Home Blog Page 21

Tersungkur dan bersyukur

0
Sumber gambar: http://www.ds-wa.org/images/stories/misc/diocesannews/2015/Feb/leper.jpg

[Hari Minggu Biasa XXVIII: 2Raj 5:14-17; Mzm 98: 1-4; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19]  

Hari ini kita diajak untuk belajar dari dua orang kusta yang disembuhkan. Yang pertama adalah dari Naaman orang Siria itu yang menerima kesembuhan melalui Nabi Elisa. Dan yang kedua adalah dari seorang Samaria yang disembuhkan bersama dengan sembilan orang kusta lainnya oleh Tuhan Yesus. Kedua orang kusta tersebut adalah orang asing, yang belum mengenal Tuhan dengan benar, namun mereka tahu berterimakasih kepada Tuhan yang menyembuhkan mereka.

Tak terbayangkan bagi kita sekarang, bagaimana rasanya menjadi seorang kusta di zaman Yesus. Mereka terpisah dan dikucilkan dari kehidupan masyarakat. Karena itu ketika rombongan Yesus lewat, mereka hanya berdiri jauh-jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Tetapi walaupun diserukan dari kejauhan, Yesus mendengarkan seruan mereka. Yesus berkata agar mereka memperlihatkan diri mereka kepada para imam agar dapat dinyatakan tahir. Dan di tengah jalan, mereka sungguh menjadi tahir! Mungkin kesepuluh orang kusta itu sangatlah keheranan akan mukjizat itu. Kulit mereka yang bergumpal dan berkerut menjadi halus. Jari-jari tangan dan  kaki atau anggota-anggota tubuh mereka yang mungkin telah menjadi bengkok, tiba-tiba menjadi lurus. Bagian-bagian tubuh yang sudah mati rasa, menjadi normal kembali.  Mata mereka yang mungkin telah menjadi rabun, menjadi jelas. Mereka yang mungkin sudah sulit berjalan ataupun bergerak karena keadaan tubuh yang cacat, kini dapat berjalan dan bahkan berlari.  Namun dari kesepuluh orang kusta yang disembuhkan itu, hanya satu yang ingat untuk berterima kasih kepada Sang Penyembuh. Orang itu adalah seorang Samaria. Injil mencatat bahwa “ia  kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya” (Luk 17:15-16). Tersungkur dan bersyukur. Apakah aku pun tersungkur dan bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat dan pertolongan-Nya yang telah kuterima? St. Agustinus berkata, “Adakah perkataan yang lebih baik—yang kita bawa dalam hati kita, yang kita ucapkan dari mulut kita, yang kita tulis dengan pena—daripada perkataan, ‘Terima kasih, Tuhan’? Tak ada frase yang dapat dikatakan seketika itu juga, yang dapat didengar dengan sukacita yang lebih besar, dirasakan dengan perasaan yang lebih meluap atau diperbuat dengan akibat yang lebih besar… [daripada ucapan terima kasih kepada Tuhan]” (St. Augustine, Letter 72).

Tentulah Tuhan berkenan kepada ucapan terima kasih orang Samaria ini. Namun juga, di saat yang sama, Yesus bertanya, mengapa kesembilan orang kusta lainnya yang juga disembuhkan, tidak kembali untuk berterima kasih kepada Tuhan, kecuali orang asing ini? Betapa Tuhan juga bertanya hal yang sama kepada kita… “Bukankah Aku pun telah menyembuhkanmu? Tidakkah engkau mau kembali  untuk bersyukur dan memuliakan Allah?” Hari ini dalam doa-doa kita, marilah kita merenungkan betapa kitapun kerap kurang bersyukur ataupun lupa bersyukur. Tentulah dalam hidup kita, Allah telah berkali-kali menyembuhkan kita, baik jasmani maupun rohani; Ia telah mengundang kita dan menjumpai kita lewat bermacam orang dan berbagai peristiwa. Sudahkah kita tersungkur dan bersyukur kepada Tuhan, atas semua campur tangan-Nya dalam kehidupan kita?

Hidup kita seharusnya merupakan kesempatan bagi kita untuk terus menerus bersyukur. Tuhan telah memberikan banyak berkat kepada kita. Dan sekalipun mengalami suatu kebutuhan atau kekurangan, kita tetap harus bersyukur dan tak kehilangan suka cita. Sebab dapat terjadi, pengalaman ini mempersiapkan kita untuk suatu kebaikan yang lebih besar. Bukankah orang Samaria itu mengenal Yesus Kristus melalui penyakit kustanya? Lewat penyakit yang mengerikan itu, dan karena ucapan syukur atas kesembuhannya, orang Samaria itu beroleh karunia persahabatan dengan Kristus dan karunia yang tak ternilai, yaitu karunia iman. “Berdirilah dan pergilah; imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17:19).

Saudara-saudariku terkasih, mari kita bersyukur kepada Tuhan atas segala sesuatu. Terutama, karena kita telah mengenal Kristus dan menerima karunia iman. Kasih dan penyertaan Tuhan tak putus-putusnya kita terima dalam kehidupan ini. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita agar jangan kita melewatkan hari tanpa bersyukur kepada Tuhan. Sebab kata St. Bernardus, “Ia yang tidak berterimakasih untuk berkat yang diterimanya hari ini, mungkin juga telah tidak berterima kasih untuk berkat yang diterimanya di waktu yang lalu” (St. Bernard, Commentary on Psalm 50,4,1). Marilah kita mengakhiri doa pemeriksaan batin setiap hari, dengan ucapan syukur, “Tuhan Yesus, terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk berkat-berkat-Mu, untuk setiap kejadian yang kualami  dan orang-orang yang kujumpai hari ini. Terima kasih atas niat-niat baik, kasih dan dorongan Roh Kudus yang Engkau tanamkan dalam hatiku. Engkaulah segalanya bagiku, ya Tuhan. Terimalah ucapan syukurku ini. Amin.

Beriman: sabar, teguh, rendah hati

0
Sumber gambar: http://www.desiringgod.org/articles/how-jesus-helped-his-disciples-increase-their-faith

[Hari Minggu Biasa XXVII: Hab 1:2-3; 2:2-4; Mzm 95: 1-9; 2Tim 1:6-14; Luk 17:5-10]  

Hari ini Bacaan Pertama mengisahkan keluhan Nabi Habakuk yang mungkin juga sering menjadi pertanyaan kita. Yaitu, mengapa sepertinya di masa ini ada banyak kejahatan yang mengalahkan kebaikan. Orang-orang baik sepertinya diperlakukan tidak adil dan mengalami kesusahan. Namun Tuhan menjawab, agar kita menanti dengan sabar dan terus berharap akan keadilan Tuhan. Juga, agar kita tetap hidup dalam iman. “Orang benar akan hidup berkat imannya” (Hab 2:4). Ya, sebab iman memang dibuktikan justru ketika kita diuji oleh berbagai macam  kesulitan dalam hidup ini. Semoga kita selalu dapat tetap percaya akan keadilan Tuhan dan pertolongan-Nya, sebab  Tuhanlah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya! (Mzm 95: 7)

Di Bacaan Kedua, Rasul Paulus mengingatkan Timotius agar teguh dalam panggilannya, yaitu untuk mewartakan kebenaran tanpa terhambat oleh pikiran untuk menerima penghargaan dari manusia. “… Aku memperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu berkat penumpangan tanganku. Sebab Allah memberi kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2Tim 1:6-7). Demikianlah iman tak terpisahkan dari perbuatan kasih dan ketertiban, oleh kekuatan yang datang dari Tuhan. Kekuatan dari Tuhan inilah yang memungkinkan para murid tetap bertahan dalam iman, bahkan di tengah pencobaan dan penderitaan. Rasul Paulus juga mengingatkan Timotius agar tidak takut menderita bagi Injil, sebagaimana ia sendiri sebagai rasul juga turut menderita sebagai orang hukuman, karena mewartakan Injil Kristus.

Demikianlah, Bacaan Injil mengajarkan agar kita pun menginginkan pertumbuhan iman, sebagaimana para rasul itu memintanya kepada Tuhan Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” Sebab dengan iman yang terus bertumbuh, kita dapat memiliki kekuatan untuk melakukan hal-hal yang melampaui pemikiran ataupun kemampuan manusia biasa.  St. Yohanes Krisostomus berkata, “Ia [Kristus] menyebut biji sesawi, sebab meskipun kecil ukurannya, ia lebih besar dalam hal kekuatannya daripada semua yang lain. Maka, Ia bermaksud bahwa bagian terkecil dari iman dapat melakukan hal-hal yang besar. Tetapi meskipun para rasul tidak membuat pohon ara terbantun, janganlah menyalahkan mereka. Sebab Tuhan kita tidak berkata kamu harus membuat pohon ara terbantun, tetapi, kamu dapat berkata kepada pada pohon ara, ‘terbantunlah’. Tetapi mereka tidak melakukannya, sebab itu tidak perlu, mengingat bahwa mereka telah melakukan hal-hal yang lebih besar…” (St. John Chysostom, in  Catena Aurea, Luk 17:5-6). Ya, dengan kesaksian iman mereka, para rasul telah membawa pertobatan banyak orang di sepanjang sejarah, yang nilainya memang jauh lebih tinggi daripada terbantunnya pohon ara. Jika kini kita yang hidup 2000 tahun sesudah zaman Kristus dapat mengimani Kristus dan menerima rahmat keselamatan-Nya, itu juga dapat terjadi karena kesaksian iman para rasul. Demikianlah, kita pun dipanggil oleh Kristus untuk melakukan hal yang sama. Yaitu, memiliki iman yang terus bertumbuh, dan terus mewartakan Injil dan meneruskan warisan iman ini kepada generasi penerus kita.

Namun demikian, meski kita melakukannya, Tuhan Yesus juga mengingatkan kita agar kita tetap bersikap rendah hati. Sebab pewartaan Injil merupakan tugas, dan bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. St. Ambrosius memberi nasihat, “Janganlah kamu menyombongkan dirimu bahwa kamu telah menjadi pelayan yang baik. Engkau telah melakukan apa yang harus engkau lakukan. Matahari taat, bulan menundukkan dirinya, para malaikat adalah bawahan[-Nya]; janganlah kita mencari pujian bagi diri sendiri. Karena itu sebagai kesimpulan, Ia menambahkan, demikianlah kamu, ketika kamu telah melakukan semua hal yang baik, katakanlah: Kami adalah para pelayan-pelayan yang tidak berguna, kami telah melakukan apa yang menjadi kewajiban yang harus kami lakukan” (St. Ambrose, Catena Aurea, Luk 17:7-10). Dalam keheningan batin, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana kita telah memiliki iman semacam ini? Iman yang membuat kita sabar dan tetap menaruh pengharapan meski mengalami berbagai kesulitan. Iman yang berbuah kasih, dan kekuatan untuk menanggung penderitaan. Iman yang menjadikan kita rendah hati dan tidak menuntut penghargaan.  “O, Tuhan Yesus, tambahkanlah imanku…!  Iman yang membuatku bertumbuh dalam kesabaran, kasih dan keteguhan, serta kerendahan hati…. Amin.”

Bermurah hati agar beroleh kemurahan Tuhan

0
Sumber gambar: https://tvaraj2inspirations.files.wordpress.com/2012/03/lazarus-01.jpg

[Hari Minggu Biasa XXVI: Am 6:1-7; Mzm 146: 7-10; 1Tim 6: 11-16; Luk 16:19-31]  

Belum lama ini, Nano, tukang yang biasa membantu kami memperbaiki rumah mengalami kecelakaan. Ketika sedang mengendarai sepeda motornya sepulang dari menukang di rumah teman kami, ia menabrak sebuah mobil. Bagian muka mobil itu rusak parah. Tapi rupanya si pemilik mobil tidak marah dan menuntut Nano yang telah menabrak mobilnya. Ia malah memberinya sejumlah uang untuk berobat ke Rumah Sakit, karena mengalami luka-luka dan patah tulang yang cukup parah. Kami tidak tahu apakah sang pemilik mobil itu adalah seorang Kristiani, tetapi apa yang dilakukannya sungguh mencerminkan tindakan kemurahan hati dan belas kasih yang diajarkan oleh firman Tuhan.

Ini berbeda dengan orang-orang yang dikisahkan dalam kitab Nabi Amos di Bacaan Pertama hari ini. Allah menegur dengan keras, orang-orang kaya yang tidak peduli dengan penderitaan sesamanya yang miskin. Ini juga dapat diartikan sebagai ketidakpedulian orang-orang yang lebih kuat iman namun tak mau menopang orang-orang yang lebih rapuh imannya. Singkatnya, Tuhan menghendaki kita, umat-Nya, agar tidak memuaskan diri sendiri, melainkan bermurah hati, peduli dan mau berbagi kepada sesama. Suatu tantangan bagi kita, jika kita ada di posisi pemilik mobil yang ditabrak itu, dapatkah kita bersikap seperti dia yang telah bermurah hati dan menolong sesamanya?

Kemurahan hati dan belas kasihan itu memang memerlukan latihan, atau bahkan harus diperjuangkan.  Rasul Paulus, menggambarkan perjuangan ini sebagai “pertandingan iman” untuk memperoleh hidup kekal. Rasul Paulus berkata, “Kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih dan kesabaran dan kelemahlembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar, dan rebutlah hidup kekal….” (1Tim 6:11-16). Menarik untuk disimak bahwa wejangan Rasul Paulus ini diberikan setelah ia mengingatkan kita bahwa akar dosa manusia, yaitu karena cinta akan uang, sebagaimana disebut di ayat sebelumnya (1Tim 6:10). Artinya, Rasul Paulus mengingatkan kita agar kita tidak terikat kepada harta duniawi, namun agar kita menggunakannya untuk maksud kebaikan, yaitu untuk berbuat keadilan, kebaikan, kasih, dst. Artinya, agar dengan apa yang kita miliki, kita mau memberikan apa yang menjadi hak orang lain atas dasar prinsip keadilan dan mau berbagi atas dasar prinsip kasih dan belas kasih.  

Senada dengan ajaran Rasul Paulus, Tuhan Yesus dalam Bacaan Injil pun mengingatkan kita, bahwa kekayaan adalah berkat yang juga harus dibagikan kepada sesama yang membutuhkan. Jika ini tidak dilakukan, maka kita akan menuai akibatnya di kehidupan yang akan datang. Demikianlah kurang lebih, apa yang dapat kita petik dari kisah orang kaya dan Lazarus itu. Kisah Injil hari ini mengajak kita menilik ke dalam hati kita, sejauh mana kita peka akan hadirnya Lazarus-Lazarus di sekitar kita, dan bagaimanakah sikap kita kepada mereka.

Orang yang dipercayakan banyak, kepadanya juga lebih banyak dituntut (lih. Luk 12:48), sebab sesungguhnya segala kekayaan dan berkat yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan. Akan lebih bijaksana, jika kita menganggap bahwa segala yang ada pada kita bukanlah milik kita, tetapi milik Tuhan yang dipercayakan-Nya kepada kita. Dengan demikian, kita dapat dengan lebih bijaksana menggunakannya, dengan memperhatikan kebutuhan orang-orang lain juga, sebab Tuhan yang memberikan berkat kepada kita menghendakinya demikian. St. Gregorius Agung (540-604) adalah seorang Paus yang dikenal sebagai contoh yang hidup dalam hal ini. Ia berasal dari keluarga kaya dan terhormat dan ia sendiri pernah menjadi hakim tertinggi di Roma. Namun setelah ayahnya wafat, ia menjual harta miliknya dan membagi-bagikan hasilnya untuk kaum miskin. Sisanya dipergunakan untuk membangun tujuh biara dan ia sendiri menjadi imam pertapa. Namun beberapa tahun kemudian ia dipilih untuk menjadi Paus. Ia adalah Paus pertama yang menggunakan istilah “Pelayan dari para pelayan Tuhan” bagi sebutan Paus. Paus Gregorius menulis, “Aku memegang jabatan sebagai pengelola harta milik kaum miskin…” Ia menjadi teladan kemurahan hati dan kepedulian kepada kaum papa. Teladan St. Gregorius bertolak belakang dengan sikap orang kaya yang dikisahkan dalam Bacaan Injil hari ini.  Injil mengajak kita menghindari sikap egois dan hidup bermewah-mewah, tanpa memperhatikan dan bermurah hati kepada sesama yang hidup susah. Kemurahan hati, menjadi panggilan bagi setiap umat Kristen, sebab Allah terlebih dahulu bermurah hati kepada kita, dengan mengutus Yesus Kristus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita. Lagipula, bukankah Tuhan Yesus bersabda, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”? (Mat 5:7) Semoga hari demi hari rahmat Tuhan membantu kita untuk lebih bermurah hati kepada sesama, sehingga kelak kita pun dapat menerima kemurahan Tuhan, dan memperoleh kehidupan yang kekal.

Sudahkah kita setia dalam perkara kecil?

0
Sumber gambar: https://stjohnoneone.com/2014/05/15/parable-of-the-unjust-steward-william-barclay/

[Hari Minggu Biasa XXV: Am 8:4-7; Mzm 113:1-8; 1Tim 2:8; Luk 16:1-13]

Seorang ibu merindukan agar suaminya dapat mengimani Yesus dan dibaptis. Tapi konon suaminya menolak, dengan alasan, “Nanti dulu, Ma. Papa belum siap, sebab sekarang ‘kan Papa masih sibuk dagang…” Lalu ibu tersebut menyahut dengan berseloroh, “Memangnya orang dagang nggak bisa ikut Tuhan Yesus?” Demikianlah, kebanyakan pedagang cenderung punya segudang akal untuk mengelabui pembeli agar memperoleh untung sebanyak- banyaknya. Dan mungkin, karena itu selalu ada konflik batin dalam diri sang pedagang, karena tahu bahwa kalau ia mengimani Tuhan Yesus, ia tak dapat lagi melakukan akal-akalan semacam itu lagi.

Rupanya pergumulan serupa juga telah terjadi di tengah bangsa Israel di zaman Nabi Amos. Takaran gandum mereka buat lebih kecil, harga dinaikkan dan timbangan dipalsukan, dan membuat banyak orang, terutama orang miskin, tambah susah. [Di zaman sekarang, orang memalsukan vaksin, menghapus tanggal kedaluwarsa, ataupun menyuap pejabat]. Karena itu, Allah menegur kecurangan ini, sebagaimana kita dengar di Bacaan Pertama hari ini. Mungkin kita tidak menjual gandum, tidak juga memalsukan timbangan, tetapi dalam bentuk lainnya, kita semua dituntut untuk hidup jujur. Artinya, tidak mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar di hadapan Tuhan.

Tapi ternyata hal menghitung untung rugi dan memikirkan kepentingan diri sendiri juga terjadi dalam kehidupan rohani. Ada kecenderungan bahwa kita pun bersikap serupa saat berdoa dan memohon kepada Tuhan. Lebih mudah bagi kita untuk berdoa untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga kita, tapi mungkin sedikit porsi kita berikan untuk mendoakan orang lain, apalagi untuk mendoakan dunia. Apa untungnya mendoakan orang lain, apalagi yang tidak kita kenal?  Namun, firman Tuhan  mengingatkan kita, “Panjatkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan berkenan kepada Allah…” (1Tim 2:1-3). Alasannya ada di ayat berikutnya, yaitu bahwa Allah, “menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” Demikianlah Allah menghendaki kita memiliki hati yang besar, agar tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, tetapi keselamatan orang lain juga. Sebab dengan mendoakan keselamatan dunia artinya kitapun mendoakan keselamatan diri kita juga. Dengan memikirkan keselamatan kekal, otomatis kita pun diingatkan untuk menjalani urusan kita di dunia dengan jujur dan benar, sebab itulah yang berkenan pada Allah.

Tuhan Yesus melalui Bacaan Injil mengingatkan kita satu hal lagi. Yaitu agar kita setia dalam perkara-perkara kecil. Ini penting, sebab kejujuran dan kebenaran dalam melakukan segala sesuatu, itu dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Itu juga dimulai dari keputusan kita untuk selalu memilih mengabdi Allah, daripada mengabdi kepada Mamon, yang artinya adalah kekayaan. St. Sirilus mengatakan, “… Tuhan kita membukakan mata hati kita, dengan menjelaskan apa yang telah dikatakan-Nya, maka kalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapa yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu? Maka apa yang terkecil adalah Mamon yang tidak jujur, yaitu kekayaan duniawi, yang nampak sebagai bukan apa-apa bagi orang-orang yang bijaksana secara surgawi… Seseorang setia dalam hal kecil, ketika ia membantu mereka yang tertunduk karena dukacita. Jika kita tidak setia dalam hal-hal kecil, bagaimana kita akan memperoleh harta sejati, yaitu karunia rahmat ilahi yang menghasilkan buah, dengan menanamkan gambar Allah di jiwa manusia? Tapi bahwa perkataan Tuhan condong kepada arti ini… sebab kata-Nya, Dan jika kamu tidak setia dalam hal yang menjadi milik orang lain, siapa yang akan memberi kepadamu apa yang menjadi milikmu sendiri?” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 16:8-13).

Saudara-saudariku terkasih, Tuhan Yesus menghendaki agar kita mengabdi kepada-Nya dengan hati yang tidak terbagi. Ia mau agar kita melayani-Nya dengan sepenuh hati, dan dengan segala talenta yang Ia percayakan kepada kita: bakat, waktu dan harta milik. Dan Tuhan menghendaki agar ini dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Kita perlu mengarahkan segala sesuatu kepada Tuhan: seluruh pekerjaan kita, rencana-rencana kita, waktu luang kita…. Yesus ingin agar kita menjadi murid-Nya yang koheren, yang menyesuaikan perbuatan kita dengan iman kita. Sebab jangan sampai Tuhan hanya urusan di hari Minggu, sedang hidup dari hari Senin sampai Sabtu, tidak nyambung dengan apa yang Tuhan ajarkan. Ya, pedagang, pengusaha, dokter, insinyur, pengacara, guru, artis, pelajar, ibu rumah tangga,… semua pekerjaan ini dapat dibuat menjadi sarana bagi kita untuk menjadi saksi Kristus. Dengan menjadi saksi-Nya, kita memenuhi panggilan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, kita—meminjam perkataan St. Sirilus—“menanamkan gambar Allah” di jiwa manusia, yaitu di jiwa kita dan di jiwa sesama kita. Semoga rahmat Tuhan membantu kita menerapkan ajaran Kristus, yaitu: kejujuran, kebenaran, dan cinta kasih, dalam pekerjaan kita, mulai dari hal-hal yang kecil… agar kelak Tuhan Yesus berkenan mempercayakan hal yang besar, yang diberikan-Nya menjadi milik kita yang sejati: yaitu keselamatan jiwa kita. Amin.

Sin amnesty, mau?

0
Sumber gambar: http://seancarey.co/wp-content/uploads/2015/03/Sheepdog.jpg

[Hari Minggu Biasa XXIV: Kel 32:7-11,13-14; Mzm 51:3-19; 1Tim 1:12-17; Luk 15:1-32]

Belakangan ini ada istilah yang lumayan populer: Tax amnesty. Pengampunan pajak. Slogannya pun tak kalah menarik: Ungkap, Tebus, Lega. Melalui Tax Amnesty ini, kita sebagai umat beriman diajak untuk secara jujur “memberikan apa yang wajib kita berikan kepada Kaisar (lih. Luk 20:25)” [dalam hal ini adalah, kepada Pemerintah], sebagai tanggung jawab kita sebagai warga negara di dunia. Namun sebenarnya, sebagai umat beriman kita juga memiliki tanggung jawab, jika kita ingin kelak menjadi warga di Surga. Yaitu, untuk “memberikan apa yang menjadi hak Allah”: selain pujian dan syukur kepada-Nya, juga ungkapan tobat atas segala dosa kita. Maka slogan “Ungkap, Tebus, Lega” kurang lebih juga dapat dihubungkan dengan kehidupan rohani kita.

Di Bacaan Pertama kita mendengar kisah bagaimana bangsa Israel jatuh dalam dosa menyembah berhala, ketika Nabi Musa sedang berada di Gunung Sinai, menerima perintah Allah  (lih. Kel 32:7-8). Seakan lupa pada pertolongan Tuhan yang baru saja melepaskan mereka dari perbudakan Mesir, bangsa Israel membuat allah mereka sendiri dari emas tuangan. Namun syukurlah, atas doa syafaat Musa, dan kemurahan hati Allah, maka Allah tidak jadi menghukum bangsa Israel. Di sini nampak bahwa Allah adalah Allah yang Pengampun, dan berbelas kasih, sebagaimana kita daraskan dalam Mazmur hari ini. Kisah bangsa Israel menegur kita, agar jangan kita pun memiliki sikap serupa, yang kurang berterima kasih kepada Tuhan, “take God for granted”, dan bahkan memberikan perhatian dan penghargaan utama kepada apa-apa yang bukan Tuhan. Namun walau umat-Nya sering tidak setia, Allah tetap setia kepada umat-Nya.

Kesabaran dan belas kasih Allah paling besar dinyatakan  melalui pengorbanan Yesus Kristus, Putra-Nya yang datang ke dunia untuk menyelamatkan kita, orang berdosa. Rasul Paulus bahkan mengatakan, bahwa di antara orang-orang berdosa, ia adalah orang yang paling berdosa. Namun justru itu ia dikasihani, sebab Tuhan mau menyatakan seluruh kesabaran-Nya (1Tim 1:15-16). Demikianlah, Allah tidak pernah menyerah sampai Ia dapat mengampuni orang-orang yang telah melukai hati-Nya dengan dosa-dosa mereka. Allah, digambarkan sebagai gembala yang baik, yang terus mencari dombanya yang hilang,  atau sebagai bapa yang dengan setia menantikan anaknya yang hilang untuk kembali pulang (lih. Luk 15:4,20-32).

Nah, namun dalam membaca Injil hari ini, mungkin kita bertanya, bagaimana dengan domba-domba yang tidak hilang? Bagaimana dengan si anak sulung yang tinggal di rumah bapanya? Bukankah mereka juga layak menerima “perlakuan istimewa” seperti yang diberikan kepada domba yang hilang dan anak yang hilang? Kita perlu waspada terhadap sikap “merasa diri sudah benar” yang berujung kepada sikap iri hati kepada saudara kita yang bertobat, seperti sikap si anak sulung.  Lagipula, sejujurnya, kita perlu dengan rendah hati mengakui bahwa di dalam hidup kita, kitapun pernah, bahkan mungkin sering juga menjadi “anak yang hilang”. Kalau kita memiliki kepekaan jiwa, kitapun akan menyadari bahwa sering kita jatuh ke dalam dosa yang memisahkan kita dari Allah, yang membuat kita seolah meninggalkan-Nya, agar kita dapat mengikuti kesenangan kita sendiri. Injil hari ini mengajak kita untuk bertobat dan mengingatkan kita bahwa bagi kita pertobatan itu tidak cukup hanya terjadi sekali dalam hidup, tetapi terus menerus seumur hidup, setiap kita jatuh dalam dosa.  Allah Bapa menantikan kita kembali pulang, jika kita meninggalkan-Nya, atau menjauh daripada-Nya.   

Dalam sakramen Pengakuan Dosa, Allah bertindak melalui para imam untuk memulihkan kita kepada keadaan rahmat  dan kepada martabat kita sebagai anak-anak Allah. Yesus menetapkan sakramen ini supaya kita dapat kembali, lagi dan lagi, ke rumah Bapa dan memperoleh pengampunan- Nya. “Allah Bapa kita, ketika kita datang kepada-Nya dengan menyesal, mendatangkan sesuatu yang berharga dari keadaan kita yang menyedihkan; mendatangkan kekuatan dari kelemahan kita. Jadi apakah yang akan Ia persiapkan bagi kita, jika kita tidak meninggalkan Dia, jika kita menghadap-Nya setiap hari, jika kita menyapa-Nya dengan cinta dan meneguhkan kasih kita kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan, jika kita pergi kepada-Nya untuk segala sesuatu, mengandalkan kuasa dan belas kasih-Nya? Jika pulangnya seorang anak yang telah mengkhianatiNya cukuplah bagi-Nya untuk menyiapkan sebuah pesta, apakah yang akan Ia persiapkan bagi kita, yang telah berusaha untuk tetap selalu berada di sisi-Nya?” (St. Jose Maria Escriva, Friends of God, 309)

Melalui sakramen Pengakuan dosa, Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk bertobat dan memperoleh sin amnesty. Memang Tuhan Yesus-lah yang menebus dosa-dosa kita, namun untuk menerima penebusan dosa itu, Ia menghendaki kita mengambil bagian di dalamnya, untuk menyatakan pertobatan kita dan kesungguhan kita untuk memperbaikinya. Mari kita datang kepada-Nya dalam sakramen Pengakuan, mengungkapkan dosa-dosa kita, menebusnya dengan melakukan penitensi dan silih, agar kitapun beroleh kelegaan. Mari menikmati kelegaan, tidak saja dari tax amnesty, tetapi juga dari sin amnesty, yang dari Tuhan!

Kristus Sang Kebijaksanaan, pimpinlah kami!

0
Sumber gambar: http://www.cslewisinstitute.org/webfm_send/992

[Hari Minggu Kitab Suci Nasional: Keb 9:13-18; Mzm 90:3-17; Fil 9-10,12-17:18-19.22-24; Luk 14:25-33]

Ada pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Memasuki Bulan Kitab Suci, Gereja mengajak kita untuk semakin membaca dan merenungkan Kitab Suci. Maksudnya tentu agar kita semakin mengenal Kristus Sang Sabda Allah, dan agar kita semakin mengasihi-Nya. Kristus, dalam Kitab Perjanjian Lama kerap digambarkan sebagai “Kebijaksanaan” Allah, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama hari ini. Dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo, tertulis, “Siapa gerangan dapat mengenal kehendak-Mu kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan Kebijaksanaan, jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kau-utus?” (Keb 9:17) Samar-samar, kita melihat gambaran pernyataan diri Allah Tritunggal di sini: Allah menyatakan diri-Nya, kehendak-Nya, dalam Kebijaksanaan —yaitu Putra-Nya Yesus Kristus—dan Roh Kudus-Nya.

Dalam Bacaan Injil, Kristus menghubungkan kebijaksanaan Allah itu, dengan Salib. Sebab dengan salib suci-Nya, Yesus menyatakan kebijaksanaan Allah yang tertinggi: keadilan dan kasih Allah yang sempurna. Maka, Yesus mensyaratkan agar kita yang mau menjadi murid-Nya, harus mau mengikuti-Nya dengan memikul salib kita masing-masing. Kata Yesus, “Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:25-33). Salib Kristus bagi kita umat Kristiani, memang berarti dua hal prinsip. Yang pertama adalah betapa kejamnya dosa—sehingga dengan sedemikian menderita Putra Allah sendiri harus menebusnya—dan kedua, adalah betapa besarnya kasih Allah sampai mau memberikan diri sehabis-habisnya, rela wafat di kayu salib bagi kita.

Tiap-tiap hari, Sabda Tuhan memimpin kita untuk semakin menghidupi “misteri salib” ini. Yaitu, agar kita senantiasa mau “mati terhadap dosa” dan mau memberikan diri kepada Tuhan dan sesama. Untuk dapat memberikan diri  ini Tuhan Yesus mensyaratkan agar kita mengasihi Dia lebih daripada kita mengasihi orangtua dan sanak saudara (lih. Luk 14:26-27). Namun kita tahu, bahwa hal ini tidaklah mudah, karena kerap bententangan dengan kecenderungan kita sebagai manusia. Karena itu, Bacaan Injil hari ini juga memberitahukan kepada kita bagaimana caranya untuk memupuk kasih itu. Yaitu, dengan setiap hari rajin mengadakan pemeriksaan batin, duduk dahulu dan bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana kita telah menomorsatukan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya….” (Luk 14:28). St. Agustinus menjelaskan, “[Kata Yesus menutup khotbah-Nya], ‘Demikianlah juga, setiap orang di antara kamu yang tidak meninggalkan semua yang dimilikinya, ia tak dapat menjadi murid-Ku.’ Maka harga untuk membangun menara dan kekuatan sepuluh ribu tentara melawan raja yang punya dua puluh ribu tentara, tidak lain adalah bahwa setiap orang harus meninggalkan semua yang dimilikinya. Maka kata pengantar dari pengajaran Yesus ini berkaitan dengan kesimpulan akhirnya. Sebab dengan berkata bahwa barangsiapa meninggalkan semua yang dimilikinya, termasuk juga bahwa ia ‘membenci’ ayah dan ibunya, istrinya, dan anak-anaknya. [Membenci di sini maksudnya to love less, sebab dibandingkan kasih kepada Tuhan, kasih kepada orangtua tingkatannya ada di bawahnya.] Sebab semua ini adalah milik orang itu sendiri yang mengikatnya dan merintanginya dari memperoleh harta milik tertentu yang tidak akan berlalu dengan waktu, melainkan berkat-berkat yang akan tetap tinggal selamanya.” (St. Augustine, Catena Aurea, Luk 14: 25-33). “Meninggalkan segala miliknya” memang menjadi dasar bagi mereka yang mengikuti jejak para rasul, untuk secara khusus membaktikan diri dalam hidup membiara. Namun meninggalkan keterikatan terhadap segala yang dimiliki demi kasih kepada Tuhan, itu adalah panggilan bagi setiap orang beriman.

Tiap-tiap hari, kita dihadapkan dengan pilihan untuk berpaut pada Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, atau kita lebih memilih untuk terikat kepada apa yang kita miliki. Dengan latihan pemeriksaan batin setiap hari, dengan dipimpin sabda Tuhan, kita selalu diingatkan untuk memilih Tuhan. Mari kita membuat niat yang teguh untuk dengan tekun dan sungguh-sungguh memeriksa batin kita setiap hari. Pemeriksaan batin ini bukan hanya semata mengingat-ingat kembali tingkah laku kita di hari itu, namun lebih lagi, merupakan percakapan antara jiwa kita dengan Tuhan. Agar kita dapat melihat dengan jujur ke dalam diri kita, mungkin kita dapat berdoa sederhana sebagaimana diucapkan oleh orang buta di Yerikho, “Tuhan, bantulah aku supaya aku dapat melihat!” (lih. Mrk 10:51). Supaya aku dapat melihat apa yang memisahkanku dengan Engkau, apakah dosa dan kesalahanku, apakah yang dapat kuperbaiki… entah dalam sikapku, sifatku, pelayananku, perhatianku… agar lebih memancarkan kasih kepada orang-orang di sekitarku. Kumohon pimpinlah hidupku, ya Kristus, Sang Sabda Kebijaksanaan Ilahi. Amin.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab