Home Blog Page 14

Mengarahkan pandangan ke Surga

0

[Hari Minggu Paskah VI: Kis 8:5-8, 14-17; Mzm 66:1-20; 1Ptr 3:15-18; Yoh 14:15-21]

Di dalam empat puluh hari antara Paskah dan Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, Gereja mengajak kita untuk mengarahkan pandangan kita ke Surga, yang menjadi tujuan akhir kita: tempat kediaman kita bersama Allah untuk selama-lamanya. Permenungan akan Surga menjadi sangat relevan saat ini, menjelang perayaan Kenaikan Yesus ke Surga yang akan kira rayakan pada hari Kamis minggu ini.

Kenaikan Tuhan Yesus tidaklah berarti perpisahan kita dengan-Nya. Sebab Kenaikan-Nya ke Surga bukan seperti adegan di airport atau stasiun kereta api, dimana kita melihat perpisahan dari orang yang meninggalkan keluarganya, karena harus pergi ke tempat lain. Tuhan Yesus adalah Allah yang maha hadir, maka meski Ia telah naik ke Surga, Ia tetap dapat tinggal bersama-sama dengan kita.  Dalam Injil hari ini Yesus bersabda,  “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup…” (Yoh 14:19-20). Dengan perkataan ini, Yesus berjanji untuk tetap hadir dan menyertai para murid-Nya, sehingga mereka dapat “melihat” Yesus meskipun secara jasmani Ia tidak berada di tengah-tengah mereka lagi. Kehadiran-Nya di tengah para murid-Nya tidak berakhir dengan Kenaikan-Nya ke Surga. Sebab Ia akan mengutus Roh Kudus-Nya, dan oleh kuasa Roh Kudus itu, Yesus tetap hadir dan dekat dengan kita. Kristus hadir dalam doa, dalam firman-Nya, dalam Gereja-Nya dan sakramen-sakramen-Nya, secara khusus dalam Ekaristi Kudus.

Selain itu, dengan menyadari bahwa karena kasih-Nya kepada kita, maka “Yesus ada di dalam kita” (lih. Yoh 14:20), kita didorong untuk membalas kasih-Nya itu. Sebab bukti jika kita mengasihi seseorang, kita akan melakukan apa yang dikehendakinya. St. Yohanes Krisostomus berkata, bahwa Yesus pun menghendaki demikian. “Daripada menyedihkan dirimu sendiri atas perpisahan kita dan kepergian-Ku kepada Bapa, kamu harus, jika kamu sungguh mengasihi Aku, menunjukkan kasihmu dengan melaksanakan dengan setia perintah-perintah-Ku. Lihatlah, ini adalah bukti kasih yang terbaik yang dapat engkau berikan kepada-Ku: jauh lebih baik daripada tanda kesedihan dan kelembutan apapun yang nampak dari luar” (St. John Chrysostom, in Haydock’s Commentary, John 14:15).

Sungguh, melakukan perintah-perintah Tuhan adalah perjuangan bagi kita selagi kita hidup di dunia ini. Sebab itulah bukti kasih kita kepada Tuhan, dan ini akan kita bawa ke hadapan Tuhan saat kita menghadapNya setelah selesai masa hidup kita di dunia. Kita berharap bahwa saat itu menjadi saat perjumpaan dengan Sang Kekasih yang kita rindukan dan merindukan kita. Sebagaimana Yesus naik ke Surga dan membawa serta purna tugas-Nya di dunia ke hadapan Allah Bapa, sebagai bukti kasih-Nya kepada Bapa (lih. Yoh 14:31); demikianlah semoga kita kelak dapat kembali kepada-Nya dengan membawa bukti kasih dan ketaatan kita kepada-Nya. Betapa permenungan ini mestinya menyalakan semangat yang baru di dalam hati kita setiap hari! Kita diingatkan untuk melekatkan hati kepada Allah dan bukan kepada  hal-hal yang sementara di dunia. Kita diingatkan untuk tetap bersemangat dalam melaksanakan tugas panggilan hidup kita. Artinya, terus berbuat kasih, meskipun tak jarang itu menuntut pengorbanan dan perjuangan. Tantangan untuk tetap setia dalam tugas-tugas kita, itulah yang kita hadapi sehari-hari. Di kala tantangan itu terasa berat, namun kita tetap melakukan apa yang harus kita lakukan dengan mata tertuju kepada Tuhan Yesus, maka kita dapat berkata, “Ya, Tuhan, semua ini kulakukan demi kasihku kepada-Mu yang lebih dahulu mengasihi aku. Kupersembahkan semua yang kulakukan ini, ya Tuhan, dan kuberharap dapat berkenan di hadapan-Mu dan menyenangkan hati-Mu. Semoga dengan persembahan kasihku ini, kelak dapat kupandang wajah-Mu dalam kemuliaan Surga, yang telah Kaujanjikan bagi semua orang yang percaya kepada-Mu…. ”

Di hari-hari mendatang ini, kita mempersiapkan diri untuk mengikuti novena menjelang hari Pentakosta. Tradisi doa novena di Gereja Katolik berasal dari tradisi novena ini, yang dilakukan oleh para rasul saat mereka menantikan Roh Kudus. Dalam doa menantikan kedatangan Roh Kudus ini, para rasul ditemani oleh Bunda Maria. Bunda Maria telah terlebih dahulu menerima Roh Kudus tatkala menerima Kabar Gembira dari malaikat (Luk 1:35). Namun setelah Kenaikan Yesus ke Surga, Bunda Maria turut berdoa bersama para rasul untuk memohon curahan Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya kepada Gereja. Dan Allah berkenan mengabulkan doa-doa mereka. Di hari Pentakosta, turunlah Roh Kudus atas mereka. Semoga kitapun memiliki kerendahan hati seperti para rasul itu, untuk melibatkan Bunda Maria dalam doa-doa kita menantikan Roh Kudus. Dengan dukungan doa Bunda Maria, semoga kita pun dapat mengalami apa yang dialami oleh para Rasul: curahan Roh Kudus yang mengubah kita secara total.

