Home Blog Page 170

Mengapa Daud Berdosa karena Melakukan Sensus?

2

Perikop 2 Sam 24: 1-17 berhubungan dengan perikop paralel-nya yang mengisahkan hal yang sama, yaitu 1 Taw 21:1-17. Di kitab Samuel, dikatakan bahwa yang mendorong Daud melakukan sensus adalah Allah: “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” (2Sam 24:1). Namun demikian, di kitab Tawarikh dikatakan bahwa yang mendorong Daud adalah Iblis, “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” (1Taw 21:1). Dari kedua ayat ini dapat disimpulkan bahwa Iblis-lah yang membujuk Daud untuk melakukan sensus, namun Allah mengizinkan hal tersebut. Atau, Allah membuka pintu/ mengizinkan Iblis mencobai Daud, sebagaimana Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub.

Tindakan sensus sendiri mempunyai makna yang khusus. Kel 30:12 mengatakan, “Apabila engkau menghitung jumlah orang Israel pada waktu mereka didaftarkan, maka haruslah mereka masing-masing mempersembahkan kepada TUHAN uang pendamaian karena nyawanya, pada waktu orang mendaftarkan mereka, supaya jangan ada tulah di antara mereka pada waktu pendaftarannya itu.” Ayat ini menyatakan kepemilikan Allah akan umat-Nya, dan dengan prinsip ini, maka Raja Daud hanya dapat melakukan sensus jika ia mendapat perintah dari Allah, dan sensus ini harus diikuti persembahan uang pendamaian kepada Tuhan. Namun nampaknya bukan ini yang mendorong Raja Daud melakukan sensus. Sebab Daud menghendaki peningkatan bangsa tersebut, kemungkinan ingin mengukur kekuatan pasukannya untuk mengetahui apakah ia mempunyai cukup kekuatan untuk menaklukkan negara-negara tetangganya.

Panglima Raja yang bernama Yoab berkeberatan akan diadakannya sensus ini (lih. ay.3-4) -kemungkinan karena mengetahui bahwa sensus ini berkaitan dengan kesombongan Raja Daud-  namun akhirnya ia tunduk pada kemauan Raja Daud.

Di sini terlihat, bahwa di akhir kepemimpinannya sebagai raja, Daud jatuh dalam dosa kesombongan, yang mengklaim seolah kejayaannya diperoleh karena hasil karyanya sendiri. Ia melihat bagaimana bangsa Israel telah berjaya di bawah kepemimpinannya, yang memang sangat mengagumkan. Maka penghitungan itu adalah untuk memberi pujian bagi dirinya sendiri, padahal sesungguhnya Tuhanlah yang memberikan kemuliaan dan kejayaan kepada bangsa Israel. Dengan penghitungan itu, Raja Daud seolah lebih bergantung kepada angka-angka daripada menyerahkan masa depan bangsa itu ke dalam tangan Tuhan.

Demikianlah, sensus itu dilakukan (lih. ay. 5-9). Namun kemudian, Raja Daud mengetahui bahwa ia telah bersalah di hadapan Tuhan (lih. ay.10), sebab ia menyadari bahwa ia melakukan hal itu demi kebanggaannya sendiri dan kemuliaan diri yang sia-sia (pride and vainglory). Sebagai orang yang dekat dengan Tuhan, Daud mempunyai kepekaan akan dosa, dan ia mengetahui bahwa apa yang dilakukannya telah menyimpang dari kehendak Tuhan: “Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada TUHAN: “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, TUHAN, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.” (2 Sam 24:10)

Berikutnya, kita dapat membaca bagaimana Allah menghadapkan kepada Raja Daud pilihan akan akibat perbuatannya (lih. ay. 11-13). Pilihan pertama, tujuh tahun kelaparan: hal ini dapat mengakibatkan kematian di Israel, terutama bagi kaum miskin yang tak punya persediaan makanan, namun yang kaya mungkin selamat, dengan menggantungkan harapan kepada bangsa- bangsa lain di luar Israel untuk memberi makanan. Pilihan kedua, jatuh pengejaran bangsa musuh, di mana kemungkinan korban terbesar adalah para prajurit; dan bangsa Israel harus berada di dalam pertentangan dengan negara-negara tetangganya.  Pilihan ketiga, yang akhirnya dipilih oleh Raja Daud adalah wabah penyakit, karena dalam menghadapi konsekuensi ini ia menggantungkan harapannya pada kemurahan Tuhan, dan bukan kepada manusia; dan juga karena semua orang, secara sama rata, termasuk kaum keluarganya, memiliki kemungkinan yang sama untuk turut menanggung akibat ini. Di sini terlihat kesungguhan pertobatan Daud.

Ay.15-17 menunjukkan bahwa wabah itu akhirnya terjadi, dan banyak orang Israel yang wafat karenanya. Ini menunjukkan bahwa setiap perbuatan dosa selalu membawa akibat. Di perikop berikutnya (ay. 18-25), kita membaca bahwa Raja Daud sungguh menyatakan pertobatannya dengan membangun mezbah bagi Tuhan untuk menyembah Tuhan. Dan karena kesungguhan pertobatan hatinya ini, Tuhan berkenan menghentikan wabah tersebut dari antara orang Israel.

Dari kisah ini kita dapat mengetahui bahwa Raja Daud, seorang yang “berkenan di hati Allah” (‘a man after God’s own heart‘- 1 Sam 13:14, Kis 13:22), pun dapat jatuh ke dalam dosa; demikian juga kita. Namun demikian, jika bertobat, Tuhan akan menerima kita kembali.

Perayaan Ekaristi di Jemaat Perdana

1

Sesungguhnya yang pertama kali mengajarkan tata cara perayaan Ekaristi [yaitu adanya liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi] adalah Tuhan Kristus sendiri, yaitu  melalui penampakan-Nya kepada kedua orang murid di perjalanan ke Emaus (Lih. Luk 24:13-35); sedangkan tentang prinsip liturgi Ekaristinya sendiri mengacu kepada apa yang diajarkan Yesus dalam Perjamuan Terakhir dengan para Rasul-Nya (Mat 26:26-28; Mrk 14:27-31; Luk 22:24-38). Perayaan Ekaristi disebut dalam Kitab Suci sebagai perayaan pemecahan roti, sebab dengan cara demikianlah Tuhan Yesus mengajarkan para rasul-Nya. Penerimaan roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan itu menjadi persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus (lih. 1Kor 10:16); dan karena itu umat harus menerimanya dengan cara yang layak. Artinya, tidak dalam keadaan berdosa berat, dan harus percaya dan mengakui bahwa itu adalah tubuh Tuhan (lih. 1Kor 11:27-29).

Dalam Kisah Para Rasul (ditulis sekitar tahun 64), perayaan pemecahan roti (Ekaristi) ini disebutkan demikian, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” (Kis 2:42) Maka di sini dikatakan bahwa ibadah jemaat perdana mencakup empat hal yaitu pengajaran para Rasul (penjelasan tentang Sabda Tuhan), persekutuan, pemecahan roti (Ekaristi), dan doa. Keempat hal ini tetap dilakukan di dalam perayaan Ekaristi (Misa Kudus) dalam Gereja Katolik sampai sekarang. Dalam ayat Kis 2:42 jika dibaca dalam kaitannya dengan ayat berikutnya, yaitu: “Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.” (Kis 2:43) maka kita ketahui bahwa ibadah jemaat perdana (yang melakukan perayaan pemecahan roti/ Ekaristi) dipimpin oleh para rasul, jadi bukan hanya asal semua orang/ kepala keluarga dapat memimpin perayaan tersebut; dan pada saat diadakannya ibadah itu, para Rasul itu juga mengadakan mukjizat dan tanda.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (ditulis sekitar tahun 58)  juga secara implisit mengatakan demikian (lih. 1 Kor 11:23-33), saat ia mengatakan bahwa perjamuan Tuhan dilakukan saat mereka melakukan pertemuan jemaat (lih. 1Kor 11:18). Artinya perayaan Ekaristi tidak dilakukan di rumah- rumah pribadi oleh kepala keluarga masing- masing, tetapi dilakukan pada saat pertemuan Jemaat.

Ketika Gereja/ Jemaat sudah mulai berkembang, para Rasul memilih penatua- penatua Jemaat (presbiter/ imam), dan kita mengetahui bahwa ibadah Jemaat perdana tersebut dipimpin oleh para penatua Jemaat (imam) tersebut, atau oleh penilik Jemaat (Uskup). Hal ini kita ketahui, pertama- tama dari tulisan St. Ignatius Martir dari Antiokhia (wafat sekitar tahun 98-117), sebagai berikut:

“Maka, kamu harus bertindak sesuai dengan pikiran para uskup, seperti yang pasti kamu lakukan. Para imam… adalah terikat dengan erat dengan para uskup seperti senar pada sebuah harpa…. Jangan salah tentang hal ini. Jika barangsiapa tidak berada di dalam tempat kudus (gereja), ia kekurangan roti Tuhan. Dan jika doa satu atau dua orang sangat besar kuasanya, betapa lebih lagi doa uskup dan seluruh Gereja. Barang siapa yang gagal bergabung dalam penyembahanmu menunjukkan kesombongannya, dengan kenyataan bahwa ia menjadi seorang skismatik. Ada tertulis, “Tuhan menolak orang yang sombong”. Mari kita, dengan sungguh menghindari melawan uskup sehingga kita dapat tunduk kepada Tuhan.” (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Ephesians, n. 5)

“Jauhkan dirimu dari skisma sebagai sumber dari segala kesulitan/ kejahatan. Kamu semua harus tunduk pada uskup sama seperti Yesus Kristus kepada Allah Bapa. Tunduk juga kepada para imam seperti kamu kepada para rasul; dan hormatilah para diakon seperti kamu menghormati hukum Tuhan …. Kamu harus menganggap Ekaristi sebagai yang sah, jika dirayakan oleh uskup atau oleh seseorang yang diberinya kuasa. Di mana uskup berada, biarlah kongregasi umat berada, seperti di mana Yesus Kristus berada, di sanalah ada Gereja Katolik. Tanpa supervisi dari uskup, tidak ada baptisan ataupun perayaan Ekaristi diperbolehkan….” (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, n. 8)

“Berhati-hatilah, untuk melaksanakan satu perayaan Ekaristi. Sebab terdapat satu Tubuh Tuhan kita, Yesus Kristus, dan satu piala Darah-Nya yang membuat kita satu, dan satu altar, sama seperti terdapat satu Uskup bersama dengan para imam dan diakon, sesama pelayan seperti saya.” (Letter to the Philadelphians, n. 4)

“…saya berbicara dengan suara yang keras, suara dari Tuhan: “Perhatikanlah uskup dan imam dan para diakon“. Sebagian orang mengira bahwa saya mengatakan hal ini karena saya tahu adanya perpecahan di antara beberapa orang; namun Dia, yang menjadi alasan mengapa saya dirantai, menjadi saksi bahwa saya tidak mengetahuinya dari manusia; melainkan dari Roh yang membuatku mengatakan hal ini, “Jangan melakukan sesuatu tanpa uskup, jagalah badanmu sebagai bait Allah, cintailah persatuan, jauhkanlah perpecahan, turutilah Kristus, seperti Dia telah menuruti Allah Bapa.” (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Philadelphians, n. 7)

Maka jika dikatakan dalam Kis 13:1-2 ada beberapa nabi dan pengajar, kita tidak dapat menginterpretasikannya bahwa mereka melakukan ibadah terpisah dari kesatuan dengan para Rasul. Barnabas sendiri telah bergabung dengan para Rasul sejak zaman Jemaat awal (lih. Kis 4:36). Yang mengutus Barnabas ke Antiokhia adalah Jemaat di Yerusalem (lih. Kis 11:22), yang dipimpin oleh Rasul Petrus (lih. Kis 11:2).

Dengan demikian, dari Kitab Suci dan Tradisi Suci (terutama tulisan St. Ignatius dari Antiokhia) kita ketahui pada awalnya ibadah perayaan Ekaristi dipimpin oleh para Rasul, namun kemudian setelah Jemaat berkembang di banyak tempat, maka para Rasul atas tuntunan Roh Kudus memilih para Uskup (penilik Jemaat) untuk melaksanakan kepemimpinan mereka, yang kemudian dibantu oleh para imam dan diakon. Para Uskup ini melaksanakan tugas kepemimpinan tersebut dalam kesatuan dengan para Rasul, dan karena itu perayaan Ekaristi yang mereka rayakan adalah Ekaristi yang sah, karena dilaksanakan sesuai dengan maksudnya, yaitu antara lain sebagai pemersatu Jemaat, dan tanda kesatuan Jemaat. Tanda ini absen pada ibadah para skismatik terlepas dari kesatuan dengan para rasul, dan kepada mereka ini St. Ignatius dari Antiokhia mengatakan, bahwa mereka, “kekurangan roti Tuhan”.

Mari kita mengucap syukur atas karya Roh Kudus yang tetap menjaga kesatuan Gereja Katolik, sejak zaman para Rasul sampai sekarang, yang terus mempertahankan pengajaran Kristus dan para Rasul, terutama tentang hal perayaan Ekaristi yang merupakan sumber dan puncak kehidupan Gereja.

Mengapa Kidung Zakaria Diucapkan dalam Ibadat Pagi?

6

Kidung Zakaria (Luk 1:68-79) merupakan kidung ucapan syukur yang diucapkan oleh Zakaria oleh karena kelahiran puteranya Yohanes Pembaptis.

Kidung Zakaria dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pertama, ucapan syukur atas penggenapan janji Mesianis kepada bangsa Israel yang menantikan Sang Penyelamat; dan kedua, ucapan Zakaria yang ditujukan kepada anaknya yang mengambil bagian di dalam karya penyelamatan Allah itu, sebagai seseorang yang menyiapkan jalan-Nya (Luk 1:76, lih. Yes 40:3)

St. Benediktus dari Nursia (480-547) dipercaya sebagai yang pertama-tama memasukkan Kidung Zakaria ini dalam Ibadat Pagi Gereja, kemungkinan karena kidung ini merupakan nyanyian ucapan syukur akan kedatangan Kristus Penyelamat. Penyelamatan Allah di dalam Kristus memang selayaknya direnungkan dan diwartakan setiap hari sampai akhir zaman sebab hal itu merupakan puncak dari kasih Allah kepada umat manusia. Sabda Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita mengucap syukur senantiasa (lih. 1 Tes 4:16-18), tentu terutama pada saat pagi hari, sebelum kita memulai segala aktivitas kita. Ucapan syukur ini dapat berupa ucapan syukur atas hari yang baru, untuk rahmat penyertaan sepanjang malam, rahmat kesehatan dan seterusnya, namun yang terutama, kita mensyukuri akan rahmat kasih Allah yang terbesar, yaitu Penebusan yang kita terima di dalam Kristus Tuhan kita.

Selain itu, doa Kidung Zakaria dimasukkan dalam doa Ibadat Pagi, menurut Durandus (seorang penulis liturgis di abad ke 13), berhubungan dengan perumpamaan Kristus yang datang sebagai Fajar yang menyingsing. Sebab Sabda Tuhan mengatakan, bahwa Kristus adalah Terang dunia (lih. Yoh 8:12, 3:19). Kedatangan Kristus sebagai Fajar menyingsing ini digunakan pula dalam doa- doa liturgis lainnya, misalnya pada saat penguburan, ketika didoakan ucapan syukur atas Penebusan Kristus sebagai pernyataan pengharapan umat Kristiani.

 

Kesedihan cinta yang memberi hidup

1

“Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabat-Nya” (Yoh 15:13).

Di dunia ini pasti tidak ada orang yang tidak pernah bersedih. Bermacam-macam penyebabnya. Kadang kesedihan begitu mencengkeram jiwa sehingga manusia tidak lagi mempunyai harapan dan bahkan ingin hidup ini berakhir saja. Dari sekian banyak kesedihan, kesedihan karena cinta mungkin merupakan jenis kesedihan yang paling banyak dan paling dalam yang dialami oleh manusia, karena manusia senantiasa ingin dicintai dan ingin mencurahkan cinta. Cinta adalah denyut nadi kehidupan. Cinta adalah hakekat kehidupan, asal mula kehidupan yang ditiupkan Allah di bumi ini. Manusia ada karena cinta Allah yang menciptakannya. Dan manusia dapat kembali kepada Penciptanya juga karena cinta-Nya. Kesedihan karena cinta yang dialami manusia bukan hanya terjadi karena penolakan atau karena kurangnya cinta, tetapi juga karena merasa mengalami cinta yang begitu besar sehingga kerinduan dan perasaan dicintai itu membuat air mata keharuan mengalir deras, menyentuh jiwa yang terdalam, bahkan tidak jarang melahirkan transformasi dalam hidup manusia sehingga lahir karya-karya besar yang merupakan buah-buah mencintai dan dicintai.

Tujuh sabda Kristus yang terakhir di kayu salib menggambarkan betapa hati-Nya yang terluka dalam kesakitan badan dan jiwa yang tak terperi itu hanya dipenuhi oleh cinta dan cinta semata, baik kepada Bapa maupun kepada manusia. Dalam kesendirian yang begitu mencekam dan kehinaan yang paling dalam yang mungkin terjadi pada seorang manusia, hati Yesus begitu penuh dengan pengampunan dan kerinduan akan keselamatan jiwa-jiwa manusia yang dikasihiNya tanpa batas. Saat-saat merenungkan ketujuh sabda kudus itu, kemudian saat-saat pembacaan Passio (kisah sengsara Tuhan), dan saat-saat Konsekrasi di mana roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah-Nya yang nyata supaya bisa selalu bersama kita, adalah saat-saat yang sering menyentuh kerinduan cinta yang terdalam di hati saya. Betapa dalam Tuhan mencintai saya dan Anda. Pada saat-saat itu, seringkali air mata mengalir tanpa dapat dibendung. Kalau ada pepatah bahwa cinta itu buta, demikianlah saya merasakan bahwa Cinta Kristus kepada manusia itu ‘buta’. Karena Ia adalah sumber cinta dan Sang Cinta itu sendiri, maka cinta Yesus adalah cinta tulus yang selalu penuh pengertian, tidak menghakimi, penuh kesabaran, selalu mengampuni, selalu mengerti, selalu membebaskan, selalu menerima apa adanya. Maka betapapun kelamnya dosa dan kesalahan yang sudah dibuat manusia, betapapun gagalnya seorang manusia itu dianggap oleh dunia, betapapun rusaknya citra diri manusia itu di mata lingkungannya bahkan di mata diri manusia itu sendiri akibat dosa, Yesus hanya melihat tidak lain dari kebaikan, kemungkinan akan perubahan, dan harapan yang indah.

Karena cinta-Nya yang selalu mampu melihat kebaikan dan harapan itu, maka sekalipun di dalam diri seorang pendosa yang menurut kacamata manusia sudah tidak ada harapan lagi, termasuk diri saya sendiri, termasuk Zakeus (Luk 19 :1-10), termasuk Lewi si pemungut cukai (Luk 5 : 27-32), Yesus selalu hanya menawarkan pengampunan dan cinta, tak ada yang lain. Maka Maria Magdalena menangis dengan sedih di depan kubur Yesus yang kosong. Tak ada cinta yang begitu besar yang pernah diterimanya dari manusia di dalam hidupnya, seperti cinta Yesus kepadanya. Sebagai seorang pelacur yang harga dirinya sudah tidak ada, dianggap sampah masyarakat, dan nyaris dilempari batu saat kedapatan berzinah, ia mengalami bahwa Yesus yang kepadaNya ia dibawa, hanya mengatakan, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang“ (Yoh 8: 11b). Ia kembali mengalami cinta Yesus yang menyembuhkan, saat dilepaskan dari tujuh kekuatan jahat yang membelenggunya (Luk 8 : 2). Begitulah kekuatan dosa mengancurkan manusia. Ketika orang lain sudah menganggap seseorang tidak ada harganya lagi, sebegitu rupa bahkan sampai diri sendiri pun sudah tidak bisa lagi menghargai diri, Tuhan masih selalu bisa melihat secercah harapan dan kebaikan, kemungkinan kehidupan dan perubahan. Harga diri yang sudah hancur dipulihkan oleh cinta kasih pengampunan Kristus sehingga Maria Magdalena dan kita semua, menjadi manusia baru yang penuh semangat cinta, pertobatan, dan buah-buah kehidupan yang baru. Saya membayangkan betapa dalam kesedihan cinta seorang Maria Magdalena mendapati kubur Orang yang telah memberinya arti hidup yang baru itu kosong. Tetapi kesedihannya tidak lama, karena Yesus segera mendapatkannya lagi dengan suatu pesan yang dahsyat, bahwa kekuatan cinta tidak untuk dihalangi dengan apapun juga, termasuk maut.

Kesedihan cinta juga dialami oleh Petrus ketika ayam berkokok sesaat setelah penyangkalannya yang ketiga bahwa ia mengenal Yesus. Saya membayangkan bahwa sebelum Petrus berlalu dengan perasaan galau, tak berharga, sedih dan malu, mata hatinya bersitatap dengan pandangan mata Yesus, dan di sana, Petrus tidak menemukan sedikitpun pandangan mata menuduh, pun sedikitpun tiada pesan semacam, “Nah, kan… apa kubilang…”. Tidak sama sekali. Pandangan Tuhan kepada Petrus hanya pandangan cinta dengan satu pesan,”Aku tetap, dan akan selalu, mengasihimu”. Lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (Luk 22 : 62). Hancurnya hati Petrus mungkin juga sering kita rasakan manakala kita membiarkan kekuatan ego dan dosa membuat kita seolah-olah menjadi orang yang tidak mengenal Allah karena perbuatan tanpa kasih yang kita lakukan.

Demikianlah pandangan cinta itu terus menerus Tuhan Yesus nyatakan kepada Petrus setelah Ia bangkit dan kemudian mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, sang batu karang. Di dalam cinta-Nya selalu ada kemungkinan baru, harapan baru, buah-buah yang baru.

Kekuatan cinta membuat kemungkinan dan harapan tidak akan pernah mati. Maka Kristus tidak dapat dibendung oleh kematian. KebangkitanNya dari alam maut menunjukkan kepada manusia bahwa segala yang baik tidak dapat mati, dan tidak akan pernah mati. Cinta sejati dari Sang Penebus kepada manusia terlalu kuat untuk dihalangi oleh kematian.

Kalau Tuhan saja demikian, apalagi kita manusia berdosa. Semoga demikian juga cinta kita kepada sesama dan kepada Tuhan, tidak boleh ada apapun juga yang boleh menghalanginya, termasuk ego dan kesombongan kita, penghakiman-penghakiman kita, kedegilan hati kita, kekerasan hati kita, untuk tetap melihat kebaikan dan harapan pada diri sendiri, pada diri sesama, pada dunia. Yesus Kristus Tuhan kita sudah membuktikan bahwa kematian sekalipun tak akan pernah memadamkan cinta dan kebaikan. Tak ada apapun yang dapat menahan kekuatan cinta Tuhan. Cinta itu pulalah yang menghancurkan dominasi dosa dan maut yang mencengkeram manusia di atas bumi ini.

Jika saya berada di masa dan tempat di mana Yesus diadili dan disalibkan pada waktu itu, apa yang akan saya rasakan? Apa yang akan saya perbuat? Jika saya hanya menangis dengan pedih seperti wanita-wanita Yerusalem yang menangisi Yesus di jalan sengsara-Nya menuju Kalvari dan hanya berhenti sampai di situ saja, maka kesedihan cinta saya tidak akan membuahkan sesuatu yang besar. Namun bila kesedihan cinta itu disertai dengan sikap membuka diri terhadap karya Allah untuk mengubah saya, mempercayai Dia sepenuhnya, dan bertobat dengan sungguh-sungguh mengakui dengan rendah hati dosa-dosa saya, maka saya siap dibentuk dan dijadikan baru. Cinta yang berbalas memunculkan hidup yang baru dan membuka banyak kemungkinan. Cinta Tuhan kepada manusia yang dibalas dan ditanggapi dengan cinta pengorbanan tulus manusia bagi Tuhan dan sesama, membuat cinta itu berbuah dan memberi hidup. Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan, “Jika engkau mencintai begitu rupa sampai engkau terluka, maka tak akan ada lagi luka, melainkan hanya ada lebih banyak lagi cinta”. Semoga kebangkitan Kristus karena cinta menghasilkan buah-buah kasih yang nyata yang mengubah hidup saya dan sesama, sekalipun harganya adalah pengorbanan dan penyangkalan diri. Harga yang indah yang telah dibayar lunas oleh darah Kristus yang mahal di atas kayu salib. (Triastuti)

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm 8: 38-39).

Penjelasan tentang 6 Hari Penciptaan

5

Pertama- tama, sesuai dengan prinsip ajaran St. Thomas Aquinas (Sent II d. 12 q. Ia.2), perlu diketahui bahwa kebenaran- kebenaran yang ditulis dalam Kitab Suci ditujukan untuk memberikan ajaran- ajaran religius dan moral, maka inspirasi Roh Kudus yang diberikan hanya berkaitan dengan kebenaran- kebenaran religius dan moral. Kitab Suci bukan merupakan buku ilmu pengetahuan/ science, sehingga tidak dapat dijadikan patokan untuk akurasi ilmu pengetahuan. Dengan demikian, maka Gereja tidak memberikan keputusan yang positif berkenaan dengan pertanyaan ilmiah, tetapi membatasi dirinya kepada menolak ajaran- ajaran yang sesat yang dapat membahayakan iman. Namun demikian perlu juga diketahui, karena penemuan ilmu pengetahuan dan pengetahuan tentang Iman supernatural (adikodrati) bersumber pada sumber yang sama, yaitu Tuhan, maka tidak mungkin ada kontradiksi antara penemuan- penemuan ilmu pengetahuan sekular dengan Sabda Tuhan yang dipahami dengan benar.

Keputusan Komisi Biblis (Biblical Commission, 30 Juni 1909) berkaitan dengan kisah Penciptaan, adalah sebagai berikut (sebagaimana dikutip dari Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 92-93):

a. Ketiga bab Kitab Kejadian mengandung kejadian- kejadian nyata, bukan mitos, bukan hanya alegoris atau simbol dari kebenaran- kebenaran religius, bukan legenda (D 2122).

b. Berkaitan dengan kebenaran-kebenaran itu, yang menyentuh dasar- dasar agama Kristiani, arti literal historis harus dipegang. Kebenaran faktanya adalah, penciptaan segala sesuatu oleh Tuhan pada awal mula waktu (in the beginning of time), dan penciptaan manusia secara istimewa (D 2123)

c. Tidaklah penting untuk memahami semua kata per kata dan kalimat dalam arti literal [tentang Penciptaan ini]. Perikop-perikop yang diinterpretasikan secara bervariasi oleh para Bapa Gereja dan para teolog, dapat diinterpretasikan sesuai dengan penilaian individu dengan catatan, bagaimanapun juga, bahwa ia menyerahkan penilaiannya kepada keputusan Gereja, dan kepada ketentuan-ketentuan Iman. (D 2124)

d. Karena Penulis suci tidak mempunyai maksud untuk menampilkan akurasi ilmiah tentang penentuan segala sesuatunya secara mendasar, dan urutan-urutan karya- karya penciptaan tetapi tentang penyampaian ilmu pengetahuan dengan cara umum yang sesuai dengan idiom dan dengan perkembangan pra-sains (pra-ilmu pengetahuan) di zamannya, maka tulisannya tidak untuk dijadikan atau diukur seolah hal itu dirancang di dalam bahasa yang secara ketat bersifat ilmiah. (D 2127)

e. Kata “hari” tidak untuk diartikan di dalam arti literal sebagai hari yang umum 24 jam, tetapi dapat juga diartikan dengan arti jangka waktu yang lebuh lama. (D 2128, lih. surat dari Sekretaris Komisi Biblis kepada Kardinal Suhard, 16 Jan 1948)

Melihat bahwa memang bagi Tuhan sehari sama seperti seribu tahun (lih. 2 Pet 3:8), maka tidaklah menjadi hal yang bertentangan antara penemuan ilmu pengetahuan tentang fosil-fosil yang ditemukan beribu tahun umurnya dengan kisah penciptaan yang disampaikan dalam Kitab Suci terjadi dalam 6 hari. Sebab kebenaran- kebenaran yang ingin disampaikan oleh Kitab Suci bukan terletak pada akurasi data ilmiah, tetapi kepada makna bahwa Allah menciptakan segala sesuatunya secara bertahap, dari ketiadaan menjadi ada, dan karya penciptaan-Nya mengarah kepada penciptaan manusia yang diciptakan secara istimewa, sesuai dengan gambaran-Nya.

 

 

 

 

Tentang bangsa Israel

20

Mengapa bangsa Israel mengklaim bahwa bangsanya adalah bangsa pilihan dan senantiasa disertai oleh Allah? Jika kita membaca Kitab Suci, kita akan mengetahui bahwa dalam melaksanakan rencana keselamatan manusia, memang Allah melakukannya secara bertahap. Mulai dari Adam dan Hawa, lalu dengan keturunan mereka, Nabi Nuh, dan sampai kepada Bapa Abraham yang kepadanya Allah Bapa berjanji akan menjadikan keturunannya berjumlah sebanyak bintang di langit (lih. Kej 15:5) dan oleh keturunannya maka segala bangsa akan diberkati (lih. Kej 22:18). Janji ini ditepati Allah, dan Allah memberikati keturunan Bapa Abraham dari Ishak, Yakub yang disebut Israel dengan keturunannya yang membentuk kedua belas suku Israel.

Dan ini berlanjut sampai ke jaman nabi Musa, dan selanjutnya sampai masa Perjanjian Baru. Allah memang menyertai bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah; kita mengetahui bagaimana Allah memimpin bangsa Israel keluar dari penjajahan Mesir, memimpin mereka dari kejaran tentara Pharaoh melintasi Laut Merah yang terbelah, memberi makan mereka selama 40 tahun di padang gurun dengan manna; dan menghantar mereka memasuki Tanah Perjanjian yaitu tanah Kanaan. Penyertaan Allah inipun terus menyertai bangsa Israel, meskipun berkali- kali bangsa Israel tidak setia kepada-Nya. Jika ada saatnya Allah mengijinkan bangsa Israel mengalami kejatuhan di bawah bangsa- bangsa lain, adalah untuk memberikan pelajaran kepada bangsa Israel; agar mereka kembali kepada Tuhan. Keadaan jatuh bangun-nya bangsa Israel ini mengisi hampir secara keseluruhan kitab Perjanjian Lama, sejak jaman nabi Musa, hakim- hakim dan jaman kerajaan di Israel (Saul, Daud, Salomo, dst), perpecahan antara kerajaan Yehuda dan Israel, pembuangan ke Babilon, kembalinya ke Yerusalem, sisa Israel pada jaman Yudas Makabe, sampai akhirnya sampai ke jaman Perjanjian Baru.

Maka memang benar jika dikatakan bahwa Allah menyertai bangsa Israel dengan cara yang istimewa (lih. Ul 4:7; 2 Sam7:23). Jika kita melihat realita ini, ada beberapa point penting yang kita ketahui:

1. Rencana keselamatan Allah bagi umat manusia dilakukan secara bertahap dalam sejarah. Dalam hal ini kita melihat perlunya persiapan umat manusia (dalam PL) untuk menerima Kristus (dalam PB).

2. Rencana ini dilakukan menurut prinsip pengantaraan/ mediasi. Untuk menyelamatkan umat manusia, ia melakukannya dengan memilih terlebih dahulu suatu bangsa (yaitu Israel), agar melalui bangsa ini, seluruh bangsa diberkati. Dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesuspun lahir sebagai seorang berkebangsaan Israel.

Maka, sudah menjadi rencana Allah untuk menentukan bangsa Israel menjadi pengantara agar seluruh dunia mengenal Kristus. Maka Israel sebagai bangsa pilihan (pada PL) ini merupakan pre-figurasi dari Gereja/ bangsa pilihan Allah yang baru (pada PB). Demikian pula sekarang, dunia mengenal Kristus melalui Gereja yang didirikan-Nya. Silakan membaca lebih lanjut tentang prinsip Gereja ini, di tanya jawab ini, silakan klik.

3. Bahwa karena kesetiaan Allah, maka Ia tidak akan meninggalkan bangsa pilihan-Nya, baik bangsa Israel maupun Gereja-Nya. Allah sendiri mengatakan dalam Rom 11:2, “Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya”. Maka dengan cara-Nya sendiri Allah akan berkarya untuk menyelamatkan bangsa Israel dengan membukakan mata hati mereka bahwa Ia sungguh telah mengutus Kristus Putera-Nya sebagai Sang Penyelamat. Walaupun sebagian dari bangsa Israel telah menolak Kristus, tidak berarti bahwa Allah mencoret mereka semua di dalam rencana keselamatan Allah. Allah tetap memberikan kesempatan yang sama kepada mereka untuk bertobat. “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya” (Rom 11:29).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab