Home Blog Page 155

Pornografi di dalam Alkitab?

19

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa ada banyak pornografi dalam Kitab Suci. Bagaimana kita harus menanggapi hal ini? Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu bahwa tidak semua hal yang tertulis di dalam Kitab Suci adalah sesuatu yang baik yang harus diikuti. Sebab di dalam Kitab Suci juga dituliskan tentang kejahatan manusia, agar manusia mengetahui bahwa perbuatan jahat tersebut keji di mata Allah, sehingga yang melakukannya harus menanggung akibatnya. Contohnya, perbuatan perzinahan yang dilakukan oleh Raja Daud dengan Batsyeba dicatat (lih. 2 Sam 11), bukan agar kita meniru perbuatan mereka, tetapi agar kita mengetahui bahwa setiap perbuatan dosa pasti membawa akibat negatif bagi diri kita sendiri.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa pada saat membaca Kitab Suci, kita harus berusaha untuk memahami maksud yang hendak disampaikan oleh Allah yang bekerja melalui sang pengarang kitab tersebut. Oleh karena itu, pada saat membaca dan memahami Kitab Suci, Gereja tidak terpaku kepada suatu kata/ gaya bahasa tertentu dan menilainya dari sudut pandang manusia. Sebab manusia, oleh karena pengaruh dosa asal Adam, telah mempunyai kecenderungan berbuat dosa, sehingga pemahamannya tidak sempurna. Secara khusus, ketidaksempurnaan pemahaman ini adalah dalam hal seksualitas, yang sejak awal mula direncanakan Allah sebagai sesuatu yang sakral, dan baik adanya, namun kini cenderung tidak dipahami sebagaimana seharusnya. Dewasa ini, terdapat dua paham ekstrim tentang seksualitas, yaitu paham yang menganggap bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas adalah tabu dan dosa; dan paham ekstrim lainnya, yang menjadikan seksualitas sebagai sesuatu yang didewa-dewakan, sehingga menjadi murahan, dan terkesan ‘diobral’. Kedua paham ini jelas ada di masyarakat dunia, dan ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi cara pandang seseorang jika ia membaca tentang topik yang menyangkut seksualitas dalam Kitab Suci.

Pada awal mula penciptaan, Tuhan menciptakan segala sesuatunya baik adanya (bahkan dikatakan dalam Kitab Suci: bahwa Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik (Kej 1:31) termasuk manusia dan seksualitas mereka, yang membedakan antara pria dan wanita. Maka dari sudut pandang Allah yang menjadikan manusia, seksualitas (termasuk tubuh manusia) adalah sesuatu yang baik, dan tidak vulgar ataupun kasar. Dikatakan dalam Kitab Suci bahwa pada saat diciptakan Allah, Adam dan Hawa juga tidak berpakaian (telanjang) namun mereka tidak merasa malu (Kej 1:25). Sulit membayangkan hal itu sekarang, karena pandangan kita sudah terbentuk sedemikian, karena pengaruh dosa asal Adam dan Hawa, sehingga kita cenderung untuk melihat seksualitas sebagai sesuatu yang tabu dan dosa. Hal ini disebabkan karena setelah jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa kehilangan karunia integritas yang termasuk dalam ke-empat karunia awal/ “preternatural gifts“, yaitu 1) pengetahuan akan Allah, 2) integritas, dimana indera selalu tunduk kepada akal, 3) tidak dapat mati dan 4) tidak dapat menderita). Nah pemahaman kita yang tidak sempurna tentang seksualitas ini sedikit banyak dipengaruhi oleh hilangnya karunia integritas, yang menyebabkan tidak sinkronnya antara akal budi, kehendak dan keinginan inderawi. Namun jika seksualitas dialami selaras dengan maksud Tuhan menciptakannya, yaitu antara sepasang suami istri, maka hal itu bukan sesuatu yang vulgar dan kasar. Hubungan seksual suami istri ataupun kekaguman suami terhadap keindahan tubuh istrinya juga bukan sesuatu yang vulgar dan kasar, sebab hal itu selaras dengan kehendak Tuhan. Menjadi vulgar dan kasar, jika ini dilakukan oleh pasangan yang bukan suami istri. Persatuan antara seorang suami dengan seorang istri yang digambarkan dengan persatuan tubuh sudah menjadi rencana Allah bagi manusia (lih. Kej 2:24; Mat 19:5; Mrk 10:10:7-8). Bahkan persatuan suami istri inilah yang tertulis dalam Kitab Suci (terutama dalam kitab Hosea, Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel) merupakan gambaran akan keeratan persatuan kasih antara Tuhan dan umat pilihan-Nya dan kasih antara Kristus dan Gereja-Nya (Ef 5:32). Menurut ajaran Kristiani, perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan bersifat monogam, total, dan tak terceraikan sampai mati, karena merupakan penggambaran dari kasih Allah sendiri kepada manusia.  Penggambaran ini merupakan salah satu perwujudan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej 1:26), direncanakan oleh Allah untuk hidup memberikan kasih yang total, setia, tak bersyarat, seperti Allah yang adalah Kasih (1 Yoh 4:8).

Dengan dasar pemikiran ini, Gereja menerima Wahyu Allah dalam Kitab Suci seutuhnya, termasuk ayat- ayat yang menggambarkan seksualitas, dan tidak menganggapnya tabu; walaupun ayat- ayat tersebut tidak selalu mengacu kepada penggambaran yang berarti positif. Berarti positif, jika ayat- ayat tersebut mengacu kepada kekaguman pengantin pria terhadap pengantin wanita seperti dalam kitab Kidung Agung, namun berarti negatif, jika deskripsi tentang seksualitas mengisahkan bagaimana seksualitas tidak dilakukan dalam konteks suami istri namun sebagai tindakan perzinahan.

Dengan -prinsip inilah Gereja Katolik memahami maksud ayat-ayat yang kerap diperdebatkan:

1. Kej 35:22

Ayat ini mengisahkan bahwa Reuben, anak Yakub (yang disebut Israel) yang sulung, tidur dengan Bilha, yaitu gundik ayahnya. Perbuatan ini tidak berkenan di hadapan Allah, sehingga hak kesulungan Reuben diambil daripadanya dan diberikan kepada adiknya,Yehuda, seperti disebutkan oleh Yakub sesaat sebelum wafatnya dalam Kej 49, khususnya ay. 8-10. Pada garis keturunan Yehudalah, tongkat kepemimpinan Israel diberikan, dan semua saudara- saudaranya akan sujud kepadanya, demikian pula seluruh bangsa- bangsa takluk kepadanya.

Sedangkan mengapa Yakub mempunyai gundik, yang menunjukkan adanya poligami dalam Perjanjian Lama, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

2. Kej 38:15-30

Mengenai maksud kisah Yehuda dan Tamar, sudah dibahas di sini, silakan klik.

3. 2 Sam 13:5-14

Perikop ini mengisahkan tentang perbuatan keji Amnon, anak sulung Daud dari Ahinoam orang Jezreel. Amnon memperkosa adik perempuan Absalom, yang bernama Tamar, yang juga adalah adiknya sendiri (adik lain ibu). Catatan: Tamar di sini tidak sama dengan Tamar dalam Kej 38.

Perbuatan Amnon ini tidak berkenan di mata Tuhan, sehingga Amnon menuai akibat perbuatannya dengan nyawanya sendiri. Ia mati dibunuh oleh orang- orang/ pegawai Absalom (lih. 2 Sam13:29).

4. 2 Sam 16:21-23

Ayat ini mengisahkan bahwa atas nasihat Ahitofel, Absalom menghampiri gundik- gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel. Hal ini merupakan penggenapan dari hukuman yang dinyatakan Allah kepada Daud sebagaimana dikatakan oleh Nabi Natan (lih. 2 Sam 12:11) karena Daud telah menghina Tuhan dan melakukan yang jahat di mata-Nya, dengan mengambil Batsyeba istri Uria untuk menjadi istrinya, setelah ia berzinah dengannya dan untuk menutupi perbuatannya itu ia sampai membunuh Uria, suami Batsyeba. Maka dosa perzinahan yang dimulai Daud dari berjalan- jalan di atas sotoh istana (lih. 2 Sam 11:2), seolah-olah dibalas dengan perbuatan perzinahan Absalom anaknya sendiri yang menghampiri istri- istrinya, juga di atas sotoh (lih. 2 Sam 16:23). Maka perbuatan Absalom ini tentu bukan merupakan perbuatan terpuji, melainkan hal itu terjadi untuk memberikan pengajaran bahwa jika kita menabur dosa, maka kita akan juga menuai akibatnya.

5. Kej 19: 30-36

Perikop ini mengisahkan bagaimana setelah kota Sodom dan Gomorah dimusnahkan oleh Allah karena kejahatan mereka, tidak ada lagi laki- laki lain di negeri itu yang dapat memberikan keturunan kepada anak- anak perempuan Lot. Maka mereka membuat mabuk ayah mereka sendiri, agar ayah mereka tidur dengan mereka dan menyambung keturunan dari mereka. Hal incest ini memang bukan keadaan ideal, namun hal ini dicatat, juga dengan maksud tertentu. Demikianlah penjelasan The Navarre Bible, Pentateuch, Jose Maria Casciaro, ed. (Dublin: Four Court Press, 1999), p.111:

“Moab dan Amon [nama yang diambil dari nama anak-anak dari kedua anak perempuan Lot] adalah bangsa tetangga Israel, yang terletak di sisi timur sungai Yordan (lih. Bil 21:11,24). Penulis kitab kemungkinan menuliskan kejadian ini untuk memperlihatkan superioritas bangsa Israel sebagai bangsa yang diciptakan oleh rencana Allah yang sangat istimewa, mengatasi bangsa- bangsa lain di daerah itu. [Bangsa Israel diturunkan dari Abraham]. Orang- orang Moab dan Amon digambarkan sebagai bangsa yang inferior, karena asal usul mereka yang bermula dari hubungan incest, [antara Lot -keponakan Abraham- dan kedua anaknya.”

Selanjutnya tentang incest/ perkawinan sesama saudara, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

6. Ul 22:17

Teksnya berbunyi:

“…dan ketahuilah, ia menuduhkan perbuatan yang kurang senonoh dengan berkata: Tidak ada kudapati tanda-tanda keperawanan pada anakmu. Tetapi inilah tanda-tanda keperawanan anakku itu. Lalu haruslah mereka membentangkan kain itu di depan para tua-tua kota.” (LAI)

“…He layeth to her charge a very ill name, so as to say: I found not thy daughter a virgin: and behold these are the tokens of my daughter’s virginity. And they shall spread the cloth before the ancients of the city…” (Douay Rheims Bible)

“…and lo, he has made shameful charges against her, saying, “I did not find in your daughter the tokens of virginity.” And yet these are the tokens of my daughter’s virginity.’ And they shall spread the garment before the elders of the city…” (Revised Standard Version)

“and behold, he has charged her with shameful deeds, saying, “I did not find your daughter a virgin.” But this is the evidence of my daughter’s virginity.’ And they shall spread the garment before the elders of the city.” (New American Bible)

Maka dalam Ul 22:17 (Deut 22:17) tidak dikatakan, “fathers sticking their fingers into their daughters” seperti yang anda sebutkan. Perkataan itu merupakan interpretasi pribadi orang tertentu tentang bagaimana membuktikan keperawanan seorang anak gadis. Orang itu menduga bahwa kain tersebut adalah untuk menutupi alat kelamin si gadis, dan ayahnya sendiri kemudian melakukan perbuatan tersebut. Namun di Kitab Suci sendiri tidak tertulis demikian dan tradisi Yahudi seperti yang dituliskan oleh para penulis Yahudi, juga menunjukkan bahwa bukan itu maksudnya. Kain yang dibentangkan tersebut, menurut tradisi Yahudi adalah kain seprei yang dipakai di ranjang pengantin. “Dan mereka harus membentangkan kain itu di hadapan tua- tua kota; sehingga mereka memperoleh bukti yang kelihatan dan bukti kebenaran tentang perkataannya …. Nampaknya baik ibu maupun ayah si gadis hadir dalam pembuktian ini, sebab dikatakan, “haruslah mereka membentangkan kain itu”; dan meskipun ibunya tidak bicara, ia adalah orang yang pantas untuk membawa kain ini dan membentangkannya; dan memang kain ini ada dalam pemeliharaannya, sebab demikianlah kita diberitahu… (Nachman. apud Fagium in loc. Schindler. Lex: Pentaglott. col. 260, 261) bahwa dua orang teman pengantin, masuk ke dalam kamar pengantin dan memeriksa tempat tidur…. mereka berjaga semalaman dengan suka cita seperti halnya menjaga seorang raja dan ratu (seperti gambaran pada Yoh 3:29); dan ketika pengantin pria dan wanita keluar, mereka segera masuk, memeriksa kembali tempat tidur, dan memberikan seprei yang atasnya pengantin telah berbaring kepada ibu pengantin wanita…..” (dikutip dari John Gill’s commentary on Deut 22:17)

Dengan demikian, penting pula dipahami keadaan budaya setempat pada waktu kitab itu ditulis, agar kita memahami makna yang ingin disampaikan oleh penulis Kitab Suci (lih. KGK 110).

7. Kid 4:5, 7:7

Kid 4:5:  “Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung” dan Kid 7:7 “Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.”

Secara umum kitab Kidung Agung merupakan kumpulan kidung dan puisi cinta. Kidung tersebut merupakan puisi cinta antara sepasang kekasih yang mencapai kepenuhannya dalam perkawinan. Bangsa Yahudi menggunakan puisi cinta ini untuk merayakan kasih manusia pada perayaan perkawinan. Kitab ini dapat diinterpretasikan secara literal ataupun alegoris. Secara literal, adalah puisi cinta yang penuh simbol, yang mengisahkan kasih dan ketertarikan seksual antara seorang pria dan wanita. Namun secara alegoris, adalah kisah yang melambangkan kasih Allah kepada umat-Nya dan kasih mereka kepada Allah.

Kid 4 mengisahkan perumpamaan seorang perempuan yang cantik, yang dimaksudkan untuk menggambarkan kecantikan rohani dari sang mempelai wanita yaitu bangsa Israel (pada Perjanjian Lama), dan Gereja (pada Perjanjian Baru). Menurut interpretasi yang diajarkan oleh St. Bede,  ‘dua buah dada’ yang disebutkan dalam Kid 4:5 adalah untuk menggambarkan adanya para pengajar dari dua bangsa, yaitu dari bangsa Yahudi dan dari bangsa-bangsa non- Yahudi. Mereka digambarkan sebagai buah dada, karena memberikan susu rohani kepada orang- orang kebanyakan yang tidak terpelajar.

Demikian pula St. Bede mengajarkan bahwa Kid 7 mengidentifikasikan keindahan seorang mempelai wanita, yaitu Gereja, yang menjulang tinggi, dan memberi makanan rohani kepada anggotanya.

8. Kej 4:1 “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya….”

Sesungguhnya, kata asli yang dipakai di sana adalah  יַדע (yāḏa‛), atau dalam bahasa Inggrisnya ‘knew‘: dan dalam kamus tertulis artinya demikian: “to know, to learn, to perceive, to discern, to experience, to confess, to consider, to know people relationally, to know how, to be skillful, to be made known, to make oneself known, to make to know.”

Jadi sesungguhnya kata yāḏa‛ tersebut, dalam Kitab Suci memang dapat mengacu kepada ‘mengetahui/ memahami/ mengalami’ pasangan secara mendalam, termasuk hubungan suami istri. Oleh karena itu, diterjemahkan oleh LAI dalam bahasa Indonesia, sebagai ‘bersetubuh’.

9. Yeh 23, perikop tentang kakak beradik Ohola dan Oholiba.

Interpretasi Yeh 23: 20 tidak dapat dipisahkan dari makna keseluruhan perikop tentang kakak beradik Ohola dan Oholiba (keseluruhan Yeh 23) dan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci. Dalam perikop Yeh 23 sendiri, dijelaskan bahwa kisah tersebut dimaksudkan untuk menjadi kisah perumpamaan bagi bangsa Israel yang tidak setia kepada Allah (lih. Mat 12:39). Dikatakan di Yeh 23:4, “… Ohola ialah Samaria dan Oholiba adalah Yerusalem.” Samaria dan Yerusalem merupakan nama kedua kerajaan yang mewaliki suku- suku Israel dan suku Yehuda. Oholah dan Oholibah adalah kedua anak perempuan dari satu ibu, yang artinya berasal dari satu rumpun Israel. Ketika mereka di Mesir, mereka telah mengikuti kebiasaan berhala bangsa Mesir terhadap dewa- dewa mereka (lih. Yeh 20:7).

Maka ‘berzinah’ di perikop ini maksudnya adalah bagaimana bangsa Israel (Oholah dan Oholibah) beraliansi dengan bangsa- bangsa Asyur (lih. ay. 5 dan 11) dan berpaling/ melupakan dan membelakangi Tuhan (lih. ay. 35). Oholiba (Yerusalem) bahkan juga mengikuti kebiasaan orang Kasdim dan Babel (ay. 15-17) yaitu penyembahan berhala (ay. 37) dan ini dikatakan sebagai ‘persundalan’ (ay. 19, 27) atau perzinahan (ay. 37). Ayat 20, 21 merupakan penggambaran alegoris tentang bagaimana perzinahan itu dilakukan, yang merupakan kekejian yang menjijikkan di hadapan Allah, sehingga secara deskriptif digambarkan dengan ungkapan yang sedemikian. Maksudnya adalah untuk mengajar manusia, agar jangan sampai berpaling dari Allah dan menyembah allah- allah lain, sebab perbuatan tersebut merupakan hal yang menjijikkan bagi Allah.

10. Yeh 4:12-15.

“…. engkau harus membakarnya [roti jelai] di atas kotoran manusia yang sudah kering….”

Walaupun nampaknya ayat ini sepertinya jorok/ tak terbayangkan, namun kenyataannya pada zaman dulu, kotoran ternak/ kotoran lembu yang sudah kering merupakan bahan bakar yang umum di daerah timur. Dengan demikian, karena dalam masa pengasingan itu bangsa Israel dalam keadaan kekurangan kayu bakar dan batu bara, mereka terpaksa menggunakan hal itu untuk mempersiapkan makanan mereka. Pada saat itu mereka terpaksa mengumpulkan segala jenis kotoran yang sudah kering. Di ayat tersebut dikatakan bahwa Nabi Yehezkiel diperintahkan untuk membakar rotinya di atas api dengan bahan bakar kotoran manusia yang sudah kering. Ini menunjukkan betapa ekstrim derajat kekurangan dan penderitaan yang harus mereka alami, karena mereka tidak dapat meninggalkan kota untuk mengumpulkan kotoran binatang buas, maka para penduduk kota pada saat pengepungan terpaksa menggunakan kotoran manusia yang kering sebagai bahan bakar. Namun demikian, akhirnya sang nabi diperkenankan mengganti bahan bakar ini dengan kotoran lembu (lih. Yeh 4:15).

Maka yang digambarkan di ayat tersebut adalah suatu fakta keadaan genting pada saat itu, dan bukannya merupakan suatu anjuran untuk diterapkan pada zaman sekarang.

11. Yehezkiel 16:1-63

Di dalam perikop ini digambarkan tentang apa yang dilakukan Tuhan terhadap bangsa Israel (kota Yerusalem), dan perbuatan mereka terhadap-Nya, dan penghukuman mereka melalui bangsa-bangsa di sekitar mereka, bahkan bangsa yang paling mereka percayai. Hal ini disampaikan dalam suatu perumpamaan tentang bagaimana kelahirannya seumpama seorang bayi yang terlantar yang diselamatkan dari kematian, diasuh, dijadikan kekasih, dan dipenuhi segala keperluannya, dihiasinya dengan limpah. Namun kemudian ia bersalah karena melakukan perbuatan yang paling menjijikkan, dengan berbuat sundal; dan karena itu menerima hukumannya. Tapi akhirnya Allah menerimanya dan memulihkannya kembali (ay. 53) dan ia menjadi malu akan perbuatannya yang salah (ay. 61).

Maka perikop ini harus dipahami dalam kaitannya dengan perumpamaan bahwa Allah begitu mengasihi bangsa Israel, yang dipungut-Nya dari keadaan yang terbuang; Allah membesarkannya dan menjadikan Yerusalem sebagai mempelai-Nya (istri-Nya), namun kemudian bangsa itu mengkhianati Allah, sebagaimana seorang istri mengkhianati suaminya dengan berbuat sundal. Persundalan ini digambarkan sedemikian rupa dengan ungkapan yang sangat gamblang, namun maksudnya adalah untuk menunjukkan betapa menjijikkannya perbuatan berhala-berhala yang dilakukan oleh bangsa Israel, yang merupakan perbuatan menduakan Tuhan. Perbuatan ini sungguh melanggar perintah Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam perintah pertama dan utama dalam kesepuluh perintah Allah.

Maka kita tidak dapat menilai pernyataan/ ungkapan-ungkapan di ayat-ayat tersebut dengan pemahaman modern, tetapi dengan memperhitungkan makna ungkapan tersebut pada saat dan tempat yang bersangkutan, di mana ungkapan tersebut tidak diartikan sama dengan apa yang kita pahami sekarang. Tujuan dari penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut adalah untuk meningkatkan kebencian terhadap perbuatan penyembahan berhala (menyembah allah lain selain Allah), dan untuk maksud inilah perumpamaan tersebut dituliskan

12. Hos 1:2-3; Hos 4:14

Kitab Hosea memang dimaksudkan Allah untuk mengajar umat Israel dengan melihat teladan kesetiaan Nabi Hosea yang menggambarkan kesetiaan Allah. Nabi Hosea, memang diperintahkan oleh Allah untuk menikahi seorang zânâh/ perempuan sundal, demi memberi pengajaran kepada bangsa Israel yang telah bersundal hebat dan berpaling dari Tuhan karena berhala- berhala mereka (lih. Hos 1:2; 4:14). Maka perkawinan Nabi Hosea dengan Gomer ini tidaklah untuk diinterpretasikan terpisah dari maksud Allah untuk mengajar umat-Nya, yaitu bahwa walaupun umat-Nya tidak setia, Allah tetap setia. Allah mengutus nabinya, Nabi Hosea, untuk menampakkan kasih setia Allah kepada umat-Nya, sama seperti Ia memerintahkan Hosea untuk tetap setia kepada Gomer istrinya yang telah mengkhianatinya.

Maka inti dari kitab Hosea tersebut adalah bahwa Allah memanggil bangsa pilihan-Nya untuk bertobat dari berhala mereka yang merupakan perbuatan sundal di hadapan Allah; sambil mengingatkan kepada mereka, bahwa jika mereka bertobat, Allah akan mengampuni mereka. Hal ini jelas disebutkan dalam Hos 14.

Dengan melihat makna ini, maka tidaklah benar jika seseorang menyimpulkan bahwa secara umum Allah memperbolehkan atau bahkan menyuruh seseorang menikah dengan pelacur. Karena yang terjadi pada kasus Hosea itu adalah kasus yang khusus, dan sungguh menuntut pengorbanan dan kelapangan hati dari pihak Nabi Hosea untuk tetap setia kepada istrinya yang telah mengkhianatinya dengan berzinah. Dengan demikian, kesetiaan Nabi Hosea kepada istrinya menjadi gambaran kasih setia Allah kepada Israel bangsa pilihan-Nya, walaupun bangsa itu kerap tidak setia. Namun secara umum untuk semua orang, Allah tidak menghendaki hal tersebut. Ini terlihat bahwa Allah dengan jelas melarang perzinahan (lihat perintah 6 dan 9 dari kesepuluh perintah Allah, Kel 20: 14, 17).

Agaknya dalam menginterpretasikan Kitab Suci, kita tidak boleh hanya terpaku pada apa yang secara literal tertulis tanpa berusaha memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh para penulis Kitab Suci pada saat menuliskan Wahyu Allah itu. [Jika tidak, kita akan terperangkap dalam pemahaman sempit seperti pandangan yang anda kutip]. Sebab selalu ada kaitan antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam kesatuan Kitab Suci, dan bahwa kita harus membaca Kitab Suci dalam kesatuan dengan Tradisi Gereja (yaitu dengan memperhatikan pengajaran para Bapa Gereja) dan bahwa kita harus memperhatikan analogi iman/ kisah iman yang ingin disampaikan (lih. KGK 112-114). Mari kita mengingat kembali apa yang disampaikan dalam Katekismus:

KGK 109    Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. Dei Verbum 12,1).

Semoga Roh Kudus memimpin kita kepada pemahaman akan Sabda Allah dan akan makna yang disampaikannya.

Apakah Gereja Katolik adalah “the Whore of Babylon”?

15

Ada yang menuduh Gereja Katolik adalah whore of Babylon atau pelacur besar, seperti yang digambarkan di dalam kitab Wahyu 17. Sebenarnya, tuduhan bahwa Gereja Katolik sebagai the “Whore of Babylon” atau diterjemahkan sebagai Pelacur besar itu dituliskan oleh Tim F. Lahaye dan Jerry B Jenkins, dalam bukunya Are We living in the End of Times?. Lahaye dan Jenkins ini juga mengarang Left Behind series yang mewakili pandangan kelompok dispensationalist yang memang sangat keras menolak Gereja Katolik. Mereka mengira bahwa Gereja Katolik menggabungkan agama Babilon ke dalam ajaran-ajarannya. Mereka juga menuduh bahwa Bapa Paus adalah Antikristus. Ini adalah suatu tuduhan yang pasti sangat menyedihkan hati kudus Tuhan Yesus sendiri, sebab kenyataannya adalah, Kristus telah mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus (Mat 16:18) dan Ia berjanji akan menyertainya sampai akhir jaman (Mat 28:20), sehingga penyertaan-Nya ini pasti digenapi-Nya dengan menyertai para pengganti Petrus yaitu Bapa Paus. Jika kita percaya akan janji Kristus yang menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman, maka semestinya kita tidak menuduh bahwa Gereja yang didirikan-Nya akan menjadi “the Whore of Babylon” atau bahkan pemimpinnya menjadi Antikristus. Sebab jika kita mengatakan demikian, sebenarnya kita menuduh Tuhan Yesus mengingkari janji. Padahal Tuhan Yesus selalu setia dan tidak pernah ingkar janji. Kesetiaan-Nya tetap selama-lamanya dan Dia tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya. Alkitab mengatakan bahwa “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Mat 24:35, Mrk 13:31, Luk 21:33).

Dalam bagian “Mystery Babylon’s Long History” Lahaye dan Jenkins membuat suatu klaim sejarah yang bias dan keliru, dengan mengatakan, “every false religion in the world can be traced back to Babylon.” (lihat buku End Times, p. 172). Maka klaim mereka ini mencakup Aztec, Mitos Romawi, Yunani, agama Aborigin dan Afrika, Confucius, dll aneka aliran kepercayaan di Asia dan sebagainya. Secara obyektif kita dapat melihat bahwa klaim ini sesungguhnyan tidak masuk akal, karena bermacam aliran ini yang juga bertentangan satu sama lain, tidak mungkin berasal dari satu agama kuno Babilon.

Dengan menuduh bahwa Roma adalah ibu dari segala campuran yang tidak kudus/ “unholy mixture“, Lahaye dan Jenkins kemudian menuduh bahwa ajaran-ajaran tersebut menyusup ke dalam ajaran Kristiani, di dalam Gereja Katolik. Sebenarnya, sangatlah menyedihkan untuk melihat bagaimana mereka menghubungkan ajaran-ajaran seperti mendoakan orang-orang yang sudah meninggal, penghormatan (mereka menyebutnya sebagai “worship”/ penyembahan, tentu saja tidak benar) kepada para orang kudus, dan Maria; dan pengadaan Misa Kudus, sebagai pengaruh ajaran sesat Babilon dalam Gereja! Betapa seharusnya mereka mempelajari tulisan para Bapa Gereja di abad awal dan bahkan dari Alkitab sendiri, untuk mengetahui bahwa praktek tersebut berasal dari pengajaran para rasul, dan bahkan dari Yesus sendiri.

Orang Katolik yang mengenal imannya dengan baik akan mengetahui bahwa tuduhan di atas sama sekali tidak benar! Praktek mendoakan orang mati diperoleh Gereja dari tradisi Yahudi yang terdapat dalam Alkitab (lihat 2 Mak 12:39-45) dan telah dipraktekkan oleh jemaat Kristen awal. Pembuatan tanda salib secara jelas mengingatkan kita akan kurban Yesus di kayu salib. Penghormatan (bukan penyembahan) para kudus didasari oleh pengajaran akan adanya persekutuan para kudus yang tak terpisahkan oleh maut, yang menjadikan kita semua sebagai satu keluarga Tuhan. Dan Misa Kudus itu diinstitusikan oleh Yesus sendiri pada malam sebelum wafat-Nya, yang juga sudah jelas dijabarkannya secara literal dalam Yohanes 6: 25-71. Tidak ada dari pengajaran ini yang mempunyai hubungan sedikitpun dengan agama Babilon kuno.

Apakah ada persamaan antara praktek agama-agama lain dengan praktek dalam Gereja Katolik ataupun gereja Protestan? Tentu saja ada.  Misalnya, umat Hindu berdoa dan membaca buku-buku suci, seperti juga umat Katolik dan umat Protestan. Tetapi itu tidak berarti bahwa doa dan Kitab Suci umat Kristen berasal dari agama Hindu.

Apakah ada kesamaan antara ajaran agama Babilon kuno dengan agama Kristen? Ya ada, seperti mereka juga punya kisah penciptaan dunia yang mirip dengan kisah penciptaan di kitab Kejadian. Mereka juga percaya adanya eksistensi Iblis. Apakah dengan demikian kita sebagai orang kristen harus membuang ajaran tentang penciptaan dan adanya Iblis- karena mempunyai kemiripan dengan ajaran agama Babilon kuno? Tentu tidak!

Maka tuduhan Lahaye dan Jenkins sebenarnya kurang logis dan kurang didasari oleh bukti historis yang kuat. Memang orang bertanya-tanya, dari mana mereka bisa mempunyai teori semacam ini. Jika sumber mereka adalah buku Babylon Mystery Religion yang ditulis oleh Ralph Woodrow atau pun Two Babylons karangan Alexander Hislop (1858), maka sebaiknya memang mereka mempertimbangkan kembali tuduhan mereka. Sebab, Woodrow sendiri telah menarik buku karangannya itu, karena telah menemukan kesalahan serius dalam materi yang disampaikan oleh Hislop, yang telah dipakainya menjadi salah satu sumber penulisan bukunya Babylon Mystery Religion itu. Woodrow kemudian menerbitkan buku berjudul The Babylon Connection? (1997) yang menarik kembali pernyataannya yang mengatakan bahwa Iman Katolik berakar dari agama Babilon. Selanjutnya silakan membaca tulisan di sini silakan klik, untuk mengetahui apa yang dituliskan oleh Woodrow untuk merevisi bukunya yang pertama. Woodrow akhirnya mengakui apa yang juga diyakini oleh para ahli sejarah yang dapat dipercaya, bahwa iman Katolik bukan agama yang sesat yang menggabungkan agama Kristen dengan agama Babilon/ Babylon Mystery religion. Dengan sendirinya, akhirnya Woodrow mengakui, bahwa the whore of Babylon di dalam kitab Wahyu adalah bukan Gereja Katolik di Roma.

Demikian yang bisa kami sampaikan tentang pertanyaan anda tentang tuduhan dari kaum dispensationalist kepada Gereja Katolik. Silakan membaca lebih lanjut artikel ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang ajaran kaum dispensationalist ini mengenai akhir jaman dalam pengajaran mereka tentang Rapture silakan klik. Mari kita berdoa agar mereka yang mempunyai tuduhan yang sangat negatif terhadap Gereja Katolik itu akhirnya dapat menemukan kebenaran, minimal mempunyai sikap seperti Woodrow, yang berani melihat kebenaran dengan sikap obyektif, dan memperbaiki kesalahan setelah membuat kesalahan. Mari kita berdoa agar jangan sampai tuduhan semacam ini memecah belah Gereja, sebab pasti ini sangat tidak berkenan di hadapan Tuhan. Semoga semua dari kita dapat menyadari bahwa pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan segala perkataan dan perbuatan kita di hadapan Tuhan, dan semoga kita dapat bertumbuh menjadi lebih bijak dalam perkataan maupun perbuatan.

Sumber utama: Paul Thigpen, The Rapture Trap, (West Chester: Ascension Press, 2002), p. 176-179

Siapa yang meremukkan kepala ular (Kej 3:15)?

7

Dalam bahasa Indonesia, tidak terlihat masalah, karena hanya dikatakan “nya”, tidak spesifik menyatakan laki-laki/ he atau perempuan/ she. Sedangkan dalam bahasa Inggris, memang terdapat dua salinan terjemahan. Teks Ibrani menyatakan  he: “he shall bruise your head and you shall bruise his heel.” (RSV, NAB) “He” di sini berarti Kristus. Namun ada juga salinan yang berasal dari terjemahan tulisan Bapa Gereja dan beberapa salinan Vulgata yang menuliskan, “she shall bruise your head and you shall bruise her heel” (Douay Rheims).

Namun terlepas dari he atau she ini tidak mengubah fakta bahwa St. Yustinus Martir (100-165), St. Irenaeus, Tertullianus, St. Agustinus mengajarkan bahwa pada ayat Kej 3:15, ‘perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan iblis itu mengacu kepada Bunda Maria, karena keturunan yang dimaksud adalah Yesus. ‘Perempuan’ itu bukan  Hawa dengan keturunannya Abel atau Seth. Mengapa? Karena Perempuan yang akan melahirkan Kristus yang akan meremukkan kepala iblis itu bukanlah Hawa, tetapi seorang perempuan yang lain, yaitu Bunda Maria. Maka, Bunda Maria adalah “the woman” yang dibicarakan di Kej 3:15. [Sayangnya dalam Alkitab LAI diterjemahkan sebagai “this woman” (wanita ini) yang sepertinya mengacu kepada Hawa. Padahal para Bapa Gereja mengajarkan, perempuan itu bukan Hawa, tapi seorang perempuan yang lain, “perempuan itu” (the woman), yang mengacu kepada Bunda Maria. Istilah “the woman” ini diulangi lagi pada mukjizat di Kana (Yoh 2:4) dan di kaki salib Yesus (Yoh 19:26-27).

Dengan mengetahui bahwa ‘perempuan’ dan ‘keturunannya’ yang mengalahkan Iblis adalah Bunda Maria dan Yesus, Gereja Katolik mengajarkan, apapun terjemahan yang dipakai, keduanya benar. Sebab, baik Yesus maupun Bunda Maria keduanya sama-sama mengalahkan Iblis. Jika dikatakan bahwa Bunda Maria mengalahkan Iblis, hal itu hanya dimungkinkan oleh kuasa Kristus. Kristuslah yang telah secara langsung meremukkan kepala iblis dengan kematian-Nya. Dan “tumit yang diremukkan oleh iblis”, adalah gambaran bahwa kemenangan Kristus diperoleh dengan penderitaan-Nya di kayu salib. Sedangkan, Bunda Maria pun dapat dikatakan secara tidak langsung meremukkan kepala Iblis dengan kerjasamanya di dalam misteri Inkarnasi, dan dengan ketaatannya untuk menolak  berbuat dosa yang terkecil sekalipun (menurut ajaran St. Bernardus, Sermon, 2, on Missus est). Selanjutnya, St. Gregorius mengajarkan (Mor 1.38), bahwa kitapun, seperti halnya Bunda Maria, dapat secara tidak langsung meremukkan kepala iblis setiap kali kita taat akan Tuhan dan mengalahkan godaan. Sebab dikatakan:

“Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” (Rm 16:19-20)

Jadi, baik Kristus maupun Bunda Maria sama-sama meremukkan kepala ular (iblis) ini, dengan ketaatan mereka sampai akhir terhadap kehendak Tuhan. Tumit mereka memang remuk karenanya. Tumit Kristus remuk adalah gambaran bahwa Ia telah mengalahkan iblis dengan penderitaan dan wafat-Nya di salib. Demikian pula, tumit Bunda Maria pun remuk: ketaatannya memuncak sampai saat penderitaannya, ketika berdiri di bawah salib Kristus, menyaksikan buah rahimnya itu difitnah, dipermalukan sedemikian rupa, disiksa sampai mati di hadapan matanya sendiri. Orang yang mengatakan bahwa ini bukan penderitaan, nampaknya tidak dapat memahami kenyataan yang wajar. Sebab, penderitaan tersebut merupakan penderitaan yang terberat yang dapat dialami oleh seorang ibu. Bagi Maria ‘pedang yang menusuk jiwanya’ ini menjadi lebih lagi tidak terbayangkan, mengingat bahwa kenyataan tersebut sangatlah berlawanan, bahkan sepertinya merupakan penyangkalan total dari apa yang pernah didengarnya dari malaikat: “Ia [Yesus] akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi… dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luk 1:32-33). Namun Maria tetap teguh berdiri mendampingi Puteranya dengan kesetiaan seorang hamba, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (lih. Luk 1:38). Maka “tumit Mariapun turut remuk” dalam melawan iblis.

Melalui Salib-Nya—yaitu penderitaan dan wafat-Nya—Kristus mengalahkan maut dan kuasa iblis, sebelum Ia dapat bangkit dengan mulia. Inilah mengapa disebutkan bahwa kemenangan meremukkan kepala iblis itu melibatkan juga ‘remuknya tumit Kristus’. Demikian juga, Bunda Maria mengambil bagian di dalam penderitaan dan wafat Kristus itu. Sebab saat berdiri di bawah salib Kristus, Bunda Maria sungguh mengalami penderitaan tak terlukiskan: suatu pengosongan diri yang total untuk menerima rencana Tuhan walaupun melibatkan rasa sakit tak terhingga karena ‘pedang yang menembus jiwanya’. Inilah bentuk ‘remuknya tumit Maria’ dalam gambaran yang disampaikan dalam Kej 3:15.

Selanjutnya tentang Kej 3:15, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik

 

Arti hukuman ekskomunikasi

42

Berikut ini adalah penjelasan tentang hukuman ekskomunikasi:

Sebenarnya eks-komunikasi yang dikeluarkan Gereja Katolik maksudnya bukan untuk menghukum, tetapi merupakan langkah sangsi untuk menyembuhkan (bdk kan 1312,1). Jadi Ex-komunikasi merupakan prosedur formal dari Gereja kepada seseorang/ kelompok orang, yang menyatakan status mereka sebagai ‘di luar’ komunitas Gereja. Umumnya ini disebabkan karena pelanggaran berat, seperti penyebaran ajaran sesat, tidak mematuhi otoritas Magisterium Gereja, dst. Alasan kenapa eks-komunikasi ini dilakukan juga untuk melindungi kesatuan umat, supaya jangan sampai terlalu banyak orang menjadi bingung dan tersesat oleh karena pengaruh dari orang/ sekelompok orang yang melanggar tersebut.

Orang yang terkena sangsi Ex-komunikasi ini bukan berarti sudah tidak Kristen lagi, sebab rahmat Pembaptisan tidak dapat dihapus. Hanya saja, seperti dalam kan. 1331, mereka tidak dapat berpartisipasi di dalam menyambut Ekaristi kudus, dan sakramen-sakramen lainnya, dan dalam tugas ministerial liturgi, atau jika ia pastor/ kaum klerik, maka tidak dapat lagi menjalankan tugas-tugasnya sebagai pastor/ klerik. Namun mereka masih tetap boleh (bahkan dianjurkan) datang ke Misa Kudus seperti biasa.

Maksudnya dari pemberian sangsi ex-komunikasi ini adalah supaya mereka yang melanggar peraturan dapat memeriksa dan memperbaiki diri dan bertobat melalui Sakramen Pengakuan Dosa. Absolusi umumnya diberikan oleh Uskup/ Ordinaris wilayah, ataupun oleh pastor tertentu yang telah diberi kuasa oleh Uskup untuk memberikan absolusi. Maksud yang lain adalah tentu untuk membatasi pengaruh negatif pada umat yang lain.

Jadi, jika orang yang melanggar peraturan tersebut mengakui dan bertobat dari kesalahannya, maka sangsi eks-komunikasi tersebut diangkat oleh pihak otoritas Gereja, dan orang tersebut tidak lagi terikat sangsi dan berada dalam kesatuan kembali dengan Gereja.
Contoh yang paling aktual mungkin adalah pengangatan sangsi ex-komunikasi terhadap 4 orang uskup yang ditahbiskan oleh Monsingor Levebre pendiri Society of St. Pius X (SSPX) pada tahun 1988, tanpa restu dari Vatikan (pada waktu itu Paus Yohanes Paulus II). Namun para uskup yang ditahbiskan tersebut telah menyatakan penyesalannya kepada Bapa Paus, sehingga, Paus Benediktus XVI memutuskan untuk mengangkat sangsi ex-komunikasi terhadap ke-4 uskup tersebut pada bulan Januari 2009 ini. Langkah ini disebutnya sebagai langkah kasih fraternal yang diembannya sebagai Bapa Paus. Selanjutnya, Bapa Paus berharap agar pengangkatan ex-komunikasi ini diikuti oleh langkah mereka untuk mewujudkan pertobatan mereka dengan ketaatan penuh kepada otoritas Magisterium Gereja, dan Konsili Vatikan II. (SSPX adalah kelompok Tradisionalist yang melanggar ketaatan kepada Magisterium dan Konsili Vatikan II)

Pelaksanaan ex-komunikasi tidak bertentangan dengan hukum kasih, sebab dilaksanakannya juga dalam rangka mempertahankan kasih kesatuan umat dengan Kristus dalam Gereja yang dibentuk-Nya. Jika sangsi ini tidak diberikan, maka akan semakin banyak orang yang tersesat dan keselamatan mereka menjadi taruhannya. Dasar dari Alkitab yang cukup penting adalah Mat 18:15-18, di mana dikatakan jika seorang berbuat dosa, maka kita dapat menegurnya secara pribadi, namun jika ia tidak mendengarkan, maka kita dapat menyertakan dua atau tiga orang saksi. Namun jika tidak berhasil juga, maka persoalan dibawa ke hadapan jemaat. “Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau sebagai pemungut cukai…Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 18:17-18)

Oleh karena itu menurut kan. 1347, pemberian sangsi diberikan hanya setelah yang melanggar diberi peringatan untuk menarik diri dari contumacy (’keras kepala’) mereka, dan telah diberi waktu yang cukup untuk bertobat.

Hukuman ekskomunikasi yang diberlakukan di zaman para rasul dicatat dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat/ Gereja di Korintus, yaitu di perikop 1 Kor 5: 1-13:

Konteks surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, yang tertulis dalam 1 Kor 5:5 adalah tentang sangsi ekskomunikasi, sebagaimana disebutkan di ayat sebelumnya yaitu ayat 3, yaitu tentang sangsi yang dikenakan kepada anggota jemaat yang berbuat cabul sedemikian rupa, bahkan yang tidak diperbuat oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (1 Kor 5:1).

Berikut ini adalah keterangan yang  disarikan dari The Navarre Bible, untuk perikop tersebut:

Perbuatan cabul yang disebutkan di sini adalah incest, yaitu seseorang yang hidup bersama dengan istri ayahnya (bukan ibunya sendiri melainkan ibu angkatnya. Kemungkinan ayahnya wafat, dan kemudian sang anak hidup bersama sebagai suami istri dengan ibu tirinya itu. Perbuatan ini menimbulkan skandal, karena bahkan dilarang oleh hukum Roma (hukum bangsa pagan). Nampaknya jemaat di Korintus seakan mentolerir perbuatan sang anak itu, karena salah menginterpretasikan pertobatan/ kelahiran baru dalam Baptisan, seolah mengabaikan ikatan keluarga yang lama/ sebelumnya.

Rasul Paulus tidak menerima tingkah laku yang sedemikian. Ia menekankan bahwa perbuatan itu adalah dosa berat. Rasul Paulus menyatakan bahwa sang anak itu berdosa, dan juga jemaat yang membiarkan tindakan yang demikian. Ajaran Yesus adalah, bahwa jemaat harus mengkoreksi anggotanya jika ia berbuat dosa, pertama dengan empat mata, jika tak berhasil, dengan memanggil satu atau dua orang saksi lainnya, dan jika tak berhasil juga, membawa permasalahan ini kepada jemaat; dan jika masih tidak berhasil, orang itu harus dianggap sebagai di luar kalangan mereka (lih. Mat 18:15-17), atau yang kini dikenal dengan istilah ekskomunikasi.

Maka konteks ayat 1 Kor 5:5 ini berkaitan dengan kasus ekskomunikasi. Rasul Paulus mengatakan bahwa ekskomunikasi: 1) diadakan ‘di dalam nama Tuhan Yesus’, yang menyatakan penilaian Gereja yang mengatasi pandangan pribadi manusia; 2) ‘dengan kuasa Tuhan Yesus’, menunjukkan bahwa Gereja mempunyai kuasa yang diperoleh dari Kristus sendiri, “Apa yang ikat di dunia akan terikat di surga” (Mat 18:18, 16:19, 28:28); 3) diadakan ketika ‘kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku’, yang menunjukkan hal kolegialitas tentang keputusan itu, yang diambil di bawah otoritas hirarkis dari Rasul Paulus; 4) ‘orang itu harus diserahkan kepada Iblis’, yang berarti bahwa orang itu harus dikeluarkan dari Gereja, maksudnya, tidak diperbolehkan menerima sakramen- sakramen Gereja, dan dengan demikian menjadi terekspos terhadap kuasa si jahat. Langkah ekskomunikasi ini merupakan langkah terakhir yang diambil oleh otoritas Gereja, jika upaya pemberitahuan secara damai tidak berhasil.

St. Thomas Aquinas menjelaskannya demikian, “Orang yang di-ekskomunikasi, karena mereka berada di luar Gereja, kehilangan keuntungan-keuntungan yang terkandung di dalamnya. Ada pula bahaya tambahan: doa-doa Gereja membuat Iblis kurang berdaya untuk mencobai kita; maka ketika seseorang tidak lagi termasuk di dalam Gereja, ia akan dengan mudah dikalahkan oleh Iblis. Demikianlah yang terjadi di Gereja perdana, ketika seseorang di-ekskomunikasi, maka umumnya ia mengalami penyiksaan secara fisik oleh Iblis.” (St. Thomas Aquinas, Super Symbolum Apostolorum, 10). Namun demikian, hukuman ini merupakan sangsi yang sementara, yang dilakukan ‘agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan’, maksudnya adalah sangsi ini diberlakukan agar orang itu dapat memperbaiki kelakuannya.

Sepanjang sejarah, Gereja telah menggunakan kuasa untuk memberlakukan sangsi (bahkan ekskomunikasi) ketika usaha persuasi telah gagal. “Jika karena beratnya dosa, maka hukuman secara publik diperlukan, mereka [para uskup] harus menggunakan ketegasan dengan kelemahlembutan, keadilan dan belas kasihan, untuk mempertahankan disiplin yang baik dan diperlukan oleh umat, dan untuk memimpin mereka yang dikoreksi untuk memperbaiki kesalahannya; atau jika mereka tak mau memperbaikinya, agar hukuman mereka dapat menjadi peringatan yang baik bagi semua orang yang lain, sehingga mereka terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang.” (Konsili Trente, De reformatione, bab 1).

Selanjutnya tentang ekskomunikasi, dapat membaca di link ini: https://www.newadvent.org/cathen/05678a.htm
Berikut ini adalah ringkasan mengenai tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan ekskomunikasi:

Ekskomunikasi yang dapat dijatuhkan oleh Paus: (imposed upon)

  • Semua apostasi/ heresi dan mereka yang mengikuti dan mendukung mereka.
  • Mereka yang membaca buku-buku yang dikarang oleh para apostat dan heretik, yang telah dilarang oleh Tahta Suci; mereka yang menyimpan bahkan mencetak dan mempertahankan apa yang disampaikan di sana.
  • Para skismatik yang secara keras kepala menentang otoritas Paus.
  • Mereka yang meminta kepada pihak ordinansi (keuskupan, pimpinan Ordo) untuk diadakannya konsili dan yang memberi bantuan/ dukungan akan permohonan ini.
  • Mereka yang membunuh, menyerang, bertindak kekerasan terhadap kardinal, patriarkh, uskup, nuncio.
  • Mereka yang baik secara langsung atau tidak langsung mencegah pelaksanaan yurisdiksi gerejawi, dan malah mencari perlindungan dari pengadilan sekular. 
  • Mereka yang langsung atau tidak langsung mengharuskan hakim awam untuk memberikan keputusan terhadap personel gerejawi di pengadilan mereka, kecuali pada kasus-kasus yang dilengkapi dengan perjanjian kanonik, dan mereka yang menetapkan hukum melawan hak-hak Gereja.
  • Mereka yang mencari perlindungan kepada kekuasaan awam untuk mencegah penyebaran surat-surat Apostolik apapun yang dikeluarkan oleh Tahta Suci.
  • Mereka yang memalsukan Surat-surat Apostolik berkenaan dengan rahmat atau keadilan yang ditandatangani oleh Paus atau wakilnya, ataupun memalsukan tandatangan Paus ataupun wakilnya sehubungan dengan hal tersebut.
  • Mereka yang memberi absolusi kepada orang yang dengannya ia berbuat dosa percabulan.
  • Mereka yang merampas/ menarik kepemilikan Gereja.
  • Mereka yang merusak, menguasai, tempat-tempat atau hak-hak Gereja Roma.

Ekskomunikasi yang secara jelas dinyatakan/ dilepaskan oleh Paus:

  • Mereka yang mengajarkan atau mempertahankan paham yang dikecam oleh Tahta Suci di bawah sanksi ekskomunikasi latae sententiae.
  • Mereka yang menyerang personel gerejawi/ kaum religius.
  • Mereka yang bertarung duel (dengan maksud pembunuhan), dan mereka semua yang terlibat di dalamnya.
  • Mereka yang mendukung/ menjadi anggota sekte Masonik, Carbonari atau sejenisnya, baik yang terang-terangan atau secara rahasia menentang Gereja dan otoritas legitimnya.
  • Mereka yang memerintahkan merusak imunitas tempat-tempat perlindungan gerejawi.
  • Mereka yang merusak biara, memperkosa biarawati; biarawati yang meninggalkan biaranya tanpa memenuhi ketentuan konstitusi menurut St. Pius V.
  • Para wanita yang masuk ke seminari/ clausura kaum religius pria dan superior yang menerima mereka.
  • Mereka yang nyata melakukan simoni untuk memperoleh posisi  gerejawi.
  • Mereka yang melakukan simoni secara rahasia untuk memperoleh kesempatan mendapat posisi gerejawi.
  • Mereka yang melakukan simoni untuk memasuki order religius.
  • Mereka yang mengedarkan Indulgensi secara tidak sah.
  • Mereka yang mengumpulkan stipendium dari Misa dan memperoleh keuntungan darinya.
  • Mereka yang diekskomunikasi menurut konstitusi Paus St. Pius V, dst, berkenaan dengan pengasingan kota-kota yang menjadi daerah milik Gereja Roma.
  • Kaum religius yang tanpa izin pastor paroki, memberikan sakramen Perminyakan suci, Ekaristi/ Viaticum kepada personel gerejawi atau awam, kecuali dalam keadaan mendesak.
  • Mereka yang tanpa izin mengambil relikwi dari kubur atau katakomba Roma atau kawasannya; dan mereka yang mendukungnya.
  • Mereka yang bersekutu dengan/ memberi bantuan kepada orang yang telah menerima ekskomunikasi dari Paus.
  • Kaum klerik yang tahu dan sadar dengan keinginan penuh bersekutu (in communion) dengan orang-orang (yang dengan nama) telah diekskomunikasi oleh Paus.

Ekskomunikasi yang dapat dilepaskan oleh uskup:

  • Personel gerejawi dalam Ordo atau yang tak di bawah ordo, atau biarawati yang nekad menikah meski telah melakukan kaul kemurnian, dan juga semua orang yang menikah dengan salah seorang dari orang-orang ini.
  • Mereka yang berhasil melakukan aborsi.
  • Mereka yang dengan sengaja menggunakan/ mencari keuntungan dari Surat-surat Apostolik yang palsu atau yang bekerjasama melakukan kejahatan pemalsuan ini.

Apakah Galileo Galilei dibunuh Gereja Katolik?

75

Ada banyak orang yang salah paham dengan mengatakan bahwa Galileo dihukum mati oleh Gereja Katolik, karena ia mengajarkan tentang teori heliosentris dan menolak paham geosentris yang saat itu diterima oleh masyarakat luas, termasuk Gereja. Namun hal ini tidaklah benar. Mari kita melihatnya satu persatu faktanya:

  1. Ada banyak teori/ paham berkaitan dengan kasus Galileo. Namun secara obyektif, kita melihat ada kesalahan yang dilakukan oleh pihak Galileo dan juga oleh Gereja.
  2. Sebelum Galileo, Nicolaus Copernicus (1473-1543) telah mempresentasikannya kepada Gereja Katolik tentang teori “heliocentric”. Bahkan Vatikan sendiri membantu untuk mempublikasikannya, setelah melalui proses editing, dan membantu publikasinya dengan bantuan Cardinal Schonberg dan Tiedemann Giese, uskup dari Culm dengan persetujuan Paus Paul III. Hanya dalam publikasi tersebut dikatakan bahwa teori itu masih berupa ” hipotesa“. Tidak ada yang menentang hipotesa ini, termasuk Paus. Malah reaksi keras tentang teori ini datang dari teolog Protestan. Untuk lengkapnya, dapat dilihat di: New Advent – Nicolaus Copernicus. Jadi dari sini kita melihat bahwa Gereja Katolik tidak anti science, namun malah mendorong kemajuan science, yang diteruskan sampai sekarang. Sungguh sangat disayangkan bahwa banyak orang beranggapan bahwa Gereja menentang science dan menyembunyikan science dari manusia untuk mempertahankan kekuasaan.
  3. Galileo Galilei (1564-1642) yang tertarik dan mendukung teori heliocentric dari Copernicus, mencoba membuktikan bahwa teori heliocentric adalah benar, dengan beberapa argumentasi yang tidak memenuhi standard science pada waktu itu. Namun dengan keadaan tersebut, Galileo tetap berkeras bahwa teori yang dikemukakannya adalah benar. Hal inilah yang menjadikan pertentangan dengan Gereja Katolik pada saat itu. Dan hal ini menimbulkan kebingungan di kalangan umat. Kemudian Galileo menghadap tim investigasi di Roma dan dari penyelidikan tim tersebut, dinyatakan bahwa teori heliocentric tidak dapat dibuktikan sesuai dengan standard science pada waktu itu, sehingga dinyatakan salah, juga bidaah dan anti Kitab Suci. Galileo harus mencabut pernyataannya, dan Galileo berjanji tidak akan mengajarkan teori ini lagi.
  4. Galileo benar ketika dia mengatakan bahwa Kitab Suci ditujukan untuk mengajarkan manusia bagaimana untuk mencapai surga. Bahkan Kardinal Bellarminus yang mempunyai pengaruh besar pada waktu itu mengatakan, “Saya katakan bahwa jika sebuah bukti yang konkrit ditemukan bahwa matahari tetap dan tidak berputar mengelilingi bumi, tetapi bumi mengelilingi matahari, maka menjadi sangat penting, secara hati-hati, untuk melakukan penjelasan dari beberapa ayat di Kitab Suci yang terlihat bertentangan, dan kita lebih baik mengatakan bahwa kita telah salah menginterpretasikan semua ini daripada mengumumkan bahwa hal itu adalah salah seperti yang telah dibuktikan”. Hal ini berarti bahwa Gereja Katolik mempunyai sikap bahwa kalau teori tersebut dapat dibuktikan sesuai dengan standard pembuktian science pada waktu itu, dan terbukti benar, maka Gereja akan berfikir bagaimana menginterpretasikan Kitab Suci, sehingga tidak bertentangan dengan kebenaran tersebut. Di sinilah Galileo benar, bahwa Alkitab bukanlah buku science, namun mengajarkan orang untuk mencapai surga.
  5. Walaupun Galileo telah berjanji mentaati untuk tidak mengajarkan teori tersebut, namun Galileo mengingkarinya dengan menerbitkan buku di tahun 1632. Dan kemudian Galileo dihadapkan pada tim investigasi dan kemudian Galileo menjalani tahanan rumah sambil melakukan penitensi. Namun sungguh sangat salah kalau dikatakan seolah-olah Galileo tidak diperlakukan tidak manusiawi, karena baik selama proses investigasi dan tahanan rumah, Galileo mendapatkan fasilitas yang sangat baik. Pada tahun 1642, dia meninggal dan 5 tahun sebelum meninggal dia mengalami kebutaan. Paus Urban VIII memberikan berkat khusus buat Galileo, dan jenasahnya dikuburkan di dalam Gereja Santa Croce di Florence. Hal ini dapat dibaca di New Advent – Galileo Galilei.
  6. Dari hal ini, sejarah membuktikan bahwa Gereja Katolik tidak membunuh Galileo. Apakah ada kesalahan yang dibuat oleh Gereja Katolik? Ya, terutama adalah tim investigasi pada waktu itu, yang mungkin kurang bijaksana menyikapi kasus ini. Di sisi yang lain, Galileo sendiri tidak dapat membuktikan kebenaran teorinya sesuai dengan standard science pada waktu itu dan tetap memaksakan sesuatu yang belum terbukti sebagai suatu kebenaran. Dari sinilah Cardinal Ratzinger mengutip Paul Feyerabend, seorang filsuf dari Austria yang mengatakan ” Pada jaman Galileo, Gereja lebih setia terhadap akal budi dibandingkan dengan Galileo sendiri“. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa “Pada akhir dari milenium ke dua, kita harus mengadakan pemeriksaan batin bagaimana kita sekarang, bagaimana Kristus telah membawa kita, dan bagaimana kita telah menyimpang dari Injil”. Dan memang Gereja yang masih mengembara harus terus memurnikan diri, karena walaupun Gereja itu Kudus (karena Kepala dari Gereja, Kristus, adalah kudus), namun mempunyai anggota yang berdosa (KGK, 827).

Berikut ini adalah sekilas kisahnya tentang Galileo dan mengapa ia dihadapkan pada tim investigasi Gereja:

Hal ini akan lebih dapat dipahami jika kita berusaha memahami keadaan masyarakat pada zaman abad pertengahan sampai pada abad 17, di mana peran Gereja sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sebab para imam/ biarawan terutama kaum Jesuit pada saat itu banyak yang menjadi ahli dalam ilmu pengetahuan, seperti matematika, biologi, kedokteran, metalurgi, dst, termasuk astronomi. Pada saat itu sikap para ilmuwan adalah mengembangkan ataupun menyelaraskan apa yang mereka pelajari dengan apa yang mereka ketahui sebagai Wahyu Ilahi yang dinyatakan dalam Kitab Suci.

Berikut ini kami menyarikan informasi yang netral dari Wikipedia, dan juga dari sumber- sumber lainnya:

Dalam hal astronomi khususnya prinsip heliosentris (matahari sebagai pusat yang statis, sedangkan bumi, bulan dan planet-planet yang berputar mengelilinginya) yang diajarkan oleh Galileo Galilei, menjadi sangat menarik, karena seolah- olah, hal ini berlainan dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dan yang diyakini masyarakat umum dan Gereja pada saat itu, yang menyatakan bahwa sepertinya bumi-lah yang menjadi pusatnya (geosentris), seperti tertulis dalam Mzm 93:1, 96:10 dan 1 Taw 16:30 yang mengatakan, “Sungguh tegak dunia (bumi), tidak bergoyang” (lihat juga ayat Mzm 104:5, Pkh 1:5). Galileo berargumen, bahwa sesungguhnya ayat- ayat ini harus dianggap sebagai puisi, dan tidak harus diinterpretasikan secara literal. Nah untuk inilah pihak Gereja membutuhkan pembuktian dari Galileo, sebelum dapat menyetujui interpretasi ayat- ayat tersebut, karena pada umumnya, cara interpretasi Kitab Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah, pertama- tama harus diterima arti literalnya terlebih dahulu; baru kemudian arti spiritualnya; kecuali jika pengartian secara literal itu sama sekali tidak mungkin/ tidak masuk akal.

Pada saat teleskop ditemukan sekitar 1608, sehingga Galileo menggunakannya (1610) untuk mengamati tata surya, maka ia melihat adanya 4 satelit/ bulan yang mengitari planet Yupiter, dan ini membuktikan bahwa tidak semua planet bergerak mengitari bumi. Namun penemuan teleskop itu tidak bisa secara meyakinkan menjelaskan secara empiris bahwa semua planet, termasuk bumi bergerak mengitari matahari. Inilah permasalahannya. Sebab ada juga teori lain saat itu- yang dipelopori oleh Tycho de Brahe, yang mengatakan bahwa semua planet bergerak mengitari matahari, dan bersama-sama dengan matahari, semuanya mengitari bumi.

Selanjutnya, pada tahun 1616, Galileo menyampaikan bukti teori heliosentris kepada Kardinal Orsini, yaitu adanya pasang air laut, yang menurut Galileo disebabkan oleh perputaran bumi pada porosnya dan perputaran bumi terhadap matahari. Memang teori ini memberikan dasar pemikiran akan pentingnya bentuk dasar lautan dalam hal ukuran dan waktu terjadinya pasang. Namun sebagai alasan terjadinya pasang, teorinya ini keliru. Sebab jika teori ini benar, maka akan hanya terjadi satu kali saja pasang yang tinggi setiap harinya, padahal kenyataannya di Venesia, contohnya, terdapat dua kali pasang, dengan jeda sekitar 12 jam. Terhadap pernyataan Galileo ini ilmuwan Albert Einstein mengatakan, bahwa Galileo mengembangkan “argumen yang mengagumkan” ini tanpa dikritisi, karena keinginannya menemukan bukti fisik tentang pergerakan bumi.

Pada tahun yang sama, Galileo bertemu dengan Kardinal Bellarminus, dan ia menyampaikan teori heliosentris tersebut. Awalnya Kardinal Bellarminus tidak menolak hipotesa tersebut, namun setelah beliau mengetahui bahwa bukti- bukti yang disampaikan Galileo tidak memadai, maka ia kemudian mengeluarkan dekrit yang melarang publikasi teori tersebut.

Ilmuwan yang pertama-tama menentang Galileo dengan menggunakan Kitab Suci adalah seorang bernama Lodovico delle Colombe, yang kemudian mendapat dukungan dari imam Dominikan, Tommaso Caccini (1614), walaupun pada saat itu banyak tokoh Gereja Katolik malah sebenarnya mendukung percobaan Galileo, terutama kaum Jesuit. Pandangan Gereja Katolik yang resmi akhirnya disampaikan oleh Kardinal Robertus Bellarminus, yang mengatakan demikian:

I say that if there were a true demonstration that the sun was in the center of the universe and the earth in the third sphere, and that the sun did not go around the earth but the earth went around the sun, then it would be necessary to use careful consideration in explaining the Scriptures that seemed contrary, and we should rather have to say that we do not understand them than to say that something is false which had been proven.” (Letter of Cardinal Bellarmine to Foscarini.)

terjemahannya:

“Saya berkata jika ada pembuktian yang benar bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi di lingkaran ke tiga, dan bahwa matahari tidak berputar mengelilingi bumi tetapi bumi mengitari matahari, maka adalah penting untuk menggunakan pertimbangan yang hati- hati dalam menjelaskan Kitab Suci yang kelihatannya sebaliknya, dan kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak mengetahuinya daripada mengatakan sesuatu yang salah, seperti yang telah dibuktikan.” (Surat Kardinal Belarminus kepada Foscarini).

Karena bukti yang dapat mendukung teori ini tidak cukup memadai, maka Gereja tidak dapat mendukung teorinya. Maka pada tahun 1616, pihak Gereja Katolik mengeluarkan dekrit bahwa teori heliosentris tersebut adalah teori yang salah dan bertentangan dengan Kitab Suci. Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Gereja Katolik yang menolak teori Copernicus yang dipegang oleh Galileo, tetapi gereja Protestan juga menolaknya. Bahkan Martin Luther termasuk barisan pertama yang menentang teori heliosentris, bersama-sama dengan muridnya Melancthon dan para teolog Protestan lainnya. Mereka mengecam karya Copernicus. Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya demikian “an ass who wants to pervert the whole of astronomy and deny what is said in the book of Joshua, only to make a show of ingenuity and attract attention”. ((Herbert Butterfield, The Origins of Modern Science (New York: the Free Press, 1957), p. 69))  Atau Melancthon yang menyebut semua pengikut Copernicus (termasuk Galileo) sebagai ‘tidak jujur dan merusak’. ((P. Melancthon, “Initia doctrinae physicae,” Corpus Reformatorum, ed. Bretschneider, XIII, p. 216.))  Maka tidak benar bahwa pada saat itu yang menentang Galileo hanya Gereja Katolik, sebab Luther dan para tokoh gereja Protestan juga menentang teori heliosentris yang diyakininya.

Galileopun untuk sementara waktu tunduk pada larangan ini, sampai pada tahun 1623 saat Kardinal Maffeo Barberini, seorang pengagumnya, menjadi Paus, dengan nama Paus Urban VIII. Pada tahun ini, Galileo diijinkan oleh Paus untuk melanjutkan penelitian atas hipotesanya, asalkan 1) memberi argumen- argumen tentang hal- hal yang mendukung dan menentang teori heliosentrism, 2) agar pandangannya tentang hal ini dimasukkan dalam buku tersebut. Galileo hanya memenuhi permintaan yang kedua dalam bukunya yang diberi judul Dialogue Concerning the Two Chief World Systems. Namun, sengaja atau tidak, Galileo memasukkan pandangan Paus itu dalam tokoh Simplicio, sebagai pendukung teori geosentris-nya Aristoteles, yang dibuatnya menjadi tokoh yang bodoh/ pandir. Maka Galileo bukannya menampilkan hal pro dan kontra secara netral, tetapi cenderung untuk membela pandangannya yang pro terhadap heliosentris ini- walaupun ia belum dapat memberikan bukti yang meyakinkan secara ilmiah untuk mendukung teorinya. Oleh karena itu, Galileo kehilangan dukungan dari Paus yang merasa dilecehkan olehnya, dan juga oleh para astronom Jesuit. Akhirnya Galileo dikenakan tahanan rumah sampai ia diadili oleh Pengadilan Inkuisisi tahun 1633, atas tuduhan mengajarkan teori yang bertentangan Kitab Suci, yaitu bahwa matahari tidak bergerak sebagai pusat jagad raya. Namun atas kebaikan Uskup Agung Siena, akhirnya Galileo diperbolehkan pulang ke villanya di dekat Florence tahun 1634 sampai wafatnya di tahun 1642, setelah menderita demam dan serangan jantung, di usia yang ke 77.

Maka sebenarnya kita ketahui bahwa pihak otoritas Gereja Katolik mempunyai pikiran yang terbuka terhadap teori Galileo, seandainya ia dapat membuktikannya. Namun sayangnya Galelio tidak dapat membuktikannya, tapi ia berkeras agar Gereja memperhitungkan cara baru untuk menginterpretasikan Kitab Suci. Sebenarnya, jika Galileo hanya mendiskusikan mengenai pergerakan planet, maka ia dapat terus mengajarkan konsep heliosentris ini sebagai proposal teori dengan aman, tetapi rupanya Galileo berkeras untuk mengatakan hal ini sebagai kebenaran, walaupun ia tidak mempunyai bukti yang mendukung pada saat itu. Bukti yang diperlukan, yaitu data/ informasi mengenai jalur pergeseran paralel dari bintang-bintang karena pergeseran orbit bumi mengelilingi matahari, tidak dapat diamati dengan teknologi pada saat itu. Konfirmasi stellar parallax ini baru ditemukan di tahun 1838 oleh Friedrich Wilhelm Bessel.

Seperti telah diuraikan di point 1, teori heliosentris yang diajarkan oleh Galileo berhubungan dengan cara menginterpretasikan Kitab Suci. Magisterium Gereja Katolik berpegang kepada Tradisi Suci mengajarkan bahwa Kitab Suci pertama- tama harus diartikan secara literal, dan baru kemudian secara spiritual. Dengan kata lain, hanya jika suatu ayat tidak mungkin diartikan secara literal, baru dapat dinyatakan bahwa ayat itu hanya untuk diinterpretasikan secara spiritual. Untuk mengubah interpretasi menjadi arti spiritual saja pada ayat- ayat tersebut (Mzm 93:1, 96:10 dan 1 Taw 16:30), nampaknya masih merupakan perdebatan saat itu, karena pihak Gereja menghendaki buktinya terlebih dahulu. Penjelasan ini diperlukan, sebab jika tidak, orang dapat menyangka bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci adalah salah, padahal sebenarnya yang salah adalah interpretasinya. Tetapi untuk sampai pada kesimpulan ini, Gereja membutuhkan kepastian terlebih dahulu, bahwa ayat itu memang tidak dapat diartikan secara literal.

Maka urusan Galileo ini tidak ada hubungannya dengan Infalibilitas Bapa Paus. Sebab karisma Infalibilitas Bapa Paus (Paus yang tidak dapat sesat) ini hanya dapat berlaku dalam 3 syarat ((lih. Lumen Gentium, 25, KHK Kan. 748, 1)): 1) Bapa Paus harus berbicara dalam kapasitasnya sebagai penerus Rasul Petrus; 2) pada saat Bapa Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral; 3) Ketika Bapa Paus mendefinisikan doktrin yang harus dipegang oleh Gereja secara universal. Dalam kasus Galileo ini, ketiga syarat ini tidak terpenuhi. Klaim yang dapat dikatakan dalam hal ini adalah bahwa Gereja pada saat itu mengeluarkan disiplin yang non-infallible terhadap seorang scientist yang mengajarkan teori yang belum bisa dibuktikan, dan yang menuntut Gereja mengubah interpretasi Kitab Suci untuk dapat menerima teorinya ini.

Adalah baik bahwa Gereja Katolik tidak terburu-buru untuk menyetujui teori Galileo ini, sebab sekarang kita ketahui bahwa teori Galileo ini tidak sepenuhnya benar. Galileo berpegang bahwa matahari tidak hanya pusat tata surya tetapi pusat seluruh jagad raya. Sekarang kita ketahui bahwa matahari bukan pusat dari seluruh jagad raya, dan matahari juga sebenarnya bergerak mengitari galaksi Milky Way. Maka Galileo ‘benar’ dengan menyatakan bahwa bumi bergerak, tetapi ‘salah’ dengan menyatakan matahari tidak bergerak. Sebaliknya para opponent Galileo ‘benar’ dalam mengatakan bahwa matahari bergerak, namun ‘salah’ dengan menyatakan bumi tidak bergerak.

Terlepas dari bermacam kontroversi Galileo ini, kenyataannya, Gereja Katolik juga telah berusaha mengembalikan nama baik Galileo. Paus Yohanes Paulus II pernah membuat permintaan maaf secara formal pada tahun 1992. Sekarang malah direncanakan Vatikan akan meletakkan patung Galileo di kompleks Vatikan, yaitu kebun di dekat apartemen tempat Galileo ditahan ketika menunggu pengadilan tahun 1633. Namun jauh sebelumnya melalui surat ensikliknya Providentissimus Deus (1893), Paus Leo XIII telah mendorong pendekatan/ approach Galileo untuk menyelaraskan antara iman dan ilmu pengetahuan, sebab keduanya sebenarnya tak mungkin bertentangan. Alkitab memang bukan buku science/ ilmu pengetahuan. Jika ada ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan dengan science, itu adalah karena penyampaiannya dengan gaya bahasa fenomenologis, dan yang termasuk dalam salah satu gaya bahasa yang harus diperhatikan dalam menginterpretasikan Kitab Suci, yang diajarkan oleh Gereja Katolik, seperti yang pernah disampaikan di artikel ini, silakan klik.

Mengapa kita makan dan minum Tubuh dan Darah Tuhan Yesus

25

Penjelasan panjang mengenai mengapa kita memakan Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, dan apa makna dari Ekaristi ini dapat dibaca di di artikel: Sudahkah kita pahami Ekaristi, silakan klik. Singkatnya, kita memakan Tubuh dan Darah Kristus karena Tuhan Yesus sendiri memerintahkannya kepada kita, melalui para rasul-Nya. Tepatnya demikianlah perkataan Yesus,

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia…… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

Maka, sama seperti dalam kehidupan jasmani kita perlu makan supaya kita tetap hidup, demikian kita perlu makanan rohani yaitu Yesus sendiri, supaya kita dapat memperoleh hidup yang kekal. St. Thomas Aquinas sangat terkenal dalam mengajarkan semboyan, “grace perfects nature” yaitu bahwa rahmat Allah menyempurnakan kodrat manusia, maka kita kenal juga bahwa dalam kehidupan spiritual, terdapat juga proses yang serupa dengan kehidupan kodrati, yaitu: Kelahiran rohani dengan Pembaptisan, Kedewasaan rohani dengan Penguatan, Makanan rohani dengan Ekaristi, Penyembuhan rohani  [dan jasmani] dengan Pengakuan dosa dan Pengurapan orang sakit/ Perminyakan, Perkawinan dan Tahbisan untuk memaknai panggilan hidup.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang disampaikan Yesus berkenaan dengan apa maksud-Nya Ia memerintahkan kita agar makan dan minum Tubuh dan Darah-Nya:

1. Yesus sendiri lahir di kota Betlehem, yang artinya adalah “Rumah Roti” sejalan dengan identitas Diri-Nya sebagai “Roti Hidup” (Yoh 6:51). Maka pemberian roti manna kepada orang Israel di PL diperbaharui dalam PB, dengan Roti Hidup, yaitu Ekaristi. Pada PL, roti manna diberikan oleh Allah untuk menuntun bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian (Kanaan), sedangkan sekarang, Ekaristi diberikan kepada kita umat Katolik, sebagai bangsa pilihan Allah yang baru, agar kita dapat mencapai Tanah Perjanjian yang baru yaitu Surga.

2. Yesus sendiri membuat mukjizat pergandaan roti untuk mempersiapkan umat terhadap pengajaran-Nya tentang Roti Hidup ini, dan mukjizat pergandaan roti yang memberi makan lima ribu orang ini merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dicatat oleh ke-empat Injil  (Mat 14:13-21; Mrk 6:32-44; Luk 9:10-17; Yoh 6: 1-15). Persahabatannya dengan para pengikut-Nya sering ditandai dengan makan bersama, mislanya kisah Maria, Martha, Lazarus, bahkan Zakheus.

3. “Roti Hidup” merupakan salah satu pengajaran Yesus yang terpenting dan tersulit, namun Yesus tetap mengajarkan-Nya meskipun pada saat ia mengajarkan hal ini banyak pengikut-Nya meninggalkan Dia (Yoh 6:66). Yesus tidak mengganti ajaran ini dengan ajaran lain yang lebih “mudah”, namun malah bertanya kepada para Rasul, “Apakah kamu mau pergi juga?” (Yoh 6:67), yang dijawab Petrus dengan iman bahwa mereka tidak akan berpaling dari Yesus.

4. Sebelum wafat-Nya Yesus berpesan kepada para murid-Nya untuk melakukan perjamuan ini sebagai peringatan akan Diri-Nya dan karya keselamatan Allah kepada manusia (Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23; Yoh 13:21-30).

5. Sesudah kebangkitan-Nya,  Ia menampakkan diri kepada dua orang muridnya dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35), dengan menjelaskan isi Alkitab dan perjamuan Ekaristi. Kedua hal inilah yang terdapat dalam Misa Kudus, yaitu liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi.

6. Ekaristi (“memecah roti dan berdoa”) merupakan cara ibadah para rasul dan jemaat pertama (lih. Kis 2:42). Rasul Paulus-pun mengajarkan tentang Ekaristi ini (1 Kor 11: 23-29).

7. Bahwa sudah menjadi maksud Yesus untuk memberikan “Roti Surga”/ “Manna yang baru” kepada umat-Nya, dan dengan demikian kita akan tergabung dalam persekutuan dengan-Nya, sampai akhirnya kita bersatu dengan sempurna dengan Dia di surga. Ia berkata, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Why 3:20).

Kita melakukannya karena Tuhan Yesus sendiri memerintahkan-Nya kepada kita, dan ini pula-lah yang diterapkan oleh Gereja sejak awal. Semoga kita semakin menyadari makna Ekaristi yang sangat dalam ini, dan oleh karena itu mengambil bagian di dalamnya dengan rasa hormat dan syukur. Selanjutnya, silakan membaca kedua artikel ini, yaitu mengapa Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan kita, silakan klik, dan bagaimana mempersiapkan diri menyambut Ekaristi, silakan klik.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab