Home Blog Page 217

Karunia Roh Kudus dan manfaatnya

37

Kita perlu membedakan antara karunia- karunia Roh Kudus, dengan karunia- karunia karisma Roh Kudus.

1. Karunia- karunia Roh Kudus

Karunia- karunia Roh Kudus, itu ada tujuh, seperti yang disebut dalam Yes 11:2-3. Ketujuh karunia ini diberikan kepada kita pada waktu Pembaptisan, di mana melaluinya kita menerima Roh Kudus, dan mengambil bagian dalam hidup di dalam Kristus, yang memampukan kita untuk hidup sebagai anak- anak angkat Allah. Karunia- karunia ini kemudian menerima pertambahannya oleh karena rahmat Allah yang diberikan melalui sakramen- sakramen selanjutnya, terutama Krisma (Penguatan) dan Ekaristi, dan juga dalam doa- doa, permenungan akan Sabda Allah, dan juga melalui persekutuan doa di dalam komunitas umat beriman, seperti dalam acara SHBDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus).

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang karunia- karunia Roh Kudus, sebagai berikut:

KGK 1830 Kehidupan moral orang-orang Kristen ditopang oleh karunia-karunia Roh Kudus. Karunia ini merupakan sikap yang tetap, yang mencondongkan manusia, supaya mengikuti dorongan Roh Kudus.

KGK 1831 Ketujuh karunia Roh Kudus adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesalehan, dan rasa takut akan Allah. Dalam seluruh kepenuhannya mereka adalah milik Kristus, Putera Daud (Bdk. Yes 1-2). Mereka melengkapkan dan menyempurnakan kebajikan dari mereka yang menerimanya. Mereka membuat umat beriman siap mematuhi ilham ilahi dengan sukarela.
“Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata” (Mzm 143:10).
“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah … Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris; kita adalah ahli waris Allah dan rekan ahli waris Kristus” (Rm 8:14.17).

Jadi Katekismus mengajarkan bahwa karunia- karunia Roh Kudus membantu kita untuk menaati dorongan ilahi dalam diri kita, agar kita dapat hidup sebagai anak- anak Allah.

2. Manfaat karunia- karunia Roh Kudus: untuk menjadikan kita bahagia

Maka benar, bahwa jika Allah memberi karunia, pasti ada manfaatnya. Karunia- karunia Roh Kudus dimaksudkan Allah untuk menguduskan kita supaya kita dapat mencapai kebahagiaan yang sejati, yaitu kebahagiaan menurut Tuhan, dan bukan menurut manusia.

St. Agustinus dalam penjelasannya tentang khotbah di bukit (Delapan Sabda Bahagia) menghubungkan antara ketujuh karunia Roh Kudus (Yes 11:2-3) dengan ketujuh Sabda Bahagia tersebut (Mat 5:3-9), hanya urutannya terbalik. Nabi Yesaya menyebutkan karunia itu dengan urutan mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling sederhana, sedangkan Tuhan Yesus memberikan Sabda Bahagia mulai dari urutan yang paling sederhana sampai kepada yang paling tinggi. Dari tiap- tiap pasangannya, karunia Roh Kudus merupakan cara untuk mencapai Sabda Bahagia tersebut.

Demikian sekilas kutipan dari pengajaran St. Agustinus:

“Oleh karena itu, kelihatannya bagiku bahwa ketujuh karunia Roh Kudus yang disebutkan oleh Nabi Yesaya bertepatan dengan urutan- urutan ini. Namun demikian, urutannya berbeda. Di Kitab Yesaya, urutan bermula dari yang tertinggi, sedangkan dalam Sabda Bahagia, urutan dimulai dari yang ter-rendah. Dari Yesaya, dimulai dari karunia hikmat kebijaksanaan dan berakhir dengan karunia takut akan Tuhan. Tetapi ‘takut akan Allah adalah permulaan hikmat’. Maka, jika kita menanjak selangkah demi selangkah…., tingkatan pertama adalah takut akan Tuhan, kedua adalah kesalehan, ketiga adalah pengetahuan, keempat adalah keperkasaan, kelima adalah nasihat, keenam adalah pengertian dan ketujuh adalah kebijaksanaan. Takut akan Tuhan berkaitan dengan orang- orang yang rendah hati, yang kepadanya dikatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.” Ini maksudnya: Berbahagialah mereka yang tidak meninggikan diri, tidak sombong… jangan memuliakan diri sendiri. Kesalehan berkaitan dengan mereka yang lemah lembut, sebab jika seseorang dengan saleh menelaah Kitab Suci, dan tidak menyalahkan sesuatu hal yang belum ia pahami, ia menghormati Kitab Suci dan tidak melawannya. Ini adalah kelemahlembutan…. Pengetahuan berkaitan dengan mereka yang berduka cita. Orang-orang yang berduka adalah mereka yang setelah mempelajari Kitab Suci, menjadi paham akan betapa mereka telah dihindarkan dari kejahatan- kejahatan, yaitu segala kejahatan yang dulunya mereka pandang sebagai sesuatu yang baik dan berguna…. Keperkasaan berkaitan dengan mereka yang lapar dan haus, sebab mereka bekerja sambil menginginkan kegembiraan di dalam hal- hal yang sungguh- sungguh baik, dan mereka rindu untuk mengalihkan cinta mereka dari hal- hal yang sifatnya duniawi dan sementara…. Nasihat berkaitan dengan mereka yang berbelas kasihan, sebab satu- satunya obat untuk melepaskan diri dari kejahatan yang besar adalah untuk mengampuni seperti kita sendiri ingin diampuni dan untuk membantu orang lain ketika kita mampu, sama seperti kita ingin dibantu pada saat kekuatan kita sendiri tidak cukup …. Pengertian berkaitan dengan hati yang murni; ini berhubungan dengan mereka yang mempunyai mata yang bersih,….yang olehnya dapat dilihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, apa yang tidak dapat didengar oleh telinga, dan apa yang tak pernah terpikirkan dalam hati manusia (lih. 1 Kor 2:9)…. Kebijaksanaan berkaitan dengan para pembawa damai, sebab dengan pembawa damai segala sesuatu diletakkan dalam tempatnya yang layak, dan tak ada keinginan/ hasrat yang membangkang terhadap akal budi tetapi segalanya tunduk kepada roh manusia, sebab roh taat kepada Tuhan.” ((St. Augustine, Commentary on the Lord’s Sermon on the Mount, 1,4,11, trans. by Denis Kavanagh (Washington, DC: Catholic University of America Press, 1951), p.27-28))

Kaitan antara karunia Roh Kudus dengan Sabda Bahagia ini menunjukkan kepada kita bahwa maksud karunia Roh Kudus ini diberikan adalah supaya kita yang menerimanya mencapai kebahagiaan sejati.

3. Karunia- karunia karisma Roh Kudus.

Selain karunia- karunia Roh Kudus yang pertama- tama ditujukan untuk menguduskan diri orang yang menerimanya, ada juga yang disebut sebagai karunia- karunia karisma Roh Kudus, yang bertujuan untuk menguduskan jemaat/ Gereja (lih. 1 Kor 14:12). Karunia- karunia karisma ini dijelaskan oleh Rasul Paulus secara khusus di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus yaitu 1 Kor 12 dan 1 Kor 14. Di 1 Kor 12:8-10 dikatakan bahwa karunia- karunia karisma itu adalah: berkata- kata dengan hikmat, berkata- kata dengan pengetahuan, iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk mengadakan mujizat, karunia nubuat, membeda- bedakan roh, berkata- kata dengan bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh. Di 1 Kor 12:28, mungkin lebih jelas menurut urutannya, yaitu, yang tertinggi/ pertama adalah karunia sebagai rasul, sebagai nabi, sebagai pengajar, karunia melakukan mujizat, menyembuhkan, melayani, memimpin, dan untuk berkata- kata dalam bahasa roh. [Itulah sebabnya Gereja Katolik mengajarkan bahwa penilaian akan otentisitas suatu karunia karisma dan pengaturan-nya harus tunduk kepada karisma apostolik/ rasuli yang diberikan kepada Magisterium Gereja, agar karunia tersebut dapat diberdayakan di dalam kesatuan seluruh Gereja– (lihat Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 12)]. Di 1 Kor 14 kembali Rasul Paulus menyebutkan adanya karunia berkata- kata dalam bahasa roh, namun ia mengajarkan bahwa yang lebih penting adalah karunia untuk menafsirkannya (lih. 1 Kor 14:5,13) dan karunia nubuat untuk membangun, menasihati dan menghibur jemaat (lih. 1 Kor 14:3).

Menarik di sini untuk disimak bahwa antara 1 Kor 12 dan 1 Kor 14 adalah 1 Kor 13 yang mengajarkan tentang Kasih.  Jangan dilupakan bahwa Roh Kudus itu adalah Roh Kasih Allah Bapa dan Allah Putera. Sebab hubungan kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera menghembuskan Roh Kudus. Kasih adalah hakekat Allah, Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8), dan Roh Kudus adalah Roh Kasih itu. Maka, Nampaknya bukan kebetulan bahwa Rasul Paulus meletakkan perikop tentang Kasih di antara perikop yang mengajarkan tentang karunia- karunia karisma Roh Kudus ini. Rasul Paulus mau mengajarkan kepada kita bahwa di atas semua karunia itu, yang ter-utama dan terpenting adalah Kasih. Rasul Paulus jelas menyatakan bahwa Kasih adalah yang terutama, dalam 1 Kor 12:31, 1 Kor 13:13, dan 1 Kor 14:1. Kasih inilah yang mengingatkan bahwa jika kita diberi karunia- karunia Roh Kudus, jangan sampai kita menjadi tinggi hati dan sombong, atau menganggap diri lebih hebat dari yang lain. Sebab, “Kasih itu sabar, murah hati…. tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor 13:4). Kasih yang rendah hati ini membuat seseorang yang menerima karunia Roh Kudus semakin menginginkan persatuan dan kesatuan di dalam Gereja, dan tunduk kepada pengarahan dari Magisterium Gereja yang dipercaya oleh Kristus untuk mengatur penggunaan karisma untuk membangun Tubuh Kristus.

Konsili Vatikan II mengajarkan tentang karunia- karunia karisma Roh Kudus, demikian:

“Selain itu, tidak hanya melalui sakramen- sakramen dan pelayanan Gereja saja, bahwa Roh Kudus menyucikan dan membimbing Umat Allah dan menghiasinya dengan kebajikan- kebajikan, melainkan, Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaanya secara layak/teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).” (Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 12)

4. Karunia discernment/ membeda- bedakan roh

Sejauh yang saya ketahui, karunia membeda- bedakan roh (discernment) adalah penting, sebab dengan kemampuan kita membedakannya maka kita akan dapat mengetahui apakah suatu dorongan yang ada di dalam hati kita itu berasal dari Roh Kudus, dari si jahat atau dari diri kita sendiri. Dorongan yang berasal dari Roh Kudus selalu menghasilkan damai sejahtera, walaupun dapat saja terlihat sulit pada awalnya. Sedangkan dorongan yang berasal dari si jahat umumnya terlihat enak dan mudah pada awalnya, namun akhirnya tidak mendatangkan damai sejahtera.

Memang bagi seseorang yang sudah hidup diperbaharui di dalam Kristus, maka tidaklah terlalu sulit untuk membedakan hal yang baik dari yang buruk, sehingga tidaklah terlalu sulit untuk memilih satu di antara keduanya. Yang kemungkinan lebih sulit adalah untuk memilih satu keputusan dari antara dua atau lebih pilihan yang kelihatannya sama- sama baik. Untuk hal ini memang diperlukan karunia discernment untuk menentukan pilihan tersebut. Mungkin dalam hal ini, kita perlu belajar dari St. Ignatius dari Loyola, yang mengajarkan di dalam membuat keputusan, maka kita perlu memilih sesuatu yang mendatangkan kemuliaan lebih besar kepada Allah (for the greater glory of God/ ad maiorem Dei gloriam).

5. Bolehkah meminta karunia- karunia Roh Kudus?

Kitab Suci mencatat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan agar kita meminta Roh Kudus kepada Allah Bapa, “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; …. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:9-13). Maka tak salah jika kita memohon Roh Kudus dan memenuhi jiwa kita dengan rahmat dan karunia-Nya. Gereja memohon Roh Kudus juga dalam doa- doanya. Tentu kita ingat salah satu kidung pujian di Puji Syukur 565 yang dimulai dengan, “Datanglah, ya Roh Pencipta, hati kami kunjungilah, penuhi dengan rahmat-Mu, jiwa kami ciptaan-Mu.”

Dengan demikian, jika kita meminta Roh Kudus, dan ketujuh karunia-Nya itu adalah sesuatu yang baik, dan itu sesuai dengan kehendak-Nya; sebab sudah menjadi kehendak Tuhan agar kita dapat hidup kudus seperti Ia sendiri adalah kudus (Im 19:2; 1 Pet 1:16). Nah, karena kekudusan itu bertolak belakang dengan dosa, maka akibat yang paling langsung dari seseorang yang terkena jamahan Roh Kudus adalah ia semakin menyadari akan segala dosanya. Ini memang cocok dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, “Dan kalau Ia [Roh Kudus] datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman…” (Yoh 16:8). Maka selain membawa ketujuh karunia-Nya, jika Roh Kudus datang, Ia mengakibatkan pertobatan. Dengan demikian pertobatan dan ketujuh karunia Roh Kudus itu memang dapat, atau bahkan harus kita minta kepada Tuhan.

Namun demikian, dalam hal karunia karisma Roh Kudus, agaknya kita harus menyerahkannya ke dalam tangan Allah Bapa, sebab maksud utama pemberian karunia karisma tersebut adalah untuk membangun jemaat. Tuhanlah yang paling mengetahui apa kebutuhan jemaat-Nya dan bagian apa yang dapat kita lakukan untuk dapat turut membangun jemaat-Nya. Tuhan Yesus adalah Kepala Tubuh (Kol 1:18) dan yang menciptakan Tubuh itu; Ia yang paling memahami apakah yang dibutuhkan oleh anggota- anggota-Nya. Jika dipandangNya baik maka akan diberikannya kepada kita karunia- karunia karisma itu sesuai dengan kemampuan kita.

5. Karunia- karunia yang umumnya diberikan pada saat SHBDR

Dalam Seminar Hidup Baru dalam Roh, kita diajak untuk merenungkan kasih Allah dan bagaimana agar kita dapat hidup diperbaharui di dalam Roh Kudus. Maka umumnya karunia yang diterima oleh para peserta, pertama- tama adalah pengalaman dikasihi oleh Allah dan pertobatan. Jadi kelirulah motivasi mengikuti SHBDR jika yang “diincar” adalah karunia karisma Roh Kudus. Sebab yang lebih utama adalah pengalaman rohani bersama Allah yaitu mengalami secara nyata bahwa Tuhan itu mengasihi kita dan Ia mau mengampuni kita, sebab Ia mau agar kita hidup baru di dalam-Nya.

Hidup baru di dalam Roh ini dapat ditandai dengan diberikannya karunia bahasa roh. Sepanjang pengetahuan saya karunia bahasa roh ini sendiri terbagi menjadi dua macam, yaitu 1) karunia berdoa dalam bahasa Roh, sering dikenal juga sebagai karunia ’senandung dalam Roh’, 2) karunia berkata-kata dalam Roh, yang dapat ditafsirkan dan memberikan pesan rohani kepada umat (lih. 1 Kor 14:27). Hal ini telah disampaikan oleh Sr. Skolastika di sini, silakan klik.

Selanjutnya tentang apa itu bahasa Roh, silakan anda klik di sini.

Nah, sedangkan karunia- karunia karisma lainnya dapat diberikan oleh Allah sesudah seseorang diperbaharui di dalam Roh Kudus, dengan cara- cara tertentu sesuai dengan kehendak-Nya.

6. Apakah karunia- karunia karisma hanya dapat diperoleh di SHBDR?

Tidak. Kami mengenal beberapa orang yang menerima karunia berdoa dalam bahasa roh pada saat mereka berdoa sendiri (melalui doa- doa pribadi). Ada yang menerimanya saat Adorasi di hadapan Sakramen Maha Kudus, ada yang menerimanya pada saat berdoa rosario, ada yang melalui doa pribadi di gereja setelah Misa. Fr. Raniero Cantalamessa, pengkhotbah kepausan di Roma, menerima karunia bahasa roh pada saat mendoakan Ibadah Harian (the Liturgi of the Hour/ the Divine Office/ Doa Brevier), dan Mother Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network) memperoleh karunia bahasa roh ketika ia sedang membaca dan merenungkan Kitab Suci. Jadi walaupun umumnya seseorang dapat memperoleh karunia bahasa Roh dalam SHBDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus), namun tidak menutup kemungkinan diperolehnya karunia ini dalam doa pribadi.

Adapun karunia bahasa roh ini bukanlah segala- galanya yang seolah ‘harus’ diterima, sebagai tolok ukur apakah seseorang telah dijamah oleh Roh Kudus atau belum. Sebaliknya, yang menjadi tanda utama seseorang diperbaharui oleh Roh Kudus adalah pertobatan dan kasih, sebagai akibat dari pengalaman dikasihi oleh Tuhan dengan sedemikian hebatnya. Karunia bahasa roh- umumnya karunia berdoa dalam roh- adalah salah satu cara berdoa, yang memang dapat diberikan oleh Allah kepada kita, jika dipandang-Nya baik, terutama agar kita mengalami penggenapan ayat Rom 8:26-27, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.”

Namun demikian, kenyataan bahwa Tuhan tidak memberikan karunia bahasa roh kepada semua orang, bukan berarti bahwa Roh Kudus tidak bekerja di dalam mereka. Ada banyak orang yang mungkin tidak bisa berdoa dalam bahasa roh, namun hidup mereka jauh lebih kudus daripada mereka yang telah menerima karunia dalam bahasa roh. Ini sesungguhnya yang perlu menjadi permenungan bagi setiap orang yang sudah menerima karunia bahasa roh: “bagaimana agar hidupku lebih memancarkan kasih?” Sebab firman Tuhan mengatakan kasih itu adalah yang terutama dan terpenting daripada segala karunia- karunia yang lain.

Akhirnya, marilah kita pertama- tama memohon Roh Kudus, dan selanjutnya, mari kita percayakan kepada Tuhan, untuk memberikan kepada kita segala sesuatu yang dipandang-Nya baik bagi jiwa kita dan bagi seluruh anggota Tubuh-Nya.

Tentang Unitarianism

3

Pertanyaan:

ytk Bu Inggrid,

Apakah Ibu dapat menjelaskan sedikit tentang paham atau aliran universal unitarianism ? Apakah aliran ini juga menentang paham trinitas ataukah hanya ingin menyatukan semua aliran gereja dan agama ? Bgmn pendapat Ibu tentang John A. Buehrens yg banyak menulis buku2 yang berkaitan dengan paham tsb ?

andryhart

Jawaban:

Shalom Andryhart,

Berikut ini adalah penjelasan tentang aliran Unitarianism, yang saya sarikan dari New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, book 14, p. 413- 414:

1. Definisi dan ciri- ciri Unitarianism

Unitarian adalah mereka yang menolak doktrin Allah Trinitas dan yang berpegang bahwa tidak ada pembedaan Pribadi- pribadi di dalam Tuhan. [Dengan demikian, Unitarian tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan, sebab mereka menganggap bahwa hanya Bapanya Yesus saja yang adalah Tuhan]. Yesus hanya dianggap sebagai seorang yang genius secara spiritual, seperti para nabi bangsa Yahudi. Tuhan tidak dianggap sebagai Pribadi adikodrati yang Mahakuasa, namun hanya sebagai kekuatan kebaikan yang dapat dilihat dari kekuatan dan keindahan alam, hukum moral, dan kehidupan manusia.

Maka para Unitarian tidak mementingkan doktrin. Mereka menganggap yang terpenting adalah perbuatan, dan bukan ajaran/ “deeds not creeds“. Mereka beranggapan bahwa jika doktrin/ ajaran digunakan sebagai pintu masuk ke suatu komunitas tertentu, maka itu akan mempersempit makna kepercayaan tersebut. Unitarian menganggap bahwa doktrin religius hanyalah merupakan suatu pernyataan spekulatif terhadap masalah- masalah yang tidak relevan daripada komitmen pribadi akan hal-hal yang nyata. Akibatnya, dalam komunitas Unitarian, para pelayan ibadah bertugas untuk membangun gereja/ jemaat sebagai komunitas religius yang menjadi sarana pemuasan (fulfillment) bagi individu dan kehidupan sosial [dan bukan menjadikan jemaat sebagai sarana untuk membawa kepada keselamatan sebagaimana yang dinyatakan di dalam doktrin/ ajaran tersebut].

Dengan demikian para Unitarian tidak menolak tradisi, tetapi mereka tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang suci karena generasi sebelumnya menganggap demikian. Mereka menekankan keterbukaan terhadap apapun yang mereka pandang baik, entah dari Perjanjian Lama ataupun dari koran hari ini. Maka perbedaan pendapat di antara mereka, bukan saja dihormati tetapi malah disebut sebagai sumber pemahaman yang baru dan lebih baik.

Ciri lain dari Unitarianism adalah pemerintahan gereja secara demokratis, yang dikenal dengan sebutan, “congregational polity.” Maka gereja lokal dianggap sebagai gereja yang lengkap, yang segala keberadaan dan kuasanya tergantung dari suara anggota-anggotanya, dan semua urusan diatur menurut aturan yang disetujui. Tidak ada liturgi dalam ibadah mereka, yang ada adalah lagu pujian dan pembacaan Kitab Suci, doa dan khotbah yang dianggap utama.

2. Asal usul dan sejarah terbentuknya

Unitarianism umumnya dipahami sebagai hasil dari Reformasi Protestan di abad ke- 16, namun sebenarnya benih- benih prinsip Unitarian sudah ada di abad- abad sebelumnya, pada semua ajaran sesat di abad- abad sebelum Reformasi, yang menentang ajaran Trinitas, dosa asal, penebusan oleh Tuhan Yesus Kristus, Pengadilan Terakhir. Tokoh- tokohnya contohnya adalah: Michael Servetus (1553), Faustus Socinus (1539-1604), Franz David (1510-1579), John Biddle (1615-1652).

3. John A. Buehrens

John A. Buehrens adalah seorang Unitarian yang menjadi presiden/ pemimpin tertinggi Unitarian Universalist Association dari tahun 1993- 2001. Maka tak mengherankan jika ia mengarang/ menuliskan buku- buku tentang paham Unitarianism ini.

4. Tanggapan dari sisi iman Katolik

Ajaran Unitarianism yang menentang Trinitas, adalah ajaran yang menyimpang dari kebenaran Wahyu Allah yang dinyatakan di dalam Kitab Suci. Kitab Suci jelas mengajarkan kepada kita tentang ke- Allahan Yesus, yang pernah dibahas di artikel- artikel ini:

Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?
Kristus yang kita imani= Yesus menurut sejarah
Yesus Tuhan yang dinubuatkan para nabi
Inkarnasi adalah Imanuel, Allah beserta kita
Yesus sungguh Allah sungguh manusia

Sedangkan tentang Allah Trinitas, silakan klik di sini.

Nampaknya ada perbedaan prinsip di sini, para Unitarian menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang relatif, bisa berubah- ubah tergantung pandangan setiap orang, sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa yang namanya Kebenaran itu sifatnya harus obyektif dan tidak berubah dan tidak ada pertentangan di dalamnya, karena sumbernya Allah, yang tidak berubah dan tidak ada pertentangan di dalam-Nya. Menurut pandangan saya pribadi, konsep Kebenaran yang sifatnya obyektif ini lebih sesuai dengan akal sehat, sebab jika Kebenaran bisa berubah-ubah, sesungguhnya tidak layak disebut Kebenaran lagi. Atau dua hal yang bertentangan tidak mungkin dapat dikatakan keduanya benar. Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan Diri-Nya sebagai Kebenaran (Yoh 4:16) itu mengatakan bahwa Ia tetap sama, dulu, sekarang dan selamanya (lih. Ibr 13:8). Sebaliknya, pemahaman seseorang tentang sesuatu bisa berubah- ubah menurut selera dan latar belakangnya. Untuk hal yang sama, dua orang bisa mempunyai pandangan yang saling bertentangan, katakanlah satu mengatakan A dan yang lain B. Jika A arahnya ke kiri dan B ke kanan, tidak mungkin dapat dikatakan keduanya benar. Unitarian menganggap bahwa Yesus bukan Tuhan sedangkan umat Kristen lainnya, termasuk Katolik percaya bahwa Yesus itu Tuhan- walaupun Ia juga sungguh manusia. Sesungguhnya, dengan logika Unitarian sendiri, kedua pandangan ini dapat dikatakan sama- sama benar (karena mereka menganut Kebenaran yang bersifat relatif), tetapi lihatlah, bukankah ini malah bertentangan dengan prinsip ajaran Unitarian sendiri yang mengatakan bahwa mereka menolak (menganggap salah) ajaran tentang Trinitas, dan bahwa Yesus adalah Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa pola pikir Unitarianism ini yang menganggap kebenaran adalah sesuatu yang relatif, sesungguhnya ada di banyak aliran yang berkembang sekarang ini di mana- mana. Dengan pola pikir ini, mereka berpikir bahwa Kebenaran adalah sesuatu yang boleh dengan bebas diciptakan oleh manusia, dan bukannya sebagai Wahyu Allah yang diberikan kepada manusia melalui Kristus dan dilestarikan oleh para rasul dan para penerus mereka. Dengan pemikiran ini, keselamatan dipandang sebagai sesuatu yang dapat diusahakan sendiri oleh manusia (oleh perbuatan baik semata tanpa iman), dan bukan karena karunia Allah yang diberikan kepada manusia. Bukankah ini juga bertentangan dengan yang diajarkan oleh Kitab Suci (lih. Flp 2:8-9).

Pemikiran tentang Kebenaran yang sifatnya relatif inilah yang dianggap sebagai kesalahan di jaman modern, seperti yang pernah dibahas di dokumen ini (silakan klik di judul berikut):

Dominus Iesus
Penjelasan tentang Dominus Iesus

Demikian, semoga ulasan di atas berguna bagi kita semua. Semoga Roh Kudus membimbing kita agar kita dapat membedakan manakah ajaran yang berasal dari Tuhan, dan manakah yang berasal dari manusia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mengapa Yesus memanggil Bunda Maria, “perempuan”?

16

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus membahas: 1) Percakapan Yesus dan Maria di dalam Injil, 2) Yesus menghormati Maria dan 3) sebutan “perempuan” (woman) mempunyai makna yang begitu dalam.

I. Percakapan Yesus dan Maria dalam Injil

1. Yang pertama harus kita sadari adalah Injil ditulis untuk mewartakan Kristus, sehingga senantiasa berfokus pada Kristus. Kita tidak banyak menjumpai percakapan langsung antara Yesus dan Maria. Berikut ini adalah percakapan langsung mereka yang tertulis di dalam Injil:

Yoh 2:3-4: 3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” 4 Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu (woman)? Saat-Ku belum tiba.

Lk 2:48-49: 48 Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” 49 Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?

Yoh 19:26:  Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu (woman), inilah, anakmu!

2. Injil hanya merekam tiga percakapan langsung antara Bunda Maria dan Yesus. Dua diantaranya, Yesus memanggil Maria dengan sebutan “perempuan” /woman (lih. Yoh 2:4; Yoh 19:26) dan satu dengan sebutan “kamu” (lih. Lk 2:49).

Namun, apakah dengan demikian Maria tidak penting? Kita tidak dapat menyimpulkan demikian. Fakta bahwa Bunda Maria dipilih menjadi Bunda Kristus, Bunda Allah, maka Bunda Maria menduduki suatu tempat yang begitu istimewa untuk turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah.

II. Yesus menghormati Bunda Maria.

Kita hanya dapat mengatakan bahwa Yesus memanggil Bunda Maria dengan sebutan “perempuan” dan tidak pernah memanggil “ibu” adalah sejauh terekam di dalam Injil. Kita tidak pernah tahu apakah Yesus tidak pernah memanggil Maria dengan sebutan “ibu” selama 30 tahun ketika Yesus hidup bersama dengan Maria dalam satu atap. Kita tahu bahwa Yesus adalah anak yang baik, seperti yang terekam di dalam Injil, yang menuliskan “51  Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. 52  Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lk 2:51-52) Ini berarti Yesus hidup di bawah bimbingan Santo Yusuf dan Bunda Maria. Dan ketika Santo Yusuf meninggal, maka Maria harus membesarkan Yesus seorang diri.

Karena Tuhan yang terlebih dahulu memberikan perintah untuk menghormati ayah dan ibu dalam perintah ke-4 dari sepuluh perintah Allah, maka sudah seharusnya Yesus – yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia – memberikan teladan yang baik kepada umat-Nya, yaitu dengan menghormati orang tua-Nya di dunia ini – Santo Yusuf dan Bunda Maria. Kalau panggilan ibu demikian umum di masyarakat pada waktu itu, maka sungguh sulit dimengerti kalau Yesus tidak pernah memanggil ibu kepada Bunda Maria selama Dia tinggal selama 30 tahun bersama dengan Bunda Maria. Sungguh sulit dimengerti kalau sebutan “perempuan” dipandang kasar, namun terekam di dalam dua percakapan antara Yesus dan Bunda Maria. Kuncinya adalah, dalam bahasa Yunani dan Semitik, sebutan “perempuan” menyatakan suatu hubungan yang begitu dekat. (Dom Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture) dan mempunyai makna yang begitu dalam.

III. Sebutan “Perempuan” mempunyai makna yang begitu dalam.

1. Sebutan perempuan dilakukan di awal dan akhir dari karya umum Yesus.

Kalau kita perhatikan, perkataan “perempuan” yang dikatakan oleh Yesus dilakukan pada mukjizat yang pertama di Kana dan kejadian terakhir sebelum Yesus wafat di kayu salib. Ini seperti suatu tanda bahwa sebutan perempuan ini adalah merupakan awal dan akhir dari pewartaan dan karya Kristus kepada umat-Nya. Pada waktu Yesus berkata kepada Maria “Mau apakah engkau daripada-Ku perempuan (woman), saat-Ku belum tiba“, maka Yesus ingin menekankan bahwa mukjizat ini akan membawa Yesus kepada misi keselamatan yang akan berakhir di kayu salib. Dengan mukjizat ini, maka orang-orang akan mulai tahu bahwa Yesus adalah seorang Mesias. Rasul Yohanes menuliskan “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (Yoh 22:11). Misi Kristus menjadi seorang Mesias berakhir pada peristiwa penyaliban Kristus. Dan di kayu salib ini, sebelum Dia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir, Dia kembali menyebut Maria dengan kata “perempuan”. Dengan demikian, sebutan perempuan ini bukanlah tanpa arti.

2. Sebutan perempuan merujuk kepada hawa.

Kita mengingat akan apa yang dikatakan oleh Tuhan kepada ular (setan) di taman Getsemani “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini (the woman), antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). Pada saat perjamuan di Kana, maka perkataan “perempuan” adalah merupakan suatu gambaran bahwa ini adalah perempuan yang dijanjikan oleh Tuhan sejak awal penciptaan. Dan hal ini dipertegas, ketika Yesus mengatakan kata yang sama – perempuan – kepada Bunda Maria ketika Yesus tergantung di kayu salib. Perempuan inilah yang menjadi musuh dari ular, karena dia telah membawa Sang Penebus ke dunia. Dan keturunannya – Yesus – diremukkan lutut-Nya, yaitu dengan menderita dan mati di kayu salib. Namun, dengan penderitaan dan kematian-Nya, maka Yesus meremukkan kepala Setan, yaitu meruntuhkan dominasi dosa, dan meruntuhkan kerajaan kegelapan dan menggantinya dengan Kerajaan Terang – di mana Kristus menjadi Raja untuk selama-lamanya.

Kita juga melihat di Rm 5:14-19 bahwa Kristus adalah Adam kedua. Karena dosa Adam maka maut masuk ke dunia dan karena ketaatan Kristus – Adam kedua, maka kasih karunia berlimpah kepada umat manusia. Hal yang sama, ketidaktaatan Hawa dilepaskan dengan ketaatan Hawa kedua, yaitu Bunda Maria. Hal ini juga dituliskan oleh beberapa Bapa Gereja berikut ini:

Christ became man by the Virgin that the disobedience which issued from the serpent might be destroyed in the same way it originated. Eve was still an undefiled virgin when she conceived the word of the serpent and brought forth disobedience and death. But the Virgin received faith and joy, at the announcement of the angel Gabriel…and she replied, “Be it done to me according you your word”. So through the mediation of the Virgin he came into the world, through whom God would crush the serpent.” (Saint Justin Martyr, Apologia, ch. 100; 150 AD).

The seduction of a fallen angel drew Eve, a virgin espoused to a man, while the glad tidings of the holy angel drew Mary, a Virgin already espoused, to begin the plan which would dissolve the bonds of that first snare…For as the former was lead astray by the word of an angel, so that she fled from God when she had disobeyed his word, so did the latter, by and angelic communication, receive the glad tidings that she should bear God, and obeyed his word. If the former disobeyed God, the latter obeyed, so that the Virgin Mary might become the advocate of the virgin Eve. Thus, as the human race fell into bondage to death by means of a virgin, so it is rescued by a virgin; virginal disobedience is balanced in the opposite scale by virginal obedience” (St. Irenaeus of Lyons, Against Heresies, Book 3, ch XXII, par. 4; 189 AD).

Likewise, through a Virgin, the Word of God was introduced to set up a structure of life. Thus, what had been laid waste in ruin by this sex, was by the same sex re-established in salvation. Eve had believed the serpent; Mary believed Gabriel. That which the one destroyed by believing, the other, by believing, set straight.” (Tertullian, The Flesh of Christ 17:4; 210 AD)

(The Lord) was not averse to males, for he took the form of a male, nor to females, for of a female he was born. Besides, there is a great mystery here: that just as death comes to us through a woman, Life is born to us through a woman; that the devil, defeated, would be tormented by each nature, feminine and masculine, as he had taken delight in the defection of both” (St. Augustine, Christian Combat 22:24; 396 AD).

IV. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, maka kita dapat melihat bahwa sebagai Putera Allah, Yesus sungguh sangat menghormati Maria IbuNya, karena Allah sendiri yang memerintahkan manusia untuk menghormati orang tuanya (perintah 4 dari 10 perintah Allah). Ini berarti setiap tindakan Yesus tidak akan mempunyai implikasi bahwa Dia tidak menghormati Bunda-Nya, termasuk ketika Yesus memanggil Bunda Maria dengan sebutan “perempuan”. Ini bukanlah tanda kurang hormat, bahkan sebaliknya merupakan tanda hormat dan kedekatan, dan yang terpenting mempunyai makna yang begitu dalam – baik sebagai pembuka dan penutup dari karya keselamatan Kristus kepada umat-Nya, maupun sebagai gambaran akan Hawa ke-dua, yang bekerjasama dengan Adam ke-dua – yaitu Kristus – untuk membawa keselamatan bagi seluruh manusia. Semoga kita akan semakin meniru teladan Kristus, yaitu menghormati Bunda-Nya. Kalau Maria dianggap baik sebagai Bunda-Nya, maka itu sudah menjadi alasan yang cukup bagi kita untuk menghormati dan mengasihi Bunda Maria.

Pesan Prapaskah 2011 untuk para Imam

3

Oleh: Kardinal Mauro Piacenza
Prefek Kongregasi Untuk Imam

Saudara-saudara yang terhormat,

Masa rahmat ini, yang diberikan kepada kita untuk kita hayati, memanggil kita untuk sebuah pertobatan yang baru. Pelayanan imamat  selalu baru, dan melalui karunia imamat ini, Tuhan Yesus dibuat hadir dalam hidup kita dan, melalui hidup kita, dalam kehidupan semua orang.

Pertobatan, bagi kita para imam, lebih dari semuanya, berarti menyesuaikan hidup kita secara lebih dekat dengan pewartaan yang kita tawarkan setiap hari kepada umat, menjadikan diri kita  dengan cara ini ‘secarik Injil yang hidup’ yang bisa dibaca dan disambut oleh setiap orang. Dasar dari sikap ini, tanpa ragu lagi, ialah pertobatan jati diri kita sendiri: Kita mesti mengembalikan diri kita kepada jatidiri kita! Jatidiri itu, yang disambut dan diterima secara sakramental dalam kemanusiaan kita yang rapuh, menuntut peneguhan yang progresif dari hati, pikiran, perilaku kita terhadap setiap hal, bahwa kita  berada dalam citra Kristus Sang Gembala Baik yang secara sakramental telah dimeteraikan dalam diri kita.

Kita mesti memasuki Misteri-Misteri yang kita rayakan, teristimewa Ekaristi Suci, dan membiarkan diri kita dibentuk olehnya. Dalam Ekaristi itulah, imam menemukan kembali jatidirinya yang sejati. Di dalam perayaan Misteri Ilahi itulah, imam dapat menangkap penglihatan tentang  ‘bagaimana’ menjadi gembala dan ‘apa’ yang perlu untuk benar-benar saling melayani.

Dunia yang sedang mengalami “pemerosotan hidup kristiani” ini menuntut  evangelisasi baru; namun sebuah evangelisasi baru, menuntut imam-imam yang ‘baru’ pula.  Bukan imam dalam arti dangkal seperti halnya mode yang segera berlalu, namun dalam arti hati yang seluruhnya diperbarui oleh setiap Misa Kudus, diperbarui oleh cinta Hati Kudus Yesus, Sang Imam dan Gembala Baik.

Terutama yang mendesak ialah pertobatan dari kebisingan menuju ke keheningan, dari kebutuhan yang serba gelisah untuk berbuat sesuatu, menuju ke hasrat untuk bertahan tinggal bersama Yesus, ambil bagian secara lebih sadar dengan keberadaan-Nya.  Setiap tindakan pastoral haruslah selalu merupakan gema dan perluasan dari  apakah hakikat imam itu! Kita mesti mengembalikan diri kita kepada paguyuban/Komunitas, menemukan kembali apakah sebenarnya paguyuban/komunitas itu:  yakni paguyuban/komunitas bersama  Allah dan Gereja dan kebersamaan satu sama lain.

Komunitas gerejawi secara mendasar ditandai dengan sebuah hati nurani yang diperbarui, yang menghidupi dan mewartakan ajaran yang sama, tradisi yang sama, sejarah orang-orang kudus yang sama, serta Gereja yang sama. Kita dipanggil untuk menghayati masa Prapaskah dengan kesadaran gerejawi yang mendalam, menemukan kembali keindahan berada dalam sekelompok umat yang sedang berziarah, yang di dalamnya termasuk semua   imam tertahbis dam semua umat di mana mereka  melihat gembala mereka sendiri sebagai contoh acuan yang aman dan  sebagai kesaksian yang diperbarui dan bercahaya.

Kita harus menghadapkan kembali hidup harian kita pada pengorbanan Kristus di kayu salib. Kristus membuat Keselamatan kita menjadi dimungkinkan dan berdaya guna melalui pertukaran-Nya  yang sempurna.  Dengan cara yang sama, setiap Imam, Kristus Yang Lain, dipanggil sebagaimana para kudus yang mulia, untuk menghayati langsung misteri pertukaran ini dalam semua pelayanan khususnya ketika dengan setia bersama umat  merayakan Sakramen Rekonsiliasi. Sakramen ini diberikan untuk kita sendiri, dan dengan murah hati ditawarkan kepada setiap orang, dengan disertai bimbingan rohani, sedemikian rupa sehingga dalam mempersembahkan hidup harian, kita memulihkan dunia dari dosa. Suasana tenang, peniten, imam-imam di hadapan Sakramen Mahakudus  memberikan cahaya kebijaksanaan injili dan gerejawi untuk situasi masa kini yang  menantang iman kita. Dengan cara ini, para imam mampu menjadi nabi-nabi, yang pada gilirannya, meluncurkan ke  dunia, satu-satunya tantangan nyata: bahwa Injil memanggil kita kepada pertobatan.

Kadang-kadang kelelahan benar-benar berat dan kita merasakan ketidakberdayaan di hadapan kebutuhan Gereja. Namun jika kita tidak bertobat, kita akan selalu tak berdaya, karena hanya seorang imam yang diberbarui, dipertobatkan,  imam yang ‘baru’, bisa menjadi alat yang dengannya Roh Kudus memanggil imam-imam baru lainnya.

Kepada Santa Perawan Maria, Ratu Para Rasul, kita memercayakan perjalanan masa prapaskah ini. Seraya memohon Kerahiman Ilahi, didasarkan pada teladan Bunda Surgawi semoga hati imamat kita akan menjadi “Pengungsian para Pendosa”.

Penerjemah: Rm Yohanes Dwi Harsanto Pr

Tentang liturgi stasional

12

Pertanyaan:

Tentang Liturgi Stasional menyangkut sejarah lahirnya buku misa atau misale romawi. Awalnya liturgi itu dibawakan spontan walaupun ada kerangka ritual yang baku namun sebagai teks lengkap belum ada. Baru sekitar 215 ada teks liturgi dari St. Hypolitus, dalam “Tradisi Apostolik”nya. Namun saya kira belum menjadi teks baku yang digunakan oleh seluruh Gereja, setiap gereja, wilayah atau keuskupan memiliki teks sendiri², baru upaya menyatuan itu di jaman Charle Magna, ketika dia berusaha menyatukan teks baku liturgi di wilayah kekaiserannya, dengan mengadopsi berbagai ritus, baik itu dari Roma maupun dari tempat lain. Teks atau ritus dari Roma (liturgi Paus) inilah apa yang disebut LITURGI STASIONAL, mulai dari abad 6, yakni liturgi yang digunakan Paus untuk mengadakan misa di setiap gereja, paroki, basilik di Roma dalam jadwal tahunannya dan terkhusus lagi dalam masa prapaskah. Jadwal keliling Paus (berurutan) di gereja² (paroki) di Roma itulah yang disebut stasi (jadi beda dengan istilah stasi di Indonesia, mungkin cikal-bakal kali). Model yang sama juga diadopsi di Yerusalem dan Konstantinopel (atau mungkin sebaliknya Roma yang mengadopsi dari Yerusalem?). Yang menjadi pertanyaan saya, apakah liturgi stasional ini sama dengan liturgi yang ada di paroki² atau gereja² yang ada saat itu (liturgi harian atau mingguan yang ada di paroki)? Kalau beda, apa perbedaannya? Dan bagaimana penjelasan lebih lanjut tentang hal ini?

Terima kasih dan salam – Phiner

Jawaban:

Salam Phiner,
Tentang liturgi stational:
Menyangkut sejarah lahirnya buku misa, sesudah masa Hypolitus, ada gereja-gereja (titulus: dengan nama pelindung tertentu, pernah disebut sekitar 25 tituli, dan statio: yang biasanya menjadi tempat perayaan paus di Roma pada hari minggu dan hari raya, berpindah-pindah menurut tradisi ada 7) yang mempunyai kebiasaan menyiapkan (menulis) teks (doa-doa pemimpin dan tata perayaan) liturgi (khususnya Ekaristi) dalam bentuk leaflet (libellus). Kebiasaan menulis libellus ini (baik di gereja titulus maupun di gereja statio) dimulai akhir abad III lalu menjadi lebih marak pada abad IV dan V. Sekitar abad VI dikumpulkan libelli dari  berbagai tutuli dan statio di Roma menjadi satu buku doa liturgi yang disebut Sacramentarium Leonianum atau Sacramentarium Veronense. Teks dalam kumpulan Sacramentarium Veronense ini menjadi sumber untuk menyusun doa-doa liturgi resmi kepausan dalam bentuk buku Sacramentarium Gelasianum yang dicanangkan sebagai buku liturgi resmi kepausan. Inilah buku liturgi resmi pertama, kemudian menyusul Sacramentarium Gregorianum (Hadrianum dan Paduense) dan Sacramentarium Gallicanum. Mengenai liturgi stational, sebetulnya adalah perayaan liturgi (Ekaristi) di salah satu gereja statio yang dipimpin oleh Paus, dimulai dengan berkumpulnya umat beriman di salah satu gereja lain (titulus atau statio), di sana mereka berdoa sebagai satu persekutuan beriman (collecta) lalu berarak bersama-sama sambil menyanyi/berdoa menuju gereja (statio) tempat Paus memimpin perayaan. Di tempat perayaan ini dibuat bacaan, homili dan persiapan persembahan, Doa Syukur Agung, komuni. Pada waktu pemecahan hosti kudus, Paus membagi sejumlah potongan hosti yang diberi kepada akolit-akolit untuk dibawa ke gereja-gereja statio lain yang Ekaristinya dipimpin seorang imam. Potongan hosti itu diterima imam pemimpin dan memasukkan/mencampurnya dengan anggur kudus (darah Kristus) sebagai lambang persatuan umat di statio itu dengan Paus dan umat yang merayakan Ekaristi di  lain. Kini di Roma masih dibuat liturgi stational itu seperti pada pada masa prapaskah, dengan perarakan ke gereja statio tempat perayaan kepausan, tetapi tanpa pengiriman potongan hosti kudus ke tempat-statio lain. Pencampuran potongan hosti kudus dengan anggur darah Kristus dilakukan di tempat perayaan kepausan. Istilah stasi yang kita gunakan sekarang di Indonesia berarti suatu wilayah tertentu yang mempunyai gereja/kapela di mana biasaya dirayakan ibadat sabda tanpa Ekaristi, karena umumnya Ekaristi dirayakan imam di pusat paroki. Ekaristi di pusat paroki atau di stasi biasanya dirayakan dengan perarakan masuk singkat, dan pencampuran pecahan hosti kudus dilaksanakan di tempat imam merayakan Ekaristi. Dengan demikian menjadi agak jelas perbaandingan antara liturgi stational dan liturgi di paroki atau ibadat di stasi-stasi dewasa ini.

Salam dan doa. Gbu.
Rm Boli.

Serba-serbi karya kerasulan Katolik melalui media internet

1

Pertanyaan:

Salam damai dalam Kristus,
Perkenalkan, saya F. Yuswanto. Saya adalah seorang calon imam untuk Keuskupan Malang. Saat ini saya sedang menjalani pendidikan strata 1 di STFT Widyasasana, Malang dan kini tengah menyusun sebuah skripsi tentang berketekese di media internet.

Maksud dan tujuan saya mengirim pesan ini adalah ingin mendapat beberapa informasi mengenai pengelolaan website yang membawa pewartaan iman katolik pada umat. Melalui surat ini, kiranya saya diperbolehkan untuk mendapat beberapa informasi mengenai kekuatan, peluang, hambatan, dan tantangan dalam mengelola web rohani Katolik. Informasi yang saya butuhkan berupa pengalaman nyata ataupun keluh kesah dalam membangun dan mengelola web rohani katolik.

Semoga dengan pengalaman yang diberikan, saya bisa mendapatkan beberapa masukan untuk menjadikan skripsi saya ini menjadi skripsi yang bisa diterima untuk umat di masa kini, dan nantinya berguna untuk perkembangan gereja Katolik di masa yang akan datang.
Atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih.
Tuhan Memberkati – Fr. Yuswanto.

Jawaban:

Shalom Frater Yuswanto,

Terima kasih atas topik diskusi yang menarik ini. Dan kami juga berterimakasih kepada frater yang telah mengatakan “ya” terhadap panggilan Tuhan untuk menjadi imam-Nya. Dan semoga frater senantiasa setia terhadap panggilan ini sampai menjadi imam dan terus berkarya sebagai imam untuk selamanya. Doa kami menyertai perjalanan frater. Saya tampilkan pesan ini di website, sehingga kalau ada pengunjung yang juga mengelola website Katolik juga dapat memberikan masukan.

1. Kekuatan

Kekuatan dari evangelisasi melalui internet adalah: 1) jangkauan, 2) dapat diakses kapan saja dan dimana saja, 3) membangun komunitas. Website Katolik mempunyai kekuatan karena mempunyai jangkauan yang luas, bahkan seluruh dunia sejauh tempat tersebut dapat dijangkau internet. Dan jangkauan yang luas ini dapat mengakses informasi kapan saja dan dimana saja. Dengan demikian, media ini menjadi begitu fleksibel bagi begitu banyak orang. Fleksibilitas ini ditambah dengan kemampuan untuk mengakses informasi yang sama berulang-ulang tanpa batas. Dan informasi ini juga dapat dibagikan dengan mudahnya. Belum lagi kalau website Katolik juga dilengkapi dengan fasilitas pencarian, sehingga pengunjung dapat mencari informasi secara cepat dan akurat.

Kekuatan-kekuatan di atas ditambah dengan kekuatan dari pengunjung website yang dapat membentuk komunitas, baik secara virtual maupun dimanifestasikan secara nyata. Komunitas yang terbentuk akan menjadi komunitas yang mempunyai warna yang sesuai dengan visi dan misi dari website Katolik tersebut. Dengan demikian, evangelisasi dengan media internet sungguh sangat efektif. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus senantiasa menekankan pentingnya internet sebagai sarana untuk menyebarkan kabar gembira.

2. Peluang

a. Ekspansi internet yang begitu pesat di seluruh dunia termasuk di Indonesia adalah merupakan peluang untuk melakukan evangelisasi. Kalau kita melihat data dari internetworldstat.com – silakan klik, maka kita dapat melihat perkembangan yang begitu pesat dari pengguna internet, dari 16 juta (tahun 1995) atau 0,4% menjadi 1,971 milyar atau menjadi 28,8% dari jumlah populasi dunia.

b. Indonesia mengalami peningkatan terbesar dan tercepat di pasar online, meningkat dari 22% di tahun 2009 ke 48% di tahun 2010. (lihat study Net Index 2010). Dengan demikian, internet menjadi sarana yang efektif untuk menjangkau orang-orang Indonesia.

c. Perkembangan jumlah pemakai internet secara global dan lokal membuka kesempatan untuk melakukan penginjilan atau evangelisasi melalui media internet ini.

d. Jumlah umat Katolik di Indonesia hanya sekitar 3%. Penginjilan lewat internet menjadi peluang yang baik untuk memaparkan pengajaran Gereja Katolik.

3. Hambatan dan tantangan

a. Karya kerasulan harus mengalir dari cinta kita kepada Kristus dan Gereja-Nya

Menjadi tantangan bagi orang-orang yang terlibat dalam semua karya kerasulan untuk dapat terus berfokus pada Kristus. Karya Kerasulan adalah merupakan manifestasi atau buah dari kasih kita kepada Kristus dan Gereja-Nya. Tanpa dasar kasih ini, maka semua karya kerasulan tidak mempunyai jiwa dan lama kelamaan akan mati. Oleh karena itu, kehidupan spiritual dari orang-orang yang terlibat dalam karya kerasulan ini sangat penting. Ini juga sebabnya, dukungan doa bagi orang-orang yang terlibat dalam karya kerasulan ini menjadi begitu esensial, karena doa seharusnya menjadi kekuatan dari semua karya kerasulan Katolik.

b. Warna dari situs dan tunduk terhadap Magisterium Gereja

Tantangan pertama adalah menentukan warna dari situs yang ingin dibentuk. Seorang yang ingin memulai karya kerasulan lewat website, dia harus tahu informasi yang ingin disampaikan, seperti: apakah hanya sekedar memberikan renungan, memaparkan iman Katolik, membuka dialog dengan umat dari satu iman atau lain iman, dll. Ini semua akan menentukan siapa saja harus terlibat dalam karya kerasulan ini. Warna dari situs adalah sama seperti “positioning” dalam marketing, yang pada akhirnya juga berhubungan dengan siapa pembaca yang ingin dijangkau.

Namun, apapun penekanan yang ingin diberikan dalam situs Katolik, namun menurut saya, situs Katolik harus mampu untuk merefleksikan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Ini berarti dibutuhkan kerendahan hati dan tunduk terhadap Magisterium Gereja yang telah diberika kuasa oleh Kristus sendiri (lih. Mt 16:16-19). Dengan demikian, situs Katolik tersebut mempunyai derap langkah yang sama dengan Gereja Semesta (Universal Church) dan juga Gereja lokal (Particular Church).

b. Konsistensi

Seseorang dapat memulai website dalam 10 menit. Namun, dibutuhkan konsistensi untuk secara terus-menerus mengupdate isi dari situs tersebut. Tanpa adanya informasi yang baru, maka pengunjung tidak akan mengunjungi lagi situs tersebut. Belum lagi ditambah dengan perlunya ditambah fasilitas-fasilitas baru di dalam situs, sehingga tidak tertinggal dengan teknologi yang terus berkembang. Ini berarti diperlukan sumber daya yang mempunyai kemampuan yang baik dalam teknologi.

c. Siapa yang terlibat

Selain juga pengunjung yang turut aktif berpartisipasi dalam diskusi, apa yang ditampilkan di dalam situs adalah tergantung dari orang-orang yang terlibat dalam karya kerasulan ini. Orang-orang yang terlibat di dalamnya harus mempunyai visi dan misi, sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan mendasar dalam hal teologis. Hal ini menjadi penting, sehingga warna dari situs Katolik tersebut dapat tetap terjaga konsistensinya.

d. Dukungan dana

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap karya kerasulan untuk mewartakan Injil diperlukan dukungan dana, termasuk karya kerasulan lewat media internet. Menjadi tantangan tersendiri untuk mendapatkan dukungan finansial, mengingat bahwa sumbangan umat Katolik untuk mendukung karya-karya evangelisasi masih sangat minim dibandingkan dengan dukungan untuk karya-karya kasih, seperti: panti asuhan, panti jombo, pendidikan, rumah sakit, dll.

Itulah yang dapat saya bagikan secara garis besar tentang karya kerasulan lewat media internet. Komentar-komentar dari pembaca dapat anda baca di buku tamu – silakan klik dan juga partisipasi dalam karya kerasulan katolisitas.org – silakan klik. Semoga dapat menjadi masukan bagi skripsi yang sedang anda kerjakan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab