Home Blog Page 102

Apakah makan Tubuh Kristus dan minum Darah-Nya merupakan kanibalisme?

15

Kebanyakan orang yang salah paham dan menyangka bahwa Gereja Katolik mempraktekkan kanibalisme, tidak mempunyai dasar pemahaman tentang adanya perbedaan antara hakekat dan rupa, yang ada pada semua ciptaan. Sebagai contoh, pada manusia, ada hakekat (essense), dan ada rupa (accidents). Hakekat kita sebagai manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang terdiri dari tubuh dan jiwa, yang diciptakan menurut citra Allah. Sedangkan rupa kita bermacam-macam, yaitu apa yang nampak ada pada tubuh, seperti tinggi badan, warna kulit, ciri-ciri tubuh, rupa wajah, dst, yang bisa berbeda-beda pada masing-masing individu. Pada roti/ hosti dan anggur juga terdapat hakekat dan rupa. Hakekat hosti adalah semacam roti yang terbuat dari gandum, rupanya putih pipih bundar, dengan ciri-ciri tertentu. Demikian juga dengan minuman anggur.

Nah, perkataan sabda Allah dalam konsekrasi mengakibatkan terjadinya Transubstansiasi yaitu, perubahan hakekat roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, walaupun rupanya tetap roti dan anggur. Mekanisme fisik yang terjadi dalam Komuni kudus adalah kita memakan rupa roti dan anggur, namun yang hakekatnya sudah diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dalam perayaan Ekaristi, tidak ada proses memakan tubuh dengan memenggalnya hingga berdarah-darah seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang mempraktekkan kanibalisme. Dalam Ekaristi, kita memakan Tubuh dan Darah Kristus itu secara sakramental, yang artinya memang kita sungguh memakan Tubuh dan Darah Kristus, namun dalam rupa roti dan anggur.

Dengan memahami pengertian ini, maka tidak benarlah tuduhan bahwa umat Katolik mempraktekkan kanibalisme pada saat menyambut Komuni kudus. Sebab definisi kanibalisme (menurut Merriam- Webster, ataupun Online Dictionary) adalah ritual memakan daging manusia, oleh manusia yang lain, yang melibatkan perbuatan kejam yang tidak manusiawi. Namun yang dimakan dalam perayaan Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus, tapi bukan dalam rupa tubuh dan darah-Nya melainkan dalam rupa roti dan anggur. Selain itu, juga tidak ada tindakan yang kejam ataupun tidak manusiawi dalam perayaan Ekaristi. Yang ada adalah tindakan Roh Kudus, yang dengan kuasa-Nya menghadirkan kembali kurban Kristus yang satu dan sama itu, hanya saja dengan cara yang berbeda. Demikianlah yang diajarkan oleh Katekismus Gereja Katolik:

KGK 1367    Kurban Kristus dan kurban Ekaristi hanya satu kurban: “karena bahan persembahan adalah satu dan sama; yang sama, yang dulu mengurbankan diri di salib, sekarang membawakan kurban oleh pelayanan imam; hanya cara berkurban yang berbeda”. “Dalam kurban ilahi ini, yang dilaksanakan di dalam misa, Kristus yang sama itu hadir dan dikurbankan secara tidak berdarah… yang mengurbankan diri sendiri di kayu salib secara berdarah satu kali untuk selama-lamanya” (Konsili Trente: DS 1743).

Hal memakan Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur, itu diajarkan dan diperintahkan oleh Kristus sendiri dalam Perjamuan Terakhir (Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23; 1Kor 11:23-25). Maka jika sekarang Gereja Katolik menghadirkan kembali kurban Tubuh dan Darah Kristus secara sakramental, itu adalah untuk melestarikan perintah Kristus sendiri, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19). Selanjutnya tentang Ekaristi sebagai Kurban Kristus, klik di sini, dan Ekaristi sebagai Perjamuan Sorgawi, klik di sini.

Sejujurnya, sejak awal, saat Kristus mengajarkan bahwa barangsiapa ingin memperoleh hidup yang kekal, orang itu harus memakan Tubuh Kristus dan minum Darah-Nya banyak orang sudah mengalami kesulitan untuk menerima ajaran ini. Yesus bersabda, “… sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal… (lih. Yoh 6:53, 54). Injil Yohanes mencatat betapa perkataan Yesus ini sulit diterima oleh para pendengarnya saat itu, “Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan…. ” (Yoh 6:52) Banyak pengikut Yesus yang pergi meninggalkan Dia, setelah mendengarkan seluruh pengajaran bahwa Yesus adalah Sang Roti Hidup yang turun dari Surga, dan yang tubuh-Nya harus dimakan oleh orang-orang yang ingin memperoleh hidup yang kekal. “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60) demikian tanggapan dari banyak murid-murid Yesus. Alkitab mencatat, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” (Yoh 6:66) Mungkin saja, mereka menolak ajaran ini sebab sepertinya bertentangan dengan ajaran kitab Taurat Musa, yang mengatakan bahwa di dalam darah ada nyawa, maka manusia dilarang meminum darah mahluk lainnya (lih. Im 17:14). Mereka belum sampai kepada pemahaman bahwa justru ketentuan Taurat Musa itu diberikan Allah untuk mempersiapkan bangsa Israel kepada penggenapannya di dalam Kristus. Sebab memang dengan pengorbanan-Nya di salib untuk menebus dosa-dosa kita, Kristus memberikan Darah-Nya bagi kita, agar dengan kita meminumnya kita memperoleh ‘nyawa’-Nya/ jiwa-Nya, sehingga kita dapat memperoleh kehidupan ilahi dan kekal yang berasal dari Allah sendiri.

Maka untuk kebenaran yang indah ini, Yesus tidak merevisi ajaran-Nya, meskipun banyak orang meninggalkan Dia. Kristus tidak berusaha memanggil mereka kembali dengan mengatakan bahwa yang dimaksudkan-Nya adalah memakan roti dan anggur yang hanya merupakan lambang dari Tubuh dan Darah-Nya, atau hanya memakan-Nya secara rohani. Sebaliknya, Yesus malah menegaskannya, dengan bertanya kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”, (Yoh 6:69) sebab Ia rela ditinggalkan oleh semua murid-Nya, namun Ia tidak akan mengubah ajaran-Nya ini. Namun, syukurlah, demikianlah jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:69) Gereja Katolik, berpegang pada pengajaran para Rasul yang dipimpin Rasul Petrus ini, selalu dengan teguh dan setia mengajarkan bahwa dalam Ekaristi, roti dan anggur sungguh-sungguh diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, oleh kuasa Sabda Allah, walaupun rupanya tetap roti dan anggur.

Archbishop Fulton Sheen mengatakan, bahwa menarik untuk disimak bahwa justru pada saat inilah, yaitu setelah Yesus mengajar tentang Roti Hidup, Yesus menyebutkan tentang pengkhianatan Yudas Iskariot. Menanggapi jawaban Petrus, Yesus berkata kepada para Rasul-Nya: “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu…” (Yoh 6:70-71). Yesus mengetahui bahwa Yudas telah berniat meninggalkanNya, sama seperti para murid-Nya yang lain yang meninggalkan Dia karena tidak dapat menerima pengajaran Yesus tentang Roti Hidup. Mereka tak dapat menerima bahwa Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya makan Daging-Nya dan minum Darah-Nya agar mereka dapat memperoleh hidup yang kekal (Yoh 6:53-54). Mereka tidak dapat menerima bahwa cara inilah yang dipilih Yesus untuk tinggal di dalam diri para murid-Nya (Yoh 6:56; 15:4-5), agar dapat mengubah mereka untuk menjadi semakin menyerupai Dia.

Semoga kita tidak meragukan kebenaran ajaran Yesus ini tentang Roti Hidup. Mari berkata bersama dengan Rasul Petrus, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal…. Mungkin kami tidak dapat memahami sepenuhnya bagaimana itu bisa terjadi bahwa roti dan anggur dapat Kau-ubah menjadi Tubuh dan Darah-Mu, walaupun rupanya tetap roti dan anggur. Namun kami percaya, tiada yang mustahil bagi-Mu. Semoga dengan kami melakukan kehendak-Mu, yaitu dengan menyambut Tubuh dan Darah-Mu dalam Ekaristi, kami Kau hantarkan kepada kehidupan kekal yang Engkau janjikan.”

Tuhan, tambahkanlah iman kami!

4

[Minggu Biasa XXVII: Hab 1:2-3; 2:2-4; Mzm 95:1-9; 2 Tim 1:6,8,13-14; Luk 17:5-10]

“Tuhan, tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Inilah seruan permohonan para rasul kepada Yesus. Rupanya, walaupun para rasul setiap hari berkumpul dengan Yesus, mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan mukjizat- mukjizat-Nya, mereka tetap menyadari bahwa iman mereka tidaklah besar. Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita berdoa memohon kepada Tuhan agar Ia menambahkan iman kita? Walaupun mungkin cukup banyak dari antara kita yang relatif rajin ke gereja, ataupun ikut terlibat dalam kegiatan gerejawi, namun ini tidak menjadi jaminan akan besarnya iman. Sebab, keterlibatan seseorang dalam kegiatan gereja tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan imannya. Bagaimana caranya agar kita dapat bertumbuh dalam iman? Mari di bulan Maria ini, kita belajar dari Bunda Maria yang telah menyelesaikan perjalanan imannya dengan sempurna. Paus Yohanes Paulus II menggarisbawahi empat hal yang tercakup dalam iman, yaitu: pencarian, penerimaan, konsistensi, dan konstansi.

Iman memang adalah pemberian Tuhan, namun, di sisi lain, ternyata kita harus pula secara aktif mencari dan mempelajari iman kita. Bunda Maria mencari pemahaman imannya dengan bertanya kepada malaikat itu, “Bagaimana hal ini mungkin terjadi?” (Luk 1:34). Bagi kita, pencarian akan pemahaman iman yang benar diperoleh melalui mendengarkan khotbah pastor dengan sungguh-sungguh, membaca Kitab Suci dan buku-buku rohani Katolik, ataupun mengikuti seminar-seminar rohani Katolik, dst, dan kemudian merenungkannya. Setelah memahami ajaran iman kita, maka langkah selanjutnya adalah, menerima kebenaran tersebut, walaupun mungkin berat dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Itulah yang dilakukan oleh Bunda kita, ketika ia berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Selanjutnya, setelah kita menerima ajaran iman, kita dipanggil untuk melaksanakan ajaran iman tersebut secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam keadaan- keadaan yang sulit. Contohnya, kalau kita mengimani Kristus yang lemah lembut, apakah kita juga sudah bersikap lemah lembut dalam keluarga, lingkungan, paroki ataupun dalam lingkungan pekerjaan kita? Kalau kita mengimani Kristus yang hadir dalam sakramen-sakramen, apakah kita sudah dengan sungguh menerima sakramen-sakramen – terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat? Kalau kita mengimani Allah yang maha kasih, sudahkah itu menjadikan kita mengasihi Allah melebihi segala sesuatu dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Sebab seandainya setiap umat Katolik mempunyai konsistensi antara iman dan perbuatan, maka sesungguhnya banyak orang akan tertarik untuk menjadi Katolik. Akhirnya, konsistensi untuk mewujudkan iman juga perlu dibarengi dengan konstansi, yaitu penerapan iman bukan hanya kalau kita mau atau dalam waktu tertentu saja, namun seumur hidup kita. Itulah yang dilakukan oleh Bunda Maria. Ia selalu mengatakan, ‘ya’ kepada Tuhan, dalam segala keadaan: sejak menerima kabar gembira malaikat, dalam pelayanannya membesarkan dan menyertai Kristus, sampai akhirnya ia menyaksikan dengan matanya sendiri, bagaimana Puteranya disiksa sampai wafat, demi menebus dosa umat manusia. Bunda Maria tetap taat setia kepada kehendak Allah. Ia mendampingi Kristus sampai akhir, bahkan di kala hampir semua murid-murid-Nya meninggalkan Dia.

Mari, kita belajar dari Bunda Maria untuk tetap beriman sampai akhir. Semoga doa sederhana ini menjadi doa kita sepanjang hari: “Tuhan, tambahkanlah imanku.

Malu pada semut merah

2

Salah satu hal yang cukup menarik dalam biara adalah melakukan Lectio Divina bersama-sama. Biasanya, acara ini dilakukan bersama-sama di ruang terbuka dalam kelompok-kelompok yang telah ditentukan. Lumayan juga untuk penyegaran, karena udara terbuka dan pohon-pohon kebun membantu mengusir kejenuhan pelajaran dan rutinitas. Apalagi, hari ini Lectio Divina yang kelompokku lakukan cukup seru karena diramaikan oleh semut-semut merah (dan besar-besar!).

Kelompokku memilih sebuah titik di tengah kebun luas untuk melakukan Lectio Divina bersama. Jika terlalu dekat dengan kelompok lain, resikonya adalah saling mengganggu. Makanya, sekalian mencari tempat yang jauh. Awalnya, tempat itu terlihat pas, berada di bawah bayang-bayang teduh dan tempatnya rata. Ada beberapa semut merah yang berseliweran. Karena aku tidak mau bentol-bentol digigit semut, aku buat mereka menjadi semut-semut penyet, tanpa sambal penyetan. Sudah cukup bentol-bentol disengat lebah di edisi sebelumnya :D

Bacaan diambil dari Injil Lukas 15.1-10, yang bercerita bahwa Yesus, yang sedang makan dengan para pendosa, memberikan perumpamaan domba yang hilang dan dirham seorang wanita kepada ahli Taurat dan orang Farisi. Firman Tuhan dengan cepat menarik perhatianku kepada ayat kedua. Ayat tersebut mengatakan bahwa Yesus makan bersama para pendosa, yang kemudian dicibir oleh para orang Farisi dan ahli Taurat. Menurut budaya Yahudi, ketika kita makan semeja dengan seseorang, orang tersebut adalah orang yang kita anggap saudara. Cukup mirip dengan budaya Cina, kecuali tanpa mabuk karena arak.

Sambil merenungkan ayat tersebut, aku terkejut karena para semut ternyata malah muncul semakin banyak. Mungkin, mereka mencari pembunuh saudara-saudara mereka. Aku merasa geli karena mereka tidak tahu bahwa pelakunya jauh lebih besar daripada mereka, selain karena kerumunan mereka memperbesar resiko terkena bentol-bentol gigitan. Lucunya, ini serupa dengan gambaran betapa jauhnya Allah dari manusia, Pencipta dengan ciptaan. Jarak yang begitu transenden ini diseberangi oleh Yesus, bahkan ke tingkat yang lebih rendah, yakni menyamakan diri dengan ciptaan yang berdosa. Yesus menganggap pendosa sebagai saudara dengan makan semeja bersama mereka. Yesus makan bersama aku, si pendosa ini.

Aku, yang hina dan penuh dosa ini, tidak ditolak oleh Yesus. Ia mencintai pendosa ini, walaupun Ia membenci dosa yang ia perbuat. Ia mendekati pendosa untuk mendorongnya  untuk bertobat, bukan menghukumnya (Yoh 8.11). Sebaliknya, aku yang dicintai Allah ini terkadang tidak mampu membedakan pendosa dengan dosa yang mereka buat. Aku, dengan sok sucinya, terkadang membuat semacam “batasan” supaya aku tidak disamakan dengan mereka. Padahal, seharusnya aku mencintai pendosa dan membenci dosa, bukan sebaliknya.

Tidak ada yang membenci dosa seperti Allah, yang membenci dosa manusia. Namun, tidak ada pula yang mencintai pendosa sebesar cinta Allah pada para pendosa. Aku harus belajar untuk mencintai pendosa dan membenci dosa. Aku harus membagikan gulali cinta pada siapapun, sekalipun tangan mereka kotor. Paling-paling, aku meminta mereka mencuci tangan dulu sebelum makan supaya tidak sakit perut. Omong-omong, aku mencoba menerima semut-semut merah itu apa adanya, seperti Allah yang menerima aku yang cuma “semut” di hadapan-Nya. Hasilnya, aku bisa merenung hingga selesai tanpa digigit sama sekali. Malah, teman yang panik mengusiri dan memijit penyet para semut semakin dikerumuni oleh mereka.

Ini Tidak Berlaku: Hidup Foya-foya, Mati Masuk Surga

1

[Minggu Biasa XXVI: Amos 6:1a,4-7; Mzm 146: 7-10;  1Tim  6:11-16; Luk 16:19-31]

Carpe diem. Semboyan ini diambil dari baris akhir sebuah puisi Latin kuno karangan Horace, artinya: Rebutlah hari ini! Banyak orang mengartikan slogan ini sebagai ajakan untuk menikmati ‘hari ini’ sampai sepuas-puasnya, sebab apa yang terjadi esok, tidak ada yang tahu. Tapi sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita hal yang sebaliknya, yaitu bukan semata-mata memikirkan untuk merebut hari ini tetapi merebut masa depan. Dan bagi kita umat beriman, masa depan kita yang sesungguhnya adalah hidup yang kekal di Surga. Rasul Paulus berkata, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar, dan rebutlah hidup yang kekal.” (1Tim 6:12).

Nah, di sinilah masalahnya, sebab ada banyak orang, mungkin termasuk kita juga, yang kepingin masuk Surga, tetapi ogah bertanding dalam pertandingan iman. Ibaratnya, ingin hidup enak, foya-foya, tapi kalau mati nanti masuk Surga. Aha! Sayangnya, bukan ini yang diajarkan oleh sabda Tuhan. Sebab hidup berfoya-foya itulah yang dilakukan oleh si orang kaya dalam bacaan Injil hari ini, dan setelah wafatnya ia harus menerima akibatnya: yaitu mengalami penderitaan di alam maut. Sebaliknya, Lazarus yang miskin, akhirnya diperkenankan untuk duduk di pangkuan Abraham. Ada jurang yang tak terseberangi antara orang kaya itu dan Lazarus di pangkuan Abraham. Mungkin orang bertanya, apakah kesalahan orang kaya itu? Dia toh tidak mencuri, dan bukan dia yang menyebabkan kemiskinan Lazarus. Namun orang kaya itu melakukan kesalahan yang membuat Tuhan tidak berkenan kepadanya.  Semasa hidupnya, orang kaya itu terlalu egois, mementingkan dirinya sendiri, dan tidak peduli kepada kebutuhan dan kekurangan sesamanya. Keegoisannya ini telah menutup mata hatinya, sehingga ia gagal melihat penderitaan Lazarus di depan matanya. Lazarus itu sakit dan sehari-harinya berbaring di dekat pintu rumahnya, kelaparan dan mengharapkan sisa-sisa makanan darinya, namun ia tidak membagikan sedikitpun dari harta miliknya yang berlimpah. Rupanya tidak mencuri maupun tidak merugikan orang lain itu belum cukup untuk memenangkan pertandingan iman. Sebab satu hal yang terpenting belum ada, yaitu: kasih. Bukan kekayaan yang membuat orang kaya itu dihukum, melainkan karena cinta diri yang begitu besar yang membuat ia tidak mempunyai perhatian kepada sesamanya yang membutuhkan pertolongan.

Mari kita hening sejenak dan menilik ke dalam hati kita masing-masing. Semoga Tuhan memampukan kita untuk melihat penderitaan sesama kita, dan agar kita dengan senang hati berbagi kasih dan berkat kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Semoga dengan perbuatan kasih ini, kita memenangkan pertandingan iman, dan kelak kitapun dapat digabungkan Tuhan dengan orang-orang pilihan-Nya, yang memperoleh kehidupan kekal dalam kerajaan Surga.

Carpe diem? Bukan. Carpe Caelum!  Raihlah Surga! Tentu karena kasih karunia Tuhan.

Curhat dari jauh

3

akitaBanyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa sepenuhnya sesuai dengan keinginan kita. Termasuk dalam biara. Yang paling repot adalah bila yang tidak sesuai dengan keinginan ini berhubungan dengan orang. Makanan yang sederhana masih bisa dinikmati, cuaca yang dingin menusuk masih dapat ditoleransi, tapi perbedaan prinsip butuh perhatian khusus agar tetap bertahan.

Beberapa saudara dalam biara agak terganggu dengan seorang pribadi. Parahnya, pribadi tersebut adalah seseorang yang memiliki otoritas dalam biara. Tentu saja, perlahan tapi pasti, gejolak dan bibit konflik mulai bermunculan. Memang, gejolak ini tidak bisa dilampiaskan dengan leluasa karena berhadapan dengan seseorang yang berpengaruh. Terkadang, muncul pendapat bahwa kondisi yang tidak menyenangkan ini terasa seperti membuang waktu karena membuat seseorang tidak bisa berkembang dan tidak memperoleh apapun.

Ada juga beberapa pendapat yang lebih revolusioner. Mengapa tidak merombak keadaan saja? Melakukan reformasi untuk mengubah situasi supaya situasi menjadi lebih sesuai dengan keinginan. Bukankah perubahan adalah jalan keluar supaya bisa memperoleh keadaan yang lebih baik? Kelihatannya memang ini lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Tapi, dalam kasus kehidupan dalam biara, terutama dalam posisiku seperti ini, kelihatannya itu bukan solusi terbaik. Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Mungkin, dalam beberapa kasus, apa yang aku bisa lakukan adalah tenang, duduk di dekat kaki Yesus, dan melihat apa yang Yesus hendak ajarkan melalui situasi tersebut. Aku pikir ini lebih baik karena aku sedang mengalami formatio/dibentuk oleh Kristus, aku sedang belajar. Aku berada dalam posisi dituntut untuk berubah menjadi sesuatu, bukan menuntut untuk mendapatkan sesuatu. Jauh dari hanya diam, aku malah berjuang lebih keras dalam hal ini untuk menaklukkan kesombongan. Kerendahan hati, menurutku, adalah jalan keluarnya, yang hanya mungkin lahir dari ketaatan. Sama seperti Yesus, yang memilih supaya kehendak Allah yang terjadi walaupun situasi tersebut tidak nyaman (Luk 22.42). Dari ketaatan-Nya, aku akan belajar melihat madu yang Tuhan sediakan di tengah kepungan lebah-lebah.

Perbedaan antara Iblis dengan St. Michael adalah ketaatan. Walaupun sesama malaikat, Iblis tidak mampu untuk taat dan dengan rendah hati melihat keindahan rencana Allah. Ia memilih untuk “mereformasi” keadaan sesuai kehendaknya, yang berujung pada kejatuhannya. Begitu pula si penjaja gulali ini, dapat memilih untuk memberontak dan memilih caranya sendiri (siapa tahu jadi konglomerat properti, daripada jualan gulali), atau taat kepada rencana Allah, yang walaupun berakibat bentol-bentol disengat lebah, namun memberikan madu kuat yang manis.

Ketiga paku itu adalah Ketaatan, Kemurnian, dan Kemiskinan. Dari ketiganya, Ketaatan adalah dasarnya.” – Our Lady of Akita, 1972.

Apakah jiwa pelayanan gerejawi yang sejati?

1

Suatu saat, di suatu paroki yang cukup aktif terjadi satu keributan. Pasalnya sederhana saja, terjadi ketidaksepakatan tentang acara perayaan ulang tahun paroki. Juga keributan terjadi di kelompok koor yang sedang berlatih untuk melayani dalam perayaan Misa tersebut, sehingga akhirnya kelompok itu bubar. Alasannya, hanya karena ada sejumlah anggota yang tidak terima ditegur sebab terlambat datang latihan. Ada lagi kelompok doa yang begitu bersemangat dalam doa komunitas, namun akhirnya kelompok itu terpecah karena beberapa anggota tidak terima ditegur, sebab pujian yang dibawakan kurang baik. Demikian juga ada lingkungan di paroki yang kurang kompak, karena anggotanya kurang peduli satu sama lain. Sungguh sangatlah menyedihkan, jika terjadi banyak perpecahan di dalam komunitas gerejawi, baik di tingkat teritorial maupun kategorial. Dan yang bikin penasaran adalah, perpecahan ini seringnya terjadi karena hal-hal yang sangat sepele! Padahal, di balik hal-hal sepele ini sebenarnya terdapat kunci untuk membentuk mereka yang terlibat di dalamnya, untuk menjadi para pelayan Gereja yang sejati.

Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan “The fruit of silence is prayer, the fruit of prayer is faith, the fruit of faith is love, the fruit of love is service, the fruit of service is peace.” Ternyata untuk menjadi pelayan Gereja yang sejati, tidaklah cukup hanya dengan modal semangat ’45 untuk melayani, namun harus ditunjang dengan keheningan dan doa, iman dan kasih. Hal-hal ini merupakan jiwa dari pelayanan, yang merupakan inti yang terdalam dari pelayanan. Tanpa inti yang menjiwai pelayanan ini, maka seorang pelayan cenderung mementingkan ambisi pribadinya, atau melakukan pelayanan dengan ala kadarnya,  atau mudah meninggalkan pelayanan kalau menemui ketidakcocokan dengan teman satu pelayanan, atau akan mudah ngambek kalau merasa tidak dihargai oleh orang lain. Tanpa doa, iman dan kasih,  pelayanan tidak mempunyai jiwa. Sama seperti tubuh akan mati jika tidak mempunyai jiwa, maka pelayanan-pun akan berhenti jika tidak dijiwai doa, iman dan kasih. Seorang pelayan tanpa jiwa pelayanan akan menjadi loyo dan tidak mempunyai sukacita dan damai ketika melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayanan gerejawi.

Oleh karena itu, penting bagi seorang pelayan yang sejati  untuk  melakukan saat teduh, waktu hening dan doa. Saat teduh ini dapat dilakukan dalam doa pagi, doa malam, sebelum dan sesudah perayaan Ekaristi, yang diikuti dengan perhatian dan penghayatan yang penuh. Namun juga saat teduh dapat dilakukan di tengah-tengah kegiatan kita sepanjang hari, seperti di tengah kemacetan, maupun di saat-saat yang memungkinkan kita untuk mengarahkan perhatian kepada Tuhan. Ya, saat teduh bersama Tuhan memungkinkan kita melihat secara jujur ke dalam diri sendiri, untuk merefleksikan kesalahan-kesalahan kita, dan menyadari bahwa kita hanyalah seorang hamba yang dipakai oleh Tuhan walaupun sebenarnya banyak kekurangannya. Kesadaran bahwa ada banyak ketidaksempurnaan di dalam diri kita, namun Tuhan tetap mau memakai kita, akan membuat kita bertumbuh dalam kerendahan hati. Dengan keheningan dan doa, maka kesalahpahaman yang terjadi dapat diatasi dengan mudah, karena masing-masing tidak mengedepankan egonya sendiri agar terlihat hebat di mata orang lain, namun mengedepankan relasi mereka masing-masing dengan Allah. Keheningan dan doa menjadi siraman air yang menyejukkan, yang memberikan kekuatan bagi sang pelayan. Doa akan mendorong kita untuk tetap setia melayani, walaupun ada banyak pengorbanan yang harus kita lakukan dan sekalipun tidak ada orang yang memuji kita dalam pelayanan itu.

Kedalaman hidup doa dari seorang pelayan akan menghasilkan hubungan yang erat dengan Tuhan sendiri, sehingga imannya dapat lebih berakar dengan kuat dan bertumbuh dengan subur. Dengan iman yang semakin berakar dan bertumbuh,  seorang dapat menjadi pelayan Tuhan yang makin dewasa, yang tidak cepat ngambek, tidak cepat putus asa, tidak cepat menyerah untuk senantiasa melakukan yang terbaik. Ia akan melakukan yang terbaik bukan untuk mendapat pujian dari sesamanya, namun karena ingin memberikan terbaik bagi Kristus yang ia kasihi dan yang telah lebih dahulu mengasihi dia. Sebab kasih kepada Kristus yang berakar atas iman, dinyatakan dalam kasih kepada sesama.

Jadi, kasih kepada Allah dan  sesama, yang dipupuk dengan doa dan iman, menjadi dasar dari pelayanan, baik dalam Gereja maupun komunitas yang lain. Dasar ini akan memberikan pondasi yang sungguh kuat dan tak tergoyahkan bagi pelayanan gerejawi. Doa dan kasih memungkinkan seorang pelayan sejati untuk melihat Kristus dalam diri sesama, termasuk sesama yang kadang menjengkelkan. Kalau setiap pelayan di Gereja kita dapat melihat Kristus dalam diri sesama, maka Gereja akan dipenuhi dengan kasih Kristus dan persaudaraan sejati, sehingga pelayanan menjadi penuh dengan sukacita dan damai sejahtera. Sebaliknya, jika di dalam pelayanan tidak ada sukacita dan damai dan sering diwarnai dengan pertengkaran, maka satu hal yang dapat kita periksa bersama adalah: “Apakah saya masih mempunyai waktu hening, doa, yang memungkinkan iman dan kasih saya kepada Tuhan dapat bertumbuh?

Namun demikian, kabar baiknya adalah Tuhan berbelas kasih kepada kita semua. Ia tidak mensyaratkan bahwa seseorang harus sudah benar-benar siap dan sempurna, baru dapat melayani Dia. Nyatanya, seperti juga yang kita baca dalam Kitab Suci, justru Allah memilih orang-orang yang biasa. Orang-orang biasa dan sederhana inilah yang dipilih oleh Kristus menjadi para rasul dan pelayan-Nya. Namun, walaupun Kristus menerima pelayan tersebut apa adanya, namun Ia terus akan membentuk para pelayan-Nya, sehingga dapat menjadi pelayan-Nya yang sejati. Dari pihak kita, mari kita menyediakan diri untuk dibentuk oleh Kristus. Bagaimana caranya? Mulailah dalam keheningan dan doa. Dan lihatlah bagaimana Kristus dapat membentuk kita secara luar biasa, sehingga kita dapat menjadi  para pelayan-Nya yang sejati.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab