Home Blog Page 10

Mempelai datang! Songsonglah dia!

0
Sumber gambar: http://stjohnspr.org/index.cfm?PageID=81778&IM=Frameset

[12 November 2017. Hari Minggu Biasa ke-32. Mat 25:1-13]

1. “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 2. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 3. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 4. sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

5. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 6. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! 7. Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 8. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 9. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

10. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. 11. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! 12. Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. 13. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

 


Teman-teman,

Dalam Injil hari ini, Kristus yang akan datang dilambangkan oleh mempelai laki-laki. Kedatangan Kristus dapat kita lihat melalui dua sisi pandang: Kristus datang sekarang (present dimension) dan Kristus akan datang di akhir zaman (eschatological dimension).

Kristus akan datang di akhir zaman (eschatological dimension). Oleh karena kita tidak tahu kapan Ia akan datang, kita harus berjaga-jaga seperti “gadis-gadis yang bijaksana” (4) melalui pemeriksaan batin setiap hari. Pemeriksaan batin adalah sebuah praktek kristiani yang sederhana (tidak lebih dari dua menit) di mana kita bisa bertanya kepada Allah beberapa pertanyaan: Apa saja hal-hal baik yang telah saya lakukan hari ini? Apa saja hal-hal jahat yang harus saya sesali? Bagaimana saya bisa hidup sebagai anak Allah yang lebih baik besok?

Kristus datang sekarang (present dimension). Kristus datang menemui kita secara khusus—“tum maxime” (Sacrosanctum Concilium, 7)—setiap kali kita menghadiri perayaan Ekaristi. Kita patut mempersiapkan diri kita dengan baik untuk menyambut Kristus dalam diri kita. Salah satu cara untuk mempersiapkan diri adalah datang lebih awal ke gereja dan mengucapkan doa persiapan sebelum Misa, misalnya, doa yang dibuat oleh Santo Thomas Aquinas, sebagai berikut:

“Allah yang Mahakuasa, lihat, aku datang menghampiri sakramen Putera-Mu yang Tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus, seperti orang sakit menghampiri dokter yang memberi kehidupan, orang kotor menghampiri sumber kerahiman, orang buta menghampiri cahaya kekal, orang miskin dan berkebutuhan menghampiri Pemilik Surga dan bumi.”

Hanya satu Bapamu … hanya satu Pemimpinmu

0
Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Benediction_of_God_the_Father_by_Luca_Cambiaso,_c._1565,_oil_on_wood_-_Museo_Diocesano_(Genoa)_-_DSC01566.JPG

[5 November 2017. Hari Minggu Biasa ke-29. Mat 23:1-12]

1. Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2. “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6. mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7. mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

8. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

11. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 


Teman-teman,

Dalam Injil hari ini, Kristus mengajarkan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa dan Guru kita.

Pertama-tama, Allah adalah Bapa: “hanya satu Bapamu” (9). Ia adalah Bapa karena ia adalah pencipta kita: “Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita?” (Mal 2:10). Namun, Ia bukanlah seorang allah yang meninggalkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya setelah menciptakan mereka. Sebaliknya, Ia adalah Bapa yang memenuhi segala kebutuhan kita (provident): “Bapamu yang di sorga … akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat 7:11).

Kedua, Allah adalah Guru: “hanya satu Pemimpinmu [καθηγητής: guide, teacher]” (10). Ia mengajar bangsa Israel melalui pengantaraan para nabi Perjanjian Lama yang tidak sempurna (cf. Ibr 1:1), namun Ia mengajar Umat-Nya di Perjanjian Baru melalui pengantaraan sempurna Putera-Nya yang “menjadi manusia” (Yoh 1:14). Dengan demikian, Kristus adalah Guru kita satu-satunya. Ia tidak hanya mengajarkan kebenaran: Ia adalah Kebenaran itu sendiri: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6).

Oleh karena Allah adalah Bapa dan Guru kita, kita adalah anak-anak dan murid-muridnya. Sebagai anak-anak, kita dipanggil untuk percaya akan Allah dan bersukacita. Sebagai murid-murid, kita dipanggil untuk mendengarkan suara Allah. Allah berbicara kepada kita melalui hukum kodrat (natural law) yang tertulis dalam hati kita (STh., I-II q.94 a.6 s.c.); hukum alami adalah pencurahan cahaya ilahi dalam diri kita (STh., I-II q.91 a.2 resp.). Akan tetapi, seringkali hati kita digelapkan oleh dosa-dosa pribadi kita. Karenanya, agar hati nurani kita tidak menyesatkan kita, Allah juga berbicara kepada kita melalui Wewenang Mengajar Gereja (Magisterium), yang menginterpretasikan Wahyu (Kitab Suci dan Tradisi) dengan wewenang penuh.

Berikanlah … kepada Allah

0

[22 Oktober 2017. Hari Minggu Biasa ke-29. Mat 22:15-21]

15. Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 16. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.

17. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” 18. Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 19. Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. 20. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” 21. Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

 


Teman-teman,

Injil hari ini berbicara mengenai integritas atau kesatuan hidup kita sebagai orang-orang Kristen. Integritas diwujudkan dalam dua hal: dalam keberanian kita untuk menghidupi iman Kristen tanpa “mencari muka” dan dalam usaha kita untuk mempersembahan segala sesuatu kepada Allah.

Pertama-tama, kita patut menghidupi iman Kristen tanpa “mencari muka”. Meskipun orang-orang di sekitar kita tidak menerima Kristus, kita harus berani menunjukkan identitas kita sebagai pengikut-Nya dan mewartakan kebenaran, karena “setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 10:32-33).

Kedua, kita diajak untuk mempersembahan segala sesuatu kepada Allah. Tentu kita bisa membedakan hal-hal alami yang berasal dari Allah (natural goods)—St. Thomas Aquinas menggunakan roti dan anggur sebagai contoh (Super Mt., cap. 22 l. 2)—dan hal-hal buatan tangan manusia (artificial goods); oleh karena itu, Kristus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (21). Namun, kita bisa mengartikan kata-kata ini secara mistik: segala hal duniawi haruslah diserahkan kepada Allah, karena Allah adalah “pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan” (Pengakuan iman Nisea-Konstantinopel; St. Thomas Aquinas, Super Mt., cap. 22 l. 2: “omnia quae sunt carnis, quae sunt mundi, vel hominum cum quibus conversantur, reddant Deo”).

Semoga Ekaristi hari ini menolong kita untuk menghidupi iman Kristen kita dengan integritas penuh: hendaknya kita menyerahkan kepada Allah hidup kita tidak hanya di dalam bangunan gereja, namun juga di rumah dan di tempat kerja kita tanpa “mencari muka”.

Datanglah … undanglah setiap orang

0
Sumber gambar: http://arte.sky.it/temi/programmi-tv-3-novembre-serie-jan-van-eyck-pittura-furto/

[15 Oktober 2017. Hari Minggu Biasa ke-28. Mat 22:1-14]

1. Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 2. “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 3. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.

4. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 5. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 6. dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 7. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.

8. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 9. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 10. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.

11. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 12. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 13. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 14. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

 


Teman-teman,

Dalam Injil Minggu ini, Allah pertama-tama mengundang kita ke sorga dan, kemudian, mengundang kita untuk mengundang sesama kita.

Pertama-tama, Allah mengundang kita ke sorga, yang dilambangkan oleh “perjamuan kawin” (2). Dalam Kitab Wahyu, misalnya, sorga juga digambarkan demikian: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba” (Why 19:9). Di sorga—di tanah air kita (patria, dalam bahasa Latin para teolog)—, “Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8), seperti telah kita dengarkan dalam bacaan pertama. Di sana, cinta kasih kita—satu-satunya kebajikan teologal (theological virtue) yang tetap kita miliki di sorga—akan disempurnakan (St. Thomas Aquinas, STh., II-II q.23 a.1 ad 1: “charity is imperfect here, but will be perfected in heaven”).

Kemudian, Allah juga ingin agar kita mengundang sesama kita ke sorga. Oleh karena itu, kita harus melakukan kerasulan melalui doa, mati raga, teladan, dan perkataan kita. Dalam kerasulan kita, kita hendaknya tidak membuat pengecualian: apabila ada seratus orang di sekitar kita, kita patutnya berusaha mendekatkan seratus orang tersebut kepada Allah (St. Josemaría Escrivá, Furrow, §183: “You have to allow your heart to expand more and more, with real hunger for the apostolate! Out of a hundred souls we are interested in a hundred”).

Mari kita berusaha, dengan pertolongan Ekaristi hari ini, untuk semakin menyempurnakan cinta kasih kita dan meneruskan kerasulan kita tanpa mengecualikan siapa pun juga.

Menghasilkan buah Kerajaan

0
Sumber gambar: https://www.visitnc.com/listing/burntshirt-vineyards

[8 Oktober 2017. Hari Minggu Biasa ke-27. Yeh 5:1-7. Flp 4:6-9. Mat 21:33-43]

33. “Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

34. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. 35. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. 36. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. 37. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. 38. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. 39. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. 40. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” 41. Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”

42. Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. 43. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

 


Teman-teman,

Apabila Injil Minggu lalu berbicara mengenai ketaatan, Injil hari ini berbicara mengenai buah dari ketaatan kita yang adalah cinta kasih. Allah ingin agar kita “menghasilkan buah” cinta kasih (43).

Cinta kita tertuju, pertama-tama, kepada sesama kita. Cinta bukanlah sekadar perasaan. Cinta adalah menginginkan hal-hal yang baik bagi orang lain (STh., I-II q.26 a.4 resp.: “to love is to wish good to someone”). Untuk mencintai, seringkali kita harus melupakan diri kita sendiri (lih. Mat 16:24) dan memikirkan orang lain.

Cinta kita kepada sesama kita, dalam waktu yang sama, tertuju kepada Allah juga: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Cinta kasih adalah persahabatan kita dengan Allah (STh., II-II q.23 a.1 resp.: “charity is the friendship of man for God”). Sahabat yang baik seharusnya tidak pernah melupakan sahabatnya. Apakah kita ingat akan Allah senantiasa? Allah tinggal (inhabit) dalam jiwa orang-orang yang berada dalam keadaan rahmat (state of grace), seperti yang Yesus katakan: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:24). Supaya kita tidak lupa akan keberadaan Sahabat kita dalam hati kita, ada sarana-sarana manusiawi dan sederhana yang bisa kita terapkan: misalnya, kita bisa meletakkan salib kecil di meja kerja kita; atau, setiap kali kita membuka pintu, kita bisa berusaha untuk mengucapkan sebuah doa singkat, seperti “Tuhan, tolonglah saya” atau “Jadilah seturut kehendak-Mu.”

Semoga Ekaristi hari ini menolong kita untuk menghasilkan buah cinta kasih bagi sesama kita dan bagi Allah.

Ia menyesal lalu pergi juga

0
Sumber gambar: http://www.singlemomsmiling.com/giving-your-word-parable-two-sons-matt-2128-32/

[1 Oktober 2017. Hari Minggu Biasa ke-26. Yeh 18:25-28. Flp 2:1-11. Mat 21:28-32]

28. “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. 29. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. 30. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

31. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. 32. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

 


Teman-teman,

Minggu lalu (Minggu Biasa ke-25), Tuhan mengundang kita untuk bekerja di kebun anggurnya. Minggu ini, Tuhan, melalui perumpamaan dua anak, memberikan kita petunjuk agar kita dapat bekerja lebih baik.

Injil hari ini mengingatkan kita akan pentingnya ketaatan dalam setiap pekerjaan kita. Kristus adalah teladan utama bagi kita dalam ketaatan. Ia, dalam kemanusiaan-Nya (ratione humanae naturae), telah “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8).

Di dalam Kitab Suci, kita bisa menemukan banyak sekali orang-orang yang memberikan kita contoh melalui ketaatan mereka kepada kehendak Tuhan. Salah satu teladan utama bagi kita dalam ketaatan, selain Yesus sendiri dan Bunda Maria, adalah Santo Yusuf. Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa, oleh karena manusia jatuh dalam dosa akibat ketidaktaatan (lih. Gen 3:1-6), permulaan keselamatan kita ditandai oleh ketaatan Santo Yusuf, yang memiliki empat ciri khas: teratur (ordered), cepat (prompt), sempurna (perfect), dan teliti (discrete).[1]

Ketaatan kita harus teratur. Agar kita bisa taat kepada kehendak Allah yang diungkapkan melalui sesama kita (baik orang tua, guru, atau teman yang kita percayai), kita harus terlebih dahulu meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk (vices), seperti kemalasan dan kesombongan.

Ketaatan kita harus cepat, seperti yang disampaikan kepada kita oleh Kitab Yesus bin Sirakh: “Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan, jangan kautangguhkan dari hari ke hari” (Sir 5:7). Kita diundang untuk tidak menunda pekerjaan kita sampai besok, karena seringkali ‘besok’ adalah kata keterangan bagi para pecundang.[2]

Ketaatan kita harus sempurna. Ini berarti kita patut melaksanakan apa yang diperintahkan (what) dengan sarana tertentu (how), sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (what for). Dengan kata lain, kita diajak untuk taat termasuk dalam hal-hal yang kecil—“engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (Mat 25:21)—dan menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik—“siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” (Lk 14:28).

Ketaatan kita, akhirnya, harus teliti (discrete). Kita perlu memastikan bahwa kita mentaati Allah—bukan Iblis—dan orang-orang yang ditempatkan Allah disekeliling kita untuk membimbing kita.

Semoga, melalui Ekaristi hari ini dan dengan perantaraan Santo Yusuf, kita semakin mampu untuk mentaati Allah dengan teratur, cepat, sempurna, dan teliti.

 


[1] Thomas Aquinas, Super Mt., cap. 1 l. 6.

[2] Josemaría Escrivá, The Way, §251: “¡Mañana!: alguna vez es prudencia; muchas veces es el adverbio de los vencidos.” [“‘To-morrow’: sometimes it is prudence; very often it is the adverb of the defeated.”]

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab