Home Blog Page 200

Siapa Nabi yang Dinubuatkan dalam Ul 18:18

10

Pertanyaan:

Di sini Anda juga berpedoman pada sebuah ramalan nabi2 yang sebelumnya untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan atau sang penghibur seperti yang diramalkan dalam kitab nabi Yesaya, nabi Ismail, nabi Musa, dan Abraham bapa dari segala nabi….

Tapi dua tahun yg lalu saya pernah membaca artikel bahwa kesemua ramalan tersebut disepakati oleh pendeta2 Roma dengan penguatan bahwasanya inti dari kesemua ramalan tersebut ada pada (kitab Ulangan 18:18), yang berbunyi sebagai berikut…:

“Seorang nabi akan aku bangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka (silsilah keturunan yang sama), seperti engkau ini (Musa), aku akan menanamkan firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang aku perintahkan kepadanya.” (kitab Ulangan 18:18)

Apakah ayat ini benar, kalau iya saya ingin tahu apa alasan Anda hingga ramalan ini di berikan pada Yesus…? Apakah ini karena Yesus itu seperti Musa…?
Kalau iya saya ingin tahu dari mananya anda bisa katakan bahwasanya Yesus itu seperti Musa…?

Jawaban:

Shalom Andi,

Gereja Katolik tidak membatasi interpretasi bahwa Ul 18:18 hanya mengacu kepada Yesus saja, sebab ‘nabi’ yang disebutkan di sini bisa juga mengacu kepada para nabi yang lain sesudah Musa. Namun demikian, Gereja mengajarkan bahwa nubuat ini digenapi secara sempurna dan mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus.

Demikian penjelasan yang saya kutip dari The Navarre Bible, Pentateuch, sebagai berikut:

“…. Musa tidak saja dilihat sebagai seseorang yang telah membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Mesir, tidak saja sebagai pemberi hukum [Taurat], tetapi juga sebagai nabi pertama yang menjadi contoh teladan yang istimewa bagi semua nabi di masa yang akan datang.

Peran dasar nabi adalah untuk berbicara di  dalam nama Tuhan dan mewartakan arti dan jangkauan kejadian- kejadian masa lalu, masa kini dan masa depan: Karena itu, bangsa Israel tidak membutuhkan ahli nujum, peramal, pemanggil arwah yang terkait dengan berhala dan tahayul ….

Arti mesianis dari ayat 15-18 [ditunjukkan sbb:] di dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus mengidentifikasikan “nabi” yang akan dibangkitkan Allah ini dengan Yesus Kristus (lih. Kis 3:22-23, yang secara langsung mengutip Ul 18:18, juga Yoh 1:21,45; 6:14; 7:40)

Yang menjadi bukti terkuat dari tradisi Yahudi di jaman Yesus, yang memberikan interpretasi mesianis kepada perikop ini, adalah manuskrip- manuskrip Qumran (lih. 1 QS 9) yang menambahkan pada perikop ini perikop dari Ul 5:28-29 dan referensi kepada bintang Yakub (Bil 24:17) dan tongkat kerajaan yang tak akan beranjak dari Yehuda (Kej 49:10) …..

Arti kolektif yang mungkin disampaikan di sini oleh Musa (faktanya bahwa ayat itu dapat diinterpretasikan mengacu kepada banyak nabi yang akan dibangkitkan Tuhan sepanjang sejarah) adalah sempurna sesuai dengan penggenapannya yang paling penuh di dalam Yesus Kristus, Nabi terbesar dari semua nabi (lih. Ibr 1:4).”

Penggenapan sempurna nubuat ini dalam diri Yesus Kristus adalah demikian:

1) Dikatakan bahwa nabi tersebut akan dibangkitkan dari antara saudara mereka (ay.18): Dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus Kristus dilahirkan oleh Perawan Maria sebagai keturunan Raja Daud yang adalah keturunan Yehuda, satu suku bangsa Israel.

2) Dikatakan bahwa nabi tersebut adalah ‘seperti Musa’ (ay.18): Ini sempurna digenapi di dalam diri Kristus, sebab seperti Musa yang memimpin umat Israel keluar dari penjajahan Mesir; Kristus memimpin umat pilihan Allah keluar dari penjajahan dosa dan maut. Kini pembebasan dari dosa ini dinyatakan kepada umat-Nya melalui Pembaptisan yang olehnya kita menerima Roh Kudus yang memberi hidup. Roh Kudus ini memerdekakan kita umat pilihan-Nya “dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rom 8:2). Dengan demikian Kristus merupakan Musa yang baru: Musa yang pertama membebaskan umat Allah dari penjajahan jasmani, sedangkan Kristus sebagai Musa yang baru, membebaskan umat Allah dari penjajahan rohani, yaitu dari dosa dan maut.

3) Dikatakan bahwa Allah akan menaruh firman-Nya di dalam mulut sang nabi dan ia [sang nabi] akan mengatakan segala yang diperintahkan Allah (ay.18) kepada mereka: Ini digenapi secara sempurna dalam diri Kristus yang adalah Sang Firman Allah sendiri (lih Yoh 1:1), yang menjelma menjadi manusia (lih. Yoh 1:14). Kristus sendiri mengatakan, “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” (Yoh 14:10). Maka apa yang dikerjakan Allah Bapa itu jugalah yang dikerjakan oleh-Nya (lih. Yoh 5:19), sebab Ia dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30) dan bahwa Bapa ada di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 10:38). Tidak ada seorang nabipun yang mengatakan demikian, yaitu nabi yang mengidentifikasikan dirinya satu dengan Allah Bapa dan menjanjikan kepada siapapun yang mengasihi-Nya dan menuruti firman-Nya, maka Ia dan Bapa akan bersemayam di dalam orang itu. Namun Yesus berkata: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh 14:23). Di sini Kristus tidak hanya berperan sebagai nabi yang menyampaikan perkataan Allah Bapa kepada manusia, namun juga sebagai pemersatu antara Allah dan manusia. Melalui ayat ini Yesus juga menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang dapat berada ‘di dalam’ diri manusia. Rasul Yohanes menegaskannya demikian, “Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1 Yoh 3:24).

4) Dikatakan bahwa yang tidak percaya kepada perkataan nabi ini akan dihukum (ay. 19). Ini juga digenapi sempurna di dalam Kristus, yang jelas kita ketahui dari perkataan Yesus kepada Nikodemus:

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal…. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yoh 3:14-18)

Rasul Yohanes mengajarkan bahwa hal percaya kepada kesaksian Allah tentang Anak-Nya [Kristus] ini berhubungan dengan karunia kehidupan kekal:

“Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” (1 Yoh 5:9-12)

Demikianlah, semoga anda dapat melihat bahwa nubuat dalam Ul 18:18 memang digenapi secara sempurna di dalam Kristus, dan ajaran ini berlandaskan atas Kitab Suci.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Ampunilah, Dan Kamu Akan Diampuni!

15

I. Mengampuni adalah langkah menuju keselamatan kekal

Sampai berapa kali kita harus mengampuni? Tujuh kali tidaklah cukup, melainkan harus tujuh puluh kali tujuh kali atau dengan kata lain tak terbatas. Perikop Matius 18:21-35 menceritakan pentingnya mengampuni dan berbelas kasih kepada sesama, karena kita semua telah menerima belas kasih dan pengampunan dari Tuhan. Namun, kita hanya dapat mengampuni sesama kita dengan segenap hati, kalau kita bekerjasama dengan rahmat Allah. Perikop ini ingin mengajarkan kita bahwa belas kasih adalah merupakan esensi dari Injil dan kekristenan. ((Paus Yohanes Paulus II, Dives in Misericordia, 14))

II. Teks Kitab Suci Matius 18:21-35

21.  Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
22.  Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
23.  Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
24.  Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
25.  Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
26.  Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
27.  Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
28.  Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
29.  Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
30.  Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
31.  Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
32.  Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
33.  Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
34.  Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
35.  Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.

III. Telaah dan Tafsir Matius 18:21-35

1. Telaah Matius 18:21-35

Kalau kita melihat struktur dari perikop ini, maka kita dapat melihatnya sebagai berikut: 1) Ayat 21-22 adalah tanya jawab antara Petrus dan Yesus tentang pengampunan; 2) Ayat 23-34 perumpamaan tentang Kerajaan Sorga yang digambarkan seperti seorang raja yang mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya, yang terbagi dalam: 2a) 24-27 Sikap raja yang berbelas kasih kepada hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta; 2b) Ayat 28-30 Sikap hamba yang tidak berbelas kasih kepada kawannya yang berhutang 100 dinar; 2c) Ayat 31-34 Raja memperlakukan hamba sesuai dengan perlakuan hamba itu terhadap kawannya; 3) Ayat 35 penutup bahwa Allah akan memberikan penghukuman bagi yang orang-orang yang tidak mau mengampuni sesama dengan segenap hati.

2. Belas kasih Allah adalah tawaran Allah kepada manusia (ay. 21-22)

Dalam Injil Lukas 17:3 diceritakan bagaimana Yesus mengajarkan untuk mengampuni kesalahan orang lain. Lebih lanjut Yesus mengatakan “Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Luk 14:4) Mungkin perkataan Yesus ini masih terngiang-ngiang di telinga Petrus dan mungkin dia bertanya-tanya apakah benar seseorang harus mengampuni dosa sebanyak tujuh kali saja. Kemudian dia datang kepada Yesus dan bertanya “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (ay.21) Dalam pemikiran rasul Petrus pengampunan tujuh kali seperti yang pernah dikatakan oleh Yesus mungkin telah cukup. Namun rasul Petrus lupa bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus sebelumnya adalah seseorang harus mengampuni kesalahan seseorang walaupun orang tersebut telah berdosa tujuh kali sehari dan kemudian menyesal. Dan untuk memperjelas, Yesus menjawab rasul Petrus “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (ay.22)

Tujuh melambangkan banyak hal, namun mempunyai karakteristik sempurna di dalam bangsa Yahudi. Sebagai contoh kita melihat imam harus memerciki darah atau minyak di hadapan Tuhan sebanyak tujuh kali (lih. Im 4:6; Im 14:16), memerciki darah sebanyak tujuh kali kepada orang yang ditahirkan dari kusta (lih. Im 14:7). Kita juga melihat bahwa angka tujuh dipakai dalam peristiwa tembok Yeriko, dan dikatakan “dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala.” (Yos 6:4). Bahkan dikatakan di dalam Maz 119:164 “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.” Kitab Wahyu juga menuliskan tentang gulungan kitab yang dimaterai dengan tujuh materai (lih. Why 5:1) Jadi, dari beberapa contoh ini, kita dapat melihat bahwa angka tujuh adalah menyatakan sesuatu yang penuh dan sempurna. Kalau Yesus menjawab tujuh puluh kali tujuh artinya sama saja dengan tujuh (angka yang sempurna) kali sepuluh (juga angka yang sempurna, seperti sepuluh perintah Allah) kali tujuh (angka yang sempurna), atau dengan kata lain tak terbatas.

Mengampuni adalah salah satu perintah yang mungkin gampang diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Namun, kita melihat banyak tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang memberikan contoh tentang pengampunan. Yusuf yang telah dicelakai dan dijual oleh saudaranya, akhirnya mau memaafkan saudara-saudaranya (lih. Kej 45:5-15; Kej 50:10-21). Musa mengampuni Harun dan Miryam yang memberontak. (lih. Bil 12:1-13). Daud juga mengampuni Saul, walaupun Saul berusaha berkali-kali membunuhnya (lih. 1Sam 24:10-12; 1Sam 26:9; 1Sam 26:23; 2Sam 1:14-17 ) dan Daud juga memaafkan Simei yang sebelumnya telah menghina Daud (lih. 2Sam 16:9-13; 2Sam 19:23; 1Raj 2:8-9). Dan akhirnya, contoh paling sempurna dari tindakan mengampuni adalah seperti yang dilakukan oleh Yesus, ketika di kayu salib Dia mengatakan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34)

Pengampunan yang diberikan oleh Kristus di kayu salib adalah merupakan gambaran akan misi Kristus di dunia ini, yaitu Dia datang untuk memberikan pengampunan terhadap dosa yang diperbuat seluruh umat manusia. Pengampunan ini merupakan perwujudan dari belas kasih Allah Bapa kepada umat manusia, yang memberikan Putera-Nya yang dikasihi untuk datang ke dunia dan menebus dosa dunia, sehingga barang siapa percaya kepada-Nya akan mendapat kehidupan yang kekal. (lih. Yoh 3:16) Pengampunan ini juga merupakan perwujudan dari Allah yang maha kuasa, seperti yang ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 277) “Tuhan menunjukkan kemaha-kuasaan-Nya dengan menobatkan kita dari dosa-dosa kita dan dengan membuat kita menjadi sahabat-sahabat-Nya lagi melalui rahmat-Nya (“Allah, Engkau menyatakan kekuasaan-Mu terutama apabila Engkau menaruh belas kasihan terhadap kami dan mengampuni kami” MR, Doa pembukaan, Minggu Biasa 26).“Hanya Allahlah yang dapat memberikan rahmat pengampunan kepada umat manusia. Dan rahmat pengampunan ini menjadi pembuka untuk keselamatan manusia, yang menuntun manusia ke dalam Kerajaan Sorga. Rahmat pengampunan Allah ini mengalir secara luar biasa dalam Sakramen Pengampunan Dosa.

3. Perumpamaan tentang Kerajaan Sorga (ay.23)

Yesus telah memberikan beberapa perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Ada 12 perumpamaan yang diberikan oleh Yesus tentang Kerajaan Sorga, seperti tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga di Mat 13, yang terdiri dari:(a) perumpamaan tentang seorang penabur (Mat 13:1-23), (b) perumpamaan tentang lalang di antara gandum (Mat 13:24-30; Mat 13:38-43; Mrk 4:26-29), (c) perumpamaan tentang biji sesawi (Mat 13:31-32; Mrk 4:30-31; Luk 13:18-19), (d) perumpamaan tentang ragi) (Mat 13:33; Luk 13:21), (e) perumpamaan tentang harta terpendam (Mat 13:44), (f) perumpamaan tentang mutiara yang indah (Mat 13:45), (g) perumpamaan tentang pukat (Mat 13:47-50). Perumpamaan tentang Kerajaan Sorga juga diberikan Yesus, seperti: (h) Seorang raja yang mencari orang untuk bekerja di ladang anggurnya (Mat 20:1-16), (i) Seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya (Mat 22:2-14; Luk 14:16-24), (j) Seumpama sepuluh gadis yang membawa pelita (Mat 25:1-13), (k) Perumpamaan tentang talenta (Mat 25:14-30; Luk 19:12-27), (l) Perumpamaan Kerajaan Sorga seumpama seorang Raja yang sedang mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. (lih. Mat 18:23-34) Kita akan membahas perumpamaan yang terakhir, yang terbagi dalam tiga drama, yaitu drama belas kasih, drama kekejaman, dan drama keadilan.

4. Drama belas kasih Allah dan kerendahan hati (ay.24-27)

Kerajaan Sorga menggambarkan suatu drama belas kasih, karena memang seseorang tidak memperoleh Kerajaan Sorga berdasarkan apa yang dia buat, namun berdasarkan kasih karunia. Kalau mau adil, maka kita semua yang telah berdosa akan masuk neraka, karena upah dosa adalah maut (lih. Rom 6:3). Namun, karena belas kasih Allah, Dia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4) Diceritakan bahwa dalam perhitungan dengan hambanya, maka raja tersebut menemukan bahwa hambanya berhutang sepuluh ribu talenta atau merupakan jumlah yang besar dan tak terbayarkan, walaupun hamba itu harus menjual segala harta miliknya, anak dan istrinya untuk melunasi hutangnya. (ay.25) Dengan kata lain, hutang itu tak terbayarkan!

Sebagai gambaran pada zaman sekarang, satu talenta emas adalah 35 kg (lih.1Raj 9:14; 1Raj 20:39 ((Sott Hahn, Catholic Bible Dictionary (New York: Doubleday Religion, 2009), p.887)) x US$ 57,000 = 2 juta US$. Dengan kata lain, kalau hamba itu berhutang 10,000 talenta, maka dia berhutang 20 milyar US$. Jumlah ini adalah jumlah yang sangat besar, yang ingin memberikan penekanan bahwa jumlah ini adalah di luar jangkauan seseorang untuk membayarnya. Walaupun seseorang harus menjual semua yang dia punya, namun tetap dia tidak dapat membayarnya. Manusia yang telah berdosa tidak dapat masuk ke dalam kemuliaan Allah di dalam Kerajaan Sorga, sama seperti orang tidak dapat membayar 10,000 talenta. Adalah adil bahwa seseorang yang tidak dapat membayar hutangnya yang sangat besar, maka dia dimasukkan ke penjara, sama adilnya kalau manusia yang berdosa masuk dalam neraka abadi.

Namun, untuk melepaskan diri dari neraka abadi, maka langkah pertama yang diperlukan oleh manusia adalah kerendahan hati. Kerendahan hati ini ditunjukkan oleh hamba yang menyembah sang raja dan memohon agar raja tersebut dapat bersabar. (ay.26) Menyaksikan kerendahan hati hambanya, maka dikatakan bahwa raja itu tergerak hatinya oleh belas kasihan, dan kemudian membebaskannya dan menghapuskan hutangnya (ay.27). Hamba yang dengan rendah hati minta tambahan waktu untuk melunasi hutangnya mendapatkan sesuatu yang lebih, yaitu penghapusan hutang. Inilah bukti belas kasih Allah, yang tidak hanya mengampuni dosa manusia, namun pengampunan ini juga dilakukan dengan cara yang sungguh tak terpikirkan, yaitu dengan cara mengirimkan Putera-Nya yang terkasih, untuk menebus dosa manusia, sehingga yang percaya kepadanya tidak akan binasa, melainkan akan mendapatkan kehidupan yang kekal (lih. Yoh 3:16).

Dasar dari kerendahan hati adalah pengenalan akan diri sendiri dan Tuhan. St. Thomas Aquinas mengatakan, bahwa pengenalan akan diri sendiri bermula pada kesadaran bahwa segala yang baik pada kita datang dari Allah dan milik Allah, sedangkan segala yang jahat pada kita timbul dari kita sendiri. ((Lihat Reverend Adolphe Tanquerey, S.S., D.D., The Spiritual Life- A Treatise on Ascetical and Mystical Theology, (Society of St. John the Evangelist, Desclee & Co Publishers, Belgium) 1128, p. 531)) Pengenalan yang benar tentang Tuhan menghantar pada pengakuan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia menurut gambaran-Nya, dan bahwa manusia diciptakan untuk mengasihi, sebab Allah yang menciptakannya adalah Kasih. Dalam kasih ini, Allah menginginkan persatuan dengan setiap manusia, sehingga Ia mengirimkan Putera-Nya yang Tunggal untuk menghapuskan penghalang persatuan ini, yaitu dosa.

Kesadaran akan hal ini membawa kita pada kebenaran: yaitu bahwa kita ini bukan apa-apa, dan Allah adalah segalanya. Di mata Tuhan kita ini pendosa, tetapi sangat dikasihi oleh-Nya. Keseimbangan antara kesadaran akan dosa kita dan kesadaran akan kasih Allah ini membawa kita pada pemahaman akan diri kita yang sesungguhnya. Kesadaran ini menghasilkan kerendahan hati, yang menurut St. Thomas adalah dasar dari bangunan spiritual ((St. Thomas Aquinas, Summa Theology II-II, Q. 161, a.5 ad 2.)) atau ‘rumah rohani’ kita.

5. Drama kekejaman dan kesombongan (ayat 28-30)

Setelah sang hamba mendapatkan pengampunan dan pembebasan akan hutangnya yang begitu besar dari rajanya, maka diceritakan bahwa hamba ini bertemu dengan kawannya yang berhutang seratus dinar atau senilai tiga bulan upah kerja, karena satu dinar adalah upah satu hari kerja. Yang dilakukan oleh hamba itu bukannya meniru teladan raja yang berbelas kasih, namun malah menangkap dan mencekik kawannya, serta memaksa kawannya untuk segera melunasi hutangnya (ay.28). Bahkan permohonan dari kawannya untuk memberikan waktu lebih lama baginya untuk dapat melunasi hutangnya tidak digubris dan malah memenjarakan kawannya (ay.29-30).

Di sini kita melihat bahwa sungguh hamba ini telah melupakan belas kasih yang telah dia terima dari tuannya. Kalau dibandingkan, hutang kawannya itu adalah sebesar tiga bulan upah atau anggaplah sebesar 3,000 US$ dibandingkan dengan hutangnya sebesar 20 milyar US$ yang telah dihapuskan oleh sang raja. Dengan kata lain hutang temannya dibandingkan dengan hutang hamba itu kepada raja adalah 1 banding 6,7 juta. Ini hanyalah sebagai gambaran akan perbedaan hutang antara keduanya. Dan kalau kita mau membandingkan, maka sebenarnya kita semua berhutang kepada Tuhan dan dengan kekuatan kita sendiri, maka kita tidak dapat membayarnya. Namun, dalam belas kasih-Nya, Tuhan telah membebaskan kita semua dari himpitan dosa dan mempunyai pengharapan akan kehidupan abadi di Sorga. Oleh karena itu, sungguh menjadi selayaknya, kita juga mau mengampuni kesalahan sesama kita.

6. Drama keadilan (ayat 31-34)

Menarik untuk disimak bahwa teman- teman dari kawan hamba tersebut sangat sedih dan melaporkan kepada raja. Apa yang dilakukan oleh hamba itu seolah-olah dapat dirasakan sebagai suatu bentuk ketidakadilan. Hamba yang telah menerima pengampunan berlimpah namun tidak mau memberi pengampunan walaupun dalam masalah kecil menimbulkan pergolakan, sehingga akhirnya mereka melaporkan kejadian ini kepada raja. Dan raja yang berbelas kasih akhirnya memberikan keadilan. Rupanya raja yang telah mengampuni hutang yang begitu besar dari hambanya juga menuntut agar hamba tersebut dapat juga berbelas kasih pada sesama (ay.33). Yesus mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita (Luk 6:38). Dan di ayat sebelumnya, Yesus memberikan pegangan “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” (Luk 6:37) Dengan demikian, menjadi satu permenungan bagi kita semua, agar mau mengampuni dan berbelas kasih kepada sesama, sehingga kitapun akan diampuni oleh Allah dalam pengadilan terakhir.

Ketidakmampuan seseorang untuk mengampuni kesalahan sesama membuat rahmat Allah tidak dapat menembus hati yang penuh dengan kebencian. Atau dengan kata lain, hati yang penuh kebencian seolah-olah telah tertutup dan tidak mau menerima rahmat Allah. Dalam keterbatasan kita, memang sungguh sulit untuk dapat mengampuni seseorang yang begitu menyakiti kita. Namun, kita dapat yakin, bahwa kalau Yesus memberikan perintah, maka itu bukanlah perintah yang mustahil untuk dijalankan. Pengampunan hanya mungkin kalau kita mengundang Tuhan untuk memberikan rahmat kepada kita, sehingga kita mempunyai kekuatan untuk mengampuni kesalahan orang yang bersalah kepada kita. Hanya dengan rahmat Allah dan kesediaan kita untuk mengampuni, maka seseorang dapat benar-benar mengampuni orang yang telah menyakitinya. Kesadaran bahwa Allah akan berbelas kasih pada kita pada saat pengadilan terakhir kalau kita juga berbelas kasih kepada orang lain, seharusnya juga dapat membuka hati kita untuk mau mengampuni kesalahan sesama.

IV. Ampunilah kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami

Di ayat terakhir, Yesus menegaskan “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (ay.35) Pernyataan yang sama sebenarnya secara gamblang telah diberikan oleh Yesus sendiri dalam petisi ke-empat dari doa Bapa Kami, yang mengatakan: Ampunilah kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. (lih. Mat 6:12; Luk 11:4) Katekismus Gereja Katolik menuliskan:

Sungguh mengejutkan bahwa kerahiman ini tidak dapat meresap di hati kita sebelum kita mengampuni yang bersalah kepada kita. Sebagaimana tubuh Kristus, demikian pula cinta tidak dapat dibagi-bagi. Kita tidak dapat mencintai Allah yang tidak kita lihat, kalau kita tidak mencintai saudara dan saudari kita yang kita lihat (Bdk. 1 Yoh 4:20.). Kalau kita menolak mengampuni saudara dan saudari kita, hati kita menutup diri dan kekerasannya tidak dapat ditembus oleh cinta Allah yang penuh kerahiman. Tetapi dengan mengakui dosa-dosa, hati kita membuka diri lagi untuk rahmat-Nya.” (KGK, 2840)

Dengan demikian, mengampuni sesama adalah perwujudan dari kasih kita kepada Allah. Jadi, kepada saudara/i yang mempunyai kebencian dan sungguh sulit untuk melepaskan diri dari dosa ini, maka marilah kita bersama mohon rahmat Allah agar hati kita dapat diubah dan biarlah contoh pengampunan Allah yang diwujudkan dalam misteri Paskah Kristus dapat memberikan kepada kita contoh yang harus ditiru. Pengampunan yang dituntut oleh Allah bukan hanya pengampunan yang dangkal, namun pengampunan dengan segenap hati, yang berarti harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Orang Samaria yang Baik Hati

22

Dari Yerikho ke Yerusalem

Saya masih ingat ada lagu tentang perikop Orang Samaria yang baik hati, yang liriknya dimulai dengan kalimat, “Dari Yerikho ke Yerusalem, ada jalan belas kasih ….” Ya, belas kasih. Itulah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam perikop ini. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus ingin mengajarkan kepada kita bahwa hukum Allah yang terutama bukanlah “Jangan berbuat ini…. jangan berbuat itu” yang kesannya negatif, berupa larangan. Sebaliknya, hukum Tuhan yang terutama adalah sangat positif yaitu, “Kasihilah….” yang berupa perintah untuk berbuat kebaikan. Kasih ini terutama ditujukan kepada Tuhan, dan kemudian, demi kasih kita kepada Tuhan, kita diajarkan untuk mengasihi sesama. Perikop ini selanjutnya menjabarkan tentang siapakah sesama yang harus kita kasihi.

Bacaan Injil Luk 10:25-37

25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Telaah teks

Perikop ini seolah terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama menyampaikan tentang apakah perintah Tuhan yang utama, dan bagian yang kedua menyampaikan tentang siapakah sesama manusia.

1. Perintah Tuhan yang utama: Kasihilah Tuhan

Mengapa perintah Tuhan yang utama adalah agar kita mengasihi Tuhan? Khotbah St. Yohanes Maria Vianney (1786-1859) mungkin dapat membantu kita memahami, mengapa demikian:

“Ya, pekerjaan kita satu- satunya di dunia ini adalah perbuatan mengasihi Tuhan- yaitu mulai melakukan pekerjaan yang akan kita lakukan kelak di dalam kekekalan. Mengapa kita musti mengasihi Tuhan? Sebab kebahagiaan kita diperoleh dari mengasihi Tuhan; dan bukan dari hal yang lain. Jadi, jika kita tidak mengasihi Tuhan, kita akan selalu tidak bahagia; dan jika kita berharap untuk menikmati penghiburan dan kelepasan dari kesakitan kita, kita akan mencapainya hanya jika kita mengasihi Tuhan. Jika kamu ingin menjadi yakin akan hal ini, pergilah dan temukanlah seseorang yang paling bahagia menurut ukuran dunia ini; jika ia tidak mengasihi Tuhan, kamu akan menemukan bahwa ternyata ia adalah orang yang tidak bahagia. Dan sebaliknya, jika kamu menemukan seseorang yang tidak bahagia menurut ukuran dunia, kamu akan melihat, bahwa karena ia mengasihi Tuhan ia bahagia di dalam segala sesuatu. O Tuhan! Bukalah mata hati kami, dan kami akan mencari kebahagiaan di mana kami sungguh dapat menemukannya.” ((St. John Mary Vianney, Sermons, Twenty- second Sunday after Pentecost as quoted in The Navarre Bible, St. Luke, Jose Maria Casciaro, ed., (Dublin, Ireland: Four Court Press, 1997 reprint), p. 140))

Jika kita membaca berita tentang tokoh selebriti baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sedikit banyak kita dapat mengetahui bahwa apa yang ditulis oleh St. Yohanes Maria Vianney benar adanya. Sebab ada banyak orang yang nampak bahagia dari luar, namun hatinya kosong, sebab mereka tidak mengenal dan mengasihi Allah. Tak jarang, ada di antara mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, karena merasa hidupnya tak berarti. Namun sebaliknya, ada juga orang- orang yang nampaknya tidak berkelebihan di mata dunia, namun mereka hidup bahagia, sebab Tuhanlah yang menjadi sumber suka cita mereka. Kita dapat menyebutkan sendiri, orang- orang semacam ini yang Tuhan ijinkan untuk hadir dalam kehidupan kita, untuk membuka mata kita, bahwa bukan kemewahan duniawi yang menentukan kebahagiaan seseorang, tetapi hubungan kasih yang erat dengan Tuhan.

2. Sesama manusia= siapapun yang membutuhkan pertolongan

Perikop ini sesungguhnya jelas mengajarkan kepada kita bahwa sesama bagi kita adalah siapapun -tidak terbatas oleh ras ataupun golongan- yang membutuhkan pertolongan kita. Maka belas kasihan tidak hanya berarti merasa kasihan, tetapi kasih itu harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Kita sebagai murid- murid Kristus diajak untuk membagikan belas kasih kita kepada sesama. Sesama di sini bukan hanya teman kita, tetapi juga mereka yang bukan teman kita, bahkan musuh/ orang yang membenci kita. Perumpamaan ini menjelaskan perintah Kristus, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu… “(Luk 6:27; lih. Mat 5:43). Sebab kasih yang tulus sifatnya memberi, tanpa mengharapkan balasan; menolong karena mengetahui bahwa orang tersebut membutuhkan pertolongan.

Penjelasan The Navarre Bible tentang perikop ini mengatakan bahwa perbuatan belas kasih ada empat belas macam, tujuh bersifat rohani dan tujuh lainnya bersifat jasmani. Perbuatan kasih yang bersifat rohani adalah: membawa orang yang berdosa kepada pertobatan, mengajar mereka yang tidak tahu, menasehati orang yang bimbang, menghibur orang yang berduka, menerima kesalahan dengan sabar, mengampuni kesalahan orang lain, mendoakan orang- orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Sedangkan tujuh perbuatan kasih yang bersifat jasmani adalah: memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus, memberi pakaian kepada orang yang tidak berpakaian, memberi tumpangan kepada yang tidak mempunyai tempat tinggal, mengunjungi orang sakit, mengunjungi para tahanan di penjara, dan mengubur orang yang meninggal dunia. ((The Navarre Bible St. Luke, ibid., p. 141))

3. Mengapa Yesus menggunakan perumpamaan dalam mengajarkan tentang belas kasihan ini?

Kemungkinan Yesus mengajar dengan perumpamaan dengan maksud mengkoreksi kebiasaan kesalehan yang palsu yang dilakukan oleh orang- orang pada jaman itu. Menurut hukum Taurat, persentuhan dengan jenazah menjadikan seseorang najis secara hukum, sehingga perlu menjalani ritual pemurnian (lih. Bil 19:11-22, Im 21:1-4, 11-12). Hukum- hukum ini bukan dimaksudkan untuk mencegah orang- orang menolong orang yang terluka; tetapi hukum itu ditujukan untuk alasan kesehatan dan penghormatan kepada orang mati. Penyimpangan para imam dan orang Lewi pada perumpamaan ini adalah, mereka yang tidak tahu apakah orang yang dirampok itu sudah mati atau belum, sengaja memilih untuk menerapkan interpretasi yang keliru terhadap hukum ritual -yang merupakan hukum yang sekunder- dan malah mengabaikan hukum yang lebih utama, yaitu mengasihi sesama dan memberikan bantuan yang diperlukannya. ((lih. The Navarre Bible St. Luke, ibid., p. 142))

Dengan demikian Yesus mengajarkan kita bahwa hukum kasih merupakan hukum yang terutama, dan ini mengatasi hukum- hukum yang lainnya. Hukum kasih mengatasi batas ras/ golongan, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan ini. Sebab yang terluka karena dirampok itu adalah seorang Yahudi, sehingga sesungguhnya seorang imam Yahudi dan seorang Lewi yang lewat di sana mempunyai kewajiban yang lebih besar untuk menolongnya, karena mereka sebangsa, namun juga karena kedudukan mereka sebagai pemuka umat. Sebaliknya, akan lebih mudah dimengerti jika orang Samaria itu memilih untuk tidak menolongnya, sebab saat itu bangsa Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (lih Yoh 4:9). Namun demikian, yang terjadi dalam perumpamaan itu adalah sebaliknya: sesama orang Yahudi yang seharusnya menolong malah tidak menolongnya, sedangkan orang Samaria yang tidak dianggap teman itulah yang menolongnya. Kisah ini seharusnya membuka pemikiran kita tentang apakah kita sudah menjadi ‘orang Samaria yang baik hati’ bagi orang yang membutuhkan pertolongan, terutama jika itu adalah saudara kita sendiri?

4. Makna allegoris dari perumpamaan ini

Dikisahkan bahwa orang yang jatuh ke tangan penyamun itu sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Secara geografis, ketinggian Yerusalem dari air laut lebih tinggi daripada ketinggian Yerikho, sehingga jalan dari Yerusalem menuju Yerikho adalah jalan menurun. Yerusalem sering disebut sebagai kota yang kudus/ surgawi, sedangkan Yerikho, kota duniawi. Maka secara simbolis, penurunan ini menggambarkan jatuhnya seseorang dari keadaan rahmat.

St. Agustinus mengajarkan bahwa orang Samaria ini menggambarkan Kristus sendiri, dan orang yang jatuh ke tangan penyamun itu adalah Adam, yang menggambarkan keseluruhan umat manusia yang jatuh dalam dosa oleh jebakan si Jahat. ((St. Augustine, De verbis Domini sermones, 37)) Terdorong oleh belas kasihan, Kristus turun ke dunia untuk menyembuhkan luka-luka manusia, dan menjadikan luka-luka tersebut sebagai luka-luka-Nya sendiri (lih. Yes 53:4; Mat 8:17, 1 Pet 2:24, 1 Yoh 3:5). Kristus merawat luka- luka itu dan mengolesinya dengan minyak dan anggur, yang menggambarkan sakramen; sedangkan tempat penginapan itu menggambarkan Gereja. Perumpamaan ini menggambarkan kisah belas kasihan Kristus kepada umat manusia, sejalan dengan banyak ayat lain di dalam Injil yang menunjukkan betapa Ia berbela rasa dengan sesama-Nya yang menderita (lih. Mat 9:36, Mrk 1:41, Luk 7:13).

5. Pengajaran Magisterium tentang perumpamaan Orang Samaria yang baik hati

a. Katekismus Gereja Katolik

KGK 1825    Kristus telah wafat karena kasih terhadap kita, ketika kita masih “musuh” (Rm 5:10). Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita menurut teladan-Nya (Mat 5:44), menunjukkan diri kita sebagai sesama kepada orang yang terasing (Bdk. Luk 10:27-37), dan mengasihi anak-anak (Bdk. Mrk 9:37) dan kaum miskin (Bdk. Mat 25:40, 45).

Santo Paulus melukiskan gambaran mengenai kasih yang tidak ada tandingannya: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri: Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-7).

b. Paus Yohanes Paulus II

Dalam surat ensikliknya, Christifideles laici, Salvifici doloris, seperti dikutip dalam khotbahnya di peringatan ke delapan World Day of the Sick, di Roma 11 Februari 2000.

“Gereja, “dari abad ke abad…. telah membuat perumpamaan Injil Orang Samaria yang baik hati menjadi nyata kembali dan menyampaikan kasihnya yang menyembuhkan dan penghiburan Yesus Kristus….Ini terjadi melalui komitmen yang tak kenal lelah dari komunitas Kristiani dan mereka semua yang merawat para orang sakit dan yang menderita …. bersama dengan pelayanan yang ahli dan murah hati dari para petugas kesehatan.” ((Paus Yohanes Paulus II, Christifideles laici, 53)).

“Teladan Kristus, Sang Orang Samaria yang baik hati, harus menjadi inspirasi bagi sikap orang beriman, mendorongnya untuk “dekat” kepada saudara dan saudarinya yang menderita, melalui penghormatan, pengertian, penerimaan, kelemahlembutan, belas kasihan dan kesediaan tanpa pamrih. Adalah masalah memerangi ketidakpedulian yang membuat tiap-tiap orang dan kelompok dengan egonya menarik diri ke dalam diri mereka sendiri. Sampai akhir, “keluarga, sekolah dan institusi- institusi pendidikan harus, jika untuk alasan-alasan kemanusiaan, bekerja keras demi membangunkan kembali dan menyempurnakan rasa peduli terhadap sesama dan penderitaannya.” ((Paus Yohanes Paulus II, Salvifici doloris, 29)).

Dalam surat ensikliknya Evangelium Vitae:

“Selanjutnya, bagaimana kita gagal untuk menyebutkan semua tanda sehari- hari tentang keterbukaan, pengorbanan dan perawatan yang tak memikirkan diri sendiri yang dibuat oleh orang- orang yang tak terhitung banyaknya di dalam keluarga, rumah sakit, panti asuhan, panti jompo dan pusat- pusat lain atau komunitas lainnya yang mendukung kehidupan? Dipimpin oleh teladan Yesus, “Orang Samaria yang baik hati” (lih Luk 10:25-37) dan ditopang oleh kekuatan-Nya, Gereja telah selalu berada di garis depan dalam hal memberikan pelayanan kasih: begitu banyak putera puterinya, terutama para religius, dalam bentuk tradisional ataupun baru, telah membaktikan dirinya dan terus membaktikan hidup mereka kepada Tuhan, memberikan diri mereka secara cuma-cuma demi kasih kepada sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Perbuatan- perbuatan ini memperkuat dasa “masyarakat kasih dan kehidupan” yang tanpanya kehidupan setiap orang dan kelompok kehilangan kualitas manusiawi yang paling asli. Bahkan jika perbuatan- perbuatan tersebut tidak nampak di hadapan kebanyakan orang, iman menjamin kita bahwa Allah Bapa “yang melihat yang tersembunyi” (Mat 6:6) tidak hanya akan memberi penghargaan akan perbuatan- perbuatan ini, tetapi telah di sini dan sekarang membuat mereka menghasilkan buah yang kekal demi kebaikan semua orang. ((Paus Yohanes Paulus II, Evangelium vitae, 27))

Seorang asing bukan lagi orang asing bagi orang yang harus menjadi sesama bagi yang membutuhkan pertolongan, sampai pada titik menerima tanggung jawab bagi kehidupannya, seperti ditunjukkan jelas dalam perumpamaan Orang Samaria yang baik hati (lih. Luk 10:25-37). Bahkan musuh berhenti menjadi musuh bagi orang yang wajib untuk mengasihinya (lih. Mat 5:38-48; Luk 6:27-35), untuk melakukan kebaikan kepadanya (lih. Luk 6:27, 33, 35) dan untuk segera menanggapi kebutuhan-kebutuhannya yang genting dan tanpa pengharapan untuk dibayar kembali (lih. Luk 6:34-35). Keluhuran kasih ini adalah untuk berdoa bagi musuhnya. Dengan melakukan hal itu, kita mencapai kesesuaian dengan kasih Tuhan yang memelihara: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:44-45; lih. Luk 6:28, 35) ((Paus Yohanes Paulus II, Evangelium vitae, 41))

c. Paus Benediktus XVI

Dalam surat ensikliknya, Deus Caritas est:

“Perumpamaan Orang Samaria yang baik hati (lih. Luk 10:25-37) memberikan dua penjelasan yang sangat penting. Sampai saat itu, konsep “sesama” dimengerti sebagai mengacu secara mendasar kepada saudara-saudara sebangsa dan kepada orang-orang asing yang sudah menetap di Israel; dengan perkataan lain, kepada komunitas suatu bangsa yang sudah terjalin erat. Batasan ini sekarang dihapuskan. Siapapun yang membutuhkan saya, dan yang dapat saya bantu adalah sesama saya. Konsep: “sesama” sekarang menjadi universal, tetapi tetap konkret. Walaupun telah diluaskan kepada semua umat manusia, ‘sesama’ ini tidak direduksi menjadi sesuatu yang generik, abstrak dan tidak menyatakan kasih; tetapi yang meminta komitmen praktis saya, di sini dan sekarang….” ((Paus Benediktus XVI, Deus Caritas est, 15))

Perumpamaan Orang Samaria yang baik hati tetap menjadi patokan yang menekankan kasih yang universal kepada mereka yang membutuhkan yang kita temui “secara kebetulan” (lih. Luk 10:31), siapapun dia. Tanpa menyimpang dari perintah mengasihi yang universal ini, Gereja juga mempunyai tanggungjawab yang khusus: di dalam keluarga gerejawinya tidak seorang anggotapun harus menderita kekurangan. Ajaran dari surat kepada jemaat di Galatia cukup tegas: “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
((Paus Benediktus XVI, Deus Caritas est, 25))

Kesimpulan

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa hanya dengan mengasihi Tuhan-lah kita dapat hidup bahagia. Kasih kepada Tuhan itu diikuti dan diwujudkan oleh kasih kepada sesama, sebab kita percaya Tuhan hadir di dalam sesama kita yang membutuhkan pertolongan (lih. Mat 25:40). Kisah orang Samaria yang baik hati mendorong kita untuk mengasihi tanpa memandang bulu, tanpa membeda- bedakan ras dan golongan, dan tanpa mengharapkan balasan. Kristus sendiri telah memberikan teladan kepada kita, sebab Ia-lah yang digambarkan sebagai orang Samaria yang baik hati itu. Kristus telah menolong kita, menyembuhkan luka-luka kita akibat kejatuhan kita ke dalam dosa. Setelah mengalami pertolongan Tuhan ini, kitapun dipanggil oleh Kristus untuk melakukan hal yang sama, yaitu menolong sesama kita yang juga membutuhkan pertolongan, baik itu adalah teman kita, ataupun orang yang membenci kita. Setelah kita memenuhi tugas kewajiban kita di dalam keluarga dan pekerjaan kita, kita perlu juga berkarya bagi orang lain dengan menjadi “Orang Samaria yang baik hati” bagi mereka yang membutuhkan. Dengan melakukan hal ini, kita membagikan kasih Tuhan, dan hati kita akan memperoleh suka cita.

Mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri: kepada siapakah kita dapat menjadi “orang Samaria yang baik hati” pada hari ini?

Diskusi Tentang Ke-Allahan Yesus Kristus

50

Pertanyaan:

Mengapa tidak bisa diterima akal? Karena berikut…

LOGIKA :

Seorang ayah memiliki seorang anak, kekuasaan sang ayah pasti lebih besar ketimbang kekuasaan sang anak, wajar jika seorang anak meminta tolong kepada ayahnya. Tapi apakah mereka satu?? Ya.. mereka satu, satu DNA, satu GARIS KETURUNAN, satu TEMPAT TINGGAL tetapi mereka berbeda pribadi bukan??

Begitu pula dengan Yesus, Yesus berdoa karena dia tahu hanya dari bapanyalah ada keselamatan.

Yoh. 17:3 = “Inilah hidup sejati dan kekal; supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa.” (Perhatikan, Yesus tidak menyebut dirinya, tetapi Bapaknya di surga sebagai ”satu-satunya Allah yang benar”)

2 pribadi :
1. supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar
2. dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa

Kalimat YANG DIUTUS mengartikan bahwa ada SANG PENGUTUS yang mengartikan 2 pribadi yang berbeda, kuasa SANG PENGUTUS pasti lebih besar ketimbang YANG DIUTUS. jadi Yesus berdoa kepada yang lebih berkuasa daripada dia.

Mat. 4:10 = Yesus menjawab, ”Pergi kau, hai Penggoda! Dalam Alkitab tertulis: Sembahlah Tuhan, Allahmu, dan layanilah Dia saja!” (Yesus jelas tidak mengatakan bahwa dirinya sendiri harus disembah.)

Yoh. 8:17, 18= Di dalam Hukum Musa tertulis begini: Kesaksian yang benar adalah kesaksian dari dua orang. Yang memberi kesaksian tentang diri-Ku ada dua — Aku dan Bapa yang mengutus Aku.” (Jadi, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa ia adalah pribadi yang terpisah dan berbeda dengan sang Bapak.) ADA DUA.

Kol. 1:15, 16 = Kristus adalah gambar yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan; Kristus adalah anak yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Sebab melalui Dialah Allah menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, termasuk juga segala roh yang berkuasa dan yang memerintah. Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus. (Dengan demikian dia diperlihatkan sebagai makhluk ciptaan, bagian dari karya ciptaan Allah.)

Mrk. 13:32 = Meskipun begitu, tidak seorang pun tahu kapan harinya atau kapan jamnya. Malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja yang tahu. (Dan andai kata, seperti dikatakan beberapa orang, Putra tidak tahu karena dibatasi oleh sifat manusiawinya, masih timbul pertanyaan, mengapa Roh Kudus tidak tahu?)

Mat. 20:20-23 = Kemudian istri Zebedeus datang dengan anak-anaknya kepada Yesus. Di hadapan Yesus ia sujud untuk minta sesuatu.
21 ”Ibu mau apa?” tanya Yesus. Ibu itu menjawab, ”Saya ingin kedua anak saya ini duduk di kiri dan kanan Bapak apabila Bapak menjadi Raja nanti.”
22 ”Kalian tidak tahu apa yang kalian minta,” kata Yesus kepada mereka. ”Sanggupkah kalian minum dari piala penderitaan yang harus Aku minum?” ”Sanggup,” jawab mereka.
23 Yesus berkata, ”Memang kalian akan minum juga dari piala-Ku. Tetapi mengenai siapa yang akan duduk di kiri dan kanan-Ku, itu bukan Aku yang berhak menentukan. Tempat-tempat itu adalah untuk orang-orang yang sudah ditentukan oleh Bapa-Ku.”

(Betapa aneh, jika, seperti anggapan orang, Yesus adalah Allah! Apakah di sini Yesus hanya menjawab sesuai dengan ’sifat manusiawinya’? Andai kata, seperti dikatakan, Yesus benar-benar ”Manusia-Allah”—Allah dan juga manusia, bukan salah satu—apakah akan benar-benar konsisten untuk memberikan penjelasan demikian? Bukankah Matius 20:23 menunjukkan bahwa Putra tidak setara dengan Bapak, bahwa Bapak mengkhususkan beberapa hak istimewa hanya untuk diri-Nya?

Kesimpulan yang sederhana bukan?? Menggunakan ayat” dari Alkitab untuk menjawab dan tidak memerlukan istilah” yang rumit sehingga orang menjadi bingung dengan istilah” yang digunakan. bukankah Yesus juga jaman dahulu menggunakan bahasa” yang sederhana untuk mengajar??

Jawaban:

Shalom Senyum,

Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

1. Yohanes 17:3

Anda memberikan ayat Yoh 17:3 – yang memang sering dipakai oleh Saksi-saksi Yehuwa – untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan dan satu-satunya Tuhan adalah Allah Bapa. Saksi-saksi Yehuwa bukanlah yang pertama kali menggunakan ayat Yoh 17:3 untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, namun hanya sekedar utusan. Tujuh belas abad, ayat ini juga digunakan oleh Arius yang kemudian berkembang menjadi bidaah Arianisme.

Yohanes 17:3 menuliskan “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”  Dalam ayat ini, memang terlihat bahwa Bapa adalah satu-satunya Allah yang benar. Namun, di satu sisi, kita juga dapat melihatnya bahwa ayat ini ingin menekankan bahwa Allah itu satu dengan membandingkan allah-allah lain (interpretasi yang dikemukakan oleh St. Sirilius dan St. Krisostomus). Ayat ini juga untuk menekankan sebab dan akibat, yaitu ingin mengatakan bahwa sebab dari seseorang mendapatkan kehidupan kekal adalah dia harus mempunyai iman terhadap Allah Bapa dan Yesus Kristus. Bahwa Bapa satu-satunya Allah yang benar tidaklah menutup adanya Pribadi yang lain, yang mempunyai hakekat yang sama dengan Allah Bapa. Menjadi benar bahwa Allah Bapa adalah satu-satunya Allah, kalau tidak ada Pribadi yang lain yang setara. Kesetaraan ini dapat kita lihat pada ayat ini “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yoh 5:19) Bahwa di ayat ini dikatakan Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya memang benar, namun sama benarnya bahwa apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Dan lebih lanjut ditegaskan bahwa semua orang harus menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. (lih. Yoh 5:23) Kalau Yesus hanya sekedar ciptaan dan Bapa adalah Allah, maka bagaimana mungkin Kitab Suci yang sama mengatakan bahwa manusia harus menghormati ciptaan sama seperti manusia menghormati Pencipta? Bukankah ini menjadi berhala?

Kalau anda masih belum menerima hal ini dan tetap berpendapat bahwa dengan struktur kalimat seperti di atas hanya dapat diartikan bahwa Allah Bapa-lah satu-satunya Allah tanpa ada Pribadi yang lain, maka bagaimana anda menafsirkan ayat-ayat berikut ini dengan cara yang sama seperti anda menafsirkan Yohanes 17:3?

Luk 18:19 “Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.Apakah anda setuju bahwa Yesus adalah baik atau apakah anda setuju bahwa Yesus juga tidak baik karena Yesus bukan Allah menurut anda?

Yudas 1:4Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.Apakah dengan cara penafsiran yang sama, maka anda berpendapat bahwa sebenarnya satu-satunya Tuhan adalah Yesus Kristus, yang berarti tidak termasuk Allah Bapa? Bagaimana anda membandingkan ayat ini dengan Yoh 17:3?

Jadi, kembali ke Yoh 17:3, memang yang diutus dan yang mengutus adalah dua pribadi yang berbeda. Dan inilah yang dipercayai oleh Gereja Katolik, bahwa Allah Bapa dan Allah Putera serta Allah Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda namun mempunyai hakekat yang sama atau satu substansi dalam tiga pribadi. Bahwa yang mengutus adalah lebih besar dari yang diutus atau Allah Bapa – yang mengutus – adalah lebih besar dari yang diutus – Allah Putera – adalah benar dalam pengertian Allah Bapa lebih besar dari Allah Putera dalam kemanusiaan-Nya. Namun, Kitab Suci yang sama juga menunjukkan bahwa Allah Putera bukan hanya sekedar utusan, namun ditunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan. Untuk lengkapnya, silakan membaca artikel ini – silakan klik.

2. Mat 4:10

Dituliskan: “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!Memang Yesus tidak mengatakan bahwa diri-Nya sendiri yang harus disembah. Namun, jangan lupa juga bahwa Yesus tidak menolak ketika rasul Tomas mengatakan “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Menurut anda, mengapa Yesus menerima perkataan Tomas dan tidak mengkoreksi Tomas? Kalau Yesus bukan Tuhan, maka sungguh tidak layak dia menerima penghormatan dan pengakuan iman ke-Allahan-Nya dari rasul yang dipilihnya? Mengapa kaum Farisi mengatakan “Ia menghujat Allah.” (Mat 9:3)? Karena Yesus mengatakan di ayat sebelumnya “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” (Mat 9:2). Mengapa Yesus tidak menjelaskan kepada kaum Farisi bahwa Diri-Nya bukan Allah kalau memang Yesus bukan Allah? Kalau Yesus bukan Allah, mengapa Dia dapat mengampuni dosa?

3. Yoh 8:17-18

Tertulis: “17 Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah; 18  Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.” Saya terus terang tidak tahu pengertian anda tentang Trinitas, karena anda menyajikan ayat-ayat yang mendukung bahwa antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah dua pribadi yang berbeda. Dan ini yang memang sebenarnya dipercayai oleh Gereja Katolik, bahwa Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda, namun mempunyai substansi atau hakekat (substance) yang sama. Jadi, dalam ayat yang anda berikan ini tidak ada pertentangan apapun.

4. Kol 1:15-16

15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, 16  karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” (Kol 1:15-16) Dari ayat ini anda beranggapan bahwa Kristus hanyalah makhluk ciptaan Allah dan merupakan bagian dari karya ciptaan.

Ayat ini juga digunakan oleh Arianisme. Kita dapat menjelaskan bahwa ayat-ayat ini berbicara tentang kesetaraan Allah Putera dengan Allah Bapa, di mana Allah Putera merupakan gambar Allah (Bapa). St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa sesuatu disebut “gambar” adalah dalam dua cara. (lih. St. Thomas Aquinas, ST, I, q.35, a.2) Cara yang pertama adalah sesuatu menjadi “gambar” karena dia mempunyai kodrat yang sama, seperti gambar seorang raja ditemukan dalam diri anaknya. Cara yang kedua adalah, sesuatu menjadi “gambar” untuk menggambarkan ketidaksempurnaan, sama seperti manusia diciptakan menurut gambar Allah (lih. Kej 1:26), di mana manusia mempunyai karakter tertentu dari Allah, namun tidaklah sempurna. Inilah sebabnya dalam Kej 1:26 tidak digunakan kata “gambar” namun “menurut gambar”. Sedangkan kalau kita lihat, di ayat Kol 1:15 dikatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Dengan demikian, gambar di sini adalah dalam pengertian yang pertama, yang mempunyai kodrat yang sama dengan yang digambarkan. Hal ini juga didukung dengan apa yang dikatakan di dalam Kol 1:16, yang mengatakan bahwa segala sesuatu, baik yang di Sorga maupun yang di bumi, yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, baik singasana, kerajaan, pemerintahan diciptakan oleh (by), di dalam (in), untuk (for). Siapakah yang dapat melakukan ini kalau bukan Tuhan? Bagaimana anda mengartikan Kol 1:17 “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.“? Siapakah yang lebih dari segala sesuatu dan bagaimana menjelaskan bahwa segala sesuatu ada di dalam Dia?

5. Mrk 13:32

Tentang Mrk 13:32, anda dapat melihatnya dalam diskusi ini – silakan klik. Di ayat tersebut tidak disebutkan bahwa Roh Kudus tidak tahu. Kalau kita memberikan argumentasi bahwa Allah Putera tahu dari kodrat ke-Allahan-Nya, maka apakah yang menghalangi kita untuk mempercayai bahwa Roh Kudus, yang sungguh Allah atau pribadi ke-tiga dalam Trinitas juga tahu tentang hari dan saatnya? Alasan mengapa Roh Kudus tidak disebutkan di ayat tersebut, karena memang manifestasi Roh Kudus belum saatnya dinyatakan. Manifestasi Roh Kudus dinyatakan setelah pengorbanan Kristus telah selesai. Dan hal ini dinyatakan secara jelas, ketika Kristus sendiri memberikan amanat agung, yaitu “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Sungguh menjadi sesuatu yang tidak masuk akal, kalau baptisan diberikan dalam nama yang tidak sejajar. Kristus memerintahkan bahwa baptisan harus dilaksanakan dalam tiga nama, yaitu Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, karena memang ketiganya adalah tiga Pribadi yang berbeda namun mempunyai hakekat yang satu. Dan karena ketiga Pribadi ini adalah setara, satu hakekat, maka dapat disejajarkan. Menurut anda, apakah alasan Matius memberikan formula baptisan dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus? Apakah mungkin baptisan diberikan dalam Allah dan kemudian disandingkan dengna nama ciptaan?

6. Mat 20:20-23

Dikatakan “20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

Kembali ini juga ayat yang digunakan oleh Arianisme, yang mencoba untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah. Ayat tersebut tidak mempertentangkan bahwa apa yang dapat dilakukan Bapa tidak dapat dilakukan oleh Kristus – dalam ke-Allahan-Nya. Kita juga mengingat ayat yang lain “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mat 28:18). Mengapa segala kuasa telah diberikan kepada Yesus? Karena Kristus “6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Fil 2:6-8) Karena Kristus adalah sungguh Allah, maka Dia memberikan perintah di ayat berikutnya, yaitu untuk membaptis dalam nama Allah, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. (lih. Mat 28:29)

7. Kesimpulan dan pertanyaan-pertanyaan lain

Saya telah mencoba menjawab ayat-ayat yang anda gunakan, yang juga digunakan oleh Arianisme yang mencoba membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. Semua ayat-ayat yang anda berikan tentu saja benar dan saya mempercayainya. Namun, perbedaan di antara kita adalah cara menginterpretasikannya. Dengan demikian tidaklah semudah yang anda katakan “Kesimpulan yang sederhana bukan?? Menggunakan ayat” dari Alkitab untuk menjawab dan tidak memerlukan istilah” yang rumit sehingga orang menjadi bingung dengan istilah” yang digunakan. bukankah Yesus juga jaman dahulu menggunakan bahasa” yang sederhana untuk mengajar??” Di Kitab Suci yang sama, juga dikatakan “Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2Pet 3:16)

Terlalu menyederhanakan ayat-ayat tersebut tanpa memperhatikan ayat-ayat yang lain dapat menghasilkan interpretasi yang salah dan menyimpang. Ayat-ayat yang anda berikan sering digunakan oleh Arius dan juga diikuti oleh Saksi-Saksi Yehuwa untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ayat-ayat yang anda berikan memang dapat menunjukkan bahwa Yesus mempunyai kodrat manusia. Dalam beberapa ayat yang anda berikan memang terlihat bahwa Allah Bapa seolah-olah lebih tinggi dari Yesus. Hal ini disebabkan karena Kristus “6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Phil 2:6-7) Fakta bahwa Yesus masuk dalam sejarah manusia dan mengambil rupa manusia, sama seperti manusia kecuali dalam hal dosa, telah membuktikan bahwa Kristus adalah sungguh manusia. Dan Yesus yang sungguh manusia ini juga diakui oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak berhenti pada ayat-ayat yang anda berikan, namun, juga melihat ayat-ayat yang lain, yang juga menunjukkan ke-Allahan Kristus, seperti yang dapat kita lihat sebagai berikut:

a) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.

b) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).

c) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi, sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.

d) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.

e) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.

f) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).

g) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.

h) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).

i) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.

j) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):

Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.

Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.

Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).

Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.

Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.

Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”

Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)

Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)

k) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.

l) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.

m) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).

n) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

Jadi, saya mengundang anda untuk memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan yang saya beri warna (merah) dan silakan memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat di atas di point 7 (kesimpulan). Saya hanya berharap bahwa anda juga dapat melihat bahwa di samping ayat-ayat yang membuktikan kemanusiaan Yesus, ada juga ayat-ayat di dalam Alkitab yang membuktikan ke-Allahan Yesus. Kita seharusnya mengambil semua ayat-ayat tersebut sebagai satu paket, sehingga kita dapat mempercayai Kristus yang sungguh manusia dan sungguh Allah. Dan satu hal yang harus direnungkan, kalau anda memang anggota saksi-saksi Yehuwa, apakah anda mempercayai semua yang diajarkan oleh Saksi Yehuwa? Silakan membaca artikel tentang Saksi Yehuwa di atas – silakan klik dan kalau anda tidak setuju akan artikel yang saya berikan, silakan memberikan argumentasi. Saya juga pernah memberikan tulisan yang menyanggah apa yang ditulis oleh traktat dari Saksi Yehuwa tentang Trinitas di sini – silakan klik. Kembali, saya mengundang anda untuk membaca dua link tersebut dan kemudian anda dapat memberikan tanggapan. Semoga diskusi ini dapat berguna bagi kita dan pembaca katolisitas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Tuhan tak henti-hentinya menyentuh hidupku dengan rahmat-Nya.

17

Pengantar dari editor: Kisah yang menyentuh di bawah ini adalah pengalaman bagian kedua dari kisah pelayanan pastoral rumah sakit oleh Romo Andi Suparman, MI, setelah kisah pelayanannya yang pertama yang berjudul “Kebahagiaanmu adalah Kekuatanku”. Dalam kisahnya yang kedua ini, Romo Andi mengajak kita semua, untuk memberikan perhatian kasih bagi para imam, khususnya para imam yang sakit dan berusia lanjut. Dalam keadaan sakit atau purna tugas, seringkali para imam berjuang seorang diri dalam penderitaannya, setelah pelayanan dan pengorbanan yang dipersembahkannya seumur hidupnya bagi kepentingan umat Tuhan di berbagai tempat dan bidang pelayanan. Semoga kisah indah dari Romo Andi ini menggerakkan hati kita untuk memberikan perhatian cinta dan doa yang tulus di setiap kesempatan yang kita miliki, bagi para imam yang telah melayani kita, khususnya di saat mereka sakit atau dalam usia lanjut setelah purna tugasnya. Terima kasih Romo Andi, Tuhan memberkati selalu pelayanan Romo Andi dan rekan-rekan bagi sesama yang menderita.

Hendaklah bertakwa dengan segenap jiwamu, dan junjunglah tinggi para imam Tuhan. Kasihilah Penciptamu dengan segala kekuatanmu, dan para pelayanNya jangan kauabaikan. Takutilah Tuhan dan hormatilah para imam, dan bayarlah bagian mereka seperti yang menjadi kewajibanmu: buah bungaran, korban penebus salah dan bahu binatang korban, korban pengudus serta bagian pertama dari barang kudus. (Sirakh 7 : 29-31)

Hari ini, salah satu pasien yang kulayani adalah imam Tuhan yang jatuh sakit berat. Ketika aku melalui lorong kamar ICU di mana aku dipanggil untuk memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, aku dikejutkan dengan pemberitahuan suster, bahwa ada juga seorang imam yang dirawat di ICU ruangan khusus.  Setelah memberikan pelayanan sakramen kepada pasien untuk menerimakan Sakramen Orang Sakit, aku menyempatkan diriku untuk mengunjungi imam yang sakit itu.

Dia terbaring  sakit karena gangguan jantung dan beberapa organ tubuh lainnya. Badannya semakin kurus, suaranya lembut, dan di matanya tersirat sebuah harapan akan disembuhkan dari penderitaan dan dilepaskan dari salib yang sedang dipikulnya. Dia hanya berbaring lesu di tempat tidurnya, menyerahkan semuanya pada para suster dan dokter dan siapa saja yang menolongnya. Hatiku tersentak menyaksikan kondisinya yang menyedihkan ini.

Dia hanya dikelilingi beberapa anggota keluarga dan umat yang sempat menemaninya di rumah sakit. Keluarganya yang lain berada jauh di kampung halamannya. Umat yang pernah dilayaninya juga berada jauh dari hadapannya. Ada yang jauh di luar negeri, di tanah misi di mana dia telah mengabdi selama 5 tahun hidup imamatnya.  Ada yang di dalam negeri, di pulau Flores, di paroki yang jauh, di institusi yang jauh, di mana dia telah melayani dalam enam tahun terakhir sebelum dia jatuh sakit. Mungkin ada yang mengetahui keadaannya dan mendoakan dia dari jauh di tengah kesibukan mereka; tetapi tentunya lebih banyak yang tidak tahu, kalau sang pastor mereka, yang pernah memberikan waktu, tenaga, keahlian, kasih, dan bahkan mungkin hidupnya bagi mereka, sedang berbaring sakit di rumah sakit.

Tak banyak kata yang diucapkan, selain sapaan, “Selamat datang, Pater” ketika aku memperkenalkan siapa diriku. Dipegangnya tanganku erat-erat dengan menggunakan sedikit tenaga yang dimilikinya. Dipegangnya tanganku semakin panjang, sambil mata kami bertatapan tanpa kata. Seolah-olah kami pernah bertemu lama dan menjadi sahabat karib. Padahal kami baru bertemu pada saat  itu untuk pertama kalinya. Tetapi itulah kehidupan seorang imam Tuhan. Tak banyak yang tahu liku-liku kehidupan pribadi imam. Namun dengan sesama imam, hidup kami tak jauh  berbeda, dan tentunya sudah saling memahami dan mengerti bagaimana liku-liku kehidupan kami secara umum. Ada perasaan ikatan yang mendalam di antara kami, walaupun bukan karena kami pernah bertemu sebelumnya atau sudah saling mengenal dan menjadi sahabat karib, tetapi hanya karena kehidupan panggilan imamat yang kami miliki dan lalui bersama, walaupun di tempat dan waktu yang berbeda.

Aku merasakan, betapa besar kebahagiaannya ketika kami bertemu. Dipegangnya tanganku erat dan aku pun membalasnya demikian. Kuberikan senyumku yang ikhlas dan dia pun tersenyum lebar, seakan mengatakan, “Aku merasa bahagia, karena kamu datang, Saudaraku.” Sepertinya bukan sekedar jabatan tangan dan pertukaran senyuman yang terjadi di sana, tetapi ada aliran kasih yang lewat dari hati kami masing-masing dan bertemu menjadi satu. Itulah kira-kira sumber kekuatan yang dia terima. Di kala banyak hati dan kehidupan yang telah disentuhnya sebagai imam berada jauh dari padanya, sang imam ini dihibur dengan kehadiran saudara imamnya dalam panggilan. Ya, kami adalah saudara terhadap satu sama lain. Walaupun kami datang dari keluarga dan tempat yang berbeda, dan juga dari kongregasi yang berbeda dan menghayati spiritualitas yang berbeda, tetapi kami tetap satu dalam pelayanan kasih Tuhan di ladang-Nya yang luas dan tak terbatas.

Dengan tenaga tersisa, dia memperkenalkan dirinya dan juga tempat misi yang pernah dilayaninya. “Saya Pater Lorens, mantan misionaris di Rusia selama lima tahun.” Aku tak sadar mengangguk, merasa kagum dengan perjalanan misi imam saudaraku ini. Ada sebuah kebahagiaan dan kepuasan yang tersirat di wajahnya, serasa mau berkata, “Terima kasih Tuhan, aku telah Kau panggil dan pilih, dan Kau utus untuk melayani umat-Mu di tanah misi dan memberikan kesaksian tentang cinta-Mu kepada semua saja yang telah kulayani. Tak ada kekecewaan yang kualami, tapi hanyalah ucapan syukur dan terima kasih, karena telah Kau percayakan hamba-Mu yang hina ini untuk menjadi alat dan tanda bagi kehadiran-Mu di tengah umat-Mu. Aku telah memberikan apa yang kumiliki dan kuterima daripada-Mu.” Dan aku pun merasa bangga dengan semangat misionernya itu. Akupun hanya mampu mengatakan , “Saya Pater Andi, pelayan pastoral healthcare di rumah sakit ini.” Aku merasa kecil di hadapan saudara imamku ini yang telah bekerja dan melayani sebagai  imam Tuhan selama 11 tahun. Aku hanyalah seorang imam muda, yang masih bayi dalam pengalaman dan juga tidak ada apa-apanya ketimbang dia. Lalu ia berkata, “Terima kasih, Pater, telah mengunjungiku. Aku merasa senang, Pater datang menjengukku. Semoga sukses dalam pelayanan Pater.” Hatiku tersentak. Ada sebuah kehangatan kasih yang menyelimuti hatiku, tetapi aku bukanlah siapa-siapa. Aku pun tidak memberikan suatu yang istimewa kepada saudara imamku yang sakit ini, selain kehadiranku dan salamku dari lubuk hati yang dalam.

Lama aku duduk di samping tempat tidurnya. Dia berusaha berbicara sedikit demi sedikit. Aku merasa ada semangat yang timbul dari dirinya untuk hidup dan kemauan keras untuk sembuh kembali dan melanjutkan misi pelayanan terhadap umat. Seolah-olah penderitaan sakit tidak melumpuhkan semangatnya, dia tetap tegar. Dan aku pun setia mendampinginya, mendengarkan kata-katanya, serta memberikan dukungan, apresiasi, dan pengertian terhadap perkataannya.

Kemudian, tiba-tiba dia memintaku untuk mendoakannya, ” Pater, tolong doakan untuk aku sekarang juga.” Hatiku tersentuh mendengar permintaannya itu. Aku kembali bertanya dalam hatiku, “Siapakah aku ini sampai imam seniorku ini meminta doaku?” Lalu aku menyadari bahwa aku adalah imam Tuhan, yang diutus Tuhan ke hadapan saudara imamku yang sakit ini. Firman Tuhan dalam  Yak 5 : 15 menguatkan aku, “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.”  Lalu kuajak dia berdoa bersamaku, memohon kesembuhan baginya kepada Tuhan, sambil menumpangkan tanganku ke atasnya. Aku berdoa dengan penuh ketekunan, dan aku menyaksikan dan merasakan keseriusan dan ketekunannya, berdoa mohon pertolongan Allah kepadanya.  Aku merasakan, Tuhan sungguh-sungguh hadir di tengah kami. Sungguh benarlah sabda Tuhan dalam Mat 11 : 28, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Juga janji Tuhan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai akhir zaman” (Mat 28 : 20b). Inilah pesan istimewa yang diberikan Tuhan kepada kaum pilihan-Nya, dan pada hari ini Dia menyatakan dan membuat hal itu nyata dalam pengalaman kami berdua.

Air mataku menetes ketika dia mengucapkan “Terima kasih Pater, atas doanya, dan juga kunjungannya. Semoga Tuhan selalu memberkati Pater dan semoga selalu sukses dalam pelayanan.” Aku merasakan bahwa dia telah mengajarkan suatu hal yang luar biasa kepadaku di tengah penderitaannya, yaitu ketabahan dan penyerahan diri kepada Tuhan di tengah penderitaan, dalam doa-doa kepada-Nya. Dia  menunjukkan bahwa kita menyadari kebergantungan kita kepada Tuhan, dan tanpa DIA, seorang  imam tidak bisa selamat dari penderitaannya. Sebab Tuhan telah memanggil dan memilih, dan tentunya Dia tidak akan meninggalkan kaum pilihannya, asalkan kita tidak meninggalkan Dia. Inilah kehidupan imam Tuhan. Ketika dia telah memberikan seluruh hidupnya kepada Tuhan dengan melayani umat-Nya, mungkin hanya sedikit yang peduli dan mengetahui bagaimanakah kabar hidup selanjutnya dari imam ini. Di kala penderitaan menimpa dia, mungkin hanya sedikit yang tahu dan ingat akan dia serta semua pengorbanannya bagi orang lain, tetapi Tuhan pasti tidak akan meninggalkan dia, sebab kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya. Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (Mzm 107:1)

Pengalaman ini merupakan pengalaman berahmat bagiku. Di tengah kesibukan dan berbagai tantangan yang harus kulalui, Dia mengagetkan aku dengan berbagai rahmat melalui pengalaman-pengalaman iman yang sederhana. Dalam kesederhanaan pengalaman itu, Tuhan hadir menyentuh hati dan hidupku. Bahwasanya pekerjaan Tuhan adalah baik semuanya dan pada waktu tepat memenuhi setiap keperluan. (Sir 39:33)

Marilah kita senantiasa mengingat para imam di dalam doa-doa kita kepada Tuhan. Amin.
Romo Andi Suparman, MI

Mari kita bersatu dalam doa mempersembahkan doa kepada Bapa bagi para imam, khususnya para imam yang sedang dalam penderitaan sakit, usia lanjut, atau kesepian dalam purna tugas mereka:

Allah Bapa yang Maha Memelihara, kami berlutut di hadapanMu, hendak mengucap syukur atas karunia para imam di dunia ini, yang telah Engkau persiapkan dengan indah sejak semula, Engkau urapi dan lengkapi dengan curahan karunia cinta-Mu, untuk melayani dan memberikan hidup mereka bagi kami dan pekerjaan-pekerjaan di kebun anggur-Mu. Ampunilah kami, bila kami sering melupakan untuk merawati mereka, dengan segala doa dan upaya yang baik. Ampuni kami, bila kami sering melewatkan kesempatan untuk menyatakan syukur dan terima kasih kami atas pelayanan dan pengorbanan mereka yang selalu mendampingi kami dalam perjalanan iman kami kepadaMu. Mohon gerakkan hati kami, untuk sungguh menjadi sahabat yang mendukung para imam dalam suka duka mereka, khususnya dalam doa dan amal kasih kami. Secara khusus, kami hendak memohon berkat perlindungan, kekuatan iman, penghiburan, dan kesembuhan, bagi para imam yang sedang menderita sakit, juga bagi para imam yang sudah lanjut usia dan kadang merasa kesepian dalam masa-masa purna tugas mereka. Bantulah kami agar sungguh mau menyediakan diri hadir bagi mereka, memberikan kasih, doa, dan dukungan kami, hingga mereka boleh tetap berbesar hati dan mengalami karunia-Mu yang sempurna dari awal hingga akhir kehidupan ini. Dalam nama Yesus Kristus, Putra-Mu, Imam Agung-Mu yang kudus dan Tuhan kami.  Amin.

Dilema pemimpin negara soal RH bill

9

Pertanyaan:

Salam ibu, saya mau menyambung pertanyaan yang berkenaan dengan moral, saya membaca di berita, para uskup di Filipina menolak RH bill. Sebagai seorang Katolik, posisi presiden sangat dilematis, di satu sisi dia seorang Katolik yang dalam ajaran Katolik harus pro life, tetapi di sisi lain, dia seorang negarawan yang juga harus memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Tidak jarang, kita juga dalam posisi-posisi dilematis antara ajaran moral dengan realitas kehidupan. Mohon pencerahannya, terima kasih.

-feliz-

Jawaban:

Jawaban dari Caecilia Triastuti:

Shalom Feliz,

Terima kasih atas pertanyaannya. Dilema antara ajaran moral yang berhadapan dengan realitas hidup memang berat, dan cukup sering kita lihat dan alami sendiri dalam kehidupan sehari-hari, walau dalam bentuk dan intensitas yang berbeda-beda. RH Bill (Reproductive Health Bill, atau undang-undang kesehatan reproduksi) memang menjadi perdebatan serius di Filipina. Sebenarnya, dalam terang iman dan kejujuran hati, kita dapat melihat bahwa justru  dilema antara moral dan kenyataan hidup  merupakan kesempatan kita untuk menyatakan iman, kasih, dan kesetiaan manusia kepada Tuhan, karena kita mencintai jalan-jalan-Nya dan mempercayai sepenuhnya penyelenggaraan-Nya dalam hidup ini. Betapapun sulitnya itu di mata manusiawi kita. Gereja Katolik sepanjang jaman dengan jelas dan konsisten menyatakan keberpihakannya kepada kehidupan, dari sejak konsepsi hingga kematiannya secara alami. Kehidupan adalah otoritas Allah sepenuhnya dan merupakan anugerah Allah dalam menyelenggarakan alam semesta ini, di mana manusia yang diciptakan secitra denganNya, diberiNya mandat untuk menjadi mitra-Nya dalam mengelola alam ciptaan.

KGK 2270 Kehidupan manusia harus dihormati dan dilindungi secara absolut sejak saat pembuahannya. Sudah sejak saat pertama keberadaannya, satu makhluk manusia harus dihargai karena ia mempunyai hak-hak pribadi, di antaranya hak atas kehidupan dari mahkluk yang tidak bersalah yang tidak dapat diganggu gugat.

KGK 2271 Sejak abad pertama Gereja telah menyatakan abortus sebagai kejahatan moral. Ajaran itu belum berubah dan tidak akan berubah. Abortus langsung, artinya abortus yang dikehendaki baik sebagai tujuan maupun sebagai saran, merupakan pelanggaran berat melawan hukum moral.

“Allah, Tuhan kehidupan, telah mempercayakan pelayanan mulia melestarikan hidup kepada manusia, untuk dijalankan dengan cara yang layak baginya. Maka kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat. Pengguguran dan pembunuhan anak merupakan tindakan kejahatan yang durhaka (Gaudium et Spes 51,3)

Hukum-hukum Ilahi tidak mungkin menyalahi kelangsungan penyelenggaraan hidup yang dirancangNya mulia sejak awal. Melanggar hukum-hukum-Nya dengan kesadaran penuh dan kesengajaan adalah penyangkalan yang mendasar terhadap kemampuan Allah memegang kendali atas hidup ini dengan segala tantangan dan suka dukanya. Maka dihadapkan kepada dilema antara mematuhi ajaran moral Gereja dan realitas hidup yang nyata, sikap hati kita sebagai orang beriman seharusnya senantiasa diarahkan pertama-tama kepada keputusan untuk tetap mengikuti kehendak Allah. Jika kita menilai dengan jujur, realitas kehidupan yang mengikuti itu sebenarnya seringkali terjadi akibat ulah manusia sendiri, yang seringkali gegabah dalam menggunakan kehendak bebas yang diperolehnya sebagai karunia Allah. Penyelesaiannya bukan dengan cara mengingkari ajaran moral, tetapi dengan menelusuri akar dari permasalahan yang terjadi dan mengatasinya secara menyeluruh dengan segala upaya yang mungkin. Beriman kepada Allah adalah berarti memilih untuk mengedepankan hidup dan kehendak Allah, walaupun seringkali pilihan itu merupakan pilihan yang sulit dan memerlukan perjuangan. Namun perjuangan hidup adalah partisipasi kita dalam penderitaan salib Kristus yang membawa keselamatan kepada dunia.

Misalnya, dihadapkan pada realita hidup berupa ledakan jumlah penduduk yang mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran, seharusnya para pemimpin negara menyadari bahwa penyelesaiannya bukan dengan membatasi kelahiran dengan segala cara, yang mudah dan murah tetapi melanggar ajaran moral serta memicu terjadinya pelanggaran moral yang lebih serius lagi dalam berbagai bidang kehidupan. Penyebab kemiskinan akibat ledakan penduduk seringkali adalah sistem pemerintahan yang korup, dan pengelolaan ekonomi yang kurang berpihak pada rakyat, sehingga pengangguran meluas. Solusi yang dilakukan seharusnya lebih dari sekedar solusi sesaat yang cepat dan praktis tetapi tidak menyentuh persoalan dasarnya. Melainkan dengan pembenahan mendasar di berbagai sektor, yang tentu saja merupakan perjuangan yang penuh pengorbanan. Tetapi itu adalah pilihan yang membawa kepada perbaikan yang lebih permanen tanpa harus mengorbankan nilai moral yang berkaitan dengan pembatasan kelahiran dan aborsi. Manusia selalu punya pilihan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Dan Gereja tidak diam saja melihat semua beban yang ada dalam masyarakat. Gereja banyak terjun dalam masalah-masalah real untuk membantu memberikan solusi secara nyata.  Kita sebagai anggota Gereja juga dipanggil untuk turut menjadi pelaku-pelaku pemberi solusi dengan tindakan kasih yang nyata.

Belum lagi kalau penerapan undang-undang yang mengijinkan aborsi dan KB non-alamiah itu misalnya ternyata dilatarbelakangi desakan para pemilik modal raksasa, yang mendapat keuntungan raksasa pula dari maraknya industri alat-alat KB atau pendirian klinik-klinik aborsi. Keputusan mengikuti Allah sering sekali bukan merupakan keputusan populer di dalam dunia, yang memang adalah suatu tempat tinggal yang asing bagi pengikut-pengikut sejati dari Kerajaan Surga. Tetapi saat kita mengikuti Allah, sesungguhnya kita adalah orang yang lepas bebas, memiliki kebebasan yang sejati yang dunia ini tidak dapat memberi, kebebasan yang dialami baik sekarang saat sedang dalam dunia, maupun nanti ketika kita sudah berada dalam kekekalan.

Tambahan jawaban dari Ingrid Listiati:

Shalom Feliz,

Ijinkan saya menambahkan jawaban Triastuti, dengan menyampaikan kutipan surat ensiklik Paus Benediktus XVI, Caritas in Veritate (Kasih dan kebenaran), yang sekilas juga membahas tentang permasalahan yang anda tanyakan. Untuk membaca keseluruhan surat ensiklik tersebut, silakan klik di sini:

“28. Salah satu yang aspek yang paling menonjol dari perkembangan pada saat ini adalah persoalan penting tentang penghormatan terhadap kehidupan, yang tidak dapat dilepaskan sama sekali dari persoalan tentang perkembangan bangsa-bangsa. Hal ini adalah sebuah aspek yang telah memperoleh keutamaan secara meningkat belakangan ini, yang mengharuskan kita untuk memperluas konsep kita tentang kemiskinan [66] dan kurangnya perkembangan, untuk melibatkan persoalan-persoalan yang terkait dengan penerimaan kehidupan, terutama di dalam kasus-kasus di mana kehidupan dihalangi dengan berbagai cara.

Tak hanya keadaan kemiskinan yang masih mempengaruhi tingkat kematian bayi di banyak kawasan, tetapi beberapa bagian dunia masih mengalami praktek-praktek untuk mengendalikan kependudukan, di pihak pemerintah-pemerintah yang sering mendorong kontrasepsi dan bahkan sampai sejauh menentukan aborsi. Di negara-negara yang telah berkembang secara ekonomi, peraturan yang bertentangan dengan kehidupan sangat tersebar luas, dan hal itu telah membentuk sikap-sikap moral dan praktek, yang menyumbangkan penyebaran mental anti-kelahiran; seringkali usaha-usaha dibuat untuk meng-ekspor mentalitas ini ke Negara-negara lain seperti seolah-olah hal itu adalah sebuah bentuk kemajuan budaya.

Beberapa Organisasi non-pemerintah bekerja aktif untuk menyebarkan aborsi, seringnya mendukung praktek- praktek sterilisasi di negara-negara miskin, di beberapa kasus bahkan tidak memberitahukan para wanita yang terlibat. Lagipula, terdapat alasan untuk menduga bahwa bantuan perkembangan seringkali dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan khusus pemeliharaan kesehatan (health- care) yang secara de facto melibatkan penekanan pengukuran pengontrolan kelahiran dengan kuatnya. Hal-hal selanjutnya yang memprihatinkan adalah hukum-hukum yang memperbolehkan euthanasia, dan juga tekanan dari kelompok-kelompok lobby, secara nasional maupun internasional, yang condong kepada pengakuan euthanasia secara yuridis.

Keterbukaan terhadap kehidupan terletak di pusat perkembangan sejati. Ketika masyarakat bergerak menuju penolakan atau penekanan terhadap kehidupan, ia akan berakhir dengan tidak lagi menemukan motivasi dan energi yang diperlukan untuk mengusahakan kebaikan sejati bagi manusia. Jika sensitivitas pribadi dan sosial menuju penerimaan sebuah kehidupan hilang, maka bentuk-bentuk lainnya tentang penerimaan yang berharga bagi masyarakat juga layu. [67] Penerimaan terhadap kehidupan memperkuat jaringan moral dan membuat orang-orang dapat saling membantu. Dengan mengusahakan keterbukaan terhadap kehidupan, bangsa-bangsa yang kaya dapat memahami kebutuhan bangsa-bangsa yang miskin dengan lebih baik, mereka dapat menghindari penggunaan sumber-sumber daya intelektual dan ekonomi secara besar-besaran untuk memuaskan keinginan-keinginan yang egois dari para warga mereka sendiri, dan sebaliknya mereka dapat memajukan kegiatan-kegiatan kebajikan dalam perspektif produksi yang baik secara moral dan ditandai dengan solidaritas, yang menghormati hak fundamental untuk hidup dari setiap bangsa dan setiap pribadi.” (Paus Benediktus XVI, Caritas in Veritate (Kasih dan kebenaran), 28)

Sesungguhnya melalui surat ensiklik tersebut, Paus Benediktus XVI hendak menghimbau para pemimpin negara untuk berpikir lebih luas daripada sekedar mencari solusi yang kelihatannya mudah, namun sesungguhnya tidak menyelesaikan masalah. Reproductive Heath bill tidak menjadi solusi problema kependudukan, karena kebijakan untuk menolak kehidupan (seperti yang umumnya menjadi akibat penerapan RH bill), sesungguhnya akan menimbulkan masalah lain yang tak kalah besar dan pelik dalam masyarakat, di mana akhirnya masyarakat akan kehilangan motivasi dan energi yang diperlukan untuk mengusahakan kebaikan sejati bagi masyarakat itu sendiri. Efek jangka pendek yang dapat langsung terlihat adalah penurunan moral generasi muda, dan kurangnya penghargaan terhadap nilai- nilai luhur perkawinan dan keluarga. Dan jika keluarga sebagai kelompok inti dari masyarakat sudah lemah fondasinya, maka tak mengherankan jika keseluruhan masyarakat juga akan menerima akibat negatifnya. Demikian pula efek jangka panjang juga perlu diperhitungkan, seperti yang terjadi di negara- negara Eropa sekarang ini, yang dengan mendukung kontrasepsi dan aborsi (sejak tahun 60/70-an), kini sudah terlanjur mempunyai angka kelahiran yang sangat minim, yang mengakibatkan pertumbuhan jumlah penduduk negatif, sehingga kontribusi dari golongan usia produktif sudah nyaris tidak dapat lagi mendukung golongan usia lanjut. Di sini terlihat bahwa solusi kontrasepsi dan aborsi sebenarnya mewariskan problema yang tidak sederhana, bagi generasi bangsa selanjutnya. Melihat fakta-fakta ini, maka selayaknya kita sebagai umat Katolik tidak ikut latah berpikir bahwa menjadi ‘pro-life‘ artinya tidak memikirkan kesejahteraan rakyat. Justru sebaliknya, jika kita memihak kehidupan, maka kita semakin terdorong untuk memperjuangkan kesejahteraan dan masa depan yang baik, demi kasih kita kepada anak- anak kita. Dan sebagai kesatuan umat manusia, kita dipanggil untuk saling membantu untuk mencapai tujuan ini, untuk bersama mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Agaknya para pemimpin negara perlu mempertimbangkan masukan dari Paus Benediktus XVI dalam Caritas in Veritate ini, untuk mengusahakan pertumbuhan masyarakat yang lebih menyeluruh demi kebaikan semua bangsa di setiap generasi.

Demikianlah tanggapan kami atas pertanyaan anda, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Caecilia Triastuti dan Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab