Home Blog Page 132

Apa hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

2

Ada pandangan yang menganggap bahwa Perjanjian Baru itu seperti tambahan ataupun revisi dari Perjanjian Lama. Benarkah demikian? Untuk memahami hubungan antara keduanya, mari kita mengacu kepada Katekismus Gereja Katolik, yaitu apakah itu Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan apakah hubungan antara keduanya.

1. Perjanjian Lama

KGK 121    Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya (Bdk. DV 14) karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.

KGK 122    “Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia.” Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama “juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati. … Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita” (DV 15).

KGK 123    Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].

2. Perjanjian Baru

KGK 124    “Sabda Allah, yang merupakan kekuatan Allah demi keselamatan semua orang yang beriman (lih. Rm 1:16), dalam kitab-kitab Perjanjian Baru disajikan secara istimewa dan memperlihatkan daya kekuatannya” (DV 17). Tulisan-tulisan tersebut memberi kepada kita kebenaran definitif wahyu ilahi. Tema sentralnya ialah Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, karya-Nya, ajaran-Nya, kesengsaraan-Nya, dan pemuliaan-Nya begitu pula awal mula Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus (Bdk. DV 20)

KGK 125    Injil-injil merupakan jantung hati semua tulisan sebagai “kesaksian utama tentang hidup dan ajaran Sabda Yang Menjadi Daging, Penyelamat kita” (DV 18).

KGK 126    Dalam penyusunan Injil-injil dapat kita bedakan tiga tahap:

1. Kehidupan dan kegiatan mengajar Yesus. Bunda Gereja kudus tetap mempertahankan dengan teguh dan sangat kokoh, bahwa keempat Injil “yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidup-Nya di antara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis 1:1-2)” (DV 19).
2. Tradisi lisan. “Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran” (DV 19).
3. Penulisan Injil-Injil. “Adapun penulis suci mengarang keempat Injil dengan memilih berbagai dari sekian banyak hal yang telah diturunkan secara lisan atau tertulis; beberapa hal mereka susun secara agak sintetis, atau mereka uraikan dengan memperhatikan keadaan Gereja-Gereja; akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, namun sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus” (DV 19).

KGK 127    Injil berganda empat itu menduduki tempat istimewa di dalam Gereja. Ini dibuktikan oleh penghormatan terhadapnya di dalam liturgi dan daya tarik yang tidak ada bandingnya, yang mempengaruhi orang kudus dari setiap zaman. “Tidak ada satu ajaran yang lebih baik, lebih bernilai dan lebih indah daripada teks Injil. Lihatlah dan peganglah teguh, apa yang tuan dan guru kita Kristus ajarkan dalam kata-kata-Nya dan lakukan dalam karya-karya-Nya” (Sesaria Muda).”Terutama Injil sangat mengesankan bagi saya sewaktu saya melakukan doa batin; di dalamnya saya menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa saya yang lemah ini. Di dalamnya saya selalu menemukan pandangan baru, dan makna yang tersembunyi dari penuh rahasia” (Teresia dari Anak Yesus. ms autob. A 83v).

3. Kesatuan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

KGK 128    Sudah sejak zaman para Rasul (Bdk. 1Kor 10:6,11; Ibr 10:1; 1Ptr 3:21) dan juga dalam seluruh tradisi, kesatuan rencana ilahi dalam kedua Perjanjian itu dijelaskan oleh Gereja melalui tipologi. Penafsiran macam ini menemukan dalam karya Tuhan dalam Perjanjian Lama “Prabentuk” (tipologi) dari apa yang dilaksanakan Tuhan dalam kepenuhan waktu dalam pribadi Sabda-Nya yang menjadi manusia.

KGK 129    Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11). Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet” (Agustinus, Hept. 2,73, Bdk. DV 16).

KGK 130    Tipologi berarti adanya perkembangan rencana ilahi ke arah pemenuhannya, sampai akhirnya “Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15:28). Umpamanya panggilan para bapa bangsa dan keluaran dari Mesir tidak kehilangan nilai sendiri dalam rencana Allah, karena mereka juga merupakan tahap-tahap sementara di dalam rencana itu.

Jadi Gereja tidak pernah mengatakan bahwa Perjanjian Lama telah dibatalkan. Demikian pula, Perjanjian Baru bukan semata-mata tambahan yang tidak ada kaitannya dengan Perjanjian Lama, dan juga bukan semata-mata revisi yang membatalkan semua Perjanjian Lama. Sebaliknya, apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama adalah prabentuk/ tipologi dari apa yang kemudian digenapi oleh Kristus dalam Perjanjian Baru. Dalam artian inilah maka Kristus mengatakan bahwa “satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat 5:18). Namun penggenapan dari apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama tersebut, tidak harus sama persis dengan pernyataan dalam Perjanjian Lama. Sebab penggenapan tersebut mengacu kepada tema sentralnya, yaitu Yesus Kristus, karya-Nya, ajaran-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan prinsip ini, maka hukum moral yang diajarkan oleh hukum Taurat (yaitu Sepuluh perintah Allah) tetap berlaku, sebab hukum tersebut merupakan prabentuk/tipologi hukum cinta kasih yang diajarkan Kristus dalam Perjanjian Baru. Sedangkan hukum Taurat yang mencakup tentang perintah-perintah, terutama ketentuan seremonial dan hukuman/ sangsi, yang ditetapkan oleh dekrit para rabi Yahudi, tidak lagi berlaku. Sebab keberadaan hukum-hukum seremonial dan sangsi adalah demi mempersiapkan bangsa Yahudi untuk menerima Kristus Sang Mesias, yaitu bagaimana melalui hukum-hukum itu bangsa Yahudi dipisahkan dari bangsa-bangsa lainnya, dikuduskan, sebagai bangsa pilihan Allah. Agar melalui bangsa Yahudi, segenap bangsa menerima keselamatan dari Allah.  Maka setelah Kristus datang, hukum-hukum seremonial dan sangsi tidak lagi berlaku, sebab pemisahan ini tidak lagi diperlukan, karena kedatangan Kristus justru untuk menjadikan seluruh bangsa menjadi satu di dalam diri-Nya.  Inilah sebabnya maka dikatakan dalam Ef 2:15-16, “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”

St. Thomas Aquinas, dalam bukunya Summa Theology, menjelaskan bagaimana memahami makna penggenapan hukum Taurat dan pembatalan hukum Taurat tersebut, sebagaimana telah diulas di sini, silakan klik.

Angelus Bapa Fransiskus, 17 Maret 2013

1

Selamat pagi saudara saudariku yang terkasih! Setelah pertemuan pertama kita hari Rabu yang lalu, hari ini saya menyampaikan salamku untuk kalian semua dan saya senang untuk melakukannya pada hari Minggu, harinya Tuhan! Hal ini sangat indah dan penting bagi kita kaum Kristiani; untuk bertemu pada hari Minggu, untuk memberi salam satu dengan yang lain, dan untuk berbicara seperti yang kita lakukan sekarang ini, di lapangan ini (red-lapangan di depan Basilika Santo Petrus). Lapangan ini, yang berkat media massa, menjadi bagian dari dunia.

Pada hari Minggu Pra Paskah ke-lima ini, Injil menceritakan tentang seorang wanita pendosa yang diselamatkan Yesus dari ancaman hukuman mati. Cerita ini menunjukkan sikap Yesus: kita tidak mendengar kata – kata penghinaan, kita tidak mendengar kata – kata yang mengadili, melainkan kata – kata kasih dan kemurahan hati yang mengajak kita untuk berubah. “Aku pun tidak menghakimi kamu. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi!” Saudara – saudari! Rupa Allah seperti seorang bapak yang murah hati dan selalu sabar. Pernahkah kalian berpikir mengenai kesabaran Allah, kesabaran yang Ia miliki untuk setiap dari kita? Itulah kemurahan hatinya. Dia selalu memiliki kesabaran, selalu sabar terhadap kita, mengerti kita, menanti kita, dan tidak pernah lelah untuk mengampuni kita jika saja kita tahu bagaimana caranya kembali kepadanya dengan hati yang penuh penyesalan. “Besarlah kemurahan hati Tuhan”, seperti tertulis dalam Mazmur.

Beberapa hari ini, saya berkesempatan membaca sebuah buku yang dikarang oleh seorang kardinal – Kardinal Kasper, ahli teologi yang handal dan baik, mengenai kemurahan hati. Dan buku tersebut berpengaruh baik sekali terhadap saya, buku tersebut….tetapi jangan kalian berpikir saya ingin mempromosikan buku – buku yang ditulis oleh para kardinal saya. Bukan demikian maksud saya. Tetapi buku tersebut memberikan efek yang sangat baik bagi saya. Kardinal Kasper mengatakan bahwa mendengar kata ‘murah hati’ mengubah segalanya. Ini adalah hal terbaik yang pernah saya dengar, hal ini mengubah dunia. Sedikit kemurahan hati membuat dunia menjadi sedikit lebih hangat dan adil. Kita harus mengerti pula kemurahan hati Allah, Bapa yang sangat pemurah yang memiliki kesabaran yang luar biasa.. Coba kalian pikir tentang Nabi Yesaya yang menyatakan bahwa walaupun dosa kita semerah kirmizi, kasih Allah akan membuatnya menjadi seputih salju. Indah sekali.

Saya ingat akan suatu saat, di mana saya baru saja diangkat menjadi Uskup pada tahun 1992, gambar Bunda Maria dari Fatima dibawa berkunjung ke Buenos Aires dan sebuah Misa penyembuhan akbar dirayakan. Aku pergi ke pengakuan selama Misa dan menjelang akhir Misa, aku harus pergi untuk memberikan Krisma setelahnya. Kemudian seorang wanita tua mendekatiku. Ia sangat rendah hati, sangat-sangat rendah hati, dan berusia lebih dari 80 tahun. Aku melihatnya lalu berkata,”Nek (di tempat asalku, kita memanggil orang tua dengan sebutan ‘nenek’ atau ‘kakek’), apakah anda ingin mengaku dosa?”. “Ya”, jawabnya.
“Tapi kalau anda tidak melakukan dosa?”
“Kita semua telah berdosa.”
“kalau misalnya Ia tidak mengampuni anda?”
“Tentu saja Tuhan mengampuni semua.”
” Bagaimana anda bisa bisa yakin tentang hal ini, nyonya?”
Lalu, ia menjawab,”Jika Tuhan tidak mengampuni semua, dunia tidak akan tetap ada seperti sekarang.” Aku jadi ingin bertanya padanya,”Nyonya, apakah anda sekolah di The Gregorian? (Universitas Gregorian Kepausan dan adalah Universitas Yesuit tertua di dunia, didirikan tahun 1551 oleh St. Ignatius Loyola.) Karena apa yang dikatakannya adalah kebijaksanaan yang diberikan oleh Roh Kudus; kebijaksanaan yang mendalam dari kemurahan hati Allah. Jangan kita melupakan perkataan ini: Allah tidak pernah lelah untuk mengampuni kita, tidak pernah! Jadi, Bapa di mana letak permasalahannya? Masalahnya ialah kita yang lelah, kita tidak mau, kita lelah untuk memohon pengampunan. Jangan pernah lelah. Allah adalah Bapa yang maha kasih yang selalu mengampuni, yang selalu memiliki kemurahan hati untuk kita semua. Dan marilah kita juga belajar untuk bermurah hati satu sama lain. Marilah kita juga mohon perantaraan Bunda Maria yang pernah memeluk dengan tangannya sendiri Kemurahan Hati Allah yang menjadi manusia.

Terima kasih untuk sambutan kalian dan untuk doa – doa kalian. Saya minta kalian untuk mendoakan saya. Saya memperbaharui pelukan saya untuk semua orang beriman di kota Roma dan juga untuk kalian semua yang telah datang dari banyak kota di Italia dan dunia juga untuk kalian yang bergabung dengan kita melalui perantaraan media massa. Saya telah memilih nama Santo Fransiskus Asisi, Santo pelindung Italia, dan ini menyegarkan kembali hubungan spiritual saya dengan tanah ini, yang seperti kalian tahu, ialah tanah di mana keluarga saya berasal. Tetapi Yesus telah memanggil kita untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya, yaitu Gereja-Nya. Keluarga Allah yang berjalan bersama dalam iringan Injil. Semoga Allah memberkati kalian semua dan Sang Bunda melindungi kalian! Dan jangan lupa: Tuhan tidak pernah lelah untuk mengampuni. Kitalah yang seringkali lelah untuk mohon pengampunan.

Selamat berhari Minggu dan nikmati makan siang kalian !

Paus Fransiskus.
Lapangan Basilika Santo Petrus

Bagaimana menghilangkan kebiasaan bersungut-sungut?

1

Walaupun umumnya kita tidak ingin dan bahkan tidak suka bersungut-sungut, tapi nampaknya sungut-sungut itu dapat terjadi sebelum kita sempat menyadarinya. Komplain dapat otomatis keluar dari mulut kita, atau timbul di pikiran kita, sebelum kita sempat mencegahnya. Bahkan kebiasaan bersungut-sungut ini dapat terjadi pada saat kita sedang melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti dalam berbagai kegiatan gerejawi. Bagaimana caranya menghilangkan kebiasaan buruk ini?

St. Fransiskus dari Sales mengajarkan kepada kita bahwa untuk memperbaiki kelemahan kita, cara pertama yang harus kita lakukan adalah: kita mau dengan rutin memeriksa batin kita. Pemeriksaan batin membantu kita untuk secara jujur melihat kelemahan kita, dan agar kita semakin terdorong untuk memperbaikinya. Pemeriksaan batin ini minimal dilakukan sekali sehari, pada malam hari. Tentu jika diperlukan, dapat diadakan lebih sering, jika kita sedang berjuang keras mengalahkan kebiasaan buruk tertentu. Semakin sering pemeriksaan batin dilakukan, semakin meningkatlah kesadaran untuk menghindari kelemahan tersebut. Contoh doa dengan pemeriksaan batin, klik di sini.

Selanjutnya, Kitab Suci mengajarkan kepada kita beberapa cara untuk meninggalkan kebiasaan bersungut-sungut ini. Pertama adalah, kita mengingat bahwa Allah tidak menyukai tindakan ‘bersungut-sungut’ (Bil 11:1; 14:27-29). Allah tidak berkenan kepada sikap bangsa Israel yang bersungut-sungut di padang gurun, sehingga akhirnya mereka menerima akibatnya: mereka harus mengembara selama empat puluh tahun (lih. Ul 8:2), dan tak satupun dari generasi mereka dapat masuk ke tanah terjanji, kecuali Kaleb dan Yosua (lih. Bil 14:30; 15:30). Rasul Yakobus kembali mengingatkan kita agar kita jangan bersungut-sungut, agar jangan sampai kita dihukum (lih. Yak 5:9).

Namun, dikatakan juga dalam Kitab Suci, bahwa kasih melenyapkan ketakutan (1 Yoh 4:18). Maka bukan semata-mata ketakutan akan hukuman, yang seharusnya mendorong kita untuk tidak bersungut-sungut. Sebab yang utama perlu kita ingat adalah betapa besar kasih Allah yang sudah dicurahkan kepada kita terlebih dahulu, lewat pengorbanan Kristus, agar kita dapat diselamatkan. Kristus melakukan semuanya ini dengan rela, karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita. Maka jika kita ingin mengurangi kebiasaan bersungut-sungut ini, baiklah kita semakin sering merenungkan Jalan Salib Kristus, atau Peristiwa-peristiwa Sedih dalam doa Rosario. Kita biarkan teladan Kristus ini meresap di dalam hati kita, agar sedikit demi sedikit, Ia membentuk kita untuk menjadi lebih serupa dengan Dia. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yoh 3:16). Betapa kita perlu terus memandang Dia dan merenungkan pengorbanan-Nya, agar kita tidak cepat mengeluh dalam menjalani tugas dalam kehidupan kita sehari-hari. Sungguh, pengorbanan kita dalam hidup ini tak dapat dibandingkan dengan pengorbanan Kristus demi menyelamatkan kita.

Maka langkah selanjutnya, setelah kita merenungkan teladan kasih Kristus kepada kita, kita didorong untuk melakukan segala tugas kita dengan rela hati, dan bahkan dengan suka cita. Sebab bukankah sudah sepantasnya, kita membalas kasih Tuhan yang sudah tercurah tanpa batas bagi kita itu? Keinginan untuk mengasihi Tuhan ini akan selalu memurnikan hati kita, dan membuat kita tidak lekas kecewa ataupun bersungut-sungut, jika ternyata keadaan yang kita hadapi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Saat menghadapi kesulitan- kesulitan, misalnya: saat bantuan kita tidak/ kurang dihargai, saat kita menerima kritik pedas dari orang lain, atau saat maksud baik kita bahkan dicurigai- kita tidak menjadi lekas tawar hati. Sebab kasih kepada Tuhan akan memberikan kepada kita kekuatan dan dorongan untuk tetap setia melakukan tugas-tugas kita, karena kita tahu bahwa melalui semua itu, kita dimurnikan, dan dibentuk oleh Allah untuk menjadi semakin menyerupai Kristus. Kita dapat menyemangati diri kita sendiri dengan mengatakan, “Aku melakukan semua tugas ini untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.” Sebab kita mengingat apa yang diajarkan oleh Rasul Paulus, agar dalam melakukan tugas, kita “jangan hanya… untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” (Ef 6:6-7).

Maka, mari kita berdoa, agar Tuhan memberikan kepada kita hati seorang hamba yang siap sedia melayani Tuhan. Semoga kita dimampukan oleh Allah untuk melakukan segala tugas panggilan hidup yang dipercayakan-Nya kepada kita dengan rela, dengan kasih yang seutuhnya, dan dengan suka cita, tanpa mengeluh ataupun bersungut-sungut. Sebab kita menyadari bahwa semua pengorbanan kita -betapapun sederhananya- adalah kesempatan yang Tuhan berikan, agar kita semakin bertumbuh dalam kekudusan, yang dapat menghantar kita kepada kehidupan kekal. Semoga di saat akhir nanti, sabda Allah ini boleh kita dengar, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat 25:21)

Pesan Paus Fransiskus kepada umat Katolik di Buenos Aires, Argentina.

0

paus fransiskusPutra dan putriku yang terkasih, aku tahu kalian telah berkumpul di lapangan katedral. Aku tahu kalian mendoakan saya, aku sangat membutuhkannya. Berdoa adalah sesuatu yang indah karena kita menatap ke surga dan tahu bahwa kita memiliki Bapa yang baik, yakni Allah. Aku ingin memohon satu hal dari kalian. Aku ingin minta kita untuk melangkah bersama, memperhatikan satu sama lain, jangan menyakiti, lindungi kehidupan, lindungi keluarga, lindungi alam, lindungi orang muda, lindungi orang lanjut usia. Jangan ada benci atau pertengkaran. Buanglah iri hati. Dan jangan menguliti siapapun hidup – hidup, maksudnya ialah jangan menggosip. Bicaralah satu sama lain sehingga hasrat untuk melindungi satu sama lain tumbuh dalam hati kalian. Dan mendekatlah kepada Allah karena Allah itu baik. Dia selalu mengampuni dan mengerti. Jangan takut akan Dia. Mendekatlah ke Dia dan semoga Bunda memberkati kalian. Semoga Ia, sebagai seorang ibu, melindungi kalian. Jangan pernah lupakan Uskup satu ini (red-Paus Fransiskus, dulunya Uskup Agung setempat) yang sangat jauh dari kalian tetapi mencintai kalian dengan amat sangat. Berdoalah bagiku! Dengan perantaraan Maria, sang Perawan, dan malaikat pelindung kalian masing – masing, Santo Yoseph patriakh yang mulia, Santa Theresia dari kanak – kanak Yesus, dan santo – santa pelindung kalian masing – masing, semoga Allah yang Maha Kuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus memberkati kalian.

Paus Fransiskus.
19 Maret 2013.

Nasihat terhadap Percabulan (1Kor 6:12-20)

27

Di dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, nampaknya dosa percabulan adalah dosa yang semakin marak dilakukan. Hal ini sebetulnya memprihatinkan, sebab sepertinya zaman ini masih mirip dengan zaman di abad pertama, saat Rasul Paulus juga menghadapi situasi serupa dalam kehidupan masyarakat di Korintus. Sejarah manusia yang sudah melewati masa 2000 tahun setelah zaman Yesus Kristus nampaknya masih belum beranjak dari dosa yang satu ini. Marilah kita bersama melihat, apakah sebenarnya yang diajarkan oleh firman Tuhan tentang hal ini. Berikut ini adalah keterangan mengambil sumber utama dari penjelasan The Navarre Bible, tentang perikop tersebut: ((The Navarre Bible, Corinthians, ed. Jose Maria Casciaro, (Dublin: Four Courts Press, 1981), p. 80-84))

Latar belakang

Di perikop ini Rasul Paulus membahas tentang beratnya dosa percabulan/ ketidakmurnian. Kemerosotan moral yang terjadi di masyarakat sebelum kedatangan Yesus (lih. Rom 1:18-22) telah mengakibatkan beberapa bangsa pagan kehilangan perasaan berdosa dalam hal dosa seksual. Oleh sebab itu Rasul Paulus kerap mengingatkan beratnya dosa ini kepada orang-orang Kristen yang dilahirkan sebagai bangsa pagan (lih. Kis 15:29; 1 Tes 4:3-5).

Situasi di Korintus juga cukup serius. Sebagai kota pelabuhan, kota ini terkenal sebagai tempat persinggahan dan marak dengan dosa seksual. Banyak orang di Korintus menyembah dewi Aphrodite, dan pelacuran dipandang sebagai konsekrasi terhadap dewi tersebut. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat Korintus yang berasal dari masyarakat pagan ini, akan seriusnya dosa percabulan, dan menolak alasan apapun untuk membenarkannya (ay. 12-14). Rasul Paulus menjelaskannya mengapa dosa tersebut menentang Kristus (ay. 15-18) dan Roh Kudus (ay. 19-20).

Renungan

ay. 12-14. “Segala sesuatu halal bagiku.” Rasul Paulus menggunakan ekspresi ini untuk menjelaskan tentang kemerdekaan Kristiani, jika dibandingkan dengan ketentuan hukum Taurat Yahudi tentang kenajisan menurut hukum, makanan, pelaksanaan Sabat, dst, untuk menekankan kemerdekaan yang diperoleh Kristus bagi manusia melalui wafat-Nya di salib (lih. Gal 4:31). Kemerdekaan ini maksudnya adalah umat Kristen tidak lagi menjadi hamba dosa, -dan dengan mengambil bagian dalam Baptisan Kristus yang adalah Raja- telah memperoleh kuasa juga atas hal-hal duniawi. Namun banyak orang mengartikan ini dan menggunakan kebebasan mereka sebagai “excuse“/ pembenaran untuk hidup tanpa mengindahkan perintah-perintah Tuhan. Rasul Paulus menjelaskan bahwa apa yang tidak menentang hukum-hukum Tuhan adalah sesuatu yang diizinkan, dan apa yang menentang hukum Tuhan artinya adalah jatuh kembali kepada perbudakan yang lama [yaitu perbudakan dosa].

Bapa Gereja, Origen di abad ke 2 menjelaskan, “Tidaklah dapat terjadi, bahwa jiwa harus berjalan tanpa siapapun yang membimbingnya; itulah sebabnya mengapa jiwa yang telah dibebaskan dengan Kristus sebagai Raja-nya; mengalami bahwa beban-Nya mudah dan ringan (lih. Mat 11:30)- berbeda dengan iblis yang menguasai dengan jalan yang membebani/ memberatkan. (Origen, In Rom. Comm., V.6). Janji Kristus bahwa Ia akan menyertai kita untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya, seharusnya menjadi penyemangat bagi kita. Sebab oleh bantuan rahmat-Nya, apa yang nampaknya sulit ataupun mustahil di mata dunia, akan mampu kita laksanakan dengan gembira, contohnya, untuk tetap setia dalam perkawinan bagi pasangan suami istri, dan hidup selibat bagi kaum religius.

Kesetiaan ini nampaknya sulit dicapai, jika kita memakai kacamata dunia, yang menganggap bahwa dosa ketidakmurnian adalah kebutuhan yang wajar bagi tubuh, seperti halnya makanan. Rasul Paulus menolak anggapan ini, dengan menjelaskan bahwa hubungan antara makanan dan perut tidak sama dengan antara tubuh dan percabulan. Bahkan tubuh-pun tidak harus diarahkan untuk perkawinan, sebab walaupun perkawinan diperlukan untuk meneruskan generasi manusia, namun perkawinan tidak mutlak  bagi setiap orang (lih. St. Pius V Catechism, II, 8,12). Rasul Paulus menempatkan tubuh di ranah yang lebih tinggi: “Tubuh untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh”, dan adalah kehendak Tuhan untuk mengangkat tubuh -melalui kebangkitan badan- agar hidup kembali di Surga kelak (lih. Rom 8:11), di mana makanan atau apapun sehubungan dengan kebutuhan jasmani tidak lagi dibutuhkan oleh tubuh.

Dengan mengarahkan keseluruhan pribadi manusia- jiwa dan tubuh- kepada Tuhan, maka kebajikan kemurnian mempunyai sifat positif yang tinggi. Dengan kebajikan ini kita mempunyai kecenderungan untuk mengisi hati kita dengan kasih kepada Tuhan, yang telah memanggil kita bukan untuk melakukan kecemaran, melainkan untuk hidup di dalam kekudusan (lih. 1 Tes 4:7). Jose Maria Escriva Yang Terberkati mengatakan, “Jika seseorang mempunyai Roh Allah, kemurnian bukanlah merupakan suatu beban yang sukar dan memalukan, tetapi suatu peneguhan yang menggembirakan… Untuk menjadi murni, kita perlu menundukkan perasaan di bawah akal budi, tetapi untuk maksud yang murni, yaitu demi menanggapi tuntutan Kasih…. Kebajikan kemurnian ini seumpama sayap yang memampukan kita untuk membawa ajaran Tuhan, perintah-perintah-Nya, ke manapun di dunia ini, tanpa takut bahwa kitapun akan menjadi tercemar di dalam prosesnya. Sayap, bagi burung, adalah sebuah beban…. Tetapi tanpa sayap, burung tak dapat terbang…. [Ingatlah], jangan menyerah ketika kamu merasakan sengat pencobaan, dengan anggapan bahwa kemurnian adalah suatu beban yang tak dapat dipikul. Tabahlah! Terbanglah yang tinggi, menuju matahari, untuk mencapai Sang Kasih.” (Blessed Jose Maria Escriva, Friends of God, 177)

ay. 15-18. Rasul Paulus menjelaskan betapa besar pelanggaran dosa percabulan di mata Tuhan Yesus. Seorang Kristiani telah menjadi anggota Tubuh Kristus melalui Baptisan. Ia harus hidup dalam hubungan yang erat dengan Kristus, dengan mengambil bagian/ menerima hidup dari Kristus itu sendiri (lih. Gal 2:20), menjadi “satu Roh dengan Dia” (lih. Rom 12:5; 1Kor 12:5). Ketidakmurnian seksual (percabulan) adalah dosa yang berat karena dengan dosa ini, seseorang memutuskan hubungannya dengan tubuh Kristus, untuk menjadi satu tubuh dengan pelacur (lih. ay.16). Oleh karena itu, dosa percabulan adalah dosa melawan tubuh sendiri yang adalah bagian dari Tubuh Mistik Kristus, dan juga dosa melawan Kristus yang menghendaki kemurniannya.

“Jauhkanlah dirimu dari percabulan” adalah jalan yang harus ditempuh ketika kita sedang dicobai dalam hal kemurnian. Pencobaan melawan kebajikan yang lain dapat diatasi dengan menempatkan penahan, tetapi dalam hal ini, St. Thomas Aquinas mengajarkan, “seseorang tidak akan menang dengan menempatkan penahan, sebab semakin seseorang memikirkan tentang hal tersebut, semakin ia akan terpengaruh olehnya. Ia akan menang jika ia lari daripadanya – yaitu dengan menghindari pikiran-pikiran yang cemar itu sepenuhnya dan dengan menghindari semua kesempatan untuk berbuat dosa” (St. Thomas Aquinas, Commentary on 1 Cor, ad loc.) St. Yohanes Vianney memberikan tips serupa untuk melaksanakan kemurnian, demikian, “Pertama, waspadalah terhadap apa yang kita lihat, dan apa yang kita pikirkan, kita katakan dan kita lakukan; kedua, berlindunglah pada kekuatan doa; ketiga, seringlah menerima sakramen dengan pantas; keempat, larilah dari apapun yang dapat mencobai kita terhadap dosa ini, kelima, milikilah devosi kepada Perawan Maria yang terberkati. Jika kita melakukan semua ini, maka, tak peduli apapun yang dilakukan oleh musuh-musuh kita (si Jahat), dan tak peduli apakah kebajikan yang kita miliki masih sangat rapuh, namun kita dapat yakin bahwa kita sedang bertahan di dalamnya [dalam kebajikan kemurnian tersebut].” (St. John Mary Vianney, Sermon on the seventeenth Sunday after Pentecost, II).

ay. 19-20. Percabulan bukan hanya adalah pencemaran terhadap Tubuh Kristus, tetapi juga pencemaran terhadap bait Roh Kudus – sebab Tuhan berdiam/ tinggal di dalam jiwa, melalui rahmat sebagaimana di dalam kenisah (lih. 1 Kor 3:16-17). “Doa kontemplatif akan naik di dalam dirimu, ketika kamu merenungkan kenyataan yang sangat mengesankan ini: ‘Sesuatu yang bersifat material seperti tubuhku telah dipilih oleh oleh Roh Kudus untuk menjadi tempat kediaman-Nya ….. Aku tidak lagi menjadi milik diriku sendiri …. Tubuh-ku dan jiwa-ku, keseluruhan diriku, adalah milik Tuhan ….’ Dan doa ini mempunyai banyak konsekuensi praktis, yang berasal dari konsekuensi besar yang diajarkan oleh Rasul Paulus: “muliakanlah Tuhan dengan tubuhmu” (1 Kor 6:20). (Blessed Jose Maria Escriva, Conversations, 121).

“Kamu telah dibeli dan hargamu telah dibayar”: Penebusan kita oleh Kristus, yang diperoleh dari wafat-Nya di salib, adalah harga yang dibayar untuk menebus umat manusia dari dosa dan kematian. “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Pet 1:18-19; Ef 1:7). Itulah sebabnya, kita bukanlah lagi milik diri kita sendiri, kita sekarang adalah milik Kristus. Kita semua adalah anggota Kristus, bait Allah Roh Kudus. Permenungan akan kebenaran ini seharusnya senantiasa memimpin umat Kristiani untuk hidup sesuai dengan panggilannya, sebagai anak-anak angkat Allah.

Paus Leo Agung mengatakan, “Umat Kristiani, ingatlah akan siapa dirimu; kamu telah mengambil bagian dalam kodrat Tuhan. Maka, jangan berpikir untuk kembali kepada perbuatan jahatmu yang dahulu. Ingatlah akan Siapa kepalamu sekarang, dan yang tubuh-Nya kamu adalah anggotanya. Jangan lupa bahwa kamu telah dibebaskan dari kuasa kegelapan dan dibawa kepada terang, kepada Kerajaan Allah. Terima kasih kepada sakramen Baptis, engkau telah menjadi bait Allah Roh Kudus. Jangan berpikir untuk mengusir Sang Tamu Agung dengan berbuat kejahatan; jangan berpikir untuk menundukkan dirimu kepada perbudakan setan, sebab harga yang telah dibayar untukmu adalah darah Kristus” (St. Leo the Great, First Nativity Sermon).

ay. 20. “Maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu”. Ajaran ini adalah konsekuensi logis dari ajaran Rasul Paulus lainnya yang mengatakan, “Kemurnian sebagai sebuah kebajikan, adalah kemampuan untuk menguasai tubuh sendiri di dalam kekudusan dan penghormatan (lih. 1 Tes 4:4). Sejalan dengan kurnia kemurnian sebagai buah dari berdiamnya Roh Kudus dalam tubuh bagaikan kenisah, menghasilkan martabat yang sedemikian tinggi dalam hubungan yang erat dengan Tuhan sendiri, sehingga Allah dimuliakan dalam tubuh kita. Kemurnian adalah kemuliaan tubuh manusia di mata Tuhan. Kemurnian adalah kemuliaan Tuhan di dalam tubuh manusia” (Paus Yohanes Paulus II, General Audience, 18 March 1981).

Dalam penjelasan tentang ayat ini, St. Yohanes Krisostomus mengingatkan tentang apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Mat 5:16- “agar mereka dapat melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di Surga”- untuk menunjukkan bahwa kehidupan seorang Kristen yang murni harus mengarahkan mereka yang hidup di sekitarnya kepada Tuhan. “Ketika mereka melihat seorang yang kudus melaksanakan kebajikan yang tertinggi, mereka diharuskan untuk merefleksi [diri mereka sendiri] dan mereka akan tersipu melihat perbedaan antara hidup mereka dengan hidup seorang murid Kristus yang sejati. Sebab ketika mereka melihat seseorang yang sama-sama mempunyai kodrat yang sama, namun dapat menjadi lebih ‘tinggi’ di atas mereka [karena kebajikan kemurnian tersebut]… bukankah mereka diharuskan percaya bahwa sebuah kekuatan ilahi telah bekerja di sini, untuk menghasilkan kekudusan itu?” (Hom. on 1 Cor 18, ad. loc.).

Jika kita melihat begitu banyak orang kudus dalam sejarah Gereja, yang memiliki kasih yang sempurna kepada Allah dan sesama, selayaknya kita tunduk mengakui akan betapa besarnya rahmat Tuhan yang dapat dicurahkan kepada mereka yang sungguh mau bekerja sama dengan rahmat-Nya untuk mewujudkan rencana Tuhan dalam hidup mereka. Tiada yang mustahil bagi Allah, untuk membantu setiap orang yang mau berjuang untuk hidup lebih baik, lebih murni dan lebih kudus setiap hari.

Bagi para religius, kebajikan kemurnian dinyatakan dengan kesetiaan menjaga kemurnian jiwa dan tubuh, yang nyata dalam kaul hidup selibat, demi Kerajaan Allah. Bagi suami istri kebajikan kemurnian ini terutama dinyatakan dengan kesediaan untuk memberikan kasih yang total tanpa syarat kepada pasangan, dalam hubungan kasih suami istri yang selalu terbuka kepada kemungkinan kehidupan baru.

Selanjutnya tentang kemurnian dalam kehidupan perkawinan, klik di sini, sedangkan kemurnian di luar kehidupan perkawinan, klik di sini.

Pawai Obor Warnai Peringatan 100 Tahun Injil di Tana Toraja

1

TORAJA – Ribuan warga mengarak obor keliling Kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sejauh lima kilometer untuk memperingati se-abad Injil Masuk Tana Toraja (IMT) tersebut. Pembukaan peringatan 100 tahun IMT diawali dengan pawai dan karnaval para peserta dari berbagai denominasi Gereja di Toraja dan luar Toraja. Pembukaan 100 tahun IMT dimeriahkan dengan penampilan runner-up  Indonesian Idol 2012, Kamasean “Sean” Matthew yang membawakan lagu-lagu pujian.

Iring-iringan warga yang masing-masing memegang satu obor ini dimulai dari pintu gerbang Kota Makale menuju alun-alun di seputaran Kolam Makale. Ribuan orang dari berbagai daerah di Tana Toraja dan Toraja Utara, mulai dari anak-anak hingga orang tua, turut serta merayakan dan memperingati peristiwa 100 tahun IMT.

Menurut data, pada 16 Maret 1913, Injil masuk ke Tana Toraja. Peringatan 100 tahun IMT sendiri dilaksanakan tanggal 16-22 Maret 2013.

Tidak diketahui pasti awal masuknya misionaris dalam mengajarkan agama Kristiani di Tana Toraja. Namun, warga Toraja sepakat, masuknya Injil pertama kali terjadi saat tiga warga Toraja dibabtis pertama kali oleh pendeta asal Belanda, Jonathan Kelling, yang tinggal di Bantaeng, Sulawesi Selatan, pada seratus tahun lalu.

Pesta obor menggambarkan suasana terang, yang menurut warga Kristiani Tana Toraja, seperti terangnya agama Kristen yang dianut sebagian besar warga.

Selain arak-arakan obor, peringatan seabad IMT, juga disambut dengan pesta kembang api di Bukit Manggasa Makale.

Kerukunan beragama di Tana Toraja masih terjalin dan menjadi prioritas. Umat Muslim Tana Toraja ikut berbaur bersama umat Kristiani yang tengah bersuka cita.

Dalam perayaan 100 tahun Injil masuk ke Toraja ini, tampaknya, umat Kristiani Toraja mulai mengolah dan mengelola benih-benih kekuatan Injil dan keberimanan kepada Kristus, antara lain: mensponsori 100 penginjil, menanam 100 pohon, memberi 100 buku, memberi 100 Alkitab, memberi beasiswa 100 orang pendeta/siswa/anak asuh, persembahan memberi 100 babi, 100 kerbau, Rp 100 x 100.000, 100 ayam, 100 ikan.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang membacakan sambutan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo berharap melalui peringatan 100 tahun IMT di Toraja, peran Gereja makin nyata dalam menyikapi berbagai perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat ke depan. “Kami berharap, peringatan 100 tahun IMT, kehidupan yang aman, damai dan persaudaraan bisa tercipta melalui perkataan, perbuatan dan karya di tengah-tengah masyarakat,” tandas seperti dilansir metrotvnews.com.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab