Home Blog Page 174

Sebuah Perjumpaan di Balik Badai

13

Pengantar dari Editor:

Menggembalakan umat Tuhan di tengah masyarakat yang berada di wilayah yang terpencil dengan tantangan alam yang berat adalah panggilan yang sangat khusus dari Tuhan. Hal inilah yang selama hampir empat tahun ini dijalani dengan penuh iman dan harapan oleh Romo Fransiskus Xaverius Hurint, Pr atau yang lebih sering disapa dengan Romo Pey Hurint. Bertugas sebagai pelayan Tuhan di sebuah paroki di Kepulauan Mentawai, yang terletak sekitar 150 km dari lepas pantai barat Pulau Sumatera, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi salah satu tantangan rutin sehari-hari. Tingginya gelombang lautan di musim di mana cuaca buruk sering datang tanpa diduga, seolah menjadi gambaran beranekanya tantangan yang juga dialami dinamika umat Tuhan di sana. Namun kasih Bapa yang Maha Menyelenggarakan senantiasa melengkapi setiap perutusan dengan semua yang diperlukan oleh hamba-Nya. Terima kasih Romo Pey sudah berkenan berbagi dengan kami, kiranya perjuangan Romo senantiasa menjadi perhatian kami dan menjadi pergumulan ujud doa-doa kami semua sebagai anggota keluarga Kristus yang satu dan sama dalam Gereja-Nya.

 

Dari luasnya lautan, Tuhan memanggilku

Tantangan alam dan cuaca yang tidak menentu adalah bagian dari keseharian pelayananku semenjak Tuhan menempatkanku di antara umat-Nya di Kepulauan Mentawai. Berhadapan dengan laut lepas yang memisahkan wilayah-wilayah pengabdianku dalam cuaca yang kadang tak bersahabat, seakan turut menandai berbagai ujian iman yang harus senantiasa kuhadapi.

Aku adalah seorang imam projo yang berasal dari Keuskupan Larantuka yang selama empat tahun ini diutus untuk menjadi misionaris domestik di Keuskupan Padang, tepatnya di Paroki Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Aku mengawali masa baktiku pada tanggal 18 November 2008, sebagai bantuan tenaga imam untuk keuskupan/daerah yang kekurangan tenaga imam. Dalam Gereja tugas perutusan ini dikenal dengan sebutan Fidei Donum (hadiah iman) dari Keuskupan Larantuka untuk Keuskupan Padang. Selanjutnya Bapak Uskup Padang menugaskanku ke Paroki Sikakap di Mentawai.

Kepulauan Mentawai yang dipisahkan oleh Selat Mentawai dari Kota Padang, sebenarnya merupakan rangkaian tujuhpuluh pulau-pulau kecil. Dari kesemuanya itu, kepulauan ini mempunyai 4 pulau besar: Pulau Siberut di Utara, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Terdapat 4 paroki di Mentawai, yaitu: Paroki Sikabaluan (Siberut Utara), Paroki Muara Siberut (Pulau Siberut Selatan), Paroki Sipora (Pulau Sipora) dan Paroki St. Maria Assumpta, Sikakap (Pulau Pagai Utara dan Selatan). Di Sikakap ada 20 stasi yang tersebar di dua pulau ini. Penyebaran stasi berjauhan. Masih ada 4 stasi di Pagai Selatan yang harus ditempuh dengan perahu boat. Jarak terjauh ditempuh selama 2,5 jam dengan perahu boat bertenaga 40 PK dan terdiri dari 2 mesin. Ada ± 670-an KK, dengan jumlah jiwa ± 3500 orang.

Paroki Sikakap meliputi 2 pulau besar di kepulauan ini, yaitu Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Di daerah dua pulau inilah, pada tanggal 25 Oktober 2010 yang lalu, bencana gempa dan tsunami melanda, meluluhlantakkan Pagai Selatan dan Utara. Ada 400-an jiwa melayang. Ratusan KK kehilangan tempat tinggal dan ribuan orang mengungsi. Bencana ini menyebabkan semua masyarakat yang ada di pesisir pantai mengungsi ke pedalaman. Rumah hunian sementara dibangun oleh beberapa pÍhak yang bekerjasama dengan pemerintah. Pihak Gereja Katolik Keuskupan Padang dengan penuh cinta menolong semua warga dengan memberikan semua kebutuhan pokok masyarakat. Gereja hadir untuk semua, tanpa memperdulikan suku dan agama. Saat ini dalam kerjasama dengan pihak donatur, CARITAS Keuskupan Padang sedang membangun rumah hunian tetap untuk warga korban tsunami di 5 dusun di Pagai Utara dan Selatan. Gempa ini membawa beberapa dampak: transportasi laut nyaris tidak dipergunakan lagi, selain karena masyarakat sudah tinggal di tempat tinggi, juga sebagian karena merasa trauma. Masyarakat yang biasanya mencari sendiri ikan untuk konsumsi, sekarang harus membelinya di pasar.

Meretas kerinduan, menantang badai

Salah satu stasi kecil berada di ujung Pulau Pagai Selatan yang terdiri dari 17 KK. Sudah lama kami tim pastor membatalkan kunjungan ke stasi ini karena beberapa faktor: badai di pantai barat Mentawai, ketiadaan BBM, jalan darat yang tak bisa dilalui, dan juga karena sakit.

Kerinduan telah membuncah dalam hatiku dan hati umat yang menanti. Hari Sabtu kemarin dengan tekad membara, tanpa takut lagi kepada badai dan jalan yang buruk, saya dengan seorang kawan menempuh perjalanan ke selatan. Kami harus menempuh jalan darat kira-kira 56 km dan disambung dengan mempergunakan perahu boat 25 PK menuju ke ujung pulau, ke stasi Lakkau. Kami menempuh laut yang sedang menggelora. Waktu yang ditempuh kira-kira 1 jam. Di tengah badai seperti ini, ada rasa yang kuat untuk lebih dekat dengan Tuhan. Sepanjang jalan doa rosario dilantunkan, daripada berteriak ketakutan.
Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. (Mzm 107:28-29)

Akhirnya boat yang kutumpangi tiba dengan selamat di pantai Lakkau. Badan seluruhnya basah kuyup. Kami harus menempuh perjalanan 2 km dengan sepeda motor menuju perbukitan, karena semua warga sudah mengungsi ke daerah tinggi. Begitu tiba, dengan gembira beberapa umat menyambut saya: “Akhirnya Romo sampai juga ke tempat kami. Kami sudah lama merindukan kedatangan Romo.” Air mataku hampir berlinang. Kutahan sekuat tenaga agar air mataku tak jatuh.

Malam hari kami berkumpul di gereja darurat: bekas gereja di kampung lama yang dibongkar dan dipindahkan ke kampung baru. Ada acara rosario dan berbincang-bincang dengan umat. Di sana kujumpa seorang ibu tua. Dengan terharu dia menyalamiku: “Ukkui, kurepdep ekkeu, nuoi minca ka laggaita ne’ne.” (= Bapa, kurindu engkau datang lagi di kampung kita ini). Saya menjadi lebih terharu lagi.

Kerinduan itu berpuncak pada perayaan tobat dan Ekaristi keesokan harinya. Hampir semua umat dewasa mengaku dosa. Dengan kerinduan yang membuncah mereka menerima Komuni Kudus. Selain Ekaristi dan pengakuan dosa, ada juga penerimaan resmi seorang umat GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) yang menjadi Katolik, pembaptisan 6 orang anak, dan convalidatio/ perbaikan perkawinan pasangan yang sebelumnya sudah menikah namun belum pernah diberkati perkawinannya di Gereja.

Ada catatan kecil mengenai hal-hal yang kuceritakan di atas. Umat Protestan merupakan umat mayoritas di Kepulauan Mentawai, khususnya di pulau Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Ada semacam pembagian “informal” di Mentawai: jika satu kampung adalah suatu kampung Katolik, maka orang luar yang mau tinggal di kampung itu wajib Katolik, tidak bisa tidak. Demikian juga sebaliknya. Kecuali jika kampung itu dari dulu merupakan campuran dari 2 gereja: Katolik dan Protestan. Akhir-akhir ini gereja-gereja denominasi Kristen dari aliran Pentekosta dan Baptis mekar bertumbuh di Mentawai.

Pukul 13.15 siang kami kembali ke paroki dengan melalui jalur yang sama: menempuh badai. Tapi rasa hati sudah berubah: kerinduan untuk berjumpa umat sudah terobati. Saya bertekad: tak boleh lagi ada yang menghalangiku untuk berjumpa dengan umat yang juga rindu akan gembalanya.

Demikian sekelumit sharing sederhana dari kami di pelosok barat Indonesia, yang belum sepenuhnya tersentuh kemajuan dunia ini. Mari kita saling mendoakan. Tuhan memberkati kita.

(ditulis oleh: Fransiskus Xaverius Hurint, Pr)

Epilog dari editor:

Bagaimanapun juga, walau didera kemiskinan dan tantangan alam yang kurang bersahabat, menurut Romo Pey Hurint, salah satu kekuatan orang- orang Mentawai adalah bisa bertahan; tantangan alam yang keras membuat mereka terlatih untuk sanggup menantang badai dan masalah yang dihadapi. Mereka hidup dari bercocok tanam berbagai komoditi, terutama nilam (diambil minyaknya), pisang, keladi, kelapa, dan lain-lain. Masyarakat juga sudah mulai menanam coklat (cacao). Namun mereka masih memerlukan bimbingan tenaga ahli supaya bisa mengembangkan kinerja mereka dalam mengolah hasil bumi. Dalam hal pelayanan pastoral, kebutuhan umat yang paling aktual saat ini adalah tenaga-tenaga pastoral (imam dan katekis) yang handal, tahan uji, serta tahan banting. Selain itu, perlu tersedianya sarana dan fasilitas pendidikan baik formal maupun informal yang cukup memadai untuk masyarakat. Dengan pendidikan yang memadai, kita bisa mendapatkan agen pastoral yang handal dan umat yang makin maju, dewasa dalam kehidupan, dan teguh dalam iman dan pengharapan kepada Kristus. Adakah dari para pembaca yang terpanggil untuk mengulurkan tangan, terutama untuk membantu dalam hal pendidikan umat Katolik di Mentawai?

Tentang teks Syahadat Katolik dan non-Katolik

3

Tentang teks syahadat yang digunakan oleh Gereja Katolik, Katekismus mengajarkan:

KGK 186    Sejak awal, Gereja apostolik sudah mengungkapkan dan meneruskan imannya dalam rumus-rumus yang singkat dan baku untuk semua (Rm 10:9; 1 Kor 15:3-5). Tetapi dengan segera Gereja juga hendak memasukkan inti sari dari imannya dalam ringkasan yang organis dan tersusun, yang dimaksudkan terutama untuk calon Pembaptisan:

“Bukan kesewenang-wenangan manusiawi telah menyusun ringkasan iman ini, melainkan ajaran-ajaran terpenting dari seluruh Kitab Suci dihimpun di dalamnya, menjadi ajaran iman yang satu-satunya. Bagaikan biji sesawi membawa banyak cabang dalam sebuah biji kecil, demikianlah ringkasan iman ini mencakup dalam kata-kata yang sedikit semua pengetahuan dari Perjanjian Lama dan Baru” (Sirilus d. Yerusalem, catech. ill. 5,12).

KGK 187    Ringkasan-ringkasan iman ini dinamakan “pengakuan iman” karena mereka meringkaskan iman yang diakui umat Kristen. Orang menamakannya juga “Credo”, karena dalam bahasa Latin mereka biasanya mulai dengan kata “Credo” [Aku percaya]. Nama lain ialah “Simbola iman”.

KGK 190    Dengan demikian, simbolon mempunyai tiga bagian pokok: “Dalam bagian pertama dibicarakan tentang Pribadi pertama dalam Allah dan tentang karya penciptaan yang mengagumkan; dalam bagian kedua tentang Pribadi kedua dan tentang rahasia penebusan manusia; dalam bagian ketiga tentang Pribadi ketiga, pangkal dan sumber pengudusan kita” (Catech. R. 1,1,4). Itulah “ketiga bagian pokok dari meterai [Pembaptisan] kita” (Ireneus, dem. 100).

KGK 192    Sesuai dengan kebutuhan aneka ragam zaman timbullah dalam peredaran zaman banyak pengakuan atau simbola iman. Simbola beberapa Gereja apostolik tua (Bdk. DS 1-64., “Quicumque” Bdk. DS 75-76) yang disebut simbolon Atanasian, pengakuan iman dari konsili dan sinode tertentu (Bdk. S. d. Toledo: DS 525-541; Konsili Lateran IV: DS 800- 802; Konsili Lyon II: DS 851-861; Konsili Trente: DS 1862-1870). atau Paus tertentu, umpamanya “Fides Damasi” (Bdk. DS 71-72). dan “Credo Umat Allah” (SFP) dari Paus Paulus VI 1968.

KGK 193    Tidak satu pun pengakuan dari berbagai zaman dalam kehidupan Gereja dapat dipandang sebagai kedaluwarsa atau tidak bernilai. Semuanya mencakup iman segala zaman secara singkat dan membantu kita sekarang untuk menangkapnya dan mengertinya dengan lebih dalam.Dua pengakuan mendapat tempat yang sangat khusus dalam kehidupan Gereja:

KGK 194    Syahadat apostolik, yang dinamakan demikian karena dengan alasan kuat ia dipandang sebagai rangkuman setia dari iman para Rasul. Itulah pengakuan Pembaptisan lama dalam Gereja Roma. Karena itu ia mempunyai otoritas tinggi: “Itulah simbolum yang dijaga Gereja Roma, di mana Petrus, yang pertama di antara para Rasul, mempunyai takhtanya dan ke mana ia membawa ajaran iman para Rasul itu” (Ambrosius, symb. 7).

KGK 195    Juga apa yang dinamakan Syahadat Nicea-Konstantinopel mempunyai otoritas besar karena ia dihasilkan oleh kedua konsili ekumenis yang pertama (325 dan 381) dan sampai hari ini merupakan milik bersama semua Gereja besar di Timur dan di Barat.

KGK 196    Penjelasan kita mengenai iman akan mengikuti pengakuan iman apostolik, yang boleh dikatakan merupakan “Katekismus Romawi tertua”. Namun penjelasan itu akan dilengkapi dengan selalu menunjuk kepada pengakuan iman Nisea-Konstantinopel yang sering lebih rinci dan lebih dalam.

Dengan demikian, dari adanya beberapa teks syahadat, terdapat dua teks yang paling umum digunakan dalam Gereja Katolik, yaitu syahadat para rasul dan syahadat Nicea- Konstantinopel. Kedua teks itu merupakan teks yang diturunkan oleh para rasul sebagaimana diajarkan oleh para Bapa Gereja sebagai penerus para rasul. Istilah Gereja yang “satu, kudus, katolik dan apostolik” berasal dari pernyataan syahadat Nicea- Konstantinopel.

Sebenarnya kedua syahadat yang digunakan oleh Gereja Katolik maupun oleh gereja-gereja non- Katolik berasal dari sumber yang sama, yaitu syahadat para rasul. Adanya perbedaan teks syahadat antara yang digunakan di gereja-gereja non Katolik dan yang digunakan oleh Gereja Katolik itu disebabkan karena perbedaan terjemahan, namun juga perbedaan terbesar ada pada pemahaman akan istilah Gereja yang “katolik” (universal) yang disebut sebagai “am” oleh gereja- gereja yang non- Katolik, dan juga, tentang gereja ‘apostolik’ sebagaimana disebut dalam syahadat Nicea. Tentang arti gereja yang katolik menurut Gereja Katolik, silakan klik di sini. Sedangkan ‘apostolik’ maksudnya adalah Gereja yang mengajarkan ajaran yang lengkap dari para rasul dan mempunyai jalur kepemimpinan dari para rasul. Pemahaman ini pertama-tama berasal dari pengajaran St. Irenaeus (abad ke- 2) dan St Agustinus (abad ke-4), yaitu:

St.Irenaues:
“Karena itu , penting untuk menaati para presbiter (imam) yang ada di dalam Gereja- [yaitu] mereka yang, seperti telah saya tunjukkan,  mempunyai suksesi dari para rasul, yaitu mereka yang, bersama dengan suksesi episkopat, telah menerima karunia kebenaran tertentu, sesuai dengan kehendak Bapa. Tetapi [adalah juga penting] untuk mewaspadai orang- orang lain yang meninggalkan suksesi apostolik yang asli, dan mendirikan perkumpulan sendiri di tempat manapun.” (Against Heresies, Bk 4, ch. 26)

St. Agustinus:
“… Kamu mengatakan hal yang pandai, ketika kamu mengurutkan asal usul nama Katolik, tidak dari keanggotaannya yang universal di seluruh dunia, seperti seolah kita mengandalkan arti dari kata itu untuk membuktikan bahwa Gereja tersebar di seluruh dunia; tetapi dari penerapan semua perintah Tuhan dan semua sakramen, atas apa yang dijanjikan oleh Tuhan, dan atas begitu banyak pemakluman kebenaran itu sendiri. …Gereja disebut Katolik, juga karena Gereja mengajarkan seluruh kebenaran dan bahkan ada beberapa serpihan kebenaran ini yang terdapat di beberapa ajaran sesat.” (Letters- to Vincent – ca. 408]

Ajaran dari Bapa Gereja ini nampaknya tidak dijadikan referensi oleh gereja- gereja yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, sehingga memang terdapat pemahaman yang berbeda tentang Gereja yang ‘katolik dan apostolik’ tersebut, antara yang dipahami oleh Gereja Katolik dan oleh gereja- gereja non- Katolik, sehingga ini tercermin juga pada teks syahadat mereka.

Mengapa ‘berilah kami rezeki’?

3

Jika sampai ada perbedaan teks doa Bapa Kami (Mat 6:11; Luk 11:3), yaitu ‘berilah kami makanan yang secukupnya’ (yang umum digunakan di gereja-gereja non- Katolik di Indonesia) dan ‘berilah kami rezeki hari ini’ (yang digunakan Gereja Katolik di Indonesia), itu disebabkan karena perbedaan terjemahan, namun sebenarnya mengacu kepada kata asli yang sama. Kata aslinya, menurut terjemahan Vulgate/ Vulgata adalah, “panem nostrum supersubstantialem da nobis hodie/ Give us this day our supersubstantial bread” (Mat 6:11). Namun ‘bread‘ ini, adalah seperti kata idiom, mempunyai arti lebih luas dari sekedar makanan. Oleh karena itu Gereja Katolik menerjemahkannya dengan kata ‘rezeki’ yang lebih luas artinya dari sekedar ‘makanan’.

Prinsip umum dalam mengartikan Kitab Suci, Katekismus mengajarkan agar kita berusaha memahami maksud sang penulis pada saat menuliskan kalimat tersebut:

KGK 109 Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. DV 12,1).

KGK 110 Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2).

Atas prinsip ini, kita melihat konteks arti kata “bread” tersebut, yang menurut sastra (gaya bahasa) pada jaman itu, kata “bread (artos, Yunani)” tidak saja berarti roti makanan, tetapi juga adalah semua kebutuhan sederhana untuk hidup, yang terwakili dalam kata “bread/ artos” itu. Dengan demikian, jika ‘bread‘ diterjemahkan sebagai hanya ‘makanan’, maka malah menjadi tidak terlalu sesuai/ membatasi arti yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulisnya.

Dalam hal ini, agaknya kita perlu menyadari adanya keterbatasan dalam hal terjemahan, karena terjemahan ke dalam bahasa Indonesia memang nampaknya tidak dapat secara persis/ ideal menggambarkan maksudnya. [Sejujurnya ini umum dalam hal terjemahan, sebab ada banyak kata- kata dalam bahasa Jawa, misalnya, yang juga tidak mempunyai padanan kata persisnya dalam bahasa Indonesia]. Sebab jika mau diterjemahkan secara benar- benar literal, maka harusnya diterjemahkan “berilah kami roti…” (Sedangkan kata supersubstantial ini dapat mengacu kepada makna roti setiap hari/ daily, maupun roti ‘yang istimewa’ sehingga mengacu kepada Ekaristi). Sayangnya, bagi orang Indonesia dan menurut gaya bahasa Indonesia, kata ‘roti’ ini tidak ‘berbicara’, karena makanan pokok kita adalah nasi. Lagipula menurut gaya bahasa Indonesia, “berilah roti” ini tidak mempunyai arti sebagai idiom. Jadi jika diterjemahkan secara literal sebagai ‘roti’, menjadi tidak pas dan tidak kontekstual juga bagi kita orang Indonesia. Karena itu, gereja- gereja yang non- Katolik di Indonesia menerjemahkannya sebagai “makanan”, walaupun sebenarnya terjemahan ini juga tidak tepat, karena yang dikatakan itu “bread/ roti” bukan “food/ makanan”.

Maka Gereja Katolik di Indonesia menerjemahkannya sebagai ‘rezeki’, kemungkinan karena mempertimbangkan maksud arti yang lebih luas dari kata “bread” itu tadi. Terjemahan ini sudah disetujui oleh pihak otoritas Gereja Katolik, maka mari kita menerimanya dengan kerendahan hati. Perbedaan terjemahan ini dapat dimengerti jika kita memahami faktanya, yaitu: 1) sebab tidak ada padanan kata dalam bahasa Indonesia yang secara persis menyampaikan maksud dari kata aslinya; 2) terjemahan yang ada sekarang, entah diterjemahkan ‘makanan’ atau ‘rezeki’ adalah merupakan terjemahan yang relatif terdekat untuk mengartikan kata tersebut; 3) Gereja Katolik melihat bahwa ‘rezeki’ merupakan terjemahan yang lebih baik daripada makanan, karena mencakup makna yang tersirat dalam kata ‘bread‘ itu, menurut gaya bahasa/ sastra penulis pada saat itu. Maka dalam menerjemahkan, Gereja Katolik di Indonesia memperhatikan hal- hal ini. Sebab jika ‘give us this day our daily bread‘ ingin diterjemahkan secara literal tentu harusnya ‘berilah kami hari ini roti untuk sehari’, tetapi tentu menjadi kurang kontekstual bagi kita di Indonesia yang pada umumnya makan nasi setiap harinya.

Jadi, yang terpenting adalah: kita memahami maknanya, dan walau ada keterbatasan dalam hal penerjemahan kata, namun tidak mengubah pengertian ataupun iman kita.

Scott Hahn, seorang apologist Katolik menuliskan artikel di link ini, silakan klik, dan menjabarkan bermacam makna kata ‘roti’. Roti di sini mempunyai makna tidak terbatas hanya sebagai makanan jasmani. Berikut ini cuplikannya:

“Pemberian roti di jaman dahulu adalah tanda kesejahteraan suatu kerajaan. Ketika kerajaan itu sedang jaya atau menang perang, maka para warganya menerima cukup roti “tanpa uang dan tanpa bayar” (Yes 55:1). Maka sejak zaman Kristen awal, “our bread/ roti kami” dalam doa Bapa kami diartikan tidak hanya sebagai kebutuhan- kebutuhan material, tetapi juga kebutuhan mereka akan persekutuan dengan Tuhan. Maka pemecahan roti juga berarti Ekaristi. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).

St. Agustinus mengajarkan bahwa terdapat tiga macam arti kata ‘roti’, yaitu:1) segala sesuatu yang kita butuhkan; 2) Sakramen Tubuh Kristus, yang kita terima setiap hari; 3) Makanan rohani kita, Sang Roti Hidup, yaitu Yesus…..” (St. Augustine, Our Lord’s Sermon on the Mount, in Scott Hahn, Understanding “Our Father”: Biblical Reflections on the Lord’s Prayer (Steubenville: Emmaus Road, 2002), 143-44)

Dengan demikian, sebenarnya penerjemahan “give us this day our daily bread” menjadi “berilah kami rezeki pada hari ini” sesungguhnya lebih tepat, sebab di sini daily bread adalah semacam idiom yang menurut pengertian aslinya mempunyai makna lebih dari sekedar makanan. Pemberian roti setiap hari mempunyai makna luas, yaitu kesetiaan Tuhan kepada umat-Nya (KGK 1334). Selanjutnya “our bread” memang diterjemahkan sebagai ‘rezeki kami’ dalam Katekismus Gereja Katolik, demikian:

KGK 2830 Rezeki kami. Mustahil bahwa Bapa, yang menganugerahkan kehidupan kepada kita, tidak memberikan juga makanan serta segala kebutuhan jasmani dan rohani lainnya bagi kehidupan itu. Dalam khotbah-Nya di bukit Yesus mengajarkan sebuah kepercayaan, di mana kita merasa terjamin dalam penyelenggaraan Bapa (Bdk. Mat 6:25-34). Dengan itu Yesus tidak menghendaki kita untuk menerima nasib secara acuh tak acuh (Bdk. 2 Tes 3:6-13). Ia ingin membebaskan kita dari segala kesusahan dan kecemasan yang menekan hati. Anak-anak Allah selalu membiarkan diri dalam penyelenggaraan Bapa mereka.
“Mereka yang mencari Kerajaan dan keadilan Allah, akan juga mendapat segala sesuatu yang lain sesuai dengan janji-Nya. Karena bila segala sesuatu adalah milik Allah, maka orang yang memiliki Allah tidak akan kekurangan apa pun, kalau ia sendiri tidak lupa akan kewajibannya terhadap Allah” (Siprianus, Dom. orat. 21)

KGK 2835 Permohonan ini, dan tanggung jawab yang dituntutnya, berlaku juga untuk satu kelaparan lain, yang karenanya manusia binasa; “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat 4:4) (Bdk. Ul 8:3), artinya dari sabda dan dari napas Allah. Orang-orang harus melakukan segala upaya, supaya “mewartakan Injil kepada orang-orang miskin”. Di dunia ada satu kelaparan lain, “bukan kelaparan akan makanan, bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman Tuhan” (Am 8:11). Karena itu arti yang khas Kristen dari permohonan keempat [berilah kami rejeki hari ini] berhubungan dengan roti kehidupan. Itulah Sabda Allah yang harus kita terima dalam iman, dan tubuh Kristus yang kita terima dalam Ekaristi (Bdk. Yoh 6:26-58).

Dengan demikian, ‘berilah kami rezeki’ dimaksudkan juga sebagai rezeki jasmani; maupun rohani, yaitu Sabda Allah dan Kristus sendiri dalam Ekaristi. Maka “to give daily bread” itu mungkin menyerupai ungkapan “berilah kami sesuap nasi” yang memang walaupun menyangkut makanan, tetapi maksud di balik ungkapan itu tentu lebih dari sekedar nasi sesuap. Hal ini selain menyangkut gaya bahasa tetapi juga ‘common sense‘ yang berlaku dalam kehidupan jasmani kita sebagai manusia. Manusia memang tidak saja bisa hidup dari makanan, tapi juga minuman, udara, sandang, papan, dan semua itu tergabung dalam kata ‘rezeki’; walau ungkapan gaya bahasa yang dipergunakan itu hanya “bread“/ roti. Selanjutnya, kita mengingat Sabda Yesus bahwa manusia tidak hanya hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Maka rezeki di sini tidak terbatas dalam hal jasmani, tetapi juga rohani. Hal inilah yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, dan hal inilah yang diteruskan oleh Gereja Katolik; dan karena pemahaman inilah maka Gereja Katolik di Indonesia menerjemahkannya menjadi, ‘berilah kami rezeki pada hari ini’.

Tentang Fenomena Medjugorje

16

1. Sekilas tentang fenomena Medjugorje

Pada tanggal 24 Juni 1981, enam orang anak dari kota Medjugorje Yugoslavia (sekarang, Bosnia-Herzegovina), mulai mengalami fenomena yang mereka klaim sebagai penampakan Bunda Maria. Penampakan ini memberikan pesan damai bagi dunia, juga pertobatan, doa dan puasa. Penampakan ini juga menitipkan pesan-pesan tentang kejadian- kejadian yang akan digenapi di masa yang akan datang. Rahasia ini belum dinyatakan kepada publik. Penampakan-penampakan ini berlangsung sejak 1981 sampai saat ini secara regular, pada sebagian dari mereka yang telah menjadi orang muda sekarang, dan pada sebagian yang lain, sudah berhenti. Awalnya, menurut mereka, penampakan terjadi di puncak gunung dekat kota di mana terletak Salib yang besar yang memperingati Kebangkitan. Setelah itu penampakan-penampakan terjadi di tempat- tempat yang berbeda, termasuk di gereja St. Yakobus dan di manapun para visioner itu berada pada saat penampakan terjadi.

Kabar bahwa Bunda Maria kemungkinan telah menampakan diri di Medjugorje, mendorong banyak orang untuk berziarah ke sana.

(sumber dari http://www.ewtn.com/expert/answers/medjugorje.htm)

2. Tanggapan Otoritas Gereja lokal, dari Uskup Pavao Zanic tahun 1985

Pada 25 Maret 1985 surat resmi Uskup Pavao Zanic kepada romo paroki, Romo Tomislav Pervan, dari paroki St. Yakobus di Medjugorje, berisikan tidak hanya perintah-perintah dan instruksi-instruksi dari Ordinaris tetapi juga mengemukakan isu pastoral di mana klerus yang dimaksud dan para visioner telah melanggar dan tanggal dari pelanggaran mereka.

Dalam surat itu disebutkan salinan Notulen pertemuan terakhir dari Komisi Peristiwa Medjugorje yang diadakan di Mostar pada 7 Maret 1985. Disebutkan pula bahwa sebelum inipun, Ordinaris telah sampai pada kesimpulan yang pasti bahwa penampakan Bunda Maria di Medjugorje bukanlah suatu kenyataan. Sementara itu, di tahun 1982, Keuskupan telah membentuk Komisi untuk menyelidiki peristiwa itu dan untuk mempelajari kasusnya secara menyeluruh. Setelah pemeriksaan, Komisi peristiwa Medjugorje menyatakan bahwa personil pastoral dan para saksi di Medjugorje diminta untuk menarik diri dari segala bentuk pernyataan publik atau deklarasi kepada media tentang hal-hal yang terjadi dalam penglihatan itu dan klaim terjadinya penyembuhan secara mukjizat. Pada pertemuan kami, yang diselenggarakan di Kantor Uskup di Mostar pada 31 Oktober 1984, saya meminta bahwa peristiwa-peristiwa Medjugorje “diredakan dan dihilangkan sedikit demi sedikit.” Namun permintaan ini tidak dihiraukan.

Maka, dalam surat itu Uskup Zanic meminta agar Pastor Tomislav meminta agar tidak mengekspos para visioner/ pelihat dari pertunjukan publik. Demikian juga Bapa Uskup melarang publikasi pesan-pesan, devosi yang tumbuh dari “penampakan” tersebut, namun tidak melarang penerimaan Sakramen Tobat dan Misa Kudus. Namun demikian ia melarang Romo Jozo Zovko, Tomislav Vlasic dan Ljudevit Rupcic, untuk mempersembahkan Misa bagi umat beriman atau memberikan homili.

Selanjutnya Bapa Uskup meminta para visioner untuk menyerahkan tulisan-tulisan mereka kepada pihak Ordinaris untuk penyelidikan lebih lanjut.

(disarikan dari surat Uskup Zanic, selengkapnya ada di link http://www.ewtn.com/library/BISHOPS/ZANICMED.HTM)

3. Deklarasi yang dikeluarkan oleh Konferensi Uskup Yugoslavia, 9-11 April 1991

DEKLARASI

Sejak awal, para Uskup telah mengikuti kejadian-kejadian Medjugorje melalui Uskup lokal, Komisi para Uskup dan Komisi Konferensi Uskup di Yugoslavia untuk Medjugorje.

Atas dasar penyelidikan sejauh ini, tidak dapat diteguhkan bahwa hal- hal ini menyangkut penampakan-penampakan yang supernatural/ adi kodrati ataupun pewahyuan-pewahyuan.

Namun berkumpulnya umat beriman dari bermacam bagian dunia ke Medjugorje, yang didorong oleh alasan iman atau maksud lainnya, mensyaratkan perhatian pastoral, pertama-tama, dari Uskup lokal dan lalu dari para uskup dengan dia, sehingga di Medjugorje dan semua yang terkait dengannya, dapat dikembangkan devosi yang sehat kepada Bunda Maria yang Terberkati, sesuai dengan ajaran-ajaran Gereja. Para Uskup juga akan menyediakan pengarahan- pengarahan liturgis dan pastoral sesuai dengan tujuan ini. Pada saat yang sama, mereka akan terus mempelajari semua kejadian tentang Medjugorje melalui komisi-komisi mereka.

Zadar, 10 April 1991
Para Uskup Yugoslavia.

(sumber dari situs Keuskupan Mostar: http://www.cbismo.com/index.php?mod=vijest&vijest=101)

4. Intervensi Tahta Suci Vatikan

Kongregasi Untuk Ajaran Iman, mengintervensi empat kali melalui dua dari Sekretarisnya, sementara itu Kardinal Ratzinger juga membuat sebuah pernyataan penting.

Pada tahun 1985, Msgr. Bovone memperingatkan Sekretaris dari Konferensi Uskup-uskup Italia untuk tidak mengorganisasi peziarahan resmi ke Medjugorje.

Pada tahun 1995, Msgr. Bertone menulis kepada uskup Lagres, Msgr. Taverdet, dan mengulangi hal yang sama kepada Msgr. Daloz dari Besançon, yang merasa tertarik untuk mengetahui posisi Tahta Suci terhadap Medjugorje.

Akhirnya, di tahun 1998, Sekretaris yang sama menulis kepada Msgr. Gilbert Aubry, uskup Reunion. Semua surat ini menekankan bahwa peziarahan-peziarahan, baik pribadi maupun publik, tidak diizinkan jika mereka menganggap otentik penampakan-penampakan tersebut, karena hal ini akan menjadi kontradiksi terhadap deklarasi dari Konferensi Uskup-uskup Yugoslavia. Namun demikian, para pendukung peristiwa Medjugorje berpegang erat kepada kata “ziarah” dan mengabaikan conditio sine qua non: bahwa mereka tidak mensyaratkan otentisitas penampakan tersebut.

(sumber dari situs Keuskupan Mostar: http://www.cbismo.com/index.php?mod=vijest&vijest=101)

5. Pernyataan Kardinal Ratzinger 1998

Ratzinger’s “frei erfunden” (freely invented/dikarang-karang). Di tahun 1998, ketika seorang Jerman mengumpulkan berbagai pernyataan yang diperkirakan dibuat oleh Paus dan Kardinal Prefek, dan kemudian meneruskannya kepada Vatikan dalam bentuk sebuah memorandum, Kardinal menjawab secara tertulis pada tanggal 22 Juli 1998: “Satu-satunya hal yang dapat saya katakan sehubungan pernyataan-pernyataan tentang Medjugorje yang dikaitkan dengan Bapa Suci dan saya sendiri adalah bahwa  pernyataan-pernyataan itu adalah buatan/ciptaan/rekayasa sepenuhnya” – frei erfunden / sesuatu yang dikarang-karang.

(sumber dari situs Keuskupan Mostar: http://www.cbismo.com/index.php?mod=vijest&vijest=101)

6. Pernyataan Uskup Mostar, Ratko Peric

Kunjungan Ad limina tahun 2006. Selama kunjungan resmi saya kepada Bapa Suci Benediktus XVI, saya tidak hanya menyatakan keraguan saya tetapi juga ketidakpercayaan saya dalam “penampakan” Medjugorje. Bapa Suci, yang sebelum terpilihnya sebagai Paus adalah Prefek dari Kongregasi Ajaran Iman, menjawab dengan pemikirannya: “Kami di Kongregasi selalu bertanya kepada diri kami sendiri bagaimana seorang yang percaya dapat menerima sebagai otentik, penampakan-penampakan yang terjadi setiap hari selama begitu banyak tahun (bertahun-tahun)?”

Kesimpulan. Tidak hanya pernyataan-pernyataan ini yang dikaitkan dengan Bapa Suci dan pernyataan Kardinal Ratzinger  [tentang] “buatan/ rekaan sepenuhnya”, tetapi juga begitu banyak pesan-pesan dari Medjugorje, yang dikaitkan dengan Bunda Maria, adalah buatan/ rekaan sepenuhnya. Jika iman kita dianggap obsequium rationabile – pelayanan rasional kepada Tuhan, penyembahan rohani yang sehat dan sejati, seperti seharusnya (Rm 12:1), maka ia tidak dapat merupakan fantasi pribadi atau ilusi sembarang orang. Gereja berkompeten untuk mengatakan hal ini. Dalam namanya, 30 dokter dan imam-imam terpilih, bekerja sama dalam tiga Komisi selama 10 tahun, dalam lebih dari 30 pertemuan, dengan penuh tanggungjawab dan dengan keahlian menyelidiki peristiwa-peristiwa Medjugorje dan mengemukakan penilaian mereka. Dan tidak satu, melainkan dua puluh uskup secara bertanggungjawab menyatakan bahwa tidak ada bukti-bukti bahwa peristiwa-peristiwa di Medjugorje melibatkan penampakan-penampakan yang supernatural. Umat beriman yang menghormati kedua prinsip: ratio et fides (akal budi dan iman), dan karena itu terikat kepada kriteria ini, yakin bahwa Gereja tidak menipu.

Berkaitan dengan Medjugorje, ada bahaya yang nyata bahwa Bunda Maria dan Gereja dapat diprivatisasi. Orang-orang dapat mulai merekayasa seorang Bunda Maria dan sebuah Gereja menurut selera pribadi mereka, persepsi mereka, dan kebohongan mereka: dengan tidak taat/ menyerahkan akal budi mereka sebagai orang beriman, kepada Magisterium resmi Gereja, melainkan memaksa Gereja untuk mengikuti dan mengakui fantasi mereka.

Orang-orang yang secara naif percaya dapat dengan mudah kemudian meninggalkan mata air rahmat yang hidup di paroki-paroki mereka sendiri untuk melakukan perjalanan jauh ke Medjugorje atau mengikuti para “pelihat” di seluruh dunia, yang, sebenarnya, berkat “penampakan-penampakan” tersebut, mempunyai rumah-rumah yang bagus dan keberadaan yang nyaman – setidaknya demikian yang dikatakan oleh media.

Ada sedikitnya 6 atau 7 komunitas-komunitas religius atau mendekati religius, dalam proses atau sudah terbentuk, dari keuskupan atau tidak mempunyai hak, yang telah mendirikan diri mereka sendiri di Medjugorje melalui kehendak mereka sendiri, tanpa menyerahkan diri dengan taat kepada Lembaga Keuskupan. Komunitas-komunitas ini adalah lebih merupakan lambang ketidaktaatan daripada sebuah tanda karismatik ketaatan dalam Gereja ini!

Dalam keuskupan Mostar-Duvno terdapat sebuah masalah yang dalam tahun-tahun belakangan ini praktis telah menjadi sebuah skisma. Sedikitnya sembilan imam-imam Fransiskan, yang telah dikeluarkan dari Ordo OFM Fransiskan dan diberhentikan sebagai seorang divinis (yang dari Tuhan), telah memberontak melawan keputusan Tahta Suci dan telah tidak mengizinkan transfer/perubahan beberapa paroki-paroki dari Fransiskan ke administrasi Keuskupan. Mereka menempati dengan paksa sedikitnya lima paroki, semuanya, sambil tetap menjalankan fungsi-fungsi keimamatan. Mereka secara tidak sah memberkati perkawinan, mendengarkan pengakuan umat tanpa kemampuan kanonik, beberapa dari mereka secara tidak sah memberikan sakramen penguatan  kepada kaum muda, dan di tahun 2001 mereka mengundang seorang diakon Katolik tua yang secara palsu menampilkan dirinya sebagai seorang uskup untuk “memberikan konfirmasi/Sakramen Krisma” kepada kira-kira delapan ratus orang muda di tiga paroki. Dua orang dari para Fransiskan yang dikeluarkan ini bahkan bertindak jauh dengan meminta uskup Katolik tua dari Swiss, Hans Gerny, untuk mentahbiskan mereka sebagai uskup-uskup, namun mereka tidak berhasil. Begitu banyak sakramen yang tidak sah, begitu banyak ketidaktaatan, kekerasan, sakrilegi, ketidakpatuhan dan ketidakteraturan, namun tidak satu “pesan” pun di antara puluhan ribu “penampakan” telah dikirimkan untuk mengurangi skandal-skandal ini. Suatu hal yang sungguh sangat aneh!

Gereja, dari tingkat lokal sampai tingkat yang tertinggi, sejak awal hingga sampai hari ini, telah dengan jelas dan konstan mengulangi: Non constat de supernaturalitate! Hal ini praktis berarti tidak ada peziarahan yang diperbolehkan yang menisyaratkan adanya karakter supernatural apapun, tak ada tempat peziarahan dari Bunda Maria dan tak ada pesan-pesan yang otentik, pewahyuan-pewahyuan, ataupun penampakan-penampakan yang sejati!

Ini adalah keadaan hal-hal ini pada hari ini. Bagaimana keadaan-keadaan ini esok? Kita akan menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan dan di bawah perlindungan Bunda Kita.

Mostar, 1 September 2007

+ Ratko Perić

Uskup Mostar-Duvno

Selengkapnya, penjelasan Uskup dapat dibaca di situs resmi Keuskupan Mostar, http://www.cbismo.com/index.php?mod=vijest&vijest=101)

7. Kabar terkini tentang Medjugorje

CNA (Catholic News Agency) sekitar tiga tahun lalu menuliskan berita tentang Medjugorje yang cukup memprihatinkan, demikian:

Vatican City, 27 Juli 2009/ 12:17 pm – Paus Benediktus XVI telah menyetujui untuk sepenuhnya menarik status ordinasi dari Pastor Tomislav Vlasic, seorang imam yang memberikan klaim bahwa Bunda Maria telah menampakkan diri di Medjugorje di Bosnia. Pastor tersebut dilaporkan telah memutuskan untuk meninggalkan imamatnya dan ordo religiusnya.
……
Ketika penampakan tersebut dikatakan mulai terjadi di tahun 1981, Pastor Vlasic disebut sebagai “pembuat” fenomena tersebut oleh uskup gereja lokal dari Mostar-Duvno, Pavao Zanic.

Pastor Vlasic menjadi “penasihat spiritual” dari enam anak yang terlibat dalam penampakan yang diceritakan itu. Anak-anak itu kini mengatakan bahwa Perawan Maria telah mengunjungi mereka 40.000 kali selama 28 tahun terakhir.

Pada 25 Januari 2008, Pastor Vlasic dihentikan kegiatannya oleh Kongregasi Ajaran Iman.

Serangkaian pertanyaan dibuat dalam tuduhan bahwa ia melebih-lebihkan kisah-kisah dari kemunculan Perawan Maria, mengajarkan “doktrin yang meragukan”, memanipulasi  hati nurani, terlibat dalam “mistikisme yang mencurigakan” dan tidak patuh pada perintah-perintah yang sah mengenai peristiwa tersebut. Ia juga diselidiki untuk perbuatan seksual imoral setelah ia dinyatakan telah membuat seorang suster mengandung, kata Daily Mail.

Pastor Vlasic dikirim ke sebuah biara di Lombardia, Italia dan dilarang untuk berkomunikasi dengan siapapun tanpa ijin superiornya. Ia juga diminta untuk mengambil kursus pembentukan spritual teologis dan membuat pengakuan iman yang khidmat.

Pada hari Minggu muncul kabar bahwa Pastor Vlasic telah memilih untuk melepaskan imamatnya dan ordo religiusnya.

Paus Benediktus menyetujui pelepasan status ordinasinya di bulan Maret, sehingga melepaskan status imamnya…..”

(sumber dari berita CNA: http://www.catholicnewsagency.com/news/pope_benedict_laicizes_priest_connected_to_alleged_medjugorje_apparitions/)

8. Apa yang dilarang dan apa yang diizinkan Gereja

Apa yang telah dilarang oleh Gereja. Dari pernyataan yang diberikan sampai hari ini oleh otoritas gereja, jelas bahwa tak seorangpun yang mengepalai sebuah jabatan di dalam Gereja (uskup, imam, rektor, diakon atau yang lainnya) boleh dengan wewenang dari badan itu memberikan berkat resmi kepada aktivitas-aktivitas yang cenderung menyetujui supernaturalitas dari Medjugorje, yaitu, untuk menentang keputusan yang telah dibuat oleh otoritas lokal yang kompeten. Pernyataan-pernyataan itu hanya mewakili peziarah-peziarah yang dikelola di bawah organisasi resmi; bagaimanapun juga, akal sehat mengatakan kepada kita bahwa sebuah konferensi atau aktivitas lain yang disponsori oleh keuskupan, paroki, atau institusi Katolik lainnya juga akan dilarang. Demikian juga, tidak dapat diadakan penyembahan publik (kultus) terhadap Perawan Maria Yang Terberkati di bawah gelar Bunda Kita dari Medjugorje, karena hal ini berarti menyiratkan kepastian bahwa Bunda memang menampakkan diri di sana. Namun demikian, gelar Ratu Damai, sudah menjadi bagian dari patrimoni Gereja.

Pernyataan Yugoslavia mengatakan petunjuk liturgis-pastoral memandu yang dapat dikembangkan. Umat Katolik harus mematuhi panduan baik positif maupun negatif dari konferensi para uskup atau uskup lokal yang dikeluarkan sehubungan dengan tempat ini.

Apa yang Gereja izinkan. Sebagaimana pernyataan-pernyataan yang telah dikutip mencatat, umat Katolik diperkenankan untuk mengunjungi Medjugorje. Peziarahan semacam itu bahkan dapat mengikutsertakan imam-imam yang bertugas sebagai pemandu, namun mereka tidak diizinkan untuk secara resmi mensponsori kunjungan itu. Juga, Gereja tidak melarang diskusi-diskusi mengenai Medjugorje, maka hal itu diperbolehkan. Namun, akal sehat, mengatakan bahwa umat Katolik dari kedua belah pihak tentang peristiwa Medjugorje [pro dan kontra] harus menerapkan kearifan dan kasih dalam memperbincangkan tentang pihak lain yang percaya secara berbeda. Medjugorje bukanlah sebuah parameter uji dari kebenaran iman, walau setiap umat Katolik akan mempunyai kewajiban moral untuk menerima penilaian Roma, dengan cara yang diterangkan oleh Bapa Paus Benediktus, bila hal itu memang harus dilakukan.

(sumber dari http://www.ewtn.com/expert/answers/medjugorje.htm)

9. Kesimpulan:

Membaca keterangan di atas, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa walaupun belum ada pernyataan resmi dari Vatikan, namun besar kemungkinan fenomena yang terjadi di Medjugorje tidaklah merupakan penampakan-penampakan yang sejati/ otentik; sebab sejauh ini yang telah dinyatakan kepada kita adalah Non constat de supernaturalitate! Artinya, tidak ada hal yang adikodrati/ supernatural pada fenomena Medjugorje tersebut. Namun demikian, dikatakan bahwa Gereja tetap terbuka terhadap bukti-bukti baru, dan jika memang hal itu otentik, tentu Tuhan sendiri akan menyatakannya.

Dengan demikian, memang tidak dilarang jika umat mau berdoa di Medjugorje, seperti halnya juga tak ada larangan bagi siapapun untuk berdoa di gereja Katolik manapun, namun selayaknya tidak disertai dengan anggapan bahwa apa yang terjadi di sana sudah diakui oleh Gereja Katolik sebagai sesuatu yang otentik.

(Oleh: Ingrid Listiati dan Caecilia Triastuti- katolisitas.org)

Hidup yang Diubahkan Kristus melalui Ekaristi

4

I. Yesus yang kita terima dalam Ekaristi

Ada sebagian umat Katolik yang mempertanyakan: Apakah yang dapat kita terima dari mengikuti Ekaristi? Pertanyaan ini muncul karena mengikuti perayaan Ekaristi dipandang sebagai rutinitas belaka. Bahkan ada yang mengatakan, seseorang tidak mendapatkan apa-apa dari Ekaristi: ini sebuah pernyataan yang mungkin timbul karena ketidaktahuan. Namun, kalau seseorang benar-benar memahami tentang apa sebenarnya makna Ekaristi, bahwa Yesus sendiri hadir secara nyata – tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya -, maka sesungguhnya tidak ada yang dapat menggantikan Ekaristi. Itulah sebabnya Gereja Katolik mengatakan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG,11, KGK 1324), karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri. (lih. KGK 1324)

Kalau banyak orang berdoa agar Kristus dapat mewarnai, memberikan inspirasi, dan memberikan kekuatan dalam kehidupan, maka doa apakah yang dapat melebihi Ekaristi, di mana Kristus sendiri menyediakan diri-Nya untuk bersatu dengan kita secara lahir dan batin: Ia menyerahkan diri-Nya untuk menjadi santapan rohani bagi kita, untuk bersatu dengan tubuh dan jiwa kita. Tidak ada persatuan yang lebih erat antara kita dengan Kristus dibandingkan dengan persatuan yang terjadi di dalam Ekaristi. Persatuan yang erat dan tak terpisahkan dengan Kristus inilah yang dapat mengubah kehidupan kita, sehingga kita dapat mengalami pertobatan yang terus menerus, mampu untuk menjalani hidup ini dengan penuh pengharapan termasuk di dalam penderitaan kita. Melalui Ekaristi, kita dibentuk oleh Kristus sehingga mampu untuk melayani dan mengasihi sesama, bertumbuh dalam kekudusan, agar kita dapat sampai kepada keselamatan kekal.

II. Buah-buah Ekaristi

Untuk dapat memahami bagaimana Ekaristi dapat mengubah kita, maka kita perlu melihat buah-buah dari Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1391-1401), menjelaskan tentang buah-buah Ekaristi, yang terdiri dari: (1) Memperdalam persatuan kita dengan Kristus (KGK, 1391-1392); (2) Memisahkan kita dari dosa (KGK, 1393); (3) Memperkuat kasih dan menghapus dosa ringan (KGK, 1394); (4) Menjauhkan kita dari dosa berat masa mendatang (KGK, 1395); (5) Mempersatukan kita dengan Gereja (KGK, 1396); (6) Mengarahkan kita untuk berpihak pada kaum miskin (KGK, 1397); (7) Kesatuan dengan seluruh umat Kristen (KGK, 1398-1401).

Dari penjelasan Katekismus Gereja Katolik di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa buah-buah Ekaristi yang terutama adalah persatuan kita dengan Kristus sendiri, yang menyebabkan kita juga bersatu dengan Gereja yang adalah umat Allah, karena Kristus tak terpisahkan dengan Gereja-Nya, yang adalah anggota- anggota-Nya. Persatuan dengan Kristus ini juga yang memungkinkan kita untuk terpisah dari dosa sehingga kita dapat bertumbuh dalam kasih. Persatuan dengan Kristus ini membuat seseorang tidak mau mendukakan hati Kristus, termasuk dengan melakukan dosa ringan. Dan kalau seseorang telah mencoba melenyapkan dosa ketika dosa tersebut masih ringan, maka orang tersebut dapat dijauhkan dari dosa berat.  Dengan disposisi hati yang baik, maka kesatuan dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi akan membawa perubahan-perubahan di dalam kehidupannya ke arah yang lebih baik.

III. Ekaristi membuat kita mempunyai ‘aroma’ Kristus

Kalau seseorang makan buah duren, maka tanpa orang berkata apapun, sesungguhnya semua orang akan tahu bahwa orang tersebut baru saja makan duren. Mengapa? Karena seluruh tubuhnya mengeluarkan bau duren, seolah-olah duren telah bersatu dengan seluruh tubuh dan darah dari orang itu, dan mempengaruhi aroma tubuhnya. Bagaimana kalau seseorang menyantap Kristus sendiri dalam Ekaristi? Seharusnya orang tersebut harus mengeluarkan aroma Kristus, sehingga orang-orang dapat melihat bahwa ada Kristus di dalam diri orang tersebut.

Seharusnya orang yang telah menyantap Kristus harus berubah secara perlahan-lahan menjadi semakin serupa dengan Kristus sendiri. Kristus yang tentu saja lebih kuat dari duren, mampu untuk mengubah kita dari dalam, sehingga kehidupan kita dapat memancarkan kasih Kristus. Di bawah ini, kita akan melihat perubahan seperti apa yang seharusnya terjadi dalam kehidupan kita kalau kita terus dipersatukan oleh Kristus dalam Ekaristi?

IV. Ekaristi membawa pada pertobatan yang terus menerus

Perubahan pertama yang terjadi dalam diri kita adalah pertobatan yang terus menerus. Belas kasihan Tuhan yang dinyatakan di dalam Ekaristi membawa pertobatan, yang artinya ‘berbalik dari dosa menuju Tuhan’. Hal ini disebabkan karena kita tidak dapat bersatu dengan Tuhan yang kudus, jika kita tetap tinggal di dalam dosa. Pertobatan yang diikuti oleh pengakuan dosa yang menyeluruh adalah langkah pertama yang harus dibuat jika kita ingin sungguh-sungguh memulai kehidupan rohani. Langkah ini adalah pemurnian dari dosa berat (mortal sin). ((Cf. St Francis de Sales, An Introduction to the Devout Life, (TAN Books and Publishers, Rockford, Illinois, USA, 1994), p.14-15)) Sakramen Ekaristi tidak secara langsung menghapuskan dosa-dosa berat ini -sebab dosa- dosa berat harus diakukan dan dimohon pengampunannya melalui sakramen Tobat- namun Ekaristi secara tidak langsung menyumbangkan pengampunan atas dosa-dosa tersebut. ((Lihat Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, p. 77.)) Selanjutnya melalui Ekaristi, Tuhan memberikan rahmat kepada kita agar kita sungguh-sungguh bertobat, ‘membenci’ dosa kita, dan hidup dalam pertobatan yang terus-menerus, sebab Dia membantu kita untuk melepaskan diri dari keterikatan yang tidak sehat kepada dunia, yang menurut Santo Franciskus de Sales adalah ‘segala kecenderungan untuk berbuat dosa’. Di dalam Ekaristi, kita ‘melihat’ penderitaan Kristus, sebagai akibat dari dosa-dosa kita, sehingga kita terdorong untuk menghindari dosa tersebut. Dengan pertobatan ini, selanjutnya kita dapat bertumbuh dengan berakar pada Kristus. ((lih. KGK, 1394))

V. Kesediaan untuk menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti Kristus

Karena Ekaristi adalah menghadirkan kembali misteri Paskah – penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga – maka sesungguhnya, perubahan dalam hidup kita adalah kesediaan untuk turut serta dalam penderitaan Kristus dan menghadapinya bersama Kristus. Ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kristus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24)

Bagaimana kita dapat menyangkal diri dan memikul salib? Kita bersama-sama menyadari bahwa nilai-nilai yang ada di dunia ini sering bertentangan dengan nilai-nilai kekristenan. Rasul Yohanes mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini – yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup – bukanlah berasal dari Bapa (lih. 1Yoh 2:16). Penyangkalan diri diwujudkan dalam penyangkalan kedagingan kita, nafsu-nafsu kita yang tidak teratur; menyangkal diri yang menomor-satukan pekerjaan, harta dan kekuasaan; dan menyalibkan keangkuhan diri kita. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Namun, semua bentuk penyangkalan diri ini dan pengorbanan memikul salib terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri. Dan kurban Kristus inilah yang dihadirkan kembali secara nyata dalam setiap perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, kita yang telah dipersatukan oleh Kristus di dalam Ekaristi, diberikan kekuatan oleh Kristus untuk melakukan penyangkalan diri, memikul salib untuk mengikuti Dia. Semua penderitaan yang dialami oleh Kristus menjadi inspirasi dan kekuatan bagi kita untuk menghadapi berbagai penderitaan dengan tetap berpengharapan. Untuk mencapai hal ini, tidak ada cara lain, kecuali jika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus; agar oleh kuasa-Nya kitapun dimampukan untuk menghadapinya dengan tegar oleh karena percaya bahwa penderitaan akan membawa kita kepada kebangkitan bersama Kristus. Persatuan diri kita dengan Kristus dapat kita alami dan hayati di dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus.

VI. Siap untuk melayani bersama Kristus

Kristus mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:26-28) Persatuan dengan Kristus seharusnya membawa kita kepada semangat pelayanan, karena untuk itulah Kristus datang, yaitu untuk melayani kita manusia.

Menarik bahwa di ayat Mat 20:28, ketika Kristus berbicara tentang melayani, Ia menyebutkan tentang pemberian nyawa atau pemberian diri. Memang melayani adalah memberikan diri kita kepada orang lain. Sama seperti Kristus yang kematian-Nya [penyerahan diri-Nya] dihadirkan kembali di dalam setiap perayaan Ekaristi. Dia telah wafat, memberikan di-Nya untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kita juga harus memberikan diri kita untuk orang lain, yang harus kita mulai dari orang-orang terdekat kita: keluarga, komunitas kita, paroki kita, dan komunitas lainnya. Semangat Ekaristi akan menghasilkan bagi kita kekuatan untuk dapat melayani sesama, mengasihi mereka apa adanya, sama seperti Kristus rela mati untuk kita walaupun kita masih dalam kondisi berdosa (lih. Rom 5:8).

VII. Bertumbuh dalam kekudusan dengan spiritualitas Ekaristi

Kalau setiap hari kita mempunyai spiritualitas Ekaristi, maka kita akan semakin erat bersatu dengan Kristus. Misteri Paskah Kristus dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk menjalankan hidup ini dalam terang kematian dan kebangkitan Kristus, sehingga pada saat kita menghadapi penderitaan kita tidak kehilangan harapan dan sebaliknya pada saat kita mengalami kebahagiaan kita tidak lupa kepada Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan kepada kita.

Semangat kematian dan kebangkitan Kristus yang kita rayakan dalam peristiwa Ekaristi juga menyadarkan bahwa Kristus yang adalah Allah sungguh mengasihi kita, sehingga tidak ada cara lain bagi kita kecuali membalas kasih Kristus, dengan cara mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (lih. Mat 22:37). Kesadaran bahwa Allah telah mati bagi seluruh umat manusia, membuat kita juga mau mengasihi sesama kita atas dasar kasih Allah yang terlebih dahulu mengasihi sesama kita. Dengan demikian, spiritualitas Ekaristi yang kita hayati dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menuntun kita kepada kekudusan, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Allah. Kekudusan ini akan membawa kita kepada keselamatan, karena tanpa kekudusan tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah (lih. Ibr 12:4).

VIII. Yesus mengubah kita dari dalam

Kalau kita benar-benar menghayati spiritualitas Ekaristi dan sesering mungkin berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, maka secara perlahan-lahan, kita akan dibentuk oleh Kristus menjadi semakin mirip dengan Kristus. Kalau dalam perayaan Ekaristi, keseluruhan Kristus (tubuh, darah, jiwa dan keallahan Kristus) bersatu dengan kita dan kalau kita mempunyai disposisi hati yang baik untuk membiarkan Kristus mengubah dan membentuk kita, maka Kristus akan mengubah kita dari dalam. Dan perubahan ini memampukan kita untuk senantiasa mengalami pertobatan terus-menerus, mampu untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Kristus apapun resikonya, diberi kemampuan untuk melayani sesama, dan pada akhirnya diberikan rahmat dan kekuatan untuk bertumbuh dalam kekudusan, hingga pada akhirnya akan mengantar kita kepada keselamatan kekal. Mari mempercayai apa yang disabdakan oleh Kristus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54)

Perjamuan Sorgawi

3

Perjamuan adalah awal persahabatan

Ingatan saya melayang kepada kejadian sekitar 7 tahun yang lalu, saat saya dan suami saya, Stef, diundang makan oleh sepasang suami istri yang belum pernah kami kenal sebelumnya. Saat itu, kami belum lama tiba dan menetap di sebuah kota kecil di Wisconsin, Amerika Serikat, saat kami mengambil studi di sana. Mengikuti Misa harian di paroki merupakan salah satu kegiatan kami sehari-hari. Di minggu-minggu pertama, kami memang belum mempunyai sahabat di sana, walaupun kami sudah sering bertukar senyum dan salam dengan sesama umat. Sebagai pendatang baru di negeri asing, kami sudah terbiasa menerima salam dari mereka, namun suatu hari setelah selesai Misa pagi, kami dikejutkan oleh sapaan ini: “Excuse me, my name is Barb and this is Pat, my husband. We have been seeing you quite often at church so, we wonder if you would like to come to our house to have breakfast with us… ” Sapaan sederhana ini menjadi awal perkenalan kami dengan Barb dan Pat Stehly, sepasang suami istri separuh baya yang sangat setia membantu tugas imam di paroki untuk membagikan Komuni kudus dan mengunjungi orang-orang sakit. Makan bersama merupakan awal persahabatan kami dengan Pat dan Barb. Sejak saat itu kami mulai mengenal satu sama lain, dan mulai sering berbagi cerita, suka dan duka. Kami masih menjalin hubungan persahabatan dengan mereka sampai sekarang. Indahlah kenangan kami bersama mereka, yang dimulai dengan suatu langkah sederhana, yaitu makan bersama.

Perjamuan sorgawi: “Inilah Tubuh-Ku…. Inilah Darah-Ku”

Demikianlah, Kristus mengundang kita untuk menjadi sahabat-Nya dengan makan bersama-Nya. Kapankah Kristus menetapkan perjamuan yang istimewa itu?  Injil mengajarkan kepada kita, bahwa sebelum sengsara-Nya, Kristus mengadakan perjamuan terakhir bersama dengan para rasul-Nya. Pada saat itulah Kristus mengambil roti, mengucap syukur dan memecahkan roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuh-Ku …. ” dan juga Ia mengambil piala, dan berkata, “Inilah Darah-Ku …” Maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kristus sungguh bermaksud demikian, yaitu untuk menjadikan Diri-Nya sebagai makanan dan minuman bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Sebab menurut pemikiran orang Yahudi, tubuh merupakan pribadi dan darah merupakan sumber hidup yang menghidupi pribadi orang itu. Maka ketika Yesus mengatakan “Inilah Tubuh-Ku …. Inilah Darah-Ku … “, maksudnya adalah, “Inilah Diri-Ku”. Kristus memberikan diri-Nya seutuhnya kepada kita. Roti dan anggur itu diubah menjadi Tubuh dan Darah-Nya sendiri oleh kuasa Roh Kudus melalui perkataan Sabda Tuhan yang diucapkan oleh imam. Hal perubahan ini dikenal dalam istilah “transubstansiasi”, yang berarti: substansi roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (lih. KGK 1376), meskipun rupanya tetap adalah roti dan anggur.

Kristus sendiri berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia…. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58) Karena di dalam perjamuan ini, yang menjadi santapan ialah Kristus Sang Roti hidup yang turun dari Sorga, maka perjamuan ini adalah perjamuan Sorgawi. Juga, karena yang kita santap dalam perjamuan ini adalah Kristus, “Yang Kudus dari Allah” (Mrk 1:24), maka perjamuan ini disebut juga perjamuan kudus. Selain itu, perjamuan itu disebut perjamuan kudus, sebab kita yang menerimanya harus dalam keadaan berdamai dengan Tuhan, artinya, tidak dalam keadaan berdosa berat (lih. KGK 1385), dan sebab melalui perjamuan kudus Ekaristi itu Tuhan Yesus dengan cara-Nya sendiri menguduskan kita yang menyambut-Nya.

Mungkin kita pernah mendengar betapa orang mempertanyakan Ekaristi dan menganggap aneh, bahwa Yesus memerintahkan kita menyantap Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya. Jika banyak orang tak mengerti sekarang, sesungguhnya itu tidak mengherankan, sebab sejak awal saat Yesus memberikan ajaran ini, sudah banyak orang mengatakan, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60) Maka banyak dari mereka mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus (lih. Yoh 6:67). Namun Yesus tidak mengubah ajaran-Nya. Ia tidak berkata, “Tunggu dulu, maksud-Ku bukan inilah Tubuh-Ku, tetapi ini melambangkan Tubuh-Ku…” Sebaliknya, Ia bahkan bertanya kepada para rasul-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:61-69)

Di sini Rasul Petrus tidak mengatakan bahwa ia memahami bagaimana roti dan anggur dapat berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Namun ia hanya menerima otoritas perkataan Yesus, dan percaya akan kuasa Yesus yang dapat melakukannya, karena perkataan Kristus adalah perkataan hidup yang kekal. Rasul Paulus juga meyakini bahwa dalam Ekaristi, Kristus sungguh-sungguh hadir, sehingga ia mengatakan, “Barangsiapa dengan tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan….. barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (1Kor 11:27,29). Maka, kita umat Katolik, juga seperti Rasul Petrus dan Paulus, menerima apa yang dikatakan Yesus sebagai kebenaran, sebab perkataan-Nya adalah perkataan kehidupan kekal. Walaupun kita tidak juga tidak dapat memahami bagaimana roti dan anggur itu dapat diubah menjadi Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, namun kita menerima dengan iman bahwa Kristus dengan kuasa Roh Kudus-Nya, mengadakan perubahan itu, agar dapat memberikan diri-Nya sebagai santapan rohani bagi kita.

Ekaristi adalah Perjamuan yang memberi kita makan untuk hidup dan berbuah

Paus Benediktus XVI mengajarkan bahwa Perjamuan Terakhir diadakan Kristus pada saat memperingati Paska Yahudi, di mana bangsa Israel memperingati saat Allah membebaskan umat Israel dari penjajahan Mesir. Perjamuan ritual ini -yang mensyaratkan kurban anak domba- adalah peringatan masa lalu namun juga merupakan peringatan nubuat akan suatu pembebasan di masa yang akan datang. Orang-orang Yahudi menyadari bahwa pembebasan yang terjadi di masa yang lalu bukanlah pembebasan yang sifatnya definitif dan sudah selesai, sebab sejarah mereka terus diwarnai dengan perbudakan dan dosa. Dalam konteks inilah Kristus memperkenalkan karunia yang baru, yaitu sakramen Ekaristi, di mana Ia mengantisipasi dan menghadirkan kurban Salib-Nya dan kemenangan kebangkitan-Nya. Ia juga menyatakan kepada para rasul-Nya bahwa Ia-lah Anak Domba sejati yang dikurbankan, sesuai dengan rencana Allah Bapa (lih. 1Pet 1:18-20). ((lih. Paus Benediktus XVI, Ekshortasi Apostolik, Sacrament Caritatis, 10))

Maka Ekaristi adalah perjamuan kudus, sebab melalui Ekaristi di saat perjamuan Paska itu, Yesus mengubah roti dan anggur untuk menjadi Diri-Nya sendiri. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Ekaristi adalah sungguh perjamuan sejati, di mana Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai santapan yang menguatkan kita.” ((Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Euscharistia, 16)) Demikianlah, maka para jemaat pertama juga menyebut Ekaristi sebagai perjamuan Tuhan (1Kor 11:20). Kristus sendiri menyatakan bahwa Tubuh-Nya adalah benar-benar makanan dan Darah-Nya adalah benar-benar minuman (lih. Yoh 6:55), sebab Ia ingin agar kita menghubungkan Ekaristi dengan makanan dan minuman bagi kita sehari- hari. Sama seperti makanan dan minuman dapat menguatkan tubuh kita dan menjadi satu dengan tubuh kita; demikian pula Ekaristi dapat menguatkan kita, sehingga kita dapat menjadi seperti Dia yang kita terima.

Dengan menerima Kristus, kitapun menerima hidup ilahi-Nya. Kristus bersabda, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal [μένω/ ménō] pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal [μένω/ ménō] di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal [μένω/ ménō] di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-5). Ekaristi merupakan cara bagi kita untuk tinggal di dalam Dia, menerima hidup ilahi sehingga kita dapat bertumbuh dan menghasilkan buah. Sebab Yesus bersabda, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal [μένω/ ménō] di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Sebab sama seperti Kristus hidup oleh Bapa, maka kita yang memakan-Nya juga akan hidup oleh Kristus (lih. Yoh 6:57).

Ekaristi adalah Perjamuan yang mengakrabkan

Mungkin ada orang bertanya, atau bahkan kita sendiri bertanya, mengapa Tuhan Yesus memilih perjamuan untuk mendekatkan diri kepada kita? Nampaknya jawabannya sederhana: sebab makan bersama merupakan cara yang paling umum untuk membina persahabatan. Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, sebab hal itu sungguh kita alami sendiri dalam kehidupan kita. Jika kita sedang bersyukur, misalnya merayakan ulang tahun atau lulus ujian umumnya kita makan bersama dengan keluarga. Kalau kita ingin berkenalan dengan lebih dekat dengan seseorang, umumnya kita mengajaknya makan bersama kita; dan dari situ kita dapat berbicara dari hati ke hati.

Injil juga mengisahkan hal yang serupa di dalam kehidupan Yesus. Mukjizat Yesus yang pertama dibuatnya di perjamuan kawin di Kana (Yoh 2:1-11). Yesus makan bersama sahabat- sahabatnya, seperti ketika Ia berkunjung ke rumah Maria dan Marta (lih. Luk 10:38-42). Ia mengunjungi Zakheus dan makan bersamanya (Luk 19:1-10) dan ini membuahkan pertobatan Zakheus. Selanjutnya, salah satu mukjizat yang besar, yang dicatat oleh keempat Injil adalah mukjizat pergandaan roti, saat Yesus memberi makan lima ribu orang (lih. Mat 14:13-21; Mrk 6:30-44; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-13). Lalu sebelum wafat-Nya, Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya, saat Ia menetapkan perjamuan roti dan anggur sebagai kenangan akan kurban Tubuh dan Darah-Nya (lih. Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-10). Demikian pula, setelah kebangkitan-Nya, Kristus menyatakan Diri-Nya kepada kedua murid-Nya di Emaus saat Ia duduk makan bersama mereka dan memecah roti (lih. Luk 24:30-31). Juga saat menampakkan diri kepada para murid-Nya di danau Tiberias, Ia makan bersama  mereka (lih. Yoh 21:12-13). Bahkan Kerajaan Surga digambarkan sebagai perjamuan kawin Anak Domba (lih. Why 19:9). Itulah sebabnya sejak awal mula, Gereja merayakan perjamuan ini dengan memecah roti di antara mereka, di samping juga bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan dan doa (lih. Kis 2:42). Maka perjamuan roti dan anggur- yaitu Ekaristi, yang mempersatukan kita dengan Kristus, memang menjadi hal yang nyata diajarkan dalam Kitab Suci (lih. 1Kor 11:23-26).

Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus

Sebagaimana perjamuan mengakrabkan seseorang dengan yang lain, dengan menerima Kristus dalam Ekaristi, kita menjadi akrab dan digabungkan dengan Kristus. Perjamuan ini menjadi kenangan yang hidup akan kasih Tuhan Yesus yang demikian besar kepada kita, sampai Ia mau wafat bagi kita. Sebab sungguh ayat ini digenapi oleh Kristus: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13) Kristus memandang kita sebagai sahabat-sahabat-Nya, sebagai pemberian Allah Bapa kepada-Nya, sehingga Ia mau tinggal bersama-sama dengan kita (lih. Yoh 17:24). Maka Yesus mengaruniakan Ekaristi agar Ia dapat mempersatukan kita dengan-Nya, agar genaplah Sabda-Nya: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:56)

Untuk menangkap kedalaman makna persatuan dan kebersamaan ini, mungkin kita perlu merenungkan kedekatan kita dengan orang- orang yang kita kasihi di dunia ini. Contohnya, saat sebagai orang tua, kita mendekap anak kita, atau kebersamaan antara suami dan istri, atau kedekatan dengan seorang sahabat. Ekaristi adalah persatuan yang melampaui semuanya ini, sebab Ekaristi adalah persatuan kita dengan Kristus sendiri; dan melalui Kristus, dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Persatuan kita dengan Kristus inilah yang kita sebut sebagai “Komuni kudus”, yang menjadikan kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya (lih. KGK 1331).

St. Ignatius dari Antiokhia mengatakan dengan indahnya tentang persatuan kita dengan Kristus ini, “Pada pertemuan-pertemuan ini [perayaan Ekaristi], kamu … memecah roti yang satu, yang adalah obat kekekalan, dan penawar racun yang menghapus kematian, namun menghasilkan hidup kekal di dalam kesatuan dengan Yesus Kristus.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Ephesians, n.20)). Ya, komuni dengan Tubuh dan Darah Kristus, memperteguh persatuan kita dengan Kristus, mengampuni dosa-dosa ringan yang kita lakukan, dan melindungi kita dari dosa berat, sebab dengan menerima sakramen ini, ikatan kasih antara kita dan Kristus diperkuat, dan dengan demikian kesatuan Gereja juga diperteguh (lih. KGK 1416).

Ekaristi mempersatukan kita dengan sesama anggota Kristus

Maka, selain mempersatukan kita dengan Kristus, Ekaristi juga mempersatukan kita dengan sesama anggota Tubuh Kristus lainnya. Oleh karena kita menerima Kristus yang satu dan sama, maka kita dipersatukan di dalam Dia yang adalah Sang Kepala kita (lih. Kol 1:18; Ef 5:23). Rasul Paulus mengajarkan, “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1Kor 10:15-16). Ya, dengan mengambil bagian di dalam Ekaristi, kita bersatu dengan Kristus Sang Kepala, dan dengan sesama anggota-Nya menjadi satu Tubuh (lih. KGK 1329).

Kita manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi semakin menyerupai Dia, yaitu supaya semakin dapat mengasihi; sebab Tuhan adalah Kasih (1 Yoh 4:8). Kasih itu mempersatukan. Oleh karena itu, sebagai manusia kita menginginkan persatuan, baik dengan Tuhan, maupun dengan sesama kita. Kristus- juga mempunyai kerinduan yang sama: bahwa Ia ingin tinggal bersama semua orang yang percaya kepada-Nya (lih. Yoh 6:56), namun juga Ia ingin agar semua yang percaya kepada-Nya menjadi satu, “Aku berdoa ….juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku …. supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21). Maka, persatuan kita dengan Kristus, harus juga membawa persatuan kita dengan semua orang yang percaya kepada-Nya; sebab hal ini merupakan kehendak Kristus sendiri.

Ekaristi juga mempersatukan kita dengan semua anggota yang sudah beralih dari dunia ini

Karena Kristus hanya satu dan Tubuh-Nya juga hanya satu, maka satu jugalah kita semua anggota-anggota-Nya, baik Gereja yang masih berziarah di dunia ini, Gereja yang sudah berjaya di surga, maupun Gereja yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Karena semua anggota- anggota Kristus dipersatukan oleh kasih Kristus yang melampaui maut (lih. Rom 8:38-39). Itulah sebabnya di dalam Komuni kudus ini kita mengingat juga persekutuan dengan para kudus di surga, terutama Bunda Maria (lih. KGK 1370); dan kita dapat mengajukan intensi doa permohonan bagi saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, yaitu mereka yang ‘telah meninggal di dalam Kristus namun yang belum sepenuhnya dimurnikan’ sehingga mereka dapat memasuki terang dan damai Kristus (KGK 1371) yang kekal dalam kerajaan Surga.

Dengan adanya kesatuan dengan Kristus Tuhan sebagai Sang Kepala dan  dengan semua anggota Kristus, baik yang dunia ini maupun yang sudah beralih dari dunia ini, maka ada dimensi ilahi dalam setiap perayaan Ekaristi. Perjamuan Ekaristi tidak hanya merupakan penyembahan dan ucapan syukur kita di dunia ini tetapi juga para malaikat dan semua para kudus di surga. Melalui Ekaristi, mata hati kita diarahkan akan penggenapan iman dan harapan kita, akan kemuliaan surgawi (lih. KGK 1402), di mana kita akan bersatu dengan Dia dan seluruh isi surga untuk memuji dan memuliakan Dia.

Ekaristi sebagai janji kemuliaan Tuhan yang akan datang

Gereja mengajarkan bahwa Kristus hadir di tengah umat-Nya, dan di dalam rupa Ekaristi saat ini, namun  Ia hadir secara terselubung. Kita tetap “menantikan dengan penuh kerinduan akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus”, di mana kita akan dapat memandang Allah, menjadi serupa dengan-Nya, memuji Dia selamanya melalui Kristus (lih. KGK 1404). Sebab pada Perjamuan Terakhir, Kristus berkata bahwa Ia tidak akan minum lagi dari pokok anggur sampai pada saat Ia meminumnya bersama dengan kita dalam Kerajaan Bapa (lih. Mat 26:29; Luk 22:18; Mrk 14:25). Maka setiap kali Gereja merayakan Ekaristi, ia mengingat janji ini sambil mengarahkan pandangannya kepada Kristus yang akan datang (lih. KGK 1403), yang akan menggenapinya. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa di dalam perayaan Ekaristi, “…kita disatukan dengan ‘liturgi’ surgawi dan menjadi bagian dari para kudus yang jumlahnya berlaksa-laksa yang menyerukan, “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Why 7:10). Ekaristi adalah sungguh sekilas surga yang nampak di dunia.” ((Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 19))

Maka Ekaristi menuntun Gereja mencapai tujuan akhirnya di mana persekutuan dengan Allah dan sesama mencapai kesatuan yang sempurna, yaitu “keadaan persatuan dengan Kristus, yang pada saat yang sama membuatnya mungkin untuk masuk ke dalam kesatuan yang hidup dengan Allah sendiri, sehingga Tuhan dapat menjadi semua di dalam semua (1Kor 15:28).” ((Joseph Cardinal Ratzinger (Pope Benedictus XVI), Called to Communion, (San Francisco: Ignatius Press, 1991), p. 33))

Ekaristi adalah Perjamuan Tubuh dan Darah Kristus menurut Bapa Gereja

Berikut ini adalah pengajaran dari para Bapa Gereja, yang sudah sejak abad awal mengajarkan bahwa perayaan Ekaristi sungguh merupakan perayaan perjamuan Tubuh dan Darah Kristus, di mana Kristus sendiri hadir dan  menyatu dengan kehidupan jemaat:

1. St. Yustinus Martir (100-165)

“Maka lalu dibawa kepada pemimpin para saudara, roti dan sepinggan anggur yang dicampur dengan air; dan saat mengambilnya ia memberi pujian dan kemuliaan kepada Allah Bapa Semesta alam, melalui nama Sang Putera dan Roh Kudus, dan mempersembahkan syukur yang panjang karena kita dianggap layak menerima semua ini dari tangan-Nya. Dan ketika ia telah menyelesaikan doa- doa dan ucapan syukur, semua orang yang hadir menyatakan persetujuan mereka dengan mengatakan, Amin. Perkataan Amin dalam bahasa Ibrani menjawab, “biarlah demikian”. Dan ketika pemimpin telah mengucap syukur, dan semua orang telah menyatakan persetujuan mereka, mereka yang disebut diakon memberikan kepada setiap yang hadir, untuk mengambil bagian dari roti dan anggur yang telah dicampur air yang atasnya telah diucapkan syukur dan kepada mereka yang tidak hadir, mereka bawakan bagiannya.

Dan makanan ini disebut di antara kami sebagai Ekaristi, yang tentangnya tak seorangpun diperkenankan menyambutnya selain seseorang yang percaya bahwa hal-hal yang kami ajarkan adalah benar, dan yang telah dibasuh dengan Pembaptisan yaitu untuk penghapusan dosa, dan untuk kelahiran kembali, dan yang hidup sesuai dengan apa yang diperintahkan Kristus. Sebab bukanlah sebagai roti biasa dan minuman biasa kami terima ini semua; tetapi sebagaimana pada Yesus Kristus Penyelamat kita, yang setelah menjelma menjadi manusia oleh Sabda Tuhan, mempunyai tubuh dan darah demi keselamatan kita, demikianlah pula, kami telah diajarkan bahwa makanan yang telah diberkati dengan perkataan doa-Nya dan yang dari mana darah dan tubuh kami diberi makan oleh transmutasi, adalah tubuh dan darah dari Yesus yang telah menjadi manusia. Sebab para Rasul dalam catatan peringatan yang mereka susun, yang disebut Injil, telah diteruskan kepada kami apa yang telah diajarkan kepada mereka; bahwa Yesus mengambil roti, dan ketika Ia telah mengucap syukur, dan berkata, “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku, inilah tubuh-Ku… (Luk 22:19) dan dengan cara yang sama, setelah mengambil piala dan mengucap syukur, Ia berkata, “Inilah darah-Ku; (Mat 26:28) dan memberikan kepada mereka….  ” ((St. Justin Martyr, First Apology, ch. 65-66))

2. St. Siprianus (w 258)

“Akulah roti hidup yang turun dari Surga. Barangsiapa makan roti ini akan hidup selamanya …. (Yoh 6:51-52). Sejak saat Ia berkata demikian, barangsiapa yang makan Roti itu, memperoleh hidup kekal, sebagaimana dinyatakan bahwa mereka hidup, yang menerima Ekaristi dengan komuni yang benar, dan di sisi yang lain, kita harus gentar dan berdoa, jika tidak, siapapun, ketika ia terputus dan terpisah dari tubuh Kristus, menjadi tetap terpisah dari keselamatan, seperti yang dikatakan-Nya, “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Maka kita mohon agar roti kita, yaitu Kristus, diberikan kepada kita setiap hari, sehingga kita yang tinggal dan hidup di dalam Kristus, tidak akan menarik diri dari pengudusan-Nya dan dari Tubuh-Nya. ((St. Cyprian, The Lord’s Prayer, Ch. 18))

3. St. Sirilus dari Yerusalem (313-386)

“Oleh karena itu dengan keyakinan yang penuh marilah kita mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah Kristus: sebab di dalam rupa Roti diberikan kepadamu Tubuh-Nya, dan di dalam rupa anggur, Darah-Nya; sehingga dengan mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, kamu dapat dibuat menjadi tubuh yang sama dan darah yang sama dengan Dia. Sebab dengan demikian kita dapat mengandung Kristus di dalam kita, sebab Tubuh dan Darah-Nya dibagikan melalui anggota- anggota kita, sehingga karena itu, menurut Petrus yang Terberkati, kita menjadi pengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Pet 1:4).” ((St. Cyril of Jerusalem, Catecheses, 22:3))

4. St. Ambrosius (337-397)

“Mungkin kamu akan berkata, “Aku melihat sesuatu yang lain, bagaimana kamu dapat menyatakan bahwa aku menerima Tubuh Kristus?” Dan ini adalah hal yang tetap bagi kita untuk dibuktikan. Dan bukti apa yang harus kita gunakan? Biarlah kita membuktikan bahwa ini bukan apa yang dibuat oleh kodrat, tetapi apa yang oleh rahmat dikonsekrasikan, dan kuasa rahmat lebih besar daripada kuasa kodrat, sebab oleh rahmat, kodrat itu sendiri diubahkan.” ((St. Ambrose, On the Mysteries, 9:50))

“Jangan melihat di dalam roti dan anggur bahan- bahan alami biasa, sebab Kristus telah mengatakan dengan jelas bahwa roti dan anggur itu adalah TubuhNya dan Darah-Nya: iman meyakinkan kamu akan hal ini, meskipun perasaanmu menyatakan sebaliknya.” ((St. Ambrose, Mystagogical Catecheses, IV, 6: SCh 126, 138))

5. St. Agustinus (354-430)

Daging-Ku,” kata-Nya, “Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Para orang percaya mengenali tubuh Kristus; jika mereka mengabaikannya, janganlah menjadi tubuh Kristus. Biarlah mereka menjadi tubuh Kristus, jika mereka ingin hidup oleh Roh Kristus. Tak ada seorangpun hidup oleh Roh Kristus tetapi hanya tubuh Kristus …. Adalah untuk ini Rasul Paulus menjelaskan tentang roti ini, “Satu roti,” katanya, [maka] “kita walaupun banyak namun adalah satu” (1Kor 10:17). O rahasia kesalehan! O tanda kesatuan! O ikatan cinta kasih! Ia yang mau hidup, mempunyai tempat untuk hidup, mempunyai sumber untuk hidup. Biarlah ia datang mendekat, biarlah ia percaya, biarlah ia menjadi satu, sehingga ia dapat menjadi hidup.” ((St. Augustine, On the Gospel of John, Tr 26:13))

6. St. Leo Agung (391-461)

“Sebab ketika Tuhan berkata, “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak akan mempunyai hidup di dalam dirimu” (Yoh 6:53), demikianlah kamu harus menjadi pengambil bagian di dalam altar yang kudus, dan tak mempunyai keraguan apapun mengenai realitas Tubuh dan Darah Kristus. Sebab apa yang diterima di dalam mulut adalah apa yang dipercaya di dalam iman, dan adalah sia-sia bagi mereka untuk menjawab Amin, yang meragukan apa yang telah diterima. ((St. Leo Agung, Sermons, no. 91:3))

Gereja hidup dari Ekaristi

Sebagaimana manusia dapat hidup karena makan, demikianlah sejarah Gereja menunjukkan bahwa Gereja hidup oleh perjamuan Ekaristi. Gereja menerima santapan surgawi dari Kristus, dan karena itu memperoleh hidup dari Kristus ((lih. Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 1,7)), dan menjadikannya sebagai hidupnya sendiri. Tuhan Yesus telah memberikan seluruh hidup-Nya, supaya kita yang percaya kepada-Nya dapat hidup di dalam Dia. Yesus bersabda, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia….” (Yoh 6:51). Karena Kristus sendirilah yang kita sambut di dalam Ekaristi, maka benarlah apa yang dinyatakan dalam Konsili Vatikan II, yaitu bahwa Ekaristi disebut sebagai “sumber dan puncak kehidupan Kristiani” (KGK 1324). “Sebab di dalam Ekaristi terkandung keseluruhan kekayaan rohani Kristus: yaitu Kristus sendiri, Paska kita dan Roti kehidupan kita. Melalui Tubuh-Nya sendiri yang sekarang dibuat hidup dan memberi hidup oleh kuasa Roh Kudus, Kristus mempersembahkan hidup-Nya bagi manusia.” ((Konsili Vatikan II, Dekrit Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, Presbyterorum Ordinis, 5))

Kesimpulan

Oleh karena besar kasih-Nya, Kristus meninggalkan kenangan perjamuan Ekaristi kepada Gereja-Nya. Ia menghendaki agar kita yang tergabung di dalam Tubuh-Nya sungguh menyantap Tubuh dan Darah-Nya yang adalah benar- benar makanan dan minuman, agar kita beroleh hidup yang kekal di dalam Dia. Karena Kristus Tuhan sendirilah yang kita sambut dalam Ekaristi, maka Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Sebagai tanda kasih Kristus, Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus Tuhan yang adalah Kasih, dan juga mempersatukan kita dengan  sesama anggota Kristus, yaitu Gereja. Dengan kesatuan dengan Kristus yang adalah Kepala, kita juga disatukan dengan semua anggota tubuh-Nya, baik yang masih hidup di dunia, maupun yang telah beralih dari dunia ini, yaitu mereka yang masih dimurnikan di Api Penyucian dan mereka yang telah berjaya di surga. Dalam kesatuan dengan Kristus, kita mengarahkan pandangan kepada kesatuan yang sempurna dengan Allah dan sesama di Surga kelak, di mana Allah meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28).

Agaknya peninggalan kurban dan perjamuan Ekaristi yang diperingati Gereja setiap hari sampai akhir zaman merupakan penggenapan dari kalimat ini: “Kristus mengasihi kita sampai pada akhirnya”. Ia menunjukkan kasih-Nya ini dengan mengurbankan hidup-Nya (lih. Yoh 15:13); namun kasih-Nya ini tidak berhenti setelah kematian-Nya. Sebab Kristus terus hidup setelah kebangkitan-Nya, demikianlah kasih-Nya kepada kita tetap ada selamanya. St. Agustinus mengatakannya dengan begitu indahnya, “Tidak hanya sejauh itu saja Ia mengasihi kita, [sebab] Ia selalu dan selamanya mengasihi kita. Jauhlah kiranya dari kita untuk berpikir bahwa Ia menjadikan kematian sebagai akhir dari cinta kasih-Nya kepada kita, [sebab] Ia tidak menjadikan kematian sebagai akhir dari kehidupan-Nya.” ((St. Augustine, In Ioann. Evang., 55,2)). Cinta kasih Kristus yang tiada berakhir dan tiada terbatas ini yang dirayakan di dalam Ekaristi. Selayaknya kita senantiasa bersyukur untuk karunia Ekaristi, yang memungkinkan kita untuk selalu mengalami kasih-Nya dalam kesatuan dengan Dia, sebab kita disatukan dengan Tubuh dan Darah-Nya, Jiwa dan ke-Allahan-Nya.

“Tuhan Yesus, kumohon, buatlah aku semakin memahami, mengasihi dan mengalami Engkau yang hadir dalam Ekaristi.”

Appendix

Doa sebelum dan sesudah Komuni

Doa sebelum Komuni
disusun oleh St. Thomas Aquinas, Pujangga Gereja (1225- 1274)

Tuhan yang Mahabesar dan kekal,
aku menghadap sakramen Putera Tunggal-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus.
Aku datang sebagai orang yang sakit kepada Sang Tabib Kehidupan,
sebagai orang yang berdosa ke hadapan mata air belas kasih,
sebagai orang buta ke hadapan Terang yang kekal,
sebagai orang miskin dan papa kepada Tuhan langit dan bumi.

Karena itu, aku memohon kelimpahan rahmat-Mu yang tak terbatas
agar Engkau berkenan memulihkan penyakitku, mencuci noda dosaku, menerangi kebutaanku, memperkaya kemiskinanku,
sehingga aku dapat menerima Roti para malaikat, Raja dari segala raja,
dengan segala penghormatan dan kerendahan hati, dengan kasih yang besar,
dengan kemurnian dan iman, dengan tujuan dan maksud
yang dapat berguna bagi keselamatan jiwaku.

Berikankah kepadaku, kumohon,
rahmat untuk menerima tidak saja sakramen Tubuh dan Darah Tuhan kami,
tetapi juga rahmat dan kuasa dari sakramen ini.
O, Tuhan yang Maha Pemurah, dengan menerima Tubuh Putera-Mu yang Tunggal,
Tuhan kami Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Perawan Maria,
karuniakanlah kepadaku rahmat untuk boleh digabungkan dengan Tubuh Mistik-Nya dan terhitung sebagai anggota- anggota Tubuh-Nya.

O Tuhan yang Maha Pengasih, berikanlah kepadaku rahmat untuk memandang wajah sesungguhnya dari Putera-Mu terkasih selamanya di surga, yang kini akan kuterima dalam rupa yang terselubung.

Amin.

Doa sesudah Komuni
disusun oleh St. Thomas Aquinas, Pujangga Gereja (1225-1274)

Aku berterima kasih kepada-Mu, Bapa yang kekal,
karena oleh belas kasihan-Mu yang murni
Engkau telah berkenan memberi makan jiwaku dengan Tubuh dan Darah Putera Tunggal-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus.

Kumohon kepada-Mu agar Komuni kudus ini tidak menjadi kutukan bagiku,
tetapi menjadi penghapusan yang berdayaguna untuk semua dosaku.
Semoga Komuni ini menguatkan imanku, membangkitkan di dalamku semua yang baik, membebaskan aku dari kebiasaan- kebiasaan buruk, menghapuskan semua kecondongan terhadap dosa, menyempurnakan aku di dalam kasih, kesabaran, kerendahan hati, baik yang kelihatan dan tak kelihatan, menjadikankanku bersahaja dalam segala hal, mempersatukanku dengan-Mu dengan erat, Sang Kebaikan sejati, dan tempatkanlah aku dalam kebahagiaan yang tak dapat berubah.

Kini aku memohon dengan sungguh agar suatu hari nanti Engkau akan menerima aku, meskipun aku orang berdosa dan tidak layak, untuk menjadi seorang tamu pada Perjamuan Ilahi di mana Engkau, dengan Putera-Mu dan Roh Kudus, adalah Terang Ilahi, kesempurnaan kekal, sukacita yang tak berkesudahan dan kebahagiaan sempurna dari semua orang Kudus, melalui Kristus Tuhan kami.

Amin.

Doa sesudah Komuni

ANIMA CHRISTI
doa Gereja yang populer di abad 14, yang dikutip oleh St. Ignatius Loyola dalam bukunya Spiritual Exercises.

Jiwa Kristus, kuduskanlah kami
Tubuh Kristus, selamatkanlah kami
Darah Kristus, sucikanlah kami
Air dari lambung Kristus, basuhlah kami

Sengsara Kristus, kuatkanlah kami
O Yesus yang murah hati, luluskanlah doa kami
Dalam luka- luka-Mu sembunyikanlah kami
Jangan kami dipisahkan dari pada-Mu, ya Tuhan
Terhadap Seteru yang curang, lindungilah kami
Di saat ajal, terimalah kami
Agar bersama para kudus, kami memuji Engkau selamanya.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab