Pertanyaan :
Terima kasih saya bisa mengerti secara teori penjelasan ibu, bagi saya agak kasihan posisi dokter dalam konteks tersebut kalau dijawab seperti di atas. Dan inilah yang sering membingungkan saya: antara sebuah teori dan praktek di lapangan. Dokter melakukan tugasnya dan selama proses belajar bertahun-tahun menjadi dokter, KB non alami juga termasuk materi bagi seorang calon dokter karena itu adalah materi umum kedokteran. Dan ketika dia bekerja di sebuah rumah sakit (Katolik atau non Katolik), apakah dokter bisa menolak jika ada pasien yang datang kepadanya minta KB non alami? Pasien yang datang kepada dokter dari berbagai macam keyakinan, dan pasien sekarang tahu ada begitu banyak metode KB, pasien juga tahu bahwa dokter belajar KB non alami.
Teman saya dokter selalu merasa bersalah, kalau dia melakukan KB non alami yg diminta pasien, dia tahu kalau ajaran Katolik tidak membolehkan itu, dan justru di situlah problemnya. Apakah dia harus meninggalkan pekerjaan dokternya yg dia pelajari bertahun-tahun dengan penuh penderitaan? Bukankah sebenarnya ajaran moral bukan untuk mempersalahkan tetapi membantu orang untuk hidup baik? Terima kasih atas share jawabannya
-Feliz-
Jawaban :
Shalom Feliz,
Terima kasih atas tanggapannya lebih lanjut. Kita semua tentu setuju bahwa ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan manusia pada dasarnya dan pertama-tama adalah ilmu yang bertujuan untuk menyejahterakan hidup manusia, bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari gangguan kesehatan yang membahayakan hidupnya, dan dikembangkan terus untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik kepada manusia melalui penanganan kesehatan yang baik. Seorang dokter yang mempelajari dengan sungguh-sungguh apakah sebenarnya KB non alami itu (untuk selanjutnya KB non alami akan saya sebut dengan istilah “kontrasepsi” karena bekerja dengan cara menghalangi konsepsi, yaitu pembuahan awal terbentuknya embrio manusia), mempelajari dengan seksama bagaimana cara kerjanya, dan apa saja dampaknya secara keseluruhan kepada tubuh manusia, tentu akan bertindak sangat hati-hati. Bahkan jika kesehatan pasien yang sungguh-sungguh menjadi perhatian dan tujuan utama pekerjaannya, seorang dokter dari hati nuraninya yang terdalam tidak akan memilih alat kontrasepsi sebagai sarana KB bagi para pasiennya. Apalagi kalau dokter itu adalah seorang Katolik, yang dengan pengetahuan akan terang pengajaran Gereja Katolik mengenai pengaturan kelahiran, akan dengan sungguh-sungguh menghindari pemasangan alat kontrasepsi, karena sangat jelas ditegaskan oleh ajaran Gereja, mengenai larangan pemakaian kontrasepsi. Kami sudah menjelaskan di jawaban sebelumnya, alasan Gereja melarang pemakaian alat kontrasepsi, yang menghancurkan kehidupan embrio di usianya yang sangat awal. Selain itu, kontrasepsi mengingkari prinsip union dalam relasi suami isteri yang tidak bisa dilepaskan dari aspek prokreasi yaitu terbuka terhadap kemungkinan terbentuknya kehidupan yang diciptakan Allah Bapa, melalui hubungan seksual yang kudus dan penuh kasih penghargaan di antara suami dan istri. Dan dengan kapasitasnya sebagai seorang dokter Katolik, ajaran Gereja mengenai KB alami sebagai sarana pengaturan kelahiran yang tidak menyalahi prinsip union dan prokreasi serta tidak membunuh kehidupan, dapat menjadi perhatian utamanya untuk dipelajari sungguh-sungguh dan disajikan kepada pasien sebagai sarana memenuhi kebutuhan mereka terhadap sarana KB. Apalagi KB alamiah tidak memerlukan biaya apapun dan tidak mempunyai efek samping negatif kepada tubuh manusia, khususnya wanita.
Ajaran Gereja yang adalah amanat Allah Bapa pencipta kehidupan tidak akan bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dan kelestarian kehidupan, namun justru akan semakin memuliakan hidup dan menopangnya dengan kekuatan yang kudus dan bersifat tahan lama. Ajaran sejati tentang kehidupan tidak akan melawan kehidupan dan membuatnya lebih buruk atau lebih susah, tetapi justru akan mengangkat derajat dan martabatnya kepada keadaan yang mulia seperti yang dirancang sedemikian indah sejak semula oleh Penciptanya. Dan persis seperti itulah pelaksanaan dan akibat-akibat dari ajaran Gereja mengenai kehidupan dan keluarga berencana, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu saya sangat tertarik dengan kalimat Anda sebagai berikut: Bukankah sebenarnya ajaran moral bukan untuk mempersalahkan tetapi membantu orang untuk hidup baik? Untuk menanggapi pernyataan Saudara ini, perkenankan saya menterjemahkan sebuah artikel yang diambil dari sumber ini :
What a Woman Should Know about Birth Control
Namun sebelum saya memulai, adalah penting untuk mengingat latar belakang yang pertama kali mendasari keputusan Gereja melarang pemakaian alat kontrasepsi, yaitu karena Gereja pertama-tama hendak tunduk sepenuhnya kepada Pencipta Kehidupan, yang adalah pemegang tunggal otoritas akan kehidupan manusia, melalui Firman-Nya dalam Mzm 139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku dan dalam Mzm 139:16 : mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Kedua ayat ini melahirkan iman Gereja Katolik bahwa dalam stage yang paling awal sejak bertemunya sel telur dengan sperma di dalam tubuh wanita, Tuhan telah menciptakan kehidupan dan membuatnya terus berkembang melalui tahapan selanjutnya. Tetapi adalah bukan suatu kebetulan, bahwa perkembangan sejarah dan perjalanan hidup manusia di dunia ternyata menunjukkan kepada kita fakta-fakta kebenaran yang sulit terbantahkan bahwa ajaran Gereja mengenai KB alamiah dan persatuan cinta sejati yang terbuka kepada kehidupan antara suami dan istri ternyata memang membuat keseluruhan sendi-sendi hidup keluarga dan masyarakat secara utuh menjadi lebih baik jasmani dan rohani, lebih mulia, dan sesuai dengan martabatnya yang mula-mula dari Tuhan. Setelah alat-alat kontrasepsi berkembang sebegitu rupa dalam dunia modern ini untuk memenuhi kebutuhan pengaturan kelahiran manusia, inilah fakta-fakta dari dunia penelitian kedokteran mengenai alat-alat kontrasepsi yang semuanya adalah zat dan benda tambahan yang dimasukkan atau dipasangkan kepada tubuh wanita dan pria, terutama wanita. Pada saat saya menterjemahkan secara bebas artikel di bawah ini, terngiang dalam benak saya prinsip yang pernah diajarkan oleh St Agustinus, bahwa jika kamu berontak melawan alam, maka alam akan berontak melawan kamu. Inilah artikel mengenai efek-efek samping pemakaian kontrasepsi yang saya terjemahkan secara bebas dari sumber yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Efek Negatif Penggunaan Berbagai Metode Kontrasepsi
Pil KB – mengandung kombinasi dua tipe hormon artifisial yang disebut estrogens dan progestins. Cara kerjanya adalah menghambat ovulasi, menghambat transportasi sperma, dan mengubah sifat permukaan dari dinding rahim, sehingga kalaupun pembuahan berhasil terjadi, hasil pembuahan itu akan gugur karena tidak mendapat nutrisi yang cukup dari dinding rahim tempatnya menempel untuk pertama kali (atau dengan kata lain terjadi aborsi dini).
Efek samping yang merugikan kesehatan: Pil KB meningkatkan resiko kanker panyudara menjadi 40 % lebih tinggi jika diminum sebelum seorang wanita melahirkan bayi pertamanya, dan resiko itu meningkat menjadi 70 % bila pil itu digunakan selama empat tahun atau lebih sebelum wanita melahirkan anak pertamanya. Efek negatif lain adalah tekanan darah tinggi, pembekuan darah, stroke, serangan jantung, depresi, kenaikan berat badan, dan migren. Beberapa wanita yang berhenti minum pil KB ternyata siklus haidnya tidak kunjung kembali, sampai selama setahun bahkan lebih. Walau pil KB mengurangi resiko kanker rahim dan kanker indung telur, ia meningkatkan resiko kanker payudara, kanker liver, dan kanker leher rahim. Studi juga menunjukkan bahwa virus AIDS menular lebih mudah pada wanita yang mengkonsumsi pil KB, jika suaminya mengidap HIV.
Suntik KB – Biasa dikenal dengan Depo Provera, suatu hormon progestine yang bekerja perlahan, disuntikkan di otot setiap tiga bulan sekali. Cara kerjanya adalah dengan mengurangi ovulasi, dengan menghambat transportasi sperma dan mengubah sifat permukaan dinding rahim.
Susuk KB – Atau dikenal dengan istilah Norplant, juga suatu hormon progestin yang dimasukkan dalam tabung kecil terbuat dari semacam bahan karet yang ditanam di bawah kulit untuk jangka waktu sampai dengan lima tahun.
Baik suntik maupun susuk dapat mengakibatkan aborsi dini bila pembuahan tetap berhasil terjadi. Hal itu terjadi akibat perubahan fisik dinding rahim sehingga tidak lagi mampu memberi nutrisi yang cukup untuk embrio dapat menempel dan tumbuh. Aborsi yang tidak disadari oleh wanita pemakai Norplant ini dapat terjadi lebih dari satu kali dalam setahun karena rata rata wanita berovulasi dalam lebih dari 40 % siklus suburnya saat memakai Norplant. Depo Provera mungkin menghasilkan efek yang sama karena bahannya sama-sama hormon jenis progestin. Efek negatif kepada kesehatan: penelitian menunjukkan, wanita yang memakai Depo-Provera selama dua tahun atau lebih sebelum usia 25 tahun mempunyai resiko lebih tinggi 190 % untuk menderita kanker payudara. Selain itu Depo Provera mengurangi kepadatan massa tulang dan memperburuk kadar kolesterol. Sebuah studi menunjukkan wanita yang menerima suntikan progestin selama lima tahun mengalami peningkatan resiko sebanyak 430 % untuk menderita kanker leher rahim. Tingkat resiko tertular HIV juga meningkat 240 %. Di Amerika lebih dari 50 ribu wanita terlibat dalam aksi menuntut secara hukum melawan produsen Norplant, dengan mengeluhkan berbagai efek samping yang mereka alami seperti perdarahan yang tak teratur dan nyeri otot.
Ada banyak macam lagi hormon artifisial pencegah kehamilan yang beredar di pasaran dalam berbagai bentuk seperti plester KB, aneka jenis pil, dan injeksi bulanan, yang semuanya bekerja berdasarkan prinsip yang sama dengan yang terkandung dalam pil KB sehingga juga memberikan efek negatif yang kurang lebih sama. Semua kontrasepsi hormonal juga dapat mengakibatkan kondisi ketidaksuburan (infertilitas) yang berkepanjangan setelah pemakaian kontrasepsi itu dihentikan, sehingga membuat pasangan yang ingin punya anak lagi atau sudah memutuskan untuk siap punya anak, menjadi sulit punya anak.
Metode KB dengan penghalang (barrier method)
Kondom – mempunyai catatan angka kegagalan antara 10 – 30 % karena robek atau bocor dalam pemakaian, juga karena cacat produksi, atau kerusakan akibat proses pengepakan, pengiriman, dan penyimpanan di dalam suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin.
Efek samping yang merugikan kesehatan : kondom tidak cukup mencegah penularan virus AIDS. Penelitian dengan mikroskop elektron menunjukkan bahwa rata-rata kondom memiliki lubang pori sebesar 50 kali lebih besar daripada partikel virus HIV.
Metode-metode KB dengan penghalang seperti diafragma (penghalang sperma yang dimasukkan dalam vagina), kondom, serta metode penarikan penis keluar dari vagina saat ejakulasi, memang tidak mengakibatkan aborsi dini. Namun sebuah penelitian menunjukkan metode-metode itu meningkatkan resiko terjadinya pre-eklamsia (komplikasi kehamilan yang disertai naiknya tekanan darah, penahanan cairan, dan kerusakan ginjal) yang dapat membawa pada keadaan tak sadarkan diri dalam waktu yang lama, bahkan koma. Studi menunjukkan bahwa paparan sperma pada wanita mempunyai peran melindungi kehamilan dari pre eklamsia.
Spermisida – zat pembunuh sperma yang umumnya dijual dalam bentuk gel atau terkandung dalam suatu spons vagina. Toxic Shock Syndrome (sindroma kejang karena keracunan) dihubungkan dengan pemakaian spons spermisida. Seorang peneliti mengamati bhw pasangan yang menggunakan spermisida, dalam sebulan setelah pembuahan terjadi, menerima resiko dua kali lipat melahirkan bayi yang cacat, dan dua kali lipat resiko keguguran.
IUD / intra uterine device – alat berbentuk huruf “T” ini dibuat dari bahan plastik keras, kadang mengandung tembaga atau zat hormon kontrasepsi. Dokter memasukkan alat ini ke dalam rahim wanita. Cara kerjanya adalah dengan mengiritasi dinding rahim dan menghalangi transportasi sperma.
Ketika terjadi pembuahan pada wanita dengan posisi IUD terpasang, alat ini dapat mencegah implantasi embrio dalam rahim, atau menghancurkan embrio yang baru terbentuk akibat racun tembaga dari IUD tersebut, atau melalui penyerangan oleh sistem imun tubuh ibu, sehingga terjadi aborsi dini.
Efek samping yang merugikan kesehatan: pemakaian IUD dapat menimbulkan perforasi rahim yang di kemudian hari bisa mengakibatkan pengangkatan rahim. Juga infeksi, semisal abses (bengkak) pada saluran tuba dan indung telur. Pemakaian IUD juga dikaitkan dengan meningkatnya resiko PID (Pelvic Inflammatory Disease) yaitu radang rongga panggul dan kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik adalah keadaan di mana embrio janin tidak menempel di dinding rahim seperti seharusnya, tetapi di tempat lain yang abnormal, biasanya di saluran tuba falopii. Wanita yang memakai IUD selama tiga tahun atau lebih mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk mengalami kehamilan di tuba falopii dibandingkan wanita yang tidak pernah memakai IUD. Pemakai jangka panjang bahkan masih terus mengalami peningkatan resiko terjadinya kehamilan ektopik bertahun-tahun setelah IUD dilepas. Di Amerika, kehamilan ektopik masih merupakan penyebab utama kematian bayi pada saat dilahirkan. Efek lain IUD adalah nyeri punggung, kram, dyspareunia (sakit saat bersanggama), dysmenorrhea (nyeri haid), dan ketidaksuburan (infertility).
Sterilisasi permanen : ligasi tuba dan vasektomi – Suatu tindakan operatif sebagai langkah sterilisasi secara permanen sehingga seseorang tidak pernah bisa berketurunan lagi. Ligasi tuba adalah menutup saluran tuba falopii pada wanita. Vasectomi adalah tindakan menutup saluran vas deferens (saluran tempat keluarnya sperma) dengan cara mengikat pipa saluran itu, atau kadang dengan cara memotong, membakar, atau mengangkat sebagian dari saluran itu.
Efek samping bagi kesehatan: Ligasi tuba tidak selalu berhasil mencegah kehamilan. Ketika pembuahan tetap terjadi, kemungkinannya lebih besar untuk terjadi kehamilan ektopik, yang merupakan penyebab utama kematian wanita hamil. Tambahan pula, wanita yang menjalani ligasi tuba bisa mengalami komplikasi dari proses anestesi atau pembedahannya. Komplikasinya misalnya perlubangan pada kandung kemih, perdarahan, dan bahkan berhentinya detak jantung setelah proses penggelembungan rongga perut dengan karbondioksida. Beberapa wanita juga sesekali mengalami perdarahan vagina yang berhubungan dengan nyeri yang akut di perut bagian bawah. Efek lain adalah mengurangi kenikmatan seksual, melemahkan gairah seksual, dan memperbesar resiko rahim harus diangkat seluruhnya (hysterectomy) setelah menjalani ligasi tuba. Oleh karenanya, penyesalan yang dalam setelah menjalani sterilisasi cukup umum ditemukan.
Sekitar 50% pria yang menjalani vasektomi menanggung resiko tubuhnya lantas membentuk antibodi anti-sperma. Artinya, tubuh mereka akan menganggap bahwa spermanya sendiri adalah zat asing yang harus dilumpuhkan. Hal ini meningkatkan resiko penyakit-penyakit auto imun. Beberapa penelitian menunjukkan pria yang menjalani vasektomi menghadapi resiko lebih besar untuk mengidap kanker prostat, terutama setelah 15 sampai 20 tahun sesudah vasektomi, walau sebuah studi lain tidak menemukan hubungan itu.
Perencanaan KB secara alami (KB alamiah)
Perencanaan kelahiran secara alami (KB alami) adalah metode yang sepenuhnya alami di mana suami istri dapat mengatur kesuburan mereka. Wanita dapat menentukan kapan masa suburnya dengan mengamati lendir kesuburan yang keluar dari vagina. Badan kesehatan dunia WHO telah menemukan angka kegagalan metode KB alamiah ini hanya sebesar 0.3 % – 3 %, tingkat keberhasilan yang kurang-lebih sama dengan yang dicapai oleh KB non alami (kontrasepsi) kecuali sterilisasi. KB alami tidak membutuhkan biaya apapun dan tidak menimbulkan peningkatan resiko terhadap penyakit kanker. Di Amerika, pasangan dengan KB alami yang mengalami perceraian hanya 5 %, jauh lebih kecil dari prosentase pasangan dengan kontrasepsi yang bercerai yaitu sekitar 50 %.
Lebih lanjut mengenai metode KB alamiah yaitu Metode Creighton, dapat Anda pelajari dalam artikel yang ditulis Ingrid Listiati,
silahkan klik di sini
————————————————————————————————————–
Semua fakta tentang efek negatif alat kontrasepsi di atas adalah hukum alam, bukan hukum Gereja, tetapi di sini kita bisa melihat bahwa hukum Tuhan yang dikaruniakanNya melalui Gereja-Nya tidak mungkin dan tidak bisa bertentangan dengan hukum alam dan manusia, yang diciptakanNya penuh cinta dan kecermatan yang mengagumkan sejak semula.
Di samping efek negatif yang mengganggu kesehatan secara fisik, pemakaian kontrasepsi juga mempertaruhkan kesehatan mental suami istri dan kesehatan perkawinan secara keseluruhan. Masih ditambah lagi dengan akibat-akibat sosial pada generasi muda karena pemakaian kontrasepsi di masyarakat bisa diakses oleh siapa saja, baik pasangan yang menikah maupun yang belum, yang notabene adalah kaum muda. Akibat-akibat yang harus ‘dibayar’ oleh seluruh sendi masyarakat manusia, karena keluarga adalah sel masyarakat terkecil yang membentuk sendi dasar kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Dan akibat-akibat negatif yang berdampak pada kehidupan sosial dan mengancam keharmonisan pernikahan itu ternyata sudah dinubuatkan oleh Paus Paulus VI saat beliau menulis ensiklik anti penggunaan KB non alami dalam Humanae Vitae, sebelum semua fakta itu benar-benar terjadi seperti yang kita lihat di jaman ini. Yaitu naiknya angka perceraian dan ketidaksetiaan dalam perkawinan, makin maraknya pergaulan bebas, makin tingginya jumlah kehamilan di luar nikah dan angka penyebaran penyakit menular karena hubungan seksual bebas, juga pemerosotan moral pada suami istri karena pasangan tidak terlatih untuk mengendalikan diri. Mental kontraseptif juga membiasakan suami untuk tidak menghargai kesehatan mental dan fisik istrinya. Maka kontrasepsi tidak hanya kontra kehidupan, tetapi juga kontra cinta kasih sejati dan kontra kesehatan perempuan (Kimberly Hahn dalam bukunya, Live-giving Love). Semua akibat tersebut jelas tidak membawa kita kepada kesejahteraan fisik dan moral manusia. Anda dapat membacanya secara lebih mendetil dan lugas dalam artikel yang pernah ditulis oleh Ingrid Listiati yaitu dalam “Perkawinan Katolik vs Perkawinan Dunia,
klik di sini
dan mengenai “Kemurnian di Dalam Perkawinan”,
klik di sini
Demikianlah jawaban yang dapat saya sharingkan kepada Anda, semoga menjadi masukan yang berguna bagi Anda dan teman Anda. Tentu teman Anda tidak perlu meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter. Justru dengan pengetahuan yang mendalam mengenai ajaran Gereja dan latar belakang pengajarannya, serta akibat-akibat dari kontrasepsi yang ternyata berpotensi besar untuk merusak kesehatan fisik dan mental masyarakat serta kesucian pernikahan, teman Anda mempunyai kesempatan dan keyakinan untuk berdiri teguh kepada panggilannya akan kehidupan dan akan Tuhan Sang Pencipta. Ia dapat mulai terjun dalam perjuangan mendidik masyarakat untuk mengenali indahnya metode KB alamiah yang sehat, murah, cukup akurat dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, dan tentu saja tanpa efek samping yang merugikan kesehatan. Mensejahterakan manusia baik secara fisik maupun mental. Memang di dalam dunia yang serba egosentris dan berorientasikan kemudahan dan kenikmatan sesaat ini, perjuangan itu tentu berat, tetapi bukan tidak mungkin, apalagi bila mengandalkan kerahiman Tuhan yang tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. Kami ikut berdoa bagi teman Anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Triastuti – katolisitas.org