Home Blog Page 173

Tulisan St. Yustinus Martir tentang Ekaristi

6

St. Yustinus Martir adalah seorang Bapa Gereja di abad awal yang menulis tentang pengajaran iman Kristiani. Ia adalah seorang filsuf Kristen dan seorang apologist, kelahiran Flavia Neapolis yang wafat 165 AD sebagai martir di Roma. Tidak dikatakan siapakah gurunya, namun karena dikatakan bahwa setelah pertobatannya menjadi Kristen ia mengajar di Efesus sampai tahun 135, maka diperkirakan ia mempelajari tentang iman Kristen di sana, kemungkinan dari para murid Rasul Yohanes yang hidup di Efesus. Buku St. Yustinus yang terkenal antara lain adalah First Apology, yang di dalamnya memuat ajaran tentang Ekaristi dan liturgi. Dalam bab 61-67 St. Yustinus menuliskan secara ringkas tentang tata cara penyembahan Kristiani. Ia memulai dengan liturgi Baptisan yang disebutnya dengan “Penerangan” (illumination). Pada bab 65-66, ia menuliskan tentang Ekaristi demikian:

Tetapi kami, setelah kami membaptisnya, yaitu ia yang telah menjadi percaya dan taat kepada ajaran kami, kami membawanya ke tempat dimana mereka yang disebut jemaat dikumpulkan, supaya kami bersama dapat mempersembahkan doa- doa khusuk untuk kami maupun untuk mereka yang dibaptis, dan semua orang di mana- mana, supaya kami dianggap layak; sekarang bahwa kami telah belajar tentang kebenaran, dengan perbuatan- perbuatan kami menjadi para warga yang baik dan pelaksana perintah- perintah Tuhan, supaya kami dapat diselamatkan dengan keselamatan kekal. Setelah doa- doa tersebut selesai, kami menghormati satu dengan yang lainnya… Lalu, dibawalah kepada pemimpin jemaat, roti dan piala anggur yang dicampur dengan air; dan ia mengambil itu, memberi pujian dan kemuliaan kepada Bapa alam semesta, melalui nama Allah Putera dan Roh Kudus, dan mempersembahkan ucapan syukur yang cukup panjang karena kami dianggap layak untuk menerima semua ini dari tangan-Nya. Dan ketika ia [pemimpin jemaat] telah selesai dengan doa dan ucapan syukur, semua orang yang hadir mengucapkan persetujuan mereka dengan mengatakan, Amin. Perkataan Amin adalah jawaban di dalam bahasa Ibrani yang artinya, “terjadilah demikian”. Dan ketika pemimpin telah mengucapkan terima kasih, dan semua orang telah menyatakan persetujuan mereka, mereka yang kami panggil “diakon” memberikan kepada semua yang hadir untuk dapat mengambil bagian roti dan anggur yang dicampur dengan air….

Dan makanan ini kami kenal dengan sebutan Ekaristi, dan tak seorangpun boleh mengambil bagian di dalamnya, selain ia yang percaya bahwa hal- hal yang kami ajarkan adalah benar dan ia yang telah dibaptis untuk penghapusan dosa- dosa, dan untuk kelahiran kembali, dan ia yang hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Sebab bukanlah seperti roti dan minuman biasalah yang kami terima, tetapi, seperti Yesus Kristus Penyelamat kita, yang telah menjelma menjadi daging oleh Sabda Allah, mempunyai daging dan darah untuk penyelamatan kita, demikianlah juga, kami diajarkan bahwa makanan yang telah diberkati oleh doa dari Sabda-Nya dan daripada perubahannya (transmutation) tubuh dan darah kita dikuatkan, adalah daging/tubuh dan darah Yesus yang telah menjelma menjadi daging. Sebab para rasul, dalam ajaran-ajaran Yesus yang mereka susun yang disebut Injil, telah menurunkan kepada kita apa yang telah diajarkan kepada mereka; yaitu bahwa Yesus mengambil roti, dan ketika Ia telah mengucap syukur, berkata, “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku, inilah Tubuh-Ku: Dan lalu dengan cara yang sama, setelah mengambil piala dan mengucap syukur, Ia berkata, “Inilah Darah-Ku”, dan memberikannya kepada mereka….

Lalu St. Yustinus menyimpulkan tentang tata cara penyembahan Kristiani dengan menyebutkan secara khusus tentang pengudusan hari Minggu sebagai Hari Tuhan dengan Misa Kudus (bab 67):

Dan pada hari yang disebut Minggu, semua yang hidup di kota maupun di desa berkumpul bersama di satu tempat, dan ajaran-ajaran para rasul atau tulisan- tulisan dari para nabi dibacakan, sepanjang waktu mengijinkan; lalu ketika pembaca telah berhenti, pemimpin ibadah mengucapkan kata- kata pengajaran dan mendorong agar dilakukannya hal- hal yang baik tersebut. Lalu kami semua berdiri dan berdoa, dan seperti dikatakan sebelumnya, ketika doa selesai, roti dan anggur dan air dibawa, dan pemimpin selanjutnya mempersembahkan doa- doa dan ucapan syukur… dan umat menyetujuinya, dengan mengatakan Amin, dan lalu diadakan pembagian kepada masing- masing umat, dan partisipasi atas apa yang tadi telah diberkati, dan kepada mereka yang tidak hadir, bagiannya akan diberikan oleh diakon. Dan mereka yang mampu dan berkehendak, memberikan (persembahan) yang dianggap layak menurut kemampuan mereka, dan apa yang dikumpulkan oleh pemimpin, ditujukan untuk menolong para yatim piatu dan para janda dan mereka yang, karena sakit maupun sebab lainnya, hidup berkekurangan, dan mereka yang ada dalam penjara dan orang asing di antara kami, pendeknya, ia (pemimpin) mengatur [pertolongan bagi] semua yang berkekurangan. Tetapi hari Minggu adalah hari di mana kami mengadakan ibadah bersama, sebab hari itu adalah hari yang pertama, yaitu pada saat Tuhan, setelah mengadakan pengubahan dalam kegelapan dan matter, telah menciptakan dunia; dan Yesus Kristus Penyelamat kita pada hari yang sama telah bangkit dari mati. Sebab Ia telah disalibkan pada hari sebelum hari Saturnus (Sabtu); dan pada hari setelah hari Saturnus, yaitu hari Minggu, setelah menampakkan diri kepada para rasul dan murid-Nya, Ia mengajarkan kepada mereka hal- hal ini…..”

Maka kita mengetahui St. Yustinus di awal abad ke- 2 sudah mengajarkan tata perayaan Ekaristi seperti yang diadakan oleh Gereja Katolik sekarang ini, walaupun memang dalam tulisannya tidak disebutkan teks ibadahnya ataupun lagu- lagunya secara rinci. Namun dalam tulisannya ini sudah tertulis adanya pembagian liturgi Sabda, dimana dibacakan ajaran para nabi dan para rasul dan liturgi Ekaristi. Sedangkan teks liturginya sendiri mengalami masa perkembangan sampai terjadi teks yang baku seperti sekarang ini, namun teks ini tidak menyalahi apa yang sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak abad- abad awal. Dengan demikian, kita mengetahui bahwa cara ibadah yang dilakukan oleh Gereja Katolik sekarang ini memang berasal dari jaman para rasul dan jemaat perdana. Berbahagialah kita yang tetap dengan teguh berpegang kepada cara ibadah ini seperti yang dikehendaki oleh Yesus sendiri, dan yang telah diturunkan dengan setia oleh para rasul dan para penerus mereka.

Tentang Kitab Kidung Agung

1

Ada banyak umat Katolik sering bingung dalam menafsirkan kitab Kidung Agung. Komentar dalam buku A Catholic Commentary on Holy Scripture, gen ed. Dom B. Orchard, O.S.B. p. 496- 498 tentang kitab Kidung Agung dapat membantu kita untuk lebih mengerti kitab yang begitu puitis dan penuh makna.

Kitab Kidung Agung selalu dikenali sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sehingga termasuk dalam kanon Kitab Suci. Kitab ini termasuk dalam Kitab-kitab puitis.

Kitab ini berisi kidung kasih antara dua orang gembala muda, yang saling memuja keelokan satu sama lain dan keinginan mereka untuk kesatuan yang tidak terceraikan.

Kitab ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, sebagai berikut:

1. 1:1- 2:7; Mempelai perempuan merindukan kekasihnya. Kedua mempelai saling memuja, saling bertemu.

2. 2:8-3:5; Mempelai perempuan diundang ke padang rumput, di sore hari mereka kembali ke rumah; mempelai perempuan gelisah sampai ia bertemu lagi dengan mempelai laki-laki.

3. 3:6-5:1; Kemegahan pawai kerajaan; mempelai laki-laki terpesona akan ke-elokan mempelai perempuan-nya dan ia bersuka cita karenanya.

4. 5:2- 6:2; Ketika mempelai perempuan itu berada di tempat tidur, mempelai laki-laki datang tanpa diduga; namun kemudian sang mempelai laki-laki menghilang; mempelai perempuan itu keluar untuk mencarinya; penjabaran tentang mempelai laki-laki; suka cita atas persatuan mereka.

5. 6:3- 8:4; Kekaguman mempelai laki-laki atas kecantikan mempelai perempuannya; keduanya saling memuji; mempelai perempuan menyatakan keterikatannya yang tak tergoyahkan terhadap mempelai laki-laki.

6. 8:5-7; Kedua kekasih itu bersatu tak terpisahkan

7. 8:8-14; Penutup.

Interpretasi Kitab Kidung Agung:
Pandangan dari para penafsir Alkitab non-Katolik adalah menafsirkan kitab ini sebagai puisi erotik, untuk meninggikan keutamaan monogami dan kesetiaan perkawinan. Namun para Bapa Gereja begitu yakin akan makna spiritual dari kitab ini sehingga mereka tidak mementingkan arti literalnya. Bukti yang mereka gunakan adalah adanya banyak ayat-ayat dalam PL yang menggambarkan hubungan Allah dan bangsa Israel sebagai hubungan suami dengan istri. Allah telah memilih Israel sebagai Pasangan-Nya, mendandaninya dengan emas dan perak, pakaian yang indah dan membuatnya terkenal di antara bangsa-bangsa (Yeh 16:3-14; lih. Yes 54:6 dst; 62:4-dst; Yer 2:2, Hos 2:19).

Terdapat beberapa jenis cara menginterpretasikan ayat- ayat Alkitab, dan jika dikaitkan dengan kitab Kidung Agung ini, dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Typical Interpretation: jika ingin menginterpretasikan secara literal; namun kelihatannya ini tidak ada basisnya.  Karena tipe ini menghubungkan teks dengan fakta sejarah/ orang tertentu. Kebanyakan kejadian ini dikaitkan dengan perkawinan Raja Salomo dengan anak Pharaoh (1 Raj 3:1). Namun ini tidak berdasar, sebab tidak mungkin perkawinan Salomo, raja yang poligami dapat menjadi gambaran akan ikatan persatuan Allah dengan bangsa Israel yang sifatnya monogami.

Maka para ahli Alkitab menyimpulkan bahwa yang dimaksudkan oleh pengarang kitab ini adalah untuk mengajarkan kasih dan kekudusan perkawinan seperti yang di-institusikan oleh Tuhan. Oleh Tuhan, persatuan perkawinan ini dijadikan lambang persatuan Kristus dengan Gereja-Nya dan akan besarnya kasih-Nya kepada Gereja.

2. Parabolic interpretation: Kitab ini menjabarkan dengan literal kasih di antara kedua gembala dengan pandangan untuk menggambarkan kasih Tuhan kepada manusia. Maka artinya harus dilihat dalam keseluruhan kitab, dan bukannya pada detail- detail tertentu; sebab detail itu hanya bertujuan untuk membuat gambaran menjadi lebih aktual.

3. Allegorical interpretation: Para Bapa Gereja menggunakan cara interpretasi allegoris untuk menjelaskan tentang ‘perkawinan’/ persatuan antara Kristus dan Gereja-Nya. Beberapa elemen allegoris dapat dilihat di sini misalnya dengan menggambarkan Allah sebagai gembala. Gambaran Allah sebagai gembala adalah metafor yang umum di Perjanjian Lama (lih. 23:1; 80:1; Yer 31:10; Yeh 34:11, 19; Zak 11:17).

4. Parabolic-allegorical interpretation: Campuran antara cara no 2 dan 3. Interpretasi ini menganggap kitab Kidung Agung sebagai kitab perumpamaan yang menempatkan kejadian imajiner dan kejadian nyata secara berdampingan. Maka detail-detail yang ada dapat dianggap sebagai hiasan literal yang tidak mempunyai nilai/fakta sejarah.

Walaupun cara interpretasi parabolik-allegoris (no.4) ini kelihatan lebih sesuai daripada tipologi (no.1) namun tak bisa dipungkiri bahwa kitab ini mengajarkan pelajaran moral tentang kesucian perkawinan yang kemudian diangkat oleh Yesus ke tingkat sakramen.

Maka para ahli Alkitab (Nichloas de Lyra, Jouon dan Ricciotti) cenderung menggunakan cara allegoris untuk menginterpretasikan kitab ini, yaitu untuk menggambarkan hubungan antara Tuhan (Yahwe) dengan umat-Nya Israel. Sedangkan para penafsir yang lain seperti pada jaman Hyppolytus sampai sekarang, menafsirkan bahwa kitab ini merupakan allegori dari persatuan antara Kristus dengan Gereja-Nya. Dasar dari interpretasi ini adalah banyaknya pengajaran di Perjanjian Baru yang menyebabkan dasar pondasi Gereja sebagai  sebuah perjamuan kawin (Mat 22:1-4), di mana Kristus adalah Mempelai laki-laki dan Gereja adalah mempelai perempuan (Mat 9:15; juga Yoh 3:29; 2 Kor 11:2; Ef 5:23-32; Why 21:9).

Interpretasi tersebut merupakan perkembangan dari pengertian Yahudi [tentang hubungan Allah dan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan]. Sebab dalam rencana keselamatan Allah, pemilihan Israel sebagai bangsa pilihan merupakan persiapan bagi pendirian Gereja oleh Kristus. Maka pemilihan bangsa Israel dan pendirian Gereja selayaknya tidak dilihat sebagai dua realitas yang terpisah, tetapi sebagai dua tahapan yang saling berkaitan dalam karya keselamatan Allah. Kasil Allah kepada bangsa Israel menjadi gambaran akan kasih Kristus kepada Gereja-Nya.

Mengenai interpretasi Yahudi memang kita melihat bahwa dalam kitab-kitab nubuatan dimana hubungan Allah dan bangsa Israel digambarkan sebagai hubungan suami dan istri, walaupun ada kitab yang menggambarkan Allah sebagai Bapa dan Israel sebagai anak-Nya yang sulung (Kel 4:22- dst). Dalam penggambaran suami dan istri ini, Allah digambarkan sebagai suami yang setia dan Israel sebagai istri yang tidak setia (lih. Yes 50:1; Yer 3:8; Yeh 16:1-58, Hos 2).  Israel  tidak setia, bahkan sejak hari pertama perkawinan (Yeh 16:15; Hos 9:10). Ketidaksetiaan bangsa Israel ini terlihat dari sejak hari perjanjian antara Allah dan Israel di gunung Sinai sampai Israel kembali dari masa pembuangan. Namun hal ketidaksetiaan dan masa pembuangan ini tidak berlangsung selamanya. Allah kemudian memulihkan bangsa Israel dan kembali bersatu dengannya. Pernyataan kembali bangsa Israel oleh Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi (Yes 49:14; 54:6 dst; Yeh 16:59-63; Hos 2:19). Ini adalah rekonsiliasi antara Allah dan bangsa Israel, yang menjadi topik dalam kitab Kidung Agung.

Selanjutnya dari interpretasi allegoris, kita dapat menginterpretasikan persatuan ini sebagai persatuan antara Kristus (Mempelai laki-laki) dengan jiwa orang beriman (mempelai perempuan). Interpretasi ini diajarkan oleh Origen, dan diteruskan oleh St. Bernardus di abad pertengahan, yang menghubungkannya dengan interpretasi Mariologis. Bunda Maria tidak saja adalah anggota Gereja yang tersuci namun ia juga yang memungkinkan tercapainya persatuan mistik antara Putera Allah dengan manusia.

Kitab Kidung Agung diperkirakan dituliskan sekitar abad 8 sebelum Masehi (sesudah abad ke-8 BC). Jika topik yang dibicarakan dalam kitab ini adalah rekonsiliasi antara Allah dengan bangsa Israel, maka diperkirakan kitab ini disusun pada akhir masa pembuangan (Exile) atau sesudahnya, yaitu sekitar masa kerajaan Persia. Ini juga terlihat dari karakter anthologis dari puisi yang digunakan.

Pandangan ajaran iman Katolik mengenai pendidikan

1

Ajaran Gereja Katolik menyangkut soal iman, termasuk pendidikan iman dan moral; namun bukan pendidikan ilmu pengetahuan/ sains.  Iman Katolik tidak mengajarkan secara langsung tentang hal ilmu pendidikan sains seperti matematika, fisika, biologi, dst; walaupun logika dan common sense  yang berkaitan dengan keadilan, secara prinsip diajarkan dalam iman Katolik; dan bahwa iman dan akal budi (yang dibentuk oleh pendidikan) keduanya sama- sama menghantar seseorang kepada kebenaran.

Prinsip berikutnya adalah, pendidikan iman berdasarkan Sabda Tuhan itu derajatnya lebih tinggi, mengingat iman adalah sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan kekal; sedangkan sains lebih menyangkut kepada kehidupan di dunia ini. Sebagaimana tercantum dalam 2Tim 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Tentang pendidikan iman anak inilah tugas utama dari para orang tua, “Barangsiapa mendidik anaknya dengan tertib akan beruntung karenanya, dan di kalangan para kenalan boleh membanggakannya.” (Sir 30:2)

Tentang pendidikan iman, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1653  Kesuburan cinta kasih suami isteri terlihat juga di dalam buah-buah kehidupan moral, rohani, dan adikodrati, yang orang-tua lanjutkan kepada anak-anaknya melalui pendidikan. Orang-tua adalah pendidik yang pertama dan terpenting. (Bdk Gravissimum Educationis, 3) Dalam arti ini, maka tugas mendasar dari perkawinan dan keluarga terletak dalam pengabdian kehidupan. (Bdk. Familiaris Consortio, 28)

KGK 1784 Pembentukan hati nurani adalah suatu tugas seumur hidup. Sudah sejak tahun-tahun pertama ia membimbing seorang anak untuk mengerti dan menghayati hukum batin yang ditangkap oleh hati nurani. Satu pendidikan yang bijaksana mendorong menuju sikap yang berorientasi pada kebajikan. Ia memberi perlindungan terhadap dan membebaskan dari perasaan takut, dari ingat diri dan kesombongan, dari perasaan bersalah yang palsu, dan rasa puas dengan diri sendiri, yang semuanya dapat timbul oleh kelemahan dan kesalahan manusia. Pembentukan hati nurani menjamin kebebasan dan mengantar menuju kedamaian hati.

KGK 2206 Hubungan keluarga menghasilkan satu kedekatan timbal balik menyangkut perasaan, kecenderungan, dan minat, terutama kalau anggota-anggotanya saling menghormati. Keluarga adalah satu persekutuan dengan kelebihan-kelebihan khusus: ia dipanggil untuk mewujudkan “komunikasi hati penuh kebaikan, kesepakatan suami isteri, dan kerja sama orang-tua yang tekun dalam pendidikan anak-anak” (Gaudium et Spes  52,1).

KGK 2526 Yang dinamakan permisivitas moral adalah pandangan yang berdasar atas anggapan keliru mengenai kebebasan manusia. Perkembangan kebebasan membutuhkan pendidikan melalui hukum kesusilaan. Dari para pendidik, dituntut bahwa mereka menyampaikan kepada kaum muda satu pelajaran yang menghormati kebenaran, sifat-sifat hati, dan martabat manusia yang bersifat susila dan rohani.

Sedangkan pengajaran dari Kitab Hukum Kanonik dalam Gereja Katolik mengenai pendidikan adalah sebagai berikut:

KHK 795      Karena pendidikan yang sejati harus meliputi pembentukan pribadi manusia seutuhnya, yang memperhatikan tujuan akhir dari manusia dan sekaligus pula kesejahteraan umum dari masyarakat, maka anak-anak dan kaum muda hendaknya dibina sedemikian sehingga dapat mengembangkan bakat-bakat fisik, moral, dan intelektual mereka secara harmonis, agar mereka memperoleh rasa tanggungjawab yang lebih sempurna dan dapat menggunakan kebebasan mereka dengan benar, dan terbina pula untuk berperan-serta secara aktif dalam kehidupan sosial.

KHK 796 § 1     Di antara sarana-sarana penyelenggaraan pendidikan, hendaknya umat beriman kristiani menjunjung tinggi sekolah-sekolah yang sangat membantu para orangtua dalam memenuhi tugas mendidik.

KHK 1136      Orangtua mempunyai kewajiban sangat berat dan hak primer untuk sekuat tenaga mengusahakan pendidikan anak, baik fisik, sosial dan kultural, maupun moral dan religius.

KHK 1154     Bila terjadi perpisahan suami-istri, haruslah selalu diperhatikan dengan baik sustentasi dan pendidikan yang semestinya bagi anak-anak.

Dalam surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Fides et Ratio, di bagian pembukaannya beliau menulis: “Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth….”  (Iman dan akal budi adalah seperti dua sayap yang atasnya roh manusia naik kepada kontemplasi kebenaran….)

(oleh: Caecilia Triastuti dan Ingrid Listiati – katolisitas.org)

Catatan :

GE : Gravissimum Educationis  (dokumen Konsili Vatikan II tentang “Pernyataan Pendidikan Kristen”)
FC: Familiaris Consortio (anjuran Apostolik tentang Peranan keluarga Kristiani dalam dunia modern)
GE : Gaudium et Spes (dokumen Konsili Vatikan II tentang “Konstitusi Pastoral Gereja di dunia dewasa ini”)

Komentar tentang film Maria Magdalena

19

Sudah seharusnya, kita bersikap kritis untuk menyikapi segala sesuatu yang di-film-kan, karena belum tentu semua yang di-film-kan itu benar/ obyektif. Apalagi jika itu merupakan kejadian di abad-abad awal, yang tentunya masih perlu dibuktikan apakah itu bersumber dari naskah/ karya tulis yang bisa dipertanggungjawabkan ke-otentikannya. Apakah itu naskah itu benar-benar ditulis oleh Maria Magdalena, misalnya, (mengingat pada jaman itu banyak Injil lain yang dituliskan oleh kaum Gnostics). Apakah ada naskah lain dari para rasul maupun bapa Gereja yang mendukung kebenaran tulisan tersebut. Bagi umat Katolik, tentu kita tidak berpegang kepada Injil karangan Maria Magdalena ini, karena memang tidak pernah termasuk dalam Kanon Kitab Suci (dan karenanya, merupakan karya tulis manusia biasa yang tidak terilhami oleh Roh Kudus). Jadi jika kita melihat secara obyektif, rasanya kita perlu melihat, bahwa segala yang disampaikan pada film itu adalah semacam ‘hipotesa’/ perkiraan sehingga tidak bersifat mengikat, yang membuat kita harus mempercayainya.

Magisterium Gereja Katolik memang tidak pernah mendefinisikan secara tertulis siapa sebenarnya Maria Magdalena ini. Yang ada adalah tulisan para bapa Gereja yang memang menyamakan antara Maria Magdalena, Maria dari Betania, dan perempuan yang berdosa, yang daripadanya Yesus mengusir 7 roh jahat.

Memang terdapat beberapa pendapat bahwa ketiga identitas itu mengacu kepada tiga orang yang berbeda atau jika tidak dua orang, atau yang mengatakan bahwa Maria yang duduk di kaki Yesus tidak mungkin sama dengan wanita pendosa. Namun, menurut tradisi Gereja Katolik, justru karena kuasa pengampunan dari Tuhan Yesus itulah, maka Maria Magdalena, yang tadinya hidup sebagai pendosa, dan yang darinya diusir tujuh roh jahat(Luk 8:2) , maka setelah bertobat, ia dapat sungguh menjadi murid Yesus yang setia, yang memilih untuk duduk mendengarkan Yesus daripada melakukan sesuatu yang lain ketika Yesus datang ke rumahnya (lih. Luk 10:38-42).
Maka urutannya adalah sebagai berikut:

1. Pertama-tama Maria Magdalena datang kepada Yesus sebagai pendosa. Ia mengurapi Yesus, memohon pengampunan dan memperoleh pengampunan dari pada-Nya (Luk 7:36-50).
2. Ia adalah seorang yang daripadanya diusir tujuh roh jahat, yang setelah disembuhkan oleh Yesus mengikuti Yesus (Luk 8:2).
3. Setelah bertobat, yang menjadi keinginannya adalah duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya (Luk 10:38-42)
4. Maria, bersama Martha berpasrah kepada Yesus saat saudaranya Lazarus meninggal dunia (Yoh 11:1-44)
5. Tak lama sesudahnya, Maria dan Martha menjamu Yesus, dan Maria Magdalena mengurapi Yesus kembali sebagai lambang pertobatannya (Yoh 12:1-8; Mat 26: 6-13, Mrk 14:3-9).
6. Pada saat Yesus disalibkan, ia berdiri di dekat salib Yesus (Yoh 19:25), bersama dengan Bunda Maria dan Maria istri Klopas.
7. Pada saat kebangkitan Yesus, ia datang ke kubur dengan maksud mengurapi Yesus dengan minyak, namun ternyata melihat Yesus yang bangkit (Yoh 20:11-18).

Mungkin yang cukup berpengaruh dalam hal ini adalah khotbah/ homili dari Paus Gregorius I tahun 591 yang mengatakan, “Ia yang dikatakan sebagai perempuan pendosa, yang dipanggil Maria dari Betani oleh Rasul Yohanes, kita percayai sebagai Maria yang daripadanya Yesus mengusir tujuh setan menurut Rasul Markus.” Namun Paus Gregorius  menyebutnya sebagai “pendosa”/ peccatrix dan bukannya “pelacur”/ meretrix.

Tradisi Gereja Orthodox memang membedakan Maria Magdalena dengan Maria dari Betania dan perempuan yang berdosa. Pendapat ini juga kelihatannya dipegang oleh beberapa komentator Protestan. Kebanyakan mereka tidak dapat menerima bahwa Maria dari Betani ini diidentifikasikan sebagai ‘pendosa’; karena pada ayat Luk 10:38-42 dikatakan Maria dapat duduk di kaki Yesus untuk mendengarkan Yesus. Sedangkan menurut pengajaran para Bapa Gereja, justru karena belas kasihan Yesus yang telah mengusir ketujuh roh jahat daripadanya, dan pengampunan Yesus atas segala dosanya, maka ia dapat duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkanNya. Jika diperhatikan, ini malah sesuai dengan prinsip mereka yang diampuni lebih banyak akan mengasihi lebih banyak (lih. Luk 7:47)

Bahwa kemudian jika kita berpegang pada tradisi pengajaran Bapa Gereja yaitu bahwa Maria Magdalena, perempuan yang berdosa yang telah diampuni menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus, ini juga sesuai dengan perkataan Injil hari ini bahwa ‘mereka yang terakhir menjadi yang terdahulu’ (Mat 19:30; 20:16; Mrk 10:31; Luk 13:30), sebab memang demikianlah orang memandang wanita yang berdosa sebagai yang terakhir, sedangkan oleh pertobatannya dan pengampunan Tuhan, maka wanita itu menjadi yang terdahulu menjadi saksi kebangkitan Yesus.

Namun untuk menjawab apakah Maria Magdalena menjadi ‘The Apostle of Apostles‘ (istilah ini dibuat oleh Karen King dari Harvard Divinity School, 1998),  kita perlu berhati- hati. Karena menjadi saksi kebangkitan yang pertama, tidak menjadikannya otomatis sebagai rasul. Sebab pada saat menampakkan diri kepada Maria Magdalena, yang dikatakan oleh Yesus juga adalah “Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea dan di sanalah mereka akan menlihat Aku.” (Mat 28:10). Maka kita melihat bahwa Yesus tetap menempatkan para rasul sebagai pengikut-Nya yang utama, yang kemudian diutus-Nya untuk pergi ke seluruh dunia, untuk membaptis dan memberitakan Injil (lih. Mat 28:19-20).

Injil Maria Magdalena sendiri sesungguhnya berbau Gnosticism, yang muncul dalam teks Nag Hammadi yang memuat pertentangan antara Maria Magdalena dan Rasul Petrus. Teks ini menunjukkan adanya kemiripan dengan Injil Thomas, Pistis Sophia dan Injil Yunani dari orang-orang Mesir, yang kesemuanya tidak termasuk dalam Kanon Kitab Suci. Sekali lagi, kita mengetahui bahwa tulisan-tulisan di atas tidak termasuk dalam Wahyu Ilahi, dan dengan demikian, tidak dapat kita terima sebagai kebenaran. Apalagi Rasul Paulus sendiri sudah berkali-kali menyebutkan bahwa meskipun pada jamannya, sudah ada banyak orang yang menuliskan injil-injil yang berbeda dengan Injil yang diberitakan oleh para rasul (lih. Gal 1:6-7).

“Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.”

Maka kita tidak pernah tahu sesungguhnya, siapa pengarang asli dari Injil-injil tersebut dan apakah motivasinya. Sebab Injil Gnostics, umpamanya mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, seperti penolakan mereka akan “matter“, sehingga mereka melihat tubuh sebagai sesuatu yang buruk dan merendahkan makna perkawinan. Dalam injil Maria Magdalena ini, Maria Magdalena dikisahkan percaya bahwa ia akan dijadikan oleh Tuhan menjadi laki-laki,  “Let us rather praise his (God’s) greatness, for He prepared us and made us into men.” … Sebab tubuh dipandang buruk, apalagi tubuh wanita.

Belum lagi injil-injil yang malah menuliskan seolah-olah ada hubungan khusus antara Yesus dengan Maria Magdalena ini, sehingga ada banyak orang disesatkan oleh pikiran bahwa Yesus adalah manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena! Mempelai Yesus adalah Gereja (Ef 5:25-33), dan Yesus datang ke dunia justru karena ingin memberikan nyawa-Nya kepada Gereja-Nya. Maka ajaran yang menyebutkan bahwa Yesus mempunyai mempelai lahiriah yang lain adalah sangat keliru dan bertentangan dengan Alkitab. Jadi, peringatan Rasul Paulus  di atas (Gal 1:6-7) harus ada dalam pemikiran kita, bahwa pada saat itu memang ditemui teks- teks injil yang ‘mengacaukan’. Di sinilah peran Magisterium Gereja Katolik yang pada abad ke -4 menentukan Kanon kitab-kitab dalam Kitab Suci, berdasarkan tulisan para Bapa Gereja, dan kesatuan ajaran-nya dengan Injil yang diberitakan para Rasul.

Memang ada yang berpendapat bahwa pemilihan para rasul dikaitkan dengan kultur maskulin, yang seolah menentang peran perempuan. Namun jika kita melihat dengan obyektif, yang dibatasi dalam hal ini adalah peran mengajar (menjadi Magisterium) dan bukannya dalam hal- hal yang lain. Yesus sudah memilih ke-12 rasulNya, dan Maria Madgalena tidak termasuk di dalamnya, dan bahkan Ibu Maria, tidak juga termasuk dalam bilangan para rasul (Namun tidak berarti peran Bunda Maria ada di-bawah para Rasul). Maka, menurut saya, tidak perlu resah, mangapa Maria Magdalena tidak termasuk dalam bilangan para rasul. Ada banyak peran lain yang dapat dilakukan oleh para wanita dalam hal kerasulan awam, namun yang tertahbis memang hanya pria, sebab memang oleh kebijaksanaan-Nya, Yesus hanya memilih para pria untuk menjadi para rasul-Nya.

Perihal apakah sebenarnya Maria Magdalena, wanita pendosa, dan Maria dari Betania adalah seorang pribadi yang sama, memang merupakan misteri. Ini memang tak bisa sepenuhnya dibuktikan secara pasti, sebab sumbernya ‘hanya’ tulisan para Bapa Gereja; namun juga tanggapan bahwa ketiga identitas itu bukan merupakan orang yang sama, juga tidak dapat dibuktikan secara pasti, sebab tanda bukti yang diambil malah tak bisa kita percayai ke-otentikannya. Bagi saya, lebih baik mempercayai tulisan para Bapa Gereja yang setidak-tidaknya mempunyai hubungan dengan para penerus rasul yang hidup pada masa Maria Magdalena, daripada mempercayai teori orang-orang modern yang tidak mempunyai hubungan dengan masa lalu, kecuali dari fragmen-fragmen tulisan yang tidak dapat diketahui ke-otentikan-nya.

Tentang Fenomena Fr. Gobbi

3

Menurut informasi yang kami sarikan dari link EWTN (Eternal Word Television Network), silakan klik, dapatlah kita simpulkan dua hal yang berbeda, yang berkaitan dengan Fr. Stefano Gobbi: 1) Gerakan The Marian Movement of Priests yang diprakarsai/ didirikan oleh Fr. Gobbi di tahun 1972 merupakan gerakan yang diakui/ diterima oleh Tahta Suci. 2) Namun hal lokusi/ pengalaman rohaninya (interior locusions)-nya  belum mendapat pengakuan dari Tahta Suci.

The Marian Movement of Priests adalah sebuah asosiasi klerus Katolik dan kaum awam pembantu mereka, yang didirikan oleh Fr. Gobbi. Ketika mengunjungi tempat ziarah di Fatima, Portugal, ia terdorong untuk memulai karyanya ini yang menekankan kepada konsekrasi -terutama para imam- kepada Hati Maria yang tak bernoda, dan kesetiaan yang menyeluruh kepada Magisterium. Gerakan ini mempopulerkan doa senakel, yaitu doa bagi para imam, di seluruh dunia.

Namun demikian, gerakan ini juga mempunyai kontroversi dalam hal pernyataan Fr. Gobbi yang mengklaim telah menerima pesan-pesan dari Bunda Maria, yang dicatatnya dalam buku hariannya. Buku ini dicetak dengan judul To the Priests, Our Lady’s Beloved Sons (yang kemudian diganti menjadi Our Lady Speaks to Her Beloved Priests). Walaupun sudah dicetak, tidak berarti bahwa pesan yang tertulis di dalamnya otentik. Kongregasi Ajaran Iman di Vatikan mengeluarkan surat kepadanya, meminta agar Fr. Gobbi menyatakan secara eksplisit bahwa pesan-pesan itu hanyalah buah dari meditasinya sendiri. Namun Fr. Gobbi mengatakan bahwa ia mempercayainya bahwa apa yang dinyatakan kepadanya adalah benar.

Namun fakta menunjukkan bahwa beberapa pernyataannya tentang akhir dunia, terbukti salah. Pada tanggal 11 Sept 1988 Fr. Gobbi mengklaim bahwa Bunda Maria mengatakan, bahwa dalam waktu 10 tahun (yaitu 1998) selesailah masa ‘great tribulation‘ dan artinya terjadi akhir dunia. Namun faktanya, hal ini tidak terjadi. Beberapa pernyataan ‘locutions‘- nya yang lain, yang disebutkan juga di link yang Anda sertakan (atau juga di link ini, silakan klik),  juga tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Melihat kenyataan ini, seseorang dapat  mempertanyakan keotentikan lokusi-lokusi yang dialami Fr. Gobbi. Fakta ini juga menunjukkan bahwa seorang yang baik dan kudus hidupnya tetap dapat salah menginterpretasikan pengalaman rohaninya. Hal ini tidak dapat menjadi indikasi bahwa Fr. Gobbi menipu, namun faktanya saja, bahwa ia sebagai manusia, dapat salah menginterpretasikan pengalaman rohaninya, sekalipun ia bermaksud baik pada saat menyampaikannya.

Sebelum wafatnya di tahun 2011 yang lalu, Fr. Gobbi selalu bersikap kooperatif ketika diperiksa oleh pihak Vatikan, dan kini setelah ia wafat, pemeriksaan tentang keotentikan lokusi dan pesan- pesan dari Bunda Maria kepada para imamnya dan para awam yang mendukung mereka, akan terus berlanjut.

Mari kita percayakan hal pemeriksaan ini kepada pihak otoritas Gereja Katolik, yang pasti akan menelitinya dengan seksama, sebelum mengeluarkan suatu pernyataan sehubungan dengan fenomena yang dialami oleh Fr. Gobbi ini.

Memikul salib = berpegangan pada salib

1

Saya meletakkan gagang telepon dengan kesal, setelah sebelumnya mengakhiri percakapan dengan ketus. Kemudian saya tercenung, sesaat terbayang perasaan wanita yang menawarkan produk kepada saya tadi, dan seketika perasaan menyesal pun datang. Ya ampun, gagal lagi deh saya, pikir saya dengan sendu. Teringat tadi ketika bangun tidur, saya mengatakan kepada Tuhan dalam doa pagi, “Tuhan, hari ini saya hendak menyapa semua orang dengan lemah lembut dan tidak menghakimi siapapun juga”. Saya begitu bersemangat ketika menyampaikan tekad itu. Pasti Tuhan gembira bahwa dalam Masa Prapaskah ini, saya mengusahakan satu niat baik yang berbeda setiap hari untuk diusahakan sekuat tenaga, sehingga masa pantang dan puasa menjelang Paskah ini sungguh merupakan kesempatan untuk bertransformasi, berubah menuju pembaharuan budi, menyalibkan kebiasaan-kebiasaanku yang buruk bersama Yesus di kayu salib, supaya aku boleh ikut mati bagi dosa dan hidup bersama dan bagi Yesus. Tetapi kini saya merasa kecil dan malu. Semangatnya boleh, pikir saya, tapi baru dapat tantangan sedikit saja, sudah keok.

Pagi itu saya sedang banyak pekerjaan. Saat sedang sibuk membagi konsentrasi dan berjibaku membagi tangan saya yang hanya dua untuk mengurus beberapa kepentingan sekaligus, telepon berbunyi, dari seorang customer service bank di mana saya menabung. Ia memberikan informasi terkini mengenai produk-produk perbankan dan mengajak saya bicara sedikit mengenai investasi keuangan. Telepon yang amat sangat tidak penting, pikir saya, di saat pekerjaan sedang begitu menumpuk, ditambah uraian penjelasan staf bank itu, yang terpaksa harus saya dengarkan. Kelembutan bicara saya segera menguap entah ke mana dan saya menjawab penawaran staf itu dengan ketus, tanpa senyum, tanpa kasih sedikitpun. Saya gagal menahan diri dan berusaha tetap bersikap ramah, berusaha meluangkan waktu sedikit saja bagi sesama. Dengan kekasaran sikap saya itu, dalam hati saya telah menghakimi wanita itu seolah sebagai seorang customer service yang tak tahu sopan santun, padahal sebetulnya saya tahu, dengan sedikit kasih saja, saya akan berhasil mengerti dia sebagai seseorang yang sekedar tengah melakukan pekerjaannya. Kasih dan pengertian sesungguhnya selalu mampu mematahkan segala bentuk penghakiman negatif kepada sesama. Saya malu dan sedih bahwa janji saya pada Tuhan di awal hari itu segera menjadi teori belaka, padahal waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, hari masih panjang, menanti saya membuktikan tekad-tekad saya berikutnya kepada Tuhan.

Menurut catatan saya, kisah niat baik yang dalam sekejap sudah gagal, karena pencetus yang sederhana, masih bisa panjang daftarnya. Kita mungkin mengalaminya juga. Niat untuk tidak bergosip mengenai kelemahan orang lain, yang segera runtuh ketika teman-teman sekantor mengeluhkan sikap salah seorang teman yang menyebalkan. Seolah-olah sikap seseorang yang menyebalkan menghalalkan saya untuk membicarakan keburukannya di belakang punggungnya. Atau gagal menahan laju mobil saya untuk memberi kesempatan pada pengendara sepeda motor yang hendak menyeberang. Gagal meredam nada tinggi suara saya saat si kecil menumpahkan makanannya secara tidak sengaja di atas meja. Gagal bersikap rendah hati dan mau mengakui kesalahan ketika orang serumah menegur saya. Dan masih banyak lagi. Lebih sering saya menganggap orang lain yang perlu diperbaiki, daripada mengintrospeksi diri untuk mengakui bahwa diri saya sendirilah yang sesungguhnya perlu untuk berubah dan diperbaiki. Kemudian, apakah aku telah memperhatikan apakah sesama di sekitarku membutuhkan sapaan kasih dan uluran tanganku, kadang kudapati diriku sibuk dengan urusan diriku sendiri saja. Kemudian apakah aku mampu mengenali perasaan iri hati dan mengendalikannya manakala orang lain lebih berhasil, apakah aku sudah mengendalikan diri untuk tidak terlalu larut dalam kesenangan duniawi misalnya dalam hal berbelanja atau menyantap makanan. Memang semua itu hanya hal-hal kecil saja, tetapi dari hal-hal kecil saya belajar untuk berdisiplin juga dalam hal-hal yang besar. Ketika kita setia dalam perkara kecil, Tuhan akan mempercayakan perkara yang lebih besar kepada kita (Mat 25:23). Lagipula, Yesus memanggil kita untuk menjadi sempurna, sama seperti Bapa di sorga adalah sempurna (Mat 5:48).

Demikianlah yang selalu saya alami bila saya hanya mengandalkan kekuatan dan hikmat saya sendiri, menjadi begitu mudahnya saya gagal dan jatuh lagi. Tadinya saya begitu bersemangat, merasa diri saya begitu penting, begitu yakin, bahwa peperangan hari itu akan menjadi milik saya. Saya lupa, bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud meminta saya untuk seorang diri saja dalam melawan dosa, dengan segala kesombongan saya, kebijaksanaan saya yang sempit, dan perbuatan kasih saya yang masih sering berpamrih. Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. (Filipi 2 : 12-13)

Begitu saya bertumpu pada kekuatan diri sendiri, tak makan waktu lama untuk menyerah kalah pada dominasi ego dan bujukan si jahat yang sigap memanfaatkan kelengahan saya setiap saat. Tetapi bersama Firman-Nya, bersama hikmat kasih-Nya yang sabar dan lemah lembut, saya lebih mudah mengerti akan situasi yang tidak enak dan sesama yang sulit, bahagia mengendalikan diriku bersama Dia. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Mat 11 : 29-30).

Soal marah, memang ada kalanya saya juga harus marah bila situasi menuntut demikian, misalnya berhadapan dengan kemalasan atau ketidakadilan pada sesama, tetapi bersama Tuhan, saya marah dengan cara Tuhan, yang sangat jauh berbeda hasilnya bila saya marah dengan cara saya sendiri yang cenderung merusak dan melukai.

Minggu ini kita memperingati Tuhan Yesus yang lembut dan rendah hati, yang mengendarai seekor keledai memasuki kota Yerusalem, menyongsong dengan penuh kerelaan sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, demi ketaatan-Nya kepada Bapa, demi cinta-Nya kepada kita. Tuhan sudah mati untuk saya, Ia telah menyerahkan segala-galanya supaya kita selamat dan bahagia, supaya kita belajar arti memikul salib dan menyangkal diri yang membawa kita kepada kemenangan dan kedamaian sejati. Semoga kita juga berusaha sekuat tenaga menyerahkan segala-galanya dalam kekuatan kasih-Nya, untuk memikul salib dan berubah oleh pembaharuan budi, supaya kurban Salib-Nya dan keselamatan yang telah disediakan-Nya bagi kita, mencapai tujuannya, menghasilkan buah-buah kehidupan, dan tidak sia-sia.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes 53 : 5)

Ya, berpegang pada salib Yesus, dan hanya bersama Yesus, kita bisa !
(Triastuti)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab