Home Blog Page 156

Lumen Gentium Bab 5

0

Berikut ini adalah terjemahan teks dari dokumen Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium bab 5 (paragraf no. 39-42), yaitu tentang Panggilan Umum untuk Kekudusan dalam Gereja. Pesan ini sangat penting diketahui oleh semua umat Katolik, termasuk kaum awam, sebab panggilan kekudusan ini juga ditujukan kepada kita, bukan hanya kepada kaum religius. Kita yang menikah maupun yang lajang, yang mempunyai beragam latar belakang dan peran dalam keluarga dan masyarakat, semua dipanggil untuk hidup kudus. Melalui pekerjaan dan hidup kita sehari-hari, kita dipanggil untuk melaksanakan ajaran iman kita, yaitu cinta kasih, agar dengan demikian dunia sekitar kita dapat mengalami kasih Allah; dan kita sendiri diarahkan untuk hidup lebih serupa dengan teladan Kristus.

BAB LIMA –

PANGGILAN UMUM UNTUK KEKUDUSAN DALAM GEREJA
39. (Prakata)

Kita mengimani Gereja, yang misterinya diuraikan oleh Konsili suci ini, bahwa kekudusannya tidak akan hilang. Sebab Kristus, Putera Allah, yang bersama Bapa dan Roh Kudus dipuji bahwa “hanya Dialah Kudus”[122], mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya, dengan menyerahkan diri baginya untuk menguduskannya (lih. Ef 5:25-26). Ia menyatukannya dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya sendiri dan menyempurnakannya dengan kurnia Roh Kudus, demi kemuliaan Allah. Maka dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hirarki entah digembalakan olehnya, dipanggil untuk kekudusan, yang menurut amanat Rasul: “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu” (1Tes 4:3; lih. Ef 1:4). Adapun kekudusan Gereja itu tiada hentinya dinyatakan dan harus dinyatakan di dalam buah-buah rahmat, yang dihasilkan oleh Roh Kudus dalam kaum beriman. Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada masing-masing orang, yang dalam jalan hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih, sehingga memberi teladan baik kepada sesama. Secara khas pula kekudusan ini nampak dalam pelaksanaan nasehat-nasehat, yang lazim disebut “nasehat Injil”. Pelaksanaan nasehat-nasehat itu di bawah dorongan Roh Kudus yang ditempuh oleh banyak orang Kristiani, entah secara perorangan, entah dalam kondisi atau status hidup yang disahkan oleh Gereja,  memberikan dan harus memberikan di dunia ini kesaksian dan teladan yang ulung tentang kekudusan itu.

40.(Panggilan umum kepada kekudusan)

Tuhan Yesus,  Guru dan Teladan ilahi segala kesempurnaan, mengajarkan kekudusan hidup kepada setiap murid-Nya di dalam setiap keadaan. Ia sendiri adalah pencipta dan pelaksana kekudusan ini dalam hidup: “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48)[123]. Memang, kepada semua orang  diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan mereka (lih. Mrk 12:30), dan agar mereka saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam Tuhan Yesus, dan dalam Pembaptisan iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi. Dengan cara ini, mereka sungguh dijadikan kudus. Maka juga dengan karunia Allah, mereka wajib mempertahankan dan melengkapi dalam hidup mereka, kekudusan yang telah mereka terima. Oleh rasul [Rasul Paulus] mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh dalam kekudusan (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belas kasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12)[124].

Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau jenjang hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih[125]; dengan kekudusan sedemikian, cara hidup yang lebih manusiawi dapat dikembangkan di dalam masyarakat di dunia ini. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus. Mereka harus mengikuti jejak-Nya dan menyesuaikan diri mereka dengan citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segala sesuatu. Mereka harus dengan segenap jiwa membaktikan diri bagi kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Dengan demikian, kekudusan Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah diperlihatkan secara mengagumkan oleh kehidupan sekian banyak orang kudus.

41. (Bentuk pelaksanaan kekudusan)

Ada banyak jenjang dan tugas-tugas kehidupan namun kekudusan adalah satu dan sama, yaitu kekudusan yang ditumbuhkan oleh semua orang, yang digerakkan oleh Roh Allah, dan yang  mematuhi suara Bapa serta menyembah Allah Bapa dalam roh dan kebenaran. Mereka mengikuti Kristus yang miskin, rendah hati dan memanggul salib-Nya, agar mereka pantas ikut menikmati kemuliaan-Nya. Adapun setiap orang, menurut kurnia dan tugasnya sendiri, wajib melangkah tanpa ragu-ragu menempuh jalan iman yang hidup, yang membangkitkan harapan dan perbuatan-perbuatan  melalui cinta kasih.

Terutama, para Gembala kawanan Kristuslah yang wajib menjalankan pelayanan mereka dengan kudus dan gembira, dengan rendah hati dan berani, menurut citra Imam Agung dan Abadi, Gembala dan Pengawas jiwa kita. Dengan demikian pelayanan yang mereka lakukan juga bagi mereka sendiri akan menjadi upaya pengudusan yang ulung. Mereka yang dipilih untuk mengemban kepenuhan imamat dikurniai kemampuan untuk melaksanakan tugas yang sempurna tentang kasih penggembalaan melalui rahmat sakramen Tahbisan Suci. Tugas sempurna kasih penggembalaan ini dilakukan di dalam setiap bentuk perhatian/pengabdian Uskup dan pelayanan, doa, pengorbanan, dan khotbah [126]. Oleh rahmat sakramental yang sama, mereka dikaruniai keberanian supaya jangan takut menyerahkan jiwa demi domba-domba, dan kemampuan untuk memajukan kekudusan yang lebih tinggi di dalam Gereja dengan contoh hidup mereka sehari-hari, dengan menjadi teladan bagi kawanan mereka (lih. 1Ptr 5:3).

Para imam, yang serupa dengan para Uskup dalam derajat tertentu di dalam partisipasi mereka dalam sakramen Tahbisan Suci, menjadi mahkota rohani bagi para Uskup [127]. Mereka ikut-serta mengemban rahmat tugas para Uskup, dan mereka hendaknya bertumbuh dari hari ke hari dalam kasih mereka kepada Allah dan sesama mereka dengan melaksanakan tugas mereka melalui Kristus, satu-satunya Pengantara yang kekal. Hendaklah mereka memelihara ikatan persekutuan para imam, melimpah dalam segala kebaikan rohani, dan dengan demikian memberi kesaksian hidup tentang Allah kepada semua orang[128]. Semua ini harus mereka lakukan untuk memajukan para imam itu, yang dalam perjalanan waktu meninggalkan contoh kekudusan yang gemilang, dengan pengabdian mereka yang sering amat sederhana dan tersembunyi. Pujian terhadap mereka menggema dalam Gereja Allah. Melalui tugas jabatan mereka untuk berdoa dan mempersembahkan korban bagi jemaat mereka dan segenap Umat Allah, mereka harus meningkat kepada taraf kekudusan yang lebih tinggi. Dengan menyadari apa yang mereka lakukan dan berusaha menghayati apa yang mereka lakukan [129] para imam ini, dalam karya-karya apostolik hendaknya tidak terperangkap oleh bahaya-bahaya dan kesukaran-kesukaran, melainkan hendaklah justru karena itu mereka mencapai taraf kekudusan yang lebih tinggi. Mereka harus memupuk dan menguatkan kegiatan- kegiatan mereka dengan kelimpahan hasil kontemplasi, dan melakukan semua ini demi kebaikan seluruh Gereja Allah. Hendaklah semua imam, dan terutama mereka yang karena alasan khas tahbisan mereka disebut imam diosesan (projo), mengingat betapa besar nilainya bagi pertumbuhan kekudusan mereka, kesetiaan dan kerjasama yang ikhlas dan murah hati dengan Uskup mereka.

Ikut serta pula dalam perutusan dan rahmat imam tertinggi adalah para pelayan di tingkat yang lebih rendah, terutama para Diakon, yang seperti para pelayan itu, yang adalah pelayan misteri-misteri Kristus dan Gereja[130], wajib mempertahankan kemurniannya dari segala perilaku buruk dan berdiri di hadapan orang banyak sebagai personifikasi kebaikan dan sahabat Allah (lih. 1Tim 3:8-10 dan 12-13). Para rohaniwan, yang dipanggil oleh Tuhan dan dikhususkan bagi-Nya, agar menyiapkan diri untuk tugas-tugas pelayanan di bawah pengawasan para gembala rohani, wajib menyesuaikan budi dan hati mereka dengan pilihan yang istimewa ini. Mereka akan mencapai ini dengan bertekun dalam doa, dengan cinta kasih yang berkobar, dengan mencita-citakan apa saja yang benar, adil dan pantas dipuji. Mereka akan mencapai semua ini demi kemuliaan dan keluhuran Allah. Menyusul mereka, terdapat pula para awam yang terpilih oleh Allah, dan dipilih oleh Uskup. Para awam ini membaktikan diri sepenuhnya kepada karya kerasulan – untuk bekerja di ladang Tuhan dengan menghasilkan banyak buah.[131]

Selanjutnya, para suami-isteri dan orang tua kristiani wajib mengikuti jalan hidup mereka dengan cinta kasih yang setia. Mereka harus saling mendukung dalam rahmat, sepanjang hidup mereka. Mereka harus meresapkan ajaran kristiani maupun keutamaan-keutamaan Injil di dalam hati keturunan (anak-anak) mereka, yang mereka sambut dengan kasih sebagai karunia Tuhan. Sebab dengan cara ini mereka memberi teladan cinta kasih yang tak kenal lelah dan penuh kerelaan kepada semua orang, dan dengan demikian mereka membangun persaudaraan kasih, dan dengan melakukannya, mereka menjadi saksi serta pendukung kesuburan Bunda Gereja yang kudus; dengan kehidupan yang sedemikian, mereka adalah tanda dan sekaligus pengambil bagian di dalam cinta kasih yang sama, yang dengannya Kristus mengasihi mempelai-Nya, yang kepadanya Ia [Kristus] menyerahkan diri-Nya [132]. Teladan serupa disajikan dengan cara lain oleh para janda dan mereka yang tidak menikah, yang juga dapat menyumbang banyak sekali bagi kesucian dan karya apostolik dalam Gereja. Akhirnya, mereka yang bekerja – dan tak jarang menanggung beban kerja yang berat- hendaknya menjadikan diri mereka sendiri lebih baik melalui pekerjaan mereka. Mereka harus membantu sesama warga, mengangkat segenap masyarakat dan bahkan alam ciptaan kepada keadaan yang lebih baik. Sungguh, hendaklah mereka dengan cinta kasih yang aktif, dalam pengharapan yang penuh suka cita dan dengan saling menanggung beban dengan sukarela, meneladan Kristus, yang dahulu bekerja dengan tangan-Nya dengan alat tukang kayu, dan yang dalam kesatuan dengan Bapa-Nya, terus bekerja demi keselamatan semua orang. Maka, di dalam pekerjaan mereka sehari-hari ini, hendaknya mereka [para pekerja] mendaki untuk mencapai tingkat kekudusan dan kegiatan apostolik yang lebih tinggi.

Semoga mereka semua yang ditimpa oleh kemiskinan, kelemahan, penyakit dan pelbagai kesukaran, atau yang menanggung penganiayaan demi kebenaran – semoga mereka semua mengetahui bahwa mereka dipersatukan dengan Kristus yang menderita dalam cara yang istimewa demi keselamatan dunia. Tuhan menyebut mereka berbahagia di dalam Injil-Nya, dan mereka adalah orang-orang yang kepadanya “Allah, sumber segala rahmat, yang dalam Kristus Yesus telah memanggil kita ke dalam kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan dan mengokohkan, sesudah mereka menderita seketika lamanya” (1Ptr 5:10).

Jadi semua orang beriman kristiani dalam kondisi apapun hidup mereka, dalam tugas-tugas serta keadaan mereka – dan memang melalui itu semua- dari hari ke hari akan makin dikuduskan, bila mereka dalam iman menerima segala-sesuatu dari tangan Bapa di sorga, dan jika mereka bekerja sama dengan kehendak ilahi. Di dalam tugas sehari-hari ini, mereka akan menyatakan kepada semua orang, cinta kasih Allah terhadap dunia.

42. (Jalan dan upaya kekudusan)

“Allah itu kasih, dan barang siapa tetap berada dalam kasih, ia tinggal dalam Allah dan Allah dalam dia” (1Yoh 4:16). Adapun Allah mencurahkan cinta kasih-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang dikurniakan kepada kita (lih. Rom 5:5). Maka dari itu kurnia yang pertama dan paling perlu adalah cinta kasih, yang dengannya  kita mencintai Allah melebihi segala sesuatu dan mengasihi sesama demi Dia. Memang, agar cinta kasih sebagaimana benih yang baik dapat bertumbuh dalam jiwa dan menghasilkan buah, setiap orang beriman wajib mendengarkan sabda Allah dengan suka hati, dan menerima kehendak-Nya, dan harus melengkapi dengan tindakan mereka apa yang telah Tuhan mulai, dengan pertolongan rahmat Tuhan. Tindakan- tindakan ini terdiri dari: menerima sakramen-sakramen, terutama Ekaristi, dan kerap ikut serta dalam perayaan liturgi,  juga dengan berdoa, mengingkari diri, melayani sesama secara aktif, dan mengamalkan segala  kebajikan. Sebab cinta kasih, sebagai pengikat kesempurnaan dan kepenuhan hukum (lih. Kol 3:14; Rom 13:10), mengatasi semua cara untuk mencapai kekudusan dan memberikan hidup kepada semua cara ini. [133] Cinta kasihlah yang mengarahkan kita kepada tujuan akhir kita. Maka cinta kasih akan Allah maupun akan sesama merupakan ciri murid Kristus yang sejati.

Karena Yesus, Putera Allah, telah menyatakan cinta kasih-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, maka demikian juga, tak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar daripada ia yang menyerahkan hidupnya untuk Kristus dan saudara-saudaranya (lih. 1Yoh 3:16; Yoh 15:13). Sudah sejak masa permulaan ada orang-orang Kristiani yang telah dipanggil, dan selalu masih ada yang akan dipanggil, untuk memberi kesaksian cinta kasih yang tertinggi itu di hadapan semua orang, khususnya di hadapan para penganiaya. Maka Gereja memandang kematian sebagai martir sebagai kurnia yang luar biasa dan bukti cinta kasih yang tertinggi, yang menjadikan murid serupa dengan Gurunya yang dengan rela menerima kematian demi keselamatan dunia,  dan juga serupa dengan Dia dalam menumpahkan darahnya. Meskipun hanya sedikit orang yang diberi kesempatan ini, namun semua [umat beriman] harus siap-sedia mengakui Kristus di muka orang-orang. Mereka harus siap membuat pernyataan iman ini di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja, untuk mengikuti jalan salib Kristus.

Demikian juga, kekudusan Gereja secara istimewa ditingkatkan oleh pelaksanaan aneka macam nasehat, yang oleh Tuhan dalam Injil disampaikan kepada para murid-Nya[134]. Posisi utama di antara semua ini dipegang oleh keperawanan atau status selibat (lih. 1Kor 7:32-34). Ini adalah kurnia berharga dari rahmat ilahi, yang oleh Bapa dianugerahkan kepada beberapa orang tertentu (lih. Mat 19:11; 1Kor 7:7), supaya melaluinya mereka lebih mudah membaktikan diri seutuhnya kepada Allah, dengan hati tak terbagi (lih. 1Kor 7:32-34)[135]. Tarak sempurna demi Kerajaan sorga itu dalam Gereja selalu dihargai secara istimewa. Alasannya adalah bahwa tarak sempurna demi kasih kepada Tuhan adalah dorongan terhadap cinta kasih, dan adalah jelas suatu sumber kesuburan rohani yang luar biasa di dunia.

Gereja juga tetap mengingatkan anjuran Rasul, yang mengundang kaum beriman untuk mengamalkan cinta kasih, dan mendorong mereka supaya mengalami secara pribadi apa yang telah Kristus kenali di dalam diri-Nya sendiri. Ini adalah Kristus Yesus yang sama, “yang telah mengosongkan Diri-Nya dan mengenakan rupa seorang hamba, – dan menjadi taat sampai mati” (Flp 2:7-8), dan demi kita “menjadi miskin, meskipun Ia kaya” (2Kor 8:9). Karena para murid harus selalu meniru dan memberikan kesaksian tentang cinta kasih dan kerendahan hati Kristus, Bunda Gereja bergembira, bahwa dalam pangkuannya terdapat banyak pria dan wanita, yang mengikuti dari dekat Sang Penyelamat, yang menurut pemahaman kita, telah merendahkan Diri-Nya sendiri.  Ada beberapa orang yang dalam kebebasannya sebagai anak-anak Allah,  menerima kemiskinan serta mengingkari keinginan-keinginan mereka sendiri. Lebih jauh lagi, beberapa dari mereka atas kemauan sendiri menempatkan diri di bawah kuasa seseorang yang lain, di dalam hal kesempurnaan demi kasih kepada Allah. Ini melampaui ketentuan perintah yang diwajibkan tetapi dilakukan,  agar menjadi lebih menyerupai Kristus yang taat[136].

Maka semua orang beriman Kristiani diajak untuk berjuang mengejar kekudusan dan kesempurnaan status hidup mereka. Memang, mereka mempunyai kewajiban untuk berjuang dengan keras. Oleh karena itu hendaklah semua memperhatikan, agar mereka mengarahkan keinginan-keinginan hati dengan tepat, supaya mereka dalam mengejar cinta kasih yang sempurna jangan dirintangi karena penggunaan hal-hal duniawi dan keterikatan kepada kekayaan yang melawan semangat kemiskinan menurut Injil. Itulah maksud nasehat Rasul kepada mereka yang menggunakan barang-barang duniawi ini: janganlah mereka menerima pengertian dunia, sebab dunia ini sebagaimana yang kita lihat, sedang/ akan berlalu (lih. 1Kor 7:31 )[137].

 

Catatan kaki:

[122] Misal Romawi, “Kemuliaan kepada Allah di sorga”. Lih. Luk 1:35; Mrk 1:24; Luk 4:34; Yoh 6:69: “Yang Kudus dari Allah”; Kis 3:14; 4:27 dan 30; Ibr 7:26; 1Yoh 2:20; Why 3:7.

[123] Lih. ORIGENES, Komentar pada Rom 7:7 PG 14,1122B. Pseudo MAKARIUS, Tentang Doa 11 : PG 34,861AB. S. TOMAS, Summa Theol. II-II, soal 184, art. 3.

[124] Lih. St. AGUSTINUS, Penarikan Kembali, II, 18: PL 32,637 dsl. PIUS XII, Ensiklik Mystici Corporis, 29 Juni 1943: AAS 35 (1943) hlm. 225.

[125] Lih. PIUS XI, Ensiklik Rerum omnium, 26 januari 1923: AAS 15 (1923) hlm. 50 dan 59-60. Ensiklik Casti Connubii, 31 Desember 1930: AAS 22 (1930) hlm. 548. PIUS XII, Konstitusi apostolis Provida Mater, 2 Februari 1947: AAS 39 (1947) hlm. 117. Amanat Annus sacer, 8 Desember 1950: AAS 43 (1951) hlm. 27-28. Amanat Nel darvi, Juli 1956: AAS 48 (1956) hlm. 574 dsl.

[126] Lih. St. TOMAS, Summa Theol, II-II, soal 184, art. 5 dan 6. Tentang kesempurnaan hidup rohani, bab 18. ORIGENES, Tentang Yesaya, Homili 6,1: PG 13,239.

[127] Lih. St. IGNASIUS Martir, Surat kepada umat di Magnesia, 13,1: terb. FUNK, I, hlm. 241.

[128] Lih. St. PIUS X, Amanat Haerent animo, 4 Agustus 1908: ASS 41 (1908) hlm. 560 dsl. Kitab Hukum Kanonik (lama) kanon 124. PIUS XI, Ensiklik Ad catholic sacerdotii, 20 Desember 1935: AAS 28 (1936) hlm. 22 dsl.

[129] Tata-laksana Tahbisan Imam, dalam kotbah pada awal upacara.

[130] Lih. St. IGNASIUS Martir, Surat kepada umat di Tralles 2,3: terb. FUNK, I, hlm. 244.

[131] PIUS XII, Amanat Sous la maternelle protection, 9 Desember 1957: AAS 50 (1958) hlm. 36.

[132] PIUS XI, Ensiklik Casti Connubii, 31 Desember 1930: AAS 22 (1930)hlm. 548 dsl. Lih. St. YOH. KRISOSTOMUS, Tentang Ef, Homili 20,2: PG 62,136 dsl.

[133] Lih. S. AGUSTINUS, Enchriridion (kamus) 121,32: PL 40,288. St. TOMAS, Summa Theol, II-II, soal 184, art. 1. PIUS XII, Amanat apostolik Mentinostrae, 23 September 1950: AAS 42 (1950) hlm. 660.

[134] Tentang nasehat-nasehat itu pada umumnya, Lih. ORIGENES, Komentar Rom X, 14: PG 14,1275B. St. AGUSTINUS, Tentang keperawanan suci, 15,15: PL 40,403. St. TOMAS, Summa Theol, I-II, soal 100, art. 2 C (pada akhir); II-II, soal 44, art. 4, ad 3.

[135] Tentang keunggulan keperawanan suci, lih. TERTULIANUS, Anjuran tentang kemurnian, 10: PL 2,225C. St. SIPRIANUS, tentang para perawan 3 dan 22: PL 4,443B dan 461A dsl. S. ATANASIUS (?), Tentang para perawan: PG 28,252 dsl. St. YOH KRISOSTOMUS, Tentang para perawan: PG 48,533 dsl.

[136] Tentang kemiskinan rohani, lih. Mat 5:3 dan 19:21; Mrk 10:21; Luk 18:22; tentang ketaatan terdapat contoh Kristus dalam Yoh 4:34 dan 6:38; Flp 2:8-10; Ibr 10:5-7. Banyak sekali teladan dikemukakan oleh para Bapa Gereja dan para pendiri tarekat.

[137] Tentang pelaksanaan nyata nasehat-nasehat, yang tidak diharuskan kepada semua orang, lih. St. YOH KRISOSTOMUS, Tentang Mat, Homili 7,7: PG 57,81 dsl. S. AMBROSIUS, Tentang para janda, 3,23: PL 16,241 dsl.

 

[Diterjemahkan oleh Katolisitas.org,  dari “The Sixteen Documents of Vatican II“, Pauline Books and Media, 1999]

Dogma, implikasinya, dan daftar dogma

14

Ada banyak pertanyaan tentang dogma, siapa yang menentukan, dan apakah implikasi dogma dalam kehidupan umat beriman. Lebih jauh lagi, artikel ini juga memaparkan daftar dogma.

Tentang dogma

Dogma sendiri dapat didefinisikan sebagai “A teaching of the Church revealed implicitly or explicitly by Sacred Scripture or Sacred Tradition, to be believed by the faithful by virtue of solemn definition or the Church’s ordinary Magisterium. For a teaching to be a “dogma,” the specific truth must have been formally revealed and taught as such by the Church; in addition, the dogma must be proposed as binding on the faithful. Hence, the dogma’s acceptance is necessary for salvation.” (Reverend Peter M.J. Stravinskas, Ph.D., S.T.L. Our Sunday Visitor’s Catholic Encyclopedia. Copyright © 1994, Our Sunday Visitor)

Atau dalam bahasa Indonesia: “Sebuah pengajaran dari Gereja yang secara implisit maupun eksplisit dinyatakan oleh Kitab Suci atau Tradisi Suci, yang dipercaya oleh umat beriman karena pemakluman agung atau wewenang mengajar yang biasa dari Gereja. Agar sebuah pengajaran menjadi sebuah dogma, kebenaran yang spesifik harus secara formal pernah dinyatakan dan diajarkan oleh Gereja; sebagai tambahan, dogma adalah mengikat umat beriman. Oleh karena itu, penerimaan dogma diperlukan untuk keselamatan.”

Dari definisi ini, maka kita dapat menyimpulkan beberapa hal:

1) Dalam hal ini “implicitly” dan “explicitly” berhubungan dengan kebenaran yang hendak dinyatakan. Para teolog membaginya menjadi tiga bagian, yaitu:

a) Kebenaran yang dinyatakan secara formal (formally) dan eksplisit (explicitly). Kebenaran dinyatakan secara formal jika pembicara atau yang memberikan wahyu benar-benar secara jelas menyatakan untuk menyampaikan kebenaran tersebut dan menjamin pernyataan tersebut dengan otoritas. Pada saat pernyataan tersebut dinyatakan secara jelas dan dengan ekpresi kata-kata yang jelas, maka kebenaran tersebut dinyatakan secara eksplisit. Otoritas dalam hal ini dapat berupa Tuhan, yang memang mempunyai otoritas tertinggi, dan dapat juga Gereja Katolik – melalui Paus (ketika berbicara ex-cathedra), konsili-konsili dan juga Magisterium Gereja – yang diberikan kuasa oleh Tuhan sendiri (lih KGK, 88). Contoh dari kategori ini adalah semua pertanyataan di dalam doa “Aku Percaya”.

b) Kebenaran yang dinyatakan secara formal (formally), namun tersirat (implicitly). Secara tersirat, terjadi kalau perkataan yang digunakan tidak terlalu jelas atau langsung. Oleh karena itu diperlukan suatu interpretasi yang baik, sehingga tidak menyimpang dari kebenaran yang hendak disampaikan. Di dalam Gereja Katolik, Paus pada saat berbicara ex-cathedra, konsili-konsili dan Magisterium Gereja dipercaya untuk dapat menyatakan dan mengartikan kebenaran yang tersirat dengan benar. Contoh kebenaran dalam kategori ini misalkan: transubstantiation, papal infallibility, Maria diangkat ke Sorga, Maria dikandung tanpa dosa asal, dll.

c) Kebenaran yang “virtually” dinyatakan. Kebenaran yang tidak secara formal dijamin oleh perkataan dari pembicara, namun suatu kebenaran yang disimpulkan dari kebenaran yang telah dinyatakan secara formal. Dan dalam prosesnya, kebenaran yang virtually revealed dapat menjadi kebenaran yang formal dan implisit, kalau Magisterium Gereja menyatakannya sebagai dogma.

2) Ada tiga pilar kebenaran di dalam Gereja Katolik yang harus dipegang teguh, yaitu a) Kitab Suci, b) Tradisi Suci, 3) Magisterium Suci / kewenangan mengajar. Dan suatu kebenaran dinyatakan sebagai dogma, kalau secara formal telah dinyatakan sebagai dogma oleh Gereja Katolik, namun kebenaran tersebut harus mempunyai dasar dari Kitab Suci yang didukung dalam Tradisi Suci.

Siapa yang menentukan dogma?

Katekismus Gereja Katolik (KGK 88) menuliskan sebagai berikut “Wewenang Mengajar Gereja menggunakan secara penuh otoritas yang diterimanya dari Kristus, apabila ia mendefinisikan dogma-dogma, artinya apabila dalam satu bentuk yang mewajibkan umat Kristen dalam iman dan yang tidak dapat ditarik kembali, ia mengajukan kebenaran-kebenaran yang tercantum di dalam wahyu ilahi atau secara mutlak berhubungan dengan kebenaran-kebenaran demikian.” Dengan kata lain, wewenang mengajar (Magisterium) Gereja diberi kuasa oleh Kristus untuk mengajar (lih. Mat 16:16-19) dan demikian dapat mendefinisikan dogma. Dogma dapat diberikan melalui pernyataan agung (solemn definition) melalui Paus – ketika dia berbicara ex-catedra (lihat keterangan ini – silakan klik), dan juga dalam konsili umum (general council), maupun juga kewenangan mengajar biasa.

Contoh perkembangan dogma:

Beberapa contoh perkembangan dogma telah dijelaskan dalam beberapa artikel, seperti:

1) Dogma yang bersifat formal dan eksplisit: tentang Tritunggal Maha Kudus (silakan klik).

2) Dogma yang bersifat formal dan implisit: tentang Bunda Maria dikandung tanpa noda (silakan klik).

Implikasi pada umat beriman terhadap dogma

Dogma adalah pernyataan tentang kebenaran yang dinyatakan secara resmi oleh Gereja demi keselamatan umatnya. Dengan pernyataan resmi dari Gereja, maka kita dapat yakin bahwa kebenaran yang dinyatakan adalah benar, yang dapat bersumber pada Alkitab, Tradisi Suci, maupun Magisterium Gereja – dimana ketiganya tidak mungkin saling bertentangan, karena kebenaran tidak mungkin saling bertentangan. Dan pada saat kita mengatakan kita beriman, maka kita percaya kepada otoritas yang menyatakannya. Dalam hal ini otoritas kita bersumber pada Tuhan dan Gereja yang telah diberikan kuasa oleh Tuhan untuk menyatakan kebenaran. Oleh karena itu, iman yang benar adalah “obedience of faith“, dimana kita taat akan kebenaran yang dinyatakan.

Kebenaran yang mana? Semua kebenaran yang dinyatakan oleh Gereja, dan bukan setengah-setengah. Pada saat seseorang mengatakan bahwa dia setuju dengan dogma A, namun tidak setuju dengan dogma B, maka dia menempatkan dirinya lebih tinggi dari Gereja yang telah diberikan kuasa oleh Tuhan. Oleh karena itu, pada saat dia – yang telah dibaptis – memilih-milih dogma atau kebenaran yang seharusnya dipercayainya, maka dia telah melakukan dosa “heresy” atau bidah. Disebut Murtad kalau menolak semua iman kepercayaan kristiani, dan disebut skisma kalau menolak persatuan dengan Paus.

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2089) mengatakan “Ketidakpercayaan berarti tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya. “Disebut bidah kalau menyangkal atau meragu-ragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik, sesudah penerimam Sakramen Pembaptisan; disebut murtad kalau menyangkal iman-kepercayaan kristiani secara menyeluruh; disebut skisma kalau menolak ketaklukan kepada Sri Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya” (CIC, can. 751).

Dosa bidah (heresy) dapat dibagi menjadi dua, yaitu “formal heresy” dan “material heresy“. Disebut formal heresy kalau seseorang tahu secara pasti bahwa dia mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan pengajaran Gereja, dan orang tersebut tetap menolak pengajaran Gereja, walaupun telah diterangkan secara baik akan kebenaran yang telah dinyatakan oleh Gereja. Sebaliknya, material heresy dilakukan kalau seseorang secara tidak sengaja mempercayai suatu hal yang bertentangan dengan pengajaran Gereja. Namun, setelah orang tersebut tahu apa yang diajarkan oleh Gereja secara benar, maka dengan kerendahan hati dia mengubah apa yang dipercayainya sehingga sesuai dengan apa yang dipercayai oleh Gereja. Dari pengertian ini, formal heresy adalah berbahaya dan merupakan dosa berat, karena membuat seseorang tidak mempunyai iman yang bersifat supernatural, namun iman yang berdasarkan pada pertimbangan pribadi.

Daftar dogma menurut Dr. Ludwig Ott dalam bukunya “Fundamentals of Catholic Dogma”

Daftar dogma berikut ini, saya ambil dari site ini (silakan klik). Secara prinsip, daftar ini mengambil semua pernyataan “de fide” (of faith) di dalam buku Fundamentals of Catholic Dogma. Berikut ini adalah daftarnya:

I. The Unity and Trinity of God

  1. God, our Creator and Lord, can be known with certainty, by the natural light of reason from created things.
  2. God’s existence is not merely an object of rational knowledge, but also an object of supernatural faith.
  3. God’s Nature is incomprehensible to men.
  4. The blessed in Heaven possess an immediate intuitive knowledge of the Divine Essence.
  5. The immediate vision of God transcends the natural power of cognition of the human soul, and is therefore supernatural.
  6. The soul, for the immediate vision of God, requires the light of glory.
  7. God’s Essence is also incomprehensible to the blessed in Heaven.
  8. The divine attributes are really identical among themselves and with the Divine Essence.
  9. God is absolutely perfect.
  10. God is actually infinite in every perfection.
  11. God is absolutely simple.
  12. There is only one God.
  13. The one God is, in the ontological sense, the true God.
  14. God possesses an infinite power of cognition.
  15. God is absolute veracity.
  16. God is absolutely faithful.
  17. God is absolute ontological goodness in Himself and in relation to others.
  18. God is absolute moral goodness or holiness.
  19. God is absolute benignity.
  20. God is absolutely immutable.
  21. God is eternal.
  22. God is immense or absolutely immeasurable.
  23. God is everywhere present in created space.
  24. God’s knowledge is infinite.
  25. God’s knowledge is purely and simply actual.
  26. God’s knowledge is subsistent.
  27. God knows all that is merely possible by the knowledge of simple intelligence.
  28. God knows all real things in the past, the present and the future.
  29. By the knowledge of vision, God also foresees the future free acts of rational creatures with infallible certainty.
  30. God’s Divine Will is infinite.
  31. God loves Himself of necessity, but loves and wills the creation of extra-divine things, on the other hand, with freedom.
  32. God is almighty.
  33. God is the Lord of the heavens and of the earth.
  34. God is infinitely just.
  35. God is infinitely merciful.
  36. In God there are three Persons, the Father, the Son and the Holy Ghost. Each of the three Persons possesses the one (numerical) Divine Essence.
  37. In God there are two internal divine processions.
  38. The Divine Persons, not the Divine Nature, are the subject of the internal divine processions (in the active and in the passive sense).
  39. The Second Divine Person proceeds from the First Divine Person by generation, and therefore is related to Him as Son to Father.
  40. The Holy Ghost proceeds from the Father and from the Son as from a single principle through a single spiration.
  41. The Holy Ghost does not proceed through generation but through spiration.
  42. The relations in God are really identical with the Divine Nature.
  43. The Three Divine Persons are in one another.
  44. All the ad extra activities of God are common to the three Persons.

II. God the Creator

  1. All that exists outside God was, in its whole substance, produced out of nothing by God.
  2. God was moved by His goodness to create the world.
  3. The world was created for the glorification of God.
  4. The Three Divine Persons are one single, common principle of creation.
  5. God created the world free from exterior compulsion and inner necessity.
  6. God has created a good world.
  7. The world had a beginning in time.
  8. God alone created the world.
  9. God keeps all created things in existence.
  10. God, through His Providence, protects and guides all that He has created.
  11. The first man was created by God.
  12. Man consists of two essential parts – a material body and a spiritual soul.
  13. The rational soul per se is the essential form of the body.
  14. Every human being possesses an individual soul.
  15. God has conferred on man a supernatural destiny.
  16. Our first parents, before the fall, were endowed with sanctifying grace.
  17. In addition to sanctifying grace, our first parents were endowed with the preternatural gift of bodily immortality.
  18. Our first parents in Paradise sinned grievously through transgression of the Divine probationary commandment.
  19. Through sin our first parents lost sanctifying grace and provoked the anger and the indignation of God.
  20. Our first parents became subject to death and to the dominion of the devil.
  21. Adam’s sin is transmitted to his posterity, not by imitation but by descent.
  22. Original sin is transmitted by natural generation.
  23. In the state of original sin man is deprived of sanctifying grace and all that this implies, as well as of the preternatural gifts of integrity.
  24. Souls who depart this life in the state of original sin are excluded from the Beatific Vision of God.
  25. In the beginning of time God created spiritual essences (angels) out of nothing.
  26. The nature of angels is spiritual.
  27. The evil spirits (demons) were created good by God; they became evil through their own fault.
  28. The secondary task of the good angels is the protection of men and care for their salvation.
  29. The devil possesses a certain dominion over mankind by reason of Adam’s sin.

III. God the Redeemer

  1. Jesus Christ is true God and true Son of God.
  2. Christ assumed a real body, not an apparent body.
  3. Christ assumed not only a body but also a rational soul.
  4. Christ was truly generated and born of a daughter of Adam, the Virgin Mary.
  5. The Divine and human natures are united hypostatically in Christ, that is, joined to each other in one Person.
  6. In the hypostatic union each of the two natures of Christ continues unimpaired, untransformed, and unmixed with each other.
  7. Each of the two natures in Christ possesses its own natural will and its own natural mode of operation.
  8. The hypostatic union of Christ’s human nature with the Divine Logos took place at the moment of conception.
  9. The hypostatic union will never cease.
  10. The hypostatic union was effected by the three Divine Persons acting in common.
  11. Only the second Divine Person became Man.
  12. Not only as God but also as man Jesus Christ is the natural Son of God.
  13. The God-Man Jesus Christ is to be venerated with one single mode of worship, the absolute worship of latria which is due to God alone.
  14. Christ’s Divine and human characteristics and activities are to be predicated of the one Word Incarnate.
  15. Christ was free from all sin, from original sin as well as from all personal sin.
  16. Christ’s human nature was passible.
  17. The Son of God became man in order to redeem men.
  18. Fallen man cannot redeem himself.
  19. The God-man Jesus Christ is a high priest.
  20. Christ offered Himself on the Cross as a true and proper sacrifice.
  21. Christ by His sacrifice on the Cross has ransomed us and reconciled us with God.
  22. Christ, through His passion and death, merited award from God.
  23. After His death, Christ’s Soul, which was separated from His Body, descended into the underworld.
  24. On the third day after His death, Christ rose gloriously from the dead.
  25. Christ ascended body and soul into Heaven and sits at the right hand of the Father.

IV. The Mother of the Redeemer

  1. Mary is truly the Mother of God.
  2. Mary was conceived without the stain of original sin.
  3. Mary is the Immaculate Conception.
  4. Mary conceived by the Holy Ghost without the cooperation of man.
  5. Mary bore her Son without any violation of her virginal integrity.
  6. After the birth of Jesus, Mary remained a Virgin.
  7. Mary was assumed body and soul into Heaven.

V. God the Sanctifier

  1. There is a supernatural intervention of God in the faculties of the soul, which precedes the free act of the will.
  2. There is a supernatural influence of God in the faculties of the soul which coincides in time with man’s free act of will.
  3. For every salutary act, internal supernatural grace of God (gratia elevans) is absolutely necessary.
  4. Internal supernatural grace is absolutely necessary for the beginning of faith and salvation.
  5. Without the special help of God, the justified cannot persevere to the end in justification.
  6. The justified person is not able for his whole life long to avoid sins, even venial sins, without the special privilege of the grace of God.
  7. Even in the fallen state, man can, by his natural intellectual power, know religious and moral truths.
  8. For the performance of a morally good action, sanctifying grace is not required.
  9. In the state of fallen nature, it is morally impossible for man without supernatural Revelation, to know easily, with absolute certainty, and without admixture of error, all religious and moral truths of the natural order.
  10. Grace cannot be merited by natural works either de condigno or de congruo.
  11. God gives all the just sufficient grace for the observation of the divine commandments.
  12. God, by His eternal resolve of Will, has predetermined certain men to eternal blessedness.
  13. God, by an eternal resolve of His Will, predestines certain men, on account of their foreseen sins, to eternal rejection.
  14. The human will remains free under the influence of efficacious grace, which is not irresistible.
  15. There is grace which is truly sufficient and yet remains inefficacious.
  16. The causes of Justification. (Defined by the Council of Trent) :
    1. The final cause is the honour of God and of Christ and the eternal life of men.
    2. The efficient cause is the mercy of God.
    3. The meritorious cause is Jesus Christ, who as mediator between God and men, has made atonement for us and merited the grace by which we are justified.
    4. The instrumental cause of the first justification is the Sacrament of Baptism. Thus it defines that Faith is a necessary precondition for justification (of adults).
    5. The formal cause is God’s Justice, not by which He Himself is just, but which He makes us just, that is, Sanctifying Grace.
  17. The sinner can and must prepare himself by the help of actual grace for the reception of the grace by which he is justified.
  18. The justification of an adult is not possible without faith.
  19. Besides faith, further acts of disposition must be present.
  20. Sanctifying grace sanctifies the soul.
  21. Sanctifying grace makes the just man a friend of God.
  22. Sanctifying grace makes the just man a child of God and gives him a claim to the inheritance of heaven.
  23. The three Divine or theological virtues of faith, hope and charity are infused with sanctifying grace.
  24. Without special Divine Revelation no one can know with the certainty of faith, if he be in the state of grace.
  25. The degree of justifying grace is not identical in all the just.
  26. Grace can be increased by good works.
  27. The grace by which we are justified may be lost, and is lost by every grievous sin.
  28. By his good works, the justified man really acquires a claim to supernatural reward from God.
  29. A just man merits for himself through each good work an increase of sanctifying grace, eternal life (if death finds him in the state of grace) and an increase in heavenly glory.

VI. The Catholic Church

  1. The Catholic Church was founded by the God-Man Jesus Christ.
  2. Christ founded the Catholic Church in order to continue His work of redemption for all time.
  3. Christ gave His Church a hierarchical constitution.
  4. The powers bestowed on the Apostles have descended to the Bishops.
  5. Christ appointed the Apostle Peter to be the first of all the Apostles and to be the visible Head of the whole Catholic Church, by appointing him immediately and personally to the primacy of jurisdiction.
  6. According to Christ’s ordinance, Peter is to have successors in his Primacy over the whole Catholic Church and for all time.
  7. The successors of Peter in the Primacy are the Bishops of Rome.
  8. The Pope possesses full and supreme power of jurisdiction over the whole Catholic Church, not merely in matters of faith and morals, but also in Church discipline and in the government of the Church.
  9. The Pope is infallible when he speaks ex cathedra.
  10. By virtue of Divine right, the bishops possess an ordinary power of government over their dioceses.
  11. Christ founded the Catholic Church.
  12. Christ is the Head of the Catholic Church.
  13. In the final decision on doctrines concerning faith and morals, the Catholic Church is infallible.
  14. The primary object of the Infallibility is the formally revealed truths of Christian Doctrine concerning faith and morals.
  15. The totality of the Bishops is infallible, when they, either assembled in general council or scattered over the earth propose a teaching of faith or morals as one to he held by all the faithful.
  16. The Church founded by Christ is unique and one.
  17. The Church founded by Christ is holy.
  18. The Church founded by Christ is catholic.
  19. The Church founded by Christ is apostolic.
  20. Membership of the Catholic Church is necessary for all men for salvation.

VII. The Communion of Saints

  1. It is permissible and profitable to venerate the Saints in Heaven, and to invoke their intercession.
  2. It is permissible and profitable to venerate the relics of the Saints.
  3. It is permissible and profitable to venerate images of the Saints.
  4. The living faithful can come to the assistance of the souls in Purgatory by their intercessions.

VIII. The Sacraments

  1. The Sacraments of the New Covenant contain the grace which they signify, and bestow it on those who do not hinder it.
  2. The Sacraments work ex opere operato, that is, the sacraments operate by the power of the completed sacramental rite.
  3. All the Sacraments of the New Covenant confer sanctifying grace on the receivers.
  4. Three Sacraments, Baptism, Confirmation, and Holy Orders, imprint a character, that is an indelible spiritual mark, and, for this reason, cannot be repeated.
  5. The sacramental character is a spiritual mark imprinted on the soul.
  6. The sacramental character continues at least until the death of the bearer.
  7. All Sacraments of the New Covenant were instituted by Jesus Christ.
  8. There are seven Sacraments of the New Law.
  9. The Sacraments of the New Covenant are necessary for the salvation of mankind.
  10. The validity and efficacy of the Sacrament is independent of the minister’s orthodoxy and state of grace.
  11. For the valid dispensing of the Sacraments it is necessary that the minister accomplish the Sacramental sign in the proper manner.
  12. The minister must have the intention of at least doing what the Church does.
  13. In the case of adult recipients moral worthiness is necessary for the worthy or fruitful reception of the Sacraments.

IX. Baptism

  1. Baptism is a true Sacrament instituted by Jesus Christ.
  2. The materia remota of the Sacrament of Baptism is true and natural water.
  3. Baptism confers the grace of justification.
  4. Baptism effects the remission of all punishments of sin, both eternal and temporal.
  5. Even if it be unworthily received, valid Baptism imprints on the soul of the recipient an indelible spiritual mark, the Baptismal Character, and for this reason, the Sacrament cannot be repeated.
  6. Baptism by water (Baptismus fluminis) is, since the promulgation of the Gospel, necessary for all men without exception for salvation.
  7. Baptism can be validly administered by anyone.
  8. Baptism can be received by any person in the wayfaring state who is not already baptised.
  9. The Baptism of young children is valid and licit.

X. Confirmation

  1. Confirmation is a true Sacrament properly so-called.
  2. Confirmation imprints on the soul an indelible spiritual mark, and for this reason, cannot be repeated.
  3. The ordinary minister of Confirmation is the Bishop alone.

XI. Holy Eucharist

  1. The Body and Blood of Jesus Christ are truly, really, and substantially present in the Eucharist.
  2. Christ becomes present in the Sacrament of the Altar by the transformation of the whole substance of the bread into His Body and of the whole substance of the wine into His Blood.
  3. The accidents of bread and wine continue after the change of the substance.
  4. The Body and Blood of Christ together with His Soul and Divinity and therefore, the whole Christ, are truly present in the Eucharist.
  5. The Whole Christ is present under each of the two Species.
  6. When either consecrated Species is divided, the Whole Christ is present in each part of the Species.
  7. After the Consecration has been completed the Body and Blood are permanently present in the Eucharist.
  8. The Worship of Adoration (latria) must be given to Christ present in the Eucharist.
  9. The Eucharist is a true Sacrament instituted by Jesus Christ.
  10. The matter for the consummation of the Eucharist is bread and wine.
  11. For children before the age of reason, the reception of the Eucharist is not necessary for salvation.
  12. Communion under two forms is not necessary for any individual members of the Faithful, either by reason of Divine precept or as a means of salvation.
  13. The power of consecration resides in a validly consecrated priest only .
  14. The Sacrament of the Eucharist can be validly received by every baptised person in the wayfaring state, including young children.
  15. For the worthy reception of the Eucharist, the state of grace as well as the proper and pious disposition are necessary.
  16. The Holy Mass is a true and proper Sacrifice.
  17. In the Sacrifice of the Mass, Christ’s Sacrifice on the Cross is made present, its memory celebrated, and its saving power applied.
  18. In the Sacrifice of the Mass and in the Sacrifice of the Cross the Sacrificial Gift and the Primary Sacrificing Priest are identical; only the mode of the offering is different.
  19. The Sacrifice of the Mass is not merely a sacrifice of praise and thanks-giving, but also a sacrifice of expiation and impetration.

XII. Penance

  1. The Church has received from Christ the power of remitting sins committed after Baptism.
  2. By the Church’s Absolution sins are truly and immediately remitted.
  3. The Church’s power to forgive sins extends to all sin without exception.
  4. The exercise of the Church’s power to forgive sins is a judicial act.
  5. The forgiveness of sins which takes place in the Tribunal of Penance is a true and proper Sacrament, which is distinct from the Sacrament of Baptism.
  6. Extra-sacramental justification is effected by perfect sorrow only when it is associated with the desire for the Sacrament (votum sacramenti).
  7. Contrition springing from the motive of fear is a morally good and supernatural act.
  8. The Sacramental confession of sins is ordained by God and is necessary for salvation.
  9. By virtue of Divine ordinance, all grievous sins according to kind and number, as well as those circumstances which alter their nature, are subject to the obligation of confession.
  10. The confession of venial sins is not necessary but is permitted and is useful.
  11. All temporal punishments for sin are not always remitted by God with the guilt of sin and the eternal punishment.
  12. The priest has the right and duty, according to the nature of the sins and the ability of the penitent, to impose salutary and appropriate works for satisfaction.
  13. Extra-sacramental penitential works, such as the performance of voluntary penitential practices and the patient bearing of trials sent by God, possess satisfactory value.
  14. The form of the Sacrament of Penance consists in the words of Absolution.
  15. Absolution, in association with the acts of the penitent, effects the forgiveness of sins.
  16. The principal effect of the Sacrament of Penance is the reconciliation of the sinner with God.
  17. The Sacrament of Penance is necessary for salvation to those who, after Baptism, fall into grievous sin.
  18. The sole possessors of the Church’s Power of Absolution are the bishops and priests.
  19. Absolution given by deacons, clerics or lower rank, and laymen is not Sacramental Absolution.
  20. The Sacrament of Penance can be received by any baptised person who, after Baptism, has committed a grievous or a venial sin.
  21. The Church possesses the power to grant Indulgences.
  22. The use of Indulgences is useful and salutary to the Faithful.

XIII. Holy Orders

  1. Holy Order is a true and proper Sacrament which was instituted by Jesus Christ.
  2. The consecration of priests is a Sacrament.
  3. Bishops are superior to priests.
  4. The Sacrament of Order confers sanctifying grace on the recipient.
  5. The Sacrament of Order imprints a character on the recipient.
  6. The Sacrament of Order confers a permanent spiritual power on the recipient.
  7. The ordinary dispenser of all grades of Order, both the sacramental and the non-sacramental, is the validly consecrated Bishop alone.

XIV. Matrimony

  1. Marriage is a true and proper Sacrament instituted by God.
  2. From the sacramental contract of marriage emerges the Bond of Marriage, which binds both marriage partners to a lifelong indivisible community of life.
  3. The Sacrament of Matrimony bestows sanctifying grace on the contracting parties.

XV. Anointing of the sick

  1. Extreme Unction or anointing of the sick is a true and proper Sacrament instituted by Jesus Christ.
  2. The remote matter of Extreme Unction is oil.
  3. The form consists in the prayer of the priest for the sick person which accomplishes the anointing.
  4. Extreme Unction gives the sick person sanctifying grace in order to arouse and strengthen him.
  5. Extreme Unction effects the remission of grievous sins still remaining and of venial sins.
  6. Extreme Unction sometimes effects the restoration of bodily health, if this be of spiritual advantage.
  7. Only Bishops and priests can validly administer Extreme Unction.
  8. Extreme Unction can be received only by the Faithful who are seriously ill.

XVI. The Last Things

  1. In the present order of salvation, death is a punishment for sin.
  2. All human beings subject to original sin are subject to the law of death.
  3. The souls of the just which in the moment of death are free from all guilt of sin and punishment for sin, enter into Heaven.
  4. The bliss of Heaven lasts for all eternity.
  5. The degree of perfection of the Beatific Vision granted to the just is proportioned to each one’s merit.
  6. The souls of those who die in the condition of personal grievous sin enter Hell.
  7. The punishment of Hell lasts for all eternity.
  8. The souls of the just which, in the moment of death, are burdened with venial sins or temporal punishment due to sins, enter purgatory.
  9. At the end of the world Christ will come again in glory to pronounce judgement.
  10. All the dead will rise again on the last day with their bodies.
  11. The dead will rise again with the same bodies as they had on earth.
  12. Christ, on His second coming, will judge all men.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan dan semoga dapat menjawab pertanyaan Soenardi. Mungkin suatu saat, daftar tersebut harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan alangkah baiknya jika disertai dengan tahun-tahun kapan dogma tersebut ditetapkan. Mohon juga doanya agar katolisitas.org dapat menjadi alat Tuhan untuk mewartakan kebenaran.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

I. The Unity and Trinity of God

  1. God, our Creator and Lord, can be known with certainty, by the natural light of reason from created things.
  2. God’s existence is not merely an object of rational knowledge, but also an object of supernatural faith.
  3. God’s Nature is incomprehensible to men.
  4. The blessed in Heaven possess an immediate intuitive knowledge of the Divine Essence.
  5. The immediate vision of God transcends the natural power of cognition of the human soul, and is therefore supernatural.
  6. The soul, for the immediate vision of God, requires the light of glory.
  7. God’s Essence is also incomprehensible to the blessed in Heaven.
  8. The divine attributes are really identical among themselves and with the Divine Essence.
  9. God is absolutely perfect.
  10. God is actually infinite in every perfection.
  11. God is absolutely simple.
  12. There is only one God.
  13. The one God is, in the ontological sense, the true God.
  14. God possesses an infinite power of cognition.
  15. God is absolute veracity.
  16. God is absolutely faithful.
  17. God is absolute ontological goodness in Himself and in relation to others.
  18. God is absolute moral goodness or holiness.
  19. God is absolute benignity.
  20. God is absolutely immutable.
  21. God is eternal.
  22. God is immense or absolutely immeasurable.
  23. God is everywhere present in created space.
  24. God’s knowledge is infinite.
  25. God’s knowledge is purely and simply actual.
  26. God’s knowledge is subsistent.
  27. God knows all that is merely possible by the knowledge of simple intelligence.
  28. God knows all real things in the past, the present and the future.
  29. By the knowledge of vision, God also foresees the future free acts of rational creatures with infallible certainty.
  30. God’s Divine Will is infinite.
  31. God loves Himself of necessity, but loves and wills the creation of extra-divine things, on the other hand, with freedom.
  32. God is almighty.
  33. God is the Lord of the heavens and of the earth.
  34. God is infinitely just.
  35. God is infinitely merciful.
  36. In God there are three Persons, the Father, the Son and the Holy Ghost. Each of the three Persons possesses the one (numerical) Divine Essence.
  37. In God there are two internal divine processions.
  38. The Divine Persons, not the Divine Nature, are the subject of the internal divine processions (in the active and in the passive sense).
  39. The Second Divine Person proceeds from the First Divine Person by generation, and therefore is related to Him as Son to Father.
  40. The Holy Ghost proceeds from the Father and from the Son as from a single principle through a single spiration.
  41. The Holy Ghost does not proceed through generation but through spiration.
  42. The relations in God are really identical with the Divine Nature.
  43. The Three Divine Persons are in one another.
  44. All the ad extra activities of God are common to the three Persons.

II. God the Creator

  1. All that exists outside God was, in its whole substance, produced out of nothing by God.
  2. God was moved by His goodness to create the world.
  3. The world was created for the glorification of God.
  4. The Three Divine Persons are one single, common principle of creation.
  5. God created the world free from exterior compulsion and inner necessity.
  6. God has created a good world.
  7. The world had a beginning in time.
  8. God alone created the world.
  9. God keeps all created things in existence.
  10. God, through His Providence, protects and guides all that He has created.
  11. The first man was created by God.
  12. Man consists of two essential parts – a material body and a spiritual soul.
  13. The rational soul per se is the essential form of the body.
  14. Every human being possesses an individual soul.
  15. God has conferred on man a supernatural destiny.
  16. Our first parents, before the fall, were endowed with sanctifying grace.
  17. In addition to sanctifying grace, our first parents were endowed with the preternatural gift of bodily immortality.
  18. Our first parents in Paradise sinned grievously through transgression of the Divine probationary commandment.
  19. Through sin our first parents lost sanctifying grace and provoked the anger and the indignation of God.
  20. Our first parents became subject to death and to the dominion of the devil.
  21. Adam’s sin is transmitted to his posterity, not by imitation but by descent.
  22. Original sin is transmitted by natural generation.
  23. In the state of original sin man is deprived of sanctifying grace and all that this implies, as well as of the preternatural gifts of integrity.
  24. Souls who depart this life in the state of original sin are excluded from the Beatific Vision of God.
  25. In the beginning of time God created spiritual essences (angels) out of nothing.
  26. The nature of angels is spiritual.
  27. The evil spirits (demons) were created good by God; they became evil through their own fault.
  28. The secondary task of the good angels is the protection of men and care for their salvation.
  29. The devil possesses a certain dominion over mankind by reason of Adam’s sin.

III. God the Redeemer

  1. Jesus Christ is true God and true Son of God.
  2. Christ assumed a real body, not an apparent body.
  3. Christ assumed not only a body but also a rational soul.
  4. Christ was truly generated and born of a daughter of Adam, the Virgin Mary.
  5. The Divine and human natures are united hypostatically in Christ, that is, joined to each other in one Person.
  6. In the hypostatic union each of the two natures of Christ continues unimpaired, untransformed, and unmixed with each other.
  7. Each of the two natures in Christ possesses its own natural will and its own natural mode of operation.
  8. The hypostatic union of Christ’s human nature with the Divine Logos took place at the moment of conception.
  9. The hypostatic union was effected by the three Divine Persons acting in common.
  10. Only the second Divine Person became Man.
  11. Not only as God but also as man Jesus Christ is the natural Son of God.
  12. The God-Man Jesus Christ is to be venerated with one single mode of worship, the absolute worship of latria which is due to God alone.
  13. Christ’s Divine and human characteristics and activities are to be predicated of the one Word Incarnate.
  14. Christ was free from all sin, from original sin as well as from all personal sin.
  15. Christ’s human nature was passable.
  16. The Son of God became man in order to redeem men.
  17. Fallen man cannot redeem himself.
  18. The God-man Jesus Christ is a high priest.
  19. Christ offered Himself on the Cross as a true and proper sacrifice.
  20. Christ by His sacrifice on the Cross has ransomed us and reconciled us with God.
  21. Christ, through His passion and death, merited award from God.
  22. After His death, Christ’s Soul, which was separated from His Body, descended into the underworld.
  23. On the third day after His death, Christ rose gloriously from the dead.
  24. Christ ascended body and soul into Heaven and sits at the right hand of the Father.

IV. The Mother of the Redeemer

  1. Mary is truly the Mother of God.
  2. Mary was conceived without the stain of original sin.
    Mary is the Immaculate Conception.
  3. Mary conceived by the Holy Ghost without the cooperation of man.
  4. Mary bore her Son without any violation of her virginal integrity.
  5. After the birth of Jesus, Mary remained a Virgin.
  6. Mary was assumed body and soul into Heaven.

V. God the Sanctifier

  1. There is a supernatural intervention of God in the faculties of the soul, which precedes the free act of the will.
  2. There is a supernatural influence of God in the faculties of the soul which coincides in time with man’s free act of will.
  3. For every salutary act, internal supernatural grace of God (gratia elevans) is absolutely necessary.
  4. Internal supernatural grace is absolutely necessary for the beginning of faith and salvation.
  5. Without the special help of God, the justified cannot persevere to the end in justification.
  6. The justified person is not able for his whole life long to avoid sins, even venial sins, without the special privilege of the grace of God.
  7. Even in the fallen state, man can, by his natural intellectual power, know religious and moral truths.
  8. For the performance of a morally good action, sanctifying grace is not required.
  9. In the state of fallen nature, it is morally impossible for man without supernatural Revelation, to know easily, with absolute certainty, and without admixture of error, all religious and moral truths of the natural order.
  10. Grace cannot be merited by natural works either de condigno or de congruo.
  11. God gives all the just sufficient grace for the observation of the divine commandments.
  12. God, by His eternal resolve of Will, has predetermined certain men to eternal blessedness.
  13. God, by an eternal resolve of His Will, predestines certain men, on account of their foreseen sins, to eternal rejection.
  14. The human will remains free under the influence of efficacious grace, which is not irresistible.
  15. There is grace which is truly sufficient and yet remains inefficacious.
  16. The causes of Justification. (Defined by the Council of Trent) :
    1. The final cause is the honour of God and of Christ and the eternal life of men.
    2. The efficient cause is the mercy of God.
    3. The meritorious cause is Jesus Christ, who as mediator between God and men, has made atonement for us and merited the grace by which we are justified.
    4. The instrumental cause of the first justification is the Sacrament of Baptism. Thus it defines that Faith is a necessary precondition for justification (of adults).
    5. The formal cause is God’s Justice, not by which He Himself is just, but which He makes us just, that is, Sanctifying Grace.
  17. The sinner can and must prepare himself by the help of actual grace for the reception of the grace by which he is justified.
  18. The justification of an adult is not possible without faith.
  19. Besides faith, further acts of disposition must be present.
  20. Sanctifying grace sanctifies the soul.
  21. Sanctifying grace makes the just man a friend of God.
  22. Sanctifying grace makes the just man a child of God and gives him a claim to the inheritance of heaven.
  23. The three Divine or theological virtues of faith, hope and charity are infused with sanctifying grace.
  24. Without special Divine Revelation no one can know with the certainty of faith, if he be in the state of grace.
  25. The degree of justifying grace is not identical in all the just.
  26. Grace can be increased by good works.
  27. The grace by which we are justified may be lost, and is lost by every grievous sin.
  28. By his good works, the justified man really acquires a claim to supernatural reward from God.
  29. A just man merits for himself through each good work an increase of sanctifying grace, eternal life (if death finds him in the state of grace) and an increase in heavenly glory.

VI. The Catholic Church

  1. The Catholic Church was founded by the God-Man Jesus Christ.
  2. Christ founded the Catholic Church in order to continue His work of redemption for all time.
  3. Christ gave His Church a hierarchical constitution.
  4. The powers bestowed on the Apostles have descended to the Bishops.
  5. Christ appointed the Apostle Peter to be the first of all the Apostles and to be the visible Head of the whole Catholic Church, by appointing him immediately and personally to the primacy of jurisdiction.
  6. According to Christ’s ordinance, Peter is to have successors in his Primacy over the whole Catholic Church and for all time.
  7. The successors of Peter in the Primacy are the Bishops of Rome.
  8. The Pope possesses full and supreme power of jurisdiction over the whole Catholic Church, not merely in matters of faith and morals, but also in Church discipline and in the government of the Church.
  9. The Pope is infallible when he speaks ex cathedra.
  10. By virtue of Divine right, the bishops possess an ordinary power of government over their dioceses.
  11. Christ founded the Catholic Church.
  12. Christ is the Head of the Catholic Church.
  13. In the final decision on doctrines concerning faith and morals, the Catholic Church is infallible.
  14. The primary object of the Infallibility is the formally revealed truths of Christian Doctrine concerning faith and morals.
  15. The totality of the Bishops is infallible, when they, either assembled in general council or scattered over the earth propose a teaching of faith or morals as one to he held by all the faithful.
  16. The Church founded by Christ is unique and one.
  17. The Church founded by Christ is holy.
  18. The Church founded by Christ is catholic.
  19. The Church founded by Christ is apostolic.
  20. Membership of the Catholic Church is necessary for all men for salvation.

VII. The Communion of Saints

  1. It is permissible and profitable to venerate the Saints in Heaven, and to invoke their intercession.
  2. It is permissible and profitable to venerate the relics of the Saints.
  3. It is permissible and profitable to venerate images of the Saints.
  4. The living faithful can come to the assistance of the souls in Purgatory by their intercessions.

VIII. The Sacraments

  1. The Sacraments of the New Covenant contain the grace which they signify, and bestow it on those who do not hinder it.
  2. The Sacraments work ex opere operato, that is, the sacraments operate by the power of the completed sacramental rite.
  3. All the Sacraments of the New Covenant confer sanctifying grace on the receivers.
  4. Three Sacraments, Baptism, Confirmation, and Holy Orders, imprint a character, that is an indelible spiritual mark, and, for this reason, cannot be repeated.
  5. The sacramental character is a spiritual mark imprinted on the soul.
  6. The sacramental character continues at least until the death of the bearer.
  7. All Sacraments of the New Covenant were instituted by Jesus Christ.
  8. There are seven Sacraments of the New Law.
  9. The Sacraments of the New Covenant are necessary for the salvation of mankind.
  10. The validity and efficacy of the Sacrament is independent of the minister’s orthodoxy and state of grace.
  11. For the valid dispensing of the Sacraments it is necessary that the minister accomplish the Sacramental sign in the proper manner.
  12. The minister must have the intention of at least doing what the Church does.
  13. In the case of adult recipients moral worthiness is necessary for the worthy or fruitful reception of the Sacraments.

IX. Baptism

  1. Baptism is a true Sacrament instituted by Jesus Christ.
  2. The materia remota of the Sacrament of Baptism is true and natural water.
  3. Baptism confers the grace of justification.
  4. Baptism effects the remission of all punishments of sin, both eternal and temporal.
  5. Even if it be unworthily received, valid Baptism imprints on the soul of the recipient an indelible spiritual mark, the Baptismal Character, and for this reason, the Sacrament cannot be repeated.
  6. Baptism by water (Baptismus fluminis) is, since the promulgation of the Gospel, necessary for all men without exception for salvation.
  7. Baptism can be validly administered by anyone.
  8. Baptism can be received by any person in the wayfaring state who is not already baptised.
  9. The Baptism of young children is valid and licit.

X. Confirmation

  1. Confirmation is a true Sacrament properly so-called.
  2. Confirmation imprints on the soul an indelible spiritual mark, and for this reason, cannot be repeated.
  3. The ordinary minister of Confirmation is the Bishop alone.

XI. Holy Eucharist

  1. The Body and Blood of Jesus Christ are truly, really, and substantially present in the Eucharist.
  2. Christ becomes present in the Sacrament of the Altar by the transformation of the whole substance of the bread into His Body and of the whole substance of the wine into His Blood.
  3. The accidents of bread and wine continue after the change of the substance.
  4. The Body and Blood of Christ together with His Soul and Divinity and therefore, the whole Christ, are truly present in the Eucharist.
  5. The Whole Christ is present under each of the two Species.
  6. When either consecrated Species is divided, the Whole Christ is present in each part of the Species.
  7. After the Consecration has been completed the Body and Blood are permanently present in the Eucharist.
  8. The Worship of Adoration (latria) must be given to Christ present in the Eucharist.
  9. The Eucharist is a true Sacrament instituted by Jesus Christ.
  10. The matter for the consummation of the Eucharist is bread and wine.
  11. For children before the age of reason, the reception of the Eucharist is not necessary for salvation.
  12. Communion under two forms is not necessary for any individual members of the Faithful, either by reason of Divine precept or as a means of salvation.
  13. The power of consecration resides in a validly consecrated priest only .
  14. The Sacrament of the Eucharist can be validly received by every baptised person in the wayfaring state, including young children.
  15. For the worthy reception of the Eucharist, the state of grace as well as the proper and pious disposition are necessary.
  16. The Holy Mass is a true and proper Sacrifice.
  17. In the Sacrifice of the Mass, Christ’s Sacrifice on the Cross is made present, its memory celebrated, and its saving power applied.
  18. In the Sacrifice of the Mass and in the Sacrifice of the Cross the Sacrificial Gift and the Primary Sacrificing Priest are identical; only the nature and the mode of the offering are different.
  19. The Sacrifice of the Mass is not merely a sacrifice of praise and thanks-giving, but also a sacrifice of expiation and impetration.

XII. Penance

  1. The Church has received from Christ the power of remitting sins committed after Baptism.
  2. By the Church’s Absolution sins are truly and immediately remitted.
  3. The Church’s power to forgive sins extends to all sin without exception.
  4. The exercise of the Church’s power to forgive sins is a judicial act.
  5. The forgiveness of sins which takes place in the Tribunal of Penance is a true and proper Sacrament, which is distinct from the Sacrament of Baptism.
  6. Extra-sacramental justification is effected by perfect sorrow only when it is associated with the desire for the Sacrament (votum sacramenti).
  7. Contrition springing from the motive of fear is a morally good and supernatural act.
  8. The Sacramental confession of sins is ordained by God and is necessary for salvation.
  9. By virtue of Divine ordinance, all grievous sins according to kind and number, as well as those circumstances which alter their nature, are subject to the obligation of confession.
  10. The confession of venial sins is not necessary but is permitted and is useful.
  11. All temporal punishments for sin are not always remitted by God with the guilt of sin and the eternal punishment.
  12. The priest has the right and duty, according to the nature of the sins and the ability of the penitent, to impose salutary and appropriate works for satisfaction.
  13. Extra-sacramental penitential works, such as the performance of voluntary penitential practices and the patient bearing of trials sent by God, possess satisfactory value.
  14. The form of the Sacrament of Penance consists in the words of Absolution.
  15. Absolution, in association with the acts of the penitent, effects the forgiveness of sins.
  16. The principal effect of the Sacrament of Penance is the reconciliation of the sinner with God.
  17. The Sacrament of Penance is necessary for salvation to those who, after Baptism, fall into grievous sin.
  18. The sole possessors of the Church’s Power of Absolution are the bishops and priests.
  19. Absolution given by deacons, clerics or lower rank, and laymen is not Sacramental Absolution.
  20. The Sacrament of Penance can be received by any baptised person who, after Baptism, has committed a grievous or a venial sin.
  21. The Church possesses the power to grant Indulgences.
  22. The use of Indulgences is useful and salutary to the Faithful.

XIII. Holy Orders

  1. Holy Order is a true and proper Sacrament which was instituted by Jesus Christ.
  2. The consecration of priests is a Sacrament.
  3. Bishops are superior to priests.
  4. The Sacrament of Order confers sanctifying grace on the recipient.
  5. The Sacrament of Order imprints a character on the recipient.
  6. The Sacrament of Order confers a permanent spiritual power on the recipient.
  7. The ordinary dispenser of all grades of Order, both the sacramental and the non-sacramental, is the validly consecrated Bishop alone.

XIV. Matrimony

  1. Marriage is a true and proper Sacrament instituted by God.
  2. From the sacramental contract of marriage emerges the Bond of Marriage, which binds both marriage partners to a lifelong indivisible community of life.
  3. The Sacrament of Matrimony bestows sanctifying grace on the contracting parties.

XV. Anointing of the sick

  1. Extreme Unction or anointing of the sick is a true and proper Sacrament instituted by Jesus Christ.
  2. The remote matter of Extreme Unction is oil.
  3. The form consists in the prayer of the priest for the sick person which accomplishes the anointing.
  4. Extreme Unction gives the sick person sanctifying grace in order to arouse and strengthen him.
  5. Extreme Unction effects the remission of grievous sins still remaining and of venial sins.
  6. Extreme Unction sometimes effects the restoration of bodily health, if this be of spiritual advantage.
  7. Only Bishops and priests can validly administer Extreme Unction.
  8. Extreme Unction can be received only by the Faithful who are seriously ill.

XVI. The Last Things

  1. In the present order of salvation, death is a punishment for sin.
  2. All human beings subject to original sin are subject to the law of death.
  3. The souls of the just which in the moment of death are free from all guilt of sin and punishment for sin, enter into Heaven.
  4. The bliss of Heaven lasts for all eternity.
  5. The degree of perfection of the Beatific Vision granted to the just is proportioned to each one’s merit.
  6. The souls of those who die in the condition of personal grievous sin enter Hell.
  7. The punishment of Hell lasts for all eternity.
  8. The souls of the just which, in the moment of death, are burdened with venial sins or temporal punishment due to sins, enter purgatory.
  9. At the end of the world Christ will come again in glory to pronounce judgement.
  10. All the dead will rise again on the last day with their bodies.
  11. The dead will rise again with the same bodies as they had on earth.
  12. Christ, on His second coming, will judge all men.

Tentang Makna Pekerjaan Manusia

2

Demikianlah yang diajarkan oleh Katekismus Gereja Katolik tentang pekerjaan ataupun karya manusia:

KGK 378 …. Pekerjaan itu untuk pria dan wanita bukan kerja paksa (Bdk. Kej 3:17-19), melainkan kerja sama dengan Allah demi penyempurnaan ciptaan yang kelihatan.

KGK 901    Kaum awam sebagai “orang yang menyerahkan diri kepada Kristus dan diurapi dengan Roh Kudus, secara ajaib dipanggil dan disiapkan, supaya secara makin limpah menghasilkan buah-buah Roh dalam diri mereka. Sebab semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka, hidup mereka selaku suami isteri dan dalam keluarga, jerih payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi kurban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Kurban itu dalam perayaan Ekaristi, bersama dengan persembahan tubuh Tuhan, penuh khidmat dipersembahkan kepada Bapa. Demikianlah para awam pun sebagai penyembah Allah, yang di mana-mana hidup dengan suci, membaktikan dunia kepada Allah” (LG 34, Bdk. LG 10).

KGK 1609    Dalam kerahiman-Nya Allah tidak meninggalkan manusia berdosa. Siksa-siksa yang diakibatkan oleh dosa itu, sakit waktu melahirkan, (Bdk. Kej 3:16) pekerjaan “dengan berpeluh” (Kej 3:19), adalah juga obat yang membatasi akibat-akibat buruk dari dosa

KGK 1914    Keterlibatan ini pertama-tama berarti bahwa manusia berkarya di dalam bidang-bidang untuk mana ia menerima tanggung jawab pribadi. Dengan memperhatikan pendidikan keluarganya dan bekerja dengan saksama, seseorang menyumbang demi kesejahteraan orang lain dan kesejahteraan masyarakat (Bdk. CA 43).

KGK 2427    Karya manusia adalah tindakan langsung dari manusia yang diciptakan menurut citra Allah. Mereka ini dipanggil, supaya bersama-sama melanjutkan karya penciptaan, kalau mereka menguasai bumi (Bdk. Kej 1:28; GS 34; CA 31). Dengan demikian pekerjaan adalah satu kewajiban: “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes 3:10, Bdk. 1 Tes 4:11). Pekerjaan menghargai anugerah-anugerah dan talenta-talenta yang diterima dari Pencipta. Tetapi ia juga dapat menyelamatkan. Apabila manusia dalam persatuan dengan Yesus, Tukang kayu dari Nasaret dan Yang Tersalib di Golgota, menerima jerih payah pekerjaan (Bdk. Kej 3:14-19), ia boleh dikatakan bekerja bersama dengan Putera Allah dalam karya penebusan-Nya. Ia membuktikan diri sebagai murid Kristus, kalau ia, dalam kegiatannya yang harus ia laksanakan hari demi hari, memikul salibnya (Bdk. LE 27). Pekerjaan dapat menjadi sarana pengudusan dan dapat meresapi kenyataan duniawi dengan semangat Kristus.

KGK 1368    Ekaristi adalah juga kurban Gereja. Gereja, Tubuh Kristus, mengambil bagian dalam kurban Kepalanya. Bersama Dia ia sendiri dipersembahkan seluruhnya. Ia mempersatukan diri dengan doa syafaat-Nya kepada Bapa untuk semua manusia. Di dalam Ekaristi, kurban Kristus juga menjadi kurban anggota-anggota tubuh-Nya. Kehidupan umat beriman, pujian, kesengsaraan, doa dan karyanya dipersatukan dengan yang dimiliki Kristus dan dengan penyerahan diri-Nya secara menyeluruh, sehingga mendapat satu nilai baru. Kurban Kristus yang hadir di atas altar memberi kemungkinan kepada semua generasi Kristen, untuk bersatu dengan kurban-Nya….

KGK 2428    Sewaktu bekerja, manusia melatih dan melaksanakan sebagian dari kemampuan kodratinya. Nilai utama dari pekerjaan itu datang dari manusia sendiri yang menciptakannya dan yang menerima keuntungannya. Pekerjaan memang untuk manusia, dan bukan manusia untuk pekerjaan (Bdk. LE 6). Tiap orang harus dapat menghasilkan melalui pekerjaan itu sarana-sarana untuk memelihara diri sendiri dan keluarganya dan supaya ia dapat menyumbang bagi persekutuan manusia.

Dengan demikian, pekerjaan manusia dimaksudkan Tuhan untuk menguduskan manusia. Pekerjaan atau karya manusia tidak dapat dipisahkan dari manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah, sebab Allah melibatkan manusia untuk meneruskan karya penciptaan-Nya, demi kesejahteraannya dan sesamanya. Pekerjaan yang dilakukan dalam Roh Kudus, dan dilakukan dengan sabar, dapat menjadi kurban rohani, yang jika dipersatukan dengan kurban Kristus -dalam Ekaristi kudus- dapat menjadi sarana untuk menguduskan dirinya dan dan sesamanya.

Ekaristi adalah Komuni Kudus

33

“Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”

“Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini, ingin kukenang selalu

Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu
Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu….”

Lagu Iwan Fals ini mungkin akrab di telinga kita. Mungkin karena begitu tepat liriknya mewakili perasaan kita, maka lagu ini begitu populer dan mudah diingat di luar kepala. Ya, memang, kita ingin selalu dekat dengan orang yang kita kasihi.

Inilah yang juga menjadi kehendak Tuhan Yesus bagi kita umat-Nya yang dikasihi-Nya. Yesus ingin selalu hadir di tengah kita, dekat dengan kita, bahkan menjadi satu dengan kita. Kristus menghendaki agar kita selalu mengenang-Nya, dengan mengingat kasih-Nya yang terbesar yang diberikan kepada kita, saat Ia memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Pengorbanan-Nya yang tak ternilai harganya ini menjadi tanda cinta-Nya yang tak terbatas kepada Gereja-Nya, yaitu kita semua, anggota- anggota Tubuh-Nya. Oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Kristus menghadirkan kembali kurban ini di dalam Ekaristi, untuk maksud yang mulia ini: supaya kita dapat dipersatukan dengan Dia dan mengambil bagian di dalam kehidupan-Nya sendiri; dan dengan demikian sedikit demi sedikit, kita diubah untuk menjadi lebih serupa dengan-Nya.

Sakramen Ekaristi adalah sakramen cinta kasih

Maka, Ekaristi yang mempersatukan kita dengan Kristus, pertama- tama adalah sakramen cinta kasih Allah. Sebab Ekaristi menyatakan ‘kasih yang lebih besar’ yang disebutkan dalam Injil Yohanes, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). ((lih. Paus Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis, 1)) Kristus begitu mengasihi kita sahabat-sahabat-Nya, sehingga Ia rela menyerahkan hidup-Nya sendiri, agar kita dapat hidup di dalam Dia. Dalam Ekaristi inilah, kita tidak hanya memperingati kasih pengorbanan Kristus, tetapi juga dapat mengalami kasih-Nya yang tidak terbatas itu, saat kita menyambut Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya ke dalam tubuh, darah, jiwa dan kemanusiaan kita. Begitu besar dan dalamnya anugerah ini, sehingga layaklah kita menyambutnya dengan ucapan syukur kepada Allah. Dan memang inilah arti kata ‘Ekaristi’, yaitu: ucapan syukur kepada Allah. ((lih. KGK 1328)) Betapa kita sungguh bersyukur, karena kasih-Nya yang mempersatukan kita dengan Dia.

Oleh karena kasih Allah-lah yang pertama-tama kita rayakan dalam Ekaristi, maka Gereja mengajarkan bahwa sakramen Ekaristi adalah “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paska, di mana di dalamnya Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan.” ((KGK 1323))

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”

Kristus menggambarkan persatuan antara kita dengan-Nya sebagai persatuan antara ranting-ranting dengan pokok anggur.

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat bertumbuh dari dirinya sendiri, demikian juga kamu tidak dapat bertumbuh jika kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku, ia akan berbuah banyak. Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-5)

Pernahkah kita renungkan, apakah yang dimaksud dengan “tinggal di dalam” Tuhan Yesus? Mungkin banyak orang mengartikannya, kita tinggal dalam Yesus kalau kita rajin berdoa, membaca Sabda Tuhan, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ya, semua itu memang mendekatkan kita kepada Tuhan, dan membuat kita hidup di dalam ajaran-Nya.

Namun demikian, secara khusus, Tuhan Yesus menjelaskan secara eksplisit tentang apakah yang dimaksudkan-Nya dengan “tinggal di dalam”-Nya. Kata asli “tinggal” menurut bahasa Yunani adalah μένω, ménō; dan kata yang sama ini digunakan oleh Yesus sewaktu mengajarkan tentang Roti Hidup. Yesus bersabda:

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:56-57)

Melalui ayat ini Kristus menjelaskan cara yang dikehendaki-Nya, agar Ia dapat tinggal di dalam kita, yaitu dengan kita makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Saat Yesus mengajarkan hal ini, banyak orang yang tidak percaya, atau lebih tepatnya, sulit mempercayai ajaran-Nya, sehingga mereka meninggalkan Dia. Namun Yesus tidak mengubah ajaran-Nya, malah Ia bertanya kepada para rasul-Nya, kalau-kalau mereka juga mau pergi meninggalkan Dia. Syukurlah, Rasul Petrus yang mewakili para rasul, menjawab dengan iman, bahwa mereka tetap percaya kepada-Nya, sebab Kristuslah sang empunya sabda kebenaran (lih. Yoh 6:66-69). Iman para rasul inilah yang dilestarikan terus oleh Gereja Katolik,  secara khusus dalam perayaan Ekaristi, yang merayakan kehadiran Kristus di dalam Sabda-Nya dan di dalam perjamuan kudus-Nya.

Komuni Kudus mempersatukan kita dengan Kristus

Sebagaimana perjamuan mengakrabkan seseorang dengan yang lain, demikianlah saat kita menerima Kristus dalam Ekaristi, kita menjadi akrab dan digabungkan dengan Kristus. Perjamuan ini menjadi kenangan yang hidup akan kasih Tuhan Yesus yang demikian besar kepada kita, sampai Ia mau wafat bagi kita. Kristus memandang kita sebagai pemberian Allah Bapa kepada-Nya, sehingga Ia mau selalu tinggal bersama-sama dengan kita (lih. Yoh 17:24). Maka Yesus mengaruniakan Ekaristi kepada kita Gereja-Nya, untuk mempersatukan kita dengan Dia ((lih. KGK 1391)), sampai kepada akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Karena di dalam Ekaristi terkandunglah keseluruhan harta rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, maka Ekaristi disebut sebagai ‘sumber dan puncak kehidupan Kristiani’. ((KGK 1324)) Demikian juga, karena di dalam Kristus dan misteri Paska-Nya, Allah menyatakan puncak karya keselamatan-Nya, maka perayaan Ekaristi yang menghadirkan kembali misteri Paska Kristus itu secara sakramental, juga merupakan puncak karya Allah untuk menguduskan dunia dan puncak penyembahan umat beriman kepada Kristus, dan melalui Kristus, kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus. ((lih. KGK 1325))

Untuk menangkap kedalaman makna persatuan dan kebersamaan ini, kita perlu merenungkan kedekatan kita dengan orang- orang yang kita kasihi di dunia ini; mungkin saat sebagai orang tua, kita mendekap anak kita, atau kebersamaan antara suami dan istri, atau kedekatan dengan seorang sahabat. Ekaristi adalah persatuan yang melampaui semuanya ini, sebab Ekaristi adalah persatuan dengan Kristus dan melalui Kristus, kita disatukan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Persatuan kita dengan Kristus inilah yang disebut sebagai “Komuni kudus”, yang menjadikan kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya ((lih. Katekismus Gereja Katolik/ KGK 1331)) dan dengan demikian, juga mengambil bagian di dalam hidup ilahi-Nya. St. Ignatius dari Antiokhia mengatakan dengan indahnya tentang persatuan kita dengan Kristus ini, “Pada pertemuan-pertemuan ini [perayaan Ekaristi], kamu … memecah roti yang satu, yang adalah obat kekekalan, dan penawar racun yang menyingkirkan kematian, namun menghasilkan hidup di dalam kesatuan dengan Yesus Kristus.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Ephesians, n.20)) Ya, persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus, memperteguh persatuan kita dengan Kristus, mengampuni dosa-dosa ringan yang kita lakukan, dan melindungi kita dari dosa berat, sebab dengan menerima sakramen ini, ikatan kasih antara kita dan Kristus diperkuat, dan dengan demikian kesatuan Gereja juga diperteguh. ((lih. KGK 1416))

Ekaristi mempersatukan kita dengan sesama anggota Kristus

Selain mempersatukan kita dengan Kristus, Ekaristi juga mempersatukan kita dengan sesama anggota Tubuh Kristus. Oleh karena kita menerima Kristus yang satu dan sama, kita dipersatukan di dalam Dia yang adalah Sang Kepala kita (lih. Kol 1:18; Ef 5:23). Rasul Paulus mengajarkan, “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1Kor 10:15-16). Ekaristi diberikan sebagai kurban Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan mengambil bagian di dalamnya, kita dapat bersatu dengan Kristus dan dengan sesama anggota-Nya menjadi satu Tubuh. ((Lih. KGK 1329))

Kita manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi semakin menyerupai Dia, yaitu supaya semakin dapat mengasihi; sebab Tuhan adalah Kasih (1 Yoh 4:8,16). Kasih itu mempersatukan, oleh karena itu sebagai manusia kita menginginkan persatuan, baik dengan Tuhan, maupun dengan sesama kita. Kristus- juga mempunyai kerinduan yang sama: bahwa Ia ingin tinggal bersama semua orang yang percaya kepada-Nya (lih. Yoh 6:56), namun juga Ia ingin agar semua yang percaya kepada-Nya menjadi satu, “Aku berdoa ….juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku …. supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21). Maka, persatuan kita dengan Kristus, sepantasnya juga membawa persatuan kita dengan semua orang yang percaya kepada-Nya; sebab hal ini merupakan kehendak Kristus sendiri.

Karena Kristus hanya satu dan Tubuh-Nya juga hanya satu, maka satu jugalah kita semua anggota-anggota-Nya, baik Gereja yang masih berziarah di dunia ini, Gereja yang sudah berjaya di surga, maupun Gereja yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Karena semua anggota- anggota Kristus dipersatukan oleh kasih Kristus yang melampaui maut (lih. Rom 8:38-39). Itulah sebabnya di dalam Komuni kudus ini kita mengingat juga persekutuan dengan para kudus di surga, terutama Bunda Maria; ((KGK 1370)) dan kita dapat mengajukan intensi doa permohonan bagi saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, yaitu mereka yang ‘telah meninggal di dalam Kristus namun yang belum sepenuhnya dimurnikan’ sehingga mereka dapat memasuki terang dan damai Kristus ((KGK 1371)) yang kekal dalam kerajaan Surga.

Komuni kudus memelihara hidup ilahi

Persatuan kita dengan Kristus dalam Komuni kudus, “melindungi, menambah, dan membaharui pertumbuhan kehidupan rahmat yang diterima dalam Pembaptisan.” ((KGK 1392)) Kita mengetahui bahwa satu berkat tak ternilai dari Pembaptisan adalah: melaluinya kita memperoleh hidup ilahi dan diangkat menjadi anak-anak Allah. ((lih. KGK 1265:  Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Bdk. Gal 4:5-7); ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (Bdk. 1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:19).)) Namun seperti halnya dalam kehidupan jasmani kita memerlukan makanan untuk dapat bertahan hidup, demikian pula, dalam kehidupan rohani. Kita memerlukan makanan rohani agar dapat tetap hidup dan bertumbuh secara rohani. Makanan rohani ini adalah Sabda Allah (lih. Mat 4:4) dan ‘Roti Hidup’/ Ekaristi (Yoh 6:53-58), yang keduanya kita terima dalam perayaan Ekaristi.

Demikianlah Sabda Tuhan Yesus:

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4)

“Akulah roti hidup yang telah turun dari Surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya….. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51, 53-58)

Komuni kudus bukti kasih Allah dan pengorbanan-Nya

Maka di atas segalanya, Komuni kudus merupakan bukti cinta kasih Allah. Mungkin ada baiknya kita memeriksa diri sendiri, akan apakah yang ada di pikiran kita pada saat kita melihat hosti yang diangkat oleh imam, saat ia, in persona Christi, mengucapkan perkataan konsekrasi, “Inilah Tubuhku yang dikurbankan bagimu….” (lih. Luk 22:19; 1Kor 11:24). Sesungguhnya, tak ada kata yang mampu melukiskan, betapa dalamnya misteri kasih Allah yang tiada terbatas ini. Kristus yang adalah Allah, telah mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia merendahkan diri-Nya, sampai wafat di kayu salib (lih. Flp 2:7-8). Ia membuktikan kasih-Nya yang terbesar, dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, sahabat-sahabat-Nya (lih. Yoh 15:13). Kini setelah kebangkitan-Nya, Ia masih terus merendahkan diri-Nya, sampai mau hadir di dalam sepotong roti, agar setiap orang yang tergabung di dalam Gereja-Nya, bahkan seorang anak kecil sekalipun, dapat menyambut-Nya, tanpa perlu merasa takut.

Selain kasih dan kerendahan hati, Komuni kudus mengajarkan kepada kita makna pengorbanan. Dengan melihat teladan pemberian diri Kristus kepada kita, maka kita juga didorong untuk memberikan diri kita kepada orang lain, terutama mereka yang kecil, sakit dan miskin. Kitapun dipanggil untuk mengasihi dan mengampuni sesama kita, karena Kristus lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Korban Kristus menjadi saksi yang nyata bahwa pengampunan adalah sesuatu yang tidak mustahil dilakukan. Jika kita mau berkorban untuk mengampuni sesama, kita akan dapat memperoleh buahnya, yaitu kasih yang memulihkan dan mempersatukan. Itulah sebabnya keluarga Kristiani, termasuk di dalamnya pasangan suami istri, perlu menimba kekuatan dari Ekaristi; sebab kesatuan antara mereka dengan Kristus dalam Komuni kudus akan memampukan mereka untuk terus saling mengasihi dan mengampuni; sehingga kesatuan kasih mereka selalu dikuatkan.

Komuni kudus = ‘preview‘ persatuan kekal kita dengan Allah di surga kelak

Karena tujuan akhir kita di Surga kelak adalah persatuan dengan Tuhan, maka Komuni kudus yang kita terima di dunia ini adalah semacam kenyataan yang akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak. Di Surga memang kita tidak perlu lagi menerima Komuni dalam rupa hosti; sebab pada saat itu kita telah memandang Allah sebagaimana adanya Dia (lih. 1 Yoh 3:2), sehingga aneka gambaran ataupun simbol tidak lagi diperlukan. Di Surgalah tercapai kesempurnaan di mana kita dapat sepenuhnya bersatu dengan Allah yang telah menciptakan kita manusia dalam kesatuan dengan keseluruhan umat manusia.

Maka Ekaristi menuntun kita semua untuk mencapai tujuan akhir, di mana persekutuan dengan Allah dan sesama mencapai kesatuan yang sempurna, yaitu “keadaan persatuan dengan Kristus, yang pada saat yang sama membuatnya mungkin untuk masuk ke dalam kesatuan yang hidup dengan Allah sendiri, sehingga Tuhan dapat menjadi semua di dalam semua (1Kor 15:28).” ((Joseph Cardinal Ratzinger (Pope Benedictus XVI), Called to Communion, (San Francisco: Ignatius Press, 1991), p. 33)) Katekismus mengajarkan bahwa dengan Komuni kudus kita menerima rahmat ilahi, dan dengan demikian Ekaristi merupakan antisipasi kemuliaan surgawi. ((lih. KGK 1402)) Dengan merayakan Ekaristi, kita menantikan dengan rindu kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus, untuk mengambil bagian di dalam kemuliaan-Nya ((lih. KGK 1040)). “Setiap kali misteri ini dirayakan, terlaksanalah karya penebusan kita (LG 3) dan kita memecahkan “satu roti yang merupakan obat kebakaan, penangkal kematian, dan santapan yang membuat kita hidup selama-lamanya dalam Yesus Kristus” (Ignasius dari Antiokia, Eph. 20,2).” ((KGK 1405))

Betapa perlunya kita mengingat hal ini, setiap kali kita menerima Komuni Kudus: bahwa dengan menerima Komuni ini kita menerima ‘obat rohani’ yang menghantar kita ke Surga.

Bagaimana agar kita dapat semakin menghayati Komuni kudus?

Mengingat begitu dalamnya makna Komuni kudus, maka kita perlu mengetahui sedikitnya tiga hal, agar kita dapat semakin menghayatinya:

1. Mempersiapkan diri sebelumnya

Persiapan diri ini yang dimaksud di sini adalah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa 1 jam sebelum menyambut Ekaristi, memeriksa batin: jika dalam keadaan dosa berat, melakukan pengakuan dosa dalam sakramen Tobat sebelum menerima Ekaristi. ((lih. KHK kan 919, 1; KGK 1385)) Selanjutnya, penting agar kita masuk dalam suasana doa, mempersiapkan batin untuk masuk dalam hadirat Tuhan dan menyambut kehadiran-Nya dalam Komuni Kudus.  Maka mengimani dengan sungguh akan kehadiran Yesus dalam rupa roti dan anggur setelah konsekrasi, merupakan prasyarat utama dalam persiapan batin.

Sikap batin yang baik ini juga diwujudkan dengan tidak ‘ngobrol’, tidak menggunakan handphone ataupun ber-BBM, baik sebelum ataupun pada saat perayaan Ekaristi berlangsung. Sebab jika demikian dapat dipastikan bahwa hati kita tidak sepenuhnya terarah kepada Tuhan.

2. Bersikap aktif: tidak hanya menerima tapi juga memberi kepada Tuhan

St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa penyembahan yang sempurna mencakup dua hal, yaitu menerima dan memberikan berkat-berkat ilahi (lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theology, III, q.63, a.2.). Dalam perayaan Ekaristi, kita seharusnya tidak hanya menonton atau sekedar menerima, tetapi ikut mengambil bagian di dalam peran Kristus sebagai Imam Agung dan Kurban tersebut. Caranya adalah dengan turut mempersembahkan diri kita, beserta ucapan syukur, suka duka, pergumulan, dan pengharapan, untuk kita persatukan dengan kurban Kristus ((lih. Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, (Sophia Institute Press, New Hampshire, 1960), p.73)). Kita membawa segala kurban persembahan kepada Tuhan terutama pada saat konsekrasi -saat roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Saat itu kurban kita disatukan dengan kurban Yesus. Kristus, satu-satunya Imam Agung dan Kurban yang sempurna, menyempurnakan segala penyembahan kita. Partisipasi kita secara aktif dalam kurban Kristus ini bukan saja dari segi ikut menyanyi, atau membaca segala doa yang tertulis, melainkan terutama partisipasi mengangkat hati dan jiwa untuk menyembah dan memuji Tuhan, dan meresapkan di dalam hati, segala perkataan doa yang diucapkan ataupun dinyanyikan.

3. Jangan memusatkan perhatian pada diri sendiri tetapi pada Kristus

Untuk menghayati makna Komuni kudus, kita harus memusatkan perhatian kepada Kristus, dan kepada apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, yaitu: karena kasih-Nya kepada kita, Kristus rela wafat untuk menghapus dosa-dosa kita. Dengan memusatkan hati kepada Kristus, kita dapat melihat bahwa segala pergumulan kita tidak sebanding dengan penderitaan-Nya. Kitapun dikuatkan di dalam pengharapan, karena Roh Kudus yang sama, yang telah membangkitkan Kristus dapat pula membangkitkan kita dari dosa dan segala kesulitan kita.

Sungguh, kasih dan pengorbanan Kristus merupakan sumber kekuatan bagi kita untuk menjalani kehidupan ini. Karena itulah Gereja mengajarkan dalam The Enchiridion of Indulgences (Buku ketentuan mengenai Indulgensi) yang dikeluarkan oleh Vatikan tanggal 29 Juni 1968 (silakan klik), bahwa dengan merenungkan pengorbanan Yesus dan luka-luka-Nya di kayu salib sebagaimana dijabarkan dalam doa yang sederhana berikut ini, kita dapat memperoleh indulgensi. Demikianlah doanya yang mengambil dasar dari kitab Mazmur 22: 17-18:

Lihatlah,  Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, En ego, o bone et dulcissime Iesu.

“Lihatlah kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan jiwa yang berkobar aku berdoa dan memohon kepada-Mu agar menanamkan di dalam hatiku, citarasa yang hidup akan iman, pengharapan dan kasih, pertobatan yang sungguh dari dosa-dosaku, dan kehendak yang kuat untuk memperbaikinya. Dan dengan kasih dan dukacita yang mendalam, aku merenungkan kelima luka-luka-Mu, yang terpampang di hadapanku, yang tentangnya Raja Daud, nabi-Mu, telah menubuatkan perkataan ini yang keluar dari mulut-Mu, ya Tuhan Yesus: “Mereka telah menusuk tangan-Ku dan kaki-Ku; mereka telah menghitung semua tulang-Ku….”

Amin.

Indulgensi Penuh dapat diperoleh dengan mengucapkan doa ini pada hari Jumat di masa Prapaska dan setiap hari di dalam dua minggu sebelum Paskah (masa Passiontide), ketika doa ini diucapkan setelah Komuni di hadapan gambar/ image Kristus yang tersalib. Pendarasan doa ini pada hari-hari lainnya, memperoleh indulgensi sebagian. Tentang persyaratan agar memperoleh indulgensi penuh adalah: 1) mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa; 2) menerima Komuni kudus; 3) berdoa bagi intensi Bapa Paus; 4) tidak ada keterikatan terhadap dosa, bahkan dosa ringan. Selanjutnya tentang Indulgensi, silakan klik di sini; dan tentang Bagaimana Agar Memperoleh Indulgensi, klik di sini.

Dengan mendoakan doa yang singkat di atas, kita diundang untuk meresapkan di dalam hati, bahwa Kristus telah memilih untuk menderita dan menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada kita. Betapa kita harus bersyukur atas pengorbanan-Nya itu, yang menyelamatkan kita. Dengan melihat teladan kasih Kristus ini, semoga kita semakin mampu menghindari dosa, dan semakin terdorong untuk lebih mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan melihat pengorbanan-Nya ini kita dikuatkan untuk juga mau berkorban dalam hidup kita sehari-hari, entah dalam lingkungan keluarga, pekerjaan maupun pergaulan kita dengan sesama.

Di samping itu, perhatian dan penghormatan kepada Kristus mendorong kita untuk berpakaian yang sopan dan layak ke gereja dan untuk sungguh berdoa pada saat kita mengucapkan doa-doa dalam perayaan Ekaristi. Kita harus mengupayakan agar jangan sampai kata-kata doa yang kita ucapkan merupakan kata-kata yang kosong, yang hanya di mulut saja, tetapi tidak sungguh keluar dari hati. Jangan sampai pikiran kita dipenuhi oleh banyak hal lain kecuali Tuhan sendiri. Kita perlu memohon rahmat Tuhan untuk hal ini, namun juga kita harus mengusahakannya, agar dengan sikap batin yang baik, kita dapat menerima buah-buah sakramen Ekaristi ini tanpa sia- sia. ((lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, 11))

Kesimpulan

Ekaristi merupakan bukti nyata kasih Kristus yang terbesar, sebab melaluinya Kristus memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sahabat-sahabat-Nya. Kasih Kristus ini demikian sempurna, sehingga tidak saja membawa kita mendekat kepada-Nya, namun lebih dari itu, mempersatukan kita dengan Dia. Maka pertama-tama, sakramen Ekaristi adalah sakramen cinta kasih Allah, yang diberikan-Nya agar Ia dapat bersatu dengan kita dan menyertai kita, Gereja-Nya. Oleh karena persatuan inilah, Ekaristi juga disebut sebagai Komuni Kudus. Komuni Kudus adalah cara yang dipilih oleh Tuhan Yesus untuk tinggal di dalam kita dan kita di dalam Dia. Dengan menyambut Komuni Kudus, kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah Kristus dan kita disatukan dengan Kristus dan dengan semua anggota-Nya ((lih. KGK 1331)). Sesuai dengan janji Kristus sendiri, dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus ini, kita memperoleh hidup yang kekal (Yoh 6:54). Dengan digabungkannya kita dengan Kristus, kita memperoleh kekuatan baru untuk mengasihi dan mengampuni, sebagaimana Ia telah lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Oleh rahmat-Nya dalam Ekaristi, kita diubah untuk menjadi semakin serupa dengan Dia dalam hal mengasihi. Dalam kasih inilah kesatuan kita dengan Kristus dikukuhkan. Kesatuan antara kita dengan Kristus ini akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak, saat Allah menjadi semua di dalam semua (lih. 1Kor 15:28).

Menyadari makna Komuni Kudus ini, mari kita tanyakan kepada diri kita masing- masing, sudahkah kita cukup mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya? Mari kita berdoa memohon rahmat Tuhan, agar mata hati kita dicelikkan dan hati kita dikobarkan dalam setiap perayaan Ekaristi, sehingga kita dapat mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh kedua murid Yesus dalam perjalanan ke Emaus: “Mane nobiscum Domine, Tinggallah bersama dengan kami, ya Tuhan Yesus…” (lih. Luk 24:29).

 

Pertanyaan Permenungan:

  1. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus memilih Komuni Kudus untuk bersatu dengan umat-Nya?
  2. Mengapa Ekaristi disebut sebagai ‘sumber dan puncak kehidupan Kristiani’?
  3. Apakah efek dari Komuni Kudus?
  4. Bagaimana Komuni Kudus menjadi bukti kasih Allah dan pengorbanan-Nya?
  5. Bagaimana cara kita untuk semakin menghayati Komuni Kudus?
  6. Doa seperti apakah yang baik untuk didoakan setelah menerima Komuni Kudus?
  7. Apakah hubungan antara Komuni Kudus dengan apa yang terjadi di Sorga?

Bagaimana Sikap Kita di dalam Liturgi?

6

Jika kita secara pribadi diundang pesta oleh Bapak Presiden, tentu kita akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kita akan berpakaian yang sopan, bersikap yang pantas, dan tidak datang terlambat. Mari kita memeriksa diri, sudahkah kita bersikap demikian di dalam ‘pertemuan’ kita dengan Tuhan di dalam liturgi, khususnya dalam perayaan Ekaristi? Karena Tuhan jauh lebih mulia dan penting daripada Presiden, seharusnya persiapan kita jauh lebih baik daripada persiapan bertemu dengan Presiden.

Langkah #1: Mempersiapkan diri sebelumnya dan mengarahkan hati sewaktu mengikuti liturgi

Untuk menghayati liturgi, kita harus sungguh mempersiapkan diri sebelum mengambil bagian di dalamnya. Contohnya ialah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa (1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum menerima sakramen Pembaptisan dan Penguatan), memeriksa batin, jika dalam keadaan dosa berat, melakukan pengakuan dosa dalam sakramen Tobat sebelum menerima Ekaristi.

Lalu, sewaktu mengikuti liturgi, kitapun harus selalu mempunyai sikap hati yang benar. Jika terjadi ‘pelanturan’, segeralah kembali mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita harus mengarahkan akal budi kita untuk menerima dengan iman bahwa Yesus sendirilah yang bekerja melalui liturgi, dan Roh KudusNya yang menghidupkan kata-kata doa dan Sabda Tuhan di dalam liturgi, sehingga menguduskan tanda-tanda lahiriah yang dipergunakan di dalamnya untuk mendatangkan rahmat Tuhan.

Sikap hati yang baik ini juga diwujudkan dengan berpakaian sopan, tidak ‘ngobrol’, dan tidak menggunakan handphone ataupun ber-BBM di gereja. Sebab jika demikian dapat dipastikan bahwa hati kita tidak sepenuhnya terarah pada Tuhan.

Langkah #2: Bersikap aktif: tidak hanya menerima tapi juga memberi kepada Tuhan

St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa penyembahan yang sempurna mencakup dua hal, yaitu menerima dan memberikan berkat-berkat ilahi (lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theology, III, q.63, a.2.). Di dalam liturgi, penyembahan kepada Tuhan mencapai puncaknya, saat Kristus bersama dengan kita mempersembahkan diri kepada Bapa dan pada saat kita menerima buah penebusan Kristus melalui Misteri Paska-Nya. Puncak liturgi adalah Ekaristi, di mana di dalamnya Kristus menjadi Imam Agung, dan sekaligus Kurban penebus dosa. (KGK 1348, 1364,1365)

Dalam perayaan Ekaristi, kita seharusnya tidak hanya menonton atau sekedar menerima, tetapi ikut mengambil bagian di dalam peran Kristus sebagai Imam Agung dan Kurban tersebut. Caranya adalah dengan turut mempersembahkan diri kita, beserta ucapan syukur, suka duka, pergumulan, dan pengharapan, untuk kita persatukan dengan kurban Kristus (lih. Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, (Sophia Institute Press, New Hampshire, 1960), p.73). Setiap kali menghadiri misa, kita bawa segala kurban persembahan kita untuk diangkat ke hadirat Tuhan, terutama pada saat konsekrasi -saat roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Saat itu kurban kita disatukan dengan kurban Yesus. Liturgi menjadi penyembahan yang sempurna, sebab Kristus, satu-satunya Imam Agung dan Kurban yang sempurna, menyempurnakan segala penyembahan kita. Bersama Yesus di dalam liturgi, kita akan dapat menyembah Allah Bapa di dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24), karena di dalam liturgi Roh Kudus bekerja menghadirkan Kristus, Sang Kebenaran itu sendiri.

Kehadiran Yesus tidak hanya terjadi di dalam Ekaristi, tetapi juga di dalam liturgi yang lain, yaitu Pembaptisan, Penguatan, Pengakuan Dosa, Perkawinan, Tahbisan suci, dan Pengurapan orang sakit. Dalam liturgi tersebut, kita harus berusaha untuk aktif berpartisipasi agar dapat sungguh menghayati maknanya. Partisipasi aktif ini bukan saja dari segi ikut menyanyi, atau membaca segala doa yang tertulis, melainkan terutama partisipasi mengangkat hati dan jiwa untuk menyembah dan memuji Tuhan, dan meresapkan segala perkataan yang diucapkan di dalam hati.

Langkah #3: Jangan memusatkan perhatian pada diri sendiri tetapi pada Kristus

Jadi, untuk menghayati liturgi, kita harus memusatkan perhatian kepada Kristus, dan kepada apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, yaitu: karena kasih-Nya kepada kita, Kristus rela wafat untuk menghapus dosa-dosa kita. Yesus sendiri hadir di dalam liturgi dan berbicara kepada kita. Dengan berfokus kepada Kristus, kita akan memperoleh kekuatan baru, sebab segala pergumulan kita akan nampak tak sebanding dengan penderitaan-Nya. Kitapun akan dikuatkan di dalam pengharapan karena Roh Kudus yang sama, yang telah membangkitkan Kristus dapat pula membangkitkan kita dari dosa dan segala kesulitan kita.

Jika kita memusatkan hati dan pikiran kepada Kristus, maka kita tidak akan terlalu terpengaruh dengan musik atau koor yang kurang sempurna, khotbah yang kurang bersemangat, hawa panas ataupun banyak nyamuk -walaupun tentu saja, idealnya semua itu diperbaiki ataupun diatasi. Kita bahkan dapat mempersembahkan kesetiaan kita di samping segala ketidaksempurnaan itu sebagai kurban yang murni bagi Tuhan. Langkah berikutnya adalah, apa yang dapat kita lakukan untuk turut membantu memperbaiki kondisi tersebut. Inilah salah satu cara menghasilkan ‘buah’ dari rahmat Tuhan yang kita terima melalui liturgi.

Perhatian kepada Kristus akan mengarahkan kita untuk bersikap dan berpakaian yang pantas di gereja. Kita tidak akan berpakaian minim seperti dengan rok mini, celana pendek ataupun celana leggings, baju tanpa lengan atau bahkan tank top, dengan potongan leher rendah dan model yang terbuka. Penghormatan kepada Kristus mendorong kita untuk tidak memakai sandal jepit ataupun selop santai ke gereja, jika sebenarnya kita mempunyai sepatu. Cara berpakaian seenaknya sebenarnya menunjukkan bahwa kita tidak sungguh menghayati, kepada Siapakah sebenarnya kita datang menghadap. Jangan sampai cara berpakaian kita malah menarik perhatian banyak orang kepada kita, dan dengan demikian kita menjadi batu sandungan bagi orang lain yang ingin memusatkan perhatian kepada Tuhan. Semoga hal ini dapat menjadi permenungan; dan para orang tuapun dapat memberikan contoh yang baik dan mendorong anak- anak agar berpakaian yang sopan ke gereja. Sudah selayaknya kita ingat bahwa penghayatan iman di dalam hati akan terpancar ke luar dengan sendirinya. Jika kita tidak bisa berpakaian dengan sopan dan hormat, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita mempunyai sikap batin yang baik di hadapan Tuhan?

Tahap selanjutnya adalah, mari belajar untuk sungguh berdoa pada saat kita mengucapkan doa dalam liturgi. Jangan sampai kata-kata yang kita ucapkan merupakan kata-kata kosong, artinya hanya di mulut saja, tetapi tidak sungguh keluar dari hati. Kita perlu memohon rahmat Tuhan untuk hal ini, namun juga kita harus mengusahakannya dengan mengarahkan hati, dan mempersiapkan diri dengan lebih sungguh, sebagaimana telah disebut di atas.

Demikianlah, mari kita memberikan sikap batin yang lebih baik di dalam liturgi. Mengapa ini penting? Sebab dengan sikap batin yang baik, kita akan menerima efek yang penuh dari liturgi. Konsili Vatikan II mengajarkan, “… Supaya liturgi dapat menghasilkan efek yang penuh, adalah penting bahwa umat beriman datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya (lih. 2 Kor 6:1).” (Sacrosanctum Concillium 11) Tentu tak ada satupun dari kita yang mau menerima rahmat Tuhan dengan sia-sia. Kita semua ingin menerima buah-buah liturgi suci di dalam hidup kita. Maka, mari kita datang dengan sikap batin yang baik, terutama dalam perayaan Ekaristi yang setiap minggu atau bahkan setiap hari kita hadiri.

Ketentuan Cara Menyambut Komuni

12

Komuni dapat disambut dengan cara berlutut atau berdiri, di lidah ataupun di tangan. Instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi kudus, Redemptionis Sacramentum, dan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) menuliskan tentang penyambutan Komuni, demikian:

RS 90    “Ketika menyambut Komuni, umat hendaknya berlutut atau berdiri, sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Konferensi Uskup” …. Tetapi jika Komuni disambut sambil berdiri, maka hendaklah umat memberi suatu tanda hormat sebelum menyambut Sakramen seturut ketetapan yang sama.

RS 91. …. Oleh karena itu setiap orang Katolik yang tidak terhalang oleh hukum, harus diperbolehkan menyambut Komuni. Maka tidak dapat dibenarkan jika Komuni ditolak kepada siapa pun di antara umat beriman hanya berdasarkan fakta misalnya bahwa orang yang bersangkutan mau menyambut Komuni sambil berlutut atau sambil berdiri.

RS 92    Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah  di mana Konferensi Uskup setempat dengan recognitio oleh Tahta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus dperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni, sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.”

RS 94    Umat tidak diizinkan mengambil sendiri– apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan Komuni dalam Misa Perkawinan.

RS 104    Umat yang menyambut, tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya…..

PUMR 160     Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup…

Selanjutnya tentang bagaimana cara menerima Komuni, baik dengan tangan atau dengan lidah, klik di sini. Sedangkan cara menerima Komuni dua rupa, klik di sini.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab