Home Blog Page 206

Melompat dalam iman bersama Roh Kudus

-1

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor 4:18)

Suatu peristiwa langka yang berharga terjadi di acara doa penghormatan terakhir kepada tetangga di sebelah rumah orangtua saya, yang wafat minggu lalu dalam usia 82 tahun. Jumlah tahun lamanya beliau menjadi tetangga orangtua saya sama dengan jumlah umur saya. Kenangan bersama beliau sebagai tetangga sebelah rumah telah turut mewarnai masa kecil dan masa remaja saya. Peristiwa langka yang saya maksud itu adalah saling bertemunya kembali para kolega dan para tetangga ayah dan ibu saya dari berbagai penjuru di sekitar perumahan tempat orangtua saya tinggal, karena melayat tetangga kami yang wafat tersebut. Secara tak terduga, acara itu menjadi suatu ajang reuni yang mengharukan. Suasana sedih dan haru karena kematian seorang tetangga yang baik, menjadi kontras karena ditingkahi oleh suara-suara kegembiraan yang tertahan, suasana saling melepas rindu antar tetangga dan kolega yang sudah bertahun-tahun, bahkan bagi saya, puluhan tahun, tidak berjumpa.

Dalam doa bersama kami sekeluarga di malam harinya, ibu saya mengucap syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang dikaruniakan-Nya kepada kami pada hari itu, untuk berjumpa lagi dengan banyak teman dan sahabat lama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kami sekeluarga. Ada keharuan yang menyeruak di hati saya. Ternyata sebuah kepergian dan perpisahan bisa menjadi sarana terjadinya perjumpaan lain yang indah dan berharga. Pada saat yang sama, saya membayangkan perasaan para Rasul di hari kenaikan Yesus ke Surga. Saat mereka mengalami perpisahan dengan Guru yang mereka cintai dan hormati, yang selama tiga tahun telah mengubah hidup mereka secara total. Apakah kemudian para Rasul mengalami kesedihan, kegamangan, dan kehampaan hidup? Sebagai manusia, pasti jawabnya sempat ya. Tetapi, perpisahan dengan Yesus itu ternyata tidak membuat mereka merasa ditinggalkan sendirian, bahkan mereka bersukacita, …lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (Lukas 24: 52b).  Justru perpisahan dengan Sang Guru adalah awal dari karya besar mereka bersama Tuhan di dalam iman. Perpisahan itu membuka kesempatan terjadinya suatu perjumpaan lain, yang juga menjadi titik tolak perjalanan iman kita sendiri sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus, yang pada saat kita hidup sekarang ini, Dia juga tidak nampak secara fisik bagi mata manusiawi kita. Melalui apa yang dialami para Rasul-Nya, Tuhan Yesus mengajak kita untuk menemukan keindahan relasi yang intim dengan Dia dalam dimensi yang baru. Dimensi yang melibatkan ketekunan dan komitmen, dimensi yang menantang iman.

Ketika Yesus hendak meninggalkan para murid untuk kembali ke Surga, Dia memberikan janji yang memberikan sumber kekuatan dan kepastian yang indah bagi anggota Gereja perdana itu. Kata-kata-Nya terus mengiang di telinga dan hati para murid, mengikis kegamangan dan kehampaan yang sempat hadir di hati mereka. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. (Yoh 14:16-17). Untuk pertama kalinya, mereka akan memulai tugas mulia akan pewartaan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia, yang dipercayakan kepada mereka, tanpa Yesus di sisi mereka. Tetapi sekarang mereka mempunyai apa yang disebut Yesus sebagai ‘Penolong yang lain’. Dan tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan Penolong lain itu, selain kata, dahsyat, karena Ia adalah Pribadi Tritunggal yang ketiga. Sekaranglah saatnya kita mengenal Dia dan mengalami karya-karya-Nya. Roh Kudus Penghibur justru dirasakan sepak terjangnya secara penuh, manakala Yesus sudah tidak lagi berada di tengah-tengah mereka secara fisik seperti sebelumnya. Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14: 25-26).

Bersama para Rasul yang berdoa bersama Bunda Maria menantikan turunnya Roh Kudus di hari-hari sesudah kenaikan-Nya ke Surga, kita mempunyai kesempatan untuk belajar mengalami perjumpaan yang baru. Memusatkan seluruh perhatian kita kepada Yesus yang tidak nampak, yang tidak dapat kita alami dengan panca indera manusiawi kita, tetapi yang hadir secara nyata, terus menyertai kita, sebagaimana Ia berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yoh 14:18). Inilah saatnya kita menghayati kehadiran Tuhan melalui buah-buah Roh-Nya, yang memberi kita kerinduan untuk terus berada dalam perbuatan kasih, dalam damai sejahtera, dalam keadaan selalu haus untuk mewartakan Kabar Gembira yang dibawa oleh kebangkitan-Nya. Tentu hal ini bukan hal yang mudah. Dengan cepat, hiruk pikuk dunia ini dengan segala pesonanya yang memikat, membuat kita mudah lupa untuk berkonsentrasi merasakan Ia hadir, berkarya, dan menarik kita mendekat kepada Allah. Apalagi ditambah sifat dasar kita sebagai manusia yang selalu menuntut bukti, meminta penjelasan yang dapat diterima akal sehat, dan mengharapkan efek yang cepat dan nyata. Tetapi sebenarnya, sama halnya ketika kita sedang berada jauh dari orang yang kita sayangi, kita merasakan kasih dan perhatiannya, sekalipun kita tidak melihatnya. Inilah saatnya kita menghayati apa yang dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam Ibrani 11:1, di mana Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Justru iman yang terus memerlukan bukti inderawi tidak berkesempatan untuk tumbuh dan teruji. Iman hanya tumbuh kalau diberi kesempatan untuk berkembang di dalam hal-hal yang tidak kelihatan. Pada saat itulah iman itu memberi kita peluang untuk mengalami karya-karya Tuhan yang luar biasa, yang pada akhirnya tidak hanya dapat dialami dengan kacamata iman, tetapi juga sebagai sesuatu yang nampak dan dirasakan buahnya oleh orang lain di sekitar kita. Kita sendiri dapat menilai bahwa buah-buah itu nyata, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, penguasaan diri (Gal 5:22-23). Dan kasih dijabarkan sebagai sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13:4-8). Ketaatan dan kasih para Rasul kepada Allah membuat mereka terus mengalami penyertaan Yesus, lama setelah Dia tidak lagi berada secara fisik di tengah mereka. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Markus 16 : 20). Seperti yang pernah diungkapkan St Ignasius, dalam kehidupan beriman, kita tidak melihat dulu baru percaya, tetapi justru percaya dulu, baru kita akan melihat. Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Kor 4 : 7).

Inilah keindahan yang diwariskan Yesus yang telah meninggalkan dunia untuk kelak datang kembali dalam kemuliaan. Warisan yang memberi kesempatan bagi iman kita untuk tidak lagi merangkak pelan karena sibuk mencari bukti dan tanda-tanda lahiriah, tetapi menjadi sebuah lompatan iman, mempercayai Dia yang secara indera manusawi tidak kelihatan, tidak bersuara, tidak teraba, namun yang hadir dalam segala sesuatu dan menginspirasi setiap langkah kita menuju kepada-Nya. Membuat jadi baru seluruh keberadaan kita di dalam api kasih, menyalakan semangat untuk menghidupi hidup dengan sukacita yang selalu baru setiap pagi, karena kita tahu pasti dalam iman, keselamatan dalam kasih-Nya yang telah menanti kita di depan. (caecilia triastuti)

Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.  Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yoh 14: 19-20).

Marilah berdoa:

Allah Bapa di Surga, kami bersyukur atas karunia Roh Kudus yang selalu menyertai kami dan membantu kami memahami kehendak-Mu yang indah bagi hidup kami. Ampunilah kami kalau kami lebih sering mengikuti jalan dan hikmat kami sendiri, sehingga kami belum menemukan kepenuhan hidup seperti yang selalu Engkau rindukan melimpah atas kami masing-masing. Mohon bukalah hati kami untuk selalu mampu mengalami penyertaan Roh-Mu yang menyelamatkan dan membawa kepada kedamaian sejati, dan kuatkanlah kami untuk terus melangkah di jalan teladan Yesus Kristus Putera-Mu, agar oleh karena kerendahan hati dan ketaatan-Nya yang penuh kepada-Mu, kami pun sanggup mengosongkan diri kami untuk dapat dijiwai, dihidupi, ditopang sepenuhnya oleh kuasa Roh Kudus-Mu yang sangat indah dan selalu kami rindukan dalam jiwa kami melebihi apapun juga. Engkaulah sumber keselamatan dan sukacita jiwa kami yang sejati. Kami serahkan hidup kami sepenuhnya bagi-Mu Tuhan, dan hanya kepada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa, amin.


Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala?

2

Walaupun adakalanya umat Katolik berdoa di depan patung, umat Katolik tidak menyembah berhala. Jika umat Katolik menunjukkan sikap hormat di depan patung Tuhan Yesus, Bunda Maria ataupun para orang kudus lainnya, itu adalah karena umat Katolik menghormati pribadi yang digambarkan oleh patung tersebut. Penghormatan ini disebut dulia relatif, seperti yang sudah pernah diuraikan di link ini: https://katolisitas.org/6656/apa-itu-devosi-kepada-bunda-maria Contoh penghormatan ‘Dulia relatif‘ yaitu pada saat Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk membuat patung ular dari tembaga yang dipasang di sebuah tiang, agar barang siapa yang memandang patung itu akan tetap hidup walaupun telah dipagut ular (Bil 21:8-9). Ular tembaga yang ditinggikan di tiang ini menjadi gambaran akan Yesus Kristus yang juga akan ditinggikan di kayu salib (lihat Yoh 3:14). Tentu saat itu, orang Israel tidak menyembah berhala, sebab Allah-lah yang menyuruh mereka menghormati dengan ‘memandang ke atas’ ular tembaga yang dibuat oleh Musa itu. Penghormatan dulia- relatif lainnya yang dicatat dalam Kitab Suci, adalah ketika Tuhan menyuruh Musa untuk membuat tabut perjanjian, dengan membuat patung malaikat (kerub) untuk diletakkan di atas tutupnya (lih. Kel 37). Di dalam tabut diletakkan roti manna (Kel 25:30), tongkat Harun (Bil 17:10) dan kedua loh batu sepuluh perintah Allah (Kel 25:16). Tabut perjanjian ini kemudian menyertai bangsa Israel sampai ke tanah terjanji yang dipimpin oleh nabi Yosua. Kitab Yosua mencatat bahwa Yosua bersama- sama para tua- tua sujud ke tanah menghormati tabut Tuhan: “Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel….” (Yos 7:6). Tentu tabut itu bukan Tuhan, dan tentu yang dihormati bukan apa yang nampak, yaitu kotak dengan patung malaikat (kerub) di atasnya, tetapi adalah Allah yang dilambangkan-Nya. Yosua dan para tua- tua Yahudi pada saat itu tidak menyembah berhala, Allah tidak menghukum mereka karena sujud di depan tabut itu. Sebaliknya Allah menerima ungkapan tobat mereka, dan menyatakan kehendak-Nya atas apa yang harus mereka perbuat terhadap Akhan, yang melanggar perintah-Nya. Demikian pula, pada saat Raja Salomo memimpin pentahbisan bait suci, dan ia berlutut di hadapan mezbah yang terletak di depan ruang mahakudus (lih. 1 Raj 8:54). Dengan berlutut, Raja Salomo tidak sedang menyembah mezbah, maupun tabut perjanjian yang diletakkan di ruang mahakudus itu, tetapi ia menyembah Allah yang digambarkan oleh benda-benda itu. Allah tidak menghukum Raja Salomo karena telah berlutut di hadapan mezbah itu, malah sebaliknya, Allah menerima penghormatan Raja Salomo, dan berkenan menguduskan bait Allah yang telah didirikan oleh Raja Salomo, dan membuat nama-Nya, mata-Nya dan hati-Nya tinggal selamanya di situ (lih. 1 Raj 9: 3).

Jadi, larangan pembuatan patung dalam Perjanjian Lama (lih. Kel 20:4) berada dalam kesatuan dengan ayat sebelumnya (ayat 3) dan sesudahnya (ayat 5), yaitu bahwa Allah melarang umat-Nya membuat patung yang menyerupai apapun untuk disembah sebagai allah lain di hadapan-Nya. Namun jika patung itu sendiri tidak disembah sebagai allah lain, gambaran yang menyerupai sesuatu tidak dilarang Tuhan. Allah sendirilah, yang menyuruh membuat patung kerub/ malaikat untuk ditempatkan di tempat kudus-Nya (lih. Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35). Di Perjanjian Lama, Allah memang melarang umat-Nya menggambarkan Diri-Nya ke dalam bentuk patung, karena Ia sendiri belum menggambarkan Diri-Nya. Namun kemudian Allah sendiri memperbaharui ajaran ini, dengan menggambarkan Diri-Nya di dalam Kristus (lih. Kol 1:15); dengan demikian, manusia memperoleh gambaran akan Tuhan. Oleh karena itu penggambaran akan Kristus dalam bentuk patung, lukisan atau bahkan gambar dalam film kartun tidaklah melanggar perintah Allah, karena Allah telah terlebih dahulu menggambarkan Diri-Nya di dalam Kristus. Gambar/ patung itu tidak disembah, namun hanya dimaksudkan sebagai alat bantu untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan.

Maka sikap hormat di hadapan patung/ gambar Tuhan Yesus, Bunda Maria atau para kudus lainnya bukan merupakan penyembahan berhala, sebab yang dihormati bukan patung itu sendiri melainkan pribadi yang dilambangkannya. Sejak abad awal gereja jemaat purba (katakomba) telah dihiasi oleh gambar- gambar rohani (Christian art), yang terlihat dari dinding- dinding gereja bawah tanah tersebut, yang antara lain ditemukan di abad ke-16 (31 Mei 1578, katakomba di Via Salaria). Adanya gambar Kristus Gembala yang baik, atau Kristus yang duduk di antara para orang kudus dan simbol- simbol serta ornamen lainnya (seperti daun palma, domba, salib, ikan, dst) juga nampak pada kubur batu (sarcophagi) umat Kristen. Kubur yang terkenal milik Julius Bassus (45-101), sudah dihiasi gambar- gambar peristiwa dalam Perjanjian Baru. Patung St. Hippolytus dan St. Petrus sudah dibuat di awal abad ke-3. Maka pandangan bahwa jemaat purba menolak semua gambar atau patung adalah pandangan yang keliru. Setelah jaman Kaisar Konstantin (306-307) memang terdapat perkembangan pesat dalam hal seni Kristiani, namun tidak ada perubahan prinsip di sini. Ornamen- ornamen di basilika merupakan perkembangan dari ornamen- ornamen di dinding katakomba; patung- patung di basilika dibuat lebih besar dan lebih indah daripada patung- patung di kubur batu/ sarcophagi.

Dasar Kitab Suci

  • Bil 21:8-9; Yoh 3:14: Dulia relatif: Allah memerintahkan Musa untuk membuat patung ular tembaga di sebuah tiang, yang menjadi gambaran Yesus yang ditinggikan di kayu salib
  • Kel 20 3-5: Larangan membuat patung untuk disembah sebagai allah lain
  • Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35, 7:23-26: Allah memerintahkan pembuatan patung kerub yang diletakkan di atas tabut perjanjian.
  • Yos 7:6: Yosua sujud sampai ke tanah di hadapan tabut perjanjian.
  • 1 Raj 8:54; 1 Raj 9:3: Raja Salomo berlutut di hadapan mezbah di bait Allah, dan Allah berkenan menerima penghormatan Raja Salomo.
  • Yeh 41:17-18: ukiran gambar- gambar kerub/ malaikat dan pohon- pohon korma di ruang Bait Suci.

Dasar Tradisi Suci

  • Tertullian (160-220): “Adalah cukup bahwa Tuhan yang sama, sebagaimana dengan hukum melarang pembuatan patung yang menyerupai apapun, juga dengan perintah yang khusus, seperti dalam kasus ular tembaga [jaman Nabi Musa], memerintahkan untuk membuat patung [yang menyerupai ular].” (Tertullian, On Idolatry, chapt. 5)
  • St. Basilius Agung (330-379): “Penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar mengacu kepada tokoh yang digambarkannya” (St. Basilius, De Spiritu Sancto. 18,45).
  • St. Ambrosius (397) menuliskan dalam suratnya bahwa suatu malam Rasul Paulus menampakkan diri kepadanya, dan St. Ambrosius mengenali Rasul Paulus dari kemiripan dengan gambar/ lukisan tentangnya (Ep. ii, in P.L., XVII, 821).
  • St. Agustinus (wafat 430) menyebutkan beberapa kali tentang lukisan Tuhan Yesus dan para orang kudus di gereja- gereja (lih. St. Agustinus, “De cons. Evang.”, x, in P.L., XXXIV, 1049; “Contra Faust. Man.”, xxii, 73, in P.L., XLII, 446); ia mengatakan bahwa beberapa orang bahkan menghormati lukisan- lukisan tersebut (“De mor. eccl. cath.“, xxxiv, P.L., XXXII, 1342).
  • St. Hieronimus- (wafat 420) menulis tentang gambar- gambar lukisan para Rasul dan ornamen- ornamen yang ada dalam gedung- gedung gereja.
  • St. Gregorius Agung (wafat 604). Ia menulis kepada Serenus dari Marseilles, Uskup Ikonoklas, yang telah merusak gambar-gambar di keuskupannya: “Bukannya tanpa alasan bahwa jemaat purba memperbolehkan kisah- kisah para kudus untuk dilukiskan di tempat- tempat kudus. Dan kami sungguh memuji anda sebab anda tidak memperbolehkan lukisan- lukisan itu untuk disembah, tetapi kami menyalahkan anda karena anda telah merusaknya. Sebab adalah satu hal tentang menyembah sebuah gambar, namun adalah hal lain tentang mempelajari dari apa yang nampak di gambar itu, tentang apa yang harus kita sembah. Apa yang ada di buku adalah untuk mereka yang dapat membaca, seperti halnya gambar bagi mereka yang tidak dapat membaca yang memandangnya; melalui gambar, bahkan mereka yang tidak terpelajar dapat melihat tentang contoh yang harus mereka ikuti; melalui gambar, mereka yang buta huruf dapat membaca…. (Ep. ix, 105, in P.L., LXXVII, 1027)
    Catatan: Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang di dunia pada saat itu tidak dapat membaca.

Dasar Magisterium

  • Katekismus Gereja Katolik 2129, 2130, 2131, 2132:

KGK 2129    Perintah Allah melarang tiap-tiap lukisan tentang Allah yang dibuat oleh tangan manusia. Buku Ulangan menjelaskan: “Karena kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari Tuhan berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api, hati- hatilah supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun” (Ul 4:15-16). Allah yang transenden secara absolut telah menampakkan diri kepada Israel. “Dialah segala-galanya”, tetapi serentak pula “Ia adalah lebih besar daripada segala perbuatan-Nya” (Sir 43:27-28). Ia adalah “bapa keindahan” (Keb 13:3).

KGK 2130    Namun demikian, di dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menyuruh dan mengizinkan pembuatan patung, yang sebagai lambang harus menunjuk kepada keselamatan dengan perantaraan Sabda yang menjadi manusia: sebagai contoh, ular tembaga (Bdk. Bil 21:4-9; Keb 16:5-14; Yoh 3:14-15), tabut perjanjian, dan kerub (Bdk. Kel 25:10-22; 1 Raj 6:23-28; 7:23-26).

KGK 2131    Berkenaan dengan misteri penjelmaan Sabda menjadi manusia, maka konsili ekumene ketujuh di Nisea tahun 787 membela penghormatan kepada ikon [gambar], yang menampilkan Kristus atau juga Bunda Allah, para malaikat dan para kudus, melawan kelompok ikonoklas. Dengan penjelmaan menjadi manusia, Putera Allah membuka satu “tata gambar” yang baru.

KGK 2132    Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea 11: DS 601, Bdk.Konsili Trente: DS 1821-1825; SC 126; LG 67). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu “penghormatan yang khidmat”, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.
“Penghormatan kepada Allah tidak diberikan kepada gambar sebagai benda, tetapi hanya sejauh mereka itu gambar-gambar, yang mengantar kepada Allah yang menjadi manusia. Gerakan yang mengarahkan ke gambar sebagai gambar, tidak tinggal di dalam ini, tetapi mengarah kepada Dia, yang dilukiskan di dalam gambar itu” (Tomas Aquinas., S.Th. 2-2,81,3, ad 3).

Diskusi lebih lanjut

Pandangan Martin Luther tentang penggunaan patung/ lukisan

  • “Seseorang tidak dapat memahami hal- hal spiritual kecuali jika gambar- gambar dibuat tentang mereka.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, (translation by William J Cole) 46, p. 308)
  • “Tidak ada yang lain yang dapat disimpulkan dari perkataan: “Jangan kamu mempunyai allah- allah lain di hadapan-Ku”, kecuali apa yang berkaitan dengan berhala. Tetapi gambar- gambar ataupun patung-patung dibuat tanpa berhala, pembuatan benda- benda tersebut tidak dilarang.” (Martin Luther, ibid., 18, p. 69)
  • “Kalau saya telah melukis gambar di dinding dan saya melihatnya tanpa berhala, maka hal itu tidak dilarang bagi saya, dan seharusnya tidak diambil dari saya.” (Martin Luther, ibid., 28, p. 677)

Tujuh karunia Roh Kudus yang menuntun manusia ke Surga

29

1. Roh Kudus: Pribadi Allah yang nyata sekaligus misterius

Mungkin banyak umat Katolik dapat menjelaskan dengan baik tentang dua Pribadi dalam Trinitas, yaitu Allah Bapa dan Allah Putera. Namun, tentang Allah Roh Kudus, ada banyak orang yang mungkin mengalami kesulitan untuk menjelaskannya. Roh Kudus sering hanya dihubungkan dengan kelompok-kelompok tertentu saja, seperti kelompok karismatik, karena di kelompok ini manifestasi Roh Kudus dianggap lebih nyata terjadi. Sementara sejumlah umat yang lain sering memandang Roh Kudus sebagai Pribadi yang  misterius dan tidak dapat dimengerti. Namun, sebenarnya semua umat beriman yang telah dibaptis telah mempunyai Roh Kudus dan ketujuh karunia Roh Kudus. Yang menjadi masalah adalah, apakah karunia Roh Kudus ini disadari dan mewarnai kehidupan umat beriman, sehingga dapat dikatakan bahwa Roh Kudus sungguh nyata di dalam kehidupan mereka.

Dalam menyambut Pentakosta, yaitu perayaan turunnya Roh Kudus atas para rasul, mari bersama merenungkan ke- tujuh karunia Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam Yesaya 11:2-3 ” (1) kebijaksanaan (2) pengertian, (3) nasihat  (4) keperkasaan, (5) kesalehan, yaitu kesenangannya adalah takut akan Tuhan/ piety, (6) pengenalan akan Tuhan, (7) takut akan Tuhan”. Harapannya adalah, agar dengan merenungkan bahwa karunia Roh Kudus ini telah diberikan kepada kita pada saat Pembaptisan dan dikuatkan dalam Krisma, kita dapat bekerja sama dengan ketujuh karunia Roh Kudus ini, agar membawa buah-buahnya dalam kehidupan kita.

2. Hubungan antara kebajikan ilahi, kebajikan pokok dan karunia Roh Kudus

Untuk lebih memahami tentang karunia Roh Kudus, maka kita perlu melihatnya dalam hubungannya dengan kebajikan ilahi maupun dalam hubungannya dengan kebajikan pokok. Kebajikan pokok adalah kebajikan manusia, yang merupakan pokok kehidupan moral, yang terdiri dari: kebijaksanaan, keadilan, keberanian dan penguasaan diri. Kebijaksanaan membuat seseorang memahami tentang kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya (KGK, 1835); keadilan memberikan apa yang menjadi hak Allah dan sesama (KGK, 1836); keberanian, mengejar kebaikan dengan teguh dan tidak takut menghadapi kesulitan (KGK, 1837); penguasaan diri dapat mengekang kenikmatan jasmani dan melakukannnya dalam batas-batas kewajaran (KGK, 1838). Untuk mencapai kesempurnaan dalam kebajikan ini, diperlukan latihan dan kerja keras. Namun, latihan dan kerja keras ini menjadi lebih mudah dan memberikan hasil yang lebih sempurna, kalau kita membiarkan Tuhan mengubah kita, baik melalui kebajikan ilahi maupun melalui karunia-karunia Roh Kudus.

Kebajikan-kebajikan manusia di atas berakar dalam kebajikan ilahi. Kebajikan ilahi, terdiri dari iman, pengharapan dan kasih. Kebajikan ilahi memungkinkan seseorang untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi (lih. 2 Ptr 1:4), karena Allah menjadi asal, sebab, dan tujuan (lih. KGK, 1812). Ini adalah cara yang dilakukan Allah untuk ‘membekali’  manusia agar manusia dapat mencapai tujuan akhir, Sorga, yang melebihi kodrat manusia. Iman memberikan penerangan kepada akal budi kita dengan kebenaran ilahi; pengharapan mengarahkan keinginan kita untuk mencapai tujuan akhir; kasih mempersatukan keinginan kita dengan Tuhan, yang menjadi tujuan akhir dan sasaran. ((lih. ST, I-II, q.62, a.3))

Dengan kata lain, kebajikan ilahi memungkinkan kita untuk mengambil bagian dalam kehidupan Allah yang tidak mungkin dicapai oleh kebajikan moral. Kebajikan moral dapat mengarahkan seseorang untuk membentuk masyarakat yang baik, namun tidak dapat membuat seseorang mengambil bagian dalam kehidupan Allah, karena kehidupan Allah adalah di luar kodrat manusia. Dengan kebajikan ilahi, Tuhan sendiri menanamkan iman, pengharapan dan kasih dalam diri manusia, sehingga manusia dapat mencapai Sorga. Dengan perkataan lain, kebajikan moral mempunyai materai manusia, namun kebajikan ilahi mempunyai materai Allah sendiri.

Namun demikian, ada begitu banyak hal terjadi di dalam kehidupan kita, baik penderitaan, pencobaan dan berbagai macam kemewahan dunia ini yang dapat menjauhkan kita dari tujuan akhir, yaitu Sorga. Ditambah lagi dengan kelemahan-kelemahan kita karena dosa asal. Oleh karena itu, walaupun Tuhan telah memberikan kebajikan ilahi serta rahmat pengudusan, yang menjadi modal utama dan syarat utama untuk mencapai keselamatan, manusia memerlukan Penolong lain, yaitu Roh Kudus, sehingga manusia dapat bertahan dalam kehidupan ini untuk mencapai Sorga. ((lih. ST, I-II, q.68. a.2.)) Maka  Roh Kudus diperlukan oleh kita manusia, bukan hanya untuk bertahan, namun untuk selanjutnya membawa kita mencapai kesempurnaan kehidupan kristiani. Inilah yang dijanjikan oleh Kristus, ketika Ia mengatakan akan mengutus Roh Kudus, yang akan terus menyertai seluruh umat beriman (lih. Yoh 14:16). Kristus memberikan Roh Kudus, yaitu Roh-Nya sendiri yang akan tinggal di tengah- tengah kita semua yang percaya kepada-Nya. Roh Kudus yang tinggal di dalam hati manusia mewarnai dan mengubah jiwa manusia menjadi semakin bertumbuh dalam kekudusan, sehingga menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus.

Roh Kudus memberikan inspirasi kepada umat manusia lewat karunia-karunia Roh Kudus. Nabi Yesaya telah menulis tentang ketujuh karunia Roh Kudus tersebut. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Ketujuh karunia Roh Kudus yang diberi kepada orang Kristen adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan rasa takut kepada Allah.” (KGK, 1845). Mengapa umat Allah memerlukan tujuh karunia Roh Kudus? Jawabannya sederhana, yaitu karena karunia Roh Kudus ini diperlukan supaya kita dapat mencapai tujuan akhir kita, yaitu Sorga. ((ibid)) Karena Sorga yang ilahi itu berada di luar kodrat manusia, maka kita memerlukan bantuan ilahi, yaitu Roh Kudus, untuk mencapai tujuan akhir ini. Sama seperti bayi tidak bisa pergi ke suatu tempat tanpa bantuan orang tuanya, maka kita tidak dapat mencapai Sorga tanpa bantuan dari Allah sendiri, yaitu Roh Kudus.

St. Thomas Aquinas menjelaskan lebih lanjut bahwa akal budi dan tentu saja kebajikan ilahi (iman, pengarapan dan kasih) diperlukan untuk mencapai tujuan akhir. Namun, karunia Roh Kudus inilah yang membuat jiwa kita siap  mengikuti gerakan rahmat Allah. ((lih. ST, I-II, q.68. a.1.)) Dapat diibaratkan bahwa karunia Roh Kudus merupakan layar dari sebuah kapal, yang memungkinkan kapal bergerak di laut lepas menuju tujuan akhir tanpa adanya usaha yang begitu besar dari awak kapal. Dengan layar yang berkembang secara bebas, maka kapal tersebut dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat.

Jika dikatakan bahwa kebajikan moral mempunyai materai manusia, maka dapat pula dikatakan bahwa karunia-karunia Roh Kudus mempunyai materai Allah. Rahmat pengudusan dan kebajikan ilahi memberikan gambaran akan Kristus. Ibaratnya, kebajikan moral adalah seumpama kuas di tangan manusia. Manusia dengan tangannya sendiri dapat menorehkan garis atau coretan untuk membentuk lukisan, namun tidaklah terlalu sempurna. Namun dengan karunia Roh Kudus, coretan tersebut menjadi sempurna. Sebab di sini kebajikan moral yang diumpamakan sebagai kuas, ada di tangan Allah, dengan  karunia Roh Kudus-Nya, sehingga kuas itu dapat menorehkan garis atau coretan untuk melukiskan gambar Yesus dengan sempurna. Inilah sebabnya, karunia Roh Kudus diperlukan oleh umat beriman dalam mencapai kesempurnaan kehidupan Kristiani.

3. Tentang karunia Roh Kudus secara umum

Seperti yang telah disebutkan dalam Kitab Yesaya 11:2-3, tujuh karunia Roh Kudus adalah kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, rasa takut akan Allah, dan kesalehan -yaitu yang kesukaannya adalah takut akan Allah (lih. Yes 11:2-3). Empat dari karunia ini adalah karunia yang menyempurnakan akal budi, yaitu: kebijaksanaan, pengertian, nasihat dan pengenalan akan Allah. Pengertian memberikan kedalaman pemahaman akan kebenaran Allah dan ketiga hal lainnya  memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Karunia kebijaksanaan membantu kita menimbang hal-hal yang berkaitan dengan Allah; pengenalan akan Allah membantu kita menimbang ataupun menilai hal- hal sehubungan dengan ciptaan; nasihat mengarahkan tindakan kita. Sedangkan tiga dari karunia ini adalah karunia yang menopang keinginan (will)  dan indera (senses) kita untuk menginginkan segala yang baik. Kesempurnaan keinginan (will) ditopang dengan kesalehan,  membimbing kita dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama. Sedangkan untuk menopang indera (senses),  Roh Kudus memberikan keperkasaan dan rasa takut akan Tuhan. Keperkasaan memberikan kekuatan sehingga kita tidak menghindar dari kesulitan untuk mencapai kesempurnaan rohani; sedangkan rasa takut akan Tuhan memampukan indera kita untuk mengusahakan hubungan yang seharusnya antara Tuhan Sang Pencipta dan kita ciptaan-Nya, serta membatasi keinginan kita akan hal-hal yang bersifat duniawi.

Di antara semua karunia Roh Kudus, karunia yang tertinggi adalah kebijaksanaan. Kalau kita melihat tingkatannya, maka urutan karunia dari yang paling tinggi sampai yang paling mendasar adalah: kebijaksanaan, pengertian, pengenalan, nasihat, kesalehan, keperkasaan dan takut akan Tuhan. Sekarang, marilah kita lihat karunia-karunia ini satu persatu, mulai dari yang paling mendasar.

4. Tentang tujuh karunia Roh Kudus

a. Karunia takut akan Tuhan (fear of the Lord)

Ada ketakutan yang baik dan ada ketakutan yang tidak baik. Ketakutan yang bersumber pada keduniaan atau penderitaan fisik di atas segalanya tidaklah baik. ((St. Teresa Avilla, The Way of Perfection, 40,1)) Ketakutan seperti ini adalah ketakutan kehilangan kenyamanan fisik dan kenikmatan dunia melebihi ketakutan akan kehilangan iman. Jika seseorang menganggap iman dan Gereja  sebagai penghalang baginya, ia siap meninggalkan iman maupun Gereja supaya kenyamanan akan hal-hal duniawi dapat dipertahankan olehnya. Ketakutan seperti ini bukanlah ketakutan yang baik, sebab bahkan dapat membawanya kepada penderitaan abadi di neraka, sebab ia rela meninggalkan iman akan Kristus yang sudah diketahuinya dapat membawanya kepada kehidupan kekal. Namun demikian, ada ketakutan yang baik, yaitu takut akan Tuhan (fear of the Lord). St. Teresa mengatakan bahwa Tuhan telah memberikan obat bagi manusia untuk menghindari dosa, yaitu takut akan Tuhan dan kasih. Takut akan Tuhan adalah takut akan penghukuman Tuhan, takut bahwa dirinya akan terpisah dari Tuhan untuk selamanya di neraka. Ketakutan seperti ini disebut “servile fear“. Ketakutan pada tahap ini membantu seseorang untuk membawanya kepada pertobatan awal. Namun, bukankah Rasul Yohanes mengatakan bahwa dalam kasih tidak ada ketakutan? (lih. 1Yoh 4:18) Ya, dengan bertumbuhnya iman, maka takut akan penghukuman Tuhan akan berubah menjadi takut menyedihkan hati Tuhan, yang didasarkan atas kasih. Inilah yang disebut takut karena kasih (filial fear), seperti anak yang takut menyedihkan hati bapanya.

Karunia Roh Kudus ini menyadarkan bahwa satu-satunya yang memisahkan seseorang dari Tuhan adalah dosa. Oleh karena itu, manifestasi dari karunia ini adalah kesedihan karena dosa, yang diikuti dengan kebencian akan dosa. Orang yang membenci dosa tidak hanya menghindari dosa berat, namun juga ia tidak mau melakukan dosa ringan. Ia akan lari dari peluang dan kondisi yang dapat membuat dia berbuat dosa. Ia akan sadar bahwa meskipun ia sudah berusaha menghindari dosa, ia kerap tetap jatuh di dalam dosa, termasuk dosa ringan. Dengan demikian, ia menjadi sadar akan dirinya yang tidak berarti apa-apa, dan pada saat yang bersamaan ia sadar bahwa Tuhan adalah segalanya. Sikap seperti inilah yang  menuntunnya kepada kerendahan hati. Jika kita belajar dari kesalahan kita bahwa yang sering memisahkan diri kita dari Tuhan adalah godaan duniawi, maka kita belajar untuk membatasi diri dari kenikmatan duniawi. Inilah yang disebut sebagai kebajikan penguasaan diri (temperance). Marilah kita menilik ke dalam hati kita, sudahkah kita memiliki rasa takut akan Tuhan: sudahkah kita membenci dosa, dan berusaha untuk menjauhinya.

b. Karunia keperkasaan (fortitude)

Kebajikan keperkasaan adalah keberanian untuk mengejar yang baik dan tidak takut dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang menghalangi tercapainya kebaikan tersebut. Karunia keperkasaan dari Roh Kudus adalah keberanian untuk mencapai misi yang diberikan oleh Tuhan, bukan berdasarkan pada kemampuan diri sendiri, namun bersandar pada kekuatan Tuhan. Dengan kebajikan keperkasaan, kita dapat berkata seperti  yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp 4:13). Juga, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom 8:31) Melalui karunia ini, Roh Kudus memberikan kekuatan kepada kita untuk yakin, percaya dan bersandar kepada kekuatan Allah. Allah dapat menggunakan kita yang terbatas dalam banyak hal untuk memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Sebab Allah memilih orang-orang yang bodoh, yang lemah, agar kemuliaan Allah dapat semakin dinyatakan, dan agar tidak ada orang yang bermegah di hadapan-Nya (lih. 1Kor 1:27-29).

Orang yang dipenuhi dengan karunia keperkasaan bukannya tidak pernah merasa takut, namun mereka dapat mengatasi ketakutannya karena mereka percaya pada Allah yang dapat melakukan segalanya. Bunda Teresa yang berani melaksanakan kehendak Allah untuk melayani orang-orang yang miskin di tengah-tengah pelayanannya sebagai biarawati yang menjadi guru, adalah contoh bagaimana karunia keperkasaan menjadi nyata. Dan dalam derajat yang sempurna, karunia Roh Kudus ini dinyatakan oleh para martir. Sekilas mungkin saja kita berpikir, “tetapi aku tidak mempunyai tingkat keberanian seperti para martir dan pan para orang kudus itu…”. Tetapi, benarkah bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mempunyai kesempatan untuk menerapkan karunia keperkasaan ini?

Dalam keseharian kita, kita juga dituntut untuk mati terhadap keinginan diri sendiri, dan berjuang dalam kekudusan. Dan orang yang secara sadar berjuang dalam kekudusan akan merasakan bahwa ini adalah tantangan yang sungguh berat. Keinginan dan perjuangan untuk hidup dalam kekudusan adalah karunia Roh Kudus. Roh Kudus memberikan kekuatan sehingga dapat memberikan keberanian untuk terus melakukan karya kerasulan walaupun ada banyak kekurangan, keberanian untuk menanggung sakit penyakit dan penderitaan, keberanian untuk mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri, ataupun keberanian untuk mewartakan Kristus dan Gereja-Nya di tengah-tengah dunia yang dipenuhi dengan pandangan relativisme dan keacuhan terhadap hal- hal rohani. Karunia keperkasaan diperoleh dengan kerendahan hati, yaitu dengan bertekun dalam doa dan sakramen. Sakramen Penguatan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi tentara Kristus; Sakramen Ekaristi memberikan makanan spiritual yang akan menguatkan kita dalam perjuangan rohani; Sakramen Tobat memberikan kekuatan pada kita untuk melawan godaan; Sakramen Perminyakan memberikan kekuatan kepada kita dalam perlawanan terakhir.

c. Karunia kesalehan (piety)

Karunia kesalehan adalah karunia Roh Kudus yang membentuk hubungan kita dengan Allah seperti hubungan seorang anak dengan bapanya; dan pada saat yang bersamaan, membentuk hubungan persaudaraan yang baik dengan sesama. Karunia ini menyempurnakan kebajikan keadilan, yaitu keadilan kepada Allah – yang diwujudkan dengan agama – dan keadilan kepada sesama. Karunia kesalehan memberikan kita kepercayaan kepada Allah yang penuh kasih, sama seperti seorang anak percaya kepada bapanya. Hal ini memungkinkan karena kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah, sehingga kita dapat berseru “Abba, Bapa!” (lih. Rom 8:15). Dengan hubungan kasih seperti ini, seseorang dapat mengerjakan apa yang diminta oleh Allah dengan segera, karena percaya bahwa Allah mengetahui yang terbaik. Dalam doa, orang ini menaruh kepercayaan yang besar kepada Allah, karena percaya bahwa Allah memberikan yang terbaik, sama seperti seorang bapa akan memberikan yang terbaik bagi anak- anaknya. St. Theresia Kanak-kanak Yesus mempunyai karunia ini secara nyata, karena dia menempatkan dirinya sebagai seorang anak yang mau melakukan apa saja untuk Bapa-nya. Ia mengumpamakan kehidupan rohaninya sebagai seseorang yang naik dengan lift menuju Tuhan, yaitu dengan tangan Tuhan sendiri yang menopangnya dan mengangkatnya. Kuncinya sederhana: melakukan hal-hal yang kecil dan sederhana, dengan kasih yang besar kepada Allah.

Orang-orang yang menerima karunia kesalehan akan memberikan penghormatan kepada Bunda Maria, para malaikat, para kudus, Gereja, sakramen, karena mereka semua itu berkaitan dengan Allah. Juga, orang-orang yang diberi karunia ini, juga akan membaca Kitab Suci dengan penuh hormat dan kasih, karena Kitab Suci merupakan surat cinta dari Allah kepada manusia. Dalam hubungannya dengan sesama, karunia kesalehan dapat menempatkan sesama sebagai saudara/i di dalam Kristus, karena Allah mengasihi seluruh umat manusia dan menginginkan agar mereka juga mendapatkan keselamatan. Mereka yang saleh ini akan menjadi lebih bermurah hati kepada sesama. Dan dalam derajat yang lebih tinggi, mereka bersedia memberikan dirinya demi kebaikan bersama.

d. Karunia nasihat (Counsel)

Mazmur 32:8 mengatakan, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” Allah menunjukkan jalan kepada kita melalui karunia Roh Kudus-Nya, yaitu karunia nasihat. Karunia adi kodrati ini adalah karunia yang memberikan petunjuk jalan mana yang harus ditempuh untuk dapat memberikan kemuliaan yang lebih besar bagi nama Tuhan. Karunia nasihat menerangi kebajikan kebijaksanaan (prudence), agar kita dapat memutuskan dengan baik, pada waktu, tempat dan keadaan tertentu. Dengan demikian, karunia nasihat senantiasa menerangi jalan orang- orang yang dengan sungguh- sungguh mendengarkan Roh Kudus.

Yang terpenting sehubungan dengan karunia nasihat adalah kesediaan dan kerjasama kita dalam melaksanakan dorongan Roh Kudus. Kita tidak boleh menempatkan penghalang sehingga Roh Kudus tidak dapat bekerja secara bebas. Penghalang karunia Roh Kudus ini dapat berasal dari diri kita sendiri, seperti keterikatan pada pertimbangan kita sendiri, tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, dan juga kurangnya kerendahan hati. Kita perlu belajar dari teladan Bunda Maria yang memiliki kesediaan penuh untuk bekerjasama mewujudkan karya Allah dalam hidupnya, dengan mengatakan, “Terjadilah padaku, Tuhan, menurut perkataan-Mu” (lih. Luk 1:38).

Dengan terus membiarkan Roh Kudus memimpin  jalan kita secara bebas, kita terus dimurnikan oleh Roh Kudus, sehingga lama kelamaan, kita mempunyai intuisi akan jalan mana yang harus diambil sesuai dengan apa yang diinginkan Allah. Karunia ini diperlukan bagi orang-orang yang memberikan bimbingan rohani, sehingga mereka dapat memberikan petunjuk sesuai dengan apa yang diinginkan Allah dalam kehidupan mereka.

e. Karunia pengenalan (knowledge)

Karunia pengenalan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menilai ciptaan dengan semestinya dan melihat kaitannya dengan Sang Pencipta. Kebijaksanaan 13:1-3 menggambarkan karunia ini dengan indahnya: “Sungguh tolol karena kodratnya semua orang yang tidak mengenal Allah sama sekali; dan mereka tidak mampu mengenal Dia yang ada dari barang-barang yang kelihatan, dan walaupun berhadapan dengan pekerjaan-Nya mereka tidak mengenal Senimannya. Sebaliknya, mereka mengganggap sebagai allah yang menguasai jagat raya ialah api atau angin ataupun udara kencang, lagipula lingkaran bintang-bintang atau air yang bergelora ataupun penerang-penerang yang ada di langit. Jika dengan menikmati keindahannya mereka sampai menganggapnya allah, maka seharusnya mereka mengerti betapa lebih mulianya Penguasa kesemuanya itu. Sebab Bapa dari keindahan itulah yang menciptakannya.” Dengan kata lain, karunia pengenalan akan Allah memberikan kepada kita, pengertian akan makna dari ciptaan dengan mengacu kepada Sang Pencipta, yaitu Tuhan.

Dengan karunia pengenalan akan Allah, seseorang dapat memberikan makna akan hal-hal sederhana yang dilakukannya setiap hari, dengan mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu sebagai jalan pengudusannya. Artinya, semua pekerjaan, jika dilakukan dengan jujur, bersungguh-sungguh dan dengan motivasi untuk mengasihi Allah, dapat menjadi cara bagi kita untuk bertumbuh dalam kekudusan. Semua hal  di dunia ini dapat dilihat dengan kaca mata Allah, dan dihargai sebagaimana Allah menghargai tiap-tiap ciptaan-Nya itu.

f. Karunia pengertian (understanding)

Karunia pengertian adalah adalah karunia yang memungkinkan seseorang untuk mengerti kedalaman misteri iman.  Karunia pengertian adalah seumpama sinar yang menerangi akal budi kita, sehingga kita dapat mengerti apa yang sebenarnya diajarkan oleh Kristus dan misteri iman seperti apakah yang harus kita percayai. Raja Daud memahami karunia ini, sehingga dengan penuh pengharapan ia berkata, “Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.” (Mzm 119:34) Karunia pengertian memberikan kedalaman pengertian akan Kitab Suci, kehidupan rahmat, pertumbuhan dalam sakramen-sakramen, dan juga kejelasan akan tujuan akhir kita, yaitu Surga.

Karunia pengertian ini memberikan gambaran yang jelas akan tujuan akhir kita yaitu Surga. Dengan karunia ini, kita dapat terdorong untuk mengarahkan seluruh hidup kita ke Surga. Kita akan mengusahakan segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita agar selaras dengan kehendak dan perintah Tuhan. Kita akan terdorong untuk terus mencari dan memahami apa yang menjadi kehendak-Nya dalam hidup kita dan berjuang dengan sekuat tenaga untuk melaksanakannya.

g. Karunia kebijaksanaan (wisdom)

Karunia kebijaksanaan adalah karunia yang memungkinkan manusia untuk mengalami pengetahuan akan Tuhan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Karunia kebijaksanaan ini berhubungan erat dengan kasih. Karunia ini bukan hanya merupakan pengetahuan belaka, namun merupakan satu pengalaman ilahi yang diperoleh melalui kasih. Roh Kudus mengisi jiwa orang- orang yang sederhana dan penuh kasih dengan karunia ini, sehingga seolah-olah mereka memakai kacamata ilahi dalam melihat segalanya. Seseorang dapat menjelaskan tentang rasa buah durian dengan berbagai macam kata dan susunan kalimat. Namun, tidak ada yang dapat menjelaskan dengan baik rasa buah durian selain dengan mencobanya sendiri. Atau sama seperti seorang ibu yang mengenal anaknya bukan dari buku, namun dari kasihnya kepada anaknya. Demikian juga, karunia ini akan menjadi semakin nyata dalam kehidupan seseorang, sesuai dengan besarnya kasih yang dinyatakan olehnya, kepada Tuhan. Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa adalah lebih baik bagi kita untuk hanya mengenal  sesuatu (ciptaan) yang lebih rendah dari kita daripada mencintainya, tapi adalah lebih baik bagi kita untuk mencintai sesuatu yang lebih tinggi dari kita daripada hanya mengenalnya ((lih. ST, I, q.82, a.3)). Karena Tuhan lebih tinggi secara tak terbatas daripada diri kita, maka adalah lebih baik kita untuk memperoleh pengetahuan akan Tuhan dengan cara mengasihi-Nya secara tak terbatas. Dengan demikian, seseorang dapat mengalami kemanisan akan Tuhan ((lih. ST, I-II, q.113, a.5)).

Karena karunia kebijaksanaan memungkinkan seseorang melihat segala sesuatunya dari kacamata Tuhan, maka orang ini dapat menimbang segala sesuatunya dengan tepat, mempunyai perspektif yang jelas akan kehidupan, melihat segala yang terjadi dalam kehidupannya dengan baik tanpa adanya kepahitan, dan dapat bersukacita di dalam penderitaan. Semua yang terjadi dilihat secara jelas dalam kaitannya dengan Tuhan. Karunia ini memungkinkan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari dengan pandangan terfokus kepada Tuhan. Karunia ini membuat seseorang dapat mencerminkan Kristus, seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (1Kor 3:8)

5. Mempersiapkan diri menjelang Pentakosta

Ketujuh karunia Roh Kudus yang telah kita terima dalam baptisan adalah karunia-karunia yang begitu penting dalam kehidupan kita untuk mengemban misi yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, yang mengantar kita kepada keselamatan. Oleh karena itu, di hari-hari menjelang Pentakosta kita berdoa dan semakin memberikan kesempatan kepada Roh Kudus yang telah ada di dalam hati kita untuk berkarya secara bebas, sehingga karunia-Nya akan semakin nyata dalam kehidupan kita.

Semoga seluruh akal budi, keinginan dan perasaan kita dikuasai dengan karunia Roh Kudus: kebijaksanaan, pengertian, pengenalan, nasihat yang menyempurnakan akal budi; kesalehan yang menyempurnakan keinginan/ kehendak; dan keperkasaan dan takut akan Tuhan yang menyempurnakan indera. Dengan demikian,  kita dapat menuju kepada kesempurnaan hidup Kristiani, yang dengan bebas menyediakan keseluruhan diri kita untuk mengemban misi yang diberikan oleh Tuhan dalam kehidupan kita. Untuk itu, mari kita memohon kepada Tuhan agar memberikan kepada kita kerendahan hati, dan agar kita dapat terus bertumbuh dalam kasih, sehingga kita semakin dapat menanggapi inspirasi Roh Kudus yang terjadi dalam kehidupan kita. Semoga kita semua mengalami Pentakosta yang baru.

Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu, dan nyalakanlah di dalamnya Api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu, maka semua akan dijadikan baru….

Doa Mohon Tujuh Karunia Roh Kudus (Puji Syukur, no.93)

Datanglah, ya Roh Hikmat, turunlah atas diri kami, ajarlah kami menjadi orang bijak, terutama agar kami dapat menghargai, mencintai, dan mengutamakan cita-cita surgawi. Semoga kami Kau lepaskan dari belenggu dosa dunia ini.

Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami. Terangilah budi kami, agar dapat memahami ajaran Yesus, Sang Putra, dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Datanglah, ya Roh Nasihat, dampingilah kami dalam perjalanan hidup yang penuh gejolak ini. Semoga kami melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat.

Datanglah, ya Roh Keperkasaan, kuatkanlah hamba-Mu yang lemah ini, agar tabah menghadapi segala kesulitan dan derita. Semoga kami Kau kuatkan dengan memegang tangan-Mu yang senantiasa menuntun kami.

Datanglah, ya Roh Pengenalan akan Allah. Ajarlah kami mengetahui bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara saja. Bimbinglah kami agar dapat menggunakan hal-hal duniawi untuk kemulian-Mu.

Datanglah, ya Roh Kesalehan, bimbinglah kami untuk terus berbakti kepada-Mu. Ajarlah kami untuk menjadi orang yang tahu berterima kasih atas segala kebaikan-Mu dan berani menjadi teladan kesalehan bagi orang-orang di sekitar kami.

Datanglah, ya Roh Takut akan Allah, ajarlah kami untuk takut dan tunduk kepada-Mu dimana pun kami berada. Tegakkanlah kami agar selalu berusaha melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Mu. Amin.

Tentang Misa Jumat Pertama

18

Ada hubungan yang erat antara Devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan Misa Jumat Pertama, karena Misa Jumat Pertama merupakan salah satu bentuk Devosi kepada Hati Kudus Yesus. Berikut ini sekilas tentang Devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Misa Jumat Pertama, yang saya sarikan/ringkas dari link ini, silakan klik:

1. Sejarah Devosi kepada Hati Kudus Yesus:

Devosi berfokus kepada Hati Yesus yang maha kudus yang melambangkan kasih Kristus yang menebus dosa manusia. Walaupun tradisi mengatakan bahwa praktek devosi ini telah dimulai sekitar tahun 1000, atau pada jaman St. Anselmus dan St. Bernard (1050-1150) dan juga telah dianjurkan oleh banyak orang kudus di abad pertengahan, seperti St. Albertus Agung, St. Catherine dari Siena, St. Fransiskus dari Sales, dan juga para Benediktin, Dominikan dan Carthusian; namun Santa yang paling sering diasosiasikan dengan devosi Hati Kudus Yesus adalah St. Margaret Mary Alacoque (1647-1690).

St. Margaret memperoleh wahyu pribadi dari Tuhan Yesus yang menghendaki perayaan liturgis Hati Kudus Yesus dan praktek mempersembahkan silih (reparation) terhadap dosa- dosa yang dilakukan terhadap Sakramen MahaKudus, pada setiap hari Jumat pertama dalam setiap bulan.

Pada tahun 1856 Paus Pius IX menetapkan Pesta (perayaan liturgis) Hati Kudus Yesus. Pada tahun 1928 Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik Miserentissimus Redemptor tentang silih kepada Hati Kudus Yesus; sedangkan tahun 1956 Paus Pius XII mengeluarkan surat ensiklik tentang Haurietis aquas, tentang devosi kepada Hati Kudus Yesus.

Devosi umumnya dilakukan menjelang perayaan Pesta Hati Kudus Yesus yang jatuh pada hari Minggu kedua setelah hari raya Pentakosta. Kemudian, devosi kepada Hati Kudus Yesus ini diadakan setiap bulan, yaitu pada hari Jumat pertama.

2. Pengantar kepada devosi Hati Kudus Yesus

Kasih kepada Yesus Kristuslah yang seharusnya menjadi dasar devosi dari umat Katolik. Kurangnya devosi kepada Hati Kudus Yesus menjadi sebab bagi jatuhnya seseorang kepada dosa yang serius, sebab ia tidak memberikan perhatian yang cukup dan tidak cukup terdorong untuk mempunyai kasih kepada Kristus, padahal kasih inilah yang mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan…. Kita tidak akan sungguh dibentuk menjadi gambaran Tuhan, atau bahkan menginginkan untuk dibentuk menjadi serupa dengan-Nya, jika kita tidak merenungkan kasih yang telah ditunjukkan oleh Kristus.

Untuk maksud inilah maka Tuhan Yesus menyatakan kehendak-Nya kepada St. Margaret Mary Alacoque, agar devosi dan perayaan Hati Kudus Yesus diadakan dan disebarluaskan di Gereja. Melalui devosi ini yaitu melalui adorasi dan doa, umat beriman membuat silih bagi segala luka yang diterima oleh Hati Kudus Yesus karena umat manusia yang tidak berterimakasih dan menghina Sakramen Maha Kudus.

“Lihatlah Hati itu”, seperti yang dikatakan oleh Yesus kepada St. Margaret, “yang telah mengasihi umat manusia dan memberikan segala- galanya kepada mereka, bahkan menyerahkan dirinya sediri sebagai jaminan kasih-Nya, tetapi menerima dari sebagian besar umat manusia, bukan balasan kasih, melainkan rasa tidak berterimakasih, dan penghinaan kepada Sakramen Kasih.”

Maka devosi Hati Kudus tidak lain adalah ekspresi kasih kepada Penyelamat kita. Obyek dari devosi ini adalah Hati Yesus yang menyala oleh karena kasih kepada semua umat manusia.

3. Hari Jumat Pertama

Adalah menjadi kerinduan Tuhan Yesus, seperti yang dinyatakan kepada St. Margaret, bahwa setiap hari Jumat pertama setiap bulan dikhususkan untuk devosi dan adorasi kepada Hati Kudus Yesus. Untuk mempersiapkannya, adalah baik jika pada malam sebelumnya kita membaca tentang devosi ini, atau Jalan Salib/ Kisah sengsara Tuhan Yesus dan untuk mengunjungi Sakramen Maha Kudus. Pada hari Jumat tersebut, begitu bangun tidur, kita mempersembahkan diri kita dan meng-konsekrasikan, seluruh pikiran, perkataan dan perbuatan kita kepada Tuhan Yesus, agar Hati Kudus-Nya dapat dihormati dan dimuliakan. Kita mengunjungi gereja, berlutut di hadapan-Nya yang hadir di tabernakel, agar kita dapat membangkitkan di dalam jiwa kita rasa duka cita (deep sorrow) atas begitu banyaknya penghinaan/ perlawanan yang ditujukan kepada Hati Kudus-Nya di dalam Sakramen Maha Kudus, [dan kemudian mengikuti Misa Kudus]. Tidaklah sulit untuk melakukan hal ini jika kita memiliki sedikit saja kasih kepada Kristus. Jika kita menjadi suam- suam kuku, mari mengingat kembali begitu banyaknya alasan yang kita miliki untuk memberikan hati kita kepada Kristus. Setelah itu, kita harus mengakui segala kesalahan kita atas kekurangan hormat kita di dalam hadirat Allah dalam Sakramen Maha Kudus, atau melalui kelalaian kita untuk mengunjungi dan menerima Dia di dalam Komuni kudus.

Komuni pada hari itu dipersembahkan untuk membuat silih terhadap segala bentuk penghinaan yang diterima Kristus dalam Sakramen Maha Kudus, dan semangat kasih yang sama harus menghidupkan segala tindakan kita sepanjang hari.

Meskipun devosi ini diadakan sekali sebulan (pada hari Jumat Pertama) namun latihan- latihan rohani ini tidak terbatas hanya sebulan sekali pada hari itu. Yesus layak dihormati setiap saat. Dengan demikian mereka yang terhalang untuk merayakan devosi Hati Kudus Yesus pada hari Jumat pertama, dapat melakukannya pada hari- hari lainnya pada bulan itu.

Hari Raya, Pesta dan Peringatan

29

Pertanyaan:

Shalom tim katolisitas, pak Stef dan ibu inggrid dan khususnya para imam yg saya kasihi dlm Kristus,

Saya ada pertanyaan seputar tahun liturgi, khususnya mengenai perbedaan mendasar dari hari raya, pesta dan peringatan (wajib maupun fakultatif). Saya mengerti tingkatannya..tp saya agak kurang paham apa yg menjadi perbedaan yg mendasar dari ketiga pembagian hari-hari tersebut.

Mohon pencerahannya..
Terima kasih tim katolisitas yg telah banyak membantu saya dlm memahami ajaran dan Tradisi Gereja Katolik. Maju terus dlm pelayanan. Tuhan Yesus memberkati..

In His grace,

Stefan

Jawaban:

Shalom Stefan,

Beberapa urutan dalam perayaan Liturgi dalam Gereja Katolik adalah:

1. Hari Raya/ Solemnity:

Merupakan tingkatan tertinggi dari perayaan pesta/ feast. Hari Raya adalah untuk memperingati peristiwa- peristiwa dalam kehidupan Yesus, Maria atau para rasul; di mana peristiwa- peristiwa tersebut merupakan peristiwa utama/ sentral dalam rencana keselamatan Allah. Dalam Misa Kudus, perayaan hari raya ditandai dengan bacaan – bacaan Kitab Suci yang sesuai (Bacaan Pertama, Mazmur, Bacaan kedua dan Injil), pengucapan Kemuliaan, dan Aku Percaya. Setiap hari Minggu adalah hari raya.

Hari raya ini adalah:

  • 1 Januari: Hari raya Maria, Bunda Allah
  • 6 Januari: Hari Raya Epifani
  • Maret 19: Hari Raya St. Yusuf
  • Maret 25: Hari Raya Kabar Gembira
  • Maret/ April (bervariasi): Hari Raya Triduum Paska
  • 40 hari setelah Paskah: Hari Raya Kenaikan Yesus ke surga
  • 50 hari setelah Paskah: Hari raya Pentakosta
  • Minggu setalah Pentakosta: Hari raya Allah Trinitas/ Tritunggal mahakudus
  • Minggu setelah hari Tritunggal Mahakudus: Corpus Christi
  • Jumat setelah Corpus Christi: Hari Raya Hati Kudus Yesus
  • 24 Juni: Hari raya kelahiran St. Yohanes Pembaptis
  • 29 Juni: Hari Raya St. Petrus dan Paulus
  • 15 Agustus: Hari raya Bunda Maria diangkat ke surga
  • 1 November: Hari raya para kudus
  • November: hari Minggu terakhir sebelum masa Adven: Hari Raya Kristus Raja
  • 8 Desember: Hari Raya Maria dikandung tanpa noda
  • 25 Desember: Hari Raya Natal

Beberapa hari raya ini merupakan hari raya wajib (holy days of obligation) bagi umat Katolik, untuk mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi.

Ketentuan untuk hari- hari raya wajib (holy days of obligation) yang mensyaratkan umat Katolik untuk mengikuti perayaan Ekaristi yang diadakan pada hari-hari tersebut adalah:

KHK Kan. 1246

§ 1    Hari Minggu, menurut tradisi apostolik, adalah hari dirayakannya misteri paskah, maka harus dipertahankan sebagai hari raya wajib primordial di seluruh Gereja. Begitu pula harus dipertahankan sebagai hari-hari wajib: hari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan, Tubuh dan Darah Kristus, Santa Perawan Maria Bunda Allah, Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dan Santa Perawan Maria diangkat ke surga, Santo Yusuf, Rasul Santo Petrus dan Paulus, dan akhirnya hari raya Semua Orang Kudus.

§ 2    Namun Konferensi para Uskup dengan persetujuan sebelum- nya dari Takhta Apostolik, dapat menghapus beberapa dari antara hari- hari raya wajib itu atau memindahkan hari raya itu ke hari Minggu.

KHK Kan. 1247    Pada hari Minggu dan pada hari raya wajib lain umat beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam Misa; selain itu, hendaknya mereka tidak melakukan pekerjaan dan urusan-urusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau merintangi kegembiraan hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi jiwa dan raga.

Kekhususan adalah pada hari peringatan wafat Tuhan, walaupun tidak dirayakan dengan perayaan Ekaristi, namun umat wajib mengikuti ibadat pada peringatan wafatNya Tuhan Yesus.

Hirarki perayaan liturgi dimulai dari Hari Raya, Hari Minggu, Hari Pesta, Hari Peringatan Wajib, Hari Biasa, Hari peringatan Fakultatif, Hari Manasuka/votif.

2. Pesta/ Feast

Pesta/ Feast adalah perayaan liturgis pada tingkatan yang kedua, untuk memperingati hidup Yesus, Bunda Maria atau rasul atau para orang kudus tertentu (major Saints). Hari Pesta ini mempunyai juga bacaan yang sesuai, namun hanya ada dua bacaan, ditambah dengan Kemuliaan (Gloria). Contoh: hari pesta hari kelahiran Bunda Maria 8 September, dan Pesta Transfigurasi dan Pesta Salib Suci (14 September), Pesta peringatan hari arwah (2 November)

3. Peringatan/ Memorial

Peringatan/ Memorial adalah perayaan orang kudus yang berada di bawah tingkatan Pesta. Peringatan ini ada yang wajib maupun fakultatif/ optional. Banyak hari peringatan merupakan pilihan/ tidak wajib, yang dilakukan di keuskupan tertentu/ daerah/ negara tertentu.

Peringatan orang kudus tidak akan dirayakan/ diperingati jika jatuh bersamaan dengan hari raya/ solemnity, pesta, hari Minggu, hari rabu Abu, Minggu paska atau Oktaf Paskah.  Adakalanya dua peringatan yang wajib (obligatory) dapat terjadi pada hari yang sama, seperti pada peringatan hati Maria yang tak bernoda (yang tanggalnya tergantung dari hari perayaan Hati Kudus Yesus, yang tidak tetap setiap tahunnya) yang dapat jatuh bersamaan dengan peringatan orang kudus tertentu yang sudah tetap/ fixed. Maka kedua peringatan itu menjadi optional.

4. Masa musim liturgis

Masa liturgis tertentu, seperti Adven, masa Natal, Prapaska, Paskah di mana tidak ada hari raya, pesta atau hari peringatan khusus yang dilakukan.

5. Feria

Feria hari- hari dalam masa biasa.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang Yoh 15:18-21

1

Pertanyaan:

Terimakasih Katolisitas , saya merasa sangat terbantu mendalami iman saya dan banyak pertanyaan yang sudah terjawab. Ada yang ingin saya tanyakan mengenai Yohanes 15:18-21 saya belum mengerti maksud dari ayat tersebut (tafsir). mohon dibantu untuk penjelasannya yang lebih mendalam dan ayat-ayat lain yang terkait.
terima kasih GBU.

Alexander Paska

Post: Parent comment:

Jawaban:

Shalom Alexander Paska,

Ayat Yoh 15:18-21 berkaitan dengan perikop sebelumnya yang mengisahkan tentang besarnya kasih Allah, yang dinyatakan oleh Kristus, yaitu kasih yang total sampai rela memberikan nyawa-Nya untuk sahabat- sahabat-Nya (Yoh 15:13). Namun tanggapan dunia akan kasih Kristus bukanlah tanggapan kasih, namun sebaliknya, yaitu kebencian [bukan kasih]. Maka, penganiayaan menjadi tanda akan Gereja sejati, sebab sama seperti penganiayaan diterima oleh Kristus sang Kepala, penganiayaan ini juga diterima oleh Gereja yang adalah anggota- anggota Kristus. Umat Kristiani sudah mengetahui akan hal ini, sebab Kristus sudah memberitahukannya kepada kita.

Demikianlah yang penjelasan ayat Yoh 15:18-21 yang disampaikan oleh A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, OSB., ed.:

Alasan pertentangan ini ditemukan atas dasar bahwa cita- cita para murid Kristus jelas bertentangan dengan cita- cita dunia…. Para murid ‘bukan dari dunia’, melainkan ‘dipilih dari dunia’; dan hal ini menjadikan para murid Kristus sebagai tanda pertentangan (a sign of contradiction), seperti Kristus. Para hamba tidak dapat mengharapkan perlakukan yang lebih baik daripada perlakuan yang diberikan kepada Majikannya. Penganiayaan dari banyak orang, dan kasih yang tulus dari sebagian orang akan menjadi bagian yang akan dialami oleh para murid, seperti yang telah dialami Kristus. Maka nama Kristus akan menjadi tanda perbantahan (a sign of contradiction), seperti yang telah dinubuatkan oleh Simeon (Luk 2: 34). Ketika Yesus berkata, ‘mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku’, Yesus berkata tentang para bangsa Yahudi yang menolak Kristus, dan tidak mengenali bahwa Allah Bapa-lah yang telah mengutus Kristus ke dunia untuk menyelamatkan mereka dan umat manusia.

Penolakan bangsa Israel/Yahudi akan Kristus sudah dinubuatkan oleh para nabi, seperti misalnya dinubuatkan dalam Yes 1:3, di mana dikatakan, “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” Atau seperti yang dikatakan oleh Yesus, bahwa nabi- nabi ditolak di tempat asalnya sendiri (lih. Mat 13:57).

The Navarre Bible menegaskan pula bahwa Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa tidak ada kompromi antara Diri-Nya dengan dunia [kerajaan dosa]. Mereka yang hidup di dalam dosa menolak Tuhan yang adalah Terang (lih. Yoh 3:19-20). Oleh karena inilah Yesus dianiaya, dan selanjutnya para rasulpun demikian. St. Gregorius berkata, “…..Tak ada orang yang dapat menyenangkan Tuhan dan menyenangkan para musuh Tuhan [yaitu Iblis dan para pengikutnya] pada saat yang sama. Ia yang ingin menyenangkan mereka yang menentang Tuhan bukanlah sahabat Tuhan; dan ia yang tunduk/ taat kepada kebenaran akan berjuang melawan mereka yang menentang kebenaran. (St. Gregorius, In Ezechielem homiliae, 9)

Jadi ayat Yoh 15:18-21 memuat pengajaran bahwa para murid Kristus yang mengikuti jejak-Nya juga harus siap menerima pertentangan/ penolakan dunia, sebab dunia juga sudah menolak Yesus. Namun demikian, kita percaya bahwa pada akhirnya iman kita akan Kristus akan mengalahkan dunia (lih. 1 Yoh 5:4); dan bahwa iman akan Kristus ini akan membawa kita semua yang percaya kepada-Nya kepada kehidupan yang kekal (lih. Yoh 3:16).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab