Home Blog Page 129

Paus Fransiskus dalam doa Regina Caeli 1 April 2013

0

paus fransiskus

Pada siang hari ini, Paus Fransiskus muncul di jendela ruang kerjanya untuk mendoakan doa ‘Regina Caeli’ (red-Ratu Surga) bersama dengan sejumlah umat yang telah berkumpul di Lapangan Santo Petrus. “Selamat pagi dan Selamat Paskah untuk kalian semua,” katanya. “Terima kasih sudah datang hari ini dalam jumlah besar, untuk berbagi sukacita Paskah, pusat misteri dari iman kita. Semoga kuasa kebangkitan Kristus menyentuh setiap orang – terutama mereka yang menderita – dan setiap tempat yang membutuhkan kepercayaan dan harapan. ”

“Kristus telah sepenuhnya dan secara tuntas menaklukkan kejahatan, tetapi terserah kita masing – masing, orang-orang di setiap zaman, untuk merangkul kemenangan ini dalam hidup dan dalam realitas konkret sejarah dan masyarakat kita. Pembaptisan yang membuat kita menjadi anak-anak Allah dan Ekaristi yang mempersatukan kita kepada Kristus harus menjadi kehidupan kita. Itu berarti mereka harus tercermin dalam sikap, perilaku, tindakan, dan pilihan kita. Kasih karunia yang terkandung dalam Sakramen Paskah merupakan sumber kekuatan besar untuk pembaruan dalam kehidupan pribadi dan keluarga, serta untuk hubungan sosial. Tetapi, semuanya harus melewati hati manusia: jika saya membiarkan diri saya disentuh oleh kasih karunia Kristus yang bangkit, jika saya mengizinkan kasih karunia untuk mengubah diri saya menjadi lebih baik akan apapun yang tidak baik dalam diri saya, apa pun yang mungkin merugikan saya dan orang lain, maka saya mempersilakan kemenangan Kristus untuk mengambil tempatnya di dalam hidup saya, untuk lebih leluasa berkarya dalam hidup saya. Inilah kekuatan dari kasih karunia! Tanpa kasih karunia kita tidak bisa berbuat apa-apa! Tanpa kasih karunia kita tidak bisa berbuat apa-apa! Dan dengan rahmat Baptisan dan Komuni Suci kita dapat menjadi saluran kemurahan hati Allah – kemurahan hati Allah yang begitu indah.”

“Mengungkapkan dalam hidup kita sakramen yang telah kita terima: Itu adalah pekerjaan kita sehari-hari, dan saya juga akan mengatakan, sukacita kita sehari-hari! Sukacita menjadi instrumen rahmat Kristus, sebagai cabang dari pohon anggur yang adalah Kristus sendiri, terinspirasi oleh kehadiran Roh-Nya yang menopang kita! Mari kita berdoa bersama-sama, dalam nama Tuhan yang telah wafat dan bangkit kembali dan melalui perantaraan Maria yang Terkudus, semoga misteri Paskah dapat bekerja secara mendalam dalam diri kita dan sepanjang waktu hidup kita, sehingga kebencian dapat memberikan jalan untuk cinta, kebohongan untuk kebenaran, balas dendam untuk pengampunan, dan kesedihan untuk sukacita. ”

Setelah doa ‘Ratu Surga’, Paus, dalam bahasa Italia, menyambut para peziarah dari berbagai macam benua, memberikan ucapan selamat menikmati Hari Senin Para Malaikat (sebutan hari Senin sesudah Minggu Paskah pada jaman dulu), “di mana pengumuman gembira Paskah sangat bergema: Kristus telah bangkit ! Dan saya mengakhiri dengan kata-kata: ‘Selamat Paskah untuk semua dan selamat menikmati makan siang!”

Paus Fransiskus
1 April 2013

Paus Fransiskus : Saya bergabung bersama kalian di hadapan Kafan Suci

1

Dari pukul 5:15 sampai 6:40 sore ini, akan ada eksposisi Kafan Suci di Katedral Turino, Italia. Pada kesempatan ini, Paus Fransiskus merekam sebuah pesan video yang teksnya ada di bawah ini.

Saudara – saudari yang terkasih,
Saya bergabung bersama kalian semua di hadapan Kafan Suci dan bersyukur kepada Allah yang melalui teknologi modern memungkinkan kita (red-untuk merekam video).

Walaupun kita memandangNya (red-wajah Yesus) dengan cara ini, tatapan kita tidak hanya sekedar mengamati, tetapi lebih pada penghormatan. Tatapan yang penuh doa. Saya bicara lebih dalam lagi: kita membiarkan diri kita untuk dipandang. Wajah ini memiliki mata yang tertutup. Inilah wajah orang mati dan juga secara misterius Ia memandang kita dan dalam hening Ia berbicara kepada kita. Bagaimana ini mungkin? Bagaimana seorang beriman seperti kalian berhenti sejenak di hadapan ikon seorang manusia yang telah disiksa dan disalibkan? Sebabnya ialah Manusia Kain Kafan mengajak kita untuk mengkontemplasikan Yesus dari Nazaret. Wajah ini, yang tampak di kain, berbicara kepada hati kita dan menggerakkan kita untuk mendaki bukit Kalvari, untuk memandang kayu Salib, dan untuk menenggelamkan diri kita dalam keheningan cinta.

Maka dari itu marilah kita membiarkan diri kita ditatap dengan tatapan yang tidak ditujukan ke mata kita melainkan ke hati kita. Dalam keheningan, marilah kita mendengarkan apa yang ingin Ia kita dari luar batas kematian. Melalui Kain Kafan Suci, Sabda Allah yang unik dan maha kuasa datang kepada kita: Kasih menjadi manusia, berinkarnasi dalam sejarah kita; kemurahan Kasih Allah yang telah menanggung seluruh kejahatan dunia sendirian untuk membebaskan kita dari kuasa jahat. Wajah yang hancur ini menyerupai wajah – wajah pria dan wanita yang dirusak oleh kehidupan yang tidak menghormati martabat mereka, oleh perang dan kekerasan yang menyebabkan sengsara kepada orang – orang yang paling lemah. Tetapi juga, Wajah dari Kafan ini memancarkan kedamaian yang luar biasa. Tubuh yang telah disiksa menunjukkan keagungan rajawi. Hal ini nampak seperti kekuatan luar biasa yang tertahan di dalamnya dan memancar keluar seakan – akan ingin memberi tahu kita : Kuatkan iman, jangan kehilangan harapan; kuasa kasih Allah, kuasa dari Ia yang Bangkit, menaklukkan semua.

Jadi, memandang Manusia dari Kain Kafan, saya berdoa di hadapan Kayu Salib seperti yang didoakan oleh Santo Fransiskus dari Asisi: ‘Allah yang Maha Tinggi dan mulia, terangilah kegelapan dalam hatiku dan berikanlah iman sejati, harapan pasti, dan kasih sempurna, akal budi dan pemahaman ya Tuhan agar saya dapat menjalankan perintah-Mu yang kudus dan sejati. Amin.’

Paus Fransiskus,
30 Maret 2013

Pesan Bapa Fransiskus pada Jalan Salib 2013 di Colosseum

2

Pada Jumat malam, Paus Fransiskus memimpin perayaan Jalan Salib di Colosseum, Roma. Renungan meditasi ditulis oleh sekelompok kaum muda Katolik di Libanon. Pada akhir perayaan, Paus Fransiskus memberikan pesan singkat kepada ribuan orang yang hadir. Berikut teks lengkap :

paus fransiskusSaudara – saudari yang terkasih, terima kasih karena kalian telah mengambil bagian dalam momen doa khusuk ini. Saya juga berterima kasih kepada mereka yang telah menyertai kita melalui media massa, terutama yang sakit dan lanjut usia.

Saya tidak ingin berbicara banyak. Satu kata saja sudah cukup untuk malam ini, yaitu Salib. Salib adalah jawaban Allah terhadap kejahatan di dunia. Kadang – kadang Allah seperti tidak berbuat apa – apa terhadap kejahatan, sepertinya dia diam saja. Dan nyatanya, Allah telah berbicara, Ia telah menjawab, dan jawabnya adalah Salib Kristus: sebuah kata yang mengandung kasih, kemurahan hati, dan pengampunan. Kata ini juga menyingkapkan sebuah penghakiman, yakni Allah dalam menghakimi kita, Ia mengasihi kita. Ingat ini: Allah, dalam menghakimi kita, Ia mengasihi kita. Jika saya menerima kasih-Nya maka saya diselamatkan, jika saya menolakNya maka saya dilaknat, bukan olehNya melainkan oleh diri saya sendiri. Karena Allah tidak pernah melaknat, Ia hanya bisa mengasihi dan menyelamatkan. Saudara – saudari terkasih, Salib juga merupakan jawaban yang diberikan oleh seorang Kristen dalam menghadapi kejahatan, kejahatan yang terus bekerja di dalam dan sekeliling kita. Seorang Kristen harus membalas kejahatan dengan kebaikan, memikul salibnya seperti yang dilakukan Yesus. Malam ini kita telah mendengar kesaksian yang telah diberikan oleh saudara – saudari kita di Libanon: mereka mengarang doa – doa dan renungan meditasi yang begitu indah. Kita sampaikan rasa terima kasih kita yang mendalam kepada mereka untuk karyanya dan untuk kesaksian yang mereka berikan. Kita dapat melihat ini dulu saat Paus Benediktus XVI mengunjungi Libanon: kita melihat keindahan dan ikatan persatuan yang kuat yang mempersatukan orang – orang Kristen di tanah tersebut dan persahabatan dengan saudara – saudari kita yang Muslim dan masih banyak lagi. Peristiwa tersebut merupakan sebuah tanda bagi Timur Tengah dan seluruh dunia: sebuah tanda pengharapan.

Kita sekarang melanjutkan Jalan Salib ini dalam kehidupan kita. Marilah kita melangkah bersama mengikuti jejak Salib sambil membawa dalam hati kita kata – kata kasih dan pengampunan. Marilah kita melangkah maju sambil menantikan Kebangkitan Yesus yang begitu mencintai kita. Dia penuh dengan cinta.

Paus Fransiskus,
29 Maret 2013

Diterjemahkan secara bebas dari www.news.va

Peringatan Paus Fransiskus untuk Imam : Ketidakpuasan Berasal dari Egoisme

5

Dalam Misa Krisma yang membuka Trihari Suci, Paus Fransiskus memperingatkan imam Katolik di seluruh penjuru dunia bahwa alasan para imam mengalami ketidakpuasan, tidak semangat dan seringkali hanya seperti kolektor barang antik atau baru ialah karena mereka hanya memperhatikan dirinya sendiri yang mengakibatkan mereka kehilangan umat terbaik mereka. Paus memohon para imam untuk menjadi gembala yang mengenal “bau” dari para dombanya.

Dalam Misa Krisma yang dikonselebrasikan bersama lebih dari 2.000 kardinal, uskup agung, uskup, dan imam dan juga dihadiri oleh lebih dari 10.000 umat, Paus menunjukkan cara yang manjur untuk mengenali seorang imam yang baik ialah dengan melihat “bagaimana umatnya diurapi.” Kemudian, dia menambahkan, “Bukan dalam pencarian jiwa atau introspeksi yang terus menerus kita bertemu dengan Tuhan: cara – cara tersebut memang berguna dalam kehidupan, tetapi menghidupi imamat kita dengan berganti – ganti cara dan metode membuat kita menjadi seorang Pelagian (red-mengacu pada Pelagius yang tidak percaya doktrin dosa asal dan dicap sesat oleh Konsili Kartago pada tahun 418) dan menghambat karya rahmat, yang seharusnya hidup dan berkembang jikalau kita dalam iman mau keluar memberikan diri kita sendiri dan Injil kepada sesama.

Paus mengingatkan bahwa Misa Krisma adalah peringatan untuk seluruh imam-termasuk dirinya – akan hari tahbisan mereka. Dalam konteks ini Paus menjelaskan apa artinya menjadi seorang yang diurapi, untuk berkarya bagi sesama, dan secara khusus arti dari pakaian liturgi. “Saat kita mengenakan kasula kita yang sederhana, terkadang kita merasa di pundak dan hati kita, beban dan wajah umat beriman kita, para kudus dan martir yang banyak kita miliki pada masa kita.”

“Keindahan dari pakaian liturgi bukan terletak pada jahitan atau jenis kain. Urapan kalian saudara – saudaraku terkasih tidak dimaksudkan hanya untuk membuat kalian wangi atau hanya untuk disimpan dalam toples, karena nantinya menjadi busuk dan hati kita pun demikian.” (red-sikap seorang imam harus indah dari dalam)

Bapa Suci juga memberikan detail konkrit untuk menginspirasi para imam dalam misi pastoral mereka, “Umat kita senang mendengar Injil yang diberitakan dengan penuh urapan, mereka suka saat Injil yang kita wartakan menyentuh kehidupan mereka sehari – hari, yang mengalir seperti minyak Harun di batas – batas kenyataan, saat Injil membawa cahaya di saat yang sangat gelap, ke “pinggiran” di mana orang – orang beriman berhadapan dengan olok – olok mereka yang ingin menghancurkan iman mereka. Umat berterima kasih pada kita karena mereka merasakan doa – doa kita untuk kehidupan nyata mereka sehari – hari, permasalahan mereka, kegembiraan mereka, beban mereka dan harapan mereka. Dan saat mereka mencium wangi dari Yang Terurapi, Kristus, telah hadir bagi mereka melalui kita, mereka merasa diyakinkan untuk mempercayakan kita segala sesuatu yang ingin mereka bawa ke hadapan Tuhan: “Doakan saya romo, karena saya punya masalah ini, ini, dan itu”, “Berkati saya romo”, “Doakan saya romo”

“Yang ingin saya tekankan ialah kita secara terus menerus harus memohon rahmat Allah dan menyadari semua permohonan kita, walaupun permohonan tersebut terkadang tidak menyenangkan dan seringkali sangat materialistik ataupun membosankan – tetapi nyatanya- itulah keinginan umat kita untuk diurapi dengan minyak wangi, karena mereka tahu kita memilikinya. Untuk menyadari dan merasakan, sama seperti Tuhan merasakan harapan penyembuhan dari wanita yang mengalami pendarahan yang menyentuh ujung pakaiannya.”

Paus mengakhiri homili dengan meminta kepada umat untuk “dekat dengan imam kalian dengan penuh kasih dan doa semoga mereka dapat selalu menjadi gembala yang sesuai dengan hati Allah.”

Paus Fransiskus,
28 Maret 2013.

Diterjemahkan secara bebas dari www.vis.va

Misa Kamis Putih: Sebagai Imam dan Uskup, Saya Harus Menjadi Pelayan Kalian

0

paus fransiskusDalam Misa Kamis Putih di penjara remaja, Paus mencuci kaki 12 remaja. Bapa Suci membasuh, mengeringkan, dan akhirnya mencium kaki mereka. Berikut ialah teks lengkap homili yang diberikan Paus.

Hal ini sangat menyentuh. Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Petrus yang tidak mengerti apa–apa, menolak dibasuh. Tetapi Yesus menjelaskan kepadanya. Yesus – Allah – melakukan hal ini! Dan Yesus berkata kepada murid-Nya: Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:12-15).

Ini teladan dari Tuhan: Dia adalah orang yang paling penting dan Dia membasuh kaki orang lain karena mereka yang tertinggi di antara kita harus menjadi pelayan bagi sesamanya. Dan apakah ini sebuah simbol, sebuah tanda? Membasuh kaki orang lain menyatakan, ‘Aku siap melayanimu.’ Dan kita juga, di antara kita, bukankah seharusnya kita membasuh kaki satu sama lain setiap hari – tetapi apa maksudnya? Maksudnya ialah kita harus saling menolong. Terkadang saya marah pada seseorang tetapi saya membuang amarah tersebut. Melupakannya. Dan saat seseorang minta tolong kepada kalian, bantulah. Saling tolonglah kalian.

Inilah yang Yesus ajarkan bagi kita dan inilah yang saya lakukan. Saya melakukannya dengan segenap hati karena inilah tugas saya. Sebagai imam dan uskup saya harus menjadi pelayan kalian. Tetapi ini adalah kewajiban yang timbul dari hati: saya menyukainya. Saya suka ini dan saya melakukannya dengan kasih karena Tuhanlah yang mengajarkan hal ini. Tetapi kalian juga, bantulah satu sama lain: selalu membantu sesama, seorang terhadap yang lain.

Dan maka dalam menolong sesama kita berbuat baik terhadap sesama. Sekarang kita memiliki upacara pembasuhan kaki dan kita akan merenungkan, setiap dari kita akan merenungkan: ‘Apakah saya sungguh siap, apakah saya siap untuk melayani dan menolong sesama?’ Mari kita merenungkan hal tersebut. Dan anggaplah hal ini adalah belaian Yesus yang Yesus lakukan karena Ia datang untuk ini: melayani dan menolong kita.

Di akhir Misa, Paus menjelaskan alasannya untuk merayakan Misa bersama mereka. “Ada suatu perasaan yang timbul dari dalam hati saya; saya merasakannya. Di manakah orang – orang yang paling dapat membantu saya untuk menjadi rendah hati, untuk menjadi Uskup yang melayani? Dan saya terus berpikir, saya bertanya:’Di manakah orang – orang yang ingin saya kunjungi?’ Dan mereka memberitahu:’Mungkin Casal del Marmo’ (red-nama penjara tersebut). Dan saat mereka menyebut tempat ini, saya datang ke sini. Tetapi hal ini timbul begitu saja dari dalam hati. Masalah hati tidak dapat dijelaskan; mereka timbul begitu saja. Terima kasih!” Kemudian sebelum pergi, Paus berkata kepada para tahanan: “Saya pergi sekarang. Terima kasih sekali untuk sambutan kalian. Doakanlah saya. Jangan biarkan harapan kalian dicuri. Majulah selalu. Terima kasih banyak!”

Paus Fransiskus,
28 Maret 2013.

Diterjemahkan secara bebas dari www.vis.va

Menjadi pembantu sejati

1

Para pria paruh baya itupun maju dengan rapi. Di hadapan bangku umat, sudah berjajar rapi 12 kursi yang disediakan misdinar. Merekapun duduk di situ sementara Romo Sigit menyiapkan kain dan air dalam baskom. Sang imam selebran pun mendekat kepada seorang bapak tua di ujung deretan kursi dan mulai membasuh kakinya. Seperti biasa, Misa Kamis Putih menghadirkan kembali kenangan ketika Yesus membasuh kaki keduabelas murid-Nya.

Wajah para bapak itu cukup bervariasi. Beberapa terlihat biasa saja. Beberapa terlihat agak sungkan. Tapi ada seorang bapak yang mimik mukanya cukup lucu. Wajahnya menunjukkan campuran antara malu, geli, dan merasa tidak layak. Aku menebak-nebak kalau si bapak merasa sungkan karena belum pernah melayani di paroki. Memang, biasanya umat yang dibasuh kakinya adalah umat yang diharapkan aktif melayani di paroki. Aku pun membayangkan apabila seandainya aku berada di posisi serupa.

Pembasuhan kaki memang melambangkan kerendahan hati dan pelayanan. Yesus membasuh kaki para rasul-Nya untuk memberi mereka teladan untuk saling melayani. Melalui pembasuhan kaki, Yesus menunjukkan bahwa seorang pengikut Kristus harus melayani. Aku merasa sudah melakukannya karena aku sudah melibatkan diri dalam pelayanan. Namun, rasanya ada hal lain yang Tuhan ingin sampaikan padaku. Bagaimana dengan pelayananku selama ini? Apakah aku sudah melayani dengan hati seorang pelayan?

Lamunanku terhenti sebentar karena rombongan bapak mulai meninggalkan depan altar. Pembasuhan kaki sudah selesai rupanya. Sambil terus memperhatikan si bapak bermimik muka lucu, aku lanjutkan lamunanku. Apa maksudnya melayani dengan hati pelayan?

Aku membayangkan Yesus yang sedang membasuh kaki para rasul-Nya. Hari itu, Ia menjadikan diri-Nya seorang pembantu. Ia membasuh kaki mereka satu persatu secara bergantian tanpa kecuali. Baik St. Yohanes yang Ia kasihi, maupun Yudas yang Ia tahu akan mengkhianatiNya malam itu juga. Tanpa kecuali. Sekalipun Ia tahu Yudas akan segera menyerahkanNya pada kaum Farisi, Ia tetap membasuh dan membersihkan kakinya dengan lembut. Sekalipun Ia tahu Yudas akan memilih meninggalkanNya dengan bunuh diri, Ia tetap mengecup kakinya dengan cinta. Ia mengajar kita untuk mencintai musuh dan Ia buktikan dalam perbuatanNya (Mat 5:44).

Bagian “tanpa kecuali” inilah yang tampaknya sulit aku lakukan. Melayani dengan tulus demi orang yang kukasihi alamiah dan mudah. Melayani dengan tulus demi orang yang tidak mengasihiku? Lain cerita. Sekuat-kuatnya, aku hanya bisa memajang senyuman, paling tidak supaya orang tersebut tidak tersinggung. Tapi, senyuman itu belum menjadi senyuman tulus dari hati. Pelayananku masih belum tulus sepenuhnya karena masih belum “tanpa kecuali”. Pelayananku belum memiliki hati seorang pelayan. Aku perlu belajar dari sang Pelayan, Yesus, yang melayani tanpa kecuali, baik mereka yang mencintaiNya, maupun mereka yang membenciNya.

Aku harus selalu ingat bahwa Tuhan memberikan rahmat-Nya yang manis pada semuanya, baik orang jahat maupun baik (bdk. Mat 5:45). Lidah orang jahat maupun baik sama-sama mengecap rasa manis pada gulali. Gulaliku harus terasa manis, baik untuk lidah orang jahat maupun baik, supaya semua lidah memuliakan nama Tuhan.

“Melayani Allah bukanlah suatu beban, melainkan kehormatan. Jauh dari membuat kita sebagai budak, pelayanan sebenarnya malah membebaskan kita” – St. Petrus Krisologus

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab