Home Blog Page 150

Apa maksud 1000 tahun dalam Why 20:5?

0

Demikian keterangan yang diambil dari The Navarre Bible, tentang Why 20:4-6, demikian:

“Terdapat berbagai interpretasi sehubungan dengan 1000 tahun di ayat Why 20:5. Para “millenarian” mengartikan ayat ini secara literal, bahwa setelah Kristus bangkit dari mati, Yesus akan memimpin di bumi selama seribu tahun. Gereja tidak pernah menerima interpretasi ini. Sepertihalnya ada banyak angka-angka yang disebutkan dalam kitab Wahyu, angka 1000 ini juga harus diartikan secara simbolis dan bukannya secara aritmatika. Maka angka 1000 tahun ini mengacu kepada jangka waktu yang terbentang antara Inkarnasi Kristus sampai dengan akhir zaman. Juga dapat diartikan menggambarkan masa kejayaan setelah kedatangan Kristus yang kedua kali, atau dapat juga diartikan sebagai kontras dari “sedikit waktu lamanya” yang disebut dalam Why 20:3 tentang jangka waktu Iblis dilepaskan…..

Tuhan Yesus menggambarkan bahwa pendirian Kerajaan Mesianis terjadi dalam dua tahap: Pertama, pada saat kedatangan-Nya yang pertama, di mana Ia meninjukkan kuasa-Nya atas setan, dan memulai Kerajaan Allah, dan kedua, pada saat kedatangan-Nya yang kedua kalinya di akhir zaman, ketika Kerajaan akan berdiri dengan kepenuhannya, dalam bentuknya yang telah sempurna. Itulah sebabnya, mengapa kita melihat bahwa penjelasan St. Agustinus tentang millenium (1000 tahun) ini adalah yang paling memuaskan. Menurut St. Agustinus, 1000 tahun ini adalah jangka waktu antara Inkarnasi Kristus Putera Allah dan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Sepanjang jangka waktu ini, kegiatan setan dalam derajat tertentu terkekang, ia seolah terikat…. Kuasa setan tidak berjaya, artinya manusia dapat menghindarinya…. The Cure of Ars (St. Yohanes Vianney) mengatakan, “Setan adalah seperti anjing yang dirantai, yang mengancam dan membuat keributan, tetapi hanya menggigit mereka yang datang terlalu dekat dengannya (Selected Sermons, Minggu pertama masa Prapaska)….

Menurut interpretasi ini, “kebangkitan yang pertama” harus diartikan secara rohani sebagai Baptisan, yang melahirkan kembali manusia dan memberikan kehidupan baru dengan membebaskan dia dari dosa dan mengangkatnya menjadi anak Allah. Kebangkitan yang kedua adalah kebangkitan yang terjadi di akhir zaman, ketika tubuh/ badan akan dibangkitkan dan menjadi hidup kembali, sehingga keseluruhan manusia, tubuh dan jiwanya akan masuk dalam suka cita yang kekal [bagi orang-orang benar]. Sedangkan ‘orang-orang mati yang lain’, adalah mereka yang tidak menerima Baptisan, yang akan juga diadili di hari terakhir, menurut perbuatan mereka.

Sedangkan tentang Mengapa Gereja Katolik tidak mengajarkan Kerajaan literal 1000 tahun, silakan klik di sini.

Di ayat- ayat manakah Yesus disebut sebagai Allah (God)?

58

Ada pandangan sementara orang yang meragukan ke-Allahan Yesus, karena mereka menyangka bahwa di Kitab Suci tidak ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Nampaknya mereka sampai pada kesimpulan ini karena: 1) mereka membedakan istilah ‘Tuhan’ dengan ‘Allah’; 2) mereka mengabaikan banyaknya ayat lain yang secara implisit namun jelas menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, 3) mereka tidak mengartikan Kitab Suci dengan terang Tradisi Suci para Rasul.

Gereja Katolik tidak membedakan istilah antara Tuhan dengan Allah, karena memang keduanya sama maknanya, jika mengacu kepada Sang Ilahi. Bahwa kata ‘Kurios‘ (bahasa Yunani) /’Adonai‘ (bahasa Ibrani)/’Tuhan‘ dapat mengacu juga kepada arti kata ‘tuan’ atau bahkan ‘suami’, sebagaimana pernah diuraikan di sini, silakan klik, itu memang benar, tetapi jika istilah itu ditujukan kepada Sang Ilahi, maka istilah tersebut mengacu kepada Allah yang sama. Itulah sebabnya dalam ayat-ayat Kitab Suci istilah Allah dan Tuhan sering diletakkan berdampingan dan sejajar, untuk menunjukkan kesetaraan makna istilah tersebut.

Beberapa contoh ayat yang menyebutkan Yesus sebagai Tuhan dan Allah, sebagai Mesias, Kristus, Anak Allah, dan dengan demikian, sehakekat dengan Allah adalah:

1. Di hadapan Mahkamah Agama, sebelum para tua-tua Yahudi membawa Yesus untuk dihukum mati, mereka bertanya, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” (lih. juga, Mat 26:63, “…katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak?”). Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.” (Luk 22:70-71).

St. Thomas Aquinas dalam bukunya Catena Aurea menjelaskan ayat ini dalam Injil Matius, dengan mengutip pengajaran St. Ambrosius, “Tuhan Yesus lebih berkehendak untuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah Raja [Anak Allah], daripada mengatakan bahwa diri-Nya sendiri adalah Raja [Anak Allah], sehingga mereka [para tua-tua Yahudi] tidak mempunyai alasan untuk menghukum-Nya, ketika mereka mengakui kebenaran yang atasnya mereka menuntut Dia. Maka Yesus berkata, “Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Anak Allah.”

Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Allah, dengan berkata, “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14). “Aku adalah Aku” adalah arti dari kata Yahweh. Istilah “Alfa dan Omega” (sebab awal dan tujuan akhir segala sesuatu), yang mengacu kepada Allah sendiri, juga dikatakan oleh Kristus tentang siapa Diri-Nya (Why 1:8, 21:6; 22:13). Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada terlebih dahulu (Yoh 8:58), dan justru karena jawaban ini, yang secara jelas menyatakan bahwa Ia adalah Allah, maka Yesus dijatuhi hukuman mati atas tuduhan menghujat Allah.

Yesus juga jelas menyatakan bahwa Ia adalah Tuhan, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yoh 13:13) Tidak ada seorang-pun yang lain, yang pernah berkata demikian.

2. Ketika Rasul Tomas melihat Yesus yang telah bangkit dan menampakkan diri-Nya, ia berkata, “Ya, Tuhanku (Kurios/ Lord) dan Allahku (Theos/ God)” – (Yoh 20:28).

Kitab Mazmur dalam Perjanjian Lama juga menyebut Allah dengan sebutan ‘Elohim’/ God, dan ‘Adonai’/ Lord, “Terjagalah dan bangunlah membela hakku, membela perkaraku, ya Allah [Elohim]-ku dan Tuhan [Adonai]-ku!” (Mzm 35:23).

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:2,10).

Fakta bahwa Tuhan Yesus yang bangkit tidak mengatakan apapun yang menyanggah ucapan Tomas,  menyatakan bahwa Ia membenarkan perkataan Tomas, dan bahkan meneguhkan kepercayaan Tomas  dengan berkata, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29). ‘Percaya’, yang dimaksud di sini adalah percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah (Yoh 20:28), dan karena itu Ia dapat bangkit dari kematian, di mana kebangkitan-Nya merupakan kemenangan-Nya atas dosa dan maut.

3. Rasul Petrus mewakili para Rasul pada hari Pentakosta, mengajarkan bahwa Yesus adalah Kristus, dan sebutan Kristus mengacu kepada Mesias (lih. Yoh 1:41; 4:25), Anak Allah yang hidup (Mat 16:16).

“Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kis 2:36)

“Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu …” (2Kor 1:19)

Rasul Petrus juga menyebut Yesus sebagai sumber keselamatan kekal, dan dengan demikian menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, sebab hanya Allah-lah yang dapat memberikan keselamatan kekal kepada manusia (lih. Kis 4:12, 10:42-43)

4. Rasul Paulus juga mengajarkan bahwa Kristus adalah Allah:

“Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia [Yesus Sang Mesias] adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” (Rom 9:5)

“Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus….” (Tit 2:12-13)

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:5-11)

Sedangkan, di banyak ayat yang lain Rasul Paulus menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, yang walaupun berbeda Pribadi dengan Allah Bapa, namun satu dan setara dengan Dia:

Yesus Kristus disebut sebagai Pencipta, maka Yesus adalah Allah, sebab hanya Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu: “Ia [Kristus] adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, … karena di dalam Dia [Kristus]-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, segala sesuatu diciptakan oleh Dia [Kristus] dan untuk Dia [Kristus]. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia [Kristus].” (Kol 1:15-17)

“Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia [Kristus]” (Kol 1:19).

“namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1Kor 8:6)

“Ia [Kristus] adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan….” (Ibr 1:3). Hanya Allah sajalah yang menopang segala ciptaan-Nya dengan firman-Nya.

5. Rasul Yohanes juga mengajarkan bahwa Yesus, Sang Firman, adalah Allah:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia [Sang Firman/ Kristus] dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia [Sang Firman/ Kristus] ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh 1:1-4, 14)

“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup– itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. (1Yoh 1:1-4)

Di samping ayat-ayat ini terdapat begitu banyak ayat yang lain dalam Kitab Suci yang menyatakan ke-Allahan Yesus, sebagaimana pernah ditulis di artikel ini, Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah, silakan klik, dan Aku Percaya akan Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal silakan klik. Sedangkan secara garis besar, Mengapa Orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan, klik di sini.

Sinode Uskup-uskup: Evangelisasi Baru Untuk Menyebarkan Iman Kristen

3

Sinode Uskup-uskup
Sidang Umum Biasa XIII
Tema Sidang:

EVANGELISASI BARU UNTUK PENYEBARLUASAN IMAN KRISTEN

SAPAAN DAN PESAN SIDANG UNTUK UMAT SELURUHNYA

Saudara-saudari,

Kasih karunia  dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kamu”(Rm 1:7). Kami, Uskup-uskup dari seluruh dunia,  atas undangan Uskup Roma, Sri Paus Benediktus XVI, bersidang untuk  merefleksikan pokok “evangelisasi baru untuk penyebarluasan iman Kristen”. Sebelum kembali ke keuskupan-keuskupan kami, kami  ingin menyapa Anda sekalian agar mendukung serta mengarahkan pemberitaan Injil di berbagai tempat  di mana kita sekarang berada untuk memberikan kesaksian.

1. Seperti perempuan Samaria di sumur

Mari kita mohon terang dari perikop Injil ini: perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria (lih. Yoh 4:5-42). Tidak ada seorang pun, laki atau perempuan, yang tidak mengalami seperti perempuan Samaria itu: duduk di pinggir sebuah sumur dengan tempayan kosong, dengan harapan akan terpenuhinya kerinduan hatinya yang paling dalam, yang dapat membuat hidupnya sungguh bermakna. Dewasa ini  banyak sumur menawarkan diri sebagai pemuas dahaga umat manusia. Tetapi kita harus menyaring untuk menghindari air yang tercemar. Kita harus mencari ke arah yang tepat, agar tidak terjebak dalam kekecewaan yang bisa membawa kehancuran.

Seperti Yesus di sumur Sikhar, Gereja juga merasa wajib duduk di samping orang-orang dewasa ini. Gereja ingin menghadirkan Yesus dalam kehidupan mereka agar mereka dapat  menjumpai Dia, karena hanya Roh-Nya saja yang merupakan air yang memberikan kehidupan yang sejati dan kekal. Hanya Yesus yang dapat membaca kedalaman hati kita dan mengungkapkan kebenaran mengenai diri kita:”Ia mengatakan  kepada saya segala sesuatu yang sudah saya perbuat”(Yoh 4:29), demikian pengakuan perempuan itu kepada orang-orang sekotanya. Kata- kata  itu merupakan maklumat  yang terkait dengan pertanyaan yang membuka hati untuk percaya:”Mungkinkah Dia itulah Kristus?”(ibid)”. Hal itu menunjukkan bahwa siapapun juga yang menerima hidup baru dari perjumpaannya dengan Yesus tidak dapat berbuat lain daripada memaklumkan kebenaran dan harapan kepada orang-orang lain. Pendosa yang bertobat menjadi pemaklum keselamatan dan dia mengantar seluruh kota kepada Yesus. Setelah menerima kesaksiannya, orang-orang itu beralih ke pengalaman perjumpaan pribadi:”Kami percaya tetapi bukan lagi karena apa yang engkau katakan; sebab kami sendiri sudah mendengar Dia, dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat  dunia”(Yoh 4: 42).

2. Suatu evangelisasi baru

Mengantar orang-orang zaman kita kepada Yesus, ke perjumpaan dengan Dia, adalah satu tugas yang  mendesak, yang menyangkut semua bagian dunia, baik yang sudah lama maupun yang baru dievangelisasi. Sebab di mana-mana kita merasakan perlunya menghidupkan kembali iman yang menghadapi bahaya menjadi kabur dalam berbagai konteks budaya. Lingkup budaya itu membuat iman  tidak berakar dalam hidup pribadi dan tidak kelihatan pengaruhnya dalam masyarakat; isi iman menjadi tidak jelas dan tidak menghasilkan buah yang sepadan.

Bukan berarti bahwa kita harus mulai lagi dari awal;  tetapi bahwa kita harus masuk menempuh jalan panjang pemakluman Injil dengan keberanian apostolik seperti Paulus  yang sampai berkata, “Celakalah saya bila saya tidak memaklumkan Injil!”( I Kor 9:16).  Sepanjang sejarah, mulai dari abad-abad pertama zaman kekristenan sampai sekarang,  Injil telah membentuk komunitas-komunitas  orang beriman di seluruh dunia. Entah besar atau kecil, itulah hasil buah pengabdian dari berbagai angkatan saksi Yesus – misionaris dan martir – yang kita peringati dengan penuh syukur.

Perubahan pentas sosial, budaya, ekonomi, politik dan agama memanggil kita untuk sesuatu yang baru:  menghayati pengalaman iman kita sebagai komunitas dengan cara yang baru dan memaklumkannya dalam satu evangelisasi yang “baru dalam semangatnya, dalam metodanya, dan dalam ungkapannya” (( Yohanes Paulus II, Discourse to the XIX Assembly of CELAM, Port-au-Prince, 9 March 1983, n.3.)) sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus II. Benediktus XVI mengingatkan bahwa  itu adalah evangelisasi yang ditujukan “terutama kepada mereka yang, walaupun sudah dibaptis, namun  menjauh dari Gereja dan hidup tanpa mengacu kepada hidup Kristen… untuk menolong orang-orang itu berjumpa dengan Tuhan  yang memenuhi keberadaan kita dengan makna yang dalam dan damai; dan untuk  membantu menemukan kembali iman, sumber rahmat yang membawa sukacita serta harapan  bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat”. ((Benediktus XVI, Homili dalam Ekaristi untuk pembukaan Sidang Umum Biasa ke XIII Sinode Uskup-Uskup, Roma, 7 Oktober 2012.))

3. Perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus di dalam Gereja

Sebelum berbicara mengenai bentuk-bentuk  yang semestinya ada dalam evangelisasi baru, kami merasa perlu menyampaikan kepada Anda keyakinan kami yang mendalam bahwa iman menentukan segala sesuatu dalam hubungan yang kita bangun dengan pribadi Yesus Kristus, yang mengambil inisiatif untuk menjumpai kita. Kerja evangelisasi baru adalah menampilkan sekali lagi perjumpaan dengan Kristus yang indah dan selalu baru kepada orang-orang zaman kita, kepada hati dan akal budinya yang sering bingung dan kacau, lebih-lebih kepada kita sendiri. Kami mengajak Anda untuk menatapi wajah Tuhan  Yesus Kristus, untuk masuk ke dalam misteri hidup-Nya yang dianugerahkan bagi kita sampai di salib, yang diteguhkan kembali sebagai anugerah Bapa dalam pembangkitan-Nya dari antara orang mati, dan  diberikan kepada kita melalui Roh. Dalam pribadi Yesus Kristus itu diungkapkan misteri kasih Allah Bapa untuk seluruh keluarga manusia. Dia tidak menghendaki bahwa kita tinggal dalam otonomi yang palsu. Sebaliknya, Ia mendamaikan diri kita dengan diri-Nya dalam satu perjanjian kasih yang diperbarui.

Gereja adalah lingkup ruang, yang diberikan dalam sejarah oleh Kristus, tempat kita dapat menjumpai Dia; sebab kepada Gereja itu Ia mempercayakan Sabda-Nya, Baptisan yang membuat kita menjadi anak-anak Allah, Tubuh dan Darah-Nya, rahmat pengampunan dosa  terutama dalam sakramen Rekonsiliasi, pengalaman akan persekutuan yang memantulkan misteri Tritunggal Kudus sendiri serta daya Roh Kudus yang menghasilkan kasih bagi sesama.

Kita harus membentuk komunitas-komunitas yang ramah, tempat semua orang yang terpinggirkan merasa betah, serta pengalaman konkret mengenai persekutuan hidup dalam kekuatan kasih yang hangat – “Lihat betapa mereka saling mengasihi!” ((Tertulianus, Apology, 39,7.)) – yang memikat pandangan manusia zaman ini. Keindahan iman harus memancar lebih-lebih dalam kegiatan Liturgi suci, terutama dalam Ekaristi Hari Minggu. Justru dalam perayaan liturgis itulah Gereja mengungkapkan diri sebagai karya Allah dan dalam sabda dan gerak-lakunya membuat makna Injil dapat dilihat.

Kini tugas kitalah untuk membuat pengalaman Gereja bisa diterima secara konkret;  untuk memperbanyak sumur ke mana orang-orang yang haus diundang untuk menjumpai Yesus, dan untuk menawarkan oasis di padang gurun kehidupan. Komunitas-komunitas Kristen dan setiap murid Tuhan dalam komunitas  bertanggung jawab untuk hal ini: kepada masing-masing telah dipercayakan  satu kesaksian yang tak tergantikan, sehingga Injil dapat masuk ke dalam kehidupan semua orang. Hal itu menuntut dari kita hidup yang kudus.

4. Kesempaatan-kesempatan untuk berjumpa dengan Yesus dan mendengarkan Kitab Suci

Mungkin orang akan bertanya bagaimana melakukan semua itu. Kita tidak perlu menemukan strategi baru seakan-akan Injil itu satu produk yang harus dipajang di pasar agama-agama. Kita perlu menemukan kembali cara-cara Yesus mendekati orang dan memanggil mereka dan mempraktekkan cara-cara itu dalam lingkup masyaraakat dewasa ini.

Kita ingat, misalnya, bagaimana Yesus menyapa Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes  dalam lingkup pekerjaan mereka, bagaimana Zakeus dapat beralih dari sekadar rasa ingin tahu kepada kehangatan perjamuan dengan Guru; bagaimana perwira romawi meminta Yesus untuk menyembuhkan seorang yag dekat dengan dia, bagaimana orang yang lahir buta berseru kepada Yesus untuk membebaskan dirinya dari keadaan yang membuat dia terpinggirkan; bagaimana Martha dan Maria merasakan ganjaran kehadiran Yesus ketika Dia menjadi tamu rumah dan hati mereka. Dengan menelusuri Injil halaman demi halaman dan pengalaman misioner para rasul dalam-awal, kita dapat menemukan aneka cara dan lingkup hidup, di mana hidup orang dibuka bagi kehadiran Kristus.

Sering membaca Kitab suci –  diterangi oleh Tradisi Gereja yang meneruskannya kepada kita dan menjadi penafsirnya yang otentik – bukan hanya perlu untuk mengetahui isi Injil itu sendiri, yaitu pribadi Yesus dalam konteks sejarah penyelamatan. Membaca Kitab Suci juga membantu kita untuk menemukan kesempatan untuk menjumpai Yesus serta pendekatan-pendekatan yang sungguh injili yang berakar dalam dimensi-dimensi fundamental hidup manusia: keluarga, pekerjaan, persahabatan, beraneka bentuk kemiskinan dan pencobaan dalam hidup dan sebagainya.

5. Menginjili diri kita dan membuka diri untuk pertobatan

Kita hendaknya tidak berpikiran seakan-akan evangelisasi baru tidak menyangkut diri pribadi kita. Pada hari-hari ini para Uskup angkat suara untuk mengingatkan bahwa Gereja harus  pertama-tama memperhatikan Sabda sebelum dia dapat menginjili dunia. Ajakan untuk evangelisasi menjadi panggilan untuk pertobatan.

Kami percaya teguh bahwa kita harus lebih dahulu berpaling kepada kekuatan  Kristus; Dia sendirilah yang dapat membuat segalanya baru, lebih-lebih keberadaan kita yang miskin. Dalam kerendahan, kita harus mengakui bahwa kemiskinan serta kelemahan murid-murid Yesus, lebih-lebih para pelayan-Nya, membebani kredibilitas misi. Kita – pertama-tama kami para Uskup – pasti menyadari bahwa kita tidak pernah sungguh-sungguh mengimbangi panggilan dan perintah  Tuhan untuk memaklumkan Injil kepada bangsa-banga. Kita tahu bahwa kita dengan rendah hati harus mengakui bahwa kita pun terkena luka-luka sejarah dan kita tidak ragu-ragu untuk mengakui dosa-dosa pribadi kita. Akan tetapi kita juga yakin bahwa  Roh Tuhan mampu membarui Gereja-Nya  dan membuat pakaiannya  berkilau-kilauan  bila kita membiarkan diri kita dibentuk oleh-Nya. Hal itu kelihatan dalam kehidupan para Kudus, yang patut dikenang dan dikisahkan  sebagai sarana istimewa untuk evangelisasi baru.

Andaikata pembaruan ini bergantung pada kita, maka ada alasan serius untuk ragu-ragu. Tetapi pertobatan dalam Gereja, persis sama seperti evangelisasi, terjadi bukan pertama-tama oleh kita makhluk yang fana dan papa, melainkan lebih-lebih oleh Roh Tuhan. Di sinilah kita mendapatkan kekuatan dan kepastian kita bahwa si jahat tidak pernah akan mempunyai kata akhir entah di dalam Gereja atau pun dalam sejarah:”Jangan gelisah dan gentar hatimu”(Yoh 14:27), kata Yesus kepada murid-murid-Nya.

Kerja evangelisasi baru bertumpu pada kepastian yang cerah ini. Kita percaya pada inspirasi dan daya Roh Kudus, yang akan mengajarkan kepada kita apa yang harus kita katakan dan apa yang harus kita buat juga pada saat-saat yang paling sulit. Karena itu, tugas kitalah untuk mengatasi rasa takut dengan  iman, kekuatan dengan harapan,dan  ketidakpedulian dengan kasih.

6. Menangkap peluang-peluang untuk evangelisasi  dalam dunia dewasa ini.

Keberanian penuh semangat ini juga memengaruhi  cara kita memandang dunia dewasa ini. Kita tidak merasa kecut oleh karena suasana zaman dalam mana kita hidup. Dunia kita penuh dengan kontradiksi dan tantangan, tetapi ia tetap merupakan ciptaan Allah. Dunia terluka oleh yang jahat, tetapi Allah tetap mencintainya. Dunia merupakan ladang-Nya di mana benih Sabda bisa ditaburkan lagi agar sekali lagi menghasilkan buah.

Tidak ada ruang bagi pesimisme dalam budi serta hati mereka yang tahu bahwa Tuhan mereka sudah mengalahkan kematian dan bahwa Roh-Nya bekerja dengan kuasa di dalam sejarah. Kita mendekati dunia ini dengan kerendahan, tetapi juga dengan kebulatan hati, karena kepastian bahwa kebenaran akhirnya akan menang. Kita membuka mata untuk melihat dalam dunia ini undangan Kristus yang Bangkit  untuk menjadi saksi bagi nama-Nya. Gereja kita hidup dan menghadapi tantangan-tantangan sejarah dengan keberanian iman serta kesaksian banyak putera-puterinya.

Kita tahu bahwa kita harus menghadapi di dunia ini satu pertempuran melawan “pemerintah-pemerintah” dan “penguasa-penguasa”,serta  “roh-roh jahat” (Ef 6:12). Kita tidak tutup mata terhadap masalah-masalah  yang ditimbulkan oleh tantangan-tantangan itu, tetapi kita tidak menjadi takut karenanya. Hal itu benar terutama terhadap fenomena globalisasi yang bagi kita harus merupakan peluang untuk memperluas kehadiran Injil. Walaupun ada beban berat dalam menerima migran sebagai saudara dan saudari, migrasi tetap merupakan peluang untuk menyebarkan iman dan membangun persektuan dalam segala bentuknya.  Sekularisasi, tetapi juga krisis sekitar kekuasaan politik dan negara, mendesak Gereja untuk  memikirkan  kembali kehadirannya di tengah masyarakat  tetapi bukan untuk meninggalkannya. Bentuk-bentuk kemiskinan yang  banyak  dan selalu baru  membuka kesempatan baru untuk pelayanan kasih: pemakluman Injil mengikat Gereja untuk ada bersama kaum miskin dan memikul penderitaan mereka seperti Yesus. Bahkan juga dalam bentuk-bentuk yang paling kasar dari ateisme dan agnostisisme, kita dapat mengenali – walaupun dalam cara-cara yang kontradiktif – adanya kerinduan dan bukan kekosongan, serta penantian yang mau mendapatkan  satu jawaban yang tepat.

Terhadap persoalan-persoalan  yang diajukan kepada iman dan Gereja oleh budaya-budaya yang dominan, kita membarui kepercayaan kita kepada Tuhan, karena yakin bahwa juga dalam lingkup budaya-budaya itu Injil adalah pembawa terang dan mampu menyembuhkan setiap kelemahan insani. Bukan kitalah yang harus memimpin karya evangelisasi, tetapi Allah, sebagaimana Sri Paus mengingatkan kita:”Kata yang pertama, inisiatif yang benar, aktivitas yang sejati datang dari Allah; dan hanya sejauh kita meyelip masuk ke dalam inisiatif ilahi, hanya dengan memohonkan inisiatif ilahi itu, kita juga – bersama Dia dan dalam Dia – akan mampu menjadi penginjil”. ((Benediktus XIV, Renungan dalam ibadat pembukaan Sidang Sinode Uskup-Uskup, Roma, 8 Oktober 2012.))

7. Evangelisasi, keluarga dan hidup bakti

Sudah sejak evangelisasi yang pertama, keluarga adalah lingkup alamiah, tempat penyebarluasan iman dari satu generasi ke generasi berikutnya; di situ, tanpa mengurangi figur serta tanggung jawab bapak keluarga, perempuan mempunyai peranan yang amat khusus. Dalam mewujudkan pemeliharaan keluarga untuk pendewasaan anak-anak, anak-anak itu diantar masuk ke dalam tanda-tanda iman, komunikasi dengan kebenaran-kebenaran dasar,  pendidikan dalam doa serta kesaksian atas buah-buah cinta kasih. Walaupun datang dari situasi geografis, budaya dan sosial yang berbeda-beda, namun semua Uskup dalam Sinode menegaskan kembali peranan dasar dari keluarga dalam penyebaran iman. Tidak terpikirkan satu evangelisasi baru tanpa merasakan adanya tanggungjawab khusus untuk memaklumkan Injil kepada keluarga-keluarga dan untuk menopang mereka dalam tugas pendidikannya.

Tidak bisa disangkal kenyataan bahwa dewasa ini keluarga, yang terbentuk dalam perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang membuat mereka menjadi “satu daging saja”(Mat 19:6) dan terbuka untuk kehidupan, di mana-mana dihadapkan pada faktor-faktor krisis, dikelilingi oleh model-model kehidupan yang mempersulitnya, diabaikan oleh politik masyarakat padahal dia menjadi inti masyarakat itu, tidak selalu diindahkan dalam iramanya dan ditopang dalam tugasnya oleh komunitas-komunitas gerejawi sendiri. Justru itulah yang mendorong kami untuk megatakan bahwa  kita harus memberikan reksa khusus untuk keluarga serta tugasnya dalam masyarakat dan Gereja, dengan mengembangkan cara-cara khusus untuk pendampingan  sebelum dan sesudah perkawinan. Kami juga mau menyampaikan terima kasih kepada begitu banyak pasangan dan keluarga Kristen yang, dengan kesaksiannya, menunjukkan kepada dunia satu pengalaman persekutuan serta pelayanan, yang merupakan benih untuk satu masyarakat yang lebih bersaudara dan damai.

Juga terbayang dalam pikiran kami situasi keluarga serta hidup bersama yang tidak menaruh hormat pada citra persatuan dan kasih untuk seluruh hidup yang diserahkan Tuhan kepada kita. Ada pasangan-pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan sakramen perkawinan; bertambah banyak  keadaan keluarga yang irregular  yang dibangun setelah gagal perkawinan sebelumnya: duka cita pasangan yang juga membawa penderitaan bagi anak-anak untuk pendidikan imannya. Kepada mereka itu semuanya kami mau menyatakan  bahwa kasih Tuhan tidak meninggalkan seorang pun, bahwa juga Gereja mencintai mereka dan terbuka untuk mereka semua, bahwa mereka tetap anggota Gereja juga kalau mereka tidak dapat menerima absolusi sakramental dan Ekaristi. Komunitas-komunitas katolik hendaknya terbuka untuk menerima mereka yang hidup dalam situasi demikian dan membantu mereka dalam proses pertobatan serta rekonsiliasi.

Kehidupan  keluarga adalah tempat pertama di mana Injil bertemu dengan kehidupan sehari-hari dan menunjukkan kemampuannya untuk mengubah kondisi kehidupan yang fundamental  ke dalam cakrawala kasih. Tetapi yang tidak kalah penting untuk kesaksian Gereja adalah menunjukkan bagaimana kehidupan yang sementara ini memiliki kepenuhan yang melampaui sejarah manusia dan menuju ke persekutuan kekal dengan Allah.  Kepada perempuan Samaria Yesus tidak saja memperkenalkan diri sebagai yang memberikan kehidupan, tetapi sebagai Dia  yang memberikan “kehidupan kekal” (Yoh 4:14). Anugerah Allah yang kita terima berkat iman, bukan hanya janji untuk keadaan hidup yang lebih baik di dunia ini, tetapi maklumat bahwa makna hidup kita yang paling tinggi  melampaui dunia ini, berada dalam persekutuan penuh dengan Allah yang kita nantikan pada akhir zaman.

Mengenai cakrawala eksistensi manusia yang ultra-dunia ini ada saksi-saksi dalam Gereja dan dunia yang Tuhan panggil untuk hidup bakti. Justru karena dibaktikan secara total kepada Tuhan dengan hidup dalam ketaatan, tanpa  milik dan dalam kemurnian, maka hidup bakti merupakan tanda dunia yang akan datang, yang merelativasi setiap harta benda dunia ini. Sidang Sinode para Uskup menyampaikan terima kasih kepada Saudara-saudari ini atas kestiaan mereka kepada panggilan Tuhan dan atas sumbangan yang sudah dan sekarang mereka berikan untuk misi Gereja. Kami mengajak mereka untuk tetap berharap dalam situasi yang sulit juga untuk mereka, dalam masa perunahan ini. Kami mengajak mereka untuk  berdiri  teguh sebagai saksi serta penggerak evangelisasi baru di berbagai medan kehidupan, tempat mereka ditugaskan oleh kharisma lembaga mereka.

8. Komunitas-komunitas gerejawi dan banyak pelaku evangelisasi

Karya evangelisasi bukanlah hak khusus hanya untuk pribadi atau kelompok tertentu dalam Gereja,  melainkan karya komunitas –komunitas gerejawi  itu sendiri, tempat orang bisa mendapatkan sarana untuk perjumpaan dengan Yesus: Sabda, sakramen, persekutuan persaudaraan, pelayanan kasih, misi.

Dalam perspektif itu, peranan paroki mencuat lebih-lebih sebagai kehadiran Gereja di tempat orang-orang hidup, “mata air kampung”, begitu Yohanes XXIII biasa menyebutnya; dari mata air itu semua bisa minum dan merasakan di dalamnya kesegaran Injil.  Paroki tidak bisa ditinggalkan, meskipun mungkin perlu perubahan, entah agar ditata dalam  komunitas-komunitas Kristen yang kecil atau agar dibangun jaringan kerja sama dalam konteks pastoral yang lebih luas. Kami mendorong paroki-paroki untuk  menjalin bentuk-bentuk misi yang baru sebagaimana dituntut oleh evangelisasi baru dengan reksa pastoral yang tradisional untuk umat Allah. Itu harus juga menyerap berbagai ungkapan penting dari  devosi-devosi umat.

Di dalam paroki, pelayanan imam – bapak dan gembala umat – tetap amat penting. Kepada semua imam, para Uskup dari Sidang Sinode menyampaikan ucapan terima kasih serta simpati persaudaraan atas tugas mereka yang sulit. Kami mengajak mereka untuk memperkuat ikatan dalam presbiterium keuskupan, memperdalam hidup rohani mereka, dan terus mengusahakan pembentukan diri agar mampu menghadapi perubahan-perubahan.

Di samping para imam, kehadiran para diakon harus juga didukung, demikian juga kegiatan pastoral katekis dan banyak pelayan serta penggerak lain dalam bidang pewartaan, katekese, hidup liturgis serta pelayanan kasih. Berbagai bentuk partisipasi dan peranserta kaum beriman harus juga digiatkan. Rasanya tidak cukup ucapan terima kasih kami  kepada kaum awam, laki dan perempuan, atas dedikasi mereka dalam berbagai pelayanan di komunitas-komunitas kita. Juga kepada mereka semua kami minta agar kehadiran serta peaayanan mereka dalam gereja ditempatkan dalam perspektif evangelisasi baru, sambil memperhatikan pembentukan kemanusiaan dan kekristenan mereka sendiri, pemahaman mereka akan iman serta kepekaan mereka terhadap fenomen budaya kontemporer.

Menyangkut kaum awam, kami ingin menyampaikan satu dua kata khusus kepada berbagai bentuk asosiasi lama maupun baru, serta gerakan eklesial dan komunitas-komunitas yang baru:  Semuanya adalah ungkapan kekayaan anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada Gereja. Kami juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada bentuk-bentuk kehidupan serta komitmen di dalam Geeja ini, sambil menyemangati mereka untuk setia kepada kharisma  mereka yang khusus dan kepada persekutuan gerejawi yang sungguh lebih-lebih dalam konteks konret Gereja partikular.

Juga kesaksian untuk Injil bukan hak khusus  satu atau dua orang. Dengan gembira kami menyaksikan kehadiran banyak orang, laki dan perempuan, yang dengan cara hidupnya menjadi tanda injil di tengah dunia. Kami juga menyaksikan adanya orang-orang seperti itu di antara begitu banyak saudara-saudari  Kristen; sayang bahwa persatuan  dengan mereka belum penuh, namun mereka ditandai dengan Baptisan Tuhan dan mereka mewartakannya.  Dewasa ini  ada pengalaman yang mengharukan kita ketika kita mendengarkan banyak pemimpin Gereja-gereja serta komunitas-komunitas gerejawi yang memberikan kesaksian tentang kehausan mereka akan Kristus serta dedikasinya untuk pemakluman Injil. Mereka juga yakin bahwa dunia memerlukan satu evangelisasi baru. Kita bersyukur kepada Tuhan atas rasa persatuan ini  mengenai perlunya misi.

9. Agar kaum muda boleh menjumpai Kristus.

Kaum muda amat dekat di hati kami, karena mereka adalah bagian yang penting dari umat manusia dan Gereja dewasa ini serta juga masa depannya. Mengenai mereka Uskup-uskup sama sekali tidak pesimis. Keprihatinan memang ada, sebab merekalah yang jadi sasaaran utama dari serangan-serangan  yang paling gencar di zaman kita ini. Meskipun begitu kami tidak pesimistik, lebih-lebih karena di kedalaman sejarah kasih Kristus bergerak; tetapi juga karena kami merasakan dalam orang-orang muda kita adanya hasrat yang dalam untuk keotentikan, kebenaran, kebebasan, kemurahan hati; kami yakin bahwa jawaban yang tepat atas semuanya itu adalah Kristus.

Kami mau mendukung mereka dalam pencarian mereka.  Dan kami mendorong komuntas-komunitas kita untuk mendengarkan mereka, berdialog dengan mereka dan tidak segan-segan memberikan jawaban yang tegas atas kondisi sulit kaum muda itu. Kami menghendaki agar komunitas-komunitas kita tidak menekan daya antusiasme orang muda itu tetapi mengimbanginya; dan untuk berjuang  bersama mereka melawan kepalsuan serta petualangan kuasa-kuasa duniawi  yang egoistis yang, untuk keuntungannya sendiri, menguras  energi dan menghamburkan gairah orang-orang muda, dengan melepaskan  mereka dari setiap kenangan penuh syukur atas masa lalu dan dari  setiap visi yang dalam tentang masa depan.

Dunia orang-orang muda memang menuntut tetapi juga menjanjikan banyak untuk Evangelisasi Baru. Hal itu diperlihatkan oleh adanya banyak pengalaman, mulai dari yang menarik banyak orang muda seperti “World Youth Day” sampai ke yang paling tersembunyi – tetapi penuh daya – seperti berbagai pengalaman spiritualitas, pelayanan serta misi. Harus diakui  peranan aktif orang muda dalam menginjili pertama-tama dan terutama dunia mereka.

10. Injil dalam dialog dengan budaya manusia serta pengalaman dan dengan agama-agama.

Evangelisasi Baru berpusat pada Kristus dan pada kepedulian terhadap pribadi manusia agar terjadi perjumpaan yang sungguh hidup dengan Kristus. Akan tetapi cakrawala penginjilan itu seluas dunia dan melampaui penglaman manusia yang manapun. Hal itu berarti bahwa dialog dengan budaya dikembangkan dengan hati-hati dengan keyakinan bahwa “benih-benih Sabda” dapat ditemukan di dalamnya, seperti sudah dikatakan oleh Bapak-bapak dari tempo dulu. Khususnya evangelisasi baru membutuhkan satu bentuk hubungan yang dibarui antara iman dan akal. Kami yakin bahwa iman punya kemampuan untuk  menerima buah-buah pemikiran yang sehat yang terbuka bagi yang transenden, dan punya kekuatan untuk menyehatkan batas-batas serta kontradiksi  yang ke dalamnya iman dapat jatuh. Iman tidak menutup mata, juga terhadap persoalan-persoalan gawat yang timbul dari adanya yang jahat  dalam hidup dan sejarah manusia; iman itu membangkitkan terang pengharapan dari Misteri Paskah Kristus.

Perjumpaan antara iman dan akal juga menguatkan komitmen komunitas Kristen dalam bidang pendidikan dan budaya. Lembaga-lembaga pendidikan serta penelitian – sekolah dan universitas – menduduki tempat khusus dalam hal ini. Di manapun intelegensi manusia dikembangkan dan dibentuk, Gereja dengan senang memberikan pengalaman serta sumbangannya untuk pembentukan integral pribadi manusia. Dalam konteks itu, perhatian khusus harus diberikan kepada sekolah katolik, universitas katolik, lembaga pendidikan dan budaya yang otentik, di mana keterbukaan kepada yang transenden harus dipenuhi dalam perjalanan menuju perjumpaan dengan Yesus Kristus dan gereja-Nya. Semoga ucapan terima kasih para Uskup sampai ke semua orang yang terlibat dalam hal itu, meskipun dalam kondisi yang kadang-kadang sulit.

Evangelisasi meminta perhatian besar pada dunia komunikasi sosial, lebih-lebih media yang baru, di mana berpadu banyak kehidupan, persoalan dan harapan. Disitulah sering kali suara hati terbentuk, tempat orang menghabiskan waktunya dan melangsungkan kehidupannya. Di situ ada peluang baru untuk menyentuh hati manusia.

Satu bidang khusus untuk pertemuan antara iman dan akal dewasa ini adalah dialog dengan ilmu pengetahuan. Hal itu sama sekali tidak jauh dari iman, sebab ilmu pengetahuan itu memancarkan prinsip spiritual yang ditempatkan Tuhan di dalam makhluk ciptaan-Nya. Kita dapat melihat struktur-struktur rasional, yang atasnya makhluk ciptaan itu dibangun. Apabila ilmu pengeahuan dan tekhnologi tidak gegabah untuk mengurung manusia serta dunia  dalam suatu materialisme yang  tandus, maka keduanya menjadi sarana yang tidak ternilai untuk membuat kehidupan lebih manusiawi. Ucapan terima kasih kami juga untuk mereka yang terlibat dalam bidang ilmu pengetahuan yang sensituf itu.

Kami juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang terlibat dalam ungkapan “genius” insan lainnya, yaitu seni dalam aneka ragam bentuk, dari yang paling antik sampai yang paling baru. Kami melihat dalam karya seni satu cara yang sungguh penuh makna dalam mengungkapkan spiritalitas, sebab karya seni itu berusaha untuk menjelmakan daya tarik manusia kepada keindahan. Kita bersyukur bila para artis, melalui ciptaannya yang indah, menampilkan keindahan wajah Allah dan makhluk ciptaan-Nya. Jalan keindahan adalah jalan yang amat efektif untuk evangelisasi baru.

Selain karya seni, semua aktivitas manusiawi menarik perhatian kita sebagai bagi kita untuk bekerja sama dengan penciptaan ilahi melalui pekerjaan. Kami ingin mengingatkan dunia ekonomi serta pekerjaan mengenai sejumlah hal yang timbul dari terang Injil: bebaskan pekerjaan dari kondisi-kondisi yang tidak jarang membuatnya menjadi beban yang tidak terpikulkan dan masa depan yang tidak pasti  karena kini sering  terancam oleh pengangguran orang-orang muda;  menjadikan pribadi manusia sebagai pusat perkembangan ekonomi; memikirkan perkembangan itu sendiri sebagai peluang bagi umat manusia untuk bertumbuh dalam keadilan dan pesatuan. Dalam pekerjaan untuk mengubah dunia itu manusia dipanggil juga untuk menyelamatkan integritas ciptaan Allah demi pertanggungjawaban kepada generasi yang akan datang.

Injil juga memberikan terang atas penderitaan yang disebabkan oleh penyakit. Orang-orang Kristen harus membantu orang sakit agar mereka merasa bahwa Gereja dekat dengan mereka yang sakit atau menderita keterbatasan fisik. Kita pantas berterima kasih kepada semua orang yang secara pribadi dan manusiawi merawat orang-orang itu.

Politik adalah juga bidang yang dapat dan harus diterangi cahaya Injil  agar langkah manusia diterangi.  Politik menuntut komitmen untuk secara transparan dan tanpa tanpa interese pribadi memperhatikan kesejahteraan umum dengan sepenuhnya menghormati martabat manusia sedari kandungan sampai ke akhir yang kodrati, dengan menghormati keluarga yang didasarkan atas perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan dengan melindungi kebebasan akademik; dengan memberantas sebab-sebab ketidakadilan, ketidaksetaraan, diskriminasi, kekerasan, rasisme, kelaparan dan perang. Orang-orang Kristen diminta untuk memberikan kesaksian yang jelas mengenai perintah cinta kasih dalam menjalankan politik.

Akhirnya Gereja menganggap para penganut agama-agama lain sebagai mitra dialognya yang sudah sewajarnya. Seseorang memaklumkan Injil  karena orang itu yakin akan kebenaran Kristus, dan bukan karena mau melawan orang lain. Injil Yesus adalah damai dan suka cita, dan murid-murid-Nya dengan senang mengakui apa saja yang benar dan baik yang  disebarkan oleh roh keagamaan umat manusia di dalam dunia ciptaan Allah dan ditampilkan dalam bentuk beraneka agama.

Dialog  antara para  penganut berbagai agama pasti merupakan sumbangan untuk perdamaian. Dialog itu menolak setiap fundamentalisme dan mencela setiap kekerasan terhadap orang-orang beriman sebagai pelanggaran serius terhadap hak-hak manusia. Gereja-gereja di seluruh dunia bersatu dalam doa dan dalam persaudaraan dengan saudara-saudari yang menderita, dan memohon kepada mereka yang bertanggung jawab atas nasib masyarakat untuk melindungi hak setiap orang untuk dengan bebas memilih, mengakui dan memberi kesaksian tentang iman seseorang.

11. Memperingati Konsili Vatikan II dan mengacu ke Katekismus Gereja Katolik dalam Tahun Iman

Pada jalan yang dirintis oleh Evangelisasi Baru, kita mungkin juga merasa seakan-akan kita berada di padang gurun, di tengah bahaya sera tiadanya titik-titik acuan. Bapak Suci Benediktus XVI, dalam homilnya utuk misa pembukaan Tahun Iman, berbicara mengenai “desertifikasi rohani” yang semakin berkembang dalam dekade  terakhir. Tetapi dia juga membesarkan hati kita dengan menegaskan bahwa “justru dengan bertolak dari pengalaman padang gurun ini, dari kehampaan ini, kita dapat menemukan lagi kegembiraan dalam beriman; hal itu amat penting untuk kita. Di padang gurun kita menemukan kembali nilai dari apa yang esensial untuk kehidupan” ((Homili  dalam Perayaan Ekaristi Pembukaan  Tahun Iman, Roma 11 Oktober 2012.)). Di padang gurun, seperti perempuan Samaria, kita mencari air dan sumur untuk minum darinya: berbahagialah dia yang menjumpai Kristus di sana!

Kita berterima kasih kepada Bapak Suci untuk hadiah Tahun Iman, gerbang yang berharga  untuk masuk ke jalan evangelisasi baru. Kita berterima kasih kepada Beliau juga karena telah mengaitkan Tahun ini  dengan peringatan penuh syukur atas pembukaan Konsili Vatikan II lima puluh tahun yang lalu.Magisterium Konsili yang fundamental  untuk zaman kita bersinar dalam Katekismus Gereja Katolik, yang sekali lagi diketengahkan sebagai referensi iman yang pasti dua puluh tahun setelah publikasinya. Itulah peringatan-peringatan yang penting, yang membantu kita  memperkuat kelekatan kita yang dekat pada ajaran Konsili serta komitmen kita yang kuat untuk melaksanakan implementasinya.

12. Merenungkan misteri dan berada di pihak kaum miskin

Dalam perspektif itu kami ingin menunjukkan kepada umat beriman sekalian dua pengungkapan hidup iman yang tampaknya punya bobot khusus sebagai  kesaksian kita dalam Evanglisasi Baru.

Hanya dari tatapan pada misteri Allah serta penyembahan  Bapa, Putera dan Roh Kudus, hanya dari keheningan yang dalam, yang berperan bagaikan rahim yang menerima satu-satunya  Sabda penyelamatan, mencuatlah kesaksian yang dapat dipercaya oleh dunia. Hanya keheningan dalam doa inilah yang dapat menjaga agar sabda keselamatan tidak hilang di dalam rebut gaduh dunia ini.

Sekarang kami meyampaikan satu dua kata terima kasih kepada semua orang, laki dan perempuan, yang membaktikan dirinya untuk doa dan kontemplasi di  biara dan pertapaan-pertapaan. Tetapi perlulah bahwa saat-saat kontemplasi  terjalin juga dengan hidup orang sehari-hari: ada ruang dalam jiwa, tetapi juga ada ruang fisik,  yang mengingatkan kita akan Allah; ada tempat kudus dalam batin dan kanisah dari batu yang, bagaikan tempat penyeberangan, menjaga agar kita tidak tenggelam dalam banjir pengalaman; ada kesempatan ketika semua dapat merasa diterima, juga mereka yang hampir tidak tahu apa dan siapa yang harus dicari.

Simbol kedua untuk keotentikan evangelisasi baru mempunyai wajah orang  miskin. Menempatkan diri berdampingan dengan orang yang terluka oleh kehidupan bukan hanya satu latihan sosial, tetapi lebih sebagai tindakan spiritual sebab wajah Kristus sendirilah yang bersinar dalam wajah orang miskin:”Apapun juga yang kamu lakukan bagi salah satu dari saudara-saudara-Ku yang paling kecil ini, kamu melakukannya untuk Aku”(Mat 25:40).

Kita harus mengakui bahwa orang miskin mendapat  tempat istimewa dalam komunitas-komunitas kita, bukan untuk menyingkirkan seseorang, tetapi mau merefleksikan bagaimana Yesus mengikat diri-Nya pada mereka. Kehadiran orang miskin dalam komunitas-komunitas kita  penuh daya  yang misterius: hal itu mengubah orang lebih daripada yang terjadi karena satu ceramah, hal itu mengjarkan ke setiaan, membuat kita memahami kerapuhan hidup kita, mengajak kita untuk berdoa; pendek kata hal itu mengantar kita kepada Kristus.

Di lain pihak, ungkapan kasih harus juga disertai dengan komitmen untuk keadilan, dengan satu seruan kepada semua, yang miskin dan yang kaya. Karena itu ajaran sosial Gereja  harus diintegrasikan ke dalam jalur evangelisasi baru, juga pembentukan orang kristen untuk membaktikan diri pada pelayanan bagi umat manusia dalam bidang sosial dan politik.

13. Sepatah kata kepada Gereja-gereja di berbagai bagian dunia

Mata Uskup-uskup yang berada dalam sidang sinodal terarah kepada semua komunitas eklesial yang tersebar di seluruh dunia. Pandangan mereka diusahakan agar komprehensif, karena panggilan untuk menjumpai Kristus itu satu,walaupun dalam keanekaragaman.

Dengan afeksi persaudaraan serta ucapan terima kasih, para Uskup dalam Sinode ingat akan Anda, orang-orang Kristen dari Gereja Timur Katolik,  yang menjadi ahli waris evangelisasi gelombang pertama – satu pengalaman yang dijaga dengan kasih dan setia- serta mereka  yang ada di Eropa Timur. Dewasa ini Injil datang kembali kepada Anda dalam satu evangelisasi baru melalui hidup liturgis, katekese, doa harian dalam keluarga, puasa, solidaritas antarkeluarga, partisipasi awam dalam hidup komunitas-komunitas dan dalam dialog dengan masyarakat. Di banyak tempat Gereja-gereja Anda berada dalam pencobaan dan  gangguan yang membuatnya menjadi saksi partisipasi dalam sengsara Kristus. Sejumlah orang beriman terpaksa mengungsi. Sambil tetap memelihara persatuan dengan komunitas asal mereka, mereka dapat menyumbangkan tenaganya untuk reksa pastoral serta karya evangelisasi di negeri-negeri yang menerima mereka. Semoga Tuhan tetap melimpahkan berkat-Nya kesetiaan Anda. Semoga di waktu-waktu yang akan datang,  hidup Anda boleh  ditandai dengan pengakuan iman yang cerah serta penghayatannya dalam damai dan keebebasan beragama.

Kami mengarahkan pandangan kepada Anda, orang-orang Kristen, yang hidup di Negara-negara di Afrika, dan kami menyampaikan terima kasih kami kepada Anda atas kesaksian Injil yang Anda berikan, sering di tengah keadaan yang rumit. Kami mengajak Anda untuk menghidupkan kembali evangelisasi yang Anda terima dalam waktu-waktu belakangan ini, membangun Gereja sebagai keluarga Allah, memperkuat identitas keluarga serta mendukung komitmen imam-imam dan katekis terutama di dalam komunitas-komunitas Kristen yang kecil. Kami menegaskan perlunya mengembangkan perjumpaan antara Injil dan budaya-budaya lama dan baru. Amat dinantikan dan dengan kuat diserukan kepada dunia politik serta pemerintahan di berbagai Negara di Afrika agar, dalam kerja sama dengan orang-orang berkehendak baik, hak-hak asasi manusia dijunjung tinggi dan benua itu dibebaskan dari kekerasan dan konflik yang masih saja terjadi.

Uskup-uskup di Sidang sinodal mengajak Anda, umat Kristen di Amerika Utara, agar menanggapi dengan gembira panggilan untuk evangelisasi baru.  Kami melihat dengan rasa syukur betapa komunitas-komunitas muda di negeri Anda sudah menghasilkan buah iman, kasih dan misi yang melimpah. Anda perlu mengakui masih adanya banyak ungkapan budaya dewasa ini di negeri Anda yang kini jauh dari Injil. Diperlukan pertobatan yang melahirkan komitmen bukan untuk keluar dari budaya Anda melainkan untuk tetap tinggal di tengah budaya itu  agar menyinarinya dengan terang iman dan daya hidup. Sebagaimana Anda dengan tangan terbuka menerima imigran serta pengungsi  menjadi penduduk baru di tanah Anda, semoga Anda juga mau membuka pintu rumah untuk iman. Tetaplah setia pada komitmen  yang sudah dinyatakan dalam Sidang sinodal untuk Amerika, bersatulah dengan Amerika Latin dalam melanjutkan evangelisasi  di benua  yang Anda diami bersama.

Sidang sinodal menyampaikan perasaan syukur yang sama kepada Gereja di Amerika Latin dan Karibia. Dari negeri-negeri Anda, amat mengesan sepanjang  masa pertumbuhan aneka bentuk kesalehan rakyat yang tetap melekat di hati banyak orang, serta pelayanan kasih dan dialog dengan budaya-budaya. Kini, dalam menghadapi banyak tantangan, terutama kemiskinan dan kekerasan, kami memberanikan Gereja di Amerika Latin dan Karibia untuk terus hidup dengan semangat misioner, memaklumkan Injil penuh harapan dan sukacita, membentuk komunitas-komuntes murid Kristus yang sungguh misioner, dengan memperlihatkan dalam komitmen putera-puterinya betapa Injil dapat menjadi sumber untuk satu masyarakat yang baru, adil dan bersaudara.Pluralisme agama juga menguji Gereja-gereja Anda dan menuntut pemakluman Injil secara baru.

Kepada Anda, orang-orang Kristen di Asia, kami juga memberikan semangat dan menyampaikan ajakan.  Sebagai minoritas kecil di benua yang menampung hampir sepertiga penduduk dunia, kehadiran Anda merupakan benih subur yang dipercayakan kepada kuasa Roh kudus, yang bertumbuh dalam dialog dengan bermacam-macam budaya, dengan agama-agama tua dan dengan orang miskin yang tak terbilang. Kendati sering disingkirkan oleh masyarakat dan di banyak tempat juga dikejar-kejar, Gereja di Asia, dengan imannya yang kokoh, merupakan kehadiran Injil Kristus yang berharga, yang mewartakan keadilan, kehidupan dan harmoni. Orang-orang Kristen Asia, rasakanlah kedekatan persaudaraan dengan orang Kristen di bagian lainnya di dunia, yang tidak dapat melupakan bahwa justru di benua Anda  – di Tanah suci – Yesus lahir, hidup, wafat dan bangkit dari antara orang mati.

Uskup-uskup menyampaikan ucapan terima kasih kepada Gereja-gereja di benua Eropa, yang sebagian dewasa ini dilanda sekularisasi yang kuat, kadang-kadang agresif; sebagian lagi masih terluka oleh regim-regim puluhan tahun yang memusuhi Allah dan humanitas. Kami melihat ke masa lalu  dengan penuh syukur, tetapi juga ke masa kini, ketika di Eropa Injil menghasilkan pengungkapan serta pengalaman iman yang khusus – sering meluap dengan kekudusan – yang menentukan untuk evangelisasi di seluruh dunia: pemikiran teologi yang kaya, berbagai bentuk kharisma, beraneka pelayanan kasih bagi yang miskin, pengalaman kontemplatif yang dalam, pembentukan budaya yang humanistik yang merupakan sumbangan untuk menggariskan wajah martabat pribadi dan kesejahteraan umum. Semoga kesulitan-kesulitan yang kini ada  tidak mematahkan semangat Anda sekalian, orang-orang Kristen Eropa; sebaliknya, semoga Anda menganggapnya sebagai tantangan untuk mengatasinya dan kesempatan untuk memaklumkan Kristus dan Injil kehidupan dengan lebih hidup dan dengan sukacita yang besar.

Akhirnya, Uskup-uskup dari Sidang sinodal menyalami umat di Oseania yang hidup di bawah perlindungan Salib Selatan. Kami berterima kasih kepada Anda atas kesaksian Anda mengenai Injil Yesus Kristus. Doa kami untuk Anda ialah agar semoga Anda  merasakan kehausan yang dalam akan hidup baru, seperti perempuan samaria di sumur, dan semoga Anda mampu mendengarkan sabda Yesus yang berkata:”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah”(Yoh 4:10). Semoga Anda semakin kuat merasakan komitmen untuk mewartakan Injil dan membuat Yesus dikenal di seluruh dunua dewasa ini. Kami mengajak Anda untuk menjumpai Dia dalam hidup Anda sehari-hari, mendengarkan Dia dan, melalui doa serta meditasi, menemukan  anugerah untuk bisa mengatakan:”Kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia”(Yoh 4:42).

14.  Bintang Maria menerangi padang gurun

Di akhir pengalaman persekutuan Uskup-uskup seluruh dunia dan kerja sama dengan pelayanan Pengganti Petrus, kami mendengar bergema dalam diri kami perintah Yesus yang aktual kepada rasul-rasul-Nya:”Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku…dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantisa sampai kepada akhir zaman”(Mat 28:19.20). Misi Gereja tidak ditujukan kepada satu wilayah geografis saja tetapi masuk ke lubuk hati yang paling tersembunyi dari orang-orang zaman kita untuk menarik  mereka kembali kepada perjumpaan dengan Yesus, Dia yang Hidup, yang membuat diri-Nya hadir dalam komunitas-komunitas kita.

Kehadiran itu menggembirakan hati kita. Sambil bersyukur atas anugerah yang kita terima dari Dia pada hari-hari ini, kami menyampaikan kepada-Nya madah pujian:”Jiwaku memuliakan Tuhan […] karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:46.49). Kita jadikan kata-kata Maria ini sebagai kata-kata kita sendiri: sesungguhnya Tuhan telah melakukan hal-hal besar  bagi Gereja-nya sepanjang masa di berbagai tempat di dunia ini; dan kita mengagungkan Dia, dengan keyakinan bahwa Ia pasti akan memandang kemiskinan kita untuk memperlihatkan kekuatan lengan-Nya  pada hari-hari kita dan menopang kita pada jalan evangelisasi baru.

Figur Maria menuntun kita pada jalan yang harus kita jalani. Jalan kita, kata Sri Paus Benediktus XVI, dapat menyerupai jalan sepanjang padang gurun;  kita tahu bahwa kita harus menempuhnya, dengan mambawa serta apa yang paling perlu: karunia Roh, penyertaan Yesus, kebenaran sabda-Nya, roti Ekaristi sebagai makanan kita, persahabatan dalam persektuan gerejawi, dorongan kasih. Air dari sumurlah yang membaut padang gurun bersemi. Sebagaimana bintang-bintang lebih cerah bersinar di malam hari di padang gurun, demikian juga terang Maria, Bintang evangelisasi baru, lebih cerah memancarkan sinardari  langit pada jalan  ziarah kita. Kepada dia kita menyerahkan diri kita dengan penuh kepercayaan.

Mengapa kita mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal?

183

Ada pernyataan bahwa kita tidak usah berdoa untuk jiwa-jiwa yang sudah meninggal, karena itu menjadi urusan Tuhan sendiri dan doa kita tidak akan berguna bagi mereka. Benarkah demikian?  Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan berkuasa menentukan apakah seseorang yang meninggal itu masuk surga, neraka, atau jika belum siap masuk surga, dimurnikan terlebih dulu di Api Penyucian. Umat Kristen non-Katolik yang tidak mengakui adanya Api Penyucian, mungkin menganggap bahwa tidak ada gunanya mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Namun Gereja Katolik mengajarkan adanya masa pemurnian di Api Penyucian, silakan membaca dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Bapa Gereja tentang hal ini, https://katolisitas.org/624/bersyukurlah-ada-api-penyucian, sehingga doa-doa dari kita yang masih hidup, dapat berguna bagi jiwa-jiwa mereka yang sedang dalam tahap pemurnian tersebut. Bahkan, dengan mendoakan jiwa-jiwa tersebut, kita mengamalkan kasih kepada mereka yang sangat membutuhkannya, dan perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45).

Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Rasul Paulus menegaskan “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39).

Kuasa kasih Kristus yang mengikat kita semua di dalam satu Tubuh-Nya itulah yang menjadikan adanya tiga status Gereja, yaitu 1) yang masih mengembara di dunia, 2) yang sudah jaya di surga dan 3) yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Dengan prinsip bahwa kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus selayaknya saling tolong menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) di mana yang kuat menolong yang lemah (Rm 15:1), maka jika kita mengetahui (kemungkinan) adanya anggota keluarga kita yang masih dimurnikan di Api Penyucian, maka kita yang masih hidup dapat mendoakan mereka, secara khusus dengan mengajukan intensi Misa kudus (2 Mak 12:42-46).

Memang, umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe ini dalam Kitab Suci mereka. Juga, bagi mereka, keselamatan hanya diperoleh melalui iman saja (sola fide), yang sering dimaknai terlepas dari perbuatan, dan hal mendoakan ini dianggap sebagai perbuatan yang tidak berpengaruh terhadap keselamatan. Sedangkan ajaran iman Katolik adalah kita diselamatkan melalui iman yang bekerja oleh perbuatan kasih (Gal 5:6), maka iman yang menyelamatkan ini tidak terpisah dari perbuatan kasih. Dengan memahami adanya perbedaan perspektif Katolik dan non- Katolik ini, kita dapat mengerti bahwa umat Kristen non- Katolik menolak ‘perbuatan’ mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kasih yang didasari iman sangatlah berguna bagi keselamatan kita (baik yang didoakan maupuan yang mendoakan). Jika “kasih” di sini diartikan menghendaki hal yang baik terjadi pada orang lain, dan jika kita ketahui bahwa maut tidak memisahkan kita sebagai anggota Tubuh Kristus (lih. Rom 8:38-39), maka kesimpulannya, pasti berguna jika kita mendoakan demi keselamatan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sebab perbuatan kasih yang menghendaki keselamatan bagi sesama, adalah ungkapan yang nyata dalam hal “bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu” (Gal 6:2).

Jangan lupa bahwa yang kita bicarakan di sini adalah bahwa doa- doa yang dipanjatkan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, sehingga mereka sudah pasti masuk surga, hanya sedang menunggu selesainya saat pemurniannya. Dalam masa pemurnian ini mereka terbantu dengan doa-doa kita, seperti halnya pada saat kita kesusahan sewaktu hidup di dunia ini, kita terbantu dengan doa-doa umat beriman lainnya yang mendoakan kita. Sedangkan, untuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat, sehingga masuk ke neraka, memang kita tidak dapat mendoakan apapun untuk menyelamatkan mereka. Atau untuk orang -orang yang langsung masuk ke surga (walaupun mungkin tak banyak jumlahnya), maka doa-doa kita sesungguhnya tidak lagi diperlukan, sebab mereka sudah sampai di surga. Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu, kondisi rohani orang-orang yang kita doakan. Pada mereka memang selalu ada tiga kemungkinan tersebut, sehingga, yang kita mohonkan dengan kerendahan dan ketulusan hati adalah belas kasihan Tuhan kepada jiwa-jiwa tersebut, agar Tuhan memberikan pengampunan, agar mereka dapat segera bergabung dengan para kudus Allah di Surga.

Pengajaran tentang Api Penyucian termasuk dalam ajaran iman De fide (Dogma):

The Communion of the Faithful on earth and the Saints in Heaven with Poor Souls in Purgatory:
The living Faithful can come to the assistance of the Souls in Purgatory by their intercessions (suffrages)
.” ((Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Illinois, TAN Books ands Publishers, 1974, p.321))

Terjemahannya:

Persekutuan umat beriman di dunia dan Para Kudus di Surga dengan Jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian:
Para beriman yang [masih] hidup dapat membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan doa-doa syafaat (doa silih).

Silih di sini diartikan tidak saja doa syafaat, tetapi juga Indulgensi, derma dan perbuatan baik lainnya, dan di atas semua itu adalah kurban Misa Kudus. Ini sesuai dengan yang diajarkan di Konsili Lyons yang kedua (1274) dan Florence (1439).

Jadi meskipun umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe, namun sesungguhnya mereka secara obyektif tidak dapat mengelak bahwa tradisi mendoakan jiwa orang yang telah meninggal sudah ada di zaman Yahudi sebelum Kristus. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para rasul, seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18). Tradisi mendoakan jiwa orang yang sudah meninggalpun dicatat dalam tulisan para Bapa Gereja, seperti:

1) Tertullian, yang mengajarkan untuk menyelenggarakan Misa kudus untuk mendoakan mereka pada perayaan hari meninggalnya mereka setiap tahunnya. ((Tertullian, De Monogamia 10; De exhort cas II, lif. St. Cyprian, Ep 1, 2)).

2) St. Cyril dari Yerusalem dalam pengajarannya tentang Ekaristi memasukkan doa-doa untuk jiwa orang-orang yang sudah meninggal ((St. Cyprian, Cat., Myst., 5.9 et seq)).

3) Sedangkan St. Yohanes Krisostomus dan St Agustinus mengajarkan bahwa para beriman dapat mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal dengan mengadakan derma. ((St. Yohanes Krisostomus, Phil; hom 3,4; St. Agustinus, Enchiridion 110; Sermo 172, 2, 2)).

Karena hal mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal telah diajarkan dalam Kitab Suci dan telah dilakukan oleh Gereja sejak awal mula, terutama dalam perayaan Ekaristi maka, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1032 Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk orang yang sudah meninggal tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan: “Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya” (2 Mak 12:45). Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi Bdk. DS 856. untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.
“Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya Bdk. Ayb 1:5., bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka” (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).

KGK 1371 Kurban Ekaristi juga dipersembahkan untuk umat beriman yang mati di dalam Kristus, “yang belum disucikan seluruhnya” (Konsili Trente: DS 1743), supaya mereka dapat masuk ke dalam Kerajaan Kristus, Kerajaan terang dan damai:
“Kuburkanlah badan ini di mana saja ia berada: kamu tidak perlu peduli dengannya. Hanya satu yang saya minta kepada kamu: Di mana pun kamu berada, kenangkan saya pada altar Tuhan” (Santa Monika sebelum wafatnya, kepada santo Augustinus dan saudaranya: Agustinus, conf. 9,11,27).
“Lalu kita berdoa [dalam anaforal untuk Paus dan Uskup yang telah meninggal, dan untuk semua orang yang telah meninggal pada umumnya. Karena kita percaya bahwa jiwa-jiwa yang didoakan dalam kurban yang kudus dan agung ini, akan mendapat keuntungan yang besar darinya… Kita menyampaikan kepada Allah doa-doa kita untuk orang-orang yang telah meninggal, walaupun mereka adalah orang-orang berdosa… Kita mengurbankan Kristus yang dikurbankan untuk dosa kita. Olehnya kita mendamaikan Allah yang penuh kasih sayang kepada manusia dengan mereka dan dengan kita” (Sirilus dari Yerusalem, catech. myst. 5,9,10).

KGK 1414 Sebagai kurban, Ekaristi itu dipersembahkan juga untuk pengampunan dosa orang-orang hidup dan mati dan untuk memperoleh karunia rohani dan jasmani dari Tuhan.

Maka memang, mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal bagi orang Katolik merupakan salah satu perbuatan kasih yang bisa kita lakukan, terutama kepada orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Ini adalah salah satu dogma yang semestinya kita jalankan, sebagai orang Katolik. Tentu saja, kita tidak bisa memaksakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Namun bagi kita yang percaya, betapa indahnya pengajaran ini! Kita semua disatukan oleh kasih Kristus: kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa yang di Api Penyucian, dan jika kelak mereka sampai di surga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke surga. Doa mereka tentu saja tidak melangkahi Perantaraan Kristus, sebab yang mengizinkan mereka mendoakan kita juga adalah Kristus, sebab di atas semuanya, Kristuslah yang paling menginginkan agar kita selamat dan masuk ke surga. Jadi doa para kudus saling mendukung dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kita tergabung dalam satu persekutuan orang-orang kudus, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang diikat oleh kasih persaudaraan yang tak terputuskan oleh maut, sebab Kristus Sang Kepala, telah mengalahkan maut itu bagi keselamatan kita.

Hari Raya Orang Kudus & Hari Arwah

17

1. Sejarah perayaan All Saints Day/ Hari orang kudus 1 November

Pada hari raya orang kudus (1 November) Gereja Katolik merayakan hari para orang kudus, baik mereka yang telah dikanonisasikan/ diakui Gereja sebagai Santo/ Santa, maupun para orang kudus lainnya yang tidak/ belum dikenal. Gereja telah mulai menghormati para Santo/ Santa dan martir sejak abad kedua. Hal ini terlihat dari catatan kemartiran St. Polycarpus di abad kedua sebagai berikut: “Para Prajurit lalu,…. menempatkan jenazahnya [Polycarpus] di tengah api. Selanjutnya, kami mengambil tulang- tulangnya, yang lebih berharga daripada permata yang paling indah dan lebih murni dari emas, dan menyimpannya di dalam tempat yang layak, sehingga setelah dikumpulkan, jika ada kesempatan, dengan suka cita dan kegembiraan, Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan hari peringatan kemartirannya, baik untuk mengenang mereka yang telah menyelesaikan tugas mereka, maupun untuk pelatihan dan persiapan bagi mereka yang mengikuti jejak mereka.” (St. Polycarpus, Ch. XVIII, The body of Polycarp is burned, 156 AD). Para Bapa Gereja, antara lain St. Cyril dari Yerusalem (313-386) mengajarkan demikian tentang penghormatan kepada para orang kudus: “Kami menyebutkan mereka yang telah wafat: pertama- tama para patriarkh, nabi, martir, bahwa melalui doa- doa dan permohonan mereka, Tuhan akan menerima permohonan kita …. (Catechetical Lecture 23:9)

Pada awalnya kalender Santo/ Santa dan Martir berbeda dari tempat yang satu ke tempat lainnya, dan gereja- gereja lokal menghormati orang- orang kudus dari daerahnya sendiri. Namun kemudian hari perayaan menjadi lebih universal. Referensi pertama untuk merayakan hari para orang kudus terjadi pada St. Efrem dari Syria. St. Yohanes Krisostomus (407) menetapkan hari perayaannya yaitu Minggu pertama setelah Pentakosta, yang masih diterapkan oleh Gereja- gereja Timur sampai sekarang. Gereja Barat, juga kemungkinan pada awalnya merayakan demikian, namun kemudian menggeserkannya ke tanggal 13 Mei, ketika Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon di Roma kepada Santa Perawan Maria dan para martir pada tahun 610. Perayaan hari para orang kudus pada tanggal 1 November sekarang ini kemungkinan ditetapkan sejak zaman Paus Gregorius III (741) dan pertama kali dirayakan di Jerman. Maka hari perayaan ini tidak ada kaitannya dengan perayaan pagan Samhain yang dirayakan di Irlandia. Perayaan 1 November sebagai hari raya (day of obligation) ditetapkan tahun 835 pada jaman Paus Gregorius IV. Tentang oktaf perayaan (1-8 November) ditambahkan oleh Paus Sixtus IV (1471-1484) (C. Smith The New Catholic Encyclopedia 1967: s.v. “Feast of All Saints”, p. 318.)

2. Perayaan All Souls Day/ Hari Arwah, 2 November

Sehari setelah hari perayaan orang kudus disebut sebagai hari arwah (All Souls day) yaitu hari yang ditetapkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa- doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Mengingat makna antara keduanya demikian dekat, maka tak mengherankan bahwa Gereja merayakannya secara  berurutan. Setelah kita merayakan hari para orang kudus, kita mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, dengan harapan agar merekapun dapat bergabung dengan para orang kudus di surga.

Umat Kristiani telah berdoa bagi para saudara/ saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristen. Liturgi- liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa- doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, meskipun ajaran detail dan teologi yang menjelaskan praktek ini baru dikeluarkan kemudian oleh Gereja di abad berikutnya. Mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal telah tercatat dalam 2 Makabe 12:41-42. Di dalam kitab Perjanjian Baru tercatat bahwa St. Paulus berdoa bagi kawannya Onesiforus  (lih. 2 Tim 1:18) yang telah meninggal dunia. Para Bapa Gereja, yaitu Tertullian dan St. Cyprian juga mengajarkan praktek mendoakan jiwa- jiwa orang yang sudah meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen perdana percaya bahwa doa- doa mereka dapat memberikan efek positif kepada jiwa- jiwa yang telah wafat tersebut. Berhubungan dengan praktek ini adalah ajaran tentang Api Penyucian. Kitab Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian.  Yesus mengajarkan secara tidak langsung bahwa ada dosa-dosa yang dapat diampuni setelah kehidupan di dunia ini, (lih. Mat 12:32) dan ini mengisyaratkan adanya tempat/ keadaan yang bukan Surga -karena di Surga tidak ada dosa; dan bukan pula neraka -karena di neraka sudah tidak ada lagi pengampunan dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3:15). Para Bapa Gereja, termasuk St. Agustinus (dalam Enchiridion of Faith, Hope and Love dan City of God), merumuskannya dalam ajaran akan adanya pemurnian jiwa setelah kematian.

Pada hari- hari awal, nama- nama jemaat yang wafat dituliskan di atas plakat diptych. Di abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati jiwa- jiwa mereka yang meninggal pada hari perayaan Pentakosta. Perayaan hari arwah menjadi peringatan universal, di bawah pengaruh rahib Odilo dari Cluny tahun 998, ketika ia menetapkan perayaan tahunan di rumah- rumah ordo Beneditin pada tanggal 2 November, yang kemudian menyebar ke kalangan biara Carthusian. Sekarang Gereja Katolik merayakannya pada tanggal 2 November, seperti juga gereja Anglikan dan sebagian gereja Lutheran.

Dari keterangan di atas, tidak disebutkan mengapa dipilih bulan November dan bukan bulan- bulan yang lain. Namun jika kita melihat kepada kalender liturgi Gereja, maka kita mengetahui bahwa bulan November merupakan akhir tahun liturgi, sebelum Gereja memasuki tahun liturgi yang baru pada masa Adven sebelum merayakan Natal (Kelahiran Kristus). Maka sebelum mempersiapkan kedatangan Kristus, kita diajak untuk merenungkan terlebih dahulu akan kehidupan sementara di dunia; tentang akhir hidup kita kelak, agar kita dapat akhirnya nanti tergabung dalam bilangan para kudus di surga. Kita juga diajak untuk merenungkan makna kematian, dengan mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita. Juga, pada bulan November ini, bacaan- bacaan Misa Kudus adalah tentang akhir dunia, yaitu untuk mengingatkan kita tentang akhir hidup kita yang harus kita persiapkan dalam persekutuan dengan Kristus. Harapannya adalah, dengan merenungkan akhir hidup kita di dunia, kita akan lebih dapat lagi menghargai Misteri Inkarnasi Allah (pada hari Natal) yang memungkinkan kita untuk dapat bergabung dalam bilangan para kudus-Nya dalam kehidupan kekal di surga.

Pacaran tak seiman, bolehkah?

13

Pertanyaan:

Shallom n damai sejahtera, diberkati yang telah datang dan yang berkenan kepadanya
Bro, aq mw bertanya aq orang katholik dan aq punya teman wanita tapi ia beragama kristen, saya sebagai pelayan di HSM surabaya
saya tanyakan apa boleh kita pacaran dengan beda agama ?
saya juga tanyakan teman saya didekati sama teman dya mendekati lebih lama, menurut anda apakah lebih mendekatinya atau ikhlaskan saja tapi dengan perhatian ?
saya juga sibuk kuliah n TA, Tuhan, kerja
cewek no sekian

Jawaban:

Shalom Filicius,

Hal memilih pasangan hidup adalah hak azasi manusia, maka Gereja tidak dapat melarang umatnya memilih pasangan hidup seturut pilihannya sendiri. Namun Gereja sebagai ‘ibu’ bagi umat beriman, berhak memberitahukan juga kepada anak-anaknya, bahwa menikah dengan pasangan yang tidak seiman itu adalah sesuatu yang tidak mudah bagi kehidupan perkawinannya, dan juga beresiko terhadap pertumbuhan imannya sendiri, sehingga perkawinan dengan pasangan yang tidak seiman memang tidak dianjurkan oleh Gereja Katolik. Namun demikian, jika sampai perkawinan dengan pasangan yang tidak seiman ini tetap harus dilangsungkan, maka Gereja memberikan ketentuan-ketentuannya agar perkawinan tersebut dapat dikatakan sah di hadapan Tuhan dan Gereja. Adapun ketentuan ini diberikan demi kebaikan pasangan yang menikah itu sendiri, terutama pihak yang Katolik, agar ia dapat tetap mempertahankan imannya demi keselamatan jiwanya dan anak-anaknya.

Agaknya sebelum menentukan pasangan hidup Anda, silakan Anda membaca terlebih dahulu makna perkawinan Katolik, silakan klik di sini. Mengingat bahwa perkawinan menurut iman Katolik dimaksudkan untuk menjadi gambaran persatuan kasih antara Kristus dan Gereja-Nya, maka penting di sini agar kedua pasangan dapat mengambil bagian dalam kesatuan antara Kristus dan Gereja sebagaimana yang diwujudkan dengan nyata dalam perayaan Ekaristi. Padahal kalau salah satu dari pasangan tidak Katolik, maka tidak dimungkinkan bagi kedua pasangan untuk menyambut Ekaristi yang sesungguhnya menjadi sumber dan puncak kehidupan dan kesatuan kasih mereka sebagai suami istri. (Kecuali jika sebelum perkawinan dilangsungkan, pihak Katolik telah meminta dan memperoleh izin dari pihak otoritas Gereja Katolik, maka ia tetap dapat menyambut Komuni setelah menikah). Jika pasangan tidak mempunyai iman yang sama tentang Ekaristi, (atau bahkan tidak mengimani Kristus, jika beda agama), maka akan sangat sulitlah diperoleh kesatuan hati di inti kehidupan rohani sebagai suami istri, yaitu menghayati kesatuan kasih mereka sebagai bagian dari kasih Kristus kepada Gereja: bahwa hubungan kasih mereka bukan hanya melibatkan mereka berdua saja, tetapi melibatkan juga Kristus sebagai “model”nya. Dengan Kristus sebagai model/ teladannya, maka kedua pihak dapat belajar untuk saling berkorban, saling memberikan diri tanpa syarat, terbuka kepada kemungkinan kehidupan, bersama mengarahkan anak-anak kepada keselamatan kekal melalui Baptisan dan pendidikan iman Kristiani seturut kehendak Tuhan.

Tanpa menimba kekuatan dari Kristus sendiri, akanlah sulit untuk membina hubungan kasih dan kesatuan antara suami dengan istri. Karena itu, tak mengherankan, jika dalam keadaan sedemikian, dalam perjalanan waktu ikatan kasih suami istri dapat menjadi rapuh dan kehidupan keluarga menjadi tidak harmonis. Demikianlah juga yang terlihat dari banyaknya surat yang masuk ke redaksi Katolisitas, yang mengisahkan bermacam masalah perkawinan, yang disebabkan karena menikah dengan pasangan yang tidak seiman. Kita telah mengetahui dari banyaknya fakta akan kesulitan yang dihadapi oleh pasangan-pasangan yang tidak seiman, dan selayaknya ini membuat kita berpikir dua kali untuk memilih pasangan yang tidak seiman dengan kita. Sedangkan pasangan yang seiman saja sudah memiliki tantangannya tersendiri (sebab mungkin latar belakang keluarga berbeda, sifat laki-laki dan perempuan juga berbeda, dst), apalagi jika ditambah dengan perbedaan ajaran iman.

Maka jika Anda sungguh mempunyai cita-cita untuk membentuk keluarga atas dasar iman Katolik, silakan Anda mencari pasangan yang Katolik, demi kebaikan Anda berdua. Janganlah sampai Anda berpacaran dengan seseorang yang non- Katolik tanpa memikirkan akibatnya, yaitu Anda dapat sampai kepada perkawinan dengan pasangan yang tidak seiman dengan Anda. Silakan Anda pikirkan bagaimana kehidupan rohani Anda sehari-hari selanjutnya sebagai pasangan, jika hal ini dilakukan. Akankah Anda setia sebagai seorang Katolik? Dapatkah Anda tetap setia menerima Yesus dalam Ekaristi? Bagaimana mendidik anak-anak Anda pada prakteknya (cara doa yang bagaimana yang akan diajarkan kepada anak, ke gereja mana anak akan dilibatkan, dst), jika hal ini dilakukan. Apakah kalian akan mempunyai pandangan yang sama akan makna perkawinan, dan juga tentang keterbukaan terhadap kemungkinan kehidupan yang dapat dipercayakan oleh Tuhan kepada Anda berdua?

Justru karena nampaknya hubungan Anda belum terlalu jauh dengan teman Anda itu, maka ada baiknya Anda pikirkan kembali apakah Anda akan tetap menindak-lanjuti hubungan tersebut. Bawalah ke dalam doa-doa Anda, dan semoga Tuhan membantu Anda untuk mengambil keputusan dalam hal ini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab