Home Blog Page 131

Mrk 16:17-18 Memegang Ular, Minum Racun, Menyembuhkan

14

Bagaimanakah kita mengartikan Markus 16:17-18? Pada masa Gereja awal, mukjizat-mukjizat seperti ini umum terjadi. Banyak terjadi catatan-catatan kejadian seperti ini yang direkam dalam sejarah, seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru (lih. Kis 3:1-11, 28:3-6) dan dalam tulisan-tulisan jemaat Kristen pertama, seperti yang dituliskan oleh St. Irenaeus (abad ke-2, lih. Eusebius, HE 5, 7, 4-6).

Hal- hal dalam Mrk 16:17-18, juga disebutkan dalam kitab Perjanjian Baru, seperti bagaimana para rasul mengusir kuasa jahat (Kis 5:16; 8:7), berkata-kata dalam bahasa Roh (lih. Kis 2:3-, 10:46; 19:6; 1 Kor 14), mengangkat ular (lih. Kis 28: 3-; Luk 10:19), meletakkan tangannya ke atas orang-orang sakit dan menyembuhkan (lih. Kis 28:8). Maka memang perkataan Yesus ini digenapi secara luar biasa pada para jemaat pertama.

Mukjizat memang merupakan sesuatu yang penting dan pantas terjadi di abad- abad awal, untuk menjadi tanda bukti kebenaran agama Kristiani. Mukjizat-mukjizat seperti ini masih terjadi sekarang, walau dari segi frekuensinya tidak lagi sesering pada jemaat pertama. Hal ini pantas (fitting) juga, karena ajaran Kristiani telah dikenal oleh banyak orang dan diterima sebagai kebenaran, dan untuk memberi ruang bagi iman, di mana oleh iman seseorang dapat menerima mukjizat tersebut dari Tuhan. St. Jerome pernah mengajarkan demikian, “Mukjizat-mukjizat itu diperlukan pada saat awal untuk meneguhkan iman orang-orang. Namun pada saat iman seseorang sudah diteguhkan, maka mukjizat-mukjizat tidak diperlukan” (lih. Commentary on Mark, in loc). Pernyataan ini sungguh benar, karena semakin kita dekat dan bersatu dengan Tuhan, kita mempunyai keterbukaan untuk menerima apapun rencana Tuhan dalam hidup kita. Menerima mukjizat kesembuhan jasmani atau tidak, tidak menjadi sesuatu yang utama; atau hal melihat mukjizat terjadi (melihat orang yang mengangkat ular atau minum racun tapi tidak celaka) tidaklah menjadi berpengaruh terhadap iman mereka. Pendeknya, orang yang sungguh beriman tidak lagi mementingkan mukjizat -mukjizat lahiriah, tetapi lebih memusatkan perhatian terhadap hal- hal rohani, sebab ia mengetahui bahwa pada akhirnya segala yang rohani dan surgawi merupakan sesuatu yang lebih penting dan ‘mengatasi’ yang bersifat jasmani. Sebab orang- orang yang menerima mukjizat jasmani suatu saat tidak akan menerimanya lagi, dan akan ada saatnya semua orang akan wafat dan menghadap Allah. Maka yang terpenting pada akhirnya adalah bagaimana mempersiapkan hati jika saat itu tiba: sebab pada akhirnya para beriman akan kembali ke rumah Bapa dengan hanya membawa ketiga hal ini: iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih (1 Kor 13:13). Nubuat akan berakhir, bahasa Roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap, tetapi kasih akan tetap, tidak berkesudahan (lih. 1 Kor 13:8).

Namun demikian, bukan berarti bahwa Gereja sekarang tidak disertai Allah dengan mukjizat-mukjizat. Allah tetap bekerja melalui para orang kudusnya di sepanjang sejarah manusia. Di dalam sejarah Gereja Katolik, tak terhitung mukjizat-mukjizat yang terjadi melalui perantaraan orang-orang kudusnya. Beberapa mukjizat yang tercatat dalam sejarah adalah mukjizat kesembuhan, mukjizat mengatasi kodrat (ketika berdoa dapat terangkat dari bumi, ketika wafat  jenazahnya masih utuh, seperti contohnya dapat dilihat di sini, silakan klik), ‘bilocation’ (dapat hadir di dua tempat pada saat yang bersamaan), mukjizat menerima stigmata luka- luka Yesus, mukjizat membangkitkan orang mati dst. Mukjizat ini juga terus terjadi sampai saat ini di tempat-tempat ziarah tempat penampakan Bunda Maria, seperti yang terjadi di Lourdes, Perancis.

Kesembuhan ini juga tak terjadi secara supernatural, tetapi juga melalui pengobatan dan perawatan. Melalui karya kerasulan Gereja Katolik, banyak orang mengalami kesembuhan melalui rumah-rumah sakit Katolik (tahun 1992 sekitar 5, 478 rumah sakit  Katolik dengan merawat 4.5 milyar pasien di seluruh dunia), juga panti asuhan dan panti jompo.

Hal ini membuktikan nubuat Yesus sendiri, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu…” (Yoh 14:12).

Maka bagi umat Katolik, yang terpenting adalah mengimani Tuhan Yesus dan menjalani kehidupan ini bersama-Nya dan di dalam Dia. Selanjutnya masalah perwujudan mukjizat dalam kehidupan manusia tidaklah menjadi faktor utama di dalam iman. Sebab kita tidak perlu melihat mukjizat dahulu baru kemudian percaya. Sebaliknya, kita sudah percaya, dan kita serahkan kepada Tuhan perihal mukjizat tersebut, jika dipandangnya berguna bagi iman kita, Ia dapat memberikannya. Namun jika tidak, tidaklah menjadi masalah, sebab Tuhanlah yang dengan kebijaksanaan-Nya memahami yang terbaik bagi setiap umat-Nya.

Sebab, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1) Oleh sebab itu memang kita dikatakan sungguh beriman jika kita tetap dapat mengimani Tuhan walaupun tidak melihat Dia dan mukjizat-mukjizat-Nya. Bagi umat Katolik, mukjizat yang begitu besar namun juga begitu sederhana terjadi di dalam setiap perayaan Ekaristi, di mana Tuhan Yesus hadir mengambil rupa roti dan anggur. Di dalam Ekaristi inilah rahmat Tuhan mengalir di dalam Tubuh Gereja-Nya, untuk menumbuhkan ketiga kebajikan ilahi di hati umat-Nya, yang diperhitungkan di akhir nanti, yaitu: iman, pengharapan dan kasih. Jika ketiga hal ini sudah diberikan di dalam hati umat beriman, adalah kebijaksanaan Yesus yang menentukan apakah Ia akan memberikan mukjizat yang lain, jika dipandang-Nya berguna bagi pertumbuhan rohani umat-Nya. Itulah sebabnya, sampai sekarang mukjizat kesembuhan melalui Ekaristi juga masih terjadi, baik atas perantaraan para pendoa seperti Sr. Briedge McKenna, Romo Yohanes Indrakusuma O Carm, ataupun melalui doa- doa pribadi tiap- tiap orang beriman; namun yang terpenting, adalah bagaimana kehidupan rohani umat beriman setelah menerima mukjizat tersebut.

“Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini….”

2

Tante and Oom, please keep this rock, so you will remember me.” Ini adalah pesan dari Nicholas, keponakan dan anak baptis kami, sebelum kami berpisah dengannya di tahun yang lalu. Kami memang cukup dekat dengan Nicholas, sebab selama empat tahun kami tinggal bersamanya saat menumpang di rumah keluarga sepupu kami, sewaktu kami menempuh studi teologi di Amerika Serikat. Tahun lalu, kami berkesempatan bertemu kembali dengan Nicholas, yang saat itu berumur 6 tahun. Sebelum kami berpisah, ia memberikan hadiah batu kesayangannya itu kepada kami. Rupanya sewaktu liburan di gunung, Nicholas mengambil dua buah batu, yang kemudian menjadi barang kesayangannya. Ia mengantongi kedua batu ini ke manapun ia pergi, saat ke sekolah, maupun di rumah, saat bermain dan bahkan saat tidur. Sepasang batu itu menjadi semacam harta miliknya yang istimewa. Kini salah satunya diberikan kepada kami, karena kasihnya kepada kami. Ia ingin kami mengenangnya setiap kali kami memandang batu itu, sama seperti ia mengenang kami saat ia memandang batu pasangannya.

Aku memandang batu itu… tak ada yang istimewa. Namun kisah cinta di balik batu itu membuatku mengenangnya secara istimewa. “Simpan ini, sebagai kenangan akan aku”. Pikiranku menerawang jauh…. Betapa perkataan sederhana ini mengingatkan aku pada pesan Yesus Tuhanku, sesaat sebelum sengsara-Nya. “Inilah Tubuh-Ku…. Inilah Darah-Ku…. Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini“ (lih. Luk 22:19). Tuhan Yesus tidak memberikan benda milik-Nya kepada kita, melainkan memberikan diri-Nya sendiri. Tuhan Yesus telah memberikan segalanya bagi kita yang dikasihi-Nya, agar kita dapat diampuni dan diselamatkan. Agar suatu saat nanti kita dapat bertemu kembali dengan-Nya, menikmati kebahagiaan tanpa akhir, dalam kehidupan kekal. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawa-nya untuk sahabat-sahabat-nya” (Yoh 15:13). Kasih yang terbesar inilah yang kita rayakan secara istimewa dalam Pekan Suci ini, yang mencapai puncaknya pada hari Raya Paskah. Tuhan Yesus memberikan diri-Nya sehabis-habisnya untuk kita: Ia rela menderita, wafat dan bangkit bagi kita, agar kita dapat memiliki hidup yang baru bersama Dia. Kenangan Misteri Paska Kristus menjadi kenangan cinta Tuhan tanpa batas yang selalu hidup, karena Ia senantiasa hadir dalam setiap perayaan Ekaristi. Maka kenangan ini bukan sekedar pengulangan kata-kata seperti dalam drama, namun oleh kuasa Roh-Nya, menjadi kurban Kristus sendiri bagi kita. Sejauh mana aku menghargai dan mensyukuri pemberian Tuhan ini, yang melampaui segala sesuatu?

Jarak dan waktu dapat memisahkan kita dengan orang-orang yang kita kasihi, dan kita tak kuasa mengubahnya. Namun Tuhan kita Maha Kuasa, tak terbatas oleh ruang dan waktu, dan karena dengan pengorbanan-Nya, Kristus telah mengalahkan kuasa dosa dan maut. Maka oleh kuasa Roh-Nya, Kristus menghadirkan kembali Misteri Paska-Nya di tengah kita, sebagai bukti penyertaan-Nya atas Gereja-Nya sampai akhir zaman. Maka perayaan Tri-hari Suci maupun perayaan Ekaristi bukan merupakan perayaan di mana Yesus dikorbankan lagi secara berulang-ulang. Namun Korban Yesus yang satu dan sama itu (lih. Ibr 7:27) dihadirkan kembali secara sakramental oleh kuasa Roh Kudus, agar kita yang hidup 2000 tahun terpisah dari zaman Yesus tetap dapat memperoleh buah-buahnya (lih. KGK 1366). Dalam setiap perayaan Ekaristi, misteri Paska Kristus, yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, dihadirkan kembali agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya, dan dikuatkan olehnya. Ibaratnya, Misteri Paska Kristus itu seumpama aliran listrik yang sama yang selalu menyala, sedangkan sakramen-sakramen Gereja adalah semacam kabel, yang menghubungkan kita dengan aliran listrik itu, agar kita dapat terus ‘menyala’ dan dikuatkan dalam semangat kasih yang dari Tuhan. Betapa selayaknya kita bersyukur kepada Tuhan atas kasih-Nya dan atas karunia Gereja dan sakramen-sakramennya yang telah menghubungkan kita dengan kekayaan rohani yang melampaui segala sesuatu, yaitu Kristus sendiri: Tubuh-Nya, Darah-Nya, Jiwa-Nya dan ke-Allahan-Nya. Dengan cara inilah Tuhan menghendaki kita mengenang-Nya sampai Ia datang kembali, yaitu agar kita mengambil bagian di dalam kurban Tubuh dan Darah-Nya. Demikianlah yang diajarkan oleh Rasul Paulus, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.“ (1 Kor 11:26)

Aku memandang batu pipih lonjong itu, pemberian dari Nicholas keponakanku terkasih. Aku mengucap syukur dalam hati, “Terima kasih Tuhan, atas kehadiran Nicholas dalam hidupku”. Melintas di pikiranku hari-hari indah bersamanya, saat aku menatap matanya yang jenaka dan saat aku membelai punggungnya sebelum tidur. Semoga Tuhan menjaganya selalu, dan kudaraskan doa Salam Maria untuknya. Namun kini, setelah kudaraskan doa singkat baginya, kutambahkan lagi sepotong doa, “Terima kasih Tuhan Yesus, atas kehadiran-Mu dalam hidupku. Semoga Kau-tambahkan di hatiku, rasa syukur dan cinta kasih kepada-Mu setiap kali aku mengenangkan Engkau yang telah memberikan diri-Mu seutuhnya dalam Ekaristi.”

Pentingnya retorik bagi pewarta Sabda Allah

1

Latar belakang

Retorik adalah seni ekspresi baik dalam hal tulisan maupun khotbah. Sebagai suatu displin ilmu, retorik telah dikenal sejak zaman dulu, yaitu zaman keemasan Yunani sekitar 500 tahun sebelum zaman Yesus. Setelah kemenangan bangsa Yunani dari bangsa Persia, maka kota Atena dianggap sebagai pusat kejayaan dan ide-ide baru. Kota Atena kemudian dikenal sebagai pusat kebudayaan dan intelektual Yunani. Di sinilah berkembang karya-karya arsitektur, seni patung, seni rupa, drama dan filosofi. Itulah sebabnya saat Rasul Paulus mengunjungi Yunani, ia mengatakan, “Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru” (Kis 17:21). Retorik dikenal sebagai suatu seni yang penting di zaman itu, seiring dengan lahirnya kepemimpinan demokratis di mana pemimpin dipilih melalui pemilihan umum, dan keputusan pengadilan oleh pengambilan suara para juri, sehingga kemampuan untuk mempengaruhi pendengar menjadi salah satu kunci sukses seorang pemimpin.

Tiga unsur prinsip dalam retorik

Filsuf Plato (428-348 BC) adalah seorang ahli retorik. Ia mempelopori studi sistematik tentang retorik yang memungkinkan para pembicara dan penulis untuk menggunakan bahasa untuk mempengaruhi para pendengar ataupun pembaca, menuju kebenaran, keindahan dan kebaikan. Aristoteles, murid Plato yang terbaik, mengajarkan bagaimana kata-kata dapat mempengaruhi keyakinan seseorang. Menurutnya, ada tiga cara yang saling berhubungan, untuk mempengaruhi pendengar: 1) karakter pribadi sang pembicara; 2) meletakkan pembaca dalam kerangka pikir tertentu; 3) bukti yang kelihatan, yang disediakan oleh kata-kata dalam khotbah/ pidato/ tulisan itu sendiri. (Aristotle, Rhetoric, I.2). Ada tiga kata Yunani yang menggambarkan ketiga cara ini: 1) ethos (mempengaruhi melalui karakter moral; 2) pathos (mempengaruhi melalui emosi); 3) logos (mempengaruhi melalui logika).

Ketiga hal ini adalah penting dan tidak dapat diabaikan, agar sang pembicara dapat menggerakkan hati pendengarnya. Aristoteles mengajarkan bahwa akal budi itu penting, sebab itu menjadi bukti bagi karakter yang baik. Karakter itu adalah kuncinya. Sebab ketika seorang pembicara mempresentasikan alasan-alasan yang kuat untuk meyakini sesuatu yang ia sendiri yakini dan lakukan, maka perkataannya menjadi sesuatu bukti bahwa karakternya dapat dipercaya. Logika saja tidak cukup. Logika dan akal budi dapat menunjukkan bahwa dari suatu keyakinan, ada hal-hal lain yang mengikutinya untuk diterima sebagai konsekuensinya. Tetapi untuk mengerakkan hati pendengar, kepercayaan (trust) lebih penting daripada kebenaran (truth). Bukan berarti kebenaran tidak penting, tetapi maksudnya di sini adalah, kebenaran kalau tidak disampaikan oleh seseorang yang dapat dipercaya, maka tidak akan dapat menggerakkan/ berpengaruh. Selain itu, kepercayaan ini akan meningkat jika dicontohkan sebagai suatu kebenaran yang dipraktekkan di dalam hidup sang pembicara itu sendiri.

Maka, menurut Aristoteles, para pendengar akan lebih tergerak, karena karakter pembicara daripada karena alasan logis. Tetapi mereka akan lebih tergerak lagi ketika karakter maupun logika benar-benar dipadukan. Sedangkan emosi di sini bukan hanya perasaan senang atau susah, tetapi sebagai sesuatu yang mempengaruhi penilaian. Emosi mengubah cara kita memandang sesuatu, orang-orang maupun situasi. Maka untuk menggerakkan pendengarnya, pembicara perlu mempertimbangkan bagaimana menggunakan emosi untuk mempengaruhi penilaian akan sesuatu. Namun tidak berarti bahwa pembicara dapat terus menerus mengandalkan ataupun memanipulasikan emosi pendengarnya. Sebab tanpa dibarengi karakter yang baik dan alasan yang logis, maka pembicara hanya akan dapat menggerakkan pendengarnya sementara waktu saja, dan dalam jangka waktu panjang, tidak akan berhasil. Retorik macam ini kosong dan tidak berarti.

Kristus, Sang ahli retorik sejati

Kristus adalah seorang yang menerapkan prinsip retorik dalam pengajaran-Nya. Pada saat Ia memanggil para murid-Nya, Ia menampilkan diri-Nya sebagai Seseorang yang dapat dipercaya, “Mari, ikutilah Aku.” (Mrk 1:17). Para murid dapat melihat betapa Kristus merupakan sosok yang melaksanakan sendiri apa yang diajarkan-Nya. Kristus sendiri hidup dalam kemiskinan, kesederhanaan dan kerendahan hati, sehingga ketika Ia mengajarkan tentang kerendahan hati (lih. Mat 11:19), ajaran itu tidak menjadi ucapan kosong belaka, namun memberikan pengaruh yang kuat dalam hati pendengar-Nya. Demikian pula ketika Yesus mengajarkan tentang Delapan Sabda Bahagia (lih. Mat 5), ajaran itu begitu merasuk ke dalam hati para murid-Nya, karena Ia sendiri menghidupi atau melaksanakan apa yang dikatakan-Nya itu. Pengulangan kata, “Berbahagialah….” dalam Sabda Bahagia bukanlah pengulangan semata untuk menyentuh emosi pendengar-Nya, namun sungguh menjadi ajakan yang telah terbukti nyata di dalam diri Kristus. Ajaran Kristus menjadi suatu ajakan yang menggerakkan hati pendengar-Nya, sebab Kristus sendiri telah memberikan contohnya, dan terbukti menjadi seorang yang berbahagia. Bukti nyata juga nampak dalam ajaran Kristus tentang hukum kasih sebagai hukum yang terutama (lih. Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31; Luk 10:27). Kristus mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Allah Bapa (lih. Luk 6:12, Yoh 11:41), dan sangat mengasihi sesama-Nya, terutama mereka yang kecil, sakit, dan menderita. Demikian juga, ajaran-Nya tentang pengampunan digenapi oleh-Nya sendiri dengan mengampuni mereka yang telah menganiaya-Nya sampai wafat di kayu salib (lih. Luk 23:34). Sungguh, kurban Kristus di kayu salib merupakan penggenapan sempurna atas ajaran Kristus tentang cinta kasih, sehingga pengajaran tentang iman Kristiani yang sejati, selalu mengacu kepada kebenaran ini.

Retorik dalam khotbah para Rasul

Demikianlah, kita mengetahui bahwa dalam khotbah para Rasul, mereka kerap mengulangi pernyataan kebenaran yang diwahyukan oleh Kristus, yaitu bahwa Yesus adalah Kristus, yang diutus oleh Allah Bapa, sebagaimana dinubuatkan oleh kitab-kitab Perjanjian Lama, dan bahwa demi menyelamatkan umat manusia, Kristus menderita, disalibkan, wafat dan bangkit, dan bahwa Ia akan kembali lagi dengan mulia; dan karena itu setiap orang dipanggil untuk bertobat, percaya dan dibaptis, agar menerima Roh Kudus, dapat bergabung dalam keluarga umat beriman, dapat hidup dalam persekutuan, memecah roti, melakukan kebajikan, berdoa dan bersama memuji dan menyembah Tuhan.

Demikianlah, dalam retorik para Rasul, tema umum yang ditampilkan adalah Pribadi Allah di dalam Kristus, baik apa yang dilakukan-Nya ataupun yang diajarkan-Nya, sebagaimana muncul dalam khotbah ataupun pembicaraan para rasul (terdapat 24 khotbah), yang disebut dalam Kisah para Rasul:

Kis 1:16-22: Khotbah Rasul Petrus di hadapan 120 orang percaya, tentang rasul untuk menggantikan Yudas.
Kis 1:14-41: Khotbah Rasul Petrus di Yerusalem di hari Pentakosta.
Kis 3:12-26: Khotbah Rasul Petrus di Serambi Salomo.
Kis 4:8-12 :  Kesaksian Rasul Petrus dan Yohanes tentang Kristus di hadapan Mahkamah Agama.
Kis 5:29-32: Rasul Petrus dan para rasul memberi kesaksian tentang Yesus di hadapan Mahkamah Agama.
Kis 7:2-53: Stefanus memberikan jawab di hadapan Mahkamah Agama
Kis 8:26-38: Rasul Filipus mengajar sida-sida dari Etiopia yang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Gaza.
Kis 10:34-49: Rasul Petrus berkhotbah kepada keluarga Kornelius, perwira pasukan Romawi.
Kis 11:5-17: Rasul Petrus berkhotbah di hadapan golongan bersunat di Yerusalem.
Kis 13:16-41: Rasul Paulus dan Barnabas berkhotbah di jemaat yang berkumpul di sinagoga di Antiokhia.
Kis 14:15-17: Rasul Paulus dan Barnabas berkhotbah kepada kumpulan orang non- Yahudi tentang Allah.
Kis 15:7-11: Khotbah Rasul Petrus di Konsili Yerusalem.
Kis 15:13-21: Khotbah Rasul Yakobus di Konsili Yerusalem.
Kis 16:30-34: Rasul Paulus dan Silas berkhotbah kepada kepala penjara dan keluarganya di Filipi.
Kis 17:22-34: Rasul Paulus berkhotbah kepada penduduk Atena
Kis 19: 1-7: Rasul Paulus berkhotbah tentang Roh Kudus di Efesus.
Kis 20:17-35: Rasul Paulus memberikan khotbah perpisahannya di Miletus.
Kis 21:20-25: Rasul Yakobus berbicara kepada Paulus dan para penatua di Yerusalem.
Kis 22:1-21: Pembelaan diri Rasul Paulus di hadapan orang Yahudi di Yerusalem.
Kis 23:1-6: Pembelaan diri Rasul Paulus di hadapan Mahkamah Agama di Yerusalem.
Kis 24:10-21: Pembelaan diri Rasul Paulus di hadapan Gubernur Feliks.
Kis 26:1-23: Pembelaan diri Rasul Paulus di hadapan Raja Agripa.
Kis 27:21-26: Pembicaraan Paulus di kapal yang hempir kandas, agar mereka tidak putus harapan.
Kis 28:23-28: Rasul Paulus berbicara di hadapan para pemimpin Yahudi di Roma.

Retorik dalam pewartaan Sabda Allah dalam Gereja

Dalam sejarah Gereja, sejumlah para orang kudus menerapkan prinsip retorik, seperti St. Agustinus dan St. Yohanes Krisostomus. Yang dipelajari dalam prinsip retorik ini adalah seni mempengaruhi pendengar, bersamaan dengan tata bahasa dan logika, juga teologi, ilmu pengetahuan dan hukum. Di zaman Abad Pertengahan studi retorik dibagi menjadi empat bagian: seni menulis, membuat puisi, seni bicara secara persuasif dan seni berkhotbah. Di zaman ini, yaitu zaman St. Fransiskus dari Asisi dan saat St. Dominikus membentuk ordo pengkhotbah, maka studi retorik mencapai puncaknya. St. Thomas Aquinas juga merupakan salah satu tokoh retorik, yang sangat baik dalam menerapkan prinsip-prinsip retorik dalam tulisan-tulisannya.

Di abad ke-18, atas pengaruh Enlightenment yang menekankan segi pragmatis, maka pendekatan retorik diarahkan kepada rationalitas yang dapat dimengerti semua orang, dengan bahasa yang lebih sederhana, demi menghindari retorika yang kosong. Namun demikian, hal ini tidak mengubah kenyataan, bahwa terdapat jenis retorika yang tidak kosong, yaitu jika secara selaras memadukan ketiga prinsip sebagaimana disebutkan di atas.

Maka kesimpulannya, kita dapat memakai prinsip dasar retorika yang baik bagi pewartaan Sabda Allah agar berdayaguna; yaitu dengan menyampaikan prinsip karakter (ethos), emosi (pathos) dan alasan yang dapat diterima akal budi (logos). Tak dapat dipungkiri, argumen yang paling kuat dari seorang pembicara Kristiani adalah karakternya atau kesaksian hidupnya, bagaimana ia sendiri menjalani ajaran imannya. Ini terlihat jelas, misalnya dalam diri Paus Fransiskus yang baru saja terpilih. Ia seorang Paus yang sederhana, rendah hati, dan berpihak kepada kaum miskin. Maka jika ia mengatakan bahwa ia mendambakan Gereja yang berpihak kepada kaum papa (klik di sini) kita dapat mengharapkan bahwa banyak orang akan tergerak untuk menanggapinya. Atau juga, setelah Paus Fransiskus berkhotbah tentang pertobatan dalam doa Angelus tanggal 17 Maret 2013 yang lalu (klik di sini), kemudian dikabarkan banyak orang di Italia “menyerbu” sakramen Pengakuan Dosa (klik di sini). Dengan caranya sendiri, Paus Fransiskus menerapkan prinsip retorika, yang berdayaguna, sebab yang diwartakan adalah Kristus dan ajaran-Nya, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidupnya sendiri.

Maka, daya guna retorika hanya dapat dicapai jika pertama-tama sang pembicara telah mempunyai hubungan yang erat dan pribadi dengan Kristus. Paus Benediktus XVI pernah menulis dalam surat ensikliknya, demikian, “Menjadi Kristen bukanlah merupakan hasil dari pilihan etis ataupun ide-ide yang tinggi di awang-awang, tetapi merupakan suatu pertemuan dengan sebuah kejadian, sebuah Pribadi yang memberi hidup sebuah cakrawala baru dan sebuah arah yang menentukan.” (Paus Penedictus XVI, Deus Caritas Est, 1). Dan Pribadi istimewa itu adalah Yesus Kristus.

Sudahkah kita masing-masing memiliki hubungan yang erat dengan Kristus?

 

Epic love is epic !

7

Jumat lalu, aku baru saja mengikuti visualisasi kreatif Jalan Salib bersama komunitas Katolik. Di antara 14 Pemberhentian, ada satu Pemberhentian yang sangat berkesan untukku, Pemberhentian IV : Yesus bertemu dengan ibu-Nya.

Dalam visualisasi tersebut, diputarkan video klip dari film “Passion of The Christ”. Di sana, digambarkan bagaimana Bunda Maria merawat Yesus dari kecil, bagaimana ia selalu menemani Yesus ketika Yesus ditahan dan ditanyai di rumah Imam Agung Yahudi, bagaimana ia mengikuti Yesus dengan setia selama Jalan Salib-Nya ke Golgota, dan akhirnya ia berdiri tegar di bawah salib Yesus di Golgota hingga Yesus wafat dan dimakamkan. Lagu yang mengiringi ibarat lagu Pastor yang mengisi renungan Jalan Salib, menjelaskan betapa besar cinta Bunda Maria pada Yesus, dan menghubungkan betapa Bunda Maria dan ibuku mencintai aku. Aku bersyukur Allah memberikan wanita-wanita sebagai figur ibu dalam hidupku.

1) Ibu kandungku adalah pejuang yang tangguh. Empat tahun yang lalu, ayahku terkena stroke sehingga kemampuan fisiknya tidak lagi sempurna. Sejak saat itu, ibuku yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan di toko. Walau ayahku masih bisa ikut membantu di toko, stroke menyebabkan temperamennya kurang bisa dikendalikan. Oleh sebab itu, kami empat bersaudara bergantian ikut membantu di toko untuk menolong meredam amarah yang terkadang tidak perlu.

Ibuku adalah pejuang salib. Di tengah tekanan pekerjaan dan tekanan dari ayahku, beliau masih harus berjuang untuk memahami rencana Allah dalam panggilan-Nya kepadaku untuk menjadi seorang imam. Salib ibuku tidaklah mudah. Yang aku bisa lakukan untuk membantunya adalah menghidupi panggilanku sebaik mungkin. Seperti Abraham yang mempersembahkan Ishak, Hanna yang mempersembahkan Samuel, dan Bunda Maria yang mempersembahkan Yesus di Bait Allah, ibuku berjuang memanggul salibnya untuk mempersembahkan aku. Semoga suatu hari nanti, ibuku bisa berbahagia karena ia telah memberikan persembahan pada Allah yang lebih dari kebanyakan orang.

2) Ibu rohaniku juga adalah seorang pejuang tangguh. Beliau berjasa memberikan pupuk untuk pertumbuhan iman Katolikku hingga saat ini. Bertahun-tahun menikah dengan pasangannya, ia tidak kunjung memiliki anak. Betapa sedihnya beliau ketika tahu bahwa ternyata mereka berdua tidak memiliki kesempatan menggendong anak kandung karena keterbatasan biologis. Namun, ibuku ini tidak menjadi kecewa pada Allah maupun pada ayah rohaniku. Dengan penuh iman, beliau melangkah keluar dari kesedihan dan bersama dengan ayah rohaniku mencari rencana Allah untuk mereka. Akhirnya mereka bersama memutuskan untuk melayani Allah seumur hidup melalui pelayanan katekese.

Hari ini, aku yakin bahwa mereka memiliki anak rohani yang dikuatkan imannya berkat pelayanan mereka. Salah satunya adalah aku. Bahkan, anak rohani mereka lebih banyak dari anak kandung yang bisa dimiliki pasangan lain. Ibu rohaniku juga masih sedang berjuang dalam pelayanan, yang tentu saja tidak pernah surut akan tantangan. Ia juga memanggul salibnya bersama Kristus dengan bahagia. Semoga suatu hari nanti, aku bisa menunjukkan melalui panggilanku bahwa ibu rohaniku tidak sia-sia merawat iman biji sesawi yang kecil ini.

3) Ibu Surgawiku adalah pejuang paling tangguh. Persembahan hidupnya pada Allah sungguh luar biasa. Kasihnya pada Kristus dan Allah adalah inspirasi. Ketegarannya menanggung derita adalah semangat. Ketaatannya pada rencana Allah adalah teladan. Kemuliaan yang ia terima dari Putranya adalah harapan. Ia menjadi contoh bagi semua umat Kristiani dalam hal hidup menurut Roh Kudus dan mencintai Yesus demi Allah Bapa. Sedari usia dini Gereja, ia selalu menjadi tokoh yang dihormati secara khusus. Walaupun saat ini tidak semua orang melihat perannya sebagai ibu, ia tetap sabar mengasihi dan mendoakan semua orang pada Putranya. Ia menuntun mereka yang dengan tulus meminta,”Tolong tunjukkan Yesus, Putramu, padaku”.

Perjalanan panggilanku juga tidak lepas dari doa dan penghiburannya sebagai seorang ibu. Ia memberikan penghiburan ketika aku sedih, mendoakanku ketika imanku goyah, dan memintakan petunjuk dari Yesus ketika aku ragu. Oleh sebab itu, sama seperti pesannya, ”Apa yang dikatakanNya padamu, perbuatlah itu”(Yoh 2:5), menjadi pelayan Putranya adalah satu-satunya cara terbaik untuk membalas jasanya. Seperti doa ibu kandungku dan ibu rohaniku yang akan selalu menyertaiku, doa ibu Surgawiku akan selalu menolongku di saat sulit dan berat. Ia telah menjadi pejuang unggul dalam memanggul salib bersama Kristus. Sekarang, ia menolong semua orang, termasuk aku, dalam perjuangan memanggul salib Kristus.

Di balik seorang pria yang sukses, ada wanita yang mendukungnya. Memintal gulali hidupku memang tidak mudah. Namun, aku percaya Allah menempatkan orang-orang yang selalu mau mendukungku. Seperti Yesus yang diikuti oleh para wanita kudus, aku percaya bahwa panggilanku ini tidak lepas dari dukungan doa para wanita kudus ini. Terutama, Bunda Maria yang selalu menyertai aku dalam perjalanan salibku mengikuti Yesus. Di doa ibuku, namaku disebut. Para ibuku, mohon doakanlah aku!

“Sungguh membahagiakan saat ingat bahwa Bunda Maria adalah ibu kita! Karena ia mencintai kita dan tahu kelemahan kita, apa yang perlu kita takutkan?” – St. Theresa dari Lisieux.

Aku menginginkan Gereja yang papa dan berpihak pada kaum papa!

14

Dalam pertemuan dengan lebih dari 6000 jurnalis di ruangan Paulus VI, tanggal 16 Maret 2013 silam, Paus Fransiskus berpesan demikian kepada mereka:

Sahabat yang terkasih, saya senang dapat bertemu dengan kalian, di awal pelayanan saya di Takhta Santo Petrus, yang sudah bertugas di Roma di saat – saat yang sangat sibuk ini yang dimulai dengan pengumuman yang mengagetkan dari pendahulu saya yang saya hormati Benediktus XVI pada tanggal 11 Februari yang lalu. Saya menyambut setiap dari kalian dengan hangat.

Peran dari media massa terus menerus berkembang akhir – akhir ini begitu pesatnya, hingga menceritakan hal – hal bersejarah yang terjadi pada saat ini kepada dunia menjadi hal yang penting. Oleh karena itu, saya sangat berterima kasih atas pelayanan kalian yang luar biasa beberapa hari ini. Bukankah kalian masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan? Saat semua mata umat Katolik di dunia dan tidak hanya mereka tertuju pada Kota Abadi (red-Vatikan), khususnya tempat ini yang memiliki kubur Santo Petrus sebagai poin pentingnya. Dalam beberapa minggu belakangan ini kalian mendapatkan kesempatan untuk berbicara mengenai Takhta Suci, Gereja, ritual – ritualnya dan tradisinya, imannya, dan khususnya peran Paus dan pelayanannya.

Terima kasih yang sepenuh hati saya tujukan untuk mereka yang telah mampu untuk mengamati dan menyajikan peristiwa – peristiwa dalam sejarah Gereja ini dengan tetap mengingat dalam pikiran bahwa cara pandang yang paling adil untuk membaca cerita tersebut adalah dengan iman. Peristiwa – peristiwa bersejarah hampir selalu memerlukan bacaan yang kompleks dan terkadang dapat juga melibatkan dimensi iman. Peristiwa gerejani tentunya juga tidak lebih kompleks dibandingkan dengan peristiwa politik atau ekonomi. Tetapi mereka mempunyai satu ciri yang sangat mendasar: peristiwa gerejani seringkali tidak menjawab logika duniawi dan karena alasan inilah mengapa tidak mudah untuk menginterpretasikan dan mengkomunikasikan mereka kepada khalayak ramai. Pada kenyataannya, Gereja, walaupun tentunya juga institusi yang dijalankan oleh manusia dan dengan segala sejarahnya, tidak memiliki sifat politik melainkan spiritual; ia adalah umat Allah, umat kudus Allah yang berjalan menuju perjumpaan dengan Yesus Kristus. Hanya dengan menempatkan diri dalam perspektif inilah seseorang dapat menjelaskan secara gamblang bagaimana Gereja Katolik bekerja.

Kristus adalah Gembala Gereja, tetapi kehadiran-Nya dalam sejarah bergerak melalui kebebasan manusia. Di antaranya, seseorang dipilih untuk melayani sebagai wakil-Nya, penerus Rasul Petrus, tetapi Kristus adalah pusat, sumber dasar, jantung dari Gereja. Tanpa-Nya, baik Petrus maupun Gereja tidak akan ada atau tidak punya alasan untuk ada. Seperti yang sering dikatakan Benediktus XVI, Kristus hadir dan memimpin Gereja-Nya. Dalam segala hal yang telah terjadi, protagonisnya tentu saja, Roh Kudus. Ia yang telah mengilhami keputusan Benediktus XVI demi kebaikan Gereja; Ia yang telah membimbing para kardinal dalam doa – doa dan pilihan mereka. Sahabat – sahabat, penting untuk memasukkan sudut pandang ini dalam laporan kalian, sudut pandang hermeneutika, untuk membawa inti peristiwa – peristiwa beberapa hari ini ke fokusnya.

Dari hal ini, lahirlah di atas segalanya, sebuah rasa terima kasih yang terbarukan dan sangat tulus akan usaha kalian khususnya dalam hari-hari yang menantang ini, tetapi juga sebuah undangan bagi kalian untuk selalu mencari dan untuk lebih mengenal sifat Gereja yang sebenarnya dan motivasi spiritual yang membimbingnya dan itu adalah cara yang paling otentik untuk memahaminya. Yakinlah bahwa Gereja, pada bagiannya, sangat memperhatikan kerja kalian yang berharga. Kalian memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan mengekspresikan harapan-harapan dan kebutuhan-kebutuhan pada masa ini, yang memberikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk membaca realita. Seperti banyak profesi lainnya, pekerjaan kalian membutuhkan pembelajaran, sensitivitas, dan pengalaman, tetapi pekerjaan kalian mengandung di dalamnya perhatian yang sangat spesial terhadap kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Hal inilah yang secara khusus membuat kita dekat karena Gereja hadir untuk mengkomunikasikan Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan ‘dalam diri manusia’. Jelaslah bahwa kita semua dipanggil tidak untuk mengkomunikasikan diri kita sendiri melainkan tiga sekawan kehadiran kita ini yang membentuk kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Beberapa orang tidak tahu mengapa Uskup Roma ingin menamai dirinya sendiri ‘Fransiskus’. Beberapa berpikir Santo Fransiskus Xaverius, Santo Fransiskus de Sales, juga Santo Fransiskus Assisi. Saya akan berbagi satu cerita. Saat pemilihan, saya duduk di sebelah Uskup Agung Emeritus dari Sao Paulo. Dia juga Prefek Emeritus dari Kongregasi untuk Klerus, Cardinal Claudio Hummes, OFM. Seorang sahabat yang sangat terkasih. Saat situasi menjadi sedikit ‘berbahaya’, dia menenangkan saya. Dan kemudian, saat penghitungan suara mencapai 2/3, ada tepuk tangan yang biasa dilakukan saat Paus sudah terpilih. Dia memeluk saya dan berkata, “Jangan lupakan kaum papa.” Dan kata-kata itu tersangkut di sini (sambil menunjuk jidat); orang miskin, kaum papa. Dan, sejenak kemudian sehubungan dengan orang miskin saya terpikir Fransiskus dari Asisi. Kemudian saya terpikir mengenai perang, saat penghitungan masih berlanjut sampai selesai. Kemudian nama itu muncul di hati: Fransiskus Asisi. Bagi saya dia adalah manusia yang hidup miskin, yang cinta damai, yang mencintai dan menjaga semua ciptaan. Di saat ini di mana hubungan kita dengan ciptaan tidak terlalu baik kan? Dia adalah orang yang memberikan kita roh kedamaian, manusia miskin ini…Oh, betapa aku menginginkan Gereja yang papa dan berpihak pada kaum papa!

Saya mendoakan yang terbaik untuk kalian, saya berterima kasih atas segala hal yang telah kalian lakukan. Dan saya memikirkan pekerjaan kalian: semoga kalian bekerja dengan efektif dan dengan penuh damai dan terus mengenal lebih baik lagi Injil Yesus Kristus dan kenyataan Gereja. Saya mempercayakan kalian pada perantaraan Perawan Maria yang terberkati, Bintang evangelisasi. Saya mendoakan yang terbaik untuk kalian dan keluarga kalian, untuk masing – masing keluarga, dan dengan sepenuh hati saya memberkati kalian.

Sebelumnya saya mengatakan bahwa dengan sepenuh hati saya memberkati kalian. Banyak dari kalian yang bukan Katolik, sebagian juga tidak percaya Tuhan. Dari hati saya, saya memberkati kalian dalam hati untuk masing – masing dari kalian sebagai penghormatan akan pilihan kalian masing-masing, tetapi ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah anak-anak Allah: Semoga Allah memberkati kalian.

Paus Fransiskus.
16 Maret 2013

Paus Fransiskus Serukan Persahabatan Antaragama

3

VATIKAN – Paus Fransiskus menyerukan “persahabatan dan rasa respek” di antara semua agama dan kepercayaan di dunia. Pernyataan ini disampaikan Paus dalam pertemuan dengan perwakilan agama-agama besar dunia di Vatikan, Rabu, 20 Maret 2013.

Gereja Katolik Roma, lanjut Paus, akan terus mempromosikan persahabatan dan rasa saling menghormati antara semua pemeluk agama. “Kita bisa berbuat banyak untuk mereka yang miskin, mereka yang lemah, mereka yang menderita, serta mempromosikan rekonsiliasi dan perdamaian,” ujar Paus Fransiskus.

Para tokoh agama dari Kristen Ortodoks, Yahudi, dan Islam hadir dalam pertemuan yang digelar sehari setelah Paus Fransiskus dilantik. “Semua agama harus bersatu untuk melawan hal paling berbahaya saat ini, yaitu menilai manusia dari apa yang mereka produksi dan konsumsi,”  Paus asal Argentina itu menambahkan.

Lebih lanjut, Paus mengatakan, dia juga merasakan “kedekatan” dengan orang-orang yang mengaku tak beragama, tetapi sedang mencari kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Yang semuanya, tambah Paus, ada dalam diri Tuhan.

Paus Fransiskus mengikuti pendahulunya, Paus Benediktus XVI, mengatakan bahwa “upaya menghilangkan Allah dan keilahian-Nya dari pikiran manusia” sering menimbulkan bencana kekerasan. Tapi, Paus  Fransiskus, yang bersikap rendah hati sejak terpilih pada 13 Maret, menambahkan bahwa kaum atheis dan umat beriman dapat menjadi “sekutu yang berharga” dalam upaya mereka “membela martabat manusia, membangun sebuah koeksistensi damai di kalangan masyarakat serta melindungi ciptaan.”

“Saya sangat menghargai kehadiran Anda semua dan saya melihat ini sebagai sebuah tanda saling respek dan kerja sama untuk kebaikan manusia,” kata Paus kepada para tokoh agama yang hadir di Vatikan.

 

Kepada denominasi Kristen lainnya, Paus menegaskan, dia tetap akan melanjutkan dialog dengan mereka. Sebelumnya, Paus Fransiskus bertemu secara pribadi dengan pemimpin spiritual dari Gereja Ortodoks Timur, Patriark Bartholomeus dari Konstantinopel. Menurut Patriark Konstantinopel, Bartholomeus dan Paus Fransiskus merencanakan kunjungan ke Yerusalem  tahun 2014 untuk menandai ulang tahun ke-50 pertemuan tahun 1964 antara Paus Paulus VI dan Patriark Athenagoras. Bartholomeus menghadiri pelantikan Paus Fransiskus pada  Selasa, 19 Maret 2013, Patriark pertama untuk melakukannya dalam lebih dari 900 tahun.

Paus Fransiskus juga menekankan “ikatan spiritual yang sangat khusus” antara Katolik dan Yahudi. “Tidak ada keraguan bahwa hubungan Katolik-Yahudi akan menjadi kekuatan lebih besar selama masa kepausan Paus Fransiskus,” kata Rabbi David Rosen, direktur Internasional Urusan Antaragama dari Komite Yahudi Amerika, setelah bertemu dengan Paus Fransiskus.(Reuters)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab