Home Blog Page 130

Gue mau bebas !

3

yohanes-paulus-iiPaskah telah tiba, Kristus telah bangkit! Aleluia! Hari Raya Paskah sudah lama aku tunggu. Lebih tepatnya selama 40 hari. Maklum, Gereja kan menganjurkan untuk berpantang dan berpuasa selama masa Prapaskah. Bagi orang yang doyan makan (termasuk saya), puasa dan pantang tergolong perjuangan yang cukup berat.

Segera setelah misa Paskah di pagi hari, aku pulang ke rumahku, yang kebetulan hanya beberapa ratus meter dari Gereja Paroki. Setibanya di rumah, ada soto daging menanti sebagai sarapan. Luar biasa! Lalu masih ada sepotong kue cokelat yang semalam dibeli. Puji Tuhan! Kemudian ayam goreng KFC untuk makan siang. Lalu masih ada jus, cemilan, dan banyak hal lagi. Sekarang, aku sudah bebas makan apapun dan sebanyak apapun! Setelah makan, aku menyetel film dan menonton film-film yang sudah lama tidak sempat aku tonton. Rasanya ingin menghabiskan waktu sendiri dan tidak ingin dihubungi siapapun. Paskah ini aku merasa benar-benar bebas.

Setelah menjalani hari hingga petang, aku baru mulai merenung kembali. Apakah aku benar-benar bebas di hari Paskah ini? Aku memang bebas makan apapun dan sebanyak apapun. Aku juga bebas mendengarkan musik apapun atau menonton film apapun. Tapi, apakah ini kebebasan yang sebenarnya? Ketika dirunut kembali, ternyata aku belum bebas. Begitu Hari Raya Paskah mengizinkanku melonggarkan puasa dan pantangku, aku menariknya hingga longgar. Sangat longgar.

Aku terlalu melonggarkan nafsu makan, yang seharusnya aku kuasai, hingga kembali menguasaiku. Secara tidak sadar, kelonggaran tersebut melonggarkan pula kendaliku atas nafsu lainnya. Aku mengkomplain pengendara mobil di depanku yang sangat lamban. Aku menghadiri pertemuan dengan malas karena lebih ingin menonton film. Aku mencari alasan untuk “libur” doa harian dan devosi. Lah, apakah ini berarti pengendalian diri ku selama ini adalah beban buatku? Jika dipikir-pikir lagi, kesimpulannya ternyata sangat mengerikan : aku terbeban oleh standar dari Allah dan merasa lebih bebas jika hidup menurut standarku sendiri. Aku seolah ingin bebas dari Allah! Ini bukan kebebasan Paskah!

Aku memang tidak lagi terikat pada komitmen pantang dan puasa yang aku ambil selama Pra-Paskah. Tapi, kelihatannya aku lupa akan tujuanku mengambil komitmen tersebut. Perubahan jiwa dan lepasnya diriku dari dosa adalah tujuan komitmenku, yang terlupakan. Aku lupa bahwa kebebasan sejati diperoleh dari ketaatan pada Allah. Dengan taat pada Allah, aku terbebas dari nafsu makan berlebih yang akan membuat tubuhku tidak sehat. Aku akan terbebas dari kecanduan menonton film. Aku akan terbebas dari amarah sehingga hidupku akan lebih damai dan penuh kasih pada sesamaku. Kebebasanku yang sejati adalah seperti yang dikatakan St. Zakaria, yakni “terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepadaNya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapanNya seumur hidup kita. (Luk 1:74-75)”

Sebebas apapun kreasi seorang pemusik, dia tetap mengikuti notasi dan pola tangga nada tertentu. Sebebas apapun aku menenun gulali hidupku, tetap ada teknik dan aturan supaya gulali dapat terbentuk dengan baik. Yang jelas, tanpa gula rahmat Allah yang manis, tidak mungkin gulali dapat dibentuk. Artinya, kebebasanku justru penuh ketika aku mengikat diri pada Allah. Inilah kebebasan Paskah!… Wah, ada puding di kulkas!

“Kebebasan bukanlah saat kita melakukan apa yang kita suka, namun saat kita memiliki hak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan” – Bt. Yohannes Paulus II.

Apa artinya menjadi Katolik?

43

“Kamu masih Katolik?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal, tetapi pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada saya belasan tahun yang lalu, oleh teman masa kecil saya. Sewaktu remaja dulu, kami pernah sama-sama aktif di paroki, menjadi anggota Legio Mariae dan anggota salah satu koor di paroki kami. Kini ia telah berpindah ke gereja non-Katolik, karena konon ia lebih dapat bertumbuh secara rohani di sana. Dia begitu antusias mengisahkan pengalaman barunya di komunitas tersebut, dan kemudian menanyakan pertanyaan yang mengusik hati saya, “Kalau kamu bagaimana, masih Katolik, ya?” Seolah menjadi Katolik itu sesuatu keputusan yang kurang tepat dan harus diubah. Saya menjawabnya lirih, “Ya, saya masih Katolik, dan saya akan tetap Katolik….” Tapi saya tidak tahu bagaimana melanjutkan kalimat itu. Saya bersyukur, seiring dengan berjalannya waktu, melalui ajaran iman dan pengalaman hidup, sedikit demi sedikit, kutemukan jawabannya….

Menjadi Katolik artinya menerima dengan iman, wahyu Tuhan dan undangan-Nya kepada persatuan dengan-Nya

Sebagai murid Kristus, kita tidak hanya mengikuti sebuah buku, tetapi Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita disebut sebagai “Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen. Pribadi yang kita ikuti dan kita jadikan pusat dalam hidup kita ini, adalah Pribadi yang mengasihi kita, yang menyatakan kasih-Nya itu dan mewahyukan Diri-Nya secara penuh kepada kita. Karena kasih-Nya yang sempurna inilah, Kristus ingin terus tinggal di tengah kita dan bersekutu/ bersatu dengan kita. Sebab kasih selalu menginginkan kebersamaan. Kristus menghendaki kebersamaan atau persekutuan antara kita dengan Dia, atas dasar kasih dan kebenaran, sebab Ia Allah yang adalah Sang Kasih (1 Yoh 4:8) dan Kebenaran (Yoh 14:6). Maka menjadi Katolik, pertama-tama adalah menanggapi dengan iman, pewahyuan Allah dan undangan-Nya kepada persatuan (komuni) dengan-Nya. Maka, menjadi Katolik adalah menjadi seorang Kristiani, titik. Sebab seorang Kristiani sudah seharusnya menerima segala yang diwahyukan Allah di dalam Kristus.

Iman yang dimaksud di sini, menurut Konsili Vatikan II,[1] Katekismus[2], dan pengajaran Paus Yohanes Paulus II[3] adalah iman yang terdiri dari dua unsur. Yang pertama adalah unsur pribadi, yaitu percaya kepada Allah, akan segala kasih dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mau menyerahkan diri kita tanpa syarat kepada-Nya. Dengan kata lain, kita lebih percaya akan kebijaksanaan Allah daripada kebijaksanaan diri sendiri untuk menentukan kebahagiaan kita, dan kita lebih percaya akan kuasa rahmat-Nya daripada kekuatan sendiri untuk mencapainya. Yang kedua adalah unsur obyektif, yaitu kita percaya akan isi wahyu yang diberikan Tuhan, dan memegangnya sebagai sesuatu yang ilahi. Maka unsur pertama adalah percaya kepada Allah yang mewahyukan dan unsur kedua adalah percaya kepada apa yang diwahyukan-Nya. Dengan demikian, iman dapat digambarkan dengan perkataan ini: “Kalau Tuhan yang saya percayai sebagai Pribadi yang baik, penuh cinta kasih, dan bijaksana, telah mewahyukan sesuatu kepada saya, maka atas hormat dan kasih kepada-Nya, saya mau menerima apa yang diwahyukan-Nya itu.”

Keempat Tanda Gereja sejati: satu, kudus, katolik, apostolik

Iman Katolik mengajarkan bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita percaya, telah berbicara melalui Kristus, Putera-Nya (lih. Ibr 1:1-4). Sebab Allah mewahyukan bahwa Ia yang dalam Perjanjian Lama juga disebut sebagai Yahweh, Adonai, atau Yehovah, adalah satu dan sama hakekatnya dengan Yesus Kristus, sebab Kristus mengatakan, “Bapa dan Aku adalah satu.” (Yoh 10:30). Kristus yang sama ini mendirikan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18) yang oleh kuasa Roh Kudus, diberi karunia kesatuan, kekudusan, keseluruhan dan kesinambungan dengan jalur apostolik di sepanjang sejarah. Dengan mendirikan Gereja-Nya, dan memberikan kuasa kepada Gereja untuk membaptis dan mengajarkan semua perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20), Kristus menjadikan Gereja sebagai sarana yang perlu untuk keselamatan.

Peran Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan, di mana Allah terus melaksanakan karya penyelamatan-Nya, secara sempurna dinyatakan dalam perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Gereja lahir dari Ekaristi, dan Ekaristi lahir dari Gereja. Sebab Gereja lahir/ memperoleh hidupnya dari pengorbanan Kristus.  Sakramen-sakramen sebagai peringatan akan pengorbanan Kristus itu- terus menghidupi Gereja, dan Gereja terus menghadirkannya.[4]

Tanda apostolik menjamin kesatuan, kekudusan dan kekatolikan Gereja

Mungkin ketiga tanda Gereja yaitu satu, kudus dan katolik (universal), lebih mudah diterima, daripada tanda yang terakhir, yaitu apostolik. Namun sejujurnya tanda yang keempat ini merupakan tanda yang paling jelas menunjukkan bahwa seperti halnya dahulu Kristus hadir secara aktif di tengah para Rasul, kini, Ia-pun hadir secara aktif di tengah Gereja-Nya. Meskipun Ia sudah bangkit dan naik ke surga, Kristus tetap hadir dan melanjutkan misinya di dunia, di dalam Gereja dan melalui Gereja. Maka ada hubungan yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja. Gereja itu satu, kudus dan katolik, sebab Kristus itu satu, kudus dan katolik, dan Ia kini tetap hadir dalam Gereja-Nya sampai akhir zaman.

Bahwa Kristus dapat hadir di tengah umat-Nya dalam berbagai cara, namun ada satu cara yang dikehendaki-Nya, dan menjadi pusatnya. Pusat ini adalah kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi, yang menjadi sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani (lih. KGK 1324). Iman Katolik mengajarkan bahwa terdapat hubungan yang tak terpisahkan antara sifat apostolik dengan kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi. Paus yang adalah penerus Rasul Petrus, menjadi tanda yang menghubungkan Gereja masa kini dengan Gereja di zaman para Rasul. Sebagai prinsip yang menyatukan, Paus menjamin kesatuan kolese para Uskup -yang adalah penerus para Rasul- yang menjadi tanda kesatuan antara Gereja partikular/ lokal dengan Gereja universal. Kesatuan ini bukan hanya semata saling mengakui keberadaan masing-masing, atau sebagai hasil hubungan timbal balik antara gereja-gereja. Namun kesatuan ini adalah kesatuan yang timbul dari dalam, yang hasilnya adalah hadirnya Gereja universal dengan semua elemen dasarnya, di dalam setiap gereja-gereja partikular tersebut.

Kehadiran Kristus secara nyata dalam Gereja, secara khusus dalam Ekaristi dijamin oleh karunia sifat apostolik yang melayani ketiga tanda Gereja: kesatuan, kekudusan dan kekatolikan. Kristus yang hadir secara aktif atas kuasa Roh Kudus yang telah mengurapi para rasul dan para penerus mereka, itulah yang menjadikan Gereja sebagai sakramen kesatuan dan keselamatan bagi umat manusia. Ekaristi dan kesatuan dalam kepemimpinan Paus bukanlah akar yang terpisah bagi kesatuan Gereja, sebab Kristus menentukan keduanya untuk saling berhubungan satu sama lain. Kepemimpinan Paus adalah satu, seperti Ekaristi adalah satu: yaitu satu Korban dari satu Kristus, yang wafat dan bangkit. Maka dalam setiap perayaan Ekaristi, dilakukanlah dan ditunjukkanlah kesatuan, tidak saja dengan Uskup sebagai penerus para Rasul, tetapi juga dengan Paus sebagai penerus Rasul Petrus sang pemimpin para Rasul, dengan semua imam dan semua umat beriman yang adalah anggota Kristus, dan di atas semua itu, dengan Kristus yang adalah Kepalanya.

Menjadi Katolik artinya mempercayakan diri kepada Tuhan melalui Gereja

Gereja Katolik memahami peran otoritas apostolik sebagai iman akan janji Kristus yang akan menyertai Gereja-Nya, yang dibuktikan juga oleh banyak tanda sepanjang sejarah, yang menunjukkan betapa Kristus menjaga Gereja dan menghindarinya dari ajaran-ajaran yang menyimpang. Oleh iman inilah, kita menyerahkan diri kepada Allah melalui Gereja, sebab demikianlah yang dikehendaki oleh Allah.

Prinsip pengantaraan Gereja ini bukanlah hal yang baru atau mengada-ada. Sepanjang sejarah umat pilihan, Allah menghendaki bahwa kesetiaan kepada-Nya diukur juga dari kesetiaan kepada para nabi atau pengantara yang ditunjuk olah-Nya. Setia kepada Allah di zaman Perjanjian Lama, berarti juga setia kepada Nabi Musa. Keduanya tak terpisahkan, sebagaimana tertulis dalam Kel 14:31. Kesetiaan kepada para nabi berarti penerimaan terhadap apa yang dikatakan oleh mereka. Tuhan menganggap bahwa penolakan terhadap ajaran para nabi merupakan penolakan terhadap-Nya, seperti nyata dalam penolakan terhadap Nabi Yeremia (lih. Yer 7:25-26). Di masa Yohanes Pembaptis, jawaban “Ya” terhadap panggilan Tuhan dinyatakan dengan persetujuan untuk dibaptis (lih. Mrk 1:4; Luk 3:3) dan penerimaan terhadap pesannya yang memberitakan kedatangan Kristus, Sang Anak Domba Allah (lih. Yoh 1:29,36).

Kristus menghubungkan penerimaan ataupun penolakan terhadap diri-Nya dan Bapa yang mengutus-Nya, dengan penerimaan ataupun penolakan terhadap mereka yang diutus oleh-Nya (lih. Luk 10:16). Maka Gereja mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Kristus ditunjukkan dengan penerimaan keseluruhan kehendak-Nya (lih. Mat 28:19-20), termasuk pengantaraan Gereja apostolik yang didirikan-Nya (lih. Mat 16:16-19). Dengan kata lain, persetujuan iman terhadap Kristus mengambil bentuk konkritnya dalam persetujuan terhadap semua yang telah dinyatakan dan didirikan oleh-Nya, termasuk Gereja-Nya.

Menjadi Katolik artinya setia kepada Tuhan, Kristus, Gereja dan diri sendiri

Rasul Yohanes mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan diukur dari kesetiaan kepada keseluruhan pengajaran yang dikenali sebagai wahyu ilahi sejak awal mula (lih. 1 Yoh 2:24). Jika Allah menghendaki agar kita menerima ajaran-Nya dengan menerima ajaran para nabi yang mencapai puncaknya pada penggenapannya dalam diri Kristus, kita menerima kehendak Allah ini, dengan menerima Kristus sepenuhnya. Sebab Kristus sepenuhnya menyatakan Allah dan kasih-Nya kepada kita (Kol 1:19; 2:9), sehingga Rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah segalanya (lih. Kol 3:11). Maka penerimaan Kristus sepenuhnya ini termasuk dengan menerima segala ajaran-Nya dan menjadi anggota Gereja yang didirikan-Nya. Jika Kristus menjamin kuasa mengajar Gereja yang dilaksanakan oleh para rasul, secara khusus, oleh Rasul Petrus dan para penerus mereka, maka demi ketaatan kita kepada Kristus, kita mentaati juga ajaran Gereja-Nya tersebut. Sebab kita mengingat perkataan Kristus sendiri kepada para murid-Nya, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16).

Dengan ketaatan yang menerima keseluruhan Kristus dan ajaran-Nya ini, maka seorang Katolik memberikan kata “Ya” tanpa syarat dalam iman kepada Allah. Pemberian persetujuan iman tanpa syarat ini, menjadi tanggapan yang mendamaikan bagi hati kita sebagai manusia yang senantiasa resah/ gelisah, sampai kita beristirahat di dalam Tuhan.[5] Sebab dengan menyerahkan pemahaman kita kepada Kristus melalui Gereja-Nya, kita tidak lagi perlu gelisah menginterpretasikan banyak hal menurut pemahaman sendiri, yang dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, bahkan bertentangan, terhadap suatu topik pengajaran yang sama. Dengan menerima sepenuhnya pengajaran Gereja, kita memperoleh kepenuhan makna ajaran Kristus, dan ini menghasilkan ketenangan bagi jiwa. Menarik jika kita menyimak tayangan Journey Home di situs EWTN (Eternal Word Television Network) yang mengisahkan tentang pencarian akan kepenuhan kebenaran yang membawa kepada Gereja Katolik, silakan klik. Di sana ada lebih dari 700 kisah kesaksian dari mereka yang non-Katolik, bahkan banyak di antaranya pendeta, yang akhirnya menjadi Katolik karena setia mencari apa yang dirindukan oleh hati nurani mereka sendiri, yang membawa mereka menemukan ‘rumah’ mereka yang sesungguhnya di Gereja Katolik.

Menjadi Katolik artinya menjadi anggota Gereja yang lahir dari Hati Kudus Yesus

Namun bagi saya sendiri, pengalaman yang tak terlupakan dan begitu mengena di hati saya, adalah ketika saya mendengar dan merenungkan kutipan pengajaran dari St. Yohanes Krisostomus tentang Gereja. Ia mengajarkan demikian:

“Mengalir dari rusuk-Nya, air dan darah”. Saudara saudari terkasih, jangan lewatkan misteri ini tanpa permenungan; ini mempunyai makna lainnya yang tersembunyi, yang akan kujelaskan kepadamu. Telah kukatakan bahwa air dan darah menandakan Pembaptisan dan Ekaristi kudus. Dari kedua sakramen ini, Gereja dilahirkan: dari Pembaptisan, [yaitu] “air pembasuh yang memberikan kelahiran kembali dan pembaharuan melalui Roh Kudus”, dan dari Ekaristi kudus. Karena simbol Pembaptisan dan Ekaristi mengalir dari rusuk-Nya, maka dari rusuk-Nyalah Kristus membentuk Gereja, seperti Ia telah membentuk Hawa dari rusuk Adam. Nabi Musa telah memberikan secercah tanda tentang hal ini, ketika ia menceritakan kisah tentang manusia pertama dan membuat Adam mengatakan: “Tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!” Sebagaimana Tuhan mengambil sebuah tulang rusuk dari rusuk Adam untuk membentuk seorang perempuan, demikianlah Kristus telah memberikan kepada kita darah dan air dari rusuk-Nya untuk membentuk Gereja. Tuhan mengambil tulang rusuk tersebut ketika Adam sedang tertidur lelap, dan dengan cara yang sama Kristus memberikan darah dan air setelah kematian-Nya sendiri.

Maka, tidakkah kamu mengerti, betapa Kristus telah mempersatukan Mempelai-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan santapan apakah yang Ia berikan kepada kita semua untuk kita makan? Dengan santapan yang satu dan sama, kita dilahirkan dan diberi makan. Seperti seorang wanita memberi makan anaknya dengan air susu dan darahnya sendiri, demikianlah Kristus terus menerus memberi Darah-Nya sendiri kepada mereka yang kepadanya Ia telah menyerahkan hidup-Nya.”[6]

Sudah lama saya mendengar bahwa Gereja adalah Mempelai Kristus, tetapi saya tidak menyadari sedemikian eratnya hubungan Kristus dengan Gereja-Nya, sampai saya membaca tulisan St. Yohanes Krisostomus ini. Kristus adalah Adam yang baru, dan Gereja adalah Hawa yang baru, yang dibentuk dari rusuk/lambung Kristus, yang dihubungkan juga dengan hati kudus-Nya—sebab maksud prajurit itu menikam adalah menikam jantung hati Kristus, untuk memastikan kematian-Nya. Hubungan Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru, merupakan penggenapan sempurna kisah Adam dan Hawa yang telah dikisahkan dalam Perjanjian Lama.

St. Yohanes Krisostomus bukan Bapa Gereja pertama yang mengajarkan bahwa Gereja lahir dari tubuh Kristus, sebagaimana Hawa dari tubuh Adam. St. Irenaeus (abad ke-2) mengajarkan bahwa Gereja bagaikan aliran mata air yang mengalir dari tubuh Kristus, dan dari air ini kita memperoleh santapan kehidupan.[7] St. Ambrosius juga mengajarkan demikian, sebagaimana dikutip dalam Katekismus:

KGK 766        Tetapi Gereja muncul terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib.”[8] “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan.”[9] Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib.[10]

Pengajaran para Bapa Gereja ini membuka mata rohani saya, bahwa sejak awal mula, Allah telah merencanakan kesempurnaan ciptaan-Nya, dengan mempersatukan semua umat manusia ciptaan-Nya di dalam Kristus dan Gereja. Tiba-tiba pengajaran di Katekismus menjadi ‘make sense‘ buat saya, setelah merenungkan penggenapan kisah Adam dan Hawa di dalam diri Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru. Sebagaimana manusia pertama—Adam dan Hawa—menjadi puncak karya penciptaan Allah, demikianlah Kristus dan Gereja menjadi puncak karya keselamatan Allah. Persatuan manusia dengan Kristus tercapai secara sempurna dalam diri Bunda Maria, maka tak mengherankan, jika dalam tulisan yang lain para Bapa Gereja menyebut Bunda Maria juga sebagai Hawa yang baru. Sebab Bunda Maria adalah anggota pertama dan utama dari perkumpulan umat manusia di dalam Kristus, yang kemudian disebut Gereja.

KGK 760        “Dunia diciptakan demi Gereja”, demikian ungkapan orang-orang Kristen angkatan pertama.[11] Allah menciptakan dunia supaya mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Keikut-sertaan ini terjadi karena manusia-manusia dikumpulkan dalam Kristus, dan “kumpulan” ini adalah Gereja. Gereja adalah tujuan segala sesuatu.[12] Malahan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati, seperti jatuhnya para malaikat dan dosa manusia, hanya dibiarkan oleh Allah sebagai sebab dan sarana, untuk mengembangkan seluruh kekuatan tangan-Nya dan menganugerahkan kepada dunia cinta-Nya yang limpah ruah:

“Sebagaimana kehendak Allah adalah satu karya dan bernama dunia, demikian rencana-Nya adalah keselamatan manusia, dan ini namanya Gereja.”[13]

Gereja yang dimaksud di sini adalah satu-satunya Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18), dan bahwa Kristus menjamin akan menyertainya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20). Sebagaimana hanya ada satu Hawa yang dibentuk dari Adam, demikian pula hanya ada satu Gereja yang dibentuk dari Kristus. Maka Gereja tak pernah terpisah dari Kristus. Gereja bukan sesuatu yang dibentuk sendiri oleh beberapa orang beriman, dan kemudian diklaim sebagai Gereja Kristus. Gereja adalah suatu ‘pemberian’ dari Kristus dan dibentuk sendiri oleh Kristus, yang ditandai oleh darah dan air yang mengalir keluar dari lambung-Nya yang terluka di kayu salib. Maka rencana Allah untuk mempersatukan seluruh dunia di dalam Kristus sudah ada sejak awal mula, namun rencana ini baru mulai terwujud pada saat Gereja dibentuk dari air dan darah yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam di salib. Gereja ini kemudian ditampilkan kepada dunia pada hari Pentakosta, dengan datangnya Roh Kudus.[14] Satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus, yang masih ada sampai sekarang di bawah pimpinan penerus Rasul Petrus adalah Gereja Katolik. Jika Kristuslah yang mendirikan Gereja ini, dan yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya, maka sudah selayaknya saya memutuskan untuk menjadi anggota Gereja-Nya ini.

Maka menjadi Katolik bagi saya tidaklah semata suatu kebetulan, karena dilahirkan oleh orang tua yang Katolik. Saya menjadi Katolik karena ingin mentaati Allah sepenuhnya, yang telah mewahyukan melalui Kristus, segala ajaran-Nya dan undangan-Nya untuk bersatu dengan-Nya dan dengan sesama umat manusia, di dalam Kristus dan melalui Gereja yang didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik.

Tuhan, bantulah aku untuk setia pada imanku ini, sampai akhir hayatku.

 


[1]Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5: “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rm 16:26; lih. Rm 1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.

[2]Lih. KGK 143: “Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyakan Diri (Bdk. DV 5). Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan iman” (Bdk. Rm 1:5; 16:26). Dan KGK 144: “Taat [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.

[3]Lih. Paus Yohanes Paulus II, dalam Audiensi Umum, Maret 13, 1985: “Percaya berarti menerima dan mengakui sebagai kebenaran dan kesesuaian dengan kenyataan, isi dari apa yang dikatakan, yaitu, isi dari yang dikatakan oleh seseorang yang lain (atau beberapa orang yang lain) karena kredibilitas orang itu. Maka, dengan mengatakan “Aku percaya”, kita menyatakan dua buah acuan pada saat yang sama: kepada orangnya, dan kepada kebenaran [yang dikatakan]-nya; kepada kebenarannya dengan memperhatikan pribadi orang yang mempunyai kredibilitas yang istimewa tersebu.”

[4]Lih. KGK 1118: Sakramen-sakramen adalah Sakramen “Gereja” dalam arti ganda, karena mereka ada “melalui dia” dan “untuk dia”. Mereka ada “melalui Gereja” karena Gereja adalah Sakramen karya Kristus, yang bekerja di dalamnya berkat perutusan Roh Kudus. Dan mereka itu “untuk Gereja”; mereka adalah “Sakramen-sakramen, yang olehnya Gereja didirikan” (Agustinus, De civ. Dei 22,17, Bdk. Thomas Aquinas, Summa Theologica III,64, 2 ad 3), karena mereka memberikan dan membagi-bagikan kepada manusia, terutama dalam Ekaristi, misteri persekutuan dengan Allah, Dia yang adalah cinta kasih, Dia yang esa dalam tiga Pribadi.

[5]St. Augustine, Confessions (Lib 1,1-2,2.5,5: CSEL 33, 1-5): “You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in you.”

[6]St. John Chrysostom, A Homily for Holy Friday, The Blood and Water from His side, (+ AD 407).

[7]St. Irenaeus, Adversus Haereses, III, 24, 1: PG 7, 966 mengajarkan: “Mereka yang tidak mengambil bagian dalam Roh Kudus, tidak dapat memperoleh dari pangkuan ibu mereka [Gereja] santapan kehidupan; mereka tak menerima apapun dari mata air yang murni yang mengalir dari tubuh Kristus.”

[8]Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 3.

[9]Sacrosanctum Concilium 5.

[10]Bdk. Santo Ambrosius, Luc. II, 85-89, PL 15, 1666-1668.

[11]Hermas, Vision. 2,4, 1; Bdk. Aristides, Apol. 16,6; Yustinus, Apol. 2,7.

[12]Bdk. Epifanius, Haer. 1,1,5.

[13]St, Klemens dari Aleksandria, Paed. 1,6,27:PG 8, 281.

[14]Lih. KGK 767: “Sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentakosta, agar ia senantiasa menyucikan Gereja” (Lumen Gentium 4). Ketika itu “Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (Ad Gentes 4). Sebagai “perhimpunan” semua manusia menuju keselamatan, Gereja itu misioner menurut kodratnya, diutus oleh Kristus kepada segala bangsa, untuk menjadikan semua orang murid-murid-Nya (Bdk. Mat 28:19-20; Ad Gentes 2;5-6)

Kita harus menghidupi iman dengan hati yang muda

0

paus fransiskusHomili Paus Fransiskus pada hari Minggu Palma, 24 Maret 2013.

Gembira

Yesus memasuki Yerusalem. Pengikutnya berbondong – bondong menyertai Dia dalam suasana pesta, mereka menghamparkan pakaiannya di depan Dia, mereka membicarakan mukjizat – mukjizat yang telah dilakukan Yesus, dan terdengar seruan pujian : “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk 19:38)

Orang banyak berpesta, memuji, memberkati, kedamaian: kegembiraan mengisi atmosfer. Yesus telah membangkitkan harapan yang begitu besar, terutama di hati orang yang sederhana, yang rendah hati, yang miskin, yang terlupakan, mereka yang tidak berharga di mata dunia. Dia memahami penderitaan manusia, Dia telah menunjukkan wajah Allah yang murah hati, Dia telah membungkuk untuk menyembuhkan jiwa dan raga.

Inilah Yesus. Inilah hatinya yang memandang kita semua, yang melihat kesakitan kita, dosa – dosa kita. Kasih Yesus sangatlah besar. Dan kemudian Dia masuk ke dalam Yerusalem dengan kasih ini dan memandang kita semua. Ini merupakan adegan yang sangat indah, penuh cahaya – cahaya dari kasih Yesus, dari hatinya- kegembiraan dan pesta.

Di awal Misa, kita mengulangi ini semua. Kita melambaikan daun Palma. Kita juga menyambut Yesus; kita juga menunjukkan kegembiraan kita dalam mendampingi Yesus, mengetahui Ia ada di dekat kita, hadir dalam kita dan di antara kita sebagai teman, saudara, dan juga Raja: ini adalah cahaya penunjuk jalan hidup kita. Yesua adalah Allah tetapi Dia merendahkan diri-Nya untuk berjalan bersama kita. Dia adalah sahabat dan saudara kita. Dia menerangi kita sepanjang perjalanan. Dan karenanya hari ini kita menyambut Dia.

Kata pertama yang ingin saya bagikan kepada kalian adalah : Gembira ! Jangan menjadi pria dan wanita yang bersedih: seorang Kristen tidak akan pernah bersedih! Jangan pernah memberi jalan kepada keputusasaan! Kegembiraan kita tidak berasal dari kepemilikan harta benda, tetapi datang dari pertemuan kita dengan sebuah Pribadi, Yesus, yang ada di antara kita. Kita bergembira karena kita tahu bahwa bersama dia, kita tidak pernah sendiri, bahkan di saat sulit, bahkan saat perjalanan hidup kita penuh dengan masalah dan rintangan yang nampaknya tidak dapat dilalui, dan banyak sekali kejadian seperti ini. Ini adalah saat di mana musuh kita si Jahat datang, seringkali menyamar sebagai malaikat, datang dan meracuni kita perlahan – lahan dengan perkataannya. Jangan pernah mendengarkan perkataannya! Ikuti Yesus! Kita mendampingi, kita mengikuti Yesus, tetapi di atas itu semua kita tahu bahwa Dia menyertai kita dan memanggul kita di atas pundak-Nya. Inilah kegembiraan kita, inilah harapan yang harus kita bawa ke dalam dunia kita. Jangan pernah biarkan dunia mencuri harapan kita, harapan yang diberikan Yesus kepada kita.

Salib

Mengapa Yesus masuk kota Yerusalem? Atau mungkin: bagaimana Yesus memasuki Yerusalem? Orang banyak menyatakan dia sebagai Raja. Dan dia tidak membantahnya, dia tidak menyuruh mereka untuk diam (bdk. Luk 19:39-40). Tetapi Raja yang seperti apakah Yesus? Mari kita lihat: Dia mengendarai seekor keledai, Dia tidak didampingi oleh kabinet, Dia tidak dikelilingi oleh tentara sebagai simbol kekuasaan. Dia diterima oleh orang yang rendah hati, masyarakat sederhana yang dapat melihat sesuatu yang lebih dalam diri Yesus; mereka yang dapat merasakan iman yang memberitahu mereka: ‘Inilah Sang Penyelamat.’ Yesus tidak masuk ke dalam Kota Suci untuk menerima penghargaan yang disediakan bagi raja – raja duniawi, para penguasa, dan para pemimpin. Dia datang untuk dicambuk, dihina dan dilecehkan, seperti yang sudah dikatakan Nabi Yesaya dalam Bacaan Pertama (bdk Yes 50:6). Dia datang untuk menerima sebuah mahkota berduri, sebuah tongkat, dan jubah ungu; ke-raja-an-Nya menjadi bahan olok-olok. Dia datang untuk mendaki Kalvari, membawa beban kayu salib.

Dan sampailah kita pada kata kedua: Salib. Yesus masuk kota Yerusalem untuk mati di kayu Salib. Dan di sinilah kerajaannya bersinar terang dengan cahaya ilahi; singgasana-Nya adalah kayu salib! Saya teringat apa yang dikatakan Benediktus XVI kepada para kardinal, ‘Kalian adalah pangeran, dari seorang Raja yang tersalib.’ Itulah takhta Yesus. Yesus memilih untuk dirinya sendiri… Tetapi mengapa Salib? Karena Yesus meletakkan pada diri-Nya kejahatan, kotoran, dosa dunia, termasuk dosa kita – setiap dari kita- dan membasuhnya, ia membasuhnya dengan darah-Nya, dengan kemurahan hati dan kasih Allah. Mari kita lihat: berapa banyak luka – luka yang diakibatkan oleh si Jahat terhadap kemanusiaan? Peperangan, kekerasan, konflik ekonomi yang menyerang mereka yang paling lemah, ketamakan akan uang, yang tidak dapat kita bawa sepeserpun (red-setelah meninggal), kita akan meninggalkan itu semua.

(Kemudian Paus menambahkan catatan pribadi dari luar teks) Nenek saya sering berkata, ‘Kain kafan tidak berkantung!’ (Kembali ke teks) Mencintai uang, kekuasaan, korupsi, perpecahan, kejahatan terhadap nyawa manusia dan terhadap ciptaan! Dan juga setiap dari kita mengenal dan tahu – dosa kita masing – masing: kegagalan kita dalam mencintai dan menghormati Allah, sesama kita, dan seluruh ciptaan.

Yesus di kayu Salib memikul seluruh beban kejahatan dan dengan kekuatan kasih Allah dia menaklukkannya, mengalahkannya dengan kebangkitan-Nya. Inilah kebaikan Yesus lakukan untuk kita semua dari takhta Salib. Salib Kristus merangkul kita dengan kasih yang tidak membawa kita kepada kesedihan, melainkan kegembiraan! Membawa kita kepada kegembiraan karena sudah diselamatkan dan dari sedikit yang kita lakukan baginya pada saat wafat-Nya.

Kaum Muda

Hari ini di Lapangan (red-Lapangan Santo Petrus), banyak kaum muda: sudah 28 tahun Minggu Palma menjadi Hari Kaum Muda Sedunia! (red-jangan disamakan dengan Hari Kaum Muda Sedunia 2013 di Brazil) Inilah ketiga kita: Kaum Muda! Kaum muda yang terkasih, saya melihat kalian dalam prosesi saat kalian masuk. Saya memikirkan kalian yang merayakan di sekeliling Yesus, melambaikan ranting zaitun. Saya memikirkan kalian yang menyerukan nama-Nya dan menunjukkan kegembiraan kalian bersama Dia! Kalian memiliki bagian yang penting dalam perayaan iman! Kalian membawa kegembiraan iman dan kalian memberitahukan kepada kita semua bahwa kita harus menghidupi iman kita dengan hati kaum muda. (Paus kembali menekankan) Hati kaum muda, selalu, bahkan saat umur kita sudah 70 atau 80, hati yang muda. Bersama Kristus, hati kita tidak pernah menjadi tua.

Juga kita semua, kalian semua tahu dengan baik bahwa Raja yang ikuti dan menyertai kita sangatlah spesial: Dia adalah Raja yang mencintai bahkan sampai di kayu Salib dan yang mengajarkan kita untuk melayani dan mengasihi. Dan kalian tidak dipermalukan dengan Salib-Nya! Kebalikannya, kalian memeluknya karena kalian telah paham bahwa dalam pemberian diri dan keluar dari diri kita (red-lebih memperdulikan orang lain), kita mendapatkan kegembiraan sejati dan melalui kasih Allah Ia telah mengalahkan yang jahat. Kalian memanggul Salib peziarahan melalui semua Benua, sepanjang jalan di dunia! Kalian memanggulnya dalam menanggapi panggilan Yesus: “Pergi, jadikan segala bangsa murid-Ku” (Mat 28:19), yang juga menjadi tema Hari Kaum Muda Sedunia tahun ini. Kalian memanggulnya untuk memberitakan kepada setiap orang bahwa di kayu Salib Yesus meruntuhkan tembok permusuhan yang memecah belah manusia dan bangsa – bangsa, dan Ia membawa rekonsiliasi dan perdamaian.

Teman – teman yang terkasih, saya pun hari ini memulai sebuah perjalanan bersama kalian, dalam mengikuti jejak langkah Yang Terberkati Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI. Kita sudah dekat dengan langkah selanjutnya dalam perziarah Salib yang besar. Saya menantikan dengan gembira bulan Juli yang akan datang di Rio de Janeiro! Saya akan bertemu kalian di kota besar Brazil! Persiapkan dengan baik dalam komunitas kalian – terutama persiapan spiritual – supaya pertemuan kita di Rio dalam menjadi suatu tanda iman bagi seluruh dunia. (Tanpa teks, Paus berseru) Orang muda, kalian harus memberitahukan dunia bahwa mengikuti Yesus itu baik, bahwa pergi bersama Yesus itu baik. Pesan – pesan Yesus adalah kebaikan. Adalah hal yang baik untuk pergi keluar dari kita ke ujung – ujung bumi dan kehidupan untuk membawa Yesus. 3 kata: Gembira, Salib, dan Kaum Muda.

Marilah kita mohon perantaraan Perawan Maria. Dia mengajarkan kita sukacita bertemu dengan Kristus, kasih yang kita perlukan untuk memandang kaki kayu Salib, semangat hati yang muda yang wajib kita miliki untuk mengikuti Dia dalam Pekan Suci ini dan sepanjang hidup kita. Semoga terjadilah demikian.

Paus Fransiskus.
24 Maret 2013

Sumber: www.vis.va

Angelus Bapa Fransiskus 24 Maret 2013

0

paus fransiskusSaudara – saudari yang terkasih! Di akhir perayaan ini (red-Misa Minggu Palma), kita memohon perantaraan Perawan Maria semoga dia berkenan menyertai kita dalam Pekan Suci. Semoga dia yang mengikuti Putranya dengan iman sampai ke Kalvari, membantu kita untuk berjalan di belakang jejaknya, memanggul salibnya dengan damai dan kasih, juga untuk mencapai kegembiraan Paskah. Semoga Bunda yang Berduka menolong kita semua terutama yang sedang berada dalam masalah. Doa – doa saya tertuju kepada mereka yang terserang tuberculosis (TBC), karena hari ini adalah peringatan Hari Sedunia TBC. Saya menyerahkan kalian terutama kaum muda kepada Maria dan jalan kalian menuju Rio de Janiero, bulan Juli ini, Rio! (red-World Youth Day 2013 atau Hari Pemuda Sedunia akan diadakan di kota ini). Persiapkan hati kalian secara spiritual. Semoga kalian mendapat pengalaman yang baik!

Paus Fransiskus.
Vatikan.

Sumber : www.vis.va

Kalungkan kasih !

1

Malam itu sangat sepi. Bintang pun enggan berkelip. Keheningan malam itu menjadi saksi akan tali kasih yang tak pernah mati. Kasih abadi adalah kasih putih. Kasih putih adalah kasih yang tulus bagaikan merpati. Di dalam kasih itu, ada senyuman, ada kelembutan, ada kedamaian, dan ada kebahagiaan. Kasih putih bermuara dari iman dan tertancap di dalam jiwa. Banjir dan badai tak akan mampu merobohkannya. Ia justru meletupkan jati dirinya justru ketika raga berada dalam ambang kefanaan.

Seorang pria memintaku untuk mendoakan istrinya. Istrinya telah lama terkulai tak sadarkan diri. Tubuhnya kurus kering akibat penyakit komplikasi yang dideritanya sejak kelahiran anaknya yang ketiga, yakni sembilan tahun silam. Penyesalan memenuhi hatinya karena telah meminta istrinya untuk meninggalkan agama Katolik yang telah diimaninya. Aku memberkati perkawinan mereka secara Katolik dengan keyakinan pasti diberikan dispensasi dari petinggi gerejani sesuai dengan spiritualitas pelayanan “Gembala Baik dan Murah Hati”. Aku memberikan kepadanya juga “Sakramen Perminyakan Suci”.

Keperihan menggores hati ketika ia menyampaikan rangkaian kata ke telinga istrinya : “Ma….. , engkau sudah menjadi Katolik lagi. Maafkan papi telah merenggut kebahagiaanmu yang sejati, yaitu iman Katolikmu yang telah engkau percayai. Papi tahu bahwa engkau sakit karena berkorban demi kasih dan ketentraman bagi kami”. Kelopak mata istrinya itu pelan-pelan terbuka dan semakin lama meneteskan butir-butir air mata. Ia memandang suaminya dan bibirnya tersenyum indah. Mulutnya menyerukan suara lirih : “Yesus… Yesus… Tuhanku” sebelum memejamkan mata selamanya dengan tangan mengenggam rosario yang kuberikan. Ia pulang ke rumah Allah Bapa pada hari Minggu Palma, Minggu Suci, di mana Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem, lambang kebahagiaan abadi. Ia kembali ke surga dengan meninggalkan sejuta kenangan. Kenangan itu tak akan pernah terlupakan sepanjang hayat. Kenangan itu membawa pesan “Jangan tinggalkan Iman dan Kasih karena di situlah sumber kebahagiaan”. Air mata suaminya berderai membasahi pipi. Ia mencurahkan keinginan hati: “Romo, saya dan ketiga anak saya akan menjadi Katolik. Saya yakin iman Katolik istri saya yang membuatnya senantiasa mengasihi kami dan selalu mengalah kepada kami”. Mulutku terbungkam mati dan ragaku terkulai tak sanggup berdiri menyaksikan drama kehidupan yang menyayat hati jiwa. Aku berdoa di dalam hati “Semoga iman dan imamatku tetap terpatri sampai aku mati”.

Kenakanlah senantiasa iman dan kasih, maka kita dengan sendirinya menjadi pewarta-pewarta gembira atas keselamatan. Amsal menasihati kita untuk membawa iman dan kasih ke mana dan di mana kita berada : “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia” (Amsal 3:3-4).

Kegembiraan yang hanya dinikmati sendiri dalam waktu dekat akan segera mati. Kegembiraan yang kita bagikan akan semakin bertambah dan bahkan melimpah. Sukacita berlimpah adalah kehidupan yang dinugerahkan kepada kita oleh Tuhan. Kita begitu berharga di mata Tuhan sehingga Tuhan dengan senang hati membasuh kaki kita. Dengan membasuh kaki kita, Tuhan membagikan kehidupan ilahi-Nya : “Jikalau aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku” (Yohanes 13: 8). Karena kita sudah mendapatkan kehidupan ilahi, kita sepantasnya berbagai kehidupan : “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;” (Yohanes 13:14).

Pada akhirnya kita akan bersorak memuji Tuhan atas kebangkitan jiwa kita bersama dengan kepulangan-Nya ke surga setelah melewati penderitaan dan kematian. “Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm 16:7-11).

Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Tidak berakhir sampai di sini

1

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh. 16:33)

Seorang gadis kecil lucu berusia sekitar satu setengah tahun sedang asyik bermain dan berlari-larian di ruang tunggu praktek dokter yang saya kunjungi malam itu. Ruang tunggu yang luas itu memang dibuat nyaman. Disediakan pula beberapa alat permainan anak-anak di salah satu sudutnya yang dindingnya dilukis dengan gambar tokoh-tokoh kartun. Si balita kecil itu begitu menikmati kegiatan bermainnya tanpa sepenuhnya menyadari mengapa ibunya membawanya ke situ. Ketika tiba giliran si anak itu untuk diperiksa oleh dokter, ibunya segera menggendongnya masuk ke ruang periksa. Kontan si kecil yang tadinya bergembira ria itu menangis meronta-ronta, bukan hanya karena keasikannya bergembira diinterupsi, tetapi juga karena ia melihat ibunya sedang membawanya ke ruangan lain yang lebih kecil dengan alat-alat kedokteran yang asing dan menakutkan baginya. Andai saja gadis kecil itu dapat mengerti dan melihat ke depan melampaui keseraman ruang praktek itu, bahwa ibunya membawanya ke situ supaya ia lebih sehat dan sembuh, mungkin ia bisa tenang dan mengatasi rasa takutnya.

Saat sedang menikmati kehidupan dengan berbagai keindahannya, keunikannya, dinamikanya, keceriaannya, kemungkinan dan kesempatannya, saya juga kadang-kadang terhenyak dikejutkan oleh berita kesedihan, bencana alam, penyakit orang-orang yang sangat kita sayangi, atau terpukul menerima kabar sedih tentang hidup diri kita sendiri. Tuhan, bisik saya, mengapa hidup ini tidak Engkau buat mudah dan isinya senang terus saja, mengapa harus ada sakit penyakit, usia lanjut yang meremukkan badan fisik, bencana alam, dan perbuatan-perbuatan keji manusia kepada sesamanya? Saya ingin terus berlari-larian dalam sukacita keceriaan hidup, bermain-main dengan aneka keindahan yang sudah Engkau sediakan dalam kehidupan yang Engkau ciptakan ini.

Mengikuti perjalanan hidup Yesus Kristus Tuhan kita yang memasuki Yerusalem penderitaan dengan penuh kerelaan, perlahan saya menyadari bahwa Tuhan juga tidak menginginkan kepedihan dan kesakitan. Apalagi kalau itu menimpa manusia yang sangat dikasihiNya dan yang sedang selalu dibelaNya sampai tetes darah penghabisan di kayu salib yang ngeri.

Dalam karya pelayanan publik yang Yesus jalani selama tiga tahun terakhir hidup-Nya di dunia, Yesus tak henti-hentinya menyembuhkan orang yang sakit (lih. Mat. 15:30). Ia selalu menghibur orang yang berdukacita, bahkan membangkitkan pemuda dari Nain (lih. Luk.7:14) dan Lazarus (lih. Yoh. 11:43) dari kematian. Yesus juga mengusir setan-setan yang mengganggu manusia (lih. Mark. 5:8). Ia memberi makan orang yang lapar (lih. Luk.9:17), dan mengajarkan hidup yang berbuah (lih. Mat. 5:3-12). Di manapun Ia menjumpai atau mendengar ada orang yang sakit, Yesus segera menyembuhkan mereka, bahkan di hari Sabat sekalipun, Ia menyembuhkan sakit punggung seorang wanita tua (lih. Luk. 13:12), padahal Yesus tahu hal itu pasti akan segera mengundang reaksi keras dari kaum Farisi. Tapi tetap diambilNya resiko itu, demi supaya wanita sakit itu sembuh. Ketika seorang wanita yang perdarahan menyentuh jubah-Nya dengan iman, wanita itu pun sembuh (Luk. 8:44). Jadi bahkan pakaian yang Ia kenakan pun membawa kesembuhan, saking kuatnya daya kesembuhan yang ingin Dia bawa ke dalam dunia. Sikap Yesus memberikan pesan yang jelas bahwa Tuhan tidak suka melihat manusia yang dikasihiNya sakit dan menderita. Penyakit dan derita bukanlah rencana Allah. Justru penderitaan itu ditanggung-Nya sendiri , supaya manusia sembuh dan selamat. Tuhan Yesus mau menyongsongnya dengan rela, supaya semua jenis derita dan maut yang melekat pada manusia terkalahkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya.

Malam itu para murid tertidur dalam rasa takut dan rasa tidak enak yang mencekam. Injil Lukas 22 :45 menceritakan bahwa mereka tidur karena dukacita. Seolah-olah ingin melupakan kematian dan penderitaan yang sudah di ambang pintu, ingin tidur saja, supaya tidak usah melihat dan mengalami semua itu dan berharap ketika bangun, semua kepedihan itu hanyalah mimpi.

Yesus berdoa seorang diri dalam keheningan malam di Bukit Zaitun itu. Saat itu saya kembali menyadari bahwa Yesus tidak menyukai penderitaan, dan sama seperti saya yang merasa gemetar dan kecut saat berhadapan dengan penderitaan, Yesus merasakannya juga. Walaupun sebagai Tuhan, Ia tahu kepenuhan rencana Bapa, namun sebagai manusia Ia sangat ketakutan, dan Yesus menjadi makin sungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (lih. Luk.22 :44). Di situlah saya melihat seluruh ketakutan saya sedang dipikul oleh Yesus. Di taman itu, dalam gelapnya malam, Tuhan Yesus menggantikan tempat saya, yang seharusnya berada di dalam hukuman penderitaan kekal itu karena perbuatan kejahatan dan dosa-dosa saya. “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaku, tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”. (Luk. 22:42)

Walaupun penderitaan itu demikian terasa ngeri dan tak terelakkan, Yesus melihat jauh ke depan, kepada rencana Bapa yang indah. Karena senantiasa berdoa mengandalkan Bapa, Yesus menjadi tabah dan berani. Dan Ia sekali-sekali tidak dibiarkan sendirian, karena malaikat Allah dari langit datang memberi kekuatan kepadaNya (lih. Luk. 22 :43). Dalam mengutamakan kehendak Bapa di atas rasa takut-Nya sendiri, Yesus memandang jauh ke depan, kepada rencana Bapa yang ada di balik penderitaan amat sangat yang akan dijalani-Nya.

Jadi hanya sampai di sini akhir dari semua keindahan hidup dan semua kemungkinan itu? Hanya sampai pada usia lanjut dan kematian, kebersamaan keluarga yang selama ini kita alami harus berujung? Pesan keputusasaan itu juga yang Setan sedang terus sampaikan kepada kita. Bersama para murid yang kocar kacir ke segala penjuru menyelamatkan diri meninggalkan Yesus seorang diri, saya pun merasa pahit dan menarik diri. Tetapi Yesus maju, menerima semua derita itu, dan menyelesaikannya bersama kekuatan dari Allah Bapa. Ia membuktikan bahwa harapan dalam Dia itu tidak dimaksudkan untuk “sampai di sini saja”, ada kelanjutannya, dan kelanjutannya itu kekal, yaitu kemuliaan hingga selama-lamanya di Rumah Bapa.

Bersama para malaikat yang berjaga di depan pintu kubur yang kosong itu, dalam cahaya surgawi yang berkilauan, Yesus berkata dengan senyum-Nya yang penuh cinta,” Tidak, tidak berakhir sampai di sini. Melalui derita dan salib-Ku, semuanya menjadi baru kembali, dan sukacita hidup itu akan kalian temukan selamanya, di dalam Aku dan di Rumah Bapa-Ku, tempat di mana kalian berada, di situ pun Aku.” (lih. Yoh. 14:3)

Doa: Ya Yesus sahabat dan guru kami, terima kasih atas pengurbanan-Mu yang tak terperi bagi keselamatan kami. Bimbing kami untuk menimba kekuatan dari pengurbanan cinta-Mu dan selalu rindu membalas kasih-Mu dengan segenap hidup dan usaha kami. Dalam penderitaan hidup ini, kami ingin membiarkan diri kami ditemukan dan disembuhkan oleh-Mu, diubahkan agar siap untuk bersama-sama dengan-Mu memasuki Yerusalem baru. Dalam kegelapan malam derita hidup, buatlah kami memandang jauh ke depan, ke mana Engkau sedang terus menyertai kami menyelesaikan perjalanan salib kami dan menantikan kami bersama-Mu di kekekalan Rumah Bapa yang indah. Jangan biarkan kami menjadi takut. Karena apa yang bagi kami terasa gelap atau sedih, sakit atau jahat, dalam kemenangan salib-Mu, diubahkan menjadi sarana kepada pemurnian dan kemuliaan, bersama-Mu selalu, dan selamanya. Amin.

If you look at a window you see flyspecks, dust, and the cracks where Junior’s Frisbee hit it. If you look through a window you see the world beyond. – Frederick Buechner

(Jika engkau melihat kepada jendela, engkau melihat goresan, debu, dan retakan bekas mainan anak-anak yang membenturnya. Jika engkau melihat melalui jendela, engkau melihat dunia yang luas di baliknya – Frederick Buechner)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab