

Sedangkan dalam bahasa Aramaic nama Yesus dipanggil Yēšua (ישוע)

Sedangkan versi Arabnya adalah IESA, yang disalah lafalkan menjadi ISA yg tulisannya عيسى
namun beberapa mengklaim bahwa kata ISA berasal dari kata Esau. Kata ISA sendiri dalam bahasa Arab artinya Messenger of ALLAH (Penyampai pesan dari ALLAH), kata ISA sendiri pertama kali populer pada jaman pre-Arabian atau disebut sebelum Islam berkembang diarab (tahun 630-an Masehi). Pada awal tahun 530 M, biarawan-biarawan Syria/ orang syria yang menjadi pengikut ajaran Yesus kerap dipanggil dengan sebutan Īsāniyya.

Sedangkan orang Kristen Arab memanggil yesus adalah Yasua atau Yasu, tulisanya يسوع (dibaca yasū`)

Tahukah kamu:

– Yesus lahir bukan pada tanggal 0 Masehi melainkan 3 SM, bahkan versi lain mengatakan Dia lahir tanggal 5 SM.

– Yesus Wafat tanggal 30 Masehi, versi lain mengatakan ia wafat 33 Masehi.

– Jumlah Mujizat Yesus yang tercatat di Injil ada 36 buah.

– Yesus Lahir pada bulan Oktober, bukan desember. Tanggal 25 Desember merupakan hari raya kelahiran dewa matahari bagi kepercayaan orang Romawi, karena banyaknya yang nyembah matahari pada waktu itu (hampir seluruh eropa) dan tidak mau meninggalkan tradisi ini. Namun tidak ada kepastian mulai kapan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, tapi hal itu dilakukan untuk menghentikan kebiasaan bangsa Romawi yang menyembah matahari.

Sextus Julius Africanus, merupakan salah satu orang yang mempopulerkan bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari kedatangan Yesus melalui perhitungan Chronographiai -nya pada tahun 221, namun hingga tahun 354 belum ada kepastian kapan Yesus Lahir, hingga orang Romawi Kristen menetapkan tanggal 6 Januari sebagai hari Yesus, dimana menurut perhitungan Mereka tanggal 6 Januari adalah tanggal dimana Yesus diBabtis (dikuduskan atas nama Tuhan).

Namun setelah runtuhnya kekasisan Flavius Iulius Valens pada tahun 378, orang Kristen Timur mulai bergerak leluasa dalam beragama dan disinilah lahirnya agama Katolik. Orang Katolik paling gencar memasukan ajaran-ajaran kristus{yesus} kedalam kekaisaran romawi yang baru, dan berusaha keras agar ratusan juta orang romawi meninggalkan kebiasaan menyembah dewa matahari, karena mereka melihat sebagian dari mereka menyembah Allah namun juga menyembah dewa matahari. Dan pada masa keruntuhan ini lah para Ahli-ahli kitab (Mereka yang menyalibkan Yesus), Orang-orang Farishi, Shreneden, mulai merasa keberadaan mereka terancam dan menyikir diam-diam dari kekaisaran romawi, dan jumlah pengikut merekapun semakin mengecil.(Mereka takut dibunuh oleh orang kristen/katolik/pengikut Yesus, sebab mereka sadar dan pengikut Yesus tahu bahwa mereka lah dalang dari semua penyebab Yesus disalib alias PROVOKATOR penyaliban Yesus.)

Pada jaman romawi dulu, sebelum adanya kristen, tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari libur kekaisaran romawi (hari libur nasional), yaitu sebagai hari raya kelahiran dewa matahari, sejak masuknya agama kristen katolik di roma, kebiasaan itu degan susah payah dihapuskan dan diganti sebagai hari raya kelahiran yesus kristus.(Supaya orang tidak lagi menyembah matahari) Nah itulah sejarah kenapa tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari Natal. Natal sendiri berasal dari kata Latin/Italia yang artinya Kelaiharan.

Mulai dari tahun 400, agama katolik mulai tumbuh dan berkembang di kekaisaran romawi, yang sekarang berpusat di Vatikan. Dan sejarah inilah yang menyebabkan timbul istilah Katolik Roma, dan mengapa orang katolik hingga sebelum kedatangan Martin Luther King, jumlahnya menguasai 70% dari total jumlah orang pengikut yesus didunia.

TAHUKAH KAMU
kebiasaan-kebiasaan adanya patung Yesus, Maria (Maryam), patung malaikat, orang kudus dan sebagainya adalah kebiasaan dari orang-orang Romawi kuno yang senang memahat segala sesuatu menjadi monumen atau patung yang mereka anggap kudus, sebagai simbolik atau monumental. Termasuk juga dalam hal lukis melukis.

TAHUKAH KAMU
Sebelum adanya kristen masuk dalam kehidupan bangsa romawi, tempat ibadah pada waktu itu mirip seperti Masjid. Orang Kristen sendiri tidak mempunyai tempat ibadah yang pasti, karena keberadaan mereka disebut sebagai aliran sesat oleh para ahli-ahli kitab hingga runtuhnya Flavius Iulius Valens pada tahun 378, mereka terus diburu dan di BUNUH, sehingga orang-orang kristen pada waktu itu beribadah diHutan, Goa, dan pinggiran sungai. Gereja pertama kali dibangun adalah sebuah rumah biasa, bukan berbentuk seperti masjid atau gereja seperti sekarang ini. Bagaimana membangun tempat ibadah seperti masjid atau Gereja modern spt skrg klo keberadaan mereka terus diburu dan dibunuh.

TAHUKAH KAMU
kalo orang kristen yang dibunuh dan disiksa hingga mati dari sejak yesus wafat hingga selesai jaman Perang Dunia ke 2 (Kekejaman Hitler dan Komunis) Jumlahnya kurang lebih 1,5 Milyar Manusia. Jumlah yang cukup, sebagai cikal bakal minyak bumi baru.

TAHUKAH KAMU
Jika Masjid = Gereja = Tempat Ibadah, sebelum Kristen/Katolik dibawah pengaruh kebudayaan Roma & Yunani. Namun setelah campur tangan budaya roma dan yunani, Gereja modern lebih berbentuk seperti Kastil (Castle)

INI ADALAH GEREJA

[Dari Katolisitas: link kami hapus]

jika saya boleh meminta penjelasan rinci… terimakasih..
Alkatiri

Jawaban:

Shalom Alkatiri,

1. Tahun kelahiran dan wafatnya Yesus

Tentang kapan tepatnya tahun kelahiran Kristus dan tahun wafat-Nya, memang para ahli sejarah mempunyai pandangan yang berbeda- beda. Ini bukan hal yang mengherankan karena sistem penanggalan pada masa itu belumlah se-universal seperti penanggalan pada masa sekarang. Sedangkan argumen yang menyatakan bahwa Kristus memang lahir pada tanggal 25 Desember sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

2. Mukjizat yang dilakukan Yesus ‘hanya’ 36 buah?

Ada orang- orang yang berusaha menghitung berapa banyak mukjizat Yesus, dan ini bisa dibaca di internet. Mereka menyatakan mukjizat Yesus yang tercatat dalam Kitab Suci adalah 36 buah. Namun yang 36 buah itu adalah catatan Yesus memberikan mukjizat penyembuhan dan kebangkitan, sedangkan mukjizat yang lainnya tercatat 9 buah. Tetapi sebenarnya, mereka lupa, bahwa ada banyak kejadian yang dilakukan oleh Yesus dan tidak tercatat dalam Kitab Suci. Ataupun jika tercatat sebagai satu mukjizat kesembuhan, namun sebenarnya menyangkut banyak orang dengan penyakit/ kelemahan yang berbeda- beda, sehingga sesungguhnya tidak dapat dihitung sebagai satu mukjizat saja. Sebagai contohnya, adalah yang tertulis dalam perikop Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang (Mat 4:23-25; Luk 6:17-19). Walau hanya tercatat dalam sekali kejadian, namun sebenarnya mukjizatnya bukan hanya satu buah. Sebab dikatakan bahwa Yesus “melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.” (Mat 4:23) “Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.” (Luk 6:19). Memang tidak dikatakan secara eksplisit berapa jumlah orang yang disembuhkan, tetapi jelas jumlahnya banyak: orang- orang berbondong- bondong datang, ada yang kerasukan, sakit ayan, lumpuh, semua orang yang buruk keadaannya (Mat 4:24). Mukjizat kepada banyak orang ini dicatat di lain kesempatan, seperti di Mat 8: 16-17 (Mrk 1:32-39, Luk 4:40-41), Mat 9:35, Mat 15:29-31, Mat 19:1-2, Mat 21:14.

Tak dapat diabaikan juga, bahwa mukjizat Yesus setelah kebangkitan-Nya masih terjadi, bahkan sampai sekarang ini. Pada jaman para rasul, Yesus menampakkan diri dengan tubuh kebangkitan-Nya selama berkali- kali, tidak saja kepada para murid-Nya namun juga kepada banyak orang, seperti ditulis dalam Kis 15:5-8. Ini tentu saja adalah mukjizat, yang tidak pernah dapat dilakukan oleh orang lain selain Yesus, dimana Ia dapat bangkit dari mati atas kuasa-Nya sendiri, dan menampakkan diri selama beberapa kali, bahkan tubuh-Nya dapat masuk ke dalam ruangan yang terkunci (lih. Yoh 20:19).

Selanjutnya, oleh kuasa Roh-Nya sampai sekarang ini Yesus masih mendatangkan mukjizat- mukjizat kepada orang- orang yang percaya kepada-Nya, baik itu mukjizat kesembuhan ataupun mukjizat lainnya. Salah satu mukjizat yang paling sederhana namun juga paling mulia, adalah mukjizat kehadiran-Nya dalam rupa Hosti yang disambut oleh umat Katolik pada perayaan Ekaristi Kudus.

3. Agama Katolik baru lahir tahun 378?

Tentang anggapan anda bahwa agama Katolik baru lahir pada tahun 378, itu adalah anggapan yang keliru. Gereja Katolik didirikan oleh Kristus sendiri di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18); secara resminya pada hari Pentakosta, limapuluh hari setelah kebangkitan Yesus di sekitar tahun 30 AD. Istilah “Katolik”/ berasal dari kata “katha-holos” yang artinya universal, lengkap, menyeluruh. Istilah ini dipergunakan sejak jaman Gereja awal, untuk membedakan Gereja yang didirikan Kristus yang mengajarkan keseluruhan ajaran Kristus dan ajaran para Rasul, dengan jemaat yang mengaku Kristen, namun tidak mengajarkan keseluruhan ajaran-Nya. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, lihat sub-judul: “Gereja yang katolik”.

4. Katolik menyembah dewa matahari?

Tidak benar anggapan bahwa umat Katolik menyembah dewa matahari. Umat Katolik menyembah Kristus yang adalah sang Terang Dunia (Yoh 8:12). Tidak benar juga anggapan bahwa pengikut Yesus membunuh para orang Farisi, ataupun kaum Sanhedrin. Fakta yang ada dicatat dalam sejarah adalah bahwa umat Kristen-lah yang dikejar- kejar untuk dibunuh sebagai martir oleh para kaisar Romawi (contohnya Kaisar Nero) yang saat itu sangat membenci para pengikut/ murid Kristus.

5. Gereja Katolik berkembang setelah abad ke-4?

Pada abad ke-4, melalui Edict Milan (313), diberlakukan tolerasi kepada agama Kristen di daerah kekuasaan Romawi oleh Kaisar Konstantin I. Sejak saat itu perkembangan agama Kristen memang pesat, karena rakyat tidak takut lagi untuk menjadi Kristen, karena tidak lagi dikejar- kejar untuk dianiaya ataupun dihukum mati. Namun anda keliru jika menyangka bahwa baru pada abad itulah Gereja Katolik didirikan di Roma. Gereja Katolik di Roma didirikan oleh Rasul Petrus dan Paulus pada sekitar tahun 42- 49. Selanjutnya tentang topik ini, silakan anda membaca artikel ini, silakan klik.

Bahwa kemudian Gereja Katolik berkembang ke seluruh dunia itu memang dicatat dalam sejarah. Adalah disayangkan bahwa pada abad ke 16 ada pemisahan diri dari kesatuan dengan Gereja Katolik, yang dipelopori oleh Martin Luther. Menurut pengetahuan saya, tokoh Protestan di abad ke- 16 itu adalah Martin Luther (saja), bukan Martin Luther King.Jr. Sebab Martin Luther King adalah seorang aktivist Amerika yang hidup di abad ke 20 (1929-1968), jadi ini tidak sama dengan Martin Luther pendiri gereja Protestan di abad ke 16 itu.

6. Pembuatan patung di gereja Katolik adalah karena pengaruh budaya Romawi?

Tidak benar jika dikatakan bahwa kebiasaan membuat patung religius merupakan pengaruh kebiasaan Romawi, walaupun bisa saja bangsa Romawi juga gemar membuat patung. Sebab pembuatan patung untuk bait Allah, yaitu patung malaikat/ kerub itu sudah diperintahkan oleh Allah sendiri kepada bangsa Israel pada jaman Nabi Musa, sekitar abad 8-7 sebelum Masehi. Namun tentu saja, Allah tidak memerintahkan bangsa Israel untuk menyembah patung itu. Silakan membaca di sini, silakan klik.

Maka berbeda dengan bangsa Romawi yang membuat patung untuk menggambarkan dewa dewi ataupun kaisar Roma yang mereka sembah sebagai tuhan, umat Katolik tidak membuat patung untuk kemudian disembah. Patung bagi umat Katolik hanya semata gambaran saja, sedangkan yang disembah ataupun yang dihormati adalah pribadi yang digambarkannya. Selanjutnya tentang topik berhala ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

7. Tentang apakah bangunan gereja pada saat itu mirip seperti mesjid, sebelum jaman Romawi.

Jawabnya adalah tergantung anda melihatnya dari sisi mana. Sebab jika melihat dari segi eksteriornya, dapat saja demikian, sebab bentuk kubah sebagai atap bangunan memang merupakan ekspresi arsitektur yang populer di daerah Timur Tengah. Namun jika anda melihat dari segi interiornya, ada perbedaan cukup mendasar. Sudah sejak dahulu bangunan interior gereja mempunyai elemen- elemen penting, yang masih dipertahankan sampai sekarang, dan elemen- elemen ini tidak terdapat dalam bangunan mesjid. Elemen- elemen tersebut berkaitan dengan sanctuary/ tempat kudus bagi perayaan ibadah Ekaristi, yang memang sudah dirayakan sejak jaman para rasul. Elemen- elemen utama tersebut secara prinsip adalah: meja altar (tempat dipersembahkannya roti/ hosti dan anggur), dan meja ambo (tempat pembacaan Kitab Suci), Tabernakel (tempat menyimpan hosti yang sudah dikonsekrasikan), panti imam (tempat imam memimpin Misa Kudus).

Adalah benar bahwa pada awalnya jemaat berkumpul dari rumah ke rumah, namun kemudian setelah jumlah murid Kristus bertambah banyak, maka mereka beribadah dalam kesatuan di tempat- tempat ibadah, yang kemudian disebut sebagai bangunan gereja. Memang bangunan gereja terkuno yang survive sampai sekarang tidak banyak, namun salah satunya adalah Church of the Nativity, tempat kelahiran Yesus di Betlehem.

Dapat dimengerti bahwa suatu budaya dapat mempengaruhi bentuk bangunan ibadahnya. Ini berlaku juga sampai sekarang di seluruh dunia. Bentuk gereja di Jawa berbeda dengan bentuk gereja di Bali, misalnya. Maka tidak ada yang aneh jika ketika agama Katolik menjadi agama kerajaan Romawi, budaya Romawi membawa pengaruh kepada bentuk bangunan gereja.

Demikian tanggapan saya tentang pertanyaan anda, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Resolusi tahun baru bersama Allah

3

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5).

Bernostalgia umumnya terasa mengasyikkan. Khususnya jika yang dikenang adalah saat-saat yang menyenangkan dalam hidup. Biasanya manusia memerlukan momen tertentu untuk menandai sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Saya juga sering menggunakan momen tertentu untuk bernostalgia, misalnya melalui menikmati makanan spesial, melihat foto-foto lama, sambil mendengarkan musik lama, atau dalam acara kebersamaan seperti reuni dan momen pergantian tahun.  Umumnya saya hanya memelihara kenangan akan peristiwa-peristiwa kehidupan yang manis dan menyukakan hati.  Kenangan akan pengalaman kesedihan, kegagalan, penolakan, atau kesepian, cenderung ingin saya lupakan. Memang segala hal yang berkaitan dengan pengalaman yang pahit seringkali ingin kita singkirkan jauh-jauh.  Bahkan peristiwa konyol atau kesalahan yang terjadi karena kelalaian dan kebodohan saya juga rasanya ingin saya lupakan dan kubur dalam-dalam supaya seolah-olah tidak pernah terjadi.

Tetapi di awal sebuah tahun yang baru, ada baiknya kenangan akan peristiwa yang tidak mengenakkan juga saya ingat dan renungkan kembali, supaya saya dapat belajar dari kesalahan yang pernah saya lakukan dan menjadi lebih berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam kelalaian yang sama. Memutuskan untuk belajar dari kesalahan adalah juga bentuk sebuah usaha untuk bertumbuh menjadi lebih baik. Walaupun mungkin pahit, barangkali hal ini juga merupakan sebuah keterbukaan dan kerendahan hati untuk bersedia diubahkan dan dibentuk oleh Tuhan supaya kita dapat hidup semakin dekat dengan Dia, semakin menyerupai Dia, sebagaimana kita temui dalam surat Rasul Paulus kepada umat di Roma, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Tak seorangpun dari manusia yang hidup di dunia ini yang sudah mencapai kesempurnaan. Kita selalu mempunyai sisi-sisi lemah dan kebiasaan-kebiasaan yang mendatangkan dosa yang perlu untuk diperbaiki.  Kadang saya merasa bahwa Tuhan justru memakai kesalahan, kegagalan, dan kekonyolan saya untuk membantu saya menjadi lebih kuat dan dewasa dalam iman, lebih bertekun untuk mau berubah dari kelemahan-kelemahan saya, asalkan saya terbuka untuk mau menerima dan mempelajarinya.

Di antara sederetan resolusi tahun baru yang mungkin kita buat di awal tahun ini, mungkin mengenai studi, bisnis, pernikahan dan keluarga, kesehatan, atau pengembangan diri, saya merasa bahwa pembentukan karakter iman dan kasih saya kepada Tuhan adalah satu resolusi yang paling penting dalam kehidupan ini. Berapapun harganya, akan saya bayar, termasuk harga diri saya bila itu berhadapan dengan Yang Maha Memiliki. Karena kehidupan yang sedang kita jalani ini akan berlalu, dan tahun demi tahun yang terus berganti ini lama kelamaan akan berakhir. Hidup kita yang sebenarnya akan kita habiskan bersama Tuhan dalam tahun-tahun kekekalan di Rumah-Nya yang indah yang tak akan berkesudahan.  Sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi Tuhan selain pembentukan karakter kita supaya menjadi semakin kudus dan tak bercela di hadapan-Nya.  Karena adalah kerinduan-Nya agar kita dapat selamanya bersama dengan Dia dan menikmati cinta kasih-Nya dengan sempurna, Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus (1 Kor 1: 8) dan, “Sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya ( Kol 1: 22).

Pagi ini seusai berdoa pagi saya memutuskan untuk menyapu rumah ibu saya yang lumayan besar. Sejak kembali hidup bersama kedua orangtua saya di Malang sebulan terakhir ini karena penugasan baru dari pekerjaan suami, baru hari ini saya mengambil tugas menyapu seluruh rumah. Pembantu ibu yang biasanya melakukan tugas ini baru saja keluar sehingga saya berinisiatif mengambil alih pelaksanaan pekerjaan rutin ini. Sambil memegang gagang sapu, saya berusaha tidak memikirkan luasnya ruangan yang harus saya sapu. Saya bekerja perlahan-lahan dengan sebaik-baiknya di dalam setiap ruangan satu demi satu sampai akhirnya tanpa saya sadari seluruh ruangan di rumah telah selesai saya sapu. Fokus kepada satu kelemahan untuk diperbaiki lebih mudah dan memberikan harapan daripada sibuk memikirkan betapa banyaknya kesalahan yang telah pernah saya buat dan betapa saya selalu jatuh dalam kesalahan yang sama. Hal itu hanya akan menimbulkan rasa putus asa dan perasaan malas untuk memulai. Tuhan kita adalah seorang Bapa yang sabar dan lemah lembut yang selalu mampu melihat kebaikan dan potensi-potensi yang baik dalam diri setiap anak-Nya betapapun besarnya kesalahan kita, asalkan kita mau datang kepada-Nya dan bertobat.  Sejauh Timur dari Barat, demikian dijauhkan-Nya pelanggaran kita daripada kita (Mazmur 103 : 12). Yesus pun mengungkapkan karakter Bapa itu melalui kisah perumpamaan tentang anak yang hilang di dalam Lukas 15: 11-32.

Selanjutnya sambil menyapu saya menyadari bahwa gerakan yang pelan-pelan tetapi cermat membuat lebih banyak kotoran bisa saya kumpulkan ke dalam tempat debu. Kesabaran dan semangat tidak mudah putus asa sangat penting agar kita selalu mempunyai harapan untuk bangkit lagi. Di sudut-sudut yang sulit dijangkau, saya harus mengulurkan tangan lebih panjang dan berusaha lebih keras untuk menjangkau debu di sana. Kadang saya tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan saya ternyata membuat sesama saya merasa tidak damai dan saya gagal menampilkan wajah Allah yang ada di dalam diri setiap dari kita. Sifat dan kebiasaan seperti senang membantah jika ditegur, merasa diri yang paling tahu, kebiasaan menunda pekerjaan tertentu, atau iri hati dan kecenderungan menghakimi sesama, biasanya tersamar di sudut-sudut hati saya yang gelap, dan saya membutuhkan kerendahan hati untuk menyerahkannya kepada Allah agar Ia dapat masuk dan membersihkan sudut-sudut gelap itu. Pemazmur yang selalu rindu untuk bertobat juga mengungkapkannya sedemikian, “ Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” (Mazmur 139 : 23)

 

Ketika saya memasuki dapur, segera terlihat kotoran khas dapur, yang muncul dari berbagai aktivitas memasak. Yang sering terdapat di sana adalah debu dan kotoran yang membandel karena bercampur dengan minyak atau bumbu dapur yang berjatuhan. Selain usaha ekstra, kadang saya membutuhkan juga alat bantu lain supaya kotoran yang membandel itu dapat dihilangkan, misalnya dengan bantuan pisau untuk mengerik noda yang telah lama melekat di lantai, atau kain pel yang basah untuk menghapus debu dengan sempurna. Seringkali kita tidak mampu dengan kekuatan kita sendiri untuk bangkit dari kebiasaan yang tidak membangun. Bergantung terus kepada pertolongan Allah yang mampu melunakkan hati sekeras apapun adalah sangat berkenan kepadaNya, sambil tak segan-segan mencari pertolongan sesama yang dapat membantu kita, membaca dan meresapi renungan iman, dan tentu tak jemu-jemu belajar dari Firman-Nya agar niat baik kita diasah dan dikuatkan dengan kuasa Firman Tuhan. “Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah (Efesus 6 : 16-17).

Dan akhirnya, ada satu jenis kotoran yang terdapat di mana-mana di seluruh rumah yaitu bulu-bulu anjing si Kiko, anjing kesayangan keluarga kami.  Kiko bebas berkeliaran di rumah sehingga bulunya yang kadang rontok dari badannya terdapat di hampir semua ruangan yang sedang saya bersihkan. Saya segera mengenali bulu-bulu itu, yang karena ringan dan banyak maka membutuhkan kesabaran mengumpulkannya supaya tidak terbang kemana-mana dan mudah dikumpulkan untuk dibuang. Sangat penting bagi saya untuk mengenali kesalahan yang masih berulang-ulang saya lakukan, serta kebiasaan buruk yang sukar saya tinggalkan, mungkin juga karena bawaan dari kepribadian saya.  Kewaspadaan saya harus selalu ditingkatkan karena si jahat sering masuk dari pintu kelemahan saya yang sudah menjadi kekhasan saya itu untuk berbuat dosa lagi dan membuat saya semakin merasa terpuruk karena merasa sulit sekali berubah. Kalau perlu sebisa mungkin saya perlu menghindari waktu, tempat, dan kesempatan yang membuat saya mudah jatuh lagi ke dalam dosa yang sama. Allah selalu menyertai kita dan menguatkan kita untuk tidak menyerah kepada bujukan si jahat.  Sesungguhnya kita tak pernah sendirian dalam berjuang, tinggal apakah kita mau mengklaim penyertaan Allah itu dengan penuh iman, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Efesus 6 : 11).

 

Firman di atas itu juga mengingatkan saya bila berhadapan dengan sesama yang sulit, bagaimana Allah tetap memandang setiap orang dengan penuh cinta, belaskasihan, pengampunan serta harapan. Maka saya pun harus belajar memandang sesama saya dengan penuh harapan akan kebaikan, betapapun sulitnya menemukan kebaikan itu. Tidak perlu kita menyerahkan diri kepada amarah dan kebencian atau dendam, karena sesama adalah teman-teman seperjuangan kita yang juga masih berjuang, yang harus kita rangkul untuk melawan musuh kita yang sesungguhnya…”karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6 : 12). Kehidupan doa yang tekun juga tak pelak lagi sangat menopang niat saya untuk bertahan bersama Tuhan dan memberikan kepastian dalam keraguan, Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus (Efesus 6 : 18).

 

Setelah satu jam penuh menyapu, saya merasa lega dan puas telah selesai membersihkan seluruh rumah ibu saya. Saya ingin setia melakukan tugas rutin ini demi kebersihan dan kesehatan seluruh penghuni rumah. Demikian pula pemeriksaan batin, pertobatan, dan pembersihan diri menjadi rutinitas yang indah yang ingin saya lakukan menapaki tahun yang baru menjelang ini, agar seluruh jiwa saya sehat dan berkenan kepada Allah, yang menciptakan setiap dari kita indah, murni, dan berharga sejak semula. Tugas saya untuk memelihara kebersihan jiwa saya agar Dia nyaman bersemayam di dalamnya dan saya mampu menghasilkan buah-buah kasih dan kehidupan seperti rencana-Nya yang indah bagi setiap anak-anak-Nya.

Besok rumah tentu akan kotor lagi, dan tentu saya juga masih akan gagal dan jatuh lagi, tetapi saya ingat jati diri saya yang sebenarnya sebagai anak-anak Tuhan, saya tidak akan menyerah dan ingin selalu bersemangat untuk terus bergantung kepada Allah dengan kerendahan dan keterbukaan hati. Menjadi miskin dan rendah di hadapan Allah adalah kekuatan kita, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3 :12). Allah yang Maha Mencintai, akan selalu menyertai kita. Amin.

Selamat tahun baru 2011, kiranya kasih dan kerahiman Allah Bapa bersama kita selamanya. (uti)

Anak yang dikurbankan Abraham: Ishak atau Ismael?

25

Pertanyaan:

Abraham mempunyai 2 anak, yaitu Ismael dan Ishak.

Keturunan Ishak nanti menjadi bangsa Israel.

Apa benar keturunan Ismael nanti menjadi bangsa Arab?

Apa benar bahwa agama Islam berasal dari Ismael anak Abraham?

Jika ya, Kenapa agama Islam berbeda dengan agama Yahudi? bukankah mereka (Ismael dan Ishak) berasal dari satu ayah. Apakah Abraham mengajarkan agama yang berbeda kepada anaknya (Ismael dan Ishak)?

[Dari Katolisitas: pesan ini digabungkan, karena satu topik]:
maaf… saya tidak tahu apa benar saya harus bertanya ini ke katolisitas. karena saya rasa ini bukan pertanyaan yang berhubungan dengan iman Katolik. tapi saya coba saja tanya ke Katolisitas, siapa tahu Katolisitas bisa menjawab.

Jawaban:

Shalom Alexander,

Untuk menanggapi pertanyaan anda, saya mengacu kepada artikel karangan Sam Shamoun, yang menurut hemat saya sangat baik dalam menjabarkan secara obyektif tentang topik ini. Silakan anda membacanya sendiri selengkapnya, di link ini, silakan klik.

Umat Islam dan Kristiani sama- sama menghormati Bapa Abraham, namun keduanya berbeda pandangan tentang siapa anak yang dikurbankan oleh Abraham. Umat Islam menganggap bahwa yang dikurbankan adalah Ismael, sedangkan umat Kristiani menganggap Ishak-lah anak yang dikorbankan.

Umat Islam umumnya mendasari pandangan mereka atas ayat Kej 22:2; Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Mereka beranggapan karena Ismael adalah anak tunggal Abraham selama 13 tahun sebelum Ishak lahir, maka anak yang disebut dalam Kej 22:2 ini adalah Ismael. Namun sebenarnya, ayat- ayat Al Qur’an sendiri tidak ada yang menyebutkan secara eksplisit siapakah nama anak Abraham yang dikorbankan ini.

Sedangkan Kitab Suci jelas menyebutkan secara eksplisit bahwa anak yang dikorbankan ini adalah Ishak, demikian:

“Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal…” (Ibr 11:17)

“Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (Yak 2:21)

Kita ketahui bahwa umat muslim beranggapan bahwa Kitab Suci telah ‘diselewengkan’ (terutama oleh Rasul Paulus) sehingga yang harusnya Ismael, kemudian dituliskan sebagai Ishak. Namun anggapan ini tidak benar, sebab jika kita membaca Kitab Suci, bahkan dari Perjanjian Lama itu sendiri kita ketahui bahwa anak perjanjian itu adalah Ishak:

1. Ishaklah yang menjadi anak satu- satunya yang dijanjikan Allah, sebab Allah berjanji bahwa anak perjanjian itu akan lahir dari Sarah- bukan wanita yang lain (lih. Kej 17:15-21). Hal ini juga tercantum dalam Qur’an (Surah 11:69-73, 37:112-113, 51:24-30). Ismael tidak pernah disebut sebagai anak perjanjian.

2. Ishak dikandung secara mukjizat atas ibu yang sudah tua dan mandul dan ayah yang juga sudah tua, dan inipun disebut dalam kitab Qur’an (lih. Kej 17:15-17, 18:9-15, 21:1-7; Gal 4:28-29; Surah 11:69-73, 51:24-30). Ismael dikandung tanpa melibatkan mukjizat dari Tuhan.

3. Tuhan berjanji bahwa keturunan Ishaklah yang akan mewarisi tanah yang dijanjikan kepada Abraham (Kej 13:14-18; 15:18-21; 28:13-14). Ismael tidak mempunyai bagian di dalam tanah perjanjian yang dijanjikan kepada Abraham.

Untuk alasan- alasan inilah Ishak disebut sebagai anak tunggal Abraham sebab Allah menganggap Ishak sebagai anak satu- satunya yang dijanjikan Allah kepada Abraham.

Selanjutnya silakan anda membaca langsung di artikel karangan San Shamoun tersebut, bagaimana beberapa scholar dari kalangan muslim sendiri mempunyai pandangan berbeda- beda tentang hal ini. Muhammad H. Haykal dalam bukunya The Life of Muhammad, menulis dalam perikop, Siapakah anak yang dikorbankan? [tentang Ishak dan Ismail], demikian, “Qur’an sendiri tidak menyebut nama anak yang dikorbankan, sehingga para ahli sejarah di kalangan muslim berbeda pendapat dalam hal ini….” (Muhammad H. Haykal, The Life of Muhammad, trans. Isma’il Raji al-Faruqi [Islamic Book Trust Kuala Lumpur/American Trust Publishers, 1976], pp. 24-25; cf. online edition)

Atau seorang Muslim scholar bernama, Shaykh Hamza Yusuf dari Zaytuna Istitute, menyatakan:

“Ini adalah anak yang diberikan kepada Abraham, dan terdapat perbedaan pendapat tentang siapakah anak ini. Mayoritas scholar di abad- abad terakhir mengatakan bahwa ia adalah Ismail, namun banyak dari scholar di abad- abad terdahulu mengatakan ia adalah Ishak…. Hal ini seharusnya tidak menjadi bahan perdebatan antara umat beriman, itu bukan inti dari ceritanya. Keduanya adalah pendapat yang valid/ sah. (Shaykh Yusuf, There is No Calamity if there is Certainty; audio source)

Menarik untuk disimak adalah hasil studi dari salah seorang ahli sejarah Muslim yang bernama Al-Tabari, yang mengumpulkan data tentang siapakah anak yang dikorbankan ini menurut para ahli sejarah. Ia mengutip pandangan banyak ahli sejarah dari kalangan muslim yang juga menyebutkan bahwa anak tersebut adalah Ishak (silakan membaca selengkapnya di link artikel karangan Sam Shamoun tersebut). Akhirnya Tabari mengambil kesimpulan demikian:

As for the above-mentioned proof from the Quran that it really was Isaac, it is God’s word which informs us about the prayer of His friend Abraham when he left his people to migrate to Syria with Sarah. Abraham prayed, ‘I am going to my Lord who will guide me. My Lord! Grant me a righteous child.’ This was before he knew Hagar, who was to be the mother of Ishmael. After mentioning this prayer, God goes on to describe the prayer and mentions that he foretold to Abraham that he would have a gentle son. God also mentions Abraham’s vision of himself sacrificing that son when he was old enough to walk with him. The Book does not mention any tidings of a male child given to Abraham except in the instance where it refers to Isaac, in which God said, ‘And his wife, standing by laughed when we gave her tidings of Isaac, and after Isaac, Jacob’, and ‘Then he became fearful of them’. They said. ‘Fear not!’ and gave him tidings of a wise son. Then his wife approached, moaning, and smote her face, and cried, ‘A barren old woman’. Thus, wherever the Quran mentions God giving tidings of the birth of a son to Abraham, it refers to Sarah (and thus to Isaac) and the same must be true of God’s words ‘So we gave him tidings of a gentle son’, as it is true of all such references in the Quran.” (Al-Tabari, The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs (trans. William M. Brenner), ( State University of New York Press, Albany 1987), p. 89).

Melihat adanya fakta tersebut di atas, maka tepatlah jika kita meyakini kebenaran yang tertulis dalam Kitab Suci bahwa anak perjanjian yang dikurbankan oleh Abraham adalah Ishak. Memang umat muslim mempunyai alasan tersendiri mengapa mereka beranggapan bahwa akan yang dikurbankan adalah Ismail. Namun kita umat Kristiani percaya bahwa yang dikurbankan adalah Ishak karena memang itulah yang secara eksplisit tertulis dalam Kitab Suci. Selanjutnya, memang banyak ahli berpendapat bahwa keturunan Ismael melahirkan bangsa Arab; dan Ishak menurunkan bangsa Israel. Tetapi apakah agama Islam lahir dari Ismael itu sebenarnya membutuhkan studi lebih lanjut, mengingat bahwa agama Islam sendiri baru lahir pada sekitar abad ke-7.

Demikian, Alexander, yang dapat saya tuliskan menanggapi pertanyaan anda. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang St. Veronika

3

Pertanyaan:

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Saya adalah umat Kristen Katolik. Saya sememangnya setiap tahun sentiasa ikut merenungi akan perjalanan Jalan Salib iaitu merenungkan sengsara dan kematian Tuhan Yesus. Walaubagaimanapun saya ingin memberikan sedikit pertanyaan supaya saya dapat memahami erti perjalanan Jalan Salib dengan lebih mendalam lagi. mengenai perhentian keenam jalan salib. ada tercatit bahawa “Veronika menyapu muka Yesus”. namun apabila saya melihat di dalam injil Matius,Markus, Lukas dan Yohanes, nama tersebut tidak pula tercatit di dalamnya. adakah memang benar ianya tidak tercatit di dalam Alkitab ataupun ada tercatit di dalam catitan lain? mohon penerangan dari pihak saudara yang dikasihi mengenai “veronika”.

Salam kasih dari saya….terima kasih…
Reyers

Jawaban:

Shalom Reyers,

Santa Veronika,

Berikut ini adalah keterangan mengenai St. Veronika yang saya sarikan dari beberapa sumber, seperti New Advent Encyclopedia, Wikipedia dan Catholic Online:

St. Veronika adalah seorang wanita Yerusalem yang menyapu wajah Yesus dengan sepotong kain, pada saat Yesus memanggul salib-Nya ke Kalvari. Menurut tradisi, pada kain itu kemudian tercetaklah gambar wajah Yesus. Memang kisah tersebut tidak tertulis dalam Injil/ Kitab Suci, namun kisah tentang Veronika tersebut telah dikenal sejak jaman jemaat awal.

Nama “Veronika” sendiri merupakan nama Latin dari Berenice, sebuah nama Makedonia, yang artinya adalah “pembawa kemenangan”/ bearer of victory (menurut bahasa Yunani, phere- nike). Secara etimologis, asal katanya adalah sejati/ true (Latin: Vera) dan gambar/ image (Yunani: eikon).

Menurut Encyclopedia Britannica, kisah tentang St. Veronika adalah sebagai berikut:

“Eusebius dalam bukunya Historica Ecclesiastica (vii 18) mengisahkan bahwa di Kaisarea Filipi hidup seorang wanita yang disembuhkan oleh Kristus karena perdarahan (Mat 9:20). Kisah itu tidak dilengkapi dengan nama wanita yang disebutkan dalam Injil tersebut. Di Barat, wanita itu diidentifikasikan sebagai Martha dari Betania, di Timur ia dikenal dengan nama Berenike, atau Beronike, nama yang tertera di dalam naskah “Acta Pilati“, sebuah karya kuno di abad ke-4. Adalah menarik untuk menyimak bahwa permberian nama Veronika dari kata Vera Icon (eikon) “true image” berasal dari Otia Imperialia (iii 25) dari Gervase of Tilbury, yang mengatakan: “Est ergo Veronica pictura Domini vera.”

The Catholic Encyclopedia di tahun 1913, menambahkan:

“Kepercayaan tentang eksistensi gambar Kristus yang otentik itu terkait dengan legenda kuno dari Raja Abgar dari Edessa, dan tulisan apokrif yang dikenal dengan “Mors Pilati” (the Death of Pilate)….”

Menurut legenda, Veronika membawa kain dengan gambar wajah Yesus tersebut keluar dari Yerusalem, dan menggunakannya untuk menyembuhkan Kaisar Tiberius. Kain tersebut kemudian dibawa ke Roma di abad ke-8, dan dipindahkan ke basilika St. Petrus tahun 1297, atas perintah Paus Bonifasius VIII. Relikwi tersebut kini masih ada di sana, dan tindakan kasih St. Veronika diperingati dalam perhentian keenam dalam Jalan Salib.

Kisah St. Veronika disebut dalam penglihatan Sr. Marie of St. Peter, seorang biarawati Karmelit yang hidup di Tours, Perancis, yang memulai devosi kepada Wajah Kristus yang Suci. Sr. Marie mengatakan bahwa tindakan sakrilegi dan penghujatan kepada Tuhan dewasa ini menambahkan air ludah dan lumpur di wajah Yesus, yang diseka oleh St. Veronika pada saat Yesus memanggul salib-Nya. Menurut Sr. Marie, Kristus menghendaki devosi kepada wajah-Nya yang kudus, sebagai silih atas dosa sakrilegi dan penghujatan kepada Allah. Devosi ini disetujui oleh Paus Leo XIII di tahun 1885.

Demikian yang dapat saya tuliskan tentang St. Veronika.

Sebagai tambahan, memang perhentian 3,4,6,7 dan 9 dalam Jalan Salib yang kita kenal sekarang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Kitab Suci. Maka Paus Yohanes Paulus II pada hari Jumat Agung 1991 memperkenalkan devosi Jalan Salib berdasarkan Kitab Suci (Scriptural Way of the Cross), yang juga disetujui oleh Paus Benediktus XVI di tahun 2007. Tentu ini tidak dimaksudkan untuk membatalkan meditasi Jalam Salib yang sudah kita kenal. Jalan Salib menurut Kitab Suci ini dimaksudkan sebagai salah satu alternatif cara untuk merenungkan sengsara Kristus, dan devosi ini dapat pula dilakukan oleh umat Kristen non- Katolik.

Demikian urutannya:

1. Yesus berdoa di Taman Getsemani
2. Yesus dikhianati oleh Yudas dan ditangkap
3. Yesus dijatuhi hukuman oleh Sanhedrin
4. Yesus disangkal oleh Petrus
5. Yesus diadili oleh Pilatus
6. Yesus didera dan dimahkotai duri
7. Yesus memanggul salib-Nya
8. Yesus dibantu oleh Simon untuk memanggul salib-Nya
9. Yesus bertemu dengan para wanita di Yerusalem
10. Yesus disalibkan
11. Yesus menjanjikan Kerajaan-Nya kepada pencuri yang bertobat
12. Yesus mempercayakan Maria kepada Yohanes dan sebaliknya Yohanes kepada Maria.
13. Yesus wafat di salib
14. Yesus dimakamkan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Ingin pulang ke pangkuan Gereja Katolik

66

Pertanyaan:

Shalom pengasuh katolisitas.org…

Saya seorang Protestan yg tergerak untuk mencari segala sesuatu tentang Katolik, karena saya tidak mau menjadi Kristen Protestan karena orang tua saya (lahir sudah dibaptis di Gereja Protestan, dll), saya ingin mencari Gereja manakah yg dikehendaki Yesus, bukan kehendak saya pribadi..

Artikel demi artikel serta tanya-jawab saya baca melalui situs ini.
Saya yg tadinya tidak mengerti apa-apa tentang Bunda Maria, Magisterium Gereja, dan Tradisi Gereja, sekarang saya mengerti dan saya menyimpulkan (dari pertanyaan2 dari non-Katolik yg dapat dijawab dgn baik oleh tim Katolisitas) bahwa Gereja Katolik benar-benar memiliki iman yg kaya dan lengkap.

Saya pun akhirnya berniat untuk “pulang” kembali ke pangkuan Gereja Katolik.
tapi kalau boleh jujur masih ada beberapa hal yg mengganjal di hati saya.
Mohon maaf pertanyaan-pertanyaan saya berbeda-beda tema tetapi saya jadikan satu, karena saya bingung akan saya ketik/sampaikan di Katolisitas.org bagian yg mana.
Mohon maaf juga jikalau bahasa pertanyaan saya kurang tertata.
yg ingin saya tanyakan/share-kan adalah sbb:

1. (Dari artikel-artikel dan tanya-jawab) saya sangat memahami Iman Katolik yg kaya dan lengkap. Tetapi pernah terlintas di benak saya, mengapa teman-teman Protestan & Pentakosta demikian mencintai Yesus (yang menurut pandangan pribadi saya berdasarkan fakta) lebih dari teman-teman Katolik saya, didalam ibadah-ibadah, mereka menitikkan air mata, di keseharian mereka hanya ada satu nama: Yesus.
apakah hal ini dikarenakan Iman Katolik yg “terlalu kaya” sehingga nama Yesus sedikit banyak “kabur” oleh Bunda Maria mungkin, atau para Santo dan Santa, dll?
Saya merasa sungguh sayang karena Iman Katolik begitu lengkap tetapi kesan yg saya dapatkan Iman Katolik seperti agak sulit membuat umatnya mencintai dan mengandalkan Yesus.

2.Pertanyaan saya diatas semakin kuat ketika banyak saya lihat, rekan-rekan Katolik yg berpindah keyakinan menjadi Muslim, atau aktor, aktris dan pemain-pemain sepakbola (maaf jika terkesan melihat pihak tertentu, krn inilah yg dipublikasikan) yg berpindah dari Katolik ke Muslim. Saya mengerti jika kejadian ini hanya terjadi pada segelintir orang, tetapi ‘”kasus” penganut Katolik berpindah ke Muslim sangatlah banyak.
Saya malah sangat-sangat jarang mengetahui penganut Protestan/Pentakosta berpindah keyakinan mengkhianati Yesus.
Memang ini adalah tanggung jawab Gereja Katolik dalam membina umatnya, tetapi apakah Gereja Katolik tidak melakukan pencegahan sebelum hal-hal seperti ini terjadi. Karena jikalau sudah terjadi, sangat sedih jika jawabannya hanya “ini adalah tanggung jawab Gereja Katolik untuk….dst” karena semuanya telah menjadi bubur.
dalam hal ini Rahmat Tuhan sangat menentukan, tetapi tentunya Gereja termasuk didalamnya para Pastor secara tidak langsung turut bertanggung jawab atas umat yg digembalakan.

3. Mengenai doa, kapankah kita berdoa bersama Bunda Maria/Para Kudus, dan kapankah kita berdoa kepada Tuhan Yesus secara langsung?
Sebagai Protestan jujur sangat sulit berdoa bersama Bunda Maria dan Para Kudus, mungkin karena terbiasa berdoa langsung kepada Tuhan Yesus (mungkin ini yg membuat teman-teman Protestan & Pentakosta lebih erat dengan Yesus didalam hati mereka) tapi saya tetap belajar terus karena demikian yg diajakan Gereja Katolik.

4. Saya teramat kagum akan kesabaran tim Katolisitas.org, serta pengetahuan akan Sejarah Gereja dan lain-lain sehingga sering saya lihat di rubrik tanya-jawab, pihak non-Katolik kebanyakan kurang pengetahuan akan sejarah Gereja.
Saya menjamin, teman-teman Protestan saya pasti banyak tidak tahu mengenai perantaraan Bunda Maria yang penting, mereka tidak tahu pasti pendiri Protestan seperti Martin Luther sangat menghormati Bunda Maria, mereka jg pasti tidak tahu akan kebenaran adanya Api Penyucian, dan banyak hal lain yg dimiliki oleh Gereja Katolik. Itulah mengapa Gereja Katolik sangat kaya dan komplit.

tetapi kadang ketika saya berdiskusi dengan rekan Protestan saya, kadang saya merasa sungguh indah mereka hanya memiliki Yesus, mereka serahkan semuanya kepada Yesus, mereka menjadi pemandu pujian di gereja mereka semua untuk kemuliaan Yesus, tidak ada hal yg mengganggu hubungan mereka dengan Yesus.

Yang ingin saya tanyakan, pusat kita sebenarnya adalah Yesus, bagaimanakah pandangan Tim Katolisitas akan saudara-saudari Protestan yang kesannya lebih mencintai Yesus daripada rekan Katolik yg kebanyakan lebih melihat Bunda Maria, terbukti banyak orang juga yg mengunjungi goa-goa Maria, apakah para Pastor tidak khawatir kecintaan umat mereka pada Yesus akan “kabur’? karena kekaburan ini telah banyak saa jumpai.

Terimakasih banyak tim Katolisitas akan kesabaran dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan saya.

Sonny Ng.

Jawaban:

Shalom Sonny Ng,

Terima kasih atas sikap anda yang benar-benar ingin mencari kebenaran. Ini seharusnya juga menjadi tantangan bagi semua umat Katolik, untuk juga berani mempertanyakan dan mencari lebih dalam tentang apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Memang dalam mencari Gereja, pusatnya bukanlah diri sendiri, namun mencari Gereja manakah yang sebenarnya didirikan oleh Kristus. Kalau kita dapat menemukan Gereja yang didirikan oleh Kristus, maka sudah seharusnya kita harus masuk di dalamnya. Artikel yang menjelaskan tentang mengapa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus dapat dibaca di sini – silakan klik. Kerinduan anda untuk pulang ke Gereja Katolik bukanlah dialami oleh anda sendiri, namun juga dialami oleh begitu banyak pendeta-pendeta di Amerika serta banyak uskup, pastor dan umat dari Gereja Anglikan. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan atas pertanyaan-pertanyaan anda:

1. Iman dan perbuatan

Memang sungguh sangat disayangkan kalau sebagian dari umat Katolik yang telah masuk di dalam Gereja Katolik tidak menyadari akan kekayaan iman yang ada di dalam Gereja Katolik. Menjadi lebih sayang kalau seorang Katolik tidak dapat menerapkan hukum kasih di dalam kehidupannya sehari-hari. Ini menjadi tantangan bagi seluruh anggota Gereja, baik klerus maupun awam, agar evangelisasi tidak hanya dilakukan ke luar Gereja namun juga ke dalam Gereja. Evangelisasi baru ini telah didengung-dengungkan oleh Paus Yohanes Paulus II, Paus Paulus VI dan Vatikan II. Artikel tentang evangelisasi baru dapat dibaca di sini – silakan klik.

Kadang kita sering mengaitkan iman dengan perasaan. Tentu saja ada saat-saat di mana perasaan kita tersentuh akan kehadiran Tuhan dan kita dapat meneteskan air mata. Namun iman jauh lebih besar daripada perasaan (lihat artikel ini – silakan klik). Iman seseorang bukan diukur dari banyak air mata yang dicurahkan, atau dari banyaknya seseorang merasa dekat dengan Tuhan. Iman seseorang diukur dari sampai seberapa jauh seseorang mau menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi, atau dalam kata lain “ketaatan iman” (lih. Rm 16:26). Ketaatan iman inilah yang menyebabkan seseorang menampakkan buah-buah roh seperti yang disebutkan dalam Gal 5:22-23. Namun, tidak bisa dipungkiri ada sebagian dari anggota Gereja Katolik yang kurang menampakkan buah-buah Roh. Namun, kalau kita mau melihat agama yang benar, lihatlah dogma dan doktrinnya, kesetiaannya terhadap pondasi kebenaran, apa yang diinginkan oleh pendirinya, dan melihat anggota yang melaksanakan dogma dan doktrin. Kebenaran dari suatu agama tidak dapat diukur dari orang-orang yang tidak menjalankan ajaran dari agama tersebut. Jadi, kita tidak dapat menilai agama Katolik dari orang-orang yang tidak menjalankan iman Katolik, melainkan kita dapat menilainya dari orang-orang yang benar-benar menjalankan iman Katolik secara serius. Dan hal ini telah dibuktikan oleh para santa-santo dalam sepanjang sejarah Gereja Katolik. Lihatlah yang terberkati Bunda Teresa, yang mengasihi Tuhan dengan begitu luar biasa, yang dimanifestasikan dalam pelayanannya kepada sesama secara luar biasa.

Dari empat tanda Gereja, salah satunya adalah “kudus“. Klaim ini berdasarkan Kristus sebagai Kepala Gereja, yang membuat Tubuh Mistik Kristus menjadi kudus (lih. Ef 5:27). Walaupun Gereja Katolik adalah kudus, namun terdiri dari para kudus dan para pendosa. Para kudus membangun Gereja dari dalam dan para pendosa dapat menjadi batu sandungan. Oleh karena itu, menjadi satu tantangan yang berat, agar seluruh anggota Gereja dapat saling membantu dalam perjuangan untuk hidup kudus. Tantangan berat ini menjadi lebih berat karena dunia sekarang ini didominasi oleh sekularisme dan modernisme (lihat artikel ini – silakan klik). Dan tantangan dari dalam adalah bagaimana Gereja dapat melakukan evangelisasi secara lebih efektif, menyebarkan kepenuhan kebenaran iman Kristiani, dan menjadi saksi Kristus yang hidup, terutama dengan cara menunjukkan kehidupan kristiani yang otentik – yaitu berjuang dalam kekudusan. Dogma dan pengajaran tentang Maria serta para kudus tidaklah menjadi halangan bagi umat Katolik untuk mengasihi Kristus. Sebaliknya, kesadaran bahwa kita tidak sendirian dalam melakukan perjalanan iman – namun ditemani oleh Bunda Maria dan para kudus – memberikan kita kekuatan untuk semakin mengasihi Kristus dengan lebih lagi. Belajar dari Bunda Maria dan para kudus adalah belajar untuk mengasihi Kristus melebihi segalanya, karena itulah yang telah dibuktikan oleh Bunda Maria dan para kudus – yaitu mengasihi Tuhan dalam derajat yang luar biasa atau heroic.

2. Umat Katolik yang berpindah ke agama lain

Memang harus diakui bahwa ada yang berpindah dari Gereja Katolik ke agama lain. Namun pertanyaan yang harus diajukan adalah: apakah alasan dari perpindahan tersebut? apakah benar-benar pindah karena alasan kebenaran? apakah sebelum pindah mereka benar-benar mencari apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik? Tentu saja ada perlu dibenahi dari proses katekese, yang membuat ada sebagian umat dari Gereja Katolik yang berpindah ke agama lain. Walaupun untuk dibaptis di Gereja Katolik seseorang perlu belajar selama kurang lebih satu tahun, namun pembinaan iman yang terus menerus harus dilakukan. Seluruh jajaran Gereja, para pastor, para katekis, dan dan juga termasuk kita semua, seharusnya saling bahu membahu untuk melakukan proses evangelisasi: tidak semua dapat menjadi pengajar, namun semua dapat menjadi saksi Kristus yang hidup. Dengan demikian, kita dapat membawa orang kepada Kristus maupun membawa Kristus kepada orang-orang. Kenyataan dan tantangan ini bukan hanya dihadapi oleh Gereja Katolik, namun juga dihadapi oleh gereja-gereja non-Katolik.

3. Tentang doa kepada Yesus dan melalui Bunda Maria dan para kudus.

Secara prinsip, pertama kita harus menyadari bahwa bentuk penyembahan yang tertinggi, yang merupakan sumber dan puncak kehidupan kristiani adalah perayaan Ekaristi, karena Yesus sendiri menjadi yang dikorbankan dan mempersembahkan korban. Peristiwa Paskah Kristus (penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus) dihadirkan kembali di dalam waktu sampai akhir zaman. Dengan demikian, seorang Katolik yang baik seharusnya memfokuskan kehidupan spiritualnya pada Ekaristi, yang berarti secara total kepada Yesus. Namun, di luar Sakramen Ekaristi, banyak devosi – baik devosi kepada Bunda Maria maupun para santa-santo – yang bertujuan untuk membantu kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan sampai pada tujuan akhir kita, yaitu Sorga. Bunda Maria dan para santa-santo menyadarkan kita bahwa seluruh umat Allah – baik yang ada di dunia ini, di Api Penyucian dan di Sorga – dipersatukan oleh kasih Allah. Kita juga dapat belajar dari Bunda Maria dan para santa-santo, yang telah mengasihi Allah dengan begitu luar biasa. Hal ini sama seperti kita belajar dari kakak kelas kita, yang telah lulus sekolah dengan nilai yang begitu luar biasa. Kakak-kakak kelas dalam spiritual telah membuktikan diri mereka bahwa mereka telah melalui kehidupan di dunia ini – dengan penderitaan, sakit penyakit, kesulitan, dianiaya, dibunuh – namun tetap setia terhadap Kristus, karena mereka mengasihi Kristus melebihi diri mereka sendiri. Hal seperti ini akan memberikan inspirasi kepada kita dan akan membantu kehidupan spiritualitas kita. Cobalah anda baca beberapa riwayat para kudus. Tentang kapan kita berdoa bersama mereka, maka tergantung dari devosi yang kita ikuti. Kita berdoa bersama dengan Bunda Maria pada waktu kita mendaraskan doa rosario, doa Salam Maria, dll. Dan kita mengingat dan berdoa bersama St. Fransiskus dari Asisi ketika kita menyanyikan “Make me a channel of Your peace“. Namun, doa-doa tersebut justru mengarahkan kita kepada Kristus, karena para santa-santo tidak akan membiarkan doa-doa hanya berakhir pada mereka, karena mereka akan senantiasa membawanya kepada Kristus. Kalau kita percaya bahwa doa orang yang benar besar kuasanya (lih. Yak 5:16), maka Bunda Maria dan para kudus adalah orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah, yang berarti doa mereka mempunyai kuasa yang besar.

Diskusi tentang topik peran para kudus telah dibahas secara panjang lebar di beberapa diskusi ini – silakan klik (diskusi dengan Anton), diskusi dengan Esther dapat dilihat di sini – silakan klik dan diskusi dengan Machmud dapat dilihat di sini – silakan klik. Silakan membaca beberapa diskusi tersebut. Dan jika masih ada pertanyaan berkaitan dengan topik tersebut, silakan bertanya kembali.

4. Hanya Yesus?

Yang menjadi perbedaan antara Katolik dan non-Katolik dalam konsep perantaraan adalah Katolik melihat perantaraan Kristus sebagai sesuatu yang inklusif, yang melibatkan banyak orang. Dan ini ditegaskan oleh Rasul Paulus sendiri “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” (Kol 1:24). Kita semua dituntut untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus. Partisipasi ini tidak merampas kemuliaan Kristus, melainkan justru semakin memuliakan nama Kristus. Hal tersebut menunjukkan bagaimana seluruh bagian dari Tubuh Mistik Kristus menjalankan bagiannya untuk dapat saling membantu sehingga menuntun semua anggota kepada keselamatan. Selanjutnya tentang pengantaraan Kristus yang bersifat inklusif yaitu melibatkan anggota- anggota-Nya, silakan klik di sini.

Jadi, bersama dengan Bunda Maria dan para kudus, justru kita semakin dikuatkan untuk semakin mengasihi Kristus. Kalau kita tahu bahwa perjalanan ke Tanah Terjanji begitu sulit, maka sudah seharusnya kita sebanyak mungkin berkawan dengan orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah – Bunda Maria dan para kudus -, karena doa-doa mereka lebih baik dan mempunyai kuasa dibandingkan dengan doa-doa pendeta, pastor maupun keluarga kita. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan yang dekat dengan Bunda Maria dan para kudus serta menjalankan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tidak membuat mereka menjadi jauh dari Kristus, melainkan justru semakin mengasihi Kristus, seperti yang dicontohkan oleh yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta. Jadi, kalau anda mau, maka anda dapat meniru apa yang dilakukan oleh Bunda Teresa setiap hari, yaitu berdoa rosario. Diskusi tentang hal ini ada di sini – silakan klik.

Kalau umat Katolik menghormati Bunda Maria maka umat Katolik meniru apa yang dilakukan oleh Kristus sendiri, yaitu menghormati ibu-Nya. Kalau umat Katolik menghormati para kudus maka umat Katolik melihat teladan mereka yang mengasihi Kristus secara luar biasa dan mereka adalah kawan sekerja Allah (1Kor 3:9), yang berarti adalah kawan sekerja kita. Dengan demikian, penghormatan ini akan senantiasa berpusat pada Kristus. Kalau kita benar-benar mengasihi Kristus, maka kita juga harus mengasihi ibu-Nya dan mengasihi kawan-kawan-Nya. Dan kalau kita mau mengasihi Kristus secara keseluruhan, maka kita harus mengasihi Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja Katolik. Kalau ada umat Katolik yang terlihat masih kabur dengan pengertian ini, maka umatlah yang harus diberi penerangan lebih lanjut dan bukan dengan mengubah apa yang sudah benar. Namun, kembali harus ditekankan bahwa tidak ada bentuk doa atau pujian atau penyembahan yang lebih tinggi dari Sakramen Ekaristi. Paus Yohanes Paulus II dalam Ensikliknya Ecclesia de Eucharistia, mengatakan bahwa Ekaristi membangun Gereja. Karena Kristus yang menjadi fokus dari Ekaristi, maka umat yang semakin berakar pada Kristus maka dia akan semakin berfokus pada Kristus, yang pada akhirnya dapat mengasihi Kristus dengan lebih sungguh, dapat menyatukan seluruh kehidupannya dengan Kristus, dan dapat dengan setia menjalani kesulitan, penderitaan, sakit penyakit bersama dengan Kristus – karena dalam setiap perayaan Ekaristi dihadirkan kembali penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus. Dalam setiap perayaan Ekaristi dihadirkan kembali penderitaan Kristus yang membawa kebangkitan umat – yang menyatukan penderitaan mereka bersama dengan Kristus.

Demikianlah jawaban yang dapat saya berikan. Saya menyambut dengan gembira niat baik anda untuk masuk ke dalam pangkuan Gereja Katolik, atau mungkin lebih tepatnya adalah untuk kembali ke RUMAH! Nanti pada saatnya anda diteguhkan di Gereja Katolik, mohon untuk memberitahu kami, sehingga kami dapat turut bersukacita bersama dengan anda. Pada saat ini, kami hanya dapat mendoakan dan juga menyediakan diri kami untuk menjawab hal-hal yang ingin anda tanyakan sehubungan dengan iman Katolik.

Bolehkah menikahi pelacur?

13

Pertanyaan:

Syalom Ibu Ingrid

Agama kita melarang seseorang berbuat zinah, tapi bagaimana kalau ada laki-laki Katolik menikahi seorang pelacur boleh tidak ?

Saya pernah baca juga di Alkitab saya lupa dimana : bahkan Tuhan menyuruh seorang nabinya untuk mengawini seorang pelacur,untuk melahirkan anak-anak pelacur.
Juga Simson bahkan ber-ulang2 berbuat zinah dengan pelacur,namun Allah masih menyertai hidupnya, bahkan se-akan2 itu adalah kehendak Tuhan untuk menghancurkan bangsa Filistin (seperti yang tertulis di kitab Hakim-hakim).
Apakah sebab mereka hidup di zaman sebelum Yesus maka kawin dengan pelacur masih boleh, atau sampai sekarangpun seseorang masih boleh menikahi seorang pelacur,asal perempuan tsb menjadi seorang Katolik ?

Laras

Jawaban:

Shalom Laras,

1. Agama kita melarang zinah, tetapi bolehkah menikahi seorang pelacur?

YA, Kitab Suci melarang kita berbuat zinah (ada dalam perintah ke-6 dalam kesepuluh perintah Allah, Kel 20:14).

Nah,  tentang bolehkah seorang pria menikahi wanita pelacur, nampaknya jawabannya tidak sesederhana itu. Sebab jika sang pelacur itu sudah bertobat, dan sang pria itu sudah mengetahui keadaan wanita tersebut apa adanya, namun tetap dapat menerimanya, maka sang pria itu dapat saja menikahinya. Jadi dalam hal ini, perkawinan dapat dilakukan saat sang wanita telah berhenti menjadi pelacur.

Pertanyaannya,bagaimana jika sang wanita belum bertobat dan masih menjadi seorang pelacur? Jika ini keadaannya, sesungguhnya ia tidak siap sama sekali untuk menikah; sebab pernikahan menurut ajaran iman Katolik mensyaratkan kesetiaan suami istri yang total dan tidak melibatkan pihak ketiga (PIL/ WIL). Kesetiaan antara seorang suami dan seorang istri tersebut merupakan syarat multak dalam perkawinan Katolik, karena perkawinan menjadi gambaran akan hubungan kasih setia antara Kristus dan Gereja-Nya yang adalah Mempelai-Nya (dan Mempelai ini hanya satu).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) jelas mengajarkan:

KGK 1646 Dari kodratnya cinta Perkawinan menuntut kesetiaan yang tidak boleh diganggu gugat oleh suami isteri. Itu merupakan akibat dari penyerahan diri dalamnya suami isteri saling memberi diri. Cinta itu sifatnya definitif. Ia tidak bisa berlaku hanya “untuk sementara”. “Sebagaimana saling serah diri antara dua pribadi, begitu pula kesejahteraan anak-anak, menuntut kesetiaan suami isteri yang sepenuhnya, dan menjadikan tidak terceraikannya kesatuan mereka mutlak perlu” (Gaudium et Spes 48, 1).

KGK 1647 Alasan terdalam ditemukan di dalam kesetiaan Allah dalam perjanjian-Nya dan dalam kesetiaan Kristus kepada Gereja-Nya. Oleh Sakramen Perkawinan suami isteri disanggupkan untuk menghidupi kesetiaan ini dan untuk memberi kesaksian tentangnya. Oleh Sakramen, maka Perkawinan yang tak terceraikan itu mendapat satu arti baru yang lebih dalam.

2. Mengapa ada nabi- nabi Perjanjian Lama yang menikah dengan pelacur?

Kita harus selalu membaca Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru. Artinya  Perjanjian Lama (PL) tidak terlepas dari Perjanjian Baru (PB), dan cara memahaminya, adalah dengan melihatnya dalam konteks keseluruhan Kitab Suci. Kisah- kisah dalam PL harus dilihat dalam konteks rencana keselamatan Allah, yang memang disingkapkan secara bertahap. Ini terlihat juga dalam hal perkawinan. Sejak awalnya Tuhan menentukan perkawinan adalah antara satu orang pria dan satu orang wanita, dan keduanya menjadi satu daging (Kej 2: 24). Namun pada masa berikutnya, pada jaman patriarkh dan para nabi, poligami belum secara eksplisit dilarang;  perceraian dapat diberikan menurut hukum Musa, karena ketegaran hati orang- orang pada saat itu (lih. Mat 19:8). Oleh karena itu, Tuhan Yesus meluruskan ajaran tersebut sesuai dengan kehendak Allah sejak awal mula, yaitu tentang perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita, yang sifatnya eksklusif, dan tak terceraikan.

Nah, pada jaman para nabi, tepatnya pada jaman hakim- hakim Israel, ada salah seorang hakim yang bernama Simson. Simson menjadi seorang nazir Allah dan melalui dia, Allah merencanakan penghancuran bangsa Filistin (lih. Hak 13:5).

Dikatakan dalam kitab Hakim- hakim bahwa Simson tertarik kepada seorang gadis Filistin di Timna dan kemudian menikahinya. Selanjutnya dikisahkan adanya perkara yang disebabkan oleh istri Simson dan juga oleh ayahnya, yang mengakibatkan Simson membalas perlakuan mereka; dan bagaimana Allah menyertai Simson sehingga dapat mengalahkan orang- orang Filistin (lih. Hak 14 dan 15). Nah, pada Hak 16: 1, memang dikatakan demikian, “Pada suatu kali, ketika Simson pergi ke Gaza, dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia.” Di ayat itu disebut ‘perempuan sundal’/ atau bahasa aslinya zânâh. Namun kata ini selain dapat diartikan sebagai perempuan sundal/ harlot dapat juga diartikan sebagai seorang perempuan pemilik penginapan/ innkeeper, sebab kata zânâh tersebut dapat mengacu kepada dua arti tersebut (menurut Haddock’s Commentary on Sacred Scripture).

Jadi ayat ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa Allah menyuruh/ setuju dengan Simson untuk menikahi pelacur. Selanjutnya, seperti kita ketahui Simson jatuh cinta kepada seorang perempuan, yang bernama Delila yang kisah lengkapnya dapat kita baca di Hak 16 dan 17.

Ini berbeda dengan kisah Nabi Hosea, yang memang diperintahkan oleh Allah untuk menikahi seorang zânâh/ perempuan sundal, demi memberi pengajaran kepada bangsa Israel yang telah bersundal hebat dan berpaling dari Tuhan karena berhala- berhala mereka (lih. Hos 1:2). Maka perkawinan Nabi Hosea dengan Gomer ini tidaklah untuk diinterpretasikan terpisah dari maksud Allah untuk mengajar umat-Nya, yaitu walaupun umat-Nya tidak setia, Allah tetap setia. Oleh sebab itu Allah mengutus nabinya, Nabi Hosea, untuk menampakkan kasih setia Allah kepada umat-Nya, sama seperti Ia memerintahkan Hosea untuk tetap setia kepada Gomer istrinya.

Maka inti dari kitab Hosea tersebut adalah bahwa Allah memanggil bangsa pilihan-Nya untuk bertobat dari berhala mereka yang merupakan perbuatan sundal di hadapan Allah; sambil mengingatkan kepada mereka, bahwa jika mereka bertobat, Allah akan mengampuni mereka. Hal ini jelas disebutkan dalam Hos 14.

Dengan melihat makna ini, maka tidaklah benar jika seseorang menyimpulkan bahwa secara umum Allah memperbolehkan atau bahkan menyuruh seseorang menikah dengan pelacur. Karena yang terjadi pada kasus Hosea itu adalah kasus yang khusus, dan sungguh menuntut pengorbanan dan kelapangan hati dari pihak Nabi Hosea. Namun secara umum untuk semua orang, Allah tidak menghendaki hal tersebut. Ini terlihat bahwa Allah dengan jelas melarang perzinahan (lihat perintah 6 dan 9 dari kesepuluh perintah Allah, Kel 20: 14, 17).

3. Jadi, bolehkah kawin dengan pelacur?

Dengan melihat uraian di atas, maka menikahi pelacur yang belum bertobat bukanlah tindakan yang sesuai dengan perintah Tuhan. Jadi masalahnya di sini bukan apakah sang pelacur itu Katolik atau tidak. Sebab jika ia seorang Katolik yang taat, pastilah ia mau meninggalkan kehidupannya yang lama sebagai seorang pelacur, untuk hidup baru bersama Yesus -dengan pekerjaan yang lebih sesuai dengan ajaran iman Kristiani. Artinya jika ia seorang Katolik yang baik, ia tidak lagi mau hidup dalam dosa dengan bekerja sebagai pelacur. Baik untuk diingat adalah perkataan Yesus kepada perempuan yang berzinah itu, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11)

Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab