Home Blog Page 16

Pohon Kehidupan

0

Kesaksian iman oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Tuhan tidak hanya menciptakan kita, tetapi Dia juga sangat mencintai kita. Dia menginginkan kita mengenalNya agar kita memiliki hidup kekal. Ia mencurahkan kasih-Nya yang melimpah agar kita dapat mengenal dan merasakan kebaikan-Nya.

Ibu Martha Joe Henny, yang bertemu denganku dalam Rekoleksi WKRI St. Kristoforus Grogol-Jakarta pada tanggal 12 Februari 2017, mengenal Tuhan Yesus Kristus melalui peristiwa pahit dalam kehidupannya. Pada tahun 2004, dokter menyatakan bahwa ia harus membuang rahimnya karena ada tumor sebesar telor angsa dan kista sepanjang 2 cm. Biaya operasi adalah duapuluh juta rupiah, tetapi ia tidak mempunyai uang sebanyak itu.

Karena tidak mempunyai uang yang cukup, ia hanya berserah kepada Tuhan. Walaupun ia belum menjadi seorang Katolik, ia percaya bahwa tiada yang mustahil bagi Tuhan, karena Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya: “Ketika berada dalam kekuatiran, aku berserah kepada Tuhan dan mengembalikan semua kekuatiranku itu kepadaNya karena aku berasal dari Dia dan akan kembali kepadaNya”. Pada saat ia berserah kepada Tuhan, ia bermimpi berada di dalam sebuah perahu di tengah lautan yang luas. Ia sangat ketakutan karena ia bisa mati dengan air yang memenuhi perahunya itu. Ia akhirnya terdampar di taman yang luas, tanpa ada batasnya. Ia hanya bisa melihat pohon besar dengan batang yang sangat besar pula. Ia ingin mencoba melihat daunnya, tetapi ia sama sekali tidak dapat melihatnya. Ia tiba-tiba melihat benda seperti sebuah jendela di tengah pohon itu. Ia melihat banyak buah-buahan beraneka ragam jenisnya. Ia mengambil anggur yang sebesar sawo bangkok. Anggur itu rasanya berbeda dengan anggur yang biasa ia makan karena anggur itu tak berbiji.

Awalnya ia menganggap hal itu hanyalah bunga-bunga mimpi. Anehnya, setiap ia hendak pergi tidur, hatinya gelisah karena ingin tahu apa maksud dari mimpinya itu. Selang beberapa minggu kemudian, ia terbangun dari tidurnya pukul dua dini hari. Ia pun melakukan meditasi. Di dalam meditasi itu, ia melihat terang dan terdengar suara: “Penyakitmu telah Kusembuhkan”.

Keesokan harinya, ia menceritakan tentang mimpinya itu kepada temannya. Temannya tersebut mengajak ke rumah sakit untuk melakukan cek. Ketika melihat monitor televisi, tumor dan kistanya sudah tidak ada lagi. Ia bersyukur atas penyembuhannya. Ia ingin menjadi anak Tuhan yang telah menyembuhkannya. Akan tetapi, ia tidak tahu Tuhan mana yang harus ia ikuti walaupun ia yakin bahwa Tuhan itu hanya satu. Ia berdoa: “Tuhan, arahkan aku ke agama apa yang harus aku ikuti?”. Ketika ia berdoa, ia dengan sendirinya menyanyikan lagu-lagu pujian. Ketika ia mau dibaptis, ia bingung hendak masuk gereja mana: “Tuhan, kok Gereja Kristen itu begitu banyak denominasinya, termasuk Gereja Katolik. Tunjukkanlah jalan kepadaku. Tolong kirimkan aku orang yang bisa membawa aku ke rumah-Mu. Aku tidak mau mengikuti keinginan manusia, tetapi hanya kehendak-Mu”.

Tuhan menjawabnya dengan mengirimkan saudara kakak iparnya, yang bernama Erni. Erni beragama Katolik. Erni menyuruhnya ke Gereja Santa Maria, Batu Tulis. Temannya mengantarnya dan bertemu dengan Suster Gusta. Katanya kepada Suster Gusta: “Bagaimana caranya kalau aku hendak menjadi orang Katolik?” Suster Gusta mengatakan kepadanya: “Ibu harus belajar selama setahun atau 45 x pertemuan, dan apabila Ibu tidak berkenan, Ibu bisa mundur”. Hatinya berkata bahwa ini adalah sebuah kesabaran untuk menjadi orang Katolik. Karena muridnya hanya dua orang, ia dikirim ke Katedral Jakarta untuk mengikuti pelajaran sebagai katekumen. Ia belajar agama hingga menerima Sakramen Baptis dan Krisma pada tahun 2008. Ia bersyukur telah menjadi pengikut Tuhan Yesus dalam Gereja Katolik: “Tuhan Yesus, terimakasih, Engkau telah menyembuhkan aku sebelum aku mengenalMu”.

Kesimpulan dari kesaksian dari Ibu Martha terungkap dalam sebuah doa singkat berikut ini:

Ya Bapa,

Engkau menciptakan aku dengan indah.
Aku bersyukur kepadaMu
karena Engkau telah memperkenankan aku
melihat dan merasakan semua rahmat
dan kasih-Mu.

Jangan jauhkan aku dariMu, Ya Bapa,
karena itu akan menyengsarakan aku.

Amin

Panggilan untuk tetap setia dan menjadi berkat

0
Sumber gambar: https://cacina.wordpress.com/tag/transfiguration/

[Hari Minggu Prapaska II: Kej 12:1-4; Mzm 33:4-22; 2Tim 1:8-10; Mat 17:1-9]

Kisah perjalanan iman sahabatku ini sungguh menginspirasi. Ia seorang warga Singapura keturunan India, yang lahir dari keluarga non-Kristen. Tak mengherankan, selama sekian puluh tahun ia tidak mengenal Tuhan. Suatu kali ia terkena penyakit myoma di rahimnya, yang membuat ia harus menjalani operasi. Entah mengapa, myoma itu tumbuh dan tumbuh lagi dengan sangat cepat, sehingga ia harus menjalani operasi demi operasi yang hanya berselang beberapa bulan. Menjelang operasinya yang ke-sekian, ia singgah di gereja Novena, Singapura. Sebagai seorang non-Katolik, ia tidak memahami Siapakah tokoh yang digambarkan di patung  salib yang ada di gereja itu. Ia hanya berdoa dalam hati, “Tuhan, kalau Engkau sungguh ada, sembuhkanlah aku…” Juga di depan lukisan Bunda Maria Penolong Abadi, ia mengatakan hal yang sama, “Kalau engkau Ibu, sungguh ada, tolonglah supaya aku dapat sembuh….” Namun rupanya doa sederhana ini berkenan pada Tuhan dan Tuhan Yesus mengabulkannya. Singkat cerita, sahabatku ini memperoleh mukjizat kesembuhan dari Tuhan. Saat ia diperiksa kembali keesokan harinya,  penyakitnya hilang. Ia tak jadi dioperasi, dan sejak saat itu, ia tidak lagi mengalami gangguan myoma. Sahabatku ini kemudian dibaptis Katolik, beserta seluruh keluarganya. Namun sekitar 5 tahun kemudian, ia terkena kanker usus, sehingga sebagian dari usus besarnya harus dipotong. Kemoterapi dan radiasi ia jalani; yang disertai dengan penderitaan fisik yang tak terbayangkan bagiku. Bahkan setelah sembuh pun, kini ia selalu membawa colostomy bag, yang seolah telah menjadi anggota baru di tubuhnya. Tetapi aku sungguh mengagumi keteguhan iman dan semangatnya untuk tetap hidup dengan sukacita dan melayani sesama. Ia menjadi pendoa bagi kaum kerabat dan sahabat-sahabatnya, dan bahkan menghibur sesama pasien kanker lainnya. Dengan caranya sendiri Ia mewartakan Kristus, yang diimaninya sebagai Tuhan yang mengasihi menyelamatkan, “The Lord Jesus has been so good to me. If He wants me to carry my little cross like this, I will do it for Him. Doesn’t He promise Heaven to those who are faithful until the end?” (“Tuhan Yesus sudah begitu baik kepadaku. Kalau Ia menghendaki aku memikul salib kecilku dengan cara ini, aku akan melakukannya untuk Dia. Bukankah Ia menjanjikan Surga kepada mereka yang setia sampai akhir?”). Suatu perkataan penuh iman yang mengingatkanku pada ungkapan serupa dari sejumlah Santo dan Santa.  Dari kesaksian hidupnya, aku belajar dua hal penting. Yaitu bahwa baik penyakit, penderitaan atau kesulitan yang terbesar sekalipun, tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus (lih. Rm 8: 38-39). Dan juga, bahwa kita senantiasa perlu mengingat pengalaman “perjumpaan” kita dengan Tuhan Yesus. Sebab terutama pada saat-saat kita mengalami kesulitan hidup, pengalaman “perjumpaan” dengan Kristus itu akan menguatkan iman kita.

Seseorang yang sudah “berjumpa” secara pribadi dengan Kristus memang dapat memandang hidup dan menjalaninya dengan cara yang berbeda dengan pandangan dunia. Dunia berpikir, bahwa hanya dengan kesuksesan, kesehatan dan kelimpahan, orang baru bisa bahagia. Paham inipun masuk dalam pikiran sejumlah umat Kristen, yang menganggap bahwa hanya dalam kelimpahan dan kesuksesan itulah, kasih Tuhan dinyatakan. Namun sabda Tuhan tidak mengajarkan demikian. Sebab walaupun berkat memang bisa menjadi tanda kasih Tuhan yang dapat mendatangkan kebahagiaan, namun bahkan dalam kesulitan dan penderitaan sekalipun—terutama jika itu demi mewartakan Injil—kita tetap dapat mengalami kebahagiaan bersama Tuhan. Tuhan Yesus sendiri menghibur para murid-Nya dengan janji kebahagiaan kekal, ketika Ia menampakkan terang kemuliaan-Nya di depan mata mereka, di atas Gunung Tabor, seperti yang kita dengar di Injil hari ini. Peristiwa Transfigurasi itu terjadi, enam hari setelah Yesus memberitahukan para murid-Nya bahwa Ia akan menderita dan dibunuh, yang tentu saja membuat para murid sangat sedih dan mungkin juga terguncang. Bagaimana tidak, Sang Mesias yang mereka harapkan akan menjadi Pemimpin yang jaya, yang membebaskan mereka dari tangan penguasa Romawi, koq malah akan dibunuh! Namun Yesus meneguhkan iman mereka dengan suatu pengalaman untuk turut menyaksikan kebesaran-Nya. Melalui pengalaman ini, seolah Yesus ingin berpesan agar mereka tidak berputus asa, sebab akan tiba saatnya mereka akan dapat mengambil bagian dalam kemuliaan Kerajaan-Nya itu, yang bukan dari dunia ini. Tentulah pengalaman ini sangat membekas di hati Rasul Petrus, Yohanes dan Yakobus yang menyaksikannya. Rasul Petrus sendiri mengenang kembali pengalaman ini bertahun-tahun kemudian dalam suratnya. Saat dalam keadaan dikejar-kejar penguasa Romawi untuk dibunuh sebagai martir karena mengimani Kristus, Rasul Petrus tetap mengingatkan jemaat akan panggilan hidup mereka sebagai umat Kristen. Yaitu untuk beriman, berbuat kebajikan, bertumbuh dalam pengetahuan, pengendalian diri, ketekunan, kesalehan dan kasih kepada semua orang (lih. 2 Ptr 1:5-18). Nampaknya, pesan ini juga lah yang hendak disampaikan oleh sabda Tuhan hari ini. Kita dipanggil untuk tetap teguh beriman dan berharap di tengah berbagai tantangan hidup, dan tetap menjadi berkat bagi orang lain (lih, Kej 12:2). Sebab “Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2Tim 1:10), maka kita memperoleh kekuatan yang dari Tuhan untuk mengalahkan kekuatiran dan kesulitan apapun. Sebab tantangan yang terbesar sekalipun, yaitu maut, sudah dipatahkan oleh Kristus.

Dengan demikian, kalau Tuhan Yesus ada di dalam kita, tak menjadi masalah apakah kita sedang mengalami sukses yang besar, ataukah kita sedang mengalami sakit yang luar biasa. Yang terpenting adalah kita melewati hari-hari kita bersama Yesus di kehidupan ini, agar kelak dapat sampai pada kebahagiaan bersama Yesus di kehidupan yang akan datang. Sebab kalau kita dekat dengan Tuhan Yesus, oleh-Nya, kita pun dibawa mendekat kepada sesama. Sebab kasih-Nya yang melimpah itu mendorong kita untuk membagikannya. Sahabatku, yang kisahnya kutulis di atas, telah menjadi contoh yang nyata akan pengalaman iman yang sedemikian. Di tengah kesukaran dan penderitaan hidup, ia memikirkan kebahagiaan yang menantinya di Surga. Dan dengan cara-Nya yang rahasia, Allah menopang dan memberikan kepadanya sukacita dan kebahagiaan yang tak dapat diberikan oleh dunia. “Seperti apakah kelak, ketika semua keindahan, semua kebaikan dan semua keajaiban Allah dicurahkan ke dalam bejana tanah liat yang rapuh seperti aku dan kita semua ini? Maka aku memahami perkataan Rasul Paulus, ‘Apa yang tak pernah dilihat oleh mata, apa yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia’…. (1Kor 2:9)” (St. Jose Maria Escriva,  in  Newsletter  No.1, for the Cause of his Beatification).

Semoga kisah Transfigurasi Kristus menambah iman dan pengharapan kita, agar kita dapat tetap setia menjalani panggilan hidup sebagai murid-murid Kristus, dan menjadi berkat bagi banyak orang. “Sinarilah kami dengan terang wajah-Mu, ya Tuhan, dan kiranya kasih setia-Mu menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu. Amin.”

Mengambil bagian dalam Korban Kristus

0
Sumber gambar: http://keywordsuggest.org/gallery/272163.html

[Hari Minggu Prapaska I: Yoel 2:12-18; Mzm 51:3-17; 1Kor 4:1-5; Mat 6:1-6,16-18]

Ada saatnya, aku meneguhkan niat untuk membaca Kitab Suci dari halaman awal sampai akhir. Masa sih, selalu dikatakan orang Katolik tidak suka membaca Kitab Suci. Maka kumohon rahmat Tuhan, tolong Tuhan, bantulah aku agar mencintai sabda-Mu dan tekun membacanya. Kumulai membaca Kitab Kejadian, lalu Kitab Keluaran…. Tak masalah. Yang ditulis di kitab-kitab itu mengingatkanku kepada pengalaman masa kecil dan remaja, saat aku gemar melahap komik Kitab Suci. Kulanjutkan terus membaca…  Kitab Imamat… Waduh! Rasanya mulai keriting. Di bab demi bab, dijabarkan bermacam korban: korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, korban penebus salah…. Lalu diulang lagi, korban bakaran, korban sajian… dan seterusnya…  Alamak, apa maksudnya, ya? Kuteruskan membaca, walaupun saat itu belum kupahami… Seiring dengan bertambahnya halaman yang kubaca, sepertinya Tuhan membukakan sedikit demi sedikit misteri ini bagiku. Silih berganti tertulis dalam Kitab Suci, kisah jatuh bangunnya umat manusia, khususnya, umat pilihan-Nya untuk menaati perintah-Nya. Manusia kerap jatuh dalam dosa, dan untuk menghapus dosanya, Allah selalu mensyaratkan agar korban dipersembahkan kepada-Nya, melalui perantaraan imam. Ditulislah bermacam korban yang disyaratkan itu. Rupanya semua korban itu merupakan cara Allah mempersiapkan umat-Nya untuk memahami pentingnya makna korban penebus dosa, yang kemudian digenapi dalam Korban yang sempurna, yaitu Yesus Kristus Putra-Nya. Allah demikian membenci dosa, dan menghendaki kita agar dibebaskan dari belenggu dosa dan maut yang membawa kepada kematian kekal. Untuk itu, Ia bahkan tak menyayangkan Putra-Nya sendiri (lih. Rm 8:32) untuk menjadi Korban tebusan bagi kita, agar kita dapat memperoleh hidup kekal.

Minggu ini kita memasuki Masa Prapaska. Kisah kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa, kita dengar kembali di Bacaan Pertama hari ini. Kisah ini pun mewakili kisah kejatuhan kita masing-masing ke dalam dosa, yang mungkin hanya kita sendiri dan Tuhan yang mengetahuinya secara persis. Namun kita yang seperti Adam, telah jatuh dalam dosa, memperoleh pengampunan karena Kristus. Seturut kehendak Allah Bapa, Kristus menjadi Korban penebus dosa bagi kita.  Oleh ketaatan-Nya ini, Kristus memperoleh bagi kita pengampunan atas dosa-dosa kita. Tergenapilah apa yang kita dengar hari ini dalam surat Rasul Paulus, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab jika karena pelanggaran satu orang itu semua orang telah jatuh dalam kuasa maut, jauh lebih besarlah kasih karunia dan anugerah Allah, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang lantaran satu orang, yaitu Yesus Kristus” (Rm 5:15).

Di Masa Prapaska ini kita diajak untuk melihat diri kita dengan jujur, untuk menemukan dosa-dosa kita, dan mengakuinya di hadapan Tuhan melalui imam-Nya dalam sakramen Pengakuan Dosa, agar kita dapat menerima rahmat pengampunan Allah. Kristus menghendaki agar kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan para imam-Nya, yang meneruskan tugas para rasul. Karena kepada mereka-lah Kristus memberikan kuasa untuk melepaskan kita dari ikatan dosa (lih. Yoh 20:21-23). Memang rahmat pengampunan Allah mengalir karena jasa pengorbanan Kristus, namun caranya adalah melalui pelayanan imam-Nya dalam sakramen. Dengan demikian, tergenapilah apa yang secara samar-samar telah digambarkan dalam Perjanjian Lama tentang pengampunan dosa.

Namun Tuhan tidak hanya mengampuni dosa kita. Ia juga mengajar kita untuk mengalahkan godaan, agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Bacaan Injil mengisahkan ketika Yesus dicobai iblis. Iblis menggoda Yesus dengan godaan yang sama, yang dengannya kita pun sekarang digoda. Yaitu godaan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (bdk. 1Yoh 2:16). Namun Yesus mengatasi semua godaan itu dengan sabda Allah. Betapa hal ini harus menyadarkan kita, bahwa kitapun harus mengandalkan kekuatan sabda Allah untuk dapat mengalahkan godaan dosa. Tapi ini harus diawali dengan langkah sederhana, yaitu kita mau membaca sabda-Nya, supaya kita bisa ingat dan meresapkannya dalam hidup kita. Kalau kita jarang membacanya, bagaimana kita bisa langsung mengingatnya saat menghadapi godaan? Sebab kasih kepada Tuhan dinyatakan dengan kesediaan kita untuk mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Tak cukup bagi kita hanya mendengarkan sabda-Nya saat Misa di gereja. Kitapun perlu membaca dan merenungkan Kitab Suci setiap hari secara pribadi. Masa Prapaska menjadi masa yang tepat untuk meneguhkan komitmen kita agar bertumbuh dalam pengenalan akan sabda Tuhan. Supaya dengan demikian, sabda-Nya meresap dan menyatu dengan kita, sehingga kita dikuatkan dalam menjalani hidup dan dapat mengalahkan bermacam godaan dosa.

Masa Prapaska adalah masa pertobatan, yang seyogyanya membawa  pembaharuan dalam diri kita. Karena itu, Gereja mengajak kita, selain untuk bertobat, mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, namun juga untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani, dalam doa, matiraga dan amal kasih. Mengapa demikian, sejumlah orang mungkin bertanya. Bukankah pengorbanan Kristus sudah cukup untuk mengampuni kita? Koq kita masih berpuasa dan berpantang, seolah jasa Kristus masih kurang? Jawabnya kita temukan dalam Kitab Suci. Yaitu, karena Tuhan pun menghendaki kita mengambil bagian dalam kurban penghapus dosa yang dipersembahkan kepada Allah. Jadi, meskipun kita diampuni karena jasa pengorbanan Kristus, bukan berarti kita tidak perlu mempersembahkan korban apapun kepada Allah. Sebab di Kitab Mazmur tertulis, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak Kaupandang hina, ya Allah… Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya… di atas mezbah-Mu” (Mzm 51:17, 21). Artinya,  di masa Perjanjian Lama, korban hewan penebus dosa yang dibawa ke bait Allah pun tetap harus dibarengi dengan korban hati yang patah dan jiwa yang hancur dari orang yang telah berdosa. Di masa Perjanjian Baru, yaitu sekarang ini, setelah korban bakaran itu digenapi oleh Korban Kristus Sang Anak Domba Allah, itupun harus dibarengi dengan korban hati yang remuk dari pihak kita yang memohon ampun. Dengan kata lain, pengakuan dosa kita, perlu disertai dengan pertobatan dan sesal yang sungguh. Jiwa yang hancur. Hati yang remuk.  O, sudahkah kumiliki sesal yang sedemikian di hatiku, setiap kali aku mengaku dosa? Sudahkah puasa dan pantang-ku kumaknai sebagai korban persembahan kepada Allah?  

Sungguh, Masa Prapaska adalah masa bagi kita untuk menata kembali hidup kita. Yaitu untuk meninggalkan dosa-dosa kita dengan niat yang teguh untuk tidak mengulanginya, dan untuk memperbaiki hubungan kasih kita dengan Tuhan dan sesama. Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, bagaimana kita akan mewujudkan niat hati kita ini. Dengan cara apa kita akan menyatakan kasih kita kepada Tuhan? Mungkin dengan lebih tekun berdoa dan membaca sabda-Nya? Mungkin dengan matiraga, pantang dan puasa, melebihi persyaratan minimal yang ditentukan Gereja? Supaya dengan demikian dapat kita dermakan bagi sesama yang membutuhkan, uang yang biasanya kita gunakan untuk kesenangan sendiri? Atau mungkin dengan menggunakan waktu secara lebih bijaksana, supaya ada waktu untuk melayani sesama?… Semoga Tuhan membukakan mata hati kita untuk melihat, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaharui hidup kita di Masa Prapaska ini.

Biarlah Masa Prapaska ini bagi kita, menjadi masa yang penuh rahmat. Sebab dengan beramal—terutama jika itu dari pengorbanan kita, juga dengan  berpantang dan berpuasa, kita menyangkal diri dan memikul salib kita. Dengan demikian kita melaksanakan perintah Yesus yang berkata,  “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23).

Ya Tuhan Yesus, bantulah aku menjalani Masa Prapaska ini dengan sungguh-sungguh. Teguhkanlah hatiku untuk bertobat dan memperbaharui hidupku seturut kehendak-Mu. Kasihanilah aku, ya Tuhan. Kaulah Pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepadaMu…. Amin.”

Aku percaya akan Allah, yang maha kasih dan maha adil

0
Sumber gambar: https://acewallpaper.wordpress.com/2012/12/28/photography-wallpaper-children-edition/hold-little-cute-baby-s-hand/

[Hari Minggu Biasa VIII: Yes 49:14-15; Mzm 62:2-9; 1Kor 4:1-5; Mat 6:24-34]

Betapa tergugahnya hatiku, ketika menyimak kisah kesaksian Gianna Jessen di youtube. Ia adalah seorang survivor dari proses aborsi, empat puluh tahun yang lalu. Ibunya mendatangi klinik aborsi di usia kandungan 7 setengah bulan, dan memperoleh anjuran untuk mengaborsi bayinya dengan larutan garam (saline), agar janinnya terbakar dan dalam waktu 24 jam bayinya dapat lahir dalam keadaan mati. Namun Gianna lahir di tanggal 6 April 1977, dan tetap hidup. Ia tidak mengalami kebutaan ataupun kelumpuhan otak, sebagaimana diperkirakan jika ia tidak mati. Kini ia menjadi salah satu duta yang kerap berbicara untuk mengetuk hati banyak orang tentang begitu besarnya kasih Tuhan, dan bahwa hidup adalah anugerah Tuhan yang selayaknya diterima dengan rasa syukur, dan bukannya untuk dihilangkan lewat aborsi.  Alasan ketidaksiapan ekonomi dan mental, ketidaknyamanan ataupun alasan lainnya, tetaplah bukan alasan yang tepat untuk membenarkan tindakan pembunuhan janin. Namun, Gianna pun menyatakan bahwa ia telah memaafkan ibunya, yang sekian tahun kemudian datang mengunjunginya. Pengalaman Gianna Jessen ini, bagiku, menyatakan sabda Tuhan yang kita dengar dalam Bacaan Pertama hari ini, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:14-15).

Mungkin kita tidak mengalami pengalaman seperti Gianna Jessen. Mungkin kita memiliki orangtua yang mengasihi dan menerima kehadiran kita di tengah keluarga dengan rasa syukur. Kalau demikian, layaklah kita berterima kasih kepada Tuhan dan kepada orangtua kita. Namun sekalipun kita mengalami pengalaman ditolak oleh orangtua kita sendiri, sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita agar tidak menjadi tawar hati. Sebab yang terpenting, Allah Bapa kita, tidak pernah meninggalkan dan tidak pernah melupakan kita.  Ia adalah Tuhan yang maha pengasih, yang begitu peduli kepada kita. Itulah sebabnya kita dapat memercayakan hidup kita kepada-Nya setiap waktu. “Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang. Hanya pada Allah saja, aku tenang….” Demikian kita mendaraskan Mazmur hari ini.

Kasih Tuhan kepada kita begitu besar dan Ia sungguh mengenal kita sampai sedalam-dalamnya. Tuhan mengetahui segala pikiran dan maksud hati kita, segala yang tak nampak di mata manusia. Karena itu, Ia tidak menghendaki kita menghakimi sesama ataupun menghakimi diri kita sendiri, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus (lih. 1Kor 4: 3-5), namun menyerahkan penghakiman itu kepada Tuhan yang menyelidiki setiap isi hati. Karena itulah, penghakiman Tuhan pasti adil, sebab Ia memperhitungkan segalanya, termasuk maksud hati yang tersembunyi sekalipun. Maka perkataan Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua hari ini mengingatkan kita untuk memeriksa maksud hati kita sebelum melakukan segala sesuatu. Apakah maksud itu baik dan murni? Apakah itu untuk memuliakan Tuhan atau untuk memuliakan diri kita sendiri? Sebab Allah kelak akan menghakimi kita seturut dengan perbuatan kita (lih. Why 20:12). Ia akan menilai segala sesuatunya dengan keadilan-Nya, dan belas kasih-Nya.

Allah kita yang maha adil dan maha pengasih ini memanggil kita agar kita bertumbuh semakin mengenal dan mengasihi Dia. Ia menghendaki kita pun membalas kasih-Nya dengan sepenuhnya, tidak mendua hati, dengan memilih Mamon, yang dapat diartikan sebagai kekayaan duniawi. Bukan artinya kita tidak boleh mencari uang, tetapi agar kita tidak menjadi hamba uang, dan hanya mengukur segala sesuatu di hidup ini dengan uang. Sebab akar dari segala kejahatan adalah cinta uang (1Tim 6:10). Uang dapat membuat orang menjauh dari Tuhan, membuat orang lekas kuatir akan hidup ini. Allah mengingatkan kita untuk tidak menyusahkan diri memikirkan apa yang hendak kita makan, minum dan pakai, sampai lupa mensyukuri hidup dan tubuh kita (lih. Mat 6:25). Orang menjadi lebih concern soal kegemukan atau kekurusan, seolah lupa bahwa baik gemuk maupun kurus, tetap berharga di mata Tuhan dan dikasihi oleh-Nya. Orang lebih mati-matian mencari kesuksesan dalam pekerjaan dan mempunyai banyak uang, daripada mencari makna kebahagiaan dan kehidupan yang sesungguhnya. Maka Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu…” (Mat 6:33). St. Agustinus menjelaskan, “Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya adalah kebaikan bagi kita yang harus menjadi tujuan kita. Tetapi karena untuk mencapai tujuan ini kita harus berjuang keras di hidup ini…, Ia berjanji, “Semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Bahwa Ia berkata, [carilah] “dahulu” [Kerajaan Allah] maksudnya adalah bahwa hal-hal yang lain itu adalah untuk dicari di tempat kedua, bukan dari segi waktu, tapi dari segi nilai; yang satu itu adalah kebaikan kita, sedangkan yang lain adalah kebutuhan kita. Contohnya, kita jangan mewartakan [Injil] supaya kita bisa makan, sebab jika begitu kita menjadikan Injil lebih rendah nilainya daripada makanan kita; tetapi kita harus makan supaya kita dapat mewartakan Injil. Tapi kalau kita ‘mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya,’, yaitu menempatkan Kerajaan dan kebenaran-Nya di atas segalanya yang lain, dan mencari segalanya yang lain itu demi Kerajaan-Nya, kita harusnya tidak kuatir karena takut kekurangan apa yang kita perlukan. Dan karena itu Ia berkata, ‘Semua itu akan ditambahkan kepadamu;’ yaitu tentu, tanpa menjadi halangan bagimu: supaya kamu saat mencari hal-hal tersebut tidak malah berpaling dari yang lainnya [Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya], maka Ia menyediakan kedua tujuan itu di hadapanmu” (St. Augustine, Sermon in Mont., ii, 16).

Betapa Tuhan yang adil dan penuh kasih ini begitu memahami dan mengasihi kita. Ia selalu menyertai kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Kasih-Nya kepada kita melampaui kasih ibu kepada anaknya, melampaui kasih siapa pun di dunia. Ia memahami apa yang kita perlukan dan akan mencukupkan kebutuhan kita, asalkan kita mau menempatkan Dia di tempat yang utama dalam kehidupan kita…. Allah kita adalah Allah yang hidup dan peduli pada kita, yang menghendaki kita berbahagia, baik dalam kehidupan ini, tetapi terutama dalam kehidupan kekal…. Ya, Allahku, aku percaya kepada-Mu… Aku bersyukur atas kasih-Mu yang tiada batas-Nya, dan kini terimalah hormat dan kasihku kepada-Mu

Kuraih rosarioku. Kubuat Tanda Salib, dan mulailah kudaraskan, “Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang Tunggal Tuhan kita….” Sambil kuresapkan dalam hatiku, kasih-Nya kepadaku dan kasihku kepada-Nya…

Waktu Tuhan Selalu Tepat

0

Pengantar dari Editor:
Tuhan mengerti akan kerinduan terdalam manusia, yang seringkali manusia sendiri tidak menyadarinya. Yaitu menemukan Dia dan mengalami kasih-Nya, Sumber segala kasih. Sekalipun kerasnya kehidupan kadang membuat kita mengingkariNya dengan sekuat tenaga, Dia tidak pernah kekurangan cara untuk menuntun kita dan membiarkan Diri-Nya ditemukan kembali oleh anak-anak-Nya, pada waktu-Nya yang paling indah. Namun keterbukaan diri kita, peran aktif dan perjuangan dari keluarga/kerabat juga sangat diperlukan, agar kerinduan asali itu tidak sampai padam. Kisah yang dibagikan untuk kita semua oleh Rachel Stefanie, (yang di situs Katolisitas ini juga pernah berbagi kisah penyelenggaraan Tuhan yang luar biasa bagi dirinya di tengah keterbatasan penglihatannya yang mengalami kelainan sejak kecil), sekali lagi meneguhkan iman kita bahwa Tuhan Mahasabar dan Ia mengasihi kita jauh lebih dalam daripada kita mengasihi diri kita sendiri.

Saya Rachel Stefanie. Perkenankan saya berbagi kisah kesaksian iman mengenai papa mertua saya, yang telah dipanggil Tuhan pada tahun 2015 yang lalu. Bagaimana kami sekeluarga sungguh menyaksikan betapa Tuhan sedemikian mengasihi Papa, sekalipun pada awalnya Papa bersikeras tidak mau mempercayaiNya.

Suami saya adalah anak ke-2 dari tiga bersaudara, dan dalam keluarganya hanya dia sendiri yang Katolik, sementara yang lainnya adalah Protestan. Tetapi agama Papa tidak jelas. Setiap kali ditanya tentang agamanya, Papa selalu menjawab, “Gua anak Sun Go Kong.”

Papa selalu menolak untuk diajak ke Gereja mana pun, baik Protestan, maupun Katolik. Menurutnya, semua agama itu sama saja, semuanya munafik! Ujung-ujungnya duit!

Jika menengok ke masa kecilnya, pada awalnya keluarga besar Papa penganut Kong Hu Cu, tapi tidak terlalu aktif, apalagi Papa. Dari muda, Papa jarang ke Kelenteng. Saat menikah, Papa pernah mengalami kegagalan dalam bisnis. Kemudian, bersama Mama, dia mencoba bangkit dengan usaha rumahan, yaitu sirup limun. Puji Tuhan, melalui usaha kecil-kecilan ini, mereka mampu membiayai sekolah ketiga anaknya, walaupun pengorbanan yang harus mereka keluarkan sangatlah besar. Menurut penuturan suamiku, setiap hari Mama harus bangun jam empat pagi untuk mulai mengerjakan pembuatan sirup limun ini, dan baru berhenti pada jam dua pagi. Jadi waktu istirahatnya hanya dua jam.

Di masa itu, Papa mendengar bahwa salah satu partai politik sedang mengadakan program pendampingan untuk UKM, yaitu dalam bentuk bantuan finansial. Papa segera mendaftar, dan sangat berharap bisa terpilih. Tapi ternyata yang terpilih adalah saingan bisnisnya yang notabene sudah memiliki usaha yang jauh lebih besar dan sukses daripada Papa. Ia pun semakin depresi, tidak bisa menerimanya. Kondisi Papa yang terpuruk itu semakin diperparah oleh ulah anak pertamanya yang nakal, sampai terjerumus ke dalam narkoba, suka mencuri uang hasil limun. Perlahan-lahan, kejiwaan Papa mulai terpengaruh. Ia sering berpikir semua orang ingin mencelakakan keluarganya. Bisa dibilang, Papa sudah termasuk dalam kategori penderita Schizophrenia. Sebenarnya Papa pada dasarnya adalah orang yang paling berpikiran positif. Dia sering menasihati anak-anaknya untuk tidak cepat mencurigai orang lain. Tetapi kalau penyakitnya kambuh, Papa akan menjadi orang yang paling curigaan sedunia. Semua orang dibilangnya penjahat, antek-antek saingan bisnisnya yang terpilih program UKM itu, dan tak terkecuali para pemuka agama.

Pada tahun 2009, Papa mulai terkena stroke, dan beberapa kali pelayan doa dari Gereja (Katolik maupun Protestan) datang berkunjung ke rumah sakit untuk mendoakan Papa. Di depan mereka, Papa hanya diam saja. Tapi setelah mereka pulang, tinggal Mama yang kena getahnya, karena Papa akan mulai menumpahkan kekesalannya terhadap para pelayan doa itu, kepada Mama. Hal itu membuat Mama ketakutan untuk menerima orang-orang yang hendak mendoakan Papa, walaupun Mama tahu bahwa mereka itu semua bermaksud baik.

Pernah juga suamiku mencoba berbicara kepada Papa dengan sangat hati-hati untuk memanggil romo ke rumah, supaya Papa bisa didoakan, tetapi seperti biasa, Papa langsung menolaknya dengan keras. Dan seperti biasa juga, setelah suamiku pulang, tinggal Mama yang kena semprot Papa.

Papa pernah mengatakan kepada Mama, “Kalau elu semua mau ke Gereja, pergi aja sana. Gua nggak bakal ngelarang. Tapi jangan sekali-kali elu semua maksa-maksa gua, karena buat gua semua agama itu penipu!”

Sesungguhnya usaha dari keluarga Papa untuk membawa Papa mengenal Kristus sudah sangat banyak. Bukan dari keluarga inti saja, tapi juga dari adik-adik Papa yang sudah dibaptis menjadi Katolik. Mama sendiri menjadi seorang Kristen Protestan karena saat mudanya dulu, ia sering diajak keponakannya ke GPDI, dan Mama mengatakan bahwa ia merasa damai bergereja di sana. Mama dibaptis menjadi Kristen pada tahun 1991, enam belas tahun setelah menikah pada tahun 1975.

Akhirnya enam tahun pun berlalu sejak Papa menderita stroke. Keadaan Papa semakin parah. Kami semua sungguh mengkuatirkan jiwa Papa, seandainya sewaktu-waktu Tuhan memanggilnya pulang. Melihat ke-keraskepala-an Papa, saya sebagai menantu hanya bisa membawanya dalam doa. Saya percaya Tuhan mengasihi Papa, dan saya selalu ingat akan ayat dalam Kisah Para Rasul 16:31 yang menyatakan: “Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Hingga pada suatu hari, adik kandung Papa dari Lampung datang berkunjung ke rumah, dia seorang Katolik. Dengan sangat hati-hati, dia berkata kepada Papa bahwa Papa harus memilih mau ikut siapa, melihat kondisinya yang semakin parah. Mau ikut isterinya, Protestan, atau mau ikut anak ke-duanya (suami saya), Katolik? Dan saat itu Papa hanya menjawab, “Gua pikirin dulu.” Suamiku mengingat, ia pernah bertanya, apakah Papa percaya Yesus? Papa menjawab bahwa ia percaya. Yesus memang baik, tapi pendeta dan romonya saja yang nggak bisa dipercaya, ujarnya. Sekali-kalinya Papa mau masuk gereja, yaitu saat pernikahan kami di Gereja St. Kristoforus, Jakarta.

Beberapa hari kemudian, Papa berkata kepada Mama bahwa dia mau ikut anak ke-duanya menjadi Katolik. Setelah berkata demikian, kondisi Papa menurun drastis, dia sudah tidak dapat berbicara lagi, tetapi masih mampu membuka mata dan mendengar. Hal itu membuat suami saya pontang-panting mencari romo untuk secepatnya membaptis Papa. Kebetulan saat itu bertepatan dengan hari-hari perayaan Tri Hari Suci menjelang Paskah, sehingga kami kesulitan mendapatkan romo.

Tepat di hari Minggu Paskah, seorang teman kami, Ibu Ruth Soelaiman, berhasil mendapatkan romo. Itu pun ia sampai harus menunggu di depan pintu gereja, agar saat Misa Paskah selesai, dia bisa langsung mencegat romo dan membawanya pergi.

Sementara di rumah sudah berkumpul banyak orang, dari ketua lingkungan, suster, asisten imam, sampai anggota dewan paroki. Mereka sudah bersiap-siap, seandainya romo tidak ada, maka asisten imam yang akan membaptis Papa. Tepat di detik-detik terakhir, Ibu Ruth pun tiba dengan menggiring romo, RD. Sridanto Aribowo N. Puji Tuhan, akhirnya tepat di hari Minggu Paskah, Papa pun dibaptis oleh Romo dengan nama baptis “Stefanus”, serta menerima Sakramen Perminyakan. (Karena Papa sudah tidak dapat berbicara lagi, maka yang memilihkan nama baptisnya adalah anak ke-duanya yang juga memilih Stefanus sebagai nama baptisnya)

Satu minggu setelah dibaptis, yaitu di hari Sabtu pagi, menjelang hari Minggu Kerahiman Ilahi, seorang asisten imam datang ke rumah untuk memberikan Komuni Kudus kepada Papa. Bisa dibilang, itu adalah komuni pertama Papa setelah dibaptis. Dan sore harinya, sekitar pukul empat, dalam usia 65 tahun, Papa pun meninggalkan kami semua sambil diiringi doa Koronka.

Saya mendengar Mama berbaring di samping jenazah Papa sambil berbisik, “An, jangan lupa ya nanti di sana elu doain gua…”

Papa kami, Stefanus Iskandar Mursalim (Lim Hok An), memang sudah pergi meninggalkan kami, tapi bagi kami itu merupakan sebuah kemenangan bagi Papa, karena Tuhan sendiri yang sudah berkenan memilih Papa untuk menyelamatkannya menjelang saat-saat terakhir hidupnya di dunia.

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikanNya kepadamu.” (Yohanes 15:16)

Oh ya, ada kejadian yang dialami Wiria, suami saya, setelah pemakaman Papa. Saat Wiria sedang berbaring di tempat tidur, tiba-tiba saja dia melihat Papa berdiri di depannya sambil memegang Salib di dadanya. Salibnya bersinar terang, dan wajah Papa kelihatan bahagia. Penglihatan sepintas itu terasa seperti mimpi, tapi juga kelihatan sangat nyata. Ada juga saudara kami yang berkata, saat dia berdoa di depan peti jenazah, dia melihat sinar yang terang terpancar dari dalam peti. Mungkin kedua pengalaman itu bisa dipercaya atau mungkin juga tidak. Tapi bagi kami, khususnya saya dan Wiria, semakin menguatkan keyakinan kami bahwa Salib yang merupakan tanda kemenangan Kristus yang Papa pegang menjadi bukti bahwa sekarang Papa sudah menang bersama Kristus.

Demikianlah kisah kesaksian saya, semoga menjadi berkat demi kemuliaan nama Tuhan yang lebih besar lagi. Amin.

Rachel Stefanie
‘Biarlah melalui kegelapanku, orang lain melihat Terang’
Penulis buku: TS. Aku Buta Tapi Melihat
Http://www.Remang-remang.blogspot.com

Membalas air tuba, dengan air susu

0
Sumber gambar: http://www.turnbacktogod.com/jesus-christ-wallpaper-sized-images-pic-set-19/

[Hari Minggu Biasa VII: Im 19:1-2, 17-18; Mzm 103:1-13; 1Kor 3:16-23, Mat 5:38-48]

Hari Minggu ini kita mendengarkan ajaran Tuhan Yesus yang mungkin paling sulit: “Bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu…” Lalu, “Kasihilah musuhmu!” Juga, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu!” Waduh!  Mudah diucapkan, tapi tak mudah dilakukan. Bukankah sudah menjadi kecenderungan kita, bahwa kita tidak terima kalau disakiti orang lain? Wong urusan pilkada saja bisa membuat orang jadi sensitif, bagaimana kalau itu urusan lain yang lebih pribadi sifatnya?  Lalu sebenarnya, apa maksudnya, kalau kita sudah ditampar pipi kanan, koq harus memberikan pipi kiri pula?

St. Agustinus menjelaskannya demikian, “Sebab Tuhan Yesus telah bersedia, tidak hanya untuk ditampar pipi-Nya, bagi keselamatan manusia, tetapi untuk disalibkan dengan seluruh tubuh-Nya. Maka dapat ditanyakan, Apakah yang secara khusus ditandai dengan pipi kanan? Sebab wajah adalah sesuatu yang dengannya manusia dikenal. Ditampar di wajah, menurut sang Rasul adalah ekspresi penghinaan dan kebencian. Tapi karena kita tak dapat mengatakan ‘wajah kanan’ dan ‘wajah kiri’, dan namun kita memilikinya, satu sisi di hadapan Tuhan dan satu sisi di hadapan dunia, maka itu terbagi seolah-olah menjadi pipi kanan dan pipi kiri, sehingga barangsiapa dari antara murid Kristus yang dibenci karena ia adalah seorang Kristiani, dapat menjadi siap untuk lebih dibenci karena apapun penghormatan dari dunia yang dimilikinya” (St. Augustine, Serm. in Mont., i, 19).

Kupandang salib yang tergantung di dinding dekat meja belajarku. Di sana nampak jelas pengorbanan Tuhan Yesus, yang tidak hanya merelakan kedua pipi-Nya ditampar, melainkan seluruh tubuh-Nya dihancurkan, demi menebus dosa-dosaku dan dosa seluruh dunia. Salib-Nya menjadi tanda penghinaan dan kebencian yang dinyatakan oleh manusia kepada Tuhannya. Melalui penderitaan-Nya di salib, Yesus seolah telah kehilangan kemuliaan ilahi-Nya, dan bersamaan itu juga, kehilangan penghormatan yang diterimaNya dari para pengikut-Nya. Namun Yesus tidak membenci orang-orang yang telah menyalibkan Dia, dan bahkan mendoakan mereka (lih. Luk 23:34). Demikianlah, Yesus telah memberikan contoh kepada kita, bagaimana melaksanakan ajaran-Nya yang paling sulit ini: yaitu untuk tidak membalas ketika dihina dan disakiti, dan untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka. Yesus menanggung semua penderitaan-Nya, demi kasih-Nya kepada Bapa dan kepada kita. Kepada kesempurnaan kasih inilah kita pun dipanggil. “Haruslah kamu sempurna…” (Mat 5:48), kata Yesus. Yaitu untuk dapat mengasihi Allah dan sesama, termasuk orang-orang yang telah menyakiti hati kita. Sebab kasih yang sejati diukur dari sejauh mana kita tetap mengasihi walau tidak dibalas dengan kasih, atau bahkan walau dibalas dengan rasa benci. Kalau ada pepatah “air susu dibalas dengan air tuba” pada kisah anak durhaka; hari ini Injil mengajarkan kepada kita sebaliknya. “Air tuba dibalas dengan air susu”, jika kita ingin menjadi sempurna. Artinya, membalas kejahatan dengan kebaikan; membalas rasa sakit hati, dengan kemurahan hati.

Setiap orang punya ceritanya sendiri-sendiri, tentang siapakah orang yang pernah menyakiti hatinya, atau siapa yang baginya paling sulit dikasihi. Hari ini sabda Tuhan mengingatkan kita, agar kita mengasihi dan mendoakan orang-orang yang pernah mengisi lembaran kelabu dalam hidup kita. Sulit mungkin, memang, tetapi itulah tantangannya bagi kita, jika kita mau melaksanakan sabda Tuhan hari ini. “Kuduslah kamu…. Jangan engkau membenci saudaramu… jangan engkau menuntut balas, dan jangan menaruh dendam, melainkan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri!” (Im 19: 2, 17-18). Maka mengasihi sesama bukanlah suatu pilihan—boleh ya boleh tidak—tetapi suatu perintah Allah. Kalau kita sungguh mengasihi Allah, maka buktinya adalah kita mengasihi sesama, dan bukti kuatnya lagi adalah, kalau kita bisa mengasihi orang yang membenci kita. Tentang yang terakhir ini, aku terkesan dengan perkataan mendiang Mother Angelica, pendiri stasiun televisi Katolik EWTN. Di salah satu talk show-nya, ia pernah ditanya, bagaimana menghilangkan rasa benci terhadap orang yang telah pernah menyakiti hati kita. Dengan candanya yang khas, Mother Angelica kurang lebih menjawab demikian, “Coba bayangkan kalau Anda dan orang itu sama-sama sudah meninggal dunia… Lalu musuh Anda itu ternyata masuk Surga, karena ia sempat bertobat sebelum meninggalnya… tetapi kamu tak bisa masuk, karena kamu masih menyimpan rasa benci terhadapnya….” Tak elak, para pemirsa tertawa mendengarnya. Lalu tambahnya, “Maka, lebih baik, ampunilah dia. Sebab siapa tahu, bahwa tiket Anda untuk dapat masuk Surga, tergantung dari bisa atau tidaknya Anda mengampuni dia. Bayangkan…. kalau Anda masuk Surga, Andalah yang harus berterima kasih kepadanya, sebab justru karena dialah, Anda dibentuk Tuhan menjadi orang yang kudus, yang bisa mengampuni, seperti Tuhan Yesus telah mengampuni Anda!” Jujur saja, sekarang setiap kali kujumpai orang-orang yang menjengkelkan, aku selalu ingat perkataan Mother Angelica ini. Dan aku berdoa, O Tuhan, bantulah aku untuk mengampuni… jangan biarkan aku kelak hanya menunggu di luar pintu Surga, karena tidak bisa mengampuni dan tidak mendoakan orang-orang yang telah menyakiti hatiku.  

Juga tak kalah berharga, nasehat dari St. Maksimus dari buku Ibadat Harian hari ini. Ia memberikan kuncinya, agar kita bisa mengasihi, mengampuni, dan tahan menderita. Yaitu, kita harus memiliki kasih Tuhan, dan kasih akan Tuhan itu harus melebihi perhatian kita kepada hal-hal duniawi, supaya kita tidak jadi orang yang egois dan baper. Begini kata St. Maksimus, “Kemurahan hati tidak ditunjukkan hanya dengan memberi uang. Kemurahan hati lebih dinyatakan dengan melayani secara pribadi, seperti juga menyampaikan sabda Tuhan kepada sesama. Nyatanya, kalau pelayanan seseorang kepada saudara-saudaranya sungguh tulus dan kalau ia sungguh melepaskan perhatian kepada hal-hal duniawi, ia terbebas dari keinginan mementingkan diri sendiri. Sebab ia kini mengambil bagian dalam pengetahuan dan kasih Tuhan. Karena ia memiliki kasih Tuhan, ia tidak mengalami kekuatiran, sebab ia mengikuti Tuhan Allahnya. Sesungguhnya, mengikuti Nabi Yeremia, ia tahan terhadap setiap bentuk celaan dan kesulitan, tanpa menyimpan pikiran jahat terhadap siapapun… Jangan katakan: ‘… Hanya iman saja akan Tuhan Yesus Kristus, dapat menyelamatkan saya.’ Dari dirinya sendiri iman tak dapat mencapai apapun. Sebab bahkan setan pun percaya dan gemetar ketakutan [di hadapan Tuhan]. Tidak, iman harus digabungkan dengan cinta kasih yang aktif akan Tuhan, yang dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan baik. Orang yang berbuat kasih dikenali dari pelayanan yang tulus dan tahan terhadap penderitaan, kepada sesamanya, dan juga terlihat dari bagaimana ia menggunakan  harta bendanya dengan benar/ bijaksana.” Rupanya rahasia supaya orang bisa membalas kejahatan dengan kebaikan adalah, ia harus memiliki kasih Tuhan terlebih dahulu di dalam hatinya. Sebab dengan menempatkan Tuhan di tempat yang utama dalam hidup kita, kita akan dikuatkan dan dimampukan untuk mengikuti teladan-Nya: untuk tetap mengasihi sesama walau belum tentu dibalas kasih, tetap mengampuni walau belum tentu tidak disakiti lagi. Sebab kita mengingat, bahwa Tuhan terlebih dahulu telah mengasihi dan mengampuni segala kesalahan kita.

Tuhan, tambahkanlah di hati kami, kasih kepada-Mu, agar kami dapat mengasihi dan mengampuni sesama kami.  Jauhkan dari kami sikap mementingkan diri sendiri. Bantulah kami agar kami dapat melayani sesama dengan tulus dan tahan terhadap berbagai kesulitan dan penderitaan. St. Maksimus, doakanlah kami. Amin.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab