Selibat, bentuk solidaritas orang yang terpinggirkan

38

Pengantar

Selibat adalah sebuah bentuk panggilan hidup. Dalam konteks ini selibat memiliki makna penyerahan hidup, pembaktian hidup yang murni dan total kepada Tuhan demi Kerajaan Allah. Pembaktian hidup yang murni dan total terwujud dalam hidup tidak menikah demi Kerajaan Allah. Hal tersebut menegaskan pada makna kanon 599 yang berbunyi: “Nasihat Injili kemurnian yang diterima demi Kerajaan Allah, yang menjadi tanda dunia yang akan datang dan merupakan sumber kesuburan melimpah dalam hati yang tak terbagi, membawa serta kewajiban bertarak sempurna dalam selibat”. Apakah selibat masih relevan di jaman ini? Dengan kata lain apakah panggilan hidup membiara atau panggilan hidup menjadi imam di jaman ini masih memiliki daya tarik bagi kaum muda? Apa makna selibat bagi orang yang terpinggirkan yang merupakan opsi pilihan Gereja Katolik?

Selibat dan hidup yang dibaktikan

Merujuk pada kanon pembuka bagian III tentang Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan dari KHK 1983, yakni kanon 573 § 1, yang berbicara tentang apa itu tarekat hidup bakti (La Vita Consecrata), kita dapat menelusuri makna selibat dalam kaitannya dengan Hidup yang dibaktikan. Kanon 573 § 1 menyatakan bahwa “hidup yang dibaktikan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil adalah bentuk hidup yang tetap dengannya orang beriman, yang atas dorongan Roh Kudus mengikuti Kristus secara lebih dekat, dipersembahkan secara utuh kepada Allah yang paling dicintai…”. Dari pernyataan itu dapatlah ditarik makna selibat pada umumnya merupakan pilihan hidup yang dibaktikan demi Kerajaan Allah (bdk. Mat. 19:12). Kata dibaktikan (consecrare) mempunyai arti luas bisa menguduskan, menakdiskan, menarik diri dari dunia dan secara khusus diperuntukan bagi Allah (bdk. LG, 44; VC, 30). Tujuan dari hidup selibat dalam kaitannya dengan pilihan hidup yang dibaktikan adalah mengikuti Kristus secara lebih dekat (pressius), semuanya itu karena motivasi yang didorong oleh kuasa Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, kehidupan selibat tidak akan tercapai dengan sempurna. Selain itu tujuan hidup selibat dalam konteks hidup yang dibaktikan adalah persembahan diri secara total kepada Allah yang dicintainya. Jadi selibat adalah sebuah karunia rahmat istimewa yang diberikan kepada seseorang yang terpanggil mengikuti Kristus secara lebih dekat.

Selibat bentuk solidaritas

Nasihat Injil tentang kemurnian yang tidak lain adalah selibat diterima demi kerajaan Allah, menjadi tanda dunia yang akan datang dan merupakan sumber kesuburan melimpah dalam hati yang tak terbagi…(bdk. kan. 599). Karunia rahmat istimewa yang diberikan kepada orang selibater secara istimewa pula membebaskan hati manusia (bdk. 1 Kor 7:32-35), supaya hatinya berkobar mencintai Allah dan semua orang. Maka pilihan hidup yang demikian itu merupakan tanda yang amat khas, harta surgawi bagi kaum selibater yang membaktikan hidupnya bagi Allah dan kerasulan Gereja (bdk. PC, 12). Kebebasan hati tidak terikat oleh siapapun dan apapun karena hidupnya diserahbaktikan kepada Allah menjadi bentuk solidaritas bagi mereka yang bernasib kurang beruntung. Tanda solidaritas dari orang selibater itu nyata dalam sikap lepas bebas pada hal-hal duniawi dan melulu perhatian hidupnya bagi Allah dan sesama. Di bumi Indonesia ini banyak orang yang terpinggirkan, baik oleh karena hidupnya yang kurang beruntung maupun secara struktural terpinggirkan oleh kekuasaan. Mereka adalah kaum anawim seperti keluarga kudus di Nazareth: Maria, Yusuf dan Yesus sendiri. Hidup keluarga kudus di Nazareth selalu di bawah bayang-bayang tekanan penguasa sehingga berkali-kali harus mengungsi dan terpinggirkan. Mereka yang tergolong orang terpinggirkan adalah orang miskin, gelandangan, pemulung, kaum buruh dengan gaji rendah dan lainnya. Mereka terpinggirkan karena tekanan ekonomi, sosial, budaya, politik bahkan hidup keagamaan.

Relevansinya di zaman sekarang

Tentang hidup selibat, tantangan pertama datang dari kebudayaan hedonisme yang meceraikan seksualitas dari norma moral obyektif, yang menempatkan seksualitas sebagai kesenangan atau kenikmatan semata-mata tanpa melihat aspek rohaninya. Hidup selibat di jaman sekarang justru memiliki sifat profetis bagi kebudayaan hedonisme. Hidup selibat menyajikan kepada masyarakat zaman sekarang bahwa teladan hidup murni demi kerajaan Allah itu menampakan: (1) keseimbangan dan penguasaan diri, (2) bentuk solidaritas bagi orang yang terpinggirkan, (3) kematangan psikologis dan afektif. Maka di zaman sekarang hidup selibat menjadi kesaksian tunggal kehadiran Allah di dunia yang dibelenggu oleh kenikmatan seksual (bdk. PC, 12; VC, 88). Oleh karena itu, kehidupan selibat (kemurnian) yang diperuntukan bagi Allah tetap relevan dan memiliki daya tarik bagi kaum muda yang mendambakan kebebasan hati untuk mengabdi kepada Allah dan sesama manusia secara total dan utuh.

Penutup

Di dunia sekarang yang sering menimbulkan kesan bahwa orang sudah tidak melihat lagi tanda-tanda kehadiran Allah lagi, kesaksian hidup selibat semakin diperlukan untuk menegaskan Allah hidup di tengah-tengah umatnya terutama mereka yang mendambakan pembebasan hati, terlebih mereka yang terpinggirkan. Dengan hidup selibat, mereka menjadi tanda hidup masa depan langit baru dan bumi yang baru (bdk. Wahyu 21:1). Hidup selibat yang dijiwai oleh semangat lepas bebas dari ikatan dan pembaktian hidup secara murni kepada Allah menjadi dorongan yang berharga bagi kaum selibater untuk selalu solider dengan orang yang terpinggirkan yakni kaum miskin dan tertindas.

Share.

About Author

Romo RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. adalah Hakim Tribunal Keuskupan Denpasar dan Regio Gerejawi Nusra, Sekretaris Komisi Seminari KWI, BKBLII dan pengurus UNIO Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Gereja di Universitas Pontifikal Urbaniana, Roma 2001.

38 Comments

  1. yohanes akoit on

    salam kenal…
    mohan maaf bila pertanyaan ini tidak pada waktu dan tempatnya…
    mohon pencerahan tentang keterlibatan imam katolik dalam politik dan adakah norma hukum gereja yang mengaturnya? terimakasi

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca jawaban Romo Wanta di sini, silakan klik]

  2. saya ingin bertanya apakah gereja melarang seseorang yang sudah mempunyai tato untuk menjadi seorang biarawan?

    terima kasih

    [dari Katolisitas:  Anda dapat membaca jawaban Rm Wanta di tanya jawab link ini, karena prinsipnya sama, silakan klik di sini]

    • RD. Bagus Kusumawanta on

      Johanes yth

      Untuk masuk seminari memang dibutuhkan kesehatan lahir dan batin. Jika anda bertato tentu akan menjadi bahan untuk dilihat dan ditest apakah selama ini anda memiliki penyakit tertentu? Jika tato itu hanya mode dan anda sehat lahir dan batin, lulus test wawancara dll, anda bisa diterima masuk seminari. Ada imam yang bertato juga.

      salam
      Rm Wanta

  3. Anastasia Rafaela on

    Salam kasih semuanya,

    Syukur kepada Allah karena pagi ini saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan penjelasan tentang Misteri Panggilan Imamat atau Keindahan Sakramen Tahbisan yang bersumber dari:
    link to news.va

    Penjelasan tersebut disampaikan oleh Monsignor John Kennedy dari Kongregasi untuk Ajaran Iman, yang secara resmi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikirim ke Program Iman – Vatican Radio, tentang Kenapa imam tidak menikah? Apakah selibat merupakan pengenaan atau karunia? Apa perbedaan antara panggilan menjadi imam dan panggilan untuk hidup religius? Apa yang membuat Sakramen Tahbisan unik? Bagaimana imam mengatasi tekanan pelayanan di dunia modern? Apa bedanya jika seorang imam memakai kerah Romawi-nya (roman collar) atau tidak? Singkatnya, what or who is a priest in today’s world?

    Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, namun sederhana, lugas dan lemah lembut penyampaiannya sehingga cukup mudah untuk memahaminya,terlebih lagi bilamana sebelumnya sudah membaca apa yang disampaikan oleh Romo Wanta dengan artikelnya di atas.

    Semoga berkenan dan bermanfaat bagi kita semua. Selamat mendengarkan!

    Peace and Best Wishes
    Anastasia Rafaela

  4. Shalom,
    Bangga dengan adanya katolisitas.org dengan segala artikel dan isinya.
    Adakah bahasan lengkap tentang bruder termasuk kongregasi yang ada di Indonesia serta misi-misinya?
    Saya mencoba browsing di situs ini namun tidak menemukannya.
    Ketika gogling pun tidak banyak yg bisa didapatkan.
    Terimakasih.
    Tuhan Memberkati.

    • RD Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam APS,
      Silahkan membaca Majalah Hidup edisi 2 tahun 2013 yang membahas mengenai panggilan menjadi bruder. Link nya ada di sini link to hidupkatolik.com . Para pemimpin bruder (biarawan Katolik) dari berbagai kongregasi di Indonesia membentuk MABRI (Musyawarah Antar Bruder Indonesia). Kongregasi bruder (ada yang menyebut diri frater) yang ada di Indonesia ialah FC, BM, CSA, FIC, MTB, HHK, BHK, CMM, BTD, dan FICP. Masih ada pula bruder dari ordo atau kongregasi imam, seperti SJ, MSF, dll.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  5. Maaf saya mau bertanya tentang kanon. Sejauh saya tahu kanon itu hukum. Jadi kalau imam sedang kanonik berarti penyelidikan calon mempelai yang beberapa tahap. Akan tetapi, kalau saya melihat para biarawan Ordo Salib Suci, dikatakan bahwa mereka ordo kanonik regulir? Apakah maksudnya kanonik di sini? Apakah perbedaan dengan imam dan/atau biarawan lain? Apakah perbedaannya dengan ordo mendikan? Apakah yang menjadi kekhasan hidup mereka. Kalau ordo monastik seperti di Rawaseneng jelas hidup yang kontemplatif murni. Ordo mendikan seperti para karmelit hidup yang vita mixta. Jesuit yang sangat aktif.
    Mohon pencerahan dari tim katolisitas. Juga bagaimana penggolongan ordo2 untuk imam. Terima kasih. Berkah Dalem

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Gabriel,

      “Kanon” (bahasa Yunani) berarti tanaman “gelagah” yang batangnya sering dipakai sebagai alat pengukur. Potongan batang gelagah itu menjadi alat untuk mengukur panjang suatu benda, misalnya panjangnya dua kanon dan lebarnya satu kanon. Maka, kata kanon menjadi istilah teknis untuk menunjuk ukuran, kepastian, yang lalu menjadi istilah untuk hukum khususnya Hukum Gereja Katolik dan aturan mengenai Ordo-Ordo biara dalam Gereja Katolik.

      Menjawab pertanyaan Anda, “Canons of Sovereign Law” kan. 6531 menyatakan:
      “Ordo (ordo-ordo) secara umum dapat digolongkan dalam 5 kelompok sesuai dengan peran umum mereka dalam hidup Gerejawi yaitu Sekulir, Kanonik, Monastik, Mendikan, dan Klerikal.

      (i) Ordo-ordo sekulir ialah ordo-ordo yang tidak menuntut kaul-kaul religius yang ketat, misalnya ordo Ksatria Malta dan ordo-ordo ksatria lainnya.

      (ii) Ordo-ordo Kanonik ialah ordo-ordo yang menyelenggarakan dan menjaga liturgi Gereja (di sini “kanon” menunjuk pada istilah metode menyanyikan lagu), contohnya Ordo-ordo Agustinian, Ordo Salib Suci.

      (iii) Ordo-ordo Monastik ialah ordo-ordo yang secara formal menutup diri dalam hidup “padang gurun” atau menyepi, misalnya Ordo Cissterciencis.

      (iv) Ordo-Ordo Mendikan ialah ordo-ordo yang terlibat dalam masyarakat dan hidupnya tergantung pada derma, seperti Ordo Fraternum Minori (Fransiskan).

      (v) Ordo-Ordo Klerikal ialah ordo-ordo yang terlibat dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, keuangan dan hukum, seperti Societatis Iesu (Jesuit).

      Kan. 6532 menyatakan “ordo imam secara umum diklasifikasikan dalam dua jenis berdasar martabat mereka yaitu Ordo Regulir yang berhadapan dengan Ordo Sekulir/General, serta Ordo Mendikan yang berhadapan dengan ordo Klerikal.

      Demikianlah keterangan mengenai jenisi-jenis ordo imam. Di luar itu ada imam-imam diosesan yang tidak masuk ke salah satu jenis ordo. Mereka taat pada Kitab Hukum Kanonik dan pedoman imam saja. Sedangkan Imam-Imam Ordo selain wajib melaksanakan ketaatan pada Kitab Hukum Kanonik dan Pedoman Imam juga melaksanakan peraturan ordonya.

      Semoga membantu pemahaman.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  6. Shalom dan selamat malam

    1. Betulkah Ordo Fransiskan Sekuler/Sekular (maaf saya kurang tahu penulisan yang tepat), diperuntukkan untuk orang awam?
    2. Jika ada ketertarikan untuk bergabung dengan OFS tersebut, adakah syarat tertentu yang harus saya penuhi selain tentu saja sebagai orang Katholik? Dan siapakah yang bisa saya hubungi jika saya berdomilisi di kota Medan?

    Terima kasih.
    Tuhan Yesus selalu menyertai para admin sekalian.

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Valerius,

      Ordo Ketiga dari Ordo Fransiskan disebut Fransiskan Awam atau Fransiskan Sekular untuk membedakannya dari Fransiskan Regular (Suster, Bruder). Fransiskan Regular yang ialah Bruder dan Suster merupakan ordo kedua. Sedangkan ordo pertama beranggotakan para imam. Siapapun yang terpanggil untuk menghayati hidup spiritualitas Fransiskus Asisi namun tetap dalam keadaan status awam, bisa mencoba untuk menjadi anggota Ordo Fransiskan Sekular.

      Di kota Medan, Anda bisa menanyakan lebih lanjut pada Pater (Romo) John Rufinus OFMCap, sekretaris Keuskupan Agung Medan di kantor 061 – 4516647 / 061 – 4519768, 061 – 4145745 atau ke website keuskupan di http://www.keuskupanagungmedan.com.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      • Saudaraku Valerius,
        mengoreksi sedikit dari yang disampaikan oleh Romo Santo Pr sbb.

        Para pengikut St. Fransiskus Assisi terdiri dari 3 :
        Ordo I : terdiri dari: OFM, OFM Konventual, OFM Kapusin.
        Ordo II: terdiri dari para suster kontemplatif Klaris (Ordo Santa Clara)
        Ordo III: dibagi lagi menjadi 2: Regular dan Sekular.

        Ordo III regular (artinya memiliki regula/peraturan hidup khusus membiara) terdiri dari para biarawan/wati yang selengkapnya bisa dibaca di sini: link to ofm.or.id

        Ordo III sekular (artinya mengikuti semangat hidup fransiskan tapi tidak hidup di biara melainkan di “dunia” – berkeluarga atau selibat) yang disebut dengan OFS (Ordo Fransiskan Sekular). Di Regio/wilayah Medan dan Pematang Siantar terdapat 3 persaudaraan lokal. Silahkan Saudara menanyakan untuk wilayah Medan ke alamat seperti yang sudah disampaikan oleh Romo Santo.

        Salam kasih, semoga memperjelas.
        erwin ofs.

  7. gabriel dibya on

    Selamat pagi,saya mau bertanya mengenai ordo santo Benediktus (OSB), apakah yang membedakan OSB, OCist (ordo cisterciensis, dan OCSO (trapis) karena ketiganya bds regula St. Benediktus.

    Kemudian tentang misa tahbisan diakon, sebetulnya yang diterimakan ke tiap diakon itu evangeliarium atau Kitab Suci? Karena sy pernah menghadiri yg dibagikan Kitab Suci, sedangkan evangeliarium hanya sbg hiasan saja, bhkn tidak digunakan untuk membaca Injil. Mohon pencerahannya. terima kasih

    Kemudian, kalau di Keuskupan Agung Jakarta apakah ada diakon permanen?
    terima kasih
    -gabriel dibya-

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Gabriel Dibya,

      Tentang Ordo St Benedictus silahkan klik link to osb.org Sedangkan mengenai OCSO silahkan klik link to ocso.org Semoga dengan meneliti keduanya Anda dapat menemukan alur perkembangannya regula St Benediktus.

      Sebenarnya, tak diketahui apakah St Benediktus berkehendak mendirikan ordo atau tidak. Namun kenyataannya, regula yang beliau buat dipakai dan dihayati orang dari abad ke abad untuk kekudusan oleh berbagai kelompok termasuk OSB dan OCSO.

      Tentang tahbisan diakon, dalam liturgi tahbisan diakon, para diakon tertahbis menerima Kitab Suci dari uskup. Penerimaan kitab suci ini bukan merupakan inti liturgi tahbisan diakonat, hanya tambahan. Inti tahbisan diakonat ialah penumpangan tangan uskup ke atas kepala tiap frater itu, dan doa tahbisan untuk martabat diakonat. Sedangkan evangeliarium tidak untuk dibagikan, tidak pula untuk dijadikan hiasan. Evangeliarium ialah untuk dibacakan pada pembacaan Injil sebelum homili. Dalam hal ini, kurangnya pengetahuan akan fungsi evageliarium harap dimaklumi. Para petugas liturgi, mesti belajar terus menerus mengenai liturgi khususnya fungsi evangeliarium. Sekarang, hampir semua gereja paroki sudah memilikinya. Namun demikian penggunaannya belum dipahami dengan baik, bahkan ada yang hanya disimpan di rak buku.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      • mungkin ini bisa menjadi acuan tentang ocso dan osb…Ordo Cisterciensis/Trappist

        Pada tahun 1098, sejumlah rahib dari biara Benediktin di Molesme, Perancis, dipimpin oleh St. Robertus, Alberikus dan Stefanus Harding, meninggalkan biara mereka dan membuka hutan Citeaux (dekat kota Dijon) sebagai tempat untuk biara mereka yang baru. Di Citeaux ini mereka menjalankan hidup bertapa secara keras, yang mereka anggap lebih sesuai dengan semangat asli St. Benediktus. Mereka khususnya menekankan kesederhanaan dan kerja tangan, yang menurut hemat mereka sudah kurang mendapat perhatian di biara Molesme. Dan nama Citeaux inilah muncul nama Ordo Cisterciensis.

        Beberapa waktu lamanya tak seorangpun mau menggabungkan diri dengan para rahib Citeaux, karena takut melihat cara hidup mereka yang keras. Hal ini membuat para rahib gelisah dan putus asa. Siang malam dengan mencucurkan air mata mereka mohon panggilan kepada Tuhan. Ternyata doa mereka tidak sia-sia. Pada tahun 1112, di luar dugaan, rahmat Allah mengirimkan pemuda Bernardus bersama 30 orang sanak saudara dan temannya sekaligus masuk biara Citeaux. Berkat pengaruh St. Bernardus dalam beberapa dekade saja Ordo Cisterciensis meluaskan sayapnya di benua Eropa. Sebelum St. Bernardus wafat pada tahun 1153, sudah tersebar hampir 350 buah biara Cisterciensis di seluruh Eropa.

        Sayang kejayaan ini tidak bersifat langgeng. Sejak abad XIV kemerosotan mulai menggerogoti Ordo, kecemerlangan Cisterciensis sema kin memudar. Kemerosotan ini antara lain dise babkan juga oleh wabah penyakit pes, peperangan-peperangan, skisma dan timbulnya Reformasi Protestan.

        Meskipun demikian tiap kali ada biara-biara yang ingin membarui diri. Dalam abad XVII ada biara-biara yang ingin kembali ke semangat asli dan menamakan diri biara-biara Observansi Ketat. Salah satu di antaranya adalah biara La Trappe yang dari tahun 1664 – 1700 dipimpin oleh Abas De Rancé. Semangat pembaruan biara La Trappe mempunyai pengaruh besar terhadap biara-biara lainnya di Perancis.

        Pada revolusi Perancis (akhir abad XVIII) hampir semua biara Cisterciensis, baik di Perancis maupun di negara-negara lainnya, disapu bersih oleh Napoleon. Sesudah jatuhnya Napoleon (1814) para rahib yang masih bertahan mendirikan biara-biara lagi. Sejak waktu itu para rahib yang melanjutkan pembaruan La Trappe lebih di kenal sebagai rahib Trappist. Sebagian dari biara-biara Cisterciensis yang tidak mengikuti pembaruan La Trappe juga hidup kembali. Dengan demikian dewasa ini ada dua Ordo Cisterciensis yaitu: Sacer Ordo Cisterciensis (S.O.Cist.) yang juga disebut Ordo Cisterciensis Observansi Umum dan Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO) atau Ordo Cisterciensis Observansi Ketat, yang juga dikenal sebagai Ordo Trappist. Kedua Ordo tersebut terdiri dari biara-biara rahib dan biara- biara rubiah. Dengan kata lain kedua Ordo terdiri dari dua cabang, yaitu cabang pria dan cabang wanita. menurut statistik, pada tahun 2009 OCSO mempunyai 102 biara cabang pria dan 73 biara cabang wanita, dengan jumlah anggota keseluruhan sekitar 4.000 orang. Pertapaan Rawaseneng

        Rawaseneng adalah nama sebuah desa kecil, 14 Km dari kota Temanggung di Jawa Tengah. Agak jauh dari desa, di pelosok, berdampingan dengan masyarakat pedesaan terletak sebuah pertapaan dari Ordo Trappist. Sebelum digunakan untuk pertapaan, pada tahun 1936 berdirilah di sana sekolah pertanian asuhan para Bruder Budi Mulia. Ketika pecah clash fisik pada tahun 1948, sekolah beserta asrama, biara dan bangunan gereja yang ada, dibumihanguskan sehingga tinggal puing-puing. Pada tahun 1950 datang ke Indonesia Pater Bavo van der Ham, seorang rahib Trappist dari biara Koningshoeven-Tilburg, negeri Belanda, untuk menjajaki segala kemungkinan bagi pendirian biara cabang. Setelah mengunjungi beberapa tempat di Jawa Tengah, akhirnya pilihan jatuh pada Rawaseneng. Mulailah dibangun pertapaan di atas puing-puing bekas sekolah pertanian. Tiga tahun kemudian, tanggal 1 April 1953, pertapaan Cisterciensis Santa Maria Rawaseneng di buka secara resmi sebagai cabang dari pertapaan induk di Tilburg.

        Sedikit demi sedikit berdatangan para pemuda yang ingin menggabungkan diri. Sehingga pada tanggal 26 Desember 1958 pertapaan Rawaseneng diangkat menjadi biara otonom dengan status keprioran. Pada tanggal 23 April 1978 dalam rangka Pesta Perak berdirinya biara, status pertapaan maju setapak lagi menjadi Keabasan. Rm. Frans Harjawiyata terpiih men jadi Abasnya yang pertama.

        Rawaseneng merupakan biara Trappist pria pertama di Indonesia. Tetapi pada akhir tahun 1995 pertapaan Rawaseneng mulai mengadakan pra fundasi di Flores di Keuskupan Larantuka. Jumlah anggota pertapaan Rawaseneng pada awal tahun 2009 ada 34 rahib. Biara Trappist wanita sudah dibuka secara resmi pada awal tahun 1987 di Gedono, dekat Salatiga, Jawa Tengah.

        salam damai ora et labora

    • Shalom Gabriel Dibya,
      Sepengetahuan saya Diakon Permanen di Indonesia cuma ada di Papua dan di Kalimantan. Menurut KHK, penahbisan diakon permanen itu pilihan dari Uskup Diosesan setempat.

      Salam,
      Edwin ST

      • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

        Salam Gabriel Dibya dan Edwin ST, diakon permanen juga ada di keuskupan Surabaya. Benar, bahwa uskup memiliki kewenangan untuk menahbiskan seorang pria menjadi diakon hanya sebagai diakon saja selamanya, tidak ditingkatkan menjadi tahbisan imamat. Hal itu melulu kebijakan uskup mengingat situasi pastoral dan keadaan diakon yang bersangkutan.

        Salam
        Yohanes Dwi Harsanto Pr

        • Romo Santo,
          Saya ada sedikit pertanyaan lagi, apakah memungkinkan seseorang mengirimkan lamaran ke Bapa Uskup untuk menjadi diakon permanen dengan kata lain mengambil inisiatif? Ataukah Keuskupan mengumumkan bahwa sedang dicari orang yang berminat menjadi diakon?

          Salam,
          Edwin ST

          • Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr on

            Salam Edwin ST,

            Para diakon permanen menjalani pendidikan di seminari (menengah – tinggi) dan menjalani kuliah di Fakultas/Sekolah Tinggi/ Institut Filsafat dan Teologi seperti calon-calon imam lainnya. Pada kelas terakhir, boleh saja mereka mengajukan inisiatif untuk melamar menjadi diakon permanen, bukan imam. Namun keputusan ada pada uskup dengan mempertimbangkan pendapat para staf seminari atas diri yang calon bersangkutan dan kebutuhan pastoral/ missi keuskupan. Tak kan pernah uskup mengumumkan membutuhkan sekian diakon dan imam. Yesus sendirilah yang selalu mengumumkan “Panenan memang banyak, namun pekerja sedikit, mintalah pada yang empunya panenan agar Ia mengirimkan para pekerja untuk panenan”. Sebanyak-banyaknya dibutuhkan orang muda Katolik yang mau masuk seminari.

            Salam
            Yohanes Dwi Harsanto Pr

            • Romo Santo yang baik,
              Saya memiliki pengalaman sedikit berbeda dari yang romo jabarkan di atas. Karena menurut KHK, Pria yang sudah menikah, berumur minimal 35 tahun, memegang jabatan lektor dan akolit dapat ditahbiskan menjadi diakon permanen. Di Stockholm, Swedia diakon permanen yang saya kenal memang menikah dan memiliki pekerjaan profesional lain. Dia hadir di paroki hanya 2-3 hari per minggu. Dari ceritanya, beliau mengajukan diri ke Uskup dan memang menjalani studi filsafat-teologi juga selama 3 tahun jadi tidak sebanyak imam. Perlu diketahui Katolik merupakan minoritas di Swedia hanya 2% dari jumlah penduduk dan untuk 1 Swedia hanya ada satu Uskup dan di kota Stockholm hanya ada dua paroki, 1 paroki Katedral dan satunya lagi paroki Jesuit.

              Serupa tapi tak sama dengan pengalaman saya di Perth, Australia. Saya kenal dengan seorang diakon permanen juga yang menikah dan punya anak. Dari cerita dia sekitar 3 tahun sekali, Keuskupan Agung Perth akan membuka pendaftaran bagi pria yang memenuhi kriteria KHK yang berminat untuk menjadi diakon permanen. Dan pembinaannya dilakukan selama selang tiga tahun setiap akhir pekan saja di seminari milik Keuskupan. Bagi yang memiliki istri, istrinya harus ikut serta kecuali ada halangan seperti anak sakit. Peminatnya pun tidak banyak karena Australia sudah sangat sekular, paling banyak 5 orang saja.

              Nah karenanya, saya ingin tahu bagaimana prosesnya di Indonesia. Karena dari sekian banyak Keuskupan tidak semuanya memiliki diakon permanen padahal kebutuhan umat sangat besar dan seringkali banyak paroki besar tidak dapat ditangani oleh 2-3 imam. Kehadiran Diakon Permanen akan sangat membantu, khususnya homili. Karena banyak imam yang saking sibuknya tidak dapat mempersiapkan homili dengan baik sehingga homili menjadi membosankan. Diakon permanen juga dapat menerimakan Sakramen Baptis yang sangat dapat membantu romo. Diakon juga mungkin dapat memimpin ibadat umat di lingkungan2. Romo dapat konsentrasi kepada Sakramen Ekaristi dan kehidupan doa pribadi. Sama seperti para Rasul menunjuk 7 diakon agar mereka dapat konsentrasi mengajar dan berdoa.

              Mohon sharingnya lagi ya, Romo.
              Salam.
              Edwin

              • Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr on

                Salam Edwin ST,

                Terimakasih atas informasi dari Stockholm Swedia mengenai penunjukan diakon permanen di sana. Di Indonesia memang agak lain. Namun kesamaannya tetap yaitu ada pada hak prerogatif uskup setempat. Di Surabaya diakon permanen juga dipilih oleh uskup dari pria yang menikah. Kebutuhan akan diakon juga dianalisis oleh kuria serta para penasehatnya. Keberadaan diakon pada umumnya di Indonesia memang tidak permanen, hanya satu semester, sebagai bagian dari syarat menuju imamat. Setelah satu semester kemudian ditahbiskan tingkat selanjutnya menjadi imam. Bisa saja diusulkan ke keuskupan khususnya pada para uskup (di Indonesia) agar sesuai ketentuan KHK, mengajukan penawaran diakon permanen dengan studi teologi yang cukup. Selain membantu homili, pengajaran, dan diakonia, membaptis, diakon juga meneguhkan perkawinan. Namun sekali lagi, uskup setempat dengan segala kewenangannya-lah yang menentukan, karena beliaulah yang mengetahui kondisi riil keuskupannya: kebutuhan pastoral, kebutuhan pelayanan, kebutuhan missi, kondisi keuangan, dan lain-lain.

                Salam
                Yohanes Dwi Harsanto Pr

  8. Fransiskus W on

    Saya seorang pria Katolik, usia 25 tahun, sedang akan menempuh semester akhir di Jurusan Fisika Fakultas MIPA disebuah PTN. Perkiraan lulus dari sana bulan Februari tahun depan, wisuda semester ganjil biasanya Maret.

    Saya merasa terpanggil masuk seminari, pertanyaan saya :

    1) Apakah imam projo bisa dekat dengan keluarga ? (karena kondisi keluarga saya kedua ortu salah satu pindah agama sehingga bisa bercerai dan hanya dua bersaudara kandung)

    2) Bagaimana nanti biaya selama di seminari termasuk ketika liburan pulang ke rumah ortu ? (karena bila saya masuk seminari tentu saya tidak bisa bekerja menjadi karyawan mencari nafkah, dan saya sungguh tidak ingin merepotkan baik pihak ortu maupun pihak seminari, sebab usia saya sudah 25 tahun apalagi ortu saya sudah berusia 50-an)

    3) Apa memungkinkan studi di seminari sambil bekerja sambilan untuk membiayai hidup saya di seminari nantinya? (saya punya pengalaman mengajar Matematika untuk SMU, bisa dipertimbangkan untuk mencoba mengajar Fisika, serta pernah menjalankan bisnis marketing selama setahun, walaupun belum menghasilkan apa2 saat itu, tapi saya mendapat pengalamannya)

    Terima Kasih.
    PAX CHRISTI.

    • Fransiskus yth

      Secara umum panggilan dimulai di Seminari Menengah, maka jika umur telah lebih dari 24 tahun termasuk late vocation apalagi sudah bekerja. Kalau mau melamar imam diosesan harus kepada Uskup di mana anda melamar. Nanti soal kebijakan masuk ke seminari menengah KPA atau tidak langsung ke Seminari tinggi (TOR) itu hak prerogatif Uskup yang anda lamar. Pada umumnya masuk seminari dari SMA-atau KPA lulus SMA kalau late vocation ke Postulat umum di Malang lalu masuk TOR dan Seminari tinggi.
      Liburan ke rumah orang tua apakah dibiayai tergantung keuskupan masing masing, tapi kalau di Tarekat religius umumnya biaya ditanggung, hanya pertanyaannya, kapan? Tidak selalu tiap tahun. Kalau sudah masuk seminari tidak boleh kerja, biaya hidup seminari ditanggung oleh keuskupan pada umumnya begitu. Namun ada keuskupan yang meminta partisipasi dari keluarga. Semua imam dekat dengan keluarga tidak perlu imam projo saja. Menjadi imam tetap mencintai orang tua bukan?

      salam
      Rm Wanta

    • SHALOM Fransiskus W,
      Satu tahun sudah berselang dari Anda terakhir mengirimkan komentar. Apakah Anda jadi masuk seminari? Atau sudah bekerja?

      AMDG
      Edwin ST

  9. Salamku untuk Katolisitas!

    Saya menyampaikan banyak terima kasih untuk artikel tersebut di atas dan juga semua yang berpartisipasi memberikan argumentasi dalam diskusi hangat di atas.

    Hidup ini adalah suatu proses untuk menjadi. Sebagai manusia dan apapun status kita, semuanya masih berproses. Kaum selibater bukanlah kaum tanpa cela. Mereka juga masih manusia yang sedang dalam proses, yang mungkin arahnya bisa saja menjadi lebih baik dan juga bisa menjadi lebih buruk. Kita semua bisa saja mengalami pengalaman yang sama (menyimpang dan salah). Oleh karena itu, mari kita melihat diri kita, apakah kita memerlukan orang lain supaya tetap di jalur yang benar? Kalau kita memerlukan, maka kaum selibater pun membutuhkan hal yang sama. Sebagai umat Katolik, kita sebenarnya turut bertanggung jawab atas panggilan hidup kaum selibater. Tunjukkan tanggung jawab kita, dengan memberikan masukkan yang positif tentang apa yang seharusnya dan tidak bagi panggilan selibat mereka (sekalipun mungkin ditolak) sebagai bukti bahwa kita sangat mencintai panggilan mereka (selibat) yang mulia. Ketika kaum selibater jatuh dalam kesalahan atau kekeliruan, marilah kita memberikan masukkan kepada seorang manusia dengan tidak mengabaikan status religius yang melekat dalam diri mereka masing-masing. Memang hal ini (keterlibatan kita utk menegur atau memperbaiki) kelihatan cukup berat, tetapi bukankah lebih berat ketika kaum selibater tidak ada? Sering kita mengeluh kekurangan imam, bruder, suster atau frater, tetapi yang sudah ada tidak kita JAGA.

    Sebaliknya bagi kaum selibater, jangan pernah merasa CUKUP dengan apa yang dicapai sekarang. Panggilan hidup selibat yang ada dalam diri kalian, adalah tanggung jawab seluruh anggota gereja, karena itu marilah dengan rendah hati untuk terbuka akan teguran dan masukkan dari umat.

    Terima kasih untuk team katolisitas, semoga kita sesama umat Allah (awam & kaum selibater) bisa saling melengkapi.

    Ferdinand

  10. imelda waruna on

    Salam damai Kristus….saya seorang Legioner dan sangat menghormati kehidupan selibat pastor dan suster di Gereja Katolik…Hanya saya pernah dipojokkan oleh tetua protestan tentang skandal seks dalam gereja katolik, yang banyak menjadi pedofilia…saya tidak bisa menjawab apapun karena tidak mengerti masalah itu…benarkah ada yg seperti itu? bagaimana menjawabnya dalam damai dan kasih?
    salam, Imelda

    • Shalom Imelda,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Kita jangan berkecil hati kalau ada orang yang melecehkan Gereja Katolik karena adanya pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastor. Di satu sisi, kita juga harus prihatin dan semakin memacu kita untuk membangun Gereja Katolik yang kita kasihi dalam kapasitas kita masing-masing. Kita harus menyadari bahwa walaupun Gereja Katolik didirikan oleh Kristus sendiri, namun terdiri dari pendosa dan orang kudus. Orang kudus membangun Gereja dan sebaliknya para pendosa dapat menjadi batu sandungan. Namun, di tengah-tengah badai yang menerpa Gereja Katolik dari dalam maupun dari luar, Kristus berjanji akan melindungi Gereja-Nya sampai akhir zaman. Dan mari kita mempercayai janji ini, karena Kristus, yang adalah Allah tidak pernah berbohong. Pelecehan seksual tidak hanya terjadi di dalam Gereja Katolik, namun juga di gereja-gereja yang lain, bahkan menurut data, jumlahnya lebih banyak. Diskusi ini dapat anda lihat di sini – silakan klik dan ini – klik ini. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. Salam dalam kasihNya
    Romo akhir2 ini maraknya BB jg melanda kaum selibater, apa tidak ada kekuatiran dari pihak gereja ini akan mengganggu kaul kemurniannya. ada yang menggunakan sarana dunia maya untuk berpacaran dg umat, meskipun tidak ada kontak fisik bermesraan, tapi pikiran sudah dilibatkan untuk cumbuh rayu selayaknya sejoli yang kasmaran. Tetapi tidak menutup mata berkat dunia maya juga pelayanan juga sangat menyentuh bahkan hampir merambah lebih banyak sasaran khususnya kaum muda, banyak ilmu yang dulu seperti di awang-awang, sekarang umat setiap hari, setiap saat dapat berkomunikasi mell dunia maya tsb.
    Terima kasih Romo, salam…

    • Andin Yth

      Seperti seorang anak diberikan sebilah pisau, pasti orang tuanya akan merasa khawatir. Jangan jangan pisau itu akan melukainya atau membahayakan orang lain. Demikianlah kiranya anda dan banyak orang tentang dunia digital IT dan BB, Hp, Ipad dan sebagainya dapat mengkawatirkan bagi seorang selibater. Karena itu, jawaban saya tergantung dari siapa yang memegang alat komunikasi (BB Hp dll) menggunakannya secara bijak ataukah tidak? Kalau dia orang yang dewasa dan matang dalam kepribadian tahu menggunakan alat komunikasi tsb pasti tidak akan membahayakan dirinya dan orang lain. Namun jika sebaliknya maka dapat membahayakan panggilan dan mengganggu hidup orang lain. Tapi di atas semuanya itu, kita mestinya harus berpikir positif dan memberi kepercayaan pada kaum selibater yang sudah dewasa dan bukan anak anak lagi dalam menggunakan BB dan teknologi komunikasi lainnya. Kekhawatiran anda dan banyak orang harus dibarengi dengan rasa percaya diri tidak curiga dan menjaga teman kawan selibater itu dengan menegur secara baik jika tidak bijak menggunakan BB atau Hp dan mengajak umat untuk tidak melayani komunikasi yang tidak produktif dan mendidik.

      salam
      Rm Wanta

  12. Di lingkungan saya, hampir sama dengan di lingkungan saudara David Richardo, tetapi baru-baru ini datang sekelompok seminaris (sudah berjubah) berkunjung ke stasi kami yang tujuannya promosi panggilan, tetapi kesan pribadi saya mereka lebih condong pada permintaan dana atau biaya pendidikan, katanya sih dana pendidikan mereka kurang, sehingga mereka berkunjung dan meminta sumbangan, Aku mau nanya romo, bagaimana sebenarnya pembiayaan para seminaris atau para frater itu ? terimaksih.

    • Beslam Yth

      Pembiayaan seminaris calon imam dari SMA sampai dengan Seminari Tinggi (STF) dan tahbisan imam sekitar Rp. 800 juta sampai dengan 1 M rupiah. Mahal memang dan belum lagi lamanya pembinaan dari SMA sampai tahbisan imam menempuh pendidikan selama 12 tahun-14 tahun. Sekarang ini orang tua seminaris diminta ikut terlibat dalam pembiayaan pendidikan calon imam baik di seminari menengah maupun tinggi. Biaya pendidikan bervariasi dari Rp. 500.000 per bulan sampai Rp. 1.750.000 ,- per bulan untuk tingkat SMA belum di STFT lebih tinggi lagi untuk biaya pendidikan di sekolah. Oleh karena itu wajar kalau ada gerakan membantu mereka seperti Gotaus KWI (Gerakan orang tua asuh untuk seminari) yang resmi dari KWI anda bisa ikut menjadi anggota dan aktivis silakan kirim email ke gotaus_komsem@yahoo.com atau komsem@kawali.org nanti akan ditanggapi jika anda tertarik dengan gerakan ini. Ada Puci (persembahan untuk calon imam) dari tarekat tertentu. Saya kurang tahu yang live ini dan minta anda dari mana? Saya usul mencari tahu pihak yang bertanggungjawab misalnya pastor paroki, provinsial, Keuskupan atau kami di Komisi Seminari KWI untuk neyalurkan dan sehingga sampai di tujuan dengan benar dan tepat. Saya mohon maaf kalau dalam promosi panggilan ada yang mencari dana. Pada umumnya dibedakan kalau mencari dana yang itensinya itu saja bukan dicampuradukan dengan promosi panggilan karena dapat mengaburkan tujuan promosi panggilan.

      salam
      Rm Wanta

  13. David Richardo on

    Salam Romo..
    Mau komentar nih Romo tentang kaum selibater zaman sekarang di lingkungan saya.
    Kaum selibater itu identik dengan kemewahan(misalnya, mobilnya mewuah, hp keren-keren, biara yang megah)…. Terus, bergaul pun lebih sering dengan orang mewuah.. Um..tak ada lagi yang seperti Romo Mangun.
    Terimakasih dan Salam Kasih..

    • David Yth

      Perasaan dan pernyataanmu itu benar adanya, dan itu juga yang kadang melintas dalam pikiran saya dan banyak orang. Memang zaman telah berubah menjadi modern yang berciri materialistis hedonis maka tidak jarang kaum selibater terkena pengaruhnya, terkontaminasi dengan hal itu. Tidak disalahkan tapi bagaimana menyikapinya. Maka harapan saya dengan tulisan itu orang mulai memahami apa makna selibat itu? Semangat kemiskinan bukan hanya berarti tidak memiliki tapi juga tidak mengingini materi. Bisa saja memiliki banyak tapi semangat memiliki harus miskin, orang harus berani memberi dan bukan menyimpan, mendaku kuat kekeh, meraup sebanyak mungkin sementara orang lain menderita, itu tidak boleh dalam kehidupan selibater. Karena itu, kita meski waspada kita juga harus berani mengoreksi kaum selibater yang tidak sesuai dengan panggilan hidupnya. Saya juga ingin sampaikan ide ini pada anda? Ketika rama atau suster naik mobil itu bukan mewah karena umat masyarakat juga naik mobil. Tapi jangan lalu dicela rama tidak boleh naik mobil karena mewah. Suster tidak boleh pakai Hp, sementara umat hp hal yang lumrah pembantupun pakai. Jadi barang yang dimiliki kadang menyesuaikan kedaan sekitar. Bahkan demi pelayanan pastoral mobil perlu untuk rama dan suster karena dibutuhkan agar cepat dapat berkarya. Saya juga tidak setuju kalau umat kritik ramanya mewah pakai mobil, padahal rama itu sakit tidak boleh kena angin malam maka dia diminta pakai mobil saja. Kalau dia naik sepeda motor bisa kesehatan terganggu dan kecelakaan. Ini yang saya sesalkan. Kalau ada mobil mengapa pakai sepeda motor bila ada keperluan penting. Jangan kawatir pakai mobil dan dikatakan umat kok hidup enak. Padahal dengan sepeda motor resiko kecelakaan lebih besar daripada naik mobil. serba salah memang. Jadi bijaksana melaksanakan hidup miskin di dalam zaman modern ini dengan melihat keadaan umat yang masih menderita. Kalau punya hp ya yang biasa saja tidak usah yang mewah, dan umat jangan memberi yang mewah. Kalau bergaul dengan semua orang itu baik, malahan terlebih umat yang miskin harus menjadi bagian dari hidup kaum selibater.

      salam
      Rm Wanta

      • Salam Damai …
        Saya setuju dengan pendapat Rm Wanta, akan tetapi kadang kala kaum selibater ini menjadi ‘terjebak’ oleh umatnya sendiri apabila di tugaskan pada tempat yang berkelimpahan. Sebagian umat ini mungkin merasa malu jika mempunyai pastor yang kurang gaul tadi. Jadi seyogyanya kita sebagai awam juga tidak terlalu ‘memanjakan’ para pastor yang bertugas di lingkup mereka. Saya juga merasa sedih bahwa saat ini masih ada gereja yang sangat megah dengan umat yang berjubel, tetapi hingga saat ini status gereja tersebut masih sebagai Stasi. Kadangkala saya berpikir apakah mungkin gereja tersebut belum direstui menjadi paroki karena ‘terlalu mewah/megah’ ini ?

        Zita

        • Zita Yth

          Pendirian Paroki ada aturannya, secara umum dapat dikatakan bahwa sebuah Paroki akan dibentuk jika ada umat yang tetap minimal 1500 jiwa dan memiliki pastor yang tetap, adanya teritorial yang jelas dan secara mandiri bisa berjalan dan berkembang. Bukan karena gedung gerejanya yang megah tapi juga personal dan administratif bisa terpenuhi. Peran adanya pastor (personal) juga menentukan karena jika belum ada tenaga pastor sangat sulit untuk mendirikan Paroki sebagai badan hukum privat atas nama Gereja yang diakui oleh pemerintah.

          salam
          Rm wanta

          • Felix Dionesuis on

            Syalomm pembaca Katolisitas

            Buat kita umat yang awam hendaknya berpikir yang positif.
            dan kita sebagai umat yang selalu dilanyani tidakkah memiliki pemikiran bahwa begitu banyak yang telah dikorban kan oleh para Romo dan Para Suster. kita jangan hanya melihat dari sisi negatifnya saja tetapi coba kita gali nilai positifnya, karena apa apa yang di ungkapkan saudara kita di atas tadi adalah sikap mengadili, tanpa melihat kepentinganya. Coba anda merenungkan seandainya yang menjadi Romo atau Suster adalah anda sendiri, dan anda diperlakukan atau disudutkan dengan pernyataan seperti itu, apa yang anda rasakan?

            kita tidak perlu khawatir dengan romo yang memiliki fasilitas yang mewah, karena kita yakin bahwa Para selibat pasti memiliki pembimbing atau pendamping untuk selalu mengingatkan apa bila menyimpang. kita sebagai umat juga ikut menjaga agar hidup murni para Selibat tetap terjaga, jangan malah menjelek jelekan, ngojok ngojoki supaya para selibat mau dekat dengan keluarga kita karena anak kita cantik>>>>>>>!

            Coba kita renungkan seandainya tidak ada Romo sebagai wakit Kristus didunia, Bagaimana kita akan mendapat rahmat yang kita terima, yang kita kenal Sakramen. Siapa yang akan melayani misa Harian dan Mingguan yang setiap saat umat berjubel mengikutinya. Tidakkah kita kasihan dengan para selibrat yang rela mencoba membuang jauh jauh keinginan duniawinya

Add Comment Register



Leave A Reply