Home Blog Page 133

Basuki Ucapkan Selamat Terpilihnya Paus Fransiskus

0
antonio-guido-ahok
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menerima Duta Besar Vatikan Mgr Antonio Guido Filipazzi di Balaikota Jakarta

JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menerima kunjungan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi.

Dalam kesempatan itu, Basuki menyempatkan untuk mengucapkan selamat kepada Paus Fransiskus sebagai Sri Paus yang baru. “Iya, tadi sekalian saya ucapkan juga ke beliau, selamat atas terpilihnya Paus Fransiskus sebagai Paus yang baru memimpin umat Katolik sedunia,” kata Basuki di Balaikota Jakarta, Jumat (15/3/2013). Kunjungan Dubes Vatikan itu, kata Basuki, juga sebagai ajang silaturahmi antara Pemprov Jakarta dengan pihak Vatikan.

Basuki menceritakan, kalau Indonesia dengan Vatikan memiliki persamaan yaitu persamaan untuk memperjuangkan kebebasan beragama. Basuki juga diberikan kenang-kenangan oleh Vatikan berupa medali Paus dan buku Sejarah Paus 1947 dan Keuskupan di Indonesia.

“Tadi Dubes bercerita, kalau Vatikan itu adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan kita sangat apresiasi itu,” ujar Basuki. Basuki  mengatakan, pertemuan dengan Dubes Vatikan tidak membicarakan kerjasama apa pun. Kunjungan tersebut murni bersilaturahmi. ***

GP Ansor Optimistis Paus Fransiskus Tingkatkan Toleransi Antaragama

9

JAKARTA – Terpilihnya Paus Fransiskus  sebagai pemimpin Katolik se-dunia memunculkan optimisme dengan semakin kuatnya kerja sama dan persaudaraan antarumat beragama terutama di negara berkembang seperti Indonesia. “Paus Fransiskus  berasal dari negara berkembang. Dia berpengalaman sebagai individu yang berasal dari negara yang cenderung tertinggal dari Barat sehingga akan lebih mengerti tentang negara seperti di Asia Tenggara,” kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid, seperti dilansir Antara.

Ketua organisasi kepemudaan Islam Nahdlatul Ulama (NU) itu mengatakan terpilihnya Paus baru dari daratan Amerika Selatan menjadi menarik karena kawasan tersebut memiliki sejarah yang mirip dengan negara berkembang layaknya Indonesia.

Di negara tersebut perjalanan demokrasi berasal dari penjajahan yang tidak jauh dengan negara berkembang lainnya. Begitu juga dengan kelas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang hampir serupa, kata anggota Komisi XI DPR itu.

Nusron mengharapkan kepemimpinan Paus Fransiskus mampu memberikan manfaat yang baik terhadap dunia Timur terlebih dalam kerukunan antarumat beragama. “Selama ini sejumlah Paus banyak berasal dari Barat atau negara-negara maju. Saya menilai Paus Fransiskus memiliki rasa kepekaan terhadap dunia Timur yang lebih baik dari Paus sebelumnya. Terutama kepekaan terhadap mereka yang kurang mampu,” kata dia.

Kesederhanaan Jorge Kardinal Bergoglio memang diakui banyak pihak ketika dia memilih naik kendaraan umum dibanding menaiki mobil limosin yang telah disediakan untuknya.

Lebih lanjut, Nusron mengharapkan dalam semangat terpilihnya Paus yang baru di Vatikan memberikan semangat toleransi antarumat beragama yang lebih baik lagi. ***

Bekerja Giat, Bekerja untuk Allah!

0

Tiba-tiba, aku terbangun. Aku melihat jam, lalu terkejut dan meloncat bangun. Aku telat tugas koor untuk misa pagi! Setelah berganti baju, aku melihat jam kembali. Jam 04. 30 pagi. Ternyata masih 15 menit lebih awal dari alarm yang kupasang. Kenapa aku bisa tiba-tiba bangun lebih awal? Entah kenapa dalam pikiranku hanya terlintas satu alasan : Allah ingin aku menggunakan waktu ini untuk bercengkerama denganNya.

Akupun duduk tenang dan mulai menyapaNya. Aku mensyukuri bahwa setidaknya aku tidak sampai telat bangun dan bisa mempersiapkan pelayanan koor Misa nanti dengan baik. Aku membayangkan pula bahwa nanti aku akan bersatu denganNya melalui Komuni Kudus. Aku membayangkan diriku berjalan di antara deretan bangku, berjalan menuju Kristus yang menungguku di ujung lorong tersebut. Aneh, ini semua tampak seolah aku sedang menikah.

Berbicara soal kehidupan pernikahan, aku merenungkan masalah-masalah dalam pernikahan zaman sekarang. Pasangan bekerja begitu giat sehingga kadang keluarga terabaikan. Suami bekerja keras mencari nafkah demi pasangan dan keluarga. Begitu keras sehingga kadang sudah kelelahan saat tiba di rumah. Karena lelah, setelah mandi, makan, nonton TV, lalu tidur. Hanya ada perbincangan sekadarnya diantara pasangan. Ketika ditanya, jawabannya hanya,”Aku sudah capek. Kan seharian aku sudah kerja demi kamu dan anak-anak”. Kemesraan tidak lagi seperti dahulu. Yang tersisa hanyalah rutinitas.

Mendadak, aku tersadar pola ini seolah sangat mirip dengan apa yang aku alami sekarang. Belakangan ini, memang aku kurang intens dalam doa. Hanya ada perbincangan sekadarnya antara aku dan Allah. Alasannya,”Aku telah sibuk dalam pelayanan untuk Tuhan. Tuhan pasti mengerti aku sekarang sudah lelah”. Namun, itu dari sudut pandang saya. Aku tidak sadar betapa Allah ingin kita bisa bercengkerama dengan mesra seperti dahulu. Panggilan-Nya untuk berbincang denganNya memang selalu menimbulkan gelombang dalam hati. Namun, entah kenapa aku masih berkeras untuk terlalu giat dengan alasan “Pelayanan untuk Tuhan”. Aku telah membiarkan rutinitas, yang katanya melayani Tuhan, merenggangkanku dariNya.

Aku mengerti, Tuhan Yesus. Tuhan mau aku selalu bergiat untukMu. Namun, Tuhan mau kesibukanku semakin mendekatkan diriku pada-Nya. Aku bertekad untuk menyediakan waktu khusus bersama Tuhan yang tidak akan aku kompromikan. Aku mau “bekerja segiat-giatnya demi Tuhan, Allah pencipta alam semesta (1 Raj 19:14)” sambil “berdiri di hadirat Allah yang hidup (1 Raj 17:1)”.

Aku harus bekerja dengan giat, memintal gulali yang manis, besar, dan berwarna-warni. Namun, aku tidak boleh lupa Siapa yang memampukanku untuk memintal dan untuk Siapa kupintal gulali-gulali ini. Aku tidak boleh lupa bahwa Dia yang selalu besertaku selalu merindukanku untuk meletakkan sejenak tugas jasmaniku, bercengkerama denganNya, dan memintal gulali rohani yang manis.

“Betapa sering aku gagal dalam tugasku pada Allah karena aku tidak bersandar pada tiang doa yang kuat” – St. Theresa Avila.

Melalui doa, aku akan senantiasa terhubung dengan Allah, yang aku layani. Semoga, dengan mendengar apa pesan St. Theresa Avila, aku selalu diingatkan dari mana dan untuk siapa aku bekerja.

Materai Cinta

0

pasangan-tuaTiada yang seindah cinta di dalam kehidupan. Jika tanpa cinta, harta yang melimpah tiada berguna. Cinta bertahta selamanya di dalam relung jiwa. Cinta senantiasa bermekar bagaikan bunga-bunga di taman yang indah. Keindahan cinta tidak akan pernah lenyap seiring keriputnya wajah. Keindahan cinta tiada pernah berkurang ketika raga telah berada di ambang tanah.

Pengajaran iman dalam sebuah komunitas menjadi saksi akan keindahan cinta yang kekal. Seorang ibu, berusia tujuh puluhan, bertepuk tangan penuh semangat selama pujian dilantunkan. Matanya sebentar-sebentar memandang pada jam dinding di aula yang menandakan kegelisahan. Setelah selesai acara, ibu mendekatiku dengan sebuah permintaan untuk mengunjungi suaminya. Suaminya itu sudah tak sadarkan diri di rumah sakit hampir satu bulan. Sesampainya di rumah sakit itu, ia langsung mencium kening suaminya dan membisikkan kata : “Pa, Pastor datang”. Ibu itu ternyata sangat setia menjaga suaminya. Suaminya itu tentu sudah tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan dan merasakan apa yang dilakukannya. Saya pun berusaha menasihati ibu tua itu : “Ibu, lebih baik istirahat di rumah agar tidak sakit. Usia ibu sudah renta yang rentan terhadap penyakit. Suami ibu juga sudah tidak dapat mengenali ibu dan tidak tahu bahwa ibu menjaganya. Serahkan saja penjagaannya kepada perawat dan ibu berdoa di rumah”. Jawabannya menyentakkan dada : “Suamiku memang tidak dapat mengenaliku lagi, tetapi aku mengenalinya. Suamiku adalah temanku bertengkar, tetapi sekaligus temanku untuk belajar memaafkan dan dimaafkan. Aku sangat bahagia karena dapat mengungkapkan kasihku dari apa yang ada dalam diriku, yaitu sekedar menjaganya dan membelai rambut putihnya, walaupun dia tidak mengetahuinya”.

Cinta semakin terasa ketika hidup mendekati kefanaan. Pengampunan mengalir dengan sendirinya terhadap kekhilafan di masa silam. Pertengkaran-pertengkaran menjadi sebuah kerinduan. Hidup terbebaskan dari tawanan luka yang menyiksa. Pengampunan mungkin tidak mengubah sedikitpun apa yang sudah terjadi di masa silam, tetapi pengampunan bisa mengubah banyak kehidupan kita di masa depan. Mengampuni itu seperti membebaskan tawanan dari penjara sepanjang hayat. Berkat cinta yang mendalam, kehidupan diselimuti dengan kebahagiaan. Cinta membuat kehidupan senantiasa indah, lebih indah daripada pelangi di angkasa.

Cinta senantiasa mempertahankan keindahannya walaupun pelangi tak sanggup menjaga kecantikannya melawan sengatan sang surya. Cinta mendekatkan hati meski jiwa sering merana dan raga jauh dari kelopak mata. Cinta tak mengenal istilah “habis manis sepah dibuang”. Cinta termeterai di dalam hati sehingga tak mungkin dipungkiri : “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” (Kidung Agung 8:6). “Hati” adalah letak cinta kasih dan lengan adalah kekuatannya. Sejuta cinta tersimpan di dalam hati dan terungkap bukan dengan banyak kata, tetapi di dalam tindakan.

Cinta yang paling agung adalah milik Tuhan. Karena sedemikian agungnya cinta Tuhan, Ia memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya : “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:3). Cinta Tuhan mengalir tiada berkesudahan. Tiada kuasa apapun yang dapat menghentikan derasnya aliran cinta Tuhan : “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Roma 8:35). Cinta Tuhan terus melekat dalam diri gambaran-Nya. Tuhan telah menghembuskan nafas cinta-Nya pada saat penciptaan. Cinta Tuhan tidak akan pernah pudar dan hilang termakan usia.

Jangan katakan “cinta” karena itu mungkin hanyalah dusta, tetapi lakukan “perbuatan cinta kasih” dari apa yang ada sehingga keagungan cinta Tuhan akan menerangi dunia yang edan. Dunia yang edan ini telah bebal terhadap gerakan cinta sehingga setitik cinta akan mencelikkan jiwa untuk melihat betapa besarnya cinta Tuhan. Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Kesederhanaan Hidup Seorang Imam

14

Kesederhanaan hidup seorang imam adalah bagian integral dari hidup panggilannya secara utuh. Kesederhanaan pula yang menjadi semangat hidup dan karya Bapa Paus Fransiskus selama karya imamatnya. Beliau mengambil nama St Fransiskus karena teladan kesederhanaan hidup dari St. Fransiskus dari Asisi dalam segala aspek kehidupan tokoh kudus Gereja tersebut. Kesederhanaan hidup para imam ini secara jelas memantulkan kekudusan dan Terang Kristus kepada umat di sekitar-Nya, sebab mereka secara istimewa mengambil gaya hidup Kristus sebagai gaya hidup mereka sendiri.

Maka semua imam, baik imam anggota suatu Ordo religius, maupun imam Diocesan (RD) yang juga sering dikenal dengan sebutan imam ‘projo’, dipanggil untuk hidup dalam kesederhanaan sebagai seorang pelayan Tuhan. Imam-imam dari Ordo religius memang umumnya terikat oleh kaul ketaatan, kemurnian dan kemiskinan, sesuai dengan spiritualitas pendiri Ordo tersebut. Maka para imam dari Ordo religius ini terikat ketentuan untuk menjadikan hampir semua harta miliknya menjadi milik komunitas Ordo tersebut, hanya ada kekecualian untuk barang-barang pribadi. Namun imam-imam diocesan tidak terikat kaul kemiskinan, artinya diperbolehkan mempunyai kepemilikan tertentu, untuk menunjang pelayanannya. Maka ada sejumlah orang mengira bahwa karena para imam projo tidak terikat kaul kemiskinan, maka mereka boleh hidup seperti kaum awam dan boleh hidup dalam ‘kemewahan’. Benarkah demikian? Berikut ini adalah jawaban dari Rm. Santo:

Projo itu bukan ordo. Projo ialah terjemahan Jawa dari Pr, yang sebenarnya berarti Priest atau imam. Projo sendiri dalam bahasa Jawa berarti “rakyat’. Maka, imam ialah orang yang ditahbiskan untuk melaksanakan tugas imamat bersama rakyat. Jangan sampai imam membuat sandungan karena gaya hidup mewah. Imam wajib hidup berpenampilan wajar sebagai imam di tengah rakyat. (Bdk. Pedoman Imam, KWI). Imam di tengah kota di Singapura akan hidup sesuai dengan gaya hidup gaya Singapura, yang terbiasa ada alat-alat hidup di kota itu. Imam di sebuah distrik pedalaman Papua, hidup dengan alat-alat yang dibutuhkan di sana.

Seorang imam terikat kewajiban untuk hidup murni selibat, taat dan hidup sederhana demi pelayanan dan pewartaan Injil. Gaya hidup dan sikap “lepas bebas” ini sudah dibina sejak seminari sebagai calon imam. Imam (Priest) Pr. (RD) tidak mengucapkan kaul tetapi mengucapkan janji karena kasihnya pada Kristus dan Gereja-Nya sesuai tuntutan hukum Gereja. Karena keterikatan kewajiban untuk hidup selibat, taat, dan sederhana, maka seorang selibater yang kaya bagaikan seorang gendut yang ingin menang lomba lari cepat 100 m, pastilah gagal mencapai tujuannya (menurut penulis buku rohani Henri JM Nouwen).

Nah, maka jika Anda menemukan seorang Romo Pr/ RD yang nampaknya hidupnya tidak sesuai dengan panggilan hidup seorang imam (selibat, taat, sederhana), maka Anda dapat mengingatkan beliau, tentu dengan motivasi kasih. Jika keuskupan sudah menegur, maka Anda ikut mengingatkan agar imam tersebut dan Dewan Paroki memfungsikan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Sementara ini, Anda bisa bertanya kepada bendahara jika merasa terdesak untuk mengetahui keuangan paroki. Keuangan pastoran adalah keuangan rumah tangga pastoran, dikelola oleh pastor-pastor di rumah pastoran. Hal ini berbeda dari keuangan paroki. Keuangan paroki terpisah dari keuangan pastoran. Paroki memberi subsidi kepada pastoran dan pastoran memberi pertanggungjawaban laporan. Hal ini diatur dalam Tata Keuangan Paroki yang diterbitkan oleh Keuskupan. Lagi pula, imam bisa dan biasanya dipindahkan oleh uskup, setelah mencapai jangka waktu tertentu. Jika pindah, imam membawa barang yang menjadi milik/hak pribadinya saja yang adalah penunjang kehidupan dan pelayanannya. Harta milik pastoran menjadi milik pastoran itu (inventaris pastoran) dan harus tetap tinggal di pastoran itu, tak boleh dibawa pindah. Barang paroki pun tak boleh dibawa. Karena itu, sebagai umat yang baik, Anda harus berdoa dan sekaligus ikut mengingatkannya dengan kasih.

Sikap terhadap uang kolekte selalu sama dari abad ke abad yaitu sukarela. Dari pihak pemberi kolekte, sikap yang dituntut ialah sukarela. Dari pihak yang mengelola, sikap yang dituntut ialah mengelolanya sesuai maksudnya.
Artikel mengenai kolekte, iura stolae dan stipendium dapat diikuti lebih lanjut dalam artikel ini:

Kolekte sebagai kegiatan liturgis: Bawa Pasar ke Altar dan Altar ke Pasar?

Stipendium dan Iura Stolae

No Second Coming says Pope Benedict?

5

Ada situs tertentu yang mengutip satu kalimat dari khotbah Paus Benediktus XVI (18 Nov 2012) yang lalu, yang kemudian mengambil kesimpulan bahwa Paus mengajarkan bahwa tidak ada kedatangan Yesus yang kedua kali di akhir zaman. Benarkah demikian?

Jika kita mendengar atau membaca komentar-komentar macam ini, janganlah kita terlalu cepat menjadi bingung, sebelum membaca sendiri secara langsung, apakah sebenarnya yang dikatakan oleh Paus selengkapnya. Maka berikut ini, kami terjemahkan apa yang dikatakannya, yang selengkapnya dalam bahasa Inggris dapat dibaca di sini, silakan klik (yang dicetak tebal adalah penekanan kami):

“Saudara dan saudari yang terkasih,

Sebagian dari khotbah Yesus tentang akhir zaman menurut St. Markus, diwartakan pada hari Minggu sebelum Minggu terakhir dalam tahun liturgis (lih. Mk 13:24-32). Khotbah ini juga ditemukan di Injil Matius dan Lukas dengan beberapa variasi, dan mungkin adalah teks Injil yang paling sulit. Kesulitan ini berasal dari baik isinya, maupun bahasanya: sesungguhnya, teks berbicara tentang sebuah masa depan yang melampaui ukuran kita sendiri dan untuk alasan ini Yesus menggunakan gambaran dan kata-kata yang diambil dari Perjanjian Lama; tetapi di atas semuanya itu, Ia memperkenalkan sebuah pusat yang baru, yang adalah Diri-Nya sendiri, [yaitu] misteri Pribadi-Nya dan misteri wafat dan Kebangkitan-Nya.

Perikop hari ini juga dibuka dengan gambaran kosmik tertentu yang mempunyai sifat apokaliptik: “matahari akan menjadi gelap, dan bulan tidak akan bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. (ay. 24-25); tetapi elemen ini dihubungkan dengan apa yang terjadi berikutnya: “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (ay. 26) Sang “Anak Manusia” adalah Yesus sendiri yang menghubungkan saat ini dengan saat yang akan datang; kata-kata yang kuno dari para nabi tersebut [yaitu istilah “Anak Manusia”] akhirnya telah menemukan pusatnya di dalam Pribadi Mesias dari Nazaret: Ia adalah Sang Kejadian Sejati yang tetap teguh dan bertahan di tengah guncangan-guncangan dunia.

Kata-kata lain di dalam Injil hari ini meneguhkan ini. Yesus bersabda: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (ay. 31) Memang kita mengetahui bahwa di dalam Kitab Suci bahwa Firman Allah adalah asal dari Penciptaan: semua ciptaan, mulai dari elemen-elemen kosmik – matahari, bulan, cakrawala- taat pada Firman Allah, mereka ada karena mereka telah “dijadikan” oleh-Nya. Kuasa penciptaan Sabda ilahi ini terpusat dalam Yesus Kristus, Sang Firman yang menjelma menjadi manusia, dan juga mengalir melalui perkataan-Nya sebagai manusia, yang adalah Sang “cakrawala” sejati yang mengarahkan pikiran dan perjalanan manusia di dunia.

Untuk alasan ini, Yesus tidak menjabarkan tentang akhir zaman dan ketika Ia menggunakan gambaran apokaliptik, Ia tidak bertindak sebagai seorang “pelihat”. Sebaliknya Ia berkehendak mencegah para murid-Nya dalam setiap kurun waktu dari sikap ingin tahu tentang hari-hari dan ramalan [tentang akhir zaman]; sebaliknya Ia hendak membekali mereka dengan sebuah kunci akan sebuah interpretasi penting yang mendalam dan, melampaui semua itu, untuk menunjukkan kepada mereka jalan yang benar yang harus dilalui, hari ini dan di masa mendatang, untuk memasuki kehidupan kekal.

Segala sesuatu berlalu, Tuhan mengingatkan kita, namun Firman Allah tidak berubah dan sebelum itu terjadi, setiap dari kita harus bertanggungjawab atas segala tingkah laku kita. Kita akan diadili atas dasar ini.

Sahabat-sahabat terkasih, di masa kita juga, tidak kurang terjadi bencana alam, dan juga, sayangnya, perang dan kekerasan. Saat ini juga kita memerlukan sebuah pondasi yang kuat bagi hidup kita dan pengharapan kita, terutama oleh karena relativisme yang melingkupi kita. Semoga Perawan Maria menolong kita untuk menerima pusat ini di dalam Pribadi Kristus dan di dalam Sabda-Nya.”

Dari teks ini, kita ketahui bahwa tidak benar jika Paus Benediktus mengatakan tidak akan ada akhir zaman. Sebab bahkan di awal khotbahnya, Paus mengatakan bahwa pada hari Minggu itu, bacaan Kitab Suci yang diwartakan adalah tentang khotbah Yesus tentang akhir zaman, menurut St. Markus. Paus menjelaskan bahwa suatu saat di masa yang akan datang, “matahari akan menjadi gelap, dan bulan tidak akan bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang (ay. 24-25); namun kemudian, Sang Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus akan datang dalam kemuliaan-Nya (lih. ay.26). Maka di tengah goncangan alam semesta, datanglah Kristus, sebagai suatu Kejadian yang pasti dan teguh. Paus menekankan kembali janji Kristus ini dengan mengacu kepada ayat berikutnya, yang mengatakan bahwa langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman-Nya tidak akan berlalu (lih. ay.31). Firman Tuhan ini, kata Paus, adalah asal dari segala ciptaan. Maka kuasa penciptaan dari Sang Sabda Ilahi ada di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu, untuk alasan ini, -yaitu untuk mengingatkan bahwa kuasa penciptaan ada di dalam Yesus, dan bahwa Yesus adalah Sang ‘cakrawala’ sejati yang mengarahkan pikiran dan perjalanan manusia di dunia- Yesus tidak menjelaskan tentang akhir dunia. Sebab bahkan sebelum akhir dunia, dalam kehidupan kita sekarang ini, sudah terjadi banyak bencana, perang dan segala sesuatu yang tidak terjadi sesuai dengan harapan kita; namun di tengah-tengah keguncangan ini (tanpa harus menunggu sampai akhir dunia), kita harus memandang kepada Kristus, yang adalah Kepastian dan pengharapan yang teguh.

Selanjutnya, Paus mengatakan, bahwa ketika Yesus menggunakan gambaran apokaliptik (yaitu seperti pada ay. 24-25), Yesus tidak bertindak sebagai seorang pelihat, atau seseorang yang mempunyai vision akan sesuatu. Sebab bagi Yesus yang adalah Allah, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi, atau masih merupakan suatu penglihatan/ vision yang membutuhkan suatu interpretasi/ penjelasan akan maknanya. Masa lalu, masa kini maupun masa depan, tampil dengan jelas di hadapan-Nya sebagai ‘masa kini’, tanpa perlu penjelasan tambahan. Maka, dengan menggunakan gambaran apokaliptik, Yesus tidak bermaksud untuk membuat para murid-Nya menjadi risau akan tanda-tanda tersebut, dan kemudian berusaha menyingkapkan kapankah waktunya semua itu akan terjadi. Sebaliknya, Yesus bermaksud menyampaikan arti yang lebih penting daripada semata-mata gambaran apokaliptik: yaitu bahwa di tengah segala kekacauan di dunia ini -entah di masa sekarang atau di masa akan datang dan di akhir dunia kelak saat segala sesuatunya berlalu- Firman-Nya tidak akan berubah. Yesus tetaplah adalah Jalan yang pasti, yang dapat menghantar kita memasuki kehidupan yang kekal. Namun kita tidak boleh lupa, bahwa sebelum semuanya itu terjadi, kita akan diadili oleh Kristus, menurut segala perbuatan kita (lih. Why 20:12).

Kembali ke pertanyaan di atas: Apakah benar bahwa Paus Benediktus mengatakan tidak ada kedatangan Yesus yang kedua? Jawabnya: Tidak. Jika seseorang mengatakan sebaliknya, itu menandakan bahwa ia tidak membaca keseluruhan khotbah Paus Benediktus XVI ini, atau membacanya secara tergesa-gesa, sehingga tidak menangkap maksud Paus yang sebenarnya.

Dalam buku Light of the World, yang memuat pembicaraan Paus Benediktus XVI dengan Peter Seewald, Paus mengatakan:

“Memang, adalah merupakan perhatian dari Paus Yohanes Paulus II untuk menjelaskan bahwa kita menantikan kedatangan Kristus. Itu artinya adalah, Ia yang telah datang, adalah juga, bahkan lebih lagi, Ia yang akan datang dan bahwa dari sudut pandang ini, kita harus hidup sesuai dengan iman kita sampai di masa mendatang. Sebagian dari hal ini adalah dengan menampilkan pesan iman lagi dari sudut pandang kedatangan Kristus.” ((Pope Benedict XVI, Light of the World, (San Fransisco, Ignatius Press: 2010), p. 63))

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab