Home Blog Page 15

Jejak Yesus: sukacita dan salib

0
Sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=SoujG6h7UGI

[Hari Minggu Palma: Mat 21:1-11; Yes 50:4-7; Mzm 22:8-24; Flp 2:6-11; Mat 26:14-27:66 ]

Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Rajamu!” Sambil mengangkat suara, kita pun mengangkat tangan dan melambaikan daun-daun palma di awal Perayaan Ekaristi hari ini. Kita memperagakan penyambutan kepada Tuhan Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem sekitar 2000 tahun lalu, yang menjadi kenangan yang hidup bagi kita umat-Nya. Daun-daun palma itu menjadi tanda sukacita, setelah dijadikan sebagai tanda pertobatan kita, kala daun-daun palma tahun sebelumnya dibakar menjadi abu dan ditorehkan dengan Tanda Salib di dahi kita, di hari Rabu Abu yang lalu. Demikianlah selalu ada dimensi sukacita dan salib dalam perjalanan hidup ini. Dan hanya jika memaknainya dalam kesatuan dengan Kristus, kita memperoleh makna yang mendalam akan segala sukacita dan salib yang kita alami di hidup ini.

Paus Fransiskus menegaskan kedua hal ini, yaitu sukacita dan salib, dalam homili Minggu Palma di tahun 2013,

“1. Yesus memasuki Yerusalem. Kerumunan para murid menemani-Nya dalam suasana pesta, pakaian mereka dihamparkan di hadapan-Nya. Ada pembicaraan tentang mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan-Nya dan terdengarlah pujian yang lantang: “Terpujilah Raja yang datang dalam nama Tuhan. Damai sejahtera di Surga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi” (Luk 19:38). Kerumunan orang-orang merayakan pujian, berkat dan damai sejahtera: sukacita membahana di udara. Yesus telah membangkitkan pengharapan yang besar, khususnya di hati orang-orang yang sederhana, rendah hati, miskin dan terlupakan, mereka yang tidak dipandang oleh mata dunia. Ia memahami penderitaan umat manusia, Ia telah memperlihatkan wajah kerahiman Allah dan Ia telah merunduk untuk menyembuhkan tubuh dan jiwa. Inilah Yesus. Ini adalah hati-Nya yang memandang kita semua, kesakitan kita dan dosa-dosa kita. Kasih Yesus begitu besar. Maka Ia memasuki Yerusalem, dengan kasih-Nya ini, dan memandang kita. Ini adalah peristiwa yang indah, bersinar—cahaya kasih Yesus, kasih dari hati-Nya—yang penuh suka cita, penuh semarak. Di awal Misa, kita pun mengulanginya. Kita melambaikan daun-daun palma kita… Kita menyambut Yesus; kita pun menyatakan sukacita kita pada saat mengiringi-Nya, saat mengetahui bahwa Ia begitu dekat, hadir di dalam kita dan di antara kita sebagai Sahabat, Saudara dan juga Raja: yaitu, sebuah mercusuar yang bersinar bagi hidup kita. Yesus adalah Allah, tetapi Ia merendahkan diri-Nya untuk berjalan bersama kita. Ia adalah Sahabat dan Saudara kita. Ia menerangi jalan kita di sini. Dan dengan cara ini kita telah menyambut-Nya hari ini. Dan ini adalah kata pertama yang ingin kusampaikan kepada kalian: Sukacita! Jangan menjadi orang-orang yang penuh kesedihan: seorang Kristen tidak pernah dapat bersedih! Jangan menyerah kepada keputusasaan! Bagian kita adalah bukan sukacita karena punya banyak harta, tetapi karena telah berjumpa dengan Seorang Pribadi: Yesus, di tengah kita, bahkan di masa-masa sulit, bahkan ketika jalan hidup kita mendaki menghadapi berbagai masalah dan rintangan yang nampaknya tak mungkin dilewati, dan ada begitu banyaklah rintangan ini! Dan saat ini, sang seteru, yaitu iblis, datang, seringnya tersamar dalam rupa malaikat, dan dengan licik berkata kepada kita. Jangan mendengarkan dia! Mari kita mengikuti Yesus! Kita menyertai, kita mengikuti Yesus, tetapi di atas semua itu, kita tahu bahwa Ia menyertai kita dan menggendong kita di bahu-Nya. Ini adalah sukacita kita, ini adalah pengharapan yang mesti kita bawa ke dunia ini. Semoga jangan membuat diri kalian tak berpengharapan! Jangan biarkan harapan itu dicuri! Harapan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita.
2. Kata kedua. Mengapa Yesus memasuki Yerusalem? Atau lebih tepatnya: bagaimana Yesus memasuki Yerusalem?  Orang banyak menyambutNya sebagai Raja. Dan Ia tidak menyangkalnya, Ia tidak menyuruh mereka diam (lih. Luk 19:39-40). Tetapi Raja yang seperti apa Yesus itu? Mari memandang-Nya: Ia menunggangi keledai. Ia tak diiringi pasukan kerajaan, tak dikelilingi oleh sekompi prajurit sebagai lambang kekuatan. Ia diterima oleh orang-orang yang rendah, rakyat sederhana yang merasa telah melihat sesuatu yang lebih pada diri Yesus. Mereka memiliki citarasa iman yang berkata: di sinilah Juru Selamat kita. Yesus tidak memasuki kota suci untuk menerima pernghargaan yang khusus diberikan kepada para raja di dunia, kaum penguasa dan pemerintah. Ia memasuki Yerusalem untuk didera, dihina dan disiksa, sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Yesaya di Bacaan Pertama (Yes 50:6). Ia masuk untuk menerima mahkota duri, tongkat dan jubah ungu. Kekuasaan-Nya sebagai Raja menjadi obyek cercaan. Ia masuk untuk mendaki gunung Kalvari, dengan membawa beban kayu salib. Dan ini membawa kita kepada kata kedua: Salib. Yesus masuk Yerusalem untuk wafat di kayu salib. Dan di sinilah kekuasaan-Nya sebagai Raja bersinar dengan cara yang ilahi: Tahta kerajaan-Nya adalah kayu Salib! Ini mengingatkan saya akan apa yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI kepada para Kardinal: kalian adalah para pangeran, tetapi [pangeran] dari Seorang Raja yang tersalib. Itu adalah tahta Yesus. Yesus mengambilnya bagi diri-Nya sendiri… Mengapa Salib? Sebab Yesus mengambil bagi diri-Nya sendiri, kejahatan, kekotoran, kedosaan dunia, termasuk dosa dari kita semua, dan Ia membersihkannya. Ia membersihkannya dengan darah-Nya, dengan kerahiman dan kasih Allah. Marilah melihat ke sekeliling: berapa banyak luka yang diakibatkan oleh kejahatan pada umat manusia! Perang, kekeraan, konflik ekonomi yang memukul kaum yang terlemah, serakah untuk uang yang tak dapat kamu bawa dan harus ditinggalkan. Ketika kita masih kecil, nenek kita biasa mengatakan: kain kafan tidak punya kantong. Kecintaan akan kekuasaan, korupsi, perpecahan, kejahatan melawan hidup manusia dan melawan ciptaan! Dan seperti setiap orang dari kita mengetahui dan menyadari dosa-dosa pribadi kita: kegagalan kita dalam hal cinta dan hormat terhadap Allah, terhadap sesama dan terhadap semua ciptaan Tuhan. Yesus di Salib merasakan seluruh beban kejahatan dan dengan kekuatan kasih Allah, Ia menaklukkannya, Ia mengalahkannya dengan kebangkitan-Nya. Ini kebaikan yang Yesus kerjakan bagi kita di tahta Salib-Nya. Salib Kristus yang dirangkul dengan cinta, tak pernah memimpin kepada kesedihan, tetapi kepada sukacita, kepada sukacita karena telah diselamatkan dan karena melakukan sedikit dari apa yang telah Ia lakukan di hari kematian-Nya…” (Paus Fransiskus, Homili, Minggu Palma, 24 Maret 2013).

Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita memasuki Pekan Suci. Kita diajak untuk merenungkan puncak karya Allah dalam hidup kita yaitu bahwa Kristus Sang Putra Allah telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib, untuk menyelamatkan kita. Dan  dengan kebangkitan-Nya, Ia mengalahkan maut. Maka segala ciptaan akan bertelut dan mengaku, bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan!” (lih. Flp 2:5-11).

Semoga kita dapat semakin menghayati karya Allah ini dalam hidup kita, dan membiarkanNya memimpin kehidupan kita di dunia ini.  Dengan rela Yesus memasuki Yerusalem, dengan pengetahuan penuh bahwa Ia akan menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Namun Ia melakukan-Nya dengan sukacita, karena besarnya cinta kasih-Nya kepada kita. Sukacita dan salib bagi Kristus adalah bagaikan dua permukaan pada satu koin atau dua serat jalinan benang. Itu adalah dua hal yang terjalin karena cinta, namun cinta inilah yang mengalahkan dunia dan segala kejahatan. Sebab Yesus berkata,  “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33) Yesus Tuhan telah mengalahkan dunia ini dengan Salib-Nya dan karenanya kita selalu mempunyai pengharapan di tengah pergumulan dan salib kehidupan kita bahwa jika kita menghadapinya bersama Yesus, kitapun akan beroleh sukacita yang kekal bersama-Nya. Memasuki Pekan Suci, semoga kita semakin erat disatukan dengan sukacita dan Salib-Nya.

Merenungkan kematian, meneguhkan harapan kebangkitan

0
Sumber gambar: http://en.cafa.com.cn/rubens-van-dyck-and-the-flemish-school-of-painting-masterpieces-from-the-collections-of-the-prince-of-liechtenstein-debuts-in-the-china-art-palace-museum.html

[Hari Minggu Prapaska V: Yeh 37:12-14; Mzm 130:1-8; Rm 8:8-11; Yoh 11:1-45 ]

Allah yang kudus, kudus dan berkuasa,
kudus dan kekal, kasihanilah kami,
dan seluruh dunia….
Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah Andalanku….”

Kami mengakhiri doa Koronka itu dengan linangan air mata… Tak lama kemudian, terdengarlah nada biiip yang panjang dari alat pengukur denyut jantung yang terpasang di sisi ranjang Papiku. Nampak gambar garis hijau yang rata di layar monitor. Seketika itu kutahu,  Papiku sudah beralih dari dunia ini. Kupandangi wajahnya yang seperti tertidur… Kucium pipi dan tangannya, “Selamat jalan, Papi… semoga kelak kita bertemu lagi di Surga…” Begitu dalamlah duka cita yang kurasakan karena kepergiannya. Ada rasa kehilangan sosok ayah yang senantiasa memperhatikan dan mengasihi setiap anggota keluarganya. Namun syukurlah, aku memperoleh penghiburan dari pengharapan iman, bahwa Tuhan Yesus pasti memberikan yang terbaik bagi ayahku. Dan meski kami tak dapat lagi bersamanya dalam kehidupan di dunia ini, selalu ada harapan bahwa kami akan bertemu lagi dengannya, kelak dalam kebahagiaan kekal bersama Tuhan, dalam Kerajaan Surga.

Kebahagiaan kekal di Surga.  Inilah pengharapan kita sebagai umat beriman. Hari ini kita diingatkan kembali akan pengharapan iman kita itu, saat kita semakin mendekati Pekan Suci. Atas jasa Kristus yang telah dengan rela menderita, wafat di salib demi menebus dosa-dosa kita, dan kemudian bangkit dari kematian-Nya, kita dapat memperoleh kehidupan kekal di Surga. Bagaikan terang yang menghalau kegelapan harus pertama-tama mau datang menghampiri kegelapan, Kristus Sang Terang, turun ke dalam kegelapan maut, untuk mengalahkannya. Kristus rela mati, supaya kita dapat hidup. Hidup yang kekal, yang tak dapat mati lagi. Kristus telah menyerahkan hidup-Nya sendiri, agar kita dapat memperoleh hidup-Nya itu. Oleh Kristus, janji Allah yang dinyatakan oleh Nabi Yehezkiel, digenapi. “Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalam dirimu, sehingga kamu hidup kembali…” (Yeh 37:14). Dengan kebangkitan-Nya, Kristus mengalahkan maut; dan setelah Ia naik ke Surga, dalam kesatuan dengan Allah Bapa, Ia mengutus Roh Kudus-Nya kepada Gereja. Kini melalui sakramen Baptis yang diberikan Gereja, kita dapat menerima Roh Kudus. Oleh Baptisan, Roh Kudus berdiam di dalam diri kita, dan kita memperoleh hidup ilahi; yaitu Roh Allah yang menghidupkan itu. Tergenapilah apa yang dikatakan Rasul Paulus, “Jika Roh Allah, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam dirimu, maka Ia yang telah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana oleh Roh-Nya yang diam dalam dirimu” (Rm 8:11). Oleh Roh Allah yang berdiam di dalam diri kita inilah, kita mempunyai pengharapan, bahwa kelak kita akan dibangkitkan, dan kita akan tetap hidup, meskipun kita sudah mati (lih. Yoh 11:25). Roh Allah inilah yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri, dalam kebahagiaan-Nya yang tanpa akhir.

Maka permenungan akan kematian, semestinya membuat kita semakin menyadari ketergantungan kita kepada Tuhan dan belas kasih-Nya; namun juga bagaimana kita membiarkan Roh Allah memimpin kita semasa hidup kita di dunia ini. Sebab hanya jika hidup kita dipimpin oleh Roh, Allah akan berkenan kepada kita, dan memberikan penggenapan atas apa yang dijanjikan-Nya. Yaitu bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan suatu peralihan menuju kehidupan kekal bersama Allah, jika kita telah mengikuti kehendak-Nya dengan setia sepanjang hidup kita.       Masa Prapaska ini adalah masa yang khusus untuk menilik diri kita, sejauh mana kita telah mematikan kedagingan kita, untuk hidup menurut kebenaran yang dikehendaki Allah, seperti yang kita dengar dalam Surat Rasul Paulus di Bacaan Kedua.

Selanjutnya, Bacaan Injil hari ini tentang peristiwa Kristus yang membangkitkan Lazarus dari kubur, setidak-tidaknya mengingatkan kita akan dua hal penting. Pertama adalah makna literalnya, yaitu, Tuhan Yesus berkuasa atas hidup kita; dan sebagai Sang Hidup, Ia berkuasa membangkitkan orang yang sudah mati sekalipun (seperti contohnya, Lazarus). Kedua, makna rohaninya, yaitu bahwa kematian dapat pula diartikan sebagai kematian rohani, akibat dosa tertentu, yaitu dosa berat yang telah mengikat. Untuk menghidupkannya kembali dibutuhkan rahmat pengampunan Tuhan, dan ikatan dosa itu harus dilepaskan. Menurut St. Gregorius, Kristus yang berkata kepada para murid-Nya, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia [Lazarus] pergi” (Yoh 11:45) menunjukkan tugas para imam-Nya untuk melepaskan ikatan dosa dan membebaskan orang-orang berdosa yang bertobat; meskipun tetap Yesus sendirilah yang mengampuni dosa-dosa mereka. Para murid itu hanya melepaskan ikatan dosa atas dasar kuasa Yesus yang diberikan kepada mereka.  St. Sirilus dan St. Agustinus pun mengatakan hal yang sama dalam penjelasan mereka tentang ayat tersebut (lih.  St. Cyril, lib. vii. in Joan. and St. Augustine, Tract. 49 in Joan).

Minggu depan kita akan merayakan Minggu Palma. Tak terasa, sebentar lagi kita akan memasuki Pekan Suci yang merayakan peristiwa-peristiwa puncak karya keselamatan Allah bagi kita. Dengan menyadari keterbatasan hari-hari kita di dunia ini, semoga kita diberi rahmat pertobatan oleh Allah. Semoga kita dimampukan untuk mengakui segala dosa kita, agar beroleh rahmat pengampunan yang kembali “menghidupkan” kita secara rohani. Terlepas dari ikatan dosa, diharapkan kita dapat menyongsong Pekan Suci dengan hati lapang. Mari kita bersyukur untuk besarnya kasih Allah yang dinyatakan kepada kita melalui Yesus Kristus, Putra-Nya, yang rela menyerahkan nyawa-Nya demi membebaskan kita dari dosa dan kesalahan kita. Mari bersama pemazmur kita daraskan Mazmur hari ini, sebagai doa yang mengalir dari hati kita yang merindukan pengampunan-Nya:

Dari jurang yang dalam kuberseru ya, Tuhan!
Tuhan, dengarkanlah suaraku!
Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian,
kepada suara permohonanku.
Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan,
ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
Tetapi pada-Mu ada pengampunan,
maka orang-orang bertakwa kepada-Mu.

Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti
dan aku mengharapkan firman-Nya.
Jiwaku mengharapkan Tuhan,
lebih daripada pengawal mengharapkan pagi,
lebih daripada pengawal mengharapkan pagi.

Sebab pada Tuhan ada kasih setia,
dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Dialah yang akan membebaskan Israel
dari segala kesalahannya.

Tuhan kumohon, bebaskanlah hamba-Mu,
dari segala kesalahannyaAmin.

Pentahtaan Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang tak bernoda di Rumah

0
Sumber gambar: http://www.fatimacentennial.com/

Berikut ini adalah keterangan tentang Pentahtaan Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang tak bernoda, yang kami kutip/ sarikan dari situs:
http://www.fatima.org/essentials/whatucando/sac&immhrts/home.asp

 


Apa maksud pentahtaan Hati Yesus dan Hati Maria?

Pentahtaan Hati Kudus Yesus di tengah keluarga adalah sesuai dengan  kehendak Yesus yang berkata, “Aku akan meraja melalui Hati-Ku”. Pentahtaan ini dimaksudkan untuk menempatkan Tuhan Yesus sebagai Raja yang memerintah keluarga tersebut atas dasar kasih. Pentahtaan ini dimulai dengan sebuah upacara sederhana, yang dipimpin oleh imam, dan dihadiri oleh seluruh anggota keluarga. Kepala keluarga menempatkan gambar atau patung Hati Kudus Yesus di tempat terhormat, di ruang utama di rumah, seperti seolah di tahta. Setelah itu, diikuti oleh doa penyerahan/ konsekrasi keluarga kepada Hati Kudus Yesus. Dengan demikian mereka berjanji untuk hidup seolah Hati Kudus Yesus secara nyata sungguh tinggal di tengah-tengah mereka seperti ketika Ia hidup di Nazaret; dan memperlakukan Dia sebagai anggota istimewa dalam keluarga. Demikian pula, Bunda Maria yang selalu hadir bersama Tuhan Yesus.

Apakah pentahtaan ini sudah merangkum semua devosi?

Belum. Upacara ini hanya awal dari suatu kehidupan baru yang didasari kasih dan ketaatan kepada perintah Kristus dan Gereja; kehidupan doa terutama doa bersama sebagai keluarga di hadapan gambar Hati Kudus Yesus ini, doa Rosario bersama, kehidupan yang Ekaristis, kerap menerima Komuni dalam perayaan Ekaristi, bahkan setiap hari, sehingga terhubunglah tempat suci di gereja dan di rumah; dan terakhir, kehidupan pertobatan Kristiani, dengan menolak gaya hidup pagan, dan dengan berbuat silih bagi dosa-dosa, secara khusus dosa menentang kemurnian, seperti perselingkuhan, dosa-dosa seksual, penggunaan kontrasepsi, dst.

Bagaimana pentahtaan ini akan memulihkan keluarga kepada Kristus?

Dalam pentahtaan ini, keluarga menempatkan Kristus dan kepentingan-Nya di tempat pertama. Maka Hati Kudus Yesus pun memperhatikan kepentingan  keluarga tersebut. Tuhan Yesus berjanji akan memberkati dan menguduskan keluarga-keluarga yang mentahtakan-Nya sebagai Raja. Ia meminta St. Margaret Maria yang kepadanya Ia telah menyatakan Hati Kudus-Nya agar Ia diperbolehkan untk meraja di rumah-rumah umat-Nya, agar Ia dapat secara resmi diterima sebagai Raja dan Sahabat, dan agar Hati Kudus-Nya dihormati dan dicintai. “Aku akan memberikan damai di rumah mereka. Aku akan memberi mereka semua rahmat yang diperlukan bagi hidup mereka; Aku akan menghibur mereka dalam kesusahan mereka; Aku akan memberkati setiap usaha mereka.”  Ini adalah cara yang dipilih oleh Tuhan Yesus sendiri untuk memulihkan hak-hak-Nya sebagai Raja atas keluarga dan melalui keluarga-keluarga, atas masyarakat itu sendiri.

Apakah pentahtaan Hati Kudus Yesus telah disetujui?

Ya. Pertama oleh Hati Kudus Yesus sendiri, yang terlihat dari banyaknya pertobatan yang diakibatkannya. St. Pius X menyebut Pentahtaan ini sebagai karya penyelamatan masyarakat. Paus Benediktus XV memuji Fr. Mateo, yang mendirikan tradisi ini: “Tak ada yang lebih baik daripada usahamu.” Paus XI memberkati karya ini berkali-kali baik secara publik maupun pribadi. Demikian pula Paus Pius XII menulis kepada Fr. Mateo agar terus melanjutkan karyanya, “Pentahtaan yang sangat cocok untuk mengembangkan merajanya cinta dan belas kasih Hati Kudus Yesus dalam keluarga.”

Apa yang harus dilakukan untuk mentahtakan Hati Kudus Yesus dalam rumahku?

Pertama, ketahuilah apakah Pentahtaan itu dan mengapa itu penting. Juga penting agar imam dapat memimpin upacara tersebut, walaupun hal itu tidak esensial untuk memperoleh indulgensi. Untuk alasan-alasan yang serius, ayah atau seorang yang lain dapat memimpin doa-doanya. Jika memungkinkan, dapat dipersembahkan Misa Kudus di pagi hari untuk intensi agar Hati Kudus Yesus meraja di rumah Anda, dan sebagai tanda kasih dan silih kepada Hati Kudus Yesus. Seluruh keluarga hendaknya menerima Komuni dalam Misa ini, atau di Misa yang lain. Tempatkanlah gambar atau patung Hati Kudus Yesus [dan Hati Maria yang tak bernoda]. Di bawah gambar atau patung itu, persiapkanlah semacam “tahta” atau “altar” yaitu semacam meja yang diberi taplak putih, dengan lilin dan bunga. Sebelum upacara, gambar atau patung dan air suci ditempatkan di meja kecil dekat “tahta” tersebut. Undanglah  kerabat atau sahabat untuk hadir, dan dengan demikian Anda telah menjadi “rasul bagi Hati Kudus Yesus”. Dapat disediakan hidangan setelah upacara, anak-anak semua diundang hadir. Jadikanlah hari tersebut sebagai hari yang istimewa bagi seluruh keluarga, suatu peristiwa untuk selalu dikenang.

Adalah paling cocok, jika sebagai pasangan suami istri yang baru menikah untuk memulai kehidupan rumah tangga mereka dengan mentahtakan Hati Kudus Yesus di rumah mereka yang baru.

Persiapan Pentahtaan

Pilihlah hari Pentahtaan yang mempunyai arti penting bagi keluarga (misalnya hari ulang tahun perkawinan) atau pesta liturgis yang sesuai, atau suatu hari dimana imam dapat hadir, jika mungkin. Semakin baik dan serius persiapan Pentahtaan ini diadakan, semakin besar rahmat yang dapat diperoleh dari peristiwa tersebut. Persiapan dapat dilakukan selama tiga hari (triduum) atau sembilan hari (novena).

Doa persiapan Pentahtaan
Hati Kudus Yesus & Hati Maria yg tak bernoda

O Hati Yesus yang Ilahi, datang dan tinggallah di antara kami,
sebab kami mengasihi-Mu.
Kunjungilah rumah kami
seperti dulu Engkau mendatangi sahabat-sahabat-Mu
di Kana, Betania, rumah Zakeus pemungut cukai.
Kami ingin menempatkan keluarga kami
dalam pemeliharaan-Mu
dan bawalah dalam kesatuan yang intim denganMu,
O Hati Kudus Yesus,
Engkaulah Sahabat kami yang paling setia.
Tak seorangpun yang pernah mengasihi kami
seperti yang telah Kau lakukan.
Dan kami ingin mengasihi Engkau,
demi mereka yang tidak mengasihi Engkau,
sebab Engkaulah Tuhan dan Penyelamat kami.
Engkau adalah juga Tuhan dan Raja kami.
Sebab ada banyak cemooh,
kami ingin memohon kekuatan dari-Mu atas keluarga kami.
Jadikanlah rumah kami sebagai milik-Mu,
di mana kami sediakan tahta
sebagai tempat kehormatan bagi-Mu.

Berilah agar hari Pentahtaan
menjadi bagi keluarga kami dan bagi Engkau,
hari yang penuh sukacita,
dan awal hidup kami yang sungguh
dalam ketaatan dan kesatuan yang intim dengan-Mu.
Semua pikiran dan tindakan kami
haruslah sesuai dengan Hukum-Mu yang kudus.
Kami hendak membuang cinta diri yang tak teratur
dan kami mau mengasihi sesama kami
seperti Engkau telah mengasihi kami dan terus mengasihi kami.
Hidup di dunia yang, di banyak tempat
telah menjadi pagan kembali dan tak lagi mengenal Engkau,
O Hati Yesus yang Ilahi,
kami mohon kehadiran-Mu yang rahim,
belas kasih seperti yang dimiliki jemaat perdana,
para rasul dan martir.
Berilah agar melalui rumah tangga ini
yang ingin menjadi milik-Mu sepenuhnya,
keluarga-keluarga lain dapat memeluk kasih-Mu
dan dengan demikian, dari keluarga ke keluarga,
seluruh dunia akan tunduk pada Kuasa-Mu.

O Hati Maria yang tak bernoda,
teladan sempurna dari kesetiaan
kepada Tuhan kita dan kesatuan dengan-Nya,
perluaslah dan kuatkanlah,
dalam hati kami dan keluarga kami,
kemenangan cinta kasih dan kemenangan Hati Kudus Yesus.
Amin.

Litani Hati Kudus Yesus

Tuhan kasihanilah kami
Tuhan kasihanilah kami
Kristus kasihanilah kami
Kristus kasihanilah kami
Tuhan kasihanilah kami; Kristus dengarkanlah kami
Kristus kabulkanlah doa kami

Allah Bapa di surga,                                            kasihanilah kami.
Allah Putra, Penebus dunia,
Allah Roh Kudus,
Allah Tritunggal Mahakudus, Tuhan Yang Maha Esa,
Hati Yesus yang Mahakudus,
Hati Yesus Putra Bapa kekal,
Hati Yesus yang diwujudkan oleh Roh Kudus dalam ribaan Bunda Perawan,
Hati Yesus yang dipersatukan dengan Sabda Allah dalam satu wujud,
Hati Yesus yang mulia tak terbatas,
Hati Yesus Bait Kudus Allah,
Hati Yesus Kemah Allah dan Pintu Surga,
Hati Yesus Perapian Cinta Kasih yang bernyala-nyala,
Hati Yesus Perbendaharaan Keadilan dan Cinta Kasih,
Hati Yesus Lubuk penuh keutamaan,
Hati Yesus amat patut dipuji-puji,
Hati Yesus Raja dan pusat segala hati,
Hati Yesus tempat semua harta kebijaksanaan dan pengetahuan,
Hati Yesus tempat tinggal keallahan seluruhnya,
Hati Yesus yang berkenan kepada Bapa,
Hati Yesus yang kaya raya dan murah hati kepada kami,
Hati Yesus kerinduan bukit-bukit yang kekal,
Hati Yesus yang murah hati bagi semua orang yang berseru kepada-Mu,
Hati Yesus sumber kehidupan dan kesucian,
Hati Yesus kurban pelunas dosa kami,
Hati Yesus yang ditimpa penghinaan,
Hati Yesus yang taat sampai mati,
Hati Yesus yang tertusuk dengan tombak,
Hati Yesus sumber segala penghiburan,
Hati Yesus kehidupan dan kebangkitan kami,
Hati Yesus pokok damai dan pemulihan kami,
Hati Yesus kurban untuk orang berdosa,
Hati Yesus keselamatan bagi orang yang berharap kepada-Mu,
Hati Yesus pengharapan orang yang meninggal dalam Engkau,
Hati Yesus kesukaan orang kudus,
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
sayangilah kami, ya Tuhan.
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.
Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,
kasihanilah kami.
Yesus yang lembut dan murah hati,
jadikanlah hati kami seperti hati-Mu.

Marilah berdoa. (hening) Allah yang Mahakuasa dan kekal, terimalah segala pujian dan penghapusan dosa yang dipersembahkan Hati Yesus kepada-Mu atas nama semua orang berdosa. Sudilah Engkau mengampuni dosa-dosa umat-Mu, yang memohon belas kasih-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami, yang bersatu dengan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin

Litani Perawan Maria yang Terberkati

Tuhan, kasihanilah kami.
Kristus, kasihanilah kami.
Tuhan, kasihanilah kami; Kristus, dengarkanlah kami.
Kristus, kabulkanlah doa kami.
Allah Bapa di surga,                                                   kasihanilah kami.
Allah Putra, Penebus dunia,
Allah Roh Kudus,
Allah Tritunggal Kudus,
Tuhan Yang Mahaesa,
Santa Maria,                                                                doakanlah kami.
Santa Bunda Allah,
Santa Perawan termulia,
Bunda Kristus,
Bunda Gereja,
Bunda rahmat ilahi,
Bunda yang tersuci,
Bunda yang termurni,
Bunda yang tetap perawan,
Bunda yang tak bercela,
Bunda yang patut dicintai,
Bunda yang patut dikagumi,
Bunda penasihat yang baik,
Bunda Pencipta,
Bunda Penebus,
Perawan yang amat bijaksana,
Perawan yang harus dihormati,
Perawan yang harus dipuji,
Perawan yang berkuasa,
Perawan yang murah hati,
Perawan yang setia,
Cermin kekudusan,                                         doakanlah kami.
Takhta kebijaksanaan,
Pohon sukacita kami,
Bejana rohani,
Bejana yang patut dihormati,
Bejana kebaktian yang utama,
Bunga mawar yang gaib,
Benteng Daud,
Benteng gading,
Rumah kencana,
Tabut perjanjian,
Pintu surga,
Bintang Timur,
Keselamatan orang sakit,
Perlindungan orang berdosa,
Penghibur orang berdukacita,
Pertolongan orang kristen,
Ratu Para malaikat,
Ratu Para bapa-bangsa,
Ratu Para nabi
Ratu Para rasul,
Ratu Para saksi iman,
Ratu Para pengaku iman,
Ratu Para perawan,
Ratu Para orang kudus,
Ratu yang dikandung tanpa dosa,
Ratu yang diangkat ke surga,
Ratu rosario yang amat suci,
Ratu pencinta damai,
Anakdomba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia, sayangilah kami.
Anakdomba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia, kabulkanlah doa kami.
Anakdomba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia, kasihanilah kami.

Selama Masa Adven

Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,
bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.
Marilah kita berdoa. (Hening) Ya Allah, dengan kabar malaikat, Engkau menghendaki sabda-Mu menjelma menjadi manusia dengan perantaraan Bunda Maria. Kami mohon, agarkami sungguh percaya, bahwaYesus Kristus yang akan datang sebagai manusia menjadi pengantara kami kepada-Mu. Dialah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. (Amin.)

Dari awal Masa Natal sampai 2 Februari

Sabda sudah menjadi manusia,
dan tinggal di antara kita.
Marilah kita berdoa. (Hening) Ya Allah, Engkau telah mengutus Putra-Mu ke dunia, yang dilahirkan dengan perantaraan Bunda Maria yang tetap perawan. Maka kami mohon, agar kami Kauperkenankan ikut menik­mati karya keselamatan Putra-Mu itu, kini dan sepan­jang masaa. (Amin.)

Dari 2 Februari sampai Hari Raya Paskah; dan sesudah Masa Paskah sampai Adven

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah,
supaya kami dapat menikmati janji Kristus.
Marilah kita berdoa. (Hening) Ya Allah, kami hamba-Mu berdoa kepada-Mu, semoga oleh karena belas kasih-Mu kami memperoleh keselamatan badan dan jiwa, serta karena doa Santa Perawan Maria, kami terhindar dari kesusahan dunia ini dan dapat merasakan kebahagiaan kekal di surga. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. (Amin.)

Selama Masa Paskah

Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya!
Sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya!
Marilah kita berdoa. (Hening) Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra­Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon: Perke­nankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal karena doa Santa Perawan Maria. Demi Kristus, peng­antara kami. (Amin.)

Upacara Pentahtaan

Disarankan agar diakan Misa untuk intensi keluarga tersebut di hari Pentahtaan itu, atau setidaknya keluarga menghadiri Misa bersama sebagai satu keluarga dan menerima Komuni kudus setidaknya di hari Minggu sebelum hari pentahtaan. Persiapkan “tahta/ altar” atau  berupa meja dengan taplak putih. Gambar atau patung diletakkan di meja kecil, juga diberi taplak putih dengan lilin dan bunga. Disediakan juga botol air suci.

Pemberkatan Rumah

Pada waktu yang ditentukan, orangtua, anak-anak dan para sahabat berkumpul di ruang utama rumah untuk upacara. Kalau rumah be;um diberkati, imam memberkatinya terlebih dahulu.

  • Pertolongan kami adalah dalam nama Tuhan
    U. yang menciptakan langit dan bumi.
    I. Tuhan sertamu.
    U. Dan bersama rohmu.Marilah berdoa
    O Tuhan Allah yang mahakuasa, berkatilah rumah ini. Semoga di dalamnya ada kesehatan, kemurnian, kemenangan atas dosa, kekuatan, kerendahan hati, kebaikan hari dan kemurahan hati, ketaatan penuh terhadap hukum-Mu dan rasa syukur kepada Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Dan semoga berkat ini tetap tinggal atas rumah ini dan atas orang-orang yang hidup di sini, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Pemberkatan gambar Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang tak bernoda

  • Pertolongan kami adalah dalam nama Tuhan
    U. yang menciptakan langit dan bumi.
    I. Tuhan sertamu.
    U. Dan bersama rohmu.

Marilah berdoa:

Allah yang mahakuasa dan kekal, Engkau tidak melarang kami untuk menggambarkan para orang kudus-Mu dengan patung atau lukisan supaya setiap kali kami memandang mereka dengan mata jasmani, kami dapat merenungkan kekudusan mereka dengan mata hati kami dan dipimpin untuk meniru perbuatan mereka. Dalam kebaikan-Mu, kami mohon kepada-Mu untuk memberkati dan menguduskan gambar-gambar (patung-patung) yang dimaksudkan untuk menghormati dan mengingatkan akan Hati yang Mahakudus dari Putra-Mu yang Tunggal, Tuhan kami Yesus Kristus dan Hati Maria yang tak bernoda, Bunda-Nya yang tersuci. Semoga semua orang yang dalam kehadiran Mereka merendahkan diri untuk melayani dan menghormati Putra-Mu yang tunggal, Tuhan kami Yesus Kristus dan Perawan Maria yang terberkati, oleh jasa-jasa dan doa perantaraan Mereka, memperoleh daripada-Mu, rahmat dalam hidup sekarang ini dan kemuliaan kekal dalam hidup yang akan datang. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Lalu imam memerciki gambar-gambar/ patung-patung dengan air suci.

Pentahtaan gambar-gambar

Lalu kepala keluarga menempatkan gambar/ patung Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang tak bernoda di tempat terhormat (di “altar” tersebut yang sudah dipersiapkan), untuk memberikan penghormatan kepada keduanya.

Pengucapan Syahadat

Setelah pemberkatan, untuk menyatakan iman secara eksplisit, seluruh keluarga dan semua yang hadir mengucapkan syahadat, sambil berdiri.

Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa
Pencipta langit dan bumi;
Dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal,
Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria,
Yang menderita sengsara, dalam pemerintahan Pontius Pilatus,
Disalibkan, wafat dan dimakamkan,
Yang turun ke tempat penantian,
Pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati,
Yang naik ke Surga,
duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa,
Dari situ Ia akan mengadili orang yang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja Katolik yang kudus,
Persekutuan para kudus,
Pengampunan dosa,
Kebangkitan badan,
Kehidupan kekal,
Amin.

Khotbah Imam

Semua yang hadir duduk untuk mendengarkan khotbah imam. Ia mengingatkan:
– Pentingnya Pentahtaan
– Hidup Kristiani, yaitu ketaatan, kepercayaan dan kasih yang dinantikan oleh hati Yesus kepada keluarga yang telah menghormati Yesus dan Bunda Maria ini.
-Rahmat istimewa yang akan diberikan kepada keluarga-keluarga umat beriman yang setia kepada janji mereka kepada Yesus dan Maria.
-Janji keluarga untuk kerap memperbaharui konsekrasi mereka, terutama dalam doa-doa sore bersama.

Konsekrasi keluarga kepada Hati Kudus Yesus

Doa disusun oleh Paus Pius X, 19 Mei 1908, yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi, untuk diucapkan sambil berlutut oleh imam dan umat yang hadir. Jika imam tidak hadir, doa dipimpin oleh kepala keluarga:

O, Hati Kudus Yesus,
yang memberitahukan St. Margaret Maria,
keinginan-Mu yang membara
untuk meraja dalam keluarga-keluarga Kristiani,
lihatlah kami yang berkumpul di sini hari ini,
untuk menyatakan bahwa
Engkaulah yang berkuasa mutlak di rumah kami.

Karena itu kami bermaksud
menjalani hidup seperti hidup-Mu,
sehingga di antara kami dapat berkembang kebajikan-kebajikan
yang melaluinya Engkau menjanjikan damai di dunia.
Dan untuk tujuan ini kami akan membuang dari antara kami
roh dunia yang sangat tidak Kau sukai.
Engkau akan meraja atas pengertian kami,
oleh karena kesederhanaan iman kami.
Engkau akan meraja di atas hati kami,
oleh karena kasih yang membara kepada-Mu.
Dan semoga api kasih ini selalu menyala di hati kami,
oleh karena sering menerima Ekaristi Kudus.

Berkenanlah, Sang Hati Ilahi,
untuk memimpin pertemuan-pertemuan kami,
berkatilah usaha kami,
baik yang rohani maupun jasmani,
buanglah semua kekuatiran,
kuduskanlah sukacita kami,
dan ringankanlah kesedihan kami.
Jika siapapun di antara kami
mengalami kemalangan yang menyedihkan,
Hati Kudus-Mu, ingatkanlah dia
akan kebaikan dan belas kasih-Mu
terhadap pendosa yang bertobat.
Akhirnya, ketika saat perpisahan tiba,
dan kematian akan menenggelamkan rumah kami
ke dalam duka cita,
semoga kami semua, setiap kami,
berserah kepada kehendak-Mu yang kekal
dan mencari penghiburan dalam pemikiran
bahwa kami akan suatu hari kelak disatukan kembali di Surga,
dimana kami akan menyanyikan pujian dan berkat
kepada Hati Kudus-Mu untuk selamanya.

Semoga Hati Maria yang tak bernoda,
dan Patriark St. Yusuf yang mulia,
mempersembahkan kepada-Mu penyerahan diri kami,
dan mengingatkan kami akan hal yang sama,
setiap hari dalam hidup kami.

Kemuliaan kepada Hati Yesus yang Ilahi, Raja kami,
dan Bapa kami.

Penghormatan kepada Hati Maria yang tak bernoda

Semua berdiri, untuk berterima kasih kepada Hati Maria yang tak bernoda, dan atas rahmat yang telah Yesus berikan melalui Pentahtaan kepada keluarga tersebut, dan untuk menyatakan Bunda Maria sebagai Ratu di rumah tersebut. Gambarnya dipasang di sebelah gambar Hati Kudus Yesus. Semua mendaraskan:

Salam ya Ratu, Bunda kerahiman,
salam, hidup, hiburan dan harapan kami.
Kami semua memanjatkan permohonan,
kami amat susah, mengeluh, mengesah dalam lembah duka ini.
Ya, Ibunda, pelindung kami,
limpahkanlah kasih sayang-Mu yang besar kepada kami.
Dan Yesus, Putra-Mu yang terpuji itu,
semoga Kau tunjukkan kepada kami,
o Ratu, o, Ibu, o Maria, Bunda Kristus.

Konsekrasi keluarga kepada
Hati Maria yang tak bernoda

O, Hati Maria yang tak bernoda, Bunda Hati Yesus,
Bunda dan Ratu rumah tangga kami,
agar kami dapat memenuhi kehendakmu yang membara,
kami menyerahkan diri kami kepada mu
dan kami mohon agar engkau memimpin keluarga kami.
Pimpinlah setiap kami, ajarilah kami
bagaimana menjadikan Hati Putramu terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus, menguasai dan meraja di dalam kami
dan sekitar kami, seperti Hati Yesus
telah menguasai dan meraja di dalam engkau.
Pimpinlah kami, Bunda yang terkasih
supaya kami menjadi milikmu
dalam kesejahteraan maupun kemalangan,
dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit,
dalam hidup maupun mati.
O, Hati Maria yang paling berbelarasa,
Ratu para perawan,
awasilah pikiran kami dan hati kami,
dan jagalah dari luapan kesombongan, ketidakmurnian
dan kebiasaan pagan yang paling menyedihkan hatimu.

Kami ingin melakukan silih
bagi begitu banyak kejahatan yang dilakukan
terhadap Yesus dan engkau.
Kami memohon bagi bangsa kami, dan seluruh dunia,
damai sejahtera Kristus dalam keadilan dan cinta kasih.
Karena itu kami berjanji akan meniru teladan-Mu
dengan melaksanakan hidup Kristiani
dan dengan Komuni kudus yang sering dan sungguh-sungguh,
tanpa mencari penghargaan dari manusia.
Kami datang dengan yakin kepadamu,
Tahta Kebijaksanaan dan Bunda Kasih sejati;
nyalakanlah dalam hati dan rumah kami,
cinta akan kemurnian,
semangat yang membara bagi jiwa-jiwa,
dan kehendak untuk kesucian hidup keluarga.
Kami menerima sekarang, semua kurban
yang akan disyaratkan oleh hidup Kristiani
dan kami persembahkan kepada Hati Yesus,
melalui Hatimu yang tak bernoda
dalam semangat silih dan tobat.
Bagi Hati Kudus Yesus dan Maria,
kasih, hormat, kemuliaan selama-lamanya. Amin.

Doa untuk anggota keluarga yang tidak hadir dan yang telah meninggal

Untuk acara ini sebaiknya tak seorangpun anggota keluarga yang absen, maka mereka yang telah meninggal juga dikenang. Maka didaraskan satu kali doa Bapa Kami dan doa Salam Maria bagi anggota keluarga yang sudah meninggal, dan bagi anggota keluarga yang tidak dapat hadir (karena suatu tugas tertentu, misal karena tugas pengabdian, dst).

Bapa Kami…
Salam Maria…

  • Semoga jiwa-jiwa orang beriman,
    melalui belas kasih Allah, beristirahat dalam damai.
    U. Amin.
    I. Kuduskanlah, O Tuhan,
    mereka yang membaktikan diri mereka
    untuk pelayanan-Mu.
    U. Dan semua orang yang menaruh harap di dalam Engkau.

Konsekrasi anak-anak kepada Hati Kudus Yesus

Jika ada anak-anak, mereka dapat mendaraskan doa ini:

O Hati Kudus Yesus,
Hati Sahabat kami dan Raja kami yang terkasih,
Engkau telah mendirikan tahta-Mu di rumah ini,
supaya selalu tinggal bersama kami.
Berkatalah kepada kami perkataan yang sama itu:
“Biarlah anak-anak datang kepada-Ku”
O Hati Kudus Yesus,
pandanglah kami yang berlutut di kaki-Mu,
Dan yang sejak saat ini berjanji
Untuk menjadi taat dan penuh hormat seperti Engkau dulu
kepada orangtua kudus-Mu di rumah Nazaret,
Sehingga kami dapat bertumbuh
dalam kebajikan dan kebijaksanaan
dengan bertambahnya umur kami.
Hati Kudus Yesus yang terkasih,
Engkau juga ingin memiliki hati kami,
sebab Engkau berkata:
“Anak-Ku, berikanlah hatimu kepada-Ku.”
Engkau ingin untuk tetap tinggal di dalam hati kami,
dan kami harus menghibur Engkau dengan kasih kami,
demi semua orang yang tidak mengenal Engkau
atau tidak mau mengasihi Engkau.
Yesus yang termanis,
Sahabat ilahi bagi anak-anak,
terimalah hati kami,
jadikanlah hati kami murni, suci dan gembira.
Terimalah juga tubuh kami, jiwa kami,
dan semua kekuatan kami.
Kami menyerahkan diri kami kepada-Mu,
kini dan selamanya.
Engkaulah satu-satunya Raja kami.
Semua pikiran, perkataan, perbuatan dan doa kami,
kami serahkan kepada-Mu,
Sahabat kami dan Raja kami.

Semua bagi-Mu, O Hati Kudus Yesus!

Anak-anak dapat membaca sajak atau menyanyikan lagu untuk menghormati Hati Kudus Yesus.

Doa Syukur

Seluruh keluarga mengucapkan doa ini:

Kemuliaan kepada-Mu, O Hati Kudus Yesus,
untuk belas kasih-Mu yang tak terbatas,
yang telah Engkau curahkan
kepada para anggota keluarga ini.
Engkau telah memilih keluarga kami
dari ribuan keluarga lainnya
sebagai penerima kasih-Mu dan
sebagai tempat kudus bagi silih,
dimana Hati-Mu yang terkasih
menemukan penghiburan atas penolakan
dari orang-orang yang tidak berterima kasih.
Betapa besar, O Tuhan Yesus, kebingungan sekumpulan
dari   kawanan umat beriman-Mu,
ketika kami menerima penghormatan
yang bukan karena jasa kami,
ketika mereka melihat Engkau memimpin keluarga kami.
Dalam keheningan kami menyembah Engkau,
sangat bergembira memandang Engkau,
mengambil bagian dalam kerja keras,
perhatian dan sukacita dari anak-anak-Mu
dengan tinggal di rumah ini.
Sungguh benar bahwa kami tidak layak
bahwa Engkau dapat masuk dalam rumah kami yang sederhana,
tetapi Engkau telah menjamin kami,
bahwa Engkau menyatakan Hati Kudus Yesus kepada kami,
dengan mengajarkan kami untuk menemukan
dalam luka-luka Lambung-Mu yang kudus,
sumber rahmat dan hidup yang kekal.
Dalam semangat yang penuh kasih dan iman,
kami memberikan diri kami kepada-Mu,
Engkau yang adalah Hidup yang tak pernah berubah.
Tinggallah bersama kami, ya Hati yang Mahakudus,
sebab kami sangat rindu
untuk mengasihi Engkau dan membuat Engkau dikasihi.

Semoga rumah kami menjadi tempat peristirahatan bagi-Mu,
semanis rumah di Betania, di mana Engkau dapat beristirahat
di tengah sahabat-sahabat-Mu yang mengasihi,
yang seperti Maria telah memilih tempat yang terbaik,
dalam keintiman Hati-Mu yang penuh kasih.

Semoga rumah ini bagi-Mu, ya Juruselamat yang terkasih,
tempat penghiburan yang sederhana tetapi ramah,
selagi para musuh-Mu mengasingkan Engkau.
Datanglah, Tuhan Yesus,
datanglah sebab di sini seperti di Nazaret,
kami memiliki kasih yang tulus
kepada Perawan Maria, Bunda-Mu yang termanis,
yang telah Engkau berikan kepada kami
untuk menjadi ibu kami.
Datanglah untuk memberi kehadiran-Mu yang manis
ketika terjadi kekosongan yang disebabkan oleh kemalangan
dan kematian di tengah kami.

O, Sahabat yang paling setia,
jika Engkau di sini di tengah dukacita kami,
air mata kami akan berkurang pahitnya,
dan damai yang menghibur
akan meringankan luka-luka yang tersembunyi ini,
yang hanya diketahui oleh Engkau sendiri.
Datanglah, sebab bahkan sekarang mungkin telah mendekat
senja kesukaran besar dan
kemerosotan dari hari-hari masa muda
dan angan-angan kami.
Tinggallah bersama kami,
sebab telah lambat, dan dunia yang sesat
telah berusaha melingkupi kami
dalam kegelapan pengingkarannya
sementara kami ingin melekat kepada-Mu,
yang adalah satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Ulangilah bagi kami perkataan-Mu yang dahulu:
“Hari ini, Aku harus tinggal di rumah ini” (Luk 19:5).

Ya, Tuhan yang terkasih,
ambillah tempat kediaman kami bagi-Mu,
supaya kami dapat hidup
dalam kasih-Mu dan kehadiran-Mu,
kami yang menyatakan Engkau sebagai Raja kami,
tak menginginkan yang lain.
Semoga Hati-Mu yang jaya, O Yesus,
selamanya dikasihi, diberkati, dan dimuliakan di rumah ini.
Datanglah Kerajaanmu! Amin!

Hati Yesus yang kudus, datanglah kerajaan-Mu (3x).

Hati Maria yang tak bernoda, doakanlah kami.
St. Yusuf, doakanlah kami.
St. Pius X, doakanlah kami.
St. Margaret Maria Alacoque, doakanlah kami!
St. Claude de la Columbiere, doakanlah kami!
Jayalah Hati Kudus Yesus selama-lamanya.
Amin.

Berkat Imam

Imam memberkati semua yang hadir.

 

Doa-doa tambahan

Penyerahan pribadi kepada
Hati Maria yang tidak bernoda

O, Hati Maria yang tak bernoda,
Ratu Surga dan bumi,
dan Bunda yang penuh kasih sayang
bagi umat manusia,
sesuai dengan kehendakmu yang membara
yang kausampaikan di Fatima,
aku menyerahkan  kepada Hatimu yang tak bernoda,
diriku sendiri, saudara-saudariku, bangsaku
dan seluruh umat manusia.

Pimpinlah kami, ya Bunda Allah yang tersuci,
dan ajarilah kami
bagaimana menjadikan Hati Putramu terkasih,
Tuhan kami Yesus Kristus,
menguasai dan meraja di dalam kami,
seperti Hati Yesus
telah menguasai dan meraja di dalam engkau.

Pimpinlah kami, Perawan yang terberkati,
supaya kami menjadi milikmu
dalam kesejahteraan maupun kemalangan,
dalam suka maupun duka,
sehat maupun sakit, dalam hidup maupun mati.

O, Hati Maria yang paling berbelarasa, Ratu Surga,
awasilah pikiran kami dan hati kami,
dan jagalah dari ketidakmurnian
yang paling menyedihkan hatimu di Fatima.

Bantulah kami untuk meniru teladan-Mu
dalam segala sesuatu, terutama dalam kemurnian.
Bantulah kami untuk memohon bagi bangsa kami,
dan seluruh dunia, damai sejahtera Allah
dalam keadilan dan cinta kasih.

Karena itu, Perawan dan Bunda yang paling murah hati,
aku berjanji akan meniru kebajikan-kebajikanmu
dengan melaksanakan hidup Kristiani yang sejati
tanpa mencari penghargaan dari orang lain.

Aku bertekad untuk menerima Komuni Kudus secara teratur
dan mempersembahkan kepadamu
lima dekade Rosario setiap hari,
bersama dengan matiragaku,
dalam semangat silih dan tobat.
Amin.

Doa Persembahan pagi

O Tuhanku, dalam kesatuan dengan Hati Maria yang tidak bernoda
(di sini Skapular dicium sebagai tanda penyerahan diri kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria),
aku mempersembahkan kepada-Mu,
Darah Yesus yang paling berharga dari semua altar di dunia,
dan menggabungkannya dengan persembahan
semua pikiranku, perkataanku dan perbuatanku hari ini.

O Yesusku,
aku berkehendak untuk memperoleh setiap indulgensi
dan pahala yang dapat kuterima
dan aku mempersembahkannya,
bersama dengan diriku sendiri,
kepada Bunda Maria yang tak bernoda,
supaya ia dapat membagikan semua itu [kepada umat-Mu]
menurut kehendak Hati-Mu yang mahakudus.
Darah Yesus yang berharga, selamatkanlah kami!
Hati Maria yang tak bernoda, doakanlah kami!
Hati Yesus yang Mahakudus, kasihanilah kami!
Amin.

(Imprimatur: Uskup Hungaria, Ref: Revue de Coeur Immacule Reine de la Paix, Vol. I, No. 4).

Doa Harian
Penyerahan diri kepada Hati Yesus dan Hati Maria

“Hati Yesus yang Mahakudus dan Hati Maria yang tak bernoda,
aku menyerahkan seluruh diriku
kepada Kasih yang mahakudus dari kedua Hati-Mu.
Aku ingin membuat silih bagi semua dosa-dosa dunia,
termasuk dosa-dosaku sendiri.
Aku mempersembahkan hal-hal berikut ini,
kepada kasih Hati Yesus dan Maria:

Aku akan menjaga pikiranku pada hal-hal yang baik dan
membalikkan pikiranku dari hal-hal yang jahat.
Aku akan menahan kemarahanku
dan menanggung kesalahan  orang lain dengan cintakasih
dan hati yang mengampuni.
Aku akan menerima jika aku salah
dan mohon maaf kepada sesama.
Aku tidak akan menonjolkan diri dan akan tetap rendah hati.
Aku akan mencari kehendak Allah dan bukan kehendakku sendiri.

Aku akan menunjukkan penghargaan
untuk semua kebaikan, berkat-berkat yang kuterima
dan bersyukur kepada Tuhan untuk segala sesuatu.

Aku akan melakukan segala sesuatu dalam hidupku
demi kasih kepada Tuhan.

O, Hati Yesus yang Mahakudus,
melalui perantaraan doa Hati Maria yang tidak bernoda,
terimalah persembahan dan penyerahan diriku kepada-Mu.
Jagalah aku supaya tetap setia sampai mati.
Bawalah aku suatu hari kelak
ke dalam rumah yang bahagia di Surga.
Aku ingin selamanya bersama Allah Bapa dan Roh Kudus
dan bersama-Mu, Yesusku,
bersama dengan Ibu-Mu yang tiada bernoda.
Amin.

 

Adakah aku juga “buta”?

0
Sumber gambar: http://www.godmomentsinparenting.com/2016/06/getting-into-your-uncomfort-zone.html

[Hari Minggu Prapaska IV: 1Sam 16:1,6-13; Mzm 23:1-6; Ef 5:8-14; Yoh 9:1-41 ]

Tayangan Kick Andy di Youtube itu benar-benar menyentuh hatiku. Kisahnya adalah tentang seorang yang bernama Taufik Effendi. Ia lahir normal, namun di usia 6 tahun mengalami kecelakaan. Akibatnya, berangsur-angsur ia kehilangan penglihatan-nya. Hingga akhirnya di usia 15 tahun ia menjadi seorang difabel, tuna netra. Walau awalnya sempat terpukul, akhirnya Taufik bangkit dan memutuskan untuk berjuang keras kembali ke bangku sekolah dan kuliah. Perjuangannya yang luar biasa itu membuahkan hasil: ia hampir selalu mencapai prestasi yang terbaik. Meski tak dapat melihat, Taufik berhasil memenangkan 8 beasiswa di luar negeri. Kini ia sukses bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris, konsultan dan motivator. Kisah ini menunjukkan bahwa kebutaan fisik bukanlah halangan bagi seseorang untuk meraih cita-cita, asalkan ditopang oleh kemauan yang keras, perjuangan dan dukungan dari keluarga, sahabat dan orang-orang di sekitarnya. Kisah tersebut juga menggugah kita semua yang secara fisik tidak buta. Yaitu, untuk tidak cepat lelah berjuang dalam hidup ini dan untuk secara khusus mensyukuri bahwa kita dapat melihat dengan mata kita. Sebab di tengah kesibukan dan keseharian kita, bisa jadi, kita tidak ingat untuk secara khusus berterima kasih kepada Tuhan tentang hal ini. Dan juga mungkin kita lupa untuk mendoakan saudara-saudari kita yang difabel dan memberikan perhatian khusus kepada mereka.

Demikianlah, kisah Taufik menghantar kita untuk menangkap makna yang lebih dalam yang dapat kita peroleh dari Bacaan Injil hari ini.  Kisahnya adalah tentang seorang yang buta sejak lahir. Tiga puluh delapan tahun sudah ia tak dapat melihat. Gelap. Ketika Yesus melewatinya, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepadanya. Yesus bahkan tidak menunggu orang itu untuk berseru kepada-Nya. Yesus lah yang membuat langkah pertama untuk menyembuhkan orang itu. Setelah mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Ia adalah Terang dunia, Yesus meludah ke tanah, mengaduknya dan mengoleskannya pada mata orang buta itu tadi. Kemudian Ia menyuruh orang itu untuk membasuh diri di kolam Siloam, yang artinya “Yang diutus.” Dan orang buta itu pun dapat melihat. Mukjizat yang luar biasa ini dilakukan Yesus untuk meneguhkan ajaran-Nya bahwa Ia adalah Terang dunia yang menghalau kegelapan. Mukjizat itu juga menunjukkan kuasa ilahi-Nya, sebagaimana dikatakan oleh orang yang tadinya buta itu, “Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau  orang itu [Yesus] tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 5:32). Orang tersebut mengalami kuasa penyembuhan Yesus dan ini membuatnya percaya bahwa Yesus adalah Seorang yang istimewa. “Ia seorang nabi!” katanya (Yoh 5:17) Dan setelah perjumpaannya kembali dengan Tuhan Yesus, orang itu mengakui Yesus sebagai Anak Manusia dan Tuhannya (lih. Yoh 5:35-38).

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kita ini juga sebenarnya “buta”? Sebab jangan sampai kita memang tidak buta secara fisik, tetapi buta secara rohani. Kalau kita masih belum dapat meninggalkan dosa-dosa kita, sebenarnya kita pun “buta”, karena jiwa kita masih berada dalam kegelapan, atau bahkan “mati” menurut Rasul Paulus. Jika demikian, Rasul Paulus  mengingatkan, “Bangunlah, hai kamu… dan bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef 5:14). Kita tak perlu berpikir jauh-jauh tentang dosa atau kejahatan apa yang dapat membuat kita buta secara rohani. Sebab, kalau kita menganggap segala yang baik yang ada pada kita sebagai hasil jerih payah kita sendiri,  kita pun sebenarnya sudah “buta”. Atau, kalau dalam melakukan segala sesuatu kita hanya mengindahkan kehendak diri sendiri seolah memakai kacamata kuda, kita pun “buta”. Atau kalau kita “take everything for granted”, menganggap  berkat Tuhan itu “sudah layak dan sewajarnya”  sehingga kita lupa bersyukur, kita pun “buta”; karena tak dapat melihat besarnya pertolongan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Kita cenderung menganggap sepele, keadaan baik yang kita alami. Sebab bukankah umumnya kita lebih menghargai kesehatan, setelah kita jatuh sakit? Atau lebih merasakan pentingnya kehadiran orang yang kita kasihi, setelah ia sudah tidak lagi bisa bersama dengan kita? Sungguh, Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita untuk menjadi orang-orang yang melek akan berkat-berkat yang Tuhan berikan kepada kita.  Dan bersyukur kepada Tuhan karenanya. Jangan tunggu sampai perkawinan dan keluarga kita berantakan baru kita menyadari pentingnya kebersamaan dengan pasangan hidup kita dan keluarga kita. Mari sekarang ini, kita tunjukkan kasih dan perhatian kita kepada suami atau istri kita, orangtua, anak-anak, saudara saudari, kerabat, para sahabat dan orang-orang di sekitar kita. Mari bersyukur kepada Tuhan untuk mereka semua yang telah hadir dalam perjalanan hidup kita. Mari kita biarkan Tuhan Yesus—yang mengambil langkah pertama untuk menyembuhkan orang buta itu—pun kini menyembuhkan kita dari kebutaan rohani kita. Supaya jika kita bertobat dan mata rohani kita dicelikkan, kita dapat menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur dan bersukacita.

Di Minggu Laetare, yaitu pertengahan masa Prapaska ini, kita bersukacita karena rahmat pertobatan dan rahmat pengampunan Allah  yang mengalir melalui Misteri Paska-Nya, yang sebentar lagi akan kita rayakan.  Layaklah kita tak putus bersyukur untuk kasih dan pengurbanan Kristus, demi menebus dosa-dosa kita. Pantaslah kita memuji Tuhan atas segala rahmat dan kebaikan-Nya kepada kita: karunia iman, keluarga, pekerjaan dan segala pertolongan-Nya yang telah kita terima.  Tuhan Yesus yang adalah Gembala kita, senantiasa memelihara kita dan tak akan membuat kita berkekurangan. Ia tetap adalah Tuhan yang sama, yang dapat menyembuhkan kita dari segala dosa, penyakit dan “kebutaan” kita. Sebelum menerima Tuhan Yesus dalam Komuni Kudus, mari kita mendaraskan doa yang diajarkan oleh St. Thomas Aquinas:

“Tuhan yang Mahabesar dan kekal,
aku menghadap sakramen Putera Tunggal-Mu,
Tuhan kami Yesus Kristus.
Aku datang sebagai orang yang sakit
kepada Sang Tabib Kehidupan,
sebagai orang yang berdosa ke hadapan mata air belas kasih,
sebagai orang buta ke hadapan Terang yang kekal,
sebagai orang miskin dan papa kepada Tuhan langit dan bumi.

Karena itu, aku memohon kelimpahan rahmat-Mu yang tak terbatas
agar Engkau berkenan memulihkan penyakitku,
mencuci noda dosaku,
menerangi kebutaanku,
memperkaya kemiskinanku,
sehingga aku dapat menerima Roti para malaikat,
Raja dari segala raja,
dengan segala penghormatan dan kerendahan hati,
dengan kasih yang besar,
dengan kemurnian dan iman,
dengan tujuan dan maksud
yang dapat berguna bagi keselamatan jiwaku.

Berikankah kepadaku, kumohon,
rahmat untuk menerima
tidak saja sakramen Tubuh dan Darah Tuhan kami,
tetapi juga rahmat dan kuasa dari sakramen ini.

O, Tuhan yang Maha Pemurah,
dengan menerima Tubuh Putera-Mu yang Tunggal,
Tuhan kami Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Perawan Maria,
karuniakanlah kepadaku rahmat
untuk boleh digabungkan dengan Tubuh Mistik-Nya
dan terhitung sebagai anggota- anggota Tubuh-Nya.

O Tuhan yang Maha Pengasih,
berikanlah kepadaku rahmat
untuk memandang wajah sesungguhnya
dari Putera-Mu terkasih selamanya di Surga,
yang kini akan kuterima dalam rupa yang terselubung.

Amin.”

Kristus atau Aquarius?

0
Sumber gambar: http://www.todayschristianwoman.com/articles/2008/july/woman-at-well.html

[Hari Minggu Prapaska III: Kel 17:3-7; Mzm 95:1-9; Rm 5:1-2,5-8; Yoh 4:5-42]

“Kristus atau Aquarius? New Age hampir selalu dihubungkan dengan ‘alternatif’, entah sebuah visi alternatif tentang kenyataan atau jalan alternatif untuk memperbaiki keadaan saat ini pada seseorang….” Demikian dikatakan dalam dokumen yang dikeluarkan oleh Pontifical Council for Culture and for Interreligious Dialogue, yang berjudul, “Yesus Kristus, Pembawa Air Hidup”.  Tulisan tersebut membahas tentang refleksi Kristiani tentang “New Age”. Sadar atau tidak, dewasa ini dunia menawarkan kepada kita begitu banyak informasi, termasuk berbagai paham dan aliran spiritualitas yang seolah-olah ingin memberi alternatif bahwa seseorang tidak usah memeluk agama, tetapi dapat membuat sendiri “agama”-nya. Atau istilah kerennya: menjadi “spiritual”, tapi tak perlu menjadi “religius”. Menurut paham ini, era Kristianitas sudah berakhir, kini saatnya dunia menyambut era baru, yang bebas dari pengaruh Kristiani. Untuk mendukung fenomena yang hampir menjadi budaya di seluruh dunia ini, sudah diadakan banyak film, musik, seminar, workshop, terapi, meditasi dan kegiatan lain, yang pada dasarnya menawarkan kepada kita, berbagai alternatif untuk menjadi “spritual” ini. Aliran New Age ini sekilas nampak tidak berbahaya, karena menekankan pada persaudaraan seluruh umat manusia tanpa membedakan agama ataupun ras, kembali ke alam, dan menyelidiki kekuatan alami atau energi laten dalam diri manusia. Konon energi ini dapat mendatangkan kesembuhan ataupun menjaga kesehatan. Dan di tingkat lanjut, energi ini dapat juga “disalurkan” kepada orang lain. Nampaknya tidak sedikit orang yang tertarik mendalami hal ini, atau mungkin hanya sekedar coba-coba. Namun sesungguhnya, diperlukan juga sikap berhati-hati dan kebijaksanaan untuk menyikapinya. Sebab aliran spiritual yang terpisah dari Kristus tidak akan pernah membawa kita kepada kebahagiaan dan kebaikan yang sesungguhnya bagi jiwa kita. Namun untuk mencampurkan teknik New Age dengan spiritualitas Kristiani juga ada bahayanya. Sebab itu dapat mengarah kepada seolah-olah kita yang memerintahkan Tuhan untuk melakukan ini dan itu untuk kepentingan kita, entah itu untuk menyembuhkan atau memberi perasaan nyaman. Seandainya diperoleh kesembuhan ataupun rasa nyaman itupun, ada bahayanya, orang lebih meng-atributkan kesembuhan tersebut kepada teknik-teknik tersebut. Akhirnya, ada resiko, orang mulai menyamakan kuasa Tuhan atau bahkan Tuhan sendiri dengan semacam Energi, tidak lagi sebagai Pribadi. Relasi personal dengan Tuhan sedikit demi sedikit tergeserkan dengan waktu berkonsentrasi kepada kekuatan “sesuatu” di dalam diri sendiri, yang ada sepenuhnya dalam kontrol kita. Sungguh, hal inilah yang sedikit demi sedikit terjadi di pola pikir masyarakat modern. Kesaksian para ex-New Ager, yang kemudian bertobat dan kembali kepada Kristus, seperti Fr. Mitch Pacwa SJ, atau Fr. Bob Thorn, menunjukkan bahwa ketertarikan awal untuk mencari yang benar dan baik, dapat akhirnya menyimpang, jika cara yang ditempuh itu keliru. Sebab mereka malah akhirnya dibawa menjauh dari Kristus. Pengalaman mereka ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kita mencampurkan Kristus dengan Aquarius, atau berpegang kepada keduanya secara bersamaan. “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Luk 16:13). Ayat ini persis dikutip di dokumen Pontifical Council tersebut.

Bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita tentang Kristus sebagai Pemberi air hidup. Bacaan Pertama mengisahkan bagaimana bangsa Israel yang kehausan di padang gurun diberi minum dari batu karang (lih. Kel 17:6). Mengacu kepada peristiwa tersebut, Rasul Paulus kemudian menjelaskan bahwa nenek moyang mereka meminum air dari batu karang rohani, dan batu karang rohani itu ialah Kristus (1Kor 10:4). Kisah bangsa Israel tersebut memberi gambaran samar-samar, akan figur Kristus yang akan memberi minuman rohani kepada umat-Nya. Kristus sendiri kemudian menyatakan hal ini kepada seorang perempuan Samaria, sebagaimana kita dengar kisahnya dalam Bacaan Injil hari ini. Yesus berkata, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal” (Yoh 4:14). Betapa kita sebagai murid Kristus perlu meresapkan perkataan Yesus ini. Sebab jika kita telah meminum air yang telah diberikan Kristus kepada kita, adakah alasan bagi kita untuk mencari air yang lain, seolah air hidup yang dari Yesus itu masih kurang? Bukankah kita—yang telah menerima air hidup dari Yesus—seharusnya yang memperkenalkan Yesus kepada mereka yang masih belum mengenal-Nya? Namun yang terjadi sekarang adalah sebaliknya: ada banyak umat Kristen, tak terkecuali umat Katolik, yang malah tertarik mengikuti kegiatan dan praktek New Age tersebut. Padahal Gereja Katolik sendiri telah memiliki tradisi meditasi Kristiani, Lectio Divina, meditasi peristiwa hidup Yesus dalam doa Rosario, doa ‘Yesus’…. Semua ini sudah begitu kaya dan dalam maknanya, tapi mengapa banyak orang Katolik yang mencari cara-cara meditasi yang asing dari tradisi hidup Kristiani?

Bacaan Injil hari ini, mestinya meneguhkan iman kita akan Yesus Sang Pembawa Air Hidup. Pontifical Council pun mengacu kepada Bacaan Injil hari ini untuk menjelaskan bagaimana seharusnya sikap kita sebagai murid Kristus: “Fakta bahwa kisah tersebut mengambil tempat di sumur, sangatlah penting. Yesus menawarkan wanita itu ‘mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal’ (ay. 14). Sikap ramah Yesus terhadap wanita itu adalah contoh untuk daya guna pastoral, dengan membantu sesama untuk menjadi jujur/ apa adanya, tanpa bersusah payah dalam proses yang penuh tantangan untuk menemukan dirinya sendiri (‘Ia [Yesus] mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat’, ay. 39). Pendekatan ini dapat menghasilkan panen besar berkenaan dengan orang-orang yang telah tertarik kepada sang pembawa-air (Aquarius) tetapi yang secara tulus masih mencari kebenaran. Mereka harus diundang untuk mendengarkan Yesus, yang menawarkan kepada kita bukan hanya sesuatu yang memuaskan dahaga kita hari ini, tetapi kedalaman ‘air hidup’ rohani yang tersembunyi…. Seseorang yang telah dirangkul oleh kebenaran, seketika didorong oleh rasa kebebasan yang benar-benar baru, secara khusus dari kesalahan/ kegagalan dan ketakutan di masa lalu, dan ‘seseorang yang berjuang keras mencapai pengenalan diri sendiri, seperti wanita di sumur itu, akan mempengaruhi orang-orang lain dengan hasrat untuk mengenal kebenaran yang dapat membebaskan mereka juga.’ Undangan untuk bertemu dengan Yesus Kristus Sang Pembawa air hidup, akan menjadi lebih kuat kalau dilakukan oleh seseorang yang telah secara jelas dan mendalam dipengaruhi oleh perjumpaannya sendiri dengan Yesus. Sebab [undangan itu] dibuat bukan oleh seseorang yang tidak hanya mendengar tentang Dia, tetapi oleh seseorang yang yakin ‘bahwa Ia benar-benar Juruselamat dunia’: (ay. 42). Itu adalah suatu hal membiarkan orang-orang menanggapi [undangan untuk bertemu Yesus] dengan cara mereka sendiri, dengan derap langkah mereka sendiri, dan membiarkan Allah menyelesaikan sisanya.” (Pontifical Council for Culture and for Interreligious Dialogue, Jesus Christ, The Bearer of the Water of Life, 5).

Pertanyaannya, sudahkah kita sungguh berjumpa dengan Yesus? Sudahkah kita yakin bahwa Ia adalah sungguh Penyelamat dunia? Sebab jika kita menjawab “ya”, tentu kita tidak perlu tertarik terhadap tawaran dunia tentang sang Aquarius yang hanya dapat “memberi air sementara”. Sebaliknya, seperti wanita di sumur itu, setelah berjumpa dengan Yesus, kita dapat membawa banyak orang untuk mengenal Yesus dan memperoleh air hidup. Namun jika kita menjawab “belum” atau “tak begitu yakin”, mungkin sudah saatnya, kita memohon ampun kepada Tuhan, sebab besar kemungkinan ini terjadi karena kelalaian kita yang menutup mata dan telinga hati kita terhadap Dia yang telah terus menerus mengetuk pintu hati kita dan menantikan jawaban kita. Mari memohon kepada Tuhan agar rahmat-Nya membuat kita dapat sungguh berjumpa dengan Kristus, dan kembali berjumpa dengan-Nya, agar kita tidak mudah berpaling daripada-Nya.

Sebab di tengah dunia sekarang ini, kita masih dihadapkan pada pilihan serupa: Mau percaya kepada Allah atau pilih bertegar hati seperti umat Israel di Masa dan Meriba? Mau percaya kepada Allah atau kepada Mamon? Mau pilih Kristus atau Aquarius? Semoga perjumpaan kita dengan Kristus dalam Ekaristi kudus hari ini, meneguhkan iman kita, sehingga kita pun dapat berkata, “Kami percaya… sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dia benar-benar Juruselamat dunia” (Yoh 4:42). Semoga iman akan Kristus mendorong kita untuk tekun berdoa. Sebab, “Tuhan adalah sumber air hidup yang mengalir tanpa henti di dalam hati orang-orang yang berdoa…” (St. Louis de Montfort)

Tuhan Yesus, bantulah aku menjadi orang yang senantiasa berdoa, agar aku menikmati air hidup yang terus mengalir di dalam diriku. Engkaulah Tuhanku, Engkaulah Juruselamatku, kini dan selamanya. Amin.

Mengatasi Rasa Takut Kekurangan

0
Sumber gambar: http://www.signageeternity.com/how-to-handle-fear/

Refleksi iman oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Rasa takut yang banyak kita alami adalah rasa takut kekurangan dalam memenuhi apa yang kita butuhkan. Kita telah menghabiskan banyak waktu dalam hidup kita untuk memelihara diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Kita perlu memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak kita. Kita perlu rumah yang pantas untuk keluarga kita. Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup itu, kita bisa diliputi rasa takut kekurangan. Kita sering dibayang-bayangi rasa takut akan PHK atau kebangkrutan sehingga rasa aman dalam hidup ini terancam. Kebutuhan hidup itu tidak bisa dicuekin, tetapi harus diusahakan. Akan tetapi, apa yang terjadi jika sumber kehidupan kita tidak selama-lamanya ada? Kita tentu menjadi galau dengan kehidupan. Rasa takut pasti memenuhi pikiran dan emosi kita.

Sebagai seorang beriman, kita jangan takut dengan kehidupan kita. Kita harus meletakkan iman kita kepada Tuhan yang memenuhi apa yang kita butuhkan. Ketika kita mengimani hal itu, kita bisa mengalahkan rasa takut akan kekurangan dalam hidup kita. Sabda Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak akan kekurangan apa pun ketika kita mencari Tuhan: “Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik” (Mazmur 34:11).

Ketika kita mengalami kesulitan dalam kehidupan, janganlah kita meragukan pertolongan Tuhan. Kita harus mengimani bahwa Tuhan kita adalah setia. Kesetiaan Tuhan itu akan kita alami ketika kita telah berhasil melewati berbagai macam kesukaran hidup: “Banyak kesukaran dalam hidupku, tetapi kesukaran itu tidak membunuhku. Aku masih hidup sampai sekarang. Kekurangan itu membuatku semakin kuat”. Hanya dengan mengembangkan pengalaman iman akan Tuhan yang setia, kita dapat mengalahkan rasa takut akan kekurangan dalam hidup kita. Ketika kita mempunyai iman yang kuat akan Tuhan yang setia, kita bisa mengatakan: “Jalan Tuhan senantiasa lebih baik daripada jalanku. Ia tidak memberikan apa yang aku inginkan, tetapi Ia memenuhi apa yang aku butuhkan. Aku percaya bahwa Tuhan senantiasa melakukan yang terbaik bagiku”.

Untuk merasakan kesetiaan Tuhan, kita harus menjadi seperti petani. Seorang petani tahu bahwa ia tidak akan bisa memanen jika ia tidak menabur. Di tengah kekurangan kita, kita jangan ragu untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Jangan mengatakan “Aku saja tidak cukup, masa aku harus memberikan juga kepada orang lain. Itu tidak masuk akal”. Kita hanya akan diberi apa yang kita butuhkan ketika kita memberikan: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Lukas 6:38).

Selain kita mendapatkan sesuatu dengan memberi, hidup kita pun menjadi indah. Hidup kita menjadi indah karena ‘memberi’ merupakan cara untuk menghentikan sifat egois dan serakah kita. Dengan sering memberi, kita akan semakin seperti Allah Bapa, Sang Pemberi Yang Murah Hati. Kita lebih terberkati dengan memberi daripada menerima: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35). Ketika seseorang memberi kita hadiah, kita hanya mendapatkan hadiah itu. Akan tetapi, ketika kita memberi, kita mendapatkan sukacita karena kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan.

Doa Mengatasi Rasa Takut Akan Kekurangan

Bapa Di Surga
BersamaMu, aku pasti tak pernah kekurangan.
Semoga aku dapat mengimani
bahwa Engkau adalah Allah yang setia
Engkau pasti memenuhi apa yang aku butuhkan.
Aku sandarkan hidupku kepadaMu,
maka aku merasa aman.
Dengan demikian,
rasa takut akan kekurangan dalam hidupku
tidak menguasai jiwa dan emosiku.

Amin

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab