Home Blog Page 169

Tentang Panggilan dan Misi Kaum Awam

8

Salah satu dokumen Magisterium Gereja yang dapat dipakai sebagai dasar komunitas awam adalah Ekshortasi apostolik, Christifideles Laici (CL), tentang Panggilan dan Misi Kaum Awam, yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II yang Terberkati. Teks lengkapnya dapat dibaca di link ini, silakan klik.

Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa dasar tugas panggilan dan misi kaum awam adalah persekutuan dengan Kristus (lih. CL 8). Misteri persekutuan dengan Kristus inilah yang menyatakan martabat panggilan dan misi kaum awam. Maka pelaksanaan tugas panggilan kaum awam pada dasarnya merupakan 1) partisipasi kaum awam dalam ketiga misi Kristus sebagai imam, nabi dan raja (lih. CL 14), yaitu misi yang kita peroleh setelah kita dibaptis- dan 2) sebagai langkah nyata yang dilaksanakan untuk dapat bertumbuh dalam kekudusan (lih. CL 16-17), yang menjadi panggilan semua umat Kristen.

Nah, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa persekutuan dengan Kristus diperoleh di dalam Sabda Tuhan dan sakramen-sakramen, terutama sakramen Ekaristi (lih. CL 19). Juga karena Gereja adalah persekutuan para orang kudus dengan Kristus sebagai Kepalanya, maka persekutuan kita dengan Kristus juga harus mengakibatkan persekutuan kita dengan anggota-anggota Kristus lainnya (lih. CL 19), yang beragam dan saling melengkapi (lih. CL 20-21), di mana tiap-tiap anggota menjalankan perannya masing-masing untuk membangun Gereja, demi kebaikan umat manusia dan dunia (lih. CL 24). Terkait dengan persekutuan ini, maka semua komunitas umat beriman harus berkomitmen untuk mengatasi segala bentuk perpecahan dan pertentangan, sebab hal ini tidak sesuai dengan hakekat persekutuan dengan Kristus dan Tubuh-Nya (lih. CL 31)

Maka adalah hak awam untuk mendirikan komunitas awam (CL 29); namun terdapat kriteria-nya agar bentuk-bentuk ini dapat dikatakan otentik (lih. CL 30):

1. Tujuan utamanya adalah untuk memenuhi panggilan setiap umat beriman kepada kekudusan.

2. Bertanggung jawab untuk mengakui iman Katolik yang sepenuhnya: kebenaran akan Kristus, Gereja dan umat manusia, sesuai dengan ajaran Magisterium.

3. Memberikan kesaksian akan persekutuan yang kuat dan otentik, dalam ketaatan kepada Bapa Paus dan pada iman Gereja.

4. Sesuai dan berpartisipasi di dalam tujuan karya kerasulan Gereja, yaitu evangelisasi dan pengudusan umat manusia dan pembentukan hati nurani umat Kristiani, agar dapat menanamkan semangat Injil di dalam sendi-sendi kehidupan manusia.

5. Berkomitmen untuk hadir dalam masyarakat untuk melayani martabat manusia- atas dasar bahwa semua manusia diciptakan menurut gambaran Tuhan- dan untuk melayani kehidupan.

Selanjutnya, perlu diketahui bahwa kaum awam mempunyai panggilan dan misi untuk mewartakan Injil (lih. CL 33). Melalui evangelisasi, Gereja dibangun menjadi komunitas iman, yaitu komunitas yang mengakui iman yang setia penuh pada Sabda Tuhan, sebagaimana dirayakan dalam sakramen, dan komunitas yang hidup di dalam kasih yang menjadi prinsip ajaran moral Kristiani (lih. CL 33). Prinsip utama dari pewartaan kaum awam ini adalah membawa terang Kristus ke dalam dunia sekular, sehingga nilai-nilai kehidupan di dunia ini dapat diarahkan kepada Kristus. Titik awal dari panggilan dan misi ini dimulai dari keluarga yang adalah inti sel masyarakat yang terkecil (CL 40), dan tujuan dari misi ini adalah untuk melayani kehidupan masyarakat, demi kebaikan bersama (lih. CL 42).

Untuk melakukan tugas panggilan dan misi kaum awam, diperlukan proses formasi/ pendewasaan iman di dalam kesatuan dengan Kristus, sebagaimana ranting harus selalu melekat pada pokoknya (Lih. Yoh 15; CL 57). Tujuan yang paling mendasar dari proses ini adalah agar setiap orang yang terlibat dapat mengetahui dengan lebih jelas akan panggilan hidupnya dan berkemauan lebih besar untuk melaksanakan misinya (lih. CL 58). Untuk dapat mengetahui kehendak Tuhan di dalam hidup kita ini hanya dapat diperoleh melalui: 1) mendengarkan Sabda Tuhan dan Gereja, 2) doa yang sungguh-sungguh dan terus menerus, 3) bimbingan dari pembimbing rohani yang bijaksana, 4) discernment yang terus menerus tentang berbagai karunia dan talenta yang sudah diberikan Tuhan dan juga keadaan di mana kita tinggal (lih. CL 58). Proses formasi ini pada dasarnya adalah proses pembentukan diri agar dapat semakin terbuka terhadap karya Allah (lih. CL 63).

Bersumber dari panggilan dan misi sebagai umat Kristiani inilah, lahirlah karya-karya kerasulan awam. Salah satu dokumen Gereja (dari Konsili Vatikan II) yang mengatur kegiatan ini adalah dekrit tentang Kerasulan Awam yang berjudul Apostolicam Actuositatem yang teksnya dapat dibaca di sini, silakan klik

Kitab Suci dengan jelas mengisahkan keteribatan kaum awam, sejak awal mula terbentuknya Gereja (lih. Kis 11:19-21; 18:26; Rom 16:1-16; Flp 4:3). Sedangkan cara hidup komunitas jemaat/ Gereja awal ditulis dalam Kis 2:41-47.

Tentang tugas kerasulan kaum awam, Katekismus mengajarkan demikian:

KGK 900    Kaum awam, seperti juga semua umat beriman, telah menerima dari Allah tugas kerasulan berkat Pembaptisan dan Penguatan; karena itu mereka mempunyai hak dan kewajiban, baik sendiri-sendiri maupun dalam persekutuan dengan orang lain, untuk berusaha supaya semua manusia di seluruh dunia mengenal dan menerima berita keselamatan ilahi. Kewajiban ini lebih mendesak lagi, apabila orang tertentu hanya melalui mereka dapat menerima Injil dan mengenal Kristus. Dalam persekutuan gerejani kegiatan mereka sekian penting, sehingga kerasulan pastor sering tidak dapat berkembang sepenuhnya tanpa mereka.

KGK 910    “Kaum awam dapat juga merasa dirinya terpanggil atau dapat dipanggil,untuk bekeja sama dengan para gembala mereka dalam dalam melayani persekutuan gerejani, demi pertumbuhan dan kehidupan persekutuan itu. Dalam pada itu mereka dapat mengambil alih pelayanan yang sangat berbeda-beda, sesuai dengan rahmat dan karisma yang Tuhan anugerahkan kepada mereka (EN 73).

Selanjutnya tentang tugas penginjilan/ evangelisasi, dasarnya dapat dibaca di dokumen Ekshortasi Apostolik Evangelii Nuntiandi, oleh Paus Paulus VI, silakan klik.

Kristus yang Dikandung dari Roh Kudus, Dilahirkan oleh Perawan Maria

14

I. Dasar Inkarnasi dari Kitab Suci:

  • Yoh 1:1-14– Sang Firman itu ada bersama-sama dengan Allah pada mulanya dan Sang Firman itu adalah Allah
  • Yoh 1:14– Sang Firman/ Sang Sabda itu menjadi manusia
  • Mat 16:13-17– Yesus adalah Mesias, Sang Putera Allah
  • Mat 28:18-19– Kristus telah diberikan segala kuasa
  • Yoh 3:16– Karena begitu besar kasih Allah akan dunia, Ia mengutus Putera-Nya ….
  • Yoh 14:6– Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup
  • Yoh 15:12-27– Yesus menjelma menjadi manusia agar menjadi teladan kekudusan bagi semua orang yang percaya dan mengikuti-Nya
  • Flp 2:5-11– Dalam nama Yesus, semua orang akan bertekuk lutut
  • 2Pet 1:3-4– Sang Sabda menjadi manusia untuk membuat kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi.
  • 1Yoh 4:10 – Karena Tuhan mengasihi kita, Ia mengutus Putera-Nya yang Tunggal.

II. Dasar Inkarnasi dari Tradisi Suci:

  • St. Ignatius dari Antiokhia (35-117): “Ada seorang Tabib yang aktif, baik di dalam tubuh maupun jiwa …. Tuhan di dalam manusia, kehidupan sejati di dalam kematian, Anak Maria dan Anak Allah, yang pertama dapat menderita dan yang kemudian tidak dapat menderita, Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Letter to the Ephesians, Chap.3)
  • St. Irenaeus (130-202): “[Gereja percaya] akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi …. dan akan Yesus Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia untuk keselamatan kita; dan di dalam Roh Kudus, yang mewartakan rencana ilahi melalui para nabi…” (Against Heresies, Ch. I)
  • St. Klemens dari Aleksandria (150-215): “Sang Sabda ini adalah Kristus, penyebab keberadaan kita pada mulanya ….dan penyebab kesejahteraan kita. Sabda ini kini telah menjadi manusia – Pencipta segala rahmat…. telah diutus di jalan kita kepada kehidupan kekal … Ini adalah Sang Putera…, pernyataan Sabda yang sudah ada sejak awal mula dan sebelum awal mula. Sang Penyelamat, yang telah ada sebelumnya, kini telah muncul; sebab Sang Sabda yang telah ada bersama-sama dengan Allah dan yang melalui-Nya semua telah diciptakan, telah muncul sebagai Guru kita. Sang Sabda yang pada mulanya mengaruniakan kehidupan kepada kita sebagai Pencipta ketika Ia membentuk kita, mengajarkan kepada kita bagaimana untuk hidup dengan baik ketika Ia muncul sebagai Guru kita, sehingga sebagai Tuhan, Ia dapat mempimpin kita kepada hidup yang tanpa akhir. (Exhortation to Heathen, Chap I,7:1)
  • St. Gregorius dari Nissa (335-395): “Maka jika kamu bertanya dengan cara apa ke-Allah-an dicampurkan dengan kemanusiaan, kamu akan memperoleh kesempatan untuk pertanyaan awal tentang berbaurnya jiwa dengan tubuh. Tapi seandainya kamu tidak tahu caranya bagaimana jiwa bersatu dengan tubuh, jangan berharap bahwa pertanyaan lainnya itu harus berada dalam jangkauan pemahamanmu. Sebaliknya, seperti di dalam kasus persatuan antara jiwa dan tubuh, sementara kita memperoleh alasan untuk percaya bahwa jiwa adalah sesuatu yang berbeda dari tubuh – sebab tubuh jika terpisah dari jiwa, akan mati dan tidak aktif-, kita tidak memperoleh pengetahuan yang pasti tentang cara persatuan itu. Sehingga di dalam pertanyaan lainnya tentang persatuan antara ke-Allahan dan kemanusiaan, sementara kita menyadari bahwa terdapat perbedaan berkenaan dengan derajat kemuliaan antara kodrat ke-Allahan dan kodrat kemanusiaan yang fana, kita juga tidak dapat menangkap bagaimana elemen-elemen keilahian dan kemanusiaan dicampurkan bersama. Namun demikian, kita tidak dapat ragu bahwa Tuhan lahir di dalam kodrat manusia, oleh karena mukjizat -mukjizat yang telah disebutkan di atas.” (The Great Catechism, no.11)
  • St. Agustinus (354-430): “Tetapi ada orang-orang yang meminta penjelasan tentang bagaimana Tuhan dapat bersatu dengan manusia sedemikian sehingga menjadi seorang Pribadi Kristus, seakan-akan mereka dapat menjelaskan sesuatu yang terjadi setiap hari, yaitu bagaimana jiwa dapat bersatu dengan tubuh untuk membentuk seorang pribadi manusia. Sebab, seperti jiwa menggunakan tubuh seorang pribadi untuk membentuk manusia, maka Tuhan menggunakan seorang manusia di dalam seorang Pribadi untuk membentuk Kristus.” (Letters, no. 137:3)

III. Dasar Inkarnasi dari Katekismus Gereja Katolik:

  • KGK 457 – Sang Sabda menjadi manusia untuk mendamaikan kita dengan Tuhan
  • KGK 158 – Inkarnasi: supaya kita kita dapat mengenal kasih Allah
  • KGK 459 – Sang Sabda menjadi manusia untuk menjadi teladan kekudusan
  • KGK 460 – Inkarnasi – untuk membuat kita pengambil bagian di dalam kodrat ilahi
  • KGK 464- 469 – Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia
  • KGK 470- 477 – Bagaimana Putera Allah menjadi manusia

IV. Kepenuhan rencana Allah

Allah Tritunggal Maha Kudus telah mempunyai rencana keselamatan bagi umat manusia, sehingga ketika genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya (lih. Gal 4:4), yang dikandung dari Roh Kudus dan lahir dari seorang perawan – Perawan Maria. Maria mengandung Kristus Sang Putera Allah – bukan dari benih manusia, namun dari Roh Kudus. Dalam artikel ini, kita akan melihat tentang Inkarnasi, mengapa Tuhan memilih cara Inkarnasi untuk menyelamatkan manusia, dan bagaimana Tuhan telah mempersiapkan kedatangan Kristus ke dunia dengan begitu sempurna, termasuk mempersiapkan Maria sebagai Bunda Allah, sehingga Maria dapat menjalankan tugasnya sebagai Bunda Allah dengan baik.

V. Inkarnasi

1. Apakah Inkarnasi adalah suatu keharusan?

Inkarnasi adalah merupakan puncak dari misteri karya keselamatan Allah. Tanpa kehilangan kodrat Allah, Putera Allah mengambil kodrat manusia dan masuk dalam sejarah manusia untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Maka Inkarnasi adalah suatu misteri terbesar yang dilakukan Tuhan. Misteri ini tidak dapat dipahami hanya dengan pemikiran manusia, karena hal ini menyangkut pikiran dan tindakan bebas yang dilakukan oleh Tuhan. Kini pertanyaannya adalah, apakah Inkarnasi merupakan suatu keharusan? St. Thomas Aquinas menjawabnya dengan “ya” dan “tidak”. ((St. Thomas Aquinas, ST, III, q.1, a.2)) Dapat dikatakan bahwa Inkarnasi bukanlah suatu keharusan yang mutlak, karena Tuhan juga dapat menyelamatkan manusia dengan cara yang lain. Namun, kita dapat mengatakan bahwa Inkarnasi adalah suatu keharusan yang relatif, karena itu adalah cara yang paling layak (the most fitting) dan sempurna (the most perfect) untuk membawa manusia kembali kepada Tuhan dari jurang yang tak terseberangi antara Tuhan dan manusia, yang diakibatkan oleh dosa. Karena kodrat Tuhan adalah sempurna, maka Tuhan mengambil cara yang sempurna – yaitu Inkarnasi – sebagai cara yang sesuai dengan kodrat-Nya.

2. Apakah Inkarnasi bertentangan dengan kodrat Tuhan?

Banyak orang  tidak mempercayai Inkarnasi, karena dua alasan utama, yaitu: (a) Tuhan tidak mungkin menjadi manusia; (b) Inkarnasi menurunkan derajat Allah. Namun, sebenarnya Inkarnasi justru membuktikan bahwa Tuhan yang adalah maha dalam segalanya, juga maha dalam kasih sehingga Ia mau menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran akibat dosa.

Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah maha dalam segalanya, mengapakah kita membatasi kemampuan dan kehendak Tuhan untuk menjadi manusia? Memang Tuhan tidak dapat mempertentangkan diri-Nya, seperti Tuhan yang kudus tidak mungkin berdosa, karena dosa bertentangan dengan kekudusan. Namun, Allah yang menjadi manusia atau Inkarnasi tidaklah bertentangan dengan kodrat Allah, karena dalam Inkarnasi, Allah tidak berhenti menjadi Allah. Akan menjadi bertentangan kalau Allah berhenti menjadi Allah. Sebaliknya, dalam Inkarnasi, Allah tetap mempertahankan kodrat-Nya sebagai Allah walaupun pada saat yang sama Ia juga mengambil kodrat manusia, sehingga karenanya kodrat manusia diangkat oleh Allah ke derajat yang sungguh mulia.

Keberatan yang lain datang dari sebagian orang yang berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, karena hal tersebut sama saja dengan merendahkan derajat Tuhan yang Maha kuasa dan besar. Namun, misteri Inkarnasi membuktikan sebaliknya, bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan telah menunjukkan bagaimana Ia mengasihi kita dengan kasih-Nya yang tidak terbatas, sehingga kita seharusnya lebih mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan kita.  Dalam keseharian kita, bukankah dibutuhkan kekuatan dan kebesaran hati bagi seseorang yang ‘dari kalangan atas’ untuk merendahkan diri dan ikut solider dengan orang-orang jelata? Bayangkanlah kebesaran Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dengan menjelma menjadi manusia! Ia yang mengatasi segala waktu, masuk ke dalam waktu, Ia yang luar biasa besar dan tiada terbatas mengosongkan diri hingga menjadi setitik sel (embrio) dalam rahim Bunda Perawan Maria. Kita juga dapat melihat bahwa ‘kebesaran’ seseorang yang mengundang rasa kagum, tiada berarti jika tidak diimbangi kasih, bukan?  Dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin kita melihat dengan kagum pada sosok artis atau aktor tertentu. Namun tentu saja kita akan lebih mengasihi orang tua kita dibandingkan dengan para aktor atau artis, bukan karena orang tua kita lebih cakap daripada aktor atau artis, namun karena orang tua kita telah mengasihi kita dengan kasih yang besar, yang terbukti dengan segala pengorbanan yang dilakukan mereka demi kebahagiaan kita.

3. Mengapa harus dengan Inkarnasi?

Sekarang, mari kita melihat mengapa Tuhan mengambil cara Inkarnasi, suatu cara yang sebenarnya ada di luar jangkauan akal budi manusia. Mari kita melihatnya dari dua sisi, yaitu dari sisi Tuhan dan dari sisi manusia. Dari sisi Tuhan, kita melihat bahwa Inkarnasi adalah cara terbaik yang dipakai Tuhan untuk (a) menyatakan kebaikan-Nya dan (b) menyatakan kasih, pengampunan, keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Sedangkan dari sisi manusia, Inkarnasi menjadi cara untuk: (c) membebaskan manusia dari belenggu dosa; (d) mengembalikan harkat dan jati diri manusia; (e) memperkuat iman, pengharapan dan kasih; (f) menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah namun juga jalan. Dari alasan-alasan ini terlihatlah bahwa Inkarnasi adalah cara yang sungguh luar biasa yang dilakukan Tuhan yang Maha luar biasa. Mari sekarang kita membahas satu persatu dari beberapa alasan Inkarnasi.

a. Inkarnasi sebagai cara Tuhan untuk menyatakan kebaikan

Kalau kita melihat dari perspektif Tuhan, kita akan melihat bahwa Inkarnasi adalah sesuatu yang sudah layak dan seharusnya, oleh karena sifat Tuhan sendiri. Sebab secara prinsip, segala sesuatu akan bertindak sesuai dengan sifat dan hakekatnya. Contoh: batu kalau dilepaskan akan jatuh, tanaman kalau diberi air dan sinar secukupnya akan tumbuh, manusia bertindak sesuai dengan akal budi dan keinginan bebasnya. Atau, seorang ibu akan mengasihi anaknya dan akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya.

Di dalam Tuhan, hakekat- Nya bukan hanya menjadi bagian dari-Nya, namun Tuhan adalah hakekat tersebut secara sempurna, seperti: Tuhan adalah Kebaikan, Kebenaran, Keindahan, dan Kasih. Kita juga dapat menerapkan prinsip penting yang lain, yaitu “bonum diffusivum sui” atau “kebaikan akan menyebar dengan sendirinya“, sama seperti panas yang akan menyebarkan hawa panasnya ke segala arah, atau lilin yang bercahaya dalam kegelapan. Dan kalau Tuhan adalah Kebaikan -dalam pengertian yang absolut dan sempurna- maka kebaikan ini akan tersebar dan mencoba menjangkau setiap orang. Pertanyaannya, bagaimana Tuhan dapat mengkomunikasikan kebaikan ini kepada manusia?

Cara pertama adalah dengan cara yang sempurna dan absolut, yang hanya ada dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Manusia hanya dapat berpartisipasi di dalamnya, dan partisipasi ini akan mencapai kesempurnaanya pada saat kita berada di surga. Kedua, adalah dengan cara yang terbatas, yaitu partisipasi dari semua makhluk ciptaan. Ini adalah pembuktian ke-empat dari St. Thomas Aquinas tentang keberadaan Tuhan. Ketiga, adalah dengan melalui rahmat pengudusan. Ini yang kita peroleh pada waktu Pembaptisan, di mana hakekat kita diangkat ke tingkat adi-kodrati, yaitu kita dapat berpartisipasi di dalam kehidupan Allah. Namun cara ini hanya dimungkinkan setelah Tuhan sendiri menjadi manusia, menanggung dosa manusia untuk menebusnya, dan memberikan jalan untuk bersatu dengan Tuhan kembali. Cara yang ke-empat adalah dengan cara yang yang paling agung dan mulia, yaitu dengan cara mengambil sifat kemanusiaan tersebut dan membuatnya menjadi satu kesatuan dengan diri-Nya. Cara yang terakhir inilah yang dilakukan oleh Tuhan dalam misteri Inkarnasi. Melalui Inkarnasi, Tuhan sendiri menjadi manusia, sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Dengan cara ini, maka manusia tidak hanya berpartisipasi di dalam kehidupan Tuhan, namun Tuhan yang berinkarnasi telah membuat kemanusiaan menjadi satu dengan kepribadian Tuhan. Dengan menjadi manusia, Tuhan tidak hanya menyucikan kemanusiaan Yesus, tetapi seluruh umat manusia, karena sifat ke-Tuhanan yang melampaui semua manusia.

Oleh karena Tuhan baik dalam pengertian yang sempurna dan absolut, maka Tuhan akan mengambil cara yang paling sempurna dan luhur. Seperti halnya lilin kecil hanya mungkin menerangi satu ruangan kecil, namun sebaliknya matahari mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menerangi seluruh bumi, maka Tuhan selayaknya mengambil cara yang paling sempurna untuk menyampaikan kebaikan-Nya kepada manusia yaitu melalui misteri Inkarnasi. Inkarnasi adalah cara yang paling agung dan sempurna untuk menyampaikan kebaikan Tuhan.

b. Inkarnasi sebagai manifestasi kasih, pengampunan, keadilan dan kebijaksanaan Tuhan

Kita dapat memberikan argumentasi yang lain tentang kelayakan Inkarnasi, yaitu melalui sifat-sifat Tuhan yang lain, yaitu maha kasih, berbelas kasih, adil, dan bijaksana. Sudah selayaknya, Tuhan yang sempurna dan maha mulia mengkomunikasikan segala sifat-Nya dengan cara yang paling sempurna, yang terwujud dalam misteri Inkarnasi.

Yesus telah menunjukkan kesempurnaan belas kasihan dan kasih-Nya kepada umat manusia melalui penderitaan-Nya, yang mencapai puncaknya di kayu salib.  Karena kasih-Nya kepada umat manusia, Tuhan telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan umat manusia (Yoh 3:16).

Tuhan juga telah menunjukkan keadilan-Nya yang begitu besar dan tak terselami. Karena manusia tidak dapat membayar dan menghapuskan dosa yang telah dilakukannya, maka Tuhan sendiri, melalui Tuhan yang menjadi manusia, membayar semua dosa yang telah dilakukan manusia.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa tidak cukup hanya dengan manusia meminta ampun kepada Tuhan? Mari kita lihat contoh dalam kehidupan kita, kalau kita membuat kesalahan kepada rekan sekerja, maka kita dapat meminta maaf secara langsung. Namun kalau kita dengan teman-teman membuat suatu hal yang begitu serius, misalnya membakar bendera negara lain, yang menjadi simbol dan harkat dari negara tersebut, maka tidak cukup bagi kita untuk meminta maaf secara pribadi. Karena yang dirugikan adalah suatu negara, yang harkatnya jauh lebih tinggi dari kita, maka permasalahannya tidak akan selesai kalau pribadi yang bersalah meminta maaf. Namun, kalau seseorang yang mempunyai harkat yang sama dengan negara tersebut, contohnya: menteri luar negeri, duta besar, atau presiden meminta maaf kepada negara yang dirugikan, maka masalahnya akan selesai dan keadilan dapat ditegakkan.

Pada saat manusia berbuat dosa, maka manusia telah melawan Tuhan, suatu martabat yang jauh lebih tinggi dan tak terbatas jika dibandingkan dengan manusia. Agar keadilan dapat kembali ditegakkan, maka seseorang yang mempunyai harkat yang sama harus mewakili manusia untuk mempersatukan kembali hubungan yang dirusak oleh dosa. Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia mengambil sifat manusia, sehingga Ia dapat mewakili manusia; namun karena Ia sekaligus juga adalah Putera Allah, maka Ia menjadi satu-satunya sosok yang mungkin untuk mempersatukan kembali hubungan antara Allah dan manusia.

Tuhan juga dapat mengkomunikasikan kebijaksanaan-Nya dengan cara yang paling sempurna, yaitu dengan mengutarakannya secara langsung kepada manusia, dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh manusia. Kita melihat bagaimana Yesus memberikan kebijaksanaan-Nya dengan perumpamaan dalam bahasa yang dimengerti manusia.

Dengan Inkarnasi, Tuhan menunjukkan kekuatan-Nya, dengan melakukan banyak mukjizat termasuk membangkitkan orang mati, terutama  Kebangkitan-Nya sendiri dari kematian.

Jadi kita melihat, bahwa dengan Inkarnasi, Tuhan telah memilih jalan yang paling sempurna untuk menyatakan kebaikan, kasih, belas kasihan, keadilan, dan juga kekuatan-Nya kepada umat manusia. Tuhan telah menawarkan dan memberikan jalan yang terbaik sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, yaitu persatuan kembali dengan Tuhan untuk selamanya.

c. Inkarnasi untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa

Tujuan utama dari Inkarnasi adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, sehingga manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan. Misteri ini, seperti yang telah dipaparkan di atas, membuka suatu misteri kasih Allah yang tak terbatas kepada manusia. Namun misteri ini juga menunjukkan sisi paling gelap dari dosa, yang manifestasinya terlihat dalam penderitaan Kristus. Jadi penderitaan Kristus di kayu salib menunjukkan akan besarnya kasih Tuhan, namun di saat yang sama, menunjukkan kegelapan/keburukan dosa.

Melihat dua hal tersebut di atas, maka manusia perlu menanggapinya dengan menghindari dosa dengan segala kekuatannya dengan cara bekerjasama dan bergantung kepada rahmat Tuhan yang mengalir dari penderitaan Kristus. Ini berlaku bagi kita masing-masing karena Yesus datang dan berkorban untuk menebus setiap kita dan dosa-dosa yang kita lakukan, agar kita dapat memperoleh keselamatan abadi.

d. Inkarnasi mengembalikan harkat dan jati diri manusia

Melalui misteri Inkarnasi, kebaikan Allah dinyatakan dan martabat manusia yang begitu tinggi diteguhkan, karena Tuhan sendiri berkenan menjadi manusia dan mengambil kodrat manusia dalam diri-Nya. Dengan ini, manusia seharusnya melihat Inkarnasi Kristus dengan penuh rasa syukur dan tertunduk dalam kerendahan hati, serta mencoba dengan segenap kekuatan untuk berusaha hidup kudus dengan cara mengikuti teladan Kristus.

Misteri ini menyadarkan kita, bahwa tanpa kedatangan Kristus ke dunia ini, kita semua akan masuk ke dalam api neraka. Pengertian yang mendalam tentang misteri Inkarnasi akan mencegah manusia untuk melakukan dosa yang sama dengan dosa Adam yaitu dosa kesombongan, yang membawa manusia kepada jurang kehancuran. Sama seperti kegelapan yang hanya dapat ditanggulangi dengan terang, maka kesombongan hanya dapat ditanggulangi dengan kerendahan hati. Kerendahan hati ini mencapai mencapai puncak kesempurnaannya pada misteri Inkarnasi Tuhan Yesus, karena Seorang Pencipta mengambil  kodrat ciptaan-Nya; Sang Pencipta merendahkan diri dalam keterbatasan ciptaan-Nya (lih. Flp 2: 5-11). Dan yang lebih luar biasa adalah, Sang Pencipta menyerahkan diri-Nya untuk wafat demi menyelamatkan ciptaan-Nya pada waktu ciptaan-Nya masih berdosa (Rom 5:8).

e. Inkarnasi memperkuat iman, pengharapan, dan kasih manusia.

Aspek lain dari Inkarnasi adalah diperkuatnya iman, pengharapan, dan kasih umat manusia. Iman mensyaratkan manusia untuk memberikan dirinya – akal budi: pemikiran dan keinginan – secara bebas kepada kebenaran. Adakah cara yang lebih sempurna, agar manusia dapat memberikan diri kepada kebenaran selain daripada jika Kebenaran itu sendiri datang dalam rupa manusia untuk berbicara secara langsung kepada umat manusia, sehingga mereka dapat memahami-Nya? Yesus berkata, “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14:6). Apa yang lebih menguatkan manusia kalau dibandingkan dengan kehadiran Yesus, Sang Jalan, Sang Kebenaran, Sang Kehidupan dan Sang Terang, yang berbicara, membimbing, dan memberikan terang sehingga manusia dapat lepas dari belenggu kegelapan? Itulah sebabnya St. Agustinus mengatakan, “Agar manusia dapat berjalan dengan lebih yakin menuju kepada kebenaran, maka Kebenaran itu sendiri, Anak Allah, telah mengambil kodrat manusia, menetapkan dan mendirikan iman.” ((St. Agustine, De civitate Dei xi,2 ))

Inkarnasi juga menguatkan pengharapan. Karena obyek dari pengharapan adalah kebaikan di masa depan, maka Inkarnasi memberikan keyakinan akan pengharapan yang nyata. Inkarnasi, sebagai manifestasi kasih, memberikan pengharapan yang pasti akan kebahagiaan yang akan dialami oleh manusia, jika ia bekerja sama dengan rahmat Allah. St. Agustinus mengatakan “Tidak ada yang lebih diperlukan untuk menumbuh-kembangkan pengharapan kita selain menunjukkan kepada kita bagaimana Allah sungguh-sungguh mengasihi kita. Dan bukti apa yang lebih kuat tentang hal ini selain bahwa Anak Allah telah menjadi teman seperjalanan dengan kita dalam kodrat manusia.” ((St. Agustine, De Trinitate xiii)) Dengan demikian, Inkarnasi memberikan jalan yang pasti untuk membawa manusia kepada kebaikan di masa depan, yaitu kebahagiaan abadi di surga. Rasul Paulus mengatakan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9). Inkarnasi juga menunjukkan bahwa di dalam penderitaan, manusia tidak boleh kehilangan harapan; sebagaimana telah ditunjukkan oleh Kristus. Karena jika manusia setia menjalankan kehendak Bapa, maka akhirnya ia akan memperoleh kebahagiaan abadi di Sorga.

Inkarnasi juga memperkuat kasih. Hakekat kasih adalah bergembira akan sesuatu yang baik yang ada pada diri orang yang dikasihi dan juga mengharapkan yang baik terjadi pada orang yang dikasihi. Dari definisi ini, kita dapat melihat bahwa Inkarnasi adalah perwujudan kasih yang sempurna, karena Tuhan masih melihat bahwa ada sesuatu yang baik dalam diri manusia, walaupun manusia telah berdosa. Tuhan juga mengharapkan yang terbaik terjadi pada kita, dengan memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita manusia.

f. Inkarnasi menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah, namun juga jalan

Waktu saya mau pergi ke perpustakaan, di salah satu pusat kota di Amerika saya tersesat. Kemudian saya berhenti dan bertanya kepada seseorang yang berada di depan salah satu pertokoan. Orang tersebut menerangkannya dengan fasih, seperti: dari sini belok ke kiri, kemudian setelah melewati dua lampu merah belok kanan, dan kira-kira 200 meter dari pom bensin belok kanan, dan belokan pertama terus belok kiri, dan kita-kira 200 meter dari situ, letak perpustakaan ada di sebelah kanan. Saya berterima kasih atas kebaikan orang itu, namun saya bingung, karena terlalu banyak belokan dan tanda yang harus saya ingat. Menyadari kebingungan saya dan tahu saya orang asing di situ, maka orang tersebut berkata “Mari, ikuti mobil saya, saya akan tunjukkan jalan untuk ke perpustakaan.” Mendengar perkataan tersebut, saya tersenyum lebar, karena tahu bahwa saya tidak akan tersesat lagi dan pasti akan menemukan perpustakaan yang saya cari.

Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Ia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Karena Yesus telah menunjukkan jalan-Nya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dengan mengikuti teladan-Nya, manusia berpartisipasi di dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “We are sons in the Son of God” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.

VI. Peran Perawan Maria dalam karya keselamatan

Setelah kita melihat tentang mengapa Tuhan menggunakan Inkarnasi untuk menyelamatkan manusia, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Tuhan datang ke dunia, masuk ke dalam dimensi waktu dan tempat. Ternyata Tuhan menggunakan cara yang dapat dikatakan luar biasa namun sekaligus sungguh biasa. Tuhan menggunakan cara yang biasa, yaitu seperti layaknya manusia lahir, yaitu dari rahim seorang wanita – wanita yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah, yaitu Bunda Maria. Cara ini sekaligus menjadi cara yang luar biasa, karena Putera Allah dilahirkan bukan dari benih laki-laki namun Ia dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan dari seorang perawan. Mari sekarang kita menganalisa beberapa hal berkaitan dengan peran Maria dalam karya keselamatan Allah, yaitu: (1) Apakah Maria layak mengemban peran sebagai Bunda Allah; (2) Bagaimana jika Maria menolak menjadi Bunda Allah?; (3) dan mengapa Putera Allah lahir dari seorang perawan?

1. Apakah Maria layak mengemban peran sebagai Bunda Allah?

Banyak teolog dan umat beriman mempertanyakan apakah Bunda Maria layak mengambil peran sebagai Bunda Allah yaitu peran yang mungkin merupakan peran yang terbesar setelah peran Kristus sendiri dalam karya keselamatan Allah. Di satu sisi, terlihat bahwa hal itu sepertinya tidak mungkin, karena Inkarnasi adalah benar-benar merupakan rahmat atau pemberian bebas dari Allah, dan tiada seorang manusia-pun yang layak untuk menerima pemberian ini. Namun, di satu sisi, banyak Bapa Gereja mengatakan bahwa kesucian, kerendahan hati dan kasih dari Maria membuat Maria layak (dalam pengertian tertentu) untuk menjadi Bunda Allah. Mengenai hal ini, Kitab Suci menuliskan, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Gal 4:4).

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka terlebih dahulu kita perlu mendefinisikan kata “layak”. St. Thomas Aquinas membedakan kata layak dalam dua pengertian, yaitu yang disebut congruous merit dan condign merit. Kata condign merit merujuk kepada makna literal dari layak atau layak secara adil atau layak untuk mendapatkan imbalan atau layak untuk mengklaim sesuatu karena jasanya. Sebaliknya, congruous merit merujuk kepada kelayakan bukan dalam pengertian seseorang layak mendapatkan imbalan, namun satu hal yang membuat rahmat dan belas kasih Allah terjadi karena doa permohonan. ((ST I-II, q. 114, a. 2.)) Dari pengertian ini, maka Bunda Maria tidak pernah layak dalam pengertian condign merit, karena tidak seorang manusiapun layak untuk menjadi Bunda Allah. Hal yang sama dapat kita katakan bahwa tidak seorangpun layak (condign merit) untuk masuk Surga. Namun, Bunda Maria dikatakan layak secara congruous merit, menjadi Bunda Allah, karena kerendahan hati, kemurnian dan kasih Bunda Maria yang senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah.

St. Thomas melanjutkan bahwa ’congruous’ ini berdasarkan kesetaraan yang proporsional. ((ST I-II, q. 114, a. 3.)) Prinsip yang sama dapat kita lihat dalam Kitab Suci, yang mengajarkan “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak 5:16). Bukan berarti Tuhan berhutang dan mempunyai kewajiban untuk mengabulkan doa orang benar. Namun, doa orang yang benar – yaitu doa yang dilakukan dengan disposisi hati yang benar, dan mengalir dari iman, pengharapan dan kasih – secara proporsional layak (congruous merit)  untuk mendapatkan perhatian Tuhan. Dengan prinsip yang sama, maka Maria yang mempunyai tingkat kesucian, kerendahan hati, dan kasih yang begitu tinggi secara proporsional diangkat derajatnya ke tempat yang lebih tinggi lagi, yaitu menjadi Bunda Allah. Ini bukan karena dia layak untuk mendapatkan haknya (condign merit), sebab kesucian, kerendahan hati dan kasih yang begitu sempurna dari Bunda Maria juga adalah merupakan rahmat pemberian Allah. Tentang hal ini, St. Agustinus mengungkapkan dengan indahnya:

Siapakah engkau yang akan mengandung? Kapankah engkau layak untuk mendapatkannya? Darimanakah engkau mendapatkannya? Bagaimanakah Dia yang menciptakan engkau [Maria] dibentuk oleh engkau [Maria]? Dari manakah, saya bertanya, begitu besar rahmat untukmu? Engkau adalah seorang perawan, engkau kudus; engkau telah mengucapkan sebuah kaul. Engkau telah layak memperolehnya secara berlimpah, tetapi engkau telah menerimanya juga secara berlimpah. Tetapi, bagaimana engkau layak menerimanya? Biarlah malaikat menjawab. Katakan kepadaku, malaikat, kapan semuanya ini diterima oleh Maria? Saya telah mengatakannya, ketika saya menyapanya: Salam, penuh rahmat (Ave, gratia plena).” ((St. Agustinus, Sermo 291, De Sanctis))

Dengan kata lain, memang benar bahwa rahmat diberikan secara cuma-cuma kepada manusia, juga termasuk kepada Bunda Maria. Namun, karena itu adalah cuma-cuma, maka juga terserah kepada Allah untuk memberikan rahmat yang terbesar kepada Maria, karena perannya untuk mendatangkan Kristus ke dunia ini (LG 56; KGK, 490). Kemudian, rahmat bukanlah sesuatu yang terjadi hanya satu kali dan tidak terjadi terus-menerus. Keistimewaan Maria justru pada besarnya rahmat yang diberikan Allah kepada Maria dan bagaimana Maria senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah secara terus-menerus selama hidupnya, sehingga rahmat Allah dapat terus tercurah secara penuh. Allah yang Maha Tahu telah mengetahui hal ini sejak awal penciptaan dunia.

Selanjutnya tak dapat kita lupa bahwa rahmat Allah dicurahkan kepada manusia dan bukan kepada robot. Manusia mempunyai kemampuan untuk menerima atau menolak rahmat Allah. Dengan demikian, ada kerja sama antara rahmat Allah dan keinginan bebas manusia. Memberikan penekanan pada rahmat (grace) tanpa melihat aspek keinginan bebas manusia (free will) menjadikan manusia seperti robot. Sebaliknya, mengedepankan keinginan bebas tanpa rahmat Allah membuat seolah-olah manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa Allah. Maka, penekanan hanya rahmat saja tanpa kehendak bebas atau kehendak bebas saja tanpa rahmat, keduanya keliru.  Rahmat dan kehendak bebas harus bekerja sama dalam menuntun seseorang kepada keselamatan.

Maria tidak membanggakan dirinya sendiri, bahkan dia justru mengakui akan rahmat Allah yang tercurah kepadanya secara luar biasa kepadanya (lih. Luk 1:49). Namun, karena Allah sendiri yang memilih Bunda Maria sebagai Bunda Allah, maka kita semua seharusnya dapat melihat bahwa Bunda Maria dipilih secara istimewa oleh Allah, berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Jadi, kalau Gereja Katolik dan beberapa pendiri gereja Protestan mengatakan bahwa Bunda Maria adalah figur yang istimewa, yang tertinggi dari seluruh umat manusia setelah Kristus, itu justru karena menghormati keputusan Allah yang memilih yang terbaik. Terbaik di sini jangan dilepaskan dari rahmat Allah, karena Gereja Katolik juga tidak mengajarkan bahwa seseorang dapat mencapai kekudusan tanpa rahmat Allah.

Dalam rangka mempersiapkan Maria sebagai Bunda Allah inilah, maka Allah sungguh mencurahkan rahmat-Nya yang begitu luar biasa – penuh rahmat / full of grace (lih. Luk 1:28), sehingga tidak ada lagi ruang untuk dosa. Inilah sebabnya para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja mengatakan bahwa Maria telah ditebus sejak ia dikandung. Ajaran ini akhirnya didefinisikan dalam dogma “Maria Dikandung tanpa Noda Asal” pada tanggal 8 Desember 1854 oleh Paus Pius IX dalam Bulla Ineffabilis Deus (Tuhan yang Tak Terhingga) demikian:

“Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri: “Kami menyatakan, mengumumkan dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusia, dibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman.”

2. Bagaimana jika Maria menolak menjadi Bunda Allah?

Dewasa ini, ada orang yang berspekulasi apakah Tuhan dapat mengganti Maria dengan wanita lain kalau Maria menolak untuk menjadi Bunda Allah? Memang kita dapat mempunyai spekulasi tentang banyak hal, termasuk kita dapat berspekulasi bahwa kalau Maria menolak, maka Tuhan dapat memilih orang lain menjadi Ibu Tuhan. Namun, satu kenyataan yang tak bisa dipungkiri, bahwa spekulasi ini tidaklah terbukti dan bahkan tidak mungkin kalau dianalisa secara lebih jauh. Sebenarnya, spekulasi tidak ada di dalam Tuhan, karena bagi Tuhan semua adalah begitu jelas/ transparan di hadapan-Nya, baik – masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dengan demikian, rancangan Tuhan itu lengkap, memperhitungkan segala sesuatu, termasuk melihat bahwa Maria akan menjawab “ya”, walaupun Allah tetap menghormati kehendak bebas Maria.

Maka, dapat dikatakan bahwa sebelum dunia dijadikan, Tuhan tahu (karena Tuhan adalah maha tahu) bahwa Adam dan Hawa akan jatuh ke dalam dosa, dan kelak pada saat genap waktunya, maka Allah mengutus Putera-Nya, yang lahir dari seorang perempuan (lih. Gal 4:4). Dan perempuan yang sama, yang disebutkan oleh Rasul Paulus, juga disebutkan di dalam Kitab Kejadian, yaitu: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini [RSV, KJV = the woman dan bukan this woman], antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15) Demikianlah, pada saat waktunya tiba, Tuhan mengutus malaikat Gabriel dan menyapa Maria dan menawarkan janji di dalam Kitab Kejadian kepada perempuan ini, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” (Lk 1:30-31).

Dengan demikian, kita melihat, bahwa Allah telah mempersiapkan rancangan keselamatan bagi manusia, yang akan melibatkan para nabi di Perjanjian Lama; seorang wanita – yaitu Bunda Maria, dan seorang Penebus – yaitu Kristus. Mengingat bahwa Tuhan dapat mempersiapkan nabi Yeremia menjadi seorang nabi, maka apakah yang dapat menghalangi Allah untuk mempersiapkan Bunda Maria dengan lebih baik – mencurahkan rahmat yang terbesar kepada Maria lebih daripada semua rahmat yang pernah dicurahkan kepada manusia yang lain– mengingat tidak ada tugas yang lebih besar yang dapat dilakukan oleh manusia, selain daripada menjadi Bunda Allah, di mana kemanusiaan dari Sang Penebus-pun mengalir darinya. Jadi, pemilihan Maria sebagai Bunda Allah bukanlah tanpa persiapan dari Allah, sehingga seolah-olah hanya membuang undi dan kalau Maria menolak, maka Tuhan akan mengatakan, “O, tidak apa-apa, karena engkau menolak, Aku juga dapat memilih wanita lain untuk menjadi Bunda Allah…“

Spekulasi bahwa Bunda Maria dapat menolak Allah dan kemudian Allah dapat memilih wanita lain adalah tidak benar, karena mengindikasikan bahwa Allah tidak mempersiapkan Bunda Maria sebelumnya. Allah tidak mempersiapkan beberapa wanita cadangan kalau Bunda Maria menolak, melainkan sejak awal mula, di dalam kebijaksanaan-Nya, Allah telah memilih seorang wanita, Bunda Maria, untuk menjadi Bunda Allah. Justru karena Allah telah mempersiapkan Bunda Maria sedemikian rupa – termasuk melindungi Maria dari dosa asal – maka Maria dapat mengikuti keinginan Tuhan tanpa kehilangan keinginan bebasnya. Keinginan bebas dari Maria sedemikian bebas, tanpa dosa, sehingga dia dengan bebas akan senantiasa menjawab “ya” terhadap rencana Allah, walaupun kadang dia sendiri tidak/ belum mengerti secara keseluruhan rencana Allah. Allah telah mempersiapkan Bunda Maria dengan begitu sempurna, sehingga Bunda Maria menjawab “ya” tanpa pelanggaran terhadap keinginan bebasnya. Persiapan sempurna bagi Bunda Allah ini hanya dilakukan terhadap satu orang, yaitu Bunda Maria. Tidak ada spekulasi apapun tentang hal ini, karena rencana Allah tetap dan sempurna. Paus Pius IX menuliskan bahwa Tuhan telah mempersiapkan Maria untuk menjadi Bunda Allah dalam Bulla Ineffabilis Deus (Tuhan yang Tak Terhingga)  demikian:

Tuhan yang tak terhingga yang mana jalan-jalan- [Nya] adalah belas kasih dan kebenaran … telah melihat lebih dahulu dalam kekekalan, kemalangan menyedihkan dari seluruh umat manusia sebagai akibat dosa Adam, memutuskan, dengan rencana tersembunyi selama berabad-abad, untuk menyelesaikan pekerjaan pertama dari kebaikan-Nya dengan sebuah misteri, yang lebih agung melalui Inkarnasi Firman. Hal ini diputuskan-Nya agar manusia yang, bertentangan dengan rencana kerahiman Ilahi telah dipimpin ke dalam dosa oleh kejahatan tipu daya setan, tidak binasa; dan agar apa yang telah hilang dalam Adam yang pertama akan dipulihkan secara mulia di dalam Adam kedua. Dari sejak awal, dan sebelum waktu dimulai, Bapa yang kekal telah memilih dan mempersiapkan bagi Anak-Nya yang tunggal, seorang ibu yang mana Putera Allah akan berinkarnasi dan dari padanya, dalam kepenuhan waktu, Dia akan dilahirkan ke dalam dunia.” (Ineffabilis Deus)

3. Mengapa Putera Allah lahir dari seorang perawan?

Tujuh abad sebelum  Bunda Maria mengandung, Tuhan telah memberikan nubuat melalui nabi Yesaya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14) Sebelum ayat 14, kita dapat melihat konteksnya, yaitu Allah, melalui nabi Yesaya berfirman kepada raja Ahas agar raja Ahas dapat meminta tanda yang paling sulit sekalipun. Di Yes 7:11 dikatakan: “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” Namun dikatakan bahwa nabi Ahas tidak berani meminta karena tidak mau mencobai Tuhan (ay. 12). Karena raja Ahas tidak mau meminta tanda, maka Allah sendiri yang memberikan tanda, yaitu tanda yang begitu luar biasa, yang melebihi tanda dari dunia orang mati maupun dari tempat tertinggi. Kalau dalam Kitab Suci bahasa Indonesia diterjemahkan bahwa tanda tersebut adalah “seorang perempuan muda akan mengandung”, maka apanya yang istimewa? Seorang muda yang bersuami tentu saja dapat mengandung. Namun, yang istimewa adalah, seperti yang diterjemahkan oleh beberapa versi yang lain – RSV, KJV, NASB, DRB – yang mengandung bukan hanya seorang perempuan muda, namun adalah seorang perawan. Ketika seorang perawan mengandung tanpa benih laki-laki, maka hal tersebut menjadi tanda yang begitu istimewa, sehingga anak yang dikandungnya dapat menyandang gelar Imanuel – Allah yang beserta kita. Mengapa Allah Putera memilih untuk dilahirkan oleh seorang perawan? Katekismus Gereja Katolik KGK 503-507 menjelaskan alasannya sebagai berikut: (a) menunjukkan prakasa absolut Allah; (b) peran Roh Kudus dalam Inkarnasi; (c) Yesus, Adam Baru dilahirkan dari Roh; (d) tanda iman Maria; (e) citra hakekat Gereja dan Gereja dalam arti penuh. Mari kita melihat teks dari Katekismus:

KGK 503.    Keperawanan Maria menunjukkan bahwa Allah mempunyai prakarsa absolut dalam penjelmaan menjadi manusia. Yesus hanya mempunyai Allah sebagai Bapa (Bdk. Luk 2:48-49.). Ia “tidak pernah asing bagi Bapa-Nya, karena manusia yang sudah ia terima – [Ia adalah Putera] kodrati Bapa menurut keallahan, [Putera] kodrati Bunda menurut kemanusiaan, tetapi ia adalah [Putera] Bapa yang sebenarnya dalam kedua-duanya” (Syn. Friaul 696: DS 619).

KGK 504.    Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh Roh Kudus, karena Ia adalah Adam baru (Bdk. 1 Kor 15:45.), yang membuka ciptaan baru: “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari surga” (1 Kor 15:47). Kodrat manusiawi Kristus dipenuhi oleh Roh Kudus sejak perkandungan-Nya karena Allah “mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas” (Yoh 3:34). “Karena dari kepenuhan-Nya” – Kepala umat manusia yang tertebus (Bdk. Kol 1:18.) – “kita semua menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1:16).

KGK 505.    Oleh perkandungan yang perawan, Yesus, Adam baru, memulai kelahiran baru, yang dalam Roh Kudus membuat manusia menjadi anak-anak Allah melalui iman. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” (Luk 1:34; Bdk. Yoh 3:9.). Keikut-sertaan dalam kehidupan ilahi datang “bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Yoh 1:13). Kehidupan ini diterima secara perawan, karena ia diberikan kepada manusia semata-mata oleh Roh. Sifat keperawanan dari panggilan manusia kepada Allah (Bdk. 2 Kor 11:2.) terlaksana secara sempurna dalam keibuan Maria yang perawan.

KGK 506.    Maria adalah perawan, karena keperawanannya adalah tanda imannya, “yang tidak tercemar oleh keraguan sedikit pun” (LG 63), dan karena penyerahannya kepada kehendak Allah yang tidak terbagi (Bdk. 1 Kor 7:34-35.). Berkat imannya ia dapat menjadi Bunda Penebus: “Maria lebih berbahagia dalam menerima iman kepada Kristus, daripada dalam mengandung daging Kristus” (Agustinus, virg. 3).

KGK 507.    Maria adalah perawan sekaligus bunda, karena ia adalah citra hakikat Gereja dan Gereja dalam arti penuh (Bdk. LG 63.): Gereja, “oleh menerima Sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal-abadi putera-putera yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun perawan, yang dengan utuh-murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya” (LG 64).

VII. Yesus dan Maria dalam karya keselamatan Allah

Dari penjabaran di atas, kita dapat melihat bagaimana Allah sejak awal, telah mempunyai rencana keselamatan untuk manusia dengan cara Inkarnasi. Hubungan manusia dengan Allah yang terputus karena dosa Adam dan Hawa, dipulihkan dengan cara mendatangkan Adam kedua yang lahir bukan dari daging, namun dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Hawa kedua yang menjawab “ya” terhadap karya keselamatan Allah. Inkarnasi adalah karya puncak rancangan karya keselamatan Allah, yang telah dipersiapkan semuanya oleh Allah dengan sempurna, mulai dari para nabi sampai nabi yang terakhir – yaitu Yohanes Pembaptis. Kalau Allah telah mempersiapkan para nabi untuk mewartakan kedatangan Mesias, maka menjadi sungguh tepat kalau Allah juga mempersiapkan dengan lebih sempurna Bunda Maria, yang bukan hanya menjadi pewarta namun juga menjadi Bunda Allah.

Apa Pandangan Gereja Katolik tentang Bedah Kosmetik?

10

Sejujurnya, Gereja Katolik tidak membahas hal bedah kosmetik secara khusus di dalam dokumen-dokumen Magisterium.

Namun Katekismus Gereja Katolik hanya mengajarkan prinsip dasarnya, yaitu:

KGK 2288    Kehidupan dan kesehatan merupakan hal-hal yang bernilai, yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kita harus merawatnya dengan cara yang bijaksana dan bersama itu juga memperhatikan kebutuhan orang lain dan kesejahteraan umum….

KGK 2289    Memang ajaran susila menuntut menghormati kehidupan jasmani, tetapi ia tidak mengangkatnya menjadi nilai absolut. Ia [ajaran susila] melawan satu pendapat kafir baru, yang condong kepada pendewaan badan, mengurbankan segala sesuatu untuknya dan mendewakan keterampilan badan dan sukses di bidang olahraga….

KGK 2293    ….Ilmu pengetahuan dan teknik merupakan sarana-sarana yang bernilai kalau mengabdi kepada manusia dan memajukan perkembangannya secara menyeluruh demi kebahagiaan semua orang …Ilmu pengetahuan dan teknik ditujukan kepada manusia, olehnya mereka diciptakan dan dikembangkan; dengan demikian mereka menemukan, baik kesadaran mengenai tujuannya maupun batas-batasnya, hanya di dalam pribadi manusia dan nilai susilanya.

KGK 2294    Pendapat bahwa penelitian ilmiah dan pemanfaatannya adalah bebas nilai, merupakan satu ilusi. Juga kriteria untuk pengarahan penelitian tidak dapat begitu saja disimpulkan secara sempit dari daya guna teknis atau dari manfaatnya, yang dinikmati oleh yang satu sambil merugikan yang lain; atau lebih lagi tidak bisa disimpulkan dari ideologi yang berlaku. Ilmu pengetahuan dan teknik sesuai dengan artinya menuntut penghormatan mutlak akan nilai-nilai dasar moral. Mereka harus melayani manusia, hak-haknya yang tidak boleh diganggu gugat, kebahagiaannya yang benar dan menyeluruh, sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.

Dengan demikian, bedah plastik dapat dikatakan dibenarkan, jika dapat menjadi langkah penyembuhan, entah secara fisik, contoh untuk bedah rekonstruktif untuk memperbaiki fungsi bagian tubuh akibat cacat bawaan atau kecelakaan, atau secara psikologis. Tentu asalkan prosedurnya tidak menimbulkan resiko kerusakan yang sama atau bahkan yang lebih besar, dan kalau prosedurnya secara mendasar dapat diterima secara moral.

Nampaknya, bedah plastik dapat diizinkan -walaupun tanpa efek penyembuhan- asalkan hal itu tidak merusak tubuh/ tidak berpotensi besar merusak tubuh dan asalkan prosedurnya secara mendasar dapat diterima secara moral, mungkin contohnya seperti mengoperasi tahi lalat, atau operasi kecil lainnya yang sifatnya kosmetik dan relatif tidak berbahaya. Namun sejujurnya, tentang hal ini, prudence/ kebijaksanaan diperlukan, untuk menentukan apakah operasi tersebut layak dilakukan. Mengingat biaya bedah plastik juga umumnya tidak murah, maka diperlukan kebijaksanaan untuk menimbang apakah biaya itu lebih baik digunakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat; atau diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Selain itu, ada nilai-nilai lain yang juga patut dipertimbangkan, yaitu jangan sampai melalui operasi tersebut, orang yang bersangkutan mendewakan kecantikan tubuh.

Namun bedah plastik tidak dapat diizinkan jika itu merusak kebaikan lebih besar daripada apa yang dapat dicapai, dan apabila tujuan dan prosedurnya secara mendasar tidak dapat diterima secara moral, seperti transgender/ ganti jenis kelamin. Sedangkan tentang operasi memperbesar payudara, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Tanggapan di atas memang bukan tanggapan yang baku, karena tidak ada dokumen Gereja Katolik yang secara tegas mengatur hal bedah kosmetik. Namun semoga dengan prinsip dasar di atas, kita dapat, dengan hati nurani yang bersih menentukan penilaian tentang hal ini, sesuai dengan keadaan dan kasusnya. Dengan prinsip ini, silakan sang dokter dan calon pasiennya itu menilai, dengan hati nuraninya masing-masing, apakah tindakan operasi kosmetik itu dapat/ layak dilakukan.

 

Sekilas Makna Liturgi dan Beberapa Pelanggaran Liturgi

263

[Berikut ini adalah artikel tentang Liturgi, yang ditulis berdasarkan atas korespondensi/ diskusi dengan Rm. Boli Ujan SVD, seorang pakar Liturgi di tanah air, dan salah satu pembimbing situs katolisitas.org. Apa yang tertulis di sini telah disetujui oleh beliau].

Arti liturgi

Liturgi (leitourgia) pada awalnya berarti “karya publik”. Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya. ((lih. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1069)) Dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat kepada Jemaat di Ibrani, kata leitourgia dan leitourgein disebut 3 kali (lih. Ibr 8:6; 9:21; 10:11) yang mengacu kepada pelayanan imamat Kristus.

Maka, liturgi merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung, di mana Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia kepada Allah Bapa, dengan mengorbankan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya (lih. Ibr 9:12; 1 Tim 2:5). Korban Kristus yang satu-satunya inilah yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus, dalam perayaan Ekaristi. Dengan demikian, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus, dan dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja. Karena itu, liturgi merupakan karya bersama antara Kristus-Sang Kepala, dan Gereja yang adalah Tubuh Kristus, ((lih. Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concillium 7)) sehingga tidak ada kegiatan Gereja yang lebih tinggi nilainya daripada liturgi karena di dalam liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai ‘Mempelai’-Nya dan Tubuh-Nya sendiri. ((lih. KGK 1070, SC 7))

Jadi definisi liturgi, menurut Paus Pius XII dalam surat ensikliknya tentang Liturgi Suci, Mediator Dei, menjabarkan definisi liturgi sebagai berikut:

“Liturgi adalah ibadat publik yang dilakukan oleh Penebus kita sebagai Kepala Gereja kepada Allah Bapa dan juga ibadat yang dilakukan oleh komunitas umat beriman kepada Pendirinya [Kristus], dan melalui Dia kepada Bapa. Singkatnya, liturgi adalah ibadat penyembahan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus secara keseluruhan, yaitu Kepala dan anggota-anggotanya.” ((Paus Pius XII, Mediator Dei 20))

atau menurut Rm. Emanuel Martasudjita, Pr, “Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah di dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.” ((Rm. Emanuel Martasudjita, Pr., Liturgi, Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), p.22))

Partisipasi aktif dan sadar

Karena liturgi merupakan perayaan karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus dalam kesatuan dengan Gereja-Nya, maka kita yang adalah anggota- anggota-Nya harus turut mengambil bagian secara aktif di dalam liturgi. Mengapa? Karena liturgi dimaksudkan sebagai karya Kristus dengan melibatkan kita anggota- anggota-Nya, yaitu karya keselamatan Allah yang diperoleh melalui Misteri Paska Kristus, yaitu: wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga. Kita disatukan dalam Misteri Paska Kristus ini, dengan membawa persembahan hidup kita ke hadapan Allah, dan dengan inilah kita menjalankan martabat Pembaptisan kita sebagai umat pilihan Allah.

Redemptionis Sacramentum (RS) 36     Perayaan Misa, sebagai karya Kristus serta Gereja, merupakan pusat seluruh hidup Kristiani, baik untuk Gereja universal maupun untuk Gereja partikular, dan juga untuk tiap-tiap orang beriman, yang terlibat di dalamnya “pada cara-cara yang berbeda-beda sesuai dengan keanekaragaman jenjang, pelayanan dan partisipasi nyata.” Dengan cara ini umat Kristiani, “bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, milik Allah sendiri”, menunjukkan jenjang-jenjangnya menurut susunan hirarki yang rapih. “Adapun imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis, kendati berbeda hakekatnya dan bukan hanya tingkatannya, saling terarahkan. Sebab keduanya dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus.”

RS 37     Maka itu partisipasi kaum beriman awam dalam Ekaristi dan dalam perayaan-perayaan gerejawi lain, tidak boleh merupakan suatu kehadiran melulu, apalagi suatu kehadiran pasif, sebaliknya harus sungguh dipandang sebagai suatu ungkapan iman dan kesadaran akan martabat pembaptisan.

Partisipasi secara aktif dan sadar ini terlihat dari keikutsertaan umat dalam aklamasi-aklamasi yang diserukan oleh umat, jawaban-jawaban tertentu, lagu-lagu mazmur dan kidung, gerak-gerik penghormatan, menjaga keheningan yang suci pada saat-saat tertentu, dan adanya rubrik-rubrik untuk peranan umat. Di samping itu peluang partisipasi umat dapat diwujudkan dalam pemilihan lagu-lagu, doa-doa, pembacaan teks Kitab Suci, dan dekorasi gereja. Keikutsertaan umat ini tujuannya adalah untuk semakin meningkatkan penghayatan akan sabda Allah dan misteri Paska Kristus yang sedang dirayakan (lih. RS 39). Namun demikian, di atas semua itu, partisipasi aktif dan sadar ini menyangkut sikap batin, yang semakin menghayati dan mengagumi makna perayaan Ekaristi:

RS 40   Akan tetapi, meskipun perayaan liturgis menuntut partisipasi aktif semua orang beriman, belum tentu berarti bahwa setiap orang harus melakukan kegiatan konkrit lain di samping tindakan dan gerak-gerik umum, seakan-akan setiap orang wajib melakukan satu tugas khusus dalam perayaan Ekaristi. Sebaliknya, melalui instruksi katekis harus diusahakan dengan tekun untuk memperbaiki pendapat-pendapat serta praktek-praktek yang dangkal itu, yang selama beberapa tahun terakhir ini sering terjadi. Katekese yang benar akan menanam kembali dalam hati seluruh orang Kristiani kekaguman akan mulianya serta agungnya misteri iman, yakni Ekaristi…. seluruh hidup Kristiani yang mendapat kekuatan daripadanya dan sekaligus tertuju kepadanya….

Tentang sikap batin ini, Redemptionis Sacramentum mengajarkan:

“Maka, haruslah menjadi jelas buat semua, bahwa Tuhan tidak dapat dihormati dengan layak kecuali pikiran dan hati diarahkan kepada-Nya…. (RS 26) Oleh karena itu, ….. semua umat harus sadar bahwa untuk mengambil bagian di dalam kurban Ekaristi adalah tugas dan martabat mereka yang utama. Dan maka bahwa bukan dengan cara yang pasif dan asal-asalan/malas, melantur dan melamun, tetapi dengan cara penuh perhatian dan konsentrasi, mereka dapat dipersatukan dengan se-erat mungkin dengan Sang Imam Agung, sesuai dengan perkataan Rasul Paulus, “Hendaklah kamu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5) Dan bersama dengan Dia dan melalui Dia hendaklah mereka membuat persembahan, dan di dalam kesatuan dengan Dia, biarlah mereka mempersembahkan diri mereka sendiri (RS 80). “….menaruh pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” mensyaratkan bahwa semua orang Kristen harus mempunyai, sedapat mungkin secara manusiawi, sikap batin yang sama dengan yang telah terdapat pada Sang Penebus ilahi ketika Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai korban. Artinya mereka harus mempunyai sikap kerendahan hati, memberikan penyembahan, hormat, pujian dan syukur kepada Tuhan yang Maha tinggi dan maha besar. Selanjutnya, artinya mereka harus mengambil sikap seperti halnya sebagai kurban, [yaitu] bahwa mereka menyangkal diri mereka sendiri sebagaimana diperintahkan di dalam Injil, bahwa mereka dengan sukarela dan dengan kehendak sendiri melakukan pertobatan dan tiap-tiap orang membenci dosa-dosanya dan membayar denda dosanya. Dengan kata lain mereka harus mengalami kematian mistik dengan Kristus di kayu salib, sehingga kita dapat menerapkan kepada diri kita sendiri perkataan Rasul Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus” (Gal 2:19) (RS, 81)

“…. Jelaslah penting bahwa ritus kurban persembahan yang diucapkan secara kodrati, menandai penyembahan yang ada di dalam hati. Kini kurban Hukum yang Baru menandai bahwa penyembahan tertinggi di mana Sang Kepala yang mempersembahkan diri-Nya, yaitu Kristus, dan di dalam kesatuan dengan Dia dan melalui Dia, semua anggota Tubuh Mistik-Nya memberi kepada Tuhan penghormatan dan sembah sujud yang layak bagi-Nya. (RS 93)…. Agar persembahan di mana umat beriman mempersembahkan Kurban ilahi di dalam kurban ini kepada Bapa Surgawi memperoleh hasil yang penuh, adalah penting bahwa orang-orang menambahkan…. persembahan diri mereka sendiri sebagai kurban (RS 98). Maka semua bagian liturgi, akan menghasilkan di dalam hati kita keserupaan dengan Sang Penebus ilahi melalui misteri salib, menurut perkataan Rasul Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Aku hidup namun bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:19-20) Jadi kita menjadi kurban…. bersama dengan Kristus, untuk semakin memuliakan Bapa yang kekal.” (RS 102)

Penyesuaian liturgi bertujuan untuk meningkatkan peran serta para peraya secara aktif

Liturgi, sebagai karya Gereja (karya Kristus dan anggota-anggota-Nya) mengalami perkembangan dan penyesuaian; dan hal ini kita lihat dalam sejarah Gereja. Sebab bagaimanapun, liturgi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja, dan karena itu segala bentuk penyesuaiannya harus semakin mendorong partisipasi umat di dalamnya dan mengarahkan umat kepada peningkatan penghayatan akan maknanya yang luhur.

Romo Boli Ujan SVD, seorang pakar liturgi di tanah air dan salah seorang narasumber di situs ini, pernah menulis di artikel tentang Penyesuaian dan Inkulturasi liturgi, silakan klik, demikian:

“Arah penyesuaian liturgi dari pihak para peraya sekaligus mengingatkan kita akan tujuan dari penyesuaian liturgi yaitu agar para peraya dapat dengan mudah dan jelas serta aktif mengambil bagian dalam perayaan. Dengan demikian kita lebih mampu memahami tindakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. …. Liturgi adalah perayaan pertemuan antara Allah dengan manusia dan antara anggota persekutuan satu sama lain yang disatukan dalam Allah. Kehadiran Allah dalam liturgi ini merupakan hal pokok yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Inilah yang membuat keseluruhan suasana perayaan menjadi kudus dan berbeda dengan suasana profan…..

[Namun] Sering penyesuaian liturgi dipandang sebagai kegiatan satu arah saja yaitu upaya dari pihak Allah dan para petugas khusus untuk membuat liturgi itu menjadi relevan dan sesuai dengan para peraya. Padahal liturgi merupakan pertemuan antara Allah dan manusia, dalamnya terjadi dialog bukan monolog. Liturgi sebagai karya Allah ditanggapi oleh para peraya. Maka penyesuaian dari pihak Allah dan para petugas khusus dalam liturgi perlu ditanggapi oleh semua peraya. Dalam liturgi manusia harus berusaha menyesuaikan diri dengan Allah serta rencana-rencana-Nya, dan menyesuaikan diri dengan pedoman-pedoman liturgi terutama pedoman umum mengenai hal-hal pokok dan penting yang dipandang sebagai unsur pembentuk liturgi. Arah penyesuaian terakhir sering kurang mendapat perhatian dalam pembicaraan mengenai pokok ini, sebab yang lebih diutamakan dalam diskusi dan proses penyesuaian liturgi adalah segala upaya membuat liturgi itu sesuai atau cocok untuk para peraya. Kalau demikian penyesuaian liturgi menjadi pincang.”

Beberapa Pelanggaran Liturgi dalam Perayaan Ekaristi

Setelah kita mengetahui pengertian tentang liturgi, mari kita lihat bersama adanya pelanggaran-pelanggaran yang umum terjadi di dalam liturgi Perayaan Ekaristi, yang biasanya didasari oleh kekurangpahaman ataupun ketidakseimbangan dialog antara pihak Allah dan pihak peraya. Dewasa ini, ada kecenderungan untuk terlalu mengikuti kehendak para peraya, sampai mengesampingkan apa yang sebenarnya menjadi hal prinsip yang menjadi kehendak Allah, atau yang selayaknya diberikan kepada Allah sebagai ungkapan penghargaan kita akan Misteri Paska yang kita rayakan dalam liturgi. Kekurangpahaman ataupun ketimpangan penyesuaian dalam liturgi ini melahirkan banyak pelanggaran-pelanggaran, dan berikut ini adalah beberapa contohnya:

Pelanggaran sehubungan dengan persiapan batin sebelum mengikuti Misa Kudus:

1. Tidak berpuasa sedikitnya sejam sebelum menerima Komuni

Seharusnya:

KHK Kan. 919

§ 1 Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.

Maksud puasa sebelum Komuni tentu adalah untuk semakin menyadarkan kita bahwa yang akan kita santap dalam Ekaristi adalah bukan makanan biasa, namun adalah Tuhan sendiri: yaitu Kristus Sang Roti Hidup, yang dapat membawa kita kepada kehidupan kekal (lih. Yoh 6:56-57)

2. Menggunakan pakaian yang tidak/ kurang sopan ke gereja, datang terlambat, ngobrol, berBBM/ SMS di gereja, makan dan minum di dalam gereja, terutama anak- anak, anggota koor yang minum sebelum/ sesudah bertugas, umat saat menunggu dimulainya perayaan Ekaristi.

Seharusnya:

KGK 1387 ….Di dalam sikap (gerak-gerik, pakaian) akan terungkap penghormatan, kekhidmatan, dan kegembiraan yang sesuai dengan saat di mana Kristus menjadi tamu kita. (CCC 1387 …. Bodily demeanor (gestures, clothing) ought to convey the respect, solemnity, and joy of this moment when Christ becomes our guest)

Sudah sewajarnya dan sepantasnya jika kita memberikan penghormatan kepada Allah yang kita jumpai di dalam liturgi. Jika sikap seenaknya tidak kita lakukan jika kita sedang bertemu bapak Presiden, maka selayaknya kita tidak bersikap demikian kepada Tuhan yang kita jumpai di gereja.

3. Tidak memeriksa batin, namun tetap menyambut Komuni meskipun dalam keadaan berdosa berat

Seharusnya:

RS 81    Kebiasaan sejak dahulu kala menunjukkan bahwa setiap orang harus memeriksa batinnya dengan mendalam, dan bahwa setiap orang yang sadar telah melakukan dosa berat tidak boleh menyambut Tubuh Tuhan kalau tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat, kecuali jika ada alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan untuk mengaku dosa; dalam hal itu ia harus ingat bahwa ia harus membuat doa tobat sempurna, dan dalam doa ini dengan sendirinya tercantum maksud untuk mengaku dosa secepat mungkin (lih. KGK 1385, KHK Kan 916, Ecclesia de Eucharistia, 36) 

Dosa berat memisahkan kita dari Kristus, dan karena itu untuk bersatu dengan-Nya kita harus meninggalkan dosa tersebut, dan mengakukannya di dalam sakramen Tobat. Contoh dosa berat ini misalnya jika hidup dalam perkawinan yang tidak sah menurut hukum Gereja Katolik, atau hidup dalam perzinahan/ percabulan, atau dalam keadaan kecanduan obat-obatan, dst. Kekecualian akan “adanya alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan mengaku dosa”, contohnya adalah bahaya maut, atau jika tinggal di daerah terpencil di mana Komuni dibagikan oleh seorang asisten imam dalam waktu sekian minggu sekali.

Pelanggaran dalam bagian- bagian Misa Kudus:

1. Mazmur Tanggapan digantikan dengan lagu rohani lainnya

Seharusnya:

Redemptoris Sacramentum (RS) 62    “Tidak juga diperkenankan meniadakan atau menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagimengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi Sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci.” (lih. juga PUMR 57)

Katekismus mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam Perayaan Ekaristi nyata dalam: 1) diri imamnya; 2) secara khusus dalam rupa roti dan anggur; 3) dalam sabda Allah (bacaan-bacaan Kitab Suci); 4) dalam jemaat yang berkumpul (lih. KGK 1088). Nah sabda Allah yang dimaksud di sini adalah bacaan di dalam Liturgi Sabda, dan ini termasuk bacaan Mazmur pada hari itu.

Selanjutnya tentang pembahasan topik ini, klik di sini.

2. Ordinarium digantikan dengan lagu- lagu lain dengan teks yang berbeda, yang tidak sama dengan yang sudah disahkan KWI.

RS 59    Di sana-sini terjadi bahwa Imam, Diakon atau umat dengan bebas mengubahkan atau menggantikan teks-teks liturgi suci yang harus mereka bawakan. Praktek yang amat tidak baik ini harus dihentikan. Karena dengan berbuat demikian, perayaan Liturgi Suci digoyahkan dan tidak jarang arti asli liturgi dibengkokkan.

Seharusnya:

PUMR 393    Perlu diperhatikan pentingnya nyanyian dalam Misa sebagai bagian utuh dari liturgi. Konferensi Uskuplah yang berwenang mengesahkan lagu-lagu yang serasi, khususnya untuk teks-teks Ordinarium, jawaban dan aklamasi umat, dan untuk ritus-ritus khusus yang diselenggarakan dalam kurun tahun liturgi….

Rumusan Ordinarium merupakan pernyataan iman Gereja yang sifatnya baku, sehingga tidak selayaknya diubah-ubah atas kehendak pribadi.

3. Kurangnya saat hening.

Seharusnya:

PUMR 45    Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati.
Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.

PUMR 56    Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, sangat cocok disisipkan saat hening sejenak, tergantung pada besarnya jemaat yang berhimpun. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. Saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili.

4. Diizinkannya seorang awam untuk berkhotbah/ memberikan kesaksian di dalam homili  (misalnya untuk mengisi homili Minggu Panggilan, homili di misa requiem, ataupun kesempatan khusus lainnya).

Seharusnya:

RS 64    Homili yang diberikan dalam rangka perayaan Misa Kudus, dan yang merupakan bagian utuh dari liturgi itu “pada umumnya dibawakan oleh Imam perayaan. Ia dapat menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, tergantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam….”

RS 66    Larangan terhadap orang awam untuk berkhotbah dalam Misa, berlaku juga untuk para seminaris, untuk mahasiswa teologi dan untuk orang yang telah diangkat dan dikenal sebagai “asisten pastoral”; tidak boleh ada kekecualian untuk orang awam lain, atau kelompok, komunitas atau perkumpulan apa pun.

RS 74    Jika dipandang perlu bahwa kepada umat yang berkumpul di dalam gereja, diberi instruksi atau kesaksian tentang hidup Kristiani oleh seorang awam, maka sepatutnya hal ini dibuat di luar Misa. Akan tetapi jika ada alasan kuat, maka dapat diizinkan bahwa suatu instruksi atau kesaksian yang demikian disampaikan setelah Doa sesudah Komuni. Namun hal ini tidak boleh menjadi kebiasaan. Selain itu, instruksi atau kesaksian itu tidak boleh bercorak seperti sebuah homili, dan tidak boleh homili dibatalkan karena ada acara dimaksud.

RS 67 Perlulah diperhatikan secara khusus, agar homili itu sungguh berdasarkan misteri-misteri penebusan, dengan menguraikan misteri-misteri iman serta patokan hidup Kristiani, bertitik tolak dari bacaan-bacaan Kitab Suci serta teks-teks liturgi sepanjang tahun liturgi, dan juga memberi penjelasan tentang bagian umum (Ordinarium) maupun bagian khusus (Proprium) dala Misa ataupun suatu perayaan gerejawi lain…..

5. Pemberian Salam Damai yang dilakukan terlalu meriah dan panjang, sampai imam turun dari panti imam.

Seharusnya:

RS 71    Perlu mempertahankan kebiasaan seturut Ritus Romawi, untuk saling menyampaikan salam damai menjelang Komuni. Sesuai dengan tradisi Ritus Romawi, kebiasaan ini bukanlah dimaksudkan sebagai rekonsiliasi atau pengampunan dosa, melainkan mau menyatakan damai, persekutuan dan cinta sebelum menyambut Ekaristi Mahakudus. Segi rekonsiliasi antara umat yang hadir lebih diungkapkan dalam upacara tobat pada awal Misa, khususnya dalam rumus pertama.

RS 72    “Salam damai hendaknya diberikan oleh setiap orang hanya kepada mereka yang terdekat dan dengan suatu cara yang pantas.” “Imam boleh memberikan salam damai kepada para pelayan, namun tidak meninggalkan panti imam agar jalannya perayaan jangan terganggu….”

Salam Damai perlu dipertahankan, hanya hal dinyanyikan atau tidak, itu tidak secara eksplisit dinyatakan di dalam dokumen Gereja. Bagi yang memilih untuk menyanyikannya, dasarnya karena menganggap bahwa nyanyian itu merupakan cara menyampaikan damai. Sedangkan yang tidak menyanyikannya, kemungkinan menganggap bahwa hal dinyanyikannya Salam Damai tidak eksplisit disyaratkan dalam dokumen Gereja, dan karena jika dinyanyikan malah dapat mengganggu pusat perhatian saat itu yang seharusnya difokuskan kepada Kristus. Jika kelak ingin diseragamkan, maka pihak KWI-lah yang berwenang untuk menentukan apakah Salam Damai ini akan dinyanyikan atau tidak dinyanyikan.

Pelanggaran dalam hal penerimaan Komuni:

1. Umat mencelupkan sendiri Hosti ke dalam piala anggur.

Seharusnya:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri– apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus.

RS 104     Umat yang menyambut, tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya…..

PUMR 160     Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup…

Pada hakekatnya Komuni adalah sesuatu yang “diberikan” oleh Kristus: “Terimalah dan makanlah inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi-Mu…. Terimalah dan minumlah, inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagimu….”. Jadi bukan sesuatu yang dapat diambil sendiri.

2. Pengantin saling menerimakan Komuni.

Seharusnya, tidak boleh:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan Komuni dalam misa perkawinan.

Ekaristi kudus adalah kurban Kristus, dan diberikan oleh Kristus (melalui imam ataupun petugas pembagi Komuni tak lazim yang diberi tugas tersebut), sehingga bukan untuk saling diterimakan oleh umat sendiri.

3. Umat yang menerima Komuni dengan tangan, tidak melakukan sikap penghormatan sebelum menerimanya.

Seharusnya:

PUMR 160    ….Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh (dan Darah) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah- kaidah mengenai komuni.

Adalah baik jika sesaat sebelum menyambut Komuni umat menundukkan kepala, tanda penghormatan kepada Kristus Tuhan yang hadir di dalamnya.

4. Patena sudah jarang digunakan.

Seharusnya:

RS 93    Patena Komuni untuk umat hendaknya dipertahankan, demi menghindarkan bahaya jatuhnya hosti kudus atau pecahannya.

5. Umat tidak menjawab “Amin” pada perkataan Romo, “Tubuh Kristus” sebelum menerima hosti.

Seharusnya:

PUMR 287    Kalau komuni dua rupa dilaksanakan dengan mencelupkan hosti ke dalam anggur, tiap penyambut, sambil memegang patena di bawah dagu, menghadap imam yang memegang piala. Di samping imam berdiri pelayan yang memegang bejana kudus berisi hosti. Imam mengambil hosti, mencelupkan sebagian ke dalam piala, memperlihatkannya kepada penyambut sambil berkata: Tubuh dan Darah Kristus. Penyambut menjawab: Amin, lalu menerima hosti dengan mulut, dan kemudian kembali ke tempat duduk.

6. Petugas Pembagi Komuni Tak Lazim (atau dikenal umat dengan istilah pro-diakon) membagi Komuni, Pastor malah duduk.

Seharusnya:

RS 154    Seperti  sudah dinyatakan, “pelayan yang selaku pribadi Kristus dapat melaksanakan sakramen Ekaristi, hanyalah Imam yang ditahbiskan secara sah” (lih. KHK Kan 900, 1) Karena itu, istilah “pelayan Ekaristi: hanya dapat diterapkan pada seorang Imam. Di samping itu, berdasarkan pentahbisan suci, pelayan-pelayan yang lazim untuk memberi komuni adalah Uskup, Imam dan Diakon….

RS 151    Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan liturgi. Permohonan akan bantuan yang demikian bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat, melainkan, karena kodratnya, bersifat pelengkap dan darurat…..

RS 152    Jabatan- jabatan yang semata- mata pelengkap ini jangan dipergunakan untuk menjatuhkan pelayanan asli oleh para Imam demikian rupa…..

RS 157    ….Tidak dapat dibenarkan kebiasaan para Imam yang, walaupun hadir pada perayaan itu, tidak membagi komuni dan menyerahkan tugas ini kepada orang-orang awam.

Pelanggaran dalam hal musik liturgis:

1. Dinyanyikannya lagu-lagu pop rohani dalam perayaan Ekaristi

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini  1    Musik liturgis (sacred music)… mengambil bagian dalam ruang lingkup umum liturgi, yaitu kemuliaan Tuhan, pengudusan dan pengajaran umat beriman. Musik liturgis memberi kontribusi kepada keindahan dan keagungan upacara gerejawi, dan karena tujuan prinsipnya adalah untuk melingkupi teks liturgis dengan melodi yang cocok demi pemahaman umat beriman, tujuan utamanya adalah untuk menambahkan dayaguna-nya kepada teks, agar melaluinya umat dapat lebih terdorong kepada devosi dan lebih baik diarahkan kepada penerimaan buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh perayaan misteri-misteri yang paling kudus tersebut.

Tra le Sollecitudini  2     Karena itu musik liturgis (sacred music) … harus kudus, dan harus tidak memasukkan segala bentuk profanitas, tidak hanya di dalam musik itu sendiri, tetapi juga di dalam cara pembawaannya oleh mereka yang memainkannya.

Tra le Sollecitudini  5    Gereja telah selalu mengakui dan menyukai kemajuan dalam hal seni, dan menerima bagi pelayanan agama semua yang baik dan indah yang ditemukan oleh para pakar yang ada sepanjang sejarah — namun demikian, selalu sesuai dengan kaidah- kaidah liturgi. Karena itu musik modern juga diterima Gereja, sebab musik tersebut menyelesaikan komposisi dengan keistimewaan, keagungan dan kedalaman, sehingga bukannya tak layak bagi fungsi-fungsi liturgis. Namun karena musik modern telah timbul kebanyakan untuk melayani penggunaan profan, maka perhatian yang khusus harus diberikan sehubungan dengan itu, agar komposisi musik dengan gaya modern yang diterima oleh Gereja tidak mengandung apapun yang profan, menjadi bebas dari sisa-sisa motif yang diangkat dari teater, dan tidak disusun bahkan di dalam bentuk- bentuk teatrikal seperti cara menyusun lagu- lagu profan.

Harus dibedakan bahwa untuk lagu-lagu liturgis, lagu bukan hanya sebagai ungkapan perasaan tetapi ungkapan iman (lex orandi lex credendi).

2. Adanya tari- tarian yang menyerupai pertunjukan/ performance diadakan dalam perayaan Ekaristi, kemudian diikuti dengan tepuk tangan umat.

Seharusnya:

RS 78     … Perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak kehilangan artinya yang otentik.

Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi 17    …. Di kalangan sejumlah suku, nyanyian secara naluriah terkait dengan tepuk tangan, gerak tubuh secara ritmis, dan bahkan tarian. Ini semua adalah bentuk lahiriah dari gejolak batin dan merupakan bagian dari tradisi suku ….Jelas, itu hendaknya menjadi ungkapan tulus doa jemaat dan tidak sekedar menjadi tontonan…

Paus Benediktus XVI dalam The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), p. 198: “Adalah suatu kekacauan untuk mencoba membuat liturgi menjadi “menarik” dengan memperkenalkan tarian pantomim (bahkan sedapat mungkin ditarikan oleh grop dansa ternama), yang sering kali (dan benar, dari sudut pandang profesionalisme) berakhir dengan applause -tepuk tangan. Setiap kali tepuk tangan terjadi di tengah liturgi yang disebabkan oleh semacam prestasi manusia, itu adalah tanda yang pasti bahwa esensi liturgi  telah secara total hilang, dan telah digantikan dengan semacam pertunjukan religius. Atraksi sedemikian akan memudar dengan cepat- ia tak dapat bersaing di arena pertunjukan untuk mencapai kesenangan (leisure pursuits), dengan memasukkan tambahan berbagai bentuk gelitik religius.”

Kardinal Arinze menjelaskannya demikian: bahwa pada budaya- budaya tertentu (yaitu di Afrika dan Asia), tarian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cara penyembahan, namun gerakan ini adalah ‘graceful movement‘ untuk menunjukkan suka cita dan penghormatan, dan bukan ‘performance‘. Dalam budaya ini, gerakan tersebut dapat diadakan dalam prosesi perayaan Ekaristi, namun bukan sebagai pertunjukan. Sedangkan di tempat- tempat lain di mana tarian tidak menjadi bagian dari penyembahan/ penghormatan (seperti di Eropa dan Amerika) maka memasukkan tarian ke dalam perayaan Ekaristi menjadi tidak relevan. Untuk mendengarkan penjelasan Kardinal Arinze tentang hal ini, silakan klik.

3. Band masuk gereja dan digunakan sebagai alat musik liturgi.

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini 19    Penggunaan alat musik piano tidak diperkenankan di gereja, sebagaimana juga alat musik yang ribut atau berkesan tidak serius (frivolous), seperti drum, cymbals, bells dan sejenisnya.

Tra le Sollecitudini 20    Dilarang keras menggunakan alat musik band di dalam gereja, dan hanya di dalam kondisi- kondisi khusus dengan persetujuan Ordinaris dapat diizinkan penggunaan alat musik tiup, yang terbatas jumlahnya, dengan penggunaan yang bijaksana, sesuai dengan ukuran tempat yang tersedia dan komposisi dan aransemen yang ditulis dengan gaya yang sesuai, dan sesuai dalam segala hal dengan penggunaan organ.

Maka diperlukan izin khusus untuk menggunakan alat-alat musik lain, terutama jika alat tersebut dapat memberikan efek ribut/ keras, dan berkesan profan/ tidak serius.

Beberapa Pertanyaan tentang Liturgi:

1. Mengenai musik liturgi, apa seharusnya alat musik yang digunakan? Bolehkah menggunakan organ dengan tambahan suara alat musik lain?
Bila mengacu kepada Sacrosanctum Concilium 120, alat musik yang sebaiknya digunakan adalah organ pipa. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan penggunaan alat musik lain, sepanjang disetujui oleh pihak otoritas Gereja, dan asalkan sesuai untuk digunakan dalam musik sakral.

SC 120    “Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati Umat kepada Allah dan ke surga. Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah art. 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman.”

Paus Pius XII mengeluarkan dokumen tentang Musik Liturgis yang berjudul Musicae Sacrae (MS), dan secara khusus menyebutkan tentang hal ini demikian:

MS 59    “Selain organ, alat-alat musik lain dapat digunakan untuk memberikan bantuan besar dalam mencapai maksud yang tinggi dari musik liturgi, asalkan mereka tidak memainkan apapun yang profan, yang berisik atau hingar bingar dan tidak bertentangan dengan pelayanan sakral atau martabat tempat kudus. Di antara alat-alat musik ini, biola dan alat-alat musik lainnya yang menggunakan cekungan (bow) adalah baik sebab ketika dimainkan sendiri atau dengan alat musik senar lainnya, alat- alat musik ini mengekspresikan perasaan suka cita dan dukacita dalam jiwa dengan kekuatan yang tak dapat dilukiskan…”

Sedangkan tentang hal alat musik ini, Rm. Bosco da Cunha dari Komisi Liturgi KWI mengatakan:

“KWI masih dalam proses berusaha mengaktualisasi dokumen Sacrosanctum Concilium Konsili Vatikan II; KWI tidak gegabah. Usaha penelitian dan percobaan alat musik tradisional aneka suku bangsa sudah mulai dengan “Pusat Musik Liturgi” Yogyakarta dipimpin Romo Karl Edmund Prier SJ sejak 1980an namun masih berlangsung”.

Beliau menyarankan bagi yang berminat mengetahui lebih lanjut untuk mengunjungi PML Yogyakarta di Jl. Abubakar Ali Kotabaru Yogyakarta untuk mengetahui studio dan showroom karya-karya musik liturgi inkulturatif.

2. Bila dikaitkan dengan adaptasi-adaptasi yang muncul di Sacrosanctum Concilium, bagaimana batasan-batasannya agar tidak mengontradiksi dokumen-dokumen Gereja lainnya (dalam hal penentuan musik liturgi)?

Musicae Sacrae 60    “Sebab jika musik itu tidak profan atau bertentangan dengan kesakralan tempat dan fungsi dan tidak berasal dari keinginan untuk mencapai efek-efek yang luar biasa dan tidak lazim, maka gereja-gereja kita harus menerimanya, sebab mereka dapat menyumbangkan dalam cara yang tidak kecil terhadap keagungan upacara-upacara sakral, dapat mengangkat pikiran kepada hal-hal yang lebih tinggi dan dapat menumbuhkan devosi yang sejati dari jiwa.” (lih. MD 193)

Maka, nampaknya yang perlu dijadikan patokan adalah prinsipnya, yaitu:

1) Tidak memasukkan unsur profanitas dalam musik liturgis;
2) Musik itu tidak menghasilkan efek suara yang luar biasa dan tak lazim
3) Musik itu dapat membantu mengangkat pikiran kepada hal- hal yang lebih tinggi:
Apakah membantu ke-empat hal ini: penyembahan (worship/ adoration), syukur (thanksgiving), pertobatan (contrition),     permohonan (supplication).
4) Menggunakan musik-musik yang sudah mendapat persetujuan dari otoritas Gereja (ada Nihil Obstat dan Imprimatur);
5) Mengacu kepada ketentuan yang sudah pernah secara eksplisit ditentukan oleh otoritas Gereja.

3. Bolehkah choir (koor) terdiri dari perempuan?
Walaupun di dokumen yang dikeluarkan oleh Paus Pius X, Tra le Sollecitudini 13,14 (1903) dikatakan bahwa untuk koor anggotanya harus laki-laki- mungkin karena hal ini merupakan tradisi Gereja sejak zaman dulu; namun ketentuan ini kemudian diperbaharui di dokumen berikutnya tentang Musik Liturgi yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII, Musicae Sacrae, demikian:

MS 74     Ketika tidak mungkin diperoleh sekolah paduan suara (Scholae Cantorum) atau di mana tidak ada cukup anak laki-laki untuk koor, diperbolehkan bahwa “kelompok pria dan wanita atau anak-anak perempuan, yang ditempatkan di luar tempat kudus (sanctuary) yang terpisah untuk penggunaan kelompok ini secara khusus, dapat menyanyikan teks-teks liturgi pada saat Misa Agung, sepanjang para pria dipisahkan dari para wanita dan anak- anak perempuan dan segala yang tidak pantas dihindari….

4. Perlukah kita ikut membungkuk setiap saat seorang imam membungkuk dalam Perayaan Ekaristi?
Tidak perlu. Yang ditulis dalam Tata Perayaan Ekaristi adalah, umat membungkuk pada waktu Ritus Pembuka ketika Imam dan Pelayan lain menghormati Altar, dan pada sesudah kata-kata Konsekrasi atas roti dan anggur, ketika Imam berlutut; dan pada saat Credo (syahadat) yaitu pada perkataan, “[Yesus Kristus] yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”.

5. Bolehkah imam menambah hanya beberapa kata atau bagian dalam sebuah Perayaan Ekaristi?
Jika ada titik-titik (….) boleh disebutkan nama orang yang didoakan (doa bagi orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal) seperti dalam Doa Syukur Agung pertama.

RS 51    ….”Tidak ada toleransi terhadap imam-imam yang merasa berhak menyusun Doa Syukur Agungnya sendiri” atau mengubahkan teks-teks yang sudah disahkan oleh Gereja atau memperkenalkan teks-teks lain, yang telah dikarang oleh pribadi-pribadi tertentu.

6. Bagaimana seharusnya kostum pelayan altar? Apakah betul pelayan altar putri seharusnya mengenakan alba dan mengapa?
Apakah wanita ideal untuk menjadi pelayan altar walaupun diperbolehkan?

PUMR 339    Akolit, lektor dan pelayan awam lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.
RS 47    Sangat dianjurkan untuk mempertahankan kebiasaan yang luhur yakni pelayanan altar oleh anak laki-laki atau pemuda, biasanya disebut pelayan Misa, suatu tugas yang dilaksanakannya seturut cara akolit. Hendaknya mereka diberi katekese tentang fungsi mereka sesuai dengan daya tangkap mereka. Perlu diingat bahwa berabad-abad lamanya dari amat banyak anak seperti ini telah muncul banyak pelayan tertahbis….. Anak perempuan atau ibu-ibu boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diocesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.

7. Apakah inkulturasi liturgi memperbolehkan penggunaan berbagai macam alat musik di luar organ pipa?

Hal ini dimungkinkan. Pimpinan Gereja yang mengambil keputusan untuk menggunakan alat- alat musik lain, hendaknya dalam proses adaptasi- inkulturasi membuat penelitian untuk mengetahui apakah alat musik tersebut digunakan dalam ibadat religius menurut budaya setempat dan sungguh membantu umat beriman mengangkat hati kepada Tuhan untuk memuji dan menyembahnya? Bisa saja alat musik yang sama digunakan baik dalam upacara keagamaan dan dalam perayaan profan, tetapi harus diperhatikan perbedaan dalam cara menggunakannya. Ada nada dan melodi yang khas dalam upacara keagamaan dan dalam acara profan. Seperti pada alat tifa dalam budaya orang Papua Selatan, ada bunyi dan cara memukul yang khas dalam ibadat religius, yang berbeda dengan bunyi dan cara memukul tifa tersebut jika digunakan untuk kegiatan- kegiatan yang profan saja.

PUMR 393     …. Demikian pula, Konferensi Uskuplah yang berwenang memutuskan gaya musik, melodi, dan alat musik yang boleh digunakan dalam ibadat ilahi; semua itu sejauh serasi, atau dapat diserasikan dengan penggunaannya yang bersifat kudus.

Kesimpulan: Mengapa perlu memperhatikan norma-norma Liturgi dan menghindari penyelewengannya?

Adalah penting kita ketahui bersama, bahwa “Norma-norma liturgi Ekaristi dimaksudkan untuk mengungkapkan dan melindungi misteri Ekaristi dan juga menjelaskan bahwa Gerejalah yang merayakan sakramen dan pengorbanan yang agung. Sebagaimana yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, “Norma-norma ini adalah ungkapan konkret dari kodrat gerejawi otentik mengenai Ekaristi; inilah maknanya yang terdalam. Liturgi tak pernah menjadi milik perorangan, baik dari selebran maupun komunitas, tempat misteri-misteri dirayakan.” ((Ecclesia de Eucharistia, 52)) Ini berarti bahwa “… para imam yang merayakan Misa dengan setia seturut norma-norma liturgi, dan komunitas-komunitas yang mengikuti norma-norma itu, dengan tenang namun lantang memperagakan kasih mereka terhadap Gereja. ((Ibid., lih. Redemptoris Sacramentum, Lampiran, 2))

Adanya penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dalam liturgi seringkali berhubungan dengan salah persepsi tentang makna ‘kebebasan’; dan hal ini tidak menuju kepada pembaharuan sejati yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II. Karena penyimpangan ini dapat mengakibatkan merosotnya/ hubungan yang perlu antara hukum doa dengan hukum iman, yaitu bahwa doa harus merupakan ungkapan iman (lex orandi, lex credendi).

Akhirnya, marilah kita berpartisipasi secara aktif dan sadar setiap kali kita mengikuti perayaan liturgi, dan juga dengan memperhatikan dan melaksanakan ketentuan- ketentuannya, sebagai tanda bukti bahwa kita mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.

Allah memberikan jalan keluar bagi orang yang percaya kepadaNya

9

Pengantar dari Editor:
Iman adalah suatu perbuatan aktif. Sebagaimana Tuhan selalu aktif menyapa kita dalam berbagai peristiwa hidup, kita juga diharapkan aktif merespon cinta-Nya dengan iman teguh kepada Dia. Beriman sejati kepada Tuhan tidak bergantung kepada situasi hidup, apakah semuanya sedang berjalan mudah, bahagia dan baik, atau sebaliknya, sedang banyak kesukaran. Justru dalam berbagai penderitaan hidup dan kesulitan yang menghadang langkah kita, iman kita mendapat kesempatan untuk diuji, apakah kita tetap memilih untuk bergantung kepada Tuhan dan percaya sepenuhnya kepada penyelenggaraan-Nya, seperti yang ditunjukkan tokoh-tokoh iman di dalam Kitab Suci dan Yesus sendiri saat menderita di kayu salib, atau kita memilih untuk berputus asa dan kehilangan harapan. Terima kasih kepada Boyke Antonius Naba, yang memberikan teladan iman kepada kita melalui kisah kesaksiannya ini, di mana ia memilih untuk tetap berharap kepada Tuhan dan bergantung sepenuhnya kepada penyelenggaraan-Nya yang setia, bahkan di saat hidup terasa pahit oleh kehilangan dan gelap tak berujung oleh sakit penyakit yang tak kunjung reda. Boyke mengisahkan betapa Tuhan selalu setia, tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya, dan dengan setia mengganjar setiap perbuatan iman dengan kebaikan dan pemberian. Karena bila kita beriman kepada Tuhan, bahwa Ia selalu baik dan dapat diandalkan, Tuhan sendiri selalu berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat 9 : 29b). Dan demikianlah, justru di dalam saat-saat paling menegangkan dalam hidup, kasih dan pertolonganNya semakin dapat dialami dan dirasakan oleh mereka yang sungguh menaruh harapan kepada-Nya…itulah iman yang aktif yang akan selalu berbalas penyertaan dan penghargaan indah dari Tuhan atas iman dan kesetiaan kita padaNya.


Mengikuti Tuhan dan mencintaiNya melalui Gereja-Nya

Saya dibaptis sejak bayi dan dibesarkan di keluarga yang taat beragama Katolik. Setiap malam, orangtua saya berdoa pengucapan syukur kepada Tuhan atas anugerah dan bimbingan-Nya atas kehidupan kami sekeluarga pada hari itu.

Pada tahun 1985, saya menikah dengan teman sekelas adik saya. Saya berterimakasih kepada Tuhan atas kepercayaan-Nya kepada saya untuk memelihara dan membimbing tiga orang anak, yaitu dua puteri dan satu putera. Setiap malam, saya selalu berdoa Rosario dan Koronka Kepada Kerahiman Ilahi serta membaca Kitab Mazmur (pasal 103, 51, 119) sebagai wujud rasa syukur saya atas anugerah dan bimbingan Tuhan kepada keluarga saya, dan saya mohon pengampunan atas dosa yang telah saya lakukan, sepanjang hari itu. Setiap hari Minggu dan hari-hari raya Gereja, saya sekeluarga menghadiri Misa Kudus dan menyambut Tubuh Kristus. Dan menjelang hari-hari raya Gereja, saya selalu mengaku dosa kepada Tuhan di hadapan imam-Nya melalui Sakramen Tobat.

Ketika mendung kehidupan datang mengepung

Sebelum krisis moneter tahun 1998, saya sukses berusaha di bidang properti. Ketika krisis moneter terjadi, saya membayar lunas semua hutang di bank-bank, dari hasil penjualan tanah, rumah dan ruko, yang saya jual dengan harga yang sangat murah. Namun sejak saat itu, saya tidak mau menghadiri pertemuan keluarga dan pesta pernikahan. Saya sekeluarga yang terbiasa hidup berkelimpahan, harus belajar untuk mulai hidup sederhana.

Isteri saya sangat kecewa, dia tidak dapat menerima kenyataan ini sehingga dia mengidap penyakit kanker payudara. Dia berobat ke dokter spesialis kanker payudara di Singapore, di sana dia diperiksa dan diagnosa dokter menyatakan bahwa sel-sel kankernya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Dokter memvonis bahwa umurnya hanya tinggal beberapa bulan lagi. Saya lantas membawa isteri saya ke Belanda, di sana dia menjalani perawatan penyakit kanker dengan cara chemotherapy, radiasi, dan hormone therapy di Kliniek Daniel Den Hood di Rotterdam, selama lebih dari dua tahun. Namun pada tahun 2003 dia meninggal dunia. Pada saat itu saya sangat kecewa kepada Tuhan, mengapa Dia mengambil semua harta dan isteri yang saya cintai.

Saya mau tetap setia bergantung kepadaMu, Tuhan

Dalam kekecewaan dan kesedihan, saya tetap berdoa dan menghadiri Misa Kudus dan menyambut Tubuh Kristus. Saya juga mulai berpuasa, setiap hari hanya minum air putih dan nasi putih. Pada suatu malam ketika saya membaca Alkitab, saya menemukan sebuah ayat yang menyentuh hati saya:

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10 :13)

Saya mulai sadar dan percaya bahwa Allah setia, pencobaan-pencobaan yang saya alami ini tidak melebihi kekuatan saya. Keesokan harinya, setelah menghadiri Misa Kudus, saya mengaku dosa kepada Tuhan di hadapan imam melalui Sakramen Tobat. Sejak saat itu, Tuhan Yesus memberikan jalan keluar kepada saya. Pada tahun 2004, Tuhan menganugerahkan saya sebuah rumah dan pekerjaan di bidang fashion. Di tahun 2007, Tuhan menganugerahkan saya pekerjaan di perkebunan kelapa sawit dan kesempatan untuk merintis usaha di bidang konsultan perizinan perkebunan dan pertambangan, sehingga saya dapat menyekolahkan anak-anak saya dan membeli rumah lagi. Saya juga membeli polis asuransi penyakit kritis.

Pada tahun 2008, di usia yang ke 50 tahun, saya menikah dengan seorang wanita yang saya kenal di persekutuan doa. Dia adalah seorang janda dengan dua orang puteri, suaminya telah meninggal dunia karena komplikasi paska operasi jantung. Dia juga yang selalu mengajak saya untuk melayani di seksi kerasulan keluarga dan persekutuan doa di parokinya. Pada tahun 2009, saya masih tetap bekerja di perkebunan kelapa sawit. Saya juga mendapat penghasilan dari klien-klien yang mengurus perizinan perkebunan dan pertambangan.

Berjuang menghadapi deraan serangan jantung

Di bulan Oktober 2009, ketika saya sedang naik tangga menuju ke ruangan kantor, saya merasa dada sebelah kiri nyeri, sesak nafas, pusing, dan berkeringat dingin. Pada malam harinya, isteri saya mengajak saya konsultasi ke dokter spesialis jantung. Saat diperiksa, tekanan darah saya 170/120. Saya juga menjalani rekam jantung, echo dan CT Scan. Dari hasil diagnosa dokter, saya mengalami serangan jantung yang disebabkan oleh darah tinggi dan adanya penyumbatan 90 % pada dua pembuluh darah saya sehingga sirkulasi darah dan suplai oksigen di dalam pembuluh darah saya tidak berjalan dengan lancar. Saya mengidap penyakit jantung koroner. Kemudian saya diberi obat jantung dan darah tinggi dan dijadwalkan untuk kateterisasi. Setelah saya minum obat dari dokter, saya tidak dapat tidur dan kepala saya pusing.

Beberapa hari kemudian, atas saran seorang teman di gereja, saya pergi berobat ke Malaysia untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung di sana. Saya menjalani treadmill tetapi saya tidak kuat, keluar keringat dingin dan wajah saya pucat pasi sehingga saya langsung dibawa ke kamar operasi. Saya dikateterisasi melalui tangan kanan, yang dibius lokal di tangan, namun saya tetap sadar dan dapat memonitor proses kateterisasi melalui layar televisi, terlihat beberapa pembuluh darah saya yang sudah tidak normal lagi (berbentuk keriting dan sudah lengket), terdapat dua pembuluh darah yang sudah tersumbat 90%, sehingga sirkulasi darah dan suplai oksigen di dalam pembuluh darah saya tidak lancar. Selama kateterisasi dan pemasangan dua buah stent di dalam pembuluh darah, saya memohon kepada Tuhan Yesus melalui Doa Yesus: “Yesus, Yesus”, agar diberikan kekuatan untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Tuhan Yesus mengabulkan doa saya, diberi-Nya saya kekuatan untuk mengatasi rasa sakit, rasa dada sesak serta leher tercekik. Setelah pemasangan stent berhasil dilakukan dengan baik, saya tidak merasa sesak nafas lagi apabila saya menaiki tangga di kantor. Saya mengucap syukur dan memuji Tuhan, dengan bermazmur: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu.” (Mzm 103: 1 – 3 )

Pada bulan Maret tahun 2010, ketika saya sedang mandi, saya mengalami serangan jantung yang kedua, seluruh tubuh saya terasa kesemutan dan saya mengalami sesak nafas serta leher tercekik. Isteri saya langsung membawa saya ke unit gawat darurat di rumah sakit. Dalam perjalanan saya terus menerus berdoa, Yesus, Yesus. Di rumah sakit, saya dikateterisasi dan dipasang stent di pembuluh darah utama sebelah kiri.

Di bulan Juli 2010, saya dan teman-teman diberhentikan oleh perusahaan, karena Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah di mana lokasi perkebunan kelapa sawit berada, tidak kunjung disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun tak lama kemudian Tuhan memberikan jalan lain kepada saya. Pada akhir bulan Juli itu, saya mendapatkan klien dari perusahaan swasta nasional, untuk mengurus perizinan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan emas, dengan imbalan jasa miliaran rupiah. Saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus dan memohon petunjuk-Nya agar saya dapat menyelesaikan perizinan klien tersebut dengan baik dan lancar, dengan senantiasa berpegang pada sabda-Nya, “Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kau tunjukkan! (Mzm 119:36-37)

Pada bulan September 2010, ketika sedang duduk menunggu pejabat di Kementerian Kehutanan, saya mengalami serangan jantung yang ketiga, saya mengalami sesak nafas dan leher tercekik. Saya langsung berangkat dengan supir ke unit gawat darurat di rumah sakit, di dalam perjalanan saya terus menerus berdoa, Yesus, Yesus. Di rumah sakit, saya dikateterisasi dan dipasang satu stent di pembuluh darah. Tetapi jika berjalan agak jauh, saya masih mengalami sesak nafas dan leher tercekik. Saya dan isteri memutuskan untuk konsultasi dengan dokter di Singapura pada November 2010, di sana kembali saya dikateterisasi dan ditemukan ada gumpalan darah mati di dalam stent di pembuluh darah utama sebelah kiri. Menurut dokter, saya beresiko meninggal dunia secara mendadak. Akhirnya saya memutuskan untuk menjalani operasi by-pass jantung. Dua minggu kemudian, dokter spesialis bedah jantung memberitahukan saya bahwa hasil operasi by- pass jantungnya telah berhasil dengan baik, beliau menasehati saya agar makan makanan yang sehat, rajin berolah raga dan menghindari stress, agar saya terhindar dari serangan jantung lagi. Beliau juga mengingatkan saya bahwa apabila saya mengalami serangan jantung lagi, saya tidak dapat tertolong, saya dapat meninggal dunia. Namun demikian, meskipun saya telah dioperasi by-pass jantung, tetapi saya masih tetap mengalami sesak nafas dan leher tercekik, jika berjalan agak jauh.

Hari demi hari, saya dan isteri saya hanya berserah kepada-Nya dan yakin serta percaya kepada-Nya, sebab tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kami senantiasa berdoa dan berdoa, kami mohon petunjuk-Nya agar saya mendapatkan karunia kesembuhan Ilahi dari Tuhan Yesus.

Tuhan mendengarkan doa kami

Pada suatu malam, isteri saya mendapat telpon dari seorang sahabat karibnya, dia menceritakan bahwa ada seorang pasien yang mengkonsumsi ramuan jamu dua minggu sebelum ia dijadwalkan operasi by-pass jantung, pembuluh darahnya yang tersumbat ternyata berhasil dipulihkan dan ia tidak jadi dioperasi. Dia memberikan resep ramuan jamu itu:

½ kg jahe dan ½ kg bawang putih, diblender, lalu ditambahkan air sebanyak 800 cc, kemudian dimasukkan ke dalam panci stainless steel, dimasak selama 30 menit, di atas kompor dengan api kecil. Setelah ramuan ini didinginkan, kemudian ditambahkan ½ gelas cuka apel dan 2 buah lemon (diperas), lalu dimasukkan ke dalam sebuah botol, disimpan di dalam kulkas. Besok pagi, sebelum kita makan/minum, kita dapat minum ramuan jamu tersebut sebanyak ¼ gelas, ditambah dengan madu secukupnya.

Seminggu setelah saya mengkonsumsi ramuan jamu tersebut, sehari sekali @ ¼ gelas ditambah madu secukupnya, saya tidak mengalami sesak nafas lagi. Semua ini meneguhkan iman saya, bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat dan Allah yang setia, Dia telah memberikan jalan keluar kepada saya sehingga tidak mengalami sesak nafas dan leher tercekik lagi. Saya belajar bahwa Tuhan Yesus dapat menggunakan juga hal-hal sederhana untuk membawa kesembuhan, yang diambil dari tumbuh-tumbuhan yang adalah ciptaan-Nya juga.

Yesus Tuhanku, gunung batuku yang tak tergoyahkan

Saya mengenang kembali kasih setia Tuhan Yesus bagi saya sepanjang perjalanan perjuangan saya menghadapi penyakit jantung. Dengan Darah-Nya yang tercurah di atas kayu salib, saya tetap dapat berdoa Yesus, Yesus dan mendapat kekuatan untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri selama dikateterisasi dan dioperasi. Tuhan Yesus menyediakan semua yang saya perlukan dalam penderitaan saya. Dengan pembayaran klaim asuransi penyakit kritis, saya dapat membayar biaya operasi by-pass jantung. Dengan penghasilan dari pekerjaan saya, saya dapat membayar biaya hidup kami sekeluarga dan biaya perawatan jantung saya. Dengan belas kasihan-Nya, saya diberikan karunia untuk mendoakan orang sakit dan orang yang mendekati ajal, sehingga orang-orang ini diberikan kesempatan untuk bertobat dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat Pribadi mereka. Dengan kasih karunia-Nya, Dia mengaruniakan kepada saya: isteri dan anak-anak yang baik; pekerjaan; kesempatan untuk melayani sesama di seksi kerasulan keluarga.

Semoga kesaksian saya ini meneguhkan kita semua untuk yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat kita, Dia adalah Allah yang setia, Dia akan memberikan jalan keluar atas semua masalah yang kita hadapi di dunia ini, jika kita hanya berserah kepada-Nya. Semoga kita senantiasa bersyukur atas segala berkat, bimbingan, serta rencana Tuhan di dalam hidup kita. Amin.

Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! (Yes 30 : 18)

Jakarta, 24 April 2012

Syalom,

Boyke

Kisah St Yohanes Maria Vianney

14

Masa kecil dan masa remaja Sang Pastor

JEAN Baptist Marie Vianney, yang kemudian menjadi sangat dikenal dengan sebutan ‘Sang Pastor dari Ars’,  lahir di Dardilly, tak jauh dari Lyon, di Perancis Selatan, pada tanggal 8 Mei  1786. Ia lahir sebagai anak keempat dari pasangan Mathieu Vianney dan Marie Beluse, sebuah keluarga pedesaan yang bersahaja. Keluarga ini memiliki beberapa bidang tanah yang menyatu dengan tempat tinggal mereka yang sederhana.

Jean (dalam bahasa Indonesia: Yohanes) kecil sangat terinspirasi oleh kepedulian kedua orangtuanya kepada para miskin papa, sekalipun secara materi mereka sendiri bukan keluarga kaya. Rumah mereka selalu terbuka untuk orang miskin yang membutuhkan makanan dan pertolongan lainnya.  Ketika Jean masih bayi, kata pertama yang keluar dari bibirnya adalah “Yesus” dan “Maria”. Gerakan tangan pertamanya adalah gerakan membuat tanda salib, yang diajarkan sang ibu kepadanya. Sejak usia 4-5 tahun, ia sudah mempunyai kesukaan untuk menyendiri, yang menurut sebuah sumber, dilakukannya untuk berbicang-bincang dengan malaikat pelindungnya. Sebagai remaja, Jean membantu orangtuanya bertani dan memelihara ternak.  Jean remaja juga gemar melayani dengan penuh simpati orang-orang miskin yang berdatangan ke rumah orangtuanya. Ia pergi menjumpai  orang-orang sederhana di jalan dan membawa pulang baju mereka yang sobek, agar dapat dijahit dan diperbaiki oleh ibunya di rumah.

Ketika Revolusi Perancis merebak, gereja-gereja ditutup dan banyak pastor yang diusir. Saat itu, Jean remaja yang telah semakin dewasa dan sudah semakin matang dalam iman dan cintanya kepada Kristus, merasa prihatin atas keadaan itu dan berinisiatif mengumpulkan anak-anak di desanya. Ia mengajar mereka tentang Kitab Suci dengan cara yang sederhana namun serius. Kesehariannya dipenuhi kegiatan bekerja dengan tekun dan rajin serta banyak berdoa, sehingga pekerjaannya sendiri adalah sebenarnya suatu doa yang terus menerus. Sengsara Kristus dan mukjizat-mukjizat-Nya adalah sumber meditasi jiwa yang tak pernah kering baginya. Di akhir hari, bersama ibu dan kakaknya, Catherine, ia merenungkan Kitab Suci dan kisah para Kudus.

Perlahan namun pasti, tumbuh kerinduan di hati Jean untuk menjadi seorang pastor. Namun sampai usia tujuh belas tahun ia belum berkesempatan memulai studi untuk menjadi imam. Apalagi ayahnya menyatakan bahwa ia tak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan Jean.

Syukurlah pada tahun 1805, muncul harapan baru bagi Jean. Gereja-gereja mulai dibuka kembali, sebagai hasil keputusan pemerintah pada saat itu. Pastor Bailey, seorang misionaris gigih pada masa itu, ditunjuk menjadi pastor paroki di Ecully, sebuah desa tetangga Dardilly. Pekerjaan awal pastor Bailey di antaranya adalah membuka sebuah seminari untuk mendidik orang-orang muda calon imam. Berbekal restu sang ayah, Jean, yang saat itu sudah berusia 19 tahun, menghadap pastor Bailey, yang sudah lama mendengar tentang kesalehan Jean remaja. Ia segera menerima Jean menjadi salah satu murid di seminarinya.

Di seminari, Jean belajar bersama para pemuda lain yang jauh lebih muda darinya. Kebanyakan pemuda seusianya telah menyelesaikan taraf pendidikan yang sedang dimulainya itu. Jean menempuh studinya dengan segenap kesukaran, ia lambat belajar dan apa yang dipelajarinya hanya bertahan sebentar dalam pemahamannya. Keadaan merasa tertinggal dengan remaja sebayanya memperberat kesulitannya. Pelajaran bahasa Latin adalah pelajaran yang paling sukar baginya.

Dalam kesulitannya, Jean mencari pertolongan doa Bunda Maria Perawan Terberkati dan Santo Francis Regis dari Vivarais, sosok orang kudus yang menjadi devosi Jean sejak masa kanak-kanak. Ia berziarah ke makam St. Francis di Louvesc untuk memohon pertolongan doanya. Imannya membuahkan hasil yang nyata di mana pelan-pelan ia bisa mengatasi kesukarannya dalam belajar. Kelak ketika Jean telah menjadi imam di Ars, ia sering mengingat dengan penuh syukur pertolongan St. Francis itu. Ia membawa arca St. Francis ke parokinya dan menganjurkan devosi kepadanya.

Ketika perjalanan studinya mulai lancar, muncul tantangan baru. Raja Napoleon I membutuhkan pasukan tambahan untuk menguasai Spanyol. Wajib militer segera diberlakukan bagi semua pemuda, termasuk Jean. Kesedihan mendalam karena harus meninggalkan bangku sekolah seminari membuat Jean jatuh sakit. Ia harus dirawat di rumah sakit di Lyons, dan kemudian dipindahkan ke Roanne. Sementara itu pasukan tentara yang baru sudah mulai berangkat menuju Pyrenees. Keadaan itu membuat Jean akhirnya dapat kembali ke desanya tanpa pernah sempat menjalani wajib militernya.

Pada tahun 1812, setelah peninjauan seksama terhadap hasil belajarnya, Jean diijinkan mengikuti studi filosofi di Verrieres. Ia yang telah berumur 27 tahun saat itu, belajar bersama dua ratus pelajar lainnya, yang semuanya lebih muda darinya. Kesukaran lain menantinya. Setelah beberapa minggu, Jean didiskualifikasi untuk mengikuti studi filosofi dalam bahasa Latin, dan bersama enam pelajar lain ia harus mengikuti pelajaran itu dalam bahasanya sendiri yaitu bahasa Perancis.

Karena  keadaannya itu, Jean sering diolok-olok oleh sesama pelajar, namun ia tak pernah sekalipun terpancing untuk marah. Segala hinaan itu justru memperkuat hidup doa dan devosinya.  Tapi masih ada cobaan lain lagi menantinya. Sebelum diijinkan masuk seminari tinggi di Lyons untuk mempersiapkan tahbisan imamatnya, ia harus menjalani ujian mata pelajaran filosofi di hadapan uskup agung dan stafnya. Ketika pertanyaan diajukan padanya dalam bahasa Latin, tiba-tiba seluruh ingatannya terhadap apa yang sudah dipelajarinya lenyap. Dalam keadaan seperti itu tak satu pertanyaanpun yang dapat dijawabnya, karena merasa sangat grogi di hadapan para figur penting di hadapannya.  Di antara semua kandidat, Jean satu-satunya peserta studi yang dinyatakan gagal untuk melanjutkan ke jenjang seminari tinggi. Tak terbayangkan betapa berat pukulan ini bagi Jean. Seluruh kerja keras dan upayanya selama delapan tahun ternyata membuahkan kegagalan.

Dalam situasi yang sungguh sulit itu, iman Jean Vianney kepada Tuhan tetap tak tergoyahkan, dan oleh karenanya Tuhan membuka jalan baginya melalui pastor yang telah menerimanya dulu, Pastor Bailey. Berbekal pengetahuannya yang sangat baik terhadap kualitas karakter Jean, Romo Bailey memohon otoritas seminari untuk menguji Jean Vianney secara prbadi keesokan harinya. Ujian kali ini dilangsungkan di hadapan vikaris jendral dari keuskupan agung dan para wakil dari seminari teologis. Ternyata Jean berhasil lulus dengan amat memuaskan sehingga ia diperkenankan memasuki seminari tinggi untuk studi teologi di tahun 1814.

Kehidupan Jean di seminari lebih mendalam pada aspek kesalehannya daripada aspek akademis. Bagaimanapun, melihat kesungguhan dan kemuliaan hatinya, pemimpin seminari memberinya rekan sekamar yang pandai dan rela membantunya belajar. Dengan berbagai bantuan itu, akhirnya Jean berhasil sampai di akhir masa studinya dan bersiap menerima tahbisan imamat. Tahun 1814 itu terjadi kebutuhan yang besar dan mendesak akan para imam. Atas dasar  itu, Jean dan kawan-kawan direncanakan menerima tahbisan prodiakon menjelang Juli. Namun para pemimpin seminari merasa ragu. Bagaimana seorang dengan kualifikasi yang sangat tidak memadai bisa diijinkan menerima tahbisan? Akhirnya vikaris jendral bertanya kepada otoritas seminari, “Apakah Vianney muda seorang yang saleh? Apakah ia berdevosi kepada Bunda Maria Yang Terberkati?” Untuk hal-hal tersebut, para otoritas merasa sepenuhnya yakin kepada Jean Vianney. “Kalau begitu”, kata vikaris jendral itu, “saya menerima dia. Biarlah rahmat Allah yang akan menyempurnakan segalanya”. Pada tanggal 2 Juli 1814, Vianney menerima tahbisan prodiakon dan sekitar dua belas bulan kemudian tahbisan diakon. Bulan Agustus 1815, Jean Vianney ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Grenoble, yang mewakili uskup agung Lyons yang saat itu sedang berada di Roma. Pastor Jean Vianney berusia 29 tahun saat itu. Dan Tuhan mempunyai rencana yang agung atas hidupnya, yang kelak akan menjadi teladan bagi hidup panggilan para imam di seluruh dunia.

Pastor Vianney dalam kerendahan hatinya, selalu menyadari ketidaksempurnaannya. Ia pernah menyatakan dua prinsip yang sebaiknya menjadi  panduan seorang imam: (1) jangan pernah beranggapan bahwa tidak ada hasil berarti yang telah dicapai di paroki, betapapun nampaknya segala upaya yang telah dijalankan bertahun-tahun belum menunjukkan hasil yang diharapkan, dan (2) para imam jangan pernah beranggapan bahwa mereka telah melakukan usaha yang cukup, betapapun berartinya hasil yang telah berhasil mereka capai.

Untuk menyempurnakan pelayanannya, Pastor Vianney melanjutkan mempelajari moral teologi dari Pastor Bailey yang saleh dan berpengalaman. Pastor Bailey lalu menunjuknya menjadi pastor paroki. Pastor Jean mempraktekkan hidup pastoralnya dengan penuh kesalehan dan mati raga. Bersama Pastor Bailey, ia berdoa brevir berdua dan sepanjang hari berada dalam persekutuan penuh cinta kepada Tuhan. Berjam-jam mereka berdoa adorasi di depan Tabernakel. Sehari-hari, Romo Vianney hanya makan sedikit sekali, dan semua penghasilannya yang amat minim diberikannya seluruhnya untuk orang miskin. Baju-baju yang diberikan khusus untuknya, juga diberikannya kepada orang miskin. Praktis ia tidak memiliki apapun kecuali pakaian yang menempel di badannya. Berdua mereka mengunjungi umat yang miskin tiap-tiap harinya, menghibur dan menolong mereka sejauh yang mereka bisa. Dalam waktu tak lama, Pastor Bailey segera menyadari bahwa ia telah bekerja bersama seorang santo.

Pada bulan Desember 1817, Pastor Bailey wafat. Umat mengharapkan Pastor Vianney menggantikannya, tetapi ternyata Tuhan mempunyai rencana lain. Sebelum penetapan terjadi, pastor paroki yang baru saja ditempatkan di Ars juga wafat. Vikaris jendral lantas mengirimkan Pastor Vianney ke paroki kecil itu sambil berpesan, “Sahabatku, engkau akan bertugas di sebuah paroki kecil di mana sangat sedikit kasih Tuhan bisa dirasakan di sana. Engkau akan membangkitkan lagi api kasih Allah di sana!”

Dengan berkata sedemikian, Sang Vikjen sama sekali tidak menyangka bahwa dalam beberapa dekade, desa kecil Ars akan berkembang begitu rupa bagaikan sebuah jantung yang berdenyut penuh cinta kasih Allah, menyebarkan kehangatannya ke seluruh negeri.

Pastor yang baik

Ketika Pastor Jean Baptist Vianney memasuki paroki Ars untuk pertama kalinya di Februari petang yang dingin di tahun 1818, ia juga segera merasakan  dinginnya semangat spiritual umat Kristiani di sana. Tak seorangpun menyambut kedatangannya. Misa harian hanya dihadiri dua atau tiga wanita tua. Kaum pria tidak hadir dalam Misa hari Minggu, apalagi doa harian (Vespers), walau pada saat yang sama, cafe-cafe di desa itu selalu penuh pengunjung.

Pastor Jean melakukan semua upaya yang ia bisa untuk membangkitkan nyala api iman yang redup dan nyaris mati di Ars. Karena umat tidak datang kepadanya, dialah yang berinisiatif datang berkunjung ke rumah mereka. Ia tidak puas hanya dengan satu kali kunjungan formal, namun ia mengunjungi umatnya secara berkala, sesuai dengan berbagai kebutuhan spiritual yang ia lihat pada diri mereka. Ia biasa berkunjung saat sebuah keluarga tengah makan siang bersama. Ia akan masuk ke ruang keluarga sambil mengobrol dengan sikap ramah dan bersahabat. Sekalipun selalu diundang untuk ikut menikmati hidangan, Pastor Jean tidak pernah menikmati sedikitpun makanan, bahkan juga tidak segelas air. Ia berbicara tentang keseharian mereka, kepedulian, dan kekhawatiran mereka, harapan dan kekecewaan mereka.

Umat segera menyadari bahwa Pastor Jean adalah bagian dari diri mereka, mereka lantas mulai menceritakan uneg-uneg dan rahasia hati mereka kepadanya, meminta nasehatnya untuk masalah-masalah mereka. Dan kapanpun kesempatan itu datang, dengan ketrampilan alamiah untuk memberi masukan, Romo Vianney mengarahkan percakapan kepada tema-tema penyelenggaraan ilahi. Namun ia selalu menyampaikan semua itu dengan sikap menyenangkan, tidak pernah memaksa, selalu sabar, dan tidak menghakimi, walaupun mungkin ia tahu dan bisa menilai kekeliruan yang telah dilakukan umatnya. Semua sikap itu adalah cermin dari keluhuran hatinya, yang segera memenangkan hati banyak orang, yang kini berbalik menanti-natikan kunjungannya, dan merasa terhormat bila ia datang bertamu.

Kita tentu masih ingat kelemahan Pastor Vianney berhubungan dengan memorinya, yang telah sempat mempersulit perjalanan studinya hingga nyaris membuahkan kegagalan. Kelemahan ini juga mempersulitnya saat ia sedang menyiapkan kotbah. Banyak malam ia tidak tidur dengan cukup, demi mempersiapkan homili yang baik bagi umatnya. Namun, berkat pertolongan Yang Ilahi, kelemahan itu tidak menjadi penghalang baginya. Sehingga walau ia tidak dikaruniai bakat alam untuk berpidato di depan banyak orang, ia bisa berbicara dengan lancar, serius dan meyakinkan. Bertahun-tahun sesudah Ars menjadi pusat peziarahan umat dari seluruh Perancis, kadang mencapai 20.000 orang per tahunnya, Pastor Jean senantiasa mampu memberikan kotbah harian dari altar tanpa suatu persiapan khusus dan tanpa menimbulkan peristiwa yang memalukan sebagaimana yang ia alami di awal karirnya sebagai imam.

Dengan bantuan umat parokinya, yang hari demi hari semakin terkesan dengan kesalehan yang teguh dari pastor mereka, Jean berhasil membangun dua kapel baru yang melengkapi bangunan gereja utama. Salah satu kapel itu didedikasikan kepada St. Filomena, seorang remaja putri yang menjadi martir, yang relikwinya disimpan di Roma di awal abad kesembilan belas. Kapel lainnya dipersembahkan kepada St. Yohanes Pembaptis, dan di dalamnya terletak ruang pengakuan dosa yang digawangi Pastor Jean,  yang dikenal dengan sebutan “Bangku Belas Kasihan”, dari Yang Kuasa, di mana ribuan jiwa mengalami rekonsiliasi kembali dengan Sang Penciptanya, karena pelayanan dan nasehat yang penuh kuasa dan cinta ilahi dari Pastor Jean Vianney.

Ketika seorang rekan imam berkeluh kesah padanya sambil mengatakan bahwa ia tidak merasa berhasil dalam pelayanan di parokinya, walau ia merasa telah melakukan segala cara untuk membangkitkan umat di parokinya, Romo Vianney bertanya padanya, “Sungguhkah engkau sudah melakukan segala yang mungkin dengan seluruh kekuatanmu?  Apakah engkau berpuasa dan beramal? Apakah engkau berdoa?”

Kemurahan hati Pastor Vianney nyaris tak terbatas. Makanan, pakaian, dan pasokan kebutuhan sehari-hari lainnya yang diberikan dengan murah hati oleh bangsawan Ars untuknya, segera berpindah tangan ke orang-orang miskin. Ia hanya menyimpan sangat sedikit untuk dirinya, sekedar cukup supaya ia tidak kelaparan. Bahkan yang sudah sedikit itu pun sering ia berikan juga, jika ada orang miskin yang datang untuk meminta makanan. Suatu hari Mr. Mandy, tokoh masyarakat Ars, menemukan Pastor Jean dalam keadaan pucat pasi dan sangat kelelahan. Dengan penuh kecemasan ia bertanya, Apakah Anda sakit, Pater?”. Ia menyahut, “Oh temanku yang baik, engkau datang pada waktunya, aku tak punya apapun lagi untuk dimakan.” Selama tiga hari Romo Vianney tak mempunyai persediaan apapun sejak kentang terakhir yang ada padanya diberikannya kepada orang lapar. Sehari-hari ia hanya makan sekali sehari, dan umumnya hanya terdiri atas kentang rebus, yang dibuatnya cukup hingga akhir minggu, hingga menjelang Jumat atau Sabtu sudah mulai berjamur. Namun ketika sanak saudara atau kerabatnya datang, ia rela bersusah payah menyediakan hidangan sederhana untuk mereka. Pastor Jean selalu berusaha agar hidup mati raga dan penyangkalan dirinya itu tidak diketahui oleh publik.

Suatu hari seorang pengemis dijumpainya di jalan, pengemis itu tak beralas kaki sehingga kakinya luka-luka. Pastor Jean segera menyerahkan sepatu dan kaus kakinya sendiri kepada pengemis itu, kemudian ia pulang ke rumah dengan kaki telanjang.

Ia mempersembahkan mati raganya untuk kesejahteraan umatnya, dan meningkatkan kebiasaannya itu menjelang Paskah, dan kapanpun itu jika dapat menyentuh hati para pendosa yang keras. Ia biasa bangun jam dua pagi untuk berdoa Brevier. Pukul empat pagi ia masuk ke gereja untuk beradorasi di hadapan Tabernakel dan kemudian memimpin Misa pagi. Setelah itu, ia memberi pengarahan pada kelas katekis dan mendengarkan pengakuan dosa umatnya. Begitulah rutinitas yang dijalaninya dengan setia tiap hari sehingga ia selalu ada di gereja sampai tengah hari. Selanjutnya sepanjang sore ia mengunjungi orang yang sakit dan menghabiskan sisa waktunya di gereja, di mana ia, melengkapi pelayanan pengajaran imannya kepada umat, memimpin penyembahan sore bersama umat.

Perkembangan spiritual yang pesat yang terjadi pada paroki di Ars lama kelamaan didengar oleh seluruh negeri. Imam-imam dari paroki lain memohon bantuannya memberi kotbah dan memberikan Sakramen Pengakuan Dosa. Pastor Vianney tidak pernah menolak permohonan bantuan ini, sehingga dalam dua tahun, ia menjadi rasul Kristus yang sangat dikenal di lingkungan katedral. Begitu suksesnya pekerjaan spiritualnya sehingga orang tidak lagi menunggu dia datang lagi mengunjungi paroki mereka, tetapi mereka sendiri yang datang langsung ke Ars. Segera jalan-jalan desa Ars dipenuhi para pejalan kaki dan kendaraan yang membawa sejumlah besar pengunjung, dan peziarahan itu terus meningkat seiring mulai tersiarnya berbagai kabar mengenai mukjizat-mukjizat yang terjadi di Ars.

“Rumah Penyelenggaraan Ilahi” dan berbagai cobaan

Di tahun 1825, tujuh tahun setelah Pastor Vianney ditunjuk menjadi pastor paroki Ars, ia berkesempatan mewujudkan cita-citanya sejak lama. Seorang donatur menyumbangkan sejumlah besar uang, yang segera dipakainya untuk membeli sebuah rumah yang kemudian dikenal dengan nama “House of Providence”  (Rumah Penyelenggaraan Ilahi). Di rumah itu, dikumpulkannya semua orang miskin yang terabaikan, yang tak punya rumah, dan anak-anak yatim piatu di Ars. Mereka dirawat dan dicukupi segala kebutuhan fisik dan spiritualnya dalam satu atap.  Dua wanita dari umat paroki ditunjuknya menjadi kepala pengelola rumah itu. Pastor Vianney juga terjun sendiri untuk memberikan katekisasi kepada mereka. Umat paroki di Ars lambat laun terlibat pula dalam mendukung kegiatan pengajaran tersebut.

Rumah ini dikelola Pastor Vianney selama dua puluh lima tahun. Kebutuhan finansial rumah dicukupi oleh dana yang disumbangkan para donatur kepadanya, dan sering terjadi bahwa sumbangan dana tiba secara tak terduga, tepat pada saat rumah itu sedang membutuhkan dana yang mendesak. Pada suatu hari tak ada lagi tepung yang tersisa untuk membuat roti dan tak ada lagi cukup uang untuk membeli roti. Semua orang yang didatangi Pastor Vianney menyatakan tak sanggup membantu. Belum pernah Pastor Jean merasa benar-benar ditinggalkan seperti saat itu. Kemudian ia teringat akan St. Francis Regis dan memutuskan untuk mencari pertolongan dari Surga. Ia membawa relikwi santo Francis ke ruang penyimpanan makanan, lalu menutupinya dengan remah-remah tepung gandum yang tersisa. Keesokan harinya para pengelola rumah itu mengingatkan dia bahwa tak ada lagi tersisa makanan untuk dimakan. Pastor Vianney menangis dan mengatakan bahwa mereka mungkin harus membiarkan anak-anak yang miskin itu pergi. Bagaimanapun, ia memutuskan pergi ke ruang penyimpanan bersama seorang anak buahnya dan dengan kecemasan yang besar membuka pintunya, dan saat itu dilihatnya ruang penyimpanan yang tadinya kosong itu ternyata telah penuh dengan gandum.

Dalam peristiwa semacam itu kekudusan Pastor Vianney menampakkan dirinya. Bukannya menyambut mukjizat publik dengan kegembiraan, ia justru merasa kebalikannya, merasa sangat malu, karena ia telah merasa nyaris putus asa pada awalnya. Ia segera mengatakan kepada anak-anak, “Lihatlah anak-anak terkasih, saya telah sempat tidak mempercayai Tuhan yang begitu baik. Saya telah hampir meminta kalian semua pergi, dan untuk semua ini Dia telah menghukum saya.”

Berita mukjizat penambahan persediaan makanan itu segera tersebar. Seluruh warga paroki mengunjungi ruang penyimpanan itu dan setiap orang merasa yakin dengan apa yang mereka lihat. Uskup Devie dari Belley menyelidiki peristiwa itu secara pribadi dan menemukan kenyataan seperti yang didengarnya.

Rahmat yang besar dalam kehidupan seorang kudus tidak pernah datang tanpa dibarengi dengan datangnya pencobaan yang besar pula. Pastor yang terberkati dari Ars ini bukan pengecualian. Selama sepuluh tahun pelayanannya, ia mengalami banyak tuduhan, kecurigaan, ketidakpercayaan, dan fitnah. Orang-orang yang tidak suka kepadanya mengkritisi aksi-aksinya dan menjadikan ia bahan olok-olok.  Ia bahkan pernah diancam dengan kekerasan. Di antara para pengkritiknya adalah sesama rekan pastor, yang merasa iri dan marah karena banyak umat di paroki mereka berdatangan ke Ars untuk meminta nasehat dan konseling kepada seorang yang pernah mereka berikan label sebagai imam yang tidak berpengalaman dan tidak peduli.  Tentu saja sikap-sikap Pastor Vianney sama sekali tidak memberikan alasan yang dapat membenarkan opini-opini negatif tersebut, karena, dalam kerendahan hatinya, ia beberapa kali menyatakan dirinya seorang yang tidak berguna dan pelayan Tuhan yang tidak layak, sebuah opini yang ia pegang dengan tulus tanpa keraguan.

Banyak umat beriman yang terpengaruh oleh sikap negatif para pemimpin rohani mereka kepada Pastor Vianney, sehingga mereka merasa bebas untuk ikut menghinanya. Beberapa bahkan menulis pesan-pesan yang kasar untuk Pastor Jean dan meninggalkannya di pintu paroki.

Dengan kesabaran yang menyentuh hati, Pastor Vianney menanggung tahun-tahun yang penuh kepahitan itu. Kesungguhan dan kesalehannya tidak luntur barang satu hari pun. Semua pergumulan batinnya itu tidak ditampakkannya ke luar pada saat ia menjalankan tugas-tugas pastoralnya.

Pastor Vianney juga mengalami gangguan yang terus menerus dari Si Jahat. Hampir setiap malam ia mendengar suara ketukan yang terus menerus di pintu rumahnya, namun ketika dicari siapa yang melakukannya, tidak tampak ada seorangpun di luar. Gangguan itu membuatnya tidak bisa beristirahat cukup di malam hari, setelah sepanjang harinya bekerja tak henti. Gangguan itu memang nampaknya dibuat supaya ia tidak cukup segar dan fit untuk melakukan tugas-tugas imamatnya. Serangan Si Jahat itu berlangsung tak kurang dari tiga puluh lima tahun hidupnya. Sungguh merupakan mukjizat bahwa dalam keadaan tersiksa oleh kelelahan fisik dan mental, dan masih ditambah lagi hidup mati raga yang melemahkan tubuhnya, Pastor Jean dikaruniai hidup yang penuh karya indah selama tujuh puluh empat tahun.

Sementara itu, musuh-musuhnya melangkah lebih jauh dalam usaha untuk membahayakan jabatannya. Mereka mengajukan tuduhan palsu kepada uskup yang memimpin Keuskupan Belley, di mana paroki Ars bernaung. Mereka mengatakan bahwa Pastor Vianney tidak layak untuk dipercaya membimbing umat dan membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Namun sang uskup tidak ingin memberi keputusan tanpa melakukan pemeriksaan. Ia mengirim vikaris jendralnya ke Ars dan memberi perintah kepada Pastor Vianney untuk melaporkan ke yurisdiksi episkopal semua permasalahan yang sulit yang pernah dihadapinya beserta semua saran yang telah ia berikan untuk kasus-kasus itu.  Pastor Vianney menyambut permintaan itu dan segera menyerahkan catatan dari lebih dua ratus kasus. Uskup Devie dari Belley memeriksanya sendiri dan menemukan bahwa keputusan-keputusan Pastor Vianney sangat tepat, kecuali dua kasus yang ia mempunyai opini berbeda. Sejak saat itu ia tidak lagi mengijinkan siapapun mengatakan bahwa Pastor Vianney tidak mampu. Sang uskup berkunjung secara prbadi ke rumah Pastor Vianney di Ars dan menemukan seorang yang saleh dan kudus, sama sekali bukan seperti seorang yang dikatakan berbagai hal yang negatif oleh para musuhnya. Dalam kesempatan sebuah acara resmi, Bapa Uskup menegur para bawahannya sehubungan dengan tuduhan mereka.

Namun, lebih dari segala bentuk perlindungan yang diberikan Bapa Uskup kepadanya, kerendahan hati dan kebaikan Pastor Vianneylah yang akhirnya menyadarkan lawan-lawannya. Dalam beberapa tahun sesudahnya, pastor yang berhati mulia ini tidak lagi mempunyai musuh dari sesama pastor. Demikian juga umat awam tidak lagi menyebarkan tuduhan tak beralasan tentang dia.

Pada bulan November 1847, Pastor Vianney mengalami cobaan lagi. “Rumah Penyelenggaraan Ilahi” yang didirikannya untuk para miskin dan anak-anak tak beribu bapa, diputuskan untuk diambil dari pengelolaannya, karena dianggap bukan merupakan institusi sekolah atau rumah sakit, dan dikelola oleh awam. Dengan sedih hati, Pastor Vianney menyerahkan pengelolaannya kepada Suster-suster St. Yusuf dari Bourg, dan rumah itu diubah menjadi institusi “Sekolah Gratis bagi Para Gadis”. Namun peristiwa ini menjadi titik balik rencana Tuhan yang agung baginya, karena sejak itu seluruh kekuatan fisik dan pikirannya semata didedikasikan kepada usaha pertobatan para pendosa, melalui sakramen pengakuan yang diberikannya kepada umat yang berkunjung ke Ars, yang kian hari kian banyak jumlahnya.

Dalam kurun waktu sesudahnya, Pastor Vianney telah beberapa kali berniat untuk mengundurkan diri dari tugas-tugas imamat yang diembannya di Ars, ia ingin menyepi di sebuah biara untuk menghabiskan sisa hidup miskinnya di hadapan Allah. Tetapi gelombang umat yang memprotes rencananya itu akhirnya membuat Pastor Jean membatalkan keinginannya. Melihat kerinduan umat yang begitu besar, ia menyadari bahwa adalah rencana kudus Tuhan sendiri yang menghendaki dia untuk tetap tinggal dan melanjutkan karya-karya pastoralnya yang amat diharapkan oleh banyak orang, terutama mereka yang merasa kehilangan pegangan dan rindu untuk bersatu kembali dengan Tuhan.

Peziarahan ke Ars

Sepanjang tahun di antara tahun  1825 dan 1830, gelombang peziarahan yang besar terjadi di Ars. Banyak sekali umat  yang datang ingin bertemu dan berkonsultasi serta mengakukan dosa dosa mereka kepada Pastor Jean Vianney.  Begitu banyaknya jumlah orang yang datang sehingga akomodasi perjalanan yang meningkat pesat memerlukan pengaturan khusus di antara Ars dan desa-desa lain di sekitarnya.

Para peziarah berdatangan dari setiap propinsi di Perancis, sebagian datang pula dari Belgia dan Inggris, sebagian lagi dari Amerika. Ketenaran Pastor Vianney menyebar dari mulut ke mulut, terutama dari mereka yang telah mendapat pengalaman pribadi di bawah bimbingan Pastor Vianney.

Dengan perasaan kagum yang makin meningkat, peziarah yang baru datang menyaksikan bagaimana pastor yang rendah hati itu memenangkan jiwa-jiwa. Setiap hari di sepanjang lorong bangku gereja, dua lajur manusia, berjumlah tak kurang dari enam puluh hingga seratus orang, menanti dengan sabar giliran mereka untuk masuk ke dalam sakristi kecil untuk mengakukan dosa mereka kepada Pastor Vianney. Jika ditanya sejak jam berapa mereka sudah antri di sana, kadang jawabannya, “Sejak jam dua dini hari”, atau, “Sejak tengah malam, segera sesudah pastor Jean membuka gereja.” Tak jarang tampak di antara antrian, umat dari kalangan masyarakat terhormat juga menunggu dengan sabar sepanjang malam dan siang, bukan untuk menghadiri suatu pertemuan penting, namun untuk menyerahkan diri mereka dengan rendah hati kepada bimbingan spiritual sang pastor demi kesejahteraan jiwa mereka. Sudut-sudut lain dari gereja juga tampak sama penuhnya. Pemandangan pria dan wanita berdoa dengan khusuk juga berlangsung terus dari jam ke jam, dari hari ke hari, sementara dua-ratusan orang mengantri untuk mengakukan dosa-dosa mereka. Pastor Jean Vianney biasa mendengarkan pengakuan selama enam belas hingga tujuh belas jam setiap harinya, dan kedisiplinan manusia ‘super’ ini berlangsung terus menerus dalam kurun waktu tiga puluh tahun.

Sebagai panutan umat, Pastor Vianney memahami tidak ada pengajaran yang lebih ‘berbicara’ untuk menarik perhatian umat daripada pengajaran yang didasarkan pada peristiwa iman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam nasehat-nasehatnya, ia selalu kembali kepada kebenaran mendasar dari iman untuk menjadi perenungan umatnya. Cinta manusia kepada Tuhan seharusnya merupakan suatu hal yang alamiah bagi manusia sebagaimana seekor burung dan kicauannya. Ia juga selalu mengingatkan akan sukacita yang tak terkatakan yang dialami setiap manusia karena mengalami cinta kasih Allah yang penuh pengurbanan. Berulang-ulang ia juga mengatakan, “Berdoalah bagi pertobatan para pendosa!” Ia menyatakan bahwa intensi doa semacam itu adalah salah satu hal yang paling disenangi oleh Tuhan yang Maha Baik. Tanpa henti, Pastor Jean sendiri berdoa dan bermati raga untuk ujud tersebut. Permohonannya yang tekun itu naik tinggi sampai ke hadirat Allah. Allah yang selama tiga puluh tahun hidup sang Pastor di Ars, dengan gembira mengirimkan pendosa tak berhingga jumlahnya, untuk dapat diperdamaikan kembali dengan Tuhan melalui karya pastoral Pastor Vianney. Banyak umat berlutut di kakinya dengan hati telah siap, karena telah mendengar dari umat lain betapa manis dan mudahnya untuk mengakukan dosa kepada pastor yang kudus itu dan menerima bimbingannya, untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan dengan seluruh hati mereka.

Kadang-kadang orang datang ke Ars hanya sekedar ingin tahu, kadang ingin sekedar melihat wajah Pastor Jean, atau ingin melihat sambil sedikit mengolok-olok apa yang mereka anggap sebagai suatu kerumunan orang-orang yang konyol. Namun, setelah mengamati dari dekat bagaimana karya sang Pastor Jean selama sehari atau dua, mereka yang datang dengan motif-motif itu langsung kehilangan selera untuk meneruskan intensi awalnya, dan tidak lama kemudian mereka tampak telah berada di dalam antrian juga, ikut menunggu bersama yang lain untuk mengaku dosanya.

Seperti St. Vincent Ferrer, Pastor Vianney mendapat karunia dari Tuhan sebuah kemampuan untuk mengetahui dengan jelas apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh seorang pendosa. Hampir setiap hari, orang akan melihatnya tiba-tiba keluar dari sakristi untuk kemudian langsung menghampiri seseorang yang baru saja masuk ke dalam gereja. Dengan wajah ramah namun serius, Pastor Jean menuntun orang itu masuk ke ruang pengakuan. Banyak orang kemudian mengetahui, bahwa tanpa banyak membuang waktu, Pastor Jean akan segera menyebutkan dosa-dosa dan kesalahan orang itu di depannya, sebelum  yang bersangkutan sempat mengatakannya. Pastor Vianney mengingatkannya akan hal-hal yang memalukan yang telah dilakukannya di masa lalu yang mungkin orang itu telah merasa tergoda untuk menyembunyikannya dari siapapun.  Dengan kemampuan dan cara seperti itu, Pastor Vianney menyingkirkan halangan paling besar dan paling akhir yang mungkin menghambat seseorang untuk dapat mengalami rekonsiliasi yang penuh dengan Tuhan.

Suatu hari seorang atheis mengikuti Pastor Jean, yang segera memintanya berlutut. Orang itu berkata, ia sama sekali tidak ingin mengaku dosa, dan bahwa ia sama sekali tidak percaya kepada Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan pengakuan dosa. Pastor Jean melihat dalam-dalam ke matanya, dan hal itu ternyata membuat orang tersebut segera menjatuhkan diri untuk berlutut. Pastor Jean lantas mengungkapkan masa lalunya, dengan sangat akurat, sehingga orang itu mengakui dengan heran bahwa apa yang dikatakan pastor itu benar semua. Cahaya iman segera terbangkit dalam jiwa orang ateis itu, yang lalu berseru menangis dengan suara keras, “Tuhan, aku percaya, aku memujiMu, aku mencintaiMu, aku memohon pengampunanMu !” Pastor Jean menyuruhnya pergi dalam damai dengan berkata, “Sahabatku, persiapkan dirimu, Tuhan yang Maha Baik akan segera memanggilmu!” Dan demikianlah yang terjadi, dua tahun kemudian sebuah serangan stroke mengakhiri hidup orang yang telah bertobat itu.

Selain medamaikan kembali para pendosa dengan Allah, Pastor Vianney sering membantu mengarahkan jiwa-jiwa  untuk mengetahui panggilan hidup mereka dan bagaimana mencapainya, sambil memberikan konsultasi yang berharga bagi perkembangan spiritual mereka. Maka tak heran bila para uskup dan para pastor, para pemimpin organisasi religius, para orang tua, para pemuda dan pemudi dalam jumlah besar, semuanya rindu untuk mendapatkan nasehat dari pastor kudus itu. Pastor Jean memberikan nasehatnya secara singkat, karena ia mengingat masih banyak pendosa yang antri yang menunggu untuk didengar pengakuan dosanya.  Banyak peminta nasehat bersaksi, hanya dengan mendengarkan beberapa patah kata awal saja dari cerita mereka, Pastor Jean sudah mampu memberikan nasehat yang relevan dengan permasalahan mereka dengan kecermatan yang mengagumkan. Pada suatu hari seorang pastor menanyakan pendapat Pastor Jean akan suatu masalah teologi yang amat rumit, dan segera pastor itu mendapat jawaban yang amat meyakinkan. Dengan terkesan, ia bertanya di mana Pastor Jean belajar tentang teologi? Dengan gerakan tangannya, yang lebih tampak menyarankan daripada menjawab, Pastor Jean menunjuk dalam keheningan kepada Sang Tuan.

Tidak seperti yang diduga banyak orang, Pastor Jean tidak selalu menasehati orang muda untuk menjadi rohaniwan. Kepada seorang gadis yang sudah hendak dinikahkan dengan pemuda pilihan orangtuanya, di mana sebenarnya gadis itu ingin masuk biara, Pastor Jean merenung sejenak dan berkata, “Anakku terkasih, engkau harus menikah!” . Walau gadis itu telah menyatakan keinginannya masuk biara, ia menuruti nasehat Pastor Jean, dan pernikahannya itu ternyata sangat membahagiakan jiwanya.

Pengalaman umat juga membuktikan, bahwa saran pastor Jean tidak untuk ditunda, apalagi diabaikan. Pengalaman Felix B. dari Coblone, ia ingin masuk ke biara para trapis dan mendapat petunjuk Pastor Jean untuk segera melanjutkan niatnya itu, tetapi Felix menjadi ragu mengingat beratnya kehidupan seorang trapis. Ia mengubah keputusannya dan masuk ke komunitas religius “Christian Brothers”. Ternyata selama enam tahun di dalamnya ia merasa gelisah dan tidak bahagia. Selalu terbayang olehnya pandangan mata ilahi dalam tatapan Pastor Jean yang ketika itu telah wafat. Akhirnya ia mengajukan niatnya untuk mundur dari komunitasnya dan masuk ke biara trapis. Di situ ia menemukan kedamaian dan ketenangan yang selama ini dirindukannya.

Mukjizat-mukjizat yang dikerjakan Sang Pastor dari Ars

Kemampuan untuk menyingkapkan dosa-dosa tersembunyi dari para pengaku dosa yang datang kepada Pastor Vianney, menjadi kekuatan pelayanannya dan melahirkan banyak pertobatan. Pastor Jean juga mampu melihat ke depan manakala seseorang akan kembali berdosa di masa depan dan membuatnya kembali ke Ars, yang dibantunya untuk sembuh kembali. Kemampuan yang sama juga dimilikinya untuk melihat meningkatnya kekudusan jiwa seseorang di bawah suatu penderitaan fisik dan kehendak Tuhan bahwa kesembuhan tidak akan terjadi pada orang itu. Juga ia dapat melihat suatu salib yang menunggu seorang peziarah sekembalinya dari Ars, atau melihat dengan mata batin, bahwa suatu kesembuhan tengah terjadi di tempat yang jauh.

Berbagai mukjizat yang telah terjadi disambut Pastor Jean hanya dengan satu alasan, yaitu bahwa semua itu dapat mendukung terjadinya pertobatan banyak pendosa dan keselamatan banyak jiwa untuk bersatu kembali dengan Tuhan. Itulah pencapaian sesungguhnya dari pelayanannya yang penuh pengorbanan diiringi mati raga yang terus menerus demi pertobatan umatnya.

Kehidupan interior sang Pastor Yang Terberkati

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana pastor yang telah memberikan banyak sekali waktu dan perhatian bagi keselamatan jiwa begitu banyak orang, masih bisa mempunyai waktu dan tenaga untuk memperhatikan kebutuhan jiwanya sendiri.

Dalam saat-saat luang di mana sebenarnya ia bisa melakukan aktivitas yang bersifat hiburan, Pastor Jean lebih memilih untuk mengerjakan hal-hal yang berguna bagi perkembangan spiritualnya. Hal ini membuat Pastor Jean semakin memperlihatkan kasih dan respek kepada orang lain, tahun demi tahun ia semakin tampak bersinar dalam kerendahan hati, amal kasih, dan pengorbanan. Bagi siapapun yang mendekat padanya, sinar matanya yang jernih memantulkan kesalehan yang tulus yang bersumber dari jiwanya. Ke manapun ia pergi, orang-orang akan mengerumuninya, menarik jubahnya, dan menanyakan berbagai hal kepadanya, termasuk hal-hal yang sangat sederhana, yang tetap ditanggapi Pastor Jean dengan penuh respek. Kebaikannya yang tidak pernah berubah membuatnya dijuluki “Pastor yang baik” sepanjang karirnya sebagai imam. Ia juga sangat menjaga dan menghormati rekan-rekan sesama imam, berusaha agar pekerjaan-pekerjaan yang sulit atau yang tidak menyenangkan tidak sampai ke tangan mereka. Untuk menyatakan kasihnya, ia sering membagikan barang-barang pribadinya kepada mereka termasuk salib, medali, dan relikwi, di mana semua benda itu sebenarnya merupakan benda-benda kesayangannya.

Selama tahun-tahun terakhir menjelang akhir hidupnya, Pastor Jean praktis tidak memiliki apa-apa lagi.  Ia telah menjual segala perabotan, buku-buku, dan berbagai benda miliknya untuk diberikan kepada orang miskin.

Ketika superiornya mulai melarang dia untuk bermati raga terlalu keras demi kesehatannya, ia berusaha menemukan cara lain untuk melakukan mati raga lewat makanannya sehari-hari. Pastor Jean juga menderita suatu penyakit yang membuatnya sering harus mempersingkat homilinya di altar, bahkan tak jarang rasa sakit itu membuatnya pingsan. Jika ditanya mengenai itu, ia hanya menjawab, “Ya, saya hanya sakit sedikit saja”. Padahal dengan tubuh yang sudah begitu lemah karena mati raga, ditambah rasa sakitnya, dan terkurung di dalam sempitnya ruang pengakuan dosa selama enam belas atau tujuh belas jam sehari, tentu penderitaan tubuhnya sama sekali tidak ringan. Waktu untuk beristirahat di malam hari seringkali hanya tersisa satu jam saja, dan waktu yang sangat sedikit itu pun sering tak bisa dinikmatinya dengan baik, karena batuk yang hebat mengguncang tubuhnya tak henti. Dalam semalam ia bisa terbangun empat atau lima kali, berharap bisa meringankan penderitaannya dengan berjalan-jalan ringan. Ketika sudah menjadi sangat lelah akhirnya ia tertidur tetapi terkadang karena sudah waktunya matahari terbit, segera ia bangun lagi untuk bekerja kembali di hari yang baru. Waktu luangnya ia habiskan untuk berdoa. Dalam mengunjungi orang sakit, pikirannya selalu tertuju kepada Tuhan. Namun doa-doanya selalu sangat sederhana. Memang ia memilih untuk senantiasa sederhana dalam segala tindakannya.

Cintanya kepada Tuhan begitu dalam, sehingga tak jarang hatinya terasa tercabik dan air matanya mengalir deras saat mendengarkan berbagai perbuatan dosa berat yang dilakukan orang-orang yang mengaku dosa kepadanya. Ia merasakan betapa sakitnya luka-luka dan hinaan yang diterima Yesus dan betapa cinta-Nya ditolak melalui dosa-dosa yang diperbuat oleh umat-Nya. Jika ia tahu sebelumya bahwa sedemikian beratnya menjadi seorang imam yang harus mendengarkan pengakuan, lebih baik dulu ia pergi menjadi seorang trapis di biara daripada ke seminari.

Betapapun besar dan mengagumkan hasil pekerjaan pelayanannya, Pastor Jean selalu menganggap dirinya tidak mampu untuk menjalankan tugas-tugas imamatnya sebagaimana seharusnya. Tanpa rasa bangga ia menyebut dirinya “jiwa yang miskin”, dan tubuh fisiknya, “mayat yang miskin”, dan “kesengsaraan yang miskin”, sambil berdoa semoga Tuhan masih berkenan memakai segala kemiskinannya itu. Tak diragukan lagi, kerendahan hatinyalah yang membuat Pastor Jean Vianney menjadi seorang kudus. Itulah kunci kekudusannya, karena tanpa kerendahan hati itu, ia tak akan bertahan terhadap penyembahan dan kekaguman ribuan orang yang telah menyaksikan kekudusan hidupnya.

Wafat dan beatifikasi Sang Pastor Yang Terberkati

Di musim panas tahun 1859, sang pastor yang terberkati menampakkan tanda-tanda bahwa seluruh energinya sudah nyaris tidak bersisa lagi. Ia terdengar beberapa kali mengatakan, “Sayang sekali, para pendosa akan mengakhiri hidup pendosa”

Pada Jumat 29 Juli 1859, setelah menghabiskan enam belas hingga tujuh belas jam di ruang pengakuan seperti biasa, ia kembali ke pastoran dalam keadaan sangat lelah. Ia terduduk sambil berkata, “Aku tak dapat berbuat lebih jauh lagi”. Ia segera dibaringkan di tempat tidur. Keesokan paginya sakitnya menjadi begitu parah sehingga dikhawatirkan ia akan segera meninggal. Kesedihan yang mendalam terasa di seluruh pelosok Ars dan di hati seluruh pengunjung. Selama tiga hari, gereja penuh dengan umat, yang berdoa dengan sungguh memohon Tuhan untuk tidak mengambil imam kesayangan mereka. Pastor Jean tidak mengikuti doa bersama umatnya karena merasa bahwa ajalnya telah dekat. Jumat petang ia menerima Sakramen Perminyakan. Ia meneteskan airmata keharuan ketika Viaticum Kudus (Sakramen Ekaristi terakhir sebagai bekal perjalanan pulang ke rumah Bapa) dipersembahkan untuknya dan minyak suci diberikan kepadanya. Untuk terakhir kalinya ia memberkati semua yang hadir beserta seluruh umat parokinya. Hari Rabu pagi ia tersenyum mengenali Bapa Uskup yang hadir di sisi tempat tidurnya. Pada hari Kamis 4 Agustus 1859, pukul dua dini hari, saat rekan-rekannya dan wakilnya, Abbe Monnin, sedang mengucapkan doa bagi orang yang menghadapi ajal dan tengah berkata: “Kiranya para Malaikat kudus Allah datang menjumpainya dan memimpinnya ke dalam kota kudus Yerusalem Surgawi”, jiwa Pastor Jean meninggalkan tubuhnya, menghadap Sang Penciptanya, yang telah ia layani dengan begitu setia sepanjang hidupnya.

Jarang bahwa proses beatifikasi dimulai begitu cepat seperti yang terjadi pada Jean (Yohanes) Baptis Vianney. Tak sampai empat puluh lima tahun semenjak tubuhnya diistirahatkan di bawah altar paroki Ars, Tahta Suci memutuskan beatifikasinya.

Pada tanggal 3 Oktober 1874, Paus Pius IX, setelah meneliti berbagai tulisan dan dokumen biografi yang berhubungan dengan kehidupan Sang Pastor, memutuskan memberikan gelar “Pelayan Tuhan Yang Terberkati” kepada almarhum Pastor JeanVianney. Pada 21 Juni 1896, Paus Leo XIII, memimpin sesi terakhir dari rapat komisi penyelidikan kanonisasi, untuk mengumumkan kelayakan sang pastor yang terberkati itu menjadi seorang santo. Pernyataan final yang ditunggu-tunggu setiap orang diumumkan oleh Kardinal Parocchi. Tanggal 1 Agustus di tahun yang sama, Paus Leo XIII  mengeluarkan dekrit yang menyatakan penghormatan yang diberikan kepada pastor yang rendah hati dari Ars dan penghormatan pribadinya untuk nilai-nilai hidup kudus Sang Pastor.

Tujuh tahun kemudian, di tahun 1903, Paus yang sama memanggil komisi untuk mempertimbangkan berbagai kesaksian dan mukjizat yang terjadi di makam Sang Pastor. Namun rencana ini batal dilakukan karena Paus jatuh sakit dan segera sesudahnya, tanggal 20 Juli di tahun yang sama, Paus Leo XIII wafat dan umat Katolik sedunia kehilangan pemimpin spiritual tertingginya.

Kejadian menarik terjadi pada 4 Agustus 1903. Pada jam yang sama di mana Ars merayakan Misa Kudus peringatan  ke-44 wafatnya Yohanes Baptis Vianney, sebuah upacara besar lain terjadi di Roma. Ialah upacara pelantikan seorang pastor sederhana dari Salzano, (yang kemudian menjadi Kardinal Sarto, patriark dari Venesia), menjadi Paus yang baru, dengan gelar Pius X. Segera pada tanggal 26 Januari 1904, Paus yang baru dilantik ini memimpin sesi penyelidikan kanonisasi Pastor Jean yang pernah direncanakan pendahulunya, Paus Leo XIII, yang wafat sebelum penyelidikan itu dimulai.

Dua buah peristiwa dikemukakan. Yang pertama adalah kesembuhan tiba-tiba yang dialami Adelaide Joy, dan si kecil Leo Roussat. Pada kasus yang kedua, setelah serangan epilepsi yang kuat, di tahun 1862, ia harus digendong ke makam Pastor Jean. Salah satu lengannya tergantung lunglai di sisi tubuhnya, kemampuan bicaranya hilang, dan bernafasnya begitu sulit hingga ia tak mampu menahan cukup air liur dalam mulutnya. Setelah sejenak berdoa di makam sang pastor, ia dibawa pulang. Tangannya yang semula tak dapat bergerak kini bisa digunakan memberikan uang kepada orang miskin, anak itu dapat menggunakan anggota geraknya lagi dan bisa berjalan-jalan. Pada akhir novena, ia kembali bisa berbicara tanpa kesulitan lagi.

Pada Februari 1861, gadis Adelaide, yang mempunyai tumor ganas pada lengannya, telah dinyatakan tak ada harapan lagi oleh para dokter di rumah sakit Lyons. Lalu seorang kerabat yang memiliki secarik kain yang pernah dimiliki oleh Pastor Jean Vianney, meletakkannya di atas lengan yang sakit. Dalam doa, mereka lalu memohon perantaraan doa sang pelayan Tuhan yang terberkati Jean Vianney untuk mengangkat penderitaan gadis itu. Para dokter terheran-heran melihat tumor itu tiba-tiba mengecil dan dalam beberapa jam, dan lengan gadis itu pulih kembali seperti sediakala.

Setelah konsili para kardinal mengumumkan pengakuan Vatikan terhadap mukjizat-mukjizat kesembuhan itu, maka dekrit Paus, tertanggal 21 Februari 1904, menyatakan fakta-fakta tersebut mendukung beatifikasi dari Sang Pastor yang terberkati. Bapa Suci memberikan kesan sukacita pribadinya ketika akhirnya beliau berhasil menempatkan Pastor Jean dalam jajaran para kudus, yang menurutnya, memang telah menjadi teladan yang bersinar juga bagi dirinya sendiri.

DOA
(disadur dari “Doa dan Litani untuk menghormati Yohanes Maria Vianney Yang Terberkati, Pastor dari Ars”)

Mari kita berdoa:
Tuhan yang maha besar dan penuh belas kasih, yang telah membuat Yohanes Maria Yang Terberkati begitu mengagumkan dalam semangat karya pastoralnya dan dalam cintanya yang konstan kepada pertobatan, kami mohon kepadaMu, karuniakanlah rahmat-Mu kepada kami, untuk menang bagi Kristus, demi teladan hidup dan campur tangan-Nya, jiwa-jiwa saudara kami seiman, dan untuk meraih bersama mereka kemuliaan yang kekal. O Yohanes Maria Yang Terberkati, pekerja yang tak ada duanya di lahan yang dipercayakan kepadamu, perolehkanlah untuk Gereja perwujudan dari kerinduan Yesus. Tuaian berlimpah, tapi pekerja sedikit. Mohonkanlah kepada Sang Empunya Tuaian untuk mengirimkan pekerja-pekerja bagi kebun anggur-Nya. O Yohanes Maria Yang Terberkati ! Doakanlah para klerus. Semoga keteladanan dan doamu, melipatgandakan panggilan-panggilan sejati kepada hidup imamat. Semoga Roh Kudus mengaruniakan peniru-peniru teladanmu; kiranya Ia mengaruniai kami para santo ! Melalui Kristus, Tuhan kami. Amin.

Diterjemahkan secara bebas dari sumber:
http://www.storyofasoul.com/resources/vianney.html

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab