Home Blog Page 104

Kehidupan Kristiani mewartakan jalan menuju rekonsiliasi dengan Allah

1

Kehidupan Kristiani bukanlah terapi spa “tetap dalam damai sampai surga,” melainkan mengajak kita melangkah keluar ke dunia untuk mewartakan bahwa Yesus “menjadi manusia berdosa” untuk mendamaikan manusia dengan Bapa-Nya. Ini adalah kata-kata Paus Fransiskus dalam homilinya saat Misa Sabtu [15/6/2013] di Casa Santa Martha.

Kehidupan Kristiani bukanlah tinggal diam di sudut untuk membangun jalan yang akan membawa kalian ke surga, melainkan sebuah dinamika yang mendorong seseorang untuk tetap “di jalan” yang mewartakan bahwa Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah, dengan menjadi berdosa karena kita. Dengan caranya yang biasa mendalam dan langsung, Paus Fransiskus fokus pada perikop dari Surat kepada jemaat di Korintus, dari bacaan liturgi hari itu, di mana St Paulus sangat mendesak, sampai-sampai “bergegas lekas”, menggunakan istilah “rekonsiliasi” lima kali.

“Apa itu rekonsiliasi? Mengambil satu dari sisi ini, mengambil satu lagi untuk sisi itu dan menyatukan mereka: tidak, itu memang sebagian darinya, tapi bukan itu… rekonsiliasi sejati berarti bahwa Allah dalam Kristus menerima dosa-dosa kita dan Dia menjadi manusia berdosa, untuk kita. Ketika kita mengaku dosa, misalnya, bukanlah kita mengatakan dosa kita dan Allah mengampuni kita. Tidak, bukan itu! Kita bertemu dengan  Yesus Kristus dan kita berkata kepada-Nya: ‘Ini [dosa yang telah kulakukan] adalah milik-Mu dan aku telah membuat Engkau menjadi dosa sekali lagi.’ [mengacu kepada 2 Kor 5:20-21, lihat catatan di bawah ini***]. Dan Yesus suka itu, karena itu adalah misi-Nya: menjadi dosa bagi kita, untuk membebaskan kita [dari dosa].”

Ini adalah keindahan dan “skandal” penebusan yang dibawa oleh Yesus dan juga merupakan “misteri”, kata Paus Fransiskus, yang mana darinya St Paulus menarik “semangat” yang memacunya untuk “bergerak maju” memberitahu semua orang sesuatu yang begitu indah “cinta kasih Allah” yang menyerahkan Putra-Nya untuk mati bagiku. Namun, jelas Paus Fransiskus, ada risiko “tidak pernah sampai pada kebenaran ini” dalam momen ketika “kita mendevaluasi mengecilkan kehidupan Kristiani”, mereduksinya menjadi sebuah daftar hal-hal untuk ditaati hingga kehilangan semangat itu, kekuatan dari’ “kasih yang ada di dalamnya”:

“Namun para ahli filsafat mengatakan bahwa damai adalah sebuah ketenangan tertentu yang teratur: semuanya rapi dan tenang … Itu bukan damai Kristiani! Damai Kristiani adalah damai yang gelisah, bukan damai yang tenang: itu adalah damai yang gelisah, yang mana berlanjut dengan membawa pesan rekonsiliasi ini. Damai Kristiani mendorong kita untuk bergerak maju. Hal ini adalah awal permulaan, akar semangat kerasulan. Semangat apostolik adalah bukan melangkah maju untuk membujuk dan membuat statistik: tahun ini orang –orang Kristen di negara ini telah tumbuh berkembang, dalam pergerakan ini sekian…Statistik itu baik, mereka membantu, tapi untuk membujuk itu bukanlah apa yang Allah inginkan dari kita,…Apa yang Tuhan inginkan dari kita adalah untuk mengumumkan rekonsiliasi ini, yang adalah inti pesan-Nya sendiri.

Mengakhiri homilinya, Paus mengingatkan kegelisahan batin Paulus. Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa yang mendefinisikan “pilar” kehidupan Kristiani, yaitu, bahwa “Kristus menjadi berdosa bagiku! Dan dosa-dosaku berada di sana dalam tubuh-Nya, dalam jiwa-Nya! Hal ini – kata Paus – ini gila, tapi indah, itu benar! Ini merupakan skandal Salib-Nya!”

“Kita mohon kepada Tuhan untuk memberi kita keprihatinan ini untuk mewartakan Yesus, untuk memberikan kita sedikit dari ‘kearifan Kristiani itu yang lahir dari lambung cinta-Nya yang tertusuk. Hanya sedikit [dari saya] untuk meyakinkan kita bahwa kehidupan Kristen bukan terapi spa.: terus damai sampai Surga … Tidak, kehidupan Kristiani adalah jalan-Nya dalam hidup dengan keprihatinan Paulus ini. Kasih Kristus mendesak kita terus, mendorong kita terus, dengan emosi ini yang seorang rasakan ketika ia melihat bahwa Allah mengasihi kita. Kita mohon rahmat ini. ”

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 15 Juni 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Catatan dari Editor Katolisitas:

Kalimat ini: “Ini [dosa yang telah kulakukan] adalah milik-Mu dan aku telah membuat Engkau menjadi dosa sekali lagi”, mengacu kepada bagian dari surat Rasul Paulus yang mengisahkan tentang rekonsiliasi, yaitu yang menjelaskan arti ‘didamaikan dengan Allah’/be reconciled with God. Teks tersebut berbunyi demikian, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor 5:21-21)

Ungkapan tersebut merupakan ungkapan retorik dari Rasul Paulus. Ia mengatakan bahwa Kristus telah membuat Diri-Nya menjadi dosa- sehingga Ia dapat mempersembahkan penebusan bagi dosa-dosa manusia. Dengan demikian, Kristus menempatkan diri-Nya dalam solidaritas dengan manusia dan dengan dosa manusia, supaya dapat membuat, seolah-olah, “doa tobat” demi semua dosa manusia, dan mempersembahkan kepada Allah Bapa, sesuatu yang lebih menyenangkan hati daripada semua dosa manusia yang menyedihkan hati.

Tentang Penumpangan Tangan

7

Menurut definisi dari Catholic Encyclopedia, (klik di sini untuk membaca teks selengkapnya) penumpangan tangan adalah suatu upacara simbolis yang dimaksudkan untuk menyampaikan kepada orang yang menerimanya, semacam kebaikan, persetujuan, keistimewaan (secara prinsip tentang hal rohani) atau untuk menugaskan kepadanya jabatan tertentu.

Penumpangan tangan dalam Perjanjian Lama

Hal penumpangan tangan ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan dicatat dalam Kitab Suci sudah ada sejak Perjanjian Lama:

1. Untuk memberikan berkat: Yakub memberikan berkatnya kepada Efraim dan Manaseh dengan menumpangkan tangannya atas mereka (Kej 48:14).

2. Untuk memberikan tugas: Nabi Musa menumpangkan tanggannya atas Yosua agar ia meneruskan kepemimpinannya atas bangsa Israel (Bil 27:18,23).

3. Sebagai upacara religius memberikan tahbisan: Pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk menerima jabatan imam (Kel 29, Im 8).

4. Untuk menguduskan kurban: Dalam ritual Musa, sebelum kurban dipersembahkan, imam menumpangkan tangan atas kepala kurban tersebut (Im 8:18).

Penumpangan tangan dalam Perjanjian Baru

Penumpangan tangan ini juga dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para Rasul:

1. Untuk menyembuhkan dan membangkitkan:

  • Tuhan Yesus menumpangkan tangan untuk menyembuhkan orang-orang sakit (Mat 9:18; Mrk 5:23, 6:5, 8:22-25; Luk 4:40, 13:13), dan membangkitkan anak perempuan Yairus (Mat 9:18).
  • Para Rasul menyembuhkan dengan menumpangkan tangan (lih. Kis 28:8).

2. Untuk mencurahkan Roh Kudus dan menyalurkan karunia-karunia Roh Kudus: Para Rasul menumpangkan tangan kepada jemaat, dan mereka menerima Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya (lih. Kis 8:17,19; 19:6).

3. Untuk mendatangkan rahmat tahbisan: Para Rasul meletakkan tangannya atas murid Kristus yang tertentu untuk mengangkat mereka sebagai pembantu mereka melakukan tugas penggembalaan umat Tuhan (Kis 6:6; 13:3; 1Tim 4:14; 2Tim 1:6).

Penumpangan tangan dalam Gereja Katolik

Sampai sekarang, doa penumpangan tangan dalam Gereja Katolik tetap ada, baik dalam upacara liturgis, maupun non- liturgis.

1. Dalam upacara liturgis:

Doa penumpangan tangan memberikan rahmat sakramen, seperti dalam sakramen Tahbisan (untuk memberikan rahmat tahbisan); dalam sakramen Penguatan/ Krisma (untuk memberikan rahmat sakramen Krisma dan karunia Roh Kudus); dalam sakramen Pengurapan orang sakit (untuk memberikan rahmat penyembuhan rohani dan jasmani). Dalam tahbisan imam, penumpangan tangan dilakukan oleh uskup atas diakon yang oleh tahbisan itu diangkat menjadi imam. Dalam sakramen Krisma, penumpangan tangan dilakukan oleh Uskup, atau imam yang diberi kuasa oleh Uskup, untuk memberikan sakramen Krisma, yang maknanya adalah menyalurkan karunia Roh Kudus, agar yang menerimanya sanggup menjadi saksi-saksi Kristus, dan agar menjadi dewasa secara rohani. Penumpangan tangan dalam penerimaan sakramen Tahbisan dan Krisma ini (seperti halnya rahmat sakramen Baptis), memberikan efek meterai di jiwa.

Penumpangan tangan dalam upacara liturgis untuk memberikan rahmat sakramen ini tidak dilakukan oleh umat awam, melainkan oleh para tertahbis. Penumpangan tangan oleh kaum tertahbis ini menyampaikan rahmat Allah yang mempersatukan, menguduskan dan menyertai Gereja di sepanjang sejarah, dan dengan demikian menghubungkan kita dengan jalur apostolik yang dimiliki oleh Gereja Katolik.

2. Dalam upacara non-liturgis:

Penumpangan tangan yang dilakukan di luar upacara liturgis, tidak memberikan efek sakramen namun tetap menyampaikan berkat Tuhan:

  • Para imam dapat menumpangkan tangan untuk mendoakan anak-anak, umat yang sakit ataupun umat yang meminta berkat, dengan menumpangkan tangannya.
  • Orang tua dapat mendoakan anak-anaknya dengan menumpangkan tangannya, seperti yang dulu dilakukan oleh Yakub bagi anak-anaknya, Efraim dan Manaseh.
  • Terutama dalam komunitas Karismatik Katolik, doa penumpangan tangan juga dapat dilakukan, misalnya oleh para saudara/i yang bertindak sebagai bapa atau ibu rohani bagi anak-anak rohani mereka dalam komunitas tersebut.

Dasar bahwa sebagai sesama umat beriman kita dapat saling mendoakan (lih. Yak 5:16) dan menyampaikan berkat adalah karena melalui rahmat sakramen Baptis, kita memperoleh peran imamat bersama (lih. KGK 1268). Namun tetap perlu disadari bahwa penumpangan tangan oleh awam tidak sama artinya dan karena itu tidak dapat disamakan dengan penumpangan tangan oleh para tertahbis. Sekalipun tidak sama artinya, tidak berarti bahwa doa dari sesama awam tidak ada artinya, sebab melalui doa-doa tersebut, Allah tetap dapat berkarya dan memberikan berkat-Nya. Sebab Tuhan telah mengikatkan rahmat-Nya pada sakramen-sakramen, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen-Nya (lih. KGK 1257).

Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 12, mengajarkan bahwa tidak hanya melalui sakramen-sakramen Roh Kudus menyucikan Gereja-Nya:

“Selain itu, tidak hanya melalui sakramen- sakramen dan pelayanan Gereja saja, bahwa Roh Kudus menyucikan dan membimbing Umat Allah dan menghiasinya dengan kebajikan- kebajikan, melainkan, Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaannya secara layak/ teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).”

 

Apa dasarnya dikatakan Yesus berusia kira-kira 33 tahun ketika wafat?

2

Sejujurnya, Kitab Suci tidak menyebutkan bahwa Yesus tepat berusia 33 tahun pada saat wafat-Nya. Angka 33 adalah perkiraan para ahli Kitab Suci, berdasarkan pernyataan yang tertulis dalam Injil, demikian:

1. Yesus berumur kira-kira 30 tahun saat memulai karya publik-Nya.

Luk 3:23, “Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun…”

Disebutkan “kira-kira”, jadi tidak pasti tepat 30 tahun. Namun disebut angka 30 tahun karena di usia tersebutlah umumnya orang diperbolehkan untuk mengajar, dalam adat Yahudi.

2. Injil Yohanes menyebutkan adanya tiga perayaan Paskah Yahudi dalam rentang waktu karya publik Yesus.

Disebutkan setidak-tidaknya adanya tiga kali perayaan Paskah Yahudi dalam Injil Yohanes, mengakibatkan para ahli Kitab Suci menyimpulkan bahwa rentang waktu karya publik Yesus adalah sekitar tiga tahun atau dua tahun lebih.

a. Paskah pertama: “Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.” (Yoh 2:13)
b. Paskah kedua: “Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias…. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.” (Yoh 6:1-4)
c. Paskah ketiga: “Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu.” (Yoh 11:55)

Faktanya, memang tidak terdapat tahun yang pasti yang disepakati oleh semua ahli Kitab Suci tentang tahun kelahiran dan wafat Kristus.

Paus Benediktus XVI, dalam bukunya “Jesus of Nazareth: Infancy Narratives” pernah menyampaikan kemungkinan perkiraan bahwa sesungguhnya kelahiran Tuhan Yesus terjadi di tahun 7-6 BC, silakan klik, dengan memperkirakan bahwa ia lahir sebelum Raja Herodes wafat di tahun 4 BC, dan pada saat terjadi fenomena bintang di timur- yang diperkirakan terjadi konjungsi planet Yupiter dan Saturnus yang terjadi di tahun 7-6 BC.

Sedangkan tentang tahun perkiraan Yesus wafat memang cenderung bervariasi. Belakangan ini ada prediksi bahwa itu terjadi pada tanggal 3 April 33 AD, namun nampaknya masih diperlukan bukti-bukti yang lebih kuat, untuk memastikan tanggal tersebut. Tentang hal ini telah dibahas panjang lebar di forum pembaca situs Catholic Answers, silakan klik.

Kita umat Katolik, percaya penuh bahwa apa yang disampaikan dalam Kitab Suci adalah kebenaran. Kita percaya walaupun Kitab Suci bukan buku sejarah, namun apa yang disampaikannya mengandung kebenaran sejarah. Kebenaran itu tidak terpengaruh dengan tanggal persisnya kelahiran dan tanggal kematian Kristus secara historis. Sebab semua itu tidak membantah kebenaran bahwa Yesus memulai misi publik-Nya pada saat Ia berumur kira-kira 30 tahun, dan kemungkinan Ia melaksanakan karya publik-Nya sekitar 3 tahun.

Kubersukacita Ditemukan oleh Allah

0

[Minggu Biasa XXIV: Kel 32:7-11,13-14; Mzm 51:3-19; 1 Tim 1:12-17; Luk 15:1-32/ 15:1-10]

Cilaka!  Di mana ya kutaruh kunci rumah kami?  Besok pagi kami mau mudik seminggu, dan sekarang kunci itu nyelip entah kemana. Tak mungkin kubiarkan rumah tak terkunci selama seminggu… ” Setelah berjam-jam mencari, akhirnya kunci itu kutemukan. Betapa leganya! Tapi nampaknya sukacita ini tidak dapat dibandingkan dengan sukacita seorang gembala, saat menemukan kembali dombanya yang hilang. Sebab dalam kasusku, yang lalai adalah aku, sedangkan kunci itu tidak bisa kabur sendiri. Lain halnya dengan sang gembala itu, yang meskipun sudah menyayangi, merawat dombanya, dan bahkan rela berkorban baginya, namun si domba, tetap saja dapat membandel dan kabur dari kawanan sang gembala. Tak heran, jika sang gembala berhasil menemukan dombanya kembali, ia begitu bersuka cita!

Injil hari ini mengisahkan suka cita seorang gembala karena menemukan dombanya yang hilang. Yesus mengumpamakan orang berdosa yang bertobat dengan domba yang hilang, yang ditemukan oleh gembalanya. “Dan kalau ia telah menemukan [domba]nya, ia lalu meletakkan domba itu di atas bahunya dengan gembira…. Bersukacitakah bersama aku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga ada sukacita di Sorga, karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk 15:5-7)

Mari kita bersama memeriksa batin dan tidak terlalu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kita termasuk dalam golongan 99 domba yang baik-baik saja dan tidak hilang. Sebab mungkin kita tidak melakukan penganiayaan seperti yang pernah dilakukan oleh Rasul Paulus sebelum bertobat, atau seperti anak yang hilang yang berfoya-foya dengan harta ayahnya. Tapi setiap kali kita jatuh dalam dosa, sesungguhnya kita seperti domba yang mengambil jalannya sendiri, dan memisahkan diri dari Tuhan, Sang Gembala kita. Mari kita pulang ke jalan Tuhan, dengan mengakui dosa-dosa kita di hadapan-Nya. Biarlah Ia menggendong kita kembali di atas bahu-Nya, dan seluruh Sorga bersuka cita. Jangan lupa, bahwa sesungguhnya kitapun akan bersukacita karena ditemukan kembali oleh Tuhan! Di sakramen Tobat, Tuhan Yesus menantikan kita.
Kapankah terakhir kali saya menerima sakramen Tobat?

Layar iman

1

Malam menyelimuti langit yang kelam.

Kegelapan memenuhi setiap langkah dan jalan menuju sebuah rumah sakit di Tangerang.
Tak henti kupanjatkan doa agar hati tetap diterangi cahaya  cinta Allah untuk  mengatasi godaan keengganan karena baru pulang dari Misa lingkungan yang jauhnya bukan kepalang.

Dalam kesunyian malam, aku masuk dalam sebuah kamar perawatan.

Seorang kakek berusia sembilan puluh satu tahun terbaring di ranjang.

Ia dikelilingi oleh  anak-anak dan cucu-cucunya.

Pertanyaanku  “Apakah Kakek mau menjadi Katolik” dijawabnya dengan menganggukkan kepala  sambil membuka kelopak matanya yang telah  tertutup lama.

Kemauannya menjadi Katolik menyentakkan keluarganya karena selama ini ia senantiasa menolak ajakan untuk menjadi murid Tuhan.

Curahan air baptis di dahinya mengejutkannya sejenak.

Ia tiba-tiba memegang telapak tanganku.

Mulutnya komat-kamit mengatakan : “Terimakasih”.

Tidak lama kemudian ia menghadap Allah Bapa setelah menerima Komuni Kudus sebagai bekal ke surga.

Wajahnya tampak tenang dengan rosario  yang aku berikan terkalung di lehernya.

Orang-orang di sekitarnya diam seribu bahasa.

Semua menikmati lembaran-lembaran diary tentang kasih sayangnya :

“Engkaulah anugerah indah dalam hidupku.

Engkau tegakkan kakiku untuk dapat berjalan.

Engkau pegang tanganku sampai aku dapat meniti kehidupan.

Kini engkau lepaskan genggamanmu untuk selamanya.

Engkau  kembali kepada Tuhan dengan mempersembahkan kasih yang bersumberkan pada iman yang baru saja engkau nyatakan dalam pembaptisan.

Persembahan kasihnya bagaikan bunga yang senantiasa mekar dan harum semerbak”.  

Kebenaran iman disampaikan pada akhir hidupnya :

“Tuhan Yesus Kristus adalah Sang Juru Selamat yang membawa pada kebahagiaan kekal bagi orang-orang yang percaya kepadaNya”.

Orang-orang di sekitarnya pun diteguhkan untuk mensyukuri imannya.

Pesan  indah yang dapat kita renungkan :

“Dunia ini bagaikan lautan yang luas dan kita adalah kapal yang berlayar di atasnya. Sudah tak terhitung banyaknya kapal tenggelam di dalamnya. Ketika kita berlayar dengan iman, kita akan selamat dari kesesatan laut kehidupan”.

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

 

Salib tanpa Kristus : tidak memiliki tujuan!

2

Berikut adalah homili Paus Fransiskus dalam Misa bersama para seminaris, novis, dan mereka yang sedang merenungkan panggilan hidupnya:

Saudara dan Saudari terkasih,

Kemarin saya merasa senang bertemu dengan kalian, dan hari ini sukacita kita bahkan lebih besar, karena kita telah berkumpul untuk Ekaristi pada Hari Tuhan. Kalian adalah para seminaris, para novis, orang-orang muda dalam sebuah perjalanan panggilan, dari segala penjuru dunia. Kalian mewakili kaum muda Gereja! Jika Gereja adalah mempelai Kristus, kalian dalam arti tertentu merepresentasikan momen pertunangan, musim semi panggilan, musim penemuan, penilaian, formasi. Dan itu adalah musim yang sangat indah, di mana di dalamnya pondasi diletakkan untuk masa depan. Terima kasih atas kedatangannya!

Hari ini sabda Allah berbicara kepada kita tentang misi. Dari mana misi berasal? Jawabannya sederhana: itu berasal dari sebuah panggilan, panggilan Tuhan, dan ketika Ia memanggil orang-orang, Ia melakukan demikian dengan maksud untuk mengirim mereka keluar. Bagaimana seseorang yang dikirim keluar diartikan untuk menjalaninya? Apa saja poin-poin acuan misi Kristiani? Bacaan-bacaan yang telah kita dengar menyarankan tiga [poin]: sukacita penghiburan, Salib, dan doa.

1. Elemen pertama: sukacita penghiburan. Nabi Yesaya sedang menyampaikan pesan kepada orang-orang yang telah melalui masa gelap pengasingan, pencobaan yang sangat sulit. Tapi sekarang waktu penghiburan telah tiba bagi Yerusalem; kesedihan dan ketakutan harus memberi jalan kepada sukacita: “Bersukacitalah … bersorak-sorailah… bergembiralah dengannya dalam sukacita, “kata nabi itu (66:10). Ini adalah undangan besar kepada sukacita. Kenapa? Apa alasan undangan kepada sukacita ini? Karena Tuhan akan mencurahkan atas Kota Suci dan penghuninya sebuah “riam” penghiburan, sebuah luapan penghiburan yang sesungguhnya – sedemikian rupa sehingga akan datang – riam kelembutan keibuan: “Kalian akan digendong di atas pinggulnya dan ditimang pada pangkuannya” (ayat 12). Seperti ketika seorang ibu meletakan anaknya pada pangkuannya dan membelai-belainya: demikian TUHAN akan lakukan dan melakukannya terhadap kita. Ini adalah riam kelembutan yang memberi kita banyak penghiburan. “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu” (ayat 13).

Setiap orang Kristen, dan terutama kalian dan saya, dipanggil untuk menjadi pembawa pesan pengharapan yang memberikan ketenangan dan sukacita: penghiburan Allah, kelembutan-Nya terhadap semua. Tetapi jika kita mulanya mengalami sukacita karena dihibur oleh-Nya, dicintai oleh-Nya, maka kemudian kita dapat membawa sukacita itu kepada orang lain. Ini penting jika misi kita adalah untuk menjadi berbuah: merasakan penghiburan Allah dan menyebarkannya kepada orang lain! Saya terkadang bertemu orang-orang yang telah dikonsekrasikan yang takut akan penghiburan Tuhan, dan … malangnya, mereka tersiksa, karena mereka kekurangan kelembutan ilahi ini. Namun, jangan takut. Jangan takut, karena Tuhan adalah Tuhan penghiburan, Dia adalah Tuhan kelembutan. Tuhan adalah Bapa dan Dia berkata bahwa Ia akan berada untuk kita seperti seorang ibu dengan bayinya, dengan kelembutan seorang ibu. Jangan takut akan penghiburan Tuhan. Undangan Yesaya harus bergema dalam hati kita: “Hiburlah, hiburlah umat-Ku” (40:1) dan ini harus mengarah pada misi. Kita harus menemukan Tuhan yang menghibur kita dan pergi untuk menghibur umat Allah. Ini adalah misi itu. Orang-orang saat ini tentu membutuhkan kata-kata, tetapi kebanyakan dari semua mereka membutuhkan kita untuk menjadi saksi akan belas kasihan dan kelembutan Tuhan, yang menghangatkan hati, menyalakan kembali harapan, dan menarik orang-orang ke arah yang baik. Betapa sukacitanya itu membawa penghiburan Tuhan kepada orang lain!

2. Titik acuan kedua dari misi adalah Salib Kristus. Santo Paulus, menulis kepada jemaat di Galatia, mengatakan: “Jauhlah dariku kepada kemuliaan kecuali dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (6:14). Dan dia berbicara tentang “tanda-tanda Yesus”, yaitu, luka-luka Tuhan yang disalibkan, sebagai balasan, sebagai tanda khusus hidupnya sebagai seorang Rasul Injil. Dalam karya pelayanannya Paulus [bukan saja] mengalami penderitaan, kelemahan dan kekalahan, tetapi juga kesukacitaan dan penghiburan. Ini adalah misteri Paskah Yesus: misteri kematian dan kebangkitan. Dan justru dengan membiarkan dirinya menjadi serupa dengan kematian Yesus maka Santo Paulus menjadi pengikut dalam kebangkitan-Nya, dalam kemenangan-Nya. Di saat kegelapan, dalam pencobaan, fajar cahaya dan keselamatan sudah hadir dan bekerja. Misteri Paskah adalah hati yang berdebar akan misi Gereja! Dan jika kita tetap dalam misteri ini, kita terlindung baik dari cara pandang misi duniawi dan penuh kemenangan dan dari keputusasaan yang dapat dihasilkan dari pencobaan dan kegagalan.

Buah keberhasilan pastoral, buah keberhasilan pewartaan Injil diukur bukan dengan keberhasilan atau kegagalan sesuai dengan kriteria evaluasi manusia, tetapi dengan menjadi serupa dengan logika Salib Yesus, yang merupakan logika melangkah di luar diri sendiri dan menghabiskan diri sendiri, logika cinta ini. Ini adalah Salib – selalu Salib yang hadir dengan Kristus, karena pada waktu kita ditawarkan Salib tanpa Kristus: hal ini tidak memiliki tujuan! – Adalah Salib, dan selalu Salib dengan Kristus, yang menjamin keberhasilan misi kita. Dan itu adalah dari Salib, tindakan tertinggi dari belas kasihan dan kasih, maka kita dilahirkan kembali sebagai “ciptaan baru” (Gal 6:15).

3. Elemen ketiga pada akhirnya [ialah]: doa. Dalam Injil kita mendengar: “Karena itu berdoalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk 10:2). Para pekerja untuk tuaian tidak dipilih melalui iklan kampanye-kampanye atau daya tarik-daya tarik dari pelayanan dan kemurahan hati, tetapi mereka “dipilih” dan “dikirim” oleh Allah. Dialah yang memilih, Dialah yang mengirim, Tuhanlah yang mengirim, Dialah yang memberi misi. Untuk ini, doa adalah penting. Gereja, sebagaimana Benediktus XVI sering tegaskan, adalah bukan milik kita, melainkan milik Allah, dan berapa kali kita, pria dan wanita yang telah dikonsekrasi, berpikir bahwa Gereja adalah milik kita! Kita buat itu … sesuatu yang kita ciptakan dalam pikiran kita. Tapi itu bukan milik kita! Itu adalah milik Allah. Ladang yang akan dibudidayakan adalah milik-Nya. Misi itu adalah rahmat. Dan jika Rasul itu lahir dari doa, ia temukan dalam doa cahaya dan kekuatan atas tindakannya. Misi kita berhenti berbuah, itu memang terpadamkan saat hubungan dengan sumbernya, dengan Tuhan, terganggu.

Para seminaris terkasih, para novis terkasih, orang-orang muda terkasih, pahami panggilan kalian. Salah satu dari kalian, salah satu dari para pembina kalian, berkata kepada saya suatu hari, “evangeliser, on le fait à genoux” “evangelisasi dilakukan oleh lutut seseorang”. Dengarkan dengan baik: “evangelisasi dilakukan oleh lutut seseorang”. Tanpa hubungan relasi konstan dengan Allah, misi itu menjadi sebuah pekerjaan. Tapi untuk apa kalian bekerja? Sebagai penjahit, seorang juru masak, seorang imam, apakah merupakan pekerjaan kalian menjadi seorang imam, menjadi seorang biarawati? Tidak. Ini bukan pekerjaan, melainkan sesuatu yang lain. Risiko dari aktivisme, dari mengandalkan terlalu banyak pada struktur-struktur, adalah sebuah bahaya yang selalu hadir. Jika kita melihat Yesus, kita melihat bahwa sebelum menghadapi keputusan atau peristiwa penting Ia mempersiapkan dirinya sendiri dalam doa yang intens dan panjang. Mari kita memupuk dimensi kontemplatif, bahkan di tengah angin puyuh dari tugas-tugas yang lebih mendesak dan berat. Dan semakin misi itu memanggil kalian untuk pergi keluar ke pinggiran eksistensi, biarkan hati kalian menjadi lebih erat bersatu dengan hati Kristus, penuh belas kasihan dan kasih. Di sinilah letak rahasia buah keberhasilan pastoral, buah keberhasilan seorang murid Tuhan!

Yesus mengutus para pengikut-Nya dengan tanpa “pundi-pundi, tanpa bekal, tanpa sandal” (Luk 10:4). Penyebaran Injil tidak dijamin baik dengan banyaknya sejumlah orang, atau dengan kewibawaan dari lembaga itu, atau dengan banyaknya jumlah sumber daya yang tersedia. Yang penting adalah untuk diserap oleh kasih Kristus, untuk membiarkan dirinya sendiri dipimpin oleh Roh Kudus dan untuk mencangkokkan kehidupan sendiri seseorang ke pohon kehidupan, yang merupakan Salib Tuhan.

Teman-teman terkasih, dengan keyakinan besar saya mempercayakan kalian kepada perantaraan Maria yang Tersuci. Dia adalah ibu yang membantu kita untuk mengambil keputusan-keputusan hidup secara bebas dan tanpa rasa takut. Semoga ia membantu kalian untuk menjadi saksi akan sukacita penghiburan Allah, tanpa menjadi takut akan sukacita, ia akan membantu kalian untuk menyesuaikan diri kalian sendiri dengan logika cinta Salib, untuk tumbuh dalam kesatuan yang lebih mendalam dengan Tuhan dalam doa. Maka hidup kalian akan menjadi kaya dan berbuah melimpah! Amin.

(AR)

Paus Fransiskus,

Basilika Santo Petrus, 7 Juli 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab