Home Blog Page 124

Paus Fransiskus: Karunia menjadi anak Allah

2

Berikut adalah terjemahan dari Audiensi Umum Paus Fransiskus yang digelar di Lapangan Santo Petrus, 10 April 2013:

Saudara saudari sekalian, selamat pagi!

Dalam Katekese sebelumnya, kita merefleksikan peristiwa Kebangkitan Yesus, di mana para perempuan memainkan peran penting. Hari ini saya ingin merefleksikan kemampuan menyelamatkan dari peristiwa tersebut. Apakah arti Kebangkitan bagi hidup kita? Dan mengapa iman kita sia-sia tanpanya?

Iman kita didasarkan pada kematian dan kebangkitan Kristus, seperti rumah berdiri di atas fondasinya: kalau dia tidak kuat, seluruh rumah akan runtuh. Yesus menyerahkan diri-Nya di kayu Salib, memanggul beban dosa-dosa kita dan turun ke dalam jurang kematian, setelah itu dalam Kebangkitan Ia berjaya atas mereka, membuang mereka dan membukakan jalan kelahiran kembali dan hidup baru bagi kita.

Rasul Petrus merangkum hal ini pada awal suratnya yang pertama, seperti tertulis: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus! Dengan rahmat-Nya yang besar kita telah dilahirkan kembali menjadi harapan yang hidup melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, dan menjadi warisan yang takkan binasa, tak bernoda, dan tak tergoyahkan “(1:3-4).

Para Rasul memberitahu kita bahwa dengan Kebangkitan Yesus sesuatu yang baru benar-benar terjadi: kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan menjadi anak-anak Allah, dengan kata lain, kita dilahirkan kembali. Kapankah hal ini terjadi pada kita? Dalam Sakramen Baptis. Pada zaman dahulu, sakramen baptis lazim diterima melalui perendaman. Orang yang akan dibaptis berjalan ke dalam kolam besar Baptisan, menanggalkan pakaiannya, dan Uskup atau Imam menuangkan air di kepalanya tiga kali, membaptisnya dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kemudian orang yang telah dibaptis melangkah keluar dari kolam dan mengenakan jubah baru, berwarna putih, dengan kata lain, dengan merendam diri dalam kematian dan kebangkitan Kristus ia dilahirkan kembali. Dia telah menjadi anak Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, St Paulus menulis: “kamu telah menerima roh yang menjadikan kamu anak Allah. Ketika kita memanggil  ‘Abba! Ayah! Roh itu sendiri bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah “(Roma 8:15-16).

Roh itu sendiri yang kita terima dalam Pembaptisan yang mengajarkan kita, yang mendorong kita untuk mengatakan kepada Allah: “Bapa” atau, lebih tepatnya, “Abba!”, yang berarti “papa” atau [“ayah”]. Allah kita adalah seperti ini: Dia adalah seorang ayah bagi kita. Roh Kudus menciptakan dalam diri kita kondisi baru sebagai anak-anak Allah. Dan ini adalah hadiah terbesar yang kita terima dari Misteri Paskah Yesus. Apalagi Allah memperlakukan kita sebagai anak-anak, Ia memahami kita, Ia mengampuni kita, Dia memeluk kita, Dia mencintai kita bahkan ketika kita berbuat salah. Dalam Perjanjian Lama, Nabi Yesaya sudah menegaskan bahwa bahkan jika seorang ibu bisa melupakan anaknya, Tuhan tidak pernah melupakan kita setiap saat (lih. Yes. 49:15). Dan ini indah!

Namun hubungan anak-bapak dengan Allah ini tidak seperti harta yang kita simpan di sudut kehidupan kita tetapi harus ditingkatkan. Harus diberi makan setiap hari dengan mendengarkan Firman Allah, dengan doa, dengan partisipasi dalam sakramen, terutama Rekonsiliasi dan Ekaristi, dan dengan cinta. Kita bisa hidup sebagai anak-anak! Dan ini adalah martabat kita – kita memiliki martabat sebagai anak. Kita harus bersikap sebagai anak-anak sejati! Ini berarti bahwa setiap hari kita harus membiarkan Kristus mengubah kita dan membuat kita serupa dengan Dia, artinya berusaha untuk hidup sebagai orang Kristen, berusaha untuk mengikutinya dengan segala keterbatasan dan kelemahan kita. Godaan untuk meminggirkan Tuhan demi menempatkan diri kita sebagai pusat selalu ada, dan pengalaman dosa melukai kehidupan Kristen kita, diri kita sebagai anak-anak Allah. Untuk alasan ini kita harus memiliki keberanian iman untuk tidak membiarkan diri kita dibimbing oleh mentalitas yang mengatakan: “Allah tidak diperlukan, Dia tidak penting bagi kamu”, dan sebagainya. Justru sebaliknya: hanya dengan berperilaku sebagai anak-anak Allah, tanpa putus asa pada kekurangan kita, pada dosa-dosa kita, hanya dengan perasaan dicintai olehNya, hidup kita menjadi baru, dimeriahkan oleh ketenangan dan sukacita. Allah adalah kekuatan kita! Allah adalah harapan kita!

Saudara-saudara sekalian, kita harus menjadi yang pertama memiliki harapan teguh dan kita harus menjadi tanda yang terlihat, jelas dan bercahaya untuk semua orang. Tuhan yang bangkit adalah harapan yang tidak pernah gagal, yang tidak pernah mengecewakan (lih. Rom 5:5). Harapan yang tidak akan mengecewakan kita – harapan akan Tuhan! Seberapa sering dalam hidup kita kehilangan harapan, seberapa sering harapan yang kita miliki dalam hati menjadi sia-sia! Harapan kita sebagai orang Kristen kuat, aman dan sehat di bumi ini, di mana Allah telah memanggil kita untuk berjalan, dan terbuka untuk keabadian karena didasarkan akan Allah yang selalu setia. Kita tidak boleh lupa: Allah selalu setia kepada kita. Dibangkitkan bersama dengan Kristus melalui Pembaptisan, dengan karunia iman, harta warisan yang tidak fana, mendorong kita untuk lebih sering mencari Allah, lebih sering memikirkannya dan berdoa kepada-Nya lagi.

Menjadi orang Kristen bukan hanya mematuhi perintah ini dan itu tetapi berarti berada di dalam Kristus, berpikir seperti Dia, bertindak seperti Dia, mencintai seperti Dia, itu berarti membiarkan Dia menguasai hidup kita dan mengubahnya, mengubahnya dan membebaskannya dari kegelapan kejahatan dan dosa .

Saudara-saudara sekalian, marilah kita menunjukkan Kristus yang Bangkit kepada mereka yang meminta penjelasan tentang pengharapan yang ada di dalam diri kita (lih. 1 Pet 3:15). Mari kita tunjukkan Dia dengan pernyataan melalui kata-kata, tetapi di atas semua itu dengan kehidupan kita sebagai orang-orang yang telah dibangkitkan. Mari kita tunjukkan sukacita menjadi anak-anak Allah, kebebasan yang didapat dari hidup di dalam Kristus yaitu kebebasan sejati, kebebasan yang menyelamatkan kita dari perbudakan kejahatan, dosa dan kematian! Melihat tanah air surgawi, kita akan menerima cahaya baru dan kekuatan baru, baik dalam komitmen dan dalam tindakan kita sehari-hari.

Ini adalah pelayanan yang berharga yang harus kita berikan kepada dunia kita yang terlalu sering tidak lagi berhasil memandang ke atas, tidak lagi berhasil dalam mengarahkan pandangannya kepada Allah.

Sambutan:

Saya senang menyambut para pengunjung dari NATO Defense College dan saya berdoa bahwa pelayanan mereka untuk perdamaian dan kerjasama internasional semakin membuahkan hasil. Saya juga menyampaikan sambutan hangat kepada kelompok “Wounded Warriors” dari Amerika Serikat, dengan doa tulus semoga ziarah mereka ke Roma menghasilkan banyak buah rohani bagi mereka dan keluarga mereka. Untuk semua pengunjung berbahasa Inggris yang hadir di Audiensi hari ini, termasuk dari Inggris, Skotlandia, Denmark, Australia, Filipina, Korea Selatan, Thailand, Kanada dan Amerika Serikat, saya berdoa untuk hadiah sukacita dan damai dari Tuhan yang bangkit.

Terakhir, perhatian penuh kasih bagi orang-orang muda, orang sakit dan pengantin baru. Senin lalu kami merayakan Hari Raya Kabar Sukacita: semoga Perawan Maria menginspirasi pikiran Anda, para orang-orang muda, sehingga Anda selalu mampu mendengarkan dan untuk menempatkan kehendak Tuhan dalam praktek, semoga dia menghangatkan hati Anda, para orang sakit, dengan mempersembahkan penderitaan Anda demi kebaikan Gereja: dan semoga dia membimbing Anda, para pengantin baru, untuk mengenali kehadiran Tuhan dan cinta dalam kehidupan keluarga baru Anda.

Doa bagi rakyat Iran, korban gempa bumi pada Selasa, 9 April 2013

Saya menerima kabar mengenai gempa bumi hebat yang melanda Iran selatan dan menyebabkan kematian, banyak orang terluka dan kerusakan hebat. Saya berdoa untuk para korban dan saya mengungkapkan kedekatan saya kepada orang-orang yang menderita dari bencana ini. Marilah kita berdoa bagi semua saudara dan saudari di Iran.

(NT)

 

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 10 April 2013

 

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Audiensi Paus Fransiskus dalam Pekan Suci 2013

0

paus fransiskusSudah menjadi kebiasaan bagi para Paus untuk memberikan katekese setiap hari Rabu bila Paus sedang berada di Vatikan. Berikut adalah terjemahan dari Audiensi Umum pertama Paus Fransiskus sejak terpilih di bulan Maret 2013:

Saudara-saudari, Selamat Pagi!

Saya senang untuk menyambut Anda dalam Audiensi Umum pertama saya. Dengan rasa syukur dan hormat yang mendalam saya melanjutkan “kesaksian” dari tangan Benediktus XVI, Pendahulu saya yang terkasih. Setelah Paskah kita akan melanjutkan Katekese untuk Tahun Iman. Hari ini saya ingin memberikan sedikit renungan mengenai Pekan Suci. Kita mulai minggu ini dengan Minggu Palma – inti dari seluruh Tahun Liturgi – di mana kita menemani Yesus dalam penderitaan-Nya, kematian dan kebangkitan.

Tapi apa makna menghidupi Pekan Suci bagi kita? Apa makna dari mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya ke Golgota dalam perjalanan-Nya menuju Salib dan Kebangkitan? Dalam misi-Nya di dunia Yesus berjalan di jalanan Tanah Suci, Dia memanggil 12 orang sederhana untuk tinggal bersamaNya, untuk menjadi teman seperjalanan-Nya dan melanjutkan misi-Nya. Dia memilih mereka dari kalangan orang-orang yang penuh iman dalam janji-janji Allah. Dia berbicara kepada semua tanpa membeda-bedakan: yang hebat dan rendah, orang muda yang kaya dan janda yang miskin, yang kuat dan yang lemah; Dia membawa rahmat dan pengampunan Allah, Dia menyembuhkan, Dia menghibur, Dia mengerti, Dia memberi harapan; Dia membawa kepada mereka semua hadirat Allah yang peduli kepada setiap pria dan wanita, seperti seorang ayah dan ibu yang baik merawat semua anak-anak mereka.

Allah tidak menunggu kita untuk pergi ke Dia tapi Dialah yang bergerak ke arah kita, tanpa perhitungan, tanpa kuantifikasi. Itulah Allah. Dia selalu mengambil langkah pertama, Dia datang menuju kita.

Yesus hidup dalam realita sehari-hari  dari kebanyakan orang biasa: Dia tergerak saat menghadapi kerumunan yang tampak seperti kawanan tanpa gembala, Dia menangis di hadapan kesedihan yang dirasakan Marta dan Maria pada kematian saudara mereka, Lazarus; Dia memanggil pemungut cukai menjadi murid-Nya, Dia juga mengalami pengkhianatan oleh seorang teman. Di dalam Dialah Allah telah memberi kita kepastian bahwa Dia bersama kita, Dia ada di antara kita. “Serigala-serigala”, Dia, Yesus berkata, “memiliki lubang, dan burung-burung di udara memiliki sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Yesus tidak memiliki rumah, karena rumah-Nya adalah orang-orang, kitalah yang menjadi tempat kediaman-Nya, misi-Nya adalah untuk membuka pintu Allah kepada semua, untuk menjadi kehadiran kasih Allah.

Dalam Pekan Suci kita mengalami saat penobatan perjalanan ini, rencana cinta yang mengalir melalui seluruh sejarah hubungan antara Allah dan manusia. Yesus masuk ke Yerusalem untuk mengambil langkah terakhir di mana Dia merangkum seluruh keberadaan-Nya. Dia memberikan diri-Nya tanpa syarat, Dia tidak menyimpan apa-apa untuk diri-Nya,  kehidupan pun tidak. Pada Perjamuan Terakhir, bersama teman-teman-Nya, Dia memecahkan roti dan mengedarkan piala “untuk kita”. Anak Allah memberikan diri-Nya bagi kita, Dia meletakkan Tubuh dan Darah-Nya ke tangan kita, sehingga bersama kita selalu, untuk tinggal di antara kita. Dan di Taman Zaitun, dan juga dalam sidang di hadapan Pilatus, Dia tidak melawan, Dia memberikan Diri-Nya sendiri, Ia adalah Hamba yang menderita, diramalkan oleh Yesaya, yang mengosongkan diri-Nya, bahkan sampai wafat (bdk. Yes 53:12) .

Yesus tidak mengalami kasih yang berujung pada pengorbanan-Nya secara pasif atau sebagai takdir yang kejam. Dia tentu tidak menyembunyikan penderitaan manusia yang mendalam saat Dia akan menghadapi kematian yang tragis, tetapi dengan kepercayaan mutlak menyerahkan diri-Nya kepada Bapa. Yesus menyerahkan diri sampai mati secara sukarela dalam rangka membalas kasih Allah Bapa, dalam persatuan yang sempurna dengan kehendak-Nya, untuk menunjukkan kasih-Nya bagi kita. Di Salib Yesus “mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Masing-masing dari kita dapat berkata: “Ia mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. Masing-masing dari kita dapat mengatakan ini “untuk saya”.

Apa arti dari semua ini bagi kita? Ini berarti bahwa ini adalah jalan saya, kamu dan kita semua juga. Menghidupi Pekan Suci, mengikuti Yesus tidak hanya dengan emosi hati; Menghidupi Pekan Suci, mengikuti Yesus berarti belajar untuk keluar dari diri kita sendiri – seperti yang saya katakan hari Minggu lalu – dalam rangka pergi untuk bertemu orang lain, untuk pergi ke ujung – ujung dunia, menjadi yang pertama untuk mengambil langkah menuju saudara-saudari kita, terutama mereka yang paling jauh, mereka yang terlupakan, mereka yang paling membutuhkan pengertian, kenyamanan, dan bantuan. Ada kebutuhan yang hebat untuk membawa kehadiran Yesus yang hidup, berbelas kasih dan penuh cinta!

Menghidupi Pekan Suci berarti memasuki logika Allah dengan lebih mendalam, ke dalam logika Salib, yang pertama – tama bukanlah soal penderitaan dan kematian, melainkan mengenai kasih dan anugerah pribadi yang membawa kehidupan. Ini berarti memasuki logika Injil. Mengikuti dan mendampingi Kristus, tinggal bersamaNya, menuntut “keluar dari diri kita sendiri”, menuntut kita untuk terbuka, untuk keluar dari diri kita sendiri, dari cara suram dalam menjalani iman hidup yang sudah menjadi kebiasaan, dari godaan untuk menarik kita ke rencana kita sendiri yang berakhir dengan menutup aksi kreatif Allah.

Allah keluar dari diri-Nya sendiri untuk hadir di antara kita, Ia mendirikan kemah-Nya di antara kita untuk membawa kepada kita rahmat-Nya yang menyelamatkan dan memberikan harapan. Kita juga tidak boleh puas dengan tinggal di kandang yang berisi 99 domba jika kita ingin mengikuti-Nya dan tetap bersama dia, kita juga harus “pergi” dengan Dia untuk mencari domba yang hilang, satu yang telah tersesat paling jauh. Pastikan kalian ingat bahwa: keluar dari diri kita sendiri, sama seperti Yesus, sama seperti Allah keluar dari diri-Nya dalam Yesus dan Yesus keluar dari diri-Nya untuk kita semua.

Seseorang mungkin berkata: “tapi Romo, saya tidak punya waktu”, “Saya memiliki begitu banyak hal untuk dilakukan”, “itu sulit”, “apa yang bisa saya lakukan dengan kelemahan saya dan dosa-dosa saya, dengan begitu banyak hal?”. Kita sering puas dengan beberapa doa, dengan partisipasi yang asal – asalan dan hilang timbul dalam Misa Minggu, dengan hanya beberapa tindakan amal, tetapi kita tidak memiliki keberanian “untuk keluar” untuk membawa Kristus kepada orang lain. Kita sedikit seperti Santo Petrus. Segera setelah Yesus berbicara tentang penderitaan-Nya, kematian dan kebangkitan, dari karunia diri-Nya, cinta untuk semua, Petrus membawa-Nya ke samping dan menegur Dia. Apa yang Yesus katakan mengganggu rencananya, tampak tidak dapat diterima, mengancam keamanan yang direncanakan untuk dirinya sendiri, gambarannya tentang Mesias. Dan Yesus melihat kepada murid-murid-Nya dan menyampaikan kepada Petrus sesuatu yang mungkin adalah kata-kata paling keras dalam Injil: “Enyahlah Iblis! Karena engkau tidak berada di sisi Allah, tetapi manusia “(Mrk 8:33). Allah selalu berpikir dengan belas kasihan: jangan lupakan ini. Allah selalu berpikir dengan penuh belas kasihan. Dia adalah Bapa yang penuh belas kasih! Allah berpikir seperti Bapa yang menunggu anaknya dan pergi menemui dia, Dia melihat anak-Nya datang ketika dia masih jauh ….

Apa artinya ini? Bahwa Dia pergi setiap hari untuk melihat apakah anak-Nya pulang: ini adalah Bapa kita yang murah hati. Ini menunjukkan bahwa Ia sedang menunggu dia dengan kerinduan di teras rumah-Nya. Allah berpikir seperti orang Samaria yang tidak meninggalkan orang yang malang, mengasihani dia atau memandangnya dari sisi lain jalan, tetapi membantunya tanpa meminta imbalan apa pun, tanpa bertanya apakah ia adalah seorang Yahudi, seorang penyembah berhala atau Samaria, apakah dia kaya atau miskin: Ia tidak meminta apa-apa. Ia pergi untuk membantu dia: inilah Allah. Allah berpikir seperti gembala yang memberikan nyawa-Nya untuk melindungi dan menyelamatkan domba-domba-Nya.

Pekan Suci adalah waktu rahmat yang Tuhan berikan untuk kita membuka pintu hati kita, kehidupan kita, paroki kita – Alangkah sayangnya begitu banyak paroki  yang ditutup! – kerasulan awam, perkumpulan-perkumpulan, dan “untuk keluar” untuk bertemu dengan orang lain, untuk membuat diri kita akrab, untuk membawakan bagi mereka cahaya dan sukacita iman kita. Untuk selalu keluar! Dan untuk melakukannya dengan cinta dan kelembutan Allah, dengan hormat dan kesabaran, mengetahui bahwa Allah memegang tangan kita, kaki kita, hati kita, dan memandu mereka dan membuat semua tindakan kita berbuah.

Saya berharap bahwa kita semua akan menjalani hari – hari ini dengan baik, mengikuti Tuhan dengan berani, membawa dalam diri kita sinar cinta-Nya untuk semua orang yang kita temui.

(AO)

 

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 27 Maret 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Aku datang untuk Pendosa!

2

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada Minggu Pra Paskah ke 5 di Paroki Santa Anna di Vatikan:

Ini adalah cerita yang indah. Pertama – tama  Yesus sendirian di gunung, berdoa. Dia berdoa sendirian (bdk. Yoh 8:1). Kemudian ia kembali ke Bait Allah, dan semua orang pergi kepadaNya (ay 2). Yesus berada di tengah orang-orang. Dan kemudian, pada akhirnya, mereka meninggalkan dia sendirian dengan wanita itu (ay 9). Kesendirian Yesus! Tapi itu adalah kesendirian yang berbuah: kesendirian dalam doa dengan Bapa, dan kesendirian yang indah ini merupakan pesan Gereja untuk hari ini: kesendirian  dari rahmat pengampunan-Nya terhadap wanita ini.

Dan di antara orang-orang itu kita bisa melihat berbagai sikap: ada banyak orang yang datang kepadanya, Ia duduk dan mulai mengajar mereka: orang-orang yang ingin mendengarkan kata-kata Yesus, orang-orang dengan hati yang terbuka, lapar untuk kata-kata Allah. Ada orang lain yang tidak mendengarkan apa-apa, yang tidak bisa mendengar apa-apa, dan ada orang-orang yang membawa serta wanita ini: Dengar, Guru, wanita ini telah melakukan ini dan itu … kita harus melakukan apa yang diperintahkan Musa kita lakukan terhadap wanita seperti ini (ay 4-5).

Saya pikir kita juga adalah orang-orang yang, di satu sisi ingin mendengarkan Yesus, tetapi di sisi lain, kadang-kadang, ingin mencari tongkat untuk memukul orang lain, untuk mengutuk orang lain. Dan Yesus punya pesan ini untuk kita: belas kasih. Saya pikir – dan saya katakan dengan kerendahan hati – bahwa ini adalah pesan Tuhan yang paling kuat:  belas kasih. Dia sendiri yang mengatakan: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar”. Orang benar membenarkan diri mereka sendiri. Silakan, bahkan jika anda bisa melakukannya, aku tidak bisa! Tapi mereka percaya bahwa mereka bisa. “Aku datang untuk pendosa” (Mrk 2:17).

Pikirkan gosip setelah Matius memanggil: Ia berkumpul dengan orang-orang berdosa!  (bdk. Mrk 2:16). Dia datang untuk kita, ketika kita menyadari bahwa kita adalah orang berdosa. Tetapi jika kita seperti orang Farisi, yang di depan altar, mengatakan: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, dan terutama tidak seperti yang di pintu, seperti pemungut cukai ini (bdk. Luk 18:11-12 ), maka kita tidak tahu akan Hati Tuhan, dan kita tidak akan pernah memiliki kebahagiaan mengalami rahmat ini! Tidak mudah untuk mempercayakan diri kita kepada kemurahan Tuhan, karena itu di luar pemahaman kita. Tetapi kita harus! “Oh, Bapa, jika Anda tahu hidup saya, Anda tidak akan mengatakan itu padaku!” “Kenapa, apa yang telah kau lakukan?” “Oh, aku adalah pendosa yang besar!” “Semakin baik! Pergilah kepada Yesus: Dia suka saat anda menceritakan hal-hal ini!” Dia lupakan, Dia memiliki kapasitas yang sangat spesial untuk melupakan sesuatu. Dia lupakan, Dia mencium Anda, Dia memeluk Anda dan Dia katakan kepada Anda: “Aku pun tidak menghukum engkau, pergi, dan jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11). Itulah satu-satunya saran yang Dia berikan. Setelah satu bulan, jika kita berada dalam situasi yang sama … Mari kita kembali ke Tuhan. Tuhan tidak pernah lelah untuk memaafkan: tidak akan pernah! Kitalah yang lelah untuk meminta pengampunan-Nya. Mari kita meminta anugerah agar tidak lelah untuk meminta pengampunan, karena dia tidak pernah lelah untuk mengampuni. Mari kita meminta anugerah ini.
***

Setelah Misa dan salam dari imam paroki dan Kardinal Angelo Comastri, Paus mengakhiri dengan kata-kata:


Ada beberapa di sini yang bukan umat dari paroki ini, termasuk beberapa dari Argentina – salah satunya adalah Uskup pembantu saya – tetapi sekarang mereka adalah umat paroki ini. Saya ingin memperkenalkan kepada Anda seorang imam yang datang dari jauh, seorang imam yang bekerja dengan anak-anak dan dengan pecandu narkoba di jalanan. Dia membuka sekolah bagi mereka, ia telah melakukan banyak hal agar Yesus dikenal, dan semua anak laki-laki dan perempuan dari jalanan itu, saat ini bekerja dengan bidang yang telah mereka pelajari, mereka memiliki kemampuan untuk bekerja, mereka percaya dan mereka mengasihi Yesus . Saya meminta anda Gonzalo, datanglah dan sapalah umat di sini: doakanlah dia. Dia bekerja di Uruguay, sebagai pendiri Jubilar Juan Pablo II. Ini adalah karyanya. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia datang ke sini, tapi saya akan mencari tahu! Terima kasih. Doakanlah dia.

(YT)

Paus Fransiskus,

Paroki Santa Anna, Vatikan, 17 Maret 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk dalam domba–domba-Ku!

0

paus fransiskusBerikut adalah homili Paus Fransiskus dalam Misa yang dikonselebrasikan bersama dengan para Kardinal yang berdomisili di Roma pada Pesta Santo Gregorius:

Saya berterima kasih kepada yang mulia, Kardinal Dekan, atas kata-katanya: Terima kasih yang mulia, terima kasih banyak.

Saya juga berterima kasih kepada kalian yang datang hari ini. Terima kasih! Karena saya merasa disambut dengan hangat oleh kalian. Terima kasih! Saya merasa seperti di rumah bersama kalian, dan itu menyenangkan saya.

Bacaan pertama hari ini membuat saya berpikir bahwa, tepat pada saat manakala penganiayaan terjadi, sifat misioner Gereja pun “merebak”. Orang-orang Kristen ini pergi sepanjang jalan sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia, dan mewartakan Sabda (lih. Kis 11:19). Mereka memiliki semangat kerasulan ini di dalam hati mereka, dan dengan demikian keimanan menyebar! Beberapa orang dari Siprus dan Kirene, bukan orang-orang yang ini, tetapi orang-orang lain yang telah menjadi Kristen, tiba di Antiokhia dan mulai berbicara juga untuk orang-orang Yunani (lih. Kis 11:20).  Hal ini merupakan langkah lain jadinya. Dengan demikian Gereja semakin bergerak maju. Siapa yang mengambil inisiatif ini untuk berbicara dengan orang-orang Yunani, sesuatu yang tidak pernah terdengar, sejak mereka memberitakan hanya untuk orang Yahudi? Itu adalah Roh Kudus, Dialah yang mendorong mereka maju, terus dan lanjut, tak henti-hentinya.

Tapi di Yerusalem, ketika seseorang mendengar tentang hal ini, ia menjadi sedikit gugup dan mereka mengirim seorang Utusan Apostolik: mereka mengutus Barnabas (lih. Kis 11:22). Mungkin, dengan sentuhan humor, kita dapat mengatakan bahwa ini adalah asal teologis dari Kongregasi untuk Ajaran Iman: [yaitu yang berawal dari] Kunjungan Apostolik Barnabas ini. Dia melihat-lihat dan melihat bahwa hal-hal itu berjalan dengan baik (lih. Kis 11:23). Dan dengan cara ini Gereja semakin menjadi seorang Ibu, seorang Ibu dari sekian banyak orang, banyak anak: ia menjadi seorang Ibu, semakin sepenuhnya menjadi seorang Ibu, seorang Ibu yang memberikan kita iman, seorang Ibu yang memberi kita identitas kita. Tapi identitas Kristen bukanlah sebuah kartu identitas. Identitas Kristen berarti menjadi anggota Gereja, karena semua orang-orang ini milik Gereja, Bunda Gereja, bagi yang memisahkan diri dari Gereja tidaklah mungkin menemukan Yesus. Paulus VI yang agung mengatakan: hal itu adalah dikotomi yang tidak masuk akal untuk ingin hidup bersama Yesus tetapi tanpa Gereja, untuk mengikuti Yesus tapi tanpa Gereja, untuk mengasihi Yesus tapi tanpa Gereja (lih. Evangelii Nuntiandi, 16). Dan Bunda Gereja itulah yang memberi kita Yesus yang juga memberikan kita suatu identitas yang bukan hanya sekedar stempel karet: melainkan keanggotaan. Identitas berarti keanggotaan, hak milik. Hak milik Gereja: indah bukan!

Gagasan ketiga yang datang ke pikiran saya – yang pertama adalah merebaknya sifat misionaris Gereja, dan kedua, Gereja sebagai Ibu –  adalah bahwa, ketika Barnabas melihat kerumunan itu – teks itu mengatakan: “dan banyak sekali orang dibawa kepada Tuhan “(Kis 11:24) – ketika ia melihat kerumunan orang itu, ia bersukacita. “Ketika ia datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia” (Kis 11:23). Ini adalah sukacita khusus penginjil tersebut. Hal ini, seperti yang dikatakan Paulus VI, “sukacita yang menyenangkan dan menghibur dari penginjilan” (bdk. Evangelii Nuntiandi, 80). Sukacita ini dimulai dengan penganiayaan, dengan kesedihan yang sangat dalam, dan berakhir dalam sukacita. Dan dengan demikian Gereja terus bergerak maju, sebagaimana seorang Santo memberitahu kita, di tengah penganiayaan dunia dan penghiburan dari Tuhan (cf. Santo Agustinus, De Civitate Dei, 18:51,2: PL 41, 614). Ini adalah kehidupan Gereja. Jika kita ingin mengambil jalan keduniawian, tawar-menawar dengan dunia – sebagaimana orang – orang Makabe tergoda untuk melakukannya saat itu – [maka] kita tidak akan pernah memiliki penghiburan dari Tuhan. Dan jika kita mencari penghiburan saja, hal itu akan menjadi sebuah penghiburan yang dangkal saja, bukan lagi penghiburan Tuhan, tetapi [hanya sekedar] sebuah penghiburan manusia. Gereja selalu melangkah maju di antara salib dan kebangkitan, antara penganiayaan dan penghiburan dari Tuhan. Ini adalah jalannya: orang-orang yang mengambil jalan ini tidak akan salah.

Hari ini mari kita pikirkan tentang sifat misioner Gereja: murid-murid yang mengambil inisiatif untuk pergi berkelana, dan mereka yang memiliki keberanian untuk memberitakan Yesus kepada orang Yunani, sesuatu yang pada saat itu hal yang sangat tabu (lih. Kis 11:19 -20). Marilah kita memikirkan Bunda Gereja, yang semakin memperbanyak, yang berkembang biak dengan anak-anak baru, yang kepadanya dia memberikan identitas iman, karena seseorang tidak bisa percaya kepada Yesus tanpa Gereja. Yesus sendiri mengatakan demikian dalam Injil: tapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk dalam domba-domba-Ku (bdk. Yoh 10:26). Kecuali kita menjadi “domba Yesus”, iman tidak datang, iman ini adalah sebuah iman yang lekas lenyap, yang tidak berdasar. Dan mari kita pikirkan penghiburan yang sebagaimana Barnabas alami, yang tepatnya adalah “sukacita yang menyenangkan dan menghibur dari penginjilan “. Mari kita minta Tuhan untuk parrhesia (Yunani: keberanian untuk bicara di muka umum) ini, ini semangat kerasulan yang mendorong kita untuk bergerak maju, sebagai saudara, kita semua: maju! Maju, menyandang nama Yesus di dalam pelukan suci Bunda Gereja, seperti yang dikatakan Santo Ignatius, hirarkis dan Katolik. Amin.

(AR)

Paus Fransiskus,
Kapel Paulus, 23 April  2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

 

Paus Fransiskus (Urbi et Orbi) : Jadilah Saluran Damai Tuhan!

0

paus fransiskusSaudara-saudara terkasih di Roma dan di seluruh dunia, Selamat Paskah! Selamat Paskah!

Merupakan suatu sukacita bagi saya untuk mengumumkan pesan ini: Kristus telah bangkit! Saya ingin pesan ini menghampiri  setiap rumah dan setiap keluarga, terutama ke tempat di mana penderitaan paling besar, di rumah sakit – rumah sakit, di penjara – penjara …

Yang paling penting, saya ingin kabar ini masuk setiap hati, karena di situlah Allah ingin menabur Kabar Baik: Yesus telah bangkit, masih ada harapan bagi kalian, kalian tidak lagi dalam kuasa dosa, kejahatan! Cinta telah menang, belas kasihan telah menang! Kemurahan hati Allah selalu menang!

Kita juga, seperti perempuan yang merupakan murid-murid Yesus, yang pergi ke liang kubur itu dan menemukannya kosong, mungkin bertanya-tanya apa makna dari peristiwa ini (bdk. Luk 24:4). Apa artinya bahwa Yesus telah bangkit? Ini berarti bahwa kasih Allah lebih kuat dari iblis dan kematian itu sendiri; Ini berarti kasih Allah dapat mengubah hidup kita dan membuat gurun dalam hati kita menjadi mekar. Kasih Allah dapat melakukan hal tersebut!

Cinta yang sama di mana  Anak Allah menjadi manusia dan mengikuti jalan kerendahan hati dan penyerahan diri sampai akhir, bahkan turun ke neraka – ke jurang pemisahan dari Allah – cinta yang penuh belas kasih yang sama telah membanjiri dengan cahaya tubuh Yesus yang telah wafat, telah mengubahnya, telah berhasil masuk ke dalam hidup yang kekal. Yesus tidak kembali ke kehidupan sebelumnya, kehidupan duniawi, tetapi masuk ke dalam kehidupan Allah yang mulia dan Ia masuk ke sana dengan kemanusiaan kita, membuka bagi kita sebuah masa depan yang berpengharapan.

Ini adalah makna dari Paskah: sebuah eksodus, pengembaraan umat manusia dari perbudakan dosa dan kejahatan kemudian menuju kemerdekaan penuh cinta dan kebaikan. Karena Allah adalah hidup, kehidupan itu sendiri, dan kita adalah kemuliaan-Nya: manusia yang hidup (lih. Irenaeus, Adversus Haereses, 4,20,5-7).

Saudara-saudari, Kristus mati dan bangkit sekali untuk selamanya, dan untuk semua orang, tapi kekuatan dari Kebangkitan, perubahan dari perbudakan setan menuju kebebasan yang penuh kebaikan, harus dicapai di setiap zaman, dalam kehadiran nyata kita, dalam kehidupan kita sehari-hari. Berapa banyak gurun, bahkan hari ini, yang perlu diseberangi oleh manusia! Terutama gurun dalam diri kita, ketika kita tidak memiliki kasih kepada Allah atau sesama kita, ketika kita gagal untuk menyadari bahwa kita adalah penjaga dari semua yang Sang Pencipta telah dan terus berikan kepada kita. Kemurahan Allah dapat membuat bahkan tanah terkering sekalipun untuk menjadi sebuah taman, dapat memulihkan kehidupan dari tulang-tulang yang kering (lih.  Yeh 37:1-14).

Jadi ini adalah undangan yang saya alamatkan untuk semua orang: Mari kita menerima rahmat kebangkitan Kristus! Semoga kita diperbaharui oleh kemurahan Tuhan, berikan diri kita untuk dicintai oleh Yesus, mari kita membiarkan kekuatan cintanya untuk mengubah kehidupan kita juga, dan biarkan kita menjadi penyalur dari rahmat ini, saluran di mana melalui Allah dapat mengairi bumi, melindungi semua ciptaan dan membuat keadilan dan perdamaian tumbuh subur.

Dan jadi kita meminta kepada Yesus yang telah bangkit, yang mengubah maut menjadi kehidupan, untuk mengubah kebencian menjadi cinta, dendam ke pengampunan, perang menjadi perdamaian. Ya, Kristus adalah damai sejahtera kita, dan melalui Dia kita mohon damai bagi seluruh dunia.

Perdamaian untuk Timur Tengah, dan khususnya antara Israel dan Palestina, yang mengalami kesulitan untuk menemukan jalan kesepakatan, agar mereka rela dan berani untuk melanjutkan negosiasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung terlalu lama. Perdamaian di Irak, agar setiap tindakan kekerasan dapat berakhir, dan terutama untuk Suriah, bagi orang-orang yang tercabik-cabik oleh konflik dan para pengungsi yang menunggu bantuan dan penghiburan. Berapa banyak darah yang telah ditumpahkan! Dan betapa banyak penderitaan yang masih harus dialami sebelum suatu solusi politik untuk krisis ini akan ditemukan?

Perdamaian untuk Afrika, yang masih menjadi ajang konflik kekerasan. Di Mali, semoga persatuan dan stabilitas dipulihkan; di Nigeria, di mana serangan – serangan yang  menyedihkan terus terjadi, mengancam dengan serius kehidupan banyak orang yang tidak bersalah, dan di mana sejumlah besar orang, termasuk anak-anak, yang disandera oleh kelompok teroris. Perdamaian di bagian Timur dari Republik Demokratik Kongo, dan di Republik Afrika Tengah, di mana banyak orang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka dan terus hidup dalam ketakutan.

Perdamaian di Asia, terutama di semenanjung Korea: semoga perbedaan pendapat dapat diatasi dan semangat baru dari rekonsiliasi dapat tumbuh.

Perdamaian di seluruh dunia, masih dipecah belah oleh keserakahan dalam mencari keuntungan yang mudah, dilukai oleh keegoisan yang mengancam kehidupan manusia dan keluarga, keegoisan yang terus berlanjut dalam perdagangan manusia, bentuk paling umum dari perbudakan di abad 21; perdagangan manusia merupakan bentuk yang paling umum dari perbudakan di abad 21! Perdamaian bagi seluruh dunia, terkoyak oleh kekerasan terkait dengan perdagangan obat terlarang dan oleh eksploitasi sumber daya alam yang bengis! Perdamaian bagi Bumi kita! Semoga Yesus yang bangkit membawa penghiburan bagi para korban bencana alam dan membuat kita menjadi penjaga ciptaan yang bertanggung jawab.

Saudara dan saudari terkasih, untuk anda semua yang sedang mendengarkan saya, dari Roma dan dari seluruh dunia, saya sampaikan undangan dari Mazmur: “Bersyukurlah kepada Tuhan karena dia baik, karena kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya. Biarlah Israel berkata: ‘kasih setia-Nya kekal selama-lamanya’ “(Mzm 117:1-2).

SALAM

Saudara-saudara, untuk Anda yang datang dari seluruh dunia ke lapangan (red-Santo Petrus) ini di jantung kekristenan, dan untuk Anda yang terhubung dengan teknologi modern, saya ulangi salam saya: Selamat Paskah!

Wartakan dalam keluarga Anda dan di negara Anda pesan sukacita, harapan dan kedamaian yang mana setiap tahun, pada hari ini, diperbaharui dengan kuat.

Semoga Tuhan yang bangkit, penakluk dosa dan kematian, menjadi sebuah dukungan untuk Anda semua, terutama kepada yang paling lemah dan membutuhkan. Terima kasih atas kehadiran Anda dan untuk kesaksian iman Anda. Sebuah pikiran dan ucapan terima kasih untuk bunga-bunga yang indah ini, yang berasal dari Belanda. Untuk Anda semua Aku berkata lagi dengan penuh perasaan: Semoga Kristus yang bangkit membawa Anda semua dan seluruh umat manusia pada jalan keadilan, cinta dan perdamaian. (AO)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 31 Maret 2013

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Paus Fransiskus : Bila kita berjalan tanpa Salib, kita bukanlah murid Tuhan

0

paus fransiskusBerikut adalah homili Bapa Suci Fransiskus dalam Missa Pro Ecclesia bersama para Kardinal Elektor yang beberapa hari lalu ikut serta dalam konklav.

Dalam tiga bacaan ini, saya melihat sebuah benang merah:  pergerakan. Dalam bacaan pertama, tentang pergerakan dalam perjalanan, dalam bacaan kedua, tentang pergerakan membangun Gereja, dan ketiga, dalam Injil, tentang pergerakan yang melibatkan pengakuan iman. Perjalanan, Membangun, Pengakuan.

Perjalanan.”Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan” (Yesaya 2:5). Ini adalah hal pertama yang Allah katakan kepada Abraham: Berjalanlah di hadapan-Ku dan hiduplah dengan tidak bercela. Melakukan perjalanan: hidup kita adalah sebuah perjalanan; dan ketika kita berhenti bergerak, keadaan menjadi kacau. Lakukanlah perjalanan selalu dalam hadirat Tuhan, di dalam terang Tuhan; berusahalah untuk hidup dengan tidak bercela sebagaimana yang Allah minta kepada Abraham dalam janjinya.

Membangun Gereja.

Kita berbicara tentang bebatuan: batu-batu itu keras, tetapi batu-batu yang hidup, batu-batu yang diurapi oleh Roh Kudus. Membangun Gereja, Mempelai Kristus, yang batu penjurunya adalah Tuhan sendiri. Hal ini merupakan jenis lain dari pergerakan dalam hidup kita: membangun.

Pengakuan Iman.

Kita dapat berjalan sebanyak yang kita inginkan; kita dapat membangun banyak hal, akan tetapi jika kita tidak mengakui Yesus Kristus, yang kita lakukan jadi salah. Kita akan menjadi sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat amal [LSM], tetapi bukan Gereja, Mempelai Tuhan. Ketika kita tidak berjalan, kita berhenti bergerak. Ketika kita tidak membangun di atas batu-batuan, apa yang terjadi? Hal yang sama terjadi seperti pada anak-anak di pantai ketika mereka membangun istana pasir: semuanya tersapu, tidak ada kekokohan. Ketika kita tidak mengakui Yesus Kristus, ucapan dari Léon Bloy datang ke dalam pikiran: “Siapa pun yang tidak berdoa kepada Tuhan [berarti] berdoa kepada setan.” Ketika kita tidak mengakui Yesus Kristus, kita mengakui keduniawian dari iblis, sebuah keduniawian yang jahat.

Melakukan perjalanan, membangun, pengakuan. Tapi hal-hal tersebut tidak berlangsung mudah begitu saja, karena dalam melakukan perjalanan, membangun, mengakui, kadang-kadang bisa ada guncangan-guncangan, gerakan-gerakan yang bukan merupakan bagian dari perjalanan sebagaimana mestinya: [yaitu] gerakan-gerakan yang menarik mundur kita.

Injil ini berlanjut dengan sebuah situasi spesial. Petrus yang sama, yang mengakui Yesus Kristus, sekarang mengatakan kepada-Nya: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Saya akan mengikuti-Mu, tapi janganlah kita berbicara tentang Salib. Itu tidak ada hubungannya sama sekali. Saya akan mengikuti-Mu untuk segala hal,  tetapi tidak soal Salib. Ketika kita melakukan perjalanan tanpa Salib, ketika kita membangun tanpa Salib, ketika kita mengakui Kristus tanpa Salib, kita bukan murid-murid Tuhan, melainkan duniawi: kita bisa jadi seorang uskup, imam, kardinal, paus, tetapi bukan murid-murid Tuhan.

Harapan saya adalah bahwa kita semua, setelah hari-hari rahmat ini, akan memiliki keberanian, ya, keberanian, untuk berjalan di dalam hadirat Tuhan, dengan Salib Tuhan, untuk membangun Gereja di atas darah yang dicurahkan di kayu Salib, dan untuk mengakui satu kemuliaan: Kristus yang disalibkan. Dan dengan cara ini, Gereja akan maju.

Doa saya bagi kita semua adalah supaya Roh Kudus, melalui perantaraan Santa Perawan Maria, Bunda kita, akan memberikan kita rahmat ini: untuk berjalan, untuk membangun, untuk mengakui Yesus Kristus yang disalibkan. Amin.

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Kapel Sistina, 14 Maret 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab