Home Blog Page 20

“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja!”

0
Sumber gambar: http://www.rcchicago.com/archives/773

[Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam: 2Sam 5:1-3; Mzm 122:1-5;  Kol 1:12-20; Luk 23:35-43]

Hari ini Gereja merayakan Hari  Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Apa yang muncul di pikiran kalau kita mendengar kata “Raja”? Mungkin tampil di benak kita, seseorang yang berpakaian keemasan, bermahkota, memegang tongkat dan duduk di tahta. Beginikah gambaran Tuhan Yesus di Surga? Hhmm… Kita dapat mengetahuinya dengan lebih jelas kelak, jika kita telah memandangNya dalam Kerajaan-Nya. Kitab Wahyu memaparkan tentang kemuliaan Tuhan yang demikian tak terbayangkan (lih. Why 4), karena memang tak pernah kita lihat contohnya pada kerajaan manapun di dunia ini. Sebab kemuliaan raja di dunia yang tertinggi sekalipun tidak akan dapat dibandingkan dengan kemuliaan Tuhan di Surga. Sabda Tuhan menyatakan bahwa Kristus “satu-satu nya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri…” (1Tim 6:16). Kemuliaan Tuhan inilah yang secara sekilas diperlihatkan kepada para Rasul ketika Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (Mat 17:1-2). Peristiwa ini memberi pengharapan kuat kepada para murid untuk tetap setia beriman sampai akhir (1Ptr 1:16-18), sebab mereka menantikan penggenapan akan janji Tuhan ini. Seberapapun besar kesusahan, penderitaan, bahkan penganiayaan yang kita alami di dunia tidak akan sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima, jika kita tetap setia kepada Kristus. Sebab Kristus telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, segala kejahatan dan bahkan si jahat itu sendiri, dan di akhir zaman kemuliaan-Nya akan dinyatakan dengan sempurna.

Allah menghendaki agar kita mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya itu. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk bersyukur kepada-Nya, sebab Ia membuat kita “layak mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam Kerajaan Terang” (Kol 1:12). Sebab oleh jasa Kristus yang telah menebus dosa-dosa kita di kayu salib, kita telah dipindahkan dari kuasa kegelapan menuju kerajaan-Nya. Namun karunia istimewa ini yang kita terima saat Baptisan, harus kita jaga terus. Kita perlu berjuang untuk hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak-anak Allah. Rasul Petrus mengingatkan, “Ia [Tuhan] telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang…. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2Ptr 1:4-11).

Maka syarat agar kita dapat mengambil bagian dalam kemuliaan Tuhan Yesus adalah kita hidup sesuai dengan ajaran iman kita, yang diwujudkan dengan kasih. Yesus telah menunjukkan kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita, dengan kerelaan-Nya wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Kita pun dapat belajar dari penjahat yang bertobat, yang disalibkan di sisi Yesus. Walaupun hanya sedikit yang tertulis tentangnya, kita mendengar dari Bacaan Injil hari ini, bahwa penjahat itu bertobat sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Juga, ia secara tidak langsung menganjurkan kepada sesama rekan penjahat yang juga disalibkan itu agar bertobat. Mengingat bahwa orang yang disalib mengalami kesakitan yang sangat luar biasa saat bernafas, apalagi berbicara, tentunya kita perlu menghargai apa yang dilakukan orang ini. Mengajak orang lain untuk merenungkan kesalahannya dan bertobat adalah salah satu bentuk kasih yang tertinggi. Sebab pertobatan adalah awal suatu perjalanan iman yang mengarahkan seseorang kepada keselamatan kekal. Tak ada bentuk kasih yang lebih tinggi kepada sesama, selain daripada menginginkan mereka untuk dapat sampai pada keselamatan kekal.

Di akhir tahun liturgi dan di Hari Raya Kristus Raja ini, mari kita menilik ke dalam hati kita, sejauh mana kita setia dalam iman kita dan sejauh mana kita mewujudkannya dengan kasih. Sebab berbeda dari para raja di dunia, Kristus menunjukkan “kemuliaan-Nya” justru dalam pelayanan-Nya, kemiskinan-Nya dan pengorbanan-Nya, demi kasih-Nya kepada kita umat manusia, termasuk Anda dan saya. Sudahkah kita mengikuti teladan Yesus Sang Raja kita ini? Sudahkah kita mau hidup sederhana, mau melayani dan rela berkorban demi kasih kepada sesama? Sebab jika kita berbuat demikian, kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai Raja di hati kita, dan kemuliaan-Nya pun telah dapat kita alami sejak di dunia ini. St. Ambrosius mengatakan, “Tuhan selalu memberi lebih banyak daripada yang kita minta. Penjahat itu hanya meminta supaya Yesus mengingatnya, tetapi Yesus berkata, ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ Intisari kehidupan adalah hidup dengan Yesus Kristus. Dan di mana Kristus berada, di sana Kerajaan-Nya ditemukan” (St. Ambrose, Commentary on St. Luke’s Gospel, in loc.). Marilah kita pun mendoakan perkataan yang sama ini dengan tulus, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Dan semoga Tuhan Yesus menjawabnya seturut kemurahan hati-Nya.

Tetap bertahan sampai akhir

0
Sumber gambar: http://szezeng.blogspot.co.id/2014/12/hell-is-valley-of-hinnom-so-jesus-is.html

[Hari Minggu Biasa XXXIII: Mal 4:1-2; Mzm 98:5-9;  2Tes 3:7-12; Luk 21:5-19]

Keadaan dunia akhir-akhir ini mungkin dapat membuat kita sejenak menarik nafas panjang. Keruwetan tak hanya terjadi di negara kita, tetapi juga di negara-negara lain. Sepertinya silih berganti, berita tentang konflik, kekerasan, kejahatan. Konon demi kebaikan, orang membunuh atau membuat rusuh. Orang zaman ini tak enggan membuat teori sendiri tentang spiritualitas yang ujung-ujungnya menempatkan manusia sebagai ‘Tuhan’ bagi dirinya sendiri. Mengacu kepada energi dan cakra yang digabungkan dengan doa-doa dalam nama Yesus, orang memperkenalkan ‘Akulah Dia [Tuhan]’ (Luk 21:8) dengan cara-cara baru yang asing dan tidak dikenal dalam tradisi Gereja. Belum lagi kalau kita bicara tentang kemerosotan moral. Apa yang dulu dianggap tabu, di zaman ini dianggap ‘biasa’. Film-film menampilkan lakon utama yang selingkuh, seolah mau menggiring opini publik bahwa selingkuh  dalam kondisi tertentu OK saja. Perselisihan ataupun perselingkuhan dianggap alasan yang sah untuk perceraian. Sejumlah orang mendorong pihak-pihak tertentu agar menyetujui perkawinan sesama jenis. Aborsi dianggap sebagai jalan keluar, jika dipandang sang ibu atau ayahnya belum siap jadi orangtua. Penggunaan alat kontrasepsi dianggap wajar, supaya penggunanya terlepas dari konsekuensi akan kemungkinan adanya kehidupan baru…. dan seterusnya. Di negara-negara tertentu, isu-isu ini bahkan sudah menjadi isu yang cukup menyudutkan Gereja Katolik, yang karena teguh berpegang kepada prinsip ajaran Kristus dan para rasul, dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun kalau kita membaca firman Tuhan hari ini, kita mengetahui bahwa Kristuslah yang telah menubuatkan semua kekacauan itu yang akan terjadi sebelum Ia datang kembali di akhir zaman. Tetapi, “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). Sebab terang memang akan nampak makin bersinar di tengah kegelapan. Kekacauan itu diizinkan ada oleh Tuhan, untuk menguji iman kita. Nabi Maleakhi sekitar 400 tahun sebelum Kristus bernubuat tentang orang-orang yang taat pada Tuhan sampai akhir: “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya” (Mal 4:2). Di tengah dunia ini, yang menawarkan banyak hal agar kita berpaling dari Allah, kita diingatkan oleh  janji Tuhan, bahwa jika kita bertahan untuk tetap taat setia kepada-Nya, kita akan memperoleh kehidupan kekal. Firman Allah mengatakan bahwa menuruti dan melakukan perintah-perintah-Nya, memang adalah tanda bukti kasih kita kepada-Nya (1Yoh 5:2-3). Dan oleh perbuatan yang sesuai dengan firman-Nya itu, kita akan diadili (lih. Mat 16:27, 1Ptr 1:17, Rm 2:6). Karena itu, setiap kali mendengar firman Tuhan tentang kedatangan-Nya di akhir zaman, kita diingatkan untuk memiliki sikap berjaga-jaga. Artinya agar selagi hidup, kita jangan gegabah dan mengikuti arus dunia, sehingga berbuat fasik seolah pengadilan Tuhan tidak ada. Sebab jika kita hidup sedemikian, kita akan hangus seperti jerami pada hari Tuhan itu (lih. Mal 4:1). Sebaliknya, kita diingatkan untuk “tetap tenang melakukan pekerjaan kita” (2Tes 3:12). Yesus sendiri mengingatkan tentang tanda-tanda sebelum kedatangan-Nya itu, “jangan sampai kamu disesatkan… janganlah kamu terkejut… tetap teguhlah di dalam hatimu” (Luk 21:8,9,14).

Maka, sikap berjaga-jaga yang diajarkan oleh Gereja bukan sikap yang pasif menunggu, tetapi yang aktif berkarya. Dalam setiap pekerjaan dan kegiatan kita sehari-hari, kita dipanggil untuk menjadi saksi-saksi iman. Artinya, orang-orang yang berani dan konsisten untuk hidup sesuai dengan iman kita. Sebab iman yang dijalankan dengan baik akan berbuah kasih sejati, yang tidak hanya berorientasi kesenangan di dunia ini, tetapi kepada keselamatan kekal. Kita dipanggil untuk terus berkarya menjunjung tinggi keutuhan keluarga dan perkawinan. Terus memusatkan perhatian kepada karya-karya nyata yang menjunjung kesejahteraan rohani dan jasmani. Memupuk nilai-nilai kerja keras, kejujuran, keadilan, kesederhanaan, kemurnian, belas kasih, dan… ya, pertobatan dan pengampunan. St. Jose Maria Escriva mengatakan, “Kita perlu mencabut dari hidup kita masing-masing, semua hal yang merintangi kehidupan Kristus di dalam kita: yaitu keterikatan kita kepada kenyamanan kita, godaan menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, kecenderungan diri  menjadi pusat dari segalanya… Melalui karya-karya kita, melalui pergaulan kita, kamu harus menunjukkan kasih Kristus dan ungkapan nyata persahabatan, pengertian, perhatian kasih persaudaraan dan damai sejahtera…” (St. Jose Maria Escriva, Christ is passing by, 158, 166). Karena itu, bagi umat Kristiani, karya dan pekerjaan menjadi kesempatan mengejar kekudusan, dan membawa sesama kepada Kristus. Kita dipanggil untuk mengubah pekerjaan kita menjadi doa, dengan hanya mencari kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama, ketika kita mempersembahkan seluruh pekerjaan kita di awal hari dan mengucap syukur kepada Tuhan saat kita menyelesaikannya, dan jika kita memohon pertolongan Tuhan saat kita menghadapi tantangan dan kesulitan. Melalui profesi kita masing-masing, kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyebarkan pesan keselamatan Kristus, melalui pembicaraan kita, tanggapan kita terhadap suatu masalah/ rintangan, kemauan kita untuk mendengarkan dan peduli pada kesusahan orang lain. Maka,  “Pekerjaan adalah sarana yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Maksudnya adalah untuk mengisi hari-hari kita dan membuat kita menjadi pengambil bagian dalam kuasa Tuhan yang mencipta dan kreatif. Pekerjaan memampukan kita  memperoleh nafkah, dan di saat yang sama, memetik buah-buah kehidupan kekal (Yoh 4:36)… [Maka], pekerjaan lahir dari kasih; merupakan pernyataan kasih dan diarahkan kepada kasih. Kita melihat tangan Tuhan… dalam  pengalaman kita di pekerjaan dan usaha. Maka pekerjaan menjadi doa dan ucapan syukur, sebab kita tahu bahwa kita ditempatkan di dunia oleh Tuhan, supaya kita dikasihiNya dan dijadikanNya ahli waris bagi janji-janji-Nya”  (St. Jose Maria Escriva, Friends of God, 57; Christ is passing by, 48). Apakah janji-janji Tuhan itu? Rasul Paulus menjawabnya, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu… lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Flp 4:8-9). Karena itu, jika kita tetap bertahan, setia melakukan apa yang benar dan mulia, Tuhan akan menyertai kita. Dan Tuhan yang menyertai kita itu, akan membebaskan dan menyelamatkan kita. Terpujilah nama-Nya!

Mengarahkan hati pada apa yang kekal

0
Sumber gambar: http://www.warrencampdesign.com/heartyBoys-fpcc.com/part4/week67.html

[Hari Minggu Biasa XXXII: 2Mak 7:1-2,9-14; Mzm 17:1-15;  2Tes 2:16-3:5; Luk 20:27-38]

Tak terlukiskan rasa kagumku setiap kali mendengar kesaksian seseorang yang memilih untuk memberikan dirinya secara total untuk Kerajaan Allah, entah sebagai imam, biarawan atau biarawati. Aku kagum akan besarnya rahmat Allah yang tercurah kepada mereka, namun juga kemurahan hati mereka untuk menanggapinya. Mereka menjadi gambaran bagi dunia, tentang persatuan kasih dan kebahagiaan penuh di Surga yang bersumber pada Allah semata.

Perjalanan hidup kita di dunia ini memang menjadi semacam “persiapan” bagi penggenapannya di kehidupan yang akan datang, yaitu untuk persatuan dengan Allah. Karena itu, kalau kita benar-benar ingin masuk Surga, itu harus tercermin dari keputusan kita ketika dihadapkan pada pilihan: mau ikut dunia atau mau taat kepada Tuhan. Ini seperti apa yang kita dengar di Bacaan Pertama, tentang kisah ibu dan ketujuh anaknya yang memilih untuk menaati hukum Taurat, walaupun karenanya mereka dihukum mati (lih. 2Mak 7). Dalam konteks sekarang, di tengah berbagai tawaran dunia, kita juga dituntut untuk mentaati hukum Kristus. Hal kontras ini dapat mengemuka di banyak keadaan. Bagi pasangan suami istri: mau pilih untuk selingkuh atau setia memegang janji perkawinan? Bagi pasangan muda mudi yang belum menikah: mau pilih seks pranikah atau menjaga kemurnian? Bagi yang punya kecenderungan seksual pada sesama jenis: mau mengikuti dorongan nafsu atau mengendalikan diri? Bagi para pecandu dosa tertentu: mau jatuh lagi, atau meninggalkan kebiasaan buruk itu? Bagi pengusaha: mau korupsi atau jujur? Bagi rohaniwan rohaniwati: mau taat, hidup sederhana dan kudus atau sebaliknya? Di sepanjang hidup di dunia, kita dihadapkan pada banyak pilihan, dan pilihan yang kita buat saat ini mencerminkan apakah kita sudah siap untuk memasuki kehidupan kekal di Surga. Jika kita masih lebih memilih apa yang lebih diterima dunia daripada apa yang dikehendaki Allah, maka sebenarnya, perbuatan kita belum sesuai dengan harapan kita sendiri untuk masuk Surga. Jika kita masih jatuh bangun untuk menaati perintah Tuhan, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk bertobat dan kembali memilih Allah daripada kesenangan kita sendiri. Sebab hanya dengan demikian, kita dapat menjadi semakin serupa dengan mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam kehidupan kekal di Surga.

Injil hari ini memaparkan tentang penjelasan Tuhan Yesus tentang bagaimana keadaan mereka yang di Surga. Yesus menjelaskan hal ini untuk menjawab pertanyaan orang-orang Saduki tentang kasus seorang wanita yang dinikahi oleh seorang pria yang kemudian meninggal dunia tanpa dikaruniai anak. Lalu wanita itu dinikahi oleh saudaranya yang kedua sampai ketujuh, yang masing-masing meninggal, tanpa keturunan. Setelah itu, wanita itu pun meninggal. Orang-orang Saduki itu bertanya kepada Yesus: setelah kebangkitan, menjadi istri saudara yang ke-berapa-kah wanita itu, karena ketujuhnya telah beristrikan dia. Sepertinya, orang-orang Saduki ini sengaja menyusun kisah yang ekstrim, supaya sepertinya tidak bisa dijawab, tentang bagaimana akhir kisah percintaan yang ruwet itu, jika masih ada kehidupan setelah di dunia ini. Namun makna perkawinan menurut dunia memang tidak sama dengan makna perkawinan menurut Tuhan, yang memiliki dimensi gambaran kasih Allah kepada umat-Nya.    Firman Tuhan mengajarkan, agar suami  mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi Gereja-Nya, dan istri mengasihi suaminya seperti Gereja mengasihi Kristus (lih Ef 5:22-33). Dengan mengikuti teladan kasih yang total antara Kristus dan Gereja, suami dan istri mengambil bagian dalam kasih Allah, dan dengan demikian mereka saling menguduskan dan mempersiapkan diri bagi penggenapan kasih Allah itu di Surga. Demikian pula, mereka yang menjalani hidup selibat bagi Allah, yang telah dengan lebih jelas menyatakan hubungan kasih yang total itu, sejak hidup di dunia ini.

Jadi pikiran kaum Saduki memang tidak sejalan dengan pikiran Tuhan Yesus. Mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati. Mereka tidak percaya bahwa jiwa manusia itu kekal, dan akan menikmati persatuan kasih yang sempurna dengan Allah, tentu jika ia taat setia kepada Allah. Maka setelah Yesus mengajarkan tentang adanya kebangkitan, dan bahwa Ia sendiri akan bangkit pada hari ketiga setelah kematian-Nya (lih. Luk 18:32-33), kaum Saduki  menyusun kisah tentang ketujuh saudara itu, untuk mencobai Yesus. Namun Yesus menjawab bahwa mereka yang dibangkitkan itu, “tidak kawin dan tidak dikawinkan, sebab mereka tidak dapat mati lagi….” (Luk 20:35-36). Bagaimana memahami pernyataan Yesus ini?  St. Agustinus menjelaskan, “Perkawinan adalah demi anak-anak, anak-anak ada demi kelanjutan keturunan dan kelanjutan keturunan ada, karena ada kematian. Karena itu, ketika tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi perkawinan…. Karena percakapan kita tersusun dan dituntaskan oleh kepergian/ kesudahan dan kelanjutan suku-suku kata, demikian juga manusia itu sendiri… dengan kepergian dan kelanjutan, menyusun dan merampungkan keteraturan di dunia ini, yang  dibangun oleh keindahan benda-benda yang sifatnya hanya sementara. Tetapi di kehidupan yang akan datang, dengan melihat kepada Sang Sabda yang kita rindukan—yang terbentuk bukan dari kepergian dan kelanjutan suku-suku kata, tetapi semua yang Ia miliki, dimiliki-Nya secara kekal dan seketika—maka mereka yang mengambil bagian di dalam-Nya—yang bagi mereka Sabda itu sendiri menjadi hidup—tak akan berakhir oleh kematian, ataupun dilanjutkan dengan kelahiran, seperti bahkan sekarang ini terjadi pada para malaikat. Demikianlah dikatakan selanjutnya, sebab mereka menjadi sama seperti para malaikat. Sebab sebagaimana begitu banyak malaikat yang memang sangat besar jumlahnya, tetapi mereka tidak menjadi lebih banyak melalui kelahiran, melainkan mereka telah ada sejak penciptaan. Sehingga juga kepada mereka yang dibangkitkan kembali, mereka tidak lagi perlu untuk menikah….” (St. Augustine, Catena Aurea, Luk 20:27-40).

Maka “menjadi seperti malaikat” di Surga bukan berarti bahwa di Surga suami istri tidak saling mengenali dan mengasihi. Yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu bahwa kasih mereka akan menjadi sempurna di dalam Allah, sebab segalanya sempurna di Surga. Namun bahwa kebahagiaan mereka tidak lagi diperoleh dari hubungan perkawinan mereka, melainkan dari Allah sendiri, yang meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28).

Mengakhiri renungan ini, mari kita mengarahkan hati kepada pengharapan iman kita akan keselamatan kekal. Biarlah doa Rasul Paulus ini meneguhkan kita, agar kita dapat selalu memilih untuk taat kepada Tuhan: “Semoga Tuhan menghibur dan menguatkan hatimu dalam segala karya dan tutur kata yang baik… Ia akan menguatkan hatimu dan akan memelihara kamu terhadap yang jahat… Kiranya Tuhan tetap mengarahkan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus” (2Tes 2: 17; 3:3,5). Ya Allah Bapa, topanglah kami dengan rahmat-Mu, supaya kami dapat menjadi taat setia seperti Kristus dalam menjalani hidup kami di dunia ini. Supaya dengan demikian kelak Kau dapati kami boleh memperoleh keselamatan kekal. Amin.

Belas kasih Tuhan mencari orang yang tersingkir

0
Sumber gambar: https://gerardnadal.files.wordpress.com/2012/02/zacchaeus2.jpg?w=500&h=319

[Hari Minggu Biasa XXXI: Keb 11:22-12:2; Mzm 145:1-14;  2Tes 1:11-2:2; Luk 19:1-10]  

Belum lama ini kita dikejutkan akan berita pemberantasan pungli di Kementerian Perhubungan. Banyak orang berharap agar kebiasaan pungli ini dapat semakin dihapus di negeri kita. Ini menunjukkan bahwa kebanyakan rakyat tidak suka akan adanya pungutan liar. Di zaman Yesus, kebiasaan pungli juga sudah ada, yang dilakukan oleh para pemungut cukai. Para pemungut cukai adalah orang-orang yang sehari-harinya melakukan pungli. Mereka menarik pajak dari sesama kaum Yahudi sendiri, demi kepentingan bangsa Romawi yang menjajah mereka; lalu jumlahnya ditambahi dengan pungutan liar yang masuk ke kantong para pemungut cukai itu sendiri. Tak heran orang-orang Yahudi membenci para pemungut cukai, apalagi kepala pemungut cukai, seperti Zakeus. Injil mengatakan bahwa di mata masyarakat, pemungut cukai dianggap sebagai pendosa (lih. Luk 5:30; 15:1; 19:7-10), yang otomatis dijauhi orang. Namun rupanya apa yang dijauhi orang, malah didekati oleh Allah. Sebab Allah menginginkan pertobatan mereka. Dengan cara-Nya sendiri, Ia mengingatkan orang-orang yang telah jatuh dalam dosa agar menjauhi kejahatan yang mereka perbuat, dan agar mereka percaya kepada-Nya (lih. Keb 12:2). Ini dilakukanNya sebab Ia adalah Allah yang maha rahim, yang belas kasih-Nya sangatlah tak terpahami.

Demikianlah Injil berkali-kali menyampaikan, betapa belas kasih Allah mencari, menemukan dan merangkul orang-orang yang tersingkirkan. Ini kita dengar dalam kisah Tuhan Yesus yang memilih untuk menumpang di rumah Zakeus, dalam Injil hari ini. St. Ambrosius telah menulis, “Dari semua orang yang dapat dipilih, Ia [Tuhan Yesus] memilih seorang kepala pemungut cukai. Siapa yang dapat kehilangan pengharapan bagi dirinya sendiri, ketika bahkan orang seperti itu [seperti Zakeus] dapat memperoleh keselamatan?” (St. Ambrose, Commentary on St. Luke’s Gospel, in loc) Tuhan tak pernah melupakan orang-orang yang telah dipilih-Nya. Figur Zakeus mengajarkan kepada kita bahwa tak ada seorangpun yang dapat luput dari jangkauan rahmat Tuhan. Pendosa yang terberat sekalipun tetap dapat disapa dan diampuni oleh Tuhan, jika ia bertobat.  

Namun, walaupun rahmat Tuhan mendahului pertobatan Zakeus, namun pertobatan Zakeus itu sendiri tetap tak dapat dianggap sepele. Zakeus bersedia mengembalikan uang yang pernah dicurinya [hasil pungli-nya] sebanyak empat kali lipat—dan dengan demikian memenuhi hukum Musa (lih. Kel 22:1)—bahkan lebih lagi, ia bersedia membagi-bagikan setengah dari harta miliknya kepada orang miskin. Kerinduan Zakeus untuk bertemu dengan Yesus juga diikuti oleh kesediaannya untuk meninggalkan dosa-dosanya dan hidup baru menurut hukum Tuhan. Kunjungan Yesus ke rumahnya menjadi momen penting yang mengubah hidupnya, yang menjadikannya manusia baru.

Bagaimana dengan kita? Sesungguhnya kita pun telah berkali-kali menerima kunjungan Yesus ke rumah hati kita, secara khusus setiap kali kita menyambut Ekaristi kudus. Sudahkah kita menyambut Yesus dengan kasih dan sukacita yang besar seperti Zakeus menyambut-Nya? Sudahkah kita mau diubah oleh Tuhan Yesus, seperti Zakeus? Sebab jangan sampai kunjungan Tuhan Yesus tidak membuat kita tergerak hati untuk meninggalkan kesalahan kita dan berusaha hidup lebih baik daripada sebelumnya. Semoga dengan lebih sering menerima Ekaristi Kudus, hati kita pun dibuat menjadi lebih peka, untuk melihat bahwa di sekitar kita ada banyak orang yang seperti Zakeus, yang merindukan kunjungan Tuhan Yesus. Dan bahwa kita yang telah menerima Tuhan Yesus, dapat membawa kehadiran-Nya kepada orang-orang yang merindukan Dia.

Kita telah hampir sampai pada penghujung Tahun Yubelium Luar Biasa Kerahiman Allah. Mari kita memeriksa batin kita, sejauh mana kita telah menerima  kerahiman Allah dan membiarkan Sang Kerahiman itu mengubah hidup kita. Dan sejauh mana kita pun telah memiliki kerahiman, atau belas kasih  kepada semua orang, terutama kepada mereka yang tersingkirkan ataupun terpinggirkan. Semoga doa Rasul Paulus  menguatkan kita,  yaitu, “supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik, dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu. Dengan demikian nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu, dan kamu di dalam Dia, sesuai dengan kasih karunia Allah kita dan Tuhan kita Yesus Kristus” (2Tes 1:11-12). Marilah berdoa, “Ya, Tuhan yang pengasih dan penyayang, betapa panjang sabar dan belas kasih setia-Mu kepada kami. Bantulah aku untuk juga menjadi seorang yang pengasih dan penyayang, yang sabar dan berbelas kasih, seperti diri-Mu. Amin.”

Merendahkan diri di hadapan Tuhan

0
Sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-o6aQwl8_k5A/Uf6_ZomDKHI/AAAAAAAARvs/ddXBhoUbIns/s320/parable-of-the-pharisee-and-tax-collector.jpg

[Hari Minggu Biasa XXX: Sir 35:12-18; Mzm 34:2-3, 17-23; 2Tim 4:6-8,16-18; Luk 18:9-14]  

Pukul enam kurang sepuluh menit. Cuaca mendung membuat pagi itu terasa masih gelap. Bergegas kumasuki gereja untuk mengikuti Misa Kudus, mengambil tempat seperti biasa. Tepat di hadapanku berlutut seorang ibu yang rambutnya telah putih, hampir seluruhnya. Ketika hendak kupejamkan mata, tak kusengaja aku melihat sesuatu yang membuatku tersenyum sendiri. Ibu itu memakai baju yang terbalik, sehingga tampaklah merk dan obrasannya. Mestinya aku langsung berdoa, tapi nyatanya, pikiranku melesat jauh… “Wah,… buru-buru kali ya si ibu ini, sampai memakai baju terbalik ke gereja….” Namun rupanya, cerita pagi itu tidak berakhir sampai di situ. Tepat sore harinya ketika hendak berolah raga, aku bergegas memakai kaos, sementara pikiranku melayang kepada hal-hal lain. Begitu selesai berolah raga, ketika hendak mandi, kupandang diriku di cermin, dan … astaga! Rasanya aku hampir tak percaya. Aku pun memakai kaos yang terbalik! Rupanya Tuhan sedang mengajariku, untuk tidak mudah mengomentari orang lain, sebab aku pun dapat berbuat kesalahan yang sama. Tuhan, ampunilah aku!

Bacaan Injil hari ini mengajarkan agar kita tidak lekas menghakimi, dan merasa diri lebih baik daripada orang lain, terutama dalam doa-doa kita. Kita dapat belajar dari kisah orang Farisi dan pemungut cukai itu, yang sama-sama berdoa, namun isi doa mereka sangatlah berlawanan. Dalam doanya, orang Farisi itu meninggikan diri sedangkan sang pemungut cukai itu, merendahkan dirinya. St. Agustinus berkata, “Kalau kamu memeriksa perkataannya [doa orang Farisi], kamu menemukan bahwa ia tak meminta apapun kepada Tuhan. Memang ia berdoa, tetapi bukannya meminta kepada Tuhan, ia memuji dirinya sendiri; dan bahkan menghina orang yang meminta. Sebaliknya, pemungut cukai itu, terdorong oleh hati nuraninya yang terluka berdiri jauh-jauh, dan oleh kesalehannya ia dibawa mendekat…. Tuhan dekat kepadanya dan mendengarkan dia. Sebab Allah ada di tempat tinggi, namun Ia mendengarkan orang yang rendah itu…. Hati nuraninya membebaninya, namun harapannya mengangkatnya, ia memukul dadanya sendiri, ia menjatuhkan penilaian atas dirinya sendiri. Karena itu Tuhan berkenan kepada orang yang menyesal itu. Kamu telah mendengar tuduhan orang yang sombong itu, dan kamu telah mendengar pengakuan yang rendah hati dari orang yang dituduh itu. Kini dengarkanlah keputusan Sang Hakim: Sungguh Kukatakan kepadamu, orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang yang lain itu tidak” (St. Augustine, Catena Aurea, Luk 18:9-14). Allah berkenan kepada orang-orang yang rendah hati, yang dalam kelemahannya mengandalkan pertolongan Tuhan. Demikianlah dalam berbagai kisah dalam Kitab Suci tertulis betapa Allah berkenan kepada pihak-pihak yang lemah yang berlindung kepada-Nya, seperti contohnya para janda dan yatim piatu—sebagaimana kita dengar di Bacaan Pertama (lih. Sir 35:12-18); dan para murid Tuhan yang dikejar-kejar dan dianiaya, seperti Rasul Paulus (lih. 2Tim 4:16-18).   

Jadi sabda Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita, sikap batin yang benar dalam berdoa. Pertama, doa adalah dialog dengan Tuhan. Ketika berdoa, kita mengarahkan hati kepada-Nya, dan tidak berfokus kepada diri kita sendiri ataupun pikiran akan diri sendiri. Kedua, kita datang ke hadirat Tuhan dengan kerendahan hati, dengan mengakui kelemahan dan dosa-dosa kita. Kita tidak membandingkan diri kita dengan orang lain, apalagi merasa lebih baik daripada orang lain. Ketiga, kita memohon belas kasihan-Nya dan mengandalkan Allah, sebab kita percaya bahwa Ia berkenan kepada orang yang rendah hati yang berbakti kepada-Nya.

Kini menjadi semakin make sense bagiku, mengapa dalam  perayaan Ekaristi, kita dalam kesatuan dengan seluruh Gereja, mendaraskan doa-doa tobat: “Saya mengaku, kepada Allah yang maha kuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa…. Tuhan, kasihanilah kami, Kristus, kasihanilah kami, Tuhan kasihanilah kami…; Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami… Doa-doa ini mengungkapkan iman Gereja yang dengan kerendahan hati datang kepada Tuhan. Kuucapkan doa-doa tersebut dengan penghayatan yang baru. Saat imam mengangkat Hosti yang telah diubah menjadi Tubuh Kristus dan berkata, “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya….”, kuarahkan mata hatiku kepada Tuhan Yesus yang hadir dalam Hosti itu. Dan dalam kerendahan sebagai seorang hamba, kutundukkan kepalaku dan kudaraskan doa ini dengan sungguh, “Ya, Tuhan, saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh….”

Pertolonganku ialah dari Tuhan

0
Sumber gambar: http://www.freebibleimages.org/photos/persistent-widow/

[Hari Minggu Biasa XXIX: Kel 17:8-13; Mzm 121:1-8; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8]  

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolongan bagiku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi!” (Mzm 121:1-2). Demikian sepetik kutipan Mazmur hari ini. Kubiarkan perkataan itu meresap ke dalam jiwaku. Pertolonganku adalah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi… Betapa perkataan ini sungguh menghibur dan menambahkan pengharapan kepada kita. Sebab jika Allah yang menciptakan segala sesuatu itu menolong kita, tentulah kita tidak perlu cemas dan takut untuk menghadapi apapun, entah itu kesusahan, penyakit ataupun berbagai masalah lainnya. Sebab bukankah Tuhan mengatasi semuanya itu?

Tuhan memang adalah harapan dan Penolong bagi kita. Namun Ia menghendaki agar kita berdoa dan memohon kepada-Nya agar kita memperoleh pertolongan-Nya itu. Tuhan menghendaki agar kita tidak bosan dan jemu untuk berdoa, sebagaimana kita dengar dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Belajar dari kisah Musa yang yang ditopang oleh Harun dan Hur, demikian pula, kalau kita menjadi lelah berdoa, marilah kita meminta dukungan dari sahabat-sahabat kita. Sering terjadi, Tuhan memberikan banyak rahmat-Nya di saat-saat kita mengalami kesusahan, dan tak jarang, juga melalui perhatian, bantuan dan doa-doa dari saudara-saudara seiman. Rahmat Tuhan ini bahkan lebih berharga daripada hal-hal yang kita minta.

St. Alfonsus Liguori mengajarkan, “Tuhan mau memberikan kepada kita rahmat-Nya, tetapi Ia juga menghendaki kita untuk memintanya. Suatu hari Yesus berkata kepada para murid-Nya: ‘Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah dan kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu’ (Yoh 16:24). Ini seperti seumpama Ia berkata: Jangan mengeluh kepadaKu jika kamu belum dipenuhi dengan berkat-berkat.  Mengeluhlah kepada dirimu sendiri, karena belum meminta kepadaKu apa yang kamu perlukan. Mulai saat ini, mintalah kepadaKu dan doa-doamu akan dijawab” (St. Alphonsus Liguori, Sermon 46 for the 10th Sunday after Pentecost). Mari kita belajar berdoa seperti Nabi Musa: yaitu dengan ketekunan sehingga tidak tergoyahkan, dan tanpa ragu, dengan bantuan sahabat-sahabat kita, jika perlu. Mari kita memeriksa, bagaimanakah  doa-doa kita? Apakah kita sudah tekun berdoa? Sudahkah kita berdoa penuh iman dan percaya, tak putus-putus dan tanpa lelah?

Bacaan Injil hari ini menyampaikan kisah yang melibatkan dua karakter yang bertolak belakang: seorang hakim yang lalim dan seorang janda. Hakim itu digambarkan sebagai hakim yang “tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun”. Tentulah orang ini sangat “kuat” di mata manusia, dan sang janda itu adalah sebaliknya, sangat lemah. Tetapi pada akhirnya, hakim itu “mengalah” kepada janda tersebut, bukan karena hakim itu bertobat, tetapi karena tak mau disusahkan oleh sang janda itu, yang tak jemu-jemunya datang memohon kepadanya. Jika hakim yang lalim itu saja dapat meluluskan permohonan janda itu, terlebih lagi Allah, yang sifatnya bertolak belakang dan tak dapat dibandingkan dengan hakim yang lalim itu. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” (Luk 18:7). Allah, yang penuh belas kasihan, menantikan doa-doa kita yang didaraskan dengan ketekunan dan iman.

Doa dan iman memang berhubungan satu sama lain. Doa mengalir dari iman yang hidup. Namun juga, dengan berdoa, iman kita dikuatkan. Maka mari kita periksa, seperti apakah doa kita? Jika kita meminta suatu berkat dari Tuhan, entah itu pekerjaan, rumah, atau kesehatan… sejauh mana semua itu dapat menumbuhkan iman kita? Sebab pada akhirnya, yang seharusnya yang kita inginkan adalah Tuhan sendiri. Ia adalah tujuan akhir semua doa-doa kita. Apapun yang kita minta di dunia ini harusnya membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Karena itu, Tuhan berkenan kepada doa-doa yang membawa kepada kebaikan rohani, baik untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang-orang yang kita doakan. Di sinilah kita melihat kaitan antara doa dan karya pewartaan Injil, atau evangelisasi. Sebab tujuan evangelisasi adalah membawa sebanyak mungkin orang kepada Kristus.

Di hari Minggu Evangelisasi ini, mari kita berdoa memohon pertolongan Tuhan dalam karya pewartaan Gereja, dan secara spesifik, pewartaan yang kita lakukan kepada orang-orang yang kita jumpai dalam keseharian kita. Mari kita mendoakan orang-orang yang belum mengenal Kristus, orang-orang yang meninggalkan Gereja ataupun orang-orang yang meninggalkan imannya. Atau, orang-orang yang menolak untuk percaya kepada Tuhan, atau orang-orang yang hidup semaunya, seolah-olah tidak ada Tuhan. Atau orang-orang yang suam-suam kuku dalam hal mengimani Kristus. Mari kita doakan saudara, kerabat dan diri kita sendiri agar terhindar dari sikap sedemikian. Sebab tak ada hal yang lebih baik yang dapat kita mohon kepada Tuhan bagi kita dan bagi orang-orang yang kita kasihi, selain daripada karunia keselamatan kekal yang diperoleh dari Tuhan kita Yesus Kristus. Dan karena karunia keselamatan mesti ditanggapi oleh iman dan pertobatan yang melibatkan perubahan hati, maka kita mesti mengandalkan pertolongan Tuhan dalam tugas pewartaan Injil keselamatan ini.  Sebab kita tak kuasa mengubah hati orang lain; itu hanya dapat dilakukan oleh Allah. Karena itu, campur tangan Allah mutlak diperlukan agar karya pewartaan Injil dapat memperoleh buah-buahnya.  Marilah kita menyerahkan doa dan karya kita kepada Tuhan, “Ya, Bapa yang maha pengasih, Engkau begitu mengasihi dunia sehingga Engkau mengaruniakan Putra tunggal-Mu, supaya kami dapat percaya kepada-Nya dan memperoleh hidup kekal. Semoga kami berjumpa dengan Yesus Kristus secara baru hari ini, dan menghidupi Kabar Gembira dengan sukacita. Melalui kuasa Roh Kudus-Mu, bantulah kami untuk ‘pergi ke seluruh dunia’ dan mewartakan iman kami dengan penuh keyakinan. Berilah kami keberanian untuk menjadi saksi tentang sukacita Injil, dengan perkataan dan perbuatan kami. Semoga melalui pewartaan Gereja-Mu, Engkau menjadi lebih dikenal dan dikasihi oleh semua orang. Kami memohon doa ini, demi Tuhan kami Yesus Kristus Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab