Home Blog Page 215

Kitab Suci terdiri dari 66 buku atau 73 buku (intermezzo)?

21

Pertanyaan:

Shalom,

Saudari Lucia, sesuai Firman Tuhan:

Mazmur 119:105, Keluaran 25:31-40

Kaki dian = kaki pelita = kandil. Terbuat dari 1 talenta emas murni. 1 talenta = 125 pound = 60 kg emas murni tempaan. Satu kesatuan utuh, tempaan, tidak ada sambungan.

Kalau saudari memperhatikan gambar kaki dian dengan seksama, dan membaginya menjadi dua bagian, saudari akan mendapati bahwa sisi bagian kiri mempunyai 13 bagian, yang masing-masing
terdiri dari 3 (kelopak, tombol, dan kembang) : 13 x 3 = 39, sedangkan sisi sebelah kanan berjumlah
9 x 3 = 27, jumlah keseluruhan adalah 66, yaitu jumlah kitab dalam Alkitab: 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Itu sebabnya kita bisa yakin bahwa ke 66 kitab dalam Alkitab inilah yang Tuhan berikan kepada kita dengan terang Roh Kudus.

Terimakasih. – terang

Jawaban:

Shalom Terang,

Terima kasih atas komentarnya bahwa umat Protestan menggunakan kaki dian sebagai dasar pengakuan akan 66 buku dalam Alkitab. Kalau kita google dengan kata “candlestick 66 books” atau “lampstand 66 books”, maka semua orang akan dapat melihat argumentasi yang sama. Argumen seperti ini adalah merupakan argumentasi “fittingness“, yang dipergunakan kalau seseorang telah mempercayai hal tersebut. Namun, dalam diskusi dengan orang yang tidak mempercayainya atau berbeda pendapat, maka hal ini menjadi tidak berguna, bahkan dapat memperlemah argumentasi. Menurut saya pribadi, argumen yang anda berikan akan memperlemah anda, yang mengklaim senantiasa memberikan argumentasi yang alkitabiah. Apakah kalau saya menggunakan cara yang sama, anda akan dapat menerima argumentasi yang dapat saya berikan? Inilah argumentasi yang akan saya berikan dengan mengikuti logika yang anda berikan:

Karena Alkitab kita adalah sama, hanya berbeda deuterokanonika, maka saya menggunakan dasar yang sama dengan apa yang anda berikan, yaitu:

– 13 bagian kiri x 3 bagian (kelopak, tombol dan kembang) = 39

– 9 bagian kanan x 3 bagian (kelopak, tombol dan kembang) = 27

Jadi seperti yang anda uraikan ada 39 PL dan 27 PB. Bagaimana Gereja Katolik mendapatkan 7 buku yang lain? Sebagai gambaran, mungkin akan lebih jelas kalau anda juga melihat gambar kaki dian di samping ini. Kalau anda mengutip Kel 25:31-40, maka anda jangan sampai melupakan ayat 37, yang mengatakan “Haruslah kaubuat pada kandil itu tujuh lampu dan lampu-lampu itu haruslah dipasang di atas kandil itu, sehingga diterangi yang di depannya.” Dengan demikian, kalau kaki dian berfungsi dengan semestinya, maka tujuh lampu tersebut harus dipasang. Apakah gunanya kaki dian tanpa lampu yang menyala? Dan tujuh lampu ini melambangkan Roh Kudus, yang sering dilambangkan dengan api. Dengan demikian, Gereja Katolik mempunyai 73 buku dalam Alkitab berdasarkan 66 buku + 7 buku. Ini berarti buku-buku di dalam Alkitab harus dibaca dalam terang Roh Kudus. Tanpa terang Roh Kudus, maka orang yang membaca Alkitab dapat salah, sama seperti kaki dian tidak berguna kalau tidak ada lampu yang dinyalakan. Jadi, kalau mau membaca dalam terang Roh Kudus, anda harus menerima 73 buku dan bukan hanya 66 buku. Jangan lupa Mzm 119:105 menuliskan “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Jadi, Firman Tuhan hanya berguna kalau kaki dian itu dinyalakan dengan tujuh lampu. Apakah anda dapat menerima keterangan saya dengan dasar ini, yang juga terlihat alkitabiah? Saya yakin, anda tidak akan mau menerima argumentasi yang saya berikan. Kalau dengan dasar yang sama, anda tidak dapat menerima argumentasi saya, saya juga tidak dapat menerima argumentasi anda. Jadi, marilah kita berdiskusi dengan argumentasi yang lebih baik dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Semoga dapat diterima.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Kesesatan berasal dari Allah?

8

Pertanyaan:

salom bu ingrid,,,
saya sering dengar kotbah dari berbagai orang dengan penafsiran yang berbeda,,,,seperti kesesatan itu berasal dari ALLAH,,,benar kah itu,,,akirnya aku tak mau mengikuti kegiatan keagamaan,,,yang menurut saya sangat menyesatkan,
Bernardus Labhu

Jawaban:

Shalom Bernardus Labhu,

Kitab Suci mengatakan bahwa Allah tidak mungkin menyesatkan, sebab Allah tidak mungkin berdusta. Maka kesesatan tidak mungkin datang dari Allah. Demikian dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Titus:

“Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita, dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.” (Tit 1:1-3)

Faktanya bahwa ada penyesatan di bumi, itu bukan berasal dari Allah, namun berasal dari orang yang atas kehendaknya sendiri (atau karena pengaruh si jahat) memutuskan untuk berbuat jahat. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” (Luk 17:1, lih. Mat 18:7). Jadi walaupun bukan dari Allah, namun adakalanya Allah dalam kebijaksanaan-Nya membiarkan penyesatan itu terjadi, untuk maksud yang lebih tinggi, misalnya mendatangkan pertobatan, mendorong diadakannya perbaikan/ pembaharuan ataupun menjadikan kebenaran yang sesungguhnya untuk semakin bersinar. Seperti halnya Ia membiarkan Yudas melaksanakan rencana jahatnya, namun sebagai akibatnya, kurban Kristus di salib itu mendatangkan keselamatan bagi kita manusia.

Bagi kita umat Katolik, kita bersyukur, sebab kita mempunyai Magisterium Gereja, (yaitu Paus dan para uskup yang dalam persekutuan dengan Paus) yang diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk mengajar umat-Nya; dan ajaran Magisterium ini tidak mungkin sesat. Mengapa? Sebab Kristus sendiri menjaminnya, dalam ayat Mat 16:18-19 dan Mat 18:18, di mana Yesus: 1) mendirikan Gereja-Nya atas Rasul Petrus 2) menjamin Gereja-Nya tidak akan sesat/ binasa 3) memberikan kuasa kepada para rasul-Nya untuk “mengikat dan melepaskan” yang artinya adalah mengajar dalam hal iman dan moral. “Mengikat dan melepaskan” ini menurut ahli sejarah abad ke- 1 Flavius Josephus, artinya adalah menentukan sesuatu ajaran sebagai ajaran yang mengikat umat-Nya (harus ditaati) atau tidak, atau sesuatu hal dikatakan sebagai dosa, atau tidak. Jadi, kita umat Katolik mempunyai pegangan yang jelas dalam hal iman dan moral. Sebab dengan keberadaan Magisterium ini maka Sabda Tuhan diinterpretasikan dengan benar, sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus, Allah yang tidak mungkin berdusta ataupun menyesatkan. Magisterium inilah yang dengan setia mengajarkan pengajaran para rasul yang berasal dari Allah, sehingga tidak mungkin sesat, seperti yang ada tertulis,

“Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.” (1 Tes 2:3-4)

Demikian, Bernardus, semoga anda dapat melihat bahwa karena kesesatan/ penyesatan tidak berasal dari Allah, maka selayaknya anda tidak menghindari kegiatan/ upacara keagamaan yang dilakukan oleh Gereja. Sebab semua itu tidak ada kaitannya dengan penyesatan itu, malah anda dibimbing untuk dapat mengenali kehendak Allah, agar anda luput/ tidak menjadi korban dari penyesatan itu. Jika anda menghindari kegiatan keagamaan, tidak ke gereja, tidak mau menerima sakramen- sakramen, terutama sakramen Tobat dan Ekaristi, malah anda memperbesar resiko ‘tersesat’ bagi anda sendiri, karena anda jauh dari Kristus, yang adalah ‘jalan, kebenaran, dan hidup’ (Yoh 14:6). Sekarang adalah masa Prapaska, mungkin sudah saatnya anda pulang ke jalan Tuhan, seperti yang dilakukan oleh sang anak yang hilang pulang ke rumah bapanya (lih. Luk 15: 11:32).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Serba-serbi APP 2011 – Mari Berbagi

12

Pertanyaan:

Dear Pak Stef .

Terima kasih atas uraian anda , saya jadi agak memahami posisi anda , syukurlah kalau ada pribadi 2 katolik seperti anda dan teman 2 di katolisitas .

Kali ini saya hendak sedikit menceriterakan apa yang ada dalam pikiran saya akhir 2 ini dan kerisauan saya yang berhubungan dengan spiritualitas katolik dan situasi umat . Saya mohon tanggapan dan nasehat anda .

Kita yang di Jakarta sedang mengikuti pendalaman iman APP dng tema Mari Berbagi ( menuju pencapaian diri sejati ). Saya membaca buku yang ditulis oleh beberapa Pastor & praktisi tsb . Dari temanya terasa ada masalah spiritualitas umat . Saya mensyukuri ini , karena saya pikir Keuskupan merasakan adanya situasi yang merisaukan pada dunia dan umat .

Namun , seperti pada masa masa APP terdahulu , saya merasakan Tema ini sangatlah berat bagi umat ( umat disekitar saya , umumnya termasuk yang sudah berkecukupan , mungkin sekali adalah umat yang terutama hendak disapa ).
Umumnya APP mengutamakan Pertobatan ( kemudian aksi nyata ) , nah pertobatan yang mestinya membutuhkan kesadaran itulah yang sulit sekali .
Saya merasakan umat umumnya lebih tertarik dengan ibadat ekaristi , doa rosario .
Menguraikan hal 2 kritis seperti pada buku terasa sangat sulit , apalagi kesadaran itu mestinya datang dari dalam diri pribadi , dari perenungan , apalagi kalau masalah itu juga ikut membelenggu kita .
Saya merasakan bahwa begitu banyak kritikan yang ditulis pada buku tsb pada umat dan pada gereja sebagai sesuatu yang benar , namun saya yakin , pendalaman itu tidak akan menghasilkan sesuatu kesadaran pada sebagian besar umat . Refleksi zaman ini dengan zaman nabi Amos , rasanya sangat tepat dan sangat memprihatinkan , tetapi terlalu berat bagi umat awam .

Saya jadi menyetujui apa yang dikatakan rekan saya seorang Budhis bahwa Gereja tidak memberikan suatu cara , jalan kepada umat untuk memahami dan memberi solusi masalah spiritualitas mereka ( ada begitu banyak kekuatiran , kekecewaan , kesedihan , pengutamaan sukses duniawi dsb , padahal ini kan terjadi pada umat yang sudah berkecukupan ). Rupanya dia melihat pada situasi dunia sekarang .
Kesadaran saya rasa akan jadi sesuatu yang amat sangat sulit , apalagi mencapai diri sejati .
Apakah ini hanya diperutukkan khusus para Rohaniwan ??,

Dari sana saya merasakan kalau perasaan negatif tsb itulah yang membawa umat untuk lebih mengutamakan dan menyukai Doa Rosario , ekaristi , acara 2 liturgis , ritual , apakah ini untuk penghiburan ??. Kita jadi lebih menonjolkan ungkapan Iman kita . .

Terima kasih – Paulus

Jawaban:

Shalom Paulus,

Terima kasih atas masukan yang anda berikan tentang tema APP tahun 2011. Anda mengungkapkan bahwa tema APP tahun 2011 mengungkapan adanya permasalahan spiritualitas umat yang perlu diperbaiki, yang memerlukan pertobatan, dan ini dipandang sebagai sesuatu yang sulit. Dengan demikian tema APP 2011 terasa sulit untuk diterapkan.

Kalau kita melihat tema dari APP 2011 yang terbagi dalam empat tema, dan ini adalah topik-topik yang bagus, yaitu: 1) Aku diberi, maka aku memberi, 2) berbagi dalam kekurangan, 3) Ekaristi, sumber berbagi, 4) Komunitas Kristiani, komunitas yang berbagi. Menurut saya, ini adalah topik-topik yang sebenarnya sungguh sangat aktual karena memang terjadi di dalam komunitas dan masyarakat di sekitar kita dan kalau kita renungkan, sebenarnya ini juga dapat memberikan kedalaman spiritualitas, bahkan harus didasari spiritualitas Katolik.

Topik pertama memberikan kesadaran kepada kita bahwa apapun yang ada di dalam diri kita (waktu, bakat, harta, dll.) adalah merupakan anugerah atau pemberian Tuhan. Kita hanyalah dipercaya sebagai penjaga dan harus mempergunakan semuanya itu untuk membantu sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Dan berbagi bukan hanya masalah dunia di luar sana, namun kita dapat berbagi di dalam keluarga, komunitas di Gereja, maupun pada masyarakat di sekitar kita. Ini bukanlah masalah-masalah yang abstrak dan dapat langsung diterapkan saat ini juga. Yang perlu diperhatikan adalah dasar dari kita berbagi bukanlah hanya karena kasihan kepada sesama, namun karena kita mengasihi Tuhan yang kemudian diwujudkan dalam kasih kepada sesama. Ini adalah spiritualitas kita, bahkan ini adalah dasar spiritualitas kita, yaitu kekudusan. Pertemuan ke dua membahas berbagi dalam kekurangan. Kita berbagi bukan kalau kita kelebihan. Ingat berbagi bukan saja uang, namun juga dapat berbagi bakat, sukacita, iman, waktu, dll. Dengan demikian, kita dapat berbagi dalam segala kesempatan. Ini adalah merupakan penerapan spiritualitas Katolik. Mau berbagi adalah suatu konsekuensi logis dari hubungan yang baik dengan Tuhan. Ini berarti juga berbagi kedamaian dan sukacita kepada orang-orang yang kaya namun mengalami kesepian dan merasa tidak dicintai. Pertemuan ke-tiga mengungkapkan bahwa Ekaristi menjadi sumber kekuatan bagi umat Allah untuk berbagi atau mengasihi. Ini adalah merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Tanpa Ekaristi, maka akan sangat sulit bagi kita untuk berbagi dalam pengertian berbagi yang bersifat adi kodrati, yaitu berdasarkan kasih kepada Allah. Kalau semua umat Allah melakukan hal ini, maka di pertemuan ke-empat ditegaskan tentang komunitas Kristiani adalah komunitas yang berbagi.

Berbagi adalah perwujudan dari kasih. Kalau kasih didefinisikan sebagai menginginkan yang baik untuk orang yang dikasihi, maka berbagi adalah merupakan wujud kasih, karena kita menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita kasihi. Kita hanya dapat mengasihi sesama dengan tulus, kalau kita mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan hal ini sebagai dasar untuk berbagi. Dengan demikian, kalau kita mau merenungkan tema APP 2011 secara lebih mendalam, maka tema ini akan mengantar kita kepada inti dari seluruh hukum, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Ada begitu banyak orang mengalami kekuatiran, kekecewaan, kesedihan, yang disebabkan karena cara pandang seseorang, yang tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang perlu disyukuri. Semakin orang berfokus pada diri sendiri dan tidak mau berbagi, maka orang tersebut akan semakin merasa kesepian, karena tidak berbagi bertentangan dengan kodrat manusia. Manusia diciptakan Tuhan atas dasar kasih dan untuk kasih dan menuju kepada kasih. Tanpa kasih, maka hidup manusia menjadi hamba. Dan ini adalah spiritualitas Katolik, yang juga menjadi fokus APP 2011 ini.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Dan semoga kita dapat melihat dan membahas tema APP ini juga dengan dasar spiritualitas Katolik. Tanpa adanya motif mengasihi Allah untuk berbagi, maka tema APP hanya akan menjadi suatu topik kegiatan sosial yang tidak mempunyai dasar yang kokoh. Mari kita berbagi kepada sesama atas dasar kasih kepada Allah.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Peran Roh Kudus mempersatukan Gereja

4

Pertanyaan:

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Mohon bantuan dan penjelasannya atas pertanyaan ini :
1. Apa peran Roh Kudus dalam mempersatukan, mendewasakan dan menggerakkan umat beriman ?
2. Apa peran Roh Kudus dalam Gereja sebagai pemersatu umat beriman, Gereja yang melayani dan
Gereja yang memasyarakat ?

(Apabila team katolisitas.org memiliki macam artikel sebagai masukan dan panduan dalam membuat bahan pertemuan calon Krisma, terima ksih adanya)

Atas bantuan dan penjelasannya saya ucapkan terima kasih, GBU
Stefanus Didie

Jawaban:

Shalom Stefanus Didie,

Sebelum menjawab pertanyaan anda, ijinkan saya mengutip beberapa teks pengajaran Magisterium Gereja Katolik tentang peran Roh Kudus:

“Tidak diragukan, bahwa Roh Kudus dulu pun sudah berkarya di dunia, sebelum Kristus dimuliakan. ((Roh Kuduslah yang telah bersabda melalui para nabi: Syahadat Konstantinopel: DS. 150. S. LEO AGUNG, Kotbah 76: PL 54,405-406: “Ketika pada hari pentekosta Roh Kudus memenuhi para murid Tuhan, itu bukan permulaan kurnia-Nya, melainkan perluasannya: sebab para bapa bangsa, para nabi, para imam, dan semua orang kudus yang hidup pada zaman sebelumnya, telah dijiwai oleh penyucian Roh itu juga … meskipun ukuran kurnia-kurnia tidak sama”. Juga Kotbah 77, 1: PL 54,412. – LEO XIII, Ensiklik Divinum illud: ASS 1897, hlm. 650-651. – juga S. YOHANES KRISOSTOMUS, meskipun menekankan sifat barunya perutusan Roh Kudus pada hari Pentekosta: Tentang Ef, bab 4, homili 10, 1: PG 62,75)) Tetapi pada hari Pentekosta Roh turun atas para murid, untuk tinggal bersama mereka selama-lamanya (lih. 14:16); tampillah Gereja secara resmi dihadapan banyak orang; mulailah penyebaran Injil melalui pewartaan diantara para bangsa….” ((Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, Ad Gentes, 4))

“Dengan datangnya Roh Kudus, mereka [para rasul] merasa mampu untuk melaksanakan misi yang dipercayakan kepada mereka. Mereka merasa dipenuhi dengan kuasa. Jelaslah ini, bahwa Roh Kudus bekerja di dalam mereka [para rasul], dan ini terus bekerja di dalam Gereja melalui para penerus mereka…. ((Paus Yohanes Paulus II, surat ensiklik Dominus et Vivificantem, 25)) Roh Kudus membimbing Gereja sampai kepada kepenuhan kebenaran (lih. Yoh 16:13) dan memberikan kepadanya sebuah kesatuan persekutuan dan pelayanan. Ia melengkapinya dan mengarahkannya dengan macam-macam karunia, baik secara hirarki maupun karismatik, dan menghiasi mereka dengan buah- buah rahmat-Nya (lih. Ef 4:11-12; 1 Kor 12:4; Gal 5:22). Dengan kusa Injil, Ia membuat Gereja bertumbuh; terus menerus memperbaharuinya dan memimpinnya kepada persatuan sempurna dengan Mempelainya [Kristus]. ((Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 4, seperti dikutip dalam Dominus et Vivificantem, 25))

“Melalui karunia rahmat, yang berasal dari Roh Kudus, manusia memasuki hidup baru” yang diberikan oleh hidup ilahi dan manusia menjadi tempat kediaman Roh kudus, bait Allah yang hidup.” ((Dominus et Vivificantem, 58))

“… Oleh kuasa Roh Kudus, yang memungkinkan bagi Kristus, yang telah pergi meninggalkan [Gereja-Nya], untuk datang saat ini dan selamanya dengan cara yang baru. Kedatangan Kristus yang baru oleh kuasa Roh Kudus, dan kehadiran-Nya dan tindakan-Nya yang tetap di dalam kehidupan spiritual digenapi di dalam kenyataan sakramental. Dalam kenyataan ini, Kristus, yang secara kemanusiaan-Nya telah pergi, datang [kembali], hadir dan bertindak di dalam Gereja dengan cara yang intim yaitu dengan membuatnya Tubuh-Nya sendiri. Dengan demikian, Gereja hidup, berkarya, dan bertumbuh “sampai akhir jaman“. Semua ini terjadi melalui kuasa Roh Kudus.” ((Dominus et Vivificantem, 61))

Berikut ini tanggapan saya atas pertanyaan anda:

1. Apa peran Roh Kudus dalam mempersatukan, mendewasakan dan menggerakkan umat beriman?

a. Roh Kudus berperan melalui para penerus rasul untuk mempersatukan Gereja-Nya. Hal ini terbukti dengan adanya kesatuan Gereja Katolik di bawah pimpinan Paus, sebagai penerus Rasul Petrus yang mengajarkan kesatuan pengajaran yang bersumber dari ajaran Kristus dan para rasul. Melalui pengajaran para penerus rasul ini, Roh Kudus membimbing Gereja sampai kepada kepenuhan kebenaran.

b. Roh Kudus melengkapi Gereja dengan bermacam karunia dan buah- buah rahmat-Nya, untuk mempersatukan, mendewasakan dan menggerakkan Gereja.

c. Roh Kudus membawa kehidupan baru kepada umat beriman, karena terus menerus menginsyafkannya tentang dosa (lih. Yoh 16:8-11), sehingga pertobatan yang terus menerus ini membawa umat kepada kedewasaan iman, dan menggerakkannya untuk terus berbuat kasih dan kebaikan.

d. Roh Kudus berperan dengan kuasa-Nya untuk menghadirkan Kristus secara sakramental di dalam Gereja [khususnya di dalam Ekaristi Kudus], sehingga dengan demikian Gereja dapat terus hidup, berkarya dan bertumbuh sampai akhir jaman.

2. Apa peran Roh Kudus dalam Gereja sebagai pemersatu umat beriman, Gereja yang melayani dan Gereja yang memasyarakat ?

Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja menjadi sakramen, yaitu “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.” ((Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 1)).

a. Oleh kuasa Roh Kudus, umat yang menjalankan peran berbeda- beda dipersatukan dalam satu Tubuh Kristus. Maka di sini peran Roh Kudus adalah mempersatukan setiap umat dengan Kristus, dan dalam persatuan dengan Kristus itulah, maka Roh Kudus mempersatukan umat beriman yang satu dengan yang lain, karena persatuan antara mereka dengan Kristus yang satu dan sama.

b. Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja terdorong untuk melayani masyarakat. Sebab rahmat Allah yang diterima Gereja melalui kesatuan dengan Kristus Sang Terang menjadikannya juga sebagai terang yang menyinari segala bangsa, termasuk masyarakat di sekitarnya. ((lih Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, 1))

Jadi pada prinsipnya Gereja harus menimba kekuatan dari Roh Kudus (yaitu dari rahmat Allah yang tercurah melalui sakramen- sakramen ataupun dari bermacam kebajikan dan karunia yang diberikan kepadanya) agar dalam pelayanan maupun dalam segala kegiatan kemasyarakatannya, Gereja dapat menerangi semua orang yang dilayaninya, dengan cahaya Kristus. Artinya, segala pelayanan dan kegiatan kemasyarakatan tersebut adalah sarana bagi orang- orang untuk mengenal Kristus dan rencana keselamatan Allah. Sebab inilah maksudnya bahwa Gereja menjadi sakramen, yaitu tanda/ sarana bagi penggenapan rencana keselamatan Allah. ((Dominus et Vivificantem, 63))

Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda.

Untuk bahan Katekese Persiapan Krisma, silakan anda membaca buku karangan Rm. F.X Didik Bagiyowinadi Pr., yang berjudul: Siap Diutus, terbitan Dioma, Malang, Des 2010. Silakan klik di link ini untuk melihat sekilas bukunya, dan tema- tema yang dibahas di sana.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Air hidup mengubah seseorang menjadi pewarta

9

I. Berilah aku minum dan engkau akan menerima air kehidupan

Dalam minggu ke-tiga dalam masa Prapaskah ini, Injil Yohanes sepertinya ingin menampilkan dimensi kemanusiaan Yesus, ketika Dia mengatakan, “Berilah Aku minum” (lih. Yoh 4:7). Namun, St. Agustinus mengartikannya dengan lebih dalam, bahwa Yesus haus akan jiwa-jiwa yang ingin diselamatkan-Nya. Dan seseorang memperoleh keselamatan jiwanya, hanya jika ia menerima Air kehidupan, yaitu Yesus sendiri, karena hanya di dalam Yesus ada Kehidupan kekal (lih. Yoh 14:6). Kelihatannya, ini adalah barter/ pertukaran yang sungguh menguntungkan kita, karena kita hanya memberikan ‘segelas air’ atau diri kita sendiri dan Yesus akan memberikan kehidupan kekal, yaitu dengan memberikan Diri-Nya. Namun, di bacaan minggu ini, hal yang menguntungkan ini adalah suatu tawaran yang nyata, karena Kristus benar-benar mencari jiwa tanpa lelah di dalam setiap kesempatan. Dia datang kepada manusia dan kepada masing-masing dari kita, memohon agar kita semua mau menerima tawaran air kehidupan – yaitu tawaran keselamatan – , sehingga kita manusia dapat memperoleh apa yang menjadi kehendak-Nya, yaitu kebahagiaan dan sukacita di dunia dan kebahagiaan abadi di Sorga.

Paus Benediktus XVI dalam pesan surat gembala Prapaskah kepausan 2011 menuliskan “Hari Minggu Ketiga menampilkan bagi kita di dalam liturginya Yesus yang mengajukan permintaan kepada Wanita Samaria: “Berilah Aku minum” (Yoh, 4:7). Sabda Tuhan itu mengungkapkan bela-rasa Allah terhadap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan mampu membangkitkan di dalam hati kita kerinduan akan anugerah “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14). Inilah anugerah Roh Kudus yang akan mengubah orang-orang kristiani menjadi “penyembah-penyembah yang sejati”, yang mampu berdoa kepada Bapa “dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23). Hanya air inilah yang mampu memadamkan kehausan kita akan kebaikan, kebenaran dan keindahan, Hanya air inilah, yang dianugerahkan Putra kepada kita, dapat menyirami gurun gersang jiwa kita “yang tidak akan bisa tenang sebelum menemukan Allah”, sebagaimana kata-kata kesohor St. Agustinus itu mengungkapkannya.” Mari, kita bersama-sama menimba Sabda Allah bersama-sama, sehingga kita dapat disegarkan kembali oleh Air Kehidupan dan minum tanpa henti dari Sumber Air Kehidupan.

II. Bacaan Injil minggu ke-tiga masa Prapaskah (Yoh 4:5-42)

Bacaan minggu ke-tiga masa Prapaskah diambil dari Kel 17:3-7; Mzm 95:1-2, 6-9; Rom 5:1-2, 5-8; Yoh 4:5-42. Mari kita melihat bacaan dari Injil Yohanes.

5  Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
6  Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
7  Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”
8  Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
9  Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
10  Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”
11  Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
12  Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”
13  Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
14  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
15  Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”
16  Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.”
17  Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
18  sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.”
19  Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
20  Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”
21  Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
22  Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23  Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
25  Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”
26  Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”
27  Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: “Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?”
28  Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:
29  “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”
30  Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.
31  Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.”
32  Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”
33  Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”
34  Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
35  Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.
36  Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.
37  Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.
38  Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”
39  Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”
40  Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya.
41  Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya,
42  dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

III. Telaah teks

1. Latar belakang dari perikop

Kalau kita melihat ayat-ayat sebelumnya, dari ayat 1-4, maka kita akan melihat bahwa Yesus meninggalkan daerah Yudea menuju ke Galilea. Kalau kita melihat Injil Sinoptik, maka kita tahu bahwa kejadian ini terjadi pada waktu Yohanes Pembaptis dipenjara (lih. Mt 4:12; Mk 1:14). Percakapan Yesus dengan wanita Samaria dan bahwa Yesus tinggal selama dua hari di Sikhar (lih. ay.43) merupakan konfirmasi bahwa keselamatan bukan hanya diperuntukkan untuk kaum Yahudi, namun terbuka juga untuk semua. Hal ini dipertegas lagi ketika Yesus juga pergi ke daerah Tirus dan Sidon (lih. Mt 15:21; Mk 7:24).

2. Pembagian perikop

Dalam perikop yang cukup panjang ini, kita melihat adanya pendidikan Ilahi (divine pedagogy), yaitu pendidikan yang bertahap, dari perkenalan sampai masuk lebih dalam, sehingga wanita Samaria dapat mengetahui Yesus secara bertahap, dari seorang Yahudi, seorang nabi dan seorang Mesias. Dan pengetahuan ini memberikan kegembiraan, yang dimanifestasikan dalam pewartaan sehingga semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus. Mari kita melihat pembagian dari perikop ini.

a. Ayat 5-6: Tempat dan waktu kejadian. Perikop ini terjadi di Sikhar, salah satu kota di Samaria. Secara spesifik diceritakan bahwa percakapan Yesus terjadi di pinggir sumur, sekitar jam 12:00.

b. Ayat 7-9: Tahap perkenalan. Perkenalan antara Yesus dan perempuan Samaria, dibuka dengan Yesus meminta air kepada perempuan itu, di mana perempuan itu mempertanyakan mengapa orang Yahudi mau bercakap-cakap dengan orang Samaria.

c. Ayat 10-15: Menuju tahap persahabatan. Pada tahap ini, Yesus menyatakan Diri-Nya bahwa Dia dapat memberikan Air Hidup. Dalam keterbatasannya, wanita tersebut tidak dapat mengerti Air Hidup yang dimaksud Yesus. Namun, Yesus melayani percakapan wanita ini, yang membandingkan Yakub dengan Diri-Nya dan dengan membandingkan antara air dari sumur Yakub dengan Air Hidup. Percakapan ini menarik hati wanita ini dan dia menginginkan Air Hidup yang ditawarkan oleh Yesus.

d. Ayat 16-19: Syarat untuk menjadi sahabat. Dalam percakapan yang lebih dalam, Yesus membuka dosa dari wanita tersebut, yang hidup dalam perzinahan. Merasa bahwa kehidupannya ditelanjangi, maka wanita tersebut tahu bahwa Yesus bukanlah orang biasa, namun adalah salah satu nabi.

e. Ayat 20-26: Tahap persahabatan. Pertanyaan dan jawaban yang mengarah pada identitas Yesus yang sebenarnya. Setelah wanita tersebut menyadari bahwa Yesus adalah seorang nabi, maka wanita itu mulai bertanya tentang hal-hal yang mengganjal hatinya, yaitu tentang tempat penyembahan. Yesus memberikan jawaban bahwa penyembah-penyembah yang benar tidaklah terbatas pada tempat, namun artinya mereka harus menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran. Dan percakapan ini berlanjut sampai pada identitas Yesus yang sebenarnya, yaitu Kristus, Sang Mesias.

f. Ayat 27-29: Sahabat Yesus mewartakan Yesus. Setelah ada interupsi kedatangan para murid, maka diceritakan bahwa wanita yang telah menjadi sahabat Yesus itu menjadi pewarta dan menceritakan pertemuannya dengan Yesus, sehingga membuat banyak orang datang kepada Yesus.

g. Ayat 31-38: Percakapan Yesus dan para murid tentang melakukan kehendak Bapa dan tuaian. Yesus bercakap-cakap dengan para murid tentang melakukan kehendak Bapa yang mengutus Yesus dan menyelesaikan tugas yang diberikan kepada Yesus. Dan tugas perutusan ini juga diberikan kepada para murid yang harus menuai tuaian yang sudah terlihat menguning.

h. Ayat 39-42: Orang-orang ingin menjadi sahabat Yesus. Karena pemberitaan wanita Samaria, maka banyak orang dari kota itu percaya kepada Yesus. Namun, kepercayaan orang-orang itu kepada Yesus menjadi lengkap setelah mereka bertemu secara langsung dengan Yesus, karena mereka telah mendengar, telah mengetahui, dan telah percaya bahwa Yesuslah Juru Selamat dunia.

a. Ayat 5-6: Tempat dan waktu kejadian

Motif perjalanan Yesus dari Yudea ke Galilea adalah menghindari orang-orang Farisi yang mungkin iri akan kepopuleran Yesus (ay. 1-4). Orang-orang Farisi, mungkin sudah mulai gerah dan iri akan kepopuleran Yesus, sehingga mereka mencoba dengan berbagai cara menjatuhkan Yesus. St. Agustinus mengatakan bahwa kalau Ia mau, Yesus tetap dapat tinggal di Yudea dan tetap dapat lepas dari tangan kaum Farisi. Namun, Yesus ingin memberikan contoh kepada kita, bahwa dalam memberitakan kabar gembira, kita harus melakukannya dengan kebijaksanaan. Dari Yudea ke Galilea ada dua jalan, yaitu menelusuri sungai Yordan atau melalui daerah Samaria. Nama Samaria berasal dari pemilik gunung Samaria, yaitu Semer, yang kemudian dibeli oleh raja Israel, yaitu raja Omri dengan dua talenta perak. (lih. 1Raj 16:23-24). Karena mungkin perjalanan lebih cepat melalui Samaria, maka Yesus masuk ke daerah Samaria. Namun, lebih tepat karena Yesus juga ingin membuktikan bahwa keselamatan bukan hanya diperuntukkan bagi kaum Yahudi. Ini menjadi gambaran samar-samar bahwa Kristus mengajarkan keselamatan bagi seluruh umat manusia, walaupun memang keselamatan datang dari bangsa Yahudi, dalam pengertian bahwa bangsa Yahudi telah menerima wahyu Allah secara bertahap sampai mendapatkan kepenuhannya dalam diri Kristus.

Bangsa Yahudi tidak menyukai orang-orang Samaria, karena mereka adalah bangsa Yahudi yang tidak menjaga kemurnian bangsa Yahudi, namun menikah dengan bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi. Kaum Farisi mengungkapkan kekesalan hati mereka kepada Yesus dengan mengatakan, “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” (Yoh 8:48) Mungkin tuduhan ini disebabkan karena Yesus mau bercakap-cakap dengan orang Samaria.

Diceritakan bahwa Yesus sampai ke daerah Samaria di Sikhar sekitar pukul duabelas (ay. 5-6). Dahulu daerah ini diberikan kepada Yusuf oleh Yakub, yang direbut sendiri oleh Yakub dengan pedang dan panah dari orang Amori (lih. Kej 48:22). Yesus yang keletihan dalam perjalanannya dari Yudea menuju ke Galilea, beristirahat di pinggiran sumur Yakub. Sungguh pemandangan yang mencengangkan bahwa Yesus, Sang Putera Allah keletihan. Yesus keletihan, karena Ia adalah sungguh manusia. Yesus yang adalah Sang Firman telah menjadi daging (lih. Yoh 1:1; 1:14). Dalam Track. 15, St. Agustinus menuliskan bahwa tidaklah sia-sia keletihan Kristus, karena dengan keletihan-Nya, Kristus menyegarkan orang-orang yang keletihan dan mencari orang-orang yang keletihan. Di tempat inilah, seorang perempuan yang mengalami keletihan hidup bertemu dengan Kristus yang keletihan, sehingga hidup perempuan ini tidak sama lagi, karena disegarkan oleh Air Hidup.

b. Ayat 7-9: Tahap perkenalan

Pada bagian ini, kita melihat suatu tahap perkenalan antara Yesus dan wanita Samaria. Yesus yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, rela untuk meminta air pada wanita Samaria ini. Dia yang kehausan berkata kepada wanita Samaria itu, “Berilah Aku minum” (ay. 7). Dan wanita Samaria itu menjawab “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (ay. 9) Sungguh tepat perkataan wanita ini, bahwa mengapa Yesus, seorang Yahudi mau bercakap-cakap kepadanya seorang wanita dari Samaria. Mungkin lebih tepat lagi, mengapa Yesus yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, mau bercakap-cakap dengan pendosa. Namun, Yesus menegaskan bahwa untuk inilah Dia datang, yaitu untuk menyelamatkan yang hilang (lih. Mt 18:11; Lk 19:10)

Dalam percakapan ini, kita dapat melihat bahwa walaupun Kristus tahu tidaklah pantas seorang Yahudi bercakap-cakap dengan perempuan seorang diri, dan apalagi perempuan ini adalah perempuan Samaria, ditambah lagi adalah seorang pendosa, namun Kristuslah yang membuka percakapan ini. Inilah sebabnya, Gereja Katolik melihat bahwa Allahlah yang senantiasa mempunyai inisiatif pertama untuk membawa manusia kepada keselamatan. Ini berarti tanpa rahmat Allah, manusia tidak mungkin dapat sampai kepada keselamatan. Kalau untuk mencapai keselamatan diperlukan pertobatan, maka untuk dapat bertobat, juga diperlukan rahmat Allah. Allahlah yang senantiasa haus untuk menyelamatkan manusia dari keterpurukannya dan membawanya kepada keselamatan kekal. Semuanya ini dilakukan karena Allah mengasihi manusia, yang diciptakan-Nya atas dasar kasih. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 50) mengatakan

Dengan bantuan budi kodratinya, manusia dapat mengenal Allah dengan pasti dari segala karya-Nya. Namun masih ada lagi satu tata pengetahuan, yang tidak dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri: yakni wahyu ilahi (Bdk. Konsili Vat I: DS 3015.). Melalui keputusan yang sama sekali bebas, Allah mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia, dan menyingkapkan rahasia-Nya yang paling dalam, keputusan-Nya yang berbelas kasih, yang Ia rencanakan sejak keabadian di dalam Kristus untuk semua manusia. Ia menyingkapkan rencana keselamatan-Nya secara penuh, ketika Ia mengutus Putera-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Dengan kata lain, Allah rindu untuk memperkenalkan Diri-Nya secara lebih mendalam kepada manusia. Dengan cara apa? Dengan cara menyapa kita umat-Nya, bukan lagi dengan suara yang terdengar dari langit, bukan juga dengan Firman yang tertulis, namun dengan Firman yang menjadi manusia, yaitu dalam diri Yesus.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang Allah memperkenalkan diri-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Dua ribu tahun yang lalu, Dia memperkenalkan Diri-Nya di dekat sumur di Samaria dengan cara meminta minum kepada wanita Samaria. Bagaimana Kristus memperkenalkan Diri-Nya pada zaman ini? Karena rahmat menyempurnakan kodrat (grace perfects nature), maka Kristus juga memperkenalkan Diri-Nya, umumnya lewat keseharian dan apa yang kita alami. Yang diperlukan adalah seperti apa yang dilakukan oleh wanita Samaria itu, yaitu dengan menjawab panggilan Kristus dan terus terlibat dalam percakapan dengan Kristus.

c. Ayat 10-15: Menuju tahap persahabatan.

Pada saat seseorang menanggapi sapaan Tuhan, maka Tuhan akan menyatakan Diri-Nya dengan lebih jelas. Inilah saat-saat ketika persahabatan hendak terjalin. Ketika wanita Samaria itu menanggapi sapaan Kristus, maka Kristus membuka Diri-Nya dengan lebih jelas. Dia berkata, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” (ay.10) Yesus berkata bahwa Dia mempunyai sumber air hidup dan siap untuk memberikan kepada siapa saja yang memintanya. Namun, sayang bahwa wanita itu tidak mengerti tentang apa itu air hidup, karena dia belum mengerti tentang karunia Allah dan tentang Yesus. Yang ada di dalam pikiran wanita itu adalah air yang bersifat material. Dan dalam ketidakmengertian ini, dia menyangka bahwa Kristus berbicara tentang air yang bersifat material, yang harus ditimba (ay.11), atau perempuan itu bertanya apakah Yesus lebih besar dari Yakub, yang telah memberikan sumur tempat wanita itu setiap hari memperoleh kebutuhannya setiap hari (ay.12).

Dan kemudian Yesus menjawab tantangan wanita itu, dengan membandingkan air sumur dan Air Hidup. Yesus mengatakan bahwa kalau perempuan itu minum air sumur maka dia akan haus lagi dan sebaliknya kalau dia minum Air Hidup, maka dia tidak akan haus lagi, bahkan dia akan menjadi mata air yang terus mengalir sampai pada hidup yang kekal. Walaupun tertarik akan Air Hidup ini, namun perempuan ini masih belum mengerti apakah Air Hidup ini, sehingga dia tetap membandingkannya dengan air yang ada di dalam sumur Yakub. Namun, yang jelas, wanita ini telah tertarik akan pemberitaan tentang Air Hidup yang lebih baik dari air yang mengalir dari sumur Yakub.

Jadi, apakah Air Hidup ini? Air hidup adalah rahmat Allah, terutama adalah rahmat pengudusan (sanctifying grace) atau juga Roh Kudus atau juga Kristus sendiri. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus bahwa barangsiapa yang haus, baiklah ia datang kepada Yesus dan minum. Dan barang siapa percaya kepada Yesus, maka dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup (lih. Yoh 7:37-38). Aliran air ini adalah Roh Kudus, yang tercurah kepada umat Allah setelah Yesus menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga (misteri Paskah). Bagaimana umat Allah dapat menerima aliran Air Hidup ini? Katekismus Gereja Katolik (KGK, 694) menuliskan:

Air. Dalam upacara Pembaptisan air adalah lambang tindakan Roh Kudus, karena sesudah menyerukan Roh Kudus, air menjadi tanda sakramental yang berdaya guna bagi kelahiran kembali. Seperti pada kelahiran kita yang pertama kita tumbuh dalam air ketuban, maka air Pembaptisan adalah tanda bahwa kelahiran kita untuk kehidupan ilahi, dianugerahkan kepada kita dalam Roh Kudus. “Dibaptis dalam satu Roh”, kita juga “diberi minum dari satu Roh” (1 Kor 12:13). Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yang menghidupkan, yang mengalir (Bdk. Yob 19:34; 1 Yoh 5:8.) dari Kristus yang disalibkan dan yang memberi kita kehidupan abadi (Bdk. Yoh 4:10-14; 7:38; Kel 17:1-6; Yes 55:1; Za 14:8; 1 Kor 10:4; Why 21:6; 22:17.)

Air kehidupan inilah yang digambarkan oleh rasul Yohanes mengalir dari tahta Allah dan tahta Anak Domba (lih. Why 22:1), yang merupakan lambang Roh Kudus. (lih. KGK, 1137). Jadi dengan demikian, Air Hidup bersumber dari Kristus sendiri melalui misteri Paskah. Air Hidup itupun dapat berarti Roh Kudus, yang diterimakan melalui Sakramen Baptis, sehingga umat Allah dapat menerima rahmat pengudusan, yang membuat seseorang berkenan kepada Allah dan dapat turut berpartisipasi didalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. (lih. KGK, 1266) Air kehidupan inilah yang ditawarkan oleh Yesus kepada wanita Samaria ini.

d. Ayat 16-19: Syarat untuk menjadi sahabat.

Setelah perempuan itu menyatakan ketertarikannya kepada Air Hidup ini, maka Yesus menjawab dengan jawaban yang terlihat tidak berhubungan, yaitu “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” (ay.16) Perempuan ini mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suami. Yesus kemudian mengungkapkan hal yang paling tersembunyi atau sisi gelap dari perempuan ini, yaitu bahwa perempuan ini telah mempunyai lima suami, dan yang sekarang hidup bersama dengannya adalah bukan suaminya. Mungkin perempuan ini telah menikah dengan 5 suami dan kemudian yang sekarang hidup bersamanya adalah bukan suaminya yang resmi.

Dengan demikian, pada waktu seseorang ingin menerima Kristus, menerima Roh Kudus dan menerima rahmat pengudusan dalam Baptisan, yang pertama harus dilakukan adalah pertobatan. Pertobatan adalah syarat untuk menjadi sahabat Kristus. Kristus membantu kita untuk mengetahui diri kita yang sebenarnya, yaitu manusia yang berdosa. Pertobatan adalah langkah awal untuk dapat menerima Roh Kudus dan tanpa pertobatan, kita tidak dapat menerima Dia. Ini berarti Sakramen Baptis – di mana orang yang dibaptis menerima Roh Kudus – hanya dapat diterimakan kepada orang yang sungguh-sungguh bertobat, yang berarti meninggalkan cara hidup yang lama dan berbalik menuju jalan Kristus. Pertobatan ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu, Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Dominum et Vivificantem menekankan bahwa Roh Kudus meyakinkan dunia akan dosa ((DeV, 35)), karena Roh Kudus menyelidiki segala sesuatu bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (lih. 1Kor 2:10).

Dengan demikian, pertobatan hanya dimungkinkan oleh Roh Kudus. (KGK, 1989) Tanpa inisiatif dari Roh Kudus, maka tidaklah mungkin seseorang dapat bertobat. Gereja Katolik mengenal adanya dua pertobatan, yaitu pertobatan pertama dan pertobatan kedua. Pertobatan pertama mengacu kepada pertobatan yang mengantar seseorang kepada Sakramen Baptis. (KGK, 1427), yang kemudian harus dilanjutkan dengan pertobatan kedua, yaitu pertobatan yang terus menerus. (KGK, 1428) Baik pertobatan pertama dan pertobatan kedua senantiasa digerakkan oleh rahmat Allah (lih. Yoh 6:44; Yoh 12:32).

Kembali kepada cerita perempuan Samaria, kita melihat bahwa perempuan itu secara tidak langsung mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus adalah benar adanya. Dan karena Yesus dapat menyelidiki hati perempuan itu, maka perempuan itu menyatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi. Walaupun pernyataan ini tidak benar, namun pernyataan perempuan itu meningkat derajat kebenarannya, yaitu dari Yesus seorang Yahudi biasa menjadi Yesus seorang nabi. Kedalaman kebenaran ini disebabkan oleh hubungan antara perempuan ini dengan Yesus yang semakin dalam.

e. Ayat 20-26: Tahap persahabatan.

Percakapan yang lebih mendalam dengan Kristus membuat seseorang berhadapan dengan kebenaran. Saling membuka diri dan mempunyai kesamaan nilai adalah merupakan esensi dari persahabatan. Kristus tidaklah puas dengan hanya setengah kebenaran, namun Dia mau agar kita mendapatkan kebenaran yang penuh, yaitu menemukan identitas Kristus yang sesungguhnya. Perempuan Samaria yang mulai percaya kepada Yesus sebagai nabi mulai mengungkapkan akan pertanyaan yang mungkin sudah lama tersimpan di dalam hatinya, yaitu tentang tempat- tempat penyembahan. Santo Yohanes Krisostomus mengatakan bahwa perempuan ini tidak meminta tanda atau kesembuhan, namun dia haus akan kebenaran doktrin. Perempuan ini bertanya manakah tempat yang benar untuk menyembah Tuhan. Orang Yahudi menyembah di tempat Bait Allah yang dibangun oleh Raja Salomo di gunung Sion dan orang Samaria beribadah di gunung Gerizim di daerah Samaria tempat nenek moyang mereka beribadah (ay.20). Yesus tidak menjawab tentang tempat mana yang benar dari keduanya, namun meminta perempuan itu untuk percaya kepada Yesus (ay.21). Kemudian Yesus mencoba mengalihkan pembicaraan bukan pada tempat, namun kepada pengetahuan. Orang-orang Samaria, yang hanya percaya kepada lima kitab Musa kurang mendapat pengetahuan yang lengkap dibandingkan dengan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi mendapatkan pengetahuan yang lebih lengkap karena pemberitaan para nabi yang diberikan secara terus-menerus dari generasi ke generasi sampai pada kepenuhannya, yaitu dalam diri Kristus.

Namun, pengetahuan orang Yahudipun tidaklah lengkap, karena penyembahan kepada Allah tidak lagi berdasarkan tempat, namun menyembah di dalam Roh dan kebenaran (ay.23), karena Bapa adalah Roh (ay.24). Kristus mengatakan bahwa saatnya akan datang dan sudah tiba saatnya ,yaitu ketika Kristus mati di kayu salib, sehingga tirai Bait Allah terbelah menjadi dua, dan memungkin seluruh umat Allah beribadah bukan hanya di Bait Allah di Yerusalem maupun di gunung Gerizim di Samaria. Kristus juga mengingatkan kepada kita, bahwa penyembah yang benar akan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Penyembahan secara spiritual adalah persembahan diri yang hancur, hati yang patah dan remuk (lih. Mzm 51:17). Namun, penyembahan yang tidak didasarkan pada suatu kebenaran tidaklah cukup. Kita harus menyembah berdasarkan kebenaran yang dinyatakan sendiri oleh Kristus. Ini berarti kalau Kristus menginginkan untuk disembah dengan cara Perjamuan Suci, maka kita tidak boleh mengubahnya. Dengan demikian, sebagai umat Katolik, kita benar-benar dapat menyembah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran, secara istimewa dalam setiap perayaan Ekaristi.

Kalau Yesus berkata “saatnya akan datang” (ay.22) dan saatnya adalah setelah Yesus menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga (misteri Paskah), maka dalam setiap perayaan Sakramen Ekaristi, maka misteri Paskah ini dihadirkan kembali. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1167) mengatakan:

Benarlah bahwa hari Minggu adalah hari, di mana umat beriman berkumpul untuk perayaan liturgi, “untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati” (SC 106).
“Kalau kami, o Kristus, merenungkan mukjizat-mukjizat, yang terjadi pada hari Minggu kebangkitan-Mu yang mulia ini, kami lalu berkata: Terberkatilah hari Minggu, karena padanya terjadilah awal ciptaan… keselamatan dunia… pembaharuan umat manusia… Padanya surga dan bumi bergembira dan seluruh alam semesta dipenuhi dengan sinarnya. Terberkatilah hari Minggu, karena padanya pintu-pintu firdaus dibuka, sehingga Adam dan semua orang terbuang masuk ke dalamnya tanpa perasaan takut” (Fanqith, Ofisi Syria dari Antiokia, jilid 6; Bagian musim panas, hal 193b).

Dari percakapan inilah, kemudian perempuan Samaria ini mengatakan “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” (ay.25) Walaupun orang-orang Samaria mendasarkan kepercayaannya hanya dari lima kitab Musa, namun mereka dapat menyimpulkan bahwa seorang Mesias akan datang (lih. Kej 3:15; Kej 49:10; Bil 24:17; Ul 18:15). Dan sungguh luar biasa jawaban Yesus. Dia menyatakan jati Diri-Nya dengan mengatakan, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” (ay.26) Perkataan Akulah Dia membawa kita kepada peristiwa ketika Tuhan menyatakan Diri-Nya kepada Musa, yaitu dengan berkata “Akulah Aku” (lih. Kel 3:14). Pernyataan akan jati diri Yesus ini diberikan ketika perempuan ini telah siap untuk menerima satu kebenaran yang lebih tinggi, yaitu kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, yang akan memulihkan segalanya. Pada tahap persahabatan ini, perempuan ini telah menerima kebenaran yang bertahap, dari Yesus seorang Yahudi biasa menjadi Yesus seorang nabi dan sekarang menjadi Yesus seorang Mesias – yaitu jati diri Yesus yang sejati. Dan menerima Yesus sebagai seorang Mesias, yang sungguh Allah dan sungguh manusia memberikan kemerdekaaan, karena kebenaran akan memerdekakan (lih. Yoh 8:32) dan memberikan kekuatan kepada seseorang untuk menjadi pewarta.

f. Ayat 27-29: Sahabat Yesus mewartakan Yesus.

Kegembiraan perempuan Samaria karena mengerti akan suatu kebenaran, memberikan dia suatu sukacita yang luar biasa, sehingga dia meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota dan berkata kepada semua orang tentang Sang Mesias (ay. 28-29). Perempuan ini, yang telah menjadi sahabat Yesus, telah menunjukkan iman yang hidup, iman yang tidak mati, iman yang percaya dan kemudian berusaha untuk mewartakan apa yang dipercayainya kepada semua orang. Kesaksian dari perempuan ini begitu luar biasa, karena kesaksiannya berdasarkan pengalaman pribadinya dengan Yesus yang menyatakan diri-Nya sebagai seorang Mesias. Orang yang pernah merasakan kedekatan dengan Yesus, menjadi sahabat Yesus dan dibebaskan oleh kebenaran, dia tidak akan pernah tahan untuk menyimpannya sendiri. Dia ingin mewartakannya kepada semua orang. Inilah yang seharusnya menjadi dasar dari pewartaan atau tugas evangelisasi yang harus kita lakukan. Setiap umat beriman yang telah dibaptis mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi dalam tiga misi Kristus, yaitu: imam, nabi dan raja. Dituliskan dalam Katekismus Gereja Katolik 783-786:

783.    Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “imam, nabi, dan raja“. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya Bdk. RH 18-21.

784.    Siapa yang oleh iman dan Pembaptisan masuk ke dalam Umat Allah, mendapat bagian dalam panggilan khusus umat ini ialah panggilannya sebagai imam. “Kristus Tuhan, Imam Agung yang dipilih dari antara manusia (lih. Ibr 5:1-5), menjadikan umat baru kerajaan dan imam-imam bagi Allah dan Bapa-Nya (Why 1:6; lih. 5:9- 10). Sebab mereka yang dibaptis karena kelahiran kembali dan pengurapan Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci” (LG 10).

785.    “Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus“, terutama karena cita rasa iman adikodrati yang dimiliki seluruh umat, awam dan hierarki. Karena cita rasa iman itu “umat berpegang teguh pada iman yang sekali telah diserahkan kepada para kudus” (LG 12), memahaminya semakin dalam dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia ini.

786.    Umat Allah juga mengambil bagian dalam fungsi Kristus sebagai raja. Kristus menjalankan fungsi raja-Nya dengan menarik semua orang kepada diri-Nya oleh kematian dan kebangkitan-Nya (Bdk. Yoh 13:32.). Kristus, Raja dan Tuhan semesta alam, telah menjadikan Diri pelayan semua orang, karena “Ia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Untuk seorang Kristen, mengabdi Kristus berarti “meraja” (LG 36) – terutama “dalam orang-orang yang miskin dan menderita”, di mana Gereja “mengenal citra Pendiri-Nya yang miskin dan menderita” (LG 8). Umat Allah mempertahankan “martabatnya sebagai raja”, apabila ia setia kepada panggilannya, untuk melayani bersama Kristus.
“Semua orang, yang dilahirkan kembali dalam Kristus, dijadikan raja oleh tanda salib, sementara urapan Roh Kudus mentahbiskan mereka menjadi imam. Karena itu, semua orang Kristen yang rohani dan berakal budi harus yakin bahwa mereka – terlepas dari tugas-tugas khusus jabatan kami – berasal dari turunan rajawi dan mengambil bagian dalam tugas-tugas seorang imam. Apa yang lebih rajawi daripada jiwa yang dalam ketaatan terhadap Allah menguasai badannya? Dan apa yang lebih sesuai dengan tugas-tugas imam daripada menyerahkan kepada Tuhan hati nurani yang murni dan di atas altar hati mempersembahkan kepada Tuhan kurban tak bercela yakni kesalehan?” (Leo Agung, serm. 4,1).

Seharusnya, perkataan perempuan Samaria ini adalah merupakan perkataan kita, ketika dia mengatakan “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (ay.29). Kita harus membawa semua orang kepada Kristus yang telah terlebih dahulu menyentuh kita. Mungkin terlihat bahwa perempuan Samaria masih meragukan identitas Kristus. Namun, sebenarnya, kita juga dapat melihat bagi perempuan ini, identitas Kristus adalah telah pasti baginya, yaitu Kristus adalah Mesias. Namun, dengan perkataan “Mungkinkah Dia Kristus itu?“, perempuan Samaria ini tahu bagaimana untuk mewartakan Kristus dengan lebih efektif. Dia ingin agar orang-orang tersebut untuk tidak hanya percaya akan pemberitaannya, namun agar orang-orang itu melihat dan merasakannya sendiri, agar orang-orang tersebut merasakan dan mendengar sendiri dari Kristus, “Mari ikutlah Aku” (Mt 4:19; Mk 1:17; Mt 9:9). Inilah yang seharusnya kita lakukan dalam pewartaan, yaitu mengantar orang-orang kepada Kristus sendiri dan membiarkan orang-orang untuk mengalami Kristus, sehingga mereka juga dapat menjadi pewarta yang lain. St. Cyril (Sirilus) mengkontraskan orang-orang Yahudi yang tidak mau menerima Kristus sebagai Mesias, walaupun telah menerima kabar sukacita dari Kristus yang dibarengi dengan mukjizat, dengan perempuan Samaria ini, yang dalam satu kali percakapan telah dapat menerima kebenaran yang memerdekakan.

g. Ayat 31-38: Percakapan Yesus dan para murid tentang melakukan kehendak Bapa dan tuaian.

Setelah bercakap-cakap dengan perempuan Samaria ini, kini Yesus berpaling kepada orang-orang yang mendapatkan keistimewaan, yaitu para murid yang senantiasa dekat dengan-Nya. Bagaimana Yesus memberikan pengertian kepada para murid? Dengan menggunakan kesempatan atau kejadian yang terjadi saat itu. Ketika para murid menawarkan makanan kepada Yesus (ay.31), maka Yesus mengatakan bahwa ada makanan dalam diri Yesus yang tidak mereka kenal, yaitu melakukan kehendak Bapa yang mengutus Yesus dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (ay.32,34). Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus dalam percobaan di padang gurun, ketika iblis mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti (lih. Mt 4:3) yang kemudian dijawab oleh Yesus bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, namun dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Yesus menekankan akan tugas-Nya untuk datang ke dunia untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya, yaitu untuk menyelamatkan dunia dari belenggu dosa. St. Agustinus mengatakan, sama seperti perempuan Samaria itu yang tidak mengerti “air”, maka para murid juga tidak mengerti “makanan”.

Kristus mengungkapkan bahwa para murid mengatakan tentang tuaian material, yang terlihat oleh mata (ay.35). Namun, apakah mereka juga melihat bahwa perlu adanya tuaian spiritual, yang dapat mengantar orang kepada hidup yang kekal? (ay.36). Lebih lanjut Yesus mengatakan bahwa semakin banyak orang datang kepada Yesus, maka para penabur – yaitu pemberitaan para nabi di dalam Perjanjian Lama – dan penuai – yaitu para murid – akan mendapatkan sukacita yang besar. Bahkan seluruh isi Sorga akan bersorak-sorai jika ada salah satu pendosa bertobat (lih. Lk 15:7). Dengan ini, Yesus memberikan tugas perutusan kepada para murid, yaitu untuk menuai apa yang telah ditabur oleh para nabi di dalam Perjanjian Lama (ay. 38-39).

h. Ayat 39-42: Orang-orang ingin menjadi sahabat Yesus.

Tidak lama setelah diskusi tentang tuaian, kemudian datanglah banyak orang-orang Samaria yang percaya akan pemberitaan perempuan Samaria itu. Inilah tuaian yang telah siap dipetik. Orang-orang Samaria yang percaya akan pemberitaan dari perempuan Samaria itu datang kepada Yesus. Mereka tidak puas hanya mendengar cerita dari perempuan Samaria, sehingga mereka ingin mendengarnya secara langsung dari Yesus. Itulah sebabnya mereka meminta Yesus untuk tinggal dua hari lamanya (ay.40), sehingga lebih banyak lagi orang yang percaya karena perkataan Yesus (ay.41). Hal ini terekam dalam Injil, yang menuliskan “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” Ini juga yang seharusnya dilakukan oleh kita semua yang telah mengenal Allah dalam melakukan pewartaan. Kita berusaha agar orang-orang yang kita wartakan mendengar sendiri kesaksian dari Yesus. Dengan apa? Dengan mengajak mereka untuk mendalami Firman Tuhan, dengan mengajak mereka untuk mendengarkan apa yang dikatakan Gereja – karena Kristus telah memberikan kuasa kepada Gereja-Nya (lih. Mt 16:16-19) dan Kristus sendiri yang mengatakan “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Lk 10:16).

IV. Dari perkenalan sampai menjadi pewarta

Kalau kita membaca perikop ini secara teliti, maka kita akan melihat adanya tahapan dalam mengenal Yesus, dari tahap perkenalan sampai tahap menjadi pewarta. Perempuan Samaria itu mengenali Yesus sebagai salah satu dari umat Yahudi. Semakin lama, percakapan dengan Yesus membuka jati diri perempuan itu, yaitu seorang pendosa, yang pada akhirnya membuka satu kebenaran yang baru – yaitu Yesus adalah seorang nabi. Kesadaran akan dosa ini menjadi elemen penting sebelum masuk ke tahap yang lebih mendalam dengan Yesus, karena persahabatan yang lebih dalam dengan Yesus menuntut hal atau nilai (value) yang sama. Kalau Tuhan adalah kudus dan tidak berdosa, maka satu-satunya yang memisahkan manusia dengan Tuhan adalah dosa. Jadi, kalau manusia ingin berteman dengan Tuhan, hanya ada satu cara, yaitu meninggalkan dosa yang telah dilakukannya dan mengikuti jalan Tuhan – yaitu jalan kekudusan.

Walaupun perempuan ini tahu bahwa Yesus adalah seorang nabi, namun ini bukanlah kebenaran yang lengkap. Yesus menginginkan kebenaran yang penuh untuk perempuan Samaria ini. Percakapan tentang kebenaran tempat penyembahan membuka satu kebenaran yang baru dan hakiki, bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Kebenaran ini adalah kebenaran yang membebaskan, kebenaran yang menggembirakan, sehingga perempuan ini tidak mampu untuk menyimpannya sendiri. Meninggalkan segala miliknya, dia berkeliling kota menceritakan apa yang dialaminya bersama dengan Kristus, sehingga banyak orang yang percaya akan cerita perempuan Samaria ini. Namun, orang-orang yang percaya akan cerita perempuan Samaria ini tidak puas hanya mendengar cerita dari sumber kedua. Mereka ingin mengalami Yesus secara langsung, sehingga mereka akhirnya menjadi percaya. Dan kepercayaan yang berdasarkan pengalaman bersama Yesus tidaklah sia-sia. Mereka siap untuk menjadi pewarta, sama seperti perempuan Samaria itu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah mengalami perjumpaan dengan Yesus, yang mengantar kita kepada pertobatan dan mengantar kita kepada seluruh kebenaran? Siapkah kita diutus dan mewartakan kabar gembira? Jangan lupa mewartakan Kristus bukanlah pilihan. Itu adalah perintah, seperti yang diperintahkan Kristus di Mt 28:19-20 “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Catatan: Artikel ini dipakai untuk pendalaman Kitab Suci di Paroki Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk, tanggal 23 Maret 2011

Mesothelioma dan perjalananku menemukan kembali kedamaian sejati dalam GerejaNya

13

Pengantar dari Editor:

Terima kasih, John Lusk, atas kisah pengalaman hidup anda yang anda kirimkan kepada kami di Katolisitas.  Kisah anda mengajarkan kami untuk terus beriman akan kasih Kristus yang tak pernah beranjak. Sungguh, pengalaman anda menggugah hati kami bahwa Allah dapat mengubah kejadian yang terburuk sekalipun dalam kehidupan kita untuk mendatangkan kebaikan, bahkan kebaikan yang tak ternilai harganya, karena melaluinya Tuhan menarik kita kepada jalan keselamatan-Nya.  Sebab tidak sesuatupun yang terjadi yang  “akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:39) Selamat Datang dalam keluarga besar Gereja Katolik. Salam hangat kami di Katolisitas untuk anda sekeluarga.  Sebagai  saudara saudari seiman, kami akan turut mendoakan anda, semoga Tuhan Yesus memberikan rahmat-Nya yang menyembuhkan, dan Ia selalu mendampingi , memberikan kekuatan, penghiburan, damai sejahtera bagi anda untuk melalui hari- hari yang sulit ini. Semoga Tuhan terus bekerja di dalam hidup anda, dan melalui anda, banyak orang dapat dibawa lebih dekat kepada Tuhan. Sebab sungguh, tiada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.

From the editor:

We thank you, John Lusk, for your beautiful testimony which you have shared with us in Katolisitas. From it we learn to have faith that God never stops loving us. We are deeply inspired by it, for it reminds us that God can turn the worst situation into good, even into the most precious one, because through it God draws us closer into the way of salvation. Because there is no one or nothing “could ever separate us from the love of God which is in Christ Jesus, our Lord.” (Rom 8:39). Welcome to the family of the Catholic Church. Warmest regards to you and your family. As one family in faith, we pray for you: May God be with you, to touch you with His healing grace, and to give you strength, consolation and peace in these difficult times.  May God continually work in you, and through you many people are brought closer to God. For nothing indeed, can separate us from His love.

Also thanks to you, Kyle Brownell, for introducing John Lusk to us. May God bless you, too, for the service you have done for His Church.

Oleh : John Lusk

Berita buruk seusai pernikahan seorang sahabat

Saat itu di bulan Januari 2008, saya dan istri saya tengah mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan dari tempat tinggal kami di Wisconsin, Amerika, menuju ke Filipina, negara kelahiran istri saya. Kami diminta hadir untuk merestui pernikahan seorang anak gadis bagi siapa istri saya pernah menjadi ibu (wali) baptisnya. Sebagai salah satu persiapan sebelum perjalanan panjang itu, saya pergi menemui dokter keluarga untuk menjalani pemeriksaan rutin enam bulan sekali dan untuk mendapatkan persetujuan melanjutkan pengobatan yang selama ini saya jalani, yaitu untuk memerangi tekanan darah tinggi, gangguan prostat, dan tambahan pengobatan untuk diabates saya. Sebelumnya, di awal minggu itu saya telah menerima telepon dari dokter yang meminta saya untuk berhenti mengkonsumsi obat diabates saya. Tidak ada penjelasan apa-apa, saya hanya diminta untuk berhenti meminumnya.

Setelah bertemu dokter dalam kunjungan rutin itu, saya baru mengetahui alasan di balik instruksi untuk menghentikan pengobatan diabates saya, yaitu ditemukannya gangguan pada fungsi lever saya. Namun selanjutnya, dokter menemukan bahwa penyebabnya ternyata bukan obat diabetes dan ia meminta saya meminumnya kembali. Untuk mengetahui apa penyebab yang pasti dari gangguan pada fungsi lever saya, janji konsultasi dengan dokter spesialis lever dan spesialis paru-paru segera saya buat. Hasil pemeriksaan dengan dokter spesialis paru-paru menemukan adanya timbunan cairan di paru-paru saya sebelah kanan. Segera sesudah itu saya menjalani pembersihan timbunan cairan tersebut dan tak kurang dari satu liter cairan dikeringkan dari paru-paru saya. Barulah setelah semua perlakuan medis itu selesai, dokter mengijinkan saya terbang ke Filipina. Ketika itu acara pernikahan yang akan kami hadiri sudah berjalan dan sekalipun kami akhirnya sampai di sana, kami sudah tertinggal upacara pernikahan tersebut.

Setelah kembali ke Amerika, saya menjalani pemeriksaan lagi (CAT scan) dan ternyata lagi-lagi ditemukan cairan dalam paru-paru saya. Dokter mengatakan bahwa cairan itu bisa dikeringkan lagi tetapi harus dicari apa yang menyebabkan timbulnya timbunan cairan itu di dalam paru-paru saya. Saya menyetujuinya dan dari hasil pemeriksaan dokter akhirnya ditemukan bahwa saya menderita mesothelioma (kanker paru-paru). Kabar itu sungguh terasa melumpuhkan saya, saya merasa terguncang. Saya merasakan kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu di dalam sanubari saya. Berulang-ulang pertanyaan yang sama menghantui saya, “Kenapa harus saya?” Saya menguatkan diri untuk melakukan studi di internet dan akhirnya saya menemukan ahli spesialis yang khusus menangani mesothelioma.

Kerinduan lama yang mengusik batin

Sementara itu, di tengah-tengah masa-masa saya sedang mengasihani diri saya sendiri dalam kepedihan akibat berita buruk itu, hati saya merasa menemukan Tuhan lagi, dengan kesadaran yang berbeda dari kesadaran saya sebelumnya. Ketika itu saya sudah tidak pernah lagi pergi ke gereja – gereja manapun – selama hampir 30 tahun. Tetapi selama itu sebenarnya saya merasa bahwa saya mempunyai keyakinan yang kuat bahwa Tuhan itu ada dan saya percaya akan kuasaNya. Walaupun saya tidak ke gereja, saya telah selalu menganggap diri saya pertama-tama dan terutama adalah seorang Kristen, pengikut Kristus. Hanya saja entah bagaimana saya memang telah menjauh dari Dia.  Saya rasa ini adalah perasaan dan fenomena yang umum di kalangan masyarakat Kristiani bangsa-bangsa Barat.

Saya lahir, dibaptis, dan dibesarkan sebagai seorang Southern Baptist (salah satu denominasi gereja Kristen Baptis). Di masa muda, saya pernah sekilas mengenal Gereja Katolik dan ketika itu saya tidak mempunyai masalah apa-apa untuk turut merayakan Misa dalam gereja Katolik. Dalam hati saya, saya percaya akan arti dari merayakan ibadat atau misa di gereja, apapun denominasinya. Namun saat itu saya tidak pernah merasakan kemantapan untuk menjalani pengakuan dosa kepada imam dan menerima sakramen pengakuan dosa dan saya memang tidak pernah secara serius ingin menjadi seorang Katolik. Sampai sebelum saya menjadi Katolik, saya dan istri saya sering menghadiri acara-acara yang disponsori oleh gereja-gereja Southern Baptist di komunitas tempat kami tinggal. Kebanyakan acara yang saya ikuti adalah perayaan Natal, makan malam bersama persekutuan doa para pria, dan acara-acara nasional seperti acara kemerdekaan (Amerika) tanggal 4 Juli.

Kemudian, di tengah berita buruk yang saya terima bahwa saya mengidap kanker paru-paru itulah, secara perlahan namun pasti saya mulai merasa bahwa gereja Southern Baptist kurang dapat mengakomodasi kebutuhan jiwa saya. Saya mulai mencoba kembali mengikuti Misa Kudus dalam gereja Katolik dan saat itu saya mulai menyadari bahwa di dalam perayaan Ekaristi itu saya mengalami jawaban atas kerinduan hati saya yang selama ini saya rasakan tidak terpenuhi. Saya mulai membuat daftar pertanyaan mengenai iman Katolik, sebagai upaya saya menemukan pemuasan akan kehausan yang saya rasakan di dalam batin saya, dan saya mulai serius untuk mempertimbangkan menjadi seorang Katolik. Teman baik saya, seorang Katolik yang setia, Kyle Brownell, memberikan kepada saya bahan-bahan literatur mengenai iman Katolik untuk saya pelajari, dan ia juga memberikan sebuah rosario kepada saya, lengkap dengan cara mendoakannya. Itulah saat ketika saya mulai berdoa lagi, dan mencoba untuk berdoa rosario buat pertama kalinya.  Dalam doa itu saya memberanikan diri untuk meminta kepada Tuhan,”Tuhan, ijinkan saya tetap hidup sampai lima tahun lagi”. Mengapa lima tahun? Entahlah, saya sendiri tidak mengetahuinya, saya sendiri tidak tahu mengapa saya tidak minta 10 atau bahkan sampai 20 tahun lagi! Saya percaya bahwa Tuhan menjawab doa manusia melalui salah satu dari ketiga kemungkinan ini:  1) Ia setuju dengan permohonan kita dan menjawab’ya’, 2) Ia menjawab ‘Belum saatnya, tunggulah beberapa waktu’ atau 3) Ia menjawab demikian, ‘Aku mempunyai rencana yang lebih baik’. Seperti yang dinyatakan dalam Amsal 28:5b, “Tetapi orang yang mencari TUHAN, mengerti segala sesuatu

Perkiraan manusia dan kekuasaan Tuhan

Beberapa waktu kemudian saya menemui dokter spesialis saya dan ia mengatakan bahwa ia harus mengoperasi saya, karena kondisi saya akan menjadi semakin serius. Operasi itu akan melibatkan pengangkatan paru yang terkena kanker, menguliti rongga dada, pengangkatan sebagian dari jaringan kulit tepi di sekitar jantung, dan menghilangkan serpihan-serpihan dan potongan sisa pengangkatan dari diafragma saya. Oh, betapa siapapun akan bergidik membayangkan prosedur operasi seberat itu. Dan kalau saya dapat bertahan hidup melewati semua proses operasi yang menyeramkan itu, saya akan diminta melanjutkan pengobatan dengan kemoterapi yang disusul dengan radiasi. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah saya baca, kemoterapi hanya 28 % efektif untuk mematikan sel kanker, sedangkan terapi dengan radiasi adalah bersifat tidak pandang bulu, terapi itu akan membunuh semua yang disentuhnya, baik sel-sel kanker maupun sel-sel yang sehat.

Ketika saya bertanya kepada dokter saya mengenai harapan untuk bertahan hidup setelah melewati semua operasi dan terapi yang telah ia kemukakan, ia mengatakan bahwa 25 persen pasien bisa melewati angka lima tahun. Untuk sesaat saya berpikir bahwa jawaban dokter ini adalah jawaban Tuhan atas doa permohonan saya di atas. Namun kemudian dalam akal sehat saya, saya sadar bahwa tidak ada usaha apapun yang dapat dilakukan manusia untuk memberikan kepastian jaminan bertahan hidup selama lima tahun atau berapapun. Saya juga menyadari bahwa itu artinya ada 75 % pasien yang tidak bertahan hidup hingga melewati lima tahun. Sesungguhnya data menunjukkan bahwa sebagian besar pasien itu hanya bertahan selama 23 – 28 bulan dalam keadaan kualitas hidup yang buruk. Dokter mengatakan bahwa tanpa tindakan operasi di atas, harapan saya untuk bertahan hidup diperkirakan hanya akan mencapai 18 – 24 bulan.

Tuhan yang selalu rindu dan memelihara saya

Hari di saat ia mengatakan hal itu kepada saya adalah tanggal 1 Juli 2008. Hari ini telah hampir tiga tahun (36 bulan) hari itu berlalu. Saya telah berhasil melewati perkiraan batas waktu lamanya hidup yang dokter itu katakan kepada saya. Hal ini membuat saya bertambah yakin bahwa manusia tidak pernah mampu untuk mengetahui berapa lama seorang pasien kanker akan bertahan hidup. Manusia hanya dapat membuat perkiraan ilmiah berdasarkan data dan penelitian yang mereka lakukan, namun hanya Tuhan yang tahu berapa lama seseorang akan hidup. Bersama pemazmur saya ingin melantunkan pujian dan hormat kepada Tuhan yang memelihara saya, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu (Mazmur 103 : 1 – 3).

Kembali ke studi internet untuk menemukan pengetahuan selanjutnya,  saya menemukan sebuah situs yang sangat informatif yang bernama “Cancer Monthly” (Jurnal bulanan mengenai kanker). Situs itu telah menerbitkan dua buah buku mengenai mesothelioma. Buku yang pertama ditulis oleh seorang pria penderita mesothelioma yang telah bertahan hidup selama 11 tahun dan buku yang lainnya ditulis penderita penyakit yang sama yang telah bertahan hidup selama 7 tahun dengan penyakit itu. Keduanya dengan tanpa menjalani operasi besar seperti yang dikemukakan dokter spesialis yang menangani saya. Pasien-pasien itu bertahan karena mereka telah mengubah cara hidup mereka, mereka menjadi vegetarian (hanya makan sayur sayuran dan tidak makan daging) serta mengkonsumsi makanan suplemen. Faktor pendukung lain yang penting adalah faktor yang cukup sering saya baca yaitu iman mereka kepada Tuhan dan doa meditasi harian yang rutin.

Perjalanan pulang kepada kerinduan jiwa saya yang sebenarnya

Sementara saya merasakan keajaiban penyelenggaraan Tuhan dalam hidup saya dengan kanker, pergumulan kerinduan saya kepada Tuhan terus berlanjut. Berbeda dengan ritual ibadat di dalam gereja Baptis dimana anggotanya merangkul orang untuk percaya kepada Kitab Suci dengan persuasi yang bagi saya terasa memaksa dan nada tinggi pengkotbahnya yang sering menekankan mengenai api neraka dan hukuman kekal, saya mendapati atmosfir kedamaian di dalam Gereja Katolik yang berorientasi pada pembelajaran, saling belajar dan mengajar. Pembacaan Firman Tuhan selalu dilanjutkan dengan penjabarannya dalam pergumulan hidup nyata sehari-hari dimana saya belajar menerapkan Firman Tuhan di dalamnya. Suatu peribadatan yang terasa jauh lebih tenang, damai, dan menyejukkan bagi saya. Saya juga merasa lebih bisa berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi / Misa Kudus dalam Gereja Katolik. Setelah sekian puluh tahun saya tidak lagi pergi ke gereja, saya tahu bahwa tangan Tuhan Yesus sendirilah yang membawa saya untuk datang ke perayaan misa gereja Katolik dan saat ketika misa berakhir, saya tahu bahwa saya telah menemukan apa yang selama ini saya cari, apa yang selama ini dirindukan oleh jiwa saya.

Saya memberikan diri saya mengikuti kelas katekumen untuk menjadi anggota gereja Katolik dan pada bulan Maret 2009 saya resmi menjadi Katolik (melalui upacara ‘Konfirmasi’). Konfirmasi saya menjadi Katolik adalah suatu titik kulminasi dari pergulatan batin saya sejak sekian lama. Saya bahagia bahwa kini saya dapat berpartisipasi sepenuhnya di dalam Misa Kudus, dan menyambut Komuni Suci. Upacara konfirmasi itu sendiri adalah sebuah upacara yang sangat indah yang mengambil bagian di dalam Misa Malam Paskah. Saya merasakan upacara itu begitu memenuhi hati saya dengan sukacita, saya telah menemukan tempat di mana saya merasakan kedekatan yang lebih indah dan hangat dengan Tuhan. Sungguh suatu pengalaman yang membuat jiwa saya damai. Saya menjadi lebih rindu untuk menjalani hidup sebagai seorang Kristen yang benar. Hidup adalah sebuah pertempuran abadi antara menjadi orang yang baik dan berkenan pada Allah dan menjadi orang yang penuh kebencian yang selalu mencari jalan untuk membalaskan kemarahan dan dendam.

Kini saya merasakan kedamaian dengan apapun yang Tuhan kehendaki terjadi pada saya. Kedamaian yang rasanya telah begitu lama hilang yang kini telah saya temukan kembali. Kini saya mempunyai keyakinan yang teguh bahwa seluruh hidup saya berada dalam genggaman tanganNya yang penuh kasih. KehendakNya yang akan terjadi, bukan kehendak saya. Saya tetap berjuang melawan kanker yang saya derita dan saya selalu tetap berdoa memohon hidup yang lebih lama kepada Tuhan. Saya tidak merasa bahwa saya sedang bersikap ngotot dengan Tuhan dalam hal ini, karena saya percaya sepenuhnya bahwa manakala Tuhan telah menghendaki saya untuk bersatu lagi dengan Dia, Dia akan memanggil saya dan dengan ikhlas saya akan memenuhi panggilanNya untuk pulang. Saya tidak merasa takut lagi. Saya tidak tahu apa rencana Tuhan bagi saya saat ini, tetapi apabila saya telah purna menunaikan misi saya di dunia ini, Dia akan memanggil saya pulang. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku. (Galatia 2 : 20).

Penuh damai dan harapan yang indah di dalam Tuhan

Saat saya menulis pengalaman saya ini, saya tidak dalam kondisi merasakan sakit apapun. Terpujilah Tuhan! Saya masih terus menjalani pengangkatan cairan di dalam paru-paru saya. Pada proses pengeringan yang terakhir yang saya jalani, tiga liter cairan harus dikeluarkan dari paru-paru saya. Karunia Tuhan yang paling berharga di dalam perjuangan saya ini adalah istri saya, perjalanan ini pasti akan terasa jauh lebih berat tanpa dukungan dan kasihnya kepada saya. Namun di atas semuanya, kasih dan dukungan terus menerus dari Tuhanlah yang membuat saya bertahan. Di balik segala bentuk kasih, perhatian, dan pemeliharaan yang saya terima dari sesama manusia, ada Tuhan bersemayam di sana. Tuhan Yesus Kristus yang selalu menjadi kerinduan jiwa saya yang terdalam, sekalipun saya tidak selalu menyadarinya.  Penderitaan dari penyakit kanker yang saya alami ini telah membawa langkah kaki saya menemukan kedamaian sejati bersama Dia lagi di dalam Gereja Katolik, kedamaian yang tadinya sempat hilang, dan yang kini saya tahu tidak akan pergi lagi dari diri saya, karena saya telah kembali ke rumah jiwa saya yang sejati di dalam GerejaNya. Bersama Kristus di dalam Gereja-Nya saya menghadapi hidup ini dengan rasa syukur, sebab Ia telah memerdekakan saya dari rasa takut, bahkan takut terhadap kematian. Sebab saya percaya, Tuhan Yesus tidak akan meninggalkan saya sampai kulihat wajah-Nya dalam kemuliaan surga yang kekal selamanya.

“Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8 : 31-32, 34-36)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab