Home Blog Page 116

Paus Fransiskus : Bunda Maria ajar kami mengenal Bapa, Putera, dan Roh Kudus!

0

Berikut ini adalah terjemahan homili Paus Fransiskus pada Pesta Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, Minggu 26 Mei 2013:

Pada awal Perayaan Ekaristi, Bapa Suci, setelah ucapan salam dari pastor paroki, berkata:

Yang terkasih Penjaga Pertama, yang terkasih Penjaga Kedua, yang terkasih para penjaga sekalian,

Saya menyukai apa yang kalian katakan: bahwa kata “pinggiran” itu [selain] memiliki konotasi negatif tetapi juga positif. Apakah kalian tahu mengapa? Karena kita memahami realitas lebih baik dari pinggiran bukan dari pusat. Kita memahami itu lebih baik. Juga, apa yang kalian telah katakan: tentang menjadi penjaga, bukan?

Terima kasih untuk jabatan ini, untuk pekerjaan kalian sebagai para penjaga. Saya berterima kasih juga untuk kedatangan kalian pada hari ini pada Pesta Raya Tritunggal. Ada imam-imam di sini yang kalian kenal baik, dua sekretaris Paus, Paus yang berada di Vatikan, bukan? Hari ini Uskup Roma telah datang ke sini. Dan keduanya ini bekerja keras. Tapi hari ini salah satu dari mereka, Pastor Alfred, merayakan ulang tahun tahbisan imamatnya [yang ke]: 29 tahun. Beri dia tepuk tangan! Marilah kita berdoa baginya dan meminta setidaknya 29 tahun lainnya lagi untuknya. Mau kan kita? Mari kita mulai Misa seperti ini, dengan semangat bakti, dalam keheningan, semua berdoa bersama untuk kita semua.

————————————————————————————————————————

Kemudian Bapa Suci memberikan homili dalam bentuk dialog dengan anak-anak yang menyambut komuni Pertama tahun ini.

Saudara-saudari yang terkasih,

Dalam sambutannya Imam Paroki mengingatkan saya akan sesuatu yang indah tentang Bunda Maria. Bunda Maria, segera setelah dia mendengar kabar bahwa dia akan menjadi Ibu Yesus dan mendengar kabar bahwa sepupunya, Elizabeth, menantikan seorang anak – Injil mengatakan – dia pergi bergegas kepadanya, dia tidak menunggu. Dia tidak mengatakan: “Tapi sekarang aku bersama anakku harus menjaga kesehatanku. Sepupuku pasti akan memiliki teman yang bisa merawatnya”. Sesuatu telah menyemangati dia dan dia “pergi bergegas” kepada Elizabeth (bdk. Luk 1:39). Indah untuk memikirkan hal ini dari Bunda Maria, dari Ibu kita, bahwa dia bergegas, karena dia bermaksud untuk membantu. Dia pergi untuk membantu, dia tidak pergi untuk membual dan menceritakan sepupunya: “dengarkan, aku yang bertanggung jawab sekarang, karena aku adalah Bunda Allah!”. Tidak, dia tidak melakukan itu. Dia pergi untuk membantu! Dan Bunda Maria selalu seperti ini. Dia adalah Ibu kita yang selalu bergegas kepada kita setiap kali kita membutuhkan.

Akan menjadi indah untuk menambahkan pada Litani Bunda Maria, sesuatu seperti ini: “O Bunda yang pergi bergegas, doakanlah kami!”. Indah, bukan? Karena dia selalu pergi bergegas, dia tidak melupakan anak-anaknya. Dan ketika anak-anaknya berada dalam kesulitan, ketika mereka membutuhkan sesuatu dan memanggil dirinya, dia bergegas kepada mereka. Hal ini memberikan kita rasa aman, rasa aman dari selalu memiliki Ibu kita di sebelah kita, di samping kita. Kita bergerak maju, kita melakukan perjalanan dengan lebih mudah dalam hidup ketika ibu kita berada di dekat [kita]. Mari kita berpikir tentang anugerah ini dari Bunda Maria, kasih karunia ini yang dia berikan kepada kita: menjadi dekat dengan kita, namun tanpa membuat kita menunggu untuknya. Selalu! Dia – mari kita percaya hal ini – dia hidup untuk membantu kita. Bunda Maria yang selalu bergegas, demi kepentingan kita.

Bunda Maria juga membantu kita untuk memahami Allah dan Yesus dengan baik, untuk memahami kehidupan Yesus dengan baik dan kehidupan Allah, dan memahami dengan benar apa Tuhan itu, seperti apa Tuhan itu, dan apa Allah itu. Saya bertanya kepada kalian anak-anak: “Siapa yang tahu siapa Allah itu?” Angkat tangan. Katakan pada saya! Di sana! Pencipta bumi ini. Dan berapa banyak Allah yang ada? Satu? Tapi saya telah diberitahu bahwa ada tiga: Bapa, Putera dan Roh Kudus! Bagaimana ini bisa dijelaskan? Apakah ada satu atau ada tiga? Satu? Satu? Dan bagaimana mungkin untuk menjelaskan bahwa satu adalah Bapa, yang satu lagi Putera dan lainnya Roh Kudus? Lebih keras lagi, Lebih keras lagi! Gadis itu benar. Mereka adalah tiga dalam satu, tiga Pribadi dalam satu.

Dan apa yang Bapa lakukan? Bapa adalah awal, Bapa yang menciptakan segala sesuatu, yang menciptakan kita. Apa yang Sang Putera lakukan? Apa yang Yesus lakukan? Siapa yang bisa memberitahu saya apa yang Yesus lakukan? Apakah Dia mencintai kita? Dan kemudian? Dia membawa firman Allah! Yesus datang untuk mengajarkan kita firman Allah. Hal ini sangat baik! Dan apa kemudian? Apa yang Yesus lakukan di bumi? Dia telah menyelamatkan kita! Dan Yesus datang untuk memberikan nyawa-Nya bagi kita. Bapa menciptakan dunia, Yesus menyelamatkan kita.

Dan apa yang Roh Kudus lakukan? Dia mengasihi kita! Dia memberi kalian kasih! Semua anak-anak bersama-sama: Bapa menciptakan semua, Dia menciptakan dunia, Yesus menyelamatkan kita, dan Roh Kudus? Dia mengasihi kita! Dan ini adalah kehidupan Kristiani: berbicara kepada Bapa, berbicara dengan Putera dan berbicara dengan Roh Kudus. Yesus telah menyelamatkan kita, tetapi Dia juga berjalan di samping kita dalam hidup. Apakah ini benar? Dan bagaimana Dia berjalan? Apa yang Dia lakukan ketika Dia berjalan di samping kita dalam hidup? Ini sulit. Siapa saja yang mengetahui ini memenangkan Derby (red- Derby adalah lomba pacuan kuda)! Apa yang Yesus lakukan ketika Dia berjalan dengan kita? Lebih keras lagi! Pertama: Dia membantu kita. Dia memimpin kita! Baik sekali. Dia berjalan bersama kita, Dia membantu kita, Dia memimpin kita dan Dia mengajarkan kita untuk melanjutkan perjalanan.

Dan Yesus juga memberi kita kekuatan untuk berkarya. Betul tidak? Dia menguatkan kita! Baik! Dalam kesulitan, benar? Dan juga dalam tugas-tugas sekolah kita! Dia mendukung kita, Dia membantu kita, Dia memimpin kita, Dia menguatkan kita. Itulah Dia! Yesus selalu pergi dengan kita. Baik. Tapi dengar, Yesus memberi kita kekuatan. Bagaimana Yesus memberi kita kekuatan? Kalian tahu ini, kalian tahu bahwa Dia memberi kita kekuatan! Lebih keras lagi, saya tak bisa mendengar kalian! Dalam Komuni Dia memberi kita kekuatan, Dia benar-benar membantu kita dengan kekuatan. Dia datang kepada kita. Tapi ketika kalian mengatakan, “Dia memberi kita Komuni”, apakah sepotong roti membuat kalian begitu kuat? Bukankah itu roti? Apakah itu roti? Ini adalah roti, tapi apa yang ada di roti altar? Atau itu bukan roti? Tampaknya adalah roti. Itu bukan benar – benar roti. Apa itu? Ini adalah Tubuh Yesus. Yesus datang ke dalam hati kita.

Jadi mari kita semua berpikir tentang hal ini: Bapa telah memberi kita hidup, Yesus telah memberi kita keselamatan, Dia menemani kita, Dia memimpin kita, Dia mendukung kita, Dia mengajarkan kita, dan Roh Kudus? Apa yang Dia berikan kita? Dia mengasihi kita! Dia memberi kita kasih. Mari kita berpikir tentang Allah dengan cara ini dan meminta Bunda Maria, Bunda Maria, Ibu kita, yang selalu bergegas untuk membantu kita, untuk mengajar kita untuk memahami dengan benar seperti apa Allah : seperti apa Bapa, seperti apa Putra, dan seperti apa Roh Kudus. Maka jadilah itu.

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Paroki Santa Elizabeth dan Santo Zakaria, 26 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus : Mari dengarkan Roh Kudus

1

Berikut adalah terjemahan Audiensi Umum Paus Fransiskus pada tanggal 8 Mei 2013:

Saudara-saudari terkasih, Selamat pagi!

Masa Paskah yang kita jalani dengan sukacita, dibimbing oleh liturgi Gereja, merupakan masa terbaik yang penuh dengan Roh Kudus yang diberikan  “tanpa batas” (bdk. Yoh 3:34) oleh Yesus yang disalibkan dan kemudian bangkit. Masa yang penuh rahmat ini ditutup dengan Hari Raya Pentakosta, di mana Gereja menghidupkan kembali pencurahan Roh pada Maria dan para rasul yang berkumpul dalam doa di Ruang Atas (Senakel).

Tapi siapakah Roh Kudus? Dalam Syahadat kita akui dengan iman: “Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan”. Kenyataan pertama yang kita patuhi dalam Syahadat adalah bahwa Roh Kudus adalah Kýrios, Tuhan. Ini menandakan bahwa Dia benar-benar Allah sama seperti Bapa dan Putra; objek, pada bagian kita, dari tindakan adorasi dan pemuliaan yang sama yang kita tujukan untuk Bapa dan Putera. Memang, Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus, Ia adalah karunia besar dari Kristus yang bangkit yang membuka pikiran dan hati kita kepada iman dalam Yesus sebagai Putera yang diutus oleh Bapa dan yang memimpin kita untuk persahabatan, untuk persekutuan dengan Allah.

Namun, saya ingin fokus terutama pada kenyataan bahwa Roh Kudus adalah sumber yang tak habis-habisnya dari kehidupan Allah di dalam kita. Manusia di setiap waktu dan tempat menginginkan kehidupan yang indah, adil dan baik; kehidupan yang tidak terancam oleh kematian, tetapi masih bisa menjadi matang dan tumbuh menuju kepenuhan. Manusia seperti seorang musafir yang melintasi padang pasir kehidupan, haus akan air hidup: tercurah dan segar, mampu menahan keinginan yang mendalam untuk cahaya, cinta, keindahan dan kedamaian. Kita semua merasakan keinginan ini! Dan Yesus memberi kita air hidup ini: Dia adalah Roh Kudus, yang berasal dari Bapa dan yang dicurahkan ke dalam hati kita olehNya. “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan memilikinya berlimpah”, Yesus mengatakan kepada kita (Yoh 10:10).

Yesus berjanji kepada wanita Samaria bahwa ia akan memberikan berlimpah-limpah “air hidup” selamanya untuk semua orang yang mengenaliNya sebagai Putera yang diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan kita (bdk. Yoh 4:5-26, 3:17). Yesus datang untuk memberi kita ini “air hidup”, yang adalah Roh Kudus, bahwa hidup kita bisa dibimbing oleh Allah, digerakkan oleh Allah, dipelihara oleh Allah. Ketika kita mengatakan bahwa orang Kristen adalah makhluk rohani kita bermaksud: orang Kristen adalah orang yang berpikir dan bertindak sesuai dengan Allah, sesuai dengan Roh Kudus. Tapi aku bertanya pada diri sendiri:  Apakah kita berpikir sesuai dengan Allah? Apakah kita bertindak sesuai dengan Allah? Atau apakah kita membiarkan diri dibimbing oleh banyak hal lain yang tentu saja tidak berasal dari Allah? Masing-masing dari kita perlu menanggapi ini di dalam hatinya sendiri.

Pada titik ini kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: mengapa air ini bisa memuaskan dahaga kita dalam hati? Kita tahu bahwa air sangat penting bagi kehidupan, tanpa air kita mati; air memadamkan, mencuci, membuat bumi subur. Dalam Surat kepada jemaat di Roma kita menemukan kata-kata ini: “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (5:5).  “Air hidup”, Roh Kudus, Hadiah dari Yang Telah Bangkit yang berdiam di dalam kita, memurnikan kita, menerangi kita, memperbaharui kita, mengubah kita karena dia membuat kita untuk turut serta dalam hidup Allah yang adalah kasih. Itu sebabnya, Rasul Paulus mengatakan bahwa kehidupan Kristen digerakkan oleh Roh Kudus dan dengan buahNya, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5: 22-23). Roh Kudus memperkenalkan kita pada kehidupan ilahi sebagai “anak-anak dalam Putra Yang Tunggal”.

Dalam bagian lain dari Surat kepada jemaat di Roma, yang telah kita ingat – ingat beberapa kali, Paulus merangkum dengan kata-kata: “Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak – anak Allah. Karena kalian … telah menerima roh keputraan. Ketika kita berseru, ‘Abba! Bapa! ‘ Roh itu sendiri yang bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan jika [kita menjadi] anak-anak, maka [kita juga menjadi] ahli waris, ahli waris Allah dan sesama ahli waris dengan Kristus, asalkan kita menderita dengan Dia supaya kita juga dipermuliakan bersama Dia “(8:14-17). Ini adalah hadiah yang berharga bahwa Roh Kudus membawa hati kita: kehidupan dalam nama Allah, kehidupan anak-anak yang sejati; hubungan [yang penuh dengan] kepercayaan, kebebasan dan kepercayaan dalam kasih dan kemurahan Allah. Hal ini juga memberi kita pandangan baru terhadap orang lain, dekat dan jauh, agar melihat mereka selalu sebagai saudara dan saudari dalam Yesus yang harus dihormati dan dicintai.

Roh Kudus mengajar kita untuk melihat dengan mata Kristus, untuk menjalani hidup seperti Kristus, untuk memahami kehidupan seperti Kristus memahaminya. Itulah sebabnya air hidup, yang adalah Roh Kudus, memuaskan dahaga hidup kita, mengapa Dia memberitahu kita bahwa kita dicintai oleh Allah sebagai anak-anak, bahwa kita dapat mengasihi Allah sebagai anak-anak-Nya dan bahwa dengan kasih karunia-Nya kita bisa hidup sebagai anak-anak Allah , seperti Yesus. Dan apakah kita mendengarkan Roh Kudus? Apa yang Roh Kudus beritahukan ke kita? Dia mengatakan: Allah mengasihi kamu. Dia memberitahu kita ini. Allah mengasihi kamu, Allah menyukai kamu. Apakah kita benar-benar mengasihi Allah dan sesama, seperti yang Yesus lakukan? Mari kita membiarkan diri kita dibimbing oleh Roh Kudus, mari kita membiarkan Dia untuk berbicara dengan hati kita dan mengatakan ini kepada kita: Allah adalah kasih, Allah sedang menanti kita, Allah adalah Bapa, Ia mengasihi kita seperti seorang ayah sejati mengasihi, Dia mengasihi kita benar-benar dan hanya Roh Kudus yang dapat memberitahu kita akan hal ini dalam hati kita. Mari kita mendengar Roh Kudus, mari kita mendengarkan Roh Kudus dan semoga kita bergerak maju di jalan cinta, kasih dan pengampunan ini. Terima kasih.

————————————————– ——————————

Salam:

Saya senang untuk menyambut para peziarah berbahasa Inggris dan pengunjung yang hadir pada Audiensi hari ini, termasuk dari Inggris, Skotlandia, Wales, Denmark, Swedia, Malta, Iran, Australia, Cina, India, Indonesia, Filipina, Kanada dan Amerika Serikat. Untuk kalian dan keluarga kalian, saya mohonkan pencurahan karunia Roh Kudus: kebijaksanaan, sukacita, dan damai sejahtera!

Akhirnya suatu pemikiran kasih sayang bagi pemuda, orang sakit, dan pengantin baru. Semoga Bunda Yesus mengajarkan kalian, orang-orang muda yang terkasih, keberanian untuk membuat pilihan hidup, semoga dia membantu kalian, para orang sakit yang terkasih, terutama mereka yang tergabung dalam UNITALSI Roma dan Emme Due of Sessa Aurunca, untuk menerima penderitaan kalian dengan cinta dan menjadikan dia sebagai teladan untuk kalian, wahai para pengantin baru, semoga kalian menemukan hubungan suami-isteri kalian dalam kesetiaan.

Sebelum menyanyikan Bapa Kami, marilah kita ingat: kita harus mendengarkan Roh Kudus yang ada di dalam kita, dengarkan Dia. Apa yang Dia katakan kepada kita? Bahwa Allah itu baik, bahwa Allah adalah Bapa, bahwa Allah mengasihi kita, bahwa Allah selalu mengampuni kita. Mari kita mendengarkan Roh Kudus.

 

(AO)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 8 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Paus : Bekerja Memberikan Martabat bagi Manusia

0

Berikut adalah terjemahan Audiensi Umum Paus Fransiskus pada tanggal 1 Mei 2013:

Saudara-saudari, Selamat Pagi,

Hari ini, tanggal 1 Mei, kita merayakan St Yusuf Sang Pekerja dan memulai bulan yang sesuai tradisi didedikasikan untuk Bunda Maria. Dalam pertemuan kita pagi ini, saya ingin memfokuskan pada dua tokoh yang begitu penting dalam kehidupan Yesus, Gereja dan dalam kehidupan kita, dengan dua pemikiran singkat: pertama pada pekerjaan, yang kedua pada permenungan akan Yesus.

1. Dalam Injil Matius, dalam salah satu momen ketika Yesus kembali ke kotanya, ke Nazaret, dan berbicara di Sinagoga, keheranan masyarakat akan kebijaksanaannya ditekankan. Mereka bertanya pada diri sendiri: “Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” (13:55). Yesus datang ke dalam sejarah kita, Dia datang di antara kita dengan dilahirkan dari Maria melalui kuasa Allah, tetapi juga dengan kehadiran St Yusuf, ayah yang sah yang peduli kepada dia dan juga mengajarkan kepada-Nya keahlian yang ia miliki. Yesus lahir dan hidup dalam sebuah keluarga, Keluarga Kudus, belajar kerajinan tukang kayu dari St Yusuf di bengkelnya di Nazareth, berbagi dengan dia komitmen, usaha, kepuasan dan juga kesulitan setiap harinya.

Ini mengingatkan kita pada martabat dan pentingnya bekerja. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Allah menciptakan pria dan wanita serta mempercayakan mereka dengan tugas mengisi dan menguasai bumi, yang tidak berarti mengeksploitasi tetapi memelihara dan melindunginya, merawat melalui pekerjaan mereka (lih. Kej 01:28 ; 2:15). Pekerjaan adalah bagian dari rencana Allah yang penuh kasih, kita dipanggil untuk mengolah dan peduli terhadap semua barang-barang ciptaan dan dengan demikian turut serita dalam karya penciptaan! Bekerja sangatlah penting bagi martabat seseorang. Bekerja, menggunakan metafora, “mengurapi” kita dengan martabat, mengisi kita dengan martabat, membuat kita serupa dengan Allah, yang telah dan masih bekerja, yang selalu bertindak  (bdk. Yoh 5:17); Bekerja memberikan seseorang kemampuan untuk mempertahankan diri, keluarganya, untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan bangsanya sendiri. Dan di sini saya berpikir tentang kesulitan yang melanda dunia kerja dan bisnis saat ini di berbagai negara; saya memikirkan berapa banyak, dan tidak hanya orang-orang muda, yang menganggur, seringkali murni karena pandangan ekonomi masyarakat, yang dengan egois mencari keuntungan, melampaui parameter keadilan sosial.

Saya ingin menyampaikan undangan untuk solidaritas kepada semua orang, dan saya ingin mendorong mereka yang memegang jabatan publik untuk melakukan segala upaya untuk memberikan terobosan baru untuk lowongan pekerjaan, yang berarti peduli terhadap martabat seseorang, tetapi di atas itu semua saya akan mengatakan agar tidak kehilangan harapan. St Yusuf juga mengalami saat-saat sulit, tetapi ia tidak pernah kehilangan iman dan mampu mengatasinya, dalam kepastian bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Selanjutnya saya ingin berbicara kepada kalian kaum muda secara khusus: berkomitmenlah terhadap tugas sehari-hari kalian, studi kalian, pekerjaan kalian, hubungan persahabatan, untuk membantu orang lain; masa depan kalian juga tergantung pada bagaimana kalian menjalani hidup di tahun-tahun berharga ini dalam hidup kalian. Jangan takut terhadap komitmen, pengorbanan dan jangan melihat masa depan dengan ketakutan. Jaga harapan kalian agar tetap hidup: selalu akan ada cahaya di cakrawala.

Saya ingin menambahkan sepatah kata tentang situasi kerja tertentu yang menarik perhatian saya: Saya mengacu kepada apa yang bisa kita definisikan sebagai “kerja paksa”, pekerjaan yang memperbudak. Berapa banyak orang di seluruh dunia menjadi korban dari jenis perbudakan ini, ketika seseorang harus melayani pekerjaan mereka, sementara pekerjaan seharusnya melayani manusia sehingga mereka memiliki martabat. Saya meminta saudara-saudara dalam iman dan semua pria dan wanita yang berkehendak baik untuk memilih dengan tegas memerangi perdagangan manusia, di mana “kerja paksa” itu eksis.

2. Dengan mengacu pada pemikiran kedua: dalam keheningan rutinitas sehari-hari, St Yusuf, bersama-sama dengan Maria, berbagi suatu pusat perhatian tunggal: Yesus. Mereka menemani dan memelihara pertumbuhan Putera Allah yang dijadikan manusia bagi kita dengan komitmen dan kelembutan, merenungkan segala sesuatu yang terjadi. Dalam Injil, St Lukas dua kali menekankan sikap Maria, yang juga sikap dari St Yusuf: dia “menyimpan semua hal-hal ini, merenungkan dalam hatinya” (2:19,51). Untuk mendengarkan Tuhan, kita harus belajar untuk merenung, merasakan kehadiran-Nya dalam hidup kita dan kita harus berhenti dan bercakap-cakap dengan Dia, memberiNya ruang dalam doa. Setiap dari kita, bahkan kalian anak laki dan perempuan, orang muda, banyak dari kalian yang hadir di sini pagi ini, harus bertanya kepada diri kita sendiri: “berapa banyak ruang yang saya berikan kepada Tuhan? Apakah saya berhenti untuk berbicara dengan dia? “Sejak kita masih anak-anak, orang tua kita telah mengajarkan kita untuk memulai dan mengakhiri hari dengan doa, untuk mengajarkan kepada kita untuk merasa bahwa persahabatan dan cinta Allah menyertai kita. Mari kita lebih mengingat Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari!

Dan dalam bulan Mei ini, saya ingin mengingatkan pentingnya dan indahnya doa Rosario Suci. Mendaraskan Salam Maria, kita dituntun untuk merenungkan misteri Yesus, yaitu, untuk merefleksikan saat-saat penting dalam hidup-Nya, sehingga, seperti dengan Maria dan St Yusuf, ia adalah pusat dari pikiran kita, perhatian kita, dan tindakan kita. Akan lebih baik jika, terutama dalam bulan ini Mei, kita bisa berdoa Rosario Suci bersama-sama dalam keluarga, dengan teman-teman, di paroki, atau doa kepada Yesus dan Perawan Maria! Berdoa bersama adalah momen berharga yang lebih memperkuat kehidupan keluarga, persahabatan! Marilah kita belajar untuk lebih banyak berdoa dalam keluarga dan sebagai sebuah keluarga!

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita mohon kepada St Yusuf dan Bunda Maria untuk mengajar kita untuk setia kepada tugas kita sehari-hari, untuk hidup dalam iman kita melalui tindakan kita sehari-hari dan memberikan lebih banyak ruang untuk Tuhan dalam hidup kita, berhenti sejenak untuk merenungkan wajah-Nya. Terima kasih.

————————————————– ——————————

Salam:

Saya dengan senang hati menyambut banyak kelompok ziarah yang hadir pada Audiensi hari ini, termasuk dari Keuskupan Agung Gwangju di Korea Selatan. Untuk semua pengunjung berbahasa Inggris, termasuk dari Inggris, Skotlandia, Denmark, Kanada dan Amerika Serikat, saya mohonkan sukacita dan damai dari Tuhan yang Bangkit.

Akhirnya saya ingin menyapa, seperti biasanya, anak muda, orang sakit dan pengantin baru. Hai orang-orang muda, semoga kalian jatuh cinta dengan Kristus untuk mengikutiNya dengan gairah dan kesetiaan. Kalian, para orang sakit, penderitaan membenamkan kalian dalam misteri cinta dari Darah Penebus. Dan kalian, para pengantin baru, dengan cinta kalian yang saling timbal balik, semoga kalian menjadi tanda yang bermakna bagi kasih Kristus kepada Gereja. Terima kasih.

(AO)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 1 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Paus : Iman adalah Jalan Keindahan dan Kebenaran

2

Iman bukanlah keterasingan atau suatu penipuan, melainkan jalan keindahan dan kebenaran yang ditandai oleh Yesus guna mempersiapkan mata kita untuk menatap tanpa kacamata pada “wajah mengagumkan Allah”, dalam tempat tinggal yang tetap yang disiapkan untuk masing-masing dari kita. Ini adalah undangan untuk tidak membiarkan diri kita dicekam oleh rasa takut dan untuk menjalani kehidupan sebagai persiapan untuk melihat dengan lebih baik, mendengar dengan lebih baik dan lebih mengasihi, sebagaimana yang Paus Fransiskus katakan dalam homilinya pada Misa yang dirayakan pada Jumat pagi, 26 April [2013], di kapel Domus Sanctae Marthae.

Yang berkonselebrasi bersama Paus adalah Uskup Giorgio Corbellini, Presiden Kantor Perburuhan dari Takhta Apostolik dan Komisi Disiplin Kuria Romawi, dan Rm. Sergio Pellini, SDB, Direktur Tipografia Vaticana Editrice L’Osservatore Romano. Di antara yang hadir adalah Dewan Pengawas dan Audit dari Vatican Press, sekelompok perwira dari Korps Gendarmes dan staf dari Kantor Perburuhan Vatikan dan dari L’Osservatore Romano.

Paus Fransiskus melandaskan homilinya pada perikop Injil St Yohanes (14:1-6). “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, akankah Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku pergi untuk menyediakan sebuah tempat bagimu? Dan apabila Aku telah pergi dan telah menyediakan sebuah tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu kepada Diri-Ku…”.

Kata-kata Yesus, Paus berkomentar, sangat indah. Pada saat akan pergi meninggalkan, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya dari hati-Nya. Dia tahu mereka sedih, karena mereka menyadari bahwa segala sesuatu tidak berjalan dengan baik. Jadi sekarang Yesus mendorong mereka, memancing keceriaan mereka, meyakinkan mereka dan membentangkan di hadapan mereka sebuah cakrawala harapan. “Jangan biarkan hatimu menjadi susah”. Dan Dia mulai berbicara kepada mereka sebagai teman.

“Aku akan mempersiapkan sebuah tempat bagimu”. “Persiapan apa ini ?”, Paus Fransiskus bertanya pada dirinya sendiri. “Bagaimana hal itu dilakukan? Seperti apa rupanya tempat ini? Apa artinya menyiapkan tempat? Menyewa sebuah ruangan di surga?” Mempersiapkan sebuah tempat berarti mempersiapkan “kapasitas kita untuk menikmati, untuk melihat, untuk mendengar dan untuk memahami keindahan dari apa yang menanti kita, dari negeri itu yang mana untuknya kita terikat”.

Mengakhiri homilinya Paus memohon “agar Tuhan memberikan kita harapan yang kuat ini dan juga keberanian untuk menyambut negeri itu dari kejauhan”. Dan terakhir, “semoga Ia memberikan kita kerendahan hati untuk membiarkan diri kita dipersiapkan”, yakni, untuk membiarkan Tuhan menyiapkan tempat tinggal yang tetap itu dalam hati kita, dalam pandangan kita dan dalam pendengaran kita.

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 26 April 2013

 

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

Baptisan Gereja Katolik tidak sah karena tidak dibaptis selam?

37

St. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologica, part III, q. 66, a. 7 membahas khusus tentang baptis selam, dan berikut ini adalah terjemahkan pertanyaan/ (keberatan 1-3) dari pihak yang bertanya dan jawaban 1-3 yang diberikan St. Thomas terhadap keberatan tersebut, yaitu:

Artikel 7. Apakah Baptis Selam (immersion) merupakan sesuatu yang mutlak untuk Pembaptisan?

[Berikut ini adalah beberapa keberatan/ pertanyaan yang ditujukan]
Keberatan 1. Kelihatannya, baptis selam mutlak diperlukan untuk Pembaptisan. Sebab ada tertulis dalam Efesus 4:5: “Satu iman, satu Baptisan.” Tetapi di banyak tempat di dunia cara Pembaptisan yang umum adalah dengan pencelupan/ baptis selam. Maka kelihatannya tidak ada Pembaptisan jika tanpa pencelupan/ selam.

Keberatan 2: Selanjutnya, Rasul Paulus berkata (Rom 6:3-4): “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.” Tetapi ini dilakukan dengan pencelupan/ selam: Sebab St. Yohanes Krisostomus berkata tentang Yoh 3:5: “Jika seorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh… dst”: “Ketika kita mencelupkan kepala kita ke bawah air seperti seolah masuk ke dalam kubur, manusia yang lama di dalam kita dikuburkan, dan dengan ditenggelamkan, tersembunyi di bawah, dan kemudian dibangkitkan kembali, kita menjadi manusia baru.” Maka, kelihatannya pencelupan/ selam adalah mutlak untuk Pembaptisan.

Keberatan 3. Lebih lanjut, jika Pembaptisan sah tanpa penyelaman total pada seluruh badan, maka akibatnya, menjadi cukup jika air dituangkan hanya di beberapa bagian dari tubuh saja. Tetapi ini kelihatannya tidak masuk akal, sebab dosa asal, yang akan diobati sebagai tujuan utama Pembaptisan, tidak hanya terdapat dalam salah satu bagian tubuh. Oleh karena itu, kelihatannya pencelupan/ baptis selam adalah mutlak perlu untuk Pembaptisan, dan bahwa Baptis percik saja tidak cukup.

[Berikut ini adalah jawaban dari St. Thomas Aquinas]
Sebaliknya, dikatakan dalam Ibr 10:22: “…Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan dengan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” [‘dibersihkan’ ini  terjemahan dari kata ‘sprinkled ‘ dan ‘dibasuh’ dari kata ‘washed‘, jika kita melihat dari Alkitab bahasa Inggris- Revised Standard Version, dan  Jerusalem Bible, dan ‘sprinkled ‘ sebenarnya artinya adalah diperciki air [sehingga bersih]. “…Let us draw near with a true heart in full assurance of faith, with our hearts sprinkled clean from an evil conscience and our bodies washed with pure water.]

Saya menjawab bahwa, di dalam Sakramen Pembaptisan, air digunakan untuk pembasuhan tubuh, untuk menandai pencucian rohani dari dosa-dosa. Sekarang pencucian/ pembasuhan dapat dilakukan dengan air, tidak saja dengan pencelupan/ selam, tetapi juga oleh percikan atau penuangan air. Dan, meskipun lebih aman dilakukan dengan pencelupan/ selam karena itu lebih umum dilakukan, namun Pembaptisan dapat dilakukan dengan pemercikan/ penuangan, sesuai dengan Yehezkiel 36:25, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih” [mencurahkan di sini adalah terjemahan dari kata ‘pour‘, yang juga berarti menuangkan, “I will pour upon you clean water…”] seperti cara Pembaptisan yang telah dilakukan oleh Laurentius yang Terberkati. Dan terutama pada keadaan mendesak: entah karena banyaknya jumlah orang yang dibaptis, seperti yang jelas tertulis dalam Kis 2 dan 4, ketika kita membaca bahwa dalam sehari ada 3000 orang dibaptis, dan pada kesempatan lain 5000 orang, atau jika persediaan air terbatas, atau karena keterbatasan/ kelemahan dari imam yang membaptis yang tidak dapat [tidak kuat] mengangkat katekumen dari dalam air, atau kelemahan dari katekumen yang kehidupannya [kesehatannya] dapat terancam dengan pembaptisan selam. Maka, kita harus menyimpulkan bahwa Pembaptisan selam tidak mutlak untuk Pembaptisan.

Jawaban untuk keberatan 1. Apa yang merupakan sesuatu yang tidak utama/accidental yang ada pada suatu benda tidak dapat mengubah hakekat/ esensi benda itu. Sekarang, pembasuhan/ pencucian tubuh adalah sesuatu yang esensial pada Pembaptisan: maka Pembaptisan dikatakan sebagai ‘yang menyucikan dengan memandikan’ seperti yang ditulis dalam Efesus 5:26, “…Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman.” [atau ‘laver‘ dalam bahasa Inggris] Namun, bahwa pembasuhannya dilakukan dengan cara ini atau itu, adalah sesuatu yang tidak utama/ accidental. Maka akibatnya, perbedaan cara ini tidak menghancurkan kesatuan makna Pembaptisan.

Jawaban untuk keberatan 2. Pemakaman Yesus lebih jelas diwakilkan oleh pencelupan: sehingga cara ini adalah cara yang lebih sering dilakukan dan lebih dianjurkan. Tetapi dengan cara lainpun hal ini dilakukan, walaupun tidak secara sangat jelas, sebab dalam cara apapun juga pencucian dilakukan dengan melibatkan tubuh atau sebagian anggota tubuh, yang diletakkan di air, seperti Tubuh Kristus juga dahulu diletakkan di dalam kubur.

Jawaban untuk keberatan 3. Yang menjadi prinsip utama tubuh, terutama dalam kaitannya dengan anggota-anggota tubuh, adalah kepala, di mana segala kemampuan perasaan, baik di dalam hati maupun di luar (interior maupun eksterior), semua dikendalikan olehnya. Oleh karena itu, kalau seluruh tubuh tidak dapat dikenakan dengan air, karena keterbatasan air atau alasan lainnya, yang mutlak adalah menuangkan air ke kepala, di mana secara prinsip kehidupan manusia tersebut dinyatakan.

Dari jawaban di atas, kita ketahui bahwa St. Thomas membedakan hal yang secara esensial diperlukan dalam Pembaptisan, dan hal yang tidak esential, yang disebutnya sebagai ‘accidental’. Pembedaan ini memang berdasarkan pengertian filosofis, untuk menangkap essensi dari sesuatu. Jika diterapkan dalam konteks manusia, maka 1) pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang mempunyai tubuh dan jiwa, diciptakan sesuai dengan gambaran Allah dan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, 2) soal tinggi dan berat badannya, warna kulit dan bangsa, dst, adalah ‘accidental’.
Dalam hal Pembaptisan,  yang terpenting adalah unsur pembasuhan/ pencucian, untuk menandai pembersihan rohani (interior) terhadap dosa-dosa, sedangkan caranya adalah ‘accidental‘.

Sebagai catatan tambahan, akan sulit jika kita mensyaratkan bahwa Pembaptisan harus dilakukan persis sama seperti Baptisan Yesus. Sebab jika demikian, maka Baptisan harus dilakukan di sungai Yordan, di tanah Israel. Lalu, meskipun dapat dilakukan, pertanyaan berikutnya adalah sungai Yordan bagian mana? Karena tidak ada orang yang bisa dengan persis menyebutkan lokasi Yesus dibaptis. [Lokasi tempat ziarah di s. Yordan sekarang juga merupakan perkiraan tempat pembaptisan Yesus]
Maka memang yang terpenting adalah kita menangkap esensinya, yaitu pembersihan jiwa/ rohani dari dosa-dosa akibat manusia yang lama dalam diri kita telah mati, dan kita dibangkitkan bersama Kristus menjadi manusia baru (lihat KGK 1214).

Di atas semua itu, kita menghormati pengajaran dari Para Bapa Gereja, yang kemudian diambil sebagai ajaran yang berlaku dalam Gereja Katolik. Mereka juga mengambil dasar dari Alkitab, dan juga mempertimbangkan perkembangan tradisi dalam kehidupan umat di seluruh dunia. Kebijaksanaan Gereja harus bisa berlaku umum di seluruh dunia, misal baik di Eropa, Amerika yang tidak kurang air, tapi juga di Afrika jumlah airnya terbatas. Atau pembaptisan pada orang sehat tetapi juga pada orang sakit, yang mungkin tak bisa baptis selam. Apakah kepada mereka yang tidak bisa dibaptis selam, berarti tidak bisa diberi Pembaptisan? Tentu tidak, bukan. Lagipula seperti disebut di atas, cara pencucian merupakan sesuatu yang ‘accidental’ dan bukan essensial. Maka Gereja Katolik mensyaratkan keabsahan Pembaptisan, jika terdapat 2 hal yang memenuhi syarat: 1) materia/matter, yaitu air jernih, 2) forma/form yaitu perkataan/ ritus Pembaptisan yang memakai formula Trinitarian, yaitu pembaptisan di dalam nama Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus; dengan intensi yang sama seperti yang dilakukan Gereja. (lihat KGK 1256, Kan. 849, Kitab Hukum Kanonik).

Mari kita dengan kerendahan hati menerima pengajaran Gereja Katolik, yang tentu didasari oleh landasan yang kuat, pengertian yang esensial, dan demi kepentingan semua umat tanpa kecuali. Dengan cara pikir seperti demikian, kita tidak gampang digoyahkan jika ada yang mengatakan baptis tuang tidak sah, atau baptis selam hanya satu-satunya yang sah. Kita tidak dalam posisi untuk menentang ketetapan Gereja, sebab kita mengakui bahwa kita tidak lebih besar dari para Bapa Gereja tersebut. Kristus telah memberi amanat kepada para rasul untuk membaptis semua bangsa, dan amanat ini diteruskan oleh para penerus rasul yang memimpin Gereja Katolik. Maka mari kita juga tunduk kepada keputusan Gereja, yang kepadanya Yesus telah mempercayakan amanat-Nya ini.

Apa arti ‘tidak dingin tidak panas’ dalam Why 3:16?

5

Berikut ini adalah keterangan yang disarikan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard OSB., tentang Why 3:14-21:

Menurut interpretasi yang umum, yang dingin di sini artinya adalah mereka yang bersalah karena dosa-dosa berat; sedangkan yang panas adalah mereka yang bersemangat dan berkobar dalam kesalehan dan pelayanan kepada Tuhan. Maka mereka yang tidak dingin dan tidak panas, adalah mereka yang malas, lalai, enggan, sehubungan dengan mengejar kesempurnaan Kristiani, melaksanakan kebajikan, dan melakukan ketentuan yang tepat demi pelayanan kepada Tuhan. Tentang hal ini, seringkali mereka bersalah di hadapan Tuhan, mereka menyia-nyiakan rahmat Tuhan, namun mereka melihat diri mereka sendiri cukup baik dan aman, sebab mereka hidup seperti orang-orang lain pada umumnya, dan tidak bersalah karena perbuatan-perbuatan kriminal yang memalukan. Walaupun orang-orang yang ‘dingin’ dengan sendirinya adalah keadaan yang buruk, namun orang-orang dalam keadaan ini dapat lebih mudah bertobat, jika dibandingkan dengan orang-orang yang suam-suam kuku. Dalam keadaan tidak dingin dan tidak panas, seseorang semakin jauh dari pertobatan sejati, dan semakin tidak peka terhadap bahaya jatuh ke dosa-dosa lain yang lebih berat. Hatinya terbagi dua antara kepada Tuhan dan dunia. Sedangkan Tuhan menghendaki pertobatan sejati orang-orang berdosa, yang sungguh membenci masa lalu mereka, sehingga mereka dapat kembali kepada Tuhan seperti anak yang hilang, dan dengan rahmat Tuhan kemudian menjadi lebih teguh dan terus bersemangat dalam menjalani hidup Kristiani. Maka keadaan suam-suam kuku dalam kehidupan Kristiani dan dalam pelayanan kepada Tuhan dapat menjadi lebih berbahaya. Karena orang-orang yang berdosa mengalami sengat dosa, dan hati nuraninya dapat menegur mereka, tetapi orang Kristen yang suam-suam kuku hidup tanpa perasaan berdosa, tanpa rasa takut, dan tanpa mendengarkan mereka yang ingin mengingatkan mereka tentang keadaan mereka yang bahaya. St. Agustinus menyatakan bahwa kadang kala adalah baik bagi orang-orang yang sombong untuk jatuh dalam dosa, supaya mereka dapat belajar menjadi orang yang rendah hati, karena menyadari kelemahan mereka sebagai manusia. Hati nurani yang salah umumnya ada pada mereka yang suam-suam kuku, yang melayani Tuhan dengan separuh hati. Mereka memuji diri sendiri dengan mengatakan bahwa segala sesuatunya baik-baik saja dengan mereka, mereka tak begitu jahat seperti  banyak orang lain. Tetapi di sini Roh Tuhan yang menembus segala kerahasiaan dan jiwa-jiwa yang malas, mengingatkan bahwa mereka ada dalam kesalahan yang berbahaya: jiwa mereka sesungguhnya berdosa, miskin, buta, telanjang, jika Tuhan tidak tinggal di dalamnya, meskipun mereka mempunyai berlimpah emas dan perak di dunia ini. Maka Tuhan memurnikan jiwa-jiwa melalui ujian dan kesulitan di dunia ini agar jiwa-jiwa memperoleh kembali kemurniannya, dan melingkupinya dengan rahmat…. Tuhan menyesah mereka yang dikasihi-Nya. Kesimpulannya adalah Tuhan mengingatkan bahwa: 1) ujian dan kesulitan adalah tanda bahwa Tuhan peduli dan memperhatikan dengan kasih kebapaan-Nya; 2) dengarlah suara Tuhan yang mengetuk pintu hati; 3) Tuhan menjanjikan kebahagiaan kekal bagi mereka yang setia kepada-Nya sampai akhir.

Mengapa Tuhan Yesus berkata, “Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas?” (ay. 16) Kita mengetahui bahwa Allah sesungguhnya menghendaki agar kita panas, berkobar dalam kasih kepada-Nya. Namun demikian Yesus lebih memilih yang dingin daripada yang suam-suam kuku. Sebab orang yang dingin dan tidak suam-suam kuku, akan merasakan keadaan dinginnya, sehingga dapat merasakan kebutuhan akan panas yang sejati, tetapi dalam keadaan suam-suam kuku,  seseorang merasa cukup untuk melindungi diri sendiri, dan tak merasa membutuhkan apapun.

Semoga kita semua dijauhkan dari sikap batin yang ‘suam-suam kuku’ ini. Semoga rahmat-Nya yang kita terima melalui Gereja-Nya menjadikan kita senantiasa berkobar dalam kasih kepada-Nya. Betapa doa yang lama telah dikenal dalam tradisi Gereja ini menjadi begitu indah untuk kita doakan setiap hari:

Datanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah di dalamnya Api Cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu, maka aku akan Kau jadikan baru dan Engkau akan membarui seluruh muka bumi ……

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab