Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,
Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, kami memuji nama-Mu dan keajaiban kasih-Mu yang Engkau nyatakan di dalam Kristus Putera-Mu yang telah wafat dan bangkit bagi kami. Di dalam Kristuslah, kami mengenal kedalaman misteri kehidupan-Mu, yang adalah KASIH ilahi. Berikanlah kepada kami, ya Tuhan, rahmat pengertian akan misteri kasih-Mu itu, agar kami dapat memuliakan Engkau dan menyembah kesatuan Kasih Ilahi-Mu. Semoga oleh kuasa-Mu, hati kami dapat terbuka untuk melihat betapa besar dan dalamnya misteri Kasih itu. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Banyak orang yang mempertanyakan ajaran tentang Trinitas, bahkan banyak orang yang bukan Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk memahami hal ini memang diperlukan keterbukaan hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang mengatasi pola berpikir manusia. Jika kita berkeras untuk membatasi kerangka berpikir kita, bahwa Allah harus dapat dijelaskan dengan logika manusia semata-mata, maka kita membatasi pandangan kita sendiri, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih luas tentang Allah. Jika kita berpikir demikian, kita bagaikan, maaf, memakai ‘kacamata kuda’: Kita mencukupkan diri kita dengan pandangan Allah yang logis menurut pikiran kita dan tanpa kita sadari kita menolak tawaran Allah agar kita lebih dapat mengenal DiriNya yang sesungguhnya.
Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”.[1] Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.
Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.
Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.
Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. Mat 17:5).
Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lih. Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.
Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).
Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lih 1 Yoh 5:7); demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1 Pet:1-2; 2 Pet 1:2); dan Paulus (lih. 1Kor 1:2-10; 1Kor 8:6; Ef 1:3-14). Rasul Paulus
Para Rasul mengajarkan apa yang mereka terima dari Yesus, bahwa Ia adalah Sang Putera Allah, yang hidup dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Iman akan Allah Trinitas ini sangat nyata pada Tradisi umat Kristen pada abad-abad awal.
1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
“Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?”[2]
2. St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus.[3]
“Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.”[4]
“Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.”[5].
“Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.”[6]
3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.”[7]
4. St. Athenagoras (133-190):
“Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, -Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.”[8]
5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
“Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. [9]
6. St. Irenaeus (115-202):
“Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.”[10]
“Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….”[11].
“Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran”[12].
7. St. Clement dari Alexandria [150-215 AD] dalam Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
“Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita”[13].
“Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.”[14].
8. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
“Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah.[15]
“Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia ….[16].
9. Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
“Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.”[17].
10. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
“Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.”[18].
11. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
“Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.”[19].
12. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
“Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …”[20].
13. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
“Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia.[21]
“Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.”[22]
14. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.”[23]
15. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ”[24]
Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.
Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat, yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat, memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain, namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.
Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama[25] yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325)[26], dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).
Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.
Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal:
Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis. Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau “argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.
Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.
Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.[30]
Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi.[31] Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.
Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal ‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.
Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.
Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai”[32] maka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.
Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi,[33] yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).
Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.
Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.
Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus.[34] Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita,[35] agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.
Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri[36], meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia. Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan Tradisi Suci yang ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.
Di sinilah pentingnya peran Sakramen dan doa: Sakramen Pembaptisan merupakan rahmat awal, ‘gerbang’ yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Kemudian, Sakramen Ekaristi mengambil peranan utama, karena di dalamnya kita menyambut Kristus sendiri, dan dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Allah Tritunggal melalui Yesus (baca artikel: Ekaristi: Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani). Di sinilah juga pentingnya peran penghayatan akan Sakramen Perkawinan, sebab di dalam Perkawinan, kita melihat bagaimana hubungan kasih antara suami dan istri yang direncanakan oleh Allah untuk menjadi gambaran akan kasih Allah Tritunggal (silakan baca: Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik). Demikian pula, kasih Allah Tritunggal pula yang mengilhami Sakramen Tahbisan Suci, karena melalui Tahbisan Suci, para imam dipanggil untuk meniru teladan hidup Yesus, terutama dalam hal mengasihi, yaitu dengan memberikan diri kepada Allah dan sesama secara total. Memang, pada dasarnya sakramen-sakramen adalah ‘sarana’ yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya (mohon dibaca: Sakramen: apa pentingnya dalam kehidupan kita?, terutama pada sub judul: Akibat utama penerimaan Sakramen). Akhirnya, kitapun perlu memeriksa kehidupan doa kita, apakah kita setia dalam menyediakan waktu untuk Tuhan dan menghayati kesatuan denganNya di dalam kehidupan rohani kita? Bagaimana sikap kita terhadap sakramen- sakramen yang dikaruniakan Allah? Adakah kita cukup menghargai dan merindukannya? Pertanyaan ini memang kembali kepada diri kita masing-masing.
Melihat begitu dalamnya kehidupan batin Allah, hati kita melimpah dengan ucapan syukur. Sebab kehidupan batin tersebut tidak hanya ‘tertutup’ bagi Allah sendiri, namun Ia ‘membuka’ kehidupan-Nya agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya. Ya, Allah sesungguhnya tidak ‘membutuhkan’ kita, sebab kasihNya telah sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Namun justru karena kasih yang sempurna itu, Ia merangkul kita semua, jika kita mau menanggapi panggilan-Nya. Mari bersama kita berjuang, agar lebih menghargai rahmat Allah yang terutama dinyatakan di dalam sakramen-sakramen, terutama sakramen Ekaristi, sehingga kita dapat semakin menghayati persatuan kita dengan Kristus, yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan persatuan dengan Allah ini, kita mencapai puncak kehidupan spiritualitas, di mana kita dimampukan oleh Allah untuk mengasihi Dia dan sesama.
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,
Ya Allah, kami bersyukur untuk misteri kehidupan-Mu dalam Tritunggal Maha Kudus. Di dalam kehidupan batinMu, Engkau telah menyingkapkan kepada kami kedalaman kasih-Mu yang tiada batasnya. Ampunilah kami, jika kami sering tidak menyadari panggilan-Mu untuk mengambil bagian di dalam misteri kasih-Mu itu. Kami mohon, ya Tuhan, bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami dapat untuk turut mengambil bagian di dalam misteri Kasih itu, dengan mengambil bagian di dalam sakramen-sakramen yang Engkau berikan, dan bantulah aku untuk lebih setia di dalam kehidupan doaku, agar dengan kekuatan yang Engkau berikan, Engkau memampukan kami untuk mengasihi Engkau dan sesama kami. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.
Konsili Konstantinopel I (359): menegaskan kembali Credo Nicea. Konsili ini mengembangkan Credo Nicea, yang bersangkutan dengan Roh Kudus, sebagai, “Allah, Pemberi kehidupan, yang berasal dari Bapa, bersama Bapa dan Putera, disembah dan dimuliakan.” Seperti Allah Putera, Roh Kudus adalah satu dan sama hakekatnya (ousia).
Berkah Dalem.team Katolisitas.
Saya ingin bertanya,apakah pak Stef & Bu Ingrid..
Apakah. Bapak Stef atau Ibu sudah pernah membaca
Buku tulisan Saudara Frans Donal berjudul
“Menjawab Doktrin Tritunggal”?buku tersebut
Diterbitkan oleh penerbit Borobudur.
[dari katolisitas: Kami belum pernah membacanya. Namun, ada banyak artikel-artikel dan buku-buku yang mungkin tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik.]
Dari bukti Alkitabiah :(Yoh.10:30) “Aku dan Bapaku adalah Satu” Satu Roh Kudus/Roh Allah/Roh Suci,
maka tersimpullah BAPA,PUTRA, DAN ROH KUDUS adalah SATU ROH SUCI / ROH KUDUS. Inilah TRINITAS yg. BENAR.
Yesus tercipta dari Roh Kudus yg disabdakan oleh Bapa.
[Dari Katolisitas: Iman Kristiani tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan. Yesus tidak diciptakan dari apapun. Yesus lahir dari Allah Bapa, namun bukan ciptaan Allah Bapa. Syahadat Nicea mengatakan, "Ia [Kristus] dilahirkan, bukan dijadikan”. Bahwa pada saat menjelma menjadi manusia Kristus dikandung dari Roh Kudus, itu benar, namun tidak berarti bahwa Kristus diciptakan oleh Bapa dari Roh Kudus. Maksudnya di sana adalah, bahwa penjelmaan Kristus menjadi manusia itu dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus.]
Yesus bersabda : “Aku harus kembali kpd. Bapa di Surga, agar Roh Kudus/Pelindung menggantikan Aku di bumi ini. Bila Aku Tidak kembali kpd. Bapa di Surga, maka Roh Kudus juga TIDAK hadir di Bumi ini”(Inti Yoh.16:7)
Dari ayat ini kita mengerti bahwa Roh Kudus IDENTIK dengan Yesus.
BAPA, PUTRA dan ROH KUDUS adalah SATU. Satu ROH yg KUDUS/SUCI.
[Dari Katolisitas: Bahwa Roh Kudus turun atas para Rasul setelah Yesus naik ke surga, adalah untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus itu berasal dari Allah Bapa dan Putera. Maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri. Ketiga Pribadi Allah (Bapa, Putera dan Roh Kudus) ini sama hakekatnya. Perbedaannya hanya pada hubungan asalnya, yaitu bahwa Putera lahir dari Allah Bapa, sedangkan Roh Kudus dihembuskan oleh Allah Bapa dan Putera.]
Semoga keterangan ini bermanfaat bagi orang-orang yg.ingin mengerti TRINITAS, secara Alkitabiah.
Shalom katolisitas…
Trinitas- 1 Tuhan, 3 pribadi. Tp knpa sya hnya slalu m’dngar Tuhan Allah & Tuhan Yesus, tp tdk ad yg m’ybut Tuhan Roh Kudus..?
Wlaupn Yesus mungkin adlah jelmaan Allah Bapa, tp bukankah Dia sndiri m’gatakan spy tdk m’yembah Dia, tp hnya m’yembah Allah Bapa?
Lgpun, klau skiranya Allah m’jd mnusia dlm tbuh Yesus, bukn kah kta ttap lebih afdal m’yebut Tuhan Allah dpd Tuhan Yesus? Krna Yesus 2 mnusia, & wlupun jelmaan Tuhan, tp ttap adalh darah & daging. Maka bukan kah sharusnya lbih baik utk kita m’gangkat nama Tuhan itu pd spiritualnya- yaitu Allah,.? Pd pndapat sya, skiranya Yesus ad m’gatakan sembahlah Aku, Dia jg bukn b’mksud utk kita m’yembah diriNya yg Yesus, mlain’n yg Allah… Spertimana yg slalu dtegas’n ajaran katolik bhwa lahiriah itu tdk penting…
Tp kita mnusia, sering keliru dgn m’megang mksud m’yembah Yesus sma dgn m’yembah Allah… Mugkin sbb itulah Yesus sering m’gatakan ‘kamu m’punyai mata namun tdk m’lihat, m’punyai telinga tp tdk m’dengar…’ . Kerana kita gagal m’nanggapi akan mksud yg cuba dkeluar’n dr ajaran2 Nya… Malah lbih m’yedihkan krana kita mugkin sedar akn ssuatu yg x bnar dlm ajarn kristen, tp m’milih utk tdk m’pedulikannya, malah m’cari dalil & sbab pula utk m’bela, krana kita sdh t’lalu lama hdup dgn ajaran trsebut, & t’singung utk m’gakui ksilapan…
Maaf klu kata2 sya m’yinggung. Sya s’orang katolik sdh slama 30 thun. & kini siap utk m’ningal’n iman ini, krna sya rasa’n ajaran katolik sdh tdk s’jajar dgn yg dajar’n Kristus sendiri. Smoga sya ddoa’n, jika bnarlah ‘gembala m’ninggal’n 99 domba utk m’cari 1 domba yg hilang’…
Hallelujah…
Shalom John,
1. Roh Kudus tidak pernah disebut?
Gereja Katolik mengajarkan iman kepada Allah Trinitas. Ketiga Pribadi Allah ini selalu disebutkan pada saat kami (kita, jika Anda juga Katolik) berdoa. Atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus….. Jadi tidak benar jika Roh Kudus tidak pernah disebut. Sebab penjelmaan Kristus yang diutus oleh Allah Bapa, juga hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus (lih. Luk 1: 35).
2. Yesus mengatakan supaya tidak menyembah Dia?
Alasan Yesus untuk menjelma manusia adalah untuk menyatakan diri Allah, agar manusia dapat melihat Allah yang dulunya tidak kelihatan, menjadi kelihatan (lih. Kol 1:15-20). Nah untuk menyatakan hal ini, Kristus melakukannya secara bertahap. Yesus memang tidak mengatakan secara eksplisit, “Aku adalah Allah, sembahlah Aku”, namun dengan berbagai cara lain Ia menyatakan diri-Nya adalah Tuhan. Maka untuk menangkap ke-Allahan Yesus, seseorang perlu membaca keseluruhan Kitab Suci, dan tidak boleh hanya memilih-milih beberapa ayat yang menonjolkan kemanusiaan-Nya namun menolak ayat-ayat yang menyatakan bahwa Ia adalah Allah. Sebab ada banyak ayat di dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah, dan karena itu Ia patut disembah.
Ke-Allahan Kristus dapat dibuktikan dengan kedatangan-Nya yang dinubuatkan oleh para nabi dari generasi ke generasi: Kelahiran-Nya (lih. Mik 5:2), kehidupan-Nya yang membuat banyak mukjizat (lih. Yes 29:18, 35:5-6, 61:1; bdk. Mat 11:5; Luk 4:18; Mat 15:30), penderitaan dan kematian-Nya (lih. Yes 42, 49, 50, 53). Yesus menyatakan ke-Allahan-Nya juga dengan mengajar dan memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri -bukan dengan mengatakan “Beginilah firman Tuhan…. ” (Kel 4:22; 5:1; Yos 24:2; Hak 6:8; 1Sam 10:18, dst) seperti dikatakan oleh para nabi, namun Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu…” (lih. Mat 5-6). Yesus juga menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan dengan menyatakan bahwa Ia berdiam di dalam hati setiap orang, terutama dalam mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan, dan bahwa semua orang kelak akan dihakimi atas dasar perbuatannya terhadap mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan itu, sebab dengan perbuatan tersebut mereka memperlakukan Dia (lih. Mat 25:31-46). Yesus juga melakukan begitu banyak mukjizat seperti menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41), menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19). Yesus juga menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah karena Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa (lih. Mat 9:2-8; Mrk 2:3-12; Luk 5:24, Luk 7:48); Kristus juga mengatakan bahwa Dia mampu memberikan hidup yang kekal (lih. Yoh 10:28) dan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (lih. Yoh 10:30). Dengan cara-Nya sendiri Yesus menyatakan diri-Nya adalah Sang Yahweh, terutama dengan mengatakan bahwa diri-Nya adalah, “Aku adalah Aku/ I am who am”, yang adalah sinonim/ persamaan arti kata ‘Yahweh’ itu sendiri. Karena klaim ke-Allahan inilah, maka Yesus hendak dibunuh dan dilempari batu oleh orang-orang Yahudi (lih. Yoh 10:33). Selanjutnya, Yesus sendiri tidak menolak ketika Rasul Tomas mengatakan, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28) dan tidak menolak ketika Dia disembah oleh para murid (lih. Mat 28:16-17). Dan akhirnya dalam Kitab Wahyu digambarkan bahwa Yesus bertahta dalam kemuliaan dan seluruh ciptaan menyembah-Nya (lih. Why 5:13-14).
3. Tuhan Allah lebih afdol dari Tuhan Yesus?
Jika kita menerima pewahyuan Allah di dalam Yesus, maka kita akan mengetahui, bahwa kodrat ke-Allahan Yesus sama dengan kodrat ke-Allahan Bapa dan ke-Allahan Roh Kudus, sehingga ketiga Pribadi Allah tersebut sama hakekatnya dan sama-sama afdol. Sebab dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia, Putera Allah itu tidak berhenti menjadi Allah. Maka artinya tidak ada yang berkurang dari kodrat ke-Allahan Putera sebelum penjelmaan-Nya, maupun setelah penjelmaan-Nya menjadi manusia. Sebab dalam diri Yesus pada saat penjelmaan-Nya terdapat 2 kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia.
Silakan membaca lebih lanjut dalam artikel Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah, silakan klik, dan Yesus Sungguh Allah, Sungguh Manusia, silakan klik; Di ayat-ayat manakah Yesus disebut Allah, silakan klik.
Sedangkan istilah Tuhan dan Allah adalah sama-sama nama spiritual, jika dihubungkan pada Pribadi Allah. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
Akhirnya, John, ada baiknya Anda mempelajari terlebih dahulu apakah sebenarnya yang diajarkan oleh Gereja Katolik, agar jangan terburu-buru meninggalkan iman Katolik, sebelum Anda sendiri tahu dengan benar apa sebenarnya yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Faktanya sekarang ini malah ada banyak orang-orang Kristen non-Katolik yang bergabung dengan Gereja Katolik, setelah dengan sungguh-sungguh mempelajari Kitab Suci dan sejarah Gereja. Kisah kesaksian mereka (ada 700 lebih) ditayangkan dalam program TV, EWTN (Eternal Word Television Network), banyak di antara mereka adalah pendeta. Jika Anda tertarik untuk mendengarkannya secara on-line, silakan klik di sini.
Bawalah pergumulan ini dalam doa-doa Anda, sebab siapa tahu pergumulan ini malah dapat mendorong Anda untuk semakin mengenal ajaran iman Katolik dan menemukan kepenuhan kebenaran di dalamnya.
Teriring doa dari kami di Katolisitas.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Saya adalah orang katolik, namun banyak hal saya kurang sepaham dengan pemahaman orang katolik lainnya yang sering diucapkan di dalam gereja ketika misa yaitu:
1. menurut keyakinan tanpa batas saya yang dimaksud “TUHAN” adalah “YESUS”, namun dalam prosesi misa sering disebut “Tuhan” yang menurut saya bukan “YESUS” terutama setelah bacaan I/II yang diambil dari perjanjian Lama diucapkan “Demikianlah sabda Tuhan”, padahal bacaan itu tidak mencerminkan sabda..hanya cerita??? Apakan ada Tuhan lainnya selain YESUS??
2. Pada saat akan komuni diumumkan: “Yang tidak boleh menerima komuni bapak/ibu yang perkawinannya belum diberkati secara katolik”. Faktanya orang tua saya yang tadinya bukan katolik dan menikah tidak secara katolik, dalam perjalanan hidup mereka, ayah tetap tidak menjadi katolik, ibu menjadi katolik dan perkawinan mereka tidak pernah diberkati secara katolik, apakah ibu saya yang telah dibaptis dan menerima komuni secara katolik dan pastor yang membaptisnya telah melanggar aturan gereja, atau pengumumannya itu yang salah??? dan akhirnya semua anak-anaknya menjadi katolik.
Mohon tanggapannya secara kononik dan iman katolik, karena hal ini masih mengganggu pikiran saya, dan banyak pertanyaan ini kepada saya.
Terima kasih.
Joko Gunarso di Cibinong
Shalom Joko,
1. Kitab Suci mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Firman Allah yang menjelma menjadi manusia (lih. Yoh 1:14). Firman itu telah ada sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (lih. Yoh 1:1). Nah, maka dari sini kita mengetahui bahwa Kristus Allah Putera, yang adalah Sang Sabda Allah, tidak terpisahkan dari Allah Bapa.
Nah, kita ketahui bahwa Sabda Tuhan itu disampaikan kepada kita manusia dengan bahasa manusia, dan tak jarang disampaikan dalam bentuk cerita maupun perumpamaan. Namun cerita dan perumpamaan itu mengungkapkan suatu makna tentang Allah sendiri, baik itu sifat-sifat Allah, maupun pengajaran Allah. Maka kita tidak dapat membatasi Allah dengan huruf-huruf ataupun cerita tersebut, namun kita mengetahui bahwa Allah menyampaikan kebenaran-Nya melalui cerita/ kejadian tersebut. Kebenaran ini adalah Kristus, sebab Kristus mengatakan bahwa Ia adalah “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Maka tulisan ataupun cerita dalam Kitab Suci memang bukan Tuhan atau Yesus itu sendiri, tetapi kebenaran yang disampaikan oleh tulisan ataupun cerita dalam Kitab Suci itulah yang adalah Kristus, Sang Sabda, yang adalah Tuhan. Dan karena Yesus sehakekat dengan Bapa, maka tidak ada Tuhan lain selain Yesus, sebagaimana tidak ada Tuhan lain selain Bapa (dan Roh Kudus). Silakan membaca lebih lanjut tentang Allah Trinitas, silakan klik di sini.
2. Jika pasangan keduanya menikah secara resmi menurut agama lain, maka Gereja mengakui juga kesahan ikatan perkawinan itu. Jika kemudian keduanya dibaptis Katolik, maka ikatan perkawinan tersebut otomatis diangkat menjadi sakramen (lih. KGK 1601). Namun jika salah satu dari pasangan dibaptis Katolik, namun yang lain tetap ingin mempertahankan agamanya, maka seharusnya yang dilakukan adalah konvalidasi perkawinan. Hal ini wajar, karena seorang yang menjadi Katolik, terikat oleh ketentuan Gereja Katolik, termasuk di sini adalah ketentuan perkawinan, yang sangat dijunjung tinggi kesakralannya oleh Gereja. Sesungguhnya, tidaklah sulit untuk mengadakan konvalidasi perkawinan, dan tidak ada paksaan bagi yang tidak Katolik untuk menjadi Katolik, jika memang ia tidak terpanggil menjadi Katolik. Silakan membaca tentang konvalidasi perkawinan, di sini, silakan klik. Baru setelah konvalidasi perkawinan dilakukan, pihak yang Katolik dapat menyambut Komuni, sebab dengan demikian ia sungguh menghidupi makna Komuni itu, yaitu persatuan dengan Kristus dan Gereja-Nya sebagai Tubuh mistik Kristus, termasuk semua ajaran dan ketentuannya.
Romo Wanta menjawab demikian:
Salam,
Sebaiknya ibu itu dipanggil dan dijelaskan jangan dulu komuni dan nanti dikonvalidasi sehingga kekeliruan terjadi dapat diluruskan kembali.
Salam,
Rm. Wanta
Demikian tanggapan kami semoga berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Apakah pribadi disini sama artinya dengan kepribadian? Maksudnya, apakah itu berarti Tuhan itu satu, tspi memiliki tiga kepribadian yang berbeda?
[Dari Katolisitas: Pribadi itu adalah person, sedangkan kepribadian adalah personality. Maka, pribadi artinya tidak sama dengan kepribadian. Allah yang satu dengan Tiga Pribadi, adalah One God in Three Persons. Karena hakekatnya satu, maka Allah, walaupun dalam Tiga Pribadi, mempunyai sifat-sifat ataupun kehendak (yang sering dikonotasikan sebagai kepribadian) yang satu dan sama.]
dear katolisitas,
bolehkah saya menyimpulkan demikian
Bapak sebelum kristus
Putra jaman Yesus
Roh kudus jaman setelah Yesus
[Dari Katolisitas: Silakan membaca kembali artikel di atas. Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus selalu ada bersama-sama sejak kekekalan, sehingga tidak ada Pribadi yang ada lebih dahulu dan yang lain kemudian. Kristus, Sang Firman Allah, telah ada bersama-sama dengan Allah sejak awal mula (Yoh 1:1). Demikian pula Roh Kudus yang telah sejak awal melayang-layang di atas permukaan air (Kej 1:2). Yang membagi adanya tiga era/ tiga peran yang terpisah dalam Allah Trinitas (seperti pengertian Anda) adalah ajaran sesat Sabellianisme/ Modalisme/ Patripassian, seperti pernah dibahas di sini, silakan klik. Mohon dipahami prinsipnya bahwa Kristus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia. Sebagai Allah, Kristus tidak mempunyai awal, tetapi sebagai manusia, Ia mempunyai awal, yaitu saat terbentuk di dalam rahim Bunda Maria. Silakan membaca selanjutnya di artikel ini, silakan klik].
terima kasih katolisitas, saya jadi lebih memahami tentang trinitas. Dengan adanya web trinitas iman saya semakin diteguhkan kadang suka ada pertanyaan rohani tetapi bingung dimana harus bertanya.
Kak Stef, aku numpang tanya dong.
aku masih belom paham tentang pengertian kata ‘pribadi’ itu sendiri. Pemahaman ‘pribadi’ dalam Tuhan apakah sama dengan pemahaman ‘pribadi’ dalam manusia? Maksudnya, tiap manusia memiliki sebuah kepribadian yang unik, dan apakah itu maksudnya Tuhan memiliki 3 kepribadian dalam 1 kodratnya itu? Kalau iya, apakah itu berarti Tuhan memiliki hal semacam kepribadian ganda kalau dimisalkan Tuhan itu sebagai manusia?
Makasih kak.
[Dari Katolisitas: Pribadi itu adalah person, sedangkan kepribadian adalah personality. Maka, pribadi artinya tidak sama dengan kepribadian. Allah yang satu dengan Tiga Pribadi, adalah One God in Three Persons. Karena hakekatnya satu, maka Allah, walaupun dalam Tiga Pribadi, mempunyai sifat-sifat ataupun kehendak (yang sering dikonotasikan sebagai kepribadian) yang satu dan sama].
bagi saya, Trinitas paling mudah dipahami/disejajarkan (meski tidak sejajar sepenuhnya) dengan teori “analisis transaksional”, di mana satu orang bisa bereaksi sebagai: orangtua (parent), orang dewasa (adult), atau anak (child). Orang itu tetap satu pribadi, namun bisa bereaksi sebagai parent, adult atau child. Demikian halnya dengan Tritunggal, Ia tetap satu hakikat yaitu 1 Allah namun memiliki 3 pribadi yaitu Bapa, putra dan Roh Kudus.
Shalom Yusuf,
Analogi memang dapat membantu, namun analogi tentang Trinitas tidak akan dapat menerangkan Trinitas secara mendalam. Masing-masing analogi yang kita ambil dari material maupun non material tidak dapat menerangkan kehidupan Tritunggal Maha Kudus, karena memang kehidupan Allah adalah di luar batas pemikiran kita. Karena Allah adalah spiritual, maka analogi yang mendekati adalah yang diambil dari sesuatu yang spiritual, seperti yang diberikan oleh St. Agustinus. Dalam analogi yang Anda berikan, maka kelemahannya adalah “peran” menggantikan “pribadi”, padahal kita tahu bahwa “pribadi” bukanlah “peran”.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Pak Stef,
saya bisa memahami keterbatasan itu.
mohon penjelasan dari bacaan Injil pada hari minggu 21 oktober 2012.
saya tidak ingat persis tapi sekitar permintaan yakobus dan Yohanes untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus. yesus menjawab bahwa Ia tidak memiliki hak untuk itu.
Ini sangat kontras dengan kenyataan bahwa Yesus diberi hak penuh menjadi hakim di pengadilan terakhir. Apakah jawaban Yesus itu hanya jawaban diplomatis untuk pengantar ayat ayat sesudahnya yang intinya menekankan pentingnya melayani. atau apakah jawaban itu dalam kapasitasNya sebagai manusia, namun sebagai Allah Ia tetap mempunyai hak dan tahu (seperti soal kedatanganNya yang kedua).
terima kasih
[dari katolisitas: Silakan melihat jawaban ini - silakan klik]
Shaloom Katolisitas.org & All,
Saya ingin menanggapi semua keberatan non-Kristen mengenai Trinitas/TriTunggal dalam hal Inkarnasi (inkarnasi = merubah wujud, bukan reinkarnasi = hidup kembali stlh kematian dlm wujud yg lain).
1) Tritunggal dpt dianalogikan sperti sebuah matahari yg besar, tetap diam pada tempatnya namun memberikan 2 dampak ke bumi yaitu Sinar terang & Energi panas.
2) Berikut analogi yg lebih spesifik, yaitu seperti halnya anda membuat bermacam jenis account. Cth : Anda memiliki nama lengkap “Jono Akmal Sudaryanto”, dan membuat sebuah account e-mail (yahoo/gmail dll) dgn nama lengkap “Jono Akmal Sudaryanto”. Setelah anda membuat account tsb anda pun aktif berdiskusi dan memberikan pandangan anda dalam dunia tsb. Setelah mmpunyai account email, anda membuat lagi sebuah account Facebook dgn nama “Jono doank”, tambah lagi anda mmbuat sbuah account Youtube dgn nama “Akmal imoet”, account Linkedin dgn nama “Sudaryanto” dlsb, termasuk account2 dgn profil yg palsu dan anda aktif didalamnya, hidup dan memberikan pengaruh didalamnya (belum lagi account bank, pajak, jamsostek dsb).
Seperti halnya Kitab Suci; dimana ketika anda diharuskan mengisi suatu Formulir yg menanyakan jenis & nama account anda, tentunya anda akan mengurutkannya dgn jenis utama yaitu email dgn nama lengkap terlebih dahulu baru diikuti oleh nama2 account dgn nickname/samaran/inisial anda, yg memiliki “Peran” disebelah kanan atau kiri dari pribadi utama anda. Namun tetap semua itu adalah diri anda sendiri.
Coba bayangkan apa yg sudah anda lakukan, ternyata anda telah berinkarnasi kedalam beberapa pribadi, malah anda telah melebihi Tuhan dgn ber-Inkarnasi lebih dari satu pribadi.
Apakah berbuat hal yg sedemikian dilakukan manusia adalah sulit bagi Tuhan ? Demikian penjelasan sgkt saya, smg dpt menjawab kebingungan dan keraguan anda. Terima kasih.
Duc in altum,
Antonius +
Shalom Antonius Wenang,
Terima kasih atas analogi yang diberikan. Silakan juga melihat analogi yang kami berikan tentang Trinitas di sini – silakan klik. Apapun analogi yang kita berikan, tetap tidak akan dapat menggambarkan secara sempurna tentang Trinitas. Karena kita memberikan analogi dari ciptaan yang kita lihat untuk menggambarkan Pencipta yang maha kuasa dan murni spiritual, maka sungguh sangat sulit dianalogikan secara sempurna. Yang paling mendekati adalah apa yang telah diberikan oleh St. Agustinus, yaitu tentang: Pribadi yang mengasihi, Pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri; pikiran, pengetahuan dan kasih; ingatan, pengertian dan keinginan. Namun, memang tetap tidak dapat memberikan gambaran yang sempurna. Semoga link yang saya berikan dapat memberikan kedalaman akan topik ini.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
yth katoliksitas
benarkah
Asala mu asalah trinitas apakah ayat ini
Matius 28:19
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
[dari katolisitas: Mat 28:19-20 adalah salah satu ayat yang mendukung Trinitas, dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain yang mendukung Trinitas. Dialog otentisitas Mat 28:19-20 ada di sini - silakan klik dan artikel tentang Trinitas ada di sini - silakan klik.]
Sungguh satu rahmad bagi saya karena menemukan web ini. Oleh sebab itu layak saya bersyukur dan trimakasih pada para pengasuh. Sudah puluhan tahun saya dibabtis tapi pengetahuan saya tentang ajaran iman sangat rendah, makanya artikel- artikel dalam situs ini sangat bermanfaat bagi saya sebagai sumber pengetahuan. Saya sering mendapat pertanyaan dari teman-teman yang non Katolik baik kristen maupun islam dan saya tidak dapat menjawab, ternyata banyak jawaban yang saya peroleh di sini. Kalo diperkenankan saya masih ada dua pertanyaan yang belum dapat saya jawab, sbb:
Secara logika saya sudah dapat memahami makna Trinitas, tetapi secara perasaan saya masih belum dapat merasakan seperti apa itu Trinitas. Maaf saya tidak bermaksud menyamakan Allah dengan rawon, ini sekedar untuk menggambarkan perasaan saja. Kalo saya melihat rawon saya tidak menggambarkan unsur-unsur unsur-unsurnya. Ya itulah rawon sebagai kesatuan. Tetapi kalo Trinitas saya masih merasa adanya tiga pribadi yang saling berdiri sendiri. Tolong saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristur, berikan saya cara, teknik atau tahab-taham prilaku yang dapat mengajari saya untuk merasakan Trinitas sebagai satu kesatuan.
Untuk kesediaan anda saya ucapkan trimakasih, Tuhan memberkati kita semua.
Shalom Frans,
Silakan Anda membaca terlebih dahulu, artikel tentang Trinitas di atas ini, silakan klik.
Memang analogi apapun di dunia ini akan menjadi sangat terbatas untuk menggambarkan Trinitas yang tidak terbatas. Analogi kopi susu ataupun rawon memiliki keterbatasan tersebut, demikian pula analogi lainnya, seperti bahwa air (H2O) memiliki tiga wujud yang berbeda, yaitu air, uap air maupun es batu.
Maka mungkin analogi yang lebih mendekati adalah analogi yang terdapat dalam diri manusia, mengingat manusia diciptakan menurut gambaran Allah, sebagaimana diajarkan oleh St. Agustinus.
Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.
Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat, yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat, memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain, namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.
Di atas semua itu, kita berpegang kepada perkataan Kristus sendiri, yang memang menyatakan kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa, yaitu bahwa ‘barang siapa melihat Aku melihat Bapa’ (Yoh 14:9), ‘barang siapa menyambut Aku menyambut Dia yang mengutus Aku’ (Luk 9:48); dan bahwa Kristus dan Allah Bapa mengutus seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kudus, kepada para murid-Nya untuk menyertai mereka selama-lamanya (lih. Yoh 14:16).
Untuk selanjutnya, silakan membaca kembali artikel di atas.
Akhirnya, pengalaman tentang keberadaan Allah Trinitas, kita alami setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi. Di dalam setiap Perayaan Ekaristi, oleh Kuasa Roh Kudus, imam bertindak atas nama Kristus untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya, sebagai kurban yang berkenan kepada Allah Bapa.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
syalom katolisitas,,
bagaimana menjawab artikel ini:
Di samping itu, ada juga bentuk keanehan lain dalam pandangan umat nasrani, yaitu keyakinan mereka terhadap Holy Trinity. Sekalipun golongan mereka berbeda-beda, dari mulai Ingilikan, Artsudzukis, Katolik, dan Maitsudiyah, akan tetapi keseluruhan mereka beriman dengan Holy Trinity. Mereka mengatakan bahwa Yesus adalah oknum kedua dari ketiganya. Anda mungkin pernah mendengar umat nasrani mengatakan: “Dengan nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.” Akan tetapi anda tidak akan pernah mendengar mereka mengatakan: “Dengan nama Roh Kudus, Anak, dan Bapa. Atau dengan nama Anak, Roh Kudus, dan Bapa.”
Anak selalu dijadikan sebagai oknum ke dua dalam ketiga Trinitas tersebut, dan apabila ada seorang nasrani yang mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa, maka perkataan ini dianggap sebagai satu dosa besar dalam pandangan gereja dan agama Nasrani.
Akan tetapi menurut pandangan agama nasrani dan gereja-gereja Angelisme, atau Luterisme, atau Mesudisme, dan gereja-gereja lainnya, mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa merupakan satu dosa besar
2. Mungkinkah pribadi2 Allah itu bertebaran? Sebab Roh Kudus saja digambarkan dalam berbagai bentuk seperti burung merpati atau lidah2 Api…adakah ayat Alkitab yang mendukung bahwa Roh Kudus juga Allah? Mungkin Yesus da BApa adalah satu, pernahkah kita menjumpai ayat yang juga mengatakan bahwa Roh Kudus dan Bapa juga satu?
3. Mengapa Allah selalu berubah wujud? Menjadi manusia dan bergulat dengan Yakub, menjadi burung merpati, menjadi Yesus dsb….?
Shalom Xells,
Saya mengundang Anda untuk membaca terlebih dahulu artikel tentang Trinitas di sini, silakan klik. Silakan pula membaca tanya jawab di bawahnya, semoga dapat menjawab pertanyaan Anda.
Komentar yang Anda kutip itu bukan argumen baru. Pertanyaan serupa itu sudah sering ditanyakan dan sudah sering ditanggapi di situs ini.
Memang cara menyebutkan Allah Trinitas, adalah Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, sebab memang Allah Bapa adalah Prinsip dari kedua Pribadi lainnya itu. Putera lahir dari Allah Bapa; dan Roh Kudus dihembuskan oleh Allah Bapa dan Putera. Kalau ada orang Kristiani yang menyebutnya terbalik, yang pertama-tama perlu dikatakan adalah bahwa ia tidak memahami ajaran imannya, tetapi apakah ia berdosa berat atau tidak, itu tergantung dari apakah ia tahu/ sadar bahwa ia mengatakan yang salah tentang imannya, dan apakah ia sengaja atau tidak.
2. Gambar burung merpati atau lidah-lidah api itu merupakan lambang/ gambaran tentang Allah Roh Kudus, tetapi tentu saja Roh kudus tidak sama dengan burung merpati atau lidah api itu. Allah itu Roh (Yoh 4:24) dan karena itu tidak berwujud materi. Namun pada suatu saat dalam sejarah manusia Pribadi kedua dari Allah Trinitas, yaitu Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia, sehingga pada saat itu di dalam Diri-Nya terdapat kodrat Allah (yang tak berwujud) dan kodrat manusia (mengambil wujud tubuh manusia).
3. Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Allah tidak berwujud dan tidak berubah wujud. Ketika Kristus Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia, tidak berarti Allah berubah wujud. Sebab kodrat Allah dalam diri Kristus tetap sama, hanya saja Kristus juga mengambil kodrat manusia, sehingga mengambil juga tubuh manusia dalam penjelmaan-Nya itu (lih. Ibr 10:5).
Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini tentang Yesus yang sungguh Allah, namun juga sungguh manusia, silakan klik.
Jadi tidak benar bahwa Allah itu berubah-ubah ataupun berubah wujud, sebab hal ini bertentangan dengan firman-Nya sendiri yang mengatakan bahwa Ia (Yesus) tetap sama, dahulu, sekarang dan selamanya (lih. Ibr 13:8).
Sedangkan tentang perikop Yakub bergulat dengan malaikat, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Berikut ini keterangan yang saya peroleh dari A Catholic Commentary of Holy Scripture, Dom Orchard, OSB:
“Yang bergulat dengan Yakub adalah malaikat Allah (lih. Hos 12:4-5) yang mengambil tubuh manusia. Malaikat itu disebut Tuhan (ay.28,30) sebab mewakili/ menggambarkan pribadi Putera Allah. Pergumulan ini -di mana Yakub, atas bantuan Allah, menjadi lawan yang sepadan bagi malaikat itu- terjadi agar Yakub dapat belajar dari pengalamannya ditolong oleh Tuhan, bahwa baik Esau maupun siapapun, tidak akan mempunyai kuasa untuk melukai dia. Juga melalui peristiwa ini diperoleh pelajaran rohani, sebagaimana terlihat dari permohonannya yang sungguh-sungguh, dengan sangat, dan akhirnya memperoleh berkat dari malaikat itu. Allah Bapa tidak menolak pemberian yang baik kepada mereka yang meminta kepadanya dengan sungguh-sungguh dan dengan kerendahan hati….”
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shalom, saya ingin bertanya.
Kenapa yaa orang Muslim itu menolak adanya trinitas itu…???
Mohon pencerahannya ya. GBU.
[Dari Katolisitas: Yang kami sampaikan di situs ini adalah ajaran iman Katolik, sehingga kami tidak menyampaikan apa yang menjadi pandangan dari umat dari agama lain. Namun secara umum, kemungkinan orang menolak ajaran Trinitas, karena memang diperlukan iman di samping nalar, untuk menerima ajaran tersebut, atas dasar kepercayaan bahwa Tuhan yang mewahyukannya pasti menyampaikan kebenaran, walaupun ini sulit untuk dipahami secara tuntas oleh akal budi manusia. Selanjutnya tentang topik Trinitas, silakan klik di sini].
Halo sdr Embun,
Agaknya pada kesempatan lain anda memakai nama “mantan katolik”. nama anda beda beda namun pertanyaan anda sama. saya meragukan bahwa anda katolik atau kristen. bahwa anda kemungkinan besar bukan katolik/kristen, itu bukan masalah. masalahnya adalah anda tidak jujur dan tidak konsisten. Jika anda adalah katolik/kristen, tidak mungkin anda bertanya, “Apakah Yesus pernah mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan?”. saran saya jadilah orang yang jujur, karena orang yang jujur akan dikasihi Allah. Namun terus terang, anda harus belajar sabar dan rendah hati pada team dari katolisitas (Bu Ingrid dan pak Stef, terutama), karena apapun pertanyaan anda, mereka akan jawab dengan sabar dan penuh kasih.
[dari katolisitas: Seringkali ada juga orang yang bertanya bukan untuk dirinya sendiri, namun juga ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diberikan di salah satu forum atau hasil diskusi dengan seseorang. Selama pertanyaan tersebut dilakukan dengan baik, maka adalah baik untuk menjawabnya.]
Dear Katolisitas,
terus terang saya masih harus banyak belajar bersabar dan rendah hati seperti Anda Anda di katolisitas. Namun kesel dan sedikit marah boleh kan yang penting terkontrol.
Dear Katolisitas,
Saya pernah ikut sarasehan Kitab Suci dengan Romo Stanislaus Surip, OFM Kapusin. Beliau mengatakan bahwa beberapa bab pertama dlm kitab Kejadian (saya lupa persisnya, yang jelas sebelum ayat tentang Abraham) adalah “fiktif” / rekaan / hanya hasil dari refleksi iman. Saya sih setuju saja dan tidak menggoncangkan iman Katolik saya karena Romo itu juga mengatakan bahwa KS adalah juga karya sastra. Itu saya juga setuju. Mengapa saya setuju, karena memang banyak yang tidak “masuk akal”. contohnya kejadian 4:17 (Kain bersetubuh dengan istrinya), kan “aneh” karena saat itu adam dan hawa baru punya anak kain dan habel. Lalu istrinya kain itu dari mana coba?
Lalu pada kejadian 5:4 dikatakan bahwa Adam berumur delapan ratus tahun. Kok umur manusia bisa segitu lama?
Jadi saya setuju dengan perkataan Romo Surip karena beliau adalah, kalau tidak salah Doktor Kitab Suci. Iman katolik saya tidak berubah sedikitpun. justru bertambah apalagi setelah baca katolisitas.
Saya hanya ingin mendengar pendapat katolisitas tentang pendapat romo di atas yang memang saya amini. Terima kasih. Berkah Dalem
Shalom Yusup,
Pertanyaan-pertanyaan yang masuk di Katolisitas memang melalui proses moderasi dan tidak langsung dijawab, sebab sebelum kami menayangkan jawaban, kami berusaha memeriksa jawaban kami terlebih dahulu agar sedapat mungkin sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik (jika itu sifatnya doktrinal, menyangkut iman dan moral). Oleh karena itu memang tidak dapat dijawab secepat kilat, mohon pengertiannya, dan mohon kesabarannya atas segala keterbatasan kami. Tetapi sejauh pertanyaan itu kami pandang berguna untuk membangun iman kita, maka akan kami usahakan untuk menjawab/ menanggapinya.
Tentang Kebenaran sejarah beberapa bab pertama dalam Kitab Kejadian, pihak otoritas Gereja Katolik sudah pernah mengeluarkan pernyataan, dan sudah pernah dibahas di tulisan ini, silakan klik. Dari pernyatan tersebut, kita ketahui bahwa: 1) kita tidak dapat mengabaikan arti literal yang menunjukkan kebenaran sejarah yang disampaikan oleh bab-bab pertama dalam Kitab Kejadian; oleh karena itu, 2) kita tidak dapat mengatakan bahwa apa yang tertulis di sana hanya adalah legenda.
Bahwa apa yang disampaikan di sana mempunyai banyak arti (tidak terbatas oleh arti literal), dan ada banyak cara/ interpretasi untuk memahaminya, itu benar, namun semua interpretasi tersebut tidak boleh mengabaikan arti literalnya.
Maka jika kita menemukan ungkapan-ungkapan yang nampaknya ‘tidak masuk akal’ dalam bab-bab tersebut, maka kita harus berusaha menangkap apa inti yang ingin disampaikan dari ungkapan tersebut, dan bukan langsung mengatakan bahwa itu ‘fiktif’. Soal siapa istri Kain, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Sedangkan mengapa bangsa manusia yang berasal dari sepasang manusia pertama lalu berkembang menjadi bermacam ras, silakan klik di sini; dan tentang mengapa teori Evolusi makro tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan ajaran iman, silakan klik di sini dan klik di sini.
Tentang mengapa dikatakan umur delapan ratus tahun, tidak dapat dikatakan bahwa itu fiktif. Kita selayaknya menerima pernyataan ini secara literal: 1) dapat saja berarti delapan ratus tahun menurut sistem perhitungan kalender yang dipahami pada saat kitab tersebut dituliskan, atau 2) dapat saja delapan ratus tahun menurut pengertian sekarang, mengingat defisiensi genetik sehubungan dengan regenerasi manusia relatif masih kecil jika dibandingkan dengan zaman sekarang, di mana sudah terjadi beribu-ribu generasi umat manusia, sehingga umur rata-rata manusia pada zaman generasi-generasi awal yang dicatat dalam Perjanjian Lama memang lebih panjang dari umur rata-rata umat manusia di generasi-generasi berikutnya. Jika berpegang kepada pengajaran Magisterium bahwa tidak ada kesalahan dalam Kitab Suci (“Konsili mengajarkan juga bahwa berkat wahyu Allah itulah “segala, yang dalam hal-hal ilahi sebetulnya tidak mustahil diketahui oleh akalbudi manusia, dalam keadaan umat manusia sekarang dapat diketahui oleh semua dengan mudah, dengan kepastian yang teguh dan tanpa tercampuri kekeliruan mana pun juga” (Dei Verbum 6)), maka pada prinsipnya kita harus menganggap bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci sebagai kebenaran, kecuali jika memang yang disampaikan itu sama sekali tidak dapat diartikan secara literal, sehingga memang merupakan suatu ungkapan perumpamaan.
Selanjutnya, perlu kita berpegang pada cara menginterpretasikan Kitab Suci menurut ajaran Gereja Katolik, yang prinsipnya dapat dibaca di artikel ini, klik di sini.
Saya tidak dalam posisi menilai perkataan Romo Surip tersebut, yang pasti juga memiliki dasar dalam menyampaikan pernyataannya. Namun dasar yang diambil oleh kami Katolisitas adalah pernyataan-pernyataan yang sudah pernah dikeluarkan secara resmi oleh Magisterium Gereja Katolik, dan atas dasar inilah kami menuliskan pandangan-pandangan kami di situs ini. Jika ada pernyataan resmi dari Magisterium tentang topik ini, yang belum disampaikan oleh kami dan Anda mengetahuinya, maka silakan disampaikan, dan kami terbuka untuk merevisi jawaban ini, jika memang sudah ada pernyataan lain dari Magisterium yang berbeda dari apa yang sudah pernah disampaikan sebelumnya, yang telah kami sampaikan di link-link tersebut di atas.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Bu Ingrid yang murah hati dan sangat sabar,
Terima kasih banyak. Saya bisa memahami sepenuhnya semua penjelasan Ibu. Saya juga memahami “lamanya” proses moderasi.
Sedikit koreksi, barangkali (sekali lagi barangkali) maksud Ibu adalah makna figuratif bukan makna literal saat Ibu menulis ini (“kita tidak dapat mengabaikan arti literal yang menunjukkan kebenaran sejarah yang disampaikan oleh bab-bab pertama dalam Kitab Kejadian”).
jika benar yang Ibu maksud adalah makna figuratif, maka meminjam kalimat Romo Surip dapatkah dikatakan bahwa “Kitab Suci dapat juga dipandang sebagai karya sastra namun, berbeda dengan karya sastra pada umumnya, yang harus dipahami adalah maksud Allah yang sebenarnya di balik tulisan/kata kata itu.
saat saya menulis tanggapan ini saya belum membaca link link yang Ibu tunjukkan. Namun intinya saya sangat memahami.
salam damai dalam Kristus
Shalom Yusup,
Maksud saya, tetap seperti yang tertulis itu, yaitu: “kita tidak dapat mengabaikan arti literal yang menunjukkan kebenaran sejarah yang disampaikan oleh bab-bab pertama dalam Kitab Kejadian”
Mengapa? Karena sebagaimana disampaikan oleh Pontifical Biblical Commission, bahwa kita tidak dapat, karena demi menekankan arti figuratif, sampai mengabaikan makna literal yang dimaksud dalam bab- bab pertama dalam Kitab Kejadian tersebut. Bahwa ayat- ayat tersebut dapat diinterpretasikan mempunyai beberapa arti (figuratif/ allegoris, moral ataupun anagogis), itu diperbolehkan, tetapi bukan berarti interpretasi tersebut otomatis membuang makna literal yang ingin disampaikan.
Silakan membaca pernyataan dari Pontifical Biblical Commission tentang hal ini, silakan klik, sehingga dapat menjadi lebih jelas.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Banyak terima kasih bu Ingrid.
Good job. Berkah Dalem Gusti
Banyak “perdebatan” iman tidak “nyambung” karena titik tolak pemahaman yang tidak sama. Contoh, “what do we mean when we say God?”. Belum tentu semua orang Kristiani memahami Allah sebagaimana Yesus memahami dan mengajarkanNya. Di dalam diri Yesus kita menemukan Allah yang adalah Kasih. Allah adalah Kasih yang Transenden. Ia sepenuhnya Roh. Tapi banyak orang membayangkan/memahami Allah sebagai ‘orang’ (God is the old man in the sky). Itu sebabnya orang sulit menerima Yesus sebagai Allah/Tuhan. Ada buku yang amat bagus untuk pemahaman ini: Yesus Bukan Orang Kristen (Albert Nolan). Buku ini memberi pencerahan tentang paham Allah dan ke-Allah-an Yesus.
Demikian juga mengenai Trinitas yang sangat kental dengan nuansa filsafat Yunani dan etimologi-etimologi yang harus dipahami dalam konteks budaya tersebut. Walaupun Trinitas merupakan salah satu misteri iman (selain Inkarnasi, dsb), sebagai manusia yang berakal budi, kita mencoba memahami secara make sense juga. Saya sendiri mencoba memahaminya dengan pendekatan modalitas (walau ada nuansa ‘bidaah’ untuk jaman tertentu), begini:
Allah itu satu tiga Pribadi Ilahi. Ketiga Pribadi Ilahi itu tidak satu dan sama. Masing-masing mempunyai peran: kita menyapa Bapa kalau kita menghayatiNya sebagai Allah Pencipta; Putera (Allah Penebus/Penyelamat); dan Roh Kudus (Allah yang tetap hadir menyertai, menghibur, dsb).
Semoga!
[dari katolisitas: Namun harus dipahami juga bahwa ketiga Pribadi juga melakukan bersama-sama, karena mereka tak terpisahkan. Namun, kita dapat mengedepankan satu Pribadi dibandingkan yang lain, seperti dalam penciptaan Allah Bapa, penebusan Allah Putera, pengudusan Allah Roh Kudus, selama kita tidak berfikir pada saat satu Pribadi sedang melakukan sesuatu maka dua Pribadi yang lain sedang tidak melakukan apa-apa.]
Salam Stef.
Saya PERCAYA sekali akan eksistensi Allah Tritunggal Mahakudus setelah membaca tulisan di atas, dan sekiranya saya bisa memberikan pernyataan subyektif atas pemikiran pribadi ini, tentunya tak lepas dari kelemahan mohon bantuan KATOLISITAS untuk meluruskannya.
Kita semua memahami bahwa pada saat penciptaan dunia itu, ada sejumlah kata dari Allah yang diawali dengan kata, “JADILAH” – “HENDAKLAH” – “BAIKLAH”
Kata “Jadilah” terjadi 3 (tiga) kali untuk penciptaan terang dan gelap serta seluruh bagian dari cakrawala (di atas langit) dan itu adalah nada *perintah tegas* dari Allah:
Kej 1:3 Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
Kej 1:6 Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
Kej 1:14 Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
Kata “Hendaklah” terjadi (juga) 3 kali terjadi untuk penciptaan pemisahan laut dan darat, dan penciptaan segala makhluk untuk mendiami bumi (di atas bumi) dan itu adalah nada *perintah lembut* dari Allah:
Kej 1:9 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.
Kej 1:11 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.
Kej 1:20 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.”
TETAPI hanya sekali terlihat kata “Baiklah” dan ini tidak sama sekali menimbulkan kesan nada PERINTAH…, hal ini mengusik aku untuk lebih tenggelam ke tempat dalam (duc in altum) tentang hakikat penciptaan ini terkait dengan kata “KITA”
Kej 1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
Allah itu SUNGGUH-SUNGGUH mengasihi manusia, bukan hanya atas hakikat-Nya sebagai Allah semata tetapi jauh dari SELURUH eksistensi-Nya [hakikat dan pribadi].
Mohon diluruskan jika permenunganku tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.
Terima kasih
Duc in altum.
Maximillian Reinhart
Shalom Maximillian Reinhart,
Dalam kisah Penciptaan dunia, kita membaca banyak kali pengulangan kata ‘jadilah’ (‘let there be‘ ….) ataupun ‘jadilah demikian’, dan ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatunya dari ketiadaan. Apa yang tadinya tidak ada menjadi ada setelah Allah berfirman. Demikian juga dengan kata ‘hendaklah’ (‘let the waters be… ‘/ ‘let the earth ….’), juga diulangi beberapa kali (lih. Kej 1:9,11,20,24).
Namun hanya sekali dikatakan bahwa Allah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ….(Let Us make man in Our image, according to Our likeness“) (Kej 1:26). Ini memang menunjukkan Allah sungguh mengasihi kita dan betapa istimewanya kita bagi Tuhan, sehingga Tuhan menjadikan kita menurut gambaran-Nya sendiri; tidak seperti ciptaan Tuhan yang lain. Ungkapan ini tidak menjadikan manusia sama hakekatnya dengan Tuhan, tetapi mengungkapkan bahwa manusia diciptakan mempunyai kemiripan dengan Tuhan. Paus Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa Konsili Vatikan II, yang mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah, bermaksud mengajarkan bahwa, “manusia adalah satu-satunya ciptaan di dunia yang dikehendaki Tuhan demi dirinya sendiri” (Redemptor Hominis, 13, lih. Gaudium et Spes 24, AAS 58 (1966), 1045). “Manusia dikehendaki oleh Tuhan, dipilih oleh-Nya sejak kekekalan, ditujukan bagi rahmat dan kemuliaan – ini adalah “setiap manusia”, “manusia yang paling konkret/ nyata’…, …agar menjadi pengambil bagian di dalam Yesus Kristus, suatu misteri di mana setiap dari semua orang di muka bumi ini…. menjadi pengambil bagian di dalam Kristus, pada saat Ia menjelma menjadi manusia di dalam rahim Bunda-Nya. (lih. Ibid.)
Artinya tidak seperti ciptaan lain, yang keberadaannya kemungkinan diperlukan/ disyaratkan demi kepentingan mahluk ciptaan yang lain, manusia diciptakan Tuhan demi dirinya sendiri sebagai manusia. Penciptaan manusia ini tidak terpisahkan dari kehidupan ilahi Allah sendiri, dan bahwa Tuhan sejak awal mula menghendaki agar manusia mengambil bagian di dalam Diri-Nya. Melalui misteri Inkarnasi, di mana Kristus Sang Putera Allah menjadi manusia, Kristus mempersatukan diri-Nya dengan setiap manusia dalam setiap tahap kehidupannya, sebab Kristus sendiri melewati/ mengalami setiap tahapan kehidupan manusia untuk menguduskannya. Di dalam Kristuslah, manusia melihat gambar dan rupa Allah yang sempurna (lih. Kol 1:15-20), dan kita semua dipanggil oleh Allah untuk mengikuti teladan-Nya dengan mengambil bagian di dalam kehidupan Kristus, yang kini kita peroleh di dalam sakramen-sakramen, terutama Ekaristi. Dengan menyambut Ekaristi, yang adalah Kristus sendiri, kita dibentuk untuk menjadi semakin menyerupai Kristus. Dengan demikian, Allah mengarahkan kita kepada rencana awal Allah menciptakan kita seturut gambaran dan rupa-Nya. Gambaran tersebut yang pernah dirusak oleh dosa, oleh Kristus dipulihkan, sebab Kristus datang untuk menghapus dosa-dosa umat manusia. Oleh karena itu, Gereja mempunyai tugas utama untuk menghadirkan misteri persatuan Kristus di tengah umat-Nya, oleh kuasa kasih yang memancar dari kebenaran Allah.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati-katolisitas.org
Dear Katolisitas mau tanya:
1. Ada suatu pernyataan yang menyatakan bahwa sebenarnya Tritunggal merupakan produk dari Helenisme atau pengaruh budaya/filsafat Yunani. Bagaimana tanggapan anda?
2. Apakah kata “eloihim”, “Theos”, “Adonai”, “Kurios” memiliki arti yang sama yakni Tuhan dan bukan “Tuan” (lord, master dalam terj Inggris). Sebab kata ini memiliki pengaruh yang sangat krusial dalam terjemahan Alkitab dua bahasa yakni bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Terima kasih banyak, GBU always…..
Shalom Dave,
Ajaran Gereja tentang Trinitas tidak mengambil dasar dari filsafat Yunani, melainkan dari apa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada para rasul. Bahwa di dalam Helenisme mungkin ada kisah- kisah yang sepertinya mirip dengan prinsip Trinitas, tidak mengindikasikan bahwa ajaran iman Kristiani mengambil/ menyontek dari mereka. Ini adalah kedua hal yang tidak berhubungan; sama seperti suatu pernyataan yang mirip, namun belum tentu berhubungan. Ajaran tentang Trinitas berhubungan dengan banyaknya ajaran Yesus sendiri dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, yang menyatakan bahwa Ia adalah Allah, dan bahwa Dia kembali ke Surga untuk mengutus Roh-Nya kepada Gereja. Kami sudah memaparkan bukti-bukti Kitab Suci tentang ajaran Trinitas, sebagaimana kami tuliskan di atas. Memang penjelasannya ada yang memakai pendekatan filosofis, tetapi ini bukan berarti ilmu filsafat yang menjadi dasarnya. Bagi Gereja Katolik, ilmu filsafat itu melayani Teologi, dan bukannya sebaliknya. Maka dalam hal ini, pendekatan filosofis dipergunakan hanya untuk membantu kita memahami ajaran Trinitas, mengingat bahwa pendekatan filosofis dapat membantu akal budi kita menangkap artinya; namun bukan berarti ajaran Trinitas asalnya dari ilmu filsafat.
Tentang kata Elohim, Kyrios, Adonai, Theos, memang semuanya mengacu kepada Allah/ Tuhan (bukan hanya tuan). Tentang hal ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan silakan klik di sini
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Salam sejahtera selalu,
bagi saya, konsep Tritunggal memegang peranan penting sebagai manifestasi saya dalam merenungi hidup dan berdoa. sehingga perlu pemahaman yang jauh lebih mendalam terhadap Trinitas ini.
Terimakasih atas adanya situs ini semoga dapat membantu saya untuk berpikir tentang kebenaran hidup.Saya memang jarang membaca Alkitab dan untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan saya berikut ini smoga bapak atau ibu berkenan membantu saya.
pertanyaan saya : 1. Dalam Alkitab apakah tertuliskan bahwa Yesus sendiri berkata bahwa “Saya adalah Tuhan” atau “Sembahlah Saya” ?
mohon saya berikan kutipannya, terimakasih sebesar-besarnya
Semoga Tuhan memberkati kita semua.
[dari katolisitas: Silakan melihat jawaban ini - silakan klik]
Shalom Embun,
Memang Yesus tidak pernah mengatakan secara eksplisit, “Saya adalah Tuhan” atau “Sembahlah Saya”. Namun Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Tuhan dengan banyak tanda dan bukti yang lain, dan ini dicatat di dalam Kitab Suci. Berkeras dengan pandangan “kalau Yesus tidak mengatakan ‘Saya adalah Tuhan’ maka saya tidak percaya bahwa Ia adalah Tuhan’ itu menunjukkan ketertutupan hati untuk melihat fakta yang jelas dinyatakan Yesus bahwa Ia adalah Tuhan. Sama seperti kita tidak percaya bahwa Bill Gates itu orang kaya, karena ia tak pernah mengatakan, “Saya orang kaya”, padahal bukti-buktinya sudah demikian jelas menunjukkan bahwa ia adalah orang kaya.
Silakan membaca terlebih dahulu artikel berikut:
Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan
Kristus yang kita imani = Yesus menurut Sejarah
Yesus, Tuhan yang dinubuatkan oleh para Nabi
Yesus Sungguh Allah Sungguh Manusia
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org