Para rasul itu diubah: yang tadinya takut, menjadi berani; mereka yang tadinya tidak mengerti, menjadi mengerti; mereka yang sebelumnya kurang iman, harap dan kasih, kini diperbaharui dalam ketiganya. Betapa hal ini nampak pada Rasul Filipus, yang kita baca kisahnya di Bacaan Injil Minggu lalu, dan Minggu ini di Bacaan Pertama. Ia yang tadinya tidak sungguh mengenal Kristus kemudian menjadi sungguh mengenali-Nya sebagai Mesias. Dan Roh Kudus memampukan Rasul Filipus untuk mewartakan Kristus di Samaria, di ladang yang “sulit”, karena  orang-orang Samaria  dapat dikatakan “tidak bersahabat” dengan umat Yahudi. Kisah ini mesti menyemangati kita, karena kita percaya bahwa Roh Kudus yang sama itu, pun dapat mengubah kita menjadi seperti Rasul Filipus. Kita dapat diubah-Nya untuk semakin mengenal Kristus, dan turut mengambil bagian dalam karya pewartaan Injil, walaupun di lingkungan yang sulit sekalipun. Kita dapat diutus-Nya untuk memberikan kesaksian iman yang hidup, baik dengan perkataan maupun perbuatan, agar semakin banyak orang mengenal Kristus. Agar bersama-sama dengan mereka, kita meniti jalan menuju Surga.

Roh Kudus ini—yaitu Roh Kebenaran—memang telah dijanjikan oleh Kristus di perjamuan malam terakhir kepada para murid-Nya. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu…” (Yoh 14:15-17). Roh yang sama itu akan kembali dicurahkan kepada kita di hari perayaan Pentakosta. Sebab janji penyertaan Kristus tidak hanya berhenti kepada para murid-Nya, tetapi selama-lamanya. Artinya, Roh Kudus juga menyertai para murid Kristus di sepanjang zaman, termasuk kita—tentu, asalkan kita tidak menempatkan penghalang di jiwa kita.  Itulah  sebabnya, penting bagi kita, untuk mempersiapkan diri menerima curahan Roh Kudus dan ketujuh karunia-Nya. Marilah kita singkirkan semua penghalang  untuk menerima Roh Kudus, entah itu karena dosa-dosa ataupun rasa bersalah karena dosa-dosa kita, atau karena lemahnya kehendak kita untuk berbuat baik, atau kealpaan kita untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan Tuhan. Mari kita arahkan pandangan kita ke Surga, dan bersama Bunda Maria, kita memuji Tuhan atas rencana-Nya yang indah bagi kita. Sebab Tuhan Yesus yang telah bangkit, telah naik ke Surga untuk menyediakan tempat bagi kita, tidak meninggalkan kita. Bersama pemazmur, kita melambungkan pujian kita kepada Tuhan: “Pujilah Allah, alleluia! Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!

Kristuslah Jalan kepada Bapa

0

[Hari Minggu Paskah V: Kis 6:1-7; Mzm 33:1-5, 18-19; 1Ptr 2:4-9; Yoh 14:1-12]

Di hari-hari ini kita merenungkan perikop Injil Yohanes, yang menjabarkan berbagai gambaran akan Kristus. Kristus digambarkan sebagai gembala yang baik (Yoh 10:11,14) dan umat beriman digambarkan sebagai kawanan domba dalam sebuah kandang. Yesus juga digambarkan sebagai pintu kepada domba-domba itu (Yoh 14:7,9). Minggu ini kita diajak untuk merenungkan kelanjutannya, yaitu bahwa Yesus bukan hanya adalah pintu, tetapi juga adalah jalan. Sebuah jalan untuk diikuti dalam menempuh kehidupan kita. Ada banyak jalan terpampang di hadapan kita, mungkin jalan-jalan itu nampak menarik, lebih menguntungkan, tetapi jika itu bukan Yesus, jalan  itu tidak benar. “Jalan satu-satunya adalah Yesus, Ia adalah Pintu, Ia adalah Jalan,” demikian kata Paus Fransiskus. Dalam homilinya tentang perikop ini, Paus mengatakan, “Sejumlah dari kalian mungkin berkata: “Bapa, engkau adalah seorang fundamentalis!” Bukan. Sederhananya, inilah yang dikatakan Yesus: ‘Akulah pintu. Akulah jalan’. Ia memberikan kehidupan kepada kita. Sederhana. Ini adalah sebuah pintu yang indah, pintu kasih, sebuah pintu yang tidak menipu, yang tidak salah. Ia yang selalu mengatakan kebenaran, tetapi dengan kelemahlembutan dan cinta kasih…” (Paus Fransiskus, Homili, 23 April 2013).

Betapa kita perlu merenungkan perkataan Paus ini. Sebab ada kalanya dari kalangan kita sebagai umat Katolik,  entah malu-malu, atau karena alasan toleransi, atau karena alasan-alasan pribadi lainnya, ada kecenderungan urung mengatakan bahwa Kristus lah jalan satu-satunya kepada Allah. Tetapi Injil hari ini sesungguhnya mengatakan dengan sangat jelas, perkataan Yesus tentang Diri-Nya sendiri. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Mengapa ada banyak orang mengartikan yang lain daripada apa yang dikatakan oleh Yesus ini? Paus Fransiskus lebih lanjut memaparkan alasannya, “Walaupun demikian, kita masih memiliki… sumber dosa asal dalam diri kita, bukankah demikian? Kita masih ingin memiliki kunci untuk menginterpretasikan segala sesuatu, kunci dan kuasa untuk menemukan jalan kita sendiri, apapun itu, untuk menemukan pintu kita sendiri, apapun itu. Sering, kita tergoda untuk secara berlebihan menjadi boss bagi diri sendiri, bukan menjadi anak-anak dan pelayan Tuhan yang rendah hati. Dan ini adalah godaan untuk mencari pintu-pintu lain atau jendela-jendela lain, untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. [Padahal] kita hanya dapat masuk melalui pintu yang namanya adalah Yesus. Kita hanya dapat masuk melalui pintu yang mengarahkan kepada sebuah jalan dan jalan itu disebut sebagai Yesus dan membawa kepada hidup yang namanya adalah Yesus. Mereka semua yang melakukan hal-hal yang lain—kata Tuhan—yang mencoba untuk masuk melalui jendela, adalah ‘pencuri dan perampok’. Ia, Tuhan, adalah sederhana. Perkataannya tidak rumit. Ia sederhana.” Ya, pintu dan jalan kita menuju Surga adalah Yesus. Inilah yang diingatkan oleh Paus Fransiskus.

Dengan mengimani Kristus sebagai Pintu dan Jalan ke Surga, kita memang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Sabda Tuhan hari ini kembali meneguhkan iman kita itu, dan agar kita sungguh menempatkan Yesus sebagai Tuhan bagi hidup kita. Sebab dengan mengimani Yesus sebagai Jalan kepada Bapa, kita memiliki pengharapan yang kuat bahwa kalau kita setia berjalan di dalam Yesus maka kita akan sampai kepada Bapa. Sebab bukankah Yesus berkata, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-K, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku…? (Yoh 6:44) dan sebaliknya, “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku?” (Yoh 14:6). Dengan perkataan-Nya ini, Yesus menyatakan kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa. Sebab tanpa Bapa, tak seorangpun dapat datang kepada Yesus; dan tanpa Yesus, tak seorangpun dapat datang kepada Bapa. Karena itu, kita memiliki dasar yang kokoh untuk percaya kepada Yesus. Ia bukan hanya salah satu dari sekian tokoh penting dalam sejarah manusia. Ia adalah satu-satunya Tokoh yang dapat membawa kita sampai kepada Allah Bapa, sebab Ia dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30).

Selain itu, “tak seorangpun dapat datang kepada Bapa jika tanpa melalui Yesus dan begitu juga, tak seorangpun dapat datang kepada Yesus jika tidak ditarik oleh Bapa,” ini mengingatkan  kita hal yang tak kalah penting. Yaitu, hal “mengubah hati” untuk membawa orang mengenali Yesus dan Bapa, itu adalah kuasa Tuhan. Kita dapat mendoakan sesama agar bertobat, dan bahkan mengarahkan mereka untuk kembali kepada Allah. Namun pada akhirnya, bukan kita yang berkuasa mengubah orang tersebut. Jika ia bertobat, itu karena kuasa Allah, bukan karena kuasa kita. Bagian kita hanyalah bersyukur atas pertobatan itu, dan bersyukur boleh mengambil bagian dalam perjalanan iman sesama kita. Itu adalah karya Tuhan, dan jika Ia memilih mengikutsertakan kita dalam karya-Nya, kita bersyukur kepada-Nya. Namun itu bukan alasan untuk berbangga hati karenanya. Bagian kita adalah memuji Allah—yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus—yang dalam kesatuan kasih-Nya menarik kita semua, anak-anak-Nya, kembali kepada-Nya.

Betapapun Yesus telah menyatakan kesetaraan-Nya dengan Bapa, namun nampaknya hal ini tak otomatis mudah dipahami. Bahkan salah satu rasul-Nya, Filipus, juga tidak memahaminya pada saat Yesus mengatakan hal tersebut. St. Yohanes Krisostomus berkata, “Filipus, karena [ia pikir] ia telah melihat Sang Putra dengan mata jasmaninya, maka ia ingin melihat Bapa juga dengan cara yang sama. Mungkin ia mengingat apa yang dikatakan oleh Nabi Yesaya bahwa ia telah melihat Tuhan (Yes 6:1); dan karena itu ia berkata, tunjukkanlah Bapa kepada kami… Dalam jawaban-Nya, Tuhan kita tidak berkata bahwa ia [Filipus] meminta sesuatu yang tidak mungkin, tetapi bahwa ia pada dasarnya belum melihat Sang Putra, sebab kalau ia telah melihat Sang Putra, ia akan juga sudah melihat Bapa: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama dengan engkau, namun engkau tidak mengenal Aku?’ Ia tidak berkata, tidak melihat Aku, tetapi tidak mengenal Aku. Yaitu, tidak mengenal bahwa Sang Putra yang kodrat-Nya sama dengan kodrat Bapa, memang di dalam diri-Nya sendiri, secara persis memperlihatkan Bapa.” (St. Yohanes Krisostomus, Catena Aurea, John 14:5-7). Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing: sudahkah kita mengenal Kristus? Sebab dengan mengenal Kristus kita mengenal Bapa. Sebab mengenali Kristus sebagai Jalan dan bahkan Jalan satu-satunya kepada Bapa, juga selayaknya dibarengi dengan pengenalan akan Siapakah Kristus Sang Jalan itu. Pengenalan ini diawali dengan keputusan kita untuk percaya kepada Yesus, dan percaya kepada perkataan-perkataanNya (lih. Yoh 14:10-12). Dengan iman dan kepercayaan ini kita dapat menghadapi apapun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebab kita mengingat perkataan-Nya, “Jangan gelisah hatimu”, kata Yesus, “percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu…. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada…” (Yoh 14:1-3).

Marilah kita memercayakan kehidupan kita kepada Yesus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Sebab kita percaya, Ia yang menjanjikannya adalah setia (Ibr 10:23).

Kembali kepada Yesus: Gembala dan pemelihara jiwa kita

0
Sumber gambar: https://achristianpilgrim.wordpress.com/2015/04/

[Hari Minggu Paskah IV; Hari Minggu Panggilan: Kis 2:14,36-41;  Mzm 23:1-6; 1Ptr 2:20-25; Yoh 10:1-10]

Tuhanlah Gembalaku, tak ‘kan kekurangan aku….” O, betapa indahnya  Mazmur ini! Betapa baiknya jika kita selalu mengingat dan meresapkannya di dalam hati kita. Sebab kita hidup di tengah keadaan yang sering tidak pasti, dan adakalanya kita dihadapkan pada godaan untuk menjadi kuatir akan banyak hal. Tetapi sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita, bahwa Tuhanlah Gembala kita yang akan mencukupkan kita dalam segala sesuatu. Tak ada alasan bagi kita untuk mencemaskan hari-hari mendatang, sebab Tuhan kita akan menyertai dan menuntun kita di jalan-Nya di sepanjang umur hidup kita, sampai kelak kita dapat masuk dalam sukacita yang kekal bersama-Nya.

Namun tak dapat dipungkiri, bahwa ada saatnya dalam hidup kita, kita pernah pergi meninggalkan Dia, atau menjauh dari-Nya. Meminjam perkataan Rasul Petrus, kita ini “dahulu sesat seperti domba” (1Ptr 2:25). Namun Tuhan mengingatkan kita akan besar kasih-Nya kepada kita, yang seperti gembala yang baik, menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya. Paus Fransiskus mengatakan, “Untuk menyelamatkan domba yang hilang, yaitu kita semua ini, Sang Gembala menjadi domba, dan membiarkan diri-Nya dikorbankan, untuk menanggung dan menebus dosa dunia. Dengan cara ini, Ia telah memberikan kepada kita hidup, hidup yang berkelimpahan (lih. Yoh 10:10)! Misteri ini diperbaharui, dalam kerendahan hati yang mengejutkan, di atas altar Ekaristi…. Kasih Yesus sungguh tak terkalahkan. Si jahat [iblis], musuh Allah dan musuh makhluk ciptaan-Nya, berusaha dengan berbagai cara untuk mengambil kehidupan kekal dari kita. Tetapi si jahat tak dapat berbuat apapun jika kita sendiri tidak membukakan pintu hati kita terhadapnya, dengan mengikuti bujukan yang menipu…” (Paus Fransiskus, Homily, 18 April 2016).

Demikianlah, hari ini, pertama-tama, sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Kristuslah Gembala dan sekaligus juga Pintu kepada domba-domba-Nya. Maka kita pun dipanggil untuk menjadi seperti domba-domba yang mendengarkan suara gembalanya, dan mengikuti ke mana sang gembala menuntunnya. Kita diingatkan untuk tidak mengikuti suara seorang yang asing, yang ingin mengacaukan kawanan domba itu. Juga, agar kita jangan berjalan sendiri meninggalkan kawanan, yang membuat kita tersesat. Atau, jika kita—entah sengaja entah tidak—telah meninggalkan atau menyimpang dari kawanan, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk pulang kembali ke dalam kawanan sang Gembala Agung. Seperti perkataan Rasul Petrus: “Bertobatlah…” (Kis 2: 38). Sebab bagi kita umat Kristiani, sesungguhnya pertobatan bukan urusan sekali seumur hidup dalam Baptisan, tetapi harus menjadi sikap yang terus menerus sampai akhir hidup kita di dunia.  

Kedua, di Hari Minggu Panggilan ini kita diingatkan juga untuk bersyukur kepada Tuhan untuk karunia panggilan hidup religius yang diberikan kepada Gereja. Kita pun bersyukur dan memuji Tuhan untuk karunia saudara-saudari kita yang dengan murah hati telah menjawab panggilan Tuhan ini, untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati. Mereka telah secara khusus mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk Kerajaan Allah. Kita pun berterima kasih kepada Tuhan untuk karunia para imam di sepanjang sejarah Gereja, secara khusus mereka yang telah berperan dalam menumbuhkan iman kita sebagai murid Kristus. Melalui mereka kita melihat gambaran Kristus sebagai Sang Gembala utama kita. Melalui mereka kita menerima pengajaran Kristus dan rahmat-Nya yang menghidupkan, menumbuhkan dan menguduskan. Betapa kita pun perlu mendoakan para imam, para suster dan bruder, agar mereka dapat terus menjadi saksi yang hidup akan pengabdian yang total kepada Allah dan gambaran kekudusan bagi Gereja. Betapa dunia saat ini membutuhkan orang-orang seperti mereka yang menjadi seumpama lilin di tengah gulita! Di tengah dunia yang menawarkan berbagai  kemewahan, mereka memilih untuk hidup dalam kesederhanaan. Di tengah dunia yang mempromosikan kenikmatan dan kenyamanan, mereka memilih hidup dalam semangat matiraga. Di tengah dunia yang menghargai  status dan kedudukan, mereka memilih untuk hidup dalam pengabdian sebagai pelayan. Mereka mengambil cara hidup Yesus 2000 tahun yang lalu menjadi cara hidup mereka sendiri: meninggalkan segala sesuatu demi meluaskan Kerajaan Allah. Dunia membutuhkan orang-orang sedemikian, yang sungguh menghadirkan Kristus dan teladan hidup-Nya secara nyata. Dan kita sebagai Gereja membutuhkan figur-figur yang menggambarkan kasih Allah sebagai Gembala jiwa kita. Sungguh pantaslah kita bersyukur bahwa Tuhan terus menerus membangkitkan semangat pemberian diri yang sepenuhnya dalam Gereja-Nya, yang secara nyata kita lihat dalam kehidupan mereka yang sedikit banyak telah berperan dalam tugas penggembalaan jiwa kita, yaitu, para imam, biarawan dan biarawati. Di Minggu Panggilan ini marilah kita mengingat, bahwa mereka pun membutuhkan dukungan doa agar dapat setia dalam menjalani panggilan hidup bakti mereka. Maka marilah kita mendaraskan doa bagi para imam, biarawan dan biarawati:

Ya Allah yang kekal,
Kami bersyukur untuk para imam, yang telah dengan pengabdian mereka, menghadirkan Engkau dalam hidup kami. Kami mohon belas kasih-Mu kepada mereka, sebab kami menyadari bahwa mereka pun memiliki kerapuhan sebagai manusia biasa. Kobarkanlah  dalam hati mereka, karunia rahmat bagi panggilan hidup mereka, yang mereka terima dari penumpangan tangan Uskup. Jagalah mereka agar selalu dekat pada-Mu, supaya jangan sampai mereka jatuh dalam godaan si jahat. Jagalah agar mereka tidak pernah melakukan apapun yang tidak layak dan tidak sesuai dengan panggilan hidup mereka yang sangat mulia.

O Yesus, kami berdoa untuk para imam-Mu yang setia; juga untuk imam-Mu yang tidak setia. Untuk para imam-Mu yang berkarya di tanah air, maupun mereka yang berkarya di negeri seberang, ataupun di daerah misi, untuk para imam-Mu yang sedang bergumul dalam godaan, imam-Mu yang merasa kesepian, para imam yang masih muda, para imam yang dalam sakrat maut, dan jiwa-jiwa para imam yang di Purgatorium. Tetapi di atas semua itu, kami berdoa bagi para imam yang terdekat dengan kami: imam yang membaptis kami, imam yang memberikan absolusi bagi dosa-dosa kami, imam yang merayakan Misa yang kami ikuti dan memberikan Komuni kudus pada kami, imam yang mengajar, membantu dan menghibur kami….

Kami pun berdoa bagi para bruder dan suster.  Mereka telah memalingkan diri dari segala kesenangan dunia, dan sejak masa muda mereka telah memberikan hidup mereka sepenuhnya bagi-Mu. Mereka telah mempersembahkan diri mereka kepada-Mu dalam semangat kemiskinan, kemurnian dan ketaatan dalam kekudusan hidup. Ya, Yesus, kami mohon kepadamu, bantulah karya-karya mereka. Hadirlah dalam setiap pelayanan mereka, saat mereka mengajar, melayani orang sakit, mewarta di daerah misi, atau bahkan dalam keseharian mereka di biara, di manapun. Sebab mereka hanya memiliki Engkau sebagai Penopang dan Penolong mereka. Secara khusus kami berdoa untuk mereka yang pernah menjadi bagian dalam pertumbuhan iman kami. Mereka yang mengajar kami, yang menghibur ketika kami sakit, mereka yang memberikan teladan yang baik kepada kami….  

O Yesus, jagalah mereka semua, agar selalu dekat di hati-Mu. Dampingilah mereka agar mereka dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu untuk menggembalakan kami umat-Mu. Semoga melalui mereka kami dapat melihat wajah-Mu sebagai Gembala dan pemelihara jiwa kami. Kami mohon, berkatilah mereka dengan limpah di hidup sekarang ini maupun di kehidupan yang akan datang. Semuanya ini kami mohon demi Kristus Tuhan kami. Amin.”

Meneladani Yesus: menyapa sesama dalam pergumulannya

0
Sumber gambar: https://www.pinterest.com/revheath/emmaus-road/

[Hari Minggu Paskah III, Kis 2:14.22-23;  Mzm 16:1-11; 1Ptr 1:17-21; Luk 24:13-35]

Bacaan Injil hari ini adalah tentang kisah dua murid dalam perjalanan ke Emaus. Mungkin kita sudah sering membacanya, bahkan sudah “hafal” alur ceritanya. Suatu kisah menarik tentang perjumpaan kedua murid dengan Kristus yang bangkit. Konon kisah perjalanan ke Emaus ini adalah salah satu perikop kesukaan Paus Fransiskus. Di beberapa kesempatan Paus mengulasnya. Ia membuka mata hati kita untuk merenungkan bahwa sebagai Gereja, kita pun harus menjadi seperti Tuhan Yesus. Yaitu, berani masuk ke dalam pergumulan sesama kita dan berdialog dengan mereka. Supaya akhirnya, kita dapat membawa mereka kepada perjumpaan yang erat dengan Kristus dalam Ekaristi.

Kisah Emaus berawal dari kisah dua orang murid Yesus yang, di hari pertama minggu itu (yaitu hari kebangkitan Kristus), berjalan meninggalkan Yerusalem, untuk pergi ke Emaus. Paus melihat hal ini sebagai orang-orang yang telah meninggalkan Gereja Katolik. Sebab, Gereja adalah Yerusalem yang baru. Kedua murid itu mempercakapkan apa yang terjadi pada Yesus, mungkin dengan suasana hati yang kacau dan kecewa. Betapa banyak orang—mungkin juga orang-orang yang terdekat dengan kita—juga mengalami kekecewaan. Mereka bergumul dengan rasa sakit hati dan sedih karena harapan mereka kandas di tengah jalan. Atau, mereka mengalami krisis iman. Penjabarannya bisa panjang, namun intinya mereka sedang sedih. Nama “Emaus” sendiri juga bagaikan gabungan dua kata Yunani, yang artinya “orang-orang yang sedih”. Agak pas juga dengan kisah kedua murid itu, yang memang sedang sedih dan kecewa, karena kematian Yesus. Dan karena itu, mereka pergi meninggalkan Yerusalem, dimana mereka tadinya mengikuti Yesus, yang mereka harapkan menjadi pembebas bagi bangsa Israel dari kaum penjajah. Paus Fransiskus mengatakan bahwa dewasa ini ada banyak orang yang meninggalkan Gereja, karena berpikir bahwa Gereja tak lagi berarti dan penting. Gereja dianggap terlalu jauh dari kebutuhan mereka, kurang memperhatikan mereka, mungkin terlalu dingin, terlalu identik dengan masa lalu dan kurang cakap menjawab pertanyaan- pertanyaan masa kini,  bagaikan lahan gersang yang tak mampu melahirkan makna. Dan seterusnya.

Terhadap keadaan ini apa yang disarankan oleh Paus?

Kita memerlukan Gereja yang tidak takut untuk masuk ke dalam kekelaman hati manusia. Kita butuh Gereja yang dapat menjumpai mereka dalam perjalanan mereka. Kita butuh Gereja yang dapat masuk dalam percakapan dengan mereka. Kita butuh Gereja yang mampu berdialog dengan orang-orang yang telah meninggalkan “Yerusalem” di belakang mereka. Gereja perlu menemani orang-orang yang berjalan dalam kekecewaan mereka.

Seperti Yesus, kita pun perlu mendatangi dan berjalan bersama mereka, dan masuk dalam perbincangan dengan mereka. Yesus bertanya kepada kedua murid itu, agar menjelaskan kekecewaan hati mereka. Paus melihat hal ini sebagai contoh yang harus kita tiru. Selalu mulailah pembicaraan dengan mendengarkan. Kita tidak melakukan hal ini pertama-tama untuk mengorek informasi, walaupun mungkin ini dapat berguna. Tetapi dengan mendengarkan, kita dapat menangkap pergumulan hati sesama kita. Kita mendengarkan mereka, agar mereka merasa diterima, dihormati dan dikasihi apa adanya. Yesus mendengarkan mereka dengan tenang, bahkan demikian tenangnya, sampai mereka sangka bahwa Yesus itu adalah orang asing, sehingga tak tahu apa-apa tentang apa yang baru saja terjadi di Yerusalem. Padahal, tentu saja Yesus tahu. Ia adalah Seseorang yang sedang mereka bicarakan. Namun Yesus dengan kerendahan hati dan kesabaran-Nya tidak memotong pembicaraan mereka. Kitapun perlu mencontohnya. Dalam berdialog dengan sesama, pertama-tama kita harus mau mendengarkan mereka, sebelum kita berbicara. Yesus tidak memperkenalkan diri sebagai Guru mereka, namun memilih mendekati mereka sebagai sesama pelancong. Demikian pula, kita tidak perlu menonjolkan diri kita, atau menempatkan diri sebagai guru, pada saat kita membuka diri untuk berdialog dengan sesama kita yang sedang dalam kesusahan itu.

Tetapi kita ketahui kisah Emaus tidak berakhir sebagai kisah curhat antara kedua murid itu dengan Yesus. Sebab Yesus tidak berhenti sampai di situ. Setelah selesai mereka berbicara, Yesus dengan terus terang menegur kedua murid itu, yang dianggap-Nya lamban dalam memahami rencana Allah. Mungkin, setelah mendengarkan keluh kesah sesama, ada saatnya kitapun perlu berterus terang kepada mereka, jika kita melihat adanya sikap kurang iman atau kurang ketaatan. Sebab dapat terjadi, itulah yang menjadi akar permasalahan ataupun pergumulan mereka. Namun diperlukan kebijaksanaan untuk melakukan hal ini, sebab, tidak seperti Tuhan Yesus, kita tidak dapat mengetahui isi hati orang secara sempurna. Maka dalam menyampaikan nasihat ataupun pandangan, kita perlu memohon bimbingan Roh Kudus, agar apa yang kita sampaikan dapat membangun iman mereka, dan bukannya malah meruntuhkannya. Di satu pihak, diperlukan keberanian dari pihak kita untuk berkata jujur, namun di sisi lain, diperlukan juga kebijaksanaan untuk dapat menyampaikan kebenaran itu dengan kasih.

Lalu Yesus menjelaskan bagaimana nubuat Perjanjian Lama itu digenapi dalam penyaliban dan kebangkitan-Nya, kepada kedua murid tersebut.  Dengan demikian, Yesus memulai nasihat-Nya dengan menyatakan ajaran iman yang sudah mereka terima, yaitu nubuat-nubuat para nabi Perjanjian Lama. Baru kemudian, Yesus menuju ke bagian yang sulit mereka terima, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya. Demikianlah, nasihat yang membangun berawal dari penekanan kesamaan pandangan tentang iman, dan baru kemudian melihat relevansinya dengan pergumulan yang sedang dihadapi. Ini mensyaratkan kesabaran dan juga pengertian yang benar tentang iman; agar dapat diperoleh pengertian, bagaimana ajaran iman itu dapat memberi makna dan pedoman bagi kita untuk menghadapi berbagai persoalan hidup. Demikianlah, untaian kebenaran dan kasih harus ada pada kita, agar kita dapat menjadi sebuah Gereja yang dapat meneruskan terang Kristus dan kehangatan kasih-Nya, kepada jiwa-jiwa yang membutuhkannya. Kita perlu berdoa agar kita dapat menjadi Gereja yang dapat membawa orang kembali ke “Yerusalem”, yaitu Gereja, sebagai rumah mereka, tempat dimana berakarlah iman kita: Kitab Suci, katekese, sakramen-sakramen, persahabatan dengan Tuhan, Bunda Maria dan para rasul dan para kudus Allah… Mampukah kita berbicara tentang akar iman kita ini dengan cara sedemikian, yang dapat menghidupkan kembali rasa kagum akan keindahannya? Sehingga membuat hati orang yang mendengarkannya menjadi berkobar-kobar?

Selanjutnya, Yesus menunjukkan seolah Ia mau pergi, namun kedua murid itulah yang mengundang Yesus untuk tinggal bersama mereka. Hal inipun penting, untuk menunjukkan bahwa setelah menyampaikan kebenaran itu, Yesus tidak memaksakannya kepada mereka. Yesus menyerahkan kepada mereka, apakah mereka mau melanjutkan percakapan tersebut, atau tidak. Maka kita juga harus siap untuk memberi kesempatan kepada orang yang kita kunjungi, untuk berpikir dan bahkan memberi hak kepada mereka kalau-kalau mereka memutuskan untuk menolak untuk membicarakan hal tersebut lebih jauh. Namun dalam kisah Emaus, kita ketahui mereka mengundang Yesus untuk makan bersama mereka. Inilah saat yang menunjukkan kesiapan mereka untuk menerima sakramen, jika mereka telah dapat menemukan kebenaran firman Tuhan. Akhirnya, kedua murid itu mengenali Yesus dalam pemecahan roti. Demikianlah, setelah kita mengajak sesama kita merenungkan bahwa rencana keselamatan Allah terbuka bagi mereka sebagaimana dikatakan dalam firman-Nya, dan juga bahwa kita semua memerlukan pengampunan dari Allah, semoga pada akhirnya kita dapat membawa mereka kepada perjumpaan dengan Kristus dalam sakramen Ekaristi. Sebab nyatanya, berbagai pergumulan hidup menimbulkan kehausan dan kelaparan rohani, yang hanya Tuhan sendiri yang dapat memuaskannya.

Dalam merenungkan kisah Emaus ini, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah situasi batin kita lebih mirip dengan keadaan kedua murid yang sedang bersedih itu, ataukah kita lebih terdorong untuk meneladani Yesus yang menyapa mereka yang sedang bersedih hati tersebut? Semoga rahmat Tuhan memampukan kita untuk memahami dan menghidupi pesan kisah Emaus hari ini. Bahwa di setiap keadaan dalam kehidupan kita, Tuhan Yesus selalu menyertai.  Dan karena kita telah mengalami penyertaan Tuhan Yesus, semoga kita pun dapat menyertai sesama kita yang berduka, sambil membawakan kabar sukacita akan Kristus yang telah bangkit, yang siap menopang kita, jika kita mau datang kepada-Nya. Secara khusus, jika kita menyambut-Nya dalam perayaan Ekaristi, dalam Komuni Kudus. Mari kita serukan perkataan kedua murid itu kepada Yesus, “Mane nobiscum, Domine. Tinggallah bersama kami, ya Tuhan…. Sebab Engkaulah Andalan kami, dalam menghadapi apapun dalam kehidupan ini.  Amin.”

Luka-luka Yesus adalah luka-luka belas kasih

0
Sumber gambar: http://www.thedivinemercy.org/extras.php

[Hari Minggu Kerahiman Ilahi, Kis 2:42-47;  Mzm 118:2-24; 1Ptr 3:9; Yoh 20:19-31]

Hari ini Gereja merayakan Minggu kedua Paska atau Oktaf Paska, dan Minggu Kerahiman Ilahi. Bersama kita merenungkan betapa besar belas kasih Allah, kerahiman-Nya yang memeluk setiap kita yang percaya kepada-Nya. Mari kita resapkan homili dari Paus Fransiskus di Minggu Kerahiman Ilahi tahun 2015 yang lalu:

“St. Yohanes, yang berada di Ruang Atas bersama dengan para murid lainnya di malam menjelang hari pertama setelah hari Sabat, mengatakan kepada kita, bahwa Yesus datang dan berdiri di antara mereka dan berkata, “Damai sertamu!” dan Ia memperlihatkan kepada mereka, tangan-Nya dan lambung-Nya (Yoh 20:19-20); Ia menunjukkan kepada mereka luka-luka-Nya. Dan dengan cara ini, mereka menyadari bahwa itu bukan suatu penglihatan: itu adalah sungguh Dia, Tuhan, dan mereka dipenuhi dengan suka cita.

Di hari ke delapan, Yesus datang sekali lagi ke Ruang Atas dan memperlihatkan luka-luka-Nya kepada Thomas, agar ia dapat menyentuh luka-luka itu seperti yang dikehendakinya, supaya ia dapat percaya dan karena itu ia sendiri dapat menjadi saksi Kebangkitan Kristus.

Kepada kita juga, di hari Minggu ini, yang oleh St. Yohanes Paulus II didedikasikan kepada Kerahiman Ilahi, Tuhan menunjukkan kepada kita, melalui Injil, luka-luka-Nya. Luka-luka itu adalah luka-luka karena belas kasih.  Ini sungguh benar: luka-luka Yesus adalah luka-luka belas kasih.

Yesus mengundang kita untuk memandang luka-luka ini, untuk menyentuhnya seperti yang dilakukan Thomas, untuk menyembuhkan ke-kurangpercaya-an kita. Di atas semua itu, Ia mengundang kita untuk masuk ke dalam misteri luka-luka ini, yang adalah misteri kasih-Nya yang penuh kerahiman.

Melalui luka-luka ini, seperti dalam sebuah bukaan yang dipenuhi terang, kita dapat melihat seluruh misteri Kristus dan Allah: Sangsara-Nya, kehidupan-Nya di dunia—yang dipenuhi oleh bela rasa kepada mereka yang lemah dan sakit—inkarnasi-nya dalam rahim Maria. Dan kita dapat menelusuri keseluruhan rahasia penyelamatan: nubuat-nubuat—khususnya tentang Sang Hamba Allah, kitab-kitab Mazmur,  kitab-kitab Taurat dan Perjanjian; sampai kepada pembebasan dari Mesir, Paska Yahudi yang pertama dan kepada darah dari anak-anak domba yang disembelih, dan lagi dari para Patriarkh sampai ke Abraham, dan sampai kembali kepada Habel, yang darahnya berseru-seru dari bumi. Semua ini dapat kita lihat di dalam luka-luka Yesus, yang disalibkan dan bangkit; dengan Maria, dalam Kidung Magnificat, kita dapat melihat bahwa, “Belas kasih-Nya turun temurun ke seluruh angkatan” (lih. Luk 1:50).

Dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa tragis dalam sejarah manusia, kita kerap kali dapat merasa trenyuh, dan bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa?” Kejahatan umat manusia dapat muncul di dunia seperti lubang yang dalam, kehampaan yang besar: kekosongan kasih, kekosongan kebaikan, kekosongan hidup dan kita juga bertanya: bagaimana kita dapat mengisi kekosongan ini? Bagi kita, itu sesuatu yang tidak mungkin. Hanya Allah yang dapat mengisi kekosongan yang dikibatkan oleh kejahatan kepada hati kita dan kepada sejarah manusia. Ia adalah Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, yang telah wafat di Salib dan yang mengisi kekosongan karena dosa dengan kedalaman belas kasih-Nya.

St. Bernardus, dalam salah satu penjelasannya tentang Kidung Agung (Sermon 61 3-5: Opera Omnia, 2, 150-151) secara tepat merenungkan tentang misteri luka-luka Tuhan dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang kuat dan bahkan berani yang dapat kita ulangi hari ini. Ia mengatakan bahwa, “melalui luka-luka suci ini kita dapat melihat rahasia hati [Kristus], misteri kasih yang begitu besar, ketulusan belas kasih-Nya yang dengannya Ia mengunjungi kita dari tempat tinggi.”

Saudara dan saudariku, pandanglah jalan yang telah dibukakan Allah kepada kita untuk akhirnya keluar dari perbudakan dosa dan kematian, dan karena itu masuk ke dalam tanah kehidupan dan damai sejahtera. Yesus, yang tersalib dan bangkit, adalah jalan dan luka-luka-Nya secara khusus adalah penuh belas kasih.

Para orang kudus mengajar kita bahwa dunia berubah dimulai dengan pertobatan dari hati seseorang, dan bahwa ini terjadi melalui kerahiman Allah. Dan dengan demikian, meski dihadapkan dengan dosa-dosaku sendiri atau tragedi-tragedi besar dunia, “hati nuraniku akan menderita, tetapi ia tidak akan kacau balau, sebab aku akan mengingat luka-luka Tuhan: ‘Ia terluka karena pelanggaran kita’ (Yes 53:5). Dosa apakah di sana yang begitu mematikan, yang tak dapat diampuni oleh kematian Kristus?” (Ibid.)

Dengan tetap memandang kepada luka-luka Yesus yang telah bangkit, kita dapat bernyanyi bersama Gereja: “Kekal abadi kasih setia-Nya” (Mzm 117:2); kekal lah belas kasih-Nya. Dan dengan kata-kata ini yang tertanam di hati kita, marilah kita maju terus di sepanjang alur sejarah, dengan dipimpin oleh tangan Tuhan dan Penyelamat kita, hidup dan pengharapan kita.”

Yesus, Kerahiman Ilahi, kami mengandalkan Engkau! Amin.

Jangan pernah menyerah, Tuhan kita telah bangkit!

0
Sumber gambar: http://www.marysrosaries.com/collaboration/index.php?title=File:The_empty_tomb_-_He_is_not_here.jpg

[Vigili Paska: Kej 1:1-2:2; Mzm 104: 1-24,35; Kel 14:15-15:1; Kel 15:1-18; Yes 55:1-11, Yes 2-6; Rm 6:3-11; Mzm 118:1-23; Mat 28:1-10]

Berikut ini adalah homili dari Paus Fransiskus di Malam Paska tahun 2013:

“Saudara saudari yang terkasih,
1. Dalam Injil di malam Vigili Paska yang bercahaya ini, pertama-tama kita mendapati para wanita yang pergi ke kubur Yesus dengan rempah-rempah untuk mengurapi jenazah-Nya (lih. Luk 24:1-3). Mereka pergi untuk melakukan perbuatan belas kasih, sebuah tindakan tradisional yang menyatakan perhatian dan cinta kasih kepada seorang yang tersayang, yang telah meninggal, seperti yang kita lakukan.  Mereka telah mengikuti Yesus, telah mendengarkan perkataan-Nya, mereka telah merasa dipahami oleh-Nya, martabat mereka diakui dan mereka telah menyertai Yesus sampai pada akhirnya, ke Kalvari dan sampai pada saat ketika Ia diturunkan dari Salib. Kita dapat membayangkan perasaan mereka, ketika mereka sedang berjalan menuju kubur: suatu perasaan sedih, duka cita bahwa Yesus telah meninggalkan mereka, Ia telah wafat, hidup-Nya telah sampai pada akhirnya. Kini hidup akan berjalan seperti sebelumnya. Tetapi para wanita terus merasakan cinta kasih, kasih kepada Yesus, yang mengarahkan mereka sampai ke kubur-Nya. Tetapi sampai pada titik ini, sesuatu yang benar-benar baru dan tak terduga terjadi, sesuatu yang menjungkirbalikkan hati dan rencana mereka, sesuatu yang akan menjungkirbalikkan seluruh hidup mereka: mereka melihat batu digeserkan dari mulut kubur, mereka mendekat dan tidak menemukan jenazah Tuhan. Ini adalah kejadian yang mengakibatkan mereka bingung, tertegun, dan bertanya-tanya: “Apa yang telah terjadi?”, “Apa arti dari semua ini?” (lih. Luk 24:4). Bukankah hal yang sama terjadi pada kita ketika sesuatu yang benar-benar baru terjadi dalam hidup kita setiap hari? Kita terkejut, kita tak mengerti, kita tak tahu harus berbuat apa. Ke-baru-an sering membuat kita takut, termasuk ke-baru-an yang Allah bawa kepada kita, ke-baru-an yang Allah minta dari kita. Kita adalah seperti para rasul dalam Injil: sering kita lebih memilih untuk berpegang kepada zona nyaman kita sendiri, untuk berdiri di depan kubur, untuk berpikir tentang seseorang yang telah meninggal, seorang yang akhirnya hidup hanya sebagai sebuah kenangan, seperti tokoh-tokoh besar sejarah di masa lalu. Kita takut akan kejutan-kejutan dari Allah; kita takut akan kejutan-kejutan dari Allah! Ia selalu memberikan kejutan kepada kita!

Saudara dan saudariku terkasih, janganlah kita tertutup kepada ke-baruan yang Allah ingin bawa ke dalam hidup kita. Apakah seringnya kita lelah, patah semangat dan sedih? Apakah kita merasa terbeban dengan dosa-dosa kita? Apakah kita berpikir kita tak dapat mengatasinya? Janganlah kita menutup hati kita, jangan kita kehilangan kepercayaan diri, jangan pernah menyerah: tak ada keadaan yang tak dapat diubah oleh Tuhan, tak ada dosa yang tak dapat diampuni-Nya, asalkan kita mau membuka diri kita kepadaNya.

Tapi marilah kita kembali ke Injil, kepada para wanita, dan mengambil selangkah lebih jauh. Mereka menemukan bahwa kubur kosong, jenazah Yesus tidak ada di sana. Sesuatu yang baru telah terjadi, tetapi semua ini tidak menceritakan kepada mereka apapun yang pasti: itu [malah] menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, membuat mereka bingung, tanpa ada jawaban. Dan tiba-tiba, ada dua orang pria yang berpakaian menyilaukan yang berkata: “Mengapa kamu mencari orang hidup di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, tetapi telah bangkit” (Luk 24:5-6). Apa yang merupakan tindakan sederhana, yang dilakukan karena cinta—yaitu pergi ke kubur—kini telah menjadi sebuah peristiwa, sebuah peristiwa yang sungguh mengubah hidup. Tak ada yang tetap sama seperti kemarin seperti sebelumnya, tak hanya dalam hidup para wanita itu, tetapi juga dalam kehidupan kita sendiri, dan dalam sejarah umat manusia. Yesus tidak mati, Ia telah bangkit, Ia hidup! Ia tidak saja hanya kembali hidup, tetapi lebih tepatnya, Ia adalah hidup itu sendiri, sebab Ia adalah Anak Allah, Allah yang hidup (bdk. Bil 14:21-28; Ul 5:26; Yos 3:10). Yesus tak lagi termasuk masa lalu, tetapi hidup di saat ini dan tetap hadir mengarahkan ke masa depan. Ia adalah “hari ini” yang kekal dari Allah. Inilah bagaimana ke-baru-an Allah nampak kepada para wanita itu, para murid dan kita semua: sebagai kemenangan atas dosa, kejahatan dan kematian, atas semua yang menghancurkan hidup dan membuatnya seakan kurang manusiawi, Berapa sering Kasih harus berkata kepada kita: Mengapa kamu mencari orang hidup di antara orang mati? Masalah dan kekuatiran kita sehari-hari  dapat membungkus kita dalam diri kita sendiri dalam kesedihan dan kepahitan… dan itu adalah di mana kematian berada. Itu bukanlah tempat untuk mencari Dia yang hidup!

Biarlah Yesus yang bangkit masuk dalam hidupmu. Sambutlah Dia sebagai seorang Sahabat, dengan kepercayaan: Ia adalah Hidup! Kalau sampai sekarang engkau telah menempatkan-Nya jauh darimu, melangkahlah mendekat. Ia akan menerimamu dengan tangan terbuka. Kalau engkau telah acuh tak acuh, ambillah resiko: engkau tak akan dikecewakan. Kalau mengikuti-Nya kelihatan sulit, jangan takut, percayalah kepada-Nya, yakinlah bahwa Ia dekat padamu. Ia ada bersamamu dan akan memberimu damai sejahtera yang engkau cari dan kekuatan untuk hidup sebagaimana Ia menghendaki kamu memilikinya.

Ada satu elemen kecil terakhir yang ingin kutekankan dalam Injil di Vigili Paska ini. Para wanita itu berjumpa dengan ke-baru-an Allah. Yesus telah bangkit, Ia hidup! Tetapi dihadapkan dengan kubur kosong dan dua orang pria dengan pakaian yang menyilaukan, reaksi pertama mereka adalah ketakutan: “mereka ketakutan dan menundukkan kepala sampai ke tanah”, kata St. Lukas, mereka tidak punya keberanian untuk melihat. Tetapi ketika mereka mendengar pesan tentang Kebangkitan, mereka menerimanya dengan iman. Dan kedua pria dengan pakaian yang berkilau itu mengatakan kepada mereka sesuatu yang sangat amat penting: “Ingatlah bahwa Ia telah mengatakannya kepadamu ketika Ia masih di Galilea … Dan mereka mengingat perkataan-perkataan-Nya (Luk 24:6-8). Mereka diminta untuk mengingat perjumpaan mereka dengan Yesus, mengingat perkataan-Nya, perbuatan-Nya, hidup-Nya dan adalah justru kenangan kasih dari pengalaman dengan Sang Guru yang memampukan para wanita itu untuk mengatasi rasa takut dan untuk membawa pesan Kebangkitan kepada para Rasul dan semua yang lain (lih. Luk 24:9). Mengingat apa yang Tuhan sudah lakukan dan terus lakukan untuk saya, untuk kita, untuk mengingat jalan yang sudah kita tempuh; ini adalah apa yang membuka hati kita kepada pengharapan akan masa depan. Semoga kita belajar untuk mengingat semua yang Tuhan telah lakukan dalam hidup kita.

Di malam yang bercahaya ini, mari kita memohon doa perantaraan Perawan Maria, yang merenungkan semua kejadian ini di dalam hatinya (lih. Luk 2:19,51) dan memohon agar Tuhan memberikan kita bagian dalam Kebangkitan-Nya. Semoga Ia membuka hati kita kepada ke-baru-an yang mengubahkan. Semoga Ia membuat kita menjadi orang-orang yang mampu mengingat semua yang telah Ia lakukan dalam hidup kita masing-masing dan dalam sejarah dunia kita. Semoga ia membantu kita merasakan kehadiran-Nya sebagai Seorang yang hidup dan berkarya di tengah kita. Dan semoga Ia mengajarkan kita setiap hari, untuk tidak mencari di antara orang mati, Seorang yang Hidup. Amin.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab