Home Blog Page 103

Pakaian liturgis para pelayan dalam perayaan Ekaristi

3

Berikut ini adalah ketentuan pakaian pelayan secara umum dalam perayaan Ekaristi menurut PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) demikian *:

335. Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis. Seyogyanya busana liturgis untuk imam, diakon, dan para pelayan awam diberkati.

336. Busana liturgis yang lazim dikenakan oleh semua pelayan liturgi, tertahbis maupun tidak tertahbis, ialah alba, yang dikencangi dengan singel, kecuali kalau bentuk alba itu memang tidak menuntut singel. Kalau alba tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka dikenakan amik sebelum alba. Kalau pelayan menggunakan kasula atau dalmatik, ia harus mengenakan alba, tidak boleh menggantikan alba tersebut dengan superpli. Juga, sesuai dengan kaidah yang berlaku, tidak boleh pelayan hanya mengenakan stola tanpa kasula atau dalmatik.

337. Busana khusus bagi imam selebran dalam Misa ialah “kasula” atau planeta. Begitu pula dalam perayaan liturgi lainnya yang langsung berhubungan dengan Misa, kecuali kalau ada peraturan lain. Kasula dipakai di atas alba dan stola.

338. Busana khusus bagi diakon [catatan dari redaksi: maksudnya, diakon tertahbis] ialah dalmatik yang dikenakan di atas alba dan stola. Tetapi, kalau tidak perlu atau dalam perayaan liturgi yang kurang meriah, diakon tidak harus mengenakan dalmatik.

339. Akolit, lektor dan pelayan awam lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.

340. Imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher, dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan. Diakon mengenakan stola yang disampirkan pada bahu kiri dan ujungnya disilangkan ke pinggang kanan.

341. Pluviale dikenakan oleh imam dalam perarakan atau dalam perayaan liturgis lain seturut petunjuk khusus untuk perayaan yang bersangkutan.

119. Di sakristi hendaknya disiapkan busana liturgis (bdk. no. 337-341) untuk imam, diakon dan pelayan-pelayan lain sesuai dengan bentuk perayaan:

a. untuk imam: alba, stola dan kasula
b. untuk diakon [catatan dari redaksi: maksudnya, diakon tertahbis]: alba, stola dan dalmatik. Namun dalmatik juga dapat ditiadakan, jika tidak diperlukan atau jika perayaannya tidak begitu meriah.
c. untuk pelayan lainnya: alba atau busana lain yang sudah disahkan.

Semua petugas yang memakai alba juga menggunakan singel dan amik, kecuali kalau bentuk alba tidak memerlukannya….

[* Catatan dari Katolisitas:
Keterangan akan busana liturgis ini akan dilengkapi secara bertahap.]

Jangan kurangi gulanya dong

0

Pemuda itu tersenyum lalu menjawab Yesus dengan bangga,”Semua itu sudah aku lakukan semenjak usia mudaku.” Jawaban ini membuat Yesus tersentuh dan berkata,”Ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan. Juallah segala harta milikmu, bagikan kepada orang miskin, dan ikutlah aku.” Jawaban ini tidak diharapkan oleh si pemuda itu, yang kemudian meninggalkan Yesus dengan sedih. Ia sulit melepas semua harta melimpah yang ia miliki (Luk 18.23). Aku membayangkan diriku ada di peristiwa itu dan turut mendengarkan percakapan Yesus dengan pemuda itu.

Awalnya, aku mengira aku juga sudah cukup baik. Aku berusaha menjawab panggilan-Nya, tinggal di biara, mengikuti semua kegiatan di sini, ikut berdoa dan melakukan Ibadat Harian, serta menjalani studi dan belajar semua pelajaran dengan baik. Aku merasa aku sudah melakukan semua hal dengan baik. Namun, Yesus mengatakan hal yang sama kepadaku,”Juallah segala hartamu, bagikanlah kepada orang miskin, dan ikutlah Aku.” Sama dengan pemuda itu, aku juga tersentak. Guru, bukankah aku sudah melakukan semua hal dengan cukup baik?

Cukup baik ternyata masih belum cukup. Bagi Yesus, menjual harta berarti meninggalkan segala hal yang berharga, bukan? Aku telah meninggalkan pekerjaanku dan uangku, walau tidak sekaya si pemuda tadi. Aku juga meninggalkan sahabat-sahabatku, teman-temanku, bahkan keluargaku. Aku telah meninggalkan duniaku. Apalagi yang harus kuberi padaMu, Tuhan? Dengan lembut, ia tersenyum dan menunjuk padaku. Aku belum memberikan diriku seutuhnya. Sempat melongo setelah beberapa menit, aku akhirnya mengerti. Yesus ingin aku memberikan diriku tanpa menahan sesuatupun.

Artinya, segala kelemahanku, kompromi-kompromi, dan alasan-alasan untuk tidak memberikan diri sepenuhnya. Terkadang, aku menunda-nunda untuk bangun pagi dan malas bersiap-siap untuk Ibadat Pagi (Lauds), entah lima menit, 15 menit, 20 menit. Terkadang, waktu Ibadat sering dihabiskan untuk mengkritik nada-nada fals dalam hati daripada untuk fokus memuji Allah. Terkadang, aku mengerjakan pekerjaan kasar dalam biara sambil ogah-ogahan atau setengah hati. Hal-hal ini memang hal kecil, tapi ini semua membuat pemberian diriku tidak total. Aku menahan sesuatu untuk diriku sendiri, demi kesenangan sejenak 5 menit di tempat tidur, atau supaya tidak terlalu capek mengerjakan pekerjaan tangan. Ini membuat Yesus tidak dapat membentuk aku sebebas-bebasnya.

Setiap seniman harus memperhatikan detail sekecil apapun supaya bisa mempersembahkan maha karya. Begitu pula aku, dalam memintal gulali yang aku persembahkan untuk Sang Raja Alam Semesta. Terlebih lagi Yesus, Sang Seniman Agung, yang sedang mengerjakan karya-Nya dalam diriku. Jika aku masih menahan “hartaku”, yakni kesenangan-kesenangan kecil itu, Yesus tidak bebas untuk memoles karya seni ini. Intinya, kalau untuk memintal gulali memakai takaran gula 7 sendok, jangan dikurangi jadi 6 setengah, apalagi 4 sendok atau 3 sendok saja.

Berilah aku hanya cinta dan rahmatMu, ya Tuhan. Dengan itu, aku sudah menjadi kaya dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” – St. Ignatius Loyola.

Tentang Lektor, Pemazmur, Komentator

4

Ketentuan tentang Lektor, pemazmur, pembaca doa umat, dan komentator menurut Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR):

Ketentuan tentang Lektor:

194. Dalam perarakan menuju altar, bila tidak ada diakon, lektor dapat membawa Kitab Injil (Evangeliarium) yang sedikit diangkat. Dalam hal seperti ini, lektor berjalan di depan imam, kalau tidak membawa Kitab Injil, ia berjalan bersama para pelayan yang lain.

195. Sesampai di depan altar, lektor membungkuk khidmat bersama para pelayan yang lain. Seorang lektor yang membawa Kitab Injil langsung menuju altar dan meletakkan Kitab Injil di atasnya. Lalu ia pergi ke tempat duduknya di panti imam bersama para pelayan yang lain.

128. Sesudah doa pembuka (kolekta), semua duduk. Imam dapat menyampaikan pengantar singkat agar umat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik. Kemudian, lektor pergi ke mimbar dan mewartakan bacaan pertama dari Buku Misa yang sudah tersedia di sana sejak sebelum misa. Umat mendengarkannya. Sesudah bacaan lektor berseru: Demikianlah sabda Tuhan, dan umat menjawab dengan seruan: Syukur kepada Allah.

Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak, supaya umat dapat merenungkan sebentar apa yang telah mereka dengar.

129. Sesudah bacaan, pemazmur atau lektor sendiri membawakan ayat-ayat mazmur tanggapan. Umat menanggapi dengan menyerukan/ melagukan ulangan.

196. Lektor memaklumkan bacaan-bacaan sebelum Injil dari mimbar. Kalau tidak ada pemazmur, lektor boleh juga membawakan mazmur tanggapan sesudah saat hening yang menyusul bacaan pertama.

130. Kalau sebelum Injil masih ada bacaan kedua, lektor mewartakannya dari mimbar. Umat mendengarkannya dan, sesudah bacaan, memberi tanggapan dengan seruan seperti di atas (no. 128). Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak.

197. Kalau tidak ada diakon, lektor boleh membawakan ujud-ujud doa umat, sesudah imam membukanya.

Ketentuan tentang Lektor yang dilantik:

99. Lektor dilantik untuk membawakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tanggapan. Dalam perayaan Ekaristi, ia harus menjalankan sendiri tugas khusus itu (bdk. no. 194-198), biarpun pada saat itu hadir juga pelayan-pelayan tertahbis.

Ketentuan tentang Pemazmur:

61. Sesudah bacaan pertama menyusul mazmur tanggapan yang merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas sabda Allah.

Mazmur tanggapan hendaknya diambil sesuai dengan bacaan yang bersangkutan dan biasanya diambil dari Buku Bacaan Misa (Lectionarium).

Dianjurkan bahwa mazmur tanggapan dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat. Pemazmur melagukan ayat-ayat mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok….

102. Pemazmur bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab di antara bacaan-bacaan. Supaya dapat menunaikan tugasnya dengan baik, ia harus menguasai cara melagukan mazmur, dan harus mempunyai suara yang lantang serta ucapan yang jelas.

Ketentuan tentang Komentator:

105, b. Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, di tempat yang kelihatan, tetapi tidak di mimbar.

Ketentuan tentang Busana Lektor dan pelayan awam yang lain:

339. Akolit, lektor, dan pelayan awam lain boleh menggunakan alba, atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.

Ketentuan tentang Mimbar:

309. … Sebaiknya tempat pewartaan sabda berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya ‘standar’ yang dapat dipindah-pindahkan. Sesuai dengan bentuk dan ruang gereja masing-masing, hendaknya membar itu ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh umat beriman.

Mimbar adalah tempat untuk membawakan bacaan-bacaan dan mazmur tanggapan serta Pujian Paskah. Juga homili dan doa umat dapat dibawakan di mimbar. Untuk menjaga keagungan mimbar, hendaknya hanya pelayan sabda yang melaksanakan tugas di sana….

Ketentuan tentang Doa Umat:

71. Imam selebranlah yang memimpin doa umat dari tempat duduknya. Secara singkat ia sendiri membukanya dengan mengajak umat berdoa, dan menutupnya dengan doa. Ujud-ujud yang dimaklumkan hendaknya dipertimbangkan dengan matang, digubah secara bebas tetapi sungguh cermat, singkat dan mengungkapkan doa seluruh jemaat.

Menurut ketentuan, ujud-ujud doa umat dibawakan dari mimbar atau tempat lain yang serasi, entah oleh diakon, solis, lektor, entah oleh seorang beriman awam lainnya…

138. … Doa umat yang dipimpin oleh imam dari tempat duduknya. Dengan tangan terkatup, imam mengajak umat mengambil bagian di dalamnya. Ujud-ujud doa umat dimaklumkan oleh diakon, solis, lektor, atau pelayan yang lain, dari mimbar atau dari tempat lain yang cocok. Umat berpartisipasi dalam doa dengan aklamasi sesudah tiap-tiap ujud. Sambil merentangkan tangan, imam mengakhiri rangkaian ujud-ujud itu dengan doa.

Cinta separuh porsi

1

Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah seumpama pukat di laut yang menjaring berbagai jenis ikan (Mat 13:47-53). Ada ikan yang baik dan ikan yang buruk. Ikan baik akan dikumpulkan dalam pasu, sementara ikan buruk akan dibuang. Cerita tersebut adalah gambaran akhir zaman, yang tentu saja tidak bisa dihindari, termasuk olehku. Tentu saja, kalau ditanya mau jadi ikan yang baik. Kenapa? Supaya tidak dibuang dong. Masih mending dimasak jadi Tim Ikan untuk makanan Raja daripada dibuang.

Ini mengingatkanku pada pertanyaan yang dulu sering muncul dalam lamunan siang bolongku : “Mengapa kita harus jadi orang baik?” Aku pikir pertanyaan ini sering juga muncul dalam benak orang banyak. Apalagi, di zaman sekarang, menjadi orang baik sering dipandang lebih banyak ruginya. Ungkapan “Jujur iku ajur” (jujur itu hancur) adalah salah satu ungkapan yang menggambarkan pandangan itu. Daripada jujur, mending jujur kacang hijau, eh.. bubur maksudnya. Bubur kacang hijau masih bisa bikin perut kenyang, kalau jujur belum tentu bisa bikin kenyang, apalagi bikin kaya. Kalau hidup benar hanya sekali, kenapa tidak kita manfaatkan sebaik mungkin untuk kesenangan kita? Kenapa harus susah-susah berjuang menjadi orang sabar? Ditindas orang-orang demi menjadi rendah hati? Dipojokkan sana-sini karena menjadi orang jujur? Buat apa?

Tentu saja, aku mengimani ajaran Gereja bahwa ada kehidupan setelah kematian. Ada kebangkitan badan, sehingga semua yang aku lakukan dalam hidup ini bukan sekedar angin lalu. Hidupku bukanlah pameran ukiran es, yang diukir dengan cantik untuk satu musim lalu meleleh dan musnah pada ketiadaan. Bukan patung pasir yang mengagumkan di pinggir pantai, namun hilang tersapu ombak pasang di malam hari. Ada kehidupan abadi yang nyata sedang menungguku, dan perjalanan hidup ini adalah perjalanan persiapan menuju kehidupan tersebut. Oleh sebab itu, segala perbuatanku di dunia ini akan mempengaruhi kehidupan abadi yang mana yang akan aku alami. Persatuan abadi dengan Allah, atau keterpisahan kekal dari Sumber Kebahagiaan.

Namun, Injil hari ini belum puas dengan jawabanku. Dengan ngototnya, Ia menanyaiku lagi melalui Sabda-Nya. “Kalau begitu, kamu cuma mau numpang selamat aja dong? Cuma penumpang kereta api yang berharap mendapat tiket dan tidak ketinggalan kereta menuju tempat tujuan. Setelah sampai tempat tujuan, kamu mau ngapain?” Benar juga. Apakah cinta, semangat, dan perjuangan yang aku lakukan untuk Tuhan hanyalah supaya aku tidak ketinggalan kereta? Jika aku hanya menjadi ikan yang baik hanya demi tidak ketinggalan kereta, apakah aku akan tetap mencintai Yesus dengan semangat dan cinta yang sama kuatnya setelah tempat tujuan kekal nanti tercapai?

Aku pikir, motivasiku mencintaiNya harus lebih dimurnikan. Orang tidak bisa menjadi sabar dalam sehari, tapi harus berlatih setiap hari untuk selalu bersabar. Seorang wanita yang belajar mencintai sedari kecil, akan tumbuh menjadi seorang ibu yang mencintai anak dan keluarganya dengan tulus. Apabila aku mencintaiNya hanya untuk motivasi pribadi tertentu, aku tidak akan terbiasa mencintaiNya dengan tulus ketika di surga nanti. Perajin gulali ini harus belajar memintal gulali dengan sepenuh hati semenjak hidup di dunia ini. Jika tidak, ia akan memintal dengan setengah hati ketika di Surga nanti. Entah gulanya cuma setengah sendok, cuma setengah bungkus, atau cuma setengah warna. Yang pasti, Raja Surga tidak akan suka anak-anak-Nya mendapat gulali yang separuh-separuh begitu.

Cinta Sang Pengantin, Sang Cinta Pengantin sendiri, hanya minta balasan cinta dan setia” –St. Bernardus.

Anjing yang tekun

3

bunda teresa kalkutaBanyak hal dalam biara dilakukan secara bersama-sama, contohnya mencuci piring. Setelah selesai makan pagi, siang, atau malam, piring dan peralatan makan dicuci secara bergantian per kelompok piket yang bertugas. Tidak semua anggota suka melakukan pekerjaan ini, karena bisa dibayangkan rasanya  mencuci piring bekas 30 lebih orang anggota biara. Itu belum termasuk panci-panci besar dan peralatan  masak lainnya yang aduhai baik ukuran maupun kotornya. Maklum, memasak untuk sejumlah besar orang memerlukan peralatan yang besar pula. Namun, ada sekelompok oknum yang senang ketika kegiatan ini berlangsung : para anjing biara.

Para anjing biara telah menemani biara ini sejak lama sekali, entah sudah keturunan yang ke berapa. Ditambah dengan empat ekor anak anjing yang baru saja lahir beberapa minggu lalu, total anjing biara ada 12 ekor. Satu ekor telah dipotong beberapa hari yang lalu karena suka membunuh ayam ternak dan mengobrak-abrik sampah. Kasihan sih, tapi memang nakal. Yang penting, aku tidak mau ikut makan. Anjing-anjing ini begitu tekun mencari makan, dalam arti yang negatif, karena mereka suka mengobrak-abrik sampah. Biasanya, mereka melancarkan aksi ketika malam, ketika seluruh penghuni biara tidur, dan, tentu saja, waktu cuci piring.

Suatu ketika, aku dan kelompokku kebagian tugas mencuci piring. Semua piring dan peralatan masak yang kotor dicuci di dapur, yang terletak di sebelah belakang biara. Pintu belakang dapur terhubung dengan halaman belakang, daerah kekuasaan anjing-anjing ini. Ketika sedang mencuci piring, anjing-anjing ini berderet di depan pintu untuk menyelinap masuk ke dalam dapur. Setelah masuk, mereka akan membongkar tong sampah untuk mencari sisa-sisa makanan. Rupanya, mereka tidak cukup sabar untuk menunggu sisa makanan dikumpulkan dan dibagikan pada mereka di akhir cuci piring. Karena mengotori dapur dan menambah pekerjaan bersih-bersih, anjing-anjing ini aku usir. Tapi, mereka berulang kali kembali menyelinap ketika aku lengah. Karena jengkel, pintu belakang aku tutup supaya anjing-anjing tidak masuk. Eh, cape deh.. Pintu kembali terbuka karena teman-temanku yang berseliweran keluar masuk tanpa menutup kembali pintu tersebut. Akhirnya, sampah kembali ditumpahkan dengan suksesnya.

Jika dipikir-pikir, ini mirip dengan perjuanganku melawan dosa. St. Yohanes dari Salib pernah mengatakan : “Ada tiga musuh terutama manusia : Setan, dunia, dan dirinya sendiri.” Dari ketiganya, kelemahan dan kecenderungan dosa diri (concupiscentia) adalah musuh yang paling tekun dan paling rajin membayangi. Ketika kita lengah, kelemahan diri akan dengan cekatan menyelinap masuk untuk mengobrak-abrik jiwa yang telah bersih, terutama setelah pengakuan dosa, dan mengundang dua musuh lainnya untuk ikut berpesta pora. Jiwa yang awalnya sudah dibersihkan dari dosa akhirnya tercemar kembali. Kadang, sempat muncul perasaan jenuh mengaku dosa. Jenuh karena rasanya selalu mengulang-ulang dosa yang sama, malu dong sama romonya.

Namun, kalau dipikir-pikir, tidak pantas aku menyerah melawan dosa, melawan kelemahan-kelemahan diriku. Yesus saja tidak menyerah terhadap aku, kenapa aku harus menyerah berjuang bersama Dia? He didn’t give up on me, why should I give up on Him? St. Paulus pun turut menyemangati, bahwa sebenarnya aku mampu melawan kelemahan dan keputusasaan dalam pergumulan melawan dosa, berkat Dia yang dengan tekun memikul salib (Ibr 12. 3-4). Selain itu, Kristus telah memberikan jalan melalui Bunda Gereja untuk melawan kelemahan ini dalam Sakramen Tobat, yang bila aku lakukan dengan tekun, akan membantuku melawan kecondonganku yang jahat dan disembuhkan oleh Kristus (KGK 1458).

Memang, tidak mudah memintal gulali hidup yang sempurna. Selalu ada saja kekurangan atau kesalahan yang aku lakukan. Tapi, aku percaya bahwa aku akan mampu bila perjuanganku melawan dosa aku satukan bersama derita Kristus. Ia telah menjadi lemah supaya aku kuat. Gulali hidup yang sempurna adalah persembahan yang pantas untuk Ia yang telah berkorban secara sempurna untuk hidupku. Intra vulnera Tua absconde me, Domine (Dalam kelemahan-Mu, sembunyikanlah aku, Tuhan).

Aku hanya bisa melakukan satu hal : mengikuti langkah Majikanku seperti seekor anjing kecil. Doakan supaya aku menjadi anjing yang ceria.” – Beata Teresa dari Kalkutta.

 

Dari Dunia Menuju Sorga

2

[Minggu Biasa XXV: Amos 8:4-7; Mzm 113:1-8; Tim 2:1-8; Luk 16:1-13]

Dalam Injil hari ini Yesus berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Mamon sering diartikan sebagai dewa kekayaan. Pantaslah, kalau Tuhan tidak menghendaki kita mengabdi kepada Mamon. Tetapi yang menjadi pertanyaan ialah, mengapa di beberapa ayat berikutnya Yesus mengatakan,  “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur”? (ay. 9). Bukankah sepertinya kedua hal ini bertentangan: kita tidak boleh mengabdi kepada Mamon, tetapi kita diminta untuk mengikat persahabatan dengan mempergunakan Mamon? Apakah maksudnya? Sebenarnya Tuhan Yesus menghendaki agar kita para murid-Nya mengamati bagaimana orang-orang di dunia ini mencurahkan segenap pikiran dan hati, untuk secara kreatif mengarahkan seluruh kemampuan agar  sukses. Yesus menghendaki agar usaha maksimal, yang kita lakukan untuk mencapai hal-hal duniawi, kita lakukan juga untuk mencapai hal-hal rohani, agar kita dapat mencapai Surga. Masuk Surga memang adalah karunia Allah, namun ada bagian yang harus kita lakukan agar kita dapat sampai ke sana.

Banyak orang rela membuang waktu untuk merawat diri, entah dengan aneka perawatan wajah atau melangsingkan perut, demi penampilan yang lebih menarik di mata dunia. Tapi berapa banyak orang yang memikirkan bagaimana penampilan hati di hadapan Tuhan?  Banyak orang rela menggunakan waktu untuk mempelajari banyak keahlian di dunia ini: belajar aneka pelajaran di sekolah/ kuliah, memainkan musik, belajar fotografi, memasak, main golf dst, agar menjadi semakin ahli. Tapi sejauh mana kita rela menggunakan waktu untuk mempelajari sabda Tuhan dan merenungkannya? Banyak orang tak berkeberatan bangun lebih pagi agar tidak terlambat naik pesawat untuk liburan ataupun tugas pekerjaan, tetapi berapa banyak orang keberatan bangun sedikit lebih pagi untuk berdoa? Banyak orang rela membuang banyak uang untuk membeli barang-barang mewah agar menyerupai artis atau sang tokoh idola. Tapi berapakah orang yang dengan suka cita, berbagi dengan sesama yang lebih membutuhkan, agar semakin menyerupai teladan Kristus?

Sering kita melihat bahwa apa-apa yang dilakukan di paroki seolah-olah cukup dilakukan dengan seadanya. Sejumlah orang berpikir bahwa karya pewartaan adalah kegiatan yang dilakukan kalau ada waktu dan tak perlu usaha istimewa. Demikian pula program kerja paroki, wilayah maupun lingkungan, tak usah terlalu seriuslah. Atau ada sejumlah orang yang sudah merasa cukup dengan ke gereja seminggu sekali, mengaku dosa setahun sekali, dan berdoa sesempatnya saja. Dan masih banyak contoh lain, singkatnya, segala sesuatu yang berhubungan dengan iman dilakukan  hanya sekedarnya saja,  tak usah repot-repot! Sikap macam ini membuat hal-hal rohani sepertinya kalah langkah jika dibandingkan dengan hal-hal duniawi. Padahal seharusnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Jika kita mau mengusahakan yang terbaik demi kesuksesan yang bersifat sementara, bukankah sudah sepantasnya kita juga melakukan yang terbaik untuk mencapai kesuksesan yang kekal untuk selamanya? Sudah saatnya kita arahkan hati dan pikiran kita kepada tujuan hidup kita yang sesungguhnya: yaitu memperoleh kebahagiaan kekal di Surga.

Jadi, menjadi sahabat Mamon namun tidak mengabdi kepadanya melainkan hanya mengabdi kepada Allah saja, maksudnya adalah: menggunakan segala hal duniawi untuk membantu kita mencapai kemuliaan Surga. Pertanyaannya adalah, sampai seberapa jauh kita telah menggunakan semua pemberian Allah untuk memuliakan Dia? Allah telah memberikan kita 3T: talent (talenta), time (waktu), treasure (harta). Apakah kita telah sungguh-sungguh mempersembahkan talenta atau bakat kita, untuk memuliakan Tuhan, baik di tingkat lingkungan, wilayah, paroki ataupun Gereja secara keseluruhan? Demikian juga, sudahkah kita memberikan waktu untuk Tuhan, baik dalam doa maupun karya? Akhirnya, sudahkah kita menggunakan harta yang kita terima sebagai berkat dari Tuhan, untuk menolong sesama dan mendukung kegiatan gerejawi serta karya-karya kerasulan yang lain?

Mari kita memberikan 3T -talent, time, treasure- demi kemuliaan nama Tuhan. Kapan? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